LAPORAN PRAKTIKUM FITOKIMIA
PERCOBAAN KE 4
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI PIPERIN DARI FRUCTUS PIPERIS NIGRI
Nama : RizkaNoviaIndriani
NIM : 1606067081
Kelompok : B5
Hari, TanggalPraktikum:
DosenPembimbing : Andy Wijaya, M.Farm., Apt
LABORATURIUM FITOKIMIA
LAPORAN PRAKTIKUM FITOKIMIA PERCOBAAN KE 4
ISOLASI DAN IDENTIFIKASI PIPERIN DARI FRUCTUS PIPERIS NIGRI
A. TUJUAN
Dapat memahami prinsip dan melakukan isolasi piperin dari Piperis nigri fructus atau Piperis albi fructus beserta analisis kualitatif hasil isolasi dengan metode kromatografi lapis tipis.
B. DASAR TEORI
Nama ilmiah lada atau nama latin lada hitam adalah Piper nigrum L. Klasifikasi tumbuhan lada adalah sebagai berikut :
Kingdom : Plantae Divisi : Tracheophyta Kelas : Magnolipsida Ordo : Piperales Familia : Piperaceae Genus : Piper L
Spesies : Piper nigrum L.
Lada memiliki rasa pedas berbau khas dab aromatik (Hariana, 2007). Buah lada berbentuk bulat dan mempunyai biji yang keras dengan kulit buah yang lunak. Kulit buah yang masih muda berwarna hijau, lalu menjadi berwarna kuning ketika sudah tua. Buah lada yang sudah masak berwarna merah, berlendir dan awalnya manis. Besar kulit dan bijinya sekitar 4-6 mm, sedangkan besar bijinya 3-4mm, berat per 100 biji lada rata-rata 4,5 gram. Kulit buah lada terdiri dari 3 bagian yaiutu kulit luar (epicarp), kulit tengah (mosocarp), dan kulit dalam (endocarp) (rismananda, 2007).
Piper nigrum Lin dalam eksrrak aquadest, ekstrak metanol dan ekstrak etanol positif mengandung karbohidrat, protein, tanin, fenol, kumarin, alkaloid dan
sendi, kanker, hidung tersumbat, sakit perut, tekanan darah tinggi, kesehatan jantung dan antioksidan.
Piperin mempunyai senyawa yang tahan terhadap panas dan piperin yang digunakan untuk ekstraksi berupa serbuk habis, tujuannya supaya didapat sari dengan kadar yang optimal karena jika suatu sampel partikelnya diperkecil maka partikel mudah dibasahi oleh solven sehingga senyawa dalam simplisia mudah tersari. Proses isolasi piperin dari senyawa lada hitam dapat dilakukan dengan metode rekrestalisasi. Secara harfiah rekristalisasi berati pembentukan kristal kembali (Harborne, J.B, 1984).
Alkaloid juga merupakan sekelompok metabolit sekunder alami yang mengandung nitrogen aktif secara farmakologis yang berasal dari tanaman, mirobia ayau hewan. Dalam kebanyakan alkaloid, atom nitrogen merupakan bagian dari cincin. Alkaloid secara
biosintesis diturunkan dari asam amina. Nama alkaloid berasal dari kata “alkalis” yang berarti basa yang larut air. Sejumlah alkaloida alami dan turunannya telah dikembangkan sebagai obat untuk menobati berbagai macam penyakit.
Soxhlet merupakan metode ekstraksi yang memanfaatkan pemanasan untuk destilasi pelurut sehingga terjadi sirkulasi pelarut melalui serbuk simplisia. Metode ini efisiensi dalam pemanfaatan pelarut tetapi berisiko pembentukan artefak akibat penggunaan panas. Pelarut yang digunakan pada metode Soxhlet minimal cukup untuk 2 kali penyarian. Proses ekstraksi dengan Soxhlet dihentikan apabila warna pelarut yang ada didalam Soxhlet sama seperti warna pelarut awalnya.
Kristalisasi merupakan prosedur paling sederhana, tetapi jarang diperoleh hasil yang memusakan untuk pemisahan alkaloid murni kecuali apabila satu alkaloid yang terdapat dalam bahan tidak larut. Beberapa kombinasi pelarut yang penting digunakan untuk
kristalisasi alkaloid meliputi metanol, etanol cair, metanol-kloroform, metanol-eter, metanol aseton dan aseton-etanol (sastrohamidjoyo, 1996).
Kromatografi adalah suatu nama yang diberikan untuk teknik pemisahan tertentu. Pada dasarnya semua cara kromatografi menggunakan dua fase yaitu fasa tetap (stationary) dan fasa gerak (mobile), pemisahan tergantung pada gerakan relatif dari dua fasa tersebut.
Karena fasa bergerak dapat berupa zat cair atau gas maka semua ada empat macam sistem kromatografi yaitu kromatografi serapan yang terdiri dari kromatografi lapis tipis dan
kromatografi penukar ion, kromatografi padat, kromatografi partisi dan kromatografi gas-cair serta kromatografi kolom kapiler (Hostettmann, K., dkk., 1995).
C. ALAT DAN BAHAN ALAT
1. Alat penyari soxhlet 2. Seperangkat alat KLT
BAHAN
1. Piper nigrum 3. Diklormetana 2. Etanol 4. Etil asetat 3. KOH-etanolik 10%
D. CARA KERJA
1. EKSTRAKSI DAN ISOLASI
Timbang 30 gram serbuk merica, masukkan ke dalam alat penyari soxhlet yang telah dipasang kertas saring, kemudian tambahkan etanol 96% paling sedikit sebanyak 2 kali sirkulasi (± 120 ml). Jangan lupa untuk menambahkan batu didih. Penyarian dilakukan selama 2 jam dengan kecepatan 6-8 sirkulasi per jam. Setelah dingin, pisahkan sari dari bagian yang tidak terlarut dengan penyaringan melalui kertas saring. Filtrat yang
diperoleh diuapkan di atas penangas air sampai kering atau konsistensi kental. Kemudian tambahkan 10 ml KOH-etanolik 10% sambil diaduk-aduk sehingga timbul endapan. Setelah mengendap, pisahkan sari dari bagian yang tidak larut melalui glass wool. Sari jernih yang didapat didiamkan dalam almari es sampai hari praktikum yang akan datang, atau sampai pembentukan kristal optimal.
2. PEMURNIAN
Kristal yang timbul dipisahkan, dicuci dengan etanol 96% (dingin) dan dikeringkan dalam almari pengering pada suhu 40ᴼC selama 30-45 menit kemudian disimpan dalam eksikator yang dilengkapi kapur tohor. Kristal yang diperoleh ditimbang dan
3. IDENTIFIKASI
Ambil sedikit padatan dengan ujung spatel kecil, larutkan dalam etanol. Larutan siap dianalisis secara kualitatif dengan kromatografi lapis tipis dengan kondisi sebagai berikut:
a. Fase diam : Silika gel GF 254
b. Fase gerak : Diklormetana : Etil asetat (75:25) c. Cuplikan : Larutan sampel
d. Deteksi : UV 254, disemprot dengan anisaldehid asam sulfat dan dipanaskan 110ᴼC selama 10 menit
Catat harga Rf yang diperoleh.
E. HASIL
Nama simplisia : Fructus Piperis nigri Metode ekstraksi : Soxhlet
Jumlah pelarut yang digunakan : Etanol 96% 350 ml Jumlah siklus : 5
Rendemen ekstrak : tidak didhitung karena terlalu sedikit
Pemberian ekstrak
Aroma : khas aromatik
Warna : coklat
Bentuk/tekstur : cairan
Hasil pengamatan dengan kromatografi
Fase diam : silika gel GF 254
Fase gerak : diklormetana : etil asetat (75 : 25)
Cuplikan : larutan sampel
Deteksi : UV 254, diseprot dengan anisaldehid asam sulfat dan dipanaskan
Siklus I : 09.00 – 09.42 = 42 menit
Siklus II : 09.42 – 09.57 = 15 menit
Siklus III : 09.67 – 10.04 = 7 menit
Siklus IV : 10.04 – 10.28 = 24 menit
Siklus V : 10.28 – 10.42 = 14 menit
NO GAMBAR KETERANGAN
1 serbuk lada yang telah ditimbang dimasukkan ke dalam kertas saring dan diikat ujung-ujungnya, kemudian dimasukkan dalam soxhlet dengan ditambahkan etanol 96%
2 Hasil ekstraksi dipekatkan dengan rotary evaporator
4 Hsil ekstraksi yang diperoleh di masukkan ke dalam botol yang berisi zat yang sama, dan tidak dilakukan KLT
F. PEMBAHASAN
Proses soxhlet yang dilakukan dengan membungkus serbuk lada yang telah ditimbang dengan menggunakan kertas saring yang diikat dengan menggunakan tali pada bagian ujung-ujungnya, sehingga berbentuk seperti premen. Hal ini dilakukan agar serbuk lada mudah diambil saat poses soxhletasi selesai dan sampel tidak bercampur langsung dengan pelarut yang digunakan. Penggunaan kertas saring dikarenakan kertas saring mempunyai dinding yang tipis dan berpori yang dapat mempermudah pelarut untuk menyerap piperin yang terkandung didalam sampel. Ekstraksi dilakukan dengan penambahan pelarut etanol 96%. Etanol 96% akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif. Zat aktif akan larut dalam etanol 96% di luar sel. Maka larutan terpekat akan berdifusi keluar sel dab proses ini akan berulang terus sampai terjadi keseimbangan antara konsentrasi cairan zat aktif sidalam dan luar sel. Fungsi etanol 96 % sebagai pelarut karena memiliki kisaran polaritas yang luas dan etanol juga lebih murni jika dibandingkan dengan etanol 305 dan 70%. Selain itu juga karena etanol 96 % akan lebih mudah menuap bila dibandingkan dengan etanol 30% dan 70%.
Hasil ekstraksi yang diperoleg emudian dipekatkan dengan rotary evaporator. Prinsip utama dari rotary evaporator adalah pada penurunan tekanan sehingga pelarut dapat menguap pada suhu yang tinggi. Disini hasil yang diperoleh sangat sedikit dan tidak terlalu lama sehingga sari yang dipekatkan menempel pada labu dan susah untuk dilarutkan kembali. Hasil tidak telalu kental karena digunakan etanol 96 % yang artinya 4% tersebut adalh air. Apalagi titik didih etanol dibawah titik didih air yaitu 78,4oC sedangkan air 100oC.
Penambahan KOH etanolik 10% untuk memisahkan senyawa resin dengan meminimalkan pembentukan garam, sehingga didapatkan alkaloida yang murni.
G. KESIMPULAN
Dari praktikum ini dapat disimpulkan bahwa praktikan dapat memahami prinsip dan melakukan isolasi piperin dari Piperis nigri fructus atau Piperis albi fructus beserta analisis kualitatif hasil isolasi dengan metode kromatografi lapis tipis. Proses penyarian yang dilakukan dalam praktikum sebanyak 5 sirkulasi dengan waktu yang berbeda-beda karena suhu pada soxhlet yang dipanaskan terus meningkat sehingga mempercepat sirkulasi penyarian.
H. DAFTAR PUSTAKA
Adnan, Muhammad. 1997. Teknik Kromatografi. Andi Offset. Yogyakarta
Harborne, J.B. 1987. Metode Fitokimia, Penuntun Cara Modern Menganalisa Tumbuhan, Terbitan Kedua. Bandung : ITB.
Hariana, A. 2007. Tumbuhan Obat Dan Khasiatnya Seri 3, Cet 4. Penebar Swadaya. Jakarta.
Hoatetmann, K., Dkk. 1995. Cara Kromatografi Preparatif. Penerbit ITB. Bandung.
Padyaatmaka. A. H. 2002. Kamus Kimia. Balai Pustaka. Jakarta.
Rismunandar. 2007. Lada Budidaya dan Tatanlaganya. Jakarta : Penebar Swadaya.