Pemikiran Para Tokoh Agama
(KELOMPOK 7B)
ISI PANCASILA MENURUT PEMIKIRAN
RELIGIUS
1.
Pradita Firda Yunita K6419053
2.
Sri Hapsari Romadhila K6419070
3.
Sri Utari Yuliastuti K6419072
4.
Tofan Hambali P. P K6419074
5.
Yulita Dewi T K6419083
6.
Zahro Dhea Risa K6419085
ANGGOTA KELOMPOK
Mohammad Natsir
-01-
Natsir (2001: 161-162) juga berkata“Perumusan Pancasila adalah hasil musyawarah antara para pemimpin-pemimpin pada saat taraf perjuangan kemerdekaan memuncak pada tahun1945”.
1. Bagaimana mungkin Al- Qur’an yang memancarkan tauhid, akan terdapat a priori bertentangan dengan ide Ketuhanan Yang Maha Esa?
2. Bagaimana mungkin Al-Qur’an yang ajaran-ajarannya penuh dengan kewajiban menegakkan adalah ijtima’iyah bisa a priori bertentangan dengan Keadilan.
3. Bagaimana mungkin Al-Qur’an yang justru memberantas sistem feodal dan pemerintahan istibdad sewenang-wenang serta meletakkan dasar musyawarah dalam susunan pemerintah, dapat a priori bertentangan dengan apa yang dinamakan Kedaulatan Rakyat?
4. Bagaimana mungkin Al-Qur’an yang menegakkan istilah islahu bainannas sebagai dasar-dasar pokok yang harus ditegakkan oleh umat Islam, dapat a priori bertentangan dengan apa yang disebut
Perikemanusiaan?
5. Bagaimana mungkin Al-Qur’an yang mengakui adanya bangsa-bangsa dan meletakkan dasar yang sehat bagi kebangsaan, a priori dapat dikatakan bertentangan dengan Kebangsaan?
Notonagoro (1967: 28)
-02-
Rumus bagi isi sila-sila Pancasila sebagai dasar falsafah negara dalam rangkaian kesatuan ini adalah sebagai berikut :
1. Ketuhanan Yang Maha Esa adalah ketuhanan yang berkemanusiaan yang adil dan beradab, yang berpersatuan Indonesia, yang berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyaratan/perwakilan, dan yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab adalah kemanusiaan yang berketuhanan Yang Maha Esa yang berpersatuan Indonesia, yang berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyaratan/perwakilan, dan yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
3. Persatuan Indonesia adalah persatuan yang berketuhanan Yang Maha Esa, yang berkemanusiaan yang adil dan beradab, yang berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyaratan/perwakilan, dan yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyaratan/perwakilan adalah kerakyatan yang berketuhanan Yang Maha Esa, yang berkemanusiaan yang adil dan beradab,yang berpersatuan Indonesia, dan yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia adalah keadilan sosial yang berketuhanan Yang Maha Esa, yang berkemanusiaan yang adil dan beradab, yang berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyaratan/perwakilan, dan yang berpersatuan Indonesia.
KH. Wahid Hasyim
-03-
Menurut Gus Wahid saat itu, “Ketuhanan Yang Esa” merupakan konsep tauhid dalam Islam. Sehingga tidak ada alasan bagi umat Islam untuk menolak konsep tersebut dalam Pancasila.
Artinya, dengan konsep tersebut, umat Islam mempunyai hak menjalankan keyakinan agamanya tanpa mendiskriminasi keyakinan agama lain. Di titik inilah, menjalankan Pancasila sama artinya mempraktikkan Syariat Islam dalam konsep hidup berbangsa dan bernegara. Sehingga tidak ada sikap intoleransi kehidupan berbangsa atas nama suku, agama, dan lain-lain. Pancasila yang akomodatif dalam konteks sila Ketuhanan tersebut mewujudkan tatanan negara yang unik dalam aspek hubungan agama dan negara.
Dalam arti, negara Indonesia bukanlah negara sekuler dan bukan pula negara Islam, melainkan negara yang berupaya mengembangkan kehidupan beragama dan keagamaan (Einar Martahan Sitompul, NU dan Pancasila, 2010: 91).
Buya Hamka
-04-
Dalam karyanya yang berjudul Urat Tunggang Pancasila (1951) itu, Hamka menyebutkan bahwa sila Ketuhanan Yang Maha Esa ini adalah urat tunggangnya Pancasila. Dari sila pertama inilah kemudian kita berpijak mengamalkan keempat sila setelahnya (Hamka, 1951: 34). Jadi bagi golongan agama khususnya Islam, Ketuhanan Yang Maha Esa ini adalah pokok landasan moral bagi bangsa Indonesia dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara.
KH. Achmad Siddiq
-05-
Pancasila merupakan ideologi dan dasar negara yang menjadi asas bangsa Indonesia. Deklarasi hubungan Islam dan Pancasila dalam pandangan Kyai Achmad Siddiq bukan berarti menyejajarkan Islam sebagai agama dan Pancasila sebagai ideologi. Karena hal itu dapat merendahkan Islam dengan ideologi atau isme-isme tertentu. Problem ini seiring dengan isu yang berkembang di kalangan umat Islam saat itu.
Mereka beranggapan bahwa menerima Pancasila sebagai asas tunggal berarti mendepak atau melemparkan iman dan menerima asas tunggal Pancasila berarti kafir, sedang kalau menerima keduanya berarti musyrik. Hal ini ditegaskan oleh Kyai Achmad Siddiq sebagai cara berpikir yang keliru. Dengan cara berpikir keliru tersebut, Kyai Achmad Siddiq menegaskan kepada seluruh masyarakat bahwa Islam yang dicantumkan sebagai asas dasar itu adalah Islam dalam arti ideologi, bukan Islam dalam arti agama. Ini bukan berarti menafikan Islam sebagai agama, tetapi mengontekstualisasi-kan bahwa Islam tidak hanya beperan sebagai jalan hidup, tetapi juga sebuah ilmu pengetahuan dan pemikiran yang tidak lekang seiring perubahan zaman.
Agama Katolik
Pandangan dari umat Katolik memandang sila pertama Pancasila
dipandang sebagai“titik temu” dari agama-agama yang ada di
Indonesia. Umat Katolik lebih bersifat terbuka dan memahami
perbedaan yang ada di Indonesia, sebagai karya yang diciptakan
Allah. Dalam mempererat hubungan kerukunan umat beragama,
umat Katolik melakukan berbagai pendekatan yang kreatif di
antaranya dialog teologis, religius, dialog kehidupan, dan ikut
terlibat dengan agama-agama lain, dalam pembangunan bangsa
Indonesia.
Agama Kristen Protestan
Sularso Sopater mengatakan bahwa kerukunan merupakan
kesadaran dari hati yang dalam yang didorong oleh keyakinan imani
yang dalam, sebagai perwujudan dari iman Kristen. Keyakinan yang
demikian ini melihat saudara-saudara yang lain walaupun berbeda
agama dan kepercayaan, bukanlah sebagai pesaing atau musuh,
tetapi sebagai sesama ciptaan Tuhan yang dengan tujuan agar
orang Kristen dapat hidup bekerja sama bagi kebaikan bersama,
dan oleh karena itu harus menerima eksistensi agama lain, dan
saling mengusahakan kesejahteraan lahir batin, di dalam
menjalankan sikap kerukunan di antar umat beragama.
Pandangan Agama Hindu
Dalam keyakinan Hindu Dharma terbentuknya bangsa Indonesia didorong oleh semboyan satu nusa, satu bangsa serta Bhinneka Tunggal Ika di dalam segala bentuk gerakan bangsa Indonesia. Landasan filosofis tersebut merupakan aplikasi dari nilai agama (Diputhera, 1996, p. 112). Dalam ajaran Hindu, puncak ke Tuhanan Yang Maha Esa adalah penyatuan jiwa manusia dengan sumber Yang Maha Kuasa. Penyatuan ini maka termanifestasi dalam bentuk kasih sayang tanpa pamrih. Dalam ajaran agama Hindu,dikenal dengan semboyan
“walaupun berbeda-beda namun satu jua” yang kemudian semboyan tersebut diadopsi secara luas oleh masyarakat, sebagai warisan yang berharga dari nenek moyang bangsa Indonesia. Pengajarandalam agama Hindu mengajarkan untuk saling mengasihi sesamanya agar dapat terciptanyakeharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat dan menghargai pengajaran dan ritus keagamaan yang berbeda yang ada di setiap agama, oleh karena setiap agama mempunyai jalannya masing-masing untuk sampai kepada Tuhan.
Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI)
Agama Buddha mengajarkan sikap toleran kepada agama lain, hal tersebut
dibuktikan dengan dikisahkannya tokoh Upali yang berpindah keyakinan menjadi
murid Buddha. Pesan, yang ditekankan oleh Sang Buddha kepada Upali, tetap
menghargai dan tidak mencela agama sebelumnya yang dianutnya. Dalam sejarah
kekuasaan kerajaan Raja Osaka juga menerapkan model yang diajarkan oleh Sang
Buddha untuk saling menghargai, menghormati dan bersikap adil kepada semua
pemeluk agama yang ada di Afganistan Bangladesh. Organisasi agama WALUBI
adalah sebuah wadah (persekutuan) yang berperan untuk peduli melihat masalah-
masalah yang tengah dihadapi oleh bangsa ini termasuk upaya dalam membina
peningkatan kerukunan umat beragama
AGAMA KONGHUCU
Nabi Kongzi mengajarkan kepada umatnya dalam memandang perbedaan dalam
segi apa pun yang ada di tengah masyarakat, termasuk agama tidak disikapi dengan saling berdebat atau menghakimi satu dengan yang lain tetapi bagaimana umat Konghucu diajak untuk memahami yang berbeda dengan kita dari sudut pandang orang lain. Selain itu ajaran Konghucu mengajarkan kepada umatnya menjaga perkataan dan perbuatan dengan baik, agar keberadaan umatnya dapat diterima di lingkungan mana pun, lalu memandang perbedaan
sebagai kekuatan untuk saling melengkapi. Dan yang terakhir mengedepankan kepentingan bersama di atas kepentingan kelompok kecil. Ajaran Nabi Kongzi ini
menjadi pedoman bagi umat Konghucu dalam menjalani relasi di tengah masyarakat di Indonesia. Dan ajaran dari Nabi Kongzi tidak bertentangan dengan nilai-nilai sila pertama Pancasila, melainkan umat Konghucu menerima dan mendukung ideologi Pancasila.
Daftar Pustaka
Ahmad Sudi Pratikno, dkk. 2020. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Institut Agama Islam Al-Falah Assunniyyah, Jember.
Aritonang, Arthur. 2021. PANDANGAN AGAMA-AGAMA TERHADAP SILA
PERTAMAPANCASILA. Jurnal Teologi Kristen Vol 3, No 1 : 57-72.
https://news.detik.com/berita/d-3517409/pemikiran-islam-bung-karno-dalam-pancasila
https://gema.uhamka.ac.id/2020/06/27/pancasila-dalam-pandangan-buya-hamka/
https://www.kompasiana.com/bambangherut0m0b711/5bf5868712ae9472b10cf207/nilai-nilai- pancasila-tidak-bertentangan-dengan-iman-kristen?page=2
Mhd Alfahjri Sukri. 2019. Islam dan Pancasila dalam Pemikiran Mohammad Natsir. Alfuad Journal, 3 (1), (90-91).
Syarif Hidayatullah. 2006. NOTONAGORO DAN RELIGIUSITAS PANCASILA. Jurnal Filsafat, 39 (1).