• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN. Identifikasi dan Analisis Kondisi Bantaran

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HASIL DAN PEMBAHASAN. Identifikasi dan Analisis Kondisi Bantaran"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Identifikasi dan Analisis Kondisi Bantaran

1. Tata Guna Lahan

Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum dalam rangka membangun Kanal Banjir Timur sepanjang 23,6 kilomenter dan jalan tol lingkar luar Jakarta. Proyek Kanal Banjir Timur akan membebaskan lahan seluas 400 hektar di 13 kelurahan di Jakarta Timur dan Jakarta Utara (http://els.bappenas.go.id).

Gambar 12 memperlihatkan draft Rencana Tata Ruang Wilayah DKI Jakarta (2011-2030). Dari draft RTRW tersebut, dapat diketahui pada bantaran KBT terdapat empat bentuk tata guna lahan yaitu (1) Pemukiman, (2) Perkantoran, Perdagangan dan Jasa (3) Industri dan Pergudangan, dan (4) RTH budidaya. Penggunaan lahan pada bantaran KBT (lebar 50 m) dapat dilihat pada Gambar 13.

(2)
(3)

Tabel 4. Penggunaan Lahan di Sekitar Bantaran KBT

Keterangan : Dihitung dengan cara digitasi dari peta penggunaan lahan eksisting dan draft RTRW (2011-2030)

Dari Tabel 4 diketahui bahwa RTH di semua segmen berdasarkan draft RTRW (2011-2030) direncanakan akan mengalami peningkatan luasan dengan persentase yang berbeda, setiap segmen harus memiliki RTH dengan kategori RTH budidaya. Hal ini mendukung perencanaan yang akan dibuat. Selain RTH, terdapat tiga bentuk alokasi lahan lainnya, yaitu :

a. Pemukiman

b. Perkantoran, Perdagangan dan Jasa c. Industri dan Pergudangan

Tiga bentuk penggunaan lahan ini memiliki pola RTH yang berbeda seperti yang tertera pada Tabel 5.

Kondisi Eksisting Draft RTRW (+ / -) Pemukiman 76 53 -23 RTH budidaya 24 47 23 Pemukiman 80 30 -50 RTH budidaya 12 51 39

Perkantoran, Perdagangan dan Jasa 8 19 11

Pemukiman 66 23 -43

RTH budidaya 25 48 23

Perkantoran, Perdagangan dan Jasa 4 16 12

Industri dan Pergudangan 5 13 8

Pemukiman 51 43 -8

RTH budidaya 49 57 8

Pemukiman 30 33 3

RTH budidaya 32 54 22

Industri dan Pergudangan 0 13 13

Lahan kosong 38 0 -38

RTH budidaya 30 46 16

Industri dan Pergudangan 12 54 42

Lahan kosong 58 0 -58

RTH budidaya 15 32 17

Industri dan Pergudangan 30 68 38

Lahan kosong 55 0 -55 5 6 7 Segmen Penggunaan Lahan (%) 1

Jenis Penggunaan Lahan

2

3

(4)

Tabel 5. Pola RTH

Sumber : diolah dari Inmendagri no.14/1988

Berdasarkan kondisi tersebut, maka kondisi optimal untuk perencanaan lanskap ruang terbuka rekreatif adalah segmen 1, 2, 3 dan 4 karena memiliki potensi pengunjung yang berasal dari kawasan pemukiman. Sedangkan pada segmen 5, 6, dan 7 direncanakan untuk dikembangkan menjadi daerah konservasi ataupun untuk melindungi konstruksi kanal. Simulasi pola RTH dapat dilihat pada Gambar 14.

Gambar 14. Simulasi pola RTH (tanpa skala) pada tiga bentuk kawasan (pemukiman, perkantoran, perdagangan dan jasa, serta industri dan pergudangan)

No. Penggunaan Lahan Fungsi Pendukung Penggunaan Lahan Bentuk

1 Pemukiman Rekreasi, keindahan, kenyamanan, interaksi sosial

kawasan (areal), pekarangan, taman lingkungan, pemakaman, jalur hijau sepanjang jalan lingkungan

2 Perkantoran,Perdagangan dan

Jasa Keindahan, kenyamanan, interaksi sosial

areal taman, tutupan vegetasi pada kawasan ini berkisar antara 5-20%

3 Industri dan Pergudangan Pencegah erosi, buffer, pengaman bantaran, konservasi air

(5)

Trase saluran Kanal Banjir Timur ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Gubernur DKI Jakarta:

a. SK Gubernur DKI Jakarta No. 121/1987, tanggal 17 Juni 1987 tentang Penguasaan Perencanaan/Peruntukan bidang tanah untuk pelaksanaan pembangunan Banjir Kanal Timur Tahap I mulai dari Kali Cipinang sampai dengan Buaran wilayah Jakarta Timur.

b. SK Gubernur DKI Jakarta No. 2714/2001, tanggal 24 September 2001 tentang Penguasaan Perencanaan/Peruntukan bidang tanah untuk pelaksanaan pembangunan Trase Banjir Kanal Timur dari Kali Buaran sampai dengan Laut Jawa.

c. SK Gubernur DKI Jakarta No. 285/2003, tanggal 29 Januari 2003 tentang Penguasaan Perencanaan/Peruntukan bidang tanah untuk pelaksanaan pembangunan Trase BKT untuk wilayah Jakarta Timur dan Jakarta Utara. (BBWSCC, 2011).

Secara umum kondisi eksisting bantaran Kanal Banjir Timur dapat dilihat pada Gambar 15.

2. Penutupan Lahan

Secara umum kondisi bantaran Kanal Banjir Timur terdiri dari 37% Ruang Terbuka Hijau, 56% Ruang Terbuka non-Hijau dan 7% Ruang terbangun dengan batas 50 m dari kanal (diolah dari Google Earth 2010). Perbandingan persentase tersebut dapat dilihat pada Gambar 16.

(6)
(7)

Pada bantaran Kanal Banjir Timur, terdapat beberapa jenis tanaman yang membentuk Ruang Terbuka Hijau, antara lain : Tanjung, Bintaro, Dadap Merah, Glodogan, Trembesi, Mahoni, tanaman liar dan lainnya. Sedangkan ruang terbuka non-hijau yang ada berupa lahan kosong, perkerasan, jalan inspeksi, jalur pedestrian dan badan air yang berupa permukaan kanal. Ruang terbangun yang ada terdiri dari bangunan, jalan, jembatan, turap dan lainnya.

Kondisi penutupan lahan yang ada saat ini mendukung rencana pemanfaatan bantaran untuk kegiatan rekreasi outdoor. Penataan ruang terbuka pada kawasan bantaran Kanal Banjir Timur harus didukung oleh pemenuhan proporsi dan distribusi RTH dengan cara mempertahankan RTH yang telah ada. Pemenuhan proporsi RTH dengan menambahkan luasan proporsi RTH pada area pemukiman (lahan kosong, ruang-ruang yang tercipta antar bangunan) dan sepanjang jalur sempadan kanal.

(8)

Segmen 1 Segmen 2

Segmen 3 Segmen 4

Segmen 5 Segmen 6

Segmen 7

(9)
(10)

Berdasarkan Tabel 6 dan Gambar 19, penutupan lahan yang berupa RTH paling banyak terdapat di Segmen 4. Namun secara keseluruhan, Ruang Terbuka di semua segmen dapat dimanfaatkan, namun harus disesuaikan dengan lebar antara kanal dengan wilayah terbangun yang ada (jalan, pemukiman, pasar, atau lainnya). Pada segmen 4, 5, 6 dapat dikembangkan untuk area hijau rekreasi karena sedikitnya area terbangun pada wilayah bantaran. Hal ini sesuai dengan RTRW (tata guna lahan) yang ada, dimana persebaran persentase RTH tiap segmen ditambah luasannya dan persebarannya hampir merata, sehingga hal ini sangat mendukung perencanaan pemanfaatan bantaran sebagai kawasan rekreasi dengan RTH sebagai elemen penunjangnya.

Tabel 6. Persentase Prakiraan Penutupan Lahan di Bantaran KBT

Sumber : diolah dari Google Earth (2010)

Gambar 19. Persentase Prakiraan RTH Tiap Segmen

Dari kondisi penutupan lahan tersebut, secara umum pola penutupan lahannya belum memiliki pola yang jelas, sehingga perlu ada penataan ruang yang lebih baik, misalkan RTH dan Ruang Terbuka di hulu diharapkan lebih banyak pada daerah bantaran dan semakin ke hilir semakin sedikit. Hal ini berkaitan

Draft RTRW (2011 – 2030) Ruang Terbuka Hijau Ruang terbuka non-Hijau Ruang Terbangun

1 25,5 64 10,5 100 2 13 81,1 5,9 100 3 31,4 56,7 11,9 100 4 83,4 16,3 0,3 100 5 33,3 66,3 0,4 100 6 36,6 62,3 1,1 100 7 15,6 79 5,4 100 Total 37 56 7 100

% Penutupan Lahan Bantaran (50 m dari kanal)

(11)

dengan pola pemukiman yang ada dan tingkat kebutuhan RTH dan Ruang Terbuka.

Pada Tabel 7 dapat dilihat karakteristik lanskap di sekitar bantaran KBT, mencerminkan lanskap di sekitar segmen 4, 5, 6, dan 7 didominasi oleh ruang terbuka. Maka, kawasan wilayah penyangga tersebut sudah cukup baik namun perlu dikembangkan untuk memaksimalkan potensi ruang terbukanya. Sedangkan pemukiman banyak terdapat pada segmen 1 dan 2. Sehingga ketiga segmen tersebut memiliki potensi calon pengunjung tapak terbanyak. Oleh karena itu, ketiga segmen tersebut perlu diutamakan dalam pengembangan ruang terbuka yang bersifat rekreatif.

Tabel 7. Karakteristik Lanskap di Sekitar Bantaran KBT

Sumber : diolah dari Google Earth (2010) dan BBWSCC (2011)

Untuk mengharmonisasikan pemukiman dengan bantaran sungainya, maka perlu ada Ruang terbuka pada jalur bantaran yang dapat menghubungkan masyarakat yang satu dengan lainnya (tempat berkumpul), solusinya dapat berupa dengan menambah RTH sebagai pemersatu elemen dan ruang yang bersifat rekreatif bagi masyarakat di sekitar bantaran (dengan kepadatan tinggi–sedang– rendah).

(Ha) (%)

1 Pemukiman dengan kepadatan tinggi, Bagian hulu 44,9 19,1

2 Pemukiman dengan kepadatan tinggi 46,8 19,9

3 Pemukiman dengan kepadatan sedang, Ruang terbuka

cukup banyak 37,1 15,8

4 Pemukiman dengan kepadatan rendah, Dominasi RTH,

Sediment Trap 30,2 12,8

5 Pemukiman dengan kepadatan rendah, Dominasi RTH 30,1 12,8

6 Pemukiman dengan kepadatan rendah, Dominasi RTH 30 12,8

7 Pemukiman dengan kepadatan rendah, Dominasi Ruang

Terbuka, Bagian Hilir (Titik nol laut) 16,1 6,8

Total 235,2 100

Karakteristik Lanskap di Sekitar Bantaran KBT

(12)

3. Kualitas Air

Pada umumnya, kualitas air di Kanal Banjir Timur termasuk golongan D. Berdasarkan pasal 3 SK Gubernur DKI Jakarta No.582 tahun 1995, golongan D berarti artinya air di wilayah tersebut memiliki tingkat kekeruhan yang tinggi dan jumlah bakterinya telah melebihi baku mutu. Sehingga peruntukkan airnya hanya dapat digunakan untuk keperluan pertanian dan juga dapat dimanfaatkan untuk usaha perkotaan, industri pembangkit listrik tenaga air (Tambunan, 2004).

Tabel 8. Peruntukan Air Sungai di Wilayah KBT DKI Jakarta

Sumber : BPLHD (2009)

Berdasarkan Tabel 8, secara umum, kualitas air di Kanal Banjir Timur memang sudah buruk. Dengan kondisi kualitas air yang sudah tergolong ‘D’ itu, maka RTH dapat dikembangkan sebagi peluang untuk memperbaiki kondisi tersebut.

Sungai Cipinang merupakan bagian dari sungai Sunter di mana kedua sungai ini bergabung menjadi satu di Pulo Gadung (Jalan Bekasi Timur) dengan nama sungai Sunter. Sungai Cipinang di bagian hulu menerima aliran debit dari Kali Baru Timut (di lokasi Pintu Hek Taman Mini), kondisi debit di hulu sungai Cipinang 0,14 – 4,20 m3/detik, setelah pertemuan dengan sungai Sunter debitnya berkisar 0,62 – 7,58 m3/detik.

Kualitas air sungai Cipinang sangat dipengaruhi oleh debit yang berasal dari hulunya (wilayah Jawa Barat), di mana pada saat debitnya rendah maka proses pencemaran telah terjadi dan kualitasnya menurun, hal ini terlihat dari kualitas di daerah hilir yang relatif lebih buruk dibandingkan di hulu sungai

Segmen Sungai Golongan Peruntukan Sungai

Cipinang Sunter Buaran Jati Kramat

3 Cakung D Usaha Perkotaan

4 Cakung D Usaha Perkotaan

5 Cakung D Usaha Perkotaan

6 Blencong D Usaha Perkotaan

7 Blencong D Usaha Perkotaan

(13)

Cipinang (misal COD 64,48 mg/l dan BOD 45,87 mg/l). Keberadaan sungai Sunter yang bergabung dengan sungai Cipinang pada daerah hulu kualitasnya masih memenuhi baku mutu untuk pertanian (COD 22,79 mg/l dan BOD 13,94 mg/l) dengan debit air sungainya berkisar antara 0,53 m3/det – 7,90 m3/det.

Kualitas air sungai Sunter setelah bercampur dengan sungai Cipinang sudah tidak memenuhi baku mutu yaitu kandungan rerata COD 40,00 mg/l dan BOD 42,63 mg/l. Kondisi ini menunjukkan bahwa kualitas air sungai Sunter tidak memenuhi baku mutu sesuai dengan SK Gubernur DKI Jakarta untuk golongan D atau peruntukan usaha perkotaan dan pertanian (BPLHD, 2009).

Berdasarkan pengamatan dan wawancara dengan masyarakat sekitar KBT tahun 2011, kualitas air kanal yang buruk dan terdapat banyak sampah ternyata penyebabnya berasal dari outlet sungai yang masuk ke kanal tersebut. Dari hasil wawancara, diperoleh bahwa jarang masyarakat yang langsung membuang sampahnya ke kanal karena jaraknya yang agak jauh dan terhalang jalur lalu lintas kendaraan, terkecuali memang ada orang yang benar-benar berniat untuk membuang sampah kesana. Maka solusi untuk perencanaan lanskapnya adalah perlu ada treatment pada setiap outlet sungai yang masuk ke kanal tersebut dan perlu dibuatnya banyak ruang pada bantaran untuk berkumpulnya orang-orang, sehingga orang akan enggan dan malu untuk membuang sampah di kanal tersebut. Selain itu perlu adanya tempat sampah pada bantaran dan upaya pelarangan membuang sampah ke sungai dan kanal.

Untuk meningkatkan kualitas air, dapat dilakukan dengan menggunakan teknologi yang dapat meminimumkan masuknya bahan pencemar ke dalam air. Misalkan dengan penataan RTH yang merupakan teknologi lingkungan (biotechnology) yang disarankan pada wilayah perkotaan untuk memperbesar jumlah ketersediaan air dalam tanah (konservasi air tanah).

4. Penduduk dan Pengguna Kawasan Potensial

(14)

Jaya, dengan kepadatan penduduk 46,082 jiwa/km2. Uraian rinci mengenai jumlah, kepadatan dan pertumbuhan penduduk per-segmen di kawasan KBT dapat dilihat pada berikut:

Tabel 9. Jumlah dan Kepadatan Penduduk

Sumber : diolah dari UDGL Dinas Tata Ruang Provinsi DKI Jakarta (2010)

Dari Tabel 9 tersebut, terlihat bahwa secara umum dari hulu ke hilir kepadatan penduduk semakin berkurang, selain itu kepadatan penduduk tertinggi ada pada segmen 1 dan 2. Sehingga tingkat kebutuhan ruang terbuka rekreatif di segmen 1 dan 2 akan lebih besar jika dibandingkan dengan segmen lainnya. Hal ini berhubungan dengan potensi pengguna tapak yang berasal dari segmen tersebut. Berdasarkan hasil kuisioner (Lampiran 4), gambaran secara umum keinginan masyarakat terhadap pemanfaatan bantaran KBT dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10. Bentuk Rekreasi yang Diinginkan Masyarakat

3 Pulo Gebang, Ujung Menteng 48.375 6,86 7.052

4 Ujung Menteng, Cakung Timur 25.268 9,81 2.576

5 Cakung Timur, Rorotan 14.209 4,43 3.207

6 Rorotan, Marunda 36.514 10,64 2.515

7 Marunda 21.106 7,92 1.720

484.248 63,91 7.577

Cipinang Besar, Cipinang Muara, Pondok Bambu, Duren Sawit

Duren Sawit, Pondok Kelapa, Malaka Sari, Malaka Jaya, Pondok Kopi, Pulo Gebang

1 2 129.880 208.896 Jumlah Penduduk (Jiwa) Luas Wilayah (Km2) Kepadatan Penduduk (Jiwa/Km2) Kelurahan Segmen Total 9,52 14,73 13.642 14.181 Aktif Pasif

1 jogging, bermain, bersepeda duduk-duduk, berkumpul, bersantai 2 jogging, bermain, bersepeda duduk-duduk, berkumpul, bersantai 3 jogging, bermain, bersepeda duduk-duduk, berkumpul, bersantai 4 jogging, bermain, bersepeda duduk-duduk, bersantai, berfoto 5 jogging, bermain, bersepeda duduk-duduk, bersantai

6 duduk-duduk, bersantai

7 duduk-duduk, bersantai

Rekreasi yang diinginkan Segmen Eksisting RTRW (+ / -) Pemukiman 76 53 -23 RTH budidaya 24 47 23 Pemukiman 80 30 -50 RTH budidaya 12 51 39

Perkantoran, Perdagangan dan Jasa 8 19 11

Pemukiman 66 23 -43

RTH budidaya 25 48 23

Perkantoran, Perdagangan dan Jasa 4 16 12

Industri dan Pergudangan 5 13 8

Pemukiman 51 43 -8

RTH budidaya 49 57 8

Pemukiman 30 33 3

RTH budidaya 32 54 22

Industri dan Pergudangan 0 13 13

Lahan kosong 38 0 -38

RTH budidaya 30 46 16

Industri dan Pergudangan 12 54 42

Lahan kosong 58 0 -58

RTH budidaya 15 32 17

Industri dan Pergudangan 30 68 38

Lahan kosong 55 0 -55

5

6

7

Jenis Penggunaan Lahan Segmen

2

3

(15)

Dari Tabel 10 tersebut dapat dilihat bahwa rekreasi aktif diinginkan masyarakat yang berada pada segmen 1 sampai dengan 5, hal ini karena segmen tersebut banyak terdapat pemukiman yang merupakan potensi pengunjung yang akan melakukan rekreasi di daerah tersebut. Sedangkan kegiatan rekreasi pasif diinginkan olah masyarakat pada semua segmen.

Gambar 20. Preferensi Akses untuk Mengunjungi Bantaran (%)

Gambar 21. Preferensi Penggunaan Pagar (%)

Gambar 20 memperlihatkan bahwa masyarakat menginginkan akses yang terbuka untuk mengunjungi bantaran (tapak) sebagai ruang terbuka rekreatif. Selain itu, Gambar 21 menunjukkan bahwa sebagian besar responden menyatakan bahwa perlu adanya penggunaan pagar untuk kepentingan keamanan. Sehingga, akses yang terbuka dan penggunaan pagar dapat diaplikasikan dan disesuaikan pada rencana tapak.

Hasil Analisis

(16)

lainnya agar kondisi bantaran yang ada dapat menjadi lebih baik. Matriks kondisi, analisis dan sintesis untuk perencanaan lanskapnya dapat terlihat pada Tabel 11.

Tabel 11. Matriks Data, Analisis dan Sintesis

Untuk mendukung pemanfaatan bantaran sebagai ruang terbuka rekreatif, maka perlu adanya peningkatan kualitas kondisi bantaran, seperti pada kondisi fisik eksisting yang ada (bagian dari rencana pengembangan untuk mengakomodasi kepentingan rekreasi), antara lain :

a. Tanah, di perkotaan sudah tak asli lagi tetapi sudah tercemar, untuk mengatasinya dalam penataan lanskap bantaran tersebut dapat berupa penambahan bahan organik untuk memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah, namun tanah yang ada masih dapat dimanfaatkan.

b. Penataan landcover diharapkan minimum perubahan, kalaupun ada yang kurang sesuai, maka akan diganti secara bertahap.

c. Topografi relatif datar, oleh karena itu tidak ada masalah erosi.

d. Kondisi iklim Kanal Banjir Timur dapat dikatakan kurang nyaman. Sehingga solusi yang dapat diterapakan untuk meningkatkan kenyamanan di kawasan tersebut adalah dengan menambah tanaman untuk menaungi dan juga sebagai upaya ameliorasi iklim.

No. Data Analisis Sintesis

1 Tata Guna Lahan

Luasan pemukiman eksisting yang ada sebagian besar sudah melebihi draft RTRW, selain itu persentase RTH budidaya pada draft RTRW direncanakan ditambah pada setiap segmennya.

2 Penutupan Lahan

Masih banyak RTH dan Ruang Terbuka non-Hijau yang dapat dikembangkan, namun belum memiliki pola yang jelas.

3 Kualitas Air

Secara umum, kualitas air di Kanal Banjir Timur sudah buruk karena banyaknya sampah yang dibawa outlet sungai yang masuk ke kanal.

4

Penduduk dan Pengguna Kawasan Potensial

Secara umum, kepadatan penduduk dari hulu ke hilir semakin berkurang. Bentuk aktivitas rekreasi yang diinginkan masyarakat berupa rekreasi aktif dan pasif.

(17)

= Zona Model Rekreasi – Pemukiman

e. Air merupakan sumberdaya yang harus dijaga dengan baik, oleh karena itu perlu ada perlindungan (buffer) di daerah pinggiran sebelum air masuk ke kanal. Pada bagian tertentu diberi tanaman, dalam hal ini tanaman hanyalah sebagai elemen pendukung rekreasi.

Sintesis

Berdasarkan kondisi Tata Guna Lahan dan Keinginan Masyarakat yang ada, maka dapat dibuat pengembangan zonasi bantaran yang dapat dilihat Tabel 12.

Tabel 12. Pengembangan Zonasi Bantaran

Keterangan :

Dari matriks Tabel 13 tersebut, maka dapat dilihat pada perencanaan lanskapnya akan didapat empat model yang berbeda untuk masing-masing penggunaan lahannya. Pengembangan bantaran didasarkan atas pemanfaatan RTH yang sudah ada dan setiap segmen yang disesuaikan dengan draft RTRW yang ada. Adapun pengembangan modelnya disesuaikan dengan bentuk penggunaan lahan yang ada disepanjang bantaran Kanal Banjir Timur tersebut dengan mengacu pada matriks pengembangan zonasi bantaran (kegiatan rekreasi aktif atau pasif). Lebar bantaran yang ingin dikembangkan yaitu antara 15-40 meter (disesuaikan dengan ketersediaan lahan di lokasi tersebut). Model pengembangan lanskap bantaran dapat terlihat pada Tabel 13. Sedangkan Rencana Blok disajikan pada Gambar 22.

= Zona Model Rekreasi – Perkantoran, Perdagangan dan Jasa = Zona Model Rekreasi – Industri dan Pergudangan

= Zona Model Rekreasi – RTH Budidaya Pemukiman

Perkantoran, Perdagangan dan Jasa Industri dan Pergudangan

RTH Budidaya

Keinginan Masyarakat Rekreasi Aktif Rekreasi Pasif

(18)
(19)

Gambar

Gambar  12  memperlihatkan  draft  Rencana  Tata  Ruang  Wilayah  DKI  Jakarta  (2011-2030)
Tabel 4. Penggunaan Lahan di Sekitar Bantaran KBT
Tabel 5. Pola RTH
Gambar 17. Kondisi Penutupan Lahan di Bantaran KBT  Sumber : Google Earth (2010)
+6

Referensi

Dokumen terkait

Boleh jadi, perhatian itu pada mulanya lahir karena adanya persamaan di antara pihak-pihak yang bersaudara, sehingga makna tersebut kemudian berkembang dan pada akhirnya

Untuk itu telah dibangun suatu unit kontrol berbasis aliran udara yang dapat mengoperasikan sistem pemanas sehingga kestabilan humidity di ruang Cave Siklotron dapat tercapai..

Kedua adiffuser yaitu casing pompa yang diam, yang mengkonversikan energy kinetik menjadi energi tekanan Energi kinetik diakibat oleh gerakan motor yang menggerakan

Dari hasil penilaian kesehatan Unit Simpan Pinjam Koperasi Pegawai Republik Indonesia (KPRI) “Sunan Kumbul” Sawoo yang disesuaikan dengan Peraturan Menteri Negara

mengetahui kecepatan perputaran obat, yaitu seberapa cepat obat dibeli, didistribu- sikan, sampai dipesan kembali, dengan demikian nilai TOR akan berpengaruh pada

Hasil Perancangan dan Pembangunan Aplikasi E-commerce Web Mobile Android pada Toko Destina adalah Program ini dibuat untuk mempermudah toko dalam mempromosikan barang,

Banyak fenomena yang menarik berkaitan dengan keluhan warga terhadap radiasi elektromagnetik yang berasal dari Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) atau Saluran Udara

Pada implementasi ini akan membahas tentang proses pengujian analisa metode Vektor Median Filtering dan Adaptive Median Filter dalam perbaikan citra digital untuk