• Tidak ada hasil yang ditemukan

GLOKALIZER KONSEP ESTETIKA URBAN SEBAGAI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "GLOKALIZER KONSEP ESTETIKA URBAN SEBAGAI"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

Seminar Nasional Strategi Indonesia Kreatif Universitas Widyatama Bandung 19 Maret 2015

1

GLOKALIZER: KONSEP ESTETIKA URBAN

SEBAGAI STRATEGI KREATIF UNTUK KARYA SENI BATIK

DALAM MEMPERTAHANKAN EKSISTENSI DI PENTAS DUNIA

M. Firdaus Benyamin1, Arus Reka Prasetia2

1. Universitas Widyatama Jalan Cikutra 204A, Bandung

[email protected]

2. Universitas Widyatama Jalan Cikutra 204A, Bandung

[email protected]

ABSTRAK

Gloka lisa si dima kna i seba ga i munculnya inter pr eta si pr oduk-produk globa l (ya ng a sa lnya mer upa ka n pr oduk loka l) da la m konteks ya ng dila kuka n oleh ma sya ra ka t da la m ber ba ga i wila ya h buda ya . Inter pr eta si loka l ma sya ra ka t ter sebut kemudia n juga membuka kemungkina n a da nya per geser a n ma kna a ta s nila i buda ya , ya ng a ka n berda mpa k pula pa da per spektif ekonomi. Keberadaan batik Indonesia dengan aneka ragam motif serta bentuknya, diyakini akan menjadi satu di antara ikon Indonesia yang menawan di mata pergaulan dan perdagangan internasional, termasuk dalam menghadapi era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang akan berlangsung pada tahun 2015 ini. Tulisan disusun dengan menggunakan metodologi penelitian kualitatif, proses interaksi komunikasi yang mendalam, penelusuran berbagai literatur, serta pendekatan induktif dalam pengungkapan fakta dan analisis data. Kreativitas industri batik sebenarnya sudah mulai tergambar dari semarak pengrajin batik yang mulai menciptakan kreasi batik tak sebatas hanya sebagai bahan sandang, namun berupa produk kreatif yang dapat digunakan sehari-hari. Perlu strategi kreatif dalam mempertahankan eksistensi batik di pentas dunia, dengan menggunakan konsep glokalizer, yakni terkait strategi kreatif dalam berkarya dan strategi kreatif dalam pemasaran batik.

Kata kunci: batik, glokalisasi, Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), strategi kreatif

1.

PENDAHULUAN

Karya dari batik dapat diidentifikasi dalam unsur-unsur komunikasi seni (media seni batik), sehingga komunikan akan mengenal komunikatornya memiliki gaya ungkap pesan yang khas pada setiap karya yang diciptakannya. Itulah ciri khas jati diri yang melekat pada seorang seniman yang membedakannya dengan seniman lainnya. Jati diri yang telah dibangunnya tersebut, secara mikro akan mampu mewakili suatu komunitas seni itu sendiri dan secara makro mampu mewakili kebudayaannya sebagai ciri kepribadian bangsa.[1]

Batik bukan hanya produk asli Indonesia yang indah secara estetika. Batik Indonesia adalah salah satu seni menggambar yang tertua di dunia. Jadi apa yang terpola dalam

sebuah kain memiliki makna yang sangat mendalam, dimana didalamnya terkandung makna dan filosofis yang sangat tinggi.[1][2]

(2)

Seminar Nasional Strategi Indonesia Kreatif Universitas Widyatama Bandung 19 Maret 2015

2

khususnya Jawa Barat, banyak memperoleh

pengaruh dari batik Jawa Tengah. Batik kraton mempunyai andil besar terhadap perkembangan batik-batik di daerah Jawa Barat.[2]

Batik sudah menjadi gaya hidup. Bukan hanya dalam bentuk kain tradisional saja, tetapi juga dalam bentuk apa saja dalam semua sendi bidang kehidupan. Di rumah, misalnya, sarung bantal, seprai, taplak meja, hingga berbagai peralatan makan juga bisa menggunakan motif batik, sehingga batik boleh dibilang sudah menjadi bagian dari putaran gaya hidup global.

Gambar 1. Homeset Batik Cap [3]

Banyak desainer fashion dunia sekarang juga sudah mengadaptasi batik Indonesia dalam koleksi busana mereka. Mereka tidak mengambil teknik membatiknya, yang sudah diakui oleh UNESCO sebagai salah satu bentuk Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Non-Bendawi dari Indonesia sejak 2 Oktober 2009 yang lalu, melainkan motifnya. Beberapa perancang atau label yang menggunakan motif ini antara lain Dries van Noten, Nicole Miller, Burberry Prorsum, dan Diane von Furstenberg.[4]

Desainer Belgia Dries van Noten, yang menggunakan motif batik untuk koleksi Spring/Summer 2010 yang dipamerkannya di Paris Fashion Week. Selain batik, desainer tersebut juga menggunakan tenun ikat dan tenun songket. Dries van Noten

menggunakan motif-motif tersebut untuk dicetak di atas bahan katun maupun satin. Dries van Noten juga mempadupadankan motif batik yang satu dengan motif batik yang lainnya dengan gaya yang playful. Koleksi busana dari perancang tersebut telah memperoleh apresiasi positif dan konstruktif dari para kritikus busana dunia dan pencinta fashion mancanegara.[5][6]

Gambar 2. Batik Karya Dries Van Noten [6]

Sementara itu, perancang Amerika Nicole Miller mengeluarkan Resort Collection 2009 yang jelas sekali tampak menggunakan motif batik mega mendung. Nicole Miller mengambil tema "Bali", karena perancang tersebut mengaku menerima oleh-oleh kain motif print dari asisten pribadinya yang telah melakukan perjalanan ke Bali. Kesan Bali sendiri hanya muncul pada motif catur yang biasa dipakai pria-pria Bali. Batik mega mendung itu dipadupadankannya dengan motif garis dan motif catur bali, dan muncul dalam bentuk dress, kaftan, tunik, topi, atau sekedar menjadi aksen.[7]

Gambar 3. Batik Karya Nicole Miller [8]

(3)

Seminar Nasional Strategi Indonesia Kreatif Universitas Widyatama Bandung 19 Maret 2015

3

beberapa pemerhati fashion dunia, di luar

upaya para desainer papan atas untuk menggunakan kain etnik bermotif batik tersebut, beberapa selebriti Hollywood juga punya andil yang cukup besar dalam mempopulerkan batik print. Banyak dari mereka yang memang sempat terlihat mengenakan busana dengan motif batik. Di antaranya Lenka, Adele, dan Adam Clayton (basis U2, yang memakainya saat tampil di Somerville Theatre, Boston, Massachussets, Amerika Serikat), juga Paris Hilton, Jessica Alba, Rachel Bilson, Reese Witherspoon, dan Nicole Richie.[8] Provokasi media memang luar biasa, ketika selebriti terlihat memakai batik, hal itu bikin orang lain jadi ikut tertarik dengan batik.

Gambar 4. Selebritis Dunia dengan Batik [9]

Para selebriti mengenakan busana bermotif batik menjadi bukti lain bahwa batik sudah merasuk di dunia internasional. Bahkan produk budaya Indonesia lain seperti kain tenun pun mulai mencuri perhatian. Di pentas mode dunia seperti New York Fashion Week atau Milan Fashion Week, kata "tenun" sudah disebut sebagai "ikat", membuktikan bahwa kata ini sudah diakui sebagai bahasa internasional.[10]

Meskipun umumnya para perancang tersebut belum memahami teknik pembuatan batik yang sebenarnya, atau bahwa motif batik yang digunakan merupakan motif batik

Indonesia. Para perancang pasti akan membutuhkan waktu untuk mengenali dan memahami asal-muasal motif batik yang dipakai. Apalagi, motif print seperti batik atau ikat memang tidak hanya berasal dari Indonesia. Afrika juga memiliki batik dan ikat, salah satunya seperti yang kerap dikenakan oleh Nelson Mandela.

Sutradara Nia Dinata berpendapat, bahwa kita sebenarnya tidak perlu saling berdebat mengenai siapa pemilik teknik dan motif batik yang sebenarnya, karena yang cinta batik itu tetap orang Indonesia. Hanya bangsa Indonesia yang menggunakan batik sebagai busana sehari-hari. Selain itu, barangkali hanya di Indonesia setiap kawasannya memiliki motif batik yang khas. Inilah kelebihan bangsa Indonesia, dan karenanya bangsa Indonesia tidak perlu mengkhawatirkan klaim dari negara lain.[8]

2.

MODEL, ANALISIS, DESAIN,

DAN IMPLEMENTASI

Seluruh uraian dan penjelasan dari tulisan mengenai “Glokalizer: Konsep Estetika Urban sebagai Strategi Kreatif untuk Karya Seni Batik dalam Mempertahankan Eksistensi di Pentas Dunia” ini adalah murni berdasarkan dari hasil analisis mendalam, dengan menggunakan metode kualitatif yang masih bersifat subjektif, data-data sekunder yang layak dipercaya dan dijadikan sumber tulisan, analisis dari berbagai studi literatur terkemuka, analisis dari berbagai media cetak maupun online, serta berbagai pendapat dari para pemerhati fashion dan perancang batik.

2.1. Konsep Glokalizer

(Glokalisasi)

(4)

Seminar Nasional Strategi Indonesia Kreatif Universitas Widyatama Bandung 19 Maret 2015

4

yang masuk dan bercampur dengan budaya

lokal, tetapi negara akan tetap mencoba untuk mempertahankan eksistensi dari kebudayaan lokalnya sebagai poros pemikiran bernegara.[11]

Dapat dikatakan bahwa glokalisasi ialah penyesuaian produk global dengan karakter pasar lokal, jadi glokalisasi menjadi strategi yang muncul sebagai kritik terhadap konsep perdagangan bebas yang tidak lagi mampu menspesialisasikan sebuah negara dalam suatu produk sesuai dengan potensinya.[12] Maka dari itu, para produsen tertentu telah mengkondisikan sebuah negara (pasar), agar berada dalam satu latar belakang sosial budaya yang sama dengan negara yang lain.

Gambar 5. Contoh Produk Glokalisasi [13]

Glokalisasi merupakan istilah yang mulai berkembang saat ini, istilah ini muncul seiring berkembangnya istilah globalisasi. Glokalisasi dan globalisasi tidaklah sama. Glokalisasi lebih condong ke dunia lokal. Glokalisasi dapat diartikan sebagai usaha untuk mencegah globalisasi. Glokalisasi ini dilakukan untuk membentengi diri dari bercampurnya kebudayaan lokal dan kebudayaan asing.[14] Jika arus globalisasi tidak bisa dibendung, maka kebudayaan yang dimiliki oleh suatu negara lama kelamaan akan menjadi hilang. Sebenarnya ada usaha lain untuk membendung arus globalisasi, seperti memperkuat identitas budaya dan menanamkan budaya yang ada sejak dini. Tetapi yang paling mendapat perhatian saat ini sepertinya adalah glokalisasi. Glokalisasi juga bisa diartikan menjadi sebuah ide pikiran, yaitu berpikri global dan bertindak lokal.[14][15]

Gambar 6. Konsep Glokalisasi [16]

Istilah ini pertama muncul pada akhir 1980-an di tulisan para ekonom Jepang di Harvard Business Review. Menurut seorang sosiolog ternama, Roland Robertson (1995:145), orang yang mempopulerkan kata ini, glokalisasi mendeskripsikan hasil penyesuaian lokal baru terhadap tekanan global.[17] Di konferensi "Globalization and Indigenous Culture" tahun 1997, Robertson mengatakan bahwa glokalisasi "berarti munculnya tendensi universal dan terpusat secara bersamaan". Ada juga yang mengatakan think globally and act actually (berpikir global namun bertindak lokal).[18] Menurut Budihardjo, globalization with local flavor (globalisasi dengan cita rasa lokal).[19]

Dengan demikian, glokalisasi menjadi strategi yang muncul sebagai kritik terhadap konsep perdagangan bebas yang tidak menspesialkan sebuah negara sesuai dengan potensinya. Jadi, cara untuk berbagi dengan kultur lokal itu untuk menghasilkan dialog yang menarik di dalam sebuah karya seni yang bisa dihasilkan secara global. Misalnya desain dan ornamen tradisi kriya Afrika itu bisa dipopulerkan di tingkat global, berarti mempromosikan lokal di pasar global, berarti itu cara berfikir seorang glokalizer.[14]

(5)

Seminar Nasional Strategi Indonesia Kreatif Universitas Widyatama Bandung 19 Maret 2015

5

sering mewakili citra daerah tertentu yang

tentunya menjadi citra Indonesia.[19]

Hal ini terjadi di Indonesia, karena Indonesia diuntungkan oleh corak budaya yang berbeda antar satu daerah dengan daerah lainnya. Dengan arus globalisasi yang terjadi, kesakralan yang terkadang hadir pada produk tradisional menjadi semacam ideologi yang dipertentangkan dengan nilai-nilai modern.[12] Nilai-nilai tradisi menjadi perhatian karena hadirnya nilai-nilai luar yang lebih mengglobal. Pada praktiknya, nilai tradisi dan nilai kapitalisme global sering dikolaborasikan sebagai refleksi akulturasi berupa budaya hidup modern.[14]

Kegiatan yang berlangsung secara terus menerus tersebut akhirnya menghasilkan suatu nilai yang kemudian diaplikasikan pada setiap objek dan ikut mewarnai perkembangan budaya yang terjadi. Keunggulan komparatif dalam rangka untuk memenangkan persaingan di pasar bebas sejatinya hampir mustahil dilakukan Indonesia. Oleh karena itu, perlu ada keunggulan kompetitif industri kreatif yang dimiliki oleh produk indonesia untuk dapat tetap mempertahankan dan dapat bersaing dengan produk global yang memanfaatkan potensi kebudayaan lokal untuk menguasai karakter pasar lokal agar dapat terus membangun industri kreatif di Indonesia.[12]

Glokalisasi tidak bisa dihindari dan sangat berperan dalam mengubah nilai-nilai tradisi, khususnya pada produk, yang menjadi hal menarik adalah perubahan-perubahan pada produk tersebut sifatnya tidak hanya fisik semata, namun juga terjadi pergeseran paradigma pada masyarakat.[15] Glokalisasi juga mengakibatkan adanya pandangan tentang suatu budaya yang tidak berakar dari suatu tradisi tertentu dan dianggap berhak berhak untuk dimiliki oleh semua orang, menembus batas wilayah dan budaya, hal ini kerap dipandang sebagai ancaman terhadap kemurnian nilai tradisi setempat.[14]

2.2. Nelson Mandela dan Batik

Indonesia

Mendiang Bapak Bangsa Afrika Selatan ini selalu memperlihatkan kemajuan dramatis di momen istimewanya. Bahkan, keistimewaan dramatis yang terpancar dari sosok Nelson Mandela adalah tentang busana yang selalu

dikenakannya, yaitu batik. Mantan Presiden Afrika Selatan ini pada tahun 1997 sempat membuat mendiang Presiden RI Soeharto terhenyak ketika menerima Mandela dalam kunjungan kenegaraan. Saat itu Mandela mengenakan kemeja batik, sementara tuan rumah Pak Harto berbalut setelan jas lengkap.[20]

Gambar 7. Nelson Mandela dan Soeharto [21]

Kecintaan Nelson Mandela terhadap batik rupanya juga terlihat saat menghadiri acara-acara resmi, seperti peluncuran asosiasi mantan pemimpin dunia, The Elders, pada bulan Juli tahun 2007. Di kesempatan ini, pria kelahiran Mvezo, Afrika Selatan, 18 Juli 1918 ini dengan bangga mengenakan kemeja batik Indonesia. Acara tersebut diadakan bertepatan dengan ulang tahun ke-89 tokoh veteran perjuangan anti-apartheid ini. Sosok dari Nelson Mandela selalu dielu-elukan, apalagi dengan mengenakan batik yang membuat sosoknya semakin karismatik dan bersahaja.[22]

Perkenalan Mandela pertama kali dengan batik Indonesia, menurut mantan Duta Besar RI untuk Afrika Selatan, Sugeng Rahardjo, terjadi pada 1990, beberapa bulan setelah dia keluar dari penjara di Pulau Roben. Sebagai presiden Kongres Afrika Selatan, Mandela atau yang akrab dipanggil Madiba, mengadakan perjalanan pertama ke Asia, termasuk ke Indonesia.[20][22]

(6)

Seminar Nasional Strategi Indonesia Kreatif Universitas Widyatama Bandung 19 Maret 2015

6

berpendapat dalam satu kesempatan di akhir

tahun 90-an ketika memberikan batik untuk Mandela, bahwa Mandela merupakan figur atau sosok yang ketokohanya sangat kuat dan pas dengan koleksi batiknya. Mandela tak hanya terlihat menarik, tapi memiliki kharisma perjuangannya semakin terpancar dengan mengenakan batik. Filosofi pembuatan batik yang memerlukan rasa kesabaran tinggi dan keharmonisan merupakan cermin kuat kepribadian Nelson Mandela. Mantan pemimpin Afrika Selatan yang kharismatik ini senantiasa mengenakan batik pada banyak acara-acara resmi, termasuk pada acara penutupan Piala Dunia tahun 2010.[23]

Gambar 8. Mandela dan Batik Indonesia [24]

Mandela, seorang presiden yang tak ada kaitan hubungan darah dengan Indonesia, justru menjadikan batik sebagai pakaian kenegaraannya, tak peduli menyambut Presiden Amerika Serikat, Ratu Inggris, pemimpin negara lain, hingga artis-artis dunia seperti Stevie Wonder hingga Bono. Mandela seolah tampil menjadi duta promosi Batik Indonesia. Satu-satunya pemimpin di dunia ini yang selalu mengenakan batik sebagai seragam kenegaraannya adalah seorang Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela, bukan para Presiden Indonesia.[22]

Gambar 9. Mandela dan Bono [25]

Bahkan, setelah kunjungan kenegaraan tahun 1997 di Istana Negara Jakarta tersebut, sejak saat itu seluruh menteri dalam Kabinet Mandela selalu mengenakan batik untuk acara kenegaraan, berdasarkan instruksi dan inspirasi dari sang Presiden. Batik pun menjadi pakaian mahal disana, terutama yang berbahan sutera. Oleh karena mahalnya batik impor dari Indonesia, maka kemudian dibuatlah batik sutera versi Afrika Selatan

yang dinamakan “Madiba Shirt”, yang merupakan julukan Mandela.[26]

Batik kemudian juga ikut menginspirasi beberapa desainer lokal Afrika Selatan yang membuat motif batik baru. Fakta lainnya menyebutkan, saking termahsyurnya batik Indonesia, beberapa delegasi bisnis Afrika Selatan yang berkunjung ke tanah air rela menghabiskan waktunya seharian untuk berburu batik sebagai cinderamata yang eksotis dan eksklusif.[22][23]

Jadi, mendiang Nelson Mandela yang wafat pada 5 Desember 2013, bukan hanya

“Pahlawan Kemanusiaan” dunia, namun

bagi bangsa Indonesia, layak tampaknya

dinobatkan sebagai salah seorang “Pahlawan Kebudayaan” Indonesia. Dampak positif

dari kebiasaan Nelson Mandela yang menyenangi batik, mengakibatkan batik lebih cepat mendunia.[27]

2.3. Batik Indonesia di Pentas

Dunia

Mantan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia, Jero Wacik pernah mengutarakan pendapat, bahwa berbagai upaya konstruktif untuk melestarikan dan mengembangkan batik Indonesia terus dilakukan, terutama agar batik semakin dicintai. Selain akan semakin diakui dunia, batik juga memberikan pengaruh terhadap perekonomian, sehingga semakin banyak orang yang menggunakan batik, itu akan menguntungkan pengrajin batik, maka para pengrajin tersebut akan mendapatkan keuntungannya.[28]

(7)

Seminar Nasional Strategi Indonesia Kreatif Universitas Widyatama Bandung 19 Maret 2015

7

Masyarakat pegiat dan pecinta batik

seringkali menyayangkan pameran batik sering digelar cukup singkat waktunya dan terlalu jarang. Walaupun demikian, para pecinta batik itu pernah berpendapat, bahwa kualitas batik Indonesia jauh lebih tinggi, dibandingkan kualitas batik impor asal Tiongkok, India, dan sejumlah negara di kawasan Asia Selatan.

Mantan Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, pernah mengutarakan pendapatnya saat acara pembukaan pameran batik dunia, World Batik Summit, bahwa batik merupakan identitas Indonesia dan dapat dijadikan sarana diplomasi kepada semua negara sahabat di dunia. Semua rakyat Indonesia, sahabat-sahabat bangsa lain di dunia juga suka dan cinta batik, sekaligus suka memakai batik, maka masa depan batik akan cerah.[29]

Menurut mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini, sampai tahun 2011, usaha batik di tanah air telah mencapai 55 ribu unit, dan dijalankan oleh Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Jika jumlah ini terus berkembang, maka bisa mengurangi jumlah pengangguran dan berdampak langsung terhadap faktor peningkatan kesejahteraan pengrajin batik Indonesia.[29]

Gambar 10. Acara World Batik Summit 2011 [30]

Data dari Kementerian Perdagangan RI menyebutkan, total penjualan batik Indonesia tahun 2014 sekitar kurang lebih 5 trilyun rupiah. Sementara target tahun 2015 ini, penjualan batik untuk dalam negeri maupun ekspor akan mencapai kurang lebih sekitar 7 trilyun rupiah. Total ekspor batik Indonesia pada tahun 2014 lebih dari 22, 3 juta dolar AS.[31]

Pada bulan Juli 2014 lalu, ada pagelaran Indonesian Batik: World Heritage, juga digelar meriah di Kedutaan Indonesia KBRI Washington, Amerika Serikat. Acara ini dihadiri banyak tamu undangan, termasuk warga Amerika yang ingin mengenal batik lebih jauh. Pameran ini menampilkan sekitar 60 kain batik dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Solo, Cirebon, Pontianak, dan lain-lain. Sementara itu, sewaktu menyambut Hari Batik Sedunia yang selalu diperingati tanggal 2 Oktober, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta menggelar pameran batik yang menampilkan beberapa corak batik koleksi Ann Dunham, ibunda Presiden Barrack Obama, selama ia berada di Indonesia.[32]

Gambar 11. Pagelaran Batik di Amerika Serikat [33]

Pemerintah Indonesia selalu mendorong upaya-upaya menduniakan batik. Bentuk upaya-upaya ini dinilai akan meningkatkan apresiasi dan akulturasi batik dalam kemajemukan budaya. Untuk tujuan tersebut, Perwakilan-perwakilan Republik Indonesia di Amerika Serikat selalu melaksanakan program kompetisi desain batik (American Batik Design Competition) di Washington setiap tahunnya. Pada kompetisi terakhir di tahun 2014 lalu yang

(8)

Seminar Nasional Strategi Indonesia Kreatif Universitas Widyatama Bandung 19 Maret 2015

8

Gambar 12. American Batik Design Competition[35]

Kompetisi ini, dinilai oleh para pakar fashion dunia sebagai strategi glokalisasi yang cukup berhasil, sehingga kompetisi ini dapat menjadi salah satu simbol kebangkitan budaya Asia, khususnya Indonesia, sebagai bangsa yang semakin percaya diri di tengah pergaulan internasional. Pagelaran kompetisi itu dihadiri oleh sekitar 300 undangan dari kalangan seni, mahasiswa desain, para sponsor, serta para pecinta batik di Washington D.C. dan sekitarnya, dan Asia Society mendukung acara ini secara penuh.[34]

Para tamu undangan akhirnya menyebut

malam tersebut sebagai ‘all about batik night’. Selain peragaan busana batik, pengunjung juga disuguhi pameran kain-kain batik dari berbagai daerah di Indonesia. Di antara batik yang dipamerkan, terdapat satu batik spesial yang dibuat oleh mendiang Iwan Tirta, khusus untuk Presiden Ronald Reagan kala itu. Busana-busana batik cantik karya Denny Wirawan yang diperagakan oleh model-model Washington DC menjadi salah satu daya tarik. Denny menampilkan kurang lebih 20 karya gaun-gaun batik yang kaya akan warna dan sentuhan tradisional, modern, dan terlihat elegan. Pada pagelaran kompetisi tersebut, seluruh batik yang ditampilkan tak hanya untuk dilihat saja, beberapa kain batik yang dipajang, juga dapat dibeli pengunjung melalui silent auction.[34]

Gambar 13. Batik Denny Wirawan [36]

Sejarah batik Indonesia pun menjadi suguhan menarik, informatif, dan edukatif bagi para undangan. Selain melalui media audio-visual, sejarah batik juga disampaikan oleh Mattiebel Gittinger, salah satu pakar batik dari museum tekstil, Washington D.C.. Pakar tersebut bahkan dapat memberikan penjelasan bahwasannya batik bukan saja sebuah karya seni, tapi juga mempunyai nilai spiritual di setiap sentuhan karyanya. Pagelaran serupa diselenggarakan juga pada berbagai kota-kota besar lainnya di Amerika Serikat, antara lain New York, San Francisco, dan Chicago. Dari seluruh partisipan kompetisi ini akhirnya dipilih 6 (enam) pemenang. Tiga pemenang terbaik mendapat hadiah Batik Tour ke Indonesia dan hadiah uang. Tiga pemenang lainnya mendapatkan hadiah uang saja. Selain itu, para pemenang tersebut diberi kesempatan menggelar pameran desain batik-nya di Indonesia dan Amerika Serikat.[34]

Gambar 14. Pemenang American Batik Design

Competition[37]

Kemudian, ada Pemerintah Kota Surakarta yang bekerjasama dengan Kedutaan Besar Pemerintah Jerman telah mengadakan

pameran batik yang bertema “Indonesia Batik: A Living Heritage“ di Pendopo Gede Balaikota Surakarta. Pameran ini dibuka untuk umum dan bersifat gratis. Pameran

“Indonesia Batik: A Living Heritage“ (Batik Indonesia: Warisan Budaya Hidup) merupakan bentuk penghargaan terhadap salah satu karya seni yang paling mempesona di Indonesia, serta sebagai sebuah bentuk perwujudan akan apresiasi dari UNESCO yang telah menobatkan batik Indonesia sebagai sebuah mahakarya

(9)

Seminar Nasional Strategi Indonesia Kreatif Universitas Widyatama Bandung 19 Maret 2015

9

Gambar 15. Indonesia Batik: A Living Heritage

di Solo [39]

Batik mendapat tempat khusus di dunia pertekstilan dari seluruh kepulauan Indonesia dan bahkan dari seluruh dunia, karena mungkin tidak ada kain selain batik yang sedemikian kaya akan lambang dan makna. Lambang dan makna ini bisa dilihat melalui filsafat warna dan rancangan serta cara pembuatan, proses pelibatan, hingga pemakaiannya. Batik dianggap mampu mencerminkan jiwa orang yang membuat, mengunakannya, serta mereka yang menghargai batik sebagai sebuah warisan budaya. Tidak diketahui kapan dan dimana tepatnya menghias kain ini berasal, sebab kain seperti ini ditemukan di berbagai kebudayaan Asia. Namun proses pembuatan kain ini kemudian dikenal sebagai batik, sebagaimana sebutan kain tersebut di Indonesia, dimana sebagian besar orang mengakui bahwa keahlian membuat batik yang dimiliki masyarakat Indonesia adalah sebuah mahakarya seni.[1][2][4]

Berbagai ajang pameran tentang batik di seluruh dunia selalu diselenggarakan, kini selalu mengungkapkan kekayaan sejarah batik, memperagakan proses membuat batik secara tradisional yang nyaris terlupakan, serta memberikan pemahaman mengenai arti di balik simbol dan motif yang digunakan. Permasalahan lingkungan di dunia saat ini merupakan tantangan tersendiri bagi perancangan modern yang memperlihatkan kecintaan warga dunia terhadap batik tradisional dan kontemporer, sebagai pertanda bahwa batik akan tetap diminati pada masa yang akan datang di seluruh dunia.

Pameran dengan dukungan dana penuh dari Kementerian Luar Negeri Pemerintah Federal Jerman pernah diwujudkan dalam

serangkaian acara “JERIN - Jerman dan

Indonesia”, dengan slogan “Kreativitas dalam Keberagaman”. JERIN mencakup 60

acara yang diselenggarakan di berbagai daerah di seluruh Indonesia dan Jerman.

“The Clean Batik Initiative” yang didukung penuh oleh Komisi Uni Eropa ikut serta menjadi salah satu bagian dalam pameran ini.[40]

Gambar 13. Batik Denny Wirawan [41]

Pameran karya seni unik yang begitu indah ini dapat memberikan harapan agar mampu menggerakkan bangsa Indonesia untuk memberi dukungan sepenuhnya terhadap pembangunan berkelanjutan dan dukungan penghargaan terhadap batik. Generasi yang akan datang juga layak mendapatkan kesempatan yang sama untuk bisa menikmati batik sebagaimana yang dirasakan saat ini.

3. HASIL DAN DISKUSI

Batik yang sangat dicintai masyarakat Indonesia mungkin sudah tak lagi diragukan, karena masyarakat dunia pun telah mencintai batik. Dukungan masyarakat yanng sangat luar biasa untuk melestarikan kain adat tersebut semakin menggelora di lubuk hati warga Indonesia. Hal tersebut dapat terlihat dari kesadaran masyarakat yang menjadikan batik sebagai bagian dari keseharian, bahkan ketika masyarakat Indonesia sedang berada di luar negeri.

Fakta terkini memperlihatkan, bahwa batik memang telah mendunia, namun Indonesia harus tetap menjadi rumahnya. Bisa saja negara manapun di dunia mengakui punya batik, tapi keberadaan sejatinya tetap di Indonesia. Ajang menarik tentang batik harus selalu diisi dengan berbagai acara, seperti konferensi batik, pameran batik, hingga kunjungan ke tempat-tempat yang memiliki kaitan bersejarah dengan batik.

(10)

Seminar Nasional Strategi Indonesia Kreatif Universitas Widyatama Bandung 19 Maret 2015

10

asalnya merupakan produk lokal juga) dalam

konteks yang dilakukan masyarakat dalam berbagai wilayah budaya. Interpretasi lokal masyarakat tersebut kemudian juga telah membuka kemungkinan adanya pergeseran makna atas nilai budaya. Keberadaan batik Indonesia dengan aneka ragam motif serta bentuknya, diyakini banyak pihak bakal menjadi satu di antara ikon Indonesia yang menawan pada perhelatan pergaulan dan perdagangan internasional.

Keberadaan era blok perdagangan bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang akan berlangsung dari tahun 2015 ini seharusnya tidak akan mempengaruhi perdagangan batik, apalagi bila pemerintah dan seluruh praktisi dalam bidang batik mampu menerapkan strategi glokalisasi ini secara tepat. Strategi kreatif ini akan membuat batik semakin dicintai dan terus memantapkan eksistensinya tidak hanya di ASEAN, tetapi di seluruh dunia. Justru dengan MEA akan menjadikan batik semakin populer di seantero ASEAN, bahkan dunia.

Dinamisasi kebudayaan dan tantangan global (termasuk lokal dan nasional) lewat pemberdayaan kebudayaan dalam negara dan pasar yang mendialogkan kebudayaan, politik, dan ekonomi di ranah batik, dan pasar diwakili oleh entitas ''glokalisasi'' (paduan globalisasi dan lokalisasi) dan dinamisasi kebudayaan. Dengan kata lain, dinamisasi kebudayaan dan glokalisasi adalah kata-kata kunci. Kalau dua hal itu tidak dihadirkan, paling tidak secara teoretis, jangan-jangan masyarakat Indonesia hanya akan menjadi korban hegemoni dan/atau dominasi kebudayaan, politik, dan pasar global.

Secara keseluruhan (mengikuti pendapat Robertson (1992:167)) ada beberapa elemen esensial dari glokalisasi sebagai berikut:[42] 1) Dunia sedang tumbuh menjadi

pluralistik.

2) Individu-individu dan berbagai bentuk kelompok-kelompok lokal memiliki kekuasaan besar untuk menyesuaikan diri, memperbarui dan melakukan manuver dalam sebuah dunia glokal. 3) Proses-proses sosial adalah berhubungan

dan saling tergantung. Globalisasi memancing berbagai reaksi, dari kubu

nasionalis sampai dengan penerimaan kosmopolitan, yang hidup dari dan merubah globalisasi yang menghasilkan glokalisasi.

4) Komoditas-komoditas dan media, arena dan kekuatan kunci dalam perubahan budaya pada akhir abad 20 dan awal abad 21 tidak dilihat sebagai (secara total) yang koersif, namun lebih sebagai penyedia materi untuk dimanfaatkan dalam kreasi individual dan kelompok di seluruh wilayah dunia yang terglokalisasi.

Dari berbagai teori beberapa ahli tersebut, maka dapat dianalisis dan didiskusikan bahwa kebanyakan dari para ahli mengemukakan bahwa bentuk glokalisasi sebagai konsep daripada globalisasi, dan glokalisasi sangat erat kaitannya dengan percampuran pengaruh global yang masuk ke dalam budaya lokal sehingga menjadi sesuatu yang baru, entah itu merugikan ataupun menguntungkan, tergantung pada kemampuan dari lokal itu sendiri untuk menyikapinya. Glokalisasi juga sangat memiliki kaitan yang erat dengan ekonomi global, karena banyak perusahaan-perusahaan dan industri berskala global menggunakan strategi glokalisasi dengan memanfaatkan potensi budaya lokal untuk bersaing dengan pasar lokal. Hal itulah yang perlu dilakukan oleh industri batik dalam strategi kreatifnya untuk terus menjaga eksistensinya di pasar global dan siap bersaing dengan produk global lainnya terutama dengan mengikuti arus karakter pasar global agar apapun yang diproduksi dapat diterima oleh masyarakat dunia.

4. KESIMPULAN

(11)

Seminar Nasional Strategi Indonesia Kreatif tradisi yang lebih dalam menembus konteks kultural, historikal, maupun agama, sepertinya sudah tidak lagi diperhatikan. Itu akibat dari dampak atau implikasi dari masuknya produk global ke dalam produk lokal dengan memanfaatkan berbagai potensi kebudayaan sebagai strateginya.[43]

Sebagai contoh penggunaan motif batik Indonesia yang dilakukan pada berbagai produk yang tidak berupa kain atau pakaian, tetapi dalam bentuk tas, dompet, dan lain-lain. Selain itu dampak atau implikasi untuk budaya lokal Indonesia ialah semakin kuat dan memberikan kesan esklusifisme kepada produk lokal Indonesia ini, karena bentuk percampuran dari produk global tersebut.

Maka, untuk menyikapi semua hal tersebut, tergantung bagaimana masyarakat lokal menyikapinya, dengan segala macam pengaruh global yang masuk melalui industri dan produk-produknya, seharusnya masyarakat lokal lebih dewasa dalam hal ini, dengan menerima hal tersebut asalkan masih dalam konteks positif, tetapi jangan tinggalkan kesan sesungguhnya dari kebudayaan yang telah memanfaatkan hasil produk global, tetapi tetap cinta kepada produk lokal dan tidak menghilangkan karakter pasar lokal yang sudah menjadi karakter atau identitas perekonomian lokal. Dengan begitu dapat meminimalisir dampak atau implikasi dari strategi glokalisasi yang dilakukan industri global melalui produk-produknya, serta dengan begitu juga tidak akan ada pergeseran nilai-nilai tradisi lokal yang merupakan identitas dan jatidiri dari kebudayaan lokal suatu negara.

Dalam strateginya, batik memanfaatkan dan menunjukkan potensi budaya Indonesia yang selama ini telah menjadi warisan budaya Indonesia. Batik harus memiliki kemampuan mengembangkan ekstensifikasi pada setiap produknya seperti jaket, sepatu, topi, dan hal lainnya. Hal itu dilakukan untuk menarik minat masyarakat dunia. Ada beberapa alasan kenapa motif batik harus terus dikembangkan menuju pasar glonal, karena batik merupakan bentuk sentuhan tradisional yang muncul dari masyarakatnya itu sendiri, karena batik sendiri terus menjadi bahan

perbincangan setelah beberapa kasus klaim batik yang juga menjadi identitas bangsa Indonesia oleh bangsa lain memunculkan kepanikan tersendiri yang mengakibatkan tema batik menjadi menarik dan sepertinya semua kalangan ikut memperbincangkannya.

Kepanikan inilah yang dimanfaatkan oleh batik dengan sebaran produk-produknya dengan cara memberikan sentuhan batik pada produkya dan lantas disebut sebagai produk khas Indonesia, bahkan dunia. Namun dengan status batik yang masih merupakan industri lokal dan belum penuh memasuki industri global, maka masyarakat pun banyak yang berfikir kalau pemakaian motif batik dalam setiap sebaran produknya akan memanfaatkan potensi budaya Indonesia untuk masuk ke dalam karakter pasar global yang lebih tahu seluk-beluk persaingan pasar bebas di dunia, termasuk ketika era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) telah resmi dimulai pada akhir tahun 2015 ini.

Jenis produknya sendiri merupakan simbol tersendiri yang memiliki makna. Makna yang menyeluruh dan utuh yang terbangun dari suatu produk dihasilkan oleh simbol-simbol yang saling membangun pada produk tersebut. Mungkin karena semangat gaya hidup etnik dan sub kultural yang menggebu, produk apapun ditempeli motif internasional. Namun nilai tradisi yang muncul menjadi kabur, karena sering produk yang ditempeli ternyata tidak memiliki kaitan historikal, cultural atau religius yang sama dengan motifnya, sehingga pemaknaan menjadi saling bertabrakan dan kesakralan motif batik menjadi tidak ada. Motif batik hanya menjadi patron estetika visual saja, saat ini dapat dilihat begitu banyak mode produk-produk bercorak dan bermotif batik seperti yang dilakukan oleh berbagai produk internasional dengan beralasan bahwa objek tersebut mengandung nilai tradisi, padahal perlu dicek ulang tentang kaitan antara sejarah, ideologi, agama dan kebudayaan Indonesia dengan produk tersebut.

5. DAFTAR PUSTAKA

(12)

Seminar Nasional Strategi Indonesia Kreatif Universitas Widyatama Bandung 19 Maret 2015

12

[1]. Djomena, Nian., 2013, “Ungkapan

Sehelai Batik”, Jambatan, Jakarta. [2]. Wulandari, Ari., 2011, “Batik

Nusantara”, Andi Offset, Yogyakarta. [3]. Tokopedia, 2015, “Homeset Tenun

Aplikasi Batik Cap”, tersedia pada

https://www.tokopedia.com/umaisolsh op/homeset-tenun-aplikasi-batik-cap-2

diakses pada tanggal 7 Maret 2015 Pukul 14.15 (GMT +7).

[4]. Musman, Asti., Ambar B. Arini, 2011,

“Batik: Warisan Adiluhung Nusantara”, Andi Publisher, Yogyakarta.

[5]. Kusmayatna, Aang., 2012, “Indonesian Batik at Paris Fashion Week by Dries

[6]. TrendVogue, 2015, “Indonesian Batik

and American Fashion Industry”

tersedia pada

http://www.trendvogue.net/indonesian-batik-and-american-fashion-industry/

diakses pada tanggal 7 Maret 2015 Pukul 22.30 (GMT +7).

[7]. Harmandini, Felicitas., 2012, “Ketika Batik Merasuk di Industri Mode

[8]. Batik Trusmi, 2013, “Ini Bukti Busana Batik Cirebon Indonesia Digemari

Seleb Hollywood”, tersedia pada

[11].Roberts Jr., Bob., 2007, “Glocalization: How Followers of Jesus Engage a Flat

World”, Zondervan, London.

[12].Irsan, Abdul., 2010, “Indonesia di

Tengah Pusaran Globalisasi”,

Grafindo, Jakarta.

[13].Ruby, Carolyn, 2014, “Going Glocal”, tersedia pada

http://wondermentcreative.com/going-glocal/

diakses pada tanggal 8 Maret 2015 Pukul 12.30 (GMT +7).

[14].Bhaduri, Saugata., 2008, “Negotiating Glocalization: Views From Language,

Literature And Culture Studies”,

Anthem Press India, New Delhi. [15].Drori, Gili S.., Markus A. Höllerer,

Peter Walgenbach, 2013, “Global

Themes and Local Variations in Organization and Management: Perspectives on Glocalization”, Routledge, Chicago.

[16].Temkin, Bruce., 2010, “McDonalds

Showcases Glocal Strategy” tersedia

pada

[17].Robertson, Roland., 1995,

“Glocalization: Time-Space and Homogeneity-Heterogeneity”, SAGE Publications Ltd., London.

[18].Sigismondi, Paolo., 2005, “The Digital Glocalization of Entertainment: New Paradigms in the 21st Century Global Mediascape”, Springer, New York. [19].Budihardjo, Eko., 2015, “Dari

Globalisasi ke Glokalisasi”, tersedia pada

[21].GampakMewek, 2013, “Pernah Lihat

(13)

Seminar Nasional Strategi Indonesia Kreatif

Mandela Sang Pencinta Batik Sejati”,

tersedia pada

[23].Febrialdi, 2013, “Pakaian Batik Indonesia sebagai Filosofi Perjuangan

Hidup Nelson Mandela”, tersedia pada

http://sosok.kompasiana.com/2013/12/

[24].Grazia Indonesia, 2013, “Mengenang

Sang Pencinta Batik”, tersedia pada

http://www.grazia.co.id/fashion/grazia.

Berbaring Mengenakan Kemeja Batik”,

tersedia pada

http://www.dw.de/mandela-berbaring-mengenakan-kemeja-batik/a-17289501

diakses pada tanggal 20 Februari 2015 Pukul 08.15 (GMT +7).

[28].Mulyanto, Bambang., 2008,

“Menbudpar Jero Wacik, Puji Ragam

Busana Batik Guruh Sukarnoputra”,

tersedia pada

World Batik Summit”, tersedia pada

http://thejakartaglobe.beritasatu.com/ar

Batik Summit 2011”, tersedia pada

http://batik-produkmutu.blogspot.com/

diakses pada tanggal 13 Februari 2015 Pukul 21.45 (GMT +7).

[31].Nurhayat, Wiji., 2014, “Batik Indonesia Disukai Orang AS hingga

Jerman, Ini Penyebabnya”, tersedia

pada Warisan Budaya dalam Pagelaran

Busana Batik”, tersedia pada

Competition”, tersedia pada

http://americanbatik.embassyofindones ia.org/

diakses pada tanggal 23 Januari 2015 Pukul 15.15 (GMT +7).

[35].Surya, Adjie., 2014, “ABDC to Streghten US-Indonesia People

(14)

Seminar Nasional Strategi Indonesia Kreatif Universitas Widyatama Bandung 19 Maret 2015

14

http://www.indonesia.travel/en/news/d etail/441/american-batik-design- competition-to-strengthen-us-indonesia-people-contact

diakses pada tanggal 27 Januari 2015 Pukul 17.45 (GMT +7).

[36].Stover, Adrian., 2014, “Batik for

Americans and Indonesians Alike”,

tersedia pada

http://asiasociety.org/batik-americans-and-indonesians-alike

diakses pada tanggal 25 Februari 2015 Pukul 12.25 (GMT +7).

[37].Diah, Sakinah Rakhmah., 2014, “BNI

Dukung American Batik Competition”,

tersedia pada

http://bisniskeuangan.kompas.com/read /2013/11/05/1451072/BNI.Dukung.Am erican.Batik.Competition

diakses pada tanggal 27 Februari 2015 Pukul 14.45 (GMT +7).

[38].Latitudes, 2012, “Indonesian Batik: A Living Heritages, Jakarta & Solo”, tersedia pada

http://latitudes.nu/indonesian-batik-a-living-heritage-jakarta-solo/

diakses pada tanggal 18 Februari 2015 Pukul 15.35 (GMT +7).

[39].Surono, Agus., 2013, “Carnival Batik

Solo Indonesian”, tersedia pada

http://omguss.blogspot.com/2013_06_1 1_archive.html

diakses pada tanggal 15 Januari 2015 Pukul 13.45 (GMT +7).

[40].Krummeck, Martin., 2013, “Clean

Batik Initiative”, tersedia pada

http://www.switch-asia.eu/projects/clean-batik-initiative/

diakses pada tanggal 1 Februari 2015 Pukul 14.20 (GMT +7).

[41].Clean Batik Initiative, 2013,

“Equipping Top Performing SMEs

with International Experience at Trade

Expo Indonesia 2013”, tersedia pada

http://www.cleanbatik.com/index.php?i d=328

diakses pada tanggal 7 Februari 2015 Pukul 13.30 (GMT +7).

[42].Robertson, Roland., 1992,

“Globalization: Social Theory and Global Culture”, SAGE Publication

Ltd., New York.

[43].Sumardjo, Jakob., 2006, “Estetika

Paradok”. Sunan Ambu Press,

Gambar

Gambar 2. Batik Karya Dries Van Noten  [6]
Gambar 4. Selebritis Dunia dengan Batik [9]
Gambar 6. Konsep Glokalisasi [16]
Gambar 7. Nelson Mandela dan Soeharto [21]
+5

Referensi

Dokumen terkait

Pengujian lebih lanjut menunjukkan bahwa nilai koefisien regresi (b) tidak berbeda nyata dengan b =1 (t = 1,71; db =7; P > 0.05), yang membuktikan bahwa hubungan

video pada siswa kelas V SD Negeri Bangsalan 1, Kecamatan Teras, Kabu-paten Boyolali tahun ajaran 2015/2016. Pada kondisi awal atau pratindakan ketuntasan

Pada masa permulaaan Islam, para sahabat yang utama baik dalam kedudukannya sebagai pejabat maupun dengan sukarela, berangkat ketempat-tempat pemukiman baru dan

Alhamdulillah, segala puji syukur dipanjatkan ke hadirat Allah SWT atas rahmat serta hidayah-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan laporan Tugas Akhir yang berjudul

dimaksud pada ayat (1) yang akan menduduki jabatan fungsional Pengendali Dampak Lingkungan ahli madya, diverifikasi oleh pimpinan unit kerja dan diajukan kepada Biro

Pulau ini disebut juga pulau Cipir atau pulau Kuiper yang dapat ditempuh dalam waktu satu jam dari pelabuhan Marina, Jakarta.. Di pulau ini ada tempat memancing, berburu kerang,

NAMA ALAT MERK/TYPE JUMLAH TAHUN PEMBUATAN KONDISI ALAT STATUS

meluangkan waktu untuk membimbing penulis, memberikan motivasi lebih, membantu penulis dalam mengatasi masalah yang penulis hadapi, serta memberikan hiburan