PENARIKAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH
DAN BANGUNAN (BPHTB) DI BANDAR LAMPUNG
Dosen : Defny S.Sos.,MPM Dr. Rudiarto Sumarwono, M.M.
Desy Hariyati, S.Sos, M.A.
Disusun Oleh :
Agung Satria Setyawan Hutabarat (1606925092) Amalina Izzati Hanifah (1606925060) Annisafira Lintang Lestari (1606925086) Annisa Salima Albayroni (1606925104) Avriel Mahatmya Muhammad (1606925022)
Nabila Dwi Hilmiyanti (1606826911)
Reza Kusuma Panjaitan (1606925035)
KATA PENGANTAR
Puji syukur Kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga Kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul
“PENARIKAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN (BPHTB) DI BANDAR LAMPUNG”.
Makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas akhir, yang ditugaskan oleh dosen mata kuliah yang bersangkutan.
Kami ucapkan banyak terima kasih atas dukungan dari semua pihak hingga akhirnya makalah ini dapat terselesaikan. Kami berharap agar makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembacanya.
Akhir kata, Kami mohon maaf apabila dalam makalah ini masih terdapat banyak kekurangan, oleh karena itu kritik dan saran sangat diharapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Depok, April 2017
ABSTRAK
Makalah ini membahas penarikan Bea Perolehan Hak Atas Tanahdan Bangunan (BPHTB) khususnya di Bandar Lampung. BPHTB merupakan pajak yang dikenakan atas perolehan hak atas tanah dan bangunan. Bagi siapa saja yang memperoleh hak atas tanah dan bangunan, wajib menyerahkan sebagian nilai ekonomi yang diperolehnya kepada Negara melalui pembayaran pajak. Tahun 2009, diundangkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Dalam hal ini kami akan membahas lebih lanjut mengenai permasalahan dalam penarikan BPHTB di Bandar Lampung dan bagaimana sistem dalam pengelolaan penarikan BPHTB tersebut yang kaitanya dengan Good Governance di Bandar Lampung.
DAFTAR ISI
Halaman Muka...0
Kata Pengantar...0
Abstrak...1
Daftar Isi...2
BAB IPENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG ... 3
1.2 RUMUSAN MASALAH ... 4
1.3 TUJUAN PENULISAN ... 4
BAB IILANDASAN TEORI 2.1 Pajak Daerah... 5
2.2 Bea Perolehan Hak Atas Tanahdan Bangunan (BPHTB)... 5
2.2.1 Pengalihan BPHTB Dari Pajak Pusat Menjadi Pajak Daerah... 5
2.2.2 Justifikasi Pengalihan BPHTB... 6
2.2.3 Tarif Dasar Pengenaan BPHTB... 7
2.2.4 Mekanisme Pembayaran BPHTB... 9
2.2.5 Good Governance... 10
BAB III TINJAUAN PERATURAN 3.1 Dasar Hukum... 12
BAB IVPEMBAHASAN 4.1. Sistem Pengelolaan dalam Penarikan BPHTB di Kota Bandar Lampung ... 15
4.2. Peran pemerintah dalam menangani permasalahan penarikan BPHTB di kota bandar lampung... 17
BAB VPENUTUP 5.1 Kesimpulan ... 19
5.2 Saran... 20
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara hukum yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang menjunjung tinggi hak dan kewajiban setiap rakyatnya. Salah satu sumber penerimaan terbesar bagi negara adalah pendapatan dari sektor pajak yang merupakan kontribusi rakyat dalam kewajibannya untuk membantu dalam pendanaan pembangunan negara. Salah satu pajak yang yang diperoleh Negara adalah Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB).
BPHTB merupakan pajak yang dikenakan atas perolehan hak atas tanah dan bangunan. Bagi siapa saja yang memperoleh hak atas tanah dan bangunan, wajib menyerahkan sebagian nilai ekonomi yang diperolehnya kepada Negara melalui pembayaran pajak. Tahun 2009, diundangkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Berdasarkan peraturan tersebut, BPHTB dialihkan menjadi pajak daerah yang pemungutannya diserahkan kepada Pemerintah Kota atau Kabupaten. Peralihan BPHTB dari pajak nasional menjadi pajak daerah tentu tidak terlepas dari permasalahan dalam implementasinya. Dalam penarikan BPHTB, diperlukan peran pemerintah yang baik agar tidak terjadinya penyalahgunaan oleh oknum-oknum tertentu. Namun, pada kenyataanya masih banyak kasus-kasus yang terjadi dalam pengelolaan penarikan BPHTB salah satunya yang terjadi di kota Bandar Lampung. Permasalahan penarikan BPHTB di Bandar Lampung terjadi akibat adanya pemalsuan data lapangan yang dilakukan oleh notaris dan PPAT di kota tersebut.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas maka dapat disimpulkan beberapa rumusan masalah yang berkaitan dengan pengelolaan dalam penarikan BPHTB di Bandar Lampung. Rumusan masalah tersebut antara lain:
1. Bagaimana sistem pengelolaan dalam penarikan BPHTB di Bandar Lampung?
2. Bagaimana peran pemerintah dalam menangani permasalahan penarikan BPHTB di Bandar Lampung?
Rumusan masalah yang telah penulis paparkan tersebut diharapkan dapat membantu para pembaca untuk menambah wawasan mengenai permasalahan dalam pengelolaan penarikan BPHTB.
1.3 TUJUAN PENULISAN
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dipaparkan diatas, penulis memiliki tujuan penulisan, sebagai berikut :
1. Menjelaskan dan menganalisis bagaimana sistem pengelolaan dalam penarikan BPHTB di Bandar Lampung.
2. Untuk mengetahui bagaimana peran dari pemerintah dalam penanganan permasalahan penarikan BPHTB di Bandar Lampung
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Pajak Daerah
Mardiasmo, (2006:98-99) mengatakan Pajak daerah adalah pungutan wajib yang dilakukan kepada orang pribadi atau badan yang dilakukan oleh pemerintah daerah tanpa imbalan langsung yang seimbang, yang dapat dipaksakan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yang digunakan untuk membiayai penyelengaraan pemerintahan daerah dan pembangunan daerah” (Mardiasmo, 2006:98-99)
2.2 Bea Perolehan Hak Atas Tanahdan Bangunan (BPHTB)
Marihot (2003:42) mengutarakan bahwa Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) adalah pajak yang dikenakan atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan, yang selanjutnya disebut Pajak. Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan pada dasarnya dikenakan atas setiap perolehan hak yang diterima oleh orang pribadi atau badan hukum yang terjadi dalam Wilayah Hukum Negara Indonesia.
2.2.1 Pengalihan BPHTB Dari Pajak Pusat Menjadi Pajak Daerah
Pengalihan BPHTB menjadi pajak daerah diawali dengan perumusan kebijakan yang dituangkan dalam UU Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Dalam undang-undang tersebut ditetapkan bahwa BPHTB dialihkan menjadi pajak kabupaten/kota dan mulai berlaku secara efektif pada tanggal 1 Januari 2011. Dengan demikian terdapat waktu satu tahun sejak saat berlakunya UU Nomor 28 Tahun 2009 (1 Januari 2010) dengan saat diberlakukannya BPHTB sebagai pajak daerah. Masa transisi ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk secara bersama-sama mempersiapkan berbagai aspek dalam pemungutan BPHTB.
Proses pengalihan BPHTB merupakan serangkaian langkah yang ditempuh oleh pemerintah untuk melaksanakan ketentuan yang diatur dalam UU Nomor 28 Tahun 2009, yakni mengalihkan BPHTB dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah dengan lancar. Sesuai kondisi yang diharapkan dalam perumusan kebijakan pengalihan BPHTB menjadi pajak daerah, terdapat 2 (dua) indikator yang dapat digunakan untuk melihat tingkat keberhasilan pengalihan pajak tersebut, yaitu (1) sebagian besar potensi BPHTB yang ada dapat dipungut oleh daerah, dan (2) kualitas pelayanan kepada wajib pajak tidak mengalami penurunan.
2.2.2 Justifikasi Pengalihan BPHTB
Menurut Kementerian Keuangan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan dalam Tinjauan Pelaksanaan Pengalihan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) Menjadi Pajak Daerah tahun 2011 , (https://perpustakaan.setneg.go.id Diakses pada 10 Mei 2017 ) Secara konsepsional, terdapat beberapa dasar pemikiran mengenai kebijakan pengalihan BPHTB yang semula sebagai pajak pusat menjadi pajak daerah, antara lain:
BPHTB memenuhi kriteria dan prinsip-prinsip pajak daerah yang baik, seperti:
Objek pajaknya terdapat di daerah (local origin)
Objek pajak tidak berpindah-pindah (im-movable), dan
Terdapat hubungan yang erat antara pembayar pajak dan pihak
yang menikmati hasil pajak tersebut (the benefit-tax link principle).
b. Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah
Penetapan BPHTB sebagai pajak daerah akan meningkatkan pendapatan yang bersumber dari daerah itu sendiri (Pendapatan Asli Daerah) Hal ini berbeda dengan penerimaan BPHTB sebagai pajak pusat, meskipun pendapatan BPHTB kemudian diserahkan kepada daerah, penerimaan ini tidak dimasukkan ke dalam kelompok pendapatan asli daerah, melainkan sebagai dana perimbangan (Dana Bagi Hasil)
c. Meningkatkan akuntabilitas daerah (local accountability).
Dengan menetapkan BPHTB sebagai pajak daerah, maka kebijakan BPHTB (objek, subjek, tarif, dan dasar pengenaan pajak) ditetapkan oleh daerah dan disesuaikan dengan kondisi dan tujuan pembangunan daerah. Demikian pula dengan pemungutan BPHTB, sepenuhnya dilakukan oleh daerah sehingga optimalitas pemungutannya tergantung pada kemauan dan kemampuan daerah. Selanjutnya, penggunaan hasil BPHTB ditentukan oleh daerah (melalui proses alokasi belanja dalam APBD). Dengan demikian, daerah mempertanggungjawabkan segala sesuatu terkait dengan pemungutan BPHTB kepada masyarakat di daerahnya dan masyarakat memiliki akses untuk ikut serta dalam pengawasan penggunaan hasi pungutan BPHTB.
d. Internationally good practice.
2.2.3 Tarif Dasar Pengenaan BPHTB
Menurut Direktorat Jenderal Pajak. Agustus 2011 (http://www.pajak.go.id) Tarif pajak ditetapkan sebesar 5% dari Dasar Pengenaan Pajak (DPP),
3 Hibah, Hibah Wasiat dan Waris Nilai Pasar
4 Pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lainnya
Nilai Pasar
5 Pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan hak
Nilai Pasar
6 Penunjukan pembeli dalam lelang Harga transaksi yang tercantum
8 Pemberian hak baru atas tanah sebagai kelanjutan dari pelepasan hak
Nilai Pasar
9 Pemberian hak baru atas tanah diluar pelepasan hak
2. Apabila NJOP PBB sebagaimana dimaksud diatas belum ditetapkan, Menteri Keuangan dapat menetapkan besarnya NJOP PBB.
3. Nilai Perolehan Obyek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP) ditetapkan secara regional paling banyak Rp 60.000.000 (enam puluh juta rupiah), kecuali dalam hal perolehan hak secara waris, atau hibah wasiat yang diterima orang pribadi yang masih dalam hubungan keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat ke atas atau satu derajat ke bawah dengan pemberi hibah wasiat, termasuk suami/istri, NJOPTKP ditetapkan secara regional paling banyak Rp 300.000.000 (tiga ratus juta rupiah). 4. Nilai Perolehan Obyek Pajak Kena Pajak (NPOPKP) adalah Nilai
Perolehan Pajak di kurangi dengan NPOPTKP.
5. Besarnya pajak yang terutang dihitung dengan cara mengalikan tarif pajak dengan Nilai Perolehan Obyek Pajak Kena Pajak (NPOPKP) atau BPHTB = 5% X NPOPKP
2.2.4 Mekanisme Pembayaran BPHTB
Menurut Heri Supriyanto (2011:123-124) Mekanisme pelunasan BPHTB terhutang dapat dijelaskan sebagai berikut. Contoh, penjual dan pembeli yang sudah menyepakati harga jual beli rumah, mendatangi Notaris/PPAT untuk dibuatkan akta jual beli. Pada umumnya, penjual dan pembeli kurang memahami aturan BPHTB, sehingga mereka datang ke Notaris/PPAT tanpa membawa SSB. Akibatnya, Notaris/PPAT tidak bersedia menandatangani akta jual beli. Tindakan Notaris/PPAT sesuai dengan Pasal 24 ayat (1) UU BPHTB yang menentukan bahwa Pejabat Pembuat Akta Tanah/Notaris hanya dapat menandatangani akta pemindahan hak atas tanah dan atau bangunan pada saat Wajib Pajak menyerahkan bukti pembayaran pajak berupa Surat Setoran Bea Perolehan Hak atas Tanah.
Wajib Pajak. (Pajak yang terutang dibayar ke kas negara melalui Kantor Pos atauBank BUMN atau bank BUMD atau tempat pembayaran lain yangditunjuk oleh Menteri Keuangan dengan Surat Setoran BPHTB (SBB)yang dibuat rangkap 5 yaitu Lembar ke-1 untuk wajib pajak, lembar ke-2 untuk KP. PBB melalui Bank/Kantor Pos Operasional ,lembar ke-3 untuk KP. PBB disampaikan oleh WP, lembar ke-4 untuk Bank/Kantor Pos Persepsi, lembar ke-5 untuk PPAT/Notaris/Kepala Kantor Lelang/Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota disampaikan oleh WP.)
Wajib Pajak (pembeli) mendatangi kembali Notaris/PPAT tersebut, kemudian menyerahkan SSB lembar ke-5. Setelah itu, barulah Notaris/PPAT bersedia menandatangani akta jual beli. Wajib Pajak (pembeli) menyerahkan SSB lembar ke-3 ke KPP Pratama secara langsung maupun dikirim melalui pos. sedangkan SSB lembar ke-1 sebagai arsip untuk Wajib Pajak(pembeli).
2.2.5 Good Governance
Berdasarkan pengertian di atas, good governance memiliki sejumlah ciri sebagai berikut (Bappenas, 2002, 8-19):
Akuntabel, artinya pembuatan dan pelaksanaan kebijakan harus
disertai pertanggung jawabannya;
Transparan, artinya harus tersedia informasi yang memadai kepada
masyarakat terhadap proses pembuatan dan pelaksanaan kebijakan;
Responsif, artinya dalam proses pembuatan dan pelaksanaan kebijakan
harus mampu melayani semua stakeholder;
Setara dan inklusif, artinya seluruh anggota masyarakat tanpa
terkecuali harus memperoleh kesempatan dalam proses pembuatan dan pelaksanaan sebuah kebijakan;
Efektif dan efisien, artinya kebijakan dibuat dan dilaksanakan dengan
menggunakan sumberdaya-sumberdaya yang tersedia dengan cara yang terbaik;
Mengikuti aturan hukum, artinya dalam proses pembuatan dan
pelaksanaan kebijakan membutuhkan kerangka hukum yang adil dan ditegakan;
Partisipatif, artinya pembuatan dan pelaksanaan kebijakan harus
membuka ruang bagi keterlibatan banyak actor sehingga terjadi kesinergian antar institusi pemerintah baik pusat, provinsi maupun daerah dalam menjalankan proses pembagunan ;
Berorientasi pada konsensus (kesepakatan), artinya pembuatan dan
pelaksanaan kebijakan harus merupakan hasil kesepakatan bersama diantara para aktor yang terlibat.
Sehingga dalam hal ini, hukum harus menjadi dasar proses reformasi birokrasi untuk menuju good governance. (Prasojo, 2003: 46). Oleh karena itu hukum yang berlaku, berfungsi sebagai landasan dasar yang kuat untuk penerapan segara peraturan dan kegiatan dalam pemerintahan.
TINJAUAN PERATURAN
3.1 Dasar Hukum
UU No. 23 Tahun 2014 Pasal 91
huruf d yang mengatakan bahwa gubernur memiliki tugas melaksakan evaluasi terhadap rancangan Perda Kabupaten / Kota tentang RPJPD, RPJMD, APBD, Perubahan APBD, pertanggugjawaban pelaksanaan APBD, tata ruang daerah, pajak daerah dan retribusi daerah. Dari ayat tersebut terlihat bahwa gubernur memiliki peran yang besar dalam mengontrol pembangunan dan APBD Pemkot termasuk rencana pemasukan berupa pajak daerah. Seharusnya Pemprov Lampung bisa mencegah adanya praktik pemungutan BPHTB yang tidak sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan. Dari hal ini bisa dilihat kurang baiknya pengawasan yang dilakukan baik oleh pemprov lampung maupun pihak legislatif Bandarlampung. Selain itu, pada Pasal 91 (4) huruf d, juga dijelaskan tentang salah satu tugas dan wewenang Pemprov yaitu menyeleraskan pembangunan antar Daerah provinsi dan Daerah kabupaten / kota di wilayahnya. Dapat dilihat bahwa dalam kasus ini Pemprov Lampung juga belum bisa melaksanakan amanat pasal tersebut. Hal ini karena Pemprov Lampung belum bisa menyelaraskan pembangunan Kota Bandarlampung, tidak hanya dari segi perencanaan, namun juga pemasukan sehingga terjadi penarikan BPHTB yang tidak sesuai dengan peraturan yang seharusnya.
Pasal 423 KUHP
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1. Sistem Pengelolaan dalam Penarikan BPHTB di Kota Bandar Lampung
Dalam penerapan sistem pengelolaan penarikan Bea Perolehan Pajak Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) Pemerintah Kota Bandar Lampung menargetkan per satu Januari 2011 sudah dapat melakukan penarikan Bea Perolehan Pajak Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) serta penagihan tunggakan PBB yang sebelumnya dipungut pemerintah pusat. Kepastian ini menyusul ditandatanganinya Memorandum of Understanding (MoU) antara pemkot dan Dirjen Pajak Bengkulu dan Lampung, di gedung paripurna DPRD, Rabu 15 Desember 2010. Dengan telah ditandatanganinya kerjasama tersebut menurut Kepala Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Yusran Effendi, pengalihan pemungutan BPHTB dan tunggakan pajak merupakan kewenangan pemkot. Dasar pengalihan BPHTB sendiri adalah, Permendagri dan Permenkeu No:186/PMK.07/2010 dan No: 53/2010 tanggal 18 Oktober, tentang Tahapan Pengalihan BPHTB sebagai pajak daerah. Pengalihan itu merupakan tindak lanjut pelaksanaan UU No:28/ 2009 yang telah dikeluarkan bersama menteri No:168/PMK.07/2010 dan No: 53/ 2010 tentang Tahapan Persiapan Pengalihan BPHTB Sebagai Pajak Daerah. Kemudian, ditindak lanjuti dengan peraturan Dirjen Pajak No:PER-47/PC/2010 tentang Tata Cara Persiapan Pengalihan BPHTB Sebagai Pajak Daerah.
dibatalkan. BPHTB ditarik berdasarkan Perda Nomor 1 Tahun 2011 dan UU No. 28 Tahun 2009 sejak Perwali Bandar Lampung dibatalkan Gubernur Lampung.
Peraturan Walikota Bandar Lampung Nomor 14 Tahun 2016 tentang Nilai Harga Tanah untuk Penetapan Bea Perolehan Hak Tanah dan Bangunan diterbitkan karena Pemerintah Kota Bandar Lampung yaitu Herman H.N. memiliki target pendapatan asli daerah (PAD) tahun 2016 sebesar Rp140 miliar, dan salah satu penyumbangnya adalah BPHTB. Dalam perencanaannya, dana tersebut digunakan untuk memenuhi program sekolah dan berobat gratis. Penetapan perwali tersebut berdasarkan pembahasan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) 2016. Namun dana perencanaan tersebut dilaporkan tidak sesuai dengan fakta transaksi yang terjadi di lapangan sehingga hal ini menjadi dasar pembatalan perwali tersebut. Salah satu contoh dari pemalsuan tersebut adalah transaksi jual beli di Jalan Pangeran Antasari harga Rp5 miliar, tetapi hanya Rp800 juta yang dilaporkan kepada pemerintah daerah atau sama dengan harga tanah di Kecamatan Sukarame (dikutip dari Roy baskara, http://www.antaralampung.com)
Berdasarkan dengan pemahaman good governance sebagai sebuah cara untuk memperkuat “kerangka kerja institusional dari pemerintah”, Pemerintah Kota Bandar Lampung sudah mulai menerapkan ciri dari pemerintahan yang baik dengan cara memperkuat aturan hukum dan prediktibelitas serta imparsialitas dari penegakannya. Usaha Pemerintah Kota Bandar Lampung ini juga bertujuan untuk mencabut akar dari korupsi dan aktivitas-aktivitas rent seeking, yang dapat dilakukan melalui transparansi dan aliran informasi serta menjamin bahwa informasi mengenai kebijakan dan kinerja dari institusi pemerintah dikumpulkan dan diberikan kepada masyarakat secara memadai sehingga masyarakat dapat memonitor dan mengawasi manajemen dari dana yang berasal dari masyarakat.
harus direvisi sebab dasar pengenaan BPHTB adalah nilai perolehan objek pajak atau harga transaksi. Pemerintah harus membicarakan mekanisme ketentuan nilai BPHTB apabila memang ketentuan nilai BPHTB menjadi satu persen.
Pada 18 Juli 2016, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah memberi pengarahan kepada sejumlah kepala daerah terkait fasilitas Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) untuk penerbitan Dana Investasi Real Estate (DIRE). Pemberian fasilitas BPHTB untuk penerbitan DIRE merupakan salah satu kebijakan dalam Paket Kebijakan Ekonoi XI yang diterbitkan akhir Maret 2016. Pokok kebijakan Fasilitas Pajak Penghasilan dan Bea Perolehan atas Hak Tanah dan Bangunan untuk penerbitan DIRE yaitu penurunan tarif BPHTB selama beberapa tahun. Hal itu dilakukan melalui penerbitan peraturan pemerintah mengenai pajak penghasilan atas penghasilan dari pengalihan real estate dalam skema kontak Investasi kolektif tertentu yang mengatur pemberian fasilitas Pajak Penghasilan final berupa pemotongan tarif . Menurut Kementrian Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia pemotongan tarif ini sebesar 0,5 persen dari tarif normal lima persen kepada perusahaan yang menerbitkan DIRE. Selain itu penerbitan peraturan pemerintah mengenai intensif dan kemudahan investasi di daerah, antara lain adalah mengatur penurunan tarif BPHTB dari maksimum lima persen menjadi satu persen bagi tanah dan bangunan menjadi aset DIRE.
Analisis sistem pengelolaan dalam penarikan BPHTB di Kota Bandar Lampung apabila dianalisis menurut indikator good governancemenurut Bappenas (2002, 8-19) adalah sebagai berikut :
a. Akuntabel
ada di lapangan. Contohnya adalah pada transaksi jual beli di Jalan Pangeran Antasari, laporan hasil transaksi yang diberikan hanya sebesar Rp.800 juta, namun pada faktanya transaksi yang terjadi sebesar Rp.5 miliar. Hal tersebut menunjukkan masih kurangnya akuntabilitas yang dimiliki oleh aparatur negara Pemkot Bandar Lampung.
b. Transparan, artinya harus tersedia informasi yang memadai kepada masyarakat terhadap proses pembuatan dan pelaksanaan kebijakan. Penarikan BHPTB di Bandar Lampung yang dilakukan berdasarkan Perwali nomor 14 tahun 2016 yang sudah dibatalkan oleh Pemprov Bandar Lampung merupakan salah satu bentuk ketidaktransparanan pemerintah dalam membuat kebijakan. Melalui Perwali tersebut, Pemkot Bandar Lampung melakukan tarikan pajak dengan tarif berdasarkan pada zona tertentu, padahal seharusnya tarikan dilakukan berdasarkan nilai NJOP. Tidak ada alasan yang jelas dari Pemkot Bandar Lampung dalam melakukan hal ini. Pemerintah hanya berdalih bahwa penarikan tersebut dilakukan dalam rangka meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD)
sebesar Rp140.000.000.000,- pada tahun 2016
(
http://www.antaralampung.com/berita/291601/bphtb-kota-bandarlampung-berdasarkan-njop, diakses 8 Mei 2017). Namun, hal ini tetap saja tidak dibenarkan karena penarikan tersebut tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku. Selain itu dalam kasus ini, saat melakukan penarikan pada masyarakat tentu pemkot tidak memberitahukan bahwa tarif BPHTB yang ditetapkan berdasarkan peraturan yang telah dibatalkan. Hal ini dapat dilihat sebagai bentuk ketidaktransparanan pemerintah karena menyembunyikan suatu fakta yang sebenarnya dari masyarakat.
Lampung belum dapat menerapkan sikap responsif sebagai ciri dari good governance.
d. Setara dan inklusif, artinya seluruh anggota masyarakat tanpa terkecuali harus memperoleh kesempatan dalam proses pembuatan dan pelaksanaan sebuah kebijakan;
e. Efektif dan efisien
Artinya kebijakan dibuat dan dilaksanakan dengan menggunakan sumberdaya-sumberdaya yang tersedia dengan cara terbaik. Dalam penarikan BPHTB di Bandar Lampung, sumberdaya yang tersedia sudah memenuhi. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, khususnya Pasal 91, menegaskan bahwa dalam rangka pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan kabupaten/kota, dan tugas pembantuan oleh kabupaten/kota, presiden dibantu oleh gubernur selaku wakil pemerintah pusat di daerah, berperan aktif dalam mendukung terciptanya penyelenggaraan pemerintahan yang efisien, efektif, dan berkesinambungan.
Namun yang terjadi sejauh ini, strategi Pemprov Lampung dan Pemkot Bandar Lampung belum terwujud secara optimal. Menurut berita yang dikutip dari Lampung Post, tidak optimalnya strategis ini ditandai dengan kisruh terus menerus yang terjadi diantara 2 institusi tersebut, contohnya permasalahan penarikan BPHTB yang terjadi di Bandar Lampung.
f. Mengikuti aturan hukum
Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Pemkot Bandar lampung melakukan penarikan BPHTB berdasarkan nilai harga tanah, dimana seharusnya dilakukan berdasarkan NJOP. Kasus ini juga tidak sesuai dengan Pasal 423 KUHP yang berbunyi “Pegawai negeri yang dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, dengan menyalahgunakan kekuasaannya memaksa orang lain untuk menyerahkan sesuatu, melakukan suatu pembayaran, melakukan pemotongan terhadap suatu pembayaran atau melakukan suatu pekerjaan untuk pribadi sendiri, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya enam tahun” Karena diindikasi terdapat penarikan liar di dalamnya
g. Partisipatif
Artinya pembuatan dan pelaksanaan kebijakan harus membuka ruang bagi keterlibatan banyak actor sehingga terjadi kesinergian antar institusi pemerintah baik pusat, provinsi maupun daerah dalam menjalankan proses pembagunan. melihat dari pembuatan peraturan walikota atas penetapan BPHTB maka dapat disimpulkan bahwa walikota telah melibatkan banyak aktor pada jajarannya, namun setelah dibuatkannya peraturan ini tidaklah menggambarkan konsep partisipatif pada bab III perencanaan kebijakan publik pada Peraturan Daerah Lampung No 8 Tahun 2012 yang mengungkapkan bahwa kebijakan publik di daerah lampung haruslah taat hukum, sedangkan penetapan BPHTB berdasarkan tanah yang seharusnya berdasarkan njop telah melanggar hukum.
h. Berorientasi pada konsensus (kesepakatan)
Lampung sudah tidak menggunakan perwali sebagai dasar pemungutan BPHTB. Hal ini dinyatakan dalam pendapat Yanwardi selaku Kepala Dinas Pendapatan Daerah Lampung (Dispenda) yaitu “Kami sesuai aturan berdasarkan UU No. 1 tahun 2011 dan UU No.28 Tahun 2009, sudah tidak pakai perwali lagi”.
Dalam hal ini dapat memunculkan pertanyaan , mengapa dari unsur yang sama-sama eksekutif, berada dalam satu wilayah, diikat dalam satu peraturan perundang-undangan yang sama yaitu UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, menampilkan praktik pembangunan yang tidak korelatif? Hal ini disebabkan karena keduanya tidak menerapkan pola kerja koordinatif dan sinergis dalam pengambilan keputusan (kosensus) yang bertujuan untuk membangun daerah. Pola pemerintahan yang menerapkan good governance seharusnya memunculkan sinergisitas antar institusi pemerintah dalam menjalankan proses pembangunan masyarakat, sehingga terjadi kesesuaian antara peraturan yang diciptakan antar institusi.
4.2. Peran pemerintah dalam menangani permasalahan penarikan BPHTB di kota bandar lampung
Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) sesuai namanya, merupakan pajak daerah yang menjadi sumber pendapatan daerah. Dengan demikian, hampir semua pemerintah daerah (Pemda) mengharapkan pemasukan dari BPHTB untuk membiayai kegiatan pembangunan di daerahnya. Harus diakui bahwa hampir semuua pemda mengandalkan sektor pajak sebagai sumber pendapatan daerah utama. Hal ini menunjukan besarnya kontribusi masyatakat terhadap pembangunan daerahnya.
sebagai pemungut pajak daerah. Maka sudah seharusnya pemda menjaga keseimbangan kepentingan mengenai BOHTB dengan cara tidak bertindak secara sepihak dan sewenang wenangan.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
hierarkis, dimana letak Perwali terletak di bawah UU yang semestinya isi dari Perwali merupakan acuan dari UU.
Hal ini dilakukan oleh Pemkot Bandar Lampung demi tercapainya pendapatan asli daerah (PAD) tahun 2016 dimana sebagian besar berasal dari BPHTB, yang dalam perencanaannya akan digunakan untuk pendidikan dan pengobatan gratis. Namun pada kenyaataannya, data yang dihasilkan tidak sesuai dengan transaksi yang ada di lapangan. Oleh karena itu, Pemprov Lampung mengeluarkan SK No. G/465/B.III/HK/2016 pada 12 Juli 2016 untuk membatalkan Perwali No. 14 Tahun 2014. Selain itu pemerintah juga melaksanakan pertemuan yang dilakukan di ruang ketua DPRD Bandar Lampung Selasa 24 April 2016 yang dihadiri oleh notaris dan Dispenda untuk membahas tentang revisi penarikan BPHTB.
5.2 Saran
Agar tidak terjadi hal yang serupa dan juga untuk menciptakan pemerintahan dan birokrasi yang bersih dan transparan, penulis memberikan beberapa saran yang diharapkan cukup bermanfaat bagi instansi yang terkait, yaitu sebagai berikut:
- Menggunakan e-Government seperti yang telah diterapkan di beberapa kota di Indonesia. Dengan adanya e-Government ini Pemprov Lampung dapat lebih mudah untuk mengawasi serta mengevaluasi hasil kerja dari Pemkot Bandar Lampung. Dan juga diharapkan dengan adanya e-Government pemerintah dapat menciptakan keterbukaan informasi kepada
stakeholder.
- Meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar memiliki SDM yang berkompeten serta memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi sehingga diharapkan dapat menciptakan pemerintahan dan birokrasi yang bersih dari KKN dan juga dapat memberikan pelayanan public secara optimal.
- Meningkatkan integritas Pemkot Bandar Lampung dan Pemprov Lampung agar tidak terjadi penyalahgunaan jabatan dalam membuat kebijakan publik seperti yang telah terjadi pada Pemkot Bandar Lampung.
DAFTAR PUSTAKA
BAPPENAS, 2002, Public Good Governance: Sebuah Paparan Singkat,
Jakarta: Sekretariat Pengembangan Public Good Governance BAPPENAS Kurniawan, Teguh. 2007. Pergeseran Paradigma Administrasi Publik: Dari
Perilaku Model Klasik Dan Npm Ke Good Governance. Jakarta: Jurnal Ilmu Adm Negara. Terakreditasi Dikti No. 23A/DIKTI/KEP/2004. ISSN. 1411- 948X, Volume 7, 1 Januari 2007
Siahaan, Marihot Pahala. 2003. Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan Teori Dan Praktek. Jakarta: PT. Raja Grafindo
Permana, Aditya. 2011 “Analisis Implementasi Pemungutan Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan Di Kabupaten Bogor”. Skripsi. Pada Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Indonesia.
Mardiasmo . 2006, Perpajakan , Edisi Revisi . Andi Offset : Yogyakarta
Bovaird, Tony, dan Elke, 2003, Public Management And Governance Routledge, London
Prasojo, Eko, 2003, “Agenda Politik dan Pemerintahan di Indonesia: Desentralisasi Politik, Reformasi Birokrasi dan Good Governance”, Bisnis & Birokrasi, Vol. XI, No.1, Januari
Kementerian Keuangan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan,https://perpustakaan.setneg.go.id/repository/Laporan_BPHTB.pd f,2011, tentang Tinjauan Pelaksanaan Pengalihan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) Menjadi Pajak Daerah, Jakarta
Direktorat Jenderal Pajak, Agustus 2011, http://www.pajak.go.id /content/ pengalihan-pbb-perdesaan-dan-perkotaan
http://www.bpn.go.id/Publikasi/Peraturan-Perundangan/Undang-Undang/
undang-undang-nomor-23-tahun-2014-4893 Diakses pada 5 mei 2017 pukul 18.00
UU No 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.
http://www.bpn.go.id/DesktopModules/EasyDNNNews/DocumentDownloa d.ashx?
portalid=0&moduleid=1658&articleid=2266&documentid=2028Diakses pada tanggal 7 Mei 2017 pukul 19.30
UU No. 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi
Daerah. http://www.djpk.depkeu.go.id/attach/post-no-28-tahun-2009-
tentang-pajak-daerah-dan-retribusi-daerah/UU-427-973-UU_28_Tahun_2009_Ttg_PDRD.pdfDiakses pada tanggal 7 Mei 2017
pukul 20.28
Perda Lampung No 1 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah.
http://www.bandarlampung.bpk.go.id/?p=3666. Diakses pada tanggal 7 Mei 2017 pukul 19.38
Sukada Wayan, 2015, Bagaimana menetapkan NJOP secarawajar?
http://www.bppk.kemenkeu.go.id/publikasi/artikel/167-artikel-pajak/20891-bagaimana-menetapkan-njop-tanah-secara-wajarDiakses pada tanggal 7 Mei 2017 pukul 20.20
Baskara Roy, BPHTB Kota Bandarlampung berdasarkann NJOP 2016
http://www.antaralampung.com/berita/291601/bphtb-kota-bandarlampung-berdasarkan-njopDiakses pada tanggal 7 Mei 2017 pukul 17.50
Baskara Roy , BPHTB Kota Bandarlampung berdasarkann NJOP 2016
http://www.antaralampung.com/berita/291601/bphtb-kota-bandarlampung-berdasarkan-njopDiakses pada 8 Mei pukul 19.30
Anjas, Penarikan BPHTB di Kota Bandar Lampung
https://jurnalsumatra.com/2017/02/23/pemkot-bandarlampung-tegaskan-tarik-bphtb-sesuai-perda/Diakses pada 8 Mei pukul 19.40
Wahyu Sasongko, 2011. Menjaga Keseimbangan dalam Penarikan BPHTB http:// www. epaper.lampost.co/berita-91633
LE, 2017 ,Bandar Lampung Tarik BPHTB
http://www.lampung-news.com/article/BandarLampung/10475/Diakses pada 8 Mei pukul 19.45 Nevy Handayani, 2017, BPHTB tidak berdasar Perwali
http://translampung.com/bpprd-bphtb-tidak-berdasar-perwali/Diakses pada 9 mei pukul 12.35
Anjas, 2017, Pemkot Bandarlampung Tegaskan Tarik Bphtb Sesuai Perda https://jurnalsumatra.com/2017/02/23/pemkot-bandarlampung-tegaskan-tarik-bphtb-sesuai-perda/ Diakses pada 9 mei pukul 12.49
Lip Kurniawan, 2016, Penarikan BPHB Lampung Dibuat Zonasi
https://kupastuntas.co/kota-bandar-lampung/2016-04/mulai-mei-sistem-pembayaran-pajak-bphtb-di-bandar-lampung-dibuat-zonasi/ Diakses pada 9 mei pukul 13.26
Kementrian Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia
https://pu.go.id/beritalintasinstansi/viewartikel/4/Daftar-Paket-Kebijakan-Ekonomi-Minggu-ke-V-Maret-2016-Tahap-XI Diakses pada 9 mei pukul