• Tidak ada hasil yang ditemukan

Oleh : DUSKI SAMAD. Ketua MUI Padang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Oleh : DUSKI SAMAD. Ketua MUI Padang"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Oleh :

DUSKI SAMAD

Ketua MUI Padang

Peringatan nuzulul qur’an setiap tanggal 17 Ramadhan adalah moment penting untuk

mengingatkan tentang arti penting al-qur’an bagi kehidupan umat manusia sepanjang waktu. Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam tidak hanya memuat kepentingan umat Islam saja, akan tetapi ia membawa manfaat bagi kehidupan manusia sejagad. Islam adalah agama yang r ahmatan lil alamin.

Al-qur’an adalah kitab yang secara normative disebut sebagai huddan, bayyinat wal furqan

(penentu arah, pemberi penjelasan dan pembeda).

Melihat fenomena di masyarakat masih banyak sekali yang memandang al-Quran hanya sebatas untuk di baca saja, bahkan ada yang begitu mensyakralkannya sehingga menjadikan al-Quran sebagai ajimat yang diletakan di atas sela-sela pintu rumah atau di kepala orang meninggal dunia. Namun tahukah kita bahwa al-Quran bukan hanya sebuah bacaan saja, tetapi al-Quran juga mengajak kita berdialog?, seperti terdapat dalam penggalan beberapa ayat Allah yang berbunyi "apakah kalian tidak melihat", "apakah kalian tidak mendengar?", "maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?" itu adalah beberapa tamsil kutipan ayat yang mengajak kita berdialog. Dialog yang dimaksudkan adalah dialog dalam renungan kita masing-masing (alam fikir).

Kini setelah lebih 14 abad al-Qur’an ditangan umat, apakah al-qur’an sudah diajak berdialog untuk menghadapi berbagai keadaan yang di alami. Rasanya tidak sulit menunjukkan justru yang terjadi adalah pengabaian terhadap al-Qur’an. Sikap  yang mengabaikan al-Quran terjadi dalam berbagai aspek kehidupan, misalnya saja dalam hubungannya dengan hukum positif hampir hukum yang ada dalam al-Qura’n tidak mendapat perhatian. Bahkan, ada ummat Islam yang takut (phobia) mendengar hukum Islam. Ketakutan pada hukum Islam digembar-gembor demikian luasnya oleh pihak yang anti Islam. Kaum sekuler dan atheis, mungkin juga nasionalis sengaja memplintir hukum Qisas misalnya sebagai tidak manusiawi atau melanggar HAM. Sesungguhnya mereka belum tahu dan merasa tahu bahwa hukum Islam itu kejam dan

(2)

pernyataan lain yang tidak beralasan menjadikan umat Islam tertipu dan ikut-ikutan. Padahal kalau kita perhatikan ayat al-Qur,an misalnya surat Al-Maidah (5) : 44, secara eksplisit

dinyatakan bahwa mengabaikan dan tidak mengindahkan hukum Al-Quran  maka itu

disebutkan dengan Kufur. Dalam surat yang sama ayat 45 disebut dengan istilah Zalim dan pada ayat Ayat 47 dikatakan

sebagai Fasik.

Pengabaian yang cukup nyata pula dalam perlakuan terhadap penduduk dan masa depan bangsa. Al-Qur’an bicara begitu jelas; ”Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan

hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar ”.

Begitu juga menyakut pranata sosial dan etika sosial al-Qura’n telah dengan cerdas

membimbing ummat agar menjauhi penyakit masyarakat (pekat). Di antara ayat yang paling nyata mengkritisinya adalah Surat al-Maidah (5):90-91

.”Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya meminum khamar (minum keras), berjudi, berkorban untuk berhala (selain Allah), mengundi nasib, adalah perbuatan keji termasuk

perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (menim kahamr) dan berjudi, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah dari mengerjakannya.

Sisi lain al-qur’an yang belum diajak dialog soal mode dan busana dalam  Surat Al-Ahzab (33): 59 jelas sekali diungkap” Hai Nabi katakanlah kepada isterimu dan anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min” Hnedaklah mereka mengulurkan jilbabnya (sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, muka dan dada) ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak dinganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi maha Penyanyng.

TUNTUNAN BERDILOG DENGAN AL- QUR’AN

Pemuliaan terhadap al-Qur’an pada dasarnya dapat dilakukan dalam dua bidang yang saling melengkapi. Pertama membaca al-Qur’an dengan baik, benar dan sesuai ilmu tajwid sebagai panduan baku yang ditetap ijma sahabat. Khalifah Usman bin Affan disaat akan membuku al-Qur’an sudah menetapkan tujuh jenis bacaan al-Qur’an (Qiraatus sab’ah) yang sesuai makna syariat. Kedua adalah memfungsikan al-Qur’an sebagaimana mestinya, dalam hal ini menjadikan al-qur’an sebagai sumber utama. Cara efektif untuk itu adalah mentadabburi al-Qur’an.

(3)

Di antara tuntutan tadabur al Quran adalah berdialog dan berinteraksi dengan al Quran dengan akal dan hatinya. Caranya adalah dengan mencurahkan hatinya untuk mentafakuri makna yang baca, mengetahui makna setiap ayat, merenungkan perintah-perintah dan

larangan-larangannya, serta menerimanya dengan sepenuh hati. Apabila ketika  membaca al-Quran tersebut menyadari kekurangannya pada masa lalu, maka ia segera bertobat dan memohon ampun kepada Allah SWT. Jika  membaca ayat rahmat, maka ia pun merasakan gembira dan memohon kebaikan kepada Allah SWT. Jika ia membaca ayat azab, maka ia berdoa untuk dihindari dari azab dan memohon perlindungan kepada Allah SWT. Ketika membaca ayat yang menyucikan Allah SWT, Maka ia segera menyucikan dan memuji Allah SWT. Sedangkan jika ia melewati ayat doa, maka ia segera berdoa dan memohon dengan sangat kepada Allah SWT.

Muslim meriwayatkan dari Hudzaifah, ia berkata, ”Aku shalat bersama Nabi saw. Pada suatu malam, kemudian beliau membaca surat al- Baqarah, An Nisa, dan Al Imran. Beliau

membacanya dengan perlahan-lahan. Jika ia membaca ayat yang mengandung tasbih, beliau bertasbih kepada Allah SWT. Jika membaca ayat yang berisi doa, beliau segera berdoa. Dan jika membaca ayat memohon perlindungan, maka beliau segera memohon perlindungan

kepada Allah SWT.” “Dan bacalah al-Quran itu dengan perlahan-lahan”(QS Al Muzzammil 73:4)

dan al-Quran itu telah

kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian

.” QS Al Isra 17:106).

Ia harus memusatkan hatinya untuk memikirkan makna apa yang ia baca dengan lidahnya, mengetahui makna setiap ayat, dan tidak melanjutkan ayat selanjutnya hingga ia mengetahui makna ayat itu. Jika ia melewati ayat rahmat, Maka hendaknya ia berhenti dan bergembira dengan apa yang dijanjikan oleh Allah SWT itu dan berdoa kepada Allah SWT agar dimasukkan ke dalam surga. Sedangkan jika ia membaca ayat azab, Maka hendaknya ia berhenti untuk merenungkan maknanya. Jika ia termasuk golongan kafir, maka hendaknya ia segera beriman, dan mengucapkan, “Aku beriman kepada Allah SWT semata, mengetahui tempat ancaman, dan memohon kepada Allah SWT agar dijaga dari neraka.”

Jika melewati ayat yang di dalamnya terdapat panggilan bagi orang-orang yang beriman seperti.”Hai orang-orang yang beriman”, Hendaknya ia berhenti dahulu di situ. Ada sebagian orang yang mengucapkan, ”Aku penuhi panggilan-Mu wahai Rabbku”- Dan memperhatikan redaksi selanjutnya dari apa yang diperintahkan dan apa yang dilarang, dan ia meyakini akan menjalankannya. Jika hal itu adalah sesuatu yang pernah ia lalaikan di masa lalu, maka

(4)

Allah SWT atas kekurangannya itu. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya

..”(QS at-Tahrim 66:8).

Jika ia membaca ayat ini, hendaknya ia mengingkari perbuatan-perbuatannya di dalam dirinya serta dosa-dosanya dengan orang lain, seperti kedzaliman, ghibah (menggunjing orang lain), dan yang lainnya. Dan, ia segera melunasi kedzalimannya itu dan memohon ampunan atas amal perbuatan yang tidak lengkap ia kerjakan. Kemudian, ia berniat untuk menunaikannya, dan memohon untuk dibebaskan dari kedzalimannyan kepada orang yang ia dzalimi jika ia masih ada bersamanya, atau menulis surat meminta maaf jika ia berada di tempat lain, serta mengembalikan apa yang pernah ia ambil dengan dzalim dari orang lain. Dan ia bertekad untuk menunaikan itu semua pada saat ia membaca al-Quran sehingga Allah SWT mengetahui

bahwa ia telah mendengar dan menaati firman-Nya. Jika ia melewati suatu ayat yang ia tidak tahu maknanya, maka ia segera mengingat atau mencatatnya untuk kemudian menanyakan kepada orang yang mengetahui maknanya, sehingga ia menjadi penuntut ilmu al-Quran dan menjalankan isinya.

Jika suatu ayat diperselisihkan oleh ulama tentang pengertiannya, maka hendaknya ia

mengambil pemahaman yang paling ringan. Dan jika ia berhati-hati dan memilih pendapat yang paling kuat, maka itu lebih baik dan lebih selamat bagi agamanya. Jika ayat yang ia baca

adalah ayat-ayat yang di dalamnya Allah SWT menceritakan berita umat-umat yang telah lalu, Maka perhatikanlah hal itu, dan lihatlah apa yang diputuskan bagi umat itu, selanjutnya

kembalilah bersyukur kepada Allah SWT atas semua itu. Jika yang ia baca adalah ayat-ayat perintah atau larangan, maka niatkanlah untuk menjalankan perintah itu dan mengajak orang lain untuk menjalankannya, serta menjauhkan diri dari larangan-larangan-Nya.

Jika yang ia baca ancaman yang dijanjikan oleh Allah SWT bagi kaum mukminin, maka

hendaknya ia memperhatikan hatinya. Jika ia cenderung untuk mengharap maka sambunglah dengan perasaan takut, dan jika ia cenderung untuk takut maka sambunglah dengan harapan, sehingga rasa takut dan harapannya seimbang. Itulah kesempurnaan iman. Jika ayat-ayat yang ia baca adalah dari kelompok ayat mutasyabihat yang hanya Allah SWT mengetahui takwilnya, maka terimalah dengan keimanan, seperti diperintahkan oleh Allah SWT dalam QS Al-Imran 3:7. Jika ia berisi nasihat, maka ambillah nasihat itu. Dan jika ia telah melakukan itu, maka ia telah membaca al Quran secara tartil dan sempurna. Jika manusia telah melakukan hal ini, maka ia telah membaca al Quran dengan tartil secara sempurna.[1]

Akhirnya dapat disimpulkan bahwa memuliakan dapat terwujud melalui pembacaan yang benar, baik dan sesuai tuntutan sahabat, bersamaan dengan itu ia ditadaburri dan diajak berdialog

(5)

dengan semua masalah yang ada. Ds.3072015.

[1]Sumber: Berinteraksi dengan Al Qur’an. Dr. Yusuf Al Qardhawi. POSTED BY HASNA DIANA)

Referensi

Dokumen terkait

Perasaan-perasaan seperti merasa tidak berguna, tidak memiliki harapan, takut, sedih, marah, bermunculan seketika.tujuan penelitian adalah untuk mengetahui respon keluarga

Keberadaan negara untuk memberikan pelayanan prima terhadap umat beragama bukan saja ditunjukkan dalam bentuk memfasilitasi layanan ibadah dan sosial keberagamaan, seperti

Bentuk pelanggaran sosial, moral dan akhlak yang hidup dalam masyarakat Sumatra Barat hari ini adalah penyediaan tempat maksiat di sekitar lokasi wisata.. Warung tenda yang

Islam sebagai pedoman hidup tentunya memiliki kaitan erat dengan kesehatan reproduksi mengingat Islam memiliki aturan-aturan dalam kehidupan manusia yang bertujuan untuk

Penyakit sosial LGBT yang mulai menyintuh lapisan bawah masyarakat sudah menjadi masalah sosial, ketika ia menjadi hal yang biasa dan dianggap wajar baik oleh mereka yang

Lebih dari itu orang-orang beriman adalah mereka yang memiliki sandaran jiwa yang kuat disaat menghadapi topan krisis yang paling berat sekalipun, karena ia dapat melimpanhkan

pemerkosaan oleh teman yang hanya berkenalan lewat media social, facebook, twitter, sms dan sejenisnya adalah bahagian penyimpangan media social yang mengkhawatirkan orang tua

Oleh karena itu dalam menghadapi dan menyambut tahun baru Masehi 2016 dihimbau agar dilakukan dengan cara-cara yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam, norma hukum