M KONTE PR PENI MENDESK EKSTUAL SEMEST Diaj M Progr ROGRAM S FAKULT INGKATAN KRIPSIKA L PADA SI TER GENA
jukan untu Memperole ram Studi P
Nama NIM STUDI PE JURUSA TAS KEGU UNIVERS Y N KEMAM AN BENDA SWA KEL AP TAHUN SKRIP uk Memenu h Gelar Sa Pendidikan
Oleh : P : 0
NDIDIKAN AN ILMU P URUAN DA SITAS SAN YOGYAKA 2011 MPUAN BE A DENGAN
LAS II SD N N PELAJAR
PSI
uhi Salah Sa arjana Pend n Guru Sek
:
Priyo Estu W 081134202
M KONTE PR MENDESK EKSTUAL SEMEST Diaj M Progr ROGRAM S FAKULT KRIPSIKA L PADA SI TER GENA
jukan untu Memperole ram Studi P
NAM NIM STUDI PE JURUSA TAS KEGU UNVERSI Y i AN BENDA SWA KEL AP TAHUN uk Memenu h Gelar Sa Pendidikan
oleh: MA :Priyo : 08113
NDIDIKAN AN ILMU P URUAN DA ITAS SANA YOGYAKA 2011
A DENGAN LAS II SD N N PELAJAR
uhi Salah Sa arjana Pend n Guru Sek
:
Estu Wido 34202
PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA MENDESKRIPSIKAN BENDA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA SISWA KELAS IT SD NEGERI SALAMREJO
SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 2010/2011
Oleh: Priyo Estu Widodo
N1M: 08 1134 202
Telah disetujui oleh:
Pembimbing I
Dr. Yuliana Setiyaningsih
Pembimbing II
Drs. YB. Adimassana, M.A.
Tanggal 14November 20 11
Tanggal14 November 2011
PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA
MENDESKRIPSIKAN BENDA DENGAN PENDEKATAN
KONTEKSTUAL PADA SISWA KELAS II SD NEGERI SALAMREJO
SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 201012011
Dipersiapkan dan ditulis oleh: Priyo Estu Widodo
NlM: 08 1134202
Telah dipertahankan di depan panitia penguji pada tanggal22 November20II dan dinyatakan memenuhi syarat
Ketua
Sekretaris
Anggota
Anggota
Anggota
Susunan Panitia Penguji
Nama lengkap
Drs. Puji Pumomo, M.Si.
Ora. Haniek Sri Pratini, M. Pd.
Dr.
Yuliana SeliyaningsihDrs. YB. Adimassana, M.A.
Drs. Puji Pumomo, M.Si.
""
TandaTangl
...
.
..
...
iv
PERSEMBAHAN
Karya ini saya persembahkan untuk
Allah SWT
kedua orang tuaku yang tersayang
dan
v
MOTTO
‘
Kebaikan tidak bernilai selama diucapkan akan tetapi bernilai
sesudah dikerjakan’
vi
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA
Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan dalam daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.
Yogyakarta, 14 November 2011
Penulis
vii
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN
PUBLIKASI ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS
Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma :
Nama : Priyo Estu Widodo Nomor Mahasiswa : 08 1134 202
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul :
“PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA MENDESKRIPSIKAN
BENDA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA SISWA KELAS II SD NEGERI SALAMREJO SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 2010/2011” beserta perangkat yang diperlukan. Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di Internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.
Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya.
Dibuat di Yogyakarta
Pada tanggal, 14 November 2011 Yang menyatakan
viii
Peningkatan Kemampuan Berbicara Mendeskripsikan Benda Dengan Pendekatan Kontekstual Pada Siswa Kelas II SD Negeri Salamrejo Semester Genap Tahun Pelajaran 2010/2011.
ABSTRAK
Kemampuan berbicara sangat penting untuk kehidupan sehari-hari. Berbicara merupakan salah satu cara untuk berkomunikasi. Kemampuan berbicara diajarkan sejak kelas I di sekolah dasar. Kemampuan berbicara termasuk dalam kurikulum kelas II. Siswa dituntut dapat berbicara dalam hal mendeskripsikan benda.
Hasil tes materi mendeskripsikan benda secara lisan SD Negeri Salamrejo kelas II bisa dikatakan rendah. Nilai rata-rata kelas masih terdapat di bawah kriteria ketuntasan minimal. Pada kondisi awal, rata-rata kelas hanya mencapai 62,47, sedangkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) materi tersebut adalah 67,00. Hal ini diperkuat dengan persentase jumlah siswa yang berada di bawah KKM dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia ada 57% dari 21 siswa.
Berdasarkan masalah di atas, peneliti melakukan penelitian untuk mengetahui apakah pembelajaran menggunakan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan kemampuan berbicara mendeskripsikan benda pada siswa kelas II SD Negeri Salamrejo Semester Genap tahun pelajaran 2010/2011.
Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas II SD Negeri Salamrejo tahun pelajaran 2010/2011 yang berjumlah 21 siswa. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Kemampuan berbicara tentang mendeskripsikan benda diukur dengan tes kinerja. Penilaian didasarkan rubrik yang sudah dibuat. Teknik analisis peningkatan yang dialami menggunakan uji beda rata-rata untuk sampel dependen.
Hasil penelitian pada siklus I menunjukkan peningkatan nilai rata-rata kelas dibandingkan pada kondisi awal, yaitu dari 62,47 menjadi 66,48. Secara persentase, siswa yang mampu juga mengalami peningkatan dari 43% menjadi 62%. Pada siklus II, rata-rata kelas meningkat menjadi 71,24 dan secara persentase, siswa yang mampu menjadi 76%.
Berdasarkan ini, dapat disimpulkan bahwa pendekatan kontekstual dapat meningkatkan kemampuan berbicara mendeskripsikan benda pada siswa kelas II SD Negeri Salamrejo tahun pelajaran 2010/2011.
ix
Speaking Skill in describing objects using Contextual Approach of the Second Grade Students of Salamrejo Elementary School, in the Even Semester of 2010/2011 Academic Year.
ABSTRACT
Speaking skill is very important for daily life. Speaking is one way to communicate. It has been taught since the fist grade of elementary school. In the second grade, speaking skill is included in the curriculum. Students are required to be able to describe objects.
The results of the test in verbally describing objects in this class can be said to be low. The average value of the class is still under the minimum exhaustive criteria listed. At the initial condition, the average of the class was only 62.47, while the KKM grade is 67.00. This is affirmed by the percentage of the number of students who are below the KKM in Indonesian subject, that is 53% of 21 students.
Based on the above issue the researcher conducted a research to determine whether learning using a contextual approach can increase the speaking skill in describing objects of the second grade students of Salamrejo Elementary School, in the Even Semester of 2010/2011 Academic Year.
The subjects of this research are the second grade student of Salamrejo Elementary School, in the Even Semester of 2010/2011 Academic Year, consisting of 21 students . The research was conducted in two cycles. The speaking skill in describing objects is measured using performance test and is assessed using a rubric that has been made. To analyze the increase experienced, a Different Mean Test is used.
The results of the cycle I show an increase of the class average value in the initial condition, that is from 62.47 to 66.48. In percentage the students who are able also increase from 43% to 62%. In cycle II, the class average increased to 71.24 and the percentage of students who are able attains 76%.
Based on these results, it can be concluded that contextual approach can improve the speaking skill in describing objects of the second graders of Salamrejo Elementary School, 2010/2011 Academic Year.
x
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir Skripsi ini dengan baik. Tugas Akhir Skripsi yang berjudul “Peningkatan Kemampuan Berbicara Mendeskripsikan Benda Dengan Pendekatan Kontekstual Pada Siswa Kelas II SD Negeri Salamrejo Semester Genap Tahun Pelajaran 2010/2011” ini ditulis untuk memenuhi syarat kelulusan program S-1 PGSD Universitas Sanata Dharma. Tidak lupa ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada;
1. Rohandi, Ph.D., selaku dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan Universitas Sanata Dharma.
2. Drs. Puji Purnomo, M.Si., selaku Kaprodi PGSD Universitas Sanata Dharma. 3. Dr. Yuliana Setiyaningsih dan Drs. YB. Adimassana, M.A., selaku dosen
pembimbing yang telah bimbingan dengan baik dari awal sampai akhir penulisan skripsi ini.
4. Para Dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar yang telah membekali penulis dengan berbagai macam ilmu pengetahuan untuk menyelesaikan skripsi ini.
xi
memberi izin untuk mengadakan penelitian tindakan kelas di kelas II SD
Negeri Salamrejo.
7. Bapak dan Ibu guru se-SD Negeri Salamrejo yang selalu memberi dukungan.
8. Kedua orang tuaku beserta adikku yang selalu memberi dorongan dan
membantu di saat penulis mengalami kesulitan.
9. Teman-temanku yang selalu memberi semangat untuk menyelesaikan skripsi
ini.
Penulis menyadari bahwa karya ilmiah ini masih jauh dari sempurna. Oleh
karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dari
semua pihak guna penyempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi
semua pihak.
xii
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv
HALAMAN MOTTO ... v
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ... vii
ABSTRAK ... viii
ABSTRACT ... ix
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xii
DAFTAR BAGAN DAN DIAGRAM... xv
DAFTAR TABEL ... xvi
DAFTAR LAMPIRAN ... xvii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Identifikasi Masalah ... 6
C. Batasan Masalah ... 6
D. Rumusan Masalah ... 6
E. Batasan Pengertian ... 7
F. Pemecahan Masalah ... 8
G. Tujuan Penelitian ... 8
xiii
A. Penelitian yang Relevan ... 10
B. Bahasa pada Anak SD ... 12
1. Perkembangan Bahasa Anak ... 12
2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Bahasa Anak ... 14
C. Hakikat Komunikasi Lisan (Berbicara) ... 16
1. Pengantar ... 16
2. Pengertian Komunikasi Lisan ... 17
3. Fungsi Komunikasi ... 18
4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Komunikasi ... 18
5. Berbicara Sebagai Suatu Cara Berkomunikasi ... 19
6. Tujuan Berbicara ... 20
7. Deskripsi Sebagai Kemampuan Berbicara ... 20
D. Pendekatan Kontekstual ... 22
1. Pengertian Pendekatan Kontekstual ... 22
2. Aspek atau Komponen Pendekatan Kontekstual ... 22
E. Kerangka Berpikir ... 26
F. Hipotesis ... 28
BAB III METODE PENELITIAN ... 29
A. Jenis Penelitian ... 29
B. Setting Penelitian ... 29
C. Rancangan Tindakan ... 30
D. Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian ... 35
E. Teknik Analisis Data ... 38
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 42
A. Hasil Penelitian ... 42
B. Pembahasan ... 55
BAB V PENUTUP ... 64
A. Kesimpulan ... 67
xiv
LAMPIRAN ... 69
xv
Bagan 1 Rencana Tindakan Penelitian ... 31
Grafik 1 Perbandingan Nilai Rata-rata dan Persentase pada Kondisi Awal dengan Siklus I 47
Grafik 2 Perbandingan Nilai Rata-rata dan Persentase pada Kondisi Awal, Siklus I
dengan Siklus II ... 54
Grafik 3 Pencapaian skor per komponen siklus I ... 57
xvi
Tabel 1 Pengumpulan Data dan Instrumennya ... 35
Tabel 2 Lembar Pengamatan ... 36
Tabel 3 Peningkatan yang Diharapkan pada Setiap Siklus ... 38
Tabel 4 Peningkatan yang Diharapkan Pada Setiap Siklus Secara Persentase ... 38
Tabel 5 Persentase Pencapaian KKM dan Nilai Rata-rata pada Kondisi Awal ... 43
Tabel 6 Hasil Tes Siklus I ... 46
Tabel 7 Persentase Pencapaian KKM dan Nilai Rata-rata pada Kondisi Awal dengan Siklus I ... 47
Tabel 8 Hasil Tes Siklus II ... 52
Tabel 9 Persentase Pencapaian KKM dan Nilai Rata-rata pada Kondisi Awal , Siklus I dengan Siklus II ... 53
Tabel 10 Perhitungan Distance ... 61
xvii
Surat Izin Penelitian dari Sekolahan ... 71
Surat Permohonan Izin dari Universitas ... 72
Silabus ... 73
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ... 76
Lembar Kegiatan Siswa ... 88
Rubrik Penilian ... 98
Nilai Mengarang ... 99
Dokumentasi Kegiatan ... 100
1
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bahasa Indonesia merupakan suatu bahasa yang penting bagi
kehidupan kita. Kita tidak lepas dari bahasa Indonesia. Dalam kehidupan
sehari-hari kita juga menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi
dengan orang lain. Tidak hanya itu, bahasa Indonesia sangat berperan penting
dalam pendidikan.
Di sekolah dasar bahasa Indonesia sangatlah penting. Bahkan bahasa
Indonesia ditanamkan lebih awal dari pelajaran lain, karena banyak
menyumbang mata pelajaran lain.
Keterampilan bahasa Indonesia mempunyai empat komponen yang
terdiri atas keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan
membaca, dan keterampilan menulis. Setiap keterampilan tersebut erat sekali
hubungannya. Tarigan (1994:1) menyatakan bahwa untuk memperoleh
keterampilan berbahasa, melalui hubungan yang teratur. Hubungan teratur
dalam hal ini adalah tahapan-tahapan yang harus dilalui untuk mendapatkan
keterampilan berbahasa. Tahapan pertama adalah keterampilan menyimak,
dengan menyimak akan diperoleh pemahaman tentang apa yang disimak yang
kemudian dilanjutkan dengan keterampilan berbicara. Keterampilan berbicara
sering disebut keterampilan untuk berkomunikasi lisan. Setelah keterampilan
tahapan membaca dilanjutkan dengan keterampilan yang terakhir yaitu
keterampilan menulis.
Nababan (1993:172) mengatakan bahwa keterampilan berbicara
merupakan keterampilan komunikatif. Tujuan dari keterampilan tersebut ialah
untuk menyampaikan pesan kepada orang lain, yakni untuk mampu
berkomunikasi mengenai sesuatu dalam bahasa. Kemampuan untuk
menyampaikan perasaan kita pada orang lain merupakan bagian penting
dalam perbendaharaan linguistik kita. Pengungkapan perasaan seperti heran,
senang, dan takut, serta emosi-emosi negatif seperti marah, tidak puas,
menghina, dan benci, sebetulnya sangat biasa di antara manusia sosial yang
bergaul dan berkomunikasi. Linguistik diperlukan untuk komunikasi untuk
menyampaikan perasaan-perasaan seperti yang dikatakan di atas perlu juga
penggunaan anggota badan, khususnya tangan dan jari, raut muka dan tatapan
muka yang sebagai lawan bicara.
Keterampilan berbicara di sekolah dasar sangat ditekankan pada
pembelajaran bahasa Indonesia setelah mendengar. Biasanya setelah siswa
belajar keterampialan mendengar dilanjutkan untuk berbicara menirukan apa
yang dikatakan guru. Bahkan tanpa disadari pada kelas I siswa langsung
belajar berbicara dengan mengenalkan diri dengan guru dan teman-temanya.
Siswa dibiasakan untuk menyapa teman dan guru, sehingga akan melatih
komunikasi. Banyak hal yang dikomunikasikan dalam berbicara, salah
Deskripsi merupakan penjelasan yang berusaha memberikan perincian
dari objek yang sedang dibicarakan (Minto, 2007:158). Perincian tersebut
berisi gambaran atau melukiskan sesuatu sesuai dengan keadaan sebenarnya
sehingga pendengar seakan-akan dapat mencitrai (melihat , mendengar,
merasakan, dan menciumnya).
Kemampuan berbicara mendeskripsikan di SD Salamrejo sudah
dikenalkan sejak kelas II. Siswa di kelas II belajar mendeskripsikan benda
khususnya tumbuhan atau hewan di sekitar berdasarkan ciri-cirinya. Siswa
dituntut untuk bisa mendeskripsikan benda secara lisan. Dalam hal ini siswa
dapat dikatakan baik dalam berbicara mendeskripsikan benda jika ada
kesesuaian dengan benda yang dideskripsikan, kejelasan bunyi yang
dikatakan (vokal, konsonan), intonasi, dan kelancaran berbicara.
Hasil ulangan materi mendeskripsikan tumbuhan atau hewan siswa
kelas II SD Negeri Salamrejo memiliki nilai rata-rata kelas 62. Kriteria
Ketuntasan Minimal (KKM) untuk materi bahasa Indonesia SD ini yaitu 67.
Dapat kita simpulkan bahwa kelas II SD Negeri Salamrejo kurang mampu
untuk mendeskripsikan benda. Diperkuat dari jumlah siswa yang mendapat
nilai ulangan yang di bawah KKM ada 57% dari 21 siswa kelas II. Siswa juga
merasa kesusahan mengembangkan kalimat secara lisan dan merasa malu
untuk berbicara, bahkan ada siswa yang takut dan tidak berani. Rasa malu dan
takut tersebut menimbulkan rasa tidak senang terhadap bahasa.
Kelas II SD Negeri Salamrejo jika diamati kondisi pembelajaran
metode ceramah, sehingga siswa tidak terbiasa berbicara di depan
teman-temannya. Guru juga tidak menggunakan pendekatan yang sesuai dengan
topik dan kondisi siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Siswa merasa takut salah dalam berbicara, merasa malu, dan merasa
tidak bisa. Perasaan tersebut membuat siswa tidak suka. Ketidaksukaan
tersebut tidak lepas dari pengaruh lingkungan keluarga, masyarakat, dan
pengalaman belajar berbicara di sekolah.
Melihat hal di atas perlunya penggunaan pendekatan yang sesuai
untuk meningkatkan kemampuan berbicara. Pendekatan yang dibutuhkan
yang sesuai dengan tingkat perkembangan siswa. Menurut teori J Peaget
dalam Ruseffendi (1979:21) pada usia SD kelas II merupakan tahap operasi
konkret. Tahap tersebut anak dalam pengerjaan-pengerjaan logis dapat
dilakukan dengan benda-benda konkret atau nyata. Bantuan-bantuan nyata
membantu anak untuk lebih mudah memahami suatu hal.
Kemampuan berbicara mendeskripsikan benda pada siswa kelas II SD
Negeri Salamrejo akan ditingkatkan dengan pendekatan kontekstual.
Pendekatan kontekstual akan membantu siswa untuk mampu menghubungkan
antara apa yang dipelajari dengan bagaimana pemanfaatannya dalam
kehidupan nyata. Menurut Muslich (2007:40) pembelajaran kontekstual
merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi
pembelajaran dengan situasi dunia nyata, dan mendorong siswa membuat
hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerepannya dalam
keadaan nyata. Siswa akan lebih mudah memahami materi dan merasa
tertarik dengan benda-benda nyata yang sering digunakan dalam kehidupan
sehari-hari.
Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual melibatkan tujuh
komponen utama (Muslich, 2007:43), yaitu constructivism (Konstrutivisme,
membangun, membentuk), questioning (bertanya), inquiry (menyelidiki,
menemukan), learning community (masyarakat belajar), modelling
(pemodelan), reflection (refleksi atau umpan balik), dan penilaian autentik
(penilaian yang sebenarnya). Melibatkan tujuh komponen tersebut siswa akan
lebih mudah mengembangkan pikirannya dan mendorong rasa keingintahuan
siswa dan membuat pembelajaran lebih bermakna. Penggunaan pendekatan
konstekstual diharapkan dapat meningkatkan kemampuan berbicara siswa
materi mendeskripsikan benda dan meningkatkan nilai rata-rata siswa kelas II
SD Negeri Salamrejo dapat mencapai KKM.
Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan di atas, penulis tertarik
untuk memilih judul penelitian “Peningkatan Kemampuan Berbicara
Mendeskripsikan Benda Dengan Pendekatan Kontekstual Pada Siswa Kelas II
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan, maka dapat
diidentifikasi hal-hal sebagai berikut:
1. Rendahnya kemampuan berbicara siswa dalam mendeskripsikan benda
siswa kelas II di SD Negeri Salamrejo.
2. Kurangnya media pengajaran berbicara untuk mendeskripsikan benda yang
menarik yang dapat membantu siswa dalam meningkatkan kemampuan
mendeskripsikan benda.
3. Pembelajaran bahasa Indonesia materi mendeskripsikan benda tidak
dikaitkan dengan lingkungan sekitar anak (kontekstual).
C. Batasan Masalah
Berdasarkan dari identifikasi masalah di atas penelitian ini dibatasi
pada kopentensi dasar ‘mendeskripsikan tumbuhan atau binatang di sekitar
sesuai ciri-cirinya dengan menggunakan kalimat yang mudah dipahami orang
lain’ dengan penyelesaian masalah menggunakan pendekatan kontekstual.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dipaparkan, rumusan masalah
penelitian adalah apakah pembelajaran yang menggunakan pendekatan
kontekstual dapat meningkatkan kemampuan berbicara mendeskripsikan
benda pada siswa kelas II SD Negeri Salamrejo Semester Genap tahun
E. Batasan Pengertian
Beberapa istilah sebagai kata kunci dalam penelitian ini, penulis
menuangkan batasan pengertian sebagai berikut:
1. Kemampuan adalah kesanggupan, kebolehan atau kecakapan seseorang
individu untuk melakukan beragam tugas dalam suatu pekerjakan(Hasan,
dkk, 2007:158).
2. Berbicara adalah beromong, bercakap, berbahasa mengutarakan isi pikiran,
melisankan sesuatu yang dipikirkan(Hasan, dkk, 2007:165).
3. Deskripsi merupakan penjelasan yang berusaha memberikan perincian dari
objek yang sedang dibicarakan (Minto, 2007:158).
4. Kemampuan berbicara mendeskripsikan benda adalah kesanggupan,
kebolehan atau kecakapan siswa dalam melakukan penjelasan yang
berusaha memberi perincian terhadap suatu benda yang dibicarakannya.
5. Pendekatan kontekstual adalah pendekatan yang membantu guru
mengaitkan antara materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata siswa,
dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang
dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari
F. Pemecahan Masalah
Berdasar latar belakang masalah dan rumusan masalah, masalah
rendahnya kemampuan berbicara mendeskripsikan benda pada kelas II SD
Negeri Salamrejo semester genap tahun pelajaran 2010/2011 akan diatasi
dengan pendekatan kontekstual. Pendekatan ini diharapkan dapat
meningkatkan kemampuan siswa dalam mendeskripsikan benda secara lisan.
G. Tujuan Penelitian
Berdasarkan masalah yang diteliti, tujuan penelitian ini untuk
mengetahui apakah pembelajaran menggunakan pendekatan kontekstual
dapat meningkatkan kemampuan berbicara mendeskripsikan benda pada
siswa kelas II SD Negeri Salamrejo Semester Genap tahun pelajaran
2010/2011.
H. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang dapat disumbangkan dari penelitian ini sebagai
berikut:
1. Manfaat Teoretis
Secara teoretis hasil penelitian tersebut menambah wawasan
tentang salah satu model pembelajaran, yang dapat meningkatkan
kemampuan berbicara mendeskripsikan benda secara lisan.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi peneliti sendiri, menambah pengalaman berharga mengenai
dalam pembelajaran bahasa indonesia materi berbicara mendeskripsikan
benda.
b. Bagi rekan-rekan guru, dapat menjadi salah satu contoh pembelajaran
yang menggunakan pendekatan kontekstual yang dapat dikembangkan
untuk materi pokok lain, mata pelajaran lain, dan di kelas lain.
c. Hasil penelitian ini dapat menambahkan satu bacaan di perpustakaan
kampus dan sekolah yang dapat dimanfaatkan teman-teman mahasiswa
dan guru sebagai contoh penelitian, terutama bagi yang masih
mengalami kesulitan melakukan penelitian dan belum berani untuk
memulainya, sedangkan bagi yang sudah biasa melakukannya dapat
10
BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Penelitian yang Relevan
Penelitian yang dilakukan Yosef Lorensius (2006) mahasiswa
Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah Universitas
Sanata Dharma Yogyakarta dengan judul “Teknik-Teknik Pembelajaran
Kemampuan Bersastra Aspek Menulis dan Berbicara Berdasar Kurikulum
Berbasis Kompetensi untuk Kelas X Semester I Tahun Ajaran 2005/2006
SMA Kolese De Britto Yogyakarta”. Hasil penelitian tersebut menjelaskan
teknik-teknik pembelajaran kemampuan bersastra aspek menulis dan
berbicara.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kemampuan siswa kelas
X SMA Kolese De Britto Yogyakarta tahun 2005/2006, dalam kemampuan
bersastra aspek menulis dan berbicara mengalami peningkatan setelah
menggunakan teknik-teknik pembelajaran yang di dalamnya juga terdapat
terdapat berbagai pendekatan yang digunakan, salah satunya pendekatan
kontekstual. Dalam penelitian tersebut juga dikatakan bahwa pembelajaran
menulis dan berbicara menggunakan pendekatan kontekstual dapat memberi
respon positif siswa, tercipta kondisi pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif
dan menyenangkan, serta menumbuhkan semangat siswa dalam menulis dan
Berdasar penelitian yeng telah dilakukan di atas, terdapat perbedaan
dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti, yaitu pada subjek
penelitiannya. Subjek dalam penelitian Yosef, yaitu siswa kelas X SMA
Kolose De Britto Yogyakarta yang berjumlah 241 siswa terdiri dari enam
kelas. Subjek dalam penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti adalah
seluruh siswa kelas II SD Negeri Salamrejo, yang berjumlah 21 siswa.
Penelitian lain yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian
yang dilakukan oleh Marianus Wewe (2008) mahasiswa Program Studi Ilmu
Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma dengan judul “Pembelajaran
Kontekstual Dalam Rangka Peningkatan Minat Siswa Dalam Mengikuti
Pembelajaran Pendidikan Agama Katolik di SMP Engelus Cus Tos I
Surabaya”. Hasil penelitian tersebut menjelaskan peningkatan minat
pembelajaran dengan pembelajaran kontekstual.
Berdasarkan kesimpulan penelitian Marianus, peneliti sepaham jika
dengan pembelajaran kontekstual akan meningkatkan minat dan kemampuan
siswa. Kesimpulan yang diambil oleh Marianus, yaitu dengan pembelajaran
kontekstual merupakan pendekatan yang mendorong siswa untuk menemukan
makna pembelajaran, selain itu juga mengaitkan dengan kenyataan hidup.
Siswa terlibat aktif dalam seluruh proses pembelajaran, mendorong siswa
mengikuti proses pembelajaran kontekstual dengan suasana senang hati.
Proses pembelajaran yang demikian meningkatkan minat dalam pembelajaran
siswa SMP Engelus Cus Tos I Surabaya. Hal di atas memperkuat penelitian
ini dan sebagai gambaran dalam peneliti melakukan penelitian pada siswa
kelas II SD Negeri Salamrejo materi mendeskripsikan benda menggunakan
pendekatan kontekstual.
B. Bahasa pada Anak SD
Menurut Samana (2004:1) bahasa adalah sistem lambang yang bermakna
bagi kelompok penggunanya. Bahasa digunakan setiap saat oleh anak SD.
Bahasa digunakan anak dalam berkomunikasi dengan teman bermainnya dan
guru. Pembelajaran di kelas, bahasa digunakan untuk menyampaikan materi
sehingga materi dapat diterima oleh siswa.
1. Perkembangan Bahasa Anak
Sejak bayi anak sudah mengenal bahasa. Bahasa pada waktu bayi
menggunakan isyarat-isyarat seperti dengan gerak maupun menangis. Bayi
lama-kelamaan akan semakin menguasai bahasa dari orang tuanya. Bayi
atau anak semakin menguasai bahasa, ia akan semakin terlibat atau
berperan dalam lingkungan sosial budayanya. Ketidak berdayaan bayi erat
berhubungan dengan ketidakberdayaan mereka untuk menyatakan
keinginan atau kebutuhannya lewat bahasa.
Berbicara adalah bagian dari berbahasa. Anak juga akan
mengalami berbicara. Ciri-cirinya anak paham arti kata/kalimat yang
digunakannya untuk mengaitkan dengan obyek yang diwakilinya. Anak
atau siswa mampu melafalkan kata-katanya sehingga orang lain mudah
Kemampuan berbahasa anak akan meningkat. Anak menjadi
mampu menggabungkan kata-kata menjadi sebuah kalimat bermakna.
Setelah itu akan dipelajari lebih lanjut di sekolah dasar.
Anak di sekolah dasar tidak hanya diajarkan merangkai kata-kata
menjadi kalimat bahkan menggabungkan kalimat menjadi sebuah paragraf.
Anak di sini akan belajar lebih tentang bahasa.
Anak kelas II sudah mempunyai kemampuan merangkai kata
menjadi kalimat. Dalam perkembangan mentalnya usia ini anak terdapat
pada tahapan operasianal konkret, sehingga dalam siswa merangkai
kalimat menggunakan bantuan benda-benda konkret.
2. Pembelajaran Bahasa di Sekolah Dasar
Pembelajaran di sekolah dasar menggunakan pembelajaran
terpadu. Pada kelas atas keterpaduan tersebut terlihat pada setiap aspek
dalam setiap mata pelajaran. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia juga
harus memadukan beberapa aspek. Adapun aspek-aspek dalam mata
pelajaran bahasa Indonesia yaitu mendengar, berbicara, membaca dan
menulis.
Pembelajaran terpadu di kelas rendah biasanya disebut
pembelajaran tematik. Pembelajaran tematik mengintegrasikan beberapa
mata pelajaran menjadi satu dan diberi tema. Integrasi difokuskan dengan
memusatkan pembelajaran pada suatu masalah yang dibahas, dikaji, dan
dipecahkan melalui berbagai bahan dari satu atau beberapa mata pelajaran
Menurut Puji Santoso (2009:3.26) ciri-ciri pembelajaran tematik
antara lain:
a. Menyajikan konsep dari beberapa mata pelajaran dalam suatu konsep
pembelajaran, dengan maksud agar pelajaran tersebut lebih bermakna,
jadi tidak dipaksakan.
b. Bersifat fleksibel.
c. Pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan
siswa.
d. Memberikan pengalaman langsung kepada siswa.
e. Berpusat pada siswa.
Penelitian ini mata pelajaran bahasa Indonesia akan memadukan
aspek berbicara dan menulis dan diintegrasikan dengan mata pelajaran
SBK. Tema yang digunakan yaitu lingkungan sekitar.
3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Bahasa Anak
Menurut Samana (2004:4) faktor-faktor yang mempengaruhi bahasa anak
sebagai berikut:
a. Faktor biologis (fisik)
Faktor biologis sangat berpengaruh dalam bahasa anak. Kesiapan
fisik akan mendukung kemampuan bahasa anak. Adapun kesiapan alat
dengar, alat penglihatan, alat ucap, sistem syaraf pusat (otak), dan
kesehatan badan pada umumnya. Kesehatan anak perlu dijaga demi
b. Faktor lingkungan sosial
Lingkungan sosial akan mempengaruhi perkembangan bahasa
anak. Anak belajar bahasa pertama kali dari lingkungan keluarga,
sehingga keluarga harus mengajarkan bahasa dengan baik karena daya
rekam anak sangat tinggi. Anak dapat merekam segala hal, baik
ataupun buruk.
Anak belajar dari lingkungan teman sebaya dan di sekolah. Anak
di sekolah diajarkan bahasa dengan baik, sehingga lingkungan sekolah
harusnya mendukung untuk belajar bahasa. Lingkungan sekolah
jangan sampai memberi pengaruh yang negatif bagi bahasa anak.
c. Faktor intelegensi anak
Faktor intelegensi (taraf kecerdasan) anak sangat mempengaruhi
perkembangan bahasanya. Anak yang intelegensinya tinggi
penguasaan pengetahuannya tinggi, sehingga pembedaharaan
bahasanya semakin banyak. Ciri berbahasa anak intelegen antara lain :
daya konsentrasi tinggi, hasrat ingin tahu tinggi, cakap menyimak,
kekayaan kosakata dan ketepatan penggunaannya bagus, dan
penguasaan pola kalimatnya cepat.
d. Faktor motivasi belajar bahasa
Faktor motivasi ini dibagi menjadi dua yaitu motivasi intrisik dan
motivasi ekstrinsik. Motivasi intrisik merupakan dorongan untuk
belajar bahasa dari diri sendiri. Biasanya bersifat spontan, selaras
motivasi eksternal bersumber pada daya pendorong dari luar diri yang
bersangkutan. Kita sebagai guru bertugas selalu memberi motivasi
belajar bahasa demi perkembangan bahasa anak.
e. Situasi belajar
Situasi belajar akan mempengaruhi belajar bahasa anak. Anak
akan merasa senang jika situasinya juga menyenangkan. Anak merasa
seneng jika belajar bahasa dalam situasi bermain, penghargaan atas
usaha, kegagalan sebagai masukan untuk menemukan remidialnya,
utamakan pengalaman langsung, dan menggunakan alat bantu atau
peraga. Situasi anak menjadi terdukung dan perkembangan belajar
bahasa anak akan baik.
Faktor-faktor di atas perlu diperhatikan dalam pembelajaran
bahasa. Penelitian ini juga memperhatikan faktor-faktor tersebut, seperti
faktor fisik anak, lingkungan sosial, kecerdasan siswa, motivasi belajar dan
situasi belajar. Faktor-faktor tersebut jika diperhatikan maka kemampuan
berbahasa anak akan baik.
C. Hakikat Komunikasi Lisan (Berbicara)
1. Pengantar
Keberadaan manusia di dunia adalah makhluk sosial. Sebagai
makhluk sosial bahasa sangatlah penting dalam kehidupan sebagai alat
komunikasi antar manusia. Komunikasi antar manusia adalah kebutuhan
Komunikasi dapat bersifat verbal dan non-verbal. Komunikasi
verbal berupa lambang kata, baik lisan ataupun tertulis. Sedangkan
komunikasi non-verbal berupa gerak mimik dan bahasa isyarat lainnya.
Komunikasi verbal terdapat keterampilan berbicara atau komunikasi
secara lisan. Berbicara merupakan komunikasi dengan mengungkapkan
kata-kata secara lisan untuk menyampaikan pesan pada orang lain.
2. Pengertian Komunikasi Lisan
Menurut Samana (2004:7) arti kata komunikasi berasal dari bahasa
latin yaitu communis/communica/communication yang artinya berbagi
sesuatu. Sedangkan menurut Hybel dan Weaver (dalam Samana, 2004:7)
komunikasi berarti penyampaian dan penerimaan pesan antar dua orang
atau lebih dengan menggunakan medium (penyalur pesan) tertentu (verbal
atau non-verbal). Jadi, komunikasi merupakan proses kegiatan antar dua
orang atau lebih untuk berbagi gagasan, informasi, perasaan, keinginan
dan sebagainya.
Komunikasi di dalamnya terdapat komunikasi lisan yang biasanya
disebut berbicara. Berbicara merupakan bentuk bahasa yang menggunakan
artikulasi atau ungkapan kata lisan untuk menyampaikan suatu pesan
(Hurlock dalam Samana, 1). Berbicara juga suatu alat untuk
mengomunikasikan gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai
dengan kebutuhan sang pendengar, sehingga komunikasi lisan merupakan
proses kegiatan antar dua orang atau lebih untuk mengungkapkan kata
3. Fungsi Komunikasi
Secara umum, komunikasi berfungsi untuk mengembangkan diri,
penemuan diri, memahami orang lain, dan menghargai orang lain.
Mengembangkan diri artinya dalam komunikasi banyak hal-hal yang dapat
kita terima dan kita berikan melalui pesan. Dalam pesan tersebut terdapat
ilmu, ide, informasi, pengalaman sehingga dapat mengembangkan diri
pembicara maupun pendengar. Komunikasi dapat sebagai penemuan diri.
Selain itu komunikasi dapat berguna untuk memahami orang lain dan
menghargai orang lain dengan pujian dan lain sebagainya.
4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Komunikasi
Komunikasi dipengaruhi oleh beberapa faktor. Adapun
faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi menurut Lunardi (dalam Samana,
2004:9) merumuskan faktor-faktornya sebagai berikut:
a. Komunikasi dipengaruhi oleh citra diri. Dalam hal ini bagaimana
seseorang melihat, menilai, dan menghargai dirinya. Misalnya orang
yang tampil wajar, bersikap terbuka atau tertutup, dan sebagainya.
b. Komunikasi dipengaruhi oleh citra pertnernya. Dapat kita lihat dari
bagaimana seseorang melihat, menilai dan menghargai pihak lain yang
diajak berkomunikasi, sehingga lawan bicara kita mempengaruhi
komunikasi yang sedang dilakukan.
c. Komunikasi dipengaruhi lingkungan fisik. Tempat dimana kita
melakukan komunikasi dan segala unsur-unsur kebendaannya ikut
sesak, padat, kotor, tidak teratur, tidak sesuai dengan kebutuhan
komunikasi, dan sejenisnya akan mengganggu kelancaran komunikasi.
d. Lingkungan sosial-budaya mempengaruhi komunikasi. Hal ini bisa
dilihat dari jumlah orangnya kemudian kondisi sosial budayanya.
Biasanya kalau jumlah orangnya banyak tanpa menggunakan pengeras
maka komunikasi tidak akan efektif.
e. Kemampuan orang-orang yang terlibat dalam komunikasi juga
mempengaruhi komunikasi. Dapat dilihat dari aspek fisik seperti
kualitas alat bicaranya, mental (taraf kecerdasan), aspek emosional dan
motivasi.
Faktor-faktor di atas yang mempengaruhi komunikasi. Semua itu
perlu diperhatikan dalam berkomunikasi. Diri kita, lawan bicara kita,
lingkungan fisik, lingkungan sosial budaya dan kemampuan orang-orang
yang terlibat dalam komunikasi itulah yang mempengaruhi komunikasi.
Faktor-faktor tersebut jika mendukung maka komunikasi akan lancar.
5. Berbicara sebagai Suatu Cara Berkomunikasi
Berbicara merupakan suatu alat untuk berkomunikasi. Berbicara
mengkomunikasikan gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai
dengan kebutuhan sang pendengar atau penyimak. Dalam masyarakat
selalu terdapat komunikasi antar anggota masyarakat. Biasanya dilakukan
dengan berbicara dan menyimak pembicaraan. Dalam komunikasi lancar
pembicara akan berubah sebagai penyimak dan sebaliknya. Kita dapat
6. Tujuan Berbicara
Tujuan utama dari berbicara adalah untuk berkomunikasi.
Komunikasi dapat menyampaikan pikiran secara efektif, maka pembicara
haruslah paham apa yang dia katakan dan dapat diterima oleh pendengar.
7. Deskripsi sebagai Kemampuan Berbicara
Berbicara merupakan kegiatan seseorang untuk menyampaikan
informasi atau pesan kepada orang lain. Berbicara dapat juga menjelaskan
tentang gambaran suatu objek ataupun suatu kondisi yang dapat
memberikan perincian. Pembicara memindahkan kesan-kesannya,
memindahkan hasil pengamatanya dan perasaannya kepada pendengar.
Seperti ini biasanya disebut berbicara mendeskripsikan.
Deskripsi merupakan penjelasan yang berusaha memberikan
perincian dari objek yang sedang dibicarakan (Minto, 2007:158). Objek
deskripsi tidak hanya terbatas pada ada yang dapat dilihat, didengar,
dicium, dirasa, atau diraba, tetapi dapat juga mendeskripsikan tentang
perasaan hati yang mungkin timbul dari rasa takut, cemas, enggan, jijik,
cinta, haru, benci dan lain sebagainya.
Mendeskripsikan yang baik dituntut beberapa hal. Pertama
kesanggupan berbahasa seorang pembicara yang kaya akan nuansa dan
bentuk. Kedua kecermatan pengamatan dan ketelitian penyelidikkan.
Selain itu menggunakan pilihan kata yang tepat, sehingga pendengar dapat
Berbicara mendeskripsikan benda harus menggunakan pendekatan.
Pendekatan tersebut membantu pembicara melihat objek dan sikap yang
diambil untuk menggambarkan objek secara tepat.
8. Penilaian dalam Berbicara
Menurut Tarigan (1981:26) penilaian keterampilan berbicara
seseorang pada prinsipnya harus memperhatikan lima faktor, yaitu:
a. Apakah bunyi-bunyi tersendiri (vokal, konsonan) diucapkan dengan
tepat?
b. Apakah pola-pola intonasi, naik dan turunnya suara serta tekanan suku
kata, memuaskan?
c. Apakah ketetapan dan ketepatan ucapan mencerminkan bahwa sang
pembicara tanpa referensi internal memahami bahasa yang
dipergunakan?
d. Apakah kata-kata yang diucapkan iyu dalam bentuk dan urutan yang
tepat?
e. Sejauh manakah kewajaran atau kelancaran yang tercermin bila seorang
berbicara? (Brooks, 1964:252 dalam Tarigan, 1981:26)
Hal-hal tersebutlah yang sebagai acuan penilaian keterampilan
berbicara. Penilaian pada penelitian ini menggunakan lima komponen,
yaitu ketepatan mengucapkan bunyi (vocal dan konsonan), kecepatan dan
kejelasan dalam berbicara, ketepatan intonasi, kelancaran dalam berbicara,
dan ketepatan deskripsi sesuai dengan objek yang dideskripsikan. Dengan
D. Pendekatan Kontekstual
1. Pengertian Pendekatan Kontekstual
Pendekatan kontekstual adalah konsep belajar yang membantu
guru mengaitkan antara materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata
siswa, dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang
dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari
(Muslich,2007:41). Berangkat dari konsep ini diharapkan hasil
pembelajaran menjadi lebih bermakna. Proses pembelajarannya akan
berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan
mengalami, bukan sekedar transfer pengetahuan dari guru ke siswa.
Pendekatan kontekstual akan membantu peserta didik dan guru
dalam pembelajaran. Siswa akan lebih mudah dalam belajar. Siswa juga
akan terdorong untuk mengerti makna belajar. Siswa diharapkan sadar
bahwa yang mereka pelajari itu berguna bagi hidupnya. Dengan demikian
siswa akan tau bahwa dirinya memerlukan bekal untuk hidupnya nanti.
2. Aspek atau Komponen Pendekatan Kontekstual
Menurut Sardiman (2007:223) ada tujuh aspek atau komponen
dalam pendekatan kontekstual yang perlu diperhatikan sebagai berikut:
a. Kontrukstivisme
Kontrukstivisme merupakan landasan berpikir bagi pendekatan
kontekstual. Pengetahuan yang riil bagi para siswa adalah sesuatu yang
dibangun atau ditemukan oleh siswa itu sendiri. Siswa harus
pengalaman nyata. Dalam hal ini siswa harus dilatih untuk
memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya
dan bergulat dengan ide-ide dan kemudian mampu menkontruksinya.
Proses pembelajaran dikemas atau dikelola menjadi proses
merekontruksi, bukan hanya menerima informasi dari guru. Dalam hal
ini siswa akan membangun sendiri pengetahuannya melalui
keterlibatan secara aktif dalam proses pembelajaran.
b. Menemukan (Inkuiri)
Proses belajar adalah proses menemukan. Kegiatan tersebut
diawali dari pengamatan terhadap fenomena, dilanjutkan dengan
kegiatan-kegiatan bermakna untuk menghasilkan temuan yang
diperoleh sendiri oleh siswa. Dengan demikian, pengetahuan siswa
tidak berasal dari menghafal suatu yang fakta tetapi menemukan
sendiri dari fakta yang dihadapi.
c. Bertanya (Questioning)
Pengetahuan yang dimiliki seorang umumnya tidak lepas dari
aktivitas bertanya. Bertanya merupakan salah satu dalam pendekatan
kontekstual. Bertanya bagi siswa merupakan tanda bahwa siswa
perhatian terhadap materi yang dipelajari dan ada upaya untuk
menemukan jawaban sebagai bentuk pengetahuan. Bagi guru, bertanya
sebagai upaya menyaktifkan siswa. Aktivitas bertanya juga akan
ditemukan ketika siswa berdiskusi, kerja kelompok, ketika menemui
d. Masyarakat Belajar (Learning Community)
Pengetahuan diperoleh dari saling tukar antar teman, antar
kelompok, dan antara yang tahu ke yang belum tahu. Dilakukan di
ruangan, di kelas, di sekitar dan dilakukan di luar, semuanya tersebut
adalah anggota masyarakat.
Guru dalam menggunakan pendekatan kontekstual disarankan
melaksanakan pembelajaran secara kelompok. Siswa dibagi kelompok
yang anggotanya hiterogen. Pandai mengajar yang lemah, yang tahu
memberi tahu temannya yang belum tahu, yang cepat menangkap
memberi dorongan yang lambat. Seperti inilah beberapa hal yang
berkaitan dengan masyarakat belajar.
e. Pemodelan (Modelling)
Salah satu komponen pendekatan kontekstual adalah
pemodelan. Dalam pembelajaran keterampilan atau pengetahuan
tertentu perlu model yang ditiru. Model ini berupa cara mengoprasian,
berupa contoh dan sebagainya. Dengan demikian guru memberi model
tentang bagaimana cara bekerja melakukan sesuatu atau suatu benda.
Pendekatan ini guru bukan satu-satunya model. Model dapat
dirancang dengan melibatkan siswa. Kemungkinan siswa ada yang
pernah melakukan ataupun sudah cara bekerjanya. Mereka dapat
f. Refleksi (Refletion)
Refleksi merupan bagian penting dalam pembelajaran. Refleksi
adalah cara berpikir atau perenungan tentang apa yang baru dipelajari
atau berfikir kebelakang tentang apa-apa saja yang sudah dilakukan di
masa lalu. Dalam refleksi, siswa mengendapkan apa-apa yang baru
saja dipelajari sebagai struktur pengetahuan yang baru.
g. Penilaian Autentik
Penilaian adalah proses pengumpulan data yang memberikan
gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran tersebut perlu
diketahui sepanjang proses pembelajaran. Penilaian tidak hanya
dilakukan saat ujian saja. Penilaian seperti ini akan benar-benar
menilai apa yang dinilai. Maka penilaian menjadi autentik.
Seperti di atas komponen pendekatan kontekstual. Jika semua
komponen tersebut diterapkan siswa akan lebih mudah memahami materi
dan guru tidak hanya satu-satunya sumber belajar. Siswa akan lebih aktif
dalam mengikuti pembelajaran dan merasa senang dengan pelaksanaan
E. Kerangka Berpikir
Bahasa merupakan hal yang penting bagi kehidupan manusia. Bahasa
merupakan alat komunikasi untuk menukarkan informasi, gagasan,
pengalaman dan sebagainya. Dalam dunia pedidikan bahasa sangatlah penting.
Bahasa juga akan mempengaruhi mata pelajaran lain. Dengan demikian siswa
perlu mempunyai kemampuan bahasa yang baik.
Berbicara merupakan salah satu bagian komunikasi. Sebagian besar
ide, gagasan dan pengetahuan disampaikan dengan berbicara. Dengan
demikian bahasa sangatlah penting, tetapi di SD Negeri Salamrejo khususnya
kelas II kurang mampu dalam berbahasa materi berbicara mendeskripsikan
benda.
Banyak cara untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa. Guru
harus bisa memilih pendekatan yang cocok untuk anak dan sesuai dengan
perkembangan siswa. Siswa kelas II termasuk dalam perkembangan
operasianal konkret. Selain itu siswa lebih suka bersama teman sebayanya dan
belajar dengan sekitar. Siswa akan lebih mudah untuk belajar jika
berhubungan dengan kehidupan sehari-hari.
Pendekatan kontekstual menawarkan pembelajaran yang mengaitkan
antara materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata siswa, dan mendorong
siswa membuat hubungan pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan
kehidupan sehari-harinya. Dalam komponen pendekatan kontekstual juga
sesuai dengan perkembangan siswa. Seperti mengkontruksi sendiri
menemukan sendiri, berkerja kelompok dengan teman sebayanya dan lain
sebagainya. Dengan demikian kebutuhan siswa terpenuhi, sehingga anak
merasa senang dalam pembelajaran dan mendorong anak untuk menguasai
meteri yang diberikan guru.
Menggunakan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran
kemampuan berbicara materi mendeskripsikan benda, siswa akan lebih mudah
karena siswa akan membicarakan atau mendeskripsikan benda dengan bantuan
lingkungan nyata dengan topik yang sesuai kehidupan sehari-hari. Siswa akan
lebih mudah mengembangkan gagasannya karena sering digunakan atau
dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pembelajarannya juga sesuai
dengan komponen-komponen pendekatan kontekstual yang sesuai
perkembangan anak. Dengan demikian, rendahnya kemampuan berbicara
materi mendeskripsikan benda pada kelas II SD Negeri Salamrejo akan
ditingkatan dengan pembelajaran menggunakan pendekatan kontekstual.
Dengan pendekatan kontekstual diharapkan dapat meningkatkan kemampuan
berbicara meteri mendeskripsikan benda pada siswa kelas II SD Negeri
F. Hipotesis
Berdasarkan rumusan masalah maka dapat dirumuskan hipotesis
penelitian sebagai berikut:
1. Nilai rata-rata mata belajaran bahasa Indonesia materi berbicara
mendeskripsikan benda meningkat setelah menggunakan pendekatan
kontekstual.
2. Jumlah siswa yang nilainya memenuhi KKM meningkat setelah
29
BAB III
METODE PENELITIAN
A.
Jenis
Penelitian
Jenis penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian tindakan kelas.
Penelitian tindakan kelas merupakan bentuk penilaian reflektif yang
dilakukan oleh pendidik sendiri terhadap kurikulum, pengembangan sekolah,
meningkatkan prestasi belajar, pengembangan keahlian mengajar, dan
sebagainya (Meniff, 1992 dalam Suharsimi dkk.,2006:102). Penelitian ini
menekankan pada peningkatan kemampuan berbicara mendeskripsikan
benda. Penelitian ini berusaha untuk mengungkap peningkatan kemampuan
berbicara mendeskripsikan benda dengan pendekatan kontekstual.
B.
Setting Penelitian
1.
Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Salamrejo, Sentolo, Kulon Progo,
Yogyakarta.
2.
Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini yaitu siswa kelas II SD Negeri Salamrejo yang
berjumlah 21 siswa dengan jumlah laki-laki 6 dan perempuan 15 siswa.
3.
Objek Penelitian
Objek penelitian ini adalah kemampuan berbicara mendeskripsikan benda
4.
Waktu Penelitian
Waktu penelitian ini dilaksanakan pada minggu ke 4 hingga minggu ke 5
bulan Maret tahun pelajaran 2010/2011. Siklus I dilaksanakan dalam dua
pertemuan yaitu pada tanggal 23 dan 24 Maret 2011. Siklus II
dilaksanakan dalam dua pertemuan yaitu pada tanggal 30 dan 31 Maret
2011.
C.
Rancangan Tindakan
1.
Persiapan
a.
Permintaan izin kepada kepala sekolah SD Negeri Salamrejo untuk
penelitian
b.
Mengobservasi siswa kelas II tentang kemampuan berbicara materi
mendeskripsikan benda sebagai gambaran awal
c.
Mencari refrensi sebagai dasar penelitian
d.
Menyusun rencana tindakan
e.
Menyusun silabus, RPP, LKS, dan instrumen penilaian
2.
Rencana Tindakan
Dalam penelitian tindakan kelas ini, peneliti menggunakan 2 siklus
seperti di bawah ini:
Bagan 1
Rencana Tindakan Penelitian
Setelah permasalah diidentifikasi, maka dilakukan tindakan kelas
sebagai berikut:
a.
Siklus I
1)
Rencana tindakan
a)
Menyiapkan instrumen yang terdiri dari sumber belajar,
media belajar, rubrik penilaian, RPP, LKS, dan lembar
refleksi.
Permasalahan
Perencanaan
Pelaksanaan
Observasi
Refleksi
Perencanaan
Pelaksanaan
SIKLUS II
Observasi
Refleksi
b)
Guru membuka kegiatan pembelajaran dan menyampaikan
tujuan pembelajaran.
c)
Apersepsi dengan bertanya tumbuhan dan hewan yang ada di
lingkungan sekolah.
d)
Guru memberikan penjelasan tentang deskripsi benda
sekaligus memberi contoh benda dan mendeskrisikannya
(pemodelan).
e)
Tanya jawab tentang materi yang sudah disampaikan
(bertanya).
f)
Guru membagikan LKS yang telah disiapkan dan kemudian
menjelaskan pada siswa.
g)
Siswa diajak keluar kelas (lingkungan sekolah).
h)
Siswa mengamati tumbuhan atau hewan yang ada di
lingkungan sekolah (menemukan).
i)
Setiap siswa membuat deskripsi tentang salah satu benda
tumbuhan atau hewan yang ditemukannya (Kontruktivisme).
j)
Setiap siswa mendeskripsikan benda yang sudah dibuat di
depan kelas (penilaian).
k)
Guru dan siswa sharing/memberi tanggapan mendeskripsikan
benda (Masyarakat belajar).
2)
Pelaksanaan tindakan
Pelaksanaan tindakan dilakukan dengan merealisasikan rencana
tindakan.
3)
Observasi/Pengumpulan data
Dalam penelitian ini data yang dikumpulan dari observasi dan nilai
siswa. Nilai mengacu pada rubrik penilaian yang telah dibuat
sebelumnya.
4)
Refleksi
Mengidentifikasi kesulitan, hambatan, dan membandingkan hasil
yang sudah dicapai dengan indikator keberhasilan yang ditetapkan
untuk sebagai dasar untuk melakukan perencanaan pembelajaran
siklus II.
b.
Siklus II
1)
Rencana tindakan
a)
Menyiapkan instrumen yang terdiri dari sumber belajar,
media belajar, rubrik penilaian, RPP, LKS, dan lembar
refleksi.
b)
Guru membuka kegiatan pembelajaran dan menyampaikan
tujuan pembelajaran.
c)
Apersepsi dengan bertanya materi sebelumnya dan tanya
d)
Guru memberikan penjelasan tentang deskripsi, tumbuhan
atau hewan di lingkungan sawah sekaligus memberi contoh
hewan atau tumbuhan dan mendeskrisikannya (pemodelan).
e)
Tanya jawab tentang materi yang sudah disampaikan
(bertanya).
f)
Guru membagikan LKS yang telah disiapkan dan kemudian
menjelaskan pada siswa.
g)
Siswa diajak keluar kelas menuju sawah.
h)
Siswa mencari dan mengamati tumbuhan atau hewan yang
ada di lingkungan sawah (menemukan).
i)
Siswa membuat deskripsi tentang salah satu tumbuhan atau
hewan yang ditemukannya (Kontruktivisme).
j)
Siswa mendeskripsikan tumbuhan atau hewan yang sudah
dibuat di depan kelas (penilaian)
k)
Guru dan siswa sharing/memberi tanggapan hasil deskripsi
(Masyarakat belajar).
l)
Melakukan refleksi bersama (refleksi).
2)
Pelaksanaan tindakan
Pelaksanaan tindakan dilakukan dengan merealisasikan rencana
3)
Observasi/Pengumpulan data
Dalam penelitian ini data yang dikumpulan dari observasi dan nilai
siswa. Nilai mengacu pada rubrik penilaian yang telah dibuat
sebelumnya.
4)
Refleksi
Mengidentifikasi kesulitan, hambatan, dan membandingkan hasil
yang sudah dicapai dengan indikator keberhasilan yang ditetapkan
untuk sebagai dasar analisis dan penyimpulan data yang telah
terkumpul.
D.
Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian
Dalam penelitian ini ada satu peubah, yaitu kemampuan
mendeskripsikan benda secara lisan. Indikator, data, pengumpulan data dan
instrumennya sebagai berikut:
Tabel 1
Pengumpulan Data dan Instrumennya
No
Peubah
Indikator
Data
Pengamatan
Instrumen
1. Kemampuan
berbicara
mendeskripsikan
benda
Nilai rata-rata
kemampuan
berbicara
mendeskripsikan
benda
Nilai
berbicara
Pengamatan
Lembar
pengamatan
Lembar pengamatan yang dipergunakan untuk penelitian ini dengan
Tabel 2
Lembar Pengamatan Keterampilan Berbicara
1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 Skor 1 2 3 4 5 6 dst
Aspek Yang Dinilai
A B C D E
Jumlah Rata-rata Nilai Maksimal Nilai Minimal Ket. Siswa
No Total Nilai
Keterangan :
Aspek yang dinilai.
A : Ketepatan mengucapkan bunyi (vokal, konsonan)
B : Ketepatan intonasi
C : Kelancaran dalam berbicara
D : Ketepatan deskripsi sesuai dengan objek yang dideskripsikan
E : Kecepatan dan kejelasan dalam berbicara
Skor.
1 = Sangat kurang
2 = Kurang
3 = Cukup
4 = Baik
5 = Sangat baik
Pedoman Pengisian:
Berilah tanda centang (
√
) pada kolom skala aspek yang dinilai.
Aspek A : Ketepatan mengucapkan bunyi (vokal, konsonan)
Skor 5 : Tidak terdapat kesalahan pengucapan vokal dan konsonan
Skor 4 : Terdapat minimal 1 sampai 4 kesalahan mengucapkan vokal
konsonan.
Skor 3 : Terdapat minimal 5 sampai 8 kesalahan mengucapkan vokal
konsonan.
Skor 2 : Terdapat minimal 9 sampai 12 kesalahan mengucapkan vokal
konsonan.
Aspek B : Ketepatan intonasi
Skor 5 : Tidak terdapat kesalahan intonasi dalam berbicara.
Skor 4 : Terdapat sedikit kesalahan intonasi dalam berbicara.
Skor 3 : Terdapat sekitar 50% kesalahan intonasi dalam berbicara.
Skor 2 : Terdapat banyak kesalahan intonasi dalam berbicara.
Skor 1 : Tidak terdapat intonasi dalam berbicara.
Aspek C : Kelancaran dalam berbicara
Skor 5 : Lancar sekali tidak ada hambatan dalam mengungkapkan gagasan.
Skor 4 : Terdapat hambatan sedikit dalam mengungkapkan gagasan.
Skor 3 : Terdapat hambatan cukup banyak dalam mengungkapkan
gagasan.
Skor 2 : Sebagian besar terbata-bata atau gagap dalam mengungkapkan
gagasan.
Skor 1 : Tidak berbicara sama sekali atau lama.
Aspek D : Ketepatan deskripsi sesuai dengan objek yang dideskripsikan
Skor 5 : Lengkap atau mendetail objek yang dideskripsikan.
Skor 4 : Terdapat sedikit ketidaklengkapan objek yang dideskripsikan.
Skor 3 : Terdapat sebagian kekurangsesuaian dengan objek yang
dideskripsikan.
Skor 2 : Terdapat banyak ketidaklengkapan dan ketidaksesuaian dengan
objek yang dideskripsikan.
Skor 1 : Belum mewakili objek yang dideskrisikan.
Aspek E : Kecepatan dan kejelasan dalam berbicara
Skor 5 : Tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat, dan jelas sekali.
Skor 4 : Lambat dan jelas dalam berbicara.
Skor 3 : Lambat dan kurang jelas dalam berbicara.
Skor 2 : Terlalu lambat, sebagian dieja dan tidak jelas dalam berbicara.
Skor 1 : Semua kata-kata dieja, lambat sekali dan tidak jelas dalam
berbicara.
Pedoman penilaian:
E.
Teknik Analisis Data
Kondisi awal kemampuan siswa dan kondisi akhir yang diharapkan adalah
sebagai berikut:
Tabel 3
Peningkatan yang Diharapkan Pada Setiap Siklus
No.
Peubah
Indikator
Kondisi
Awal
Kondisi akhir
siklus
Siklus I
Siklus II
1.
Kemampuan
berbicara
mendeskripsikan
benda
Nilai rata-rata
kemampuan
berbicara
mendeskripsikan
benda
62
67
71
Tabel 4
Peningkatan yang Diharapkan Pada Setiap Siklus Secara Persentase
No
Indikator
Kondisi Awal
Siklus
Siklus I
Siklus II
Jml
Siswa
%
Jml
Siswa
%
Jml
Siswa
%
1.
Nilai yang melebihi KKM
materi kemampuan
berbicara
mendeskripsikan
benda.(67)
9
43
12
57
15
71
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Analisis kuantitatif adalah
menghitung angka-angka atau bilangan dari nilai yang diperoleh siswa untuk
menggambarkan dengan kata-kata atau kalimat yang dipisah-pisah menurut
kategori untuk memperoleh kesimpulan (Arikunto, 1987: 195).
Secara garis besar kegiatan analisis data pada penelitian ini dilakukan
dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1.
Penyekoran
Penyekoran dalam penelitian ini dilakukan pada rubrik yang telah ada
sebelumnya.
2.
Penilaian
Penilaian adalah mengubah skor menjadi nilai. Adapun rumus yang
digunakan sebagai berikut:
=
x 100
3.
Menghitung Rata-rata
Nilai rata-rata berbicara kelas II diperoleh dengan membagi jumlah nilai
seluruh siswa dengan jumlah siswa.
=
= Mean/Rata-rata
= Jumlah nilai seluruh siswa
N = Jumlah Siswa
4.
Menghitung Presentase Ketuntasan Kelas
nilainya di atas KKM dengan jumlah siswa semudian dikalikan 100%.
=
x 100%
5.
Peningkatan Dalam Setiap Siklus
Peningkatan kemampuan berbicara dapat dilihat dari persentase setiap
siklus.
6.
Uji perbedaan rata-rata untuk data dependen (berhubungan).
a.
Menyiapkan tabel perhitungan untuk mencari
dan
b.
Mencari rata-rata dan SD dari
distance.
1)
Untuk mencari rata-rata dari
distance
gunakan cara berikut:
2)
Untuk mencari SD dari
distance
gunakan cara berikut:
Keterangan:
SD = Standar Deviasi
D
i=
Distance
(selisih x
idan y
idi mana I merupakan nilai siswa
ke-1 sampai ke-N)
c.
Menentukan hipotesis awal (H
0) dan hipotesis alternatif (H
a).
H
0:
H
a:
Dengan adalah rata
–
rata antara selisih siklus 2 dan siklus 0.
e.
Menentukan daerah kritis
1)
Daerah penolakan
Jika t
hitung> t
α;N-12)
Daerah gagal tolak
Jika t
hitung< t
α;N-1f.
Menghitung statistik uji
t
hitung=
g.
Keputusan
1)
Tolak H
0jika berada di dalam daerah penolakan.
2)
Gagal tolak H
0jika berada di luar daerah penolakan (daerah gagal
42
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.
Hasil Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Salamrejo. Subjek
penelitiannya adalah siswa kelas II yang berjumlah 21 siswa. Penelitian ini
dimulai tanggal 23 Maret sampai 31 Maret 2011.
Penelitian ini dilaksanaankan dengan dua siklus dengan jumlah 8 jam
pelajaran. Siklus I terdiri dari 2 pertemuan dengan jumlah 4 jam pelajaran,
begitupula siklus II terdiri dari 2 pertemuan dengan jumlah 4 jam pelajaran.
Kedua siklus menggunakan pendekatan kontenstual. Pembeda kedua siklus
tersebut yaitu pada indikator pembelajarannya. Siklus I dengan indikator
“siswa dapat mendeskripsikan tumbuhan atau hewan di lingkungan sekolah
secara lisan”. Pada siklus II dengan indikator “siswa dapat mendeskripsikan
t
umbuhan atau hewan di lingkungan sawah secara lisan”.
Adapun hasil penelitian pada kelas II SD Negeri Salamrejo dalam
pembelajaran berbicara mendeskripsikan benda sebelum dan sesudah
menggunakan pendekatan kontekstual sebagai berikut :
1.
Kemampuan Awal
Data awal ini didapat dari hasil penilaian guru kelas II SD Negeri
Salamrejo. Adapun nilai berbicara mendeskripsikan benda atau hewan
Tabel 5
Persentase Pencapaian KKM dan Nilai Rata-rata Pada Kondisi Awal
Data
Jumlah Siswa
Jumlah siswa yang
memenuhi KKM (67)
Persentase
Nilai
Rata-rata
Kondisi
Awal
21
9
43%
62,47
2.
Siklus I
a.
Tahap Perencanaan Tindakan
Tahap perencanaan ini peneliti menyiapkan instrumen yang terdiri
dari sumber belajar, media belajar, rubrik penilaian, rencana
pelaksanaan pembelajaran, lembar kerja siswa dan lembar refleksi.
Pembelajaran akan dikemas menggumakan pendekatan kontekstual.
Pembelajaran akan dilaksanakan sesuai dengan komponen pendekatan
kontekstual, meliputi: pemodelan, bertanya, lingkungan sekolah,
menemukan, masyarakat belajar dan refleksi.
b.
Tahap Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan pada siklus pertama dilaksanakan pada hari
Rabu 23 Maret 2011 pukul 07.00 sampai 08.10 dan hari Kamis 24
Maret 2011 pukul 08.10 sampai 09.35. Pelaksanaan pembelajaran
sesuai dengan perencanaan pembelajaran yang sudah disusun oleh guru
guna meningkatkan kemampuan berbicara tentang mendeskripsikan
benda dengan pendekatan kontekstual. Rincian kegiatan siklus I sebagai
1)
Pertemuan I
a)
Kegiatan Awal
Kegiatan pembelajaran diawali dengan salam pembuka oleh
guru dilanjutkan berdoa. Kemudian guru melakukan presensi dan
pengecekan kesiapan siswa. Setelah itu guru melakukan apersepsi
dengan bertanya kepada siswa tentang tumbuhan atau hewan yang
ada di lingkungan sekolah dan dilanjutkan penyampaian tujuan
pembelajaran.
b)
Kegiatan Inti
Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang pengertian
deskripsi dengan pemodelan membawa contoh tumbuhan dan
mendeskripsikan bersama siswa. Sebelum siswa melakukan
pengamatan
dan
membuat
deskripsi
guru
mengecek
pemahamannya dengan bertanya mengenai deskripsi. Kemudian
siswa diajak keluar kelas untuk mencari tumbuhan atau hewan di
lingkungan sekolah untuk dideskripsikan. Siswa membuat
deskripsi tumbuhan atau hewan berdasarkan ciri-cirinya. Setelah
itu siswa diajak masuk ke kelas kembali.
c)
Kegiatan Akhir
Kegiatan ini siswa dan guru melakukan refleksi
menyampaikan perasaannya dan kesulitan yang dialami selama
pembelajaran. Selanjutnya ditutup dengan salam penutup.
2)
Pertemuan II
a)
Kegiatan Awal
Kegiatan pembelajaran diawali dengan salam pembuka oleh
guru. Kemudian guru melakukan presensi dan pengecekan
kesiapan siswa. Setelah itu guru melakukan apersepsi dengan
bertanya kepada siswa pembelajaran sebelumnya.
b)
Kegiatan Inti
Setelah siswa melakukan pengamatan pada pertemuan I
pada pertemuan ini siswa membuat deskripsi secara lisan.
Kemudian dilakukan penilaian, dengan siswa mendeskripsikan
tumbuhan atau hewan di depan kelas.
c)
Kegiatan Akhir
Kegiatan ini siswa dan guru sharing kesulitan atau
pengalaman yang didapat setelah melakukan pembelaj