• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2013 M / 1433 H

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2013 M / 1433 H"

Copied!
88
0
0

Teks penuh

(1)

i

PENGARUH VOLUME PENJUALAN BUNGA DAN HARGA JUAL BUNGA TERHADAP PENDAPATAN PEDAGANG BUNGA DI UNIT PELAKSANA TEKNIS (UPT) PUSAT PROMOSI DAN

PEMASARAN HORTIKULTURA (P3H) PASAR BUNGA RAWA BELONG

JAKARTA BARAT

Muhammad Ichsan Rahman

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA 2013 M / 1433 H

(2)

ii

PENGARUH VOLUME PENJUALAN BUNGA DAN HARGA JUAL BUNGA TERHADAP PENDAPATAN PEDAGANG BUNGA DI UNIT PELAKSANA TEKNIS (UPT) PUSAT PROMOSI DAN

PEMASARAN HORTIKULTURA (P3H) PASAR BUNGA RAWA BELONG

JAKARTA BARAT

Muhammad Ichsan Rahman 106092003017

Skripsi

Sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada Program Studi Agribisnis

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA 2013 M / 1433 H

(3)
(4)
(5)

v

PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR-BENAR HASIL KARYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIAJUKAN SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA ILMIYAH PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN

Jakarta, Febuari 2013

(6)

vi

DAFTAR RIWAYAT HIDUP 1. Data Pribadi

Nama : Muhammad Ichsan Rahman

Jenis Kelamin : Laki-laki

Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 06 Maret 1988 Status Marital : Belum Menikah

Agama : Islam

Alamat Lengkap : Reni Jaya Blok AE 1 No. 21 Pamulang Barat Nomor Hp : 085711756049 Email : [email protected] 2. Riwayat Pendidikan Pendidikan Formal Instansi Tahun SDN Pamulang 5 1994-2000 SLTP Al-Badar Pamulang 2000-2003

SMA Muhammadiyah 25 Pamulang 2003-2006

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 2006-2013

Pendidikan Non Formal

Instansi Tahun

Kursus Tahsin Tilawah di FHQ Mujahiddin

Pamulang 2012 – Sekarang

Kursus Tahsin Tilawah di LTQ Bina

Al-Qur’an Bojongsari 2012 – Sekarang

3. Pengalaman Organisasi

Instansi Tahun Jabatan

UKM LDK Syahid KomDa FaST UIN

Jakarta 2007-2009

Kord. Biro Pengembangan Ekonomi

UKM LDK Syahid UIN Jakarta 2009-2010 Kord. Biro Pengembangan Ekonomi

LTQ Syahid UIN Jakarta 2012 - Sekarang Pengajar Tahsin Tilawah LTQ Bina Al-Qur’an Yayasan

Roudatul Jannah Bojongsari 2013 - Sekarang Pengajar Tahsin Tilawah

(7)

vii

RINGKASAN

Muhammad Ichsan Rahman, Pengaruh Volume Penjualan Bunga Dan Harga Jual Bunga Terhadap Pendapatan Pedagang Bunga di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Promosi dan Pemasaran Hortikultura (P3H) Pasar Bunga Rawa Belong, Jakarta Barat. (di bawah bimbingan Siti Rohaeni dan Dwi Nur ‘aini Ihsan)

Tanaman hortikultura, khususnya bunga potong (cut flower) merupakan komoditi yang sangat khas, di mana para pengusaha dituntut untuk lebih memberikan perhatian khusus dalam pengusahaannya yang didasarkan atas ketrampilan seni, ketrampilan dalam hal penguasaan teknologi budidaya dan kemampuan dalam memperdagangkan hasil produksi. Sejalan dengan peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat, maka konsumsi bunga potong akan cenderung meningkat. Tingginya tingkat permintaan bunga potong, mengakibatkan meningkatnya jumlah bunga potong dipasar, namun tidak dibarengi dengan kesetabilan harga, sehingga harga jual bunga potong tersebut mengalami fluktuasi harga yang berakibat pada volume penjualan bunga potong serta berdampak terhadap pendapatan pedagang bunga dari penjualan bunga potong

Tujuan penelitian ini adalah untuk mencari tahu besar volume penjualan, harga jual serta Pendapatan pedagang bunga di UPT P3H Pasar Bunga Rawa Belong, dan menganalisis seberapa besar pengaruh yang ditimbulkan dari volume penjualan, dan harga jual terhadap pendapatan pedagang bunga potong.

Penelitian ini dilakukan di UPT P3H Pasar Bunga Rawa Belong Jl. Sulaiman No. 50. Kebon Jeruk, Jakarta Barat dengan populasi pedagang bunga 112 orang dan sampel berjumlah 28 orang sesuai (Arikunto, 2002) dengan kisaran 25 % dari jumlah sampel yang kemudian disesuaikan dengan penarikan sampel (Sekaran, 2006) sebagai acuan batas minimum yaitu 30 sampel, dengan teknik sampling yaitu Random Sampling. Sedangkan alat analisis data menggunakan Regresi Berganda dengan bantuan software SPSS 17 untuk mengetahui pengaruh antar variabel dan tabulasi data menggunakan Ms. Exel 2010.

Dari hasil pengolahan data menggunakan SPSS 17 diperoleh persamaan regresi Y = -5893252.245 + 3849.792 X1 + 148.031 X2 + Ɛ dengan koefisien determinasi (R

2 = 0,804) dan f hitung (32.179) > f tabel (3.354) tolak Ho serta thitung pada volume penjualan bunga = 8,009> t tabel (1.706) tolak Ho1 sedang thitung pada Harga Jual bunga 2.258 > t tabel (1.706) tolak Ho2

Hasil penelitian ini diperoleh bahwa besar volume penjualan bunga diUPT P3H pasar bunga rawa belong berkisar dari 160 – 12000 ikat per bulan, harga jual rata-rata bunga diUPT P3H Pasar bunga rawa belong berkisar Rp. 10.333-75.500 per ikat. Sedangkan pendapatan pedagang bunga diUPT Pasar bunga rawa belong berkisar Rp. 750.000-16.580.000,- per bulan.

Berdasarkan koefisien determinasi R2 (0,683) (sugiyono, 2001) diketahui bahwa volume penjualan bunga dan harga jual bunga memiliki pengaruh yang kuat terhadap pendapatan pedagang, sedangkan dari pengujian signifikansi membuktikan bahwa ada pengaruh yang signifikan baik secara simultan maupun parsial. Adapun besaran pengaruhnya yaitu peningkatan volume penjualan bunga rata-rata 1 ikat dapat meningkatkan pendapatan pedagang bunga sebesar Rp. 3.849,792 sedangkan peningkatan harga jual bunga Rp. 1 ,- meningkatkan pendapatan pedagang bunga sebesar Rp. 148,031,-

(8)

viii

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb,

Alhamdulilah, segala puji dan rasa syukur penulis panjatkan hanya kepada Allah Azza Wa Jalla yang telah memberikan Rahmat dan Hidayah serta nikmat-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Analisa Pengaruh Volume Penjualan dan Harga Jual terhadap Pendapatan Pedagang Bunga Potong diUPT P3H Pasar Bunga Rawa Belong” Shalawat teriring salam semoga senantiasa tercurah kepada teladan kebaikan, pembawa dan penabur cahaya iman dan islam, Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat dan umatnya yang setia mengikuti sunahnya dengan hati yang selamat sampai hari kiamat.

Penulis bersyukur atas segala ilmu pengetahuan dan aktifitas yang telah diperoleh selama penulis menimba ilmu di Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah Jakarta dan berterima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dan membimbing penulis selama ini.

Dalam menyusun skripsi ini, penulis menyadari bahwa tidak dapat terlaksana dengan baik tanpa bantuan dan bimbingan dari semua pihak. Pada kesempatan ini perkenankan penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Keluarga, terutama Bapak dan Ibu serta Kakak yang telah memberikan dukungan secara penuh baik moril maupun materil.

2. Bapak Dr. Agus Salim, M.Si selaku Dekan Fakultas Sains dan Teknologi

(9)

ix

3. Bapak Drs. Acep Muhib, MM selaku Ketua Program Studi dan Ibu Rizki Adi Puspita Sari,SP, MM. selaku Sekertaris Program Studi Agribisnis

4. Ibu Ir. Siti Rochaeni, MSi dan Ibu Dwi Nur’aini Ihsan, SE, MM yang telah merelakan waktunya dalam memberikan bimbingan skripsi dan motivasinya.

5. Para dosen Fakultas Sains dan Teknologi yang telah memberikan ilmunya selama penulis berada dibangku kuliah.

6. Sahabat dan orang-orang yang selalu memberikan semangat kepada penulis agar menyelesaikan skripsi ini.

7. UPT P3H Pasar Bunga Rawa Belong yang telah bersedia menjadi tempat penelitian untuk menyelesaikan skripsi saya

8. Para Pedagangn bunga yang menyediakan waktu untuk menjadi responden dalam penelitian saya.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan dan masih banyak kekurangannya, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar lebih baik lagi. Penulis berharap skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan didalamnya. Akhir kata, atas segala khilaf lisan dan perbuatan, penulis mohon dibukakan pintu maaf.

Wassalamualaikum Wr.Wb.

Jakarta, Febuari 2013

(10)

x

DAFTAR ISI

Halaman

RINGKASAN ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Rumusan Masalah ... 3 1.3 Tujuan Penelitian ... 3 1.4 Batasan Masalah ... 4 1.5 Manfaat Penelitian ... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Bunga Potong ... 5

2.2 Pedagang ... 6

2.3 Penjualan ... 8

2.3.1 Tujuan Penjulan ... 9

2.3.2 Faktor - factor yang Mempengaruhi Penjualan ... 9

2.3.3 Jenis dan Bentuk Penjualan ... 11

2.3.4 Volume Penjualan ... 12

2.4 Harga ... 13

2.5 Pendapatan ... 15

2.6 Biaya ... 19

2.7 Laba ... 24

2.8 Alur Pemikiran Pengaruh Volume Penjualan dan Harga Jual terhadap Pendapatan Pedagang Bunga ... 26

(11)

xi BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 28

3.2 Jenis dan Sumber Data ... 28

3.3 Metode Pengumpulan Data ... 28

3.3.1 Observasi ... 28

3.3.2 Wawancara ... 29

3.4 Metode Penarikan Sampel ... 29

3.5 Metode Pengolahan dan Analisis Data ... 31

3.5.1 Regresi Berganda ... 31 3.5.2 Koefisien Determinasi (R2) ... 32 3.5.3 Pengujian Hipotesis ... 33 3.5.3.1 Uji F ... 33 3.5.3.2 Uji t ... 34 3.6 Definisi Operasional ... 35

BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Profil UPT P3H Pasar Bunga Rawa Belong ... 37

4.2 Tugas Pokok dan Fungsi UPT P3H Pasar Bunga Rawa Belong ... 43

4.3 Visi dan Misi UPT P3H Pasar Bunga Rawa Belong ... 44

4.4 Struktur Organisasi UPT P3h Pasar Bunga Rawa Belong ... 46

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Karakteristik Pedagang bunga di UPT Pasar Bunga Rawa Belong ... 48

5.2 Volume Penjualan bunga, Harga Jual bunga dan Pendapatan Pedagang bunga di UPT Pasar Bunga Rawa Belong ... 50

5.3 Pengaruh Volume Penjualan dan Harga Jual Terhadap PendapatanPedagang Bunga di UPT Pasar Bunga Rawa Belong ... 54

BAB VI PENUTUP 6.1 Kesimpulan ... 57

6.2 Saran ... 58

DAFTAR PUSTAKA ... 59

(12)

xii

DAFTAR GAMBAR

Halaman 1. Alur Pemikiran Pengaruh Volume Penjualan dan Harga Jual

terhadap Penadapatan Padagang Bunga di UPT P3H Pasar Bunga Rawa Belong ... 27 2. Denah Lokasi UPT P3H Pasar Bunga Rawa Belong ... 42 3. Struktur Organisasi UPT P3H Pasar BungaRawa Belong ... 46

(13)

xiii

DAFTAR TABEL

Halaman

1. Pedoman Interpretasi Koefisien Determinasi ... 33 2. Usia Pedagang Bunga diUPT P3H Pasar Bunga Rawa Belong

Tahun 2012 ... 49 3. Jenjang Pendidikan Pedagang Bunga diUPT P3H Pasar Bunga

Rawa Belong Tahun 2012 ... 49 4. Volume Penjualan, Harga Jual Rata-rata dan Pendapatan Pedagang

Bunga diUPT P3H Pasar Bunga Rawa Belong Tahun 2012 ... 53 5. Hasil Dugaan Penelitian Pengaruh Volume Penjualan dan Harga

(14)

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1. Data Penelitian diUPT P3H Pasar Bunga Rawa Belong Tahun 2012 ... 61

2. Biaya Usaha diUPT P3H Pasar Bunga Rawa Belong Tahun 2012 ... 63

3. Output pengolahan data primer dengan SPSS 17 Tahun 2012 ... 64

4. Jenis Bunga Potong ... 72

(15)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Tanaman hortikultura, khususnya bunga potong (cut flower) merupakan komoditi yang sangat khas, di mana para pengusaha dituntut untuk lebih memberikan perhatian khusus dalam pengusahaannya yang didasarkan atas ketrampilan seni, ketrampilan dalam hal penguasaan teknologi budidaya dan kemampuan dalam memperdagangkan hasil produksi. Pengusaha bunga potong juga dituntut untuk dapat memperdagangkan produksinya dalam keadaan segar dan menampilkan bentuk dan warna produksinya yang secara artistik mampu menarik calon konsumen. (Soekartawi, 1996)

Sejalan dengan peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat, maka konsumsi bunga potong akan cenderung meningkat.Persepsi masyarakat terhadap bunga potong semakin positif sehingga penggunaan bunga potong tidak hanya terbatas untuk sekedar hiasan belaka, tetapi juga dapat diberikan untuk ucapan selamat, ucapan simpati, kegiatan keagamaan, upacara perkawinan, dan sebagainya

Dengan makin luasnya penggunaan bunga potong, maka persaingan dalam pengembangan komoditi ini juga semakin meningkat. Pengembangan teknologi yang memungkinkan untuk menghasilkan bunga potong berwarna-warni, bentuk yang menarik, tahan lama dan harganya relatif terjangkau. Adanya segmen pasar untuk masyarakat golongan tertentu yang mempunyai selera eksklusif dan fanatik terhadap jenis bunga tertentu yang belum dapat dihasilkan di dalam negeri menyebabkan semakin meningkatnya impor bunga potong. Di lain pihak,

(16)

2 lembaga-lembaga penelitian dan para nursery di dalam negeri telah mengembangkan varietas-varietas baru yang mempunyai daya saing yang kuat dengan produk impor, juga dengan adanya teknologi budidaya yang semakin dikuasai dan efisien menyebabkan harga jual bunga potong mampu bersaing dengan produk impor.

Hal ini mendorong ekspor bunga potong Indonesia ke luar negeri semakin meningkat dari tahun ke tahun. Dengan melihat kondisi seperti tersebut, peluang pengembangan agribisnis bunga potong semakin prospektif. Hal ini disebabkan karena potensi pasar, baik di dalam negeri maupun di luar negeri masih tetap terbuka. Dengan adanya peluang pengembangan usaha bunga potong tersebut diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani.1

Salah satu lembaga yang memiliki peran sebagai penyedia fasilitas sarana dan prasarana, pemasaran, distribusi, promosi, jasa pasca panen, penyimpanan penyuluhan dan informasi harga bunga / tanaman hias serta pelaksanaan bursa dan lelang bunga di wilayah DKI Jakarta adalah UPT P3H.

Produk pertanian memiliki sifat yaitu volumenya banyak namun harga jualnya rendah, dan dikonsumsi dalam bentuk segar yang menyebabkan harga produk dalam bentuk segar lebih tinggi dibandingkan dengan harga produk yang tidak segar lagi serta karena daya tahan produk tidak lama sehingga harga produk dan volume penjualan dibatasi waktu

Tingginya permintaan bunga potong pada kondisi-kondisi tertentu yang tidak dibarengi dengan jumlah pasokan bunga potong yang tersedia di pasar, mengakibatkan fluktuasi volume penjualan dan harga jual bunga potong, dan

1

(17)

3 fluktusai tersebut membuat pedagang bunga potong sulit menentukan besar dari pendapatan hasil penjualan bunga potong tersebut, maka untuk mengetahui pengaruh yang ditimbulkan oleh volume penjualan dan harga jual serta dampaknya terhadap pendapatan pedagang bunga potong, oleh karena itu penulis membuat judul penelitian ”Pengaruh Volume Penjualan, dan Harga Jual terhadap Pendapatan Pedagang Bunga Potong.

1.2 Rumusan masalah

Agar dapat memudahkan memahami skripsi yang penulis buat maka disusunlah rumusan masalah dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut:

1. Bagaimana karakteristik pedagang bunga di UPT P3H Pasar Bunga Rawa Belong?

2. Berapa besar volume penjualan bunga dan harga jual bunga serta pendapatan pedagang bunga di UPT Pasar Bunga Rawa Belong?

3. Apakah ada pengaruh dari volume penjualan bunga dan harga jual bunga terhadap pendapatan pedagang bunga di UPT Pasar Bunga Rawa Belong? 1.3 Tujuan penelitian

Adapun tujuan dari penelitian yang penulis lakukan adalah sebagai berikut 1. Mengetahui Karakteristik pedagang bunga di UPT P3H Pasar Bunga Rawa

Belong.

2. Mengetahui besar volume penjualan bunga dan harga jual bunga serta pendapatan pedagang bunga di UPT Pasar Bunga Rawa Belong.

3. Mengetahui dan menganalisis pengaruh volume penjualan bunga dan harga jual bunga terhadap pendapatan pedagang bunga di UPT Pasar Bunga Rawa Belong.

(18)

4 1.4 Batasan Masalah

Adapun dalam penelitian ini penulis membatasi ruang lingkup penelitian 1. Pedagang yang menjadi sampel penelitian ini adalah pedagang bunga

menjual jenis bunga potong.

2. Perhitungan pendapatan yang dimaksud adalah pendapatan bersih,

3. besar Volume penjualan diperoleh merupakan Volume penjualan per minggu dari tiap sampel yang dikonversikan menjadi Volume penjualan per bulan.

1.5 Manfaat penelitian

Adapun manfaat dari penelitian yang penulis lakukan antara lain sebagai berikut:

1. Bagi penulis

Sebagai sarana mengaplikasikan pengetahuan yang didapat selama kuliah 2. Bagi instansi pendidikan

Sebagai bahan referensi untuk penelitian selanjutnya 3. Bagi pedagang dan instansi terkait

(19)

5 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Bunga Potong

Menurut Widyawan (1994) “bunga adalah bagian dari tumbuhan berbiji yang berfungsi sebagai alat reproduksi yang mempunyai empat bagian yang utama yaitu sepal (daun kelopak), petal (daun mahkota) pistil (putik), dan stamen (benang sari).” Bunga Potong adalah bunga yang dimanfaatkan sebagai bahan rangkaian bunga untuk berbagai keperluan dalam daur hidup manusia: mulai kelahiran, perkawinan dan kematian. Oleh karena itu, wajarlah jika bunga mempunyai nilai ekonomi. Di lain pihak, beberapa orang percaya bahwa melalui rangkaian bunga meraka mampu mengekspresikan kemampuan estetika

a. Manfaat bunga potong

Bunga telah ribuan tahun dimanfaatkan sebagai simbol keagamaan, dan sosial serta sebagai motif dalam arsitektur,lukisan, dan keramik. Bunga potong disamping sebagai bahan untuk rangkaian bunga juga merupakan sarana peralatan tradisional, agama, upacara kenegaraan dan keperluan ritual lainnya. Bahkan dibutuhkan pula untuk berbagai keperluan industri makanan, minuman, obat, maupun kosmetika atau minyak wangi

b. Konsumen yang menjadi pengguna bunga potong 1) Florist/Dekorator

Florist adalah orang-orang yang bekerja dengan bunga dan tanaman, umumnya pada tingkat ritel. Ini meliputi perawatan bunga dan penanganan, desain bunga atau rangkaian bunga, merchandising, dan menampilkan dan mengirimkan bunga. Biasanya terkait dalam acara pernikahan, peresmian, ulang tahun,

(20)

6 melahirkan, penempatan rumah baru, kantor baru, duka cita, dan hari-hari besar seperti hari kasih saying atau valentine day, natal idul fitri, dan lain-lain.

2) Hotel/supermarket

Di sini hotel merupakan salah satu pemain dalam industri bunga potong, karena hotel mengkonsumsi bunga potong untuk memberi kesan asri dan kenyamanan kepada para tamu hotel yang menghadiri acara atau pun yang akan menginap di hotel tersebut. Selain itu hotel juga menggunakan bunga potong ketika ada perayaan hari-hari besar maupun event-event yang berlangsung di hotel tersebut.

3) Restoran/Catering.

Restoran juga menggunakan bunga potong untuk memberi keindahan yang ditampilkan di atas meja makan dan juga untuk memberi kesan romantis pada saat makan malam dengan pasangan. Di samping itu menambah kesan asri dan kenyamanan dari restoran tersebut.

4) Perkantoran.

Untuk membuat suatu perkantoran menjadi sejuk dan asri, maka bunga potong tersebut termasuk pelengkap di dalam kantor. Agar saat bekerja menjadi lebih bersemangat dan dapat menghilangkan stress yang terjadi saat bekerja.

2.2 Pedagang

Pedagang adalah distributor yang membeli barang dengan tujuan untuk dijual kembali atas namanya sendiri untuk memperoleh laba. Pedagang dibedakan menjadi:

(21)

7 a. Pedagang besar (wholesaler).

Pedagang besar adalah orang atau badan yang membeli barang dalam jumlah besar untuk dijual kembali agar mendapat keuntungan.

b. Pedagang Eceran (Retailer)

Orang atau lembaga yang membeli barang dari pedagang besar atau agen, kemudian menjual barang kepada konsumen. Pedagang eceran ada yang menjual barang secara pasif, artinya bahwa konsumen yang datang kepada pedagan sehingga pedagang cukup mendirikan toko, kios atau warung.

Menurut Swasta (1991) “Pengecer dapat didefinisikan sebagai seorang pedagang yang kegiatan pokoknya melakukan penjualan secara langsung kepada konsumen akhir”. sedangkan menurut Saladin (1996) “ Pengecer atau retailer adalah semua kegiatan yang langsung berhubungan dengan penjualan barang atau jasa ke konsumen akhir untuk pemkaian non bisnis “.

Ukuran toko dapat diketahui melalui volume penjualannya sehingga masing–masing pedagang eceran mempunyai ukuran yang berbeda–beda dan manajemen toko yang berbeda–beda pula. Kegiatan promosi, keuangan, pembelian dan sebagainya dipengaruhi oleh besarnya volume penjualan toko tersebut. Berdasarkan ukuran tokonya pedagang eceran dapat digolongkan menjadi 2 kelompok, yaitu :

1) Pedagang eceran kecil (small scale retailer)

Pembagian hanya relatif kecil, praktek manajemennya fleksibel alokasi biaya per iklan rendah, kondisi financial tidak terlalu tinggi, serta biaya operasi usahanya rendah.

(22)

8 2) Pedagang eceran besar (large scale retailer)

Pembagian tokonya relatif besar, praktek manajemennya kurang fleksibel, alokasi biaya per iklanan tinggi, kondisi finansial relatif tinggi, serta biaya operasi usahanya tinggi.

2.3 Penjualan

Menurut Swastha (1998), “Penjualan adalah ilmu dan seni mempengaruhi pribadi yang dilakukan oleh penjual, untuk mengajak orang lain bersedia membeli barang atau jasa yang ditawarkan“.

Sedangkan pengertian penjualan menurut Moekijat (2000), adalah “Melakukan penjualan adalah suatu kegiatan yang ditujukan untuk mencari pembeli, mempengaruhi, dan memberi petunjuk agar pembelian dapat menyesuaikan kebutuhannya dengan produksi yang ditawarkan serta mengadakan perjanjian mengenai harga yang menguntungkan bagi kedua belah pihak “.

Konsep penjualan (the selling concept) mengacu pada pendapat Philip Kotler (diterjemahkan oleh Saladin dan Usman, 1997), pada konsep ini manajemen berorientasi pada produk dengan volume penjualan yang tinggi. Tugas manajemen adalah meningkatkan volume penjualan karena beranggapan bahwa perusahaan perlu mengadakan kegiatan penjualan dan promosi yang gencar.

Konsep ini mengandung tiga dasar pokok, yaitu:

1) Perencanaan dan operasional berorientasi kepada produk dengan volume penjualan yang tinggi.

2) Alat yang digunakan untuk meningkatkan penjualan adalah promosi yang gencar.

(23)

9 3) Tujuan akhir adalah memenuhi atau mencapai tujuan perusahaan (laba)

dengan mengusahakan volume penjualan semaksimal mungkin.

2.3.1 Tujuan Penjualan.

Pada umumnya perusahaan mempunyai tiga tujuan umum dalam penjualan seperti yang dirumuskan oleh Swastha (1999) adalah sebagai berikut:

a. Berusaha mencapai volume penjualan tertentu. b. Berusaha mendapatkan laba tertentu.

c. Menunjang pertumbuhan perusahaan.

Usaha untuk mencapai ketiga tujuan tersebut, tidak sepenuhnya hanya dilakukan oleh pelaksana penjualan atau para ahli penjualan. Dalam hal ini perlu adanya kerjasama yang baik di dalam perusahaan.

2.3.2 Fakot-faktor yang Mempengaruhi Penjualan.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan penjualan antara lain: 1) Kondisi dan Kemampuan Pasar.

Di sini penjual harus dapat meyakinkan pembeli agar berhasil mencapai sasaran penjualan yang diharapkan untuk maksud tersebut, penjualan harus memahami beberapa masalah penting yang sangat berkaitan, yaitu:

a. Jenis dan karakteristik yang ditawarkan. b. Harga produk.

(24)

10 2) Kondisi Pasar.

Adapun faktor kondisi pasar yang perlu diperhatikan antara lain:

a. Jenis pasarnya, apakah pasar konsumen, pasar industri, pasar pemerintahan atau pasar internasional.

b. Kelompok pembeli atau segmen pasarnya. c. Daya beli.

d. Frekuensi pembeliannya. e. Keinginan dan kebutuhan. 3) Modal.

Apakah modal kerja perusahaan mampu untuk mencapai target penjualan yang dianggarkan seperti untuk:

a. Kemampuan membiayai penelitian pasar yang dilakukan.

b. Kemampuan membiayai usaha-usaha untuk mencapai target penjualan (bayar upah, bayar promosi produk).

c. Kemampuan membeli bahan mentah untuk dapat memenuhi target penjualan.

4) Kondisi Organisasi Perusahaan.

Pada perusahaan besar, biasanya masalah penjualan ditangani bagian tersendiri (bagian penjualan) yang dipegang oleh orang tertentu atau ahli dibidang penjualan. Lain halnya dengan perusahaan kecil, dimana masalah penjualan ditangani oleh orang yang juga melakukan fungsi-fungsi yang lain.

(25)

11 2.3.3 Jenis dan Bentuk Penjualan.

Terdapat beberapa jenis penjualan yang biasa dikenal dalam masyarakat, diantaranya adalah:

a. Trade Selling.

Penjualan yang dapat terjadi bilamana produsen dan pedagang besar mempersilahkan pengecer untuk berusaha memperbaiki distribusi produk mereka.

b. Missionary Selling.

Penjualan berusaha ditingkatkan dengan mendorong pembeli untuk membeli barang-barang dari penyalur perusahaan.

c. Technical Selling.

Berusaha meningkatkan penjualan dengan pemberian saran dan nasihat kepada pembeli akhir dari barang dan jasa.

d. New Business Selling.

Berusaha membuka transaksi baru dengan membuat calon pembeli seperti halnya yang dilakukan perusahaan asuransi.

e. Responsive Selling.

Setiap tenaga kerja penjual dapat memberikan reaksi terhadap permintaan pembeli melalui route driving and retailing.

Selain dari jenis-jenisnya, penjualan mempunyai bentuk-bentuk sebagai berikut: 1. Penjualan Secara Tunai.

Penjualan yang bersifat “cash and carry” dimana penjual setelah terdapat kesepakatan, barang bisa langsung dimilki oleh pembeli.

(26)

12 2. Penjualan Secara Kredit.

Penjualan non-cash, dengan tenggang waktu tertentu, rata-rata di atas satu bulan.

3. Penjualan Secara Tender.

Penjualan yang dilaksanakan melalui prosedur tender untuk memenuhi permintaan pihak pembeli yang membuka tender.

4. Penjualan Ekspor.

Penjualan yang dilaksanakan dengan pihak pembeli, luar negeri yang mengimpor barang yang biasanya menggunakan fasilitas letter of credit. 5. Penjualan Secara Konsinyasi.

Penjualan barang secara titipan kepada pembeli yang juga sebagai penjual apabila barang tersebut tidak terjual maka akan dikembalikan kepada penjual.

6. Penjualan Secara Grosir.

Penjualan yang tidak langsung kepada pembeli, tetapi melalui pedagang antara yang menjadi perantara pabrik atau importer dengan secara eceran.

2.3.4 Volume Penjualan.

Besar kecilnya hasil penjualan dipengaruhi oleh kuantitas atau jumlah produk dan harga jual produk. Sedangkan kuantitas atau jumlah produk yang terjual disebut volume penjualan.

1) Pengertian Volume Penjualan.

Adapun pengertian volume penjualan menurut Swastha (1999) adalah: “ Volume penjualan adalah jumlah barang atau jasa yang terjual dalam proses pertukaran “.

(27)

13 Sedangkan menurut Abdullah (1999), pengertian volume penjualan adalah: “Volume penjualan adalah jumlah penjualan yang ingin dicapai oleh suatu perusahaan dalam suatu jangka waktu tertentu “.

2.4 Harga ( price ).

Definisi harga menurut Philip Kotler dan Gary Armstrong (2000) “Harga adalah sejumlah uang yang harus dibayar oleh pelanggan untuk memperoleh produk“.

Swastha (1999) “Harga adalah jumlah uang (ditambah beberapa barang kalau mungkin) yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah kombinasi dari barang beserta pelayanannya “.

a. Pengertian Harga Jual

Hansen dan Mowen (2001) mendefinisikan “harga jual adalah jumlah moneter yang dibebankan oleh suatu unit usaha kepada pembeli atau pelanggan atas barang atau jasa yang dijual atau diserahkan”.

Mulyadi (2001) “pada prinsipnya harga jual harus dapat menutupi biaya penuh ditambah dengan laba yang wajar. Harga jual sama dengan biaya produksi ditambah mark-up”.

b. Sasaran Penetapan Harga Jual

Para pemasar berusaha untuk mencapai sasaran tertentu melalui komponen-komponen penetapan harga. Beberapa perusahaan mencoba untuk meningkatkan keuntungan dengan menetapkan harga rendah untuk menarik bisnis baru.

(28)

14 Boone dan Kurtz (2002) “ada empat kategori dasar atau sasaran penetapan haga, yaitu: 1) profitabilitas, 2) volume, 3) tingkat kompetisi, dan 4) prestise”. 1) Sasaran profitabilitas

Sebagian besar perusahaan mengejar sejumlah sasaran profitabilitas dalam strategi penetapan harganya. Para pemasar mengerti bahwa laba diperoleh dari selisih pendapatan dan beban. Pendapatan merupakan harga jual dikalikan dengan jumlah yang terjual. Berbagai teori ekonomi mendasari prinsip maksimalisasi keuntungan (profit maximization). Akan tetapi pada kenyatannya prinsip ini masih sulit diterapkan. Maka banyak perusahaan beralih pada sasaran profitabilitas yang lebih sederhana, yaitu Target Return Goal, dimana perusahaan menetapkan harga dengan tingkat profitabilitas yang diinginkan sebagai pengembalian finansial atas penjualan ataupun investasi.

2) Sasaran volume

Pendekatan yang lain dalam strategi penetapan harga disebut maksimalisasi penjualan (sales maximization), para manajer menetapkan tingkat minimum profitabilitas yang dapat diterima dan kemudian menetapkan harga yang akan menghasilkan volume penjualan tertinggi tanpa menyebabkan laba turun di bawah level itu. Strategi ini memandang ekspansi penjualan sebagai suatu prioritas yang lebih penting bagi posisi persaingan jangka panjang perusahaan daripada laba jangka pendek.

3) Tingkat Kompetisi

Sasaran penetapan harga ini hanyalah untuk menyamakan harga dengan pesaing. Jadi perusahaan berusaha untuk menghindari perang harga dengan tidak menekankan elemen harga dari bauran pemasaran dan memfokuskan usaha

(29)

15 persaingannya pada variabel selain harga seperti menambah nilai, meningkatkan kualitas, mendidik konsumen, dan menciptakan hubungan.

4) Sasaran Prestise

Pengaruh harga pada prestise membuat sebuah harga menjadi relatif tinggi untuk mengembangkan dan menjaga sebuah citra dari kualitas dan eksklusivitas. Para pemasar menetapkan sasaran tersebut karena mereka mengakui peran harga dalam mengkomunikasikan citra suatu perusahaan dan produk-produknya

2.5 Pendapatan

Ikatan Akuntansi Indonesia (1999) “Pendapatan adalah arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yang timbul dari aktivitas normal perusahaan selama satu periode, bila arus masuk itu mengakibatkan kenaikan ekuitas, yang tidak berasal dari kontribusi penanaman modal”.

Sedangkan menurut Accounting Principle Board dikutip oleh Theodorus Tuanakotta (1984) “Pendapatan sebagai inflow of asset kedalam perusahaan sebagai akibat penjualan barang dan jasa”.

Selain itu menurut Commite On Accounting Concept and Standart dari AAA dikutip oleh Theodorus Tuonakotta (1984) “pendapatan adalah pernyataan moneter mengenai barang dan jasa yang ditransfer perusahaan kepada langganan-langganannya dalam jangka waktu tertentu”.

Paton dan Littleton mengemukakan bahwa pengertian pendapatan dapat ditinjau dari aspek fisik dan moneter. Hal ini juga dikemukakan Suwardjono (1984) dalam buku teori Akuntansi Perekayasaan Akuntansi Keuangan bahwa dari aspek fisik pendapatan dapat dikatakan sebagai hasil akhir suatu aliran fisik dalam proses menghasilkan laba. Aspek moneter memberikan pengertian bahwa

(30)

16 pendapatan dihubungkan dengan aliran masuk aktiva yang berasal dari kegiatan operasi perusahaan dalam arti luas.

Menurut Hendriksen diterjemahkan oleh Marianus Sinaga (2001) definisi pendapatan dilihat dari sudut pandang tertentu yaitu:

1. Sifat Pendapatan

Dalam kepustakaan akuntansi ditemukan dua pendekatan terhadap konsep pendapatan. Satu diantaranya berfokus pada arus masuk aktiva sebagai hasil kegiatan operasi perusahaan dan yang lainnya berfokus pada penciptaan barang dan jasa oleh perusahaan serta penyalurannya kepada konsumen atau produsen lainnya.

Konsep dasar pendapatan adalah bahwa pendapatan merupakan proses arus, yaitu penciptaan barang dan jasa oleh perusahaan selama jarak waktu tertentu. Beberapa definisi serupa juga menyatakan secara tersirat bahwa produk itu harus meninggalkan perusahaan (konsep arus keluar).

2. Unsur Pendapatan

Dalam statement nomor 4 APB (Accounting Principles Board) menyajikan pandangan yang komprehensip mengenai pendapatan. Selain penjualan dan jasa, dalam pendapatan dimasukkan penjualan sumber-sumber daya selain produk perusahaan; seperti pabrik, peralatan dan investasi.

3. Pengukuran Pendapatan

Untuk mengukur pendapatan harus ada kesepakatan antara dua pihak yaitu penjual dan pembeli dalam menentukan nilai tukar atau harga jual. Nilai tukar produk atau jasa perusahaan merupakan ukuran terbaik bagi perusahaan.

(31)

17 a. Pengukuran Pendapatan

Pendapatan diukur dengan nilai wajar yang dapat diterima, jumlah pendapatan biasanya ditentukan oleh persetujuan antara perusahaan dan pembeli yang diukur dengan nilai wajar imbalan yang diterima atau yang dapat diterima perusahaan dikurangi jumlah discount dagang dan rabat volume yang diperbolehkan perusahaan, umumnya berbentuk kas atau setara kas.

Bila arus masuk dari kas atau setara kas ditangguhkan nilai wajar dari imbalan tersebut mungkin kurang dari jumlah nominal dari kas yang diterima atau yang dapat diterima.

Bila barang atau jasa dipertukarkan untuk barang atau jasa dengan sifat nilai yang sama maka pertukaran tidak dianggap sebagai transaksi yang mengakibatkan pendapatan. Dan bila barang dijual atau jasa diberikan untuk dipertukarkan dengan barang dan jasa yang tidak serupa pertukaran tersebut dianggap sebagai transaksi yang mengakibatkan pendapatan. Pendapatan tersebut diukur pada nilai wajar dari barang atau jasa yang diserahkan, disesuaikan dengan jumlah kas atau setara kas yang ditransfer.

Pengakuan suatu jumlah rupiah dalam akuntansi pada umumnya didasarkan pada konsep objektivitas yaitu bahwa jumlah rupiah tersebut dapat diukur secara cukup pasti dan ada keterlibatan pihak independen dalam pengukurannya. Dengan kata lain harus ada bukti yang cukup objektif untuk dapat mengakui. Bila kondisi atau kejadian tertentu menjadikan kriteria tersebut dipenuhi maka kondisi atau kejadian tersebut akan memicu pengakuan pendapatan.

(32)

18 Secara umum ada dua kriteria pengakuan pendapatan yaitu:

1) Pendapatan baru dapat diakui bilamana jumlah rupiah pendapatan telah terealisasi atau cukup pasti akan segera terealisasi (Realized atau Realizable). Pendapatan dapat dikatakan telah terealisasi bilamana telah terjadi transaksi pertukaran produk atau jasa hasil kegiatan perusahaan dengan kas atau klaim untuk menerima kas. Pendapatan dapat dikatakan cukup pasti akan segera terealisasi bilamana barang penukar yang diterima dapat dengan mudah dikonversi menjadi sejumlah kas atau setara kas yang cukup pasti.

2) Pendapatan baru dapat diakui bilamana pendapatan tersebut sudah terhimpun atau terbentuk (earned). Pendapatan dapat dikatakan telah terhimpun bilamana kegiatan menghasilkan pendapatan tersebut telah berjalan dan secara substansial telah selesai sehingga suatu unit usaha berhak untuk menguasai manfaat yang terkandung dalam pendapatan. Kedua kriteria diatas harus dipenuhi untuk mengakui pendapatan walaupun bobot pentingnya untuk suatu keadaan tertentu dapat berbeda. Kriteria pengakuan pendapatan yang lebih teknis dapat diakui kalau memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a) Keterukuran nilai aktiva b) Terjadinya transaksi

c) Proses penghimpunan secara substansial telah selesai.

Pada kebanyakan perusahaan, dasar penjualan sebagai saat pengakuan dan pengukuran pendapatan adalah yang paling jelas dan obyektif daripada dasar lain yang dapat dipakai.

(33)

19 Menurut Paton dan Littleton dan dikutip oleh Suwardjono (1984) dalam buku Teori Akuntansi Perekayasaan Akuntansi Keuangan alasan yang mendukung bahwa pendapatan pada saat penjualan merupakan suatu standart yang utama sehingga mendasari pada pengertian dan konsep tentang pendapatan sebagai berikut:

1) Pendapatan adalah merupakan jumlah rupiah yang menyatakan produk akhir operasi perusahaan dan oleh karena itu harus diakui dan diukur pada tingkat atau titik kegiatan yang menentukan dalam aliran kegiatan operasi kegiatan.

2) Pendapatan harus benar-benar terjadi dan didukung dengan timbulnya aktiva baru yang dapat dipercaya (sah), sebaiknya berupa kas atau piutang.

2.6 Biaya

Menurut Mulyadi (2008), dalam bukunya, “Akuntansi Biaya”, mengemukakan pengertian biaya sebagai berikut: Dalam arti luas biaya adalah pengorbanan sumber ekonomi, yang diukur dalam satuan uang yang telah terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu. Dalam arti sempit biaya dapat diartikan sebagai pengorbanan sumber ekonomi untuk memperoleh aktiva atau disebut pula dengan istilah harga pokok.

Menurut Mulyadi (2000) dalam bukunya “Akuntansi Biaya”, penggolongan biaya ditentukan atas dasar tujuan yang hendak dicapai dengan penggolongan tersebut, karena dalam akuntansi biaya dikenal konsep “different costs for different purposes”. Biaya dapat digolongkan sebagai berikut :

(34)

20 1. Penggolongan biaya menurut objek pengeluaran.

Dalam cara penggolongan ini, maka obyek pengeluaran merupakan dasar penggolongan biaya. Misalnya nama obyek pengeluaran adalah bahan bakar, maka semua pengeluaran yang berhubungan dengan bahan bakar disebut “biaya bahan bakar”. Contoh penggolongan biaya atas dasar obyek pengeluaran dalam perusahaan kertas adalah sebagai berikut : biaya merang, biaya jerami, biaya gaji dan upah, biaya soda, biaya depresiasi mesin, biaya asuransi, biaya bunga, biaya zat warna.

2. Penggolongan biaya menurut fungsi pokok dalam perusahaan.

Dalam perusahaan manufaktur, ada tiga fungsi pokok, yaitu fungsi produksi, fungsi pemasaran, dan fungsi administrasi dan umum. Oleh karena itu dalam perusahaan manufaktur, biaya dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok :

a. Biaya produksi, merupakan biaya-biaya yang terjadi untuk mengolah bahan baku menjadi produk yang siap dijual. Contohnya adalah biaya depresiasi mesin, biaya bahan baku, biaya bahan penolong, biaya gaji karyawan baik yang langsung maupun yang tidak langsung.

b. Biaya pemasaran, merupakan biaya-biaya yang terjadi untuk melaksanakan kegiatan pemasaran produk.

c. Biaya administrasi dan umum, merupakan biaya-biaya untuk mengkoordinasi kegiatan produksi dan pemasaran.

(35)

21 3. Penggolongan biaya menurut hubungan biaya dengan sesuatu yang dibiayai.

Sesuatu yang dibiayai dapat berupa produk atau departemen. Dalam hubungannya dengan sesuatu yang dibiayai, biaya dapat dikelompokkan menjadi dua golongan yaitu biaya lansung dan biaya tidak langsung, adapun penjelasannya adalah sebagai berikut

a. Biaya langsung (direct cost).

Biaya langsung adalah biaya yang terjadi, yang penyebab satu-satunya adalah karena adanya sesuatu yang dibiayai. Perhitungan biaya langsung juga yang merupakan perhitungan biaya variabel, membebankan ke produk yang hanya biaya produksi yang bervariasi secara langsung dengan volume penjualan, bahan baku langsung, tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik variabel yang dibebankan ke barang dalam proses, barang jadi dan harga pokok penjualan. Biaya produksi tetap seperti penyusutan, asuransi, pajak, gaji supervisor, dan gaji bagian kebersihan, satpam, bagian pemeliharaan, dan karyawan kantor dikeluarkan dari biaya produk. Karena biaya tetap tampaknya berkaitan dengan berlalunya waktu dibandingkan dengan aktivitas produksi, maka biaya-biaya tersebut dibebankan ke beban periodic dan bukannya ke persediaan.

b. Biaya tidak langsung (indirect cost).

Biaya tidak langsung adalah biaya yang terjadi tidak hanya disebabkan oleh sesuatu yang dibiayai. Biaya tidak langsung dalm hubungannya dengan produk disebut dengan istilah biaya produksi tidak langsung atau biaya overhead pabrik. Biaya ini tidak mudah di identifikasi dengan produk tertentu. Jika perusahaan hanya menghasilkan satu produk

(36)

22 saja maka semua biaya merupakan biaya langsung dalam hubungannya dengan produk. Dalam hubungannya dengan departemen, biaya tidak langsung adalah biaya yang terjadi di suatu departemen, tetapi manfaatnya dinikmati oleh lebih dari satu departemen. Contohnya adalah biaya yang terjadi di departemen pembangkit tenaga listrik, baik untuk penerangan maupun untuk menggerakan mesin dan equipment yang mengkonsumsi listrik. Bagi departemen pemakai listrik, biaya listrik yang diterima dari alokasi biaya departemen pembangkit listrik merupakan biaya tidak langsung departemen.

4. Penggolongan biaya menurut perilakunya dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan, dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan, biaya dapat digolongkan menjadi 4 (empat) yaitu :

a. Biaya Variabel.

Biaya Variabel adalah biaya yang jumlah totalnya berubah sebanding dengan perubahan volume kegiatan.

b. Biaya Semivariabel.

Biaya Semivariabel adalah biaya yang berubah tidak sebanding dengan perubahan volume kegiatan.

c. Biaya Semifixed.

Biaya Semifixed adalah biaya yang tetap untuk tingkat volume kegiatan tertentu dan berubah dengan jumlah yang konstan pada volume produksi. d. Biaya Tetap.

Biaya tetap adalah biaya yang jumlah totalnya tetap dalam kisar volume kegiatan tertentu.

(37)

23 5. Penggolongan biaya atas dasar jangka waktu manfaatnya.

Atas dasar jangka waktu manfaatnya, biaya dapat dibagi menjadi dua yaitu pengeluaran modal dan pengeluran pendaptan, penjabaran dari penjelasan tersebut adalah sebagai berikut :

a. Pengeluaran Modal (Capital Expenditures).

Pengeluaran modal adalah biaya yang mempunyai manfaat dari satu periode akuntansi (biasanya periode akuntansi adalah salah satu tahun kalender). Pengeluaran modal ini dapat saja terjadinya dibebankan sebagai harga pokok aktiva, dan dibebankan dalam tahun-tahun yang menikmati manfaatnya dengan cara didepresiasi. Contoh pengeluaran untuk pengembalian kativa tetap, untuk reparasi besar untuk aktiva, untuk promosi besar-besaran, dan untuk pengeluaran untuk riset dan pengembangan suatu produk. Karena pengeluaran untuk produk tersebut biasanya melibatkan jumlah yang besar dan memiliki masa manfaat lebih dari satu tahun, maka pada saat pengeluaran tersebut dilakukan, pengorbanan tersebut diperlakukan sebagai pengeluaran modal dan dicatat sebagai harga pokok aktiva periode akuntansi, yang menikmati manfaat pengeluaran modal tersebut dibebani sebagian pengeluaran modal tersebut berupa biaya depresiasi dan biaya amortisasi.

b. Pengeluaran Pendapatan (Revenue Expenditure).

Pengeluaran pendapatan adalah biaya yang hanya mempunyai manfaat dalam periode akuntansi terjadinya pengeluaran tersebut. Pada saat terjadinya pengeluaran pendapatn ini dibebankan sebagai biaya yang dipertemukan dengan pendapatan yang diperoleh dari pengeluaran biaya

(38)

24 tersebut. Contoh pengeluaran pendapatan antara lain adalah biaya iklan, telex, dan biaya tenaga kerja.

2.7 Laba

Pengertian laba usaha menurut Soemarso (2002) adalah laba yang diperoleh semata-mata dari kegiatan utama perusahaan, laba merupakan indikasi kesuksesan suatu badan usaha. Oleh karena itu mendapatkan laba merupakan tujuan utama dari sebuah badan usaha. Laba merupakan kelebihan penghasilan atas biaya-biaya yang merupakan selisih antara hasil penjualan bersih dengan harga pokok penjualan serta biaya operasinya. Laba atau profit dijabarkan dengan bentuk rumus sebagai berikut :

NI = Total Sales – Total Cost NI = (P*X) – (VCU*X) – FC NI = (P – VCU) X – FC Dimana :

NI = Net Income P = Sales Price

VCU = Variable Cost per Unit FC = Fixed Cost

X = Volume Penjualan

Melihat variabel-variabel tersebut, maka dalam rangka meningkatkan laba terdapat empat cara yang dapat dilakukan yaitu :

1. Menurunkan biaya variabel 2. Menurunkan biaya tetap 3. Menaikkan harga jual

(39)

25 Jenis-jenis laba dalam hubungannya dengan perhitungan yaitu:

a. Laba Kotor (Gross Profit), adalah selisih antara penjualan bersih dengan harga pokok penjualan, disebut laba kotor karena jumlah ini masih harus dikurangi dengan biaya-biaya usaha.

b. Laba dari operasi, adalah selisih antara laba kotor dengan total beban operasi. c. Laba bersih, adalah angka terakhir dalam perhitungan laba rugi dimana untuk

mencarinya laba operasi ditambah pendapatan lain-lain dikurangi dengan beban lain-lain.

Menurut Mulyadi (2001) di dalam bukunya yang berjudul Akuntansi Manajemen menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi tarhadap laba, antara lain :

1. Biaya

Biaya yang timbul dari perolehan atau mengolah suatau produk atau jasa akan mempengaruhi harga jual produk yang bersangkutan.

2. Harga jual

Harga jual produk atau jasa akan mempengaruhi besarnya volume penjualan produk atau jasa yang bersangkutan.

3. Volume penjualan dan produksi

Besarnya volume penjualan berpengaruh terhadap volume produksi akan mempengaruhi besar kecilnya biaya produksi”.

(40)

26 2.8 Alur Pemikiran Penelitian

Alur pemikiran dalam penelitian ini mengenai analisis pengaruh volume penjualan dan harga jual terhadap pendapatan pedagang bunga di UPT P3H Pasar Bunga Rawa Belong. UPT P3H Pasar Bunga Rawa belong merupakan salah satu centra penjualan bunga di Jakarta, salah satu jenis bunga yang dijual disana yaitu bunga potong.

UPT P3H Pasar Bunga Rawa Belong merupakan tempat bertemunya pedagang dan pembeli bunga dan melakukan transaksi jual beli, yang menjadi perhatian bahwa sering terjadi fluktuasi harga jual yang berdampak pada volume penjualan bunga, sehingga pedagang bunga mengalami kesulitan untuk mengukur besar pendapatan yang diterima. Oleh karena itu dalam penelitian ini ada beberapa variabel yang dianggap memiliki pengaruh dan berdampak langsung terhadap pendapatan pedagang bunga yaitu Volume penjualan dan Harga Jual.

Penelitian ini menggunakan Analisis Regresi Berganda untuk melihat pengaruh dari varibel-variabel yang diteliti, dengan menggunakan alat bantu Software SPSS 17, sehingga dapat diketahui variabel mana yang memiliki sumbangsih terbesar terhadap pendapatan pedagang bunga. Sebelum melihat besaran pengaruh variabel perlu melakukan pengujian keeratan variabel (Koefisien Determinasi “R2”) untuk melihat hubungan antar variabel, sedang untuk mengetahui besaran pengaruh variabel maka dilakukan pengujian signifikansi untuk melihat variabel yang berpengaruh secara simultan (Uji F) maupun secara parsial (Uji t) sehingga didapat variabel yang memiliki pengaruh terbesar

(41)

27 Gambar 2. 1. Alur Pemikiran Penelitian Pengaruh Volume Penjualan Bunga dan

Harga Jual Bunga terhadap Pendapatan Pedagang Bunga Transaksi Jual-beli Bunga

Potong Variabel Terikat Volume Penjualan Variabel Bebas

Analisis Pengaruh Antar Variabel

Pengaruh Volme Penjualan dan Harga Jual terhadap Pendapatan Pedagang Bunga

Harga Jual Bunga Analisis Regresi Berganda Variabel Penelitian UPT P3H Pasar Bunga

Rawa Belong Pendapatan Pedagang Pedagang Bunga Potong Pengujian 1. Koefisien Determinasi (R2) 2. Uji F 3. Uji t

(42)

28 BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan bertempat di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Promosi dan Pemasaran Hortikultura (P3H) Jl. Sulaiman No. 50. Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Dengan pertimbangan merupakan salah satu sentra penjualan bunga potong di Jakarta, penelitian ini dilaksanakan sejak tanggal 14 Febuari sampai dengan 18 Juli 2012.

3.2 Jenis dan Sumber Data

Dalam penelitian yang penulis lakukan menggunakan dua jenis data yaitu data primer dan data skunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara dan observasi langsung kepada pihak UPT P3H Pasar Bunga Rawa Belong dan Pedagang bunga potong sedangkan data sekunder diperoleh dari laporan tahunan yaitu data gambaran umum UPT Pasar Bunga Rawa Belong dan literatur yang bersangkutan dengan penelitian yang dilakukan

3.3 Metode Pengumpulan Data 3.3.1 Observasi

Observasi adalah pengamatan secara langsung ke objek penelitian untuk melihat dari dekat kegiatan yang dilakukan (Ridwan, 2009). Observasi dilakukan melalui pengamatan langsung dalam kegiatan-kegiatan transaksi jual-beli dan perlakuan terhadap kegiatan-kegiatan yang dilakukan tempat penelitian yang berhubungan dengan kegiatan jual-beli bunga di UPT P3H Pasar Bunga Rawa Belong dan informasi-informasi lainnya yang dibutuhkan dalam penelitian ini.

(43)

29 3.3.2 Wawancara

Wawancara adalah percakapan yang dilakukan oleh pewawancara (interviewer) kepada responden guna menggali informasi atau data yang digunakan untuk kebutuhan penelitian (Suharsono, 2009) wawancara dilakukan kepada 30 orang pedagang bunga potong di UPT P3H Pasar Bunga Rawa Belong sebagai sampel penelitian untuk memperoleh data penjualan yang terdiri dari volume penjualan, harga jual bunga dan biaya-biaya yang dikeluarkan serta pendapatan pedagang bunga.

3.4 Metode penarikan sampel

Populasi menurut Sugiyono (2010) didefinisikan sebagai berikut Wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pedagang bunga potong yang berada dan berjualan di UPT Pasar Bunga Rawa Belong. Berdasarkan perhitungan yang dilakukan oleh peneliti jumlah populasi pedagang bunga potong tersebut berjumlah 112 pedagang.

Menurut Sekaran (2006) dalam buku yang berjudul Metode Penelitian untuk Bisnis memberikan acuan umum untuk menentukan ukuran sampel :

1. Ukuran sampel lebih dari 30 dan kurang dari 500 adalah tepat untuk kebanyakan penelitian

2. Jika sampel dipecah ke dalam subsampel (pria/wanita, junior/senior, dan sebagainya), ukuran sampel minimum 30 untuk tiap kategori adalah tepat 3. Dalam penelitian mutivariate (termasuk analisis regresi berganda), ukuran

(44)

30 4. Pada penelitian eksperimental sederhana dengan kontrol eskperimen yang

ketat, penelitian yang sukses adalah mungkin dengan ukuran sampel kecil antara 10 sampai dengan 20

Besaran atau ukuran sampel sangat tergantung dari besaran tingkat ketelitian atau kesalahan yang diinginkan peneliti. Namun, dalam hal tingkat kesalahan, pada penelitian sosial maksimal tingkat kesalahannya adalah 5% (0,05). Makin besar tingkat kesalahan maka makin kecil jumlah sampel. Namun yang perlu diperhatikan adalah semakin besar jumlah sampel (semakin mendekati populasi) maka semakin kecil peluang kesalahan generalisasi dan sebaliknya, semakin kecil jumlah sampel (menjauhi jumlah populasi) maka semakin besar peluang kesalahan generalisasi.

Untuk menentukan besarnya sampel menurut Arikunto (2002) apabila subjek kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya penelitian populasi. Jika subjeknya lebih besar dapat diambil antara 10-15 % atau 20-25 %

Perhitungan jumlah sampel (arikunto, 2002) karena jumlah populasi 112 pedagang bunga dan lebih dari 100 maka sampel yang diambil dalam penelitian ini 25 % dari jumlah populasi yaitu 28 sampel pedagang bunga, namun mempertimbangkan penarikan sampel (Sekaran, 2006) jumlah minimum sampel 30, maka dalam penelitian ini menggunakan jumlah sampel minimum yaitu 30 sampel pedagang bunga. Sedangkan teknik penarikan sampel menggunakan Random Sampling yaitu dengan memberi nomor kepada pedagang yang kemudian diundi, maka nomor yang keluar setelah diundi menjadi responden penelitian.

(45)

31 3.5 Meode Pengolahan dan Analisis Data

Metode pengolahan data yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan tabulasi dengan bantuan perangkat kalkulator dan piranti lunak (software) Microsoft Office Excel 2010. Data yang diperoleh baik berupa data primer maupun sekunder disusun, dan disajikan dalam bentuk tabulasi.

Kemudian data dianalisis sesuai dengan tujuan dari penelitian ini dengan bantuan software SPSS 17 untuk membantu menganalisis pengaruh dari variabel terkait. Metode analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kuantitatif.

3.5.1 Regresi berganda

Gujarati (2006) mendefinisikan analisis regresi sebagai kajian terhadap hubungan satu variabel yang disebut sebagai variabel yang diterangkan (the explained variable) dengan satu atau dua variabel yang menerangkan (the explanatory variable). Variabel pertama disebut juga sebagai variabel terikat dan variabel kedua disebut juga sebagai variabel bebas. Jika variabel bebas lebih dari satu, maka analisis regresi disebut regresi linear berganda. Disebut berganda karena pengaruh beberapa variabel bebas akan dikenakan kepada variabel terikat.

Analisis ini digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas/ independen terhadap variabel terikat. Analisis regresi berganda dapat dinyatakan dengan persamaan berikut :

(46)

32 Dimana:

Y = Pendapatan Pedagang Bunga X1 = Volume Penjualan Bunga

X2 = Harga Jual Bunga

a = konstanta (intersept)

b = koefisien regresi/ nilai parameter

3.5.2 Koefisien determinasi (R2)

Pengujian R2 digunakan untuk mengukur proporsi atau presentase sumbangan variabel independen yang diteliti terhadap variasi naik turunnya variabel dependen. R2 berkisar antara 0 sampai 1 (0 ≤ R2 ≤ 1). Apabila R2 sama dengan 0, hal ini menunjukkan bahwa tidak ada pengaruh antara volume penjualan bunga dan harga jual bunga terhadap pendapatan pedagang bunga, dan bila R2 semakin kecil mendekati 0, maka dapat dikatakan bahwa pengaruh volume penjualan bunga dan harga jual bunga semakin kecil terhadap pendapatan pedagang bunga. Apabila R2 semakin besar mendekati 1, hal ini menunjukkan semakin kuatnya pengaruh volume penjualan bunga dan harga jual bunga terhadap pendapatan pedagang bunga, untuk memudahkan mengukur tingkat pengaruh volume penjualan bunga dan harga jual bunga terhadap pendapatan pedagang bunga dapat dilihat pada tabel 1.

(47)

33 Tabel 1. Pedoman Interpretasi Koefisien Determinasi

Interval Koefisien Tingkat Pengaruh

0 % - 19,99 % Sangat Lemah 20 % - 39,99 % Lemah 40 % - 59,99 % Sedang 60 % - 79,99 % Kuat 80 % - 100 % Sangat Kuat Sumber: Sugiono, 2001 3.5.3 Pengujian Hipotesis

Pengujian hipotesis digunakan untuk menguji kebenaran dari dugaan sementara penelitian yang dilakukan, pengujian hipotesis yang dilakukukan dalan penelitian ini dengan Uji F dan Uji t yang dijabarkan sebagai berikut.

3.5.3.1 Uji F

Uji F digunakan untuk menguji tingkat signifikansi koefisien regresi variabel independen secara serempak terhadap variabel dependen.

Kriteria pengujian

Ho diterima jika F hitung ≤ F tabel Ho ditolak jika F hitung > F tabel

Tabel F dilakukan untuk mengetahui pengaruh variabel bebas secara bersama-sama terhadap variabel terikat. Langkah-langkah/ urutan menguji hipotesis dengan distribusi F :

1. Hipotesis

a) Ho : Volume Penjualan dan Harga Jual secara bersama-sama tidak berpengaruh terhadap Pendapatan Pedagang.

b) Ha : Volume Penjualan dan Harga Jual secara bersama-sama berpengaruh terhadap Pendapatan Pedagang.

(48)

34 2. Menentukan taraf nyata/ level of significance = α

Taraf nyata / derajat keyakinan yang digunakan sebesar α = 5%, Derajat bebas (df) dalam distribusi F ada dua, yaitu :

df numerator = dfn = df1 = k – 1 df denumerator = dfd = df2 = n – k Dimana:

df = degree of freedom/ derajat kebebasan n = Jumlah sampel

k = banyaknya koefisien regresi 3. Kriteria pengujian

a) Ho diterima apabila F hitung ≤ F tabel, artinya semua variabel bebas secara bersama-sama bukan merupakan variabel penjelas yang signifikan terhadap variabel terikat.

b) Ho ditolak apabila F hitung > F tabel, artinya semua variabel bebas secara bersama-sama merupakan penjelas yang signifikan terhadap variabel terikat

3.5.3.2 Uji t

Uji t digunakan untuk mengetahui apakah variabel independen secara parsial mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap variabel dependen.

Langkah-langkahnya sebagai berikut : 1. Hipotesis

Ho1 = Volume Penjualan secara parsial tidak mempunyai pengaruh yang

(49)

35 Ha1= Volume Penjualan secara parsial mempunyai pengaruh yang signifikan

terhadap Pendapatan Pedagang

Ho2 = Harga Jual secara parsial tidak mempunyai pengaruh yang signifikan

terhadap Pendapatan Pedagang

Ha2 = Harga Jual secara parsial mempunyai pengaruh yang signifikan

terhadap Pendapatan Pedagang 2. Menentukan t tabel

Tabel distribusi t dicari pada α = 5% dengan derajat kebebasan (df) = n - k -1. 3. Kriteria pengujian

a) Ho diterima apabila t hitung ≤ t tabel, artinya semua variabel bebas secara parsial bukan merupakan variabel penjelas yang signifikan terhadap variabel terikat.

b) Ho ditolak apabila t hitung > t tabel, artinya semua variabel bebas secara parsial merupakan penjelas yang signifikan terhadap variabel terikat 3.6 Definisi Operasional

Menurut Bungin (2006), definisi operasional adalah definisi yang didasarkan atas sifat-sifat hal definitif yang dapat diukur dan diamati, sebagai titik tolak persamaan persepsi dalam penelitian. Definisi operasional dalam penelitian ini adalah:

1 Penjualan merupakan hasil perkalian dari volume penjualan dikalikan dengan harga jual rata-rata bunga potong.

2 Pembelian merupakan hasil volume penjualan dikalikan dengan harga beli rata-rata bunga potong.

(50)

36 4 Biaya usaha merupakan semua biaya-biaya yang dikeluarkan pedagang bunga potong yang terdiri dari biaya variable per unit / biaya beli, biaya retribusi dan biaya gaji.

5 Biaya Retribusi yang dimaksud dalam penelitian ini biaya yang ditagihkan dari pihak pengelola pasar kepada pedagang bunga potong ebagai ganti fasilitas yang diberikan.

(51)

37 BAB IV

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4.1 Profil UPT P3H Rawa Belong

Pusat Promosi dan Pemasaran Bunga dan Tanaman Hias Rawabelong yang dikenal sebagai Pasar Bunga Rawa Belong merupakan Instalasi Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pusat Promosi dan Pemasaran Hortikultura (P3H), Dinas Pertanian dan Kehutanan Provinsi DKI Jakarta yang memiliki areal lahan seluas 1,4 Ha.

Berdiri sejak tanggal 25 Juli 1989 yang diresmikan oleh Gubernur provinsi DKI Jakarta. Pusat Promosi tersebut terletak di Kelurahan Sukabumi Utara Kecamatan Kebon Jeruk, Kotamadya Jakarta Barat. Sebagai pendukung kegiatan pemasaran bunga / tanaman hias, sekitar nya terdapat lokasi sentra produsen bunga / tanaman hias yang tersebar disekitar daerah Rawa Belong dan Meruya Utara

Pada awal berdirinya, 25 juli 1989 fasilitas sarana dan prasarana yang tersedia di Pusat Promosi dan Pemasaran Bunga dan Tanaman Hias Rawa Belong hanya diperuntukan untuk bunga potong dengan memanfaatkan 0,9 Ha dari luasan 1,4Ha terdiri dari :

a. Kios Bunga Florist (5 m2) 76 Unit b. Los Bunga Potong (26x6 m2) 3 Unit c. Kantor 1 Unit

d. Musholla 1 Unit e. Kantin 1 Unit f. Pos Jaga 2 Unit

(52)

38 g. Gudang 1 Unit

h. Area Parkir seluas 3.000 m2

Dalam perkembangannya mulai tahun 2005 hingga 2008 telah dibanguan sarana dan prasarana usaha dan perlengkapan pendukung diantaranya adalah :

A. Pada lokasi lahan sebelah selatan seluas 6.447 m2, yang terdiri atas bangunan sebagai berikut :

1. Bangunan Kios dan Los seluas 3.686 m2, berupa: a. Lantai dasar terdiri atas :

1) Kios ukuran 3 x 3 m = 38 unit 2) Kios ukuran 3 x 4 m = 20 unit 3) Kafe ukuran 4 x 4 m = 1 buah 4) Los bunga seluas 528 m2 = 1 unit 5) Gedung Serba guna 200 m2 = 1 buah 6) Ruang Pelayanan 6 x 4 m = 2 buah 7) Ruang kemanan 6 x 4 m = 1 buah 8) Toilet Pria dan Wanita = 2 unit 9) List barang = 1 unit

10) Lantai atas (Lantai dua), terdiri dari : 11) Kios terbuka ukuran 6 x 6 m = 7 unit 12) Kios terbuka ukuran 6 x 8 m = 12 unit 13) Kios terbuka ukuran 4 x 6 m = 1 unit

14) Ruang Fogging Bunga dan tanaman hias ukuran 6 x 12 m = 1 unit

(53)

39 16) Ruang Pelayanan 4 x 6 m = 5 unit

17) Mushola ukuran 4 x 6 m = 1 unit

2. Bangunan Kantor dan Laboratorium kultur jaringan :

a. Lantai dasar; Kantor pusat promosi dan pemasaran luas 200 m2 b. Lantai atas (lantai 2); laboratorium kultur jaringan, luas 200 m2 3. Bangunan Workshop; seluas 1.152 m2, terdiri dari :

a. Lantai dasar

1) Ruangan workshop stickwerk, dan rangkaian bunga 2) Toilet pria dan wanita 2 unit

3) Ruang penyimpanan es 1 unit 4) Mushola 1 unit

b. Lantai atas (Lantai dua), terdiri dari :

a. Ruangan workshop; roncean melati 1 unit b. Toilet pria dan wanita

4. Bangunan Jembatan Penghubung kios-los dengan laboratorium kultur jaringan, seluas 120 m2, yang digunakan untuk aklimatisasi bibit kultur jaringan

B. Di lokasi lahan sebelah Utara dengan seluas 5.970 m2, berupa : 1. Bangunan Kios dan Los Bunga, seluas 3.384 m2 terdiri dari :

a. Lantai dasar, berupa :

1) Kios ukuran 3 x 3 m, sebanyak 75 unit 2) Los seluas 546 m2 sebanyak 1 unit 3) Toilet pria dan wanita 2 unit

(54)

40 b. Lantai atas (lantai 2), berupa :

1) Kios Terbuka (kavling), ukuran 6 x 6 m sebanyak 19 unit 2) Ruang Foging/Cold Storage, ukuran 6 x 12 m sebanyak 1 unit 3) Los seluas 462 m2, sebanyak 1 unit

4) Toilet pria dan wanita 1 unit 5) Mushola 1 unit

2. Bangunan parkir, seluas 1600 m2, terdiri dari :

a. Bangunan parkir, seluas 1200 m2, terletak di lantai dasar, lantai 2 dan lantai 3

3. Bangunan sarana olahraga

4. Bangunan Gardu Listrik PLN seluas 12 m2

Seiring dengan meningkatnya kebutuhan bunga/tanaman hias di wilayah Propinsi DKI Jakarta dan dalam rangka menjaga stabilitas harga bunga/tanaman hias, maka pada tahun 2004 dibangun gedung pelelangan bunga/tanaman hias seluas 200 m2 yang menempati pada areal tanah seluas 1232 m2. Dengan adanya bangunan gedung lelang bunga/tanaman hias ini selain mampu meningkatkan volume transaksi bunga/tanaman hias, stabilitas harga, juga mampu mendorong ekslarasi transaksi yang terjadi, sehingga bunga potong yang ditransaksikan dalam kondisi yang masih sangat fresh.

UPT P3H Rawa Belong berperan sebagai penyedia fasilitas sarana dan prasarana, pemasaran, distribusi, promosi, jasa pasca panen, penyimpanan penyuluhan dan informasi harga bunga / tanaman hias serta pelaksanaan bursa dan lelang bunga. Pasokan bunga potong / tanaman hias umumnya berasal dari petani dari DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur. Selanjutnya

(55)

41 didistribusikan ke berbagai tempat untuk memenuhi permintaan konsumen di DKI Jakarta dan luar Jakarta serta untuk keperluan ekspor. Setiap hari di UPT P3H Rawa Belong terjadi pertemuan dan transaksi yang melibatkan kurang lebih 500-1000 orang, puncak kegiatan terjadi pada pukul 03.00-07.00 WIB.

Jenis komoditas dan jasa yang dipasarkan meliputi : a. Berbagai Jenis Bunga Potong Anggrek b. Bunga Gunung / Subtropik

c. Bunga Rampai

d. Aneka Daun Hias / Asesoris e. Berbagai Jenis Tanaman Hias

f. Perlengkapan Rangkaian Bunga : Berbagai jenis Pot, Oasis, Mosh, Besi Standart, Pita, Keranjang Bunga, dll.

g. Sarana Produksi / Alat Pertanian : Pupuk, Pestisida, Gunting, Cangkul, Sabit, Pot, dll

(56)

42 Lokasi UPT P3H Pasar Bunga Rawa Belong dapat ditempuh melalui rute perjalanan sebagai berikut:

Gambar 4.4. Denah lokasi UPT P3H Pasar Bunga Rawa Belong

Rute perjalanan menuju Pasar Rawa Belong : a. Bandara Internasional Soekarno-Hatta

Naik Bus DAMRI jurusan Blok M, turun di Bunderan Slipi. Kemudian naik Mikrolet M-11 turun di Jl. Sulaiman dan naik ojek menuju Rawa Belong. b. Stasiun Gambir

Naik Bus PPD 213 jurusan Grogol-Kampung Melayu. Lalu turun di Bunderan Slipi. Kemudian naik Mikrolet M-11 turun di Jl. Sulaiman dan naik ojek menuju Rawa Belong.

(57)

43 c. Stasiun Senen

Naik Bus Mayasari Bhakti No 6. Lalu turun di Bunderan Slipi. Kemudian Naik Mikrolet M-11 turun di Jl. Sulaiman dan naik ojek menuju Rawa Belong.

d. Terminal Grogol

Naik Bus Metromini 91 (Batusari). Lalu turun di Bunderan Slipi.

Kemudian Naik Mikrolet M-11 turun di Jl. Sulaiman dan naik ojek menuju Rawa Belong.

e. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Naik Bus 102 (tanah abang). Lalu turun di Bundaran Slipi

Kemudian Naik Mikrolet M-11 turun di Jl. Sulaiman dan naik ojek menuju Rawa Belong.

4.2 Tupoksi

UPT P3H Pasar Bunga Rawa Belong dalam melaksanakan kegitannya memiliki tugas pokok dan fungsi sebagai berikut:

1. Tugas Pokok

Pusat Promosi dan Pemasaran Holtikultura mempunyai tugas melaksanakan usaha promosi dan pemasaran hasil pertanian dan hasil hutan, menyediakan dan memberikan pelayanan fasilitas serta mengelola sarana dan prasarana promosi dan pemasaran.

2. Fungsi

Unit Pelaksana Teknis Promosi dan Pemasaran Hasil Pertanian dan Hasil Hutan mempunyai fungsi :

(58)

44 a. Penyusunan program dan rencana kegiatan operasional

b. Pengembangan usaha agribisnis hasil pertanian dan hasil hutan

c. Bimbingan teknis dan pengembangan usaha instalasi Pusat Promosi dan Pemasaran Holtikultura

d. Pelayanan dan pengelolaan sarana dan prasarana promosi, informasi dan distribusi dan pemasaran hasil pertanian dan hasil hutan

e. Pelayanan dan pengelolaan fasilitas sarana sortasi, grading, kemasan dan penyimpanan hasil pertanian

f. Pengembangan dan pelayanan usaha jasa promosi dan informasi di bidang agribisnis

g. Pelaksanaan obyek pengembangan wisata agro

h. Penerapan teknologi sistem informasi, promosi dan pemasaran hasil pertanian dan hasil hutan

i. Penyediaan sarana dan pelayanan bimbingan, latihan dan penelitian bagi masyarakat, mahasiswa dan petani pedagang yang bergerak di bidang agribisnis

j. Pelaksanaan kegiatan ketatausahaan

4.3 Visi dan Misi

Visi pusat promosi Pemasaran dan Bunga dan Tanaman Hias yaitu "Unggul dan Prima Dalam Pelayanan Agribisnis Bunga dan Tanaman Hias", upaya untuk mencapai visi yang dimaksud yaitu dengan melaksanakan misi "Better Performance, Better Service, Better Bussines, and Better Living".

Gambar

Tabel  F  dilakukan  untuk  mengetahui  pengaruh  variabel  bebas  secara  bersama-sama  terhadap  variabel  terikat
Tabel distribusi t dicari pada α = 5% dengan derajat kebebasan (df) = n - k -1.
Gambar 4.4. Denah lokasi UPT P3H Pasar Bunga Rawa Belong
Gambar 4.3. Struktur Organisasi UPT P3H Pasar Bunga Rawa Belong
+3

Referensi

Dokumen terkait

Temuan tentang tingginya kadar logam berat Cr dalam bulu sejalan dengan penelitian kandungan Trace Element dalam organ bulu dan internal ayam di beberapa peternakan

Satya Karya Utama hanya menggunakan aplikasi-aplikasi standar Seperti Microsoft office saja untuk kegiatan operasional perusahaan guna menunjang proses bisnisnya, setiap

regresi sebagai kajian terhadap hubungan satu variabel yang disebut sebagai.. variabel yang diterangkan ( the explained variabel ) dengan satu atau

Oleh karena itu, penulis menilai sangat relavan untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Faktor Sosial, Budaya, Pribadi dan Psikologis terhadap Keputusan

Analisis korelasi stabilitas membran sel dengan produktivitas tubuh buah dilakukan dengan menggunakan data nilai Kerusakan Relatif/Relative Injury (RI) pada suhu 30 o C

Variable dummy sering juga disebut variable boneka, binary, kategorik atau dikotom (Basuki, 2016). Dalam penelitian ini yang terjadi adalah perbedaan situasi, yaitu

Hasil analisis vegetasi pada tingkat tumbuhan bawah (Tabel 1) menunjukan bahwa jenis areuy kuhkuran atau Carallia brachiata memiliki INP 25,71 % dan menjadi paling

Identifikasi Masalah Berdasarkan hasil analisis dari sistem yang sedang berjalan diatas, maka dapat diindentifikasi permasalahan sebagaimana berikut ini :  Fakultas dalam