158
Jurnal Ilmiah Administrasi Publik (JIAP)
U R L : h t t p s : / / j i a p . u b . a c . i d / i n d e x . p h p / j i a p
Tata Kelola Kolaboratif pada Penetrasi Jaringan Fixed Broadband di Indonesia
Aldhira Gusmiara Danastry a, Teguh Kurniawan b
ab Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Indonesia
1. Pendahuluan
Tata kelola kolaboratif adalah suatu cara kolaborasi untuk mengatur tata kelola pemerintahan dalam
———
Corresponding author. Tel.: +62-857-1254-9054; e-mail: [email protected]
mencapai tujuan. Tata kelola kolaboratif termasuk proses, struktur, dan dinamika pengambilan keputusan dan koordinasi, lintas organisasi dan batas sektoral termasuk masyarakat. Tata kelola kolaboratif I N F O R M A S I A R T IK E L A B S T R A C T
Article history:
Dikirim tanggal: 07 Juli 2021 Revisi pertama tanggal: 20 Juli 2021 Diterima tanggal: 29 Juli 2021
Tersedia online tanggal: 20 Agustus 2021
This study aims to explain collaborative governance on fixed broadband network penetration in Indonesia. The case study is used to analyze the application of collaborative governance and the factors that influence the application of collaborative governance to the penetration of fixed broadband networks in Indonesia. This study uses a post-positivism research paradigm with qualitative methods. The government to increase the penetration of fixed broadband networks in Indonesia has implemented a collaborative governance process, as indicated by the implementation of 5 aspects of collaborative efforts (Anshell & Gash, 2008). In the collaboration process, there is a face-to-face dialogue between stakeholders, namely the central government, local governments, BUMN and the community.
Build trust between actors because of the relationship and consolidation that occurs.
The Distributive Accountability/ Responsibility Factor is applied with a firm division of authorities, duties, and functions among stakeholders in order to achieve the goals of collaboration.
INTISARI
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan tata kelola kolaboratif pada penetrasi jaringan fixed broadband di Indonesia. Studi kasus digunakan untuk menganalisis penerapan tata kelola kolaboratif dan faktor – faktor yang mempengaruhi keberhasilan penerapan tata kelola kolaboratif pada penetrasi jaringan fixed broadband di Indonesia. Penelitian ini menggunakan paradigma penelitian post- positivisme dengan metode kualitatif. Upaya pemerintah untuk meningkatkan penetrasi jaringan fixed broadband di Indonesia telah menerapkan proses tata kelola kolaboratif, ditunjukkan dengan terlaksananya lima aspek proses kolaborasi (Anshell & Gash, 2008). Pada proses kolaborasi terjadi face to face dialogue antar pemangku kepentingan, yaitu pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN, dan masyarakat. Trust building antar aktor terjalin karena adanya keterbukaan dan konsilidasi yang berkesinambungan. Faktor Distributive Accountability/
Responsibility diterapkan dengan ketegasan pembagian wewenang, tugas, dan fungsi antar pemangku kepentingan agar tercapai tujuan kolaborasi.
2021 FIA UB. All rights reserved.
Keywords: collaborative governance, fixed broadband
JIAP Vol 7, No 2, pp 158-163, 2021
© 2021 FIA UB. All right reserved ISSN 2302-2698 e-ISSN 2503-2887
159 menyediakan wadah yang melibatkan sektor publik, sektor swasta, dan masyarakat untuk mencapai tujuan bersama dalam praktek pemerintahan dengan musyawarah dalam pengambilan keputusan dan mencari solusi terbaik untuk jangka panjang.
Model tata kelola kolaboratif dapat dibentuk dengan penyesuaian – penyesuaian terkait dengan kebutuhan, konteks masalah, komunitas, dan partisipan. Misalnya dengan penggabungan – penggabungan keputusan yang beragam pada proses penyusunan dan metode komunikasinya. Dalam proses pembuatan keputusan dilakukan secara terstruktur namun tidak terjadi monopoli atau aktor tunggal yang berkuasa penuh atas jalannya kolaborasi. Dalam proses kolaborasi terdapat strategi yang sejalan dalam menghasilkan output atau keluaran yaitu akuntabilitas dan proses bisnis, tujuan keberlanjutan, dan kerangka kerja manajemen resiko.
Tata kelola kolaboratif menyiratkan bahwa sektor non publik akan memiliki tanggung jawab atas setiap keputusan hasil kebijakan. Oleh karenanya para pihak harus terlibat langsung dalam setiap pengambilan keputusan. Emerson & Nabatchi (2015) mengemukakan problem yang mempengaruhi tidak meratanya pembangunan infrastruktur karena sulitnya akses, kebutuhan anggaran yang besar dan permasalahan kompleks lainnya. Permasalahan tidak meratanya pembangunan dan akses infrastruktur telekomunikasi dapat berdampak pada sektor kesehatan, pendidikan, dan meningkatkan angka kemiskinan.
Pada UN Conference on Sustainable Development (Juni 2012) disampaikan bahwa Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) memfasilitasi arus informasi antara pemerintah dan publik serta urgensi peningkatan akses TIK terutama jaringan dan layanan broadband untuk menjebatani kesenjangan akses digital serta mempermudah memberikan kontribusi kerja sama internasional.
Salah satu pilar utama dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) adalah konektivitas nasional. Konektivitas nasional adalah sebagian kecil dari konektivitas global yang perlu dilakukan penguatan untuk meningkatkan perekonomian skala dunia. Salah satu strateginya adalah dengan peningkatan akses TIK dengan pembangunan pitalebar nasional.
Di Indonesia terdapat kurang lebih 150 juta penduduk yang menggunakan jaringan internet. Pada Tahun 2019 Indonesia telah berhasil membangun jaringan kabel serat ptic bawah laut atau Palapa Ring untuk penyediaan akses internet seluruh penjuru nusantara. Selain itu dalam pemenuhan konektivitas broadband diperlukan penetrasi penggunaan jaringan bergerak tetap (fixed) dikarenakan di Indonesia masih sangat rendah penggunaan jaringan fixed broadband tersebut.
Terlihat pada gambar dibawah bahwa pengguna fixed broadband di Indonesia tergolong rendah dibandingkan dengan mobile broadband.
Sesuai Peraturan Presiden Nomor 96 Tahun 2014 tentang Rencana Pitalebar Indonesia 2014 – 2019;
terdapat target pembangunan jaringan fixed broadband sebesar 71% dan mobile broadband di Indonesia. Tugas pemerintah untuk memberikan pembangunan secara adil dan merata, termasuk didalamnya infrastruktur telekomunikasi. Diperlukan adanya sistem yang berbeda dalam pembangunan infrastruktur telekomunikasi.
Seperti yang disampaikan oleh Donahue & Zeckhauser (2012) bahwa agen pemerintah disetiap level memiliki kesempatan untuk berkolaborasi dengan swasta untuk mencapai tujuan publik secara lebih efektif. Hal senada juga disampaikan oleh Ansell & Gash (2008) bahwa pemerintah dapat menggandeng sektor swasta dalam memformulasikan dan melaksanakan kebijakan publik.
Penelitian ini akan menganalisis tata kelola kolaboratif yang terjadi pada saat pelaksanaan penetrasi fixed broadband dan menganalisis faktor – faktor yang mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan penetrasi fixed broadband.
Tabel 1 Komponen Pembentuk Postur Konektivitas Nasional
Sumber: Kementrian PPN/ Bappenas, 2014
Gambar 1 Pengguna Mobile dan Fixed Broadband Sumber: ITU
160 2. Teori
2.1 Collaborative Governance
Konsep collaborative governance merupakan salah satu konsep pemerintahan yang dilakukan secara kolaboratif. Menurut pendapat Ansell & Grash (2008, h.545) “Collaborative governance is therefore a type of governance in which public and private actor work collectively in distinctive way, using particular processes, to establish laws and rules for the provision of public goods”. Dan collaborative governance merupakan salah satu tipe governance. Pada pelaksanaan konsep collaborative governance terlihat pentingnya kerja sama sektor publik dan sektor private dengan cara tertentu, sehingga dapat menghasilkan regulasi dan kebijakan yang efektif dan tepat sasaran bagi masyarakat. Dalam penyelenggaraan negara, aktor publik, dan aktor privat saling bekerja sama untuk mencapai tujuan kepentingan publik.
Menurut Agranoff & McGuire dalam Chang (2009, h.76-77) mengartikan collaborative governance sebagai bentuk kolaborasi atau kerja sama secara horizontal dengan para pelaku multi sektoral. Pada proses kolaborasi seringkali tuntutan klien melebihi batas kapasitas dan peran organisasi, dengan adanya hal tersebut maka diperlukan kerja sama antar organisasi yang terlibat. Kolaborasi mempunyai tujuan, yaitu agar governance menjadi lebih terstruktur dan efektif dalam meningkatkan pengelolaan lintas sektor pemerintah, organisasi publik atau private dan pembagian wewenangnya.
Selanjutnya penjelasan Ansell & Grash dalam Sudarmo (2011) disampaikan dengan lebih spesik bahwa dengan adanya beberapa alasan dan pentingnya sebuah konsep collaborative governance diambil kesimpulan bahwa collaborative governance ada karena kesengajaan dan diciptakan secara sadar karena alasan-alasan, yaitu:
(a) Hubungan yang kompleks dan adanya saling tergantung pada organisasi; (b) Timbulnya konflik kepentingan antar kelompok yang sulit diselesaikan karena sudah mendarah daging; (c) Menggunakan solusi baru untuk kepentingan legitimasi politik; (d) Adanya
kegagalan dalam implementasi program di lapangan;
(e) Kurangnya kemampuan beberapa kelompok dikarenakan adanya pemisahan rezim-rezim kekuasaan pada organisasi lain untuk menunda pengambilan keputusan; (f) Peningkatan mobilisasi sebagai wujud pengorganisasian kelompok; serta (g) Tingginya anggaran dan campur tangan politik pada kebijakan.
Menurut Ansell & Gash (2008), collaborative governance adalah proses mengambil keputusan secara bersama-sama yang terdiri dari satu atau lebih lembaga pemerintah yang berkaitan dengan lembaga non pemerintah dengan tujuan melaksanakan implementasi kebijakan publik dan mengelola asset publik.
Selanjutnya, Ansell & Gash (2008) mengembangkan sebuah model collaborative governance dengan empat buah variabel utama, yaitu kondisi awal (starting condition), institutional design, kepemimpinan, dan proses kolaborasi. Keempat variabel tersebut kemudian terbagi menjadi beberapa sub-variabel yang digambarkan dalam gambar 2, sebagai berikut:
Variabel pertama, yaitu kondisi awal terjadinya proses kolaborasi didorong oleh adanya power resources knowledge asymmetrics atau kekuatan dan sumber daya yang tidak seimbang antar aktor kolaborasi yang terlibat.
Kemudian, prehistory for cooperation or conflict (initial trust level) yang merupakan sejarah konflik antara para aktor dimasa lalu sehingga mempengaruhi tingkat kepercayaan. Ketidakseimbangan sumber daya dan sejarah masa lalu antar aktor tersebut mempengaruhi adanya incentives for and constrains on participation dimanapada titik ini diperlukan usaha dari leader kolaborasi untuk merangkul semua pihak yang terlibat.
Variabel kedua, institutional design merujuk pada protokol dan regulasi pada kolaborasi dan memiliki peran penting untuk legitimasi prosedur dalam kolaborasi (Ansell & Gash, 2008). Desain kelembagaan mencakup penjelasan siapa saja aktor yang akan terlibat dalam kolaborasi. Desain kelembagaan bersifat inklusif, ketika forum kolaborasi sudah terbentuk maka terdapat aturan- aturan yang jelas dan transparan yang menjadi legitimasi prosedur, sehingga menciptakan terbangunnya trust diantara para aktor.
Variabel ketiga, yaitu facilitative leadership penting untuk membawa para pihak terkait untuk saling bekerjasama dan membuat mereka saling terkait dalam semangat untuk melakukan kolaborasi.
Praktek kolaborasi dilaksanakan melalui beberapa tahapan, Ansell & Grash (2008, h.558 - 561) membagi tahapan proses kolaborasi sebagaimana berikut:
Gambar 2 Model Collaborative Governance Ansell
& Gash
Sumber: Ansell & Gash, 2008
161 a) Face to face dialogue
Proses collaborative governance muncul dari face to face dialogue yang terjadi secara langsung pada semua stakeholder yang ikut andil. Dialog tatap muka ini sangat penting dalam mengidentifikasi peluang dan keuntungan kelompok, hal tersebut merupakan ciri collaborative governance yang berorientasi pada proses.
b) Trust building
Kolaborasi merupakan upaya saling menaruh kepercayaan antar stakeholders, tidak hanya semata- mata untuk keperluan negoisasi. Membangun rasa percaya perlu dilakukan ketika proses kolaborasi dimulai.
c) Commitment to process
Dalam proses kolaborasi terdapat proses komitmen yang merupakan keinginan atau motivasi para partisipan untuk terlibat dalam tata kelola kolaborasi.
Diperlukan sebuah komitmen serius dari setiap stakeholders untuk menghindari adanya resiko-resiko yang ada pada proses kolaborasi.
d) Shared Understanding
Pada proses kolaborasi para aktor yang terlibat harus memiliki pemahaman yang sama dalam mencapai tujuan dari proses tersebut. Ini berarti bahwa para aktor yang terlibat dalam proses menyetujui apa yang dapat mereka capai bersama.
e) Intermediate outcomes
Pada proses kolaborasi terdapat hasil keluaran atau output yang merupakan hasil dari proses yang tercapai tujuan dan manfaat kolaborasinya serta adanya kemenangan kecil dari kolaborasi.
2.2 Faktor-Faktor Keberhasilan Collaborative Governance
DeSeve (2007) membagi delapan aspek yang mempengaruhi keberhasilan praktek kolaborasi dalam governance, yaitu:
a) Networked Structure
Networked Structure (struktur jaringan) adalah keterkaitan antar elemen yang saling menyatu dan mencerminkan unsur-unsur fisik dari jaringan yang dikelola. Pada pelaksanaan collaborative governance tidak disarankan untuk membentuk hierarki atau kekuasaan satu pihak.
b) Commitment to A Common Purpose
Commitment to A Common Purpose adalah tujuan dari terbentuknya network atau jaringan adalah untuk memegang komitmen dalam mencapai tujuan-tujuan yang akan dilakukan antar pihak.
c) Trust Among the Participants
Trust Among the Participants adalah ikatan antar pihak dalam hal professional, sosial, dan memiliki keyakinan untuk saling percaya pada informasi- informasi atau usaha-usaha pemangku kepentingan
lainnya dalam satu jaringan dalam mencapai tujuan bersama.
d) Governance
Governance adalah sebuah ikatan saling percaya diantara para pemangku kepentingan. Terdapat pula aturan yang telah disepakati serta terdapat kebebasan untuk menentukan strategi kolaborasi dijalankan.
e) Access to Authority
Access to Authority merupakan kesempatan atau ketersediaan hak mengenai pelaksanaan prosedur yang jelas dan dapat diterima oleh semua pihak tanpa membeda-bedakan masing-masing stakeholders.
f) Distributive Accountability/ Responsibility
Distributive Accountability/ Responsibility merupakan pengelolaan atau manajemen yang dilakukan antar stakeholders untuk berbagi dalam proses pengambilan keputusan dan berbagi tanggung jawab untuk memperoleh tujuan yang diinginkan.
g) Information Sharing
Information Sharing merupakan kemudahan akses bagi para stakeholders dalam proses pelaksanaan kolaborasi, mendapatkan perlindungan data pribadi, dan pembatasan akses bagi non anggota.
h) Access to Resources
Dalam pelaksanaan praktek kolaborasi untuk mecapai tujuannya selain diperlukan sumber daya manusia, maka diperlukan pula ketersediaan sumber keuangan, teknis, dan sumber daya lainnya yang diperlukan oleh masing-masing stakeholders yang terlibat.
3. Metode Penelitian
Penelitian ini diangkat dengan tujuan untuk melakukan analisis mengenai collaborative governance yang terjadi pada penetrasi fixed broadband. Kasus ini menarik karena jumlah pengguna fixed broadband ini masih rendah padahal Indonesia merupakan negara yang terkenal dengan wisata alam, budaya, dan banyak sekolah atau universitas yang mumpuni, sehingga memperoleh julukan world class university, seharusnya masyarakatnya memiliki kesadaran untuk mengembangkan penggunaan akses internet fixed broadband.
Pada pengukuran collaborative governance ini menggunakan lima aspek proses kolaborasi (Anshell &
Gash, 2008) dengan delapan faktor yang mempengaruhi keberhasilan proses kolaborasi (Deseve, 2007).
Penelitian ini menggunakan paradigma penelitian post-positivisme bersifat kualitatif. Penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan sebuah analisis mengenai aspek tata kelola kolaborasi dan faktor yang mempengaruhi keberhasilan tata kelola kolaborasi.
4. Hasil Penelitian dan Pembahasan
Tahapan proses tata kelola kolaboratif dalam penetrasi jaringan fixed broadband di Indonesia:
162 4.1 Face to Face Dialogue
Proses awal dalam pelaksanaan tata kelola kolaborasi adalah adanya face to face dialogue antar stakeholder yang terkait untuk melakukan pembahasan penyusunan rencana kerja, penyusunan dan penetapan regulasi, kebutuhan anggaran, dan menyamakan visi misi untuk mencapai tujuan pelaksanaan program.
Pada pelaksanaan penetrasi fixed broadband ini para stakeholder melakukan meeting atau rapat yang dihadiri oleh Direktorat Pengembangan Pitalebar – Kementerian Kominfo selaku instansi yang mempunyai program kerja tersebut, Kementerian Pariwisata, Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, dan Internet Service Providers dalam hal ini Telkomsel.
Kementerian Pariwisata dan Kementerian PDT dalam hal ini berperan sebagai instansi yang menyumbangkan data mengenai desa – desa wisata yang membutuhkan sarana prasana jaringan fixed broadband untuk mendukung pelaksanaan bisnis. Telkomsel melakukan survey ke daerah – daerah sebagaimana dimaksud untuk memastikan bahwa daerah tersebut dapat dibangun jaringan fixed broadband.
Pada setiap pelaksanaan meeting para stakeholder berdiskusi dengan intens dan saling menyumbangkan pendapat serta sarana pada rencana kerja, penyusunan regulasi, dan perencanaan kebutuhan anggaran pelaksanaan penetrasi fixed broadband ini.
Selain itu, Kementerian Kominfo juga melakukan sosialisasi kepada penerima bantuan atau masyarakat yang mempunyai usaha seperti homestay, restoran, batik, dan lain – lain. Pelaksanaan sosialisasi dilaksanakan dibalai desa, dengan beberapa topik pembahasan untuk memanfaat jaringan fixed broadband tersebut, misalnya pembuatan website atau sosial media untuk mengiklankan produk-produk usaha, prosedur mendaftarkan usaha di platform online dan bagaimana cara meningkatkan performa dari usaha – usaha mereka tersebut untuk menarik pelanggan.
4.2 Trust Building
Salah satu aspek yang harus dibangun secara sungguh-sungguh dalam proses kolaborasi adalah kepercayaan. Untuk mencapai tujuan bersama dibutuhkan rasa saling percaya pada stakeholder terkait (De Seve dalam Machruf, dkk, 2020, h. 142).
Beberapa stakeholders mempunyai metode – metode yang berbeda dalam melakukan usaha untuk membuat pihak lain yang terkait menaruh kepercayaan.
Dalam hal ini dilakukan pendekatan terutama dilevel desa dengan cara memberikan penjelasan – penjelasan sederhana dan mudah dimengerti. Dimulai dengan menjelaskan bagaimana program kerja ini disusun dan harus dilaksanakan, sehingga terdapat output untuk masyarakat.
Berdasarkan hasil penelitian banyak warga desa yang trauma dengan program – program pemerintah sebelumnya yang tidak berkelanjutan, hal ini dapat diatasi dengan memberikan pendampingan kepada warga untuk pemanfaatan jaringan fixed broadband ini, sehingga warga merasa ada ikatan emosional yang terbangun dengan kepedulian para stakholders ini.
4.3 Commitment to Process
Pada pelaksanaan tata kelola kolaborasi setelah terjadinya face to face dialogue dan trust building antar stakeholders, maka terbentuklah sebuah komitmen dalam rangka pencapaian tujuan kolaborasi. Dalam rangka melaksanakan tata kelola kolaborasi dengan komitmen yang berkelanjutan, maka dilakukan penyusunan regulasi dalam bentuk Surat Keputusan Dirjen Penyelenggaraan Pos dan Informatika tentang Petunjuk Teknis Bantuan Pemerintah Penyediaan Layanan Akses Tetap Pitalebar (Fixed Broadband). Dalam regulasi tersebut tertuang proses mekanisme pemberian akses fixed broadband, pelaksanaan monitoring dan evaluasi serta keterbukaan anggaran selama pelaksanaan program. Dengan adanya regulasi dan landasan hukum yang kuat maka komitmen antar stakeholders akan terjalin.
Selanjutnya terdapat pula MoU bagi penerima bantuan akses fixed broadband, didalam MoU tersebut dijelaskan hak-hak yang didapat oleh warga desa selaku penerima bantuan dan sanksi yang harus dijalani apabila melanggar MoU tersebut.
4.4 Share Understanding
Pemahaman bersama antar stakeholders merupakan hal yang penting dalam proses tata kelola kolaborasi.
Pelaksanaan program penetrasi fixed broadband ini diatur dalam Keputusan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 973 Tahun 2018 tentang Pedoman Umum Penyalur Bantuan Pemerintah di Lingkungan Kementerian Komunikasi dan Informatika. Pada pelaksanaan tata kelola penetrasi fixed broadband terdapat hambatan pada pembangunan jaringan fixed broadband didaerah karena adanya regulasi daerah mengenai pembangunan infrastruktur pasif, hak lintas, akses ke gedung atau bangunan, dan sebagainya.
Sehingga hambatan pada proses share understanding lebih kepada perbedaan pemahaman antara Kementerian Komunikasi dan Informatika dengan Telkom sebagai pihak pemberi bantuan akses dengan pemberitan daerah yang menerima bantuan akses.
4.5 Intermediate Outcomes
Pada pelaksanaan tata kelola kolaborasi penetrasi fixed broadband ini terdapat outcomes yang diharapkan oleh para stakeholders, yaitu sebagai berikut:
a) Tersedianya layanan akses tetap pitalebar (fixed broaband) sesuai kebutuhan; dan
163 b) Tersedianya teknologi yang mendorong penetrasi
layanan akses tetap pitalebar (fixed broaband) yang menggunakan teknologi jaringan fiber optic atau teknologi jaringan lainnya.
Berikut adalah daftar jumlah penerima bantuan yang peneliti dapatkan di Pulau Jawa kecuali DKI Jakarta:
Tabel 2 Daftar Jumlah Penerima Bantuan di Pulau Jawa (Tanpa DKI Jakarta)
No Provinsi Tahun Jumlah
1 DIY 2018 96
2019 73
2 Jawa Barat 2018 11
2020 151
3 Jawa Tengah 2019 230
2020 45
4 Jawa Timur 2018 45
2020 56
Sumber: Hasil analisis, 2020
Berdasarkan data tersebut dapat disampaikan bahwa masih banyak daerah – daerah di Indonesia yang belum terjangkau oleh akses fixed broadband yang disebabkan oleh berbagai kendala, seperti kendala geografis dan kendala regulasi daerah.
5. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian dapat simpulkan bahwa untuk saat ini penggunaan fixed broadband di Indonesia masih rendah. Kementerian Komunikasi dan Informatika selaku sektor publik yang memiliki program kerja peningkatan penggunaan fixed broadband melakukan kolaborasi dengan sektor private dan masyarakat dengan menerapkan lima proses kolaborasi menurut Anshell &
Gash (2008). Pada proses kolaborasi tersebut sudah tercapai dan menunjukkan adanya kolaborasi yang baik antar sektor, hanya saja karena beberapa kendala yang ada dilapangan untuk target penetrasi fixed broadband masih saangat kurang.
Proses tata kelola kolaborasi ini dapat diterapkan dalam program penetrasi fixed broadband walaupun dibeberapa daerah terdapat perbedaan pola perilaku dan kapasitas kemampuan sumber daya manusianya. Sangat diperlukan adanya keterbukaan dan hubungan yang baik antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat untuk dapat mewujudkan tata kelola kolaborasi dalam program penetrasi fixed broadband. Selain itu, komitmen para pihak yang terlibat juga sangat penting untuk mencapai outcomes yang diharapkan. Kontribusi dalam penelitian ini adalah adanya proses kolaborasi yang baik antara sektor publik (Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Pariwisata, dan Kementerian Desa, PDT), sektor swasta (Telkomsel) dan masyarakat dalam tata kelola kolaborasi dalam program penetrasi fixed broadband. Diharapkan temuan hasil penelitian ini dapat memperkaya kajian mengenai collaborative governance
yang dilakukan pemerintah pusat untuk mengakomodir kebutuhan didaerah.
Daftar Pustaka
Ansell, Chris., & Gash, Alison. (2008). Collaborative Governance in Theory and Practice. Journal of Public Administration Research and Theory,
18(4), 543-571.
https://doi.org/10.1093/jopart/mum032
Chang, Hyun Joo. (2009). Collaborative Governance in Welfare Service Delivery: Focusing on Local Welfare System in Korea. International Review of Public Administration, 13(sup1), 75-90.
DOI:10.1080/12294659.2009.10805141
Deseve, E. (2007). Creating public value using managed networks. In R.S. Morse, T.F. Buss C.M.
Kinghorn. Transforming public leadership for the 21st century. New York: M.E. Sharpe.
Donahue, John D., & Zeckhauser, Richard J. (2012).
Collaborative Governance: Private Roles for Public Goals in Turbulent Times. New Jersey:
Princeton University Press.
Emerson, K., & Nabatchi, T. (2015). Collaborative Governance Regimes. Washington: Georgetown University Press.
Kementrian PPN/ Bappenas. (2014). RENCANA PITALEBAR INDONESIA (INDONESIA BROADBAND PLAN) 2014-2019. Jakarta:
Kementrian PPN/ Bappenas.
Machruf, Ichwan Nurutdin., Hermawan, Dedy., & Intan Fitri Meutia. (2020). Penanggulangan Pra Bencana Alam Tsunami di Kabupaten Lampung Selatan Dalam Perspektif Collaborative Governance.
Administrativa: Jurnal Birokrasi, Kebijakan dan Pelayanan Publik, 2(1), 129-146.
Sudarmo. (2011). Isu-Isu Administrasi Publik Dalam Perspektif Governance. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.