BAB 5
KELAPA SAWIT DI KAMPUNG WORKWANA
Sajian berikut ini berisikan beberapa hal berkaitan dengan keberadaan kelapa sawit sebagai komoditi andalan nasional dan perkembangannya di Papua. Penjelasan ini dimulai dengan membuat gambaran umum perkembangan usaha kelapa sawit di Papua, secara khsusus di Kabupaten Keerom, Distrik Arso, Kampung Workwana. Selain itu akan disampaikan juga pengalaman hidup masyarakat terkait dengan dampak kelapa sawit terhadap kesejahteraan mereka di Workwana. Pada bagian akhir akan dibahas pula berbagai permasalahan yang muncul berkaitan dengan usaha kelapa sawit di Kampung Workwana.
Kelapa Sawit di Indonesia
Sebelum berbicara mengenai kelapa sawit di Papua, secara singkat dibahas di sini sejarah kelapa sawit (Elaeis guineensis) di Indonesia. Dari beberapa sumber diketahui bahwa ada dua jenis kelapa sawit yang berkembang di Indonesia yaitu Elaeis melanococca atau
Elaeis olivera, berasal dari Amerika Selatan dan Elaeis guineensis
berasal dari Afrika.
Indriarta (2007) dan Putranto Adi (2012) menyatakan bahwa banyak ditemukan di Indonesia kelapa sawit berdasarkan varietasnya10
10Berdasarkan ketebalan tempurung ada varietas Dura, varietas Psifera dan varietas
baik menurut ketebalan tempurung dan daging maupun dari segi warna kulit. Keduanya juga menjelaskan bahwa kelapa sawit mulai diperkenalkan di Indonesia oleh Pemerintah Belanda pada tahun 1848, sebagai tanaman hias. Di masa itu ada empat batang bibit kelapa sawit yang ditanam di Kebun Raya Bogor, masing-masing dua bibit dari Bourbon, Mauritius dan dari Hortus Botanicus, Amsterdam Belanda. Pembudidayaan kelapa sawit sebagai tanaman komersial baru dilakukan pada tahun 1911 (Sibuea, 2014).
Sumber: Foto B. Renwarin, 2015
Gambar 5.1 Buah Tandan Kelapa Sawit Segar
Sibuea mengungkapkan pada tahun 1919, pada masa penjajahan Belanda, Indonesia pertama kali mengekspor kelapa sawit sebanyak 576 ton dan pada tahun 1923 sebanyak 850 ton. Usaha ini terus berkembang secara signifikan terlihat dari data pada tahun 1940, di mana Indonesia mampu mengekspor 250.000 ton minyak kelapa sawit. Akan tetapi pada masa penjajahan Jepang yakni pada tahun 1948/1949, produksi minyak kelapa sawit di Indonesia hanya mencapai 56.000 ton karena terjadi penyusutan lahan sebesar 16% dari total luas lahan yang ada. Setelah Belanda dan Jepang meninggalkan Indonesia tahun 1957, Pemerintah Indonesia mengambil alih perkebunan kelapa
sawit . Karena alasan politik dan keamanan agar produksi berjalan baik, pemerintah menempatkan perwira militer di setiap jenjang manajemen perkebunan dan membentuk kelompok buruh militer (BUMIL) sebagai wujud kerja sama antara buruh perkebunan dan militer. Namun dampak perubahan manajemen dalam perkebunan dan kondisi sosial politik serta keamanan dalam negeri yang tidak kondusif, menyebabkan produksi kelapa sawit menurun lagi sehingga posisi Indonesia sebagai pemasok minyak kelapa sawit dunia terbesar digeser oleh Malaysia. Kemudian pada masa Orde Baru, pembangunan perkebunan kelapa sawit diarahkan kembali untuk menciptakan kesempatan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sebagai sektor penghasil devisa negara. Maka pemerintah terus mendorong pembukaan lahan baru untuk perkebunan kelapa sawit di seluruh Indonesia. Menurut sumber tersebut pada tahun 1980, luas lahan perkebunan kelapa sawit mencapai 294.560 hektare dengan produksi
Crude Palm Oil (CPO) sebesar 721.172 ton. Sejak itu lahan perkebunan
Pada awal tahun 1980-an, tanaman kelapa sawit digelar sebagai komoditi primadona karena memberi keuntungan yang melimpah sehingga dilakukan perluasan areal perkebunan kelapa sawit secara besar-besaran di seluruh Indonesia. Bila sebelum Perang Dunia ke II, Sumatera Utara dan Aceh adalah penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia, tetapi setelah perang, Malaysia adalah penghasil minyak kelapa sawit utama. Malaysia unggul sebagai penghasil kelapa sawit karena Malaysia dapat mengelola perkebunan kelapa sawit secara efisien dan didukung oleh penelitian serta pengembangan teknologi yang mantap (http://www.petanihebat.com/2013/11/sejarah-kelapa-sawit.html, diunduh 27 Juni 2015). Sampai tahun 2012 perkembangan luas lahan perkebunan sawit di seluruh Indonesia mencapai 9,27 juta hektare dan sedang diproyeksikan akan dikembangkan lagi menjadi 18 juta hektare sampai tahun 2020 (http://www.beritasatu.com/ekonomi/ 248768-54-perusahaan-kembangkan-sawit-di-papua.html, diunduh27 Juni 2015).
Kelapa Sawit di Papua
Pengembangan perkebunan kelapa sawit di Papua dilakukan oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berdasarkan izin-izin resmi pemerintah pusat, yang dapat dilihat pada Keputusan Menteri Pertanian berikut.
Pengembangan lahan perkebunan kelapa sawit di Tanah Papua dilaksanakan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian RI No. 851/Mentan/XI/1980, Tanggal 12 Oktober 1980 dan Surat Keputusan Menteri Pertanian No 918/Mentan/XI/1981 Tanggal 28 Oktober 1981 serta Surat Keputusan Menteri Pertanian No 203/Mentan/III/1982 tentang Penugasan Perseroan Terbatas Perusahaan Nusantara II (PTPN II) membangun perkebunan kelapa sawit di Arso Kabupaten Jayapura dan Prafi Kabupaten Manokwari.
Merauke, 191.274 hektare, dan di Lereh Kabupaten Jayapura seluas 70.267 hektare. Untuk wilayah Kabupaten Keerom sampai tahun 2015 sudah dibuka lahan kelapa sawit oleh 4 perusahaan, yaitu PTPN 2, 17.974 hektare, PT Bumi Irian Perkasa, 1.068 hektare, PT Victory 4.885 hektare dan PT Tandan Sawita 18.337 hektare [Franky & Morgan (Penyunting), 2015]. Setelah sekian lama perkebunan kelapa sawit beroperasi, hasil produksi sawit dari Provinsi Papua sampai tahun 2012, dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 5.1
Produksi Minyak Sawit di Provinsi Papua Tahun 2008-2012
No Tahun produksi Ton Keterangan
1.
Dalam perkembangannya kemudian World Wildlife Fund
(WWF) Indonesia menyuguhkan data temuannya bahwa sampai tahun 2014, sebanyak 30 perusahaan tersebar di 7 (tujuh) kabupaten di Provinsi Papua, telah mendapat izin prinsip Kementerian Kehutanan dan sekitar 24 perusahaan memperoleh izin prinsip dari Kementerian Pertanian untuk melakukan pengembangan usaha pengembangan lahan perkebunan kelapa sawit di Provinsi Papua. Ketujuh kabupaten dimaksud dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 5.2
Tujuh Kabupaten di Provinsi Papua yang Memperoleh Izin Prinsip Usaha dari Menteri Kehutanan dan Menteri Pertanian R.I Sampai Tahun 2014
No Kabupaten Luas lahan usaha
Sehubungan dengan jenis penggunaan hutan, data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Keerom menunjukkan bahwa sejak tahun 2011, pengelompokkan penggunaan hutan di wilayah ini diatur sebagai berikut.
Tabel 5.3
Jenis Penggunaan Hutan Kabupaten Keerom
No. Jenis Penggunaan Luas
1 2 3 4 5 6
Kawasan suaka alam Hutan Produksi terbatas Hutan lindung
Hutan produksi konversi Hutan produksi
Areal penggunaan lain
Total
2.490,54 ha 168.959,03 ha 329.370,09 ha 216.814,75 ha 124.225,55 ha 100.300,35 ha
942.160,31 ha
Sumber: BPS Kabupaten Keerom 2013
BPS Kabupaten Keerom tahun 2013 juga memperlihatkan bahwa luas lahan pemukiman penduduk di daerah ini hanya 686 hektare atau 0,08% dari total lahan bukan sawah. Luas lahan bukan sawah yang sebagian besar masih berfungsi sebagai hutan, luasnya 841.701 hektare atau 97,29%. Sisa tanah yang telah dikelola sebagai perkebunan besar 16.405 hektare atau 1,90% dan 4.056 hektare atau 0,47%, dikelola sebagai tempat kegiatan pertanian lahan kering. Data ini mengindikasikan bahwa peluang pengembangan dan perluasan usaha perkebunan industri seperti perkebunan kelapa sawit terus terjadi dengan alasan luas lahan bukan sawah yang berfungsi sebagai hutan ternyata masih cukup luas. Kecenderungan ini justru menyebabkan hilangnya hutan tempat masyarakat setempat atau penduduk asli Keerom mencari nafkah sebagaimana dikeluhkan masyarakat selama ini di Kampung Arsokota, Workwana dan kampung-kampung lain di Kabupaten Keerom.
PTPN II
ada berbagai survey, dan wilayah Keerom dilihat sebagai salah satu tempat yang cocok untuk pengembangan pertanian dan perkebunan, sesuai dengan rencana percepatan pembangunan Papua oleh Pemerintah Belanda. Menurut Meteray (2012,143-168), strategi Belanda setelah Konferensi Meja Bundar (KMB) Tahun 1950 dibuatlah perencanaan percepatan pembangunan Papua di bidang pemerintahan, pendidikan dan ekonomi, untuk menghalangi niat Indonesia merebut Papua. Setelah Papua menjadi bagian dari Indonesia, rencana tersebut ditindaklanjuti oleh Pemerintah Provinsi Irian Jaya dan Kabupaten Jayapura. Ketika Bapak Barnabas Youwe menjadi Bupati Jayapura, mulailah ditindaklanjuti pengembangan daerah Keerom sebagai daerah pertanian dan perkebunan. Sejalan dengan kepentingan politik pembangunan di daerah perbatasan RI dan PNG, masuklah Perseroan Terbatas Perkebunan Nusantara II (PTPN II) yang berpengalaman mengelola kelapa sawit ke Keerom bersama dengan berbagai perusahaan HPH yang mengelola hutan Keerom.
PTPN II sebagai perusahaan kelapa sawit di Keerom merupakan BUMN yang sejak tahun 1980-an bergerak dalam pengelolaan perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Arso, yang berpusat di Medan Sumatera Utara. Sesudah itu beberapa perusahaan kelapa sawit lainnya menyusul masuk dan beroperasi di Kabupaten Keerom.
Sejarah Berdirinya PTPN II
holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di bidang Perkebunan (https://id.wikipedia.org/wiki/Perkebunan_Nusantara_II, diunduh 28 Juni 2015).
Visi dan Misi PTPN II
Visi PTPN II Tanjung Morawa (dalam, Rosariyanto dkk., 2008) adalah turut melaksanakan dan menopang kebijaksanaan serta program pemerintah di bidang ekonomi dan pembangunan nasional umumnya. Secara khusus di sub sektor perkebunan dalam arti seluas-luasnya PTPN II bertujuan memupuk keuntungan berdasarkan prinsip-prinsip perusahaan yang sehat. Sedangkan Misi perusahaan ini adalah profitisasi melalui pendayagunaan, pengelolaan perusahaan di bidang perkebunan, dengan mengusahakan lima budidaya komoditi unggulan yakni kelapa sawit, karet, kakao, tembakau dan tebu secara efisien, ekonomis sehingga dapat mencapai produk yang memenuhi standar kualitas yang dibutuhkan oleh konsumen, serta melakukan diversifikasi usaha yang dapat mendukung kinerja perusahaan. Pengelolaan produksi disesuaikan dengan perkembangan teknologi yang berwawasan lingkungan, memiliki daya saing yang kuat, serta meningkatkan kemitraan dengan petani untuk memenuhi pasar dalam dan luar negeri guna kelangsungan usaha dalam mendukung pertanian dan perkebunan.
Undang Dasar (UUD) 1945, yang menempatkan kedaulatan rakyat dan kesejahteraannya sebagai tujuan pembangunan ekonomi sebagai bangsa Indonesia.
Komoditi yang Diusahakan
PTPN II sebagai perusahaan industri perkebunan mengusahakan berbagai jenis komoditi, yaitu kelapa sawit, karet, kakao, gula dan tembakau. Budidaya kelapa sawit diusahakan pada areal seluas 85.988,92 hektare, karet 10.608,47 hektare dan kakao seluas 1.981,96 hektare. Selain penanaman komoditi pada areal sendiri
plus inti, PTPN II juga mengelola areal plasma milik petani seluas 22.460,50 hektare untuk tanaman kelapa sawit. Di samping itu PTPN II juga mengelola tanaman musiman yaitu tebu dan tembakau. Tanaman tebu lahan kering ditanam pada areal seluas 13.226,48 hektare. PTPN II Nusantara ini sampai sekarang masih mengelola kelapa sawit di wilayah Keerom, khususnya Kampung Arsokota dan Workwana.
ditangani perusahaan asal Cina, Yong Jing Investment
(https://awasmifee.potager.org/?p=1198&lang=id, diunduh 31 Mei 2015).
Selanjutnya pada tahun 1992 PTPN II melaporkan bahwa luas kebun petani plasma 3.600 hektare, luas kebun inti 2.162 hektare sehingga total luas kebun yang ada 5.762 hektare. Dalam perkembangan beberapa tahun setelah itu, sampai tahun 2006 PTPN II telah menyampaikan data luas lahan panen seluruhnya 8.339 hektare, terdiri dari luas panen kebun plasma 3.600 hektare, luas panen kebun inti 1.871 hektare, luas panen KKPA (transmigrasi) 1.800 hektare dan luas panen kebun Perusahaan Bumi Inti Perkasa (BIP) 1.068 hektare. Namun data Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Keerom menunjukkan luas lahan sawit PTPN II mencapai 11.921 hektare dan luas panen sebesar 10.195 hektare.
Perbedaan data di atas menimbulkan perbedaan tafsiran. Pertama, perusahaan tidak membeberkan secara terbuka seluruh luas kebun kelapa sawit yang selama ini diusahakan berkaitan dengan produksi dan pajak perusahaan; kedua, pemerintah daerah mencatat apa adanya luas lahan dan luas panen sawit sesuai dengan kenyataan lapangan yang ada dan izin-izin pembukaan lahan yang ada. Perbedaan data seperti ini menurut Greenpeace Southeast Asia memperlihatkan kurang transparannya pihak-pihak terkait termasuk pemerintah karena tidak tersedia data mengenai konsesi kelapa sawit secara sentralistik (http://image.greenpeace.or.id/indonesia-Map/, diunduh 3 Juni 2015).
oleh program Perkebunan Inti Rakyat (PIR) yang melibatkan masyarakat setempat sebagai petani (petani plasma). Padahal dalam kenyataan program PIR di wilayah Arso dan Workwana sebagian besar berisikan warga transmigrasi dari luar Papua. Hubungan kerja antara petani plasma dan perusahaan perkebunan dijalin dalam suatu sistem yang saling menguntungkan. Menurut hemat penulis yang menarik untuk dipertanyakan ialah mengapa setelah kebun kelapa sawit beroperasi 18 tahun, baru kemudian muncul penyempurnaan izin usaha pelaksanaan perkebunan kelapa sawit yang dikeluarkan pada tahun 1999. Tindakan seperti ini dapat dikatakan sebagai bentuk
derivasi dan akal-akalan terhadap kegiatan usaha perkebunan. Artinya
surat izin tersebut dikeluarkan untuk membenarkan dan melegitimasi usaha yang sudah berjalan sebagai usaha yang legal.
Perkebunan Sawit di Kampung Workwana Distrik Arso
Bagian ini berisikan pembahasan mengenai pelepasan tanah adat untuk areal kebun kelapa sawit di Distrik Arso yang meliputi Kampung Arsokota, Workwana dan beberapa kampung lain seperti Skanto, pada tahun 1981. Kemudian akan dibahas juga bagaimana perempuan Kampung Workwana terlibat dan berperan dalam penanaman dan pemeliharaan kelapa sawit di wilayahnya. Pokok lain yang juga dibicarakan di sini terkait dengan harga jual kelapa sawit dalam bentuk tandan buah segar (TBS) yang dari waktu ke waktu mengalami fluktuasi harga dan dampaknya terhadap masyarakat atau petani setempat.
Pelepasan Tanah Areal Kebun Kelapa Sawit
Dari dokumen tokoh Adat yang diperlihatkan saat penelitian di wilayah Arso tentang permasalahan kelapa sawit disebutkan bahwa, perkebunan kelapa sawit di wilayah Arso dimulai dengan suatu survei beberapa tahun sebelumnya. Sesudah itu pada tahun 1981/1982 berlangsunglah penanaman kelapa sawit dengan mengutamakan kebun plasma dalam sistem perkebunan inti rakyat (PIR). Memang salah satu penelitian pernah dibuat oleh Parsudi Suparlan (1972) di wilayah Arso tahun 1965. Menurut Suparlan dalam laporan penelitiannya, kegiatan penelitian tersebut dilakukan berkaitan dengan kepentingan penempatan transmigrasi di daerah Arso dan tidak mengatakan dalam rangka pengembangan perkebunan kelapa sawit. Namun dari sejumlah informasi lain diketahui bahwa sudah ada beberapa penelitian dilakukan sebelumnya yang berkaitan dengan kepentingan pengembangan perkebunan sawit di daerah ini.
Berikut ini diuraikan perihal pengalihan atau pelepasan tanah masyarakat untuk perkebunan sawit di Arsokota dan Workwana. Rosariyanto dkk., (2008), dalam laporan penelitiannya menyatakan bahwa pelepasan tanah adat dilaksanakan beberapa tahap. Pada tanggal 9 Juli 1981 terjadi pelepasan hak atas tanah adat (tanah ulayat) seluas 18.000 hektare di Arso, 12.000 hektare di Workwana dan 6.000 hektare di Skanto11. Pada saat yang sama Panitia Pembebasan Tanah
Pemerintah Daerah Tingkat II Kabupaten Jayapura mengeluarkan keputusan bahwa tanah seluas 18.000 hektare adalah tanah yang diserahkan oleh pemiliknya kepada negara dan menjadi tanah yang langsung dikuasai oleh negara. Berkaitan dengan pelepasan tanah-tanah tersebut, pada saat yang sama keluarlah keputusan Panitia Pembebasan Tanah Pemerintah Daerah Tingkat II Kabupaten Jayapura No 18/KPTS/Pan/1981. Tindak lanjut pelepasan tanah tersebut diperkuat dengan Keputusan Bupati. Pada tanggal 17 September 1981 muncullah Surat Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Jayapura
Nomor 59/KPTS/BUP-JP/1981, isinya tanah seluas 18.000 hektare akan digunakan untuk lokasi transmigrasi di Arso Kecamatan Arso dan di daerah Koya Kecamatan Abepura. Menurut Ansaka dkk., (2009, 334-335), beberapa bulan sesudah itu, pada tanggal 19 Oktober 1982 muncullah surat pernyataan pelepasan hak atas tanah adat seluas 50.000 hektare oleh duapuluh empat orang yang mempunyai hak atas tanah ulayat yang terletak di Desa Arsokota dan di Desa Workwana12.
Setelah itu menyusullah sebuah surat pada tangal 23 Maret 1983 oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Irian JayaNo. 53/GIJ/1983 tentang penetapan lokasi (areal) transmigrasi di Kecamatan Arso Kabupaten Daerah Tingkat II Jayapura. Namun kemudian pada tanggal 4 Mei 1983 keluar Surat Keputusan Bupati Daerah Tingkat II Jayapura No. 31/KPTS/BUP-JP/1983 tentang perubahan peruntukan penggunaan tanah. Dalam SK Bupati tersebut ditetapkan bahwa areal seluas 12.000 hektare di Workwana akan digunakan untuk Proyek Perkebunan Kelapa Sawit dan Karet yang sebelumnya areal ini ditetapkan untuk Proyek Transmigrasi. Setelah itu pada tanggal 15 Maret 1986 Panitia pembebasan tanah mengeluarkan SK No 06/KPTS-PAN/III/86, berisikan penetapan pemberian rekognisi atas tanah seluas 12.000 hektare di Desa Arsokota dan di Desa Kwimi sebesar Rp 90.000.000,-. Pemberian rekognisi tersebut dilakukan dalam bentuk barang, yaitu 2 buah mobil truk, 5 buah mobil kijang bak terbuka, 4 buah mesin jahit, 2 buah chainsaw.
Selanjutnya, gambar di bawah ini menunjukkan keadaan di sekitar Kampung Workwana yang sedang dikelilingi oleh perkebunan kelapa sawit. Kelapa sawit yang terlihat di sekitar Kampung Workwana berada di sebelah selatan, sebelah timur dan sebagian kecil di sebelah barat. Dari ceritera yang beredar di masyarakat,secara besar-besaran akan dibuka kebun kelapa sawit baru di sebelah utara Kampung
Workwana dan Arsokota hingga ke Koya Timur wilayah Kota Jayapura. Dengan demikian seluruh wilayah Distrik Arso akan dikepung oleh kebun kelapa sawit.
Sumber: Kantor Distrik Arso, 2010 (Dimodifikasi)
Gambar 5.2
Denah Kampung Workwana dan Perkebunan Kelapa Sawit
Tabel 5.4
Waktu Tanam Kelapa Sawit di Distrik Arso
No. Tahun tanam
Kelapa Sawit
Tempat Keterangan
1. 2. 3.
4 5
1980/1981 1981/1982 1982/1983
1983/1984 1984/1985
Arsokota PIR 1
PIR 1 & Tikungan Kepala Putus
Workwana
Workwana, PIR 2, PIR 3 PIR 2, 3 & 4
Termasuk PIR 1, Kwimi Kampung Tua Wor
Sumber: Penelitian di Kampung Workwana 2015
Waktu penanaman sebagaimana terdapat pada Tabel 5.4 menunjukkan bahwa, kelapa sawit awal mula mulai ditanam di daerah Kampung Arsokota dan sekitarnya, kemudian tahun berikutnya dilanjutkan di lokasi PIR, termasuk di Kampung Workwana pada tahun 1983/1984 sampai tahun 1984/1985.
Gambar 5.3 berikut ini merupakan gambar kebun kelapa sawit di depan jalan masuk Kampung Workwana, tepat di sebelah selatan jalan Trans Irian. Gambar ini merupakan salah satu bagian dari hamparan kebun kelapa sawit di Workwana dan sekitarnya, setelah 30 tahun ditanam. Pohon kelapa sawit yang tumbuh terlihat semakin tinggi dan tidak diurus baik oleh pemilik maupun orang yang mengontrak lahan tersebut. Setelah makin lama masa pertum-buhannya, produksi kelapa sawit di daerah ini terus berkurang
Sumber: Foto B. Renwarin 2014
Data Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Keerom (Keerom dalam Angka, 2007), seperti dimuat dalam buku, Dari Kampung ke Kampung (2009) mengungkapkan, luas kebun kelapa sawit di Kabupaten Keerom mencapai 11.921 hektare dan luas panen 10.195 hektare. Sedangkan data yang dikeluarkan oleh PTPN II Arso (Keerom dalam Angka 2007) mengungkapkan, luas panen kelapa sawit tahun 2006 adalah 8.339 hektare. Luas areal panen tersebut berasal dari kebun plasma 3.600 hektare, kebun inti 1.871 hektare, KKPA 1.800 hektare dan Bumi Irian Perkasa 1.068 hektare. Jadi pabrik kebun kelapa sawit milik PTPN II kebun Arso mengolah kelapa sawit yang mempunyai luas panen 8.339 hektare (Ansaka, dkk., 2009).
Seperti sudah dijelaskan di bagian awal, bibit kelapa sawit sebelum ditanam disemaikan di Kampung Arsokota dekat perkebunan karet PTPN II. Tenaga kerja di pembibitan tersebut pada umumnya berasal dari daerah Arso dan sekitarnya, yang dibayar Rp 500,–Rp 2.000,- per polibag bibit kelapa sawit (http://www.mongabay.co.id/ tag/kebun-sawit-papua/, diunduh 31-5-2015)
Ketika penanaman dilakukan, bibit kelapa sawit diambil dari tempat pembibitan dan disebarkan di setiap lokasi yang sudah disiapkan. Menurut ceritera warga Kampung Workwana setelah kelapa sawit berusia 25 tahun, seharusnya dilakukan peremajaan oleh perusahaan tetapi masyarakat menolaknya. Sekarang kelapa sawit di Workwana sudah berumur 30 tahun, belum ada tanda-tanda akan diadakan peremajaan.
Sumber: Foto B. Renwarin 2014
Gambar 5.4 di atas sebelah kiri memperlihatkan keadaan kebun kelapa sawit yang terletak di sebelah selatan Kampung Workwana di tepi jalan Trans Irian (Papua). Dari pengataman dan penjelasan masyarakat, pohon kelapa sawit semakin tinggi dan tidak diurus lagi oleh petani pemilik lahan maupun orang yang mengontrak kebun tersebut sehingga kelapa sawit tumbuh berdampingan dengan tumbuh-tumbuhan hutan lainnya. Kemudian di Gambar 5.4 sebelah kanan di atas juga memperlihatkan lahan kelapa sawit penduduk Workwana di wilayah utara jalan Trans Irian di dekat Kampung Workwana yang dibiarkan tumbuh dengan pepohonan dan alang-alang bagaikan hutan, sehingga terkesan lahan ini bukan lahan perkebunan kelapa sawit. Keadaan seperti ini tentu berdampak pada kesuburan tanaman kelapa sawit.
dilakukan agar tidak terjadi erosi dan menjaga kesuburan tanah serta pemeliharaan jembatan panen serta kegiatan pemeliharaan lainnya.
Perempuan di Kebun Sawit dan Sistem Kerja
Dalam pertemuan dengan ibu-ibu asal Kampung Workwana di Susteran KSFL Kampung Workwana, mereka berceritera mengenai pengalaman bekerja di kebun sawit. Menurut penyampaian ibu-ibu tersebut, ketika penanaman awal tahun 1983/1984 di depan jalan Trans Irian depan Kampung Workwana sampai di PIR 3, Bagia, saat itu seluruh wilayah ini masih berupa hutan. Ibu-ibu dan kaum perempuan muda pada awal pembukaan lahan belum terlibat.
Ketika penulis bertanya kepada Ibu Martina dan kawan-kawannya tentang bagaimana pengalaman mereka terlibat menanam kelapa sawit, spontan pengalaman masa lalu tersebut diungkapkan kembali. Ibu-ibu dengan penuh semangat berceritera bahwa mereka terlibat juga memikul bibit kelapa sawit dari jalan raya ke kebun, setelah itu menanam bibit tersebut di dalam lubang yang sudah digali sebelumnya oleh orang yang disewa menggali lubang. Dikatakan oleh ibu-ibu tersebut, orang yang memikul bibit kelapa sawit dibayar per pohon Rp 300; dan orang yang menggali lubang dibayar Rp 150; Selain pembayaran per pohon, pembayaran orang yang memikul bibit kelapa sawit diperhitungkan juga oleh perusahaan sesuai dengan jarak tempuh atau seseorang memikul bibit kelapa sawit yang hendak ditanam. Dikatakan oleh ibu-ibu tersebut pada waktu awal pembukaan lahan sawit sudah ada banyak orang Papua dari luar Keerom dan pendatang dari luar Papua yang terlibat dalam bekerja bersama saling membantu di lahan kelapa sawit.
selesai sekolah atau waktu libur. Selain pemilik lahan yang bekerja di lahannya, ada juga kelompok yang membantu membersihkan lahan sawit, sebulan sekali. Dikatakan oleh salah satu informan warga Kampung Workwana, sistem kerja di lahan sawit dilakukan secara berkelompok, bukan hanya untuk pembersihan tetapi juga ketika panen karena panen biasanya dilakukan bersama. Ada 5 kelompok kerja di Workwana yakni, diberi nama kelompok Wembi atau kelompok 15, ada kelompok 12, ada kelompok 13, ada kelompok 11 dan ada kelompok 10. Masing-masing kelompok diberi batas wilayah kerja. Misalnya kelompok 10 mempunyai wilayah kerja meliputi kampung tua, di depan Gereja Pentakosta; kelompok 11 wilayah kerjanya sampai di depan Gapura Kampung Workwana; kelompok 15 bekerja di wilayah PIR 3.
1998 sampai tahun 2000, ibu-ibu dan perempuan muda tidak sanggup memikul TBS karena satu tandan beratnya bisa mencapai kurang lebih 40 kg. Dari kisah ibu-ibu ini menjadi jelas bahwa ibu-ibu dan kaum perempuan muda tidak hanya terlibat menanam dan membersihkan lahan tetapi juga terlibat dalam pemupukan dan pemeliharaan bahkan ikut memetik dan memikul TBS. Selain itu dikatakan juga bahwa sebagai pemilik lahan mereka harus bertanggungjawab menyiapkan makanan dan minuman baik untuk suami maupun untuk anggota kelompok kerja yang membantu baik saat membersihkan lahan maupun ketika memanen kelapa sawit.
Pengaturan Uang Hasil Panen
menjadi pejabat-pejabat di pemerintah dan ditempat lain, yang berasal dari Kampung Workwana adalah hasil dari usaha kelapa sawit ini.
Harga Jual Kelapa Sawit
Menurut pengalaman warga masyarakat di Workwana, harga jual kelapa sawit ditentukan oleh perusahaan. Di masa lalu di wilayah Arso, kelapa sawit pernah dijual dengan harga Rp 300 per kg. Sekarang di Papua harga kelapa sawit 1 kg, Rp 700,-. Harga kelapa sawit di Papua berbeda dengan harga kelapa sawit di daerah lain. Benny Montulalu pun menyatakan pada tahun 2012, harga kelapa sawit turun lagi menjadi Rp 500,- per kg. Harga yang sedemikian rendah menyebakan petani ketika itu tidak ada yang memanen kelapa sawitnya. Padahal 1 ton kelapa sawit dimuat 1 mobil truk seharga Rp 1.000.000,- Harga sawit di Workwana ini berbeda jauh dengan harga di Kalimantan Selatan, 1 kg mencapai Rp 1.500,- walaupun saat ini turun menjadi Rp 1.200,- (Kompas, 13 Agustus 2015). Selanjutnya Benny13menjelaskan,
pada tahun 2006-2008, kelapa sawit dijual dengan harga Rp 1.000.000,- per ton. Namun pengelompokkan kebun kelapa sawit menurut waktu tanam dibedakan dalam beberapa afdeling dan berpengaruh pada harga kelapa sawit. Afdeling 1, PIR 1 Yanamaa, di wilayah Kampung Arsokota, Afdeling 2, PIR 2 Yamta dan PIR 3 Bagia di daerah Workwana, Afdeling 4, PIR 4 Wonorejo, Afdeling 5, PIR 5 Yamara dan Wembi. Ketika kelapa sawit mulai dipanen di daerah Workwana, perusahaan menetapkan harga per-afdeling berbeda–beda karena perbedaan masa tanam. Misalnya pada tahun 2012, afdeling II,di PIR II, harga TBS per kilogram (kg) Rp 88,-; afdeling III harga TBS per kg Rp 95,-. Sedangkan afdeling IV, PIR IV harga TBS per kg Rp 100,-. Dari pengalamannya selama ini dikatakan, fluktuasi harga kelapa sawit terus berubah-ubah setiap bulan. Selanjutnya Pak Benny juga
mengatakan, sejak Juni-Agustus tahun 2015, harga kelapa sawit per ton ada di kisaran Rp 300.000,- sampai Rp 1.100.000 per ton.
Dikatakan oleh Pak Benny, sekarang ini rata-rata produksi kelapa sawit menurun di daerah Arso dan Workwana karena usia tanam yang melampaui waktu sehingga memengaruhi harga pembelian. Selain itu pengelompokkan menurut afdeling sebagaimana disebut di atas, juga dibedakan jenis petani perkebunan kelapa sawit ke dalam tiga kelompok yakni petani kebun inti, petani kebun plasma dan petani Koperasi Kredit Primer Anggota (KPPA). PTPN II mengelola kebun inti dan mempekerjakan tenaga petani atau buruh tani di bawah pengawasan perusahaan. Sedangkan kelompok petani kebun plasma mengelola kebunnya sendiri atau menyewa tenaga buruh tani sebagaimana diungkapkan beberapa pemilik kebun kelapa sawit di Workwana. Sedangkan kelompok KKPA pada umumnya bekerja secara berkelompok. Kelompok KKPA ini berada di Arso 2, Arso 7, Arso 8 dan Swakarsa. Kelompok ini pada umumnya warga transmigrasi yang mendapat fasilitas kredit sebagai petani kelapa sawit karena menjadi anggota koperasi. Dampak dari fluktuasi harga kelapa sawit seperti disebutkan di atas memengaruhi pendapatan petani. Dikatakan oleh sejumlah warga di Workwana, dari pengalaman mereka mengelola kebun kelapa sawit ternyata ada untung dan rugi. Dikatakan sejak tahun 1998/1999 mereka lebih banyak mengalami kerugian karena harga yang tidak stabil dan pengeluaran untuk mengelola kebun tidak sebanding dengan pendapatan.Uang yang ada biasanya habis digunakan membayar beban-beban urusan kebun sawit dan keperluan harian keluarga sehingga tidak bisa menabung.
Informasi lain diperoleh dari Pak Thomas Lobay14, tenaga
teknis Dinas Perkebunan Kabupaten Keerom. Ia menjelaskan beberapa
hal terkait kelapa sawit di Keerom. Dikatakannya, pada tahun 2008 semasa Bupati Celsius Watay ada rencana peremajaan tanaman sawit di wilayah Arso, tetapi rencana tersebut tertunda-tunda karena Kepala Dinas Perkebunan ketika itu bermasalah, sehingga akhirnya rencana tersebut tidak dapat dilaksanakan. Sehubungan dengan kesejahteraan masyarakat adat ia juga mengatakan dahulu diatur setiap panen kelapa sawit, ketika ditimbang di perusahaan akan dipotong Rp 2,- per kg oleh perusahaan untuk kepentingan masyarakat adat. Dana ini kemudian diserahkan oleh perusahaan untuk dikelola Lembaga Masyarakat Adat Arso. Penggunaannya diatur demikian. Hasil pemotongan uang tersebut dimasukkan ke rekening Lembaga Masyarakat Adat Arso dan laporannya disampaikan kepada pemerintah daerah setempat. Bila uang tersebut ingin digunakan oleh masyarakat adat, harus ada rekomendasi petugas khusus pemerintah, yakni Bapak Thomas Lobay. Menurut Thomas, dana tersebut digunakan untuk membantu anak-anak sekolah dan untuk penguatan lembaga adat serta kebutuhan lain. Bila ingin digunakan untuk kebutuhan masyarakat adat, selalu harus ada rekomendasi dari petugas dan sepengetahuan pemerintah daerah setempat. Menurutnya, beberapa anak Keerom yang disekolahkan dan berhasil baik antara lain dibiayai oleh dana ini. Dikatakan oleh Thomas bahwa, sebenarnya sistem pola plasma yang diterapkan pada 10 kampung di wilayah Arso, salah satunya adalah Kampung Workwana sesungguhnya menguntungkan masyarakat. Masyarakat Workwana bertempat tinggal di kampung, dan diperlakukan sebagai petani plasma. Petani Plasma mempunyai lahan kelapa sawit seluas 3.600 hektare. Di samping itu ada masyarakat petani lain yang ditempatkan di PIR I sampai PIR V sebagai petani plasma. Sedangkan KKPA ada di Arso I sampai XI, mempunyai 11.000 hektare, dengan kebun sawit seluas 5.700 hektare. Masalah yang sekarang dihadapi masyarakat ialah harga sawit yang terus menurun. Maka masyarakat petani melalui
Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) sekitar 4 November 2015 telah memasukkan surat keberatan masyarakat petani ke DPRD Kabupaten Keerom untuk ditinjau dan dicari jalan keluar.
Pemilikan, Kontrak dan Penjualan Lahan Kelapa
Sawit
Menurut para informan, ketika perkebunan kelapa sawit dimulai di daerah ini, kepemilikan tanah dan hutan dilepas masyarakat adat dengan sejumlah kompensasi berupa uang dan barang serta janji-janji oleh perusahaan dan pemerintah daerah bahkan disertai intimidasi aparat keamanan yang digunakan oleh perusahaan dan pemerintah ketika itu untuk maksud tersebut.
Tabel 5.5
Daftar Nama Pemilik Kebun Kelapa Sawit Kampung Workwana
No Nama Kelamin Kelola
Sumber: Kantor Kampung Workwana, 2014
1 2 3
Gambar 5.5
Diagram Perbandingan Pemanfaatan Lahan Kelapa Sawit
Pengelolaan lahan kelapa sawit di Workwana dibedakan berdasarkan tiga kategori kelompok kepemilikan. Pertama, kelompok yang mengelola sendiri lahannya adalah petani pendatang 2 orang (1%); kedua, kelompok yang mengontrakan lahan, pendatang 1 orang, penduduk asli Papua 53 orang (69%) dan ketiga, kelompok yang menjual lahan 24 orang (30%) adalah orang asli Papua. Persentase data ini memperlihatkan bahwa kecenderungan mengolah sendiri lahan lebih kecil sedangkan kecenderungan mengontrakan lahan lebih besar dan kecenderungan menjual lahan sedang. Berdasarkan informasi masyarakat setempat, kecenderungan-kecenderungan ini dilatar-belakangi oleh berbagai alasan. Kelompok 1, cenderung mengolah sendiri lahan kelapa sawitnya karena mempertimbangkan keuntungan ekonomi dari usaha kebun kelapa sawit tersebut dan nampaknya kelompok ini mempunyai modal usaha. Kalau pun harus kredit di bank, nampaknya sistem tersebut bukanlah suatu cara berusaha yang asing baginya. Kelompok 2, mempunyai alasan sendiri untuk mengontrakan lahannnya antara lain karena, pekerjaan dan usaha ini dilihat kurang mendatangkan keuntungan dan bahkan tanpa bekerja keras masih mendapatkan uang hasil kontrak. Kelompok 3, mempunyai kecenderungan menjual lahan kepada orang lain seperti tertera dalam daftar pemilik lahan pada Tabel 5.5 di atas.
Sistem Kontrak Lahan
Sebagaimana disampaikan oleh para informan di Workwana, sejak tahun 2000 pada umumnya penduduk asli Workwana pemilik lahan kelapa sawit tidak memanen sendiri kelapa sawitnya karena
Mengontrakan lahan 69 % Kelola
sendiri 1 %
berbagai alasan, maka urusan kebun kelapa sawit diurus oleh pengontrak lahan. Penjelasan berikut ini dicacat berdasarkan hasil pembicaraan dengan sejumlah informan di Kampung Workwana. Selain itu dimuat juga beberapa pengalaman dari orang yang mengontrak lahan penduduk asli.
Beberapa informan menjelaskan pengalaman mereka di seputar kontrak lahan kelapa sawit. Harga kontrak pun berbeda-beda sebagaimana disampaikan oleh kelompok ibu-ibu dari Workwana. Contohnya, Ibu Evi dan ibu Bernadeta mengontrakkan lahan mereka masing-masing 1 tahun seharga Rp 5 juta; Ibu Fransiska mengontrakkan lahan 1 tahun hanya Rp 2 juta dan Ibu Martina juga mengontrakkan lahannya Rp 2,3 juta. Perbedaan harga kontrak ini disebabkan oleh lamanya masa tanam dan jarak dari kebun ke jalan raya. Ceritera lain tentang kontrak lahan kelapa sawit menurut Bapak Moses Fatagur, ada yang mengontrakkan per tahun Rp 250.000,- sampai Rp 300.000,- per bulan dan ada yang mengontrak 2 tahun, dengan harga Rp 500.000,- per bulan. Selain itu, ada juga yang menyewakan lahan pada orang lain dengan catatan hasil dibagi dua. Cara lain lagi ialah, mengontrakkan atau menyewakan lahan dengan jaminan, orang yang mengontrak atau menyewa bertanggungjawab sampai anak-anak atau adik dari pemilik lahan selesai kuliah. Sistem ini belum dibuat oleh warga lain di kampung ini. Warga pada umumnya menggunakan sistem biasa dengan menerima uang dari orang yang mengontrak lahan. Sistem ini tidak memberi peluang pada keluarga untuk mengambil uang dari orang yang mengontrak atau menyewa lahan. Ada perjanjian yang dibuat melalui sistem yang mana jika yang kuliah tidak selesai dia harus ganti rugi seluruh biaya yang dikeluarkan. Sistem ini baru dipraktekkan oleh Pak Moses dan belum diikuti oleh warga lain. Menurut penjelasannya perjanjian dibuat tertulis antara Pak Moses dan adiknya yang dibiayai oleh pengontrak dan yang disetujui oleh orangtua kandung.
mengutarakan pengalamannya sebagai berikut. Ia seorang PNS yang bekerja sebagai tenaga Tata Usaha SMP Negeri PIR 4, tinggal di PIR 3 Bagia bersama suaminya bernama Zeke Pande Eki, Guru pada SMP Negeri yang sama. Mereka mengelola 6 hektare lahan kebun kelapa sawit sebagai milik pribadi dan mengontrak 5 hektare lahan milik masyarakat lainnya. Menurut Ibu Sesilia, sekarang ini 1 lahan hanya bisa menghasilkan 1 (satu) ton kelapa sawit, tapi sering juga kurang dari 1 ton, bahkan tidak jarang ada pohon yang tidak berbuah sama sekali. Ketika panen 1 mobil truk bisa mengangkut 200 – 400 tandan saja. Dari pengalamannya selama ini, setiap bulan bisa panen dan hasil panen dari semua lahan hasilnya lumayan baik. Buruh tani yang digunakan ialah pemuda-pemuda kampung asli setempat.
Pengalaman lain diceriterakan oleh Pak Beny Montulalu mengenai sistem kontrak lahan:
kelapa sawit. Menurutnya, tahun 1995–1996 hasil panen kelapa sawit baik, tapi sejak tahun 2004 sampai 2005, lahan yang dikelola petani hasilnya menurun dan petani pemilik lahan cenderung mencari orang lain untuk mengurus sawit sehingga mulai terjadi sistem kontrak. Ia mempunyai buruh harian lepas (BHL) 15 orang dan sekarang hanya ada 7 sampai 8 orang yang bekerja di 40 lahan tersebut. Dari pengalamannya selama ini 1 lahan bisa menghasilkan 30 sampai 40 tandan. 1 tandan beratnya 16 kg. 1 tandan bila dipikul ongkos bayar Rp 3.500. Bila dihitung pendapatan kotor setiap lahan, rumusnya ialah, 35 x 16 kg x Rp 750,- = Rp 420.000,- Sedangkan untuk pengeluaran terdiri dari biaya, seperti, bayar Bhl: Rp 122.500/orang; Uang makan 2 orang: Rp 60.000 (@ Rp 30.000); uang rokok: Rp 30.000,- Transportasi dari lahan ke pabrik, Rp 100.000,-. Ongkos 1 truk Rp 970.000 sampai Rp1.000.000; Satu truk sebenarnya bisa memuat kelapa sawit sebanyak 6 ton.
pengontrak yang membayar sampai 5 tahun tapi ada juga yang membayar per bulan. Pembayaran kepada pemilik per bulan rata-rata Rp 300.000. Menurutnya lahan-lahan yang potensial adalah lahan yang mempunyai jalan bagus sehingga bisa dikontrak selama 5 tahun dengan harga Rp 18.000.000,- Namun ada juga jenis lahan yang jauh atau makin jauh dari jalan raya dibayar lebih kecil, Rp 100.000 sampai Rp 50.000,- per bulan kepada pemilik. Hasil kontrak digunakan masyarakat setempat untuk berbagai keperluan, misalnya membayar uang kuliah atau uang sekolah anak, untuk pengobatan istri yang sakit atau membangun rumah dan sebagainya.
Namun dikatakan oleh Bapak Moses Fatagur dan Bapak Fins, sistem sewa atau kontrak sebenarnya tidak membantu masyarakat. Sistem ini menyiksa atau menyulitkan masyarakat sendiri karena sewaktu-waktu mereka meminta uang kepada orang yang mengontrak karena kebutuhan mendesak sehingga pinjaman-pinjaman tersebut selalu dihitung sebagai utang dan masyarakat sekarang ini hanya tergantung pada pendapatan yang sedikit itu. Menurut Moses Fatagur, ada pengalaman lain juga di kampung ini yakni pemilik lahan menjual lahannya dan pindah kembali ke Kampung Wambes, karena memang yang bersangkutan berasal dari sana. Orang tersebut pergi ke Wambes karena mempunyai usaha kelapa sawit juga dan rumah yang disediakan oleh PTPN II di PIR VC, Mur 2. Daerah PIR V Wambes, terdiri dari PIR V A di Wembi, PIR 5 B di Wambes dan PIR V C di Mur 2, Yamara.
Sumber: Foto B. Renwarin 2014
Gambar di atas menunjukkan beberapa buruh tani sedang bekerja menaikan buah tandan segar kelapa sawit ke dalam mobil truk. Para buruh tani berkerja pada salah seorang pengontrak lahan sawit milik masyarakat Workwana di wilayah perkebunan kelapa sawit Kampung Workwana. Pengontrak kebun kelapa sawit ini tinggal di daerah PIR 2 dan berasal dari luar Papua. Buruh tani pun pada umumnya berasal dari luar daerah seperti dari Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Jawa. Sejumlah orang yang mengontrak lahan kelapa sawit di Workwana ini, ternyata mempunyai modal uang untuk mengontrak dan mereka juga mempunyai pekerja serta mobil truk.
Menurut Benny, para petani kelapa sawit mempunyai kelompok yang disebut Gabungan Kelompok Tani atau GAPOKTAN. Gapoktan mempunyai beberapa peranan bagi petani seperti memberi motivasi kepada petani untuk merawat sawit, memperhatikan jembatan, jalan dan membina petani. Dikatakannya sekarang ini ia berperan sebagai katalisator bagi petani dan perusahaan serta pemerintah. Untuk kelancaran tugas Gapoktan, petani biasanya membayar pengurus Gapoktan melalui premi dari perusahaan yang diambil oleh pengurus. Tiap afdeling mempunyai Gapoktan dan Gapoktan yang berurusan dengan petani. Dengan kata lain hubungan petani dengan perusahaan harus melalui Gapoktan untuk berbagai urusan. Selain Gapoktan ada pula Organisasi Angkutan Kelapa Sawit (OAKSA).OAKSA berfungsi mengkoordinir mobil-mobil petani agar bisa masuk ke pabrik ketika pabrik rusak. Dikatakannya ada pengalaman beberapa tahun lalu, selama satu minggu mobil-mobil antri di pabrik, petani dan pengusaha mobil mengalami kerugian tetapi tidak ditanggapi oleh pihak pabrik dan perusahaan. Ada sekitar 150 mobil truk yang beroperasi di kebun Arso, yang dimiliki oleh sekitar 80 orang pengusaha. Pengalaman-pengalaman yang dianggap kurang menguntungkan tersebut ternyata mendorong sejumlah pemilik lahan yang berasal dari penduduk asli Workwana mengontrakkan atau menjual lahan kelapa sawit mereka.
Menurut informasi Benny, orang asli Workwana melihat pekerjaan kelapa sawit memberikan beban dan tidak memberikan harapan untuk masa depan, keadaan kesehatan tidak memungkinkan untuk berkerja di lahan sawit, tidak mempunyai modal usaha dan kerja ini tidak sesuai dengan kebiasaan kerja orang asli Workwana, terbuka kemungkinan usaha lain. Kelompok yang menjual lahan biasanya dipengaruhi oleh jauh dekatnya lahan tersebut dengan jalan raya. Lahan yang jauh pada umumnya dijual dengan harga Rp 10.000.000,- (sepuluh juta) dan jauh dekat dengan jalan raya pada umumnya dijual dengan harga Rp 20.000.000,- (dua puluh juta) sampai Rp 30.000.000,- (tiga puluh juta). Selain alasan atau kecenderungan yang sudah disebutkan di atas, harus diakui pula bahwa perubahan dan perkembangan daerah yang begitu cepat terjadi memberi peluang bagi terjadinya penetrasi pasar dan pengaruh peranan uang dalam kehidupan sehari-hari yang terinternalisasi ke dalam kehidupan masyarakat asli Workwana. Uang sebagai simbol kekuatan ekonomi telah menjadi bagian kehidupan masyarakat termasuk di Workwana dan hampir di seluruh pelosok tanah Papua. Karena itu dapat dikatakan bahwa alasan penjualan tanah yang secara kultural tabu menurut world
view setempat, dalam masyarakat pasar sekarang ini ternyata menjadi
hal yang biasa dalam hubungan-hubungan komersial di mana pun sehingga tanah menjadi salah satu komoditi yang dapat diperjualbelikan. Dengan kata lain kepentingan ekonomi kini menjadi unsur pokok yang kemudian mendikte kehidupan masyarakat sehari-hari termasuk orang Workwana sehingga tanah pun menjadi aset yang bernilai dan dapat diidentikan dengan uang, yang oleh Malak (2006) disebut sebagai kapitalisasi tanah adat.
Beban Ganda
cara perusahaan memotong ongkos kredit tersebut dari petani ketika pembayaran hasil panen. Hal ini dirasakan secara ekonomi menjadi beban bagi petani termasuk penduduk asli yang mempunyai hak ulayat. Kredit yang diambil perusahaan dipakai untuk berbagai keperluan seperti, biaya penebangan hutan, sewa alat berat, membeli
chainsaw, sewa truk, beli pupuk dan beli peralatan perkebunan. Selain
beban ekonomi, masyarakat Workwana juga merasakan dan mengalami usaha kelapa sawit di tempat ini membuat mereka menjadi korban politik masa lalu. Dikatakan demikian oleh masyarakat karena daerah Keerom sebagai daerah perbatasan ketika itu menjadi daerah operasi militer dan warga masyarakat selalu dicurigai, disiksa bahkan dibunuh dalam operasi militer tersebut, sebagaimana ditulis oleh Budiardjo & Liong (1988). Menurut ungkapan penduduk setempat, karena alasan politik daerah perbatasan, hutan-hutan kami di wilayah ini dibabat, pohon-pohon ditebang agar tidak menjadi tempat persembunyian kelompok OPM dan dengan demikian hubungan masyarakat kampung dengan OPM diputus.
Karena itu, sekarang dituntut agar tanah perkebunan ini harus dikembalikan ke adat. Tuntutan pengembalian tanah adat milik warga setempat masih terjadi hingga saat ini di daerah Arso.
Selanjutnya, berkaitan dengan permasalahan beban-beban masyarakat terkait pengembangan kelapa sawit di wilayah Arso, dikatakan juga oleh salah satu tokoh masyarakat di Kampung Workwana bahwa ada oknum pegawai PTPN II yang bermain dengan uang potongan petani dari kredit petani. Uang tersebut diberikan kepada koperasi-koperasi unit desa (KUD) di daerah Arso untuk dikembangkan. Menurut informan tersebut ada 20 KUD di wilayah Arso dan Workwana. Oleh karena itu menurut masyarakat di tempat ini, mereka dibebani dan dirugikan dua kali, yaitu secara ekonomi mereka kehilangan aset dan modal untuk hidup dan secara politik mereka menerima stigma sebagai bagian dari OPM (Ansaka, dkk, 2009)15.
Pengalaman serupa yang membuat masyarakat merasa dibebani oleh perusahaan secara ekonomi diceriterakan juga oleh Bapak Yan Was dari PIR III. Ia menuturkan bahwa sebagai petani kelapa sawit, kami harus membayar kredit yang dibebankan sebesar Rp 7.500.000,- per KK. Beban kredit ini merupakan masalah bagi kami petani orang asli. Nilai kredit tersebut dipotong setiap kali panen,sebesar 30% dari pendapatan kotor harga panen petani. Berdasarkan pengakuannya petani kelapa sawit di PIR, tahun 1998 hanya memperoleh uang sekitar Rp 300.000,- setiap kali panen, setelah pembayaran berbagai macam utang termasuk kredit oleh perusahaan. Pembayaran kredit disetor oleh perusahaan PTPN II ke Bank Exim pada waktu itu (sekarang Bank Mandiri). Berkaitan dengan urusan kredit, ada petani yang sudah melunasi kreditnya dan ada yang belum. Pada umumnya tidak semua petani bersedia melunasi kreditnya, khususnya petani pribumi dengan alasan bahwa tanah ini adalah milik mereka, mengapa mesti melunasi
kredit yang bukan berasal dari inisiatif mereka sendiri tetapi perusahaan menjadikan urusan kebun kelapa sawit sebagai utang masyarakat melalui sistem kredit. Pembayaran kredit yang tidak lunas mengakibatkan ada petani yang belum memperoleh sertifikat tanah. Sertifikat bisa diberikan kepada petani bila kredit di bank telah lunas (Rosariyanto, dkk., 2008). Berikut ini dapat dilihat sebuah catatan data pemotongan kredit masyarakat petani yang pernah dibayar petani di bank sejak tahun 1983/1984 sampai 1989/1990.
Tabel 5.6
Sumber: Diolah dari Rosariyanto dkk (2008)
Menurut informan yang juga sebagai tokoh adat setempat, beban kredit yang harus dibayar sebagai petani kelapa sawit dirasa tidak adil oleh masyarakat. Masyarakat adat memang mendapat 2 (dua) hektare lahan sama dengan petani kelapa sawit yang bukan penduduk asli Workwana dan Arso sehingga harus membayar kredit sama dengan petani lain. Menurut tokoh masyarakat Workwana dan Arso tersebut, seharusnya ada perlakuan yang berbeda sebagai pemilik hak ulayat dan yang bukan pemilik hak ulayat. Sistem ini dilihat sebagai bentuk perlakuan yang tidak adil oleh negara dan perusahaan negara terhadap masyarakat.
peristiwa yang cukup mengejutkan dan tidak diharapkan. Pada suatu hari 3 orang oknum tentara datang di kampung dan bertemu dengan mahasiswa dari suatu perguruan tinggi swasta di Abepura yang ketika itu berpraktek sebagai buruh harian lepas (BHL) di kebun kelapa sawit. Hal ini terjadi karena para mahasiswa tersebut nampaknya sempat mengungkapkan keprihatinan mereka melihat beberapa kejadian di sekitar perkebunan kelapa sawit yaitu adanya penebangan hutan besar-besaran di daerah ini secara terus-menerus dan masyarakat yang bekerja sepanjang hari di perkebunan kelapa sawit tidak dibayar sepenuhnya. Ketiga oknum tentara bertemu para mahasiswa tersebut dan mengancam meraka, karena ketiga oknum tentara tersebut saat itu bertugas sebagai pengamanan di PTPN II Arso. Setelah kejadian tersebut, para mahasiswa itu melapor ke pimpinan perguruan tinggi dan kemudian masalah tersebut diteruskan ke pimpinan satuan yang lebih tinggi di Abepura Jayapura. Akhirnya ketiga oknum tentara tersebut ditegur keras oleh komandan satuannya. Hal ini menunjukkan beberapa hal yaitu, perusahaan-perusahaan baik swasta maupun pemerintah di Indonesia sejak masa Orde Baru hingga saat ini selalu memperalat aparat keamanan untuk kepentingan usahanya. Di samping itu masyarakat selalu menjadi orang kalah, tak berdaya berhadapan dengan korporasi besar yang diperkuat oleh aparat keamanan negara sehingga pasrah diperlakukan tidak adil, penuh kekerasan ketika mereka berbicara mengenai hak-hak sebagai pekerja atau sebagai buruh.
Hubungan Petani dengan Perusahaan
Berbicara mengenai hubungan petani dengan perusahaan, melalui bagian ini akan disoroti dua hal, yaitu, sistem organisasi yang dibentuk dan pendekatan perusahaan merekrut tokoh-tokoh masyarakat dan tokoh-tokoh adat setempat sebagai tenaga perusahaan.
Melalui Sistem Organisasi
sebenarnya harus dikatakan tidak ada hubungan langsung dengan perusahaan. Menurut penjelasan Thomas Lobay, petugas khusus Dinas Perkebunan Kabupaten Keerom sebagai penghubung antara perusahaan, petani dan pemerintah, pada awal mula pengembangan kelapa sawit, petani atau masyarakat diawasi oleh petugas perusahaan yang terdiri dari manajer, asisten kepala, asisten dan mandor. Dikatakannya, ujung tombak perusahaan ialah mandor yang setiap saat ada di kebun sawit mendampingi dan mengawasi petani. Jadi secara terstruktur hubungan petani atau masyarakat sudah diatur dalam tugas-tugas struktural dan fungsional petugas perusahaan sehingga masyarakat atau petani tidak berhubungan langsung dengan pimpinan di atas mandor.
Oleh karena itu dikatakan oleh warga, dari pengalaman selama ini tidak ada pimpinan perusahaan yang turun ke masyarakat petani, misalnya, untuk menanyakan keadaan petani, masalah tanaman dan sebagainya. Hal ini berdampak pada masyarakat sehingga masyarakat tidak termotivasi untuk mengusahakan kelapa sawit. Demikian juga pemerintah daerah, tidak ada perhatian terhadap petani kelapa sawit khususnya orang asli Papua (petani plasma), misalnya tidak ada perhatian terkait angkutan, jalan raya rusak, jembatan rusak dan sebagainya.
Pendekatan Perusahaan Melalui Tokoh Masyarakat & Adat
setempat. Dari informasi lain disampaikan bahwa, beberapa waktu lalu kelompok orang muda dari kampung Workwana dan Arso melakukan protes terhadap perusahaan tapi kemudian harus berurusan dengan pihak keamanan yang bertugas di perusahaan dan tidak ditanggapi sebagaimana diharapkan oleh pimpinan perusahaan.
Janji-janji Perusahaan dan Pandangan Masyarakat
Sesuai tujuan kehadiran perkebunan kelapa sawit di wilayah Arso,Workwana dan sekitarnya untuk membuka keterisolasian, mempercepat proses pembangunan, membuka lapangan kerja dan membuat masyarakat di sekitarnya sejahtera, ternyata jauh dari apa yang diharapkan. Dalam wawancara yang dilakukan wartawan Suara Perempuan dengan salah satu tokoh pelaku sejarah pelepasan tanah adat untuk perkebunan sawit di wilayah Arso dan Workwana. Tokoh adat dan masyarakat tersebut menyatakan bahwa dalam kenyataan “kami sampai saat ini masih tetap miskin dan melarat di atas tanah kami yang kaya” (Ansaka, dkk, 2009). Hal sama yang disampaikan kepada Suara Perempuan Papua beberapa tahun silam, diulangi lagi ketika penulis menemuinya di rumahnya, di sekitar kampung lama Wor.
akan mendapat listrik dan air bersih di rumah-rumah termasuk mendapat mobil untuk melayani kepentingan masyarakat kampung. Dengan nada kesal, Bapak Herman berujar:
“kerja seperti ini merupakan bentuk penipuan karena harta kekayaan alam kami diambil dengan alasan dipakai untuk kepentingan negara padahal masyarakat tidak mendapat
apa-apa”.
Ia juga menyatakan, kebun kelapa sawit dibuka dengan tujuan agar masyarakat bekerja, tenaga mereka dikuras dan tidak berpikir lagi tentang Papua Merdeka. Menurutnya sistem pembangunan yang digunakan ini juga merusak masyarakat karena minuman keras (miras) dipakai untuk membujuk masyarakat, khususnya orang muda diperalat untuk kepentingan tertentu. Hal senada juga disampaikan salah seorang tokoh masyarakat di Workwana, Bapak Lamber Welip bahwa pembukaan kebun kelapa sawit di Keerom dalam rangka mematahkan perjuangan dan usaha-usaha OPM. Masyarakat sekarang sedang mengalami luka di hati yang dalam karena masyarakat disiksa, ditindas dan dibunuh. Selain itu masyarakat juga sering diperalat untuk menjadi mata-mata yang bertugas demi kepentingan pemerintah yang menimbulkan sikap saling curiga di antara warga. Dikatakannya, bahkan sekarang anak-anak muda gampang sekali diperalat untuk kepentingan tertentu dengan cara memberi minuman keras.
Arsokota maupun Kampung Workwana sedang berada dalam keadaan terpuruk di berbagai aspek kehidupan.
Peran Pemerintah
Peran pemerintah pusat. Dari sejarah pengembangan kelapa sawit di Indonesia, dapat dilihat bahwa pemerintah, baik di pusat maupun daerah mempunyai peran yang signifikan dalam urusan pengembangan perkebunan kelapa sawit di Indonesia. Hal tersebut dapat dilihat dari regulasi-regulasi dan kebijakan-kebijakan yang dibuat berkaitan dengan izin pengelolaan lahan perkebunan, survei-survei lahan, pemberian saham usaha, penentuan harga komoditi, perihal tenaga kerja di perkebunan inti rakyat, pembebasan lahan-lahan masyarakat serta kompensasinya, penyediaan anggaran pembinaan dan pelayanan petani serta pengembangan infrastruktur pembangunan termasuk urusan keamanan usaha dan sebagainya.
Sebagaimana diuraikan oleh Colchester dkk., (2007), dalam buku berjudul, Promised Land Palm Oil and Land Acquisition in Indonesia: Implications for Local Communities and Indigenous
Peoples, bahwa ada lima fase kebijakan pembangunan perkebunan
memengaruhi pembangunan sektor usaha perkebunan kelapa sawit. Kemudian keluar aturan baru perizinan usaha yang bisa dikeluarkan di tingkat kabupaten bagi usaha di atas 1.000 hektare namun kebijakan ini tumpang tindih dengan wewenang yang sama yang dimiliki oleh provinsi di bidang pertanian. Pada tahun 2005 pemerintah mengeluarkan aturan sebagai moratorium terhadap konversi lahan perkebunan.
Fase-fase kebijakan di atas nampaknya dimanfaatkan dengan berbagai cara oleh pengusaha baik perkebunan kelapa sawit maupun pemegang izin pengusahaan hutan di Papua (HPH) sedemikian rupa sehingga usaha-usaha tersebut tetap berjalan. Walaupun dari segi regulasi, Pemerintah Provinsi Papua telah mencabut izin usaha puluhan perusahaan yang bergerak di bidang pengelolaan kayu di Papua (Patay, 2005), tetapi nyatanya setiap hari kita dapat menyaksikan puluhan truk bermuatan kayu berbagai ukuran yang siap dipakai melintas di Arsokota siang dan malam menuju Abepura dan Jayapura. Menurut masyarakat di Workwana dan Arso, sudah menjadi rahasia umum bahwa setiap pos yang dilintasi oleh truk pengangkut kayu tersebut, harus memberikan sejumlah uang kepada petugas yang ada, entah pos adat16 di Arso, pos-pos aparat keamanan maupun pos
instansi kehutan sepanjang jalan Trans Irian.
Peran Pemerintah Daerah. Salah seorang informan menyatakan sikap pemerintah yang diwakili oleh Bupati Celsius Watae ketika SKP KJ melakukan diskusi di Jayapura pada tanggal 5 Juli 2008, jelas menunjukkan keberpihakan kepada kepentingan masyarakat petani di wilayahnya. Sebagaimana dicatat oleh wartawan Tabloid Suara Perempuan Papua, bahwa usai diskusi yang dilakukan oleh SKP KJ di Jayapura, wartawan Tabloid Suara Perempuan Papua, mewancarai Bupati Keerom saat itu, Celsius Watae, putra asli Keerom mengenai masalah petani kelapa sawit dan PTPN II. Celsius Watae
menyampaikan tanggapannya bahwa, perlu ada perbaikan pola pendekatan yang digunakan perusahaan terhadap masyarakat. Beberapa hal yang disoroti Watae antara lain ialah ada kesan perusahaan tidak serius melakukan pembinaan terhadap petani sehingga perlu diusahakan pola pendekatan yang baik supaya petani tidak dibiarkan begitu saja. Hal ini juga berdampak kepada perusahaan agar bisa tetap eksis. Persoalan lain yang juga muncul dalam diskusi tersebut menyangkut pabrik yang tidak beroperasi lagi di Workwana dan kemudian seluruh pengolahan TBS dipindahkan ke pabrik di Arso 7. Dikatakan masalahnya ialah pabrik di Arso 7 hanya mengolah TBS kemudian minyak olahan dikirim ke luar daerah, hasilnya tidak langsung dinikmati masyarakat di daerah. Selain itu fluktuasi harga sawit yang tidak menentu dirasakan merugikan petani, rusaknya hutan-hutan tempat mata pencarian penduduk, hilangnya sumber daya alam akibat penebangan hutan yang kemudian diolah menjadi jutaan kubik kayu yang dikirim ke luar daerah Papua, terjadinya pungutan liar di area perusahaan ketika mobil truk membawa TBS masuk untuk ditimbang dan persoalan hak ulayat masyarakat. Tentang hak ulayat masyarakat, Celsius Watae menyatakan perjanjian yang dibuat dahulu dan disetujui masyarakat terjadi dalam situasi sosial politik yang tidak memungkinkan masyarakat berbuat apa-apa, padahal sangat tidak menguntungkan mereka. Terkait dengan gejala perusahaan PTPN II yang tidak sehat menurut Watae sudah ada kemauan politik Gubernur Suebu untuk mengalihkannya menjadi Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) setelah itu akan diserahkan kepada PT Rajawali untuk mengelolanya. Sedangkan mengenai pajak usaha perkebunan, yang selama ini dikeluhkan masyarakat, dikatakan Watae pajak tersebut dibayar langsung ke pemerintah pusat dan kemudian dikembalikan ke daerah dalam bentuk bagi hasil non-migas ke provinsi dan kabupaten (Ansaka, 2009, 341-344).
social budaya saja dan belum melihat dampak dari aspek sosial ekonomi. Dikatakan oleh Malau, dampak kehadiran perusahaan ini dalam bidang sosial ekonomi ialah isolasi daerah dibuka dan dampak lain secara politik ialah terbentuknya Kabupaten Keerom sekarang ini. Selain itu dikatakan juga terkait dengan pembinaan petani, infrastruktur kebun inti menjadi tanggung jawab perusahaan tetapi kebun plasma menjadi tanggung jawab petani plasma.Karena sejak tanaman kelapa sawit berusia 4 tahun sudah dikonversi ke petani sehingga pengelolaannya menjadi tanggung jawab penuh petani melalui kelompok tani. Malau menjelaskan bahwa perusahaan hanya mendampingi dalam pembinaan teknis seperti melakukan penyuluhan. Akhirnya dikatakan Malau bahwa sebenarnya selama ini PTPN II dengan kebun-kebun yang ada ini belum pernah mendapat keuntungan karena masih dibiayai oleh PTPN I Tanjung Morawa Medan. Dari segi kemampuan produksi pabrik, pada tahun 2008 mengelola 6.800 ton sampai 7.800 ton setiap bulan. Hal ini nampaknya menjadi alasan yang mendorong pemerintah daerah untuk mengalihkan PTPN II menjadi BUMD, sebagaimana dijelaskan Celsius Watae di atas, karena manajeman pengelolaan perusahaan dinilai kurang sehat. Dari penuturan masyarakat di Workwana, pabrik kelapa sawit di tepi Sungai Tami dihentikan bukan saja karena mengalami kerusakan tetapi, pertama-tama karena posisi pabrik berada di atas tanah di tepi sungai yang labil. Kedua, limbah pabrik berdampak mencermarkan Sungai Tami sebagai tempat masyarakat atau penduduk di sekitar menggunakannya sebagai sumber air dan tempat mencari ikan, udang dan biota lainnya untuk keperluan konsumsi masyarakat.
permasalahan tanah di kedua tempat ini belum diselesaikan sebagaimana mestinya.
Padahal dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Kerom Tahun 2010 – 2015, di bidang Pertanian, kelapa sawit sebagai salah satu unsur komoditi unggulan daerah yang memberikan kontribusi terhadap PDRB Kabupaten Keerom sama sekali tidak diberi perhatian khusus sebagai komoditi unggulan daerah, baik dalam perencanaan maupun pengembangannya serta penanganan permasalahan yang ada17. RPJMD ini dapat
dikatakan tidak mencerminkan pernyataan Bupati Keerom, Yusuf Wally, bahwa pembukaan dan penanaman kelapa sawit baru itu berkaitan dengan promosi Keerom menjadi kota industri. Menurutnya, perusahaan boleh beroperasi tapi harus memperhatikan hak-hak masyarakat.
Orang Workwana Berhenti Panen
Sumber: Foto B. Renwarin 2014
Gambar 5.7
Tumpukan Kelapa Sawit di Jalan Trans Irian (Papua)
Kedua gambar di atas memperlihatkan tumpukan kelapa sawit yang diletakkan di tepi Jalan Trans Irian (Papua) yang dipetik buruh tani yang bekerja pada pengontrak kebun kelapa sawit atau pembeli
kebun kelapa sawit dari penduduk Workwana. Tumpukan di Gambar 5.7 sebelah kiri, lebih banyak, hasil petikan atau egrek selama beberapa hari. Sedangkan Gambar 5.7 sebelah kanan, jumlah kelapa sawit lebih sedikit karena kenyataannya produksi buah sawit dari waktu ke waktu terus berkurang. Dari pengalaman buruh tani yang ditemui di jalan, diketahui bahwa diperlukan beberapa hari lamanya untuk mengumpulkan buah kelapa sawit seperti terlihat pada gambar di atas, yang ditumpuk saja di pinggir jalan untuk kemudian diangkut dengan truk ke pabrik pengolahan kelapa sawit di Arso 7 (tujuh). Fenomena gambar ini menunjukkan bahwa setelah 30 tahun kelapa sawit ditanam dan berproduksi, dari waktu ke waktu hasilnya terus berkurang sementara peremajaan yang ditunggu-tunggu masyatakat tidak pernah terjadi.
Seperti dijelaskan oleh Sunarko (2014, 165-166), produksi kelapa sawit dari waktu ke waktu yang terus berkurang dipengaruhi oleh usia tanam. Dikatakannya, ketika kelapa sawit masih berusia 3 sampai 4 tahun,bisa diperoleh kelapa sawit sebanyak 6,2 ton/ha sampai 12 ton/ha, berasal dari rata-rata 17,4 sampai 17,9 buah TBS per pohon. Akan tetapi ketika kelapa sawit mencapai usia 23 sampai 25 tahun,TBS yang dihasilkan makin berkurang, rata-rata jumlah TBS hanya mencapai 3,8 sampai 3,7 per pohon. Catatan Sunarko kurang lebih sama dengan pengalaman petani kelapa sawit di Kampung Workwana dan Arsokota.Dikatakan oleh Benny Montulalu, dari PIR 2, ketika masa-masa awal panen, kelapa sawit dipanen petani 2 kali sebulan, dengan hasil 6 sampai 7 ton per lahan, bahkan bisa mencapai 9 ton berkat pemberian pupuk. Tapi sekarang 1 lahan hanya menghasilkan 30 sampai 40 TBS, dan 1 TBS hanya 16 kg.
memanen harus mengeluarkan modal terlebih dahulu. Uang harga kelapa sawit akan dibayar pada akhir bulan, bukan pada setiap kali pengiriman. Kondisi seperti ini membuat orang Papua pemilik lahan kelapa sawit di Workwana tidak mampu mengelola lahannya, sehingga banyak lahan milik masyarakat setempat disewakan dengan harga yang cukup murah kepada masyarakat pendatang atau petani yang mampu mengolah lahan tersebut. Sebagai contoh masyarakat yang berada di Pir IV dan Kampung Wembi, Arso, mengalami kerugian yang besar karena jarak kebun kelapa sawit dari lokasi perusahaan sangat jauh sehingga ongkos transport menjadi hampir dua kali lipat.
membangun rumah warga masyarakat di kampung Workwana sampai saat ini.
Namun dari waktu ke waktu keluhan Bapak Yosep di atas mulai diperhatikan pemerintah kampung melalui dana PNPM Mandiri Respek beberapa tahun terakhir, sebagaimana dijelaskan oleh Moses Fatagur, Sekretaris Kampung Workwana. Kisah-kisah yang disampaikan penduduk di daerah ini dan hasil rekaman wartawan Jurnal Suara Perempuan, wartawan Jubi dan SKP Jayapura serta berbagai penelitian, memberikan gambaran bahwa apa yang dibuat di atas kertas, dipikirkan para pejabat pemerintah senyatanya amat berbeda dengan realitas pengalaman masyarakat.
bisa pegang jubi (tombak) dan menokok sagu. Sistem pencarian nafkah seperti itu telah hilang dari kehidupan penduduk setempat yang sebenarnya dipelajari turun-temurun. Masyarakat sekarang tergantung dari uang kelapa sawit padahal uang kelapa sawit sama sekali tidak menjanjikan bagi kehidupan saat ini dan di masa depan.
yang dipakai di sini biasanya diambil dari masyarakat asli setempat. Sejumlah responden dari Workwana mengatakan, setelah berhenti memanen kelapa sawit, lapangan kerja masyarakat hilang, tidak bisa ke hutan untuk mencari makan, berburu binatang dan lain-lain. Kalau mau sesuatu mereka berhutang barang dan tidak bisa membayar. Kalau sayur yang dijual tidak laku di pasar, dibuang di jalan. Keadaan ini menunjukkan bahwa masyarakat sesungguhnya sekarang hidup dalam keadaan tidak sejahtera. Dengan kata lain orang Workwana sedang hidup dalam keadaan parah. Akibatnya muncul pikiran-pikiranctidak sehat, terjadi perilaku seks bebas, dan tindakan-tindakan orang muda yang tidak terpuji.
Sawit dan Kesejahteraan Masyarakat
Dari berbagai kisah yang disampaikan di atas terlihat bahwa setelah 30 tahun usaha kelapa sawit yang dialami masyarakat dapat dikatakan sebagai usaha yang kurang menguntungkan secara berkelanjutan, khususnya bagi penduduk asli setempat. Hal tersebut disebabkan oleh berbagai hal seperti fluktuasi harga yang tidak menentu bahkan cenderung merugikan masyarakat, kebiasaan dan etos kerja masyarakat yang berbeda dengan tuntutan industri perkebunan, ketiadaan modal usaha dan lain-lain.
Dari Tabloid Jubi18 juga diperoleh kutipan pernyataan
Gubernur Provinsi Papua tentang Nota Keuangan serta RAPBD Papua tahun 2007. Gubernur Suebu menjelaskan bahwa selain RESPEK, agenda untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat harus dilakukan dengan pendekatan pembangunan yang bertumpu pada pertumbuhan. Dikatakannya, pemerintah sudah menghitung dengan cermat, dua juta hektare kelapa sawit yang mana 50% dialokasikan untuk petani plasma, akan memberikan pekerjaan kepada 250.000 Kepala Keluarga penduduk asli Papua. Dengan alokasi 4 hektare kebun kelapa sawit per keluarga, rata rata setiap keluarga menerima Rp 5.000.000 sampai Rp
7.000.000,- per bulan. Suatu penghasilan yang jauh di atas gaji seorang PNS yang bekerja di kantor pemerintah,” ujar Gubernur Provinsi Papua Barnabas Subeu kala itu. Tetapi dari catatan Jubi kenyataan di lapangan hasilnya berbeda jauh.
ditentukan oleh perusahaan dan diketahui oleh Sekda Provinsi Papua,” ujar Damasus. Sekarang pembayaran satu truk saja Rp 750.000,- kemudian membayar orang yang mengegrek kelapa sawit,sekali panen Rp 500.000,-belum terhitung ongkos pemikul kelapa sawit. Ongkos untuk membayar buruh-buruh pemikul kelapa sawit dibayar kurang lebih Rp 200.000,- belum terhitung jarak jauh atau di antara kebun kelapa sawit dan jalan raya. Berdasarkan ongkos-ongkos tersebut Pak Damasus Kebelen yang mempunyai lahan hanya seluas 2 (dua) hektare, setiap kali pengolahan mengalami kerugian yang sangat besar, karena harus mengeluarkan biaya untuk transportasi, buruh dan lain-lain. Disampaikannya bahwa dari pengalaman juga sering kali kelapa sawit kami tidak diangkat, sehingga kelapa sawit yang sudah dipetik menjadi busuk. Ini terjadi karena para sopir truk biasanya meminta harga yang tinggi.
Pengalaman di Workwana menunjukkan pendapatan ekonomi masyarakat asli dari hasil panen kelapa sawit kecil sekali atau kurang. Dikatakan oleh salah satu responden bahwa pendapatan yang kecil atau kurang itu dapat dilihat dari kondisi rumah, yang pada umumnya tanpa perabot dan fasilitas yang diperlukan dalam keluarga serta rumah yang tidak layak huni, banyak anak tidak sekolah, hanya satu atau dua anak yang bisa melanjutkan ke perguruan tinggi. Motivasi anak untuk pendidikan tidak didukung oleh keadaan keluarga. Menurut para informan, sekiranya masyarakat masih memanen sendiri kelapa sawitnya, hidup keluarga bisa menjadi lebih baik. Tapi memang kelapa sawit tidak mendukung harapan masyarakat. Pada awalnya baik, tapi 10 tahun kemudian mundur dan pendatang yang mengontrak lahan kebun justru mendapatkan hidup yang lebih baik, punya rumah, motor, dsb. Jadi, Workwana dan orang Arsokota tidak ada yang maju dari kelapa sawit.
hilang. Dahulu anak-anak remaja berusia 14 sampai 15 tahun sudah diajar memanah babi, tapi sekarang anak-anak mau diajar panah babi di hutan mana, karena hutan tidak ada lagi. Berhadapan dengan keadaan yang demikian anak-anak muda bersikap, lebih baik minum minuman keras. Situasi ini mempengaruhi seluruh keadaan hidup masyarakat asli. Anak-anak tidak bisa memegang jubi untuk berburu binatang dan tokok sagu untuk kebutuhan makan.