• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nama NIM STUDI PE JURUSA TAS KEGU UNIVERS Y

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Nama NIM STUDI PE JURUSA TAS KEGU UNIVERS Y"

Copied!
123
0
0

Teks penuh

(1)

  M KONTE PR PENI MENDESK EKSTUAL SEMEST Diaj M Progr ROGRAM S FAKULT INGKATAN KRIPSIKA L PADA SI TER GENA

jukan untu Memperole ram Studi P

Nama NIM STUDI PE JURUSA TAS KEGU UNIVERS Y   N KEMAM AN BENDA SWA KEL AP TAHUN SKRIP uk Memenu h Gelar Sa Pendidikan

Oleh : P : 0

NDIDIKAN AN ILMU P URUAN DA SITAS SAN YOGYAKA 2011 MPUAN BE A DENGAN

LAS II SD N N PELAJAR

PSI

uhi Salah Sa arjana Pend n Guru Sek

:

Priyo Estu W 081134202

(2)

M KONTE PR MENDESK EKSTUAL SEMEST Diaj M Progr ROGRAM S FAKULT KRIPSIKA L PADA SI TER GENA

jukan untu Memperole ram Studi P

NAM NIM STUDI PE JURUSA TAS KEGU UNVERSI Y i AN BENDA SWA KEL AP TAHUN uk Memenu h Gelar Sa Pendidikan

oleh: MA :Priyo : 08113

NDIDIKAN AN ILMU P URUAN DA ITAS SANA YOGYAKA 2011

A DENGAN LAS II SD N N PELAJAR

uhi Salah Sa arjana Pend n Guru Sek

:

Estu Wido 34202

(3)

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA MENDESKRIPSIKAN BENDA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA SISWA KELAS IT SD NEGERI SALAMREJO

SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 2010/2011

Oleh: Priyo Estu Widodo

N1M: 08 1134 202

Telah disetujui oleh:

Pembimbing I

Dr. Yuliana Setiyaningsih

Pembimbing II

Drs. YB. Adimassana, M.A.

Tanggal 14November 20 11

Tanggal14 November 2011

(4)

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA

MENDESKRIPSIKAN BENDA DENGAN PENDEKATAN

KONTEKSTUAL PADA SISWA KELAS II SD NEGERI SALAMREJO

SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 201012011

Dipersiapkan dan ditulis oleh: Priyo Estu Widodo

NlM: 08 1134202

Telah dipertahankan di depan panitia penguji pada tanggal22 November20II dan dinyatakan memenuhi syarat

Ketua

Sekretaris

Anggota

Anggota

Anggota

Susunan Panitia Penguji

Nama lengkap

Drs. Puji Pumomo, M.Si.

Ora. Haniek Sri Pratini, M. Pd.

Dr.

Yuliana Seliyaningsih

Drs. YB. Adimassana, M.A.

Drs. Puji Pumomo, M.Si.

""

TandaTangl

...

.

..

...

(5)

iv

PERSEMBAHAN

Karya ini saya persembahkan untuk

Allah SWT

kedua orang tuaku yang tersayang

dan

(6)

v

MOTTO

Kebaikan tidak bernilai selama diucapkan akan tetapi bernilai

sesudah dikerjakan’

(7)

vi

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan dalam daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 14 November 2011

Penulis

(8)

vii

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma :

Nama : Priyo Estu Widodo Nomor Mahasiswa : 08 1134 202

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul :

“PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA MENDESKRIPSIKAN

BENDA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA SISWA KELAS II SD NEGERI SALAMREJO SEMESTER GENAP TAHUN PELAJARAN 2010/2011” beserta perangkat yang diperlukan. Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di Internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di Yogyakarta

Pada tanggal, 14 November 2011 Yang menyatakan

(9)

viii

Peningkatan Kemampuan Berbicara Mendeskripsikan Benda Dengan Pendekatan Kontekstual Pada Siswa Kelas II SD Negeri Salamrejo Semester Genap Tahun Pelajaran 2010/2011.

ABSTRAK

Kemampuan berbicara sangat penting untuk kehidupan sehari-hari. Berbicara merupakan salah satu cara untuk berkomunikasi. Kemampuan berbicara diajarkan sejak kelas I di sekolah dasar. Kemampuan berbicara termasuk dalam kurikulum kelas II. Siswa dituntut dapat berbicara dalam hal mendeskripsikan benda.

Hasil tes materi mendeskripsikan benda secara lisan SD Negeri Salamrejo kelas II bisa dikatakan rendah. Nilai rata-rata kelas masih terdapat di bawah kriteria ketuntasan minimal. Pada kondisi awal, rata-rata kelas hanya mencapai 62,47, sedangkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) materi tersebut adalah 67,00. Hal ini diperkuat dengan persentase jumlah siswa yang berada di bawah KKM dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia ada 57% dari 21 siswa.

Berdasarkan masalah di atas, peneliti melakukan penelitian untuk mengetahui apakah pembelajaran menggunakan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan kemampuan berbicara mendeskripsikan benda pada siswa kelas II SD Negeri Salamrejo Semester Genap tahun pelajaran 2010/2011.

Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas II SD Negeri Salamrejo tahun pelajaran 2010/2011 yang berjumlah 21 siswa. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Kemampuan berbicara tentang mendeskripsikan benda diukur dengan tes kinerja. Penilaian didasarkan rubrik yang sudah dibuat. Teknik analisis peningkatan yang dialami menggunakan uji beda rata-rata untuk sampel dependen.

Hasil penelitian pada siklus I menunjukkan peningkatan nilai rata-rata kelas dibandingkan pada kondisi awal, yaitu dari 62,47 menjadi 66,48. Secara persentase, siswa yang mampu juga mengalami peningkatan dari 43% menjadi 62%. Pada siklus II, rata-rata kelas meningkat menjadi 71,24 dan secara persentase, siswa yang mampu menjadi 76%.

Berdasarkan ini, dapat disimpulkan bahwa pendekatan kontekstual dapat meningkatkan kemampuan berbicara mendeskripsikan benda pada siswa kelas II SD Negeri Salamrejo tahun pelajaran 2010/2011.

(10)

ix

Speaking Skill in describing objects using Contextual Approach of the Second Grade Students of Salamrejo Elementary School, in the Even Semester of 2010/2011 Academic Year.

ABSTRACT

Speaking skill is very important for daily life. Speaking is one way to communicate. It has been taught since the fist grade of elementary school. In the second grade, speaking skill is included in the curriculum. Students are required to be able to describe objects.

The results of the test in verbally describing objects in this class can be said to be low. The average value of the class is still under the minimum exhaustive criteria listed. At the initial condition, the average of the class was only 62.47, while the KKM grade is 67.00. This is affirmed by the percentage of the number of students who are below the KKM in Indonesian subject, that is 53% of 21 students.

Based on the above issue the researcher conducted a research to determine whether learning using a contextual approach can increase the speaking skill in describing objects of the second grade students of Salamrejo Elementary School, in the Even Semester of 2010/2011 Academic Year.

The subjects of this research are the second grade student of Salamrejo Elementary School, in the Even Semester of 2010/2011 Academic Year, consisting of 21 students . The research was conducted in two cycles. The speaking skill in describing objects is measured using performance test and is assessed using a rubric that has been made. To analyze the increase experienced, a Different Mean Test is used.

The results of the cycle I show an increase of the class average value in the initial condition, that is from 62.47 to 66.48. In percentage the students who are able also increase from 43% to 62%. In cycle II, the class average increased to 71.24 and the percentage of students who are able attains 76%.

Based on these results, it can be concluded that contextual approach can improve the speaking skill in describing objects of the second graders of Salamrejo Elementary School, 2010/2011 Academic Year.

(11)

x

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir Skripsi ini dengan baik. Tugas Akhir Skripsi yang berjudul “Peningkatan Kemampuan Berbicara Mendeskripsikan Benda Dengan Pendekatan Kontekstual Pada Siswa Kelas II SD Negeri Salamrejo Semester Genap Tahun Pelajaran 2010/2011” ini ditulis untuk memenuhi syarat kelulusan program S-1 PGSD Universitas Sanata Dharma. Tidak lupa ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada;

1. Rohandi, Ph.D., selaku dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan Universitas Sanata Dharma.

2. Drs. Puji Purnomo, M.Si., selaku Kaprodi PGSD Universitas Sanata Dharma. 3. Dr. Yuliana Setiyaningsih dan Drs. YB. Adimassana, M.A., selaku dosen

pembimbing yang telah bimbingan dengan baik dari awal sampai akhir penulisan skripsi ini.

4. Para Dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar yang telah membekali penulis dengan berbagai macam ilmu pengetahuan untuk menyelesaikan skripsi ini.

(12)

xi

memberi izin untuk mengadakan penelitian tindakan kelas di kelas II SD

Negeri Salamrejo.

7. Bapak dan Ibu guru se-SD Negeri Salamrejo yang selalu memberi dukungan.

8. Kedua orang tuaku beserta adikku yang selalu memberi dorongan dan

membantu di saat penulis mengalami kesulitan.

9. Teman-temanku yang selalu memberi semangat untuk menyelesaikan skripsi

ini.

Penulis menyadari bahwa karya ilmiah ini masih jauh dari sempurna. Oleh

karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dari

semua pihak guna penyempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi

semua pihak.

(13)

xii   

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

HALAMAN MOTTO ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR BAGAN DAN DIAGRAM... xv

DAFTAR TABEL ... xvi

DAFTAR LAMPIRAN ... xvii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 6

C. Batasan Masalah ... 6

D. Rumusan Masalah ... 6

E. Batasan Pengertian ... 7

F. Pemecahan Masalah ... 8

G. Tujuan Penelitian ... 8

(14)

xiii   

A. Penelitian yang Relevan ... 10

B. Bahasa pada Anak SD ... 12

1. Perkembangan Bahasa Anak ... 12

2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Bahasa Anak ... 14

C. Hakikat Komunikasi Lisan (Berbicara) ... 16

1. Pengantar ... 16

2. Pengertian Komunikasi Lisan ... 17

3. Fungsi Komunikasi ... 18

4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Komunikasi ... 18

5. Berbicara Sebagai Suatu Cara Berkomunikasi ... 19

6. Tujuan Berbicara ... 20

7. Deskripsi Sebagai Kemampuan Berbicara ... 20

D. Pendekatan Kontekstual ... 22

1. Pengertian Pendekatan Kontekstual ... 22

2. Aspek atau Komponen Pendekatan Kontekstual ... 22

E. Kerangka Berpikir ... 26

F. Hipotesis ... 28

BAB III METODE PENELITIAN ... 29

A. Jenis Penelitian ... 29

B. Setting Penelitian ... 29

C. Rancangan Tindakan ... 30

D. Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian ... 35

E. Teknik Analisis Data ... 38

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 42

A. Hasil Penelitian ... 42

B. Pembahasan ... 55

BAB V PENUTUP ... 64

A. Kesimpulan ... 67

(15)

xiv   

LAMPIRAN ... 69

(16)

xv   

Bagan 1 Rencana Tindakan Penelitian ... 31

Grafik 1 Perbandingan Nilai Rata-rata dan Persentase pada Kondisi Awal dengan Siklus I 47

Grafik 2 Perbandingan Nilai Rata-rata dan Persentase pada Kondisi Awal, Siklus I

dengan Siklus II ... 54

Grafik 3 Pencapaian skor per komponen siklus I ... 57

(17)

xvi   

Tabel 1 Pengumpulan Data dan Instrumennya ... 35

Tabel 2 Lembar Pengamatan ... 36

Tabel 3 Peningkatan yang Diharapkan pada Setiap Siklus ... 38

Tabel 4 Peningkatan yang Diharapkan Pada Setiap Siklus Secara Persentase ... 38

Tabel 5 Persentase Pencapaian KKM dan Nilai Rata-rata pada Kondisi Awal ... 43

Tabel 6 Hasil Tes Siklus I ... 46

Tabel 7 Persentase Pencapaian KKM dan Nilai Rata-rata pada Kondisi Awal dengan Siklus I ... 47

Tabel 8 Hasil Tes Siklus II ... 52

Tabel 9 Persentase Pencapaian KKM dan Nilai Rata-rata pada Kondisi Awal , Siklus I dengan Siklus II ... 53

Tabel 10 Perhitungan Distance ... 61

(18)

xvii   

Surat Izin Penelitian dari Sekolahan ... 71

Surat Permohonan Izin dari Universitas ... 72

Silabus ... 73

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ... 76

Lembar Kegiatan Siswa ... 88

Rubrik Penilian ... 98

Nilai Mengarang ... 99

Dokumentasi Kegiatan ... 100

(19)

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bahasa Indonesia merupakan suatu bahasa yang penting bagi

kehidupan kita. Kita tidak lepas dari bahasa Indonesia. Dalam kehidupan

sehari-hari kita juga menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi

dengan orang lain. Tidak hanya itu, bahasa Indonesia sangat berperan penting

dalam pendidikan.

Di sekolah dasar bahasa Indonesia sangatlah penting. Bahkan bahasa

Indonesia ditanamkan lebih awal dari pelajaran lain, karena banyak

menyumbang mata pelajaran lain.

Keterampilan bahasa Indonesia mempunyai empat komponen yang

terdiri atas keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan

membaca, dan keterampilan menulis. Setiap keterampilan tersebut erat sekali

hubungannya. Tarigan (1994:1) menyatakan bahwa untuk memperoleh

keterampilan berbahasa, melalui hubungan yang teratur. Hubungan teratur

dalam hal ini adalah tahapan-tahapan yang harus dilalui untuk mendapatkan

keterampilan berbahasa. Tahapan pertama adalah keterampilan menyimak,

dengan menyimak akan diperoleh pemahaman tentang apa yang disimak yang

kemudian dilanjutkan dengan keterampilan berbicara. Keterampilan berbicara

sering disebut keterampilan untuk berkomunikasi lisan. Setelah keterampilan

(20)

tahapan membaca dilanjutkan dengan keterampilan yang terakhir yaitu

keterampilan menulis.

Nababan (1993:172) mengatakan bahwa keterampilan berbicara

merupakan keterampilan komunikatif. Tujuan dari keterampilan tersebut ialah

untuk menyampaikan pesan kepada orang lain, yakni untuk mampu

berkomunikasi mengenai sesuatu dalam bahasa. Kemampuan untuk

menyampaikan perasaan kita pada orang lain merupakan bagian penting

dalam perbendaharaan linguistik kita. Pengungkapan perasaan seperti heran,

senang, dan takut, serta emosi-emosi negatif seperti marah, tidak puas,

menghina, dan benci, sebetulnya sangat biasa di antara manusia sosial yang

bergaul dan berkomunikasi. Linguistik diperlukan untuk komunikasi untuk

menyampaikan perasaan-perasaan seperti yang dikatakan di atas perlu juga

penggunaan anggota badan, khususnya tangan dan jari, raut muka dan tatapan

muka yang sebagai lawan bicara.

Keterampilan berbicara di sekolah dasar sangat ditekankan pada

pembelajaran bahasa Indonesia setelah mendengar. Biasanya setelah siswa

belajar keterampialan mendengar dilanjutkan untuk berbicara menirukan apa

yang dikatakan guru. Bahkan tanpa disadari pada kelas I siswa langsung

belajar berbicara dengan mengenalkan diri dengan guru dan teman-temanya.

Siswa dibiasakan untuk menyapa teman dan guru, sehingga akan melatih

komunikasi. Banyak hal yang dikomunikasikan dalam berbicara, salah

(21)

Deskripsi merupakan penjelasan yang berusaha memberikan perincian

dari objek yang sedang dibicarakan (Minto, 2007:158). Perincian tersebut

berisi gambaran atau melukiskan sesuatu sesuai dengan keadaan sebenarnya

sehingga pendengar seakan-akan dapat mencitrai (melihat , mendengar,

merasakan, dan menciumnya).

Kemampuan berbicara mendeskripsikan di SD Salamrejo sudah

dikenalkan sejak kelas II. Siswa di kelas II belajar mendeskripsikan benda

khususnya tumbuhan atau hewan di sekitar berdasarkan ciri-cirinya. Siswa

dituntut untuk bisa mendeskripsikan benda secara lisan. Dalam hal ini siswa

dapat dikatakan baik dalam berbicara mendeskripsikan benda jika ada

kesesuaian dengan benda yang dideskripsikan, kejelasan bunyi yang

dikatakan (vokal, konsonan), intonasi, dan kelancaran berbicara.

Hasil ulangan materi mendeskripsikan tumbuhan atau hewan siswa

kelas II SD Negeri Salamrejo memiliki nilai rata-rata kelas 62. Kriteria

Ketuntasan Minimal (KKM) untuk materi bahasa Indonesia SD ini yaitu 67.

Dapat kita simpulkan bahwa kelas II SD Negeri Salamrejo kurang mampu

untuk mendeskripsikan benda. Diperkuat dari jumlah siswa yang mendapat

nilai ulangan yang di bawah KKM ada 57% dari 21 siswa kelas II. Siswa juga

merasa kesusahan mengembangkan kalimat secara lisan dan merasa malu

untuk berbicara, bahkan ada siswa yang takut dan tidak berani. Rasa malu dan

takut tersebut menimbulkan rasa tidak senang terhadap bahasa.

Kelas II SD Negeri Salamrejo jika diamati kondisi pembelajaran

(22)

metode ceramah, sehingga siswa tidak terbiasa berbicara di depan

teman-temannya. Guru juga tidak menggunakan pendekatan yang sesuai dengan

topik dan kondisi siswa dalam kehidupan sehari-hari.

Siswa merasa takut salah dalam berbicara, merasa malu, dan merasa

tidak bisa. Perasaan tersebut membuat siswa tidak suka. Ketidaksukaan

tersebut tidak lepas dari pengaruh lingkungan keluarga, masyarakat, dan

pengalaman belajar berbicara di sekolah.

Melihat hal di atas perlunya penggunaan pendekatan yang sesuai

untuk meningkatkan kemampuan berbicara. Pendekatan yang dibutuhkan

yang sesuai dengan tingkat perkembangan siswa. Menurut teori J Peaget

dalam Ruseffendi (1979:21) pada usia SD kelas II merupakan tahap operasi

konkret. Tahap tersebut anak dalam pengerjaan-pengerjaan logis dapat

dilakukan dengan benda-benda konkret atau nyata. Bantuan-bantuan nyata

membantu anak untuk lebih mudah memahami suatu hal.

Kemampuan berbicara mendeskripsikan benda pada siswa kelas II SD

Negeri Salamrejo akan ditingkatkan dengan pendekatan kontekstual.

Pendekatan kontekstual akan membantu siswa untuk mampu menghubungkan

antara apa yang dipelajari dengan bagaimana pemanfaatannya dalam

kehidupan nyata. Menurut Muslich (2007:40) pembelajaran kontekstual

merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi

pembelajaran dengan situasi dunia nyata, dan mendorong siswa membuat

hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerepannya dalam

(23)

keadaan nyata. Siswa akan lebih mudah memahami materi dan merasa

tertarik dengan benda-benda nyata yang sering digunakan dalam kehidupan

sehari-hari.

Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual melibatkan tujuh

komponen utama (Muslich, 2007:43), yaitu constructivism (Konstrutivisme,

membangun, membentuk), questioning (bertanya), inquiry (menyelidiki,

menemukan), learning community (masyarakat belajar), modelling

(pemodelan), reflection (refleksi atau umpan balik), dan penilaian autentik

(penilaian yang sebenarnya). Melibatkan tujuh komponen tersebut siswa akan

lebih mudah mengembangkan pikirannya dan mendorong rasa keingintahuan

siswa dan membuat pembelajaran lebih bermakna. Penggunaan pendekatan

konstekstual diharapkan dapat meningkatkan kemampuan berbicara siswa

materi mendeskripsikan benda dan meningkatkan nilai rata-rata siswa kelas II

SD Negeri Salamrejo dapat mencapai KKM.

Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan di atas, penulis tertarik

untuk memilih judul penelitian “Peningkatan Kemampuan Berbicara

Mendeskripsikan Benda Dengan Pendekatan Kontekstual Pada Siswa Kelas II

(24)

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan, maka dapat

diidentifikasi hal-hal sebagai berikut:

1. Rendahnya kemampuan berbicara siswa dalam mendeskripsikan benda

siswa kelas II di SD Negeri Salamrejo.

2. Kurangnya media pengajaran berbicara untuk mendeskripsikan benda yang

menarik yang dapat membantu siswa dalam meningkatkan kemampuan

mendeskripsikan benda.

3. Pembelajaran bahasa Indonesia materi mendeskripsikan benda tidak

dikaitkan dengan lingkungan sekitar anak (kontekstual).

C. Batasan Masalah

Berdasarkan dari identifikasi masalah di atas penelitian ini dibatasi

pada kopentensi dasar ‘mendeskripsikan tumbuhan atau binatang di sekitar

sesuai ciri-cirinya dengan menggunakan kalimat yang mudah dipahami orang

lain’ dengan penyelesaian masalah menggunakan pendekatan kontekstual.

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang dipaparkan, rumusan masalah

penelitian adalah apakah pembelajaran yang menggunakan pendekatan

kontekstual dapat meningkatkan kemampuan berbicara mendeskripsikan

benda pada siswa kelas II SD Negeri Salamrejo Semester Genap tahun

(25)

E. Batasan Pengertian

Beberapa istilah sebagai kata kunci dalam penelitian ini, penulis

menuangkan batasan pengertian sebagai berikut:

1. Kemampuan adalah kesanggupan, kebolehan atau kecakapan seseorang

individu untuk melakukan beragam tugas dalam suatu pekerjakan(Hasan,

dkk, 2007:158).

2. Berbicara adalah beromong, bercakap, berbahasa mengutarakan isi pikiran,

melisankan sesuatu yang dipikirkan(Hasan, dkk, 2007:165).

3. Deskripsi merupakan penjelasan yang berusaha memberikan perincian dari

objek yang sedang dibicarakan (Minto, 2007:158).

4. Kemampuan berbicara mendeskripsikan benda adalah kesanggupan,

kebolehan atau kecakapan siswa dalam melakukan penjelasan yang

berusaha memberi perincian terhadap suatu benda yang dibicarakannya.

5. Pendekatan kontekstual adalah pendekatan yang membantu guru

mengaitkan antara materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata siswa,

dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang

dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari

(26)

F. Pemecahan Masalah

Berdasar latar belakang masalah dan rumusan masalah, masalah

rendahnya kemampuan berbicara mendeskripsikan benda pada kelas II SD

Negeri Salamrejo semester genap tahun pelajaran 2010/2011 akan diatasi

dengan pendekatan kontekstual. Pendekatan ini diharapkan dapat

meningkatkan kemampuan siswa dalam mendeskripsikan benda secara lisan.

G. Tujuan Penelitian

Berdasarkan masalah yang diteliti, tujuan penelitian ini untuk

mengetahui apakah pembelajaran menggunakan pendekatan kontekstual

dapat meningkatkan kemampuan berbicara mendeskripsikan benda pada

siswa kelas II SD Negeri Salamrejo Semester Genap tahun pelajaran

2010/2011.

H. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang dapat disumbangkan dari penelitian ini sebagai

berikut:

1. Manfaat Teoretis

Secara teoretis hasil penelitian tersebut menambah wawasan

tentang salah satu model pembelajaran, yang dapat meningkatkan

kemampuan berbicara mendeskripsikan benda secara lisan.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi peneliti sendiri, menambah pengalaman berharga mengenai

(27)

dalam pembelajaran bahasa indonesia materi berbicara mendeskripsikan

benda.

b. Bagi rekan-rekan guru, dapat menjadi salah satu contoh pembelajaran

yang menggunakan pendekatan kontekstual yang dapat dikembangkan

untuk materi pokok lain, mata pelajaran lain, dan di kelas lain.

c. Hasil penelitian ini dapat menambahkan satu bacaan di perpustakaan

kampus dan sekolah yang dapat dimanfaatkan teman-teman mahasiswa

dan guru sebagai contoh penelitian, terutama bagi yang masih

mengalami kesulitan melakukan penelitian dan belum berani untuk

memulainya, sedangkan bagi yang sudah biasa melakukannya dapat

(28)

10

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Penelitian yang Relevan

Penelitian yang dilakukan Yosef Lorensius (2006) mahasiswa

Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah Universitas

Sanata Dharma Yogyakarta dengan judul “Teknik-Teknik Pembelajaran

Kemampuan Bersastra Aspek Menulis dan Berbicara Berdasar Kurikulum

Berbasis Kompetensi untuk Kelas X Semester I Tahun Ajaran 2005/2006

SMA Kolese De Britto Yogyakarta”. Hasil penelitian tersebut menjelaskan

teknik-teknik pembelajaran kemampuan bersastra aspek menulis dan

berbicara.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kemampuan siswa kelas

X SMA Kolese De Britto Yogyakarta tahun 2005/2006, dalam kemampuan

bersastra aspek menulis dan berbicara mengalami peningkatan setelah

menggunakan teknik-teknik pembelajaran yang di dalamnya juga terdapat

terdapat berbagai pendekatan yang digunakan, salah satunya pendekatan

kontekstual. Dalam penelitian tersebut juga dikatakan bahwa pembelajaran

menulis dan berbicara menggunakan pendekatan kontekstual dapat memberi

respon positif siswa, tercipta kondisi pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif

dan menyenangkan, serta menumbuhkan semangat siswa dalam menulis dan

(29)

Berdasar penelitian yeng telah dilakukan di atas, terdapat perbedaan

dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti, yaitu pada subjek

penelitiannya. Subjek dalam penelitian Yosef, yaitu siswa kelas X SMA

Kolose De Britto Yogyakarta yang berjumlah 241 siswa terdiri dari enam

kelas. Subjek dalam penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti adalah

seluruh siswa kelas II SD Negeri Salamrejo, yang berjumlah 21 siswa.

Penelitian lain yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian

yang dilakukan oleh Marianus Wewe (2008) mahasiswa Program Studi Ilmu

Pendidikan Kekhususan Pendidikan Agama Katolik Fakultas Keguruan dan

Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma dengan judul “Pembelajaran

Kontekstual Dalam Rangka Peningkatan Minat Siswa Dalam Mengikuti

Pembelajaran Pendidikan Agama Katolik di SMP Engelus Cus Tos I

Surabaya”. Hasil penelitian tersebut menjelaskan peningkatan minat

pembelajaran dengan pembelajaran kontekstual.

Berdasarkan kesimpulan penelitian Marianus, peneliti sepaham jika

dengan pembelajaran kontekstual akan meningkatkan minat dan kemampuan

siswa. Kesimpulan yang diambil oleh Marianus, yaitu dengan pembelajaran

kontekstual merupakan pendekatan yang mendorong siswa untuk menemukan

makna pembelajaran, selain itu juga mengaitkan dengan kenyataan hidup.

Siswa terlibat aktif dalam seluruh proses pembelajaran, mendorong siswa

mengikuti proses pembelajaran kontekstual dengan suasana senang hati.

Proses pembelajaran yang demikian meningkatkan minat dalam pembelajaran

(30)

siswa SMP Engelus Cus Tos I Surabaya. Hal di atas memperkuat penelitian

ini dan sebagai gambaran dalam peneliti melakukan penelitian pada siswa

kelas II SD Negeri Salamrejo materi mendeskripsikan benda menggunakan

pendekatan kontekstual.

B. Bahasa pada Anak SD

Menurut Samana (2004:1) bahasa adalah sistem lambang yang bermakna

bagi kelompok penggunanya. Bahasa digunakan setiap saat oleh anak SD.

Bahasa digunakan anak dalam berkomunikasi dengan teman bermainnya dan

guru. Pembelajaran di kelas, bahasa digunakan untuk menyampaikan materi

sehingga materi dapat diterima oleh siswa.

1. Perkembangan Bahasa Anak

Sejak bayi anak sudah mengenal bahasa. Bahasa pada waktu bayi

menggunakan isyarat-isyarat seperti dengan gerak maupun menangis. Bayi

lama-kelamaan akan semakin menguasai bahasa dari orang tuanya. Bayi

atau anak semakin menguasai bahasa, ia akan semakin terlibat atau

berperan dalam lingkungan sosial budayanya. Ketidak berdayaan bayi erat

berhubungan dengan ketidakberdayaan mereka untuk menyatakan

keinginan atau kebutuhannya lewat bahasa.

Berbicara adalah bagian dari berbahasa. Anak juga akan

mengalami berbicara. Ciri-cirinya anak paham arti kata/kalimat yang

digunakannya untuk mengaitkan dengan obyek yang diwakilinya. Anak

atau siswa mampu melafalkan kata-katanya sehingga orang lain mudah

(31)

Kemampuan berbahasa anak akan meningkat. Anak menjadi

mampu menggabungkan kata-kata menjadi sebuah kalimat bermakna.

Setelah itu akan dipelajari lebih lanjut di sekolah dasar.

Anak di sekolah dasar tidak hanya diajarkan merangkai kata-kata

menjadi kalimat bahkan menggabungkan kalimat menjadi sebuah paragraf.

Anak di sini akan belajar lebih tentang bahasa.

Anak kelas II sudah mempunyai kemampuan merangkai kata

menjadi kalimat. Dalam perkembangan mentalnya usia ini anak terdapat

pada tahapan operasianal konkret, sehingga dalam siswa merangkai

kalimat menggunakan bantuan benda-benda konkret.

2. Pembelajaran Bahasa di Sekolah Dasar

Pembelajaran di sekolah dasar menggunakan pembelajaran

terpadu. Pada kelas atas keterpaduan tersebut terlihat pada setiap aspek

dalam setiap mata pelajaran. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia juga

harus memadukan beberapa aspek. Adapun aspek-aspek dalam mata

pelajaran bahasa Indonesia yaitu mendengar, berbicara, membaca dan

menulis.

Pembelajaran terpadu di kelas rendah biasanya disebut

pembelajaran tematik. Pembelajaran tematik mengintegrasikan beberapa

mata pelajaran menjadi satu dan diberi tema. Integrasi difokuskan dengan

memusatkan pembelajaran pada suatu masalah yang dibahas, dikaji, dan

dipecahkan melalui berbagai bahan dari satu atau beberapa mata pelajaran

(32)

Menurut Puji Santoso (2009:3.26) ciri-ciri pembelajaran tematik

antara lain:

a. Menyajikan konsep dari beberapa mata pelajaran dalam suatu konsep

pembelajaran, dengan maksud agar pelajaran tersebut lebih bermakna,

jadi tidak dipaksakan.

b. Bersifat fleksibel.

c. Pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan

siswa.

d. Memberikan pengalaman langsung kepada siswa.

e. Berpusat pada siswa.

Penelitian ini mata pelajaran bahasa Indonesia akan memadukan

aspek berbicara dan menulis dan diintegrasikan dengan mata pelajaran

SBK. Tema yang digunakan yaitu lingkungan sekitar.

3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Bahasa Anak

Menurut Samana (2004:4) faktor-faktor yang mempengaruhi bahasa anak

sebagai berikut:

a. Faktor biologis (fisik)

Faktor biologis sangat berpengaruh dalam bahasa anak. Kesiapan

fisik akan mendukung kemampuan bahasa anak. Adapun kesiapan alat

dengar, alat penglihatan, alat ucap, sistem syaraf pusat (otak), dan

kesehatan badan pada umumnya. Kesehatan anak perlu dijaga demi

(33)

b. Faktor lingkungan sosial

Lingkungan sosial akan mempengaruhi perkembangan bahasa

anak. Anak belajar bahasa pertama kali dari lingkungan keluarga,

sehingga keluarga harus mengajarkan bahasa dengan baik karena daya

rekam anak sangat tinggi. Anak dapat merekam segala hal, baik

ataupun buruk.

Anak belajar dari lingkungan teman sebaya dan di sekolah. Anak

di sekolah diajarkan bahasa dengan baik, sehingga lingkungan sekolah

harusnya mendukung untuk belajar bahasa. Lingkungan sekolah

jangan sampai memberi pengaruh yang negatif bagi bahasa anak.

c. Faktor intelegensi anak

Faktor intelegensi (taraf kecerdasan) anak sangat mempengaruhi

perkembangan bahasanya. Anak yang intelegensinya tinggi

penguasaan pengetahuannya tinggi, sehingga pembedaharaan

bahasanya semakin banyak. Ciri berbahasa anak intelegen antara lain :

daya konsentrasi tinggi, hasrat ingin tahu tinggi, cakap menyimak,

kekayaan kosakata dan ketepatan penggunaannya bagus, dan

penguasaan pola kalimatnya cepat.

d. Faktor motivasi belajar bahasa

Faktor motivasi ini dibagi menjadi dua yaitu motivasi intrisik dan

motivasi ekstrinsik. Motivasi intrisik merupakan dorongan untuk

belajar bahasa dari diri sendiri. Biasanya bersifat spontan, selaras

(34)

motivasi eksternal bersumber pada daya pendorong dari luar diri yang

bersangkutan. Kita sebagai guru bertugas selalu memberi motivasi

belajar bahasa demi perkembangan bahasa anak.

e. Situasi belajar

Situasi belajar akan mempengaruhi belajar bahasa anak. Anak

akan merasa senang jika situasinya juga menyenangkan. Anak merasa

seneng jika belajar bahasa dalam situasi bermain, penghargaan atas

usaha, kegagalan sebagai masukan untuk menemukan remidialnya,

utamakan pengalaman langsung, dan menggunakan alat bantu atau

peraga. Situasi anak menjadi terdukung dan perkembangan belajar

bahasa anak akan baik.

Faktor-faktor di atas perlu diperhatikan dalam pembelajaran

bahasa. Penelitian ini juga memperhatikan faktor-faktor tersebut, seperti

faktor fisik anak, lingkungan sosial, kecerdasan siswa, motivasi belajar dan

situasi belajar. Faktor-faktor tersebut jika diperhatikan maka kemampuan

berbahasa anak akan baik.

C. Hakikat Komunikasi Lisan (Berbicara)

1. Pengantar

Keberadaan manusia di dunia adalah makhluk sosial. Sebagai

makhluk sosial bahasa sangatlah penting dalam kehidupan sebagai alat

komunikasi antar manusia. Komunikasi antar manusia adalah kebutuhan

(35)

Komunikasi dapat bersifat verbal dan non-verbal. Komunikasi

verbal berupa lambang kata, baik lisan ataupun tertulis. Sedangkan

komunikasi non-verbal berupa gerak mimik dan bahasa isyarat lainnya.

Komunikasi verbal terdapat keterampilan berbicara atau komunikasi

secara lisan. Berbicara merupakan komunikasi dengan mengungkapkan

kata-kata secara lisan untuk menyampaikan pesan pada orang lain.

2. Pengertian Komunikasi Lisan

Menurut Samana (2004:7) arti kata komunikasi berasal dari bahasa

latin yaitu communis/communica/communication yang artinya berbagi

sesuatu. Sedangkan menurut Hybel dan Weaver (dalam Samana, 2004:7)

komunikasi berarti penyampaian dan penerimaan pesan antar dua orang

atau lebih dengan menggunakan medium (penyalur pesan) tertentu (verbal

atau non-verbal). Jadi, komunikasi merupakan proses kegiatan antar dua

orang atau lebih untuk berbagi gagasan, informasi, perasaan, keinginan

dan sebagainya.

Komunikasi di dalamnya terdapat komunikasi lisan yang biasanya

disebut berbicara. Berbicara merupakan bentuk bahasa yang menggunakan

artikulasi atau ungkapan kata lisan untuk menyampaikan suatu pesan

(Hurlock dalam Samana, 1). Berbicara juga suatu alat untuk

mengomunikasikan gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai

dengan kebutuhan sang pendengar, sehingga komunikasi lisan merupakan

proses kegiatan antar dua orang atau lebih untuk mengungkapkan kata

(36)

3. Fungsi Komunikasi

Secara umum, komunikasi berfungsi untuk mengembangkan diri,

penemuan diri, memahami orang lain, dan menghargai orang lain.

Mengembangkan diri artinya dalam komunikasi banyak hal-hal yang dapat

kita terima dan kita berikan melalui pesan. Dalam pesan tersebut terdapat

ilmu, ide, informasi, pengalaman sehingga dapat mengembangkan diri

pembicara maupun pendengar. Komunikasi dapat sebagai penemuan diri.

Selain itu komunikasi dapat berguna untuk memahami orang lain dan

menghargai orang lain dengan pujian dan lain sebagainya.

4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Komunikasi

Komunikasi dipengaruhi oleh beberapa faktor. Adapun

faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi menurut Lunardi (dalam Samana,

2004:9) merumuskan faktor-faktornya sebagai berikut:

a. Komunikasi dipengaruhi oleh citra diri. Dalam hal ini bagaimana

seseorang melihat, menilai, dan menghargai dirinya. Misalnya orang

yang tampil wajar, bersikap terbuka atau tertutup, dan sebagainya.

b. Komunikasi dipengaruhi oleh citra pertnernya. Dapat kita lihat dari

bagaimana seseorang melihat, menilai dan menghargai pihak lain yang

diajak berkomunikasi, sehingga lawan bicara kita mempengaruhi

komunikasi yang sedang dilakukan.

c. Komunikasi dipengaruhi lingkungan fisik. Tempat dimana kita

melakukan komunikasi dan segala unsur-unsur kebendaannya ikut

(37)

sesak, padat, kotor, tidak teratur, tidak sesuai dengan kebutuhan

komunikasi, dan sejenisnya akan mengganggu kelancaran komunikasi.

d. Lingkungan sosial-budaya mempengaruhi komunikasi. Hal ini bisa

dilihat dari jumlah orangnya kemudian kondisi sosial budayanya.

Biasanya kalau jumlah orangnya banyak tanpa menggunakan pengeras

maka komunikasi tidak akan efektif.

e. Kemampuan orang-orang yang terlibat dalam komunikasi juga

mempengaruhi komunikasi. Dapat dilihat dari aspek fisik seperti

kualitas alat bicaranya, mental (taraf kecerdasan), aspek emosional dan

motivasi.

Faktor-faktor di atas yang mempengaruhi komunikasi. Semua itu

perlu diperhatikan dalam berkomunikasi. Diri kita, lawan bicara kita,

lingkungan fisik, lingkungan sosial budaya dan kemampuan orang-orang

yang terlibat dalam komunikasi itulah yang mempengaruhi komunikasi.

Faktor-faktor tersebut jika mendukung maka komunikasi akan lancar.

5. Berbicara sebagai Suatu Cara Berkomunikasi

Berbicara merupakan suatu alat untuk berkomunikasi. Berbicara

mengkomunikasikan gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai

dengan kebutuhan sang pendengar atau penyimak. Dalam masyarakat

selalu terdapat komunikasi antar anggota masyarakat. Biasanya dilakukan

dengan berbicara dan menyimak pembicaraan. Dalam komunikasi lancar

pembicara akan berubah sebagai penyimak dan sebaliknya. Kita dapat

(38)

6. Tujuan Berbicara

Tujuan utama dari berbicara adalah untuk berkomunikasi.

Komunikasi dapat menyampaikan pikiran secara efektif, maka pembicara

haruslah paham apa yang dia katakan dan dapat diterima oleh pendengar.

7. Deskripsi sebagai Kemampuan Berbicara

Berbicara merupakan kegiatan seseorang untuk menyampaikan

informasi atau pesan kepada orang lain. Berbicara dapat juga menjelaskan

tentang gambaran suatu objek ataupun suatu kondisi yang dapat

memberikan perincian. Pembicara memindahkan kesan-kesannya,

memindahkan hasil pengamatanya dan perasaannya kepada pendengar.

Seperti ini biasanya disebut berbicara mendeskripsikan.

Deskripsi merupakan penjelasan yang berusaha memberikan

perincian dari objek yang sedang dibicarakan (Minto, 2007:158). Objek

deskripsi tidak hanya terbatas pada ada yang dapat dilihat, didengar,

dicium, dirasa, atau diraba, tetapi dapat juga mendeskripsikan tentang

perasaan hati yang mungkin timbul dari rasa takut, cemas, enggan, jijik,

cinta, haru, benci dan lain sebagainya.

Mendeskripsikan yang baik dituntut beberapa hal. Pertama

kesanggupan berbahasa seorang pembicara yang kaya akan nuansa dan

bentuk. Kedua kecermatan pengamatan dan ketelitian penyelidikkan.

Selain itu menggunakan pilihan kata yang tepat, sehingga pendengar dapat

(39)

Berbicara mendeskripsikan benda harus menggunakan pendekatan.

Pendekatan tersebut membantu pembicara melihat objek dan sikap yang

diambil untuk menggambarkan objek secara tepat.

8. Penilaian dalam Berbicara

Menurut Tarigan (1981:26) penilaian keterampilan berbicara

seseorang pada prinsipnya harus memperhatikan lima faktor, yaitu:

a. Apakah bunyi-bunyi tersendiri (vokal, konsonan) diucapkan dengan

tepat?

b. Apakah pola-pola intonasi, naik dan turunnya suara serta tekanan suku

kata, memuaskan?

c. Apakah ketetapan dan ketepatan ucapan mencerminkan bahwa sang

pembicara tanpa referensi internal memahami bahasa yang

dipergunakan?

d. Apakah kata-kata yang diucapkan iyu dalam bentuk dan urutan yang

tepat?

e. Sejauh manakah kewajaran atau kelancaran yang tercermin bila seorang

berbicara? (Brooks, 1964:252 dalam Tarigan, 1981:26)

Hal-hal tersebutlah yang sebagai acuan penilaian keterampilan

berbicara. Penilaian pada penelitian ini menggunakan lima komponen,

yaitu ketepatan mengucapkan bunyi (vocal dan konsonan), kecepatan dan

kejelasan dalam berbicara, ketepatan intonasi, kelancaran dalam berbicara,

dan ketepatan deskripsi sesuai dengan objek yang dideskripsikan. Dengan

(40)

D. Pendekatan Kontekstual

1. Pengertian Pendekatan Kontekstual

Pendekatan kontekstual adalah konsep belajar yang membantu

guru mengaitkan antara materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata

siswa, dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang

dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari

(Muslich,2007:41). Berangkat dari konsep ini diharapkan hasil

pembelajaran menjadi lebih bermakna. Proses pembelajarannya akan

berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan

mengalami, bukan sekedar transfer pengetahuan dari guru ke siswa.

Pendekatan kontekstual akan membantu peserta didik dan guru

dalam pembelajaran. Siswa akan lebih mudah dalam belajar. Siswa juga

akan terdorong untuk mengerti makna belajar. Siswa diharapkan sadar

bahwa yang mereka pelajari itu berguna bagi hidupnya. Dengan demikian

siswa akan tau bahwa dirinya memerlukan bekal untuk hidupnya nanti.

2. Aspek atau Komponen Pendekatan Kontekstual

Menurut Sardiman (2007:223) ada tujuh aspek atau komponen

dalam pendekatan kontekstual yang perlu diperhatikan sebagai berikut:

a. Kontrukstivisme

Kontrukstivisme merupakan landasan berpikir bagi pendekatan

kontekstual. Pengetahuan yang riil bagi para siswa adalah sesuatu yang

dibangun atau ditemukan oleh siswa itu sendiri. Siswa harus

(41)

pengalaman nyata. Dalam hal ini siswa harus dilatih untuk

memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya

dan bergulat dengan ide-ide dan kemudian mampu menkontruksinya.

Proses pembelajaran dikemas atau dikelola menjadi proses

merekontruksi, bukan hanya menerima informasi dari guru. Dalam hal

ini siswa akan membangun sendiri pengetahuannya melalui

keterlibatan secara aktif dalam proses pembelajaran.

b. Menemukan (Inkuiri)

Proses belajar adalah proses menemukan. Kegiatan tersebut

diawali dari pengamatan terhadap fenomena, dilanjutkan dengan

kegiatan-kegiatan bermakna untuk menghasilkan temuan yang

diperoleh sendiri oleh siswa. Dengan demikian, pengetahuan siswa

tidak berasal dari menghafal suatu yang fakta tetapi menemukan

sendiri dari fakta yang dihadapi.

c. Bertanya (Questioning)

Pengetahuan yang dimiliki seorang umumnya tidak lepas dari

aktivitas bertanya. Bertanya merupakan salah satu dalam pendekatan

kontekstual. Bertanya bagi siswa merupakan tanda bahwa siswa

perhatian terhadap materi yang dipelajari dan ada upaya untuk

menemukan jawaban sebagai bentuk pengetahuan. Bagi guru, bertanya

sebagai upaya menyaktifkan siswa. Aktivitas bertanya juga akan

ditemukan ketika siswa berdiskusi, kerja kelompok, ketika menemui

(42)

d. Masyarakat Belajar (Learning Community)

Pengetahuan diperoleh dari saling tukar antar teman, antar

kelompok, dan antara yang tahu ke yang belum tahu. Dilakukan di

ruangan, di kelas, di sekitar dan dilakukan di luar, semuanya tersebut

adalah anggota masyarakat.

Guru dalam menggunakan pendekatan kontekstual disarankan

melaksanakan pembelajaran secara kelompok. Siswa dibagi kelompok

yang anggotanya hiterogen. Pandai mengajar yang lemah, yang tahu

memberi tahu temannya yang belum tahu, yang cepat menangkap

memberi dorongan yang lambat. Seperti inilah beberapa hal yang

berkaitan dengan masyarakat belajar.

e. Pemodelan (Modelling)

Salah satu komponen pendekatan kontekstual adalah

pemodelan. Dalam pembelajaran keterampilan atau pengetahuan

tertentu perlu model yang ditiru. Model ini berupa cara mengoprasian,

berupa contoh dan sebagainya. Dengan demikian guru memberi model

tentang bagaimana cara bekerja melakukan sesuatu atau suatu benda.

Pendekatan ini guru bukan satu-satunya model. Model dapat

dirancang dengan melibatkan siswa. Kemungkinan siswa ada yang

pernah melakukan ataupun sudah cara bekerjanya. Mereka dapat

(43)

f. Refleksi (Refletion)

Refleksi merupan bagian penting dalam pembelajaran. Refleksi

adalah cara berpikir atau perenungan tentang apa yang baru dipelajari

atau berfikir kebelakang tentang apa-apa saja yang sudah dilakukan di

masa lalu. Dalam refleksi, siswa mengendapkan apa-apa yang baru

saja dipelajari sebagai struktur pengetahuan yang baru.

g. Penilaian Autentik

Penilaian adalah proses pengumpulan data yang memberikan

gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran tersebut perlu

diketahui sepanjang proses pembelajaran. Penilaian tidak hanya

dilakukan saat ujian saja. Penilaian seperti ini akan benar-benar

menilai apa yang dinilai. Maka penilaian menjadi autentik.

Seperti di atas komponen pendekatan kontekstual. Jika semua

komponen tersebut diterapkan siswa akan lebih mudah memahami materi

dan guru tidak hanya satu-satunya sumber belajar. Siswa akan lebih aktif

dalam mengikuti pembelajaran dan merasa senang dengan pelaksanaan

(44)

E. Kerangka Berpikir

Bahasa merupakan hal yang penting bagi kehidupan manusia. Bahasa

merupakan alat komunikasi untuk menukarkan informasi, gagasan,

pengalaman dan sebagainya. Dalam dunia pedidikan bahasa sangatlah penting.

Bahasa juga akan mempengaruhi mata pelajaran lain. Dengan demikian siswa

perlu mempunyai kemampuan bahasa yang baik.

Berbicara merupakan salah satu bagian komunikasi. Sebagian besar

ide, gagasan dan pengetahuan disampaikan dengan berbicara. Dengan

demikian bahasa sangatlah penting, tetapi di SD Negeri Salamrejo khususnya

kelas II kurang mampu dalam berbahasa materi berbicara mendeskripsikan

benda.

Banyak cara untuk meningkatkan kemampuan berbicara siswa. Guru

harus bisa memilih pendekatan yang cocok untuk anak dan sesuai dengan

perkembangan siswa. Siswa kelas II termasuk dalam perkembangan

operasianal konkret. Selain itu siswa lebih suka bersama teman sebayanya dan

belajar dengan sekitar. Siswa akan lebih mudah untuk belajar jika

berhubungan dengan kehidupan sehari-hari.

Pendekatan kontekstual menawarkan pembelajaran yang mengaitkan

antara materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata siswa, dan mendorong

siswa membuat hubungan pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan

kehidupan sehari-harinya. Dalam komponen pendekatan kontekstual juga

sesuai dengan perkembangan siswa. Seperti mengkontruksi sendiri

(45)

menemukan sendiri, berkerja kelompok dengan teman sebayanya dan lain

sebagainya. Dengan demikian kebutuhan siswa terpenuhi, sehingga anak

merasa senang dalam pembelajaran dan mendorong anak untuk menguasai

meteri yang diberikan guru.

Menggunakan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran

kemampuan berbicara materi mendeskripsikan benda, siswa akan lebih mudah

karena siswa akan membicarakan atau mendeskripsikan benda dengan bantuan

lingkungan nyata dengan topik yang sesuai kehidupan sehari-hari. Siswa akan

lebih mudah mengembangkan gagasannya karena sering digunakan atau

dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pembelajarannya juga sesuai

dengan komponen-komponen pendekatan kontekstual yang sesuai

perkembangan anak. Dengan demikian, rendahnya kemampuan berbicara

materi mendeskripsikan benda pada kelas II SD Negeri Salamrejo akan

ditingkatan dengan pembelajaran menggunakan pendekatan kontekstual.

Dengan pendekatan kontekstual diharapkan dapat meningkatkan kemampuan

berbicara meteri mendeskripsikan benda pada siswa kelas II SD Negeri

(46)

F. Hipotesis

Berdasarkan rumusan masalah maka dapat dirumuskan hipotesis

penelitian sebagai berikut:

1. Nilai rata-rata mata belajaran bahasa Indonesia materi berbicara

mendeskripsikan benda meningkat setelah menggunakan pendekatan

kontekstual.

2. Jumlah siswa yang nilainya memenuhi KKM meningkat setelah

(47)

29

BAB III

METODE PENELITIAN

A.

Jenis

Penelitian

Jenis penelitian ini dikategorikan sebagai penelitian tindakan kelas.

Penelitian tindakan kelas merupakan bentuk penilaian reflektif yang

dilakukan oleh pendidik sendiri terhadap kurikulum, pengembangan sekolah,

meningkatkan prestasi belajar, pengembangan keahlian mengajar, dan

sebagainya (Meniff, 1992 dalam Suharsimi dkk.,2006:102). Penelitian ini

menekankan pada peningkatan kemampuan berbicara mendeskripsikan

benda. Penelitian ini berusaha untuk mengungkap peningkatan kemampuan

berbicara mendeskripsikan benda dengan pendekatan kontekstual.

B.

Setting Penelitian

1.

Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Salamrejo, Sentolo, Kulon Progo,

Yogyakarta.

2.

Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini yaitu siswa kelas II SD Negeri Salamrejo yang

berjumlah 21 siswa dengan jumlah laki-laki 6 dan perempuan 15 siswa.

3.

Objek Penelitian

Objek penelitian ini adalah kemampuan berbicara mendeskripsikan benda

(48)

4.

Waktu Penelitian

Waktu penelitian ini dilaksanakan pada minggu ke 4 hingga minggu ke 5

bulan Maret tahun pelajaran 2010/2011. Siklus I dilaksanakan dalam dua

pertemuan yaitu pada tanggal 23 dan 24 Maret 2011. Siklus II

dilaksanakan dalam dua pertemuan yaitu pada tanggal 30 dan 31 Maret

2011.

C.

Rancangan Tindakan

1.

Persiapan

a.

Permintaan izin kepada kepala sekolah SD Negeri Salamrejo untuk

penelitian

b.

Mengobservasi siswa kelas II tentang kemampuan berbicara materi

mendeskripsikan benda sebagai gambaran awal

c.

Mencari refrensi sebagai dasar penelitian

d.

Menyusun rencana tindakan

e.

Menyusun silabus, RPP, LKS, dan instrumen penilaian

(49)

2.

Rencana Tindakan

Dalam penelitian tindakan kelas ini, peneliti menggunakan 2 siklus

seperti di bawah ini:

Bagan 1

Rencana Tindakan Penelitian

Setelah permasalah diidentifikasi, maka dilakukan tindakan kelas

sebagai berikut:

a.

Siklus I

1)

Rencana tindakan

a)

Menyiapkan instrumen yang terdiri dari sumber belajar,

media belajar, rubrik penilaian, RPP, LKS, dan lembar

refleksi.

Permasalahan

Perencanaan

Pelaksanaan

Observasi

Refleksi

Perencanaan

Pelaksanaan

SIKLUS II

Observasi

Refleksi

(50)

b)

Guru membuka kegiatan pembelajaran dan menyampaikan

tujuan pembelajaran.

c)

Apersepsi dengan bertanya tumbuhan dan hewan yang ada di

lingkungan sekolah.

d)

Guru memberikan penjelasan tentang deskripsi benda

sekaligus memberi contoh benda dan mendeskrisikannya

(pemodelan).

e)

Tanya jawab tentang materi yang sudah disampaikan

(bertanya).

f)

Guru membagikan LKS yang telah disiapkan dan kemudian

menjelaskan pada siswa.

g)

Siswa diajak keluar kelas (lingkungan sekolah).

h)

Siswa mengamati tumbuhan atau hewan yang ada di

lingkungan sekolah (menemukan).

i)

Setiap siswa membuat deskripsi tentang salah satu benda

tumbuhan atau hewan yang ditemukannya (Kontruktivisme).

j)

Setiap siswa mendeskripsikan benda yang sudah dibuat di

depan kelas (penilaian).

k)

Guru dan siswa sharing/memberi tanggapan mendeskripsikan

benda (Masyarakat belajar).

(51)

2)

Pelaksanaan tindakan

Pelaksanaan tindakan dilakukan dengan merealisasikan rencana

tindakan.

3)

Observasi/Pengumpulan data

Dalam penelitian ini data yang dikumpulan dari observasi dan nilai

siswa. Nilai mengacu pada rubrik penilaian yang telah dibuat

sebelumnya.

4)

Refleksi

Mengidentifikasi kesulitan, hambatan, dan membandingkan hasil

yang sudah dicapai dengan indikator keberhasilan yang ditetapkan

untuk sebagai dasar untuk melakukan perencanaan pembelajaran

siklus II.

b.

Siklus II

1)

Rencana tindakan

a)

Menyiapkan instrumen yang terdiri dari sumber belajar,

media belajar, rubrik penilaian, RPP, LKS, dan lembar

refleksi.

b)

Guru membuka kegiatan pembelajaran dan menyampaikan

tujuan pembelajaran.

c)

Apersepsi dengan bertanya materi sebelumnya dan tanya

(52)

d)

Guru memberikan penjelasan tentang deskripsi, tumbuhan

atau hewan di lingkungan sawah sekaligus memberi contoh

hewan atau tumbuhan dan mendeskrisikannya (pemodelan).

e)

Tanya jawab tentang materi yang sudah disampaikan

(bertanya).

f)

Guru membagikan LKS yang telah disiapkan dan kemudian

menjelaskan pada siswa.

g)

Siswa diajak keluar kelas menuju sawah.

h)

Siswa mencari dan mengamati tumbuhan atau hewan yang

ada di lingkungan sawah (menemukan).

i)

Siswa membuat deskripsi tentang salah satu tumbuhan atau

hewan yang ditemukannya (Kontruktivisme).

j)

Siswa mendeskripsikan tumbuhan atau hewan yang sudah

dibuat di depan kelas (penilaian)

k)

Guru dan siswa sharing/memberi tanggapan hasil deskripsi

(Masyarakat belajar).

l)

Melakukan refleksi bersama (refleksi).

2)

Pelaksanaan tindakan

Pelaksanaan tindakan dilakukan dengan merealisasikan rencana

(53)

3)

Observasi/Pengumpulan data

Dalam penelitian ini data yang dikumpulan dari observasi dan nilai

siswa. Nilai mengacu pada rubrik penilaian yang telah dibuat

sebelumnya.

4)

Refleksi

Mengidentifikasi kesulitan, hambatan, dan membandingkan hasil

yang sudah dicapai dengan indikator keberhasilan yang ditetapkan

untuk sebagai dasar analisis dan penyimpulan data yang telah

terkumpul.

D.

Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian

Dalam penelitian ini ada satu peubah, yaitu kemampuan

mendeskripsikan benda secara lisan. Indikator, data, pengumpulan data dan

instrumennya sebagai berikut:

Tabel 1

Pengumpulan Data dan Instrumennya

No

Peubah

Indikator

Data

Pengamatan

Instrumen

1. Kemampuan

berbicara

mendeskripsikan

benda

Nilai rata-rata

kemampuan

berbicara

mendeskripsikan

benda

Nilai

berbicara

Pengamatan

Lembar

pengamatan

Lembar pengamatan yang dipergunakan untuk penelitian ini dengan

(54)

Tabel 2

Lembar Pengamatan Keterampilan Berbicara

1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 Skor 1 2 3 4 5 6 dst

Aspek Yang Dinilai

A B C D E

Jumlah Rata-rata Nilai Maksimal Nilai Minimal Ket. Siswa

No Total Nilai

Keterangan :

Aspek yang dinilai.

A : Ketepatan mengucapkan bunyi (vokal, konsonan)

B : Ketepatan intonasi

C : Kelancaran dalam berbicara

D : Ketepatan deskripsi sesuai dengan objek yang dideskripsikan

E : Kecepatan dan kejelasan dalam berbicara

Skor.

1 = Sangat kurang

2 = Kurang

3 = Cukup

4 = Baik

5 = Sangat baik

Pedoman Pengisian:

Berilah tanda centang (

) pada kolom skala aspek yang dinilai.

Aspek A : Ketepatan mengucapkan bunyi (vokal, konsonan)

Skor 5 : Tidak terdapat kesalahan pengucapan vokal dan konsonan

Skor 4 : Terdapat minimal 1 sampai 4 kesalahan mengucapkan vokal

konsonan.

Skor 3 : Terdapat minimal 5 sampai 8 kesalahan mengucapkan vokal

konsonan.

Skor 2 : Terdapat minimal 9 sampai 12 kesalahan mengucapkan vokal

konsonan.

(55)

Aspek B : Ketepatan intonasi

Skor 5 : Tidak terdapat kesalahan intonasi dalam berbicara.

Skor 4 : Terdapat sedikit kesalahan intonasi dalam berbicara.

Skor 3 : Terdapat sekitar 50% kesalahan intonasi dalam berbicara.

Skor 2 : Terdapat banyak kesalahan intonasi dalam berbicara.

Skor 1 : Tidak terdapat intonasi dalam berbicara.

Aspek C : Kelancaran dalam berbicara

Skor 5 : Lancar sekali tidak ada hambatan dalam mengungkapkan gagasan.

Skor 4 : Terdapat hambatan sedikit dalam mengungkapkan gagasan.

Skor 3 : Terdapat hambatan cukup banyak dalam mengungkapkan

gagasan.

Skor 2 : Sebagian besar terbata-bata atau gagap dalam mengungkapkan

gagasan.

Skor 1 : Tidak berbicara sama sekali atau lama.

Aspek D : Ketepatan deskripsi sesuai dengan objek yang dideskripsikan

Skor 5 : Lengkap atau mendetail objek yang dideskripsikan.

Skor 4 : Terdapat sedikit ketidaklengkapan objek yang dideskripsikan.

Skor 3 : Terdapat sebagian kekurangsesuaian dengan objek yang

dideskripsikan.

Skor 2 : Terdapat banyak ketidaklengkapan dan ketidaksesuaian dengan

objek yang dideskripsikan.

Skor 1 : Belum mewakili objek yang dideskrisikan.

Aspek E : Kecepatan dan kejelasan dalam berbicara

Skor 5 : Tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat, dan jelas sekali.

Skor 4 : Lambat dan jelas dalam berbicara.

Skor 3 : Lambat dan kurang jelas dalam berbicara.

Skor 2 : Terlalu lambat, sebagian dieja dan tidak jelas dalam berbicara.

Skor 1 : Semua kata-kata dieja, lambat sekali dan tidak jelas dalam

berbicara.

Pedoman penilaian:

(56)

E.

Teknik Analisis Data

Kondisi awal kemampuan siswa dan kondisi akhir yang diharapkan adalah

sebagai berikut:

Tabel 3

Peningkatan yang Diharapkan Pada Setiap Siklus

No.

Peubah

Indikator

Kondisi

Awal

Kondisi akhir

siklus

Siklus I

Siklus II

1.

Kemampuan

berbicara

mendeskripsikan

benda

Nilai rata-rata

kemampuan

berbicara

mendeskripsikan

benda

62

67

71

Tabel 4

Peningkatan yang Diharapkan Pada Setiap Siklus Secara Persentase

No

Indikator

Kondisi Awal

Siklus

Siklus I

Siklus II

Jml

Siswa

%

Jml

Siswa

%

Jml

Siswa

%

1.

Nilai yang melebihi KKM

materi kemampuan

berbicara

mendeskripsikan

benda.(67)

9

43

12

57

15

71

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Analisis kuantitatif adalah

menghitung angka-angka atau bilangan dari nilai yang diperoleh siswa untuk

(57)

menggambarkan dengan kata-kata atau kalimat yang dipisah-pisah menurut

kategori untuk memperoleh kesimpulan (Arikunto, 1987: 195).

Secara garis besar kegiatan analisis data pada penelitian ini dilakukan

dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1.

Penyekoran

Penyekoran dalam penelitian ini dilakukan pada rubrik yang telah ada

sebelumnya.

2.

Penilaian

Penilaian adalah mengubah skor menjadi nilai. Adapun rumus yang

digunakan sebagai berikut:

=

x 100

3.

Menghitung Rata-rata

Nilai rata-rata berbicara kelas II diperoleh dengan membagi jumlah nilai

seluruh siswa dengan jumlah siswa.

=

= Mean/Rata-rata

= Jumlah nilai seluruh siswa

N = Jumlah Siswa

4.

Menghitung Presentase Ketuntasan Kelas

(58)

nilainya di atas KKM dengan jumlah siswa semudian dikalikan 100%.

=

x 100%

5.

Peningkatan Dalam Setiap Siklus

Peningkatan kemampuan berbicara dapat dilihat dari persentase setiap

siklus.

6.

Uji perbedaan rata-rata untuk data dependen (berhubungan).

a.

Menyiapkan tabel perhitungan untuk mencari

dan

b.

Mencari rata-rata dan SD dari

distance.

1)

Untuk mencari rata-rata dari

distance

gunakan cara berikut:

2)

Untuk mencari SD dari

distance

gunakan cara berikut:

Keterangan:

SD = Standar Deviasi

D

i

=

Distance

(selisih x

i

dan y

i

di mana I merupakan nilai siswa

ke-1 sampai ke-N)

c.

Menentukan hipotesis awal (H

0

) dan hipotesis alternatif (H

a

).

H

0

:

H

a

:

Dengan adalah rata

rata antara selisih siklus 2 dan siklus 0.

(59)

e.

Menentukan daerah kritis

1)

Daerah penolakan

Jika t

hitung

> t

α;N-1

2)

Daerah gagal tolak

Jika t

hitung

< t

α;N-1

f.

Menghitung statistik uji

t

hitung

=

g.

Keputusan

1)

Tolak H

0

jika berada di dalam daerah penolakan.

2)

Gagal tolak H

0

jika berada di luar daerah penolakan (daerah gagal

(60)

42

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.

Hasil Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Salamrejo. Subjek

penelitiannya adalah siswa kelas II yang berjumlah 21 siswa. Penelitian ini

dimulai tanggal 23 Maret sampai 31 Maret 2011.

Penelitian ini dilaksanaankan dengan dua siklus dengan jumlah 8 jam

pelajaran. Siklus I terdiri dari 2 pertemuan dengan jumlah 4 jam pelajaran,

begitupula siklus II terdiri dari 2 pertemuan dengan jumlah 4 jam pelajaran.

Kedua siklus menggunakan pendekatan kontenstual. Pembeda kedua siklus

tersebut yaitu pada indikator pembelajarannya. Siklus I dengan indikator

“siswa dapat mendeskripsikan tumbuhan atau hewan di lingkungan sekolah

secara lisan”. Pada siklus II dengan indikator “siswa dapat mendeskripsikan

t

umbuhan atau hewan di lingkungan sawah secara lisan”.

Adapun hasil penelitian pada kelas II SD Negeri Salamrejo dalam

pembelajaran berbicara mendeskripsikan benda sebelum dan sesudah

menggunakan pendekatan kontekstual sebagai berikut :

1.

Kemampuan Awal

Data awal ini didapat dari hasil penilaian guru kelas II SD Negeri

Salamrejo. Adapun nilai berbicara mendeskripsikan benda atau hewan

(61)

Tabel 5

Persentase Pencapaian KKM dan Nilai Rata-rata Pada Kondisi Awal

Data

Jumlah Siswa

Jumlah siswa yang

memenuhi KKM (67)

Persentase

Nilai

Rata-rata

Kondisi

Awal

21

9

43%

62,47

2.

Siklus I

a.

Tahap Perencanaan Tindakan

Tahap perencanaan ini peneliti menyiapkan instrumen yang terdiri

dari sumber belajar, media belajar, rubrik penilaian, rencana

pelaksanaan pembelajaran, lembar kerja siswa dan lembar refleksi.

Pembelajaran akan dikemas menggumakan pendekatan kontekstual.

Pembelajaran akan dilaksanakan sesuai dengan komponen pendekatan

kontekstual, meliputi: pemodelan, bertanya, lingkungan sekolah,

menemukan, masyarakat belajar dan refleksi.

b.

Tahap Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan tindakan pada siklus pertama dilaksanakan pada hari

Rabu 23 Maret 2011 pukul 07.00 sampai 08.10 dan hari Kamis 24

Maret 2011 pukul 08.10 sampai 09.35. Pelaksanaan pembelajaran

sesuai dengan perencanaan pembelajaran yang sudah disusun oleh guru

guna meningkatkan kemampuan berbicara tentang mendeskripsikan

benda dengan pendekatan kontekstual. Rincian kegiatan siklus I sebagai

(62)

1)

Pertemuan I

a)

Kegiatan Awal

Kegiatan pembelajaran diawali dengan salam pembuka oleh

guru dilanjutkan berdoa. Kemudian guru melakukan presensi dan

pengecekan kesiapan siswa. Setelah itu guru melakukan apersepsi

dengan bertanya kepada siswa tentang tumbuhan atau hewan yang

ada di lingkungan sekolah dan dilanjutkan penyampaian tujuan

pembelajaran.

b)

Kegiatan Inti

Siswa mendengarkan penjelasan guru tentang pengertian

deskripsi dengan pemodelan membawa contoh tumbuhan dan

mendeskripsikan bersama siswa. Sebelum siswa melakukan

pengamatan

dan

membuat

deskripsi

guru

mengecek

pemahamannya dengan bertanya mengenai deskripsi. Kemudian

siswa diajak keluar kelas untuk mencari tumbuhan atau hewan di

lingkungan sekolah untuk dideskripsikan. Siswa membuat

deskripsi tumbuhan atau hewan berdasarkan ciri-cirinya. Setelah

itu siswa diajak masuk ke kelas kembali.

c)

Kegiatan Akhir

Kegiatan ini siswa dan guru melakukan refleksi

(63)

menyampaikan perasaannya dan kesulitan yang dialami selama

pembelajaran. Selanjutnya ditutup dengan salam penutup.

2)

Pertemuan II

a)

Kegiatan Awal

Kegiatan pembelajaran diawali dengan salam pembuka oleh

guru. Kemudian guru melakukan presensi dan pengecekan

kesiapan siswa. Setelah itu guru melakukan apersepsi dengan

bertanya kepada siswa pembelajaran sebelumnya.

b)

Kegiatan Inti

Setelah siswa melakukan pengamatan pada pertemuan I

pada pertemuan ini siswa membuat deskripsi secara lisan.

Kemudian dilakukan penilaian, dengan siswa mendeskripsikan

tumbuhan atau hewan di depan kelas.

c)

Kegiatan Akhir

Kegiatan ini siswa dan guru sharing kesulitan atau

pengalaman yang didapat setelah melakukan pembelaj

Gambar

Grafik 2 Perbandingan Nilai Rata-rata dan Persentase pada Kondisi Awal, Siklus I
Tabel 1 Pengumpulan Data dan Instrumennya
Tabel 2 Lembar Pengamatan Keterampilan Berbicara
Tabel 3 Peningkatan yang Diharapkan Pada Setiap Siklus
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian tentang tanggapan guru sekolah dasar penjasorkes terhadap proses pembelajaran PJOK melalui pendekatan saintifik kurikulum 2013 se-Kecamatan Wates Kabupaten

(2) Uang pangkal dan/atau pungutan lain selain UKT yang dikenakan kepada mahasiswa baru Program Diploma dan Program Sarjana yang melalui seleksi jalur mandiri

keseimbangan, berpindah/lokomotor, tolakan, putaran, ayunan, melayang, dan mendarat) dalam aktivitas senam lantai. 4.5.1 Siswa mencoba tugas gerak beladiri ke dalam

Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Multimedia Dalam Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Mahasiswa Jurusan Pendidikan Teknik Elektro FT UNM Pada Mata Kuliah Elektronika

[r]

Penentuan formula optimum masker clay ekstrak kental labu kuning (Cucurbita moschata) diperoleh dengan menggunakan design-expert yang menghasilkan formula optimum

Keanekaragaman spesies bactrocera dan parasitoidnya yang Menyerang berbagai jenis buah di pasar bandungan.

Puji syukur Penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah mencurahkan berkat dan rahmat-Nya sehingga Penulis dapat menyelesaikan laporan skripsi dengan