FAKTOR KEMISKINAN DAN UPAYA PENANGGULANGAN PEMERINTAH INDONESIA
MAKALAH
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Perekonomian Indonesia
Dosen Pembimbing : Dr. A. Jajang W. Mahri. M. Si.
Disusun oleh :
Chit’Jna Amary K (1100841) Ibang Gumilang A (1102760) Jantera Azimat P (1103175)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI FAKULTAS PENDIDIKAN EKONOMI DAN BISNIS
FAKTOR KEMISKINAN DAN UPAYA PENANGGULANGAN PEMERINTAH INDONESIA
Chit’Jna Amary K
Ibang Gumilang A
Jantera Azimat P
ABSTRAK
Kemiskinan selalu menjadi problematika yang disoroti khususnya dinegara miskin dan berkembang. Di Indonesia yang saat ini masuk ke dalam negara berkembang, masalah kemiskinan masih menjadi masalah yang belum terselesaikan secara tuntas. Dari awal kemerdekaan sampai hari ini, beragam upaya telah dilakukan oleh setiap pemimpin bangsa di eranya, namun masih tetap saja tidak terselesaikan.
Makalah ini, bertujuan untuk mengetahui bagaimana potret kemiskinan di Indonesia dari masa orde lama sampai masa kepemimpinan masa SBY saat ini. Kemudian faktor-faktor yang menyebabkannya serta upaya-upaya yang telah digulirkan oleh pemerintah guna mengurangi kemiskinan di Indonesia.
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis sampaikan kehadirat Tuhan YME. Karena atas rahmat dan restu-Nya penulis telah mampu menyelesaikan makalah yang berjudul “Faktor Kemiskinan dan Upaya Penanggulangan Pemerintah Indonesia”
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Perekonomian Indonesia. Dalam penyusunan makalah ini, tentunya penulis menyadari bahwa selesainya penggarapan tugas ini tidak terlepas bantuan berbagai pihak. untuk itu kami ucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Dr. A. Jajang W Mahri, M. S selaku dosen mata kuliah Perekonomian Indonesia yang telah bantak memberikan ilmu serta wejangannya
2. Partner, rekan-rekan, serta semua pihak yang memberikan motivasi serta dorongan yang telah diberikan dalam membantu kami penyelesaikan makalah ini.
Semoga Tuhan memberikan balasan yang berlipat ganda.
Makalah ini bukanlah karya yang sempurna karena masih memiliki banyak kekurangan, baik dalam isi maupun sistematika dan teknik penulisannya. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan makalah ini. Akhirnya semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi penulis dan pembaca. Amin.
Bandung, September 2014
DAFTAR ISI
ABSTRAK
KATA PENGANTAR...i
DAFTAR ISI...ii
DAFTAR TABEL...iv
DAFTAR GAMBAR...v
BAB I PENDAHULUAN...1
1. 1 Latar Belakang...1
1. 2 Rumusan Masalah...3
1. 3 Tujuan...3
1. 4 Manfaat...3
BAB II PEMBAHASAN...4
2. 1 Pengertian Kemiskinan...4
2. 2 Mengukur Kemiskinan...6
2. 3 Gambaran Umum Kemiskinan Di Indonesia...7
2. 4 Faktor Yang Mempengaruhi Kemiskinan di Indonesia...11
2. 4. 1 Tingkat Pendidikan Yang Dituntaskan Penduduk...11
2. 4. 2 Budaya Miskin...13
2. 4. 3 Regulasi Pemerintah...15
2. 4. 4 Kesempatan Kerja Kurang Memadai...16
2. 4. 6 Ketidakstabilan Politik...19
2. 5 Upaya Pemerintah Menanggulangi Kemiskinan...20
2. 5. 1 Pemerintahan Orde Lama...20
2. 5. 2 Pemerintahan Orde Baru...21
2. 5. 3 Pemerintahan Era Reformasi...22
2. 5. 4 Pemerintahan Era Demokrasi...23
BAB III PENUTUP...27
3. 1 Kesimpulan...27
3. 2 Saran...29
DAFTAR TABEL
Tabel 1. 1 Jumlah Penduduk Miskin di Indonesia (5 tahun terakhir)...2
Tabel 2. 1 Kemiskinan Di Indonesia Tahun 1996-2000...11
Tabel 2. 2 Presentase Penduduk yang Buta Huruf berdasarkan Umur...13
Tabel 2. 3 Peringkat Daya Saing Beberapa Negara ASEAN Tahun 2014...14
DAFTAR GAMBAR
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia sebagai salah satu negara berkembang memang memiliki banyak isu dan permasalahan terkait sosial dan ekonomi yang perlu diamati lebih lanjut. Salah satunya adalah kemiskinan. Perdebatan terjadi ketika teori, konsep, serta pengaplikasian untuk menanggulangi kemiskinan dirasa hanya berpengaruh sedikit dalam upaya mengentasan kemiskinan. Alhasil hanya menjadi alat menghambur-hambur biaya dengan hasil yang dirasa minim.
Indonesia sebagai negara berkembang memiliki potensi untuk terus maju mengingat letak geografisnya yang menunjang tersedianya kekayaan alam yang melimpah, tanah yang subur, potensi bahari yang besar, serta keanekaragaman hayati yang hanya bisa dibandingkan oleh beberapa negara saja. Optimisme muncul dengan banyaknya kekayaan yang Indonesia miliki sebagai sebuah jembatan dari jawaban pengentasan kemiskin seperti dengan membuka lapangan kerja baru, pemerataan pendapatan, dll.
Namun kini muncul sebuah fenomena dimana kemiskinan bukan hanya sebuah keadaan tentang ketidak mampuannya seseorang untuk memenuhi kebutuhannya, tetapi juga kegagalan negara dalam memenuhi hak-hak seorang manusia untuk sejahtera. Sebenarnya Indonesia memiliki cita-cita luhur untuk membuat semua rakyatnya mampu merasakan kekayaan negara ini. Hal tersebut terpampang di dalam batang tubuh pasal 33 ayat 3 UUD 1945 yang mengamanatkan pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia untuk menguasai seluruh kekayaan alam untuk dipergunakan sepenuhnya bagi kemakmuran seluruh rakyat Indonesia1.
Kemiskinan merupakan sebuah masalah kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai sumber yang saling berkaitan, antara lain tingkat pendidikan masyarakat,
pendapatan, pengangguran, geografis, karakter, budaya, dan lainnya. Tidak hanya di desa, di kota pun fenomena kemiskinan bisa dengan mudah ditemukan.
Tabel 1. 1
Jumlah Penduduk Miskin di Indonesia (5 tahun terakhir)
Tahun
Jumlah Penduduk Miskin (Juta Orang)
Kota Desa Kota+Des
a 2009 11
,91
2 0,62
32, 53 2010 11,10 9,93 1 31,02
Mar-11 11,05 8,97 1 30,02
Sep-11 0,95 1 8,94 1 29,89
Mar-12 0,65 1 8,49 1 29,13
Sep-12 1 0,51
1 8,09
28, 59 Mar-13 1
0,33
1 7,74
28, 07 Sumber : Badan Pusat Statistik
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan penjelasan diatas, maka kami mengajukan beberapa rumusan masalah sebagai berikut:
1.2.1. Apa pengertian dari kemiskinan?
1.2.2. Bagaimana cara mengukur tingkat kemiskinan?
1.2.3. Bagaimana gambaran umum tentang kemiskinan di Indonesia? 1.2.4. Apa saja faktor yang mempengaruhi kemiskinan di Indonesia?
1.2.5. Bagaimana upaya pemerintah Indonesia menganggulangi kemiskinan?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan yang ingin dicapai dari rumusan masalah yang ditentukan adalah: 1.3.1. Untuk mengetahui pengertian dari kemiskinan
1.3.2. Untuk mengetahui cara mengukur tingkat kemiskinan
1.3.3. Untuk mengetahui gambaran umum kemiskinan di Indonesia
1.3.4. Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi kemiskinan di Indonesia
1.3.5. Untuk mengetahui upaya yang pemerintah Indonesia lakukan dalam menanggulangi kemiskinan
1.4 Manfaat
Dengan tersusunnya makalah ini diharapkan memberikan manfaat antara lain: 1.4.1. Secara teoritis berguna sebagai pengetahuan tentang kemiskinan di
Indonesia
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Kemiskinan
Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti seperti makanan, pakaian, pendidikan, kesehatan, dll. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan kadang juga berarti tidak adnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan yang mampu mengatasimasalah kemiskinan dan mendapatkan kehormatan yang layak sebagai warganegara2
Kemiskinan menurut Suparlan (1995:11)3 didefinisikan sebagai standar
tingkat hidup yang rendah,yaitu adanya suatu tingkat kekurangan materi padasejumlah atau golongan orang dibandingkan dengan standar hidup yang berlaku dalam masyarakat bersangkutan. terhadap tingkat kesehatan, kehidupanmoral dan rasa harga diri dari mereka yang tergolongorang miskin.
Sejarah luas, fenomena kemiskinan terjadi karena ada dua faktor, antara lain merosotnya kekuatan ekonomi sebuah negara sehingga terjadi ketidakstabilan ekonomi, atau juga memang negara tersebut sudah miskin. Ragnar Nurkse (dalam Sukirno, 2017:113)4 menyatakan bahwa sebuah negara adalah miskin karena
merupakan negara miskin (A country is poor because it is poor).
Pernyataan tersebut bisa digambarkan sebagai sebuah rangkaian ketidak milikan sebuah negara akan sumber daya penunjang ekonomi, seperi sumber daya alam dan manusia. Teori ini menjelaskan bahwa adanya sebuah konsep melingkar yang pada akhirnya tidak berujung. Satu kejadian atau faktor akan beruntun
2Selengkapnya bisa dilihat di http://id. wikipedia. org/wiki/Kemiskinan
membuat sebuah kejadian baru yang sama-sama tidak memiliki keuntungan, dan terus berulang sampai ke kejadian yang pertama muncul, dan terus berulang.
Gambar 1
Teori Lingkaran Kemiskinan
Kemiskinan
yang terjadi bisa menjadi
sebuah awal atau
juga sebuah akhir dari
sebuah fase. Kemiskinan akan berpengaruh ke rendahnya pendidikan yang di dapat serta kesehatan yang minim. Pendidikan yang rendah akan berpengaruh ke pendapatan yang bisa diterima ketika memasuki dunia kerja dan kesehatan yang buruk karena suplai serta lingkungan yang tidak mendukung membuat produktivitas rendah dikarenakan sering sakit-sakitan. Maka kesehatan yang rendah harus mengeluarkan banyak biaya sebagai biaya pengganti seperti membeli obat atau biaya kesehatan lainnya. Pada akhirnya dengan penerimaan bersih yang diterima kurang cukup, kebutuhan lainnya tidak mampu terpenuhi dan dapat dikategorikan miskin.
Nugroho dan Dahuri (2004:165)5 menyatakan bahwa kemiskinan di
dalam masyarakat dikarenakan oleh beberapa sebab yaitu sebagai berikut:
Kemiskinan natural disebabkan keterbatasan kualitas sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Kemiskinan struktural disebabkan secara langsung maupun tidak langsung oleh berbagai kebijakan, peraturan, dan keputusan dalam pembangunan, kemiskinan ini umumnya dapat dikenali dari transformasi ekonomi yang berjalan tidak seimbang. Kemiskinan kultural adalah kemiskinan yang lebih banyak disebabkan sikap individu dalam masyarakat yang mencerminkan gaya hidup, perilaku, atau budaya yang menjebak dirinya dalam kemiskinan. Dengan kata lain, seseorang dikatakan miskin jika dan hanya jika tingkat pendapatannya tidak memungkinkan orang tersebut untuk mentaati tata nilai dan norma dalam masyarakatnya.
Jika diuraikan pernyataan diatas, maka bisa dibagi menjadi dua faktor penyebab kemiskinan, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah penyebab kemiskinan yang potensinya berasal dari diri seseorang dan atau keluarga serta lingkungan sekitarnya. Sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah dan situasi lain yang berpotensi membuat seseorang jatuh miskin seperti kekurangan bahan baku atau bencana alam.
2.2 Mengukur Kemiskinan
Kemiskinan adalah indikator salah satu indikator sehatnya perekonomian sebuah negara. Ada beberapa pendekatan untuk mengukur kemiskinan sebuah negara. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan
relatif dan pendekatan absolut. Menurut Nugroho dan Dahuri (2004)6,
pendekatan relatif adalah pendekatan yang melihat faktor lain sebagai penentu seperti subsidi atau distribusi yang dilakukan negara. Sedangkan pendekatan absolut adalah mereka yang tidak bisa memenuhi kebutuhan pokok mereka seperti kekurangan pendapatan, dll.
Sedangkan menurut Badan Pusat Statistik, mengukur kemiskinan bisa dengan menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Metode yang digunakan adalah dengan menghitung garis kemiskinan (GK) yang terdiri dari dua komponen, yaitu garis kemiskinan makanan (GKM) dan garis kemiskinan bukan-makanan(GKBM). Penghitungan GK dilakukan secara terpisah untuk daerah perkotaan dan perdesaan. GKM merupakan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang disetarakan dengan 2. 100 kilo kalori per kapita perhari. Sedangkan GKBM adalah kebutuhan minimum untuk perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan7.
2.3 Gambaran Umum Kemiskinan Di Indonesia
Kemiskinan adalah masalah ekonomi yang pasti dialami oleh semua negara termasuk Indonesia sebagai negara dengan kategori negara berkembang. Upaya sebuah negara berubah menjadi semakin maju tidak berarti tidak meninggalkan masalah. Kemiskinan adalah sebuah masalah sensitif karena melibatkan banyak sekali unsur di dalamnya, bahkan tidak hanya masalah keuangan atau ekonomi, tetapi juga merembet ke permasalahan perbedaan status sosial dan SARA sehingga
6Nugroho, Iwan dan Dahuri, Rochmin. (2004). Pembangunan Wilayah, Perspektif Ekonomi, Sosial dan Lingkungan. Jakarta: LP3ES.
kemiskinan adalah sebuah permasalahan yang bersifat multi dimensional. Maksudnya adalah kemiskinan memiliki banyak aspek primer yang berupa miskin secara aset, organisasi sosial politik, pengetahuan dan keterampilan serta aspek sekunder yang berupa miskin akan relasi, sumber-sumber keuangan dan informasi. Dimensi-dimensi kemiskinan tersebut dapat ditemui dalam bentuk kekurangan gizi, air, perumahan yang sehat, pelayanan kesehatan yang kurang memadai dan tingkat pendidikan yang rendah. Selain itu, dimensi-dimensi kemiskinan saling berkaitan baik secara langsung maupun tidak langsung.
Fenomena kemiskinan sendiri berkaitan erat dengan konsep dan permasalahan ketidak adilan dan disintegrasi kelompok, menunjuk pada sebuah jalinan konsep yang memberi sebuah pengertian yang saling berkait satu sama lain. Masing-masing konsep bisa dilihat secara tunggal dengan pengertian tersendiri atau analisis saling keterkaitan atau keterhubungan satu dengan lainnya dalam konteks kausalitas. Kemiskinan bisa terjadi karena adanya ketidak adilan di masyarakat yang dapat mengganggu rasa kebersamaan, atau karena perlakuan yang tidak adil dalam perlakuan/pemerataan, ada masyarakat yang merasa miskin dalam berbagai hal yang berakibat pada pertentangan dan perpecahan8.
Secara umum Indonesia adalah negara yang sedang berproses menuju negara industri yang maju. Hal ini ditandai dengan sedikitnya efek yang diterima ketika terjadi krisis ekonomi global tahun 2008 kemarin, tepat di belakang negara-negara industri besar dunia seperti Cina dan India. Namun bagaimanapun Indonesia tetaplah negara berkembang yang memiliki permasalahan ekonomi termasuk kemiskinan. Indonesia memiliki ciri-ciri sebagaimana karakter yang ada di negara-negara dunia ketiga lainnya. J. W.
Schrool (1981:232)9 menjelaskan bahwa ada 15 ciri-ciri negara berkembang,
yaitu:
1. Tidak cukup makan, dengan batasa kurang dari 2. 500 kalori
2. Struktur agraria lemah karena pembagian tanah milik yang tidak baik, sehingga seorang petani hanya memiliki tanah yang tidak begitu luas.
3. Industri kurang berkembang, karena kecilnya persentase penduduk yang bekerja di sektor industri.
4. Tidak banyak menggunakan tenaga mesin dan masih menggunakan tenaga manusia atau hewan.
5. Ketergantungan ekonomi tinggi, khususnya pada bantuan luar negeri
6. Perkambangan sektor perdagangan dan pelayanan terlalu maju, tidak seimbang dengan sektor pertanian dan industri.
7. Struktur sosial terbelakang dan belum sesuai dengan masyarakat modern 8. Kelas menengah tidak begitu maju sehingga tidak ada yang memanikan
peranan penting dalam perkambangan perekonomian.
9. Pengangguran terbuka dan pengangguran terselubung jumlahnya besar. 10. Tingkat pengajaran rendah sehingga angka buta huruf masih tinggi. 11. Mutu pengajaran juga rendah karena tidak ada perencanaan yang baik. 12. Angka kelahiran tinggi.
13. Keadaan kesehatan jelek, ditandai dengan angka kematian yang cukup tinggi sehingga berpengaruh juga terhadap produksi.
14. Orientasi kepada tradisi dan kepada kelompok.
15. Sikap kerja tidak mengandung cita-cita untuk bekerja secara mantap dan terus menerus
Sejak pemerintahan zaman orde lama hingga pasca reformasi, ada beberapa moment krusial tentang kemiskinan yang terjadi di Indonesia. Seperti di zaman Orde Baru pimpinan Soeharto. Pasca turunnya Soekarno dan diangkatnya Soeharto sebagai Presiden, beliau mencangkan program-program pembentuk ekonomi rakyat dengan cita-cita membentuk Indonesia sebagai negara dengan spesialisasi tertentu dan
terwujud ide untuk melakukan swasembada pangan (beras). Dengan kondisi Indonesia sebagai negara agraris, Soeharto membentuk Indonesia sebagai negara swasembada beras dunia, yang diikuti oleh pujian oleh khalayak dunia. Tidak hanya itu, Soeharto juga membuat beberapa kebijakan kesejahteraan sosial seperti Pelita (Pembangunan Lima Tahun) serta Kredit Usaha Tani.
Secara gasir besar, sumber-sumber program-program pembangunan yang Soeharto buat adalah dari pinjaman-pinjaman luar negeri seperti IMF dan Consultative Group on Indonesia, sebuah organisasi negara kreditor untuk Indonesia yang di sponsori oleh Perancis. Selain itu, Indonesia mendapat bantuan dari lembaga internasional lainnya yang berada dibawah PBB seperti UNICEF, UNESCO dan WHO. Namun sayangnya, kegagalan manajemen ekonomi yang bertumpu dalam sistem trickle down effect (menetes ke bawah) yang mementingkan pertumbuhan dan pengelolaan ekonomi pada segelintir kalangan serta buruknya manajemen ekonomi perdagangan industri dan keuangan (EKUIN) pemerintah, membuat Indonesia akhirnya bergantung pada donor Internasional terutama paska Krisis 1997. 10
Tabel 2. 1
Kemiskinan Di Indonesia Tahun 1996-2000
Tahun
Jumlah Penduduk Miskin (Juta Orang)
Persentase Penduduk Miskin
Kota Desa Kota+Des
a Kota Desa
Kota+Des a 1996 7 , 2 0 1 5 , 3 0 22 ,5 0 9 , 7 0 1 2 , 3 0 11 ,3 0 1997 9 , 4 2 4 , 34 ,0 1 1 3 , 1 9 , 17 ,4 7
2 59 39 78 1998 1 7 , 6 0 3 1 , 9 0 49 ,5 0 2 1 , 9 2 2 5 , 7 2 24 ,2 0 1999 1 5 , 6 4 3 2 , 3 3 47 ,9 7 1 9 , 4 1 2 6 , 0 3 23 ,4 3 2000 1 2 , 3 1 2 6 , 4 3 38 ,7 4 1 4 , 6 0 2 2 , 3 8 19 ,1 4 Sumber : Badan Pusat Statistik
Krisis ekonomi 1997/1998 telah mengubur prestasi ekonomi Orde Baru. Kemiskinan melonjak tajam hingga mencapai 24,2% di tahun 1998. Hal ini sangat disayangkan padahal sebelumnya perekonomian kita mendapat pujian sebagai salah satu kejaiban ekonomi Asia(Sjahrir, 1997 ; Stamboel, 2012)11. Krisis ekonomi yang
terjadi pada tahun 1998, semakin meluas menjadi krisis politik yang justru menyebabkan semakin parahnya kondisi perekonomian Indonesia. Demonstrasi mahasiswa merebak ke seluruh penjuru nusantara. Rupiah yang sempat menguat Rp. 7. 000 per satu dollar AS, melemah kembali ke tingkat Rp. 9. 000. Lebih-lebih setelah pemerintah memustuskan menaikan harga BBM.
Lepas dari krisis 1998, Indonesia mulai menata kembali perekonomian. Pemerintah menyadari bahwa harus adanyas ebuah jaminan sosial agar nantinya kemungkinan terjadinya krisis ekonomi seperti kejadian 1998 tidak terulang. Sejak
saat itu lahir Jaminan Pengaman Sosial (JPS) yang melindungi masyarakat miskin dan rentan miskin dari guncangan ekonomi. Sejak tahun 2000, konsep JPS mulai dikaji, dikembangkan dan sedikit demi sedikit dijalankan. Di periode Kabinet Indonesia Bersatu I dan II, konsep JPS iniberkembang baik. TNP2K yang bekerja langsung dibawah Wakil Presiden langsung menanganinya. Program penanganan kemiskinan ini berevolusi menjadi program empat kluster (bantuan sosial, pemberdayaan masyarakat, pemberdayaan UMKM dan program murah) yang merupakan program andalan pemerintah.
2.4 Faktor Yang Mempengaruhi Kemiskinan di Indonesia 2.4.1 Tingkat Pendidikan Yang Dituntaskan Penduduk
Indikator bahwa kemiskinan semakin banyak adalah dengan sulitanya mengakses pendidikan dan berimbas kepada rendahnya kualitas sumber daya manusia. Sebagai contoh, hasil penelitian Cameron (2000)12 tentang kemiskinan
di Jawa Barat yang menyimpulkan bahwa pengurangan kemiskinan diasosiasikan dengan meningkatnya pencapaian pendidikan dan peningkatan pendapatan dari tenaga kerja terdidik.
Pendidikan adalah faktor penting dalam upaya pengentasan kemiskinan. Pendidikan memberikan stimulus daya saing bagi individu untuk bisa menambah nilai jual sehingga bisa mendapat penghasilan yang lebih dan memenuhi kebutuhan pokok. Dan dari tahun ke tahun, Indonesia mengalami pengurangan jumlah penduduk yang buta huruf.
Tabel 2. 2
Presentase Penduduk yang Buta Huruf berdasarkan Umur
Tahun Usia
15 15-44 45+
2009 7,42 1,80 18,68 2010 7,09 1,71 18,25 2011 7,56 2,31 18,15 2012 7,03 2,03 17,17 2013 6,08 1,61 15,15
Sumber: Badan Pusat Statistik
Dengan program pendidikan yang dicanangkan pemerintah yaitu wajib belajar 12 tahun, serta digratiskannya biaya sekolah untuk jenjang Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama berpengaruh terhadap presentase penduduk buta huruf. Selain itu dengan pendidikan yang semakin membaik, Indonesia juga tercatat membaik di The Global Competitiveness Report 2013-2014 (laporan tahunan daya saing global tahun 2013-2014) yang dibuat oleh World Economic Forum (WEF) menempatkan Indonesia pada posisi ke 38 dari 148 negara di dunia. Pada kawasan ASEAN posisi daya saing Indonesia berada posisi kelima di bawah Singapura, Malaysia, Brunei dan Thailand.
Tabel 2. 3
Peringkat Daya Saing Beberapa Negara ASEAN Tahun 2014 NEGARA PERINGKAT
Singapura 2
Malaysia 24
Brunei D 26
Thailand 37
Indonesia 38
Filipina 59
Vietnam 70
Kamboja 88
Sumber: WEF (2014)
seperti kurikulum dan hal-hal teknis lainnya bisa berpengaruh kepada minat masyarakat untuk mengenyam pendidikan. Hal ini menjadi krusial karena pendidikan adalah sumber dari daya saing sebuah negara.
2.4.2 Budaya Miskin
Kebudayaan kemiskinan bisa terwujud dalam situasi ekonomi yang banyk dipengaruhi oleh status sosial, berkembangnya sistem ekonomi uang, buruh upahan, dan sistem produksi untuk keuntungan. Demikian juga pada masyarakat yang mempunyai institusi sosial yang lemah untuk mengontrol dan memecahkan masalah sosial dan kependudukan, yang berdampak pada pertumbuhan tinggi dan pengangguran juga tinggi.
Menurut Astika (2010), budaya kemiskinan merupakan suatu adaptasi atau penyesuaian dan reaksi kaum miskin terhadap kedudukan marginal mereka dalam massyarakat yang berstrata kelas, sangat individualistis berciri kapitalisme. Sehingga yang mempunyai kemungkinan besar untuk memiliki kebudayaan kemiskinan adalah kelompok masyarakat yang berstrata rendah, mengalami perubahan sosial yang drastik yang ditunjukkan oleh ciri-ciri :
1. Kurang efektifnya partisipasi dan integrasi kaum miskin kedalam lembaga-lembaga utama masarakat, yang berakibat munculnya rasa ketakutan, kecurigan tinggi, apatis dan perpecahan;
2. Pada tingkat komunitas local secara fisik ditemui rumah-rumah dan pemukiman kumuh, penuh sesak, bergerombol, dan rendahnya tingkat organisasi diluar keluarga inti dan keluarga luas;
4. Pada tingkat individu dengan ciri yang menonjol adalah kuatnya perasaan tidak berharga, tidak berdaya, ketergantungan yang tinggi dan rasa rendah diri;
5. Tingginya (rasa) tingkat kesengsaraan, karena beratnya penderitaan ibu, lemahnya struktur pribadi, kurangnya kendali diri dan dorongan nafsu, kuatnya orientasi masa kini, dan kekurang sabaran dalam hal menunda keinginan dan rencana masa depan, perasaan pasrah/tidak berguna, tingginya anggapan terhadap keunggulan lelaki, dan berbagai jenis penyakit kejiwaan lainnya;
6. Kebudayaan kemiskinan juga membentuk orientasi yang sempit dari kelompoknya, mereka hanya mengetahui kesulitankesulitan, kondisi setempat, lingkungan tetangga dan cara hidup mereka sendiri saja, tidak adanya kesadaran kelas walau mereka sangat sensitif terhadap perbedaanperbedaan status;
Karena berbagai kegiatan yang dilakukan dalam kehidupan para warga kelompoktersebut dirasakan sebagai suatu hal yang biasa(sebagai fenomena biasa dalam kehidupan keseharian mereka). Pada kondisi seperti itu tidakada yang diacu untuk pamer, sehingga diantaramereka tidak ada perasaan saling berbeda, yang dapat menimbulkan perasaan malu. Dalamkeadaan demikian, maka kemiskinan terwujuddalam berbagai cara-cara mereka memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka untuk dapat hidup. Di kalangan masyarakat/kelompok yangberada dalam kondisi miskin seperti itu, berkembang suatu pedoman bagi kehidupanmereka yang diyakini kebenaran dankegunaannya yang dilandasi oleh kemiskinan yang mereka derita bersama. Pedoman atau kiatkiatuntuk menghadapi fenomena miskin sepertiitu kemudian melahirkan model-model adaptasimereka menghadapi kemiskinan.
Pemerintah sebagai pemangku kebijakan bisa menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya kemiskinan. Regulasi yang dibuat tidak mungkin tanpa pemikiran serta analisis yang matang, namun tidak jarang berdampak kepada berkurangnya pendapatan masyarakat tertentu yang berujung kepada kemiskinan. Fenomena yang bisa diambil contoh adalah pembatasan peredaran tembakau dan produk berbahan dasar tembakau. Regulasi ini jelas berpengaruh besar kepada para petani tembakau dan perusahaan-perusahaan yang mengelola tembakau sebagai bahan baku utama produksi. Dampak jauhnya adalah regulasi ini berpotensi menimbulkan kemiskinan struktural.
Menurut Suharto(2008:18)13, kemiskinan struktural adalah kemiskinan
yang terjadi bukan dikarenakan ketidakmampuan si miskin untuk bekerja (malas), melainkan karena ketidakmampuan sistem dan struktur sosial dalam menyediakan kesempatan-kesempatan yang memungkinkan si miskin dapat bekerja.
Dengan regulasi yang dibuat pemerintah, tidak semua situasi yang diharapkan kedepannya bisa diterima. Regulasi yang tidak menunjang sebagian pihak akan membuat kesalahan kebijakan yang berujung kepada kerugian negara untuk kembali menanggulangi masalah baru, dalam hal ini kemiskinan adalah salah satu penentu indikator daya saing sebuah negara.
2.4.4 Kesempatan Kerja Kurang Memadai
Keadaan atau kondisi kependudukan yang ada sangat mempengaruhi dinamika pembangunan yang sedang dilaksanakan oleh pemerintah. Jumlah penduduk yang besar, jika diikuti dengan dengan kualitas penduduk yang memadai, akan menjadi pendorong bagi pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya,
jumlah penduduk yang besar jika diikuti dengan kualitas yang rendah, menjadikan penduduk tersebut sebagai beban bagi pembangunan nasional.
Banyaknya tenaga kerja yang terserap oleh suatu sektor perekonomian, dapat digunakan untuk menggambarkan daya serap sektor perekonomian tersebut terhadap angkatan kerja. Sepanjang sejarah, pertambahan penduduk merupakan sumber terpenting atas bertambahnya output yang dinikmati seluruh dunia. Jumlah penduduk yang meningkat hampir selalu mengarah pada naiknya total output.
Namun ketika jumlah penduduk bertambah dan tidak di imbangi dengan kesempatan kerja yang rendah maka akan menimbulkan kemerosotan ekonomi karena akan berdampak kepada bertambahnya jumlah pengangguran. Pengangguran terjadi kepada tidak hanya mereka yang tidak berpendidikan, namun juga mereka yang terdidik secara formal. Menurut Sadono Sukirno (2004 : 84)14, pengangguran adalah suatu keadaan di mana seseorang yang
tergolong dalam angkatan kerja ingin mendapatkan pekerjaan tetapi belum dapat memperolehnya. Seseorang yang tidak bekerja, tetapi tidak secara aktif mencari pekerjaan tidak tergolong sebagai penganggur. Faktor utama yang menimbulkan pengangguran adalah kekurangan pengeluaran agregat.
Tabel 2. 4
Pengangguran Terbuka Menurut Pendidikan Tertinggi Tahun 2011-2014*
No .
Pendidikan Tertinggi Yang
Ditamatkan
2011 2012 2013 2014*
Februari Agustus Februari Agustus Februari Agustus Februari
1 Tidak/belum pernah sekolah 96 852 205 218 129 258 86 397 113 389 81 432
134040
2 Belum/tidak tamat SD 566 349 748 742 602 511 513 875 523 936 489 152
610574
3 SD 1 281 605 1 233 475 1 404 892 1 447 454 1 416 155 1 347 555 1374822
4 SLTP 1 796 178 2 117 407 1 710 992 1 703 326 1 811 920 1 689 643 1693203
5 SLTA Umum 2 326 651 2 374 469 2 014 074 1 854 362 1 859 727 1 925 660 1893509
6 SLTA Kejuruan 1 077 462 1 157 813 1 002 867 1 058 412 857 585 1 258 201
847365
7 Diploma I,II,III/Akadem i
455 367 279 921 253 840 198 688 195 427 185 103
195258
8 Universitas 619 617 542 682 546 294 443 518 421 073 434 185 398298
Total 8 220 081 8 659 727 7 664 728 7 306 032 7 199 212 7 410 931 7147069 Sumber: Badan Pusat Statistik
Sementara dengan rendahnya penyerapan tenaga kerja muncul masalah baru dengan berubahnya status seseorang menjadi pengangguran. Menurut Gregory Mankiw (2006 : 154)15, pengangguran adalah masalah makroekonomi
yang mempengaruhi manusia secara langsung dan merupakan masalah yang paling berat. Bagi kebanyakan orang, kehilangan pekerjaan berari penurunan standar kehidupan dan tekanan psikologis. Kesempatan kerja berdampak beruntun, bertahapn, dan luas.
2.4.5 Distribusi Pendapatan Tidak Merata
Distribusi pendapatan nasional merupakan unsur penting untuk mengetahui tinggi atau rendahnya kesejahteraan atau kemakmuran suatu negara. Distribusi pendapatan yang merata kepada masyarakat akan mampu menciptakan perubahan dan perbaikan suatu negara seperti peningkatan pertumbuhan ekonomi, pengentasan kemiskinan, mengurangi pengangguran, dan sebagainya. Sebaliknya, jika distribusi pendapatan nasional tidak merata, maka perubahan
atau perbaikan suatu negara tidak akan tercapai, hal seperti ini yang akan menunjukkan adanya ketimpangan distribusi pendapatan.
Isu tidak meratanya distribusi pendapatan adalah salah satu yang hangat dibicarakan karena membuat kondisi masyarakat seolah-olah dipertanyakan. Maksudnya adalah dengan tidak meratanya distribusi pendapatan, ada potensi hak yang layak diterima masyarakat tidak sepenuhnya diterima dan bisa menimbulkan keresahan bahkan konflik. Mungkin banyak pertanyaan tentang kebijakan pemerintah terkait peningkatan kesejahteraan, contohnya soal pendidikan atau kesehata ; Apakah keberhasilan pembangunan bidang pendidikan dan kesehatan, misalnya, dinikamati juga oleh masyarakat kurang mampu?
2.4.6 Ketidakstabilan Politik
Stabilisasi perekonomian dari suatu negara sangat jelas dipengaruhi oleh faktor politik dan keamanan, yang juga sangat penting ketimbang variabel ekonomi makro lainnya. Tanpa stabilitas politik dan keamanan yang kondusif dari suatu negara, ekonomi tidak akan bisa berbuat banyak terutama dalam hubungannya dengan posisi dari suatu negara dalam memperbaiki variabel-variabel ekonomi.
Apabila situasi politik memanas maka perekonomian Indonesia akan terkena dampaknya. Jika merujuk kepada sejarah, ketidakstabilan politik terlihat jelas berdampak kepada perekonomian di tahun 1997-1999. Gagalnya manajemen di zaman pemerintahan Soeharto membuat hutang luar negeri sulit dibayar. Belum lagi lamanya durasi Soeharto saat menjabat sebagai presiden yang dianggap sebagai pemimpin yang otoriter memaksa rakyat menggulingkan Soeharto dari kursi presiden.
Perekonomian anjlok, nilai tukar rupiah terhadap dollar melemah, dan investor enggan untuk menanamkan modal di Indonesia karena melihat kepala negara Indonesia, sebagai seorang yang bertugas membuat keputusan sekaligus sebagai representasi negara tidak ada untuk menjalankan kewajibannya sehingga Indonesia menjadi negara yang tidak direkomendasikan untuk di buat sebagai tempat investasi.
Tidak hanya perekonomian, ketidakstabilan merembet ke hal-hal lain seperti kriminalitas dan SARA yang jika ditarik benang merahnya, semua konflik bangkit justru bermuara kepada motif ekonomi. Kriminalitas dimana-mana, penjarahan toko-toko dari pengusaha keturunan etnis Tionghoa, serta kekerasan lain yang dampaknya memperburuk situasi perekonomian Indonesia.
Sekarang, percikan-percikan kecil mulai kembali memantik ketika Pilpres kemarin menyisakan dua kandidat calon presiden. Ibarat babak adu pinalti, satu pihak pasti menang dan satu harus menerima kekalahan. Persaingan yang terus berlanjut hingga ke ranah-ranah yang jika dikuasai atas nama kepentingan, maka akan muncul regulasi-regulasi yang kurang ideal kedepannya. Sangat sulit menjauhkan kemiskinan dengan situasi politik.
2.5 Upaya Pemerintah Menanggulangi Kemiskinan 2.5.1 Pemerintahan Orde Lama
Sebenarnya, ada beberapa kebijakan pengentasan kemiskinan yang cukup baik dijalankan yakni reformasi lahan. Walaupun didorong oleh sentiment sosialisme yang ingin menghapuskan feodalisme gaya barat, namun hal ini patut di apresiasi karena pada saat itu sulit melihat seseorang tanpa melihat statusnya, dan peraturan ini menunjang siapapun yang ingin bekerja dan memperbaiki kehidupan perekonomiannya. Namun di akhir pemerintahan, tepatnya tahun 1966, terjadi gejolak krisis politik yang menyebabkan pendapatan per kapita menurun tajam.
Usaha pengentasan kemiskinan pada era pemerintahan Soekarno (orde lama) dimulai tahun 1960-an melalui strategi pemenuhan kebutuhan pokok rakyatyang tertuang dalam Pembangunan Nasional Berencana Delapan Tahun (Penasbede). Berdasarkan TAP MPRS No. II/MPRS/1960 tentang Garis-garis Besar Pola PembangunanNasional Semesta Berencana Tahapan Pertama 1961-1969, pola pembangunan pada masa itu, lebih ditujukan untuk mewujudkan pemerataankesejahteraan rakyat.
Pada masa itu, pembangunan ditujukan untuk meningkatkan pendapatan nasional. Namun pada pelaksanaannya, pembangunan justru terhenti dan penduduk miskin malah bertambah. Krisis politik pada tahun 1965 dan berdampak pada inflasi yang mencapai 650%. Namun, penyebabnya buakan hanya itu saja, melainkan pula beberapa faktor lainnya, yaitu:
Kurangnya pemahaman akaan pembangunan yang memberdayakan masyarakat (tidak berbasis rakyat)
Rakyat dijadiakn basis ideologi politik Kurangnya kecakapan
Orde Baru mulai menjalankan roda pemerintahannya dengan warisan kemiskinan yang tinggi. Namun seiring waktu, situasi politik bisa dikendalikan dan mulai stabil kembali. Setelah itu mucullah kebijakan Pelita (Pembangunan Lima Tahun). Pelita adalah upaya untuk meningkatkan taraf hidup rakyat dan sekaligus meletakkan dasar-dasar bagi pembangunan dalam tahap berikutnya. Pelita berganti sesuai dengan bergantinya kabinetPresiden Soeharto.
Kabinet Pembangunan II atau Pelita II Kabinet Pembangunan III atau Pelita III Kabinet Pembangunan IV atau Pelita IV Kabinet Pembangunan V atau Pelita V Kabinet Pembangunan VI atau Pelita VI Kabinet Pembangunan VII atau Pelita VII
Tujuan tiap Pelita tidak semuanya sama. seperti Repelita I – IV adalah peningkatan kesejahteraan melalui program Sektoral & Regional.
Sedangkan Repelita IV – V adalah peningkatan kesejahteraanmelalui program Inpres Desa Tertinggal. Selain itu ada beberapa program lain yang dibuat di zaman ini, yaitu:
Program Pembangunan Keluarga Sejahtera Program Kesejahteraan Sosial
Tabungan Keluarga Sejahtera Kredit Usaha Keluarga Sejahtera GN-OTA
Kredit Usaha Tani
2.5.3 Pemerintahan Era Reformasi
Selepas krisis tahun 1998 yang melanda Indonesia, tidak banyak program yang pemerintah canangkan. Dari kepemimpinan Habibie hingga Megawati, kebijakan yang dibuat memiliki kecendrungan yang sama, yaitu pengentasan kemiskinan di daerah perkotaan.
sejahtera 1, beasiswa mahasiswa pada keluarga miskin sebanyak Rp. 500. 000, program padat karya, kenaikan gaji.
Berikut ini adalah program pengentasan kemiskinan era Habibie. • Jaring Pengaman Sosial
• Program Penanggulangan Kemiskinan & Perkotaan
• Program Pembangunan Prasarana Pendukung Desa Tertinggal • Program Pengembangan Kecamatan
Presiden Abdul Rahman Wahid, penyediaan kebutuhan pokok bagi keluarga miskin melalui penyediaan pelayanan kesehatan dan pendidikan dan perbaikan lingkungan rumah tinggal, pengembangan budaya usaha bagi masyarakat miskin, kenaikan gaji, pengadaan air bersih sebagai konpensasi kenaikan BBM pada masyarakat miskin kota, kompensasi di bidang pendidikan, kesehatan, OPK, beras murah, dan pelayanan angkutan umum akibat kenaikan BBM.
Secara umum program pengentasan kemiskinan era Abdul Rahman Wahid adalah sebagai berikut:
• Jaring Pengaman Sosial • Kredit Ketahanan Pangan
• Program Penangggulangan Kemiskinan & Perkotaan
Presiden Megawati, Pada tahun 2003 menganggarkan 23,3 trilliun untuk orang miskin, tarip listrik rendah bagi rumah tangga miskin, subsidi bunga murah untuk usaha mikro, memberi bantuan usaha kecil bagi rumah murah, subsidi pupuk agar terjangkau petani, peningkatan pelayanan gizi bagi keluarga miskin, kelompok rentan, pengungsi dan korban bencana. 16
Berikut ini adalah program pengentasan era Megawati: • Pembentukan Komite Penganggulangan Kemiskinan • Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan
2.5.4 Pemerintahan Era Demokrasi
Pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), dibentuk sebuah lembaga penganggulangan kemiskinan bernama Pembentukan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K). Pemerintahan SBY
menargerkan penurunan angka kemiskinan secara nasional sebesar 8 – 10 % pada akhir tahun 2014. Maka dari itu, pemerintah menurunkan Peraturan Presiden No. 15 tentang Percepatan Penanggualangan Kemiskinan yang didalamnya berisi pembentukan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K). TNP2K merupakan tim lintas sector dan lintas pemangku kemiskinan di tingkat pusat untuk penanggulangan kemiskinan.
TNP2K dalam penanggulangan kemiskinan bersasaran dengan membentuk beberapa program klaster, yaitu klaster I, klaster II, klaster III, dan klaster IV.
Sasaran klaster I berbasis rumah tangga atau keluarga. . Program-program Penanggulangan Kemiskinan Klaster I
1. Program Keluarga Harapan (PKH) 2. Bantuan Operasional Sekolah (BOS) 3. Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)
4. Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (JAMKESMAS) 5. Program Beras Untuk Keluarga Miskin (RASKIN)
Sasran kalster II adalah komunitas. Programnya berlandaskan prinsip pemberdayaan masyarakat. Program-program Penanggulangan Kemiskinan Klaster II
1. Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) a. PNPM Mandiri Perdesaan
b. PNPM Perdesaan R2PN (Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pulau Nias) c. PNPM Mandiri Agribisnis/SADI (Smallholder Agribusiness
Development Initiative)
d. PNPM Generasi Sehat Dan Cerdas
e. PNPM Lingkungan Mandiri Perdesaan (PNPM-LMP)
f. Program Pengembangan Sistem Pembangunan Partisipatif (P2SPP) g. PNPM Mandiri Respek (Rencana Strategis Pengembangan Kampung)
Bagi Masyarakat Papua h. PNPM Mandiri Perkotaan
i. PNPM Mandiri Infrastruktur Perdesaan
k. Program Penyediaan Air Minum Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) l. PNPM-Mandiri Daerah Tertinggal Dan Khusus/Percepatan
Pembangunan Daerah Tertinggal Dan Khusus (P2DTK)
m. PNPM Mandiri Kelautan Dan Perikanann (PNPM Mandiri-KP) n. PNPM-Mandiri Pariwisata
o. PNPM-Mandiri Perumahan dan Permukiman (PNPM-Mandiri Perkim) 2. Program Perluasan Dan Pengembangan Kesempatan Kerja/Padat Karya
Produktif
Saran klaster III adalah usaha mikro dan kecil. Program ini bertujuan untuk memberikan akses penguatan ekonomi bagi pelaku usaha mikro dan kecil. Program-program Penanggulangan Kemiskinan Klaster III yaitu:
1. Kredit Usaha Rakyat (KUR) 2. Kredit Usaha Bersama (KUBE)
Sasaran kalaster IV adalah perluasan program pro rakyat yang brtujuan meningkatkan akses terhadap ketersediaan pelayanan dasar dan peningkatan kualitas hidup masyarakat miskin.
1. Program Rumah Sangat Murah.
2. Program Kendaraann Angkutan Umum Murah. 3. Program Air Bersih Untuk Rakyat.
4. Program Listrik Murah dan Hemat.
5. Program Peningkatan Kehidupan Nelayan.
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dari penjelasan diatas kita bisa mengambil kesimpulan dalam beberapa poin, diantaranya :
1. Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhan dasar, kemiskinan kadang juga berarti tidak adnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan yang mampu mengatasimasalah kemiskinan dan mendapatkan kehormatan yang layak sebagai warganegara. 2. Dalam mengukur kemiskinan bisa dengan menggunakan konsep kemampuan
memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach), metode yang digunakan adalah dengan menghitung garis kemiskinan (GK) yang terdiri dari dua komponen, yaitu garis kemiskinan makanan (GKM) dan garis kemiskinan bukan-makanan(GKBM).
penanganan kemiskinan ini berevolusi menjadi program empat kluster (bantuan sosial, pemberdayaan masyarakat, pemberdayaan UMKM dan program murah) yang merupakan program andalan pemerintah.
4. Faktor yang mempengaruhi tingkat kemiskinan di Indonesia bisa dilihat dari tingkat pendidikan yang dituntaskan penduduk, budaya miskin, regulasi pemerintah, kesempatan kerja kurang memadai, distribusi pendapatan tidak merata, ketidakstabilan politik
5. Upaya pemerintah untuk menanggulangi kemiskinan dari presiden ke presiden bisa diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Era PresidenSoekarno :
Pembangunan NasionalBerencana 8 tahun (Penasbede) b. Era PresidenSoeharto :
Repelita I – IV melalui program Sektoral& Regional Repelita IV – V melalui program InpresDesaTertinggal Program Pembangunan Keluarga Sejahtera
Program KesejahteraanSosial Tabungan Keluarga Sejahtera Kredit Usaha Keluarga Sejahtera GN-OTA
Kredit Usaha Tani c. Era PresidenHabibie :
JaringPengamanSosial
Program PenanggulanganKemiskinan&Perkotaan
Program Pembangunan PrasaranaPendukungDesaTertinggal Program PengembanganKecamatan
d. Era Presiden Abdurahman Wahid : JaringPengamanSosial
KreditKetahananPangan
Program PenangggulanganKemiskina&Perkotaan e. Era Presiden Megawati:
PembentukanKomitePenganggulanganKemiskinan Program PenanggulanganKemiskinan di Perkotaan f. Era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono :
Pembentukan Tim KoordinasiPenanggulanganKemiskinan BantuanLangsungTunai
Program PengembanganKecamatan
Jamkesmas
Program KeluargaHarapan BantuanBerasmiskin BantuanSiswaMiskin Kredit Usaha Rakyat
3.2 Saran
1. Program penanggulangan kemiskinan harus berkelanjutan, dalam artian setiap pergantian pemerintahan program penanggulangan kemiskinan pemerintahan sebelumnya bukan dihapuskan, melainkan diteruskan.
2. Program pembangunan pemerintah saat ini tertuang dalamperaturan presiden No. 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka MenegahNasional Tahun 2010-2014, program pembangunan ini harus tetap memprioritaskan penanggulangankemiskinan dan pelaksanaannya harus selalu diawasi dan dievaluasi agar sesuai dengan target yang diharapkan.
3. Program penanggulangan kemiskinan harus yang memberi rangsangan mandiri kepada masyarakat. Bukan program-program yang meninabobokan masyarakat dalam kemalasan.
4. Stabilitas ekonomi sangat berkaitan dengan dunia perpolitikan suatu Negara. Maka dari itu politik suatu Negara harus diupayakan berada dalam kondisi yang kondusif agar perekonomian stabil berdampak pada berkurangnya masyarakat miskin.
DAFTAR PUSTAKA
Undang-Undang Dasar Negara RepublikIndonesiaTahun1945 Pasal 33
Kementerian Komunikasi dan Informatika RI Direktorat Jenderal Informasi Dan Komunikasi Publik (2011) Program Pengentasan Kemiskinan Kbinet Indonesia Bersatu II
Mankiw, Gregory. (2006). Makroekonomi Edisi Keenam. Jakarta: Erlangga.
Nugroho, Iwan dan Dahuri, Rochmin. (2004). Pembangunan Wilayah, Perspektif Ekonomi, Sosial dan Lingkungan. Jakarta: LP3ES.
[Online]http://id. wikipedia. org/wiki/Kemiskinan
[Online] http://bps. go. id/menutab. php?tabel=1&kat=1&id_subyek=23
[Online]http://penomda. blogspot. com/2010/03/model-pengentasan-kemiskinandi. html
Schrool, J. W. (1981). Modernisasi: Pengantar Sosiologi Pembangunan Negara-negara Sedang Berkembang. Jakarta : PT. Gramedia
Stamboel, K. A. (2012). Panggilan keberpihakan: Strategi Mengakhiri Kemiskinan Di Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Suharto, E. (2008). Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat. Bandung: Refika Aditama
Sukirno, Sadono. (2004). Makro Ekonomi. Edisi Ketiga. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Suparlan, Parsudi. (1993). Kemiskinan di Perkotaan. Jakarta: Yayasan Obor Jakarta
Astika, KS. (2010). Jurnal Ilmiah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Budaya Kemiskinan Di Masyarakat: Tinjauan Kondisi Kemiskinan Dan Kesadaran Budaya Miskin Di Masyarakat. , 1 (1), hlm. 20
Cameron, Lisa A. 2000. Journal of Development Economics. Poverty and Inequality in Java: Examining the Impact of The Changing Age, Educational, and Industrial Structure, Vol. 62 hlm. 175-176