7
LANDASAN TEORI
2.1 Pengertian Studi Kelayakan Bisnis
Menurut Umar (2005) studi kelayakan bisnis merupakan penelitian terhadap rencana bisnis yang tidak hanya menganalisis layak atau tidak layak dibangun, tetapi juga saat dioperasionalkan secara rutin dalam rangka pencapaian keuntungan yang maksimal untuk waktu yang tidak ditentukan, misalnya rencana peluncuran produk baru.
Dengan itu, Kasmir dan Jakfar (2012) studi kelayakan bisnis adalah suatu kegiatan yang mempelajari secara mendalam tentang suatu kegiatan atau usaha yang akan dijalankan, untuk menentukan layak atau tidaknya suatu bisnis dijalankan.
Sementara itu, Sunyoto (2014) menyatakan bahwa studi kelayakan bisnis adalah penelitian yang menyangkut berbagai aspek berupa aspek hukum, aspek keuangan, aspek sosial ekonomi dan budaya, aspek pasar dan pemasaran, aspek perilaku konsumen, aspek teknis dan teknologi, aspek sumber daya manusia dan organisasi, dimana semua itu digunakan untuk mengambil keputusan apakah suatu proyek atau bisnis dapat dikerjakan atau tunda bahkan tidak dijalankan.
2.1.1 Manfaat Studi Kelayakan Bisnis
Rangkuti (2012) menyatakan manfaat studi kelayakan bisnis adalah investasi yang dikeluarkan haruslah memberikan tingkat pengembalian yang sesuai dengan besarnya modal yang dikeluarkan, serta resiko yang dihadapi.
Hasil dari suatu kelayakan bisnis menurut Kasmir dan Jakfar (2010) adalah laporan tertulis. Yang menyatakan bahwa suatu rencana bisnis layak direalisasikan.
Hasil penilaian melalui studi kelayakan ini sangat diperlukan oleh berbagai pihak yang berkepentingan terhadap usaha atau proyek yang akan dijalankan. Perusahaan yang akan melakukan studi kelayakan yang akan bertanggung jawab terhadap hasil yang mereka katakan layak, sehingga pihak-pihak yang berkepentingan merasa yakin dan sangat percaya dengan hasil studi kelayakan yang telah dilakukan. Adapun pihak-pihak yang berkepentingan terhadap hasil studi kelayakan tersebut ialah:
1. Pemilik usaha 2. Manajemen 3. Kreditor 4. Pemerintah
5. Masyarakat luas
2.1.2 Tahap-tahap Studi Kelayakan Bisnis
Tahap-tahap dalam pelaksanaan studi kelayakan bisnis secara umum (Danang, 2012) :
1. Penemuan Ide
Agar dapat menghasilkan ide proyek yang dapat menghasilkan produk yang laku untuk dijual dan menguntungkan diperlukan penelitian yang terorganisasi dengan baik serta dukungan sumber daya yang memadai. Jika ide proyek lebih dari satu, dipilih dengan memperhatikan :
• Pengambilan keputusan mampu melibatkan diri dalam hal-hal yang sifatnya teknis.
• Keyakinan akan kemampuan proyek menghasilkan laba.
2. Tahap Penelitian
Setelah ide proyek terpilih, dilakukan penilitian yang lebih mendalam dengan metode ilmiah:
• Mengumpulkan data
• Mengolah data
• Menganalisis dan menginterpretasikan hasil pengelolahan data
• Menyimpulkan hasil
• Membuat laporan hasil 3. Tahap Evaluasi
Evaluasi yaitu membaningkan sesuaru dengan satu atau lebih standar atau kriteria yang bersifat kuantitatif atau kualitatif. Ada 3 macam evaluasi:
• Mengevaluasi usaha proyek yang akan didirikan
• Mengevaluasi proyek yang akan dibangun
• Mengevaluasi bisnis yang sudah dioperasionalkan secara rutin
Dalam evaluasi bisnis yang akan dibandingkan adalah seluruh ongkos yang akan ditimbulkan oleh usulan bisnis serta manfaat atau benefit yang akan diperkirakan akan diperoleh.
4. Tahap Pengukuran Usulan yang layak
Setelah dipilih usulan proyek yang akan direalisasikan, perlu dibuat suatu rencana kerja pelaksanaan pembangunan proyek itu sendiri. Mulai dari menentukan jenis pekerjaan, waktu yang dibutuhkan unutk tiap jenis
pekerjaan, jumlah dan kualifikasi tenaga pelaksana, ketersediaan dana dan sumber daya lain, kesiapan manajemen dan lain lain.
5. Tahap Rencana Pelaksana Proyek Bisnis
Setelah dipilih usulan proyek yang akan direalisasikan, perlu dibuat suatu rencana kerja pelaksaan pembangunan proyek itu sendiri. Mulai dari menentukan jenis pekerjaan, jumlah dan kualifikasi tenaga pelaksana, ketersediaan dana dan sumber daya lain, kesiapan manajemen dan lain-lain.
6. Tahap Pelaksanaan Proyek Bisnis
Setelah semua persiapan yang harus dikerjakan selesai disiapkan, tahap pelaksanaan proyek pun dimulai. Semua tenaga pelaksana proyek, mulai dari pemimpin proyek sampai pada tingkat yang paling bawah harus bekerja sama dengan sebaik-baiknya sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Memang pada kenyataannya sulit ditemukan bahwa rencana yang dibuat sama persis dengan realisasinya.
2.1.3 Tujuan Studi Kelayakan Bisnis
Paling tidak ada lima tujuan mengapa sebelum suatu usaha atau bisnis dijalankan perlu dilakukan studi kelayakan (Kasmir & Jakfar, 2012), yaitu:
1. Menghindari Resiko Kerugian
Untuk mengatasi resiko kerugian di masa yang akan datang ada semacam kondisi kepastian. Kondisi ini ada yang dapat diramalkan akan terjadi atau memang dengan sendirinya terjadi tanpa dapat diramalkan. Dalam hal ini fungsi studi kelayakan adalah untuk meminimalkan resiko yang tidak kita inginkan, baik resiko yang dapat kita kendalikan maupun yang tidak dapat dikendalikan.
2. Memudahkan Perencanaan
Jika kita sudah dapat meramalkan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang, maka akan mempermudah kita dalam melakukan perencanaan dan hal-hal apa saja yang perlu direncanakan.
3. Memudahkan Pelaksanaan Pekerjaan
Dengan adanya berbagai rencana yang sudah disusun akan sangat memudahkan pelaksanaan usaha. Para pelaksana yang mengerjakan bisnis tersebut telah memiliki pedoman yang harus diikuti. Pedoman tersebut telah tersusun secara sistematis, sehingga usaha yang dilaksanakan dapat tepat sasaran dan sesuai dengan rencana yang sudah disusun.
4. Memudahkan Pengawasan
Dengan telah dilaksanakannya suatu usaha sesuai dengan rencana yang sudah disusun, maka akan memudahkan kita untuk melakukan pengawasan terhadap jalannya usaha. Pengawasan ini perlu dilakukan agar tidak melenceng dari rencana yang telah disusun.
5. Memudahkan Pengendalian
Apabila dalam pelaksanaan pekerjaan telah dilakukan pengawasan, maka jika terjadi penyimpangan akan mudah terdeteksi, sehingga dapat dilakukan pengendalian atas penyimpangan tersebut. Tujuan pengendalian adalah untuk mengendalikan pelaksanaan agar tidak melenceng dari rel yang sesungguhnya, sehingga pada akhirnya tujuan perusahaan akan tercapai.
2.1.4 Aspek-aspek dalam Studi Kelayakan Bisnis
Menurut Danang (2012) aspek yang terdapat pada studi kelayakan proyek atau bisnis yang terdiri dari berbagai aspek yang sudah disebutkan di atas antara lain:
• Aspek Pemasaran dan Pasar
• Aspek Sumber Daya Manusia
• Aspek Manajemen Operasional dan Teknologi
• Aspek Keuangan
• Aspek Hukum
• Aspek Pesaing
Sumber: Penulis (2015)
Gambar 2.1 Aspek-aspek Studi Kelayakan Bisnis
Dalam penelitin ini, aspek yang digunakan sebagai berikut:
2.1.4.1 Aspek Pemasaran dan Pasar 2.1.4.1.1 Aspek Pemasaran
Keputusan bijaksana untuk mendirikan usaha kecil sangat tergantung pada kualitas informasi yang dikumpulkan selama analisis pasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin rendah kualitas analisis pasar terkait informasi yang dikumpulkan, semakin besar kemungkinan membuat keputusanyang tidak bijaksana, dan kemudian bisnis menjadi tidak layak (Moghli, Azmi dan Ghaith, 2012)
Bagian pemasaran produk barang, manajemen pemasaran akan dipecah atas 4 (empat) kebijakan pemasaran yang lazin disebut sebagai bauran pemasaran (marketing mix), yang terdiri atas (Umar, 2007:70-74):
1) Produk (Product)
Produk berupa barang dapat dibeda-bedakan atau diklasifikasikan menurut macamnya. Untuk produk barang, misalnya dalam bentuk seperti: mutu produk yang menunjukkan kemampuan sebuah produk untuk menjalankan
Aspek-aspek Aspek Operasional
danTeknologi Aspek Sumber Daya Manusia Aspek Pasar dan
Pemasaran
Aspek Hukum
Aspek Keuangan
Aspek Pesaing
Hasil Studi
fungsinya, ciri produk merupakan sarana kompetitif untuk membedakanproduk perusahaan dengan produk bersaing dan desain yang dapat menyumbangkan kegunaan atau manfaat produk serta coraknya.
2) Harga (Price)
Harga adalah sejumlah nilai yang akan ditukarkan oleh konsumen dengan manfaat memiliki atau menggunakan produk yang nilainya ditetapkan oleh pembeli dan pemjual melalui proses tawar-menawar, atau ditetapkan oleh penjual untuk satu harga yang sama terhadap semua pembeli.
3) Distibusi (Channel/Price)
Sebagian besar produsen menggunakan perantara pemasaran untuk memasarkan produk, khususnya barang dengan cara membangun suatu saluran distribusi, yaitu sekelompok organisasi yang saling tergantung da;lam keterlibatan mereka ada proses yang memungkinkan suatu produk tersedia bagi penggunaanatau konsumsi oleh konsumen atau pengguna industrial.
4) Promosi (Promotion)
Promosi adalah usaha perusahaan untuk mengkomunikasikan atau mengenalkan manfaat dari produknya ke publik atau pembeli potensi. Promosi yang efektif dengan memperhatikan target pasar, tempat promosi jenis promosi, staf yang handal dan sebagainya.
Kebanyakan orang beranggapan bahwa pemasaran hanyalah menjual dan mengiklankan. Sesungguhnya penjualan dan iklan hanyalah puncak dari pemasaran.
Saat ini pemasaran harus dipahami tidak dalam pemahaman kuno sebagai membuat penjualan, tetapi dalam pemahaman modern yaitu memuaskan kebutuhan pelanggan.
Bila pemasar memahami kebutuhan pelanggan, mengembangkan produk dan jasa yang menyediakan nialai yang unggul bagi pelanggan, menetapkan harga, mendistribusikan, dan mepromosikan produk dan jasa itu secara efektif, maka produk dan jasa itu akan mudah untuk dijual.
Dalam rangka menciptakan peluang dalam pemasaran dan sekaligus mengetahui pasar, maka dalam aspek ini meliputi:
Konsep pemasaraan
Program dan pembiayaan pemasaran
Konsep pasar dan pasar sasaran
Estimasi pasar sasaran
Segmentasi pasar
Merancang produk, merek, kemasan, label, harga, promosi, dan saluran distribusi.
2.1.4.1.2 Aspek Pasar 1. Segmenting
Dengan segmentasi pasar, sumber daya yang terbatas dapat digunakan secara optimal untuk menghasilkan produk yang dapat memenuhi permintaan pasar, dapat mengalokasikannya kepada potensial yang paling menguntungkan, dan dapat ikut bersaing dalam segmen pasar tertentu, serta dapat menentukan cara – cara promosi yang efektif.
Pemasaran merupakan suatu pusat kegiatan dari organisasi modern. Agar bertahan dan berhasil, organisasi harus mengetahui pasarnya, memperoleh sumber daya yang memadai, mengubah sumber daya ini menjadi produk, jasa dan ide – ide yang tepat, dan mendistribusikannya secara efektif pada masyarakat penggunanya.
Menurut Kotler (2008) ada empat variable utama yang digunakan sebagai dasar – dasar pengelompokan pasar, yaitu variasi demografi, geografi, psikografi, dan perilaku
Tabel 2.1 Variable – varibel segmentasi utama dalam pasar konsumen
No Variabel Bagian Variabel
1 Geografi Wilayah
Ukuran Iklim Pemukiman
2 Demografi Usia
Jenis Kelamin Ukuran Keluarga Daur Hidup Keluarga Pendapatan
Pekerjaan Pendidikan Agama Ras
Kebangsaan 3 Psikografis Kelas Sosial Gaya Hidup Kepribadian
4 Perilaku Saat Membeli
Manfaat Yang dicari Status Pemakaian Tingkat Pemakaian Status Loyalitas Kesiapan Membeli Sikap Terhadap Produk
Sumber: Kotler, 2008
2. Targeting
Targeting diartikan sebagai kegiatan menentukan pasar sasaran, yaitu tindakan memilih satu atau lebih segmen untuk dilayani, Analisis targeting adalah kegiatan mengevaluasi daya tarik masing-masing segmen dan memilih segmen-segmen sasaran. Penentuan pasar sasaran (targeting) menurut Fandy
Tjiptono (2008:232) merupakan proses mengevaluasi dan memilih satu atau beberapa segmen pasar yang dinilai paling menarik untuk dilayani dengan program pemasaran dan potensi perubahan segmen, karateristik struktural segmen dan kesesuaian antara produk pasar.
3. Positioning
Menurut Ali Hasan (2008:204) strategi positioning merupakan strategi yang berusaha menciptakan diferensiasi yang unik dalam benak pelanggan sasaran sehingga terbentuk citra (image) produk yang lebih unggul dibandingkan pesaing.
Langkah dalam strategi pemasaran harus memperhatikan keterkaitan antara Segmentasi, Targeting, Positioning, berikut adalah keterkaitan strategi pemasaran:
Tabel 2.2 Keterkaitan Strategi Pemasaran
Segmenting Pasar Targeting Positioning
- Mengidentifikasi Variabel Segmentasi dan segmentasi pasar
- Mengembangkan bentuk segmen yang menguntungkan
- Mengevaluasi daya tarik masing-masing segmen
- Memilih segmen- segmen sasaran
- Mengidentifikasi konsep positioning yang mungkin bagi masing-masing segmen sasaran - Memilih
mengembangkan dan
mengkomunikasikan konsep positioning yang dipilih Sumber: Fandy Tjiptono (2008)
2.1.4.2 Aspek Sumber Daya manusia
Aspek ini berkaitan dengan manajemen sumber daya manusia, perencanaan sumber daya manusia, analisis pekerjaan, analisis tenaga kerja, penarikan tenaga kerja, seleksi tenaga kerja, pelatihan tenag kerja, perencanaan karir, manajemen karier, pengembangan karier.
Menurut Ahmad subagyo (2007:159) analisis aspek manajemen dan sumberdaya manusia dapat digambarkan sebagai berikut :
1. Job Analysis, yaitu mengenalisis jabatan yang diperlukan untuk menyelesaikan jenis pekerjaan tertentu.
2. Job Specification, yaitu menentukan persyaratan dan kualifikasi yang diperlukan untuk mengisi suatu jabatan.
3. Mendesain struktur organisasi, yaitu menyusun struktur pertanggungjawaban.
4. Job Description, yaitu uraian pekerjaan yang menjelaskan tentang pekerjaan teknis anggota organisasi yang menjabat pekerjaan terntentu.
5. Mendesain sistem kompensasi, yaitu menguraikan struktur pengajian secara lengkap untuk semua jabatan dalam pekerjaan berdasarkan garis struktural dan fungsional.
6. Sistem pengembangan karyawan, yaitu menyusun rencana pendidikan dan pelatihan untuk mengembangkan keterampilan, pengetahuan, produktifitas, dan kinerja karyawan secara keseluruhan.
2.1.4.3 Aspek Manajemen Operasional dan Teknologi
Aspek ini meliputi pengertian manajemen operasional, keputusan dalam manajemen operasional, proses produksi, pemilihan teknologi, perencanaan kapasitas, perencanaan kapasitas, perencanaan lokasi, perencanaan layout, dan perencanaan system kerja.
Menurut Kasmir dan Jakfar (2010:145) menjelaskan bahwa aspek operasi adalah untuk menilai kesiapan perusahaan dalm menjalankan usaha dengan menilai ketepatan lokai, luas produksi, dan layout serta kesiagaan mesin-mesin yang akan digunakan.
Penentuan luas produksi adalah berkaitan dengan jumlah produksi yang dihasilkan dalam waktu tertentu dengan mempertimbangkan kapasitas teknis dan peralatan yang dimiliki serta biaya yang paling efisien, luas produksi dapat dilihat dari segi teknis. Dari segi ekonomis yang dilihat adalah berapa jumlah produk yang dihasilkan dalam waktu tertendu dengan biaya yang paling efisien. Sedangkan dari
segi teknis yang dilihat adalah jumlah produk yang dihasilkanatas dasar kemampuan mesin dan peralatan serta persyaratan teknis (Kasmir dan Jakfar, 2010:152).
Layout merupakan suatu proses dalam penentuan bentuk dan penempatan fasilitas yang dapat menentukan efisiensi produksi atau operasi (Kasmir dan Jakfar, 2010:152).
Dengan adanya layout akan diperoleh berbagai keuntungan antara lain sebagai berikut (Kasmir dan Jakfar, 2010:152):
1) Memberikan ruang gerak yang memadai untuk beraktifitas dan pemeliharaan.
2) Pemaiakan ruangan yang efisien.
3) Mengurangi biaya produksi maupun investasi.
2.1.4.4 Aspek Hukum
Menurut Danang (2012) mengatakan bahwa berkaitan dengan keberadaan secara legal di mana proyek akan dibangun yang meliputi ketentuan hukum yang berlaku termasuk izin lokasi meliputi sertifikat (akta tanah), bukti pembayaran PBB yang terakhir, rekomendasi dari RT/ RW/ kecamatan, dan izin usaha meliputi akta pendirian perusahaan dari notaris setempat PT/CV atau berbentuk badan hukum lainnya, NPWP, surat tanda daftar perusahaan, surat izin tempat usaha dari pemda setempat, surattanda rekaman dari pemda, SIUP setempat, surat tanda terbit yang dikeluarkan oleh Kanwil Departemen Penerangan.
2.1.4.5 Aspek Keuangan
Pada aspek ini pembahasan meliputi sumber-sumber dana, perkiraan investasi, biaya operasional, perkiraan pendapatan, laporan keuangan, dan rasio-rasio keuangan.
Semua pengusaha harus memahami pentingnya pendapatan dan arus kas yangpositif, mereka sering meremehkan tingkat minimum yang harus dihasilkan untuk mempertahankan standar yang diinginkan untuk hidup dalam bisnisnya (schiff, Hammer dan Das: 2010)
Secara keseluruhan penilaian dalam aspek keuangan meliputi hal-hal seperti (Kasmir dan Jakfar, 2010: 7):
1. Sember-sumber dana yang akan diperoleh.
2. Kebutuhan biaya investasi.
3. Estimasi pendapatan dan biaya selama beberapa periode. termasuk jenis-jenis dan jumlah biaya yang dikeluarkan selama umur investasi.
4. Proyeksi neraca dan laporan laba rugi unutk bebrapa periode kedepan.
5. Kriteria penilaian investasi.
6. Rasio keuangan yang digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan.
apakah proyek dapat berkembang terus.
Dalam analisis aspek finansial, terdapat beberapa hal yang harus dianalisis yaitu : 1. Break Even Point
2. Aliran Kas (Cash Flow) 3. Biaya Modal (Cost of Capital) 4. Initial and Operasional Cash Flow 5. Payback Period
6. Internal Rate of Return 7. Net Present value 8. Profitability Index
2.1.4.5.1 Break Event Point (BEP)
Pengertian Break Event Point menurut Kasmir (2011:332) adalah suatu keadaan diman perusahaan beroperasi dalam kondisi tidak memperoleh pendapatan (laba) dan tidak pula menderita kerugian. Artinya dalam kondisi ini jumlah pendapatan yang diterima sama dengan jumlah biaya yang dikeluarkan.
Menurut Bambang Riyanto (2011:359) menyatakan bahwa suatu teknik untuk mengetahui hubungan antara biaya tetap, biaya variabel, keuntungan dan volume kegiatan.
Tujuan Break Even Point :
Menurut Kasmir (2011:334) menyatakan kegunaan BEP adalah:
1. Mendesain spesifikasi produk.
2. Menentukan harga jual satuan.
3. Menentukan jumlah produksi atau penjualan minimal agar tidak mengalami kerugian.
4. Memaksimalkan jumlah produksi.
5. Merencanakan tujuan yang diinginkan.
Ada dua cara perhitungan Break Even Point yaitu atas dasar Unit dan atas dasar rupiah. Menurut Bambang Riyanto (2011:364-365) perhitungan break even point atas dasar unit dapat dilakukan dengan menggunakan rumus :
Dimana :
P = Harga Jual per Unit V = Biaya Variabel per Unit FC = Biaya Tetap
Q = jumlah unit/ kuantitas produk yang dihasilkan dan dijual
Adapun perhitungan Break Even Point atas dasar sales (rupiah) dapat dilakukan dengan menggunakan Rumus:
Dimana:
FC = biaya tetap VC = Bisys Variabel S = volume penjualan
2.1.4.5.2 Pengertian Cash Flow
Menurut Kasmir dan Jakfar (2010:92) cash flow merupakan arus kas atau aliran kas yang ada diperusahaan dalam suatu periode tertentu. Cash flow menggambarkan beberapa uang yang masuk (cash in) ke perusahaan dan jenis-jenis pemasukan tersebut. Cash flow juga menggambarkan berapa uang yang keluar (cash out) serta jenis-jenis biaya yang dikeluarkan
Uang masuk dapat berupa pinjaman dari lembaga keuangan atau hibah dari pihak tertentu. Uang masuk juga dapat diperoleh dari penghasilan atau pendapatan yang diperoleh dari yang berhubungan langsung dengan usaha yang sedang dijalankan seperti penjualan. Di samping itu, uang masuk bisa pula berasal dari pendapatan lainnya yang bukan dari usaha utama.
Uang keluar merupakan sejumlah uang yang dikeluarkan perusahaan dalam suatu periode, baik yang langsung berhubungan dengan usaha yang dijalankan, maupun yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan usaha utama. Uang keluar ini merupakan biaya-biaya yang harus dikeluarkan perusahaan untuk berbagai keperluan yang berkaitan dengan kegiatan usaha, seperti pembayaran cicilan utang
dan bunga pinjaman, biaya produksi, biaya tenaga kerja, biaya pemasatan, dan biaya- biaya lainnya.
Dalam cash flow semua data pendapatan yang akan diterima dan biaya yang akan dikeluarkan baik jenis, maupun jumlahnya diestimasi sedemikian rupa, sehingga menggambarkan kondisi pemasukan dan pengeluaran di masa yang akan datang.
Estimasi pendapatan dan biaya merupakan perkiraan berapa pendapatan yang akan diperoleh dan berapa besarnya biaya yang harus dikeluarkan dalam suatu periode. Kemudian jenis-jenis pendapatan dan biaya apa saja yang dikeluarkan serta berapa besar pendapatan yang diperoleh dan biaya yang dikeluarkan tiap pos. Pada akhirnya cash flow akan terlihat pada kas akhir yang diterima perusahaan. Jadi, arus kas adalah jumlah uang yang masuk dan keluar dalam suatu perusahaan mulai dari investasi dilakukan sampai dengan berakhirnya investasi tersebut. Dalam hal ini diinvestasikan disuatu usaha. Pentingnya kas akhir bagi investor jika dibandingkan dengan laba yang diterima perusahaan dikarenakan:
1. Kas diperlukan untuk memenuhi kebutuhan uang tunai sehari-hari.
2. Kas digunakan untuk membayar semua kewajiban yang jatuh tempo.
3. Kas juga digunakan untuk melakukan investasi kembali. Jenis-jenis cash flow yang dikaitkan dengan suatu usaha terdiri dari:
a. Initial cash flow atau lebih dikenal kas awal yang merupakan pengeluaran-pengeluaran pada awal periode untuk investasi. Contoh biaya pra-investasi adalah pembelian tanah, gedung, mesin peralatan, dan modal kerja.
b. Operational cash flow merupakan kas yang diterima atau dikeluarkan pada saat operasi usaha, seperti penghasilan yang diterima dan pengeluaran yang dikeluarkan pada suatu periode.
c. Terminal cash flow merupakan uang kas yang diterima pada saat usaha tersebut berakhir.
Cash Flow merupakan arus kas atau aliran kas yang ada di perusahaan dalam suatu periode tertentu. Cash Flow menggambarkan berapa uang yang masuk (cash in) ke perusahaan dan jenis-jenis pemasukkan tersebut. Selain itu cash flow juga menggambarkan berapa uang yang keluar (cash out) serta jenis-jenis biaya yang dikeluarkan. Uang yang masuk dapat berupa pinjaman dari lembaga keuangan atau hibah dari pihak tertentu. Uang masuk juga dapat diperoleh dari yang berhubungan
langsung dengan usaha yang sedang dijalankan. Uang masuk dapat pula berasal dari pendapatan lainnya yang bukan dari usaha utama. Uang keluar merupakan sejumlah uang yang dikeluarkan perusahaan dalam suatu periode, baik yang langsung berhubungan dengan usaha yang dijalankan, maupun yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan usaha utama (Kashmir dan Jakfar, 2012:95).
2.1.4.5.3 Net Present Value
Menurut Husein Umar (2007;200), NPV yaitu selisih antara present value dari investasi dengan nilai sekarang dari penerimaan – penerimaan kas bersih (aliran kas operasional maupun aliran kas terminal) di masa akan datang. Unutk menghitung nilai sekarang perlu ditentukan tingkat bunga yang relevan.
Rumus:
Keterangan:
PV proceed = DF x Proceed
PV outlays = Harga perolehan atau Harga beli
Kriteria: jika nilai NPV bernilai positif, maka usulan investasi DITERIMA, sebaliknya jika nilai NPV negatif, maka usulan investasi DITOLAK.
2.1.4.5.4 Internal Rate Of Return
Menurut ( Gunawan Adi Saputro 2007 : 53 ) mengatakan bahwa “Internal Rate Of Return adalah tingkat discount rate yang dapat menjadikan sama nilai sekarang dari outlay dengan nilai sekarang dari proceed investasi yang bersangkutan.“ Internal Rate Of Return adalah tingkat diskonto yang menyamakan nilai sekarang arus kas dengan investasi awalnya.
Kriteria keputusan dengan menggunakan tingkat pengembalian internal proyek adalah menerima proyek jika tingkat pengembalian internalnya lebih besar dari atau sama dengan tingkat pengembalian yang disyaratkan. Proyek akan ditolak jika tingkat pengembalian internalnya kurang dari tingkat yang disyaratkan. Kriteria diterima tolak ini dinyatakan kembali sebagai berikut :
Rumus:
Internal rate of return > tingkat pengembalian yang disyarat: DITERIMA Internal
rate of return < tingkat pengembalian yang disyaratkan : DITOLAK.
Keterangan :
P1= Tingkat bunga ke 1 P2= Tingkat bunga ke 2 C1 = NPV ke 1
C2 = NPV ke 2
2.1.4.5.5 Profitability Index
Menurut Siswanto Sutojo (2002:122), Profitability Index (PI) merupakan cara lain lagi untuk mengukur profitibilitas rencana investasi proyek. Dalam metode ini, profitibilitas dicari dengan jalan memperbandingkan jumlah seluruh present value net cash flows dan salvage value dengan nilai investasi proyek.
Metode Profitability Index (PI) yaitu metode yang menghitung perbandingan antara present value dari penerimaan dengan present value dari investasi.
Sutrisno,(2009:128).
Menurut Kasmir dan Jakfar (2007:105), Profitability Index (PI) Atau benefit and cost ratio (B/C Ratio) merupakan rasio aktivitas dari jumlah nilai sekarang penerimaan bersih dengan nilai sekarang pengeluaran investasi selama umur investasi.
Pemakaian metode Profitability Index (PI) ini caranya adalah dengan menghitung melalui perbandingan antara nilai sekarang ( Present Value) dari rencana penerimaan – penerimaan kas bersih dimasa yang akan dating dengan nilai sekarang ( Present Value) dari investasi yang telahdilaksanakan. Jadi profitability index dapat dihitung dengan membandingkan antara PV kas masuk dengan PV kas keluar. ( Husein Umar 2003 : 201)
Rumus yang digunakan dalam Profitability Indeks:
Kriteria penilaian :
- Jika PI > 1, maka investasi diterima - Jika PI<1, maka investasi ditolak 2.1.4.5.6 Payback Period
Metode payback period merupakan penghitungan invrstasi dalam jangka waktu tertentu yang menunjukkan terjadinya arus penerimaan kas (cash in flows) secara komulatif sama dengan jumlah investasi dalam bentuk present value. Atau
metode payback period merupakan teknik penilaian terhadap jangka waktu pengembalian investasi suatu proyek usaha. Perhitungan ini dapat dilihat dari perhitungan kas bersih (proceed) yang diperoleh per tahun. Nilai kas bersih merupakan penjumlahan laba setelah pajak setelah pajak ditambah dengan penyusutan, hal ini dilakukan jika investasi menggunakan modal sendiri 100%
(Kasmir dan Jakfar, 2013).
Rumus umum metode payback period sebagai berikut:
Perhitungan metode payback period ada dua yaitu: 1) Kas bersih per tahun sama, dan 2) Kas bersih per tahun tidak sama.
2.1.10 Aspek Persaingan
Menurut Husein Umar (2005:268) dalam bukunya mngutip strategi kompetitif yang dikemukakan oleh Michael E Porter, yang dimana konsep tersebut menganalisis persaingan bisnis berdasarkan 5 aspek yang di sebut sebagai Lima kekuatan dalam bersaing :
1. Persaingan di antara perusahaan sejenis
Persaingan antara perusahaan sejenis biasanya merupakan kekuatan terbesar dalam lima kekuatan kompetitif. Strategi yang dijalankan oleh suatu perusahaan dapat berhasil apabila perusahaan tersebut memberikan keunggulan kompetitif dibandingkan straregi yang dijalankan perusahaan pesaing. Perubahan strategi oleh suatu perusahaan mungkin akan mendapatkan serangan balasan seperti menurunkan harga, menungkatkan kualitas, menambahkan filter, menyediakan jasa, memperpanjang garansi, meningkatkan iklanm dan pembaharuan kemasan. Menurut Porter yang dikutip Umar (2005:270), tingkat persaingan dipengaruhi oleh beberapa factor yaitu:
• Jumlah Kompetitor
• Tingkat Pertumbuhan Industri
• Karakteristik Produk
• Biaya Tetap yang Besar
• Kapasitas
• Hambatan Keluar
2. Kemungkinan masuknya pesaing baru
Pendatang baru dalam suatu industrei akan membawa kapasitas baru, inovasi baru, modal baru, pemasaran yang baru, keinginan mendapatkan pangsa pasar dalam tiap-tiap industri itu sendiri. Akibatnya, harga dapat menjadi turun atau biaya menjadi lebih mahal sehingga mengurangi profitabilitas. Ancaman masuknya pendatang baru bergantung pada rintangan yang masuk dan reaksi pesaing yang sudah ada sebelumnya dalam mengantisipasi pendatang baru..
jika hambatan besar atau pendatang baru merasakan kesulitan bersaing terhadap pesaing yang telah ada maka ancaman dari pendatang baru akan rendah. Menurut Husein Umar (2005:268) terdapat factor-faktor yang dapat menghambat masuknya pendatang baru ke dalam industri, sebagai berikut :
• Skala Ekonomi
• Diferensiasi Produk
• Kecukupan Modal
• Biaya Peralihan
• Akses ke Saluran Distribusi
• Ketidakunggulan Biaya Independen
• Peraturan pemerintah
3. Potensi pengembangan produk subtitusi
Persaingan tidak hanya terjadi di perusahaan yang menghasilkan produk sejenis namun perusahaan juga bersaing dengan perusahaan yang menghasilkan produk pengganti / barang subtitusi. Produk pengganti membatasi laba yang potensial dari industri dengan menetapkan harga maksimum yang dikeluarkan oleh perusahaan dalam industri. Semakin menarik alternatif harga yang ditawarkan oleh produk pengganti, semakin ketat pembatasan laba industri. Produk pengganti sering kali timbul dengan cepat ketika suatu perkembangan meningkatkan persaingan di industri mereka, dan menyebabkan penurunan harga atau perbaikan kinerja.
4. Kekuatan tawar – menawar pemasok
Pemasok dapat menggunakan kekuatan tawar menawarnya terhadap para perusahaan- perusahaan industri, dengan menaikkan harga atau mengurangi
kualitas produk yang ditawarkan, hal ini memberikan kekuatan dan peluang pada pemasok untuk menaikkan harga. Namun bila banyak pemasok untuk satu jenis barang, maka biasanya daya tawar pemasok akan semakin kecil.
Menurut Husein Umar (2005:272), pemasok akan kuat apabila beberapa kondisi berikut :
• Jumlah pemasok sedikit
• Produk/pelayanan yang ada mampu menciptakan switching cost yang besar.
• Tidak tersedia produk subtitusi
• Pemasok mampu melakukan intergrasi ke depan dan mengolah produk yang dihasilkan menjadi produk yang sama dihasilkan oleh perusahaan.
• Perusahaan hany membeli dalam jumlah yang kecil dari pemasok.
5. Kekuatan tawar – manawar pembeli
Pembeli bersaing dengan industri dengan memaksa harga turun, tawar menawar terhadap kualitas yang lebih tinggi dan pelayanan yang lebih baik, sekaligus berperan sebagai pesaing. Kekuatan dari tiap-tiap pembeli yang penting dalam industri tergantung pada sejumlah karakteristik situasi pasarnya pada kepentingan relatif pembeliannya dari industri yang bersangkutan dibandingkan dengan keseluruhan bisnis pembeli tersebut.
Sumber : David, 2011 Produk Subtitusi
Kekuatan tawar- menawar pemasok
Kekuatan tawar – menawar pembeliType
equation here.
Pesaing baru Persaingan antar perusahaan sejenis
Gambar 2.2. Peta Kekuatan M.Porter
2.2 Kerangka Pemikiran
Sumber : Penulis, 2015 Gambar 2.3. Kerangka Pemikiran.
Aspek Keuangan
Aspek Pasar & Pemasaran Aspek Teknis & Operasional
Aspek SDM Aspek Hukum Aspek Pesaing
KRITERIA KEPUTUSAN
LAYAK
TIDAK