• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA

PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Rahmawati

Pendidikan Profesi Guru, IAIN Palangka Raya Email : [email protected]

ABSTRAK

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya hasil belajar siswa pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Penerapan model pembelajaran Problem Based Learning menjadi salah satu alternatif solusi yang dapat diupayakan untuk meningkatkan hasil belajar. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab rumusan masalah bagaimana penerapan model Problem Based Learning dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan apakah penerapan model Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMK Negeri 4 Banjarmasin. Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan dalam 2 siklus. Subjek penelitian adalah siswa kelas XII BUSANA 1 SMK Negeri 4 Banjarmasin berjumlah 15 orang. Sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan tes, observasi, wawancara dan dokumentasi.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar siswa pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam meningkat dan mencapai indikator keberhasilan, yakni Pada siklus 1 mengalami peningkatan 20 % jika dibandingkan dengan tahap pra siklus dengan nilai rata-rata 70,67 dengan persentase ketuntasan hasil belajar secara klasikal 53,33 %. Kemudian pada siklus 2 mengalami peningkatan 33,34 % yakni menjadi nilai rata-rata 89,33 dengan persentase ketuntasan hasil belajar secara klasikal 86,67 %.

Kata Kunci : Problem Based Learning, Hasil Belajar, Pembelajaran Pendidikan Agama Islam.

PENDAHULUAN

Kurikulum 2013 yang diimplementasikan sekarang ini mengarahkan peserta didik untuk menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi, kemudian mengecek informasi baru dengan yang sudah ada dalam ingatannya, sehingga menjadi sebuah pengetahuan yang dapat melekat dalam memori

(2)

ingatannya. Kurikulum 2013 menganut pandangan dasar bahwa pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari guru ke peserta didik, karena peserta didik adalah subjek yang memiliki kemampuan untuk secara aktif mencari, mengolah, mengkonstruksi, dan menggunakan pengetahuan. Oleh karena itu, maka pembelajaran harus memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengkonstruksi pengetahuan dalam proses kognitifnya.

Problem Based Learning merupakan model pembelajaran dengan menghadapkan peserta didik pada permasalahan-permasalahan praktis sebagai pijakan dalam belajar atau kata lain peserta didik belajar melalui permasalahan- permasalahan selanjutnya dicari solusi untuk menyelesaikannya (Made Wena, 2009: 91)

Problem Based Learning merupakan suatu model pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu dasar bagi peserta didik untuk belajar berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah serta memperoleh pengetahuan dan konsep esensial dari materi pelajaran (Karmana et al., 2020)

Pengertian tersebut mengandung arti bahwa penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dapat membantu peserta didik untuk belajar menggunakan konsep apa yang mereka pahami dan mengumpulkan informasi sebanyak- banyaknya. Dalam PBL juga dibutuhkan kerjasama yang kuat antar peserta didik. Mereka akan bekerjasama dalam mengumpulkan informasi dan menemukan hipotesis permasalahan untuk kemudian secara bersama-sama saling menukar informasi untuk mencari jalan keluar dari sebuah permasalahan yang sedang dianalisis.

Guru agama Islam memiliki peran yang merencanakan program pengajaran dan melaksanakan program yang tersusun serta diakhiri dengan penilaian. Dan selain itu, guru juga sebagai pendidik, yang tidak hanya berperan sebagai pengajar yang transfer of knowledge, tetapi juga pendidik yang transfer of values (Annur, 2008 : 99).

Hasil belajar adalah perubahan yang terjadi pada diri peserta didik, baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif dan psikomotorik sebagai hasil dari kegiatan belajar (Susanto, 2013: 5).

Pembelajaran dan hasil belajar merupakan bagian yang sangat penting dalam proses penentu keberhasilan pendidikan. Untuk itu di perlukan evaluasi yang tepat terhadap pembelajaran dan hasil belajar. Hasil evaluasi terhadap keduanya dapat digunakan untuk memperbaiki langkah pembelajaran selanjutnya dan penilaian yang akan digunakan oleh pendidik.

(3)

Berdasarkan pengamatan dan dokumen nilai siswa yang telah dilakukan oleh peneliti di kelas XII BUSANA 1 SMK Negeri 4 Banjarmasin, dapat diketahui bahwa terdapat beberapa permasalahan dalam pembelajaran di kelas tersebut, diantaranya guru hanya melakukan metode ceramah dengan memanfaatkan buku paket sepanjang pembelajaran berlangsung, dan banyak siswa yang masih sulit memahami materi pelajaran PAI. Hal ini dapat terlihat saat siswa diberikan pertanyaan oleh guru, hanya beberapa siswa saja yang mampu menjawab pertanyaan, jawabannya pun masih terkesan seadanya dengan membaca kembali tulisan atau penjelasan yang ada di buku paket tanpa menggunakan analisis ataupun pendapat pribadi. Adanya permasalahan tersebut mengakibatkan hasil belajar siswa menjadi rendah.

Adanya beberapa permasalahan yang terlihat di kelas XII BUSANA 1 SMK Negeri Banjarmasin tersebut memerlukan sebuah solusi yaitu dengan mengadakan sebuah penelitian tindakan kelas yang diharapkan dapat mengatasi permasalahan yang timbul. Berdasarkan identifikasi permasalahan yang telah dilakukan, peneliti bersama guru mata pelajaran PAI melakukan refleksi mengenai permasalahan yang dianggap paling penting dan harus segera diatasi.

Peneliti dan guru sepakat bahwa permasalahan yang mendesak untuk segera diatasi yang terdapat dalam pembelajaran PAI yaitu masih banyak siswa yang belum memahami materi PAI, sehingga menyebabkan hasil belajar siswa menjadi rendah, terbukti dengan banyaknya siswa yang mempunyai nilai di bawah KKM (71). Berdasarkan dokumen nilai, dari jumlah siswa 15 orang di kelas XII Busana 1 SMK Negeri 4 Banjarmasin, yang memperoleh nilai antara 50 – 70 sebanyak 10 orang dan dinyatakan belum tuntas karena nilainya di bawah KKM. Sedangkan yang memperoleh nilai antara 80 – 100 sebanyak 5 orang dan dinyatakan tuntas karena nilainya berada di atas KKM. Secara klasikal hasil belajar siswa pada evaluasi ini berada pada tingkat kurang yaitu 33,33 % saja.

Hal ini bisa berdampak pada penilaian raport akhir semester dimana untuk nilai mata pelajaran PAI tidak boleh di bawah ketuntasan (KKM). Apabila nilai raport untuk mata pelajaran PAI di bawah KKM maka siswa tersebut bisa tidak naik kelas, karena mata pelajaran PAI adalah mata pelajaran yang wajib tuntas. Oleh sebab itu, peneliti bersama guru sepakat untuk memilih model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) sebagai pilihan tindakan yang diharapkan mampu membantu siswa dalam memahami materi PAI yang diajarkan dan mampu meningkatkan hasil belajar siswa.

Penerapan model-model pembelajaran yang menunjang keaktifan peserta didik menjadi salah satu alternatif yang kiranya dapat dilakukan oleh guru dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik. Menciptakan pembelajaran yang mendorong peserta didik berpartisipasi aktif dan kreatif serta mendesain

(4)

suasana pembelajaran yang efektif dan menyenangkan diharapkan dapat membantu kesulitan belajar, meningkatkan minat peserta didik, dan pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar yang diharapkan.

Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Penerapan Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Pembelajaran Pendidikan Agama Islam”.

METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan rancangan PTK model Arikunto (2013:17) yang meliputi (1) Perencanaan, (2) pelaksanaan , (3) pengamatan dan (4) Refleksi. Data hasil pengamatan dan tes diolah dengan analisis deskriptif, untuk menggambarkan keadaan peningkatan pencapaian indikator keberhasilan tiap siklus. Analisis data terdiri atas proses analisis untuk mengetahui tes hasil belajar siswa. Untuk mengetahui kemampuan kognitif siswa dalam menyelesaikan soal evaluasi analisisnya dengan cara menghitung rata-rata nilai dan ketuntasan belajar secara klasikal

Untuk menghitung rata-rata nilai digunakan rumus sebagai berikut : x ̅=(∑x)/N

Keterangan : x ̅ = rata-rata nilai

∑〖x 〗= jumlah nilai N=jumlah peserta didik

Untuk menghitung kriteria ketuntasan belajar secara klasikal digunakan rumus :

P=S/N×100%

Keterangan :

P = persentase ketuntasan belajar

S = jumlah peserta didik yang mencapai tuntas belajar N = jumlah total peserta didik

Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XII BUSANA 1 SMK Negeri 4 Banjarmasin dengan jumlah 15 orang. Sedangkan objek dalam penelitian ini adalah penerapan model Problem Based Learning untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam

(5)

khususnya pada topik menyakini Qadha dan Qadar melahirkan semangat bekerja

Peneliti menggunakan beberapa teknik untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan antara lain 1. Wawancara dilakukan dengan teman sejawat untuk mengetahui tentang penerapan model problem based learning dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang dilaksanakan, apa kekurangannya, dan bagaimana saran untuk perbaikannya. 2. Tes 3. Observasi dilakukan untuk mengetahui kegiatan di kelas selama pembelajaran berlangsung, kegiatan yang diamati berupa aktivitas guru dan siswa selama pembelajaran. Untuk memperkuat hasil penelitian ini peneliti menggunakan dokumentasi berupa foto-foto pada saat melakukan proses pembelajaran dengan menggunakan model Problem Based Learning pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti materi meyakini qadha dan qadar melahirkan semangat bekerja.

HASIL PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan 2 siklus dan di awali dengan pra siklus.

Berdasarkan hasil pre test pada pra siklus dapat disimpulkan bahwa sebagian besar siswa belum menguasai materi meyakini qadha dan qadar melahirkan semangat bekerja dengan baik. Sehingga diharapkan dalam pembelajaran dengan menerapkan model Problem Based Learning pada materi tersebut hasil belajar siswa dapat meningkat dengan nilai rata-rata mencapai KKM 71 dan ketuntasan secara klasikal mencapai target 85 %.

A. Perencanaan

Perencanaan pembelajaran meliputi kegiatan perumusan tujuan yang ingin dicapai dalam suatu kegiatan pembelajaran, metode yang digunakan untuk menilai pencapaian tujuan tersebut, bahan materi yang akan disajikan, cara menyampaikannya, persiapan alat atau media yang digunakan.

Perencanaan pembelajaran menjadikan guru dapat mempersiapkan dan menentukan tindakan apa yang akan dilakukan saat proses pembelajaran berlangsung agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif (Fachri, 2020)

Sejalan dengan pendapat di atas pada tahap perencanaan di siklus 1 peneliti merencanakan dan mempersiapkan perangkat pembelajaran yang diperlukan dalam penerapan model Problem Based Learning seperti RPP, media pembelajaran, LKPD, dan instrumen tes untuk mengukur hasil belajar siswa.

Peneliti juga menyiapkan instrumen penelitian lainnya seperti lembar observasi aktivitas guru dan lembar observasi aktivitas siswa yang akan diisi oleh teman sejawat yang menjadi observer untuk mengetahui bagaimana penerapan model problem based learning dalam pembelajaran yang dilakukan.

Dan pada tahap perencanaan Siklus 2 peneliti kembali mempersiapkan perangkat pembelajaran yang diperlukan dalam penerapan model Problem Based

(6)

Learning. Rencana pelaksanaan pembelajaran yang sudah dilaksanakan pada siklus 1 diperbaiki sesuai dengan hasil refleksi. Selain itu juga disiapkan instrumen lainnya seperti lembar observasi aktivitas guru dan lembar observasi aktivitas siswa yang akan diisi oleh teman sejawat yang menjadi observer. Hal ini sejalan dengan pendapat Navel (2012) bahwa Hasil dari refleksi adalah diadakannya revisi terhadap perencanaan yang telah dilaksanakan, yang akan dipergunakan untuk memperbaiki kinerja guru pada pertemuan selanjutnya.

B. Pelaksanaan

Pada tahap pelaksanaan tindakan siklus I, peneliti melaksanakan keseluruhan rencana pelaksanaan pembelajaran atau RPP siklus I dengan menerapkan model Problem Based Learning (PBL).

Menurut Rusmono (2014:81) langkah-langkah atau tahapan pembelajaran model Problem Based Learning adalah sebagai berikut :

Tahap 1 : Mengorganisasikan siswa kepada masalah.

Tahap 2 : Mengorganisasikan siswa untuk belajar.

Tahap 3 : Membantu penyelidikan mandiri dan kelompok.

Tahap 4 : Mengembangkan dan mempresentasikan hasil karya serta pameran.

Tahap 5 : Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

Berdasarkan teori di atas, tahapan pelaksanaan yang di lakukan sudah sesuai dan di laksanakan dengan maksimal untuk menciptakan pembelajaran yang menarik, meningkatkan keaktifan dan kreatifitas siswa dalam belajar melalui model Problem Based Learning. Namun pada pelaksanaan siklus I masih di temukan kekurangan pada saat pembelajaran. Maka perlu di tingkatkan lagi pada siklus selanjutnya yaitu siklus 2.

C. Observasi (Pengamatan)

Dari hasil observasi yang dilakukan perlu dibuktikan apakah peningkatan hasil belajar yang terjadi memang dipengaruhi oleh penerapan model pembelajaran yang dilaksanakan. Apakah ada kesesuaian peningkatan aktivitas mengajar guru dan aktivitas belajar siswa dengan hasil belajar yang diperoleh. Hal ini sebagaimana dilakukan dalam penelitian terdahulu oleh Nur Amanah berjudul Penerapan Model Pembelajaran PBL dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Pelajaran PAI dan Emia Rokhmawati dengan judul Penerapan PBL untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Materi Larangan Berbuat Zina. Oleh karena itu akan disajikan perbandingan nilai persentase hasil observasi aktivitas mengajar guru dan aktivitas belajar siswa pada setiap siklus sebagai berikut:

Tabel Persentase Nilai Observasi Aktivitas Mengajar Guru dan Aktivitas Belajar Siswa Persiklus

No Siklus Aktivitas Mengajar Guru Aktivitas Belajar Siswa Persentase Kategori Persentase Kategori

1. 1 72.22 % Baik 68.75 % Aktif

(7)

2. 2 77.78 % Sangat baik 78.12 % Sangat aktif

Data pada tabel diatas menunjukkan adanya peningkatan aktivitas mengajar guru dan aktivitas belajar siswa dari siklus 1 aktivitas mengajar guru 72,22 % meningkat menjadi 77,78 % pada siklus 2. Dan aktivitas belajar siswa dari siklus 1 68.75 % meningkat menjadi 78.12 % pada siklus 2. Penerapan model Problem Based Learning pada siklus 2 dilaksanakan dengan memperbaiki kekurangan-kekurangan berdasarkan hasil refleksi pada siklus 1. Pada siklus 1 kekurangan dalam penerapan model Problem Based Learning yang dilaksanakan bahwa guru masih terlihat dominan dalam memberikan komentar pada diskusi, sedangkan siswa masih ada sebagian besar yang belum aktif memberikan tanggapan atas problem atau pertanyaan yang dikemukakan oleh temannya dan belum berusaha untuk mencari berbagai data, sumber atau referensi lain di luar materi yang diberikan guru.

Kemudian Pada siklus 2 aktivitas mengajar guru lebih baik dalam hal pemberian motivasi dan bimbingan serta sumber belajar yang lebih variatif sehingga berdampak pada peningkatan aktivitas belajar siswa, pada siklus 2 lebih banyak siswa yang terlibat aktif dalam pembelajaran dan siswa menemukan solusi dari problem atau jawaban dari suatu pertanyaan berdasarkan fakta atau data yang ia temukan melalui proses pengumpulan informasi dalam kelompok . Dan lebih percaya diri dalam menyajikan hasil karya mereka di depan kelas dan kelompok lain pun berani dalam menanggapi dan memberi masukan kepada kelompok yang menyajikan hasil karya.

Berdasarkan pelaksanaan tindakan siklus I dan II, aktivitas belajar siswa mengalami peningkatan. Peningkatan aktivitas belajar siswa dapat menjawab teori yang dikemukakan oleh Smith dalam Amir (2010), bahwa model PBL dapat mendorong terjadinya pengembangan kecakapan kerja tim dan kecakapan sosial karena dilaksanakan dalam kelompok-kelompok kecil. Peningkatan hasil dan aktivitas belajar siswa juga disebabkan karena peningkatan performansi guru dalam pembelajaran dengan model PBL. Hal ini menjawab teori yang dikemukakan oleh Ismail (2009), bahwa untuk mendapatkan proses dan hasil belajar siswa yang berkualitas tentu memerlukan kinerja (performansi) guru yang maksimal. Performansi guru menjadi lebih baik karena guru semakin baik dalam menerapkan pembelajaran dengan model PBL pada materi meyakini Qadha dan Qadar melahirkan semangat bekerja.

Jadi, aktivitas mengajar guru dan aktivitas belajar siswa dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam berhasil dengan kategori sangat baik.

D. Hasil Belajar

Hasil belajar adalah kemampuan siswa yang muncul setelah melaksanakan suatu pembelajaran. Hasil belajar adalah kemampuan yang

(8)

dimiliki peserta didik setelah ia menerima pengalaman belajarnya (Sudjana, 2013:22). Sejalan dengan teori tersebut, dalam penelitian ini hasil belajar siswa diketahui melalui evaluasi yang dilakukan setelah melaksanakan proses pembelajaran dengan model Problem Based Learning. Sebelumnya dilakukan pre test untuk mengetahui kemampuan awal siswa sebagai bahan perbandingan, kemudian dilaksanakan pembelajaran dengan model Problem Based Learning dalam 2 siklus.

Setelah pemberian tindakan pada siklus I, diperoleh nilai rata-rata sebesar 70,67. Dari hasil analisis siklus I, proses pembelajaran dengan penerapan PBL belum mencapai kriteria ketuntasan 85%, sehingga dapat dikatakan bahwa hasil belajar kognitif siswa pada siklus I belum berhasil. Hal ini disebabkan siswa masih bingung dan kesulitan dalam mengerjakan LKPD yang diberikan.

Olehnya itu dengan mengacu hasil refleksi siklus I, maka guru melakukan upaya perbaikan dalam melaksanakan proses pembelajaran pada siklus II. Kemudian pada siklus 2 mengalami peningkatan 33,34 % jika dibandingkan dengan siklus 1 yakni nilai rata-rata 70,67 dengan persentase ketuntasan hasil belajar secara klasikal 53,33 % menjadi nilai rata-rata 89,33 dengan persentase ketuntasan hasil belajar secara klasikal 86,67 %. Sedangkan kriteria minimal ketuntasan siswa yang dapat mencapai nilai KKM 71 secara klasikal adalah 85 %. Hal ini terjadi karena siswa mengikuti pembelajaran dengan baik dan memahami materi yang mereka telah terima.

Dengan demikian, berdasarkan teori hasil belajar dan data yang disajikan dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam berhasil meningkat dengan mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) 71 dan mencapai ketuntasan hasil belajar secara klasikal dengan nilai persentase 86,67 %. mencapai KKM berkesesuian dengan meningkatnya aktivitas mengajar guru dan aktivitas belajar siswa melalui tahapan penerapan model Problem Based Learning yang dilakukan dalam 2 siklus penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan model Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam.

KESIMPULAN

Berdasarkan deskripsi dan pembahasan hasil penelitian tindakan kelas yang dilakukan dalam 2 siklus dan sebagai jawaban dari rumusan masalah dalam penelitian tindakan kelas (PTK) ini maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Penerapan model Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam dibuktikan melalui analisis adanya kesesuaian antara meningkatnya hasil belajar dengan meningkatnya aktivitas mengajar guru dan aktivitas belajar siswa dalam penerapan model

(9)

problem based learning pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam dengan persentase nilai aktivitas mengajar guru dari 72,22 % kategori baik pada siklus 1 menjadi 77,78 % kategori sangat baik pada siklus 2, dan persentase nilai aktivitas belajar siswa dari 68.75 % kategori aktif pada siklus 1 menjadi 78.12 % kategori sangat aktif pada siklus 2. Sedangkan perbandingan hasil belajar dari persentase ketuntasan 33,33 % sebelum penerapan model Problem Based Learning (pra siklus) menjadi 53,33 % pada siklus 1 dan meningkat menjadi 86,67 % pada siklus 2 sehingga dinyatakan berhasil.

2. Hasil belajar siswa pada pembelajaran Pendidikan Agama Islam meningkat dan mencapai indikator keberhasilan pada siklus 2, yakni 13 orang dari 15 siswa memperoleh nilai ≥ KKM 71 dengan rata-rata nilai siswa 89,33 , dan kriteria ketuntasan hasil belajar secara klasikal 86,67 %.

Berdasarkan dari beberapa uraian di atas dapat disimpulkan bahwa kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model Problem Based Learning berjalan dengan baik dan lancar atau dengan kata lain kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning dapat dijadikan sebagai salah satu model pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar siswa khususnya pada mata pembelajaran Pendidikan Agama Islam .

DAFTAR PUSTAKA

Amanah, Nur. Penerapan Model Pembelajaran PBL dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa pada Pelajaran PAI (Penelitian Tindakan Kelas di SMA Diponegoro 1 Jakarta Timur). Sarjana Thesis, Universitas Negeri Jakarta 2015.

http://repository,unj,ac,id/32389 . Di akses 25 November 2022

Amir, M. T. 2010. Inovasi Pendidikan melalui Problem Based Learning. Kencana, Jakarta

Annur, Saipul. 2008. Profesionalitas Guru Agama Islam : Wacana Pengembangan Guru (Jurnal At Ta’dib) Vol. XIII No. 1

Arikunto, Suharsimi. 2013. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:

Rineka Cipta.

Azwar, Saifuddin. 2003. Metode penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Fachri. 2020. Perencanaan Pengajaran dalam Pembelajaran. Artikel Ilmiah. BDK Makassar Kementerian Agama RI.

(10)

Ismail, M. I. (2009). Kinerja dan Kompetensi Guru dalam Pembelajaran.

http://ilyasismailputrabugis.blogspot.com/2009/11/kinerja-dan- kompetensi-guru-dalam.html. Diunduh 23 Februari 2012

Karmana, I.W., Dharma Wibawa,I.D., & Hajiriah,T.L. 2020. Efektivitas Strategi PBL Berbasis Potensi Akademis Terhadap Keterampilan Pemecahan Masalah dan Berpikir Kritis Siswa SMA Pada Topik Lingkungan. Jurnal Ilmiah Mandala Education, 6 (1)

Made Wena. 2009. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer Suatu Tinjauan Konseptual Operasional. Jakarta : Bumi Aksara

Navel. 2012. Penelitian Tindakan Kelas (Suatu Reflektif dalam Perbaikan Kualitas Pembelajaran).

https://navelmangelep.wordpress.com/2012/03/19/penelitian-tindakan- kelas-suatu-reflektif-dalam-perbaikan-kualitas-

pembelajaran/#:~:text=Refleksi%20dalam%20PTK%20adalah%20upaya,la njut%2C%20upaya%20mencapai%20tujuan%20PTK.

Susanto, Ahmad. 2013. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Prenada Media Grup

Rokhmawati, Emia. Penerapan PBL untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Materi Larangan Berbuat Zina. Vol 2 Juli 2022. Seminar Nasional Pendidikan

Profesional Guru Agama Islam. https://e-

proccedings.iain.palangkaraya,ac.id

Rusmono. 2014. Strategi Pembelajaran dengan Problem Based Learning itu perlu.

Bogor : Ghalia Indonesia.

Sudjana, Nana. 2013. Penilaian Hasil dan Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Referensi

Dokumen terkait

Rumusan masalah pada penelitian ini (1) Apakah penerapan model pembelajaran problem based learning (PBL) dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa SD Negeri 1

Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar program linear melalui penerapan model problem based learning

Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar program linear melalui penerapan model problem based learning

Berdasarkan hasil tes dan pengamatan proses pembelajaran pada siklus 1 bahwa penerapan model Problem Based Learning dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada materi

Tujuan penelitian ini untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa melalui penerapan model Problem Based Learning dengan media grafis. Metode penelitian ini adalah

Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh kesimpulan bahwa penerapan model pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X TPHP SMK Negeri 1 Pasir

PEMBAHASAN 5.1 Implementasi Model Problem Based Learning berbantuan Genially Berdasarkan bahasan tahapan dari penerapan metode belajar Problem Based Learning, dapat ditarik

Skripsi ini membahas penerapan Model Problem Based Learning (PBL) untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PPKn di kelas IV SD Negeri Labuang Baji 1