ANALISIS PENDAPATAN PEDAGANG SAYUR KELILING DI KELURAHAN TEGALLEGA KOTA BOGOR
O l e h
HEMNUR ZUHRISKI A14105552
PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2 0 0 8
RINGKASAN
HEMNUR ZUHRISKI. Analisis Pendapatan Pedagang Sayur Keliling Di Kelurahan Tegallega Kota Bogor. Di bawah bimbingan RATNA WINANDI
Perdagangan kecil terdiri dari pedagang yang membuka tempat berjualan sederhana yang didatangi oleh konsumen atau pedagang keliling yang mendatangi konsumennya. Salah satu dari pedagang keliling yaitu pedagang sayur keliling.
Pedagang sayur keliling adalah pedagang yang produknya berupa berbagai jenis sayuran yang dibawa kerumahrumah guna memenuhi kebutuhan konsumen.
Kecamatan Bogor Tengah merupakan salah satu kawasan dengan penduduk terpadat di Kota Bogor. Hal ini menjadikan kecamatan Bogor Tengah sebagai salah satu sentra pedagang sayur keliling di Kota Bogor. Pedagang sayur keliling di Kelurahan Tegallega mendatangi konsumennya pada pagi sampai siang hari.
Tidak jarang beberapa pedagang datang pada waktu yang sama dengan pedagang lainnya sehingga konsumen bebas memilih produk yang mereka butuhkan dari beberapa pedagang sekaligus. Produk yang ditawarkan oleh pedagang sayur keliling sesuai dengan kebutuhan konsumen dan harga yang dibeli juga tidak jauh berbeda dengan di pasar.
Permasalah dalam penelitian ini dirumuskan (1) berapa tingkat pendapatan usaha pedagang sayur keliling, (2) apakah usaha pedagang sayur keliling ini menguntungkan. Penelitian ini dilakukan secara sengaja (purposive) di Kelurahan Tegallega Kota Bogor. Penelitian dibagi kedalam empat wilayah. Wilayah satu dari Jalan Rumah Sakit sampai Jalan Malabar, wilayah dua dari Babakan Fakultas sampai Tegal Mangga, wilayah tiga merupakan perumahan Baranang Siang III, dan wilayah empat disekitar perbatasan Tegallega dan Cimahpar. Data dan informasi yang dikumpulkan berupa data primer dan sekunder. Alat analisis yang digunakan Õ = TR TC dan R/C.
Dari analisis Total penjualan yang diperoleh terlihat bahwa wilayah sangat mempengaruhi para pedagang sayur keliling dalam menjajakan sayurannya.
Wilayah tiga merupakan wilayah yang memiliki nilai penjualan tertinggi bila dibandingkan dengan tiga wilayah lainnya. Ratarata pedagang sayur keliling diwilayah tiga memperoleh total penjualan dalam satu minggu sebesar Rp 620.716,67. Total penjualan terendah berada pada wilayah empat, penyebabnya karena wilayah ini tidak memiliki kepadatan penduduk seperti di wilayah tiga. Ratarata pedagang sayur keliling di wilayah empat dalam satu minggu memperoleh total penjualan sebesar Rp 464.083,33.
Berdasarkan pendapatan tunai yang diperoleh oleh pedagang sayur di masingmasing wilayah terlihat bahwa pedagang sayur keliling di wilayah memperoleh pedapatan tunai sebesar Rp 83.066,67 dengan pendapatan total sebesar Rp 41.469,85. Pendapatan tunai terendah terdapat pada wilayah empat dengan nilai sebesar Rp 58.100,00 dan pendapatan total sebesar Rp 20.283,07.
Pendapatan tunai dipengaruhi oleh biayabiaya yang diperhitungkan yang dikeluarkan oleh masingmasing pedagang di masingmasing wilayah berbeda.
Dari hasil analisis pendapatan pedagang sayur keliling yang diperoleh menunjukkan bahwa usaha pedagang sayur keliling dimasingmasing wilayah menguntungkan. Hal ini dapat dilihat dari nilai R/C rasio di tiaptiap wilayah.
Pedagang sayur keliling diwilayah tiga memiliki nilai R/C rasio sebesar 1,072.
Sedangkan nilai R/C rasio terendah terdapat pada wilayah empat yakni sebesar 1,046. Dari kedua nilai R/C rasio dapat diketahui bahwa usaha pedagang sayur keliling menguntungkan karena nilai R/C rasio lebih besar dari satu. Perbedaan R/C rasio antar wilayah tidak terlalu besar, hal ini disebabkan karena biaya tenaga kerja dimasukkan kedalam analisis.
Saran yang dianjurkan oleh penulis kepada para pedagang di wilayah satu dan dua adalah sebaiknya para pedagang sayur menjual lebih banyak jenis sayuran karena memiliki kelebihan penduduk dibandingkan dengan wilayah yang lain.
Wilayah tiga hendaknya pedagang sayur lebih meningkatkan kualitas sayuran dengan cara mengemas sayuran lebih bagus dan kebersihan dagangan harus diperhatikan. Pedagang sayur diwilayah empat supaya lebih mendekatkan diri dengan konsumen agar pembeli lebih banyak lagi.
ANALISIS PENDAPATAN PEDAGANG SAYUR KELILING DI KELURAHAN TEGALLEGA KOTA BOGOR
O l e h
HEMNUR ZUHRISKI A14105552
SKRIPSI
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pertanian Pada Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor
PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2 0 0 8
P E R N Y A T A A N
DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL “ANALISIS PENDAPATAN PEDAGANG SAYUR KELILING DI KELURAHAN TEGALLEGA KOTA BOGOR” ADALAH BENARBENAR HASIL KARYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIGUNAKAN SEBAGAI KARYA ILMIAH PADA SUATU PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN.
Bogor, 23 Juli 2008
HEMNUR ZUHRISKI A 14105552
Judul : Analisis Pendapatan Pedagang Sayur Keliling di Kelurahan Tegallega Kota Bogor
Nama Mahasiswa : Hemnur Zuhriski
N R P : A 14105552
Menyetujui, Dosen Pembimbing
Dr. Ir. Ratna Winandi, MS N I P. 130687506
Mengetahui, Dekan Fakultas Pertanian
Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M. Agr N I P. 131124019
Tanggal Kelulusan :
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Solok, Propinsi Sumatera Barat pada tanggal 22 Maret 1984 dari Bapak Hermulis Lyra (Alm) dan Ibu Nurmaini. Penulis merupakan anak pertama dari empat bersaudara.
Penulis menempuh pendidikan dasar di Sekolah Dasar (SD) Negeri 02 Kubang Nan Raok Kanagarian Supayang dari tahun 1990 sampai 1996. Pada tahun 1996, penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Lanjut Tingkat Pertama (SLTP) Negeri 2 Kota Solok. Kemudian pada tahun 1999 penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Pertanian Pembangunan (SPP) Negeri Padang dan lulus pada tahun 2002. Pada tahun yang sama, penulis diterima sebagai mahasiswa di Diploma 3 Teknologi Benih, Departemen Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Tahun 2005 penulis melanjutkan studi di Program Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis, Fakultas Pertanian, Institu Pertanian Bogor.
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT atas rahmat dan ridhoNya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik dan tepat pada waktunya.
Penelitian dengan judul Analisis Pendapatan Pedagang Sayur Keliling di Kelurahan Tegallega Kota Bogor bertujuan menganalisis pendapatan yang diperoleh pedagang sayur keliling.
Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi pihakpihak yang membutuhkan sebagai literatur maupun sebagai masukan bagi pedagang sayur keliling dalam mengambil keputusan strategi pemasaran. Dalam penyusunan skripsi ini masih terdapat kekurangan. Oleh karena itu, penulis berharap agar skripsi ini dapat menjadi sebuah karya yang lebih baik dan dapat memberikan kontribusi yang bermanfaat bagi pembaca.
Bogor, 23 Juli 2008
Penulis
UCAPAN TERIMA KASIH
Penyelesaian skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada : 1. Papa (Alm) Hermulis Lyra dan Mama Nurmaini dan Adikadikku Herdian
Zuhfitriadi, Herdiani Suspita Sari dan Hermi Qorbainati atas kasih sayang, dukungan dan doa yang tulus sehingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan ini.
2. Dr. Ir. Ratna Winandi, MS sebagai dosen pembimbing yang telah membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
3. Dr. Ir. Heny K. Daryanto, MEc selaku dosen penguji yang telah memberi kritik dan saran demi kesempurnaan skripsi ini.
4. Tintin Sarianti, SP selaku dosen komisi pendidikan yang telah memberikan saran demi perbaikan skripsi ini.
5. Ir. Popong Nurhayati, MM yang telah bersedia menjadi dosen evaluator pada waktu kolokium.
6. Seluruh pengajar dan staf sekretariat ekstensi MAB yang telah membantu penulis selama ini.
7. Keluarga besar pedagang sayur keliling di Kelurahan Tegallega yang telah bersedia menyediakan waktunya untuk diskusi.
8. Octhri Zelvina atas kesetiaan selama ini sehingga skripsi ini selesai.
9. Uda Insyaf Malik dan Uni Dewi Irawati atas biaya siswa, semoga Allah membalas kebaikan yang telah diberikan kepada penulis.
10. Anakanak Bafak 007 yang telah memberi canda dan tawa selama ini ; Ari, Aroel, Pajri, Indra, Okwan, Harli, Andi, Raja, Handika, Yo, Erfan, Rhena dan Putra.
11. Temanteman Tekben 39 atas persahabatannya selama ini.
12. Rekanrekan ekstensi MAB yang tidak bisa disebutkan satu persatu atas kenangannya.
Akhirnya, semoga amal baik Bapak, Ibu, dan rekanrekan mendapat berkat dari Allah SWT.
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR ISI ... i
DAFTAR TABEL ... iii
DAFTAR GAMBAR ... iv
DAFTAR LAMPIRAN... v
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang... 1
1.2 Perumusan Masalah ... 4
1.3 Tujuan Penelitian ... 5
1.4 Kegunaan Penelitian ... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Usaha Informal ... 6
2.2 Pedagang Sayur Keliling ... 7
2.3 Pendapatan... 8
2.4 Tinjauan Studi Terdahulu... 9
BAB III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis... 12
3.1.1 Pendapatan Usaha ... 12
3.1.2 Biaya Usaha ... 13
3.2 Kerangka Pemikiran Operasional ... 13
BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Peneletian ... 16
4.2 Jenis dan Sumber Data ... 16
4.3 Metode Pengumpulan Data ... 16
4.4 Metode Pengolahan dan Analisis Data ... 17
4.5 Analisis Pendapatan Usaha ... 17
BAB V KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN
5.1 Keadaan Umum Daerah Penelitian... 20
5.2 Keadaan Lokasi Pedagang Syur Keliling... 21
5.3 Karakteristik Pedagang Sayur Keliling ... 22
5.3.1 Umur... 22
5.3.2 Tingkat Pendidikan ... 23
5.3.3 Pengalaman Berdagang ... 23
5.3.4 Modal... 24
5.3.5 Banyaknya Jenis Sayuran yang Dijual ... 25
BAB VI ANALISIS PENDAPATAN 6.1 Analisis Usaha Pedagang Sayur Keliling... 26
6.2 Analisis Biaya Pedagang Sayur Keliling ... 27
6.3 Analisis Total Penjualan Pedagang Sayur Keliling ... 28
6.4 Analisis Pendapatan Pedagang Sayur Keliling... 30
BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 Kesimpulan... 33
7.2 Saran... 34
DAFTAR PUSTAKA ... 35
LAMPIRAN ... 36
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
1. Jumlah dan Laju Pertumbuhan Perusahaan Perdagangan Kota
Bogor Tahun 20002004 ... 2
2. Sebaran Umur Responden Pedagang Sayur Keliling Tahun 2008... 22 3. Sebaran Tingkat Pendidikan Responden Pedagang Sayur Keliling
Tahun 2008... 22 4. Sebaran Pengalaman Berdagang Responden Pedagang Sayur
Keliling Tahun 2008 ... 23
5. Sebaran Modal Responden Pedagang Sayur Keliling Tahun 2008... 23 6. Sebaran Banyaknya Jenis Sayuran yang Dijual Responden
Pedagang Sayur Keliling Tahun 2008 ... 24
7. Biaya Variabel, Biaya Tetap, Biaya Diperhitungkan, Total Biaya
dan Total Biaya Tunai (Rp/minggu) ... 27
8. Biaya Variabel, Biaya Tetap, Biaya Diperhitungkan, Total Biaya
dan Total Biaya Tunai (Rp/minggu) ... 28
9. Pendapatan Tunai, Pendapatan Total, R/C Rasio Atas Biaya
Tunai, dan R/C Rasio Atas Biaya Total (Rp/minggu)... 31
DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
1. Kerangka Pemikiran Operasional Penelitian ... 15
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Halaman
1. Jenis Biaya Pedagang Sayur Keliling di Kelurahan Tegallega
Kota Bogor (Rp/minggu) ... 37
2. Kuesioner Analisis Pendapatan Pedagang Sayur Keliling
Kelurahan Tegallega Kota Bogor... 39
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sektor informal sebagai sebuah bentuk ekonomi bayangan dalam negara.
Ekonomi bayangan digambarkan sebagai kegiatan ekonomi yang tidak mengikuti aturanaturan yang dikeluarkan oleh pemerintah. Kegiatan ekonomi bayangan merupakan bentuk kegiatan ekonomi yang bergerak dalam unitunit kecil sehingga bisa dipandang efisien dalam memberikan pelayanan. Dilihat dari sisi sifat produksinya, kegiatan ini bersifat subsistem yang bernilai ekonomis dalam pemenuhan kebutuhan seharihari khususnya bagi masyarakat yang ada dilingkungan sektor informal (Rachbini dan Hamid, 1994).
Menurut Saragih (2001), wilayah Jawa Barat merupakan salah satu wilayah pusat kegiatan ekonomi nasional. Bappeda Jawa Barat menjelaskan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) nasional meningkat dari 14.6 persen pada tahun 1983 menjadi 16.7 persen pada tahun 1993. Hal ini disebabkan oleh laju pertumbuhan ekonomi Jawa Barat lebih tinggi (ratarata 8.7 persen per tahun) daripada laju pertumbuhan ekonomi nasional (ratarata 7.2 persen per tahun).
Perdagangan besar, perdagangan menengah dan perdagangan kecil relatif meningkat tiap tahunnya. Jumlah perusahaan perdagangan dan ratarata laju pertumbuhannya dapat dilihat pada Tabel 1. Ratarata pertumbuhan perdagangan kecil menunjukkan pertumbuhan yang cukup besar yaitu 6.20 persen bila dibandingkan dengan jumlah perdagangan besar dan perdagangan menengah yang hanya 3.62 persen dan 2.72 persen. Hal ini membuktikan bahwa jumlah pedagang
kecil di kota Bogor terus meningkat dari tahun ke tahun yaitu mencapai angka 5.882 pada Tahun 2004. Laju pertumbuhan perdagangan yang tinggi menunjukkan daya beli masyarakat yang semakin meningkat. Namun, pertumbuhan perdagangan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan permintaan akan menyebabkan tingkat persaingan perdagangan yang tinggi.
Tabel 1. Jumlah dan Laju Pertumbuhan Perusahaan Perdagangan Kota Bogor Tahun 20002004
Keterangan Tahun
2000 2001 2002 2003 2004 Ratarata Perdagangan besar (Unit) 162 175 178 188 195
Laju pertumbuhan (%) 7.4 1.7 5.3 3.7 3.62 Perdagangan menengah (Unit) 863 885 912 951 993 Laju pertumbuhan (%) 2.4 2.9 4.1 4.1 2.72 Perdagangan kecil (Unit) 4243 4766 5114 5435 5882 Laju pertumbuhan (%) 11.0 6.6 5.9 7.5 6.20
Sumber : Dinas Perindagkop Kota Bogor, Tahun 2004
Ritel moderen seperti pasar swalayan umumnya menunggu konsumen untuk berbelanja kebutuhan seharihari, menggunakan teknologi tinggi, sumberdaya manusia yang berkualitas dan memiliki sumber dana yang kuat dalam melakukan pemasaran sayuran. Hal ini bertolak belakang dengan pemasaran sayuran secara tradisional dimana para pedagang kecil mengunjungi konsumen ke rumahrumah sehingga memberikan kemudahan bagi konsumen, teknologi yang digunakan masih tradisional, kurang memperhatikan kualitas sumberdaya manusia dan terbatasnya modal yang dimiliki.
Pedagang kecil secara substansial diartikan sebagai usaha kecil masyarakat yang bergerak di bidang perdagangan dengan lingkungan usaha yang relatif kecil, terbatas dan tidak bersifat tetap. Dalam pengertian ini pedagang kaki lima sering dilekati ciriciri perputaran uang lambat, tempat usaha yang tidak tetap, modal terbatas, segmen pasar pada masyarakat kelas menengah ke bawah dan jangkauan
usaha yang tidak terlalu luas (RAMLI, 2003). Pedagang kecil sudah ada dan tumbuh bersamaan dengan perkembangan suatu kota terutama pada negaranegara yang sedang berkembang. Hal ini disebabkan oleh kesempatan kerja yang tidak seimbang dengan tuntutan masyarakat untuk memperoleh pekerjaan.
Sebagian dari pedagang kecil yang bergerak di sektor informal adalah orangorang yang tidak memiliki kesempatan dan kemampuan yang memadai untuk tertampung bekerja di sektor formal. Orangorang yang tidak tertampung di sektor formal tersebut membuat kegiatan ekonomi di sektor informal menjadi alternatif terbaik. Sektor informal dicirikan sebagai produsen skala kecil, menggunakan tenaga kerja sendiri untuk produksi barang serta berkecimpung dalam kegiatan bisnis, transportasi dan penyediaan jasa (Sumarti, Syaukat dan Nuryana, 2003)
Perdagangan kecil terdiri dari pedagang yang membuka tempat berjualan sederhana yang didatangi oleh konsumen atau pedagang keliling yang mendatangi konsumennya. Salah satu dari pedagang keliling yaitu pedagang sayur keliling.
Pedagang sayur keliling adalah pedagang yang produknya berupa berbagai jenis sayuran yang dibawa kerumahrumah guna memenuhi kebutuhan konsumen.
Kecamatan Bogor Tengah merupakan salah satu kawasan dengan penduduk terpadat di Kota Bogor. Hal ini menjadikan Kecamatan Bogor Tengah sebagai salah satu sentra pedagang sayur keliling di Kota Bogor. Ada beberapa daerah yang menjadi sentra pedagang sayur keliling di kecamatan Bogor Tengah yaitu diantaranya Kelurahan Tegallega, Sempur, Muara dan Lebak Kantin. Pedagang sayur keliling di Kelurahan Tegallega memiliki keunikan yaitu tinggal di daerah
yang sama yaitu di daerah Ciwaluya dan berasal dari daerah yang sama yaitu Cilacap.
Pedagang sayur keliling di Kelurahan Tegallega mendatangi konsumennya pada pagi sampai siang hari. Tidak jarang beberapa pedagang datang pada waktu yang sama dengan pedagang lainnya sehingga konsumen bebas memilih produk yang mereka butuhkan dari beberapa pedagang sekaligus. Produk yang ditawarkan oleh pedagang sayur keliling sesuai dengan kebutuhan konsumen dan harga yang dibeli juga tidak jauh berbeda dengan di pasar.
1.2 Perumusan Masalah
Jumlah pedagang sayur keliling di kelurahan Tegallega terus bertambah dan bisa menjadi ancaman bagi pedagang sayur yang sudah ada sebelumnya mengingat pasar yang akan mereka perebutkan tidak bertambah. Hal ini akan berakibat pada perubahan pendapatan yang akan diterima oleh para pedagang sayur keliling.
Pedagang sayur keliling di Kelurahan Tegallega merupakan pedagang yang tinggal secara berkelompok sehingga para pedagang membagi wilayah penjualan menjadi empat wilayah. Pembagian ini dimaksudkan agar tidak terjadi perpecahan didalam mengunjungi pelanggan. Pendapatan yang diperoleh oleh masingmasing pedagang ditiaptiap wilayah juga tidak akan berbeda jauh.
Berdasarkan dari uraian di atas maka perlu dilakukan kajiankajian yang akan ditelaah dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Berapa tingkat pendapatan yang diperoleh oleh pedagang sayur keliling ditiaptiap wilayah?
2. Apakah usaha pedagang sayur keliling ini menguntungkan ?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah:
1. Menganalisis tingkat pendapatan usaha pedagang sayur keliling.
2. Menganalisis tingkat efisiensi dari usaha pedagang sayur keliling.
1.4 Kegunaan Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai bahan informasi bagi yang ingin mengenal dan mempelajari kondisi pedagang sayur, khususnya pedagang sayur keliling. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi policy maker, seperti Departemen Koperasi, Pengusaha Kecil dan Menengah juga Pemerintah Daerah untuk memberikan pembinaan kepada pedagang sayur keliling maupun pedagang sayur keliling sendiri dalam upaya meningkatkan pendapatannya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Usaha Informal
Menurut UndangUndang Republik Indonesia no.9 tahun 1995 tentang usaha kecil menyatakan bahwa usaha kecil merupakan kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dan memenuhi kriteria kekayaan atau hasil penjualan per tahun sebagai berikut: (1) memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200.000.000 tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, (2) memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp 1.000.000.000 (3) milik warga negara Indonesia, (4) berdiri sendiri, dan (5) bentuk usaha perorangan.
Ciriciri sektor informal adalah produsen berskala kecil, menggunakan tenaga kerja sendiri untuk produksi barang, serta berkecimpung dalam kegiatan bisnis, transportasi dan penyedia jasa (Sumarti, Syaukat, dan Nuryana, 2003).
Sektor informal merupakan komponen ekonomi lokal dan nasional yang tumbuh secara cepat. Walaupun pendapatan secara individu rendah, secara kolektif pendapatan tersebut relatif tinggi (Syaukat dan Sutara, 2004).
Sektor informal bukan hanya menjadi pilihan bagi pencari kerja yang kurang terdidik atau terlatih dari kalangan miskin, tetapi juga menjadi pilihan beberapa pencari kerja terdidik atau terlatih dari kalangan menengah yang sulit menembus kesempatan kerja pada sektor formal. Sektor informal dapat secara langsung berkontribusi terhadap penurunan dan pengentasan kemiskinan (Syaukat dan Sutara, 2004). Oleh karena itu tidak mengherankan bahwa sektor informal menjadi tumpuan ekonomi dari banyaknya penduduk di kotakota negara
berkembang yang sebagian besar penduduknya berada pada kategori menengah dan miskin seperti pada kelompok pedagang sayur keliling di lokasi pengkajian.
2.2 Pedagang Sayur Keliling
Menurut Peraturan Daerah Kota Bogor nomor 13 tahun 2005 tentang penataan pedagang kaki lima. Pedagang kaki lima adalah penjual barang atau jasa yang secara perorangan dan atau kelompok berusaha dalam kegiatan ekonomi yang tergolong dalam skala usaha kecil yang menggunakan fasilitas umum dan bersifat sementara atau tidak menetap dengan menggunakan peralatan bergerak maupun tidak bergerak dan atau menggunakan sarana berdagang yang mudah dipindahkan dan dibongkar pasang.
Menurut Ramli (2003), pedagang kaki lima diartikan sebagai usaha kecil masyarakat yang bergerak di bidang perdagangan dengan lingkungan usaha yang relatif kecil, terbatas dan tidak bersifat tetap. Dalam pengertian ini, pedagang kaki lima sering dilekati oleh ciriciri perputaran uang kecil, tempat usaha yang tidak tetap, modal terbatas, segmen pasar pada masyarakat kelas menengah ke bawah dan jangkauan usaha yang tidak terlalu luas.
Karakter utama dari pedagang sayuran adalah:
1. Mengusahakan agar barang dagangannya habis terjual pada hari itu juga. Hal ini karena dagangannya bersifat tidak tahan lama atau jumlahnya sedikit hingga diharapkan ada perputaran modal. Akibatnya pedagang sayur akan berusaha sedekat mungkin dengan calon pembelinya.
2. Bekerja setiap hari selama kondisinya memungkinkan.
3. Cara penyajian dan pengemasan barang sangat sederhana. Pengemasan cenderung meninggalkan sampah dan menurunkan kualitas produk baik secara fisik maupun estetika.
4. Biasanya jenis sayuran yang dijajakan berubahubah sesuai dengan musim tanam sayuran.
5. Harga yang ditawarkan fluktuatif karena menyesuaikan dengan kondisi komoditi, dagangan dan waktu berdagang serta kelangkaan barang serta daya tawar menawar (Muhtar, 1999).
2.3 Pendapatan
Kadarsan (1995), Pendapatan bersih adalah selisih antara penerimaan total dengan pengeluaran total. Penerimaan tersebut bersumber dari hasil pemasaran atau penjualan hasil usaha sedangkan pengeluaran merupakan biaya total yang digunakan selama proses produksi. Pendapatan dapat diartikan dari dua pendekatan, yaitu : pendapatan menurut ilmu ekonomi diartikan sebagai nilai maksimum yang dapat dikonsumsi oleh seseorang dalam satu periode seperti keadaan semula. Definisi tersebut menitikberatkan pada total kuantitatif pengeluaran terhadap konsumsi selama satu periode. Dengan kata lain pendapatan merupakan jumlah harta kekayaan awal periode ditambah keseluruhan hasil yang diperoleh selama satu periode, bukan hanya yang dikonsumsi. Secara garis besar pendapatan didefinisikan sebagai jumlah harta kekayaan awal periode ditambah perubahan penilaian yang bukan diakibatkan perubahan modal dan hutang.
Lipsey (1995) menerangkan bahwa definisi dari pendapatan adalah selisih antara hasil yang diterima dari penjualan dengan biaya sumberdaya yang telah
dipergunakan untuk membuatnya, jika biaya lebih besar dari pendapatan maka pendapatan negatif atau biasa disebut kerugian.
Pendapatan diakibatkan oleh kegiatankegiatan perusahaan dalam memanfaatkan faktorfaktor produksi untuk mempertahankan diri dan pertumbuhan. Pendapatan dari kegiatan normal biasanya diperoleh dari hasil penjualan barang ataupun jasa yang berhubungan dengan kegiatan utama perusahaan.
Pendapatan dapat dipengaruhi oleh tingkat penjualan, dimana semakin tinggi penjualan akan semakin besar pula pendapatan yang mereka terima. Selain penjualan, pendapatan juga dipengaruhi oleh faktorfaktor penghambat seperti besarnya modal yang mereka miliki. Semakin besar modal yang dimiliki akan semakin besar pula pendapatan yang akan mereka terima.
2.4 Tinjauan Studi Terdahulu
Penelitian mengenai pedagang telah banyak dilakukan, diantaranya penelitian yang dilakukan oleh Nauly (1999) tentang analisis mengenai faktor
faktor yang mempengaruhi pendapatan pedagang sayur keliling di Kecamatan Ciputat, Kabupaten Tangerang. Penelitian ini membahas mengenai kondisi lingkungan internal yang dilihat dari fungsifungsi pemasaran dan strategi pemasarannya dan eksternal langsung dari usaha pedagang sayur keliling serta faktorfaktor yang mempengaruhi tingkat pendapatan usaha pedagang sayur keliling. Penelitian ini menggunakan metode Ordinary Least Square (OLS).
Penelitian ini menyimpulkan bahwa lingkungan eksternal yang berpengaruh dari usaha pedagang sayur keliling adalah pemasok, pesaing dan pelanggan. Besarnya
modal, pengalaman, pemasok dan pendidikan merupakan faktorfaktor yang berpengaruh nyata terhadap pendapatan. Hasil regresi menyatakan bahwa faktor tersebut mempunyai hubungan positif dengan pendapatan. Jenis kelamin secara statistik tidak berpengaruh nyata, sedangkan pengalaman berkorelasi nyata dengan strategis lokasi tempat berjualan.
Lubis (2000) meneliti tentang strategi hidup pedagang sayur yang bekerja di sektor informal, kasus pada pedagang sayur di kelurahan Tegallega. Peneltian ini bertujuan untuk mempelajari strategi hidup pedagang sayur yang bekerja di sektor informal, menelaah berbagai faktor yang menyebabkan pedagang sayur bekerja di sektor informal dan mempelajari adaptasi sosial dan ekonomi dalam strategi pedagang sayur. Hasil penelitian ini adalah para penduduk pendatang asal pedesaan di kelurahan Tegallega melakukan gerak penduduk dengan tujuan ekonomi yaitu memperoleh sumber mata pencaharian pokok dan mata pencaharian tambahan. Penduduk pedesaan umumnya menekuni usaha di sektor perdagangan dan jasa informal. Faktor yang menyebabkan gerak penduduk pedesaan ke perkotaan yaitu kondisi fisik alam daerah asal yang kurang menguntungkan seperti topografi alam yang bergunung, usaha tani lahan kering, dan tadah hujan. Melakukan gerak penduduk bagi pedagang sayur yang bekeluarga merupakan upaya untuk memperbaiki taraf hidup keluarga.
Sedangkan Simanjuntak (2002) melakukan penelitian tentang pola migrasi dan kepemimpinan informal dalam kelompok migran pedagang sayur di perkotaan. Hasil penelitian menunjukkan proses migrasi yang dilakukan migran pedagang sayur berlangsung dengan pola sirkuler. Pola menetap yang tidak permanen dan berulang, dimana pada waktuwaktu tertentu secara berkala mereka
pulang ke daerah asal dengan membawa hasil usahanya. Kepemimpinan yang berlangsung dibedakan latar belakang dan kedekatan dengan kelompok.
Pemimpin yang berasal dari dalam kelompok memiliki pola hubungan yang bersifat ekonomis dan kultural. Sedangkan pemimpin yang berasal dari luar kelompok memiliki hubungan dengan kelompok yang dilandasi motif ekonomi dan keamanan. Fungsi kepemimpinan yang dilakukan oleh pemimpin adalah perintis kegiatan usaha dan suatu peran untuk meningkatkan kehidupan migran dengan mengajak mereka berdagang sayur. Selain itu pemimpin berfungsi sebagai pendorong dan pemersatu. Hal ini berhubungan dengan motif ekonomi yang saling menguntungkan diantara pemimpin yaitu sebagai pemilik sarana produksi atau ekonomi dengan pedagang sayur sebagai penyewa atau pemakai sarana ekonomi tersebut.
BAB III
KERANGKA PEMIKIRAN
3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1 Pendapatan Usaha
Menurut Hernanto (1993), usahatani didefinisikan sebagai orang dari alam, kerja dan modal yang ditujukan kepada produksi di lapangan pertanian.
Ketatalaksanaan orang itu sendiri diusahakan oleh seorang atau sekumpulan orangorang. Dengan demikian dapat diketahui bahwa usahatani terdiri atas manusia petani (bersama keluarganya), tanah (bersama fasilitas yang ada di atasnya seperti bangunanbangunan, saluran air) dan tanaman ataupun hewan ternak.
Pendapatan usaha ada dua yaitu pendapatan total dan pendapatan tunai.
Pendapatan total merupakan selisih antara penerimaan total dengan biaya total.
Pendapatan tunai dihitung dari selisih antara penerimaan total dengan biaya tunai.
Analisis pendapatan usaha memerlukan dua keterangan pokok, yaitu : penerimaan usaha yang didefinisikan sebagai nilai uang yang diterima dari penjualan semua produk (Soekartawi, et, al. 1984). Penerimaan usaha meliputi jumlah penambahan invetaris, nilai penjualan hasil, nilai pengguna rumah dan yang dikonsumsi (Hernanto, 1993). Penerimaan usaha ada dua yaitu : penerimaan total usaha adalah nilai uang yang diterima dari penjualan produk usaha ditambah nilai penggunaan untuk konsumsi keluarga. Penerimaan tunai didefinisikan sebagai nilai uang yang diterima dari penjualan produk
3.1.2 Biaya Usaha
Biaya usaha terdiri dari biaya tunai dan biaya tidak tunai. Biaya tunai usaha didefinisikan sebagi jumlah biaya yang dikeluarkan oleh pembelian barang dan jasa. Biaya tunai usaha merupakan biaya yang dipakai untuk membeli sayuran.
Biaya tidak tunai usaha adalah biaya yang diperhitungkan yaitu sumberdaya milik pedagang misalnya biaya untuk penyusutan alat, tenaga kerja dan sewa gerobak serta makan.
Salah satu ukuran efisiensi pendapatan adalah R/C atau perbandingan antara penerimaan dan biaya. Nilai R/C menunjukkan besarnya pendapatan kotor yang diterima untuk setiap rupiah yang dikeluarkan. Jika nilai R/C lebih besar dari satu berarti penerimaan yang diperoleh akan lebih besar daripada tiap unit biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh penerimaan tersebut. Sebaliknya, jika R/C lebih kecil dari satu maka tiap unit biaya yang dikeluarkan akan lebih besar daripada penerimaan yang diperoleh. Alat yang digunakan untuk menganalisa efisiensi usaha adalah R/C atas biaya total dan R/C atas biaya tunai.
3.2. Kerangka Pemikiran Operasional
Pengaruh mobilitas penduduk dalam pertumbuhan dan perkembangan suatu daerah bisa secara positif atau negatif. Dari sisi positifnya, penduduk yang memenuhi kebutuhan atau meningkatkan kesejahteraannya akan mencari daerah
daerah yang berpeluang untuk membuka usahausaha produktif atau kesempatan kerja yang menjanjikan. Pedagang sayur keliling adalah salah satu usaha yang banyak ditemui di daerah perumahan. Keterampilan khusus tidak dituntut dalam usaha ini dan modal yang kecil sekalipun dapat masuk dalam usaha ini.
Pendapatan pedagang sayur keliling di Kelurahan Tegallega dilihat dari wilayah berjualan. Pedagang sayur keliling dibagi kedalam empat wilayah yaitu wilayah satu yang memulai aktivitasnya dari Jalan Rumah Sakit sampai Jalan Malabar, wilayah dua mereka berjualan di Babakan Fakultas sampai Tegal Mangga, wilayah tiga yang menjajakan dagangannya di perumahan Baranang Siang III, dan wilayah empat disekitar perbatasan Tegallega dan Cimahpar.
Dengan adanya pembagian wilayah diharapkan tidak terjadi penumpukan pedagang sayur disatu wilayah saja. Pembagian wilayah juga dapat memberikan keleluasan kepada pedagang untuk mencari konsumen baru diwilayah mereka berdagang sehingga pendapatan dari berjualan dapat ditingkatlkan. Disamping itu tingkat keuntungan yang diperoleh pedagang sayur keliling juga tidak berbeda jauh untuk masingmasing wilayah. Kerangka pemikiran operasional penelitian dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Kerangka Pemikiran Operasional Penelitian Tingkat persaingan semakin meningkat
Kesimpulan dan Rekomendasi
§ Berapa pendapatan pedagang sayur keliling ditiaptiap wilayah
§ Apakah usaha pedagang sayur keliling ini menguntungkan
Analisis Pendapatan
R/C Ratio Π = TR – TC
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Tegallega, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor. Penentuan lokasi tersebut dilakukan dengan sengaja (purposive) dengan mempertimbangkan bahwa kelurahan Tegallega merupakan salah satu sentra pedagang sayur keliling di Kota Bogor. Waktu pelaksanaan penelitian dilaksanakan pada bulan Februari Maret 2008.
4.2 Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari wawancara dengan pedagang sayur keliling yang menggunakan daftar pertanyaan (kuesioner). Kuesioner tersebut berisi pertanyaanpertanyaan yang disusun secara rapi dan mudah dimengerti.
Sedangkan data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari perpustakaan LSI
IPB, perpustakaan Faperta IPB dan lembagalembaga lain yang terkait.
4.3 Metode Pengumpulan Data
Pengambilan responden dalam penelitian ini dilakukan pada pedagang sayur keliling. Pengambilan responden dengan menggunakan metode stratified sampling yaitu metode pengambilan responden dengan cara menggelompokkan menurut wilayah. Jumlah responden yang digunakan yaitu jumlah keseluruhan pedagang sayur keliling di kelurahan Tegallega sebanyak 14 orang.
4.4 Metode Pengolahan dan Analisis Data
Pengolahan data akan dilakukan dengan menggunakan alat bantu yaitu kalkulator dan software komputer Microsoft Excel 2007. Analisis kuantitatif dalam penelitian ini adalah analisis pendapatan usaha dan R/C rasio.
4.5 Analisis Pendapatan Usaha
Analisis pendapatan usaha adalah keuntungan yang diperoleh setelah penerimaan hasil penjualan produk dikurangkan dengan biaya yang dikeluarkan.
Analisis pendapatan digunakan untuk mengukur apakah kegiatan usahanya saat ini berhasil atau tidak. Informasi yang dibutuhkan dalam analisis pendapatan adalah total penerimaan dan total pengeluaran usaha dalam jangka waktu yang ditetapkan.
Total penerimaan diperoleh dari total produk yang dijual dikali dengan harga jual masingmasing produk. Total pengeluaran adalah nilai semua input yang dikeluarkan dalam kegiatan usaha. Total pendapatan adalah total penerimaan dikurangi dengan total biaya dalam suatu kegiatan usaha. Rumus penerimaan, total biaya dan pendapatan adalah sebagai berikut :
Keterangan :
TR = Total penerimaan usaha
TC = Total biaya usaha
Π = Total pendapatan
Px = Harga produk
Qx = Jumlah produk
Biaya tunai = Biaya tetap + Biaya variabel (dikeluarkan langsung) Biaya diperhitungkan = Biaya tetap + Biaya variabel (tidak dikeluarkan langsung)
TR = Px X Qx
TC = Biaya Tunai + Biaya Diperhitungkan Π = TR – TC
Total pengeluaran dapat dibedakan menjadi dua, yaitu biaya tunai dan biaya diperhitungkan. Biaya tunai terdiri dari biaya variabel (variabel cost) dan biaya tetap (fixed cost). Biaya variabel adalah biaya yang besar kecilnya mempunyai pengaruh langsung terhadap jumlah produk yang dijual. Apabila biaya variabel ditambah maka produk yang dijual juga bertambah, begitu juga sebaliknya. Jika biaya variabel dikurangi maka jumlah produk yang dijual berkurang. Biaya variabel meliputi biaya pembelian sayuran dan biaya pengemasan. Biaya tetap adalah biaya yang besar kecilnya tidak mempengaruhi jumlah produk yang dijual yang meliputi sewa gerobak.
Biaya diperhitungkan merupakan biaya yang seharusnya dikeluarkan tetapi tidak dikeluarkan oleh pedagang sayur keliling namun tetap harus diperhitungkan.
Biaya diperhitungkan terdiri dari biaya penyusutan sayuran, biaya penyusutan peralatan dan biaya tenaga kerja yang tidak dikeluarkan. Biaya penyusutan diperhitugkan dengan mengurangi nilai total pembelian dengan nilai sisa diakhir umur ekonomis, kemudian dibagi dengan umur ekonomis dengan menggunakan rumus berikut ini :
Keterangan :
Nb = Nilai pembelian (Rp) Ns = Nilai sisa (Rp)
n = Jangka usia ekonomis (Tahun)
Tingkat keberhasilan usaha dapat diketahui dengan melakukan analisis imbangan penerimaan dan biaya. Analisis tersebut dikenal dengan nama Revenue Cost Ratio (R/C) yang dihitung dengan membandingkan antara total penerimaan dengan total biaya. Makin tinggi nilai R/C menunjukkan bahwa penerimaan yang
diperoleh semakin besar. Nilai R/C ratio yang lebih besar dari satu (R/C > 1) menunjukkan kegiatan usaha efisien karena penerimaan lebih besar dari pengeluaran. Nilai R/C ratio yang lebih kecil dari satu (R/C < 1) menunjukkan kegiatan usaha tidak efisien karena penerimaan lebih kecil dari pengeluaran.
Rumus R/C ratio adalah sebagai berikut :
Keterangan :
TR = Total penerimaan usaha (Rp) TC = Total pengeluaran usaha (Rp)
BAB V
KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN
5.1 Keadaan Umum Daerah Penelitian
Kota Bogor terletak antara 106 0 43’30’’ sampai dengan 106 0 30’30’’ Lintang Selatan, dengan ketinggian tempat antara 190330 meter dari permukaan laut.
Suhu udara ratarata berkisar antara 26 0 C dengan suhu suhu udara terendah 21,8 0 C dan tertinggi 30,4 0 C serta kelembaban udara kurang lebih 70 persen.
Curah hujan Kota Bogor terbesar mencapai 3.500 sampai 4.000 mm pertahun yang puncaknya terjadi pada bulan Desember dan Januari. Secara geografis Kota Bogor terletak ditengahtengah wilayah Kabupaten Bogor dengan batasbatas wilayah sebagai berikut : sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Kemang, Kecamatan Bojong Gede dan Kecamatan Sukaraja (Kabupaten Bogor), sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Cijeruk dan Kecamatan Caringin (Kabupaten Bogor), sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Sukaraja dan Kecamatan Ciawi (Kabupaten Bogor) sedangkan sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Ciomas dan Kecamatan Dramaga (Kabupaten Bogor).
Luas wilayah Kota Bogor adalah 11.850 hektar. Secara administratif, Kota Bogor terbagi menjadi enam kecamatan yaitu Kecamatan Bogor Selatan, Kecamatan Bogor Utara, Kecamatan Bogor Timur, Kecamatan Bogor Barat, Kecamatan Bogor Tengah Dan Kecamatan Tanah Sereal. Secara keseluruhan meliputi 68 kelurahan, 210 dusun, 623 RW, dan 2.712 RT.
Kedudukan geografis Kota Bogor yang berada ditengahtengah wilayah Kabupaten Bogor sehingga sangat strategis bagi perkembangan dan pertumbuhan
ekonomi dan jasa, pusat kegiatan nasional untuk industri, perdagangan, transportasi, komunikasi dan pariwisata. Hal ini yang dijadikan bagi para pebisnis untuk mejadikan Kota Bogor sebagai tempat untuk melakukan transaksi bisnis.
Kelurahan Tegallega merupakan daerah yang termasuk ke dalam wilayah Kecamatan Bogor Tengah dengan luas wilayahnya sekitar 162,35 hektar.
Kelurahan Tegallega terdiri dari 9 RW dan 51 RT. Adapun batasbatas wilayahnya sebagai berikut :
Sebelah Utara : Kelurahan Tegal Gundil
Sebelah Selatan : Kelurahan Paledang dan Kelurahan Babakan Sebelah Timur : Kelurahan Baranang Siang
Sebelah Barat : Kelurahan Tanah Baru.
5.2 Keadaan Lokasi Pedagang Sayur Keliling
Pedagang sayur keliling mulai aktivitasnya dengan membeli sayuran di Pasar Bogor pada pukul 04.30 WIB. Setelah selesai berbelanja para pedagang sayur keliling melakukan proses pengemasan di sepanjang jalan Rumah Sakit II (samping kampus IPB Baranang Siang). Proses pengemasan berlangsung sampai pukul 07.00 WIB, kemudian sebagian pedagang sayur keliling mulai mendatangi konsumen dari Babakan Fakultas sampai Tegal Mangga dan sebagian lainnya mulai berjualan dari jalan Malabar sampai ke Cilebende.
Lokasi yang dilalui oleh pedagang sayur keliling melewati ganggang rumah yang kecil dengan kontur tanah yang tidak beraturan. Ratarata pedagang sayur keliling menempuh perjalanan sejauh 10 sampai 15 kilometer melalui rute pulang yang sama atau jalan pintas menuju jalan Ciwaluya.
5.3 Karakteristik Pedagang Sayur Keliling
Pedagang sayur keliling yang menjadi responden berasal dari Desa Cugenang Kabupaten Cilacap Propinsi Jawa Tengah. Berdasarkan informasi yang diperoleh pedagang sayur keliling merantau karena penghidupan di pedesaan yang sangat sulit disamping itu untuk memenuhi kebutuhan keluarga di kampung.
Para pedagang sayur keliling, sebelumnya merupakan buruh tani yang bekerja di tempat asalnya. Atas ajakan dari saudara atau teman yang lebih dahulu menggantung hidup dari berjualan sayuran maka semakin lama penjual sayur keliling dari waktu ke waktu semakin banyak. Pekerjaan berdagang sayur keliling dilakukan karena perkembangan perumahan dan pertumbuhan penduduk di sekitar kelurahan Tegallega yang pesat sehingga menimbulkan kebutuhan sayuran dan kebutuhan dapur semakin meningkat.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari pedagang sayur keliling diketahui bahwa karakteristik dapat dilihat dari segi kelompok umur, tingkat pendidikan dan lama mengeluti usaha, modal dan banyaknya jenis sayuran yang dijual.
5.3.1 Umur
Kinerja seseorang dipengaruhi oleh faktor umur. Umur yang produktif tentu akan memberikan kemudahan dalam memasarkan sayuran. Bila umur pedagang sayur keliling yang semakin tua tentu akan berdampak terhadap berapa banyak jumlah yang mampu dibawa untuk berjualan. Dari hasil wawancara terhadap 14 orang pedagang sayur keliling, pada Tabel 2 dapat dilihat bahwa pedagang sayur keliling sebesar 4 orang berkisar pada umur 41 – 45 tahun (28,6 %). Sedangkan umur 30 – 35 tahun berjumlah sebesar 2 orang (14,3 %) dan umur 46 – 50 tahun
sebanyak 2 orang (14,3 %). Fakta ini menunjukkan bahwa pedagang sayur keliling bekerja pada umur produktif.
Tabel 2. Sebaran Umur Responden Pedagang Sayur Keliling Tahun 2008
Umur Jumlah pedagang Persentase (%)
a. 30 – 35 tahun b. 36 – 40 tahun c. 41 – 45 tahun d. 46 – 50 tahun
2 3 4 2
14,3 21,4 28,6 14,3
5.3.2 Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan akan berpengaruh terhadap cara memasarkan produk.
Semakin tinggi pendidikan seseorang akan memberikan kemudahan dalam melakukan transaksi berbelanja di pasar atau menjual produk langsung ke konsumen. Berdasarkan hasil wawancara pada 14 orang pedagang sayur keliling pada Tabel 3 dapat dilihat bahwa tingkat pendidikan pedagang sayur keliling terbesar tidak tamat SD sebanyak 6 orang (42,9 %) dan terendah sebanyak 3 orang (21,4 %). Responden tidak tamat SD karena kemampuan ekonomi yang kurang mendukung sehingga tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
Tabel 3. Sebaran Tingkat Pendidikan Responden Pedagang Sayur Keliling Tahun 2008
Tingkat Pendidikan Jumlah pedagang Persentase (%) a. Tidak tamat SD
b. Tamat SD
c. Tamat SLTP/Sederajat
6 5 3
42,9 35,7 21,4
5.3.3 Pengalaman Berdagang
Pengalaman berdagang dapat mempengaruhi cara dan keahlian berdagang misalnya menentukan volume penjualan, kerjasama dengan pedagang pengumpul dan kecepatan memperoleh informasi pasar. Semakin lama seseorang berjualan tentunya telah banyak pelanggan yang berlangganan di pedagang sayur tersebut.
Kemudahan dalam mendapatkan kualitas sayuran yang dijual juga akan semakin mudah karena para pedagang sayur telah memiliki pedagang pengumpul di pasar Bogor. Keakraban ini yang dimanfaatkan oleh pedagang sayur yang telah lama melakukan usaha berdagang sayur karena pengalaman berjualan sayuran yang telah mencapai di atas 20 tahun. Berdasarkan hasil penelitian, 9 orang pedagang mempunyai pengalaman berdagang antara 21 – 25 tahun (64,9 %). Pengalaman berdagang 10 – 15 tahun (Tabel 4) berjumlah 2 orang (14,3 %).
Tabel 4. Sebaran Pengalaman Berdagang Responden Pedagang Sayur Keliling Tahun 2008
Pengalaman Berdagang Jumlah pedagang Persentase (%) a. 10 – 15 tahun
b. 16 – 20 tahun c. 21 – 25 tahun
2 3 9
14,3 21,4 64,9
5.3.4 Modal
Modal yang digunakan akan menentukan seberapa banyak jenis sayuran yang akan dijual. Berdasarkan Tabel 5, pedagang sayur keliling di Kelurahan Tegallega memiliki modal yang beragam. Keberagaman modal ini disebabkan karena masingmasing pedagang sayur keliling tidak ada yang melakukan peminjaman modal melalui bank karena akses peminjaman yang terlalu rumit disamping jaminan yang dimiliki oleh pedagang sayur tidak ada. Pedagang yang memiliki modal antara Rp 446.652 Rp 560.777 sebanyak 8 orang (57,1 %) dan modal terendah berkisar antara Rp 560.778 – Rp 674.904 hanya 1 orang atau 7,1 persen. Umumnya pedagang sayur keliling di Kelurahan Tegallega ini hanya mengandalkan modal yang dibawa dari kampung dan ada juga yang meminjam kepada teman atau saudara yang lebih dahulu berjualan. Biasanya dicicil setiap
hari dari keuntungan yang mereka peroleh setelah dikeluarkan untuk biaya membeli sayuran dan biaya yang dibutuhkan setiap harinya.
Tabel 5. Sebaran Modal Responden Pedagang Sayur Keliling Tahun 2008 Modal Jumlah pedagang Persentase (%) a. Rp 218.400, Rp 332.525,
b. Rp 332.526, Rp 446.651,
c. Rp 446.652, Rp 560.777,
d. Rp 560.778, Rp 674.904,
2 3 8 1
14,3 21,4 57,1 7,1
5.3.5 Banyaknya Jenis Sayuran yang dijual
Semakin banyak jenis sayuran yang dijual maka akan membuat pelanggan semakin banyak karena produk yang dijual lebih beragam. Salah satu yang menjadikan banyaknya jumlah sayuran yang dijual oleh pedagang sayur keliling adalah memanfaatkan jumlah penduduk yang padat. Perumahan Baranang Siang IV merupakan salah satu perumahan elit yang terletak di Kelurahan Tegallega.
Sehingga pedagang sayur keliling yang berjualan di wilayah tiga memanfaatkan kondisi ini untuk menjual lebih banyak sayuran. Dari Tabel 6 dapat dilihat bahwa pedagang sayur keliling yang menjual jenis sayuran sebanyak 46 – 56 jenis sebanyak 8 orang atau 57,1 persen. Banyaknya jenis sayuran yang dijual juga dipengaruhi oleh daya beli masyarakat ditempat pedagang sayur keliling berjualan.
Tabel 6. Sebaran Banyaknya Jenis Sayuran yang dijual Responden Pedagang Sayur Keliling Tahun 2008
Banyaknya jenis sayuran yang dijual Jumlah pedagang Persentase (%) a. 35 – 45 jenis
b. 46 – 56 jenis c. 57 – 67 jenis d. 68 – 78 jenis
3 8 2 1
21,4 57,1 14,3 7,1
BAB VI
ANALISIS PENDAPATAN
6.1 Analisis Usaha Pedagang Sayur Keliling
Analisis yang dilaksanakan pada pedagang sayur keliling ini dilakukan pada 14 orang pedagang berdasarkan wilayah penjualan. Pada penelitian ini, analisis usaha pedagang dibagi menjadi empat wilayah yaitu wilayah satu ada 4 orang pedagang yang memulai aktivitasnya dari Jalan Rumah Sakit sampai Jalan Malabar, wilayah dua ada 4 orang pedagang, mereka berjualan di Babakan Fakultas sampai Tegal Mangga, wilayah tiga terdapat 3 orang pedagang yang menjajakan dagangannya di perumahan Baranang Siang III, dan wilayah empat disekitar perbatasan Tegallega dan Cimahpar ada 3 orang pedagang sayur keliling.
Hal ini dilakukan untuk mengetahui berapa banyak sayuran yang terjual terhadap pendapatan pedagang sayur keliling, biaya yang dikeluarkan dan R/C rasio.
Pendapatan merupakan selisih antara total penjualan dengan total biaya yang dikeluarkan. Pendapatan pedagang sayur keliling dapat dilihat dari dua hal yaitu : (1) pendapatan atas biaya yang tidak dikeluarkan namun diperhitungkan sebagai biaya (biaya diperhitungkan), (2) pendapatan atas biaya total yaitu penjumlahan dari biaya variabel dan biaya tetap.
Cara menghitung pendapatan pedagang sayur keliling yaitu dengan cara menghitung semua penerimaan yang berasal dari penjualan sayuran yang laku terjual dan resiko yang tidak terjual pada saat hari berjualan. Setelah itu dikurangi dengan semua pengeluaran, baik yang tunai maupun yang diperhitungkan.
6.2 Analisis Biaya Pedagang Sayur Keliling
Pedagang sayur keliling di Kelurahan Tegallega mengeluarkan biaya untuk pembelian sayuran, pengemasan, sewa gerobak , konsumsi, resiko tidak laku, penyusutan alat dan biaya tenaga kerja. Berdasarkan Tabel 7. dapat diketahui bahwa biaya variabel terbesar dikeluarkan oleh pedagang sayur di wilayah 3 yaitu sebesar Rp 530.150,00 dengan biaya pembelian sayuran senillai Rp 521.150,00 dan biaya pengemasan Rp 9.000,00. Sedangkan biaya terendah terdapat pada wilayah empat yaitu sebesar Rp 397.983,33 dengan biaya pembelian sayuran sebesar Rp 389.483,33 dan biaya untuk pengemasan sebesar Rp 8.500,00. Hal yang menyebabkan terjadi perbedaan biaya variabel terletak pada jumlah sayuran yang dibeli oleh masingmasing pedagang di wilayah tempat mereka berjualan.
Wilayah tiga merupakan salah satu perumahan elit di Kelurahan Tegallega sehingga pedagang sayur memanfaatkan kondisi ini untuk menjual sayuran dengan jenis yang lebih banyak bila dibandingkan dengan wilayah empat.
Pedagang sayur di wilayah empat menjual jenis sayurannya lebih sedikit karena pemukiman peduduk yang kurang padat sehingga daya beli konsumen yang sangat rendah. Biaya pembelian sayuaran dapat dilihat pada Lampiran 1.
Wilayah dua merupakan wilayah dengan kontur tanah yang tidak rata sehingga biaya konsumsi yang dikeluarkan lebih besar daripada ketiga wilayah yang lain karena permukaan jalan yang dilalui lebih rata. Dari Tabel 7 dapat dilihat bahwa biaya yang dikeluarkan oleh pedagang sayur diwilayah tiga sebesar Rp 7.000,00. Untuk biaya sewa gerobak yang dikeluarkan oleh pedagang sayur di Kelurahan Tegallega sama, hal ini disebabkan karena pedagang sayur menyewa
gerobak pada satu orang, yaitu sebesar Rp 1.500,00. Sewa gerobak langsung dibayar setalah para pedagang sayur selesai berjualan.
Tabel 7. Biaya Variabel, Biaya tetap, Biaya Diperhitungkan, Total Biaya dan Total Biaya Tunai (Rp/minggu)
No BiayaBiaya W1 W2 W3 W4
1 Biaya Variabel
Biaya Pembelian Sayuran 454.925,00 443.962,50 521.150,00 389.483,33 Biaya Pengemasan 12.000,00 10.500,00 9.000,00 8.500,00 Total Biaya Variabel 466.925,00 454.462,50 530.150,00 397.983,33 2 Biaya Tetap
Sewa Gerobak 1.500,00 1.500,00 1.500,00 1.500,00
Konsumsi 6.000,00 7.000,00 6.000,00 6.500,00
Total Biaya Tetap 7.500,00 8.500,00 7.500,00 8.000,00 3 Biaya Diperhitungkan
Biaya Resiko Tidak Laku 9.662,50 9.525,00 12.416,67 8.533,33
Biaya Penyusutan Alat 62,06 67,82 72,15 75,60
Biaya Tenaga Kerja 29.108,00 29.108,00 29.108,00 29.108,00 Total Biaya Diperhitungkan 38.832,56 38.700,82 41.596,82 37.716,93 4 Total Biaya 513.257,56 501.663,32 579.246,82 443.700,26 5 Total Biaya Tunai 474.425,00 462.962,50 537.650,00 405.983,33
Berdasarkan Tabel 7, dapat dilihat bahwa biaya diperhitungkan lebih besar dikeluarkan oleh para pedagang sayur di wilayah tiga dengan rincian biaya : biaya resiko sayuran yang tidak laku sebesar Rp 12.416,67, biaya penyusutan alat Rp 72,15 dan biaya tenaga kerja Rp 29.108,00. Biaya resiko sayuran tidak laku lebih besar bila dibandingkan dengan tiga wilayah yang lain disebabkan karena jumlah sayuran yang dijual lebih beragam sehingga tingkat resiko untuk tidak terjual juga lebih tinggi. Sedangkan biaya tenaga kerja di Kelurahan Tegallega sama karena dihitung berdasarkan Upah Minimum Kota Bogor sebesar Rp 873.240,00 per bulan sehingga upah ratarata sebesar Rp 29.108,00.
Total biaya yang paling tinggi dikeluarkan oleh pedagang sayur keliling di Kelurahan Tegallega terdapat pada wilayah tiga yaitu sebesar Rp 579.246,82 dan total biaya tunai sebesar Rp 537.650,00. Sedangkan total biaya paling rendah dikleuarkan oleh pedagang sayur di wilayah empat yaitu sebesar Rp 443.700,26 dan total biay tunai sebesar Rp 405.983,33.
6.3 Analisis Total Penjualan Pedagang Sayur Keliling
Informasi yang diperoleh dari para pedagang sayur keliling di Kelurahan Tegallega bahwa sayuran yang dibeli dalam satuan kilogram, kemudian dibungkus kedalam plastik yang telah disesuaikan dengan kebutuhan konsumen.
Hal ini yang disenangi oleh ibuibu rumah tangga berbelanja dari pedagang sayur keliling karena jumlah yang dibeli telah sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan sehingga tidak perlu menyimpan sayuran bila bersisa atau dibuang begitu saja.
Total penjualan yang diterima oleh pedagang merupakan hasil dari jumlah sayuran yang dijual dikalikan dengan harga jual.
Komponen penjualan sayuran di Kelurahan Tegallega dikelompokkan berdasarkan wilayah penjualan. Berdasarkan dari perhitungan terlihat bahwa penjualan sayuran terbesar terdapat pada wilayah tiga dengan nilai penjualan sebesar Rp 620.716,67. Para pedagang sayur di wilayah tiga menjual sayuran antara 48 sampai 74 jenis sayuran. Sedangkan total penjualan terendah terdapat pada wilayah empat dengan total penjualan sebesar Rp 464.083,33 dengan 42 sampai 52 jenis sayuran. Pedagang sayur keliling di wilayah satu menjual jenis sayuran antara 40 sampai 60 jenis sayuran sehingga total penjualan yang diperoleh pedagang di wilayah tersebut Rp 549.560,00 (Tabel 8).
Wilayah tiga merupakan wilayah perumahan elit di Kelurahan Tegallega sehingga harga jual yang ditawarkan lebih tinggi bila dibandingkan dengan wilayah yang lain. Konsumen diwilayah tiga adalah masyarakat yang memiliki tingkat pendidikan tinggi sehingga mengkonsumsi sayuran merupakan suatu keharusan karena kesehatan bagi penghuni perumahan elit adalah barang mahal.
Wilayah empat merupakan wilayah yang sedikit tingkat penjualan sayuran karena kepadatan penduduk yang sedikit. Disamping itu daya beli masyarakat yang rendah sehingga tingkat penjualan pedagang sayur keliling yang berjualan di wilayah ini juga rendah. Penjabaran secara rinci tentang unsurunsur dalam komponen total penjualan dapat dilihat pada lampiran 1.
Tabel 8. Wilayah dan Total Penjualan Pedagang Sayur Keliling di Kelurahan Tegallega (Rp/minggu)
No Wilayah Total Penjualan
1 W1 549.560,00
2 W2 535.275,00
3 W3 620.716,67
4 W4 464.083,33
6.3 Analisis Pendapatan Pedagang Sayur Keliling
Suatu usaha dikatakan menguntungkan bila selisih antara penerimaan dan pengeluaran bernilai positif. Selisih tersebut dinamakan pendapatan atas biaya tunai jika penerimaan totalnya dikurangkan dengan pengeluaran tunai, sedangkan apabila penerimaan totalnya dikurangkan dengan pengeluaran totalnya maka selisih tersebut dinamakan pendapatan atas biaya total. Perhitungan analisis pendapatan ini disajikan pada Tabel 9. Pendapatan atas biaya tunai merupakan pendapatan kotor usaha yaitu setelah penerimaan dikurangi dengan biaya tunai.
Besarnya pendapatan kotor ini adalah sebesar Rp 83.066,67 pada wilayah tiga sedangkan nilai terendah terdapat pada wilayah empat sebesar Rp 58.100,00.
Artinya setiap minggu pedagang sayur keliling di wilayah tiga akan memperoleh uang tunai sebesar Rp 83.066,67. sedangkan pedagang sayur keliling di wilayah empat akan menerima uang tunai sebesar Rp 58.100,00, karena bernilai positif maka usaha ini dapat dikatakan menguntungkan.
Pendapatan atas biaya total merupakan pendapatan bersih usaha berjualan sayuran setelah komponen penerimaan dikurangi dengan total biaya baik yang tunai maupun yang tidak tunai (diperhitungkan). Besarnya pendapatan bersih yang diterima oleh pedagang sayur keliling di wilayah tiga adalah Rp 41.469,85, sedangkan pendapatan bersih terendah terdapat di wilayah empat yaitu sebesar Rp 20.383,07. Pendapatan ini merupakan ukuran imbalan yang diperoleh pedagang sayur keliling dari penggunaan faktor tenaga kerja dan modal milik sendiri.
Salah satu cara mengukur efisiensi usaha pedagang sayur keliling ini adalah menghitung rasio antara penerimaan dan biaya. Jika total penerimaan dibandingkan dengan biaya tunai maka disebut sebagi R/C atas biaya tunai. Dari Tabel 5 dapat dilihat bahwa nilai R/C atas biaya tunai pedagang sayur di Keruhan Tegallega tidak berbeda jauh. Hal ini disebabkan karena biaya tenaga kerja dimasukkan kedalam perhitungan. Nilai R/C atas biaya tunai tertinggi terdapat pada wilayah satu sebesar 1,158, artinya jika pedagang sayur keliling menambah biaya tunainya sebesar Rp 100,00 maka akan meningkatkan penerimaan sebesar Rp 115,80. Dengan demikian akan memperoleh tambahan pendapatan tunai sebesar Rp 11,58. Sedangkan nilai R/C rasio terkecil terdapat pada pedagang sayur keliling di wilayah empat yaitu sebesar 1,143. Artinya, jika pedagang sayur
keliling di wilayah empat menambah biaya tunainya sebesar Rp 100,00 maka akan meningkatkan penerimaan sebesar Rp 114,30. Sehingga tambahan pednapatan tunai pedagang sayur keliling di wilayah empat sebesar Rp 11,43.
Apabila total penerimaan dibandingkan dengan biaya total maka disebut R/C atas biaya total. Pedagang sayur keliling di wilayah tiga memiliki nilai R/C atas biaya total sebesar 1,072. Artinya pedagang sayur keliling di wilayah tiga dapat meningkatkan biaya total sebesar Rp 100,00 maka akan memperoleh tambahan penerimaan sebesar Rp 107,20 dengan demikian juga akan meningkatkan pendapatan total sebesar Rp 7,20. Sedangkan R/C rasio total terkecil terdapat pada wilayah empat adalah sebesar 1,046. Artinya pedagang sayur keliling diwilayah empat dapat meningkatkan biaya total sebesar Rp 100,00 maka akan memperoleh penerimaan sebesar Rp 104,60 dengan demikian akan meningkatkan pendapatan total sebesar Rp 4,60. Karena perhitungan kedua rasio tersebut bernilai lebih dari satu maka dapat disimpulkan bahwa usaha yang dijalankan oleh pedagang sayur keliling ini menguntungkan sehingga usaha pedagang sayur keliling di Kelurahan Tegallega masih dapat terus ditingkatkan.
Tabel 9. Pendapatan Tunai, Pendapatan Total, R/C Rasio Atas Biaya Tunai, R/C Rasio Atas Biaya Total (Rp/minggu)
No Pendapatan W1 W2 W3 W4
1 Pendapatan Tunai 75.135,00 72.312,50 83.066,67 58.100,00 2 Pendapatan Total 36.302,44 33.611,68 41.469,85 20.383,07 3 R/C Rasio Atas Biaya Tunai 1,158 1,156 1,154 1,143 4 R/C Rasio Atas Biaya Total 1,071 1,067 1,072 1,046