• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II KAJIAN PUSTAKA"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

7 2.1 Kajian Teori

2.1.1 Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) untuk SD/MI

Pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI) dijelaskan bahwa Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) berhubungan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, atau prinsip-prinsip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta prospek pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari. Proses pembelajarannya menekankan pada pemberian pengalaman langsung untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan IPA diarahkan untuk inkuiri dan berbuat sehingga dapat membantu peserta didik untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar.

IPA diperlukan dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan manusia melalui pemecahan masalah-masalah yang dapat diidentifikasikan. Penerapan IPA perlu dilakukan secara bijaksana agar tidak berdampak buruk terhadap lingkungan. Di tingkat SD/MI diharapkan ada penekanan pembelajaran Salingtemas (Sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat) yang diarahkan pada pengalaman belajar untuk merancang dan membuat suatu karya melalui penerapan konsep IPA dan kompetensi bekerja ilmiah secara bijaksana.

Pembelajaran IPA sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah (scientific inquiry) untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta mengkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup. Oleh karena itu pembelajaran IPA di SD/MI menekankan pada pemberian pengalaman

(2)

belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah.

Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) IPA di SD/MI merupakan standar minimum yang secara nasional harus dicapai oleh peserta didik dan menjadi acuan dalam pengembangan kurikulum di setiap satuan pendidikan.Pencapaian SK dan KD didasarkan pada pemberdayaan peserta didik untuk membangun kemampuan, bekerja ilmiah, dan pengetahuan sendiri yang difasilitasi oleh guru.

2.1.1.1 Tujuan Mata Pelajaran IPA di SD/MI

Mata Pelajaran IPA di SD/MI bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut: 1) Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan Yang Maha Esa berdasarkan keberadaan, keindahan dan keteraturan alam ciptaan-Nya. 2) Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. 3) Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positip dan kesadaran tentang adanya hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi dan masyarakat. 4) Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan. 5) Meningkatkan kesadaran untuk berperanserta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam. 6) Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan. 7) Memperoleh bekal pengetahuan, konsep dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk melanjutkan pendidikan ke SMP/MTs.

2.1.1.2 Ruang Lingkup IPA SD

Ruang Lingkup bahan kajian IPA untuk SD/MI meliputi aspek-aspek berikut: 1) Makhluk hidup dan proses kehidupan, yaitu manusia, hewan, tumbuhan dan interaksinya dengan lingkungan, serta kesehatan. 2) Benda/materi, sifat-sifat dan kegunaannya meliputi: cair, padat dan gas. 3) Energi dan perubahannya meliputi: gaya, bunyi, panas, magnet, listrik, cahaya dan pesawat

(3)

sederhana. 4) Bumi dan alam semesta meliputi: tanah, bumi, tata surya, dan benda-benda langit lainnya.

2.1.2 Media Pembelajaran

2.1.2.1 Pengertian Media Pembelajaran

Gerlach dan Ely dalam Arsyad dalam Hamdani (2010:243), mengatakan bahwa “media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap”.

Menurut Briggs dalam Hamdani (2010:243) “media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi pengajaran yang terdiri atas buku, tape recorder, kaset, video camera, video recorder, film, slide (gambar), foto, gambar, grafik, televisi, dan komputer”.

Sanjaya dalam Hamdani (2010:244) menyatakan bahwa “media pembelajaran meliputi perangkat keras yang dapat mengantarkan pesan dan perangkat lunak yang mengandung pesan. Media tidak hanya berupa alat atau bahan, tetapi juga hal-hal lain yang memungkinkan siswa memperoleh pengetahuan”.

Miarso dalam Rusman dkk (2011:170) mengemukakan bahwa “media pembelajaran adalah segala sesuatu yang digunakan untuk menyalurkan pesan serta dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan si belajar sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar yang disengaja, bertujuan, dan terkendali”.

Dari beberapa pendapat yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan menyampaikan pesan, dapat merangsang fikiran, perasaan, dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri siswa.

(4)

2.1.2.2 Fungsi Media Pembelajaran

Dalam proses pembelajaran, media memiliki fungsi sebagai pembawa informasi dan sumber (guru) menuju penerima (siswa). Fungsi media dalam proses pembelajaran ditujukkan gambar 1 berikut.

Gambar 1. Fungsi Media dalam Proses Pembelajaran

Dalam interaksi antara siswa dan lingkungan fungsi media dapat diketahui berdasarkan kelebihan media dan hambatan yang mungkin timbul dalam proses pembelajaran. Gerlach dan Ely dalam Hamdani (2010), menjelaskan “tiga kelebihan kemampuan dari media pembelajaran adalah sebagai berikut”:

1. Kemampuan fiksatif, artinya dapat menangkap, menyimpan, dan menampilkan kembali suatu objek atau kejadian. Dengan kemampuan ini, objek atau kejadian dapat digambar, dipotret, direkam, difilmkan, kemudian disimpan, dan pada saat diperlukan dapat ditunjukkan dan diamati kembali seperti kejadian aslinya.

2. Kemampuan manipulatif, artinya media dapat menampilkan kembali objek atau kejadian dengan berbagai perubahan (manipulasi) sesuai keperluan, misalnya ukuran, kecepatan, warnanya diubah, serta dapat pula diulang-ulang penyajiannya. 3. Kemampuan distributif, artinya media dapat menjangkau audien

yang besar jumlahnya dalam satu kali penyajian secara serempak, misalnya siaran TV atau radio.

Sedangkan menurut Hamalik dalam Rusman dkk (2011:172) fungsi media pembelajaran yaitu: 1) untuk mewujudkan situasi pembelajaran yang efektif: 2) penggunaan media merupakan bagian integral dalam sistem pembelajaran; 3) media pembelajaran penting dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran; 4) penggunaan media dalam pembelajaran adalah untuk mempercepat proses pembelajaran dan membantu siswa dalam upaya memahami materi yang disajikan

METODE

(5)

oleh guru dalam kelas; 5) penggunaan media dalam pembelajaran dimaksudkan untuk mempertinggi mutu pendidikan.

2.1.2.3 Jenis-jenis Media Pembelajaran

Menurut Hamdani (2011:248) “media pembelajaran dikelompokkan menjadi tiga, yaitu media visual, media audio, dan media audio visual”. Media visual adalah media yang hanya bisa dilihat dengan menggunakan indra penglihatan. Media visual terdiri atas media yang tidak dapat diproyeksikan (non projected visuals) dan media yang dapat diproyeksikan (project visual). Media yang dapat diproyeksikan bisa berupa gambar diam (still pictures) atau bergerak (motion picture). Adapun media yang tidak dapat diproyeksikan adalah gambar yang disajikan secara fotografik, misalnya gambar tentang manusia, binatang, tempat, atau objek lainnya yang ada kaitannya dengan bahan atau isi pelajaran, yang akan disampaikan kepada siswa. Media yang diproyeksikan adalah media yang menggunakan alat proyeksi (proyektor) sehingga gambar atau tulisan tampak pada layar (screen).

Media audio adalah media yang mengandung pesan dalam bentuk auditif (hanya dapat didengar) yang dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemampuan para siswa untuk mempelajari bahan ajar. Program kaset suara dan program radio adalah bentuk media audio. Penggunaan media audio dalam pembelajaran pada umumnya untuk menyampaikan materi pelajara tentang mendengarkan.

Media audio visual merupakan kombinasi audio dan visual atau bisa disebut media pandang dengar. Audio visual akan menjadikan penyajian bahan ajar kepada siswa semakin lengkap dan optimal. Selain itu, media ini dalam batas-batas tertentu dapat juga menggantikan peran dan tugas guru. Sebab, penyajian materi bisa diganti oleh guru, dan guru bisa beralih menjadi falisator belajar, yaitu memberikan kemudahan bagi para siswa untuk belajar. Contoh media audio visual, diantarnya program video atau televisi, video atau televisi instruksional, dan program slide suara (soundslide).

(6)

2.1.3 Video Pembelajaran

2.1.3.1 Pengertian Video Pembelajaran

Menurut Smaldino (2008:374) mengartikannya dengan “the storage of visuals and their display on television-type screen” (penyimpanan/perekaman gambar dan penanyangannya pada layar televisi).

Arsyad dalam Rusman (2011:218) mengemukakan ”video merupakan serangkaian gambar gerak yang disertai suara yang membentuk satu kesatuan yang dirangkai menjadi sebuah alur, dengan pesan-pesan didalamnya untuk ketercapaian tujuan pembelajaran yang disimpan dengan proses penyimpanan pada media pita dan disk”

Sedangkan menurut Rusman (2011:218) menyatakan “media video pembelajaran dapat digolongkan ke dalam jenis audio visual aids (AVA), yaitu jenis media yang selain mengandung unsur suara juga mengandung unsur gambar yang bisa dilihat”.

Heinich, Molenda, dan Russel dalam Rusman (2011:218) video diartikan sebagai berikut:

The primary meaning of video is the display of pictures on a television type screen (the latin word video literally means ”I see” Any media format that emplays a chatode-ray screen to present the picture portion of the massege can be reffered to as video

Apabila diterjemahkan dapat diartikan sebagai tampilan dari berbagai gambar dalam bentuk sebuah televisi atau sejenis layar. Dalam bahasa latin video diartikan sebagai ”Saya lihat (I see)”. Setiap format media yang mnggunakan sinar katoda untuk menampilkan bagian gambar dari sebuah pesan dapat dikategorikan sebagai video.

Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa video pembelajaran itu serangkaian gambar gerak yang disertai suara dengan pesan-pesan didalamnya untuk mencapi tujuan pembelajaran dan penayangannya melibatkan teknologi.

(7)

2.1.3.2 Karakteristik Video Pembelajaran

Smaldino (2008:311) mengemukakakan manfaat dan karakteristik lain dari media video atau film dalam meningkatkan efektifitas dan efesiensi proses pembelajaran, di antaranya adalah (1) mengatasi jarak dan waktu; (2) mampu menggambarkan peristiwa-peristiwa masa lalu secara realistis dalam waktu yang singkat; (3) dapat membawa siswa berpetualang dari negara satu ke negara lainnya, dan dari masa yang satu ke masa yang lain; (4) dapat diulang-ulang bila perlu untuk menambah kejelasan; (5) pesan yang disampaikannya cepat dan mudah diingat; (6) megembangkan pikiran dan pendapat para siswa; (7) mengembangkan imajinasi; (8) memperjelas hal-hal yang abstrak dan memberikan penjelasan yang lebih realistik; (9) mampu berperan sebagai media utama untuk mendokumentasikan realitas sosial yang akan dibedah di dalam kelas; (10) mampu berperan sebagai storyteller yang dapat memancing kreativitas peserta didik dalam mengekspresikan gagasannya.

Sanaky (2009:106) memberikan beberapa karakteristik media video sebagai media video pembelajaran, sebagai berikut: (1) gambar bergerak, yang disertai dengan unsur suara; (2) dapat digunakan untuk sekolah jarak jauh; (3) memiliki perangkat slow motion untuk memperlambat proses atau peristiwa yang berlangsung.

2.1.3.3 Kelebihan dan Kekurangan Video Pembelajaran

Video sangat cocok untuk mengajarkan materi ranah perilaku atau psikomotorik. Akan tetapi, video mungkin saja kehilangan detail dalam pemaparan materi karena siswa harus mampu mengingat detail dari scane ke scane. Belajar melalui video lebih mudah dibandingkan melalui teks sehingga mereka kurang terdorong untuk lebih aktif di dalam berinteraksi dengan materi. Video memaparkan keadaan real dari suatu proses, fenomena atau kejadian sehingga dapat memperkaya pemaparan.

Rusman dkk (2011:220) mengemukakan media video memiliki beberapa kelebihan, yaitu (1) memberi pesan yang dapat diterima secara lebih merata oleh siswa; (2) sangat bagus untuk menerangkan proses; (3) mengatasi keterbatasan

(8)

ruang dan waktu; (4) lebih realistis, dapat diulang dan dihentikan sesuai dengan kebutuhan; (5) memberikan kesan yang mendalam, yang dapat mempengaruhi sikap siswa.

Menurut Hamdani (2010:254) penggunaan multimedia dalam pendidikan memiliki beberapa kelebihan, yaitu :

(1) Sistem pembelajaran lebih inovatif dan interaktif; (2) guru akan selalu dituntut untuk kreatif inovatif dalam mencari terobosan pembelajaran; (3) mampu menggabungkan antara teks, gambar, audio, musik, animasi gambar atau video dalam satu kesatuan yang saling mendukung guna tercapinya tujuan pembelajaran; (4) mampu menimbulkan rasa senang selama proses PBM berlangsung. Hal ini akan menambah motivasi siswa selama proses PBM hingga didapatkan tujuan pembelajaran yang maksimal; (5) mampu memvisualisasi materi selama ini sulit untuk diterangkan hanya dengan penjelasan atau alat peraga yang konvensional; (6) media penyimpanan yang relatif gampang dan fleksibel.

Sedangkan menurut Smaldino, dkk (2011:411) video mempunyai keuntungan yaitu (1) ...Gambar-gambar bergerak memiliki keuntungan yang jelas daripada gambar diam dalam menampilkan konsep di mana gerakan sangatlah penting sekali untuk belajar (seperti kemampun motorik); (2) proses. Pengoperasian seperti tahapan proses perakitan atau percobaan ilmiah, di mana gerakan berurutan sangatlah penting. Bisa ditampilkan lebih efektif; (3) pengamatan yang bebas resiko. Video memungkinkan para siswa untuk mengamati fenomena yang mungkin saja terlalu berbahaya untuk dilihat secara langsung, seperti gerhana matahari, letusan gunung berapi atau suasana perang; (4) dramatisasi. Reka ulang yang dramatis bisa menghidupkan kepribadian dan kejadian berrsejarah. Mereka memungkinkan para siswa untuk mengamati dan menganalisis interaksi manusia; (5) pembelajaran keterampilan. Penelitian menindikasikan bahwa penguasaan keterampilan fisik mengharuskan pengamatan dan latihan berulang-ulang kali untuk bisa menyamai. Mereka bisa melihat video penampilan mereka sendiri untuk umpan balik dan perbaikan; (6) pembelajaran afektif. Karena potensi besarnya untuk dampak emosional, video bisa bermanfaat dalam pembentukan sikap personal dan sosial. Video dokumenter dan propaganda sering kali diketahui memiliki dampak terukur pada sikap hadirin; (7)

(9)

penyelesaian masalah. Dramatisasi yang berakhiran terbuka sering kali digunakan untuk menyajikan situasi tak terselesaikan, yang membuat para pemirsa mendiskusikan berbagai cara mengatasi masalah tersebut; (8) pemahaman budaya. Kita bisa mengembangkan apresiasi yang mendalam terhadap budaya orang lain dengan melihat penggambaran kehidupan sehari-hari dalam masyarakat lainnya; (9) membentuk kebersamaan. Dengan melihat program video bersama-sama, sebuah kelompok orang yang berbeda-beda bisa membangun dasar kesamaan pengalaman untuk membahas sebuah isu secara efektif.

Selain kelebihan, video pembelajaran juga memiliki kekurangan. Menurut Hamdani (2010:189) “kekurangan video yaitu memerlukan peralatan khusus dalam penyajian, memerlukan tenaga listrik, memerlukan keterampilan dan kerja tim dalam pembuatannya”. Sedangkan Smaldino, dkk (2011:412) menyatakan keterbatasan video antara lain : (1) ....Meskipun video bisa dihentikan dalam diskusi, ini tidak selalu dilakukan dalam penayangan untuk kelompok. Karena program ditayangkan dalam kecepatan yang tetap, beberapa pemirsa mungkin ketinggalan dan yang lainnya tidak sabar menunggu bagian selanjutnya; (2) orang-orang yang berbicara.Banyak video, terutama produksi setempat, sebagian besar terdiri dari penayangan orang-orang yang bicara dari jarak dekat. Video bukan merupakan sarana lisan yang hebat, ia merupakan sarana visual. Gunakan audio untuk pesan lisan; (3) fenomena yang diam. Meskipun video memiliki keuntungan bagi konsep yang melibatkan gerakan, ia mungkin tidak cocok bagi topik lain di mana kajian terperinci mengenai sebuah visual tunggal dilibatkan (misalnya peta, diagram); (4) salah penafsiran. Dokumenter dan dramatisasi sering kali menyajikan treatment sangat rumit dan canggih terhadap suatu isu. Sebuah penayangan yang dimaksudkan sebagai sebuah satire mungkin saja dipahami apa adanya oleh seorang pemirsa muda atau naif. Pemikiran-pemikiran dari seorang karakter utama mungkin ditafsirkan sebagai sikap dan nilai-nilai dari sang produsen; (5) pengajaran abstrak dan non visual. Video itu buruk dalam menyajikan informasi abstrak dan non visual. Sarana yang lebih disukai untuk kata-kata saja adalah teks. Filosofi dan matematika tidak cocok diajarkan dengan video kecuali konsep-konsep spesifik yang dibahas membutuhkan ilustrasi

(10)

menggunakan dokumentasi video (footage) bersejarah, representasi graik, atau pencitraan bergaya.

Kelemahan media video menurut Rusman (2011:221) antara lain : (1) jangkauannya terbatas; (2) sifat komunikasinya satu arah; (3) gambarnya relatif kecil; (4) kadang kala terjadi distrosi gambar dan warna akibat kerusakan atau gangguan magnetik.

2.1.4 Pembelajaran Kooperatif

2.1.4.1 Pengertian Pembelajaran Kooperatif

Smaldino dkk (2011:37), menyatakan bahwa belajar kooperatif merupakan “strategi pengelompokan di mana para siswa bekerja sama untuk saling mendapat keuntungan dari potensi belajar anggota lain”.

Menurut Hamdani (2010:30), “model pembelajaran kooperatif adalah rangkaian kegiatan belajar siswa dalam kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran yang dirumuskan”.

Wina Sanjaya dalam Hamdani (2010:30) menyatakan “pembelajaran kooperatif ini merupakan salah satu bentuk pembelajaran yang berdasarkan paham konstruktivis”.Dalam pembelajaran kooperatif diterapkan strategi belajar dengan sejumlah siswa sebagai anggota kelompok kecil yang tingkat kemampuannya berbeda. Dalam menyelesaikan tugas kelompoknya, setiap anggota kelompok harus saling bekerja sama dan saling membantu untuk memahami materi pelajaran. Dalam pembelajaran ini, belajar dikatakan belum selesai jika salah satu teman dalam kelompok belum menguasai bahan pelajaran.

Roger, dkk dalam Miftahul Huda (2011:29) menyatakan

cooperative learning is group learning activity organized in such a way that learning is based on the socially structured change of information between learners in group in which each learner in held accountable for his her own learning and is motivated to increase the learning of other.

Pembelajaran kooperatif merupakan aktivitas pembelajaran kelompok yang diorganisir oleh satu prinsip bahwa pembelajaran harus didasarkan pada perubahan informasi secara sosial diantara kelompok-kelompok pembelajar yang

(11)

didalamnya setiap pembelajar bertanggungjawab atas pembelajarannya sendiri dan didorong untuk meningkatkan pembelajaran anggota-anggota yang lain).

Davidson dalam Miftahul Huda (2011:30) mendefinisikan “pembelajaran kooperatif merupakan suatu konsep yang sebenarnya sudah ada sejak dulu dalam kehidupan sehari-hari. Konsep ini memang dikenal sangat penting untuk meningkatkan kerja kelompok, organisasi, dan perkumpulan manusia”.

Menurut Johnson dan Johnson dalam Miftahul Huda (2011:31) menyajikan definisi ringkas tentang pembelajaran kooperatif, menurutnya “pembelajaran kooperatif berarti working together to accomplish shared goals” (bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama).

Dari berbagai pendapat tentang pembelajaran kooperatif dapat ditarik kesimpulan, pembelajaran kooperatif yaitu suatu pembelajaran yang terdiri dari kelompok kecil dengan anggota kelompok yang kemampuannya beragam, saling bekerjasama untuk mencapai tujuan.

2.1.4.2 Ciri-ciri Pembelajaran Kooperatif

Beberapa ciri pembelajaran kooperatif menurut Hamdani (2010:31) adalah sebagai berikut:

(1) setiap anggota memiliki peran; (2) terjadi hubungan interaksi langsung diantara siswa; (3) setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas cara belajarnya dan juga teman-teman sekelompoknya; (4) guru membantu mengembangkan keterampilan-keterampilan interpersonal kelompok; (5) guru hanya berinteraksi dengan kelompok saat diperlukan.

Tiga konsep sentral karakteristik pembelajaran kooperatif, sebagaimana dikemukakan oleh Salvin dalam Hamdani (2010:32), yaitu “penghargaan kelompok, pertanggungjawaban individu, dan kesempatan yang sama untuk berhasil”.

Penghargaan kelompok, pembelajaran kooperatif menggunakan tujuan kelompok untuk memperoleh penghargaan kelompok. Penghargaan ini diperoleh jika kelompok mencapai skor di atas kriteria yang ditentukan. Keberhasilan kelompok didasarkan pada penampilan individu sebagai anggota kelompok dalam

(12)

menciptakan hubungan antar personal yang saling mendukung, membantu, dan peduli.

Pertanggungjawaban individu, keberhasilan kelompok bergantung pada pembelajaran individu dari semua anggota. Pertanggungjawaban tersebut menitik beratkan aktivitas anggota kelompok yang saling membantu dalam belajar. Adanya pertanggungjawaban secara individu juga menjadikan setiap anggota siap untuk menghadapi tes dan tugas-tugas lainya secara mandiri tanpa bantuan teman sekelompoknya.

Kesempatan yang sama untuk mencapai keberhasilan, pembelajaran kooperatif menggunakan metode skorsing yang mencakup nilai perkembangan berdasarkan peningkatan prestasi yang diperoleh siswa dari yang terdahulu. Dengan menggunakan metode skorsing ini siswa yang berprestasi rendah, sedang, atau tinggi sama-sama memperoleh kesempatan untuk berhasil dan melakukan yang terbaik bagi kelompoknya.

2.1.4.3 Tujuan Pembelajaran Kooperatif

Menurut Slavin dalam Hamdani (2010:32), “tujuan pembelajaran kooperatif berbeda dengan kelompok tradisional yang menerapkan sistem kompetensi, yaitu keberhasilan individu diorientasikan pada kegagalan orang lain”. Tujuan pembelajaran kooperatif adalah menciptakan situasi, yaitu keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompok. Model pembelajaran kooperatif ini dikembangkan untuk mencapi tiga tujuan pembelajaran penting yang dirangkum oleh Ibrahim, yaitu sebagai berikut.

Yang pertama hasil belajar akademik, dalam belajar kooperatif selain mencakup beragam tujuan sosial, juga memperbaiki prestasi siswa atau tugas-tugas akademik penting lainnya. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep sulit. Para pengembang model ini menunjukkan bahwa model strukstur penghargaan kooperatif dapat meningkatkan nilai siswa pada belajar akademik, dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar. Disamping itu, pelajaran kooperatif dapat

(13)

memberi keuntungan, baik kepada kelompok siswa bawah maupun kelompok siswa atas, yang bekerjasama menyelesaikan tugas-tugas akademik.

Yang kedua penerimaan terhadap perbedaan individu, tujuan lain model pembelajaran kooperatif adalah penerimaan secara luas dari siswa-siswa yang berbeda berdasarkan ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, dan tidak kemampuannya. Pembelajaran kooperatif memberi peluang bagi siswa dari berbagai latar belakang dan kondisi untuk bekerja dengan saling bergantung pada tugas-tugas akademik dan struktur penghargaan kooperatif akan belajar saling menghargai satu sama lain.

Yang ketiga pengembangan keterampilan sosial, tujuan pengembangan keterampilan sosial adalah mengajarkan pada siswa keterampilan berkerjasama dan berkolaborasi. Keterampilan-keterampilan sosial penting dimiliki oleh siswa sebab banyak diantara mereka yang keterampilan sosialnya masih kurang.

Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa tujuan dari penerapan model pembelajaran kooperatif mempunyai tiga tujuan penting, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keberagaman, pengembangan keterampilan kooperatif. Keberhasilan individu sangat ditentukan oleh keberhasilan kelompok. 2.1.4.4 Keterampilan Kooperatif

Pembelajaran kooperatif tidak hanya mempelajari materi, tetapi siswa juga harus mempelajari keterampilan-keterampilan khusus yang disebut kemampuan kooperatif. Hamdani (2010:33) mengemukakan kemampuan kooperatif tersebut sebagai berikut :

Pertama, Keterampilan kooperatif tingkat awal: (1) menggunakan kesepakatan yaitu menyamankan pendapat yang berguna untuk meningkatkan hubungan kerja dalam kelompok; (2) menghargargai konstribusi, yaitu memerhatikan atau mengenal apa yang dapat dikatakan atau dikerjakan anggota lain. Hal ini berarti siswa harus selalu setuju dengan anggota lain, dan kritik yang dapat saja ditujukan terhadap ide dan tidak individu; (3) mengambil giliran dan berbagi tugas yaitu setiap anggota kelompok bersedia menggantikan dan mengemban tugas atau tanggung jawab tertentu dalam kelompok; (4) berada

(14)

dalam kelompok, yaitu setiap anggota tetap dalam kelompok kerja selama kegiatan berlangsung; (5) berada dalam tugas, yaitu meneruskan tugas yang menjadi tanggung jawabnya agar kegiatan dapat diselesaikan sesuai waktu yang ditentukan; (6) mendorong partisipasi, yaitu mendorong semua anggota kelompok untuk memberi kontribusi terhadap tugas kelompok; (7) mengundang orang lain, yaitu meminta orang lain untuk berbicara dan berpartisipasi terhadap tugas; (8) menyelesaikan tugas dalam waktunya; (9) menghormati perbedaan individu, yaitu bersikap menghormati budaya, suku, ras, atau pengalaman siswa.

Kedua keterampilan tingkat menengah, meliputi menunjukkan penghargaan dan simpati, mengungkapkan ketidaksetujuan dengan cara dapat diterima, mendengarkan dengan arif, bertanya, membuat ringkasan, menafsirkan, mengorganisasi, dan mengurangi ketegangan.

Ketiga keterampilan tingkat mahir, meliputi mengelaborasi, memeriksa dengan cermat, menanyakan kebenaran, menetapkan tujuan dan berkompromi. 2.1.5 Pembelajaran Index Card Match Berbantuan Video Pembelajaran 2.1.5.1 Pengertian Pembelajaran Index Card Match

Menurut Agus Suprijono (2009:120) “Index Card Match merupakan metode “mencari pasangan kartu” cukup menyenangkan digunakan untuk mengulangi materi pembelajaran yang telah diberikan sebelumnya”.

Silberman (2007:240), “Index Card Matchadalah cara menyenangkan lagi aktif untuk meninjau ulang materi pelajaran, ia membolehkan peserta didik untuk berpasangan dan memainkan kuis dengan kawan sekelas.”

Menurut Erni Emiyanti (2011:26) “metode Index Card Match (mencari pasangan jawaban) yaitu suatu cara yang digunakan pendidik dengan maksud mengajak peserta didik untuk menemukan jawaban yang cocok dengan pertanyaan yang sudah disiapkan”.

Menurut Hisyam Zaini (2008:66) “metode Index Card Match merupakan metode pembelajaran yang cukup menyenangkan yang digunakan guru dengan catatan, peserta didik diberi tugas mempelajari topik yang akan diajarkan terlebih dahulu, sehingga ketika masuk kelas sudah memiliki bekal pengetahuan”.

(15)

Dari beberapa pendapat yang telah diuraikan dapat disimpulkan metode Index Card Match adalah metode pembelajaran menggunakan kartu untuk mencari pasangan soal dan jawaban yang paling tepat dalam suasana belajar yang menyenangkan.

2.1.5.2 Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Index Card Match

Setiap metode memiliki kelebihan dan kekurangan. Menurut Zaini (2008:69) metode Index Card Match mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan yaitu sebagai berikut: (1) dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa, baik secara kognitif maupun fisik; (2) karena terdapat unsur permainan, metode ini menyenangkan; (3) meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari; (4) efektif sebagai sarana melatih keberanian siswa; (5) efektif melatih kedisiplinan siswa dalam menghargai waktu untuk belajar.

Handayani dalam Sari (2012:17) menyatakan bahwa terdapat kelebihan pembelajaran Index Card Match yaitu: (1) menumbuhkan kegembiraan dalam kegitan belajar mengajar; (2) materi pelajaran yang disampaikan lebih menarik perhatian siswa; (3) mampu menciptakan suasana belajar yang aktif dan menyenangkan; (4) mampu meningkatkan hasil belajar siswa mencapai taraf ketuntasan belajar; (5) penilaian dilakukan bersama pengamat dan pemain.

Adapun kelemahan dari Index Card Match menurut Zaini (2008:69) yaitu sebagai berikut (1) jika guru tidak merancang dengan baik, maka banyak waktu yang akan terbuang; (2) jika guru tidak mengarahkan siswa dengan baik, pada saat siswa membacakan kartunya banyak siswa yang kurang memperhatikan yang akan menjadikan suasana menjadi ramai; (3) menggunakan metode Index Card Match secara terus menerus akan menimbulkan kebosanan; (4) metode ini terkendala dilakukan jika jumlah siswa tidak genap.

Handayani dalam Sari (2012:17) juga menambahkan kelemahan dari Index Card Match yaitu: (1) membutuhkan waktu yang lama bagi siswa untuk menyelesaikan tugas dan presentasi; (2) guru harus meluangkan waktu yang lebih; (3) lama untuk membuat persiapan; (4) guru harus memiliki jiwa demokratis dan ketrampilan yang memadai dalam hal pengelolaan kelas; (5) menuntut sifat

(16)

tertentu dari siswa atau kecenderungan untuk bekerja sama dalam menyelesaikan masalah; (6) suasana kelas menjadi “gaduh” sehingga dapat mengganggu kelas lain.

2.1.5.3 Langkah-Langkah Pembelajaran Index Card Match

Menurut pendapat Agus Suprijono (2009:120) langkah-langkah pembelajaran Index Card Match adalah sebagai berikut:

1. Buatlah potongan-potongan kertas sebanyak jumlah siswa yang ada di dalam kelas.

2. Bagilah kertas-kertas tersebut menjadi dua bagian yang sama.

3. Pada separuh bagian, tulis pertanyaan tenatang materi yang akan dibelajarkan. Setiap kertas berisi satu pertanyaan.

4. Pada separuh kertas yang lain, tulis jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang telah dibuat.

5. Kocoklah semua kertas sehingga akan tercampur antara soal dan jawaban. 6. Setiap siswa diberi satu kertas. Jelaskan bahwa ini adalah aktivitas yang

dilakukan berpasangan. Sebagian siswa akan mendapatkan soal dan sebagian yang lain akan mendapatkan jawaban.

7. Mintalah kepada siswa untuk menemukan pasangan mereka. Jika ada yang sudah menemukan pasangan, mintalah kepada mereka untuk duduk berdekatan. Jelaskan juga agar mereka tidak memberitahu materi yang mereka dapatkan kepada teman yang lain.

8. Setelah semua siswa menemukan pasangan dan duduk berdekatan, mintalah kepada setiap pasangan secara bergantian untuk membacakan soal yang diperoleh dengan keras kepada teman-temannya yang lain. Selanjutnya soal tersebut dijawab oleh pasangannya.

9. Akhiri proses ini dengan membuat klarifiskasi dan kesimpulan

Sedangkan menurut Silberman (2006:250) mengemukakan langkah-langkah pembelajaran dengan Index Card Matchini adalah :

(17)

1. Pada kartu indeks yang terpisah, tulislah pertanyaan tentang apapun yang diajarkan di kelas. Buatlah kartu pertanyaan dengan jumlah yang sama dengan setengah jumlah siswa.

2. Pada kartu yang terpisah, tulislah jawaban atau masing-masing pertanyaan itu.

3. Campurkan dua kumpulan kartu itu dan kocoklah beberapa kali agar benar-benar tercampur aduk.

4. Berikan satu kartu untuk setiap siswa. Jelaskan bahwa ini merupakan latihan pencocokan. Sebagian siswa mendapatkan pertanyaan tinjauan dan sebagian lagi mendapatkan kartu jawabannya.

5. Perintahkan siswa untuk mencari kartu pasangan mereka. Bila sudah terbentuk pasangan, perintahkan siswa yang berpasangan itu untuk mencari tempat duduk bersama (katakan pada mereka untuk tidak mengungkapkan kepada pasangan lain apa yang ada di kartu mereka).

6. Bila pasangan yang cocok telah duduk bersama, guru memanggil siswa secara acak untuk membacakan soal tiap pasangan untuk memberikan kuis kepada siswa lain dengan membacakan pertanyaan mereka dan menantang siswa lain untuk memberikan jawabannya.

2.1.5.4 Sintaks Pembelajaran Index Card Match Berbantuan Video Pembelajaran

Sintaks atau langkah-langkah Pembelajaran Index Card Matchberbantuan video pembelajaran yang dipakai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut

1. Guru menyajikan materi yang disertai dengan penayangan video yang terkait dengan materi

2. Guru dan siswa bertanya jawab mengenai materi yang telah disajikan

3. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep pembelajaran, sebaliknya satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban

4. Setiap siswa mendapat satu buah kartu (sebagian siswa memegang kartu soal dan sebagian siswa memegang kartu jawaban)

(18)

6. Setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal jawaban)

7. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin

8. Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya, demikian seterusnya

9. Guru bersama siswa membuat kesimpulan 10. Guru mengadakan evaluasi

2.1.6 Pembelajaran Numbered Heads Together Berbantuan Video Pembelajaran

2.1.6.1 Pengertian Numbered Heads Together

Menurut Hamdani (2010:89) “Numbered Heads Together adalah metode belajar dengan cara setiap siswa diberi nomor dan dibuat suatu kelompok, kemudian diacak, guru memanggil nomor dari siswa”.

Menurut Trianto (2007:62) “Numbered Head Together(NHT) atau Penomeran berfikir bersama adalah jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan sebagai alternatif terhadap struktur kelas tradisional”.

Berdasarkan dua pendapat yang telah diuraikan dapat disimpulkan Numbered Heads Togetheradalah metode pembelajaran dengan cara memberikan nomor kepada setiap siswa untuk mengaktifkan siswa untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran tertentu.

2.1.6.2 Kelebihan dan Kekurangan Numbered Heads Together

Numbered Heads Together mempunyai kelebihan, menurut Hamdani (2010:90) kelebihan metode ini adalah (1) setiap siswa menjadi siap semua; (2) siswa dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh; (3) siswa yang pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai.

Adapun kelemahan dari Numbered Heads Togetheryaitu (1) kemungkinan nomor yang dipanggil akan dipanggil lagi oleh guru; (2) tidak semua anggota kelompok dipanggil oleh guru.

(19)

2.1.6.3 Langkah-Langkah Pembelajaran Numbered Heads Together

Menurut Agus Suprijono (2009:92) mengemukakan bahwa “pembelajaran dengan menggunakan metode Numbered Heads Together diawali dengan Numbering”. Guru membagi kelas menjadi kelompok-kelompok kecil. Jumlah kelompok sebaiknya mempertimbangkan jumlah konsep yang dipelajari. Jika jumlah peserta didik dalam satu kelas terdiri dari 40 orang dan terbagi menjadi 5 kelompok berdasarkan jumlah konsep yang dipelajari, maka tiap kelompok terdiri 8 orang. Tiap-tiap orang dalam tiap-tiap kelompok diberi nomor 1-8.

Setelah kelompok terbentuk guru mengajukan beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh tiap-tiap kelompok. Berikan kesempatan kepada tiap-tiap kelompok menemukan jawaban. Pada kesempatan ini tiap-tiap kelompok menyatukan kepalanya “Heads Together” berdiskusi memikirkan jawaban atas pertanyaan dari guru.

Langkah berikutnya adalah guru memanggil peserta didik yang memiliki nomor yang sama dari tiap-tiap kelompok. Mereka diberi kesempatan memberi jawaban atas pertanyaan yang telah diterimanya dari guru. Hal itu dilakukan terus hingga semua peserta didik dengan nomor yang sama dari masing-masing kelompok mendapat giliran memaparkan jawaban atas pertanyaan guru. Berdasarkan jawaban-jawaban itu guru dapat mengembangkan diskusi lebih mendalam, sehingga peserta didik dapat menemukan jawaban pertanyaan itu sebagai pengetahuan yang utuh.

Trianto (2007:62) berpendapat Numbered Heads Together (NHT) atau penomoran berpikir bersama Dalam mengajukan pertanyaan kepada seluruh kelas, guru menggunakan empat fase sebagai sintaks NHT:

Fase 1: penomoran, dalam fase ini guru membagi siswa ke dalam kelompok 3-5 orang dan kepada setiap anggota kelompok diberi nomor antara 1-5

Fase 2: mengajukan pertanyaan, guru mengajukan sebuah pertanyaan kepada siswa. Pertanyaan dapat bervariasi. Pertanyaan dapat amat spesifik dan dalam bentuk kalimat tanya. Misalnya, “Berapakah jumlah gigi orang dewasa?” atau berbentuk arahan, misalnya “Pastikan setiap orang mengetahui 5 buah ibu kota propinsi yang terletak di Pulau Sumatera.”

(20)

Fase 3: Berfikir bersama, siswa menyatukan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan itu dan meyakinkan tiap anggota dalam timnya mengetahui jawaban tim.

Fase 4: menjawab, guru memanggil suatu nomor tertentu, kemudian siswa yang nomornya sesuai mengacungkan tangannya dan mencoba menjawab pertanyaan untuk seluruh kelas.

Sedangkan menurut Hamdani (2010:90) mengemukakan langkah-langkah Numbered Heads Togethersebagai berikut :

1. Siswa dibagi dalam kelompok dan setiap siswa dalam kelompok mendapat nomor.

2. Guru memberikan tugas dan tiap-tiap kelompok disuruh untuk mengerjakannya.

3. Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan bahwa setiap anggota kelompok dapat mengerjakannya.

4. Siswa lain diminta untuk memberi tanggapan, kemudian guru menunjuk nomor lain.

5. Kesimpulan.

2.1.6.4 Sintaks Pembelajaran Numbered Heads Together Berbantuan Video Pembelajaran

Sintaks atau langkah-langkah Pembelajaran Numbered Heads Together berbantuan video pembelajaran yang dipakai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut

1. Guru menyajikan materi yang disertai dengan penayangan video yang terkait dengan materi

2. Guru dan siswa bertanya jawab mengenai materi yang telah disajikan

3. Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor

4. Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya 5. Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota

(21)

6. Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka

7. Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain 8. Guru bersama siswa membuat kesimpulan

9. Guru mengadakan evaluasi 2.1.7 Hasil Belajar IPA

2.1.7.1 Pengertian Hasil Belajar

Slameto dalam Hamdani (2010:20) menyatakan bahwa “belajar adalah suatu proses yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.

Menurut Dimyati dan Mudjiono (2006:3), hasil belajar merupakan “hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru, tindakan mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar, dari sisi siswa hasil belajar merupakan puncak proses belajar”.

Menurut Oemar Hamalik (2006:30) “hasil belajar adalah bila seseorang telah belajar akan terjadi perubahan tingkah laku pada orang tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti menjadi mengerti”.

Menurut Slameto dalam Hamdani (2010:20) “secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan yaitu perubahan dalam tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya”.

Menurut Agus Suprijono (2009:7) “hasil belajar adalah perubahan prilaku secara keseluruhan sehingga bukan hanya salah satu aspek potensi kemanusiaan saja”.

Dari pendapat yang telah diuraikan dapat disimpulkan bahwa hasil belajar merupakan hasil akhir dari proses kegiatan belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran di kelas dan menerima suatu pelajaran untuk mencapai kompetensi yang berupa aspek kognitif yang diungkapkan dengan menggunakan suatu alat penilaian yaitu tes evaluasi dengan hasil yang dinyatakan dalam bentuk nilai, aspek afektif yang menunjukkan sikap siswa dalam mengikuti pembelajaran, dan

(22)

aspek psikomotori yang menunjukkan keterampilan dan kemampuan bertindak siswa dalam mengikuti pembelajaran.

2.1.7.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar

Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar banyak jenisnya, tetapi dapat digolongkan menjadi dua golongan saja, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Slameto (2010:54), “faktor intern adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar. Faktor intern dikelompokkan menjadi tiga faktor yaitu : faktor jasmaniah, faktor psikologis, faktor kelelahan”. Slameto (2010:60), “faktor ekstern adalah faktor yang ada di luar diri individu. Faktor ekstern dikelompokkan menjadi tiga faktor yaitu: faktor keluarga, faktor sekolah dan faktor masyarakat”.

Sudjana (2010:39) mengemukakan bahwa “faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar ada dua yaitu faktor dari dalam dan dari luar atau faktor lingkungan”. Faktor yang datang dari dalam diri siswa terutama kemampuan yang dimilikinya. Faktor kemampuan siswa besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai. Disamping faktor kemampuan yang dimiliki siswa juga ada faktor lain, seperti motivasi belajar, minat dan perhatian, sikap dan kebiasaan belajar, ketekunan, sosial ekonomi, faktor fisik dan psikis.

Jadi dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi hasil belajar ada dua yaitu dari intern dan ekstern. Faktor intern berasal dari dalam diri siswa, faktor ekstern bisan berasal dari keluarga, lingkungan dan masyarakat.

2.1.7.3 Ranah Hasil Belajar IPA

Sudjana (2010:23), dalam sistem pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan kurikuler maupun tujuan instruksional, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari Benyamin Bloom yang secara garis besar membaginya menjadi tiga ranah, yaitu: 1) Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari enam aspek, yakni pengetahuan atau ingatan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Kedua aspek pertama disebut kognitif tingkat rendah dan keempat aspek berikutnya termasuk kognitif tingkat tinggi; 2) Ranah afektif berkenaan dengan sikap yang terdiri dari lima aspek, yakni penerimaan, jawaban atau reaksi, penilaian, organisasi, dan internalisasi; 3)

(23)

Ranah psikomotor berkenaan dengan hasil belajar keterampilan dan kemampuan bertindak. Ada enam aspek ranah psikomotor, yakni gerakan reflek, keterampilan gerakan dasar, kemampuan perseptual, keharmonisan atau ketepatan, gerakan keterampilan komplek, dan gerakan ekspresif dan interpretatif.

Hasil belajar IPA yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hasil belajar kognitif siswa setelah diberikan treatmentberupa pembelajaran Index Card Match berbantuan video pembelajaran dan pembelajaran Numbered Heads Together berbantuan video pembelajaran.

2.2 Hasil Penelitian yang relevan

Penelitian Gatut Saputro (2011) dalam penelitiannya yang berjudul Penerapan model pembelajaran index card match untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar IPA siswa kelas III SDN Begendeng 3 Kabupaten Nganjuk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran index card match untuk pembelajaran IPA siswa kelas III SDN Begendeng 3 dengan kompetensi dasar mendeskripsikan kenampakan permukaan bumi di lingkungan sekitar dapat dilaksanakan dengan efektif. Hal ini ditunjukkan dengan adanya perolehan skor aktivitas siswa selama pembelajaran IPA dengan menerapkan model pembelajaran index card match. Pada siklus I diperoleh skor 66,95 meningkat menjadi 84,71 pada siklus II. Hasil belajar juga meningkat dari rata-rata 59,2 dan ketuntasan kelas 58,33% pada siklus I menjadi rata-rata-rata-rata 70,83 dan ketuntasan kelas mencapai 83,33% pada siklus II.

Penelitian Prayoga Dwi Jatmiko (2010) dengan judul Pengaruh Pemanfaatan Video Pembelajaran Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Mata Pelajaran IPA Kelas IV Semester II di SDN I dan III Tasik Madu Trenggalek. Pada penelitian ini menggunakan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Pada kelompok eksperimen diberi treatment yaitu pembelajaran dengan menggunakan video pembelajaran, sedangkan kelompok kontrol tidak menggunakan video pembelajaran. Berdasarkan perhitungan analisis data yang dilakukan dengan menggunakan uji t diperoleh hasil t hitung > dari t tabel yaitu 3,343 > 2,11. Hal ini berarti Hₒ diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil

(24)

belajar siswa menggunakan media video berbeda (lebih baik) dibandingkan hasil belajar siswa yang tidak menggunakan media video pembelajaran pada mata pelajaran IPA di kelas IV SDN I dan III Tasik madu Trenggalek. Hal ini dapat diketahui dari nilai jumlah skor dari masing-masing kelas yaitu, 1650 pada kelompok eksperimen dan 1510 pada kelompok kontrol sedangkan dari nilai rata-rata hasil belajar dari masing-masing kelas yaitu 86,84 pada kelompok eksperimen dan 79,47 pada kelompok kontrol pada taraf signifikan 0,05.

Penelitian yang dilakukan oleh Frisca Yulian Sari tahun 2012 dengan judul Efektivitas penggunaan Index Card Match (ICM) dalam pembelajaran IPA siswa kelas V SD Negeri 02 Kemloko kecamatan Godong Kabupaten Grobogan Semester II Tahun Pelajaran 2011/2012. Dari hasil pengujian Independent Samples T-Test pada penelitian ini menunjukkan bahwa diperoleh nilai t hitung 2,102 dengan nilai signifikasnsi sebesar 0,040. Dengan pengujian 2-tailed maka df 56 pada taraf nyata = 0,05 dikethaui t tabel sebesar 2.003. Hasil tersebut menunjukkan bahwa t hitung lebih besar dari pada t tabel. Oleh karena t hitung > t tabel (2,102 > 2,003) dan signifikansi 0,040 < 0,05, maka H0 ditolak. Perbedaan hasil belajar pada kedua kelas penelitian juga dapat dilihat dari perolehan skor rata-rata post test kelompok eksperimen yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan skor rata-rata post test kelompok kontrol yaitu 72,14 > 66,13 dengan perbedaan rata-rata sebesar 6,01. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan efektivitas pembelajaran yang signifikan antara penggunaan metode Index Card Match (ICM) mata pelajaran IPA siswa kelas 5 SD Negeri 02 Kemloko dengan penggunaan metode pembelajaran konvensional pada mata pelajaran IPA siswa kelas 5 SD Negeri Sumberagung Semester II Tahun Pelajaran 2011/2012.

Untuk memperjelas persamaan dan perbedaan dalam penelitian ini dengan penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, akan disajikan dalam Tabel berikut ini :

(25)

Tabel 1

Persamaan dan Perbedaan Penelitian No Nama Peneliti Tahun Variabel Penelitian

Pembelajaran Index Card

Match

Video

Pembelajaran Aktivitas belajar Hasil IPA 1 GatutSaputro 2011    2 Prayoga DwiJatmiko 2010   3 Frisca Yulian Sari 2012   4 Peneliti 2013   

Berdasarkan Tabel 1 dapat dilihat persamaan dan perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya. Persamaannya yaitu pada variabel pembelajaran Index Card Match, dalam penelian Gatut Saputro tahun 2011 dan Frisca Yulian Sari tahun 2012, variabel video pembelajaran pada penelitian Prayoga Dwi Jatmiko tahun 2010 dan hasil belajar IPA sama dengan ketiga penelitian yang telah disajikan. Sedangkan perbedaannya yaitu variabel aktivitas belajar pada penelitian Gatut Saputro tahun 2011.

2.3 Kerangka Berpikir

IPA diperlukan dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan manusia melalui pemecahan masalah-masalah yang dapat diidentifikasikan. Penerapan IPA perlu dilakukan secara bijaksana agar tidak berdampak buruk terhadap lingkungan. Di tingkat SD/MI diharapkan ada penekanan pembelajaran Salingtemas (Sains, lingkungan, teknologi, dan masyarakat) yang diarahkan pada pengalaman belajar untuk merancang dan membuat suatu karya melalui penerapan konsep IPA dan kompetensi bekerja ilmiah secara bijaksana.

Hal itu menunjukkan bahwa sangat pentingnya peran IPA dalam kehidupan. Oleh karena itu perlu adanya penerapan metode yang dapat

(26)

menjadikan siswa lebih aktif dan menjadikan pembelajaran menjadi lebih bermakna. Melalui pembelajaran Index Card Match berbantuan video pembelajaran diharapkan dapat memberikan suasana yang menarik dan memotivasi siswa khususnya mata pelajaran IPA. Metode Index Card Match merupakan suatu metode pembelajaran yang menggunakan kartu, dimana kartu tersebut berisikan soal dan jawaban. Metode ini sangat menyenangkan karena ada semua siswa terlibat dan ada unsur permainan dalam metode ini. Dan inilah yang membuat siswa merasa tidak bosan dan menjadi termotivasi.

Aktivitas pembelajaran Index Card Match dibantu dengan adanya video pembelajaran. Hal-hal yang belum pernah diketahui siswa akan dilihat bersama-sama, jadi siswa akan sangat senang dan tentunya menjadi pengalaman yang baru. Selain menyenangkan pembelajaran Index Card Matchberbantuan video ini akan menumbuhkan kerjasama, tanggung jawab, kekompakan, keakraban, persaingan sehat.

2.4 Hipotesis Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah penelitian, kajian pustaka dan kerangka berpikir yang telah diuraikan, maka dapat dirumuskan hipotesis: ada perbedaan pengaruh yang signifikan antara penerapan pembelajaran Index Card Match berbantuan video pembelajaran dengan penerapan pembelajaran Numbered Heads Together berbantuan video pembelajaran terhadap hasil belajar IPA pada siswa kelas 5 SD N Bergaslor 01 dan SD N Bergaslor 02 Kecamatan Bergas Kabupaten Semarang Semester Genap Tahun Pelajaran 2012/2013.

Gambar

Gambar 1. Fungsi Media dalam Proses Pembelajaran

Referensi

Dokumen terkait

Penerapan model Group Investigation dengan media video dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas 4 SD Negeri 3 Nambuhan dalam pembelajaran IPS, siswa lebih kritis,

Berdasarkan dari pernyataan- pernyataan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa karakteristik multimedia pembelajaran adalah mengintegrasikan berbagai media (teks,

Dalam pembelajaran berbasis multimedia, menurut priyanto, terdapat manfaat yang diperoleh dalam pembelajaran yang menggunakan bantuan media multimedia, yaitu: (1)

Menurut Arsyad (dalam Haryono, 2014:51) manfaat dari penggunaan media pembelajaran sebagai berikut: a) dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga

Model pembelajaran Problem Based learning berbantuan media gambar dirasa sesuai dengan karakteristik pembelajaran IPA yaitu bersifat behavioristik atau membangun rasa ingin tau

Cheppy (Fiskha, 2012) mengemukakan tujuan dari digunakannya video pembelajaran dalam proses pembelajaran antara lain sebaga berikut. 1) Memperjelas penyempaian

Pada kurikulum 2013 menuntut siswa untuk aktif dalam proses pembelajaran dimana dengan menggunakan media pembelajaran sebagai penjembatan memperoleh informasi. Disini

Faktor biaya juga merupakan pertanyaan penentu dalam memilih media. Bukankah penggunaan media pada dasarnya dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas