Yahdiana Har ahap
Kelompok Bidang Ilmu Kimia Far masi Depar temen Far masi FM IPA-UI, Depok
PEN D A HULUA N
A krilamida (sinonim: 2-Prope-namida, etilen karboksiamida, akrilik amida, asam propeonik amida, vinil amida) adalah salah satu bahan orga-nik yang biasa digunakan manusia dalam kehidupan sehari-hari, untuk memp ro d uksi p lastik d an bahan pewarna. Zat ini juga biasa diguna-kan untuk menjernihdiguna-kan air minum. Sejak tahun 1950, akrilamida dipro-duksi dengan cara hidrasi akrilonitril dan terdapat dalam bentuk monomer sed angp o liakrilamid a ad a d alam bentuk polimer (Anonim 1994; 1985). A krilamid a d ip ercay a d ap at menyebabkan penyakit kanker pada
PEM BEN TUKAN AKRILAM IDA
DALAM M AKAN AN DAN AN ALISISN YA
ABSTRACT
A crylamide is a chemical substance which derived from acrylonitrile, is the material used in polyacrylamide production. Recent research has found acrylamide is contained in some food, especially food is rich in carbohydrate and treated in high temperature (more than 120°C). Due to its nature, acrylamide is classified as a hazardous material to be contained in human’ s food. The International A gency for Research on Cancer (IA RC) has classified acrylamide into group 2A (probably carci-nogenic for humans). M any methods that used to analyse the acrylamide in some foods with sophisticated equipment, and in department of pharmacy FM IPA -UI there were also develop the method with simple extraction and conventional HPLC.
Keywords : acrylamide, HPLC, carcinogenic.
Peneliti d i Bad an Peng aw as Makanan Nasional Swedia (Swedish N ational Food A dministration) d an Stockhlom University, pada April 2002 melaporkan penemuan akrilamida dalam berbagai makanan yang di-panggang dalam tanur atau digoreng. Dari penelitian tersebut, diketahui bahw a p embentukan akrilamid a akibat pemanasan pada suhu tinggi terdapat pada makanan dengan kan-dungan karbo hidrat tinggi seperti keripik kentang, kentang goreng, pop corn, sereal, dan biskuit (FDA 2004; Anonim 2006).
Makanan sep erti d aging sap i dan ayam, yang mengandung protein juga menghasilkan akrilamida dalam konsentrasi yang lebih kecil. Reaksi serupa tidak ditemukan pada ma-kanan yang diproses dengan suhu rendah misalnya direbus. Akrilamida tid ak d itemukan p ad a makanan d engan pemanasan pad a suhu d i bawah 120oC (Anonim 2002).
Ketika dilakukan penelitian ter-hadap hew an, akrilamida terbukti meny ebabkan kanker. N amun, belum ada bukti yang menunjukkan hal itu juga berlaku pada manusia. Gangguan kesehatan yang disebab-kan akrilamida terjadi karena dam-pak genotoksik dan karsinogeniknya. A krilamid a d ianggap sebagai zat yang dicurigai sebagai karsinogen, pada dasarnya belum dapat diper-kirakan dengan tepat sampai sejauh mana pengaruh akrilamida dalam menyebabkan penyakit kanker pada manusia. Hingga sekarang belum ada himbauan yang dikeluarkan Food and
D rug A dministration (FDA ) untuk melarang masyarakat mengkonsumsi makanan-makanan tersebut (Anonim 2006; Friedman 2003).
Akrilamida sudah pasti bersifat genotoksik dan karsinogenik pada hew an. International A gency for Re-search on Cancer (IA RC), U.S. Environ-mental Protection A gency (EPA ), Food and Drug A dministration (FDA ), serta The National Toxicology Program telah mengklasifikasikan akrilamida se-bagai senyawa yang mungkin menye-babkan kanker atau berp o tensi sebagai karsinogenik pada manusia (grup 2A). Berdasarkan studi hewan co ba, akrilamida diketahui berpo -tensi menyebabkan kerusakan sel-sel saraf dan gangguan reproduksi pada hew an coba serta pemberian akri-lamida dalam jangka panjang dapat menyebabkan tumor. Namun demi-kian, belum ad a fakta yang teruji untuk membuktikan bahw a akrila-mid a d alam makanan berp o tensi menyebabkan kanker pada manusia, karena pemberian makanan yang meng and ung akrilamid a d eng an dosis tinggi pada hewan coba tidak dapat diekstrapolasikan pada manu-sia secara langsung (A nonim 1985; FDA 2004; Kendall P 2005; Hartman Holly 2005).
1. K arakteristik (A nonim 1985; FDA 2004; A nonim 1976)
ikatan rangkap nya. Mo no mernya cep at berp o limerisasi p ad a titik leburnya atau di bawah sinar ultra-v io let. A krilamid a d alam larutan bersifat stabil pada suhu kamar dan tidak berpolimerisasi secara spontan.
Struktur kimia :
Rumus molekul : C3H5NO
Sino nim : 2-Pro p enamid a, etilen karboksi amida, akrilik amida, asam propeonik amida, vinil amida
Bobot molekul : 71,08
Kelarutan d alam g / 100 ml pelarut pada suhu 30oC : air 215,5; aseton 63,1; benzen 0,346; etanol 66,2; klo ro fo rm 2,66; metano l 15,5; n-heptan 0,0068.
Titik lebur : 84,5oC; titik didih: 87oC (2 mmHg), 105oC (5mmHg), 125oC (25 mmHg); tekanan pengu-apan: 0,009 kPa (25oC); 0,004 kPa (40oC); dan 0,09 kPa (50oC).
Pada umumnya, akrilamida yang terd ap at d i alam ad alah buatan manusia, berasal dari residu mono-mer yang dilepaskan dari poliakri-lamida untuk perawatan air minum karena tid ak seluruh akrilamid a terkoagulasi dan tetap berada di air sebagai pencemar.
Akrilamida terdistribusi dengan baik dalam air karena kelarutannya yang tinggi dalam air. A krilamida
dapat menetap hingga berhari-hari, berming g u-ming g u, bahkan ber-bulan-bulan di daerah sungai atau pesisir pantai dengan aktivitas mi-kroba yang rendah. Kecil kemung-kinannya terakumulasi pada ikan.
2. Sifat farmakokinetika akrilamida (A nonim 1985; FDA 2004; A nonim 2002; Friedman 2003)
Absorbsi dari akrilamida melalui saluran pernafasan, saluran cerna, dan kulit. Pada pendistribusiannya, akrilamida terdapat dalam kompar-temen sistem tubuh dan dapat me-nembus selaput plasenta. Pada urin tikus, telah d itemukan metabo lit, sep erti asam merkap turat d an sistein-s-propionamida. Glisidamida, merup akan metabo lit utama d ari akrilamid a, y aitu ep o ksid a y ang lebih dicurigai dapat menyebabkan penyakit kanker dan bersifat geno-to ksik pada hew an co ba daripada akrilamida. A krilamida dan meta-bolitnya terakumulasi dalam sistem saraf d an d arah. A krilamid a d i-curigai lebih bersifat neuro to ksik dibandingkan dengan glisidamida. Pada ginjal, hati dan sistem repro-duksi pria juga terjadi akumulasi.
Berd asarkan p erco baan p ad a hew an, akrilamid a d iekskresikan dalam jumlah besar melalui urin dan empedu sebagai metabolitnya. Di-ketahui terdapat akrilamida dalam air susu tikus yang sedang menyusui. Data-d ata farmako kinetika akri-lamida pada manusia masih sedikit, namun antara manusia dan hew an
O
H
2C CH C NH
2mamalia belum terdapat data yang dengan pasti menunjukkan perbe-daan dari keduanya.
3. Efek pada manusia dan hewan (A nonim 1994; 1985; 2002; 2002) A krilamida bersifat iritan dan toksik. Efek lokal berupa iritasi pada kulit, dan membran mukosa. Iritasi lokal pada kulit ditunjukkan dengan melepuhnya kulit disertai dengan w arna kebiruan pad a tangan d an kaki, efek sistemik berhubungan dengan paralisis susunan saraf pusat, tepi, d an o to no m sehingga d apat terjadi kelelahan, pusing, mengantuk, d an kesulitan d alam meng ing at. Berdasarkan uji klinis, ditunjukkan bahw a paparan akut d o sis tinggi akrilamida memicu tanda-tanda dan gejala gangguan saraf pusat, sedang-kan paparan akrilamida dalam jangka waktu yang lama dengan dosis yang lebih kecil dapat memicu gangguan pada sistem saraf tepi. Setelah pa-paran terhadap akrilamida dihenti-kan, gangguan-gangguan tersebut dapat berkurang, tetapi dapat ber-tahan hingga berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.
A krilamida meningkatkan ke-mungkinan terjadinya tumor paru-paru pada tikus. A krilamida dapat mening katkan timbulny a tumo r kelenjar payudara pada tikus betina. Pad a tikus jantan d ap at memicu degenerasi tubulus seminiferus dan aberasi kromosom spermatosit serta menurunkan kadar testoteron dan p ro laktin. N amum, uji fertilitas belum dilaporkan. Dengan
pemberi-an secara o ral, to pikal, d pemberi-an intra-peritonial akrilamida dapat memicu kanker kulit. Akrilamida, dimasuk-kan dalam kategori grup 2A yaitu senyaw a yang hampir d ipastikan menyebabkan kanker pada manusia (karsino g enik). H al tersebut d i-karenakan jumlah p eserta y ang d iikutsertakan d alam p enelitian masih belum memadai untuk suatu uji epidemiologik. Berdasarkan data yang ad a, belum ad a d ata epid e-miologik yang menunjukkan bahwa paparan akrilamida dapat menyebab-kan menyebab-kanker.
FA O d an W HO memberikan arahan sementara untuk mencegah kemungkinan terjadinya risiko akibat akrilamid a, meskip un info rmasi tentang akrilamida dan dampaknya d alam makanan belum leng kap , diantaranya :
a. Pola makan yang seimbang dan bervariasi, seperti sayur-mayur d an buah-buahan, d an meng-hind ari atau mengurangi ma-kanan yang diduga mengandung akrilamida.
b. Makanan tidak dimasak dengan suhu yang terlalu tinggi, hanya dengan suhu yang cukup untuk menghancurkan mikroorganisme patogen.
4. Terjadinya A dduct
Pengi-katan akrilamid a d engan p ro tein pada hemoglobin, menjadi penyebab aksi toksisitas pada jaringan tersebut.
5. Pembentukan A krilamida dalam M akanan
A sp aragin yaitu asam amino utama mempunyai struktur mirip d eng an akrilamid a, d an d id ug a senyaw a tersebut yang paling ber-peran dalam pembentukan akrila-mida. Hasil penelitian yang sama juga d itemukan o leh p emerintah Kanad a d an p abrik Procter and Gamble Co. Ked uanya sama-sama mencurigai adanya hubungan antara asparagin dengan pencetus kanker (Friedman 2003).
W orld Health Organization (WHO) menyatakan bahw a pada populasi umum, rata-rata asupan akrilamida
melalui makanan berada pada ren-tang 0,3–0,8 µg/ kg BB/ hari. Environ-mental Protection A gency (EPA) pada tahun 1992 dan WHO pada tahun 1985 telah membatasi kadar akrila-mid a d alam air minum sebesar 0,5 µg/ liter (ppb). Office of Environ-mental H ealth H az ard A ssesment (OEA HHA ), salah satu divisi EPA yang berlokasi di California, A me-rika Seme-rikat telah menetapkan bahwa 0,2 µg/ hari akrilamida tidak bersifat sebagai agen pencetus kanker. Pene-liti Sw ed ia mend ap atkan bahw a terdapat konsentrasi akrilamida yang sangat besar pad a makanan yang digoreng (keripik kentang, median 1200 µg/ kg; kentang goreng, 450 µg/ kg), dan makanan yang dipanggang (sereal d an ro ti, 100-200 µg / kg ) (Anonim 1985; FDA 2004).
Tabel 1.
Kadar akrilamida dalam beberapa produk makanan dari negara Swedia, Switzerland serta Amerika berdasarkan
data Food Safety Programme World Health Organization 2002
Produk Makanan
Level Akrilamida (µg/kg)
Rata-rata Nilai tengah Minimum- Jumlah maksimum sampel
Keripik kentang 1312 1343 170-2287 38
Produk roti 112 <50 <50-450 19
Cracker 423 142 <30-3200 58
Sereal 298 150 <30-1346 29
Keripik jagung 218 167 34-416 7
Bubuk coklat 75 75 <50-100 2
A krilamid a d itemukan p ad a beberap a makanan tertentu yang d alam pro ses d an pembuatannya menggunakan suhu tinggi, dengan meningkatnya pemanasan dan ber-tambahnya waktu, dapat meningkat-kan kadar akrilamida. A krilamida tidak terbentuk pada suhu di bawah 120oC. M ekanisme terbentukny a belum dapat diketahui dengan pasti, d iperkirakan meliputi reaksi d ari berbagai macam kandungan dalam makanan, seperti karbohidrat, lemak, protein dan asam amino, serta ber-bag ai macam ko mp o nen lainny a dalam jumlah yang kecil. Mekanisme p embentukan akrilamid a y ang mungkin d an telah d ikemukakan oleh peneliti antara lain:
1. Terbentuk d ari akro lein atau asam akrilat hasil d eg rad asi karbohidrat, lemak, atau asam amino bebas, sep erti alanin, asparagin, glutamin, dan meti-onin yang memiliki stuktur mirip dengan akrilamida.
2. Terbentuk langsung dari asam amino.
3. Terbentuk dari dehidrasi atau d ekarbo ksilasi beberapa asam o rganik tertentu seperti asam laktat, asam malat, d an asam sitrat.
Studi sistematik tentang pem-bentukan akrilamida belum dapat dipastikan, kemungkinan terbesar melalui reaksi campuran. Studi juga d ip ersulit d engan sifat d ari akri-lamida yang mudah menguap dan
mud ah bereaksi sehing g a d ap at hilang setelah terbentuk. Akrilamida dianggap reaksi samping dari reaksi Maillard, yakni reaksi yang berlang-sung antara asam amino dengan gula pereduksi (glukosa, fruktosa, ribosa, dan lain-lain) atau sumber karbonil lainnya. Asparagin, merupakan asam amino dalam makanan yang bereaksi dengan gula pada suhu tinggi (Ano-nim 2002; Kendall P 2005).
6. M etode A nalisis A krilamida dalam Berbagai M akanan Terd ap at beberap a cara yang dapat dilakukan untuk mengiden-tifikasi dan menganalisis akrilamida dalam sediaan, diantaranya dengan meng g unakan kro mato g rafi g asspektro metri massa dan kro mato -grafi cair-spektrometri massa.
Beberapa peneliti telah melaku-kannya antara lain:
ii. Kromatografi gas-spektrometri massa (GC-MS), d engan baku dalam akrilamida, 8000 gas chro-matograph dengan injektor on-col-umn (ThermoQuest, Milan, Italia) d an sp ektro meter massa SSQ 7000 quadrupole (Finnigan, San Jose, Amerika Serikat). 1 µL sampel d isuntikkan ke d alam kolom berukuran 10 m x 0,25 mm dan pemisahan kolom dengan 0,4 µm p elat Carbo w ax 20M. Batas d eteksi yang d ihasilkan < 20 µg / kg . Kini d ileng kap i dengan kolom deaktivasi beru-kuran 40 cm x 0,53 mm dengan Carbowax 20M (yang dapat me-ningkatkan sampel hingga 5 µl bila diperlukan). Gas pembawa helium dengan tekanan 40 kPa; suhu oven diatur pada 15o/ menit dari 70oC (1 menit) hingga 220oC (2 menit). Spektro metri massa menggunakan pengionisasi kimia ion positif (Cl) dengan metana sebagai gas pembaw a. Sumber ion pada 100oC, spektrum massa-nya adalah m/ z 72 (akrilamida), 86 (metakrilamid a) d an 88 (butiramid a) (Bied ermann M 2006).
iii. Kromatografi gas-spektrometri massa (GC-MS), Mega 5300 gas chromatograph dengan on-column dan sebuah injektor split/splitless (Fisons, Milan, Italia) dan sebuah sp ektro meter massa ITD 400 (Finnigan, San Jo se, A merika Serikat). Sebanyak 1-2 µl sampel d isuntikkan ke d alam ko lo m
berukuran 100 cm x 0,32 mm (ID) dengan 0,25 µm pelt FFAP (BGB Analytik). Gas pembawa helium d engan tekanan 75kPa. Suhu o v en d iatur p ad a10oC/ menit d ari 110oC hingga 230oC d an 25oC/ menit hing g a 250oC (1 menit). Sp ektro metri massa menggunakan pengionisasi ion elektron positif (El). Sumber ion p ad a 200oC (Bied ermann M 2006).
iv. Kromatografi cair kinerja tinggi-sp ektro metri massa tand em (HPLC/ MS/ MS), dengan kolom A gilent 1100 sistem LiChro s-phere® CN (250 x 4 mm, 5mm), Merck, Darmstadt. Fase gerak A: asam asetat 1%, fase gerak B: asetonitril, suhu oven: 25oC. Laju alir 700 µl/ menit. Baku dalam d3-akrilamida (AA-d3) (Anonim 2004).
v. Kro mato g rafi Cair Kinerja Tinggi (KCKT) dengan detektor UV (DX-600 d an PDA -100, Dionex), fase gerak 3,5 mmol/ li-ter asam fo rmiat d alam air-asetonitril (93% - 7% v/ v). Kolom Dionex ICE-AS-1 (9 mm x 25 cm), laju alir 1 ml/ menit dan deteksi UV pada 202 nm. Volume sampel 25 atau 50 ml d isuntikkan ke dalam kolom. Dengan kondisi ini, akrilamida terelusi selama 23 menit (Anonim 2006).
dengan kromatografi ion dengan detektor UV atau MS. Metode yang d igunakan berlangsung cep at d eng an meng g unakan metode ekstraksi accelerated sol-vent ex traction (A SE) A SE 100 atau A SE 200 (Dionex, Sunny-vale, California, A merika Seri-kat) dengan 34 ml sel untuk ASE 100, dan 33 ml untuk ASE 200. Sampel d iekstraksi selama 20 menit menggunakan air atau air dengan tambahan asam formiat 10 mM. Ekstrak segera dianalisis dengan menggunakan kro ma-tografi ion (IC) dan mengguna-kan kolom ekslusi ion 4 mm dan dua detektor UV dan MS. Kon-disi kromatografi adalah dengan kolom IonPac® ICE-AS1 4 x 250 mm; 7,5 µm. Fase gerak yang digunakan asam formiat 3,0 mM dalm asetonitril/ air 30/ 70 (v/ v), laju alir 0,15 ml/ menit, volume
injeksi 25 µl, deteksi UV pada p anjang g elo mbang 202 nm, deteksi nm, deteksi MS pada 50-250 m/ z; menghasilkan batas deteksi sekitar 50 µg/ kg (Silvano C, 2006).
Telah dilakukan beberapa pene-litian untuk menghasilkan metode yang efektif dan efisien di Depar-temen Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Univer-sitas Indonesia dengan Kromatografi Cair Kinerja Ting g i. M eto d e ini menggunakan kolom C18-RP dengan detektor UV-Vis pada panjang gelom-bang 210 nm, fase gerak 3,5 mM asam fo sfat 85% d alam aseto nitril-air dengan perbandingan 5:95, laju alir 0,5 ml/ menit dan fase gerak tersebut digunakan sebagai pelarut (Siman-juntak B 2004; Dianpratami K 2005; Teuku Nebrisa Z 2005).
Penetap an kad ar akrilamid a Gambar 2. Kromatogram akrilamida 0,8 µg/ml pada panjang gelombang 210 nm
dalam makanan yang telah dilakukan di Departemen Farmasi FMIPA -UI (dalam kripik kentang, french fries, sereal, po pco rn, biskuit) sebagian besar dari sampel mengandung akri-lamida dalam jumlah yang signifikan walaupun masih di bawah ambang batas yang ditentukan FDA . Prose-dur penentuan secara garis besarnya adalah sebagai berikut:
Ditimbang Sampel X kemu-d ian kemu-d ilarutkan kemu-d alam 60 ml d iklo rmetan, tambahkan 3 ml etanol kocok dengan Laboratory Shaker pada kecepatan 250 RPM selama 60 menit. Larutan sampel d icuci d an d isaring d eng an diklormetan sebanyak 2 x 5 ml, kemudian pada filtrat ditambah-kan 25 ml fase g erak y ang d ig unakan. Diklo rmetan d an etanol diuapkan di atas penangas air pada suhu 80oC. Kemudian d imasukkan ke d alam tabung sentrifus, sentrifugasi d engan kecepatan 10000 RPM selama 15 menit, fase gerak diambil lalu dimasukkan ke dalam labu ukur 25,0 ml; tambahkan fase gerak yang digunakan dan dicukupkan sampai batas. Larutan sampel disaring dengan penyaring sam-pel Whatman. Samsam-pel disuntik-kan sebanyak 20 µl ke d alam ko lo m kemud ian d icatat luas puncaknya. Percobaan diulangi sebanyak tiga kali. Kad ar d i-hitung d engan menggunakan persamaan kurva.
DA FTA R PUSTA KA
Anonim. 1994. International Agency for Research on Cancer (IARC) – Summaries & Evaluations (Acry-lamid e). http:/ / w w w .inchem. o rg/ d o cuments/ iarc/ v o l60/ m60-11.html, 3 Januari 2006, pukul 14.09.
A nonim. 1997. A crylamide (Group 2A ). http :/ / w w w .cie.iarc.fr/ htd o cs/ mo no g rap hs/ v o l60/ m60-11.htm, 3 Januari 2006, pukul 14.21.
Anonim. 2004. Detection of A crylamide In Starch- enriched Food W ith HPLC/M S/M S. http:/ / applied-bio sy stems.co m/ , 11 Januari 2006, pukul 10.24.
Anonim. A crylamide in Foods. http:/ / w w w .fd a.go v/ fd ac/ features/ 2003/ 103_food.html, 11 Januari 2006, pukul 11.23.
Anonim. Determinan of A crylamide in Food using A SE with HPLC-UV an LC-M S. http:/ / w w w . d io nex. c o m / s e r v l e t w l 1 / F i l e Dow nloader/ slot114/ 282270/ A cry lamid % 20metho d % 20 Eng lish.p d f, 11 Januari 2006, pukul 10.19.
A nonim. Health implications of acry-lamide in food:report of joint FA O/ W H O consultation. Genew a: W o rld H ealth O rg aniz atio n, June 2002.
Anonim. The M erck Index 9th Edition.
Rahw ay NJ: Merck & Co. Inc., 1976.
Biedermann M. Tw o GC-MS Meth-ods for Analysis of Acrylamide in Fo o dstuffs. 12 hlm. http:/ / w w w . k l z h . c h / d o w n l o ad s/ acrylamid 1.pdf, 11 januari 2006, pukul 10.15.
Dianpratami K. A nalisis A krilamid D alam Beberapa Sediaan Keripik Kentang yang Beredar di Pasaran Secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi. Depok : Skripsi Sarjana Farmasi Ekstensi FM IPA -UI, 2005.
Friedman, M. Chemistry, Biochem-istry, and Safety of Acrylamide. A Review . 2003. J. A gric. Food. Chem 51, 4504-4526.
Hamlet CG, Jayaratne SM, Sadd PA. Rapid, Sensitive and Selective Analysis of Acrylamide in Cereal Products Using Bromination and GC/ MS/ MS. . 2004. J. Agric. Food. Chem 22, 290-293.
Hartman Holly, Popcorn History, sci-ence and good snacky fun, http:/ / www.popcorn.org/ int/ fsf/ pop-co rn rep o rt.p d f,25 Juni 2005 pukul 16.00.
Kendall P. Popcorn A n A ll A merican snack, http :/ / w w w .p o p co rn.
org/ int/ fsf/ popcorn report.pdf, 25 Juni 2005 pukul 16.00.
Silv ano C. Fast Determinatio n o f A crylamid e in Fo o d Samp les Using A ccelerated Solvent Ex-traction Follow ed by Ion Chro-matography with UV or MS De-tection. http:/ / www.lcgceurope. com/ lcgceurope/ article/ article Detail.jsp?id=53696, 11 Januari 2006, pukul 10.19.
Simanjuntak B. O ptimasi Penetapan Kadar Akrilamid yang Ditambahkan ke dalam Keripik Kentang Simulasi Secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi. Depo k: Skripsi Sarjana Farmasi FMIPA-UI, 2004.
Teuku Nebrisa Z. A nalisis A krilamid dalam Kentang goreng Secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi. Depok: Skripsi Sarjana Farmasi FMIPA-UI, 2005.
U.S. Food and Drug Administration (FDA , 2004) A crylamide Ques-tio ns & A nsw ers. Center fo r Food Safety and Applied Nutri-tio n 2003. http:/ / w w w .cfsan. fd a.go v/ ~d ms/ acryd ata.html. 11 Januari 2006, pukul 10.35.