• Tidak ada hasil yang ditemukan

Maqfirah Van Tawarniate 1, Elly susanti 1, Sofyan 1 Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Maqfirah Van Tawarniate 1, Elly susanti 1, Sofyan 1 Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PEMASARAN KENTANG DI KECAMATAN BUKIT KABUPATEN BENER MERIAH

(Analysis Of Potato Marketing In Bukit District Of Bener Meriah Regency)

Maqfirah Van Tawarniate

1Program Studi Agr

Abstrak - Pemasaran merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam kegiatan pertanian karena dengan proses pemasaran petani dapat memperoleh hasil dan keuntungan dari kegiatan pertanian yang telah dilakukan.

tingkat efisiensi saluran pemasaran kentang

kentang yang terlibat di Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah.

di Kecamatan Bukit yang menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi dan pencatatan

kentang yang terdapat di Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meria

mempunyai tingkat efisiensi yang bervariasi, yakni tinggi mencapai 45,00%, sedang yaitu 42,27% dan rendah yaitu 37,92%.

Kabupaten Bener Meriah yaitu petani, pedagang pengumpul kecamatan, pedag

desa, pedagang besar, pedagang besar luar daerah dan pedagang pengecer. Kesemuanya menjalankan fungsi pemasarannya masing

sortasi, pengemasan dan pengangkutan hingga sampai ke tangan konsumen.

Kata kunci : Pemasaran, Kentang, Efisiensi

Abstract - Marketing is one of important factors in agricultural activity because by the marketing process the farmers are capable to obtain the yields and the benefits from agricultural activity which has

level of potato marketing line and discover the function of potato marketing institution which involved in Bukit District of Bener Meriah Regency.

District by using qualitative method and the data was collected by interview, observation and recording.The result shown that the three potato channels contained in Bukit District of Bener Meriah Regency is can be vowed has a varies eficiency level, that are the high

45,00%, medium is 42,27% and low is 37,92%.

Bukit District of Bener Meriah Regency are husbandman, district collector merchant, village collector merchant, great trader, traider of outside area and

the each marketing function, that are doing selling, buying, sorting, packaging and transporting up to consumer.

Keywords: Marketing, Potato, Eficiency.

ANALISIS PEMASARAN KENTANG DI KECAMATAN BUKIT KABUPATEN BENER MERIAH

Analysis Of Potato Marketing In Bukit District Of Bener Meriah Regency)

Maqfirah Van Tawarniate1, Elly susanti1, Sofyan

Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Pemasaran merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam kegiatan pertanian karena dengan proses pemasaran petani dapat memperoleh hasil dan keuntungan dari kegiatan pertanian yang telah dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat efisiensi saluran pemasaran kentang dan mengetahui fungsi lembaga pemasaran Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Bukit yang menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data observasi dan pencatatan. Hasil menunjukkan bahwa ketiga saluran kentang yang terdapat di Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meria

mempunyai tingkat efisiensi yang bervariasi, yakni tinggi mencapai 45,00%, sedang yaitu

% dan rendah yaitu 37,92%. Lembaga pemasaran kentang di Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah yaitu petani, pedagang pengumpul kecamatan, pedag

desa, pedagang besar, pedagang besar luar daerah dan pedagang pengecer. Kesemuanya menjalankan fungsi pemasarannya masing-masing, yakni melakukan penjualan, pembelian, sortasi, pengemasan dan pengangkutan hingga sampai ke tangan konsumen.

Pemasaran, Kentang, Efisiensi.

Marketing is one of important factors in agricultural activity because by the marketing process the farmers are capable to obtain the yields and the benefits from agricultural activity which has been done. The research objective is to find out the eficiency level of potato marketing line and discover the function of potato marketing institution which involved in Bukit District of Bener Meriah Regency. This study was conducted in Bukit using qualitative method and the data was collected by interview, observation and The result shown that the three potato channels contained in Bukit District of Bener Meriah Regency is can be vowed has a varies eficiency level, that are the high

45,00%, medium is 42,27% and low is 37,92%. The marketing institute of potato marketing in Bukit District of Bener Meriah Regency are husbandman, district collector merchant, village collector merchant, great trader, traider of outside area and retailer. These entire are running the each marketing function, that are doing selling, buying, sorting, packaging and transporting up to consumer.

Marketing, Potato, Eficiency.

ANALISIS PEMASARAN KENTANG DI KECAMATAN

Analysis Of Potato Marketing In Bukit District Of Bener Meriah Regency)

Sofyan1*

, Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Pemasaran merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam kegiatan pertanian karena dengan proses pemasaran petani dapat memperoleh hasil dan keuntungan Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui fungsi lembaga pemasaran Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Bukit yang menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data Hasil menunjukkan bahwa ketiga saluran kentang yang terdapat di Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah dapat dinyatakan mempunyai tingkat efisiensi yang bervariasi, yakni tinggi mencapai 45,00%, sedang yaitu Lembaga pemasaran kentang di Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah yaitu petani, pedagang pengumpul kecamatan, pedagang pengumpul desa, pedagang besar, pedagang besar luar daerah dan pedagang pengecer. Kesemuanya masing, yakni melakukan penjualan, pembelian, sortasi, pengemasan dan pengangkutan hingga sampai ke tangan konsumen.

Marketing is one of important factors in agricultural activity because by the marketing process the farmers are capable to obtain the yields and the benefits from The research objective is to find out the eficiency level of potato marketing line and discover the function of potato marketing institution which This study was conducted in Bukit using qualitative method and the data was collected by interview, observation and The result shown that the three potato channels contained in Bukit District of Bener Meriah Regency is can be vowed has a varies eficiency level, that are the high is reaching The marketing institute of potato marketing in Bukit District of Bener Meriah Regency are husbandman, district collector merchant, village retailer. These entire are running the each marketing function, that are doing selling, buying, sorting, packaging and

(2)

Kentang (Solanum t

Indonesia. Budidaya tanaman kentang layak diproritaskan karena selain memiliki nilai ekonomi tinggi kentang juga dapat dijadikan sebagai bahan pangan alternatif dan bahan baku industri makanan (Astawan, 2009).

Salah satu wilayah penghasil kentang di Provinsi Aceh adalah Kabupaten Bener Meriah.

Sentral produksi tanaman kentang yang utama di Bener Meriah berada di kawasan Kecamatan Bukit. Kesesuaian kondisi alam pegunungan Kecamatan Bukit dengan syarat tumbuh tanaman kentang menyebabkan banyak petani di daerah tersebut yang membudidayakan kentang.

Konsep pemasaran adalah falsafah manajemen dalam bidang pemasaran yang berorientasi kepada kebutuhan dan keinginan konsumen dengan didukung oleh bagian

lain secara terpadu sehingga dapat memproduksi dan menjual barang yang memberikan kepuasan kepada konsumen. (Simanjuntak, 2005).

Permasalahan yang terjadi dalam pemasaran kentang berdampak pada keuntungan yang diperoleh petani maupun lembaga pemasaran. P

sehingga dapat memberikan keuntungan yang adil kepada petani kentang maupun lembaga pemasaran. Untuk mengetahui efisien tidaknya suatu saluran pemasaran digunakan indi nilai persentase marjin pemasaran

Adapun kelembagaan pemasaran yang berperan dalam memasarkan komoditas pertanian holtikultura dapat mencakup petani, pedagang pengumpul, pedagang perantara dan pedagang pengecer (Kuma’at, 1992).

Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah ini adalah petani ketang di Kecamatan Bukit

saluran pemasaran dan fungsi lembaga

kentang. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh petani

desa, pedagang pengumpul kecamatan, pedagang pengecer, pedagang besar dan pedagang besar luar daerah serta konsumen

Pengambilan petani kenta

pengambilan sampel secara sengaja dari populasi yang memenuhi kriteria sebagai sampel.

Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah terdiri dari 30 desa. Dalam penelitian ini dipilih hanya sebanyak 3 desa mewakili desa

Teritit. total populasi petani kentang dari Desa Reje Guru, Desa Delung Tue dan Desa Uning Teritit Kecamatan Bukit sebanyak 600 orang. Pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah 10% dari total populasi petani kentang yaitu sebanyak 60 orang petani di Kecamatan Bukit Penelitian ini bertujuan untuk m

Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah pemasaran kentang yang terlibat di

PENDAHULUAN

Kentang (Solanum tuberosum L) tanaman holtikultura yang dibudidayakan di . Budidaya tanaman kentang layak diproritaskan karena selain memiliki nilai ekonomi tinggi kentang juga dapat dijadikan sebagai bahan pangan alternatif dan bahan baku industri makanan (Astawan, 2009).

wilayah penghasil kentang di Provinsi Aceh adalah Kabupaten Bener Meriah.

Sentral produksi tanaman kentang yang utama di Bener Meriah berada di kawasan Kecamatan Bukit. Kesesuaian kondisi alam pegunungan Kecamatan Bukit dengan syarat tumbuh tanaman

menyebabkan banyak petani di daerah tersebut yang membudidayakan kentang.

Konsep pemasaran adalah falsafah manajemen dalam bidang pemasaran yang berorientasi kepada kebutuhan dan keinginan konsumen dengan didukung oleh bagian

erpadu sehingga dapat memproduksi dan menjual barang yang memberikan kepuasan kepada konsumen. (Simanjuntak, 2005).

Permasalahan yang terjadi dalam pemasaran kentang berdampak pada keuntungan yang etani maupun lembaga pemasaran. Pemasaran yang diterapkan harus efisien, sehingga dapat memberikan keuntungan yang adil kepada petani kentang maupun lembaga

Untuk mengetahui efisien tidaknya suatu saluran pemasaran digunakan indi nilai persentase marjin pemasaran (Fatimah, 2011).

Adapun kelembagaan pemasaran yang berperan dalam memasarkan komoditas pertanian holtikultura dapat mencakup petani, pedagang pengumpul, pedagang perantara dan pedagang pengecer (Kuma’at, 1992).

METODE PENELITIAN

ini dilakukan di Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah petani ketang di Kecamatan Bukit. Adapun ruang lingkup penelitian

saluran pemasaran dan fungsi lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat dalam distribusi Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh petani kentang,

desa, pedagang pengumpul kecamatan, pedagang pengecer, pedagang besar dan pedagang besar luar daerah serta konsumen di Kecamatan Bukit.

Pengambilan petani kentang sebagai sampel dilakukan secara purposive sampling pengambilan sampel secara sengaja dari populasi yang memenuhi kriteria sebagai sampel.

Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah terdiri dari 30 desa. Dalam penelitian ini dipilih desa mewakili desa-desa lainnya, yaitu Reje Guru, Delung Tue dan Uning total populasi petani kentang dari Desa Reje Guru, Desa Delung Tue dan Desa Uning Teritit Kecamatan Bukit sebanyak 600 orang. Pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah

% dari total populasi petani kentang yaitu sebanyak 60 orang petani di Kecamatan Bukit ntuk mengetahui tingkat efisiensi saluran pemasaran kentang di Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah dan mengetahui fungsi

pemasaran kentang yang terlibat di Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah.

yang dibudidayakan di . Budidaya tanaman kentang layak diproritaskan karena selain memiliki nilai ekonomi tinggi kentang juga dapat dijadikan sebagai bahan pangan alternatif dan bahan baku wilayah penghasil kentang di Provinsi Aceh adalah Kabupaten Bener Meriah.

Sentral produksi tanaman kentang yang utama di Bener Meriah berada di kawasan Kecamatan Bukit. Kesesuaian kondisi alam pegunungan Kecamatan Bukit dengan syarat tumbuh tanaman

menyebabkan banyak petani di daerah tersebut yang membudidayakan kentang.

Konsep pemasaran adalah falsafah manajemen dalam bidang pemasaran yang berorientasi kepada kebutuhan dan keinginan konsumen dengan didukung oleh bagian-bagian erpadu sehingga dapat memproduksi dan menjual barang yang memberikan Permasalahan yang terjadi dalam pemasaran kentang berdampak pada keuntungan yang an yang diterapkan harus efisien, sehingga dapat memberikan keuntungan yang adil kepada petani kentang maupun lembaga Untuk mengetahui efisien tidaknya suatu saluran pemasaran digunakan indikator Adapun kelembagaan pemasaran yang berperan dalam memasarkan komoditas pertanian holtikultura dapat mencakup petani, pedagang pengumpul, pedagang perantara dan

ini dilakukan di Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah. Objek penelitian . Adapun ruang lingkup penelitian yaitu efisiensi lembaga pemasaran yang terlibat dalam distribusi , pedagang pengumpul desa, pedagang pengumpul kecamatan, pedagang pengecer, pedagang besar dan pedagang purposive sampling, yaitu pengambilan sampel secara sengaja dari populasi yang memenuhi kriteria sebagai sampel.

Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah terdiri dari 30 desa. Dalam penelitian ini dipilih desa lainnya, yaitu Reje Guru, Delung Tue dan Uning total populasi petani kentang dari Desa Reje Guru, Desa Delung Tue dan Desa Uning Teritit Kecamatan Bukit sebanyak 600 orang. Pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah

% dari total populasi petani kentang yaitu sebanyak 60 orang petani di Kecamatan Bukit.

tingkat efisiensi saluran pemasaran kentang di fungsi lembaga-lembaga Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah.

(3)

Menentukan Margin Pemasaran

Menurut Daniel (2002)

di tingkat konsumen dengan harga kentang di tingkat petani dan Kilogram (Rp/Kg).

Dimana:

Mp = Marjin pemasaran kentang

Pr = Harga kentang di tingkat konsumen Pf = Harga kentang di tingkat petani Menentukan Efisiensi Pemasaran

Untuk menguji hipotesis tentang

pemasaran dan analisis margin pemasaran (Soekartawi,

Dimana:

EP = Efisiensi Pemasaran BP = Biaya Pemasaran

NP = Nilai Produk Yang Dipasarkan Kriteria pengambilan keputusan :

- EP sebesar 0-50% maka saluran pemasaran efisien

- EP lebih besar dari 50% maka saluran pemasaran kurang efisien.

Karakteristik Petani Kentang

Karakteristik petani dalam penelitian ini meliputi umur, usahatani kentang dan luas lahan garapan.

Umur

No. Kelompok Umur (Tahun) 1

2 3

25-40 41-50

> 51

Total

Sumber : Data Primer 2016 (diolah)

Petani yang mengelola usahatani kentang

usia 25 sampai dengan 40 tahun atau sebesar 50%. Kemudian terdapat 23 orang yang berada pada kisaran usia antara 41sampai dengan 50 tahun atau sebesar 38%. Selebihnya terdap orang petani yang berusia di atas 51 tahun atau sebesar 12%. Hal ini menunjukan bahwa Menentukan Margin Pemasaran

Menurut Daniel (2002) Margin pemasaran diukur dengan membandingkan ha dengan harga kentang di tingkat petani dan dinyatakan da

Mp = Pr –Pf Marjin pemasaran kentang

Harga kentang di tingkat konsumen Harga kentang di tingkat petani

Efisiensi Pemasaran

Untuk menguji hipotesis tentang efisiensi pemasaran digunakan analisis efisiensi pemasaran dan analisis margin pemasaran (Soekartawi, 2002).

% 100 NP x EPBP

EP = Efisiensi Pemasaran BP = Biaya Pemasaran

NP = Nilai Produk Yang Dipasarkan Kriteria pengambilan keputusan :

50% maka saluran pemasaran efisien

EP lebih besar dari 50% maka saluran pemasaran kurang efisien.

HASILDAN PEMBAHASAN Karakteristik Petani Kentang.

Karakteristik petani dalam penelitian ini meliputi umur, tingkat pendidikan, pengalaman usahatani kentang dan luas lahan garapan.

Kelompok Umur Jumlah

(Tahun) Orang

30 23 7 60 2016 (diolah)

Petani yang mengelola usahatani kentang sebanyak 30 orang yang berada pada rentang usia 25 sampai dengan 40 tahun atau sebesar 50%. Kemudian terdapat 23 orang yang berada pada kisaran usia antara 41sampai dengan 50 tahun atau sebesar 38%. Selebihnya terdap orang petani yang berusia di atas 51 tahun atau sebesar 12%. Hal ini menunjukan bahwa

Margin pemasaran diukur dengan membandingkan harga kentang dinyatakan dalam Rupiah per

efisiensi pemasaran digunakan analisis efisiensi

EP lebih besar dari 50% maka saluran pemasaran kurang efisien.

tingkat pendidikan, pengalaman

Persentase 50%

38%

12%

100%

30 orang yang berada pada rentang usia 25 sampai dengan 40 tahun atau sebesar 50%. Kemudian terdapat 23 orang yang berada pada kisaran usia antara 41sampai dengan 50 tahun atau sebesar 38%. Selebihnya terdapat 7 orang petani yang berusia di atas 51 tahun atau sebesar 12%. Hal ini menunjukan bahwa

(4)

petani kentang yang berada pada usia produktif lebih dominan dibandingkan petani yang non produktif.

Tingkat Pendidikan

No. Pendidikan

1 2 3 4 5

SD SMP SMA D3 S1

Total

Sumber : Data Primer 2016 (diolah)

Hasil penelitian menunjukan bahwa mayoritas responden petani kentang mengenyam pendidikan SMP dan SD, masing

Selebihnya terdapat 6 orang petani atau 10% yang berpendidikan SMA, 3 orang petani atau 5% berpendidikan D3 dan 6 orang petani berpendidikan S1 (sarjana) atau 10%.

Pengalaman Usahatani Kentang

No. Lama Usaha

1 2 3 4

< 3 tahun 4-10 tahun 11-20 tahun

> 21 tahun

Sumber: Data Primer 2016 (diolah)

Pengalaman usahatani kentang yang paling lama dilakukan oleh 30 orang petani

dengan durasi waktu berkisar antara 11 hingga 20 tahun. Selanjutnya terdapat 14 orang petani atau 23% dengan kisaran waktu pengalaman usahatani antara 4 sampai 10 tahun. Kemudian sebanyak 10 orang petani atau 17% dengan lama usahatani di atas 21 t

orang petani atau 10% dengan pengalaman usahatani di bawah 3 tahun.

Luas Lahan Garapan No. Kategori (Ha)

1 2 3

Luas ( > 3) Sedang (1 – 2,75) Sempit ( < 0,5)

Total

Sumber : Data Primer 2016 (diolah)

luas lahan garapan responden didominasi oleh petani yang memiliki luas lahan garapan 3 hektar ke atas yaitu sebanyak 55 orang atau 92%. Selebihnya terdapat petani yang mempunyai luas lahan garapan 1 hektar lebih yaitu s

petani kentang yang berada pada usia produktif lebih dominan dibandingkan petani yang non

Pendidikan Jumlah

Orang 21 24 6 3 6 60 rimer 2016 (diolah)

Hasil penelitian menunjukan bahwa mayoritas responden petani kentang mengenyam pendidikan SMP dan SD, masing-masing sebanyak 24 orang (40%) dan 21 orang (35%).

Selebihnya terdapat 6 orang petani atau 10% yang berpendidikan SMA, 3 orang petani atau 5% berpendidikan D3 dan 6 orang petani berpendidikan S1 (sarjana) atau 10%.

Pengalaman Usahatani Kentang

Lama Usaha (Tahun) Jumlah

Orang 6 14 30 10 60 Data Primer 2016 (diolah)

Pengalaman usahatani kentang yang paling lama dilakukan oleh 30 orang petani

dengan durasi waktu berkisar antara 11 hingga 20 tahun. Selanjutnya terdapat 14 orang petani atau 23% dengan kisaran waktu pengalaman usahatani antara 4 sampai 10 tahun. Kemudian sebanyak 10 orang petani atau 17% dengan lama usahatani di atas 21 t

orang petani atau 10% dengan pengalaman usahatani di bawah 3 tahun.

Kategori (Ha) Jumlah

Orang 55

5 0 60 Data Primer 2016 (diolah)

luas lahan garapan responden didominasi oleh petani yang memiliki luas lahan garapan 3 hektar ke atas yaitu sebanyak 55 orang atau 92%. Selebihnya terdapat petani yang mempunyai luas lahan garapan 1 hektar lebih yaitu sebanyak 5 orang atau 8%.

petani kentang yang berada pada usia produktif lebih dominan dibandingkan petani yang non

Persentase 35%

40%

10%

5%

10%

100%

Hasil penelitian menunjukan bahwa mayoritas responden petani kentang mengenyam sebanyak 24 orang (40%) dan 21 orang (35%).

Selebihnya terdapat 6 orang petani atau 10% yang berpendidikan SMA, 3 orang petani atau 5% berpendidikan D3 dan 6 orang petani berpendidikan S1 (sarjana) atau 10%.

Jumlah

Persentase 10%

23%

50%

17%

100%

Pengalaman usahatani kentang yang paling lama dilakukan oleh 30 orang petani atau 50%

dengan durasi waktu berkisar antara 11 hingga 20 tahun. Selanjutnya terdapat 14 orang petani atau 23% dengan kisaran waktu pengalaman usahatani antara 4 sampai 10 tahun. Kemudian sebanyak 10 orang petani atau 17% dengan lama usahatani di atas 21 tahun atau 17% dan 6

Persentase 92%

8%

0 100%

luas lahan garapan responden didominasi oleh petani yang memiliki luas lahan garapan 3 hektar ke atas yaitu sebanyak 55 orang atau 92%. Selebihnya terdapat petani yang

ebanyak 5 orang atau 8%.

(5)

Pendapatan Usahatani Kentang No. Kategori (Ha)

1 2 3

Luas ( > 3) Sedang (1 – 2,5) Sempit ( < 0,5)

Total

Sumber : Data Primer 2016 (diolah)

Pendapatan usahatani kentang berdasarkan waktu panen dan luas lahan garapan di Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah

garapan 3 hektar ke atas yaitu sebanyak 55 orang

55.000.000. Selebihnya terdapat petani yang mempunyai luas lahan garapan 1 hektar lebih yaitu sebanyak 5 orang dengan pendapatan sebesar Rp. 10.000.000.

Karakteristik Pedagang Pada Lembaga Pemasaran Kentang

Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah mempunyai beberapa lembaga pemasaran yang memasarkan kentang meliputi pedagang pengumpul desa, pedagang pengumpul kecamatan dan pedagang pengecer.

Pedagang Pengumpul Desa

Dari total 18 orang jumlah pedagang

rentang umur 25-40 tahun yaitu sebanyak 8 orang atau 44%. Usia demikian tergolong dalam umur produktif dalam bekerja. Adapun untuk tingkat pendidikan pedagang pengumpul desa yang paling dominan adalah SMP yaitu s

Sedangkan mengenai pengalaman usaha sebagai pedagang pengumpul desa yang paling lama waktunya berada di rentang waktu 5

Pedagang Pengumpul Kecamatan Pedagang pengumpul

umur 41-50 tahun, yakni sebanyak 8 orang atau 58%. Sedangkan jenjang pendidikan pedagang pengumpul kecamatan yang paling banyak yaitu pada tingkat SMA sebanyak 7 orang atau 50%. Kemudian dalam hal pengala

kecamatan yang paling dominan adalah pada kisaran waktu 11 orang atau 50%.

Pedagang Pengecer

Dari total jumlah 12 orang pedagang pengecer kentang, umur yang paling mendominasi berada di antara rentang 41

pendidikan sebagian besar pedagang pengecer adalah tamatan SMA sebanyak 8 orang atau 66%. Sedangkan untuk pengalaman usaha pedagang pengecer berada di antara 5

sebanyak 6 orang atau 50% dan antara 11 Pendapatan Usahatani Kentang

Kategori (Ha) Jumlah Pendapatan Sekali Panen Orang Pendapatan Rata 2,5)

55 5 0

55.000.000 10.000.000

0

60 100%

Primer 2016 (diolah)

endapatan usahatani kentang berdasarkan waktu panen dan luas lahan garapan di Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah didominasi oleh petani yang memiliki luas lahan garapan 3 hektar ke atas yaitu sebanyak 55 orang dengan pendapatan tertinggi sebesar Rp.

Selebihnya terdapat petani yang mempunyai luas lahan garapan 1 hektar lebih dengan pendapatan sebesar Rp. 10.000.000.

Karakteristik Pedagang Pada Lembaga Pemasaran Kentang

an Bukit Kabupaten Bener Meriah mempunyai beberapa lembaga pemasaran yang memasarkan kentang meliputi pedagang pengumpul desa, pedagang pengumpul kecamatan dan pedagang pengecer.

Pedagang Pengumpul Desa

ari total 18 orang jumlah pedagang pengumpul desa yang paling banyak berada di 40 tahun yaitu sebanyak 8 orang atau 44%. Usia demikian tergolong dalam umur produktif dalam bekerja. Adapun untuk tingkat pendidikan pedagang pengumpul desa yang paling dominan adalah SMP yaitu sebanyak 7 orang atau 39%.

Sedangkan mengenai pengalaman usaha sebagai pedagang pengumpul desa yang paling lama waktunya berada di rentang waktu 5-10 tahun yakni sebanyak 7 orang atau 39%.

Pedagang Pengumpul Kecamatan

edagang pengumpul kecamatan berjumlah 14 orang, paling dominan berada di rentang 50 tahun, yakni sebanyak 8 orang atau 58%. Sedangkan jenjang pendidikan pedagang pengumpul kecamatan yang paling banyak yaitu pada tingkat SMA sebanyak 7 orang atau 50%. Kemudian dalam hal pengalaman usaha sebagai pedagang pengumpul kecamatan yang paling dominan adalah pada kisaran waktu 11-20 tahun yakni sebanyak 7

ari total jumlah 12 orang pedagang pengecer kentang, umur yang paling mendominasi di antara rentang 41-50 tahun yaitu sebanyak 9 orang atau 75%. Adapun tingkat pendidikan sebagian besar pedagang pengecer adalah tamatan SMA sebanyak 8 orang atau 66%. Sedangkan untuk pengalaman usaha pedagang pengecer berada di antara 5

6 orang atau 50% dan antara 11-20 tahun sebanyak 6 orang atau 50%.

Jumlah Pendapatan Sekali Panen Pendapatan Rata-Rata

55.000.000 10.000.000

100%

endapatan usahatani kentang berdasarkan waktu panen dan luas lahan garapan di didominasi oleh petani yang memiliki luas lahan apatan tertinggi sebesar Rp.

Selebihnya terdapat petani yang mempunyai luas lahan garapan 1 hektar lebih

an Bukit Kabupaten Bener Meriah mempunyai beberapa lembaga pemasaran yang memasarkan kentang meliputi pedagang pengumpul desa, pedagang pengumpul

pengumpul desa yang paling banyak berada di 40 tahun yaitu sebanyak 8 orang atau 44%. Usia demikian tergolong dalam umur produktif dalam bekerja. Adapun untuk tingkat pendidikan pedagang ebanyak 7 orang atau 39%.

Sedangkan mengenai pengalaman usaha sebagai pedagang pengumpul desa yang paling 10 tahun yakni sebanyak 7 orang atau 39%.

, paling dominan berada di rentang 50 tahun, yakni sebanyak 8 orang atau 58%. Sedangkan jenjang pendidikan pedagang pengumpul kecamatan yang paling banyak yaitu pada tingkat SMA sebanyak 7 man usaha sebagai pedagang pengumpul 20 tahun yakni sebanyak 7

ari total jumlah 12 orang pedagang pengecer kentang, umur yang paling mendominasi 50 tahun yaitu sebanyak 9 orang atau 75%. Adapun tingkat pendidikan sebagian besar pedagang pengecer adalah tamatan SMA sebanyak 8 orang atau 66%. Sedangkan untuk pengalaman usaha pedagang pengecer berada di antara 5-10 tahun

20 tahun sebanyak 6 orang atau 50%.

(6)

Saluran Pemasaran Kentang

3 45%

2 60%

Pola Saluran Pemasaran Kentang di Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah

Berdasarkan skema di atas, maka pemasaran kentang di Kecamatan Bukit terdapat tiga pola saluran pemasaran, yaitu:

a. Pola saluran pemasaran I adalah

pengumpul desa sebesar 55%, selanjutnya didistribusikan ke

daerah sebesar 40%, lalu ke pengecer sebesar 100% dan ke konsumen sebesar 100%.

b. Pola saluran pemasaran II

pengumpul desa sebesar 55%, kemudian

dengan distribusi produk sebesar 100% lalu ke sebesar 100%.

c. Pola saluran pemasaran I

dengan distribusi produk sebesar 45%, kemudian ke konsumen sebesar 100%.

Tingkat Efisiensi Pemasaran Kentang di Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah Untuk mengetahui tingkat

Bener Meriah, maka terlebih dahulu harus diketahui tentang jumlah rata keuntungan dan marjin pemasaran kentang pada tiap

III.

Saluran Pemasaran Kentang

55%

2

100%

100%

100%

Pemasaran Kentang di Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah

Berdasarkan skema di atas, maka pemasaran kentang di Kecamatan Bukit terdapat tiga pola saluran pemasaran, yaitu:

Pola saluran pemasaran I adalah petani mendistribusikan produknya kepad sebesar 55%, selanjutnya didistribusikan ke

daerah sebesar 40%, lalu ke pengecer sebesar 100% dan ke konsumen sebesar 100%.

Pola saluran pemasaran II yaitu petani menjual produk kentangnya kepada sebesar 55%, kemudian ke pedagang besar sebesar 60%, ke

dengan distribusi produk sebesar 100% lalu ke konsumen dengan distribusi produk Pola saluran pemasaran III yaitu petani menjual ke pedagang pengumpul kecamatan distribusi produk sebesar 45%, kemudian ke pengecer sebesar 100% dan ke konsumen sebesar 100%.

Tingkat Efisiensi Pemasaran Kentang di Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah tingkat efisiensi pemasaran kentang di Kecamatan Bukit Kabupate Bener Meriah, maka terlebih dahulu harus diketahui tentang jumlah rata

keuntungan dan marjin pemasaran kentang pada tiap-tiap saluran, baik saluran I, II maupun Petani

Pedagang Pengumpul Desa

Pedagang Pengumpul Kecamatan

Pedagang Besar

Pedagang Besar Luar Daerah

Pengecer

Konsumen

1 40%

100%

100%

Pemasaran Kentang di Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah

Berdasarkan skema di atas, maka pemasaran kentang di Kecamatan Bukit terdapat tiga mendistribusikan produknya kepada pedagang pedagang besar luar daerah sebesar 40%, lalu ke pengecer sebesar 100% dan ke konsumen sebesar 100%.

menjual produk kentangnya kepada pedagang sebesar 60%, ke pengecer dengan distribusi produk pedagang pengumpul kecamatan pengecer sebesar 100% dan ke

Tingkat Efisiensi Pemasaran Kentang di Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah.

Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah, maka terlebih dahulu harus diketahui tentang jumlah rata-rata biaya, tiap saluran, baik saluran I, II maupun

(7)

Untuk mengukur efisiensi pemasaran yaitu apabila semakin rendah maka semakin tinggi bagian yang diterima petani (

share tersebut berbanding terbalik (berhubungan secara negatif) dengan nilai marjin pemasaran. Adapun nilai farmer's share

dapat dikatakan bahwa saluran pemasaran I mempunyai tingkat efisiensi yang paling tinggi pada saluran pemasaran II yaitu

II mempunyai tingkat efisiens

sehingga dapat dikatakan bahwa saluran pemasaran III Fungsi Lembaga-Lembaga Pemasaran Kentang

No. Lembaga Pemasaran 1. Produsen/Petani 2. Pedagang Pengumpul

Kecamatan

3. Pedagang Pengumpul Desa

4. Pedagang Pengecer

Sumber : Data Primer 2016 (diolah)

Ketiga saluran kentang yang terdapat di Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah dapat dinyatakan mempunyai tingkat efisiensi yang bervariasi, yakni tinggi mencapai 45 sedang yaitu 42,27% dan rendah yaitu 37,92%.

Lembaga pemasaran kentang di Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah yaitu petani, pedagang pengumpul kecamatan, pedagang pengumpul desa, pedagang besar, pedagang besar luar daerah dan pedagang pengecer.

masing, yakni melakukan penjualan, pembelian, sortasi, pengemasan dan pengangkutan hingga sampai ke tangan konsumen.

Astawan, M. 2009. Sehat dalam Hidangan Kacang dan Biji Daniel, M. 2002. Pengantar Ekonomi Pertanian

Untuk mengukur efisiensi pemasaran yaitu apabila semakin rendah

bagian yang diterima petani (farmer's share). Karena nilai

tersebut berbanding terbalik (berhubungan secara negatif) dengan nilai marjin farmer's share pada saluran pemasaran I yaitu

dapat dikatakan bahwa saluran pemasaran I mempunyai tingkat efisiensi yang paling tinggi pada saluran pemasaran II yaitu 42,27%, sehingga dapat dikatakan bahwa saluran pemasaran II mempunyai tingkat efisiensi yang sedang, Pada saluran pemasaran III yaitu

sehingga dapat dikatakan bahwa saluran pemasaran III mempunyai tingkat efisiensi terendah Lembaga Pemasaran Kentang

Lembaga Pemasaran Tugas dan Fungsi Lembaga Pemasaran Produsen/Petani - Melakukan fungsi pengangkutan

- Melakukan fungsi penjualan Pedagang Pengumpul - Melakukan fungsi pengangkutan

- Melakukan fungsi sortasi dan grading - Melakukan fungsi pengemasan - Melakukan fungsi penjualan Pedagang Pengumpul - Melakukan fungsi pengangkutan

- Melakukan fungsi sortasi dan grading - Melakukan fungsi pengemasan - Melakukan fungsi penjualan Pedagang Pengecer - Melakukan fungsi pengangkutan

- Melakukan fungsi pengemasan - Melakukan fungsi penjualan Sumber : Data Primer 2016 (diolah)

KESIMPULAN DAN SARAN

Ketiga saluran kentang yang terdapat di Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah dapat dinyatakan mempunyai tingkat efisiensi yang bervariasi, yakni tinggi mencapai 45

% dan rendah yaitu 37,92%.

Lembaga pemasaran kentang di Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah yaitu petani, pedagang pengumpul kecamatan, pedagang pengumpul desa, pedagang besar, pedagang besar luar daerah dan pedagang pengecer. Kesemuanya menjalankan fungsi pemasarannya masing masing, yakni melakukan penjualan, pembelian, sortasi, pengemasan dan pengangkutan hingga sampai ke tangan konsumen.

DAFTAR PUSTAKA

. Sehat dalam Hidangan Kacang dan Biji-bijian. Penebar Pengantar Ekonomi Pertanian. Penerbit Bumi Aksara. Jakarta.

Untuk mengukur efisiensi pemasaran yaitu apabila semakin rendah marjin pemasaran, ). Karena nilai farmer’s tersebut berbanding terbalik (berhubungan secara negatif) dengan nilai marjin pada saluran pemasaran I yaitu 45,00% sehingga dapat dikatakan bahwa saluran pemasaran I mempunyai tingkat efisiensi yang paling tinggi, sehingga dapat dikatakan bahwa saluran pemasaran ada saluran pemasaran III yaitu 37,92%, mempunyai tingkat efisiensi terendah.

Tugas dan Fungsi Lembaga Pemasaran Melakukan fungsi pengangkutan

Melakukan fungsi pengangkutan Melakukan fungsi sortasi dan grading

Melakukan fungsi pengangkutan Melakukan fungsi sortasi dan grading

Melakukan fungsi pengangkutan

Ketiga saluran kentang yang terdapat di Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah dapat dinyatakan mempunyai tingkat efisiensi yang bervariasi, yakni tinggi mencapai 45,00%, Lembaga pemasaran kentang di Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah yaitu petani, pedagang pengumpul kecamatan, pedagang pengumpul desa, pedagang besar, pedagang besar Kesemuanya menjalankan fungsi pemasarannya masing- masing, yakni melakukan penjualan, pembelian, sortasi, pengemasan dan pengangkutan

. Penebar Swadaya. Jakarta.

. Penerbit Bumi Aksara. Jakarta.

(8)

Fatimah, Siti Nurlita. 2011.

Kabupaten Wonosobo

Kuma’at, R. 1992. Sistem Pemasaran Sayuran Dataran Tinggi Sulawesi Utara FPS IPB. Jakarta.

Simanjuntak, Payaman J. 2005.

Jakarta.

Soekartawi. 2002. Prinsip Ekonomi Pertan

Fatimah, Siti Nurlita. 2011. Analisis Pemasaran Kentang (Solanum Tuberosum L) di Kabupaten Wonosobo. Skripsi Fakultas Pertanian Sebelas Maret. Surakarta.

Sistem Pemasaran Sayuran Dataran Tinggi Sulawesi Utara

Simanjuntak, Payaman J. 2005. Manajamen dan Evaluasi Kerja. Lembaga Penerbit FEUI.

Prinsip Ekonomi Pertanian. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Analisis Pemasaran Kentang (Solanum Tuberosum L) di Maret. Surakarta.

Sistem Pemasaran Sayuran Dataran Tinggi Sulawesi Utara. Thesis MS.

. Lembaga Penerbit FEUI.

. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian pada tahun pertama ini dapat disimpulkan bahwa penambahan glutathione 1.5 mM pada medium maturation oocytes kerbau secara in vitro

Sebagai langkah awal, pemerintah dengan didukung Bank Dunia (dukungan untuk yang kedua kalinya) akan lebih menyebarluaskan program pendidikan dan pengembangan anak

Jadi, jika komitmen suatu daerah terhadap sektor pendidikan dilihat dari persentase pengeluaran sektor pendidikan (bukan nilai absolutnya), maka terlihat bahwa tidak

DEFINISI 33 : garis tinggi pada suatu segitiga adalah suatu segmen yang ditarik dari sembarang verteks ( titik sudut ), tegak lurus terhadap sisi dihadapannya (dapat

Hasil pengujian sensor suhu dan tekanan dengan keluaran data ketinggian menunjukkan bahwa dalam uji statis terhadap titik referensi geodetik didapatkan nilai nilai

Kontrol Group Design dengan menggunakan desain pre-post test dalam dua kelompok. Populasi penelitian adalah semua pasien post SC di RSUD Dr. Moewardi dan sampel penelitian adalah

Berdasarkan uji Anova didapatkan hasil bahwa perbedaan perlakuan yang diberikan dalam pembuatan lulur tidak berpengaruh nyata terhadap penilaian panelis pada