• Tidak ada hasil yang ditemukan

JETri SIMULASI KUALITAS LAYANAN VOIP MEN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "JETri SIMULASI KUALITAS LAYANAN VOIP MEN"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

JETri

, Volume 7, Nomor 1, Agustus 2007, Halaman 41-64, ISSN 1412-0372

SIMULASI KUALITAS LAYANAN VOIP

MENGGUNAKAN METODE ANTRIAN

PAKET CBQ DENGAN MEKANISME

LINK SHARING

Suhartati Agoes & Adi Putranto*

Dosen Jurusan Teknik Elektro-FTI, Universitas Trisakti

Abstract

Main problem faced by Voice over IP service is the level of delay and packet loss yielded. Queue delay that happened when packet enter router interface have a big effect in real-time communications like Voice over Internet Protocol (VoIP). First In First Out (FIFO) Queue System does not own arrangement to traffic passing through it, all packets assumed equal. If VOIP packets queue up together with data packet at this system hence the delay yielded will be very big. A correct queue method needed to improve network delay characteristic and improve Quality of Service (QOS) of VoIP. One QOS management method on VoIP which can be used is CBQ (Class Based Queuing) queue method. CBQ represent scheduling mechanism providing link-sharing among classes using same physical link. This is the method enable division of bandwidth allocation from router output port as according to traffic type and priority. In the event of congestion, traffic with high priority will accept minimum bandwidth allocations as which have previous reservation. At the simulated scenario and network topology, CBQ queue method able to meet the requirement of maximum delay according to ITU recommendation G.114. Based on calculation conversion R factor value to MOS by using E-Model, CBQ can assign MOS value more than 4 (four), meaning its value is good. So that VoIP service is competent to be implemented.

Keyword: Bandwidth, CBQ, FIFO, link-sharing, MOS

1. Pendahuluan

Voice over Internet Protocol (VoIP) adalah teknologi yang mampu melewatkan traffic suara yang berbentuk paket melalui jaringan IP. Saat ini terdapat banyak hal yang menghambat perkembangan VoIP, terutama disebabkan teknologi ini menghasilkan delay di luar batas kewajaran, dan adanya packet loss yang menyebabkan kualitas suara yang dihasilkan kurang bisa diterima dengan baik.

Hal ini tidak terlepas dari carrier yang membawa paket-paket suara tersebut, yaitu jaringan internet. Jaringan internet yang terkenal dengan

(2)

JETri

, Volume 7, Nomor 1, Agustus 2007, Halaman 41-64, ISSN 1412-0372

data atau traffic yang melewatinya dapat sampai ke tujuan sesuai dengan hasil yang diharapkan.

Keadaan seperti ini tentu mengganggu, karena komunikasi VoIP tergolong komunikasi real-time yang mensyaratkan delay, jitter dan paket loss yang dihasilkan sekecil mungkin.

Masalah utama adalah pada saat paket-paket IP mengantri pada

router, sistem manajemen antrian First In First Out(FIFO) tidak memiliki pengaturan terhadap trafik yang melewatinya sehingga paket suara yang berukuran kecil harus berkompetisi dengan paket data yang berukuran besar

Agar teknologi VoIP dapat menyamai kualitas jaringan PSTN atau paling tidak mendekati, maka jaringan transport IP harus dapat menyediakan tingkat kualitas layanan atau biasa disebut Quality of Service (QoS) yang sesuai dengan jenis traffic yang

melewatiny

2. Quality Of Service

Trend saat ini untuk para network designer adalah membangun jaringan multiservice yang membawa trafik suara, data dan video, melewati arsitektur jaringan berbasis paket yang menyebabkan kebutuhan akan bandwith semakin meningkat.

Istilah QoS mengacu kepada kemampuan dari jaringan untuk menyediakan layanan yang lebih baik kepada trafik jaringan tertentu. Secara umum, QoS menyediakan layanan jaringan yang lebih baik dengan mendukung bandwith yang terdedikasi, memperbaiki karakteristik loss, menghindari dan mengatur kongesti pada jaringan serta mengatur prioritas trafik yang melewati jaringan (Cisco Interactive, 2000: np).

Kualitas suara pada jaringan VoIP secara langsung dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu packet delay dan paket loss.

Paket loss terjadi apabila ada sebuah paket yang di-drop oleh network nodes karena ia tidak dapat meneruskannya ke output interfacenya. Paket loss dapat menyebabkan terjadinya “clipping” dan “skips”.

(3)

Suhartati Agoes & Adi Putranto , Simulasi Kualitas Pelayanan VoIP Menggunakan Metode Antrian

sumber (pengirim) ke tujuan (penerima), hal ini disebut juga one-way delay. Rekomendasi ITU-T G.114 menetapkan batas maksimum one-way-delay yang masih dapat diterima agar kualitas VoIP sama dengan kualitas jaringan PSTN berkisar antara 100 - 150 ms. Batasan delay menurut rekomendasi ITU-T G.114 terdapat pada Tabel 1.

Tabel 1. Batasan delay menurut rekomendasi ITU-T G.114 (ITU-T Recommendation, 2003: No Page)

Delay Range ITU-T Recommendation

0 to 150 ms Recommended range for transmission delay

150 to 400 ms Recommended if the designers are aware of

reduced quality

400 ms and greater Not recommended, although it may be necessary in

some extraordinary cases

Delay diatas 400 ms menyebabkan hubungan komunikasi sudah tidak layak lagi dilakukan karena hal ini sama saja seperti kita berbicara melalui walkie-talkie. End-to-end delay terbagi atas dua bagian, yaitu fixed network delay dan variable network delay.

Fixed network delay disusun dari tiga komponen, yaitu delay propagasi, delay serialisasi dan delay processing. Sedangkan faktor yang menyebabkan variable network delay yaitu delay antrian (queuing delay), dejitter buffer dan ukuran paket yang bervariasi.

3. Teknik-Teknik Queuing

(4)

JETri

, Volume 7, Nomor 1, Agustus 2007, Halaman 41-64, ISSN 1412-0372

A. First In First Out (Fifo)

First in first out (FIFO) adalah metode queuing yang paling sederhana. Semua paket diperlakukan sama dengan menempatkannya pada sebuah antrian, lalu dilayani dengan urutan yang sama ketika paket-paket tersebut memasuki antrian.

FIFO tidak mempertimbangkan prioritas paket, bandwidth, dan alokasi buffer yang diperuntukkan paket tersebut. Ketika buffer pada router sudah penuh, maka paket yang datang selanjutnya akan di-drop, sehingga metode ini dinamakan juga tail-drop. Gambar 1. menjelaskan mengenai metode antrian FIFO.

Gambar 1. Metode Antrian FIFO (Semeria, Chuck, 2001: np)

Antrian FIFO merupakan metode antrian yang paling banyak dipakai saat ini, karena mempunyai komputasi beban yang rendah sehingga tidak membebani kerja router.

6 5 4 3 2 1

3 5

2

4

6

(5)

Suhartati Agoes & Adi Putranto , Simulasi Kualitas Pelayanan VoIP Menggunakan Metode Antrian

Tetapi jaringan masa kini lebih membutuhkan algoritma queuing yang lebih memuaskan untuk mengontrol traffic-traffic yang melewatinya.

B. Class-Based Queuing (CBQ)

Class-Based Queuing (CBQ) adalah suatu mekanisme queuing, bertujuan menyediakan link sharing antar agensi yang menggunakan jalur fisik yang sama, dan sebagai acuan untuk membedakan traffic yang memiliki prioritas-prioritas yang berlainan.

Gambar 2. menjelaskan tentang struktur link-sharing pada metode CBQ. Setiap agensi dapat mengalokasikan bandwidth miliknya untuk berbagai jenis traffic yang berbeda, sesuai dengan pembagiannya yang tepat untuk masing-masing traffic.

CBQ dengan link sharing memberikan keunggulan yaitu pemberian bandwidth yang tak terpakai bagi leaf classnya.

Gambar 2. Contoh Link Sharing pada CBQ

(6)

JETri

, Volume 7, Nomor 1, Agustus 2007, Halaman 41-64, ISSN 1412-0372

Ketika paket datang, router akan mengantrikannya pada queue yang sesuai dengan priority class paket tersebut. Selanjutnya, router dapat menerapkan priority control yang akan mentransfer lebih banyak paket-paket berprioritas tinggi daripada paket-paket berprioritas rendah.

Gambar 3. Metode Antrian CBQ (Semeria, Chuck, 2001: np)

Komponen-komponen CBQ adalah:

1. Classifier, bekerja dengan cara mengklasifikasikan paket-paket ke dalam class-class yang sesuai dengan menggunakan informasi yang ada di packet header.

2. General Scheduler, merupakan mekanisme penjadwalan bertujuan

untuk membagi bandwidth saat seluruh kelas memiliki antrian paket. General Scheduler menjamin hak kuantitas layanan untuk tiap cabang class (leaf classes), dengan membagikan bandwidth sesuai dengan

Classifier Scheduler

Port

Real-time 25% B/W

Interactive 25% B/W

Fine Tranfer 50% B/W Flow1

Flow2

Flow3

Flow4

Flow5

Flow6

Flow7

(7)

Suhartati Agoes & Adi Putranto , Simulasi Kualitas Pelayanan VoIP Menggunakan Metode Antrian

alokasinya masing-masing. General Scheduler bekerja apabila tidak terjadi kongesti pada router.

3. Link-sharing Scheduler, yang bertujuan membagikan bandwidth yang tak terpakai sesuai dengan struktur link-sharingnya. Link-sharing scheduler digunakan apabila terjadi kongesti pada router.

4. Estimator, akan menghitung bandwidth yang terpakai pada tiap kelas pada selang waktu tertentu untuk memastikan bahwa tiap kelas telah mendapatkan bandwidth sesuai bagiannya.

4. Pengukuran Kualitas VoIP A. MOS

Pengukuran secara subjektif melibatkan manusia yang

mendengarkan suara langsung atau rekaman suara dan memberi rating kepadanya. Salah satu metode subjektif yang paling banyak digunakan adalah MOS (Mean Opinion Score) seperti dideskripsikan pada rekomendasi ITU-T P.800.

Karena menggunakan subjek manusia, pengukuran secara subjektif menjadi sangat akurat dan berguna dalam mengevaluasi sebuah sistem telephony.

Rekomendasi ITU-T P.800 menerangkan secara detail cara melakukan pengukuran metode subjektif, yang secara ringkas dapat disimpulkan sebagai berikut.

Sebuah panelis yang terdiri dari beberapa orang mendengarkan sebuah sampel suara, memberi nilai pada setiap sampel dengan rentang standar nilai dari 1 (Buruk) s.d 5 (Baik Sekali) seperti ditunjukkan pada Tabel 2. berikut ini. Nilai rata-rata yang diberikan panelis merupakan nilai MOS.

Metode pengukuran seperti MOS yang menggunakan subjek manusia merupakan pengukuran yang baik untuk menilai kualitas suara. Walaupun begitu, metode subjektif memiliki beberapa kekurangan.

(8)

JETri

, Volume 7, Nomor 1, Agustus 2007, Halaman 41-64, ISSN 1412-0372

Tabel 2. Standar Nilai MOS

Nilai MOS Opini

5 Sangat baik

4 Baik

3 Cukup baik

2 Tidak baik

1 Buruk

B. E-Model

E-Model merupakan ukuran objektif dari jaringan telekomunikasi yang diperkenalkan oleh ETSI pada ETR 250 dan distandarkan oleh ITU-T melalui G.107.

Hasil akhir yang didapat merupakan R factor, yang dapat memprediksikan nilai MOS. Metode ini direkomendasikan bagi para penyedia jasa layanan telekomunikasi untuk menjadi panduan dalam perencanaan jaringan dan mengontrol performansinya.

Nilai akhir estimasi E-Model disebut dengan R faktor. R faktor didefinisikan sebagai faktor kualitas transmisi yang dipengaruhi oleh beberapa parameter seperti signal-to-noise ratio dan echo perangkat, codec dan kompresi, packet loss, dan delay.

Untuk perencanaan transmisi VoIP, penurunan kualitas karena faktor perangkat dapat di-set pada nilai default yang juga ditetapkan pada rekomendasi ITU-T G.107.

(9)

Suhartati Agoes & Adi Putranto , Simulasi Kualitas Pelayanan VoIP Menggunakan Metode Antrian

R = 94.2 – Id– Ief (1)

Dimana :

Id = Faktor penurunan kualitas suara yang disebabkan oleh

pengaruh one-way delay

Ief = Faktor penurunan kualitas yang disebabkan oleh teknik

kompresi dan paket loss yang terjadi dan nilainya tergantung pada metode kompresi yang digunakan.

Id = 0.024d + 0.11(d–177.3) H(d–177.3) (2)

Untuk teknik kompresi G.729 nilai Ief sesuai dengan persamaan berikut ini:

Ief (G.729codec) = 11 + 40 ln (1+10e) (3)

Maka secara umum persamaan nilai estimasi R factor menjadi:

R = 94.2 – [0.024d + 0.11(d – 177.3) H(d – 177.3)]

– [11 + 40 ln (1 + 10e)] (4)

Dimana:

R = faktor kualitas transmisi

d = one-way delay (milli second)

H = fungsi tangga; dengan ketentuan

H(x) = 0, jika x < 0, lainnya

H(x) = 1, untuk x ≥ 0

e = persentasi besarnya paket loss yang terjadi (dalam bentuk

desimal)

R Factor berkisar antara 0 dan 100. Nilai R di bawah 50 dinilai tidak dapat diterima dan koneksi telepon pada umumnya tidak melampaui nilai di atas 94. Jadi nilai R yang baik berkisar antara 50 s.d 94.

Selanjutnya nilai R dapat dikalkulasi untuk menentukan nilai estimasi MOS. Untuk mengubah nilai R menjadi estimasi MOS, digunakan ketentuan-ketentuan sebagai berikut:

(10)

JETri

, Volume 7, Nomor 1, Agustus 2007, Halaman 41-64, ISSN 1412-0372

Untuk R > 100 : MOS = 4.5

Untuk 0 < R < 100: MOS = 1 + 0.035 R + 7x10-6 R(R-60)(100-R) Hubungan antara nilai R dengan nilai MOS ditunjukkan pada Tabel 3.

Tabel 3. Hubungan Nilai R dengan Nilai MOS

5. Topologi Jaringan Simulasi

Proses simulasi untuk mengukur kualitas layanan VoIP dengan

metode Class Based Queuing dilakukan dengan software Network

(11)

Suhartati Agoes & Adi Putranto , Simulasi Kualitas Pelayanan VoIP Menggunakan Metode Antrian

Gambar 4. Topologi jaringan pada simulasi

Topologi yang digunakan pada simulasi ini merupakan topologi

jaringan yang sudah disederhanakan, tetapi dianggap dapat

merepresentasikan topologi jaringan di dunia nyata yang lebih kompleks.

Jaringan VoIP dan jaringan data yang terhubung dengan router A dihubungkan dengan router B yang juga terhubung dengan jaringan VoIP dan jaringan data.

(12)

JETri

, Volume 7, Nomor 1, Agustus 2007, Halaman 41-64, ISSN 1412-0372

Kapasitas saluran antara router A dan router B dibuat bervariasi dengan bandwidth 1 Mbps, 512 Kbps dan 128 Kbps. Masing-masing router terhubung dengan endpoint dengan kapasitas bandwidth 10 Mbps.

Pada router A dan B terdapat 10 endpoint yaitu empat buah endpoint VoIP, tiga buah endpoint HTTP, dua buah endpoint FTP dan 1 buah endpoint Telnet.

Pada simulasi ini digunakan parameter fixed network delay yang sesuai dengan Tabel 4.

Tabel 4. Fixed Network Delay

Saluran Besar Delay

Router A dengan router B 40 ms

Router dan Endpoint

1. Trafik VoIP

2. Trafik HTTP dan FTP

3. Trafik Telnet

30,0592 ms

15,8 ms

15,032 ms

Total delay tetap

1. Trafik VoIP

2. Trafik HTTP dan FTP

3. Trafik Telnet

100,1184 ms

71,6 ms

70,064 ms

6. Skenario Pembangkitan Trafik

(13)

Suhartati Agoes & Adi Putranto , Simulasi Kualitas Pelayanan VoIP Menggunakan Metode Antrian

Tabel 5. skenario pembangkitan trafik pada kondisi trafik sibuk

Jenis Trafik

Waktu Pembangkitan (s)

Mulai Berhenti

VoIP1 0 30

VoIP2 0 30

VoIP3 0 30

VoIP4 0 30

HTTP1 5 25

HTTP2 5 25

HTTP3 5 25

FTP1 10 30

FTP2 10 30

TELNET 15 30

7. Analisis Delay Paket

Bagian ini akan menganalisis karakteristik delay pada metode antrian CBQ pada trafik jaringan LAN A-LAN B hasil simulasi dan perbandingannya dengan metode antrian FIFO dalam kaitannya dengan kualitas layanan.

(14)

JETri

, Volume 7, Nomor 1, Agustus 2007, Halaman 41-64, ISSN 1412-0372

Pengamatan dilakukan terhadap one way delay paket VoIP. Nilai

delay rata-rata total VoIP yang akan dihitung merupakan nilai rata-rata dari besar delay rata-rata paket VoIP 1, VoIP 2, VoIP3 dan VoIP 4.

Data yang dianalisis diperoleh dari hasil simulasi yang telah diolah

dengan menggunakan perangkat lunak tambahan Tracegraph dan Microsoft

Excel.

A. Analisis Kapasitas Saluran 1 Mbps

Pada Tabel 6. dan Gambar 5. terdapat bahwa delay rata-rata VoIP pada metode FIFO sebesar 181,4319 ms dan delay rata-rata VoIP pada metode CBQ sebesar 104,6621 ms atau selisih 76,7698 ms.

Tabel 6. Delay rata-rata trafik pada kapasitas 1 Mbps

Jenis Trafik Delay rata-rata ( ms )

FIFO CBQ

VoIP 1 178,6856 105,2482

VoIP 2 183,3899 105,0588

VoIP 3 182,4780 104,4668

VoIP 4 181,1742 103,8748

HTTP 185,253 549,2832

FTP 294,5558 655,9708

Telnet 179,5458 75,7585

(15)

Suhartati Agoes & Adi Putranto , Simulasi Kualitas Pelayanan VoIP Menggunakan Metode Antrian

Gambar 5. Grafik Delay rata-rata trafik VoIP pada kapasitas 1 Mbps

Pada kapasitas saluran sebesar 1 Mbps dengan kondisi saluran yang sibuk ternyata delay trafik VoIP dengan metode FIFO sudah tidak memenuhi syarat one-way delay ITU yaitu 150 ms.

Jaringan yang sibuk menimbulkan antrian yang panjang pada buffer router, terlebih lagi pada metode FIFO yang hanya mempunyai single buffer.

Paket-paket VoIP yang berukuran kecil (74 byte) berada satu antrian dengan paket-paket lain yang berukuran relatif lebih besar (1 Kb). Sehingga menimbulkan delay yang lebih besar.

Berbeda dengan metode CBQ, sebelum paket VoIP memasuki antrian router, paket sudah dimasukkan pada antrian class CBQ, setelah itu paket dilayani router secara bergantian dan terdapat prioritas paket, sehingga delay rata-rata paket VoIP relatif kecil dibandingkan delay paket yang lain.

Bandwidth 1 Mbps, trafik sibuk

(16)

JETri

, Volume 7, Nomor 1, Agustus 2007, Halaman 41-64, ISSN 1412-0372

B. Analisis Kapasitas Saluran 512 Kbps

Pada kapasitas saluran sebesar 512 Kbps dengan trafik sibuk, selisih delay rata-rata VoIP antara metode FIFO dan metode CBQ sebesar 136,6934 ms.

Kapasitas sebesar ini tidak memadai untuk trafik VoIP dengan metode FIFO karena menghasilkan delay rata-rata sebesar 246,1223 ms.

Sedangkan pada metode CBQ, setiap jenis trafik mempunyai antrian dan alokasi bandwith tersendiri dan trafik VoIP diberikan prioritas yang lebih tinggi sehingga delay yang dihasilkan hanya sebesar 109,4289 ms. Hasilnya bisa dilihat pada Tabel 7. dan Gambar 6.

Tabel 7. Delay rata-rata trafik pada kapasitas 512 Kbps

Jenis Trafik

Delay rata-rata ( ms )

FIFO CBQ

VoIP 1 232,3512 109,9893

VoIP 2 255,6237 110,3984

VoIP 3 250,7609 109,2420

VoIP 4 245,7533 108,0858

HTTP 277,4177 1553,3328

FTP 294,5558 1745,0421

Telnet 262,0933 77,4101

(17)

Suhartati Agoes & Adi Putranto , Simulasi Kualitas Pelayanan VoIP Menggunakan Metode Antrian

Gambar 6. Grafik Delay rata-rata trafik VoIP pada kapasitas 512 Kbps

C. Analisis Kapasitas Saluran 128 Kbps

Pada saluran dengan bandwith terbatas sebesar 128 Kbps dengan kondisi jaringan yang sibuk.

Karakteristik delay yang dihasilkan terdapat pada Tabel 8. dan Gambar 7. (seperti halaman berikut ini).

Dalam kondisi jaringan yang terdiri dari 4 aliran trafik VoIP, 3 aliran trafik HTTP, 2 aliran trafik FTP, dan 1 aliran telnet, delay untuk trafik VoIP yang dihasilkan metode FIFO sangat besar yaitu 374,1728 ms. Hal ini berbeda dengan metode CBQ.

Walaupun dengan kapasitas saluran yang terbatas hanya 128 Kbps, delay rata-rata trafik VoIP yang dihasilkan masih memenuhi batas minimum 150 ms yaitu sebesar 137,1956 ms dengan selisih waktu delay sebesar 236.9772 ms dari metode FIFO.

Bandwidth 512 Kbps, trafik sibuk

(18)

JETri

, Volume 7, Nomor 1, Agustus 2007, Halaman 41-64, ISSN 1412-0372

Tabel 8. Delay rata-rata trafik pada kapasitas 128 Kbps

Jenis Trafik

Delay rata-rata ( ms )

FIFO CBQ

VoIP 1 347,3689 135,5795

VoIP 2 388,7369 142,3593

VoIP 3 383,8141 137,7343

VoIP 4 376,7713 133,1093

HTTP 471,8663 1553,3328

FTP 504,0597 1745,0421

Telnet 441,0263 84,6874

Delay rata-rata VoIP 374,1728 137,1956

Besar delay dengan menggunakan metode FIFO sangat bergantung pada kedatangan aliran data.

(19)

Suhartati Agoes & Adi Putranto , Simulasi Kualitas Pelayanan VoIP Menggunakan Metode Antrian

Gambar 7. Grafik Delay rata-rata trafik VoIP pada kapasitas 128 Kbps

8. Analisis Paket Loss

Jaringan IP tidak dapat memberikan jaminan bahwa paket akan dikirim semua sesuai dengan pesanan. Paket akan di drop di bawah beban puncak dan selama periode kongesti yang disebabkan oleh beberapa faktor seperti kegagalan link transmisi atau kapasitas yang tidak mencukupi.

Banyaknya paket-paket yang hilang yang dialami oleh seluruh trafik pada jaringan yang sibuk terdapat pada Tabel 9. Pada metode antrian FIFO, seluruh trafik pada semua saluran mengalami paket loss.

Trafik VoIP pada saluran dengan bandwidth 1 Mbps mengalami paket loss dengan persentase rata-rata 2,81 %, sedangkan pada bandwidth 512 Kbps dan 128 Kbps persentase rata-rata paket lossnya diatas 10%. Pada metode antrian CBQ, trafik VoIP pada seluruh kapasitas saluran tidak mengalami packet loss.

Bandwidth 128 Kbps, trafik sibuk

0 50 100 150 200 250 300 350 400

VoIP VoIP VoIP VoIP

D

el

ay

(m

s)

(20)

JETri

, Volume 7, Nomor 1, Agustus 2007, Halaman 41-64, ISSN 1412-0372

Tabel 9. Persentase Paket Loss Pada Semua Jenis Trafik

JENIS TRAFIK

LOSS RATE (%)

1 Mbps 512 Kbps 128 Kbps

FIFO CBQ FIFO CBQ FIFO CBQ

VoIP 1 5,36 0 22,84 0 38,46 0

VoIP 2 0,67 0 2,27 0 16,52 0

VoIP 3 1,73 0 7 0 22,65 0

VoIP 4 3,46 0 11,39 0 29,25 0

HTTP 1 3,95 0 11,11 6,71 19,44 46,51

HTTP 2 1,99 0 9,7 6,57 26,76 45,45

HTTP 3 2,87 0 9,3 6,78 51,61 34,21

FTP 1 3,36 0 9,06 3,21 36,84 45,16

FTP 2 3,03 0 9,3 3,21 43,48 41,94

TELNET 1 10,53 0 26,3 0 66,67 0

(21)

Suhartati Agoes & Adi Putranto , Simulasi Kualitas Pelayanan VoIP Menggunakan Metode Antrian

Sebaliknya pada metode antrian CBQ, paket-paket VoIP diantrikan pada buffer parallel yang terpisah dengan paket-paket HTTP, FTP, dan TELNET.

Selain itu ketika terjadi kongesti pada jaringan, paket-paket VoIP lebih diutamakan karena diberikan prioritas yang lebih tinggi dibandingkan paket-paket lainnya.

Untuk paket-paket HTTP dan FTP yang bukan merupakan traffic real time, packet loss tidak terlalu menjadi masalah karena menggunakan TCP yang mempunyai mekanisme retransmisi packet.

9. Analisis Qos Dengan E-Model Dan Mos

Berdasarkan rumus (2) diperoleh nilai Id sesuai dengan Tabel 10.

berikut ini.

Tabel 10. Nilai Id untuk masing-masing saluran VoIP

Bandwidth Antrian Delay satu arah ( ms ) Nilai Id

1 Mbps

FIFO 181,4319 4,8089

CBQ 104,6621 2,5119

512 Kbps

FIFO 246,1223 13,4774

CBQ 109,4289 2,6263

128 Kbps

FIFO 374,1728 30,6362

CBQ 137,1956 3,2927

Berdasarkan persamaan (3) didapat nilai Ief sesuai dengan Tabel 11.

(22)

JETri

, Volume 7, Nomor 1, Agustus 2007, Halaman 41-64, ISSN 1412-0372

Tabel 11. Nilai Ief untuk masing-masing saluran VoIP

Bandwidth Antrian Persentase Paket Loss Nilai Ief

1 Mbps

FIFO 2,81 20,8932

CBQ 0 11

512 Kbps

FIFO 10,87 40,4371

CBQ 0 11

128 Kbps

FIFO 26,72 63,0302

CBQ 0 11

Besar nilai R masing-masing saluran sesuai persamaan (1) dan nilai estimasi MOS yang sesuai ditunjukkan pada Tabel 12.

Tabel 12. Nilai Estimasi MOS untuk masing-masing saluran

Bandwidth Antrian Nilai R MOS

1 Mbps

FIFO 68,4979 3,5258

CBQ 80,6881 4,0497

512 Kbps

FIFO 40,2855 2,0780

CBQ 80,5737 4,0455

128 Kbps

FIFO 0,5337 0,9966

(23)

Suhartati Agoes & Adi Putranto , Simulasi Kualitas Pelayanan VoIP Menggunakan Metode Antrian

Sedangkan grafik dari nilai estimasi MOS masing-masing saluran ditunjukkan oleh Gambar 8.

Gambar 8. Grafik Nilai Estimasi MOS

Berdasarkan Gambar 8, hasil simulasi FIFO memberikan nilai MOS dibawah nilai 4. Sebaliknya penggunaan metode QoS pada VoIP dengan metode CBQ dapat memberikan nilai MOS untuk semua kapasitas saluran diatas nilai 4.

Walaupun masih dibawah kualitas suara pada PSTN dengan nilai MOS berkisar antara 4,5 – 4,7.

Jadi secara umum, penggunaan metode CBQ dalam hal pengaplikasian VoIP pada kapasitas jaringan yang bervariasi sangatlah berguna.

Nilai MOS 3.5258 4.0497 2.078 4.0455 0.9966 4.0205

(24)

JETri

, Volume 7, Nomor 1, Agustus 2007, Halaman 41-64, ISSN 1412-0372

10. Kesimpulan

Dari simulasi yang telah dilakukan dapat disimpulkan beberapa hal berikut ini:

1. Penggunaan metode antrian Class Based Queuing (CBQ) pada jaringan

simulasi mampu memberikan karakteristik delay yang jauh lebih baik daripada metode FIFO. Metode antrian CBQ mampu memenuhi syarat delay maksimum dibawah 150 ms sesuai dengan rekomendasi G.114. 2. Pada saluran dengan trafik sibuk serta terdiri dari berbagai macam

paket, metode CBQ memberikan delay antrian yang lebih baik dan relatif konstan untuk trafik VoIP daripada metode antrian FIFO. Ini disebabkan oleh pemberian prioritas pada paket VoIP dan penempatan paket VoIP pada buffer yang independen.

3. Metode CBQ pada VoIP berhasil menghilangkan loss paket VoIP pada

semua kapasitas saluran, sedangkan pada metode FIFO masih terjadi loss paket VoIP.

4. Pada topologi jaringan dan skenario yang disimulasikan, metode CBQ

layak digunakan dalam mengaplikasikan layanan VoIP karena menghasilkan nilai MOS diatas 4 yang berarti kualitas suara yang dihasilkan baik.

Daftar Pustaka

1. Cisco Interactive Mentor. 2000. VoIP Quality of Service. Cisco

System.

2. Cole, R. G and Rosenbluth, J.H. 2000. Voice over IP Performance Monitoring. AT& T Laboratories,USA.

3. Floyd, Sally and Jacobson, V. vol. 3 no.4, August 95. Link Sharing and Resource Management Models for Packet Networks, IEEE/ACM Transactions on Networking.

4. Semeria, Chuck. 2001. Supporting Differentiated Service Classes:

Queue Scheduling Disciplines. Juniper Networks Whitepaper

5. ITU-T Recommendation G.114. Jan 2003. One Way Transmission

Gambar

Tabel 1. Batasan delay menurut rekomendasi ITU-T G.114 (ITU-T Recommendation, 2003: No Page)
Tabel 2. Standar Nilai MOS
Tabel 3. Hubungan Nilai R dengan Nilai MOS
Tabel 4. Fixed Network Delay
+7

Referensi

Dokumen terkait

Pada tulisan ini, diuraikan karakteristik pasta TiO 2 suhu rendah untuk aplikasi sel surya berbasis dye-sensitized yang dipreparasi dengan penambahan serbuk TiO2

[r]

O 2006 Performance and haematological characteristics of weaner pigs fed wild sunflower (Tithonia diversifolia hemsl A Gray) leaf meal Journal of Animal and Veterinary Advances

Pertukaran Sosial Tim Pemenangan dengan Warga Sesuai beberapa tujuan dari penelitian ini maka akan dijelaskan satu persatu bagaimana pertukaran sosial yang dilakukan tim

Persentase Rekomendasi Kebijakan Bidang Pengembangan Usaha BUMN, Riset dan Inovasi yang diterima Menko Perekonomian merupakan indikator kebijakan yang dihasilkan serta menunjukkan

Bank Sampah Karya Mandiri di RW 02 Kelurahan Joglo, Kembangan, Jakarta Barat, mendapatkan bantuan dari PT Sumber Alfaria Trujaya Tbk (SAT) pengelola jaringan Alfamart Alfamidi

Swab, pus (cairan pada nanah/luka) : ketepatan sampel yang diambil, sterilitas bahan pembantu dan lingkungan.. Sampel yang diambil haruslah sampel yang sesuai/tepat

Kebutuhan Institusi di berbagai unit kerja diharapkan membuat Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada berusaha semaksimal mungkin dalam mencapai kinerja yang diharapkan. Hal