i
PENCAPAIAN HASIL BELAJAR DAN KETERAMPILAN SISWA DENGAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF DALAM POKOK BAHASAN
PERPINDAHAN KALOR KELAS VII F SMP N 2 MOYUDAN
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Program Studi Pendidikan Fisika
Oleh :
NURMALA SAFITRI OKTAVIANI NIM: 061424010
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA
iv
HALAMAN PERSEMBAHAN
Skripsi ini kupersembahkan untuk :
Bapak dan Ibu tercinta
Adikku Amalia Lutfi
Pak Win, Bu Ana, Avistya,
seluruh keluargaku
Priya Adi S
Teman-temanku
v
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA
Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah.
Yogyakarta, 16 Juni 2010
vi
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN
PEBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma : Nama : Nurmala Safitri Oktaviani
Nomor Mahasiswa : 061424010
Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sana Dharma karya ilmiah saya yang berjudul :
PENCAPAIAN HASIL BELAJAR DAN KETERAMPILAN SISWA DENGAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF DALAM POKOK BAHASAN PERPINDAHAN KALOR KELAS VII F SMP N 2 MOYUDAN
beserta perangkat yang diperlukan (bila ada). Dengan demikian saya memberikan kepada Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secata terbatas, dan mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.
Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya.
Di buat Yogyakarta
Pada tanggal : 31 Juli 2010 Yang menyatakan
vii ABSTRAK
PENCAPAIAN HASIL BELAJAR DAN KETERAMPILAN SISWA DENGAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF DALAM POKOK BAHASAN
PERPINDAHAN KALOR KELAS VII F SMP N 2 MOYUDAN
Nurmala Safitri Oktaviani, “Pencapaian Hasil Belajar dan Keterampilan Siswa dengan Pembelajaran Kooperatif dalam Pokok Bahasan Perpindahan Kalor Kelas VII F SMP N 2 Moyudan”. Program Studi Pendidikan Fisika, Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta 2010.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif deskriptif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui untuk mengetahui (1) sejauh mana peningkatan pemahaman siswa pada pokok bahasan perpindahan kalor dengan menggunakan metode kooperatif; (2) keterampilan apa saja yang dapat dikembangkan oleh siswa melalui metode kooperatif dalam pembelajaran fisika pada pokok bahasan perpindahan kalor.
Penelitian dilaksanakan di kelas dan halaman SMP N 2 Moyudan Yogyakarta, pada tanggal 17-26 November 2009. Yang digunakan sebagai sampel adalah siswa VII F. Peneliti memberikan treatment melalui pembelajaran menggunakan metode kooperatif. Data peningkatan pemahaman siswa tentang konsep perpindahan kalor diperoleh dari hasil pretest dan posttest; data keterampilan siswa diperoleh dari pengamatan langsung oleh 3 orang observer. Data peningkatan pemahaman dan keterampilan siswa dianalisis secara statistik dengan uji test-t dan secara kuantitatif.
viii ABSTRACT
STUDENTS’ ACHIEVEMENT AND STUDENTS’ COMPETENCE THROUGH COOPERATIVE LEARNING BEING USED IN HEAT CHANGE UNIT OF SEVENTH GRADE STUDENTS CLASS F
SMP N 2 MOYUDAN
Nurmala Safitri Oktaviani, “Students’ Achievement and Students’ Competence through Cooperative Learning being used in Heat Change Unit of Seventh Grade Students Class F SMP N 2 Moyudan”. Physics Education Study Program, Department of Math and Science Education, Faculty of Teachers Training and Education, Sanata Dharma Univesity Yogyakarta 2010.
This research was a qualitative descriptive research. This research was aimed at finding out (1) students’ understanding on Heat Change Unit through using Cooperative Learning method; (2) what kind of competence that could be developed by the students though Cooperative Learning being used in Physics Learning on Heat Change Unit.
The research was conducted inside the class and at schoolyard of SMP N 2 Moyudan Yogyakarta, on November 17-26, 2009. The research participants were seventh grade students Class F. The researcher gave treatment through Cooperative Learning Method. The data of the improvement of students’ understanding on the concept of heat change was gained from pre-test and post-test; data of students’ competence was obtained from observation that was conducted by three observers. Data of the improvement of students’ understanding and students’ competence were statistically analyzed, with test-t experiment, and qualitatively analyzed.
ix
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas berkah rahmat dan karuniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Pencapaian Hasil Belajar dan Keterampilan Siswa dengan Pembelajaran Kooperatif dalam Pokok Bahasan Perpindahan Kalor Kelas VII F SMP N 2 Moyudan”.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak dapat berjalan dengan baik tanpa proses yang panjang dan dukungan dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Maka pada kesempatan yang baik ini, penulis mengucapkan terimakasih yang setulusnya kepada :
1. Drs. Tarsisius Sarkim, M.Ed., Ph.D selaku dosen pembimbing skripsi dan dosen pembimbing akademik yang telah banyak memberikan bimbingan, bantuan, saran, dan kritiknya dalam menyusun skripsi ini.
2. Segenap dosen program studi Pendidikan Fisika USD yang telah memberikan ilmu dan pengalaman yang sangat berguna bagi masa depan penulis.
3. Drs. Haryanto selaku kepala sekolah SMP N 2 Moyudan, yang telah memberikan ijin penelitian.
4. Bapak Tukiman dan Bapak Hasbullah selaku guru fisika SMP N 2 Moyudan yang telah memberikan bimbingan dan kesempatan dalam penelitian ini.
5. Segenap siswi SMP N 2 Moyudan yang mau dijadikan sampel untuk penelitian ini.
x
7. Adikku Amalia, atas doa dan dukungan yang diberikan untukku.
8. Pak Win, Bu Ana, Avis yang selalu membantu aku dan memberi aku dukungan.
9. Kakuk, uti, eyang, kakung, mbak ririk, dan mas yoyok atas dukungannya. 10.Seluruh keluargaku, terima kasih atas dukungan dan doa untukku.
11.Priya Adi Suryana, terima kasih atas segala doa, pengertian dan selalu memberiku semangat.
12.Sahabatku Melania Royana, Lusia Tatik, Ambar Hari Wijaya, dan Theresia Ratri. Makasih atas kesetiakawanan yang sudah kalian beri. Semangat!
13.Teman-teman Pendidikan Fisika angkatan 2006 : Yulista, Fajar, Suster, Dede, Gagan, Hendrikus, Benny, Dion, Rudy, Miranda, Lia, Dessy, Nani, Enita, Ratna, dan Nana. Terimaksih atas kebersamaan dan kerjasamanya selama kuliah
14.Serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu, terimakasih atas segala doa dan dukungannya selama penulisan skripsi ini.
Demikianlah tulisan ini dapat diselesaikan. Penulis menyadari bahwa sripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang dapat membangun. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Yogyakarta, 16 Juni 2010
xi DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... v
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ... vi
ABSTRAK ... vii BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ... B. Perumusan Masalah ... C. Tujuan ... D. Batasan Masalah ... E. Manfaat ... BAB II. DASAR TEORI
A. Belajar
1. Pengertian Belajar ... 2. Bentuk Belajar ... B. Pencapaian Hasil Belajar ... C. Penilaian Hasil Belajar
1. Pengertian Penilaian Hasil Belajar ... 2. Fungsi Penilaian ... 3. Tujuan Penilaian ...
xii D. Metode Kooperatif
1. Pengertian Kooperatif ... 2. Karakteristik Pembelajaran Kooperatif ... 3. Unsur-unsur Pembelajaran Kooperatif ... 4. Tujuan Pembelajaran Kooperatif ... 5. Keuntungan Pembelajaran Kooperatif ... 6. Kekurangan Pembelajaran Kooperatif ... 7. Model Pembelajaran Kooperatif ... E. Keterampilan Siswa ... F. Perpindahan Kalor
1. Konduksi ... BAB III. METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian ... B. Sampel ... C. Tempat dan Waktu Penelitian ... D. Ubahan ... E. Treatment ... F. Instrument Penelitian ... G. Validitas Instrument ... H. Metode Analisis Data
1. Ada tidaknya peningkatan pemahaman siswa SMP N 2 Moyudan tentang materi perpindahan kalor ... 2. Diskusi I ... 3. Diskusi II ... 4. Keterampilan Siswa ...
37 BAB IV. DATA & ANALISIS DATA
A. Data dan Analisis Data
xiii
2. Diskusi I ... 3. Diskusi II ... 4. Keterampilan Siswa ... B. Pembahasan
1. Ada tidaknya peningkatan pemahaman siswa SMP N 2 Moyudan tentang materi perpindahan kalor ... 2. Diskusi I ... 3. Diskusi II ... 4. Keterampilan Siswa ...
60 BAB V. KESIMPULAN & SARAN
A. Kesimpulan ... B. Saran ... C. Keterbatasan Penelitian ...
xiv
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Klasifikasi dan interval skor ... 45
Tabel 2 Nilai dan klasifikasi pada pretest dan posttest ... 45
Tabel 3 Jumlah dan klasifikasi siswa pada pretest dan posttest ... 45
Tabel 4 Klasifikasi dan interval skor ... 48
Tabel 5 Nilai dan klasifikasi siswa pada diskusi I ... 48
Tabel 6 Jumlah dan klasifikasi siswa pada diskusi I ... 49
Tabel 7 Nilai diskusi II setiap siswa ... 50
Tabel 8 Jumlah dan klasifikasi siswa pada diskusi II ... 50
Tabel 9 Klasifikasi dan interval skor ... 53
Tabel 10 Persentase dan klasifikasi skor keterampilan siswa pada observasi, diskusi I, dan diskusi II ... 54
Tabel 11 Jumlah dan klasifikasi keterampilan siswa ... 54
Tabel 12 Persentase peningkatan pemahaman siswa ... 56
Tabel 13 Nilai dan klasifikasi siswa pada pretest dan posttest ... 57
Tabel 14 Jumlah dan klasifikasi siswa pada pretest dan posttest ... 58
Tabel 15 Hasil analisis pretest dan posttest ... 59
Tabel 16 Persentase tingkat ketercapaian siswa untuk diskusi I ... 60
Tabel 17 Nilai dan klasifikasi siswa dalam pembelajaran kooperatif pada diskusi I ... 60
Tabel 18 Jumlah dan klasifikasi siswa pada diskusi I ... 61
Tabel 19 Nilai dan klasifikasi siswa dalam pembelajaran kooperatif pada diskusi II ... 61
Tabel 20 Jumlah dan klasifikasi siswa pada diskusi II ... 62
Tabel 21 Persentase dan klasifikasi skor keterampilan siswa pada observasi, diskusi I, dan diskusi II ... 63 Tabel 22 Klasifikasi keterampilan siswa ... 64
Tabel 23 Analisis keterampilan siswa siswa pada observasi dan diskusi I ... 66
Tabel 24 Analisis keterampilan siswa pada diskusi I dan diskusi II ... 67
xv
Tabel 26 Analisis keterampilan A pada diskusi I dan diskusi II ... 69
Tabel 27 Analisis keterampilan B pada observasi dan diskusi I ... 70
Tabel 28 Analisis keterampilan B pada diskusi I dan diskusi II ... 71
Tabel 29 Analisis keterampilan C pada observasi dan diskusi I ... 72
Tabel 30 Analisis keterampilan C pada diskusi I dan diskusi II ... 73
Tabel 31 Analisis keterampilan D pada observasi dan diskusi I ... 74
xvi
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Analisis skor pretest ... 91
Lampiran 2 Analisis skor posttest ... 92
Lampiran 3 Analisis Skor Diskusi I ... 93
Lampiran 4 Analisis skor diskusi II ... 94
Lampiran 5 Analisis skor dan klasifikasi keterampilan pada kegiatan observasi ... 96 Lampiran 6 Analisis skor dan klasifikasi keterampilan pada kegiatan diskusi I ... 97 Lampiran 7 Analisis skor dan klasifikasi keterampilan pada kegiatan diskusi II 98 Lampiran 8 Silabus ... 99
Lampiran 9 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) ... 101
Lampiran 10 Soal pretest ... 107
Lampiran 11 Soal posttest ... 109
Lampiran 12 Soal diskusi I ... 111
Lampiran 13 Soal diskusi II ... 113
Lampiran 14 Pedoman jawaban soal pretest & posttest ... 120
Lampiran 15 Pedoman jawaban soal diskusi I ... 121
Lampiran 16 Pedoman jawaban soal diskusi II ... 122
Lampiran 17 Skorring soal pretest & posttet ... 125
Lampiran 18 Skorring soal diskusi I ... 126
Lampiran 19 Skoring soal diskusi II ... 128
Lampiran 20 Surat keterangan penelitian ... 131
Lampiran 21 Surat permohonan ijin dari kampus ... 132
Lampiran 22 Surat permohonan ijin dari Bappeda ... 133
Lampiran 23 Jadwal penelitian ... 134
Lampiran 24 Gambar Penelitian ... 135
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Guna meningkatkan mutu sumber daya manusia, pemerintah sedang melakukan perbaikan di segala bidang. Salah satu bidang yang mendapatkan prioritas pemerintah adalan bidang pendidikan karena pendidikan merupakan aspek penting demi meningkatnya mutu sumber daya manusia. Dengan pendidikan, akan terbentuk sumber daya manusia cerdas yang dapat membangun Bangsa Indonesia.
Berbagai kebijakan dilakukan pemerintah, antara lain dengan menitik beratkan pada peningkatan mutu di setiap jenjang pendidikan serta perluasan kesempatan untuk memperoleh pendidikan. Meskipun demikian, masih banyak masalah pendidikan yang selalu timbul sehingga diperlukan usaha untuk memecahkan persoalan tersebut.
Pendidikan yang dilakukan di sekolah sampai saat sekarang ini menurut peneliti masih cenderung monoton, di mana suatu proses pembelajaran sebagian besar hanya berpusat pada guru. Meskipun kurikulum telah berubah, dimana pembelajaran harus berpusat pada siswa namun tidak sedikit sekolah-sekolah yang masih menggunakan metode ceramah sehingga proses pembelajaran hanya berupa transfer materi dari guru ke murid.
Di dalam kegiatan pembelajaran, guru dituntut untuk lebih mengaktifkan siswa. Guru dapat mengaktifkan siswa salah satunya dengan menggunakan variasi metode pembelajaran yang disesuaikan dengan bahan ajar karena ada beberapa metode pembelajaran yang dapat kurang cocok untuk bahan ajar tertentu. Dengan menggunakan variasi metode pembelajaran diharapkan dapat meningkatkan keinginan siswa untuk belajar sehingga tujuan dari pembelajaran dapat tercapai. Metode pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru antara lain : inquiry, discovery, POE, simulasi, kuis, e–learning, model debat, dan masih banyak lagi. Kooperatif merupakan salah satu dari sekian banyak metode yang dapat melibatkan siswa. Karena dalam metode pembelajaran kooperatif siswa dituntut aktif untuk berfikir kreatif dalam proses pembelajaran sehingga pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran dapat denagan mudah melekat.
pemahaman siswa hanya 20% jika guru mengajar dengan metode ceramah tetapi sebaliknya jika siswa diminta untuk melakukan sesuatu dan mengatakan atau melaporkan apa yang mereka lakukan maka tingkat pemahaman siswa tersebut mencapai sekitar 90%.
Berdasarkan data tersebut, keberhasilan pencapaian belajar siswa sangat tergantung pada proses pembelajaran yang dialami oleh siswa dan guru. Siswa dikatakan berprestasi apabila tujuan kegiatan pembelajarannya dapat tercapai. Tercapainya tujuan kegiatan pembelajaran ini dapat dilihat dari pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang dimiliki oleh siswa setelah mereka selesai mengalami proses pembelajaran karena indikator tersebut merupakan hasil langsung dari pendidikan (Sumadji, 1998 : 41).
B. Perumusan Masalah
1) Sejauh mana peningkatan pemahaman siswa pada pokok bahasan perpindahan kalor dengan menggunakan metode kooperatif ?
2) Keterampilan-keterampilan apa saja yang dapat dikembangkan siswa melalui metode kooperatif dalam pembelajaran fisika pada pokok bahasan perpindahan kalor?
C. Tujuan
2) Untuk mengetahui keterampilan apa saja yang dapat dikembangkan oleh siswa melalui metode kooperatif dalam pembelajaran fisika pada pokok bahasan perpindahan kalor.
D. Batasan Masalah
Berdasarkan masalah-masalah yang dirumuskan di atas peneliti membatasi sebagai berikut :
1) Pada penelitian ini, peneliti akan menerapkan model kooperatif Student Team–Achievement Divisions (STAD) untuk mengetahui peningkatan pemahaman dan keterampilan siswa.
2) Peningkatan pemahaman siswa hanya dilihat dari perolehan nilai pretes dan posttes. Soal pada diskusi I dan diskusi II hanya digunakan untuk membatasi bahan yang akan didiskusikan oleh siswa.
E. Manfaat 1) Bagi peneliti
Dapat menemukan cara yang optimal dalam menerapkan metode kooperatif dalam pembelajaran fisika
2) Bagi guru dan calon guru
3) Bagi lembaga pendidikan
6 BAB II DASAR TEORI
A. Belajar
1. Pengertian Belajar
Dalam kehidupan seseorang pasti mengalami suatu kegiatan belajar. Sejak manusia dilahirkan sampai menjadi tua dan akhirnya meninggal, pasti melakukan kegiatan belajar. Belajar sendiri tidak bisa dilakukan secara instant perlu adanya tingkatan atau fase-fase yang harus dilalui manusia. Melalui belajar, orang yang semula tidak mengetahui apa-apa akan menjadi mengerti sesuatu. Jadi dengan belajar, orang dapat menambah pengetahuan dari tidak mengerti menjadi mengerti.
Pengertian belajar tidak hanya sekedar peristiwa menambahnya pengetahuan seseorang, tetapi banyak hal yang terkait dengan belajar itu sendiri. Berikut ini dijabarkan pengertian belajar dari beberapa ahli pendidikan antara lain :
a. Belajar merupakan suatu aktivitas mental/ psikis, yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan sejumlah perubahan dalam pengetahuan-pemahaman, keterampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif konstan dan berbekas. (W.S. Winkel, 2007 : 59)
c.Belajar merupakan perubahan perilaku yang diakibatkan oleh pengalaman (Dahar, 1989 : 21)
d.W.H Burton dalam Usman (1990), belajar merupakan perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan individu dan individu dengan lingkungannya
e.Belajar adalah perubahan kelakuan akibat pengalaman dan latihan (Nasution, 1991 : 38)
f. Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat ( Slavin dalam www.wikipedia.com).
Dari pengertian yang dikemukakan oleh beberapa ahli tentang pengertian belajar, dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang sehingga mengalami perubahan sikap dan tingkah laku ke arah yang lebih baik berupa pengetahuan dan keterampilan yang bersifat permanen.
2. Bentuk Belajar
Bentuk-bentuk belajar menurut Gagne dalam R.W.Dahar (1989) bahwa ada lima bentuk belajar, yaitu :
a. Belajar Kontiguitas, kekuatan belajar kontiguitas dapat dilihat dari seseorang yang memberikan respon terhadap pernyataan-pernyataan yang belum lengkap.
b. Belajar Operant. Dalam bentuk belajar ini, belajar merupakan akibat penguatan dari bentuk belajar lain yang banyak diterapkan dalam teknologi modifikasi tertentu. Bentuk belajar ini disebut terkondisi operant, sebab perilaku yang diinginkan timbul secara spontan, tanpa dikeluarkan secara instinktif oleh stimulus apapun.
c. Belajar Observasional. Bentuk belajar ini banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, misalnya : seseorang yang belajar mengendarai mobil, tentunya ia akan mengamati seorang instruktur untuk mengetahui urutan tindakan-tindakan yang dibutuhkan mulai dari menghidupkan mobil sampai menjalankannya.
d. Belajar Kognitif. Proses belajar yang menyangkut cara berfikir atau menggunakan pemikiran secara deduktif atau induktif.
B. Pencapaian Hasil Belajar
jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respon tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respon, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pelajar (respon) harus dapat diamati dan diukur.
Taksonomi Bloom merujuk pada taksonomi yang dibuat untuk tujuan pendidikan. Taksonomi Bloom dalam www.wikipedia.com secara garis besar diklasifikasikan hasil belajar menjadi tiga ranah, yakni :
1. Domain Kognitif
Bloom membagi domain kognisi ke dalam 6 tingkatan, yaitu : pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan evaluasi.
2. Domain Afektif
Domain afektif mencakup lima macam tipe hasil belajar, yaitu : Penerimaan, tanggapan, penghargaan, pengorganisasian, dan karakterisasi berdasarkan nilai-nilai
3. Domain Psikomotorik
Tujuan Instruksional
Hasil Belajar
(a) (c)
(b)
kesiapan, guided response, mekanisme, respon tampak yang kompleks, penyesuaian, dan penciptaan.
C. Penilaian Hasil Belajar
1. Pengertian Penilaian Hasil belajar
Belajar dan mengajar sebagai suatu proses mengandung tiga unsur yang dapat dibedakan, yakni tujuan pengajaran (instruksional), pengalaman (proses) belajar-mengajar, dan hasil belajar (Sudjana, 1992 : 2). Hubungan ketiga unsur tersebut digambarkan dalam diagram :
Garis (a) menunjukkan hubungan antara tujuan instruksional dengan pengalaman belajar, garis (b) menunjukkan hubungan antara pengalaman belajar dengan hasil belajar, dan garis (c) menunjukkan hubungan antara tujuan instruksional dan hasil belajar. Dari diagram diatas dapat disimpulkan bahwa kegiatan penilaian dinyatakan oleh garis (c), yakni suatu kegiatan untuk melihat sejauh mana tujuan-tujuan instruksional dapat dicapai atau dikuasai oleh siswa dalam bentuk hasil belajar. Sedangkan garis (b) merupakan kegiatan penilaian untuk mengetahui
keefektifan pengalaman belajar dalam mencapai hasil belajar yang optimal. Tujuan instruksional hakikatnya adalah perubahan tingkah laku yang diinginkan pada diri siswa.
Penilaian hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai siswa dengan kriteria tertentu, sedangkan penilaian proses belajar adalah upaya memberi nilai terhadap kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh siswa dan guru dalam mencapai tujuan-tujuan pengajaran (Sudjana, 1992 :3). Penilaian pada dasarnya bertujuan untuk mengetahui perkembangan hasil belajar siswa dan hasil mengajar guru (Setyawan, 2008 : 19).
2. Fungsi Penilaian
Berdasarkan pengertian diatas menurut Nana Sudjana (1992 : 3) maka penilaian berfungsi sebagai :
a. Alat untuk mengetahui tercapai-tidaknya tujuan instruksional. Dengan fungsi ini maka penilaian harus mengacu kepada rumusan-rumusan tujuan instruksional.
b. Umpan balik bagi perbaikan proses belajar mengajar. Perbaikan mungkin dilakukan dalam hal tujuan instruksional, kegiatan belajar mengajar siswa, strategi mengajar guru, dan lain-lain.
kecakapan belajar siswa dalam berbagai bidang studi dalam bentuk nilai-nilai prestasi yang dicapainya.
3. Tujuan Penilaian
Selain memiliki fungsi, penilaian juga memiliki tujuan. Tujuan dilakukannya penilaian adalah untuk (Sudjana, 1992 : 4) :
a. Mendeskripsikan kecapakan belajar para siswa sehingga dapat diketahui kelebihan dan kekurangannya dalam berbagai bidang studi atau mata pelajaran yang ditempuhnya.
b. Mengetahui keberhasilan proses pendidikan dan pengajaran sekolah. c. Menentukan tindak lanjut hasil penilaian, yakni melakukan
perbaikan dan penyempurnaan dalam hal program pendidikan dan pengajaran serta strategi pelaksanaannya.
d. Memberikan pertanggungjawaban dari pihak sekolah kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Pihak yang dimaksud meliputi pemerintah, masyarakat, dan orang tua siswa.
D. Metode Kooperatif 1. Pengertian Kooperatif
penggunaan metode pembelajaran. Metode pembelajaran yang dapat meningkatkan efektifitas siswa adalah metode pembelajaran yang melibatkan seluruh siswa. Ada berbagai macam metode pembelajaran, tetapi tidak semua metode pembelajaran dapat melibatkan siswa. Salah satu metode pembelajaran yang dapat meningkatkan aktifitas belajar siswa adalah metode kooperatif. Pengertian kooperatif menurut beberapa ahli : a. Pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran dimana siswa
dibiarkan belajar dalam kelompok, saling menguatkan, mendalami, dan bekerja sama untuk semakin menguasai bahan (Suparno, 2007: 134).
b. Menurut Kindsvatter dkk dalam Suparno, yang menjadi fokus dari belajar bersama adalah kemajuan bidang akademik dan afektif melalui melalui kerja sama.
2. Karakteristik Pembelajaran Kooperatif
a. Mengacu kepada keberhasilan kelompok. Keberhasilan kelompok adalah kemenangan kelompok dalam kompetisi pada suatu kegiatan pembelajaran. Keberhasilan kelompok dicapai bersama oleh semua anggota kelompok.
b. Menekankan peranan anggota. Setiap anggota dalam kelompok memiliki tugas dan fungsi yang jelas, artinya anggota kelompok berperan sebagai pendorong, pendamai, pemberi keputusan, atau perumus.
c. Mengandalkan sumber atau bahan. Sumber dan bahan yang akan dipelajari dibagi secara merata untuk setiap anggota kelompok. Bahan peiajaran yang dimaksudkan adalah berupa bahan bacaan buku sumber yang berkenaan dengan materi pelajaran yang akan diajarkan d. Menekankan interaksi. Setiap anggota kelompok berinteraksi secara
tatap muka dalam kelompok secara terarah dan memanggil teman dengan menyebut nama
e. Mengutamakan tanggung jawab individu. Kemenangan kelompok bergantung kepada hasil belajar individu terhadap pemahaman materi pembelajaran. Setiap anggota kelompok membimbing satu sama lain terhadap bahan pembelajaran yang belum dipahami. Setelah semua anggota kelompok memahami bahan pembelajaran, maka angota kelompok siap untuk melaksanakan tes (kuis) pada akhir perternuan f. Menciptakan peluang kemenangan bersama. Setiap siswa memberikan
dapat dilakukan dengan cara setiap anggota kelompok berusaha memperoleh yang terbaik
g. Mengutamakan hubungan pribadi. Semua anggota kelompok perlu bergaul satu sama lain dan saling tolong menolong dalam belajar kelompok
h. Menitikberatkan kepada kepemimpinan. Setiap siswa berhak untuk bicara dan memiliki tugas sendiri-sendiri. Guru bertindak sebagai pembimbing (tutor) pada waktu setiap pembelajaran berlangsung
i. Menekankan penilaian atau penghargaan kelompok. Penilaian kelompok diberikan pada usaha bersama dengan anggota kelompok dan penghargaan kelompok biasanya diberikan apabila suatu kelompok menang atau menjuarai permainan antar kelompok.
3. Unsur-unsur Pembelajaran Kooperatif
Berdasarkan Johnson dkk dalam Suparno (2007), beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam belajar bersama agar tujuannya dapat tercapai, yaitu :
untuk menyelesaikan tugasnya agar yang lain berhasil. Hal ini akan berdampak masing-masing siswa dapat mengukur sampai dimana kemampuannya dalam memahami materi pembelajaran bagi anak yang kurang maka ia dibantu oleh temannya, dan berusaha untuk meningkatkan kemampuan belajarnya lebih baik lagi sedangkan bagi anak yang pandai dapat membantu anggota kelompoknya agar bisa mengerjakan tugas-rugasnya dengan baik sehingga terciptalah suasana kerja sama yang harmonis.
b. Perlunya dikembangkan interaksi interpersonal antara siswa dan
c. Masing-masing perlu dibantu untuk tetap bertanggung jawab pada penguasaan tugas belajar mereka. Adanya ketergantungan yang positif dalam pembelajaran kooperatif akan memotivasi siswa untuk mempertanggungjawabkan hasil kerjanya kepada kelompoknya, sehingga dalam pembelajaran kooperatif para siswa dituntut untuk memiliki kemampuan berpartisipasi secara aktif. Ini karena tujuan utama pembelajaran ini bukan hanya dapat diselesaikannya tugas yang diberikan pada kelompok, tetapi siswa diharapkan mampu sahingga membelajarkan di antara anggota kelompoknya. Sebagai konsekuensinya guru harus menyusun tugas individual untuk dikerjakan oleh masing-masing anggota dalam kelompok tersebut. Sehingga masing-masing siswa bertanggung jawab terhadap pelajarannya sendiri. Tidak seperti tugas kelompok biasa, tugas hanya dikerjakan oleh siswa yang dianggap pintar sedangkan anggota lainnya hanya menonton atau mendengarkan saja
d. Perlu dikembangkan keterampilan sosial siswa.
e. Perlu diyakinkan bahwa kelompok dapat berhasil dan dikembangkan kerja sama yang efektif.
4. Tujuan Pembelajaran Kooperatif
a. Meningkatkan hasil belajar lewat kerjasama kelompok yang memungkinkan siswa belajar satu sama lain. Kemajuan hasil belajar menjadi tujuan utama, sehingga masing-masing siswa mendapatkan hasil positif.
b. Merupakan alternatif terhadap belajar kompetitif yang sering membuat siswa menjadi minder. Dengan belajar kompetitif, siswa yang lemah akan sulit maju dan merasa kecil dibandingkan yang pandai. Sedangkan belajar bersama ini justru siswa yang lemah akan dibantu untuk maju. c. Memajukan kerja sama kelompok antar manusia. Dengan belajar
bersama, hubungan antarsiswa makin akrab dan kerja sama antar mereka akan semakin lebih baik.
d. Bagi siswa-siswa yang mempunyai intelegensi interpersonal tinggi, cara belajar ini sangat cocok dan memajukan. Mereka lebih mudah mengkonstruksi pengetahuan lewat bekerja dan belajar bersama dengan teman daripada sendirian.
5. Keuntungan Pembelajaran Kooperatif
a. Siswa memungkinkan dapat meraih keberhasilan dalam belajar, disamping itu juga dapat melatih siswa memiliki keterampilan, baik keterampilan berpikir maupun keterampilan sosial seperti keterampilan untuk mengemukakan pendapat, menerina saran dan masukan dari orang lain, bekerjasama, rasa setia kawan, dan mengurangi timbulnya perilaku yang menyimpang (Stahl, 1994).
b. Menurut Sharan (1990), siswa yang belajar dengan menggunakan metode pembelajaran kooperatif akan memiliki motivasi yang tinggi karena didorong dan didukung dari rekan sebaya.
c. Menurut Johnson (1993), metode kooperatif juga menghasilkan peningkatan kemampuan akademik, meningkatkan kemampuan berpikir kritis, membentuk hubungan persahabatan, menimba berbagai informasi, belajar menggunakan sopan santun, meningkatkan motivasi siswa, memperbaiki sikap terhadap sekolah, dan belajar mengurangi tingkah laku yang kurang baik, serta membantu siswa dalam menghargai pokok pikiran orang lain.
6. Kekurangan Pembelajaran Kooperatif
mempersiapkan pembelajaran secara matang, disamping itu memerlukan lebih banyak tenaga, pemikiran, dan waktu; (b) Agar proses pembelajaran berjalan dengan lancar maka dibutuhkan dukungan fasilitas, alat dan biaya yang cukup memadai; (c) Selama kegiatan diskusi kelompok berlangsung, ada kecenderungan topik permasalahan yang sedang dibahas meluas. Sehingga banyak yang tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan; (d) Saat diskusi kelas, terkadang didominasi oleh seseorang. Hal ini mengakibatkan siswa yang lain menjadi pasif. Sedangkan kekurangan yang bersumber dari faktor luar yang erat kaitannya dengan kebijakan pemerintah yaitu padamya kurikulum pembelajaran fisika, selain itu pelaksanaan tes yang terpusat seperti UN/ UNAS sehingga kegiatan belajar mengajar di kelas cenderung dipersiapkan untuk keberhasilan perolehan UN/ UNAS.
Sebenarnya apabila guru telah berperan baik sebagai fasilitator, motivator, mediator, mapun sebagai evaluator maka kelemahan metode pembelajaran kooperatif ini dapat diatasi. Sehingga peran guru sangat penting dalam menciptakan suasana kelas yang kondusif agar pembelajaran fisika dengan mengunakan model ini dapat dilaksanakan sesuai dengan rencana. langkah-langkah pembelajaran menggunakan metode kooperatif menurut (Suparno, 2007 : 138) adalah :
2. Menyiapkan siswa : dipersiapkan tugas mereka masing-masing dan juga bagaimana kerja kelompok.
3. Monitoring apakah berjalan atau tidak. Apakah proses kerja sama dalam belajar sungguh baik, ada kerelaan dan keterbukaan untuk saling membantu, mengembangkan, dan menguatkan yang lain?
4. Evaluasi apakah sungguh pengetahuannya berkembang. Evaluasi ini penting karena tujuan belajar kelompok adalah agar pengetahuan mereka sungguh maju; bila ternyata tidak, maka perlu dibenahi.
7. Model Pembelajaran Kooperatif
Beberapa model pembelajaran kooperatif yang paling banyak dilakukan menurut Nadhirin, antara lain :
a. Kooperatif Naskah
sehingga koreksi hanya sebatas pada dua orang tersebut). Model ini mempunyai langkah-langkah sebagai berikut ini :
1) Guru membagi siswa untuk berpasangan
2) Guru membagikan wacana/ materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan
3) Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar
4) Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok yang ada dalam ringkasan. Sementara pendengar menyimak/ mengoreksi/ menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap dan membantu mengingat/menghafal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya
5) Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya serta lakukan seperti diatas.
6) Kesimpulan guru 7) Penutup
b. Numbered Head Together
melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh, dan siswa yang pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai. Kekurangan apabila melaksanakan model ini adalah kemungkinan nomor yang sudah dipanggil, akan dipanggil kembali oleh guru dan tidak semua anggota kelompok dipanggil oleh guru. Langkah pembelajaran dengan model ini :
1) Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor.
2) Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya.
3) Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya.
4) Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka.
5) Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain.
6) Kesimpulan
c. Investigasi Kelompok
mempelajarinya melalui investigasi. Model ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok (group process skills). Para guru yang menggunakan model investigasi kelompok umumnya membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 5 hingga 6 siswa dengan karakteristik yang heterogen. Pembagian kelompok dapat juga didasarkan atas kesenangan berteman atau kesamaan minat terhadap suatu topik tertentu. Para siswa memilih topik yang ingin dipelajari, mengikuti investigasi mendalam terhadap berbagai subtopik yang telah dipilih, kemudian menyiapkan dan menyajikan suatu laporan di depan kelas secara keseluruhan. Adapun deskripsi mengenai langkah-langkah model investigasi kelompok dapat dikemukakan sebagai berikut :
1) Seleksi Topik
Para siswa memilih berbagai subtopik dalam suatu wilayah masalah umum yang biasanya digambarkan lebih dahulu oleh guru. Para siswa selanjutnya diorganisasikan menjadi kelompok-kelompok yang berorientasi pada tugas (task oriented groups) yang beranggotakan 2 hingga 6 orang. Komposisi kelompok heterogen baik dalam jenis kelamin, etnik maupun kemampuan akademik.
Para siswa beserta guru merencanakan berbagai prosedur belajar khusus, tugas dan tujuan umum yang konsisten dengan berbagai topik dan subtopik yang telah dipilih dari langkah 1) di atas.
1) Implementasi
Para siswa melaksanakan rencana yang telah dirumuskan pada langkah 2). Pembelajaran harus melibatkan berbagai aktivitas dan keterampilan dengan variasi yang luas dan mendorong para siswa untuk menggunakan berbagai sumber baik yang terdapat di dalam maupun di luar sekolah. Guru secara terus-menerus mengikuti kemajuan tiap kelompok dan memberikan bantuan jika diperlukan. 2) Analisis dan sintesis
Para siswa menganalisis dan mensintesis berbagai informasi yang diperoleh pada langkah 3) dan merencanakan agar dapat diringkaskan dalam suatu penyajian yang menarik di depan kelas. 3) Penyajian hasil akhir
Semua kelompok menyajikan suatu presentasi yang menarik dari berbagai topik yang telah dipelajari agar semua siswa dalam kelas saling terlibat dan mencapai suatu perspektif yang luas mengenai topik tersebut. Presentasi kelompok dikoordinir oleh guru.
4) Evaluasi
Evaluasi dapat mencakup tiap siswa secara individu atau kelompok, atau keduanya.
d. Metode Jigsaw
Pada dasarnya, dalam model ini guru membagi satuan informasi yang besar menjadi komponen-komponen lebih kecil. Selanjutnya guru membagi siswa ke dalam kelompok belajar kooperatif yang terdiri dari empat orang siswa sehingga setiap anggota bertanggungjawab terhadap penguasaan setiap komponen/ subtopik yang ditugaskan guru dengan sebaik-baiknya. Siswa dari masing-masing kelompok yang bertanggungjawab terhadap subtopik yang sama membentuk kelompok lagi yang terdiri dari yang terdiri dari dua atau tiga orang. Siswa-siswa ini bekerja sama untuk menyelesaikan tugas kooperatifnya dalam: 1) belajar dan menjadi ahli dalam subtopik bagiannya; 2) merencanakan bagaimana mengajarkan subtopik bagiannya kepada anggota kelompoknya semula. Setelah itu siswa tersebut kembali lagi ke kelompok masing-masing sebagai “ahli” dalam subtopiknya dan mengajarkan informasi penting dalam subtopik tersebut kepada temannya. Ahli dalam subtopik lainnya juga bertindak serupa. Sehingga seluruh siswa bertanggung jawab untuk menunjukkan penguasaannya terhadap seluruh materi yang ditugaskan oleh guru. Dengan demikian, setiap siswa dalam kelompok harus
e. Model Teams Game Tournament (TGT)
Pembelajaran kooperatif model TGT adalah salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan reinforcement. Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif model TGT memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar Ada 5 komponen utama dalam komponen utama dalam TGT yaitu :
1) Penyajian Kelas
Pada awal pembelajaran guru menyampaikan materi dalam penyajian kelas, biasanya dilakukan dengan pengajaran langsung atau dengan ceramah, diskusi yang dipimpin guru. Pada saat penyajian kelas ini siswa harus benar-benar memperhatikan dan memahami materi yang disampaikan guru, karena akan membantu siswa bekerja lebih baik pada saat kerja kelompok dan pada saat game karena skor game akan menentukan skor kelompok.
2) Kelompok (team)
materi bersama teman kelompoknya dan lebih khusus untuk mempersiapkan anggota kelompok agar bekerja dengan baik dan optimal pada saat game.
3) Game
Game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk menguji pengetahuan yang didapat siswa dari penyajian kelas dan belajar kelompok. Kebanyakan game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan sederhana bernomor. Siswa memilih kartu bernomor dan mencoba menjawab pertanyaan yang sesuai dengan nomor itu. Siswa yang menjawab benar pertanyaan itu akan mendapat skor. Skor ini yang nantinya dikumpulkan siswa untuk turnamen mingguan.
4) Turnamen
Biasanya turnamen dilakukan pada akhir minggu atau pada setiap unit setelah guru melakukan presentasi kelas dan kelompok sudah mengerjakan lembar kerja. Turnamen pertama guru membagi siswa ke dalam beberapa meja turnamen. Tiga siswa tertinggi prestasinya dikelompokkan pada meja I, tiga siswa selanjutnya pada meja II dan seterusnya.
5) Team recognize (penghargaan kelompok)
“Super Team” jika rata-rata skor 45 atau lebih, “Great Team” apabila rata mencapai 40-45 dan “Good Team” apabila rata-ratanya 30-40.
f. Model Student Team–Achievement Divisions (STAD)
Siswa dikelompokan secara heterogen kemudian, bagi siswa yang pandai menjelaskan kepada anggota kelompoknya sampai mengerti. Langkah-langkah:
1. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dll.).
2. Guru menyajikan materi pelajaran.
3. Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota kelompok. Anggota yang tahu menjelaskan kepada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
4. Guru memberi kuis/ pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu.
5. Memberi evaluasi. 6. Penutup.
Pada model ini guru akan memberikan tugas pada kelompok yang harus diselesaikan. Untuk itu, setiap siswa harus siap menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru.
b. Melatih kerja sama siswa dengan baik
Karena model pembelajaran kooperatif ini setiap kelompoknya terdiri dari 4 anggota dengan sifat dan karakter yang berbeda. Untuk mencapai tujuan dari kegiatan pembelajaran yang dilakukan, keempat anggota ini harus menjalin kekompakan dan kerja sama yang baik..
Kekurangan dari model pembelajaran ini :
a. Anggota kelompok mengalami kesulitan dalam kerja sama. Hal ini dikarenakan pembentukan kelompok ditentukan oleh guru sehingga dimungkinkan ada salah satu anggota kelompok yang tidak cocok dengan anggota kelompok yang lain.
g. Model Steve & Slavin
Steven & Slavin (1995), dengan metode Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) = Kooperatif Terpadu Membaca, dan Menulis. Metode ini mempunyai langkah-langkah sebagai berikut ini :
2. Guru memberikan wacana/ kliping sesuai dengan topik pembelajaran
3. Siswa bekerja sama saling membacakan dan menemukan ide pokok dan memberi tanggapan terhadap wacana/ kliping dan ditulis pada lembar kertas
4. Mempresentasikan/ membacakan hasil kelompok 5. Guru membuat kesimpulan bersama
6. Penutup
E.Keterampilan Siswa
Model pembelajaran kooperatif sangat berbeda dengan model pembelajaran yang lain. Disamping model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai hasil belajar akademik, model pembelajaran kooperatif juga efektif untuk mengembangkan keterampilan sosial siswa. Beberapa ahli berpendapat bahwa model pembelajaran kooperatif unggul dalam membantu siswa memahami konsep yang sulit.
Keterampilan kooperatif yang dapat dikembangkan melalui pembelajaran dengan model kooperatif (Suprijono, 2009: 157), antara lain : 1. Kesungguhan selama pembelajaran
2. Memberi respon selama pembelajaran 3. Memberi kesempatan pada orang lain 4. Mendengarkan secara aktif
F. Pepindahan Kalor
Perpindahan kalor adalah ilmu untuk meramalkan perpindahan energi yang terjadi karena adanya perpedaan suhu diantara benda atau material (Holman dalam Setyawan, 2008 : 47). Kalor dapat berpindah dari benda yang memiliki suhu tinggi ke benda yang memiliki suhu lebih rendah. Perpindahan kalor dapat terjadi secara langsung maupun dengan perantara. Ada tiga cara perpindahan kalor, yaitu : konduksi, konveksi (aliran), dan radiasi (pancaran).
1. Konduksi
partikel-partikel dalam sendok. Pemanasan kalor dalam konduksi dapat terjadi dalam dua proses berikut :
1) Pemanasan pada satu ujung zat menyebabkan partikel-partikel pada ujung itu bergetar lebih cepat dan suhunya naik, atau energi kinetiknya bertambah. Partikel-partikel dengan energi kinetik lebih besar ini memberikan sebagian energi kinetiknya kepada partikel-partikel tetangganya melalui tumbukan, sehingga partikel-partikel ini memiliki energi kinetik lebih besar. Selanjutnya, partikel-partikel ini memberikan sebagian energi kinetiknya ke partikel-partikel tetangga berikutnya, demikian seterusnya sampai kalor mencapai ujung yang dingin (tidak dipanasi). Proses perpindahan kalor seperti ini berlangsung lambat karena untuk dapat memindahkan lebih banyak kalor diperlukan beda suhu yang tinggi diantara kedua ujung.
Berdasarkan kemampuan menghatar kalor, zat dibagi atas dua golongan besar, yaitu: konduktor dan isolator. Konduktor adalah zat yang dengan mudah menghantarkan kalor, misalnya logam. Sedangkan isolator adalah zat yang sukar menghantarkan kalor, sebagai contoh adalah : kayu, kaca, dan plastik.
2. Konveksi
Konveksi adalah proses perpindahan kalor melalui zat perantara yang disertai perpindahan partikel-partikel zat itu. Perpindahan kalor secara konveksi disebabkan oleh perbedaan massa jenis suatu zat. Perpindahan kalor secara konvekti terjadi pada zat cair dan gas. Salah satu akibat adanya arus konveksi dalam keseharian adalah terjadinya angin. Pada siang hari, tanah lebih cepat panas daripada laut, sehingga udara di atas daratan lebih panas daripada udara di atas laut. Oleh karena itu, udara di atas daratan naik dan tempatnya digantikan oleh udara di atas laut sehingga pada siang hari akan terjadi anging laut. Sedangkan pada malam hari, tanah lebih cepat dingin daripada udara di atas laut. Oleh karena itu, udara di atas laut naik dan tempatnya digantikan oleh udara di atas daratan, sehingga terjadi angin darat.
Dalam konveksi paksa, fluida yang telah dipanasi langsung diarahkan ke tujuannya oleh sebuah peniup (blower) atau pompa. Salah satu contoh dari konveksi paksa ada pada pengering rambut (hair dryer). Pada hair dryer, kipas menarik udara disekitarnya dan meniupkan udara tersebut melalui elemen pemanas. Dengan cara ini dihasilkan suatu arus konveksi paksa udara panas.
3. Radiasi
Radiasi adalah perpindahan kalor yang tidak memerlukan zat perantara. Beberapa zat yang dapat menyerap kalor radiasi lebih baik daripada zat lainnya. Permukaan yang hitam dan kusam adalah penyerap kalor radiasi yang baik sekaligus pemancar kalor radiasi yang baik pula, sedangkan permukaan yang putih dan mengkilap adalah penyerap kalor radiasi yang buruk sekaligus pemancar kalor yang buruk pula. Jika diinginkan agar kalor yang merambat secara radiasi berkurang, permukaan (dinding) harus dilapisi suatu bahan yang mengkilap (misalnya dilapisi perak). Suhu kopi atau teh panas akan bertahan lebih lama dalam suatu cangkir dengan permukaan dalam yang mengkilap daripada cangkir yang mempunyai permukaan bagian dalam gelap.
37 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengukur pencapaian hasil belajar yang ditandai dengan ada tidaknya peningkatan pemahaman siswa dan untuk mengetahui ketrampilan kooperatif siswa yang muncul selama kegiatan kooperatif.
Berdasarkan dari tujuan tersebut, penelitian ini termasuk penelitian kuantitatif deskriptif. Termasuk penelitian kuantitatif deskriptif karena dalam penelitian ini menggunakan data berupa angka-angka yang dianalisis dengan statistika. Data yang akan dianalisis adalah tentang peningkatan pemahaman siswa dan ketrampilan kooperatif. Hasil penelitian ini hanya terbatas untuk siswa yang diteliti saja, sehingga kesimpulan yang diperoleh tidak dapat disamakan dengan siswa di luar penelitian.
B. Sampel
digunakan dalam penentuan sampel penelitian karena ditentukan oleh guru fisika yang mengajar di kelas VII.
C. Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat Penelitian : SMP Negeri 2 Moyudan Waktu Penelitian : November 2009
D. Ubahan
Dalam penelitian ini ada tiga macam ubahan, yaitu metode kooperatif, peningkatan pemahaman siswa, dan keterampilan kooperatif siswa. Ketiga ubahan yang telah disebutkan tadi masing-masing berdiri sendiri dan tidak akan dicari hubungannya antara satu dengan yang lainnya.
E. Treatmen
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode pembelajaran kooperatif sebagai treatment. Berikut ini bentuk treatment dengan menggunakan strategi pembelajaran kooperatif :
1. Pertemuan I
Pada tahap persiapan ini, peneliti sebagai guru membagi siswa menjadi tujuh kelompok. Setelah itu, guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dan kegiatan kooperatif yang akan dilakukan. Kemudian guru membagikan soal pretes yang harus dikerjakan oleh siswa.
a. Diskusi
Pada tahap ini guru meminta setiap kelompok untuk mempelajari materi terlebih dahulu. Kemudian siswa diminta menjawab soal diskusi secara bersama-sama dalam kelompok. Guru menekankan kepada siswa untuk saling berkerja sama dan berdiskusi. Pada tahap ini, guru berperan sebagai fasilitator untuk mendampingi, mengawasi, dan membantu siswa yang mengalami kesulitan. Setelah kegiatan diskusi selesai, guru meminta perwakilan dari setiap kelompok untuk menyampaikan jawaban dari hasil diskusi yang telah dilakukan. Kemudian, guru meminta siswa atau kelompok yang lain untuk menanggapi jawaban dari kelompok lain.
b. Penutup
Pada tahap penutup, guru menegaskan kembali materi yang telah dipelajari agar tidak terjadi miskonsepsi.
a. Persiapan
Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bergabung dengan kelompok yang telah dibentuk pada pertemuan sebelumnya. Kemudian guru menyampaikan materi atau kegiatan yang akan dilaksanakan.
b. Kegiatan Inti
Guru meminta siswa untuk melakukan percobaan tentang perpindahan kalor dengan cara radiasi, konduksi, dan konveksi. Guru juga meminta siswa untuk menerjakan soal yang berkaitan dengan percobaan. Setelah siswa selesai mengerjakan soal guru meminta perwakilan kelompok untuk menyampaikan atau memprsentasikan jawaban mereka.
c. Penutup
Guru merangkum hasil presentasi dan menegaskan tentang materi yang sudah dipelajari.
3. Pertemuan III
a. Persiapan
Guru meminta siswa untuk mengerjakan soal posttest agar dapat diketahui peningkatan pemahaman siswa setelah belajar menggunakan metode kooperatif.
c. Penutup
Guru meminta siswa mengumpulkan jawaban dari soal yang telah dikerjakan. Guru menjelaskan jawaban dari soal posttest yang dikerjakan oleh siswa
F. Instrument Penelitian
1. Silabus
2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
3. Lembar Kerja Siswa (lembar diskusi I dan II)
4. Tes Belajar (pretest dan posttest)
5. Lembar Pengamatan Keterampilan kooperatif
G. Validitas Instrumen
diukur, yaitu apakah sesuai dengan tujuan. Validitas menunjuk pada kesesuaian penuh arti, bergunanya kesimpulan yang dibuat peneliti berdasarkan data yang dikumpulkan (Suparno, 2007 : 68).
Semua instrumen yang digunakan dalam penelitian ini meliputi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa (LKS), Tes Belajar (lembar diskusi, pretest dan posttest), Lembar Pengamatan Keterampilan kooperatif bila menggunakan metode kooperatif, akan dilihat dari validitas isinya. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dibuat berdasarkan kegiatan yang akan dilakukan oleh peneliti. Lembar pengamatan berisi tentang keterampilan siswa yang muncul selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Soal pretes, postes, dan LKS dibuat berdasarkan inidikator-indikator dan kompetensi dasar yang akan dicapai pada pokok bahasan perpindahan kalor. Pada penelitian ini, instrumen tidak diujicobakan namun sudah dikonsultasikan dan disetujui oleh dosen pembimbing.
H. Metode Analisis Data
1. Ada tidaknya peningkatan pemahaman siswa SMP N 2 Moyudan tentang materi perpindahan kalor.
diskusi, peneliti memberikan tes akhir untuk mengetahui hasil belajar siswa. Data hasil penelitian akan dianalisis dengan langkah-langkah sebagai berikut :
a. Menganalisis konsep awal dan akhir siswa tentang perpindahan kalor.Analisis pada tahap ini yaitu :
1) Menganalisis jawaban pretest dan posttest untuk mengetahui gambaran pemahaman siswa sebelum dan setelah pembelajaran dengan pembelajaran kooperatif. Jawaban setiap soal dinyatakan dengan skor. Jumlah skor maksimal soal pretest dan posttest adalah 90. Setelah didapatkan skor setiap siswa kemudian dicari persentase dengan cara membagi skor yang dicapai dengan skor maksimum kemudian dikalikan 100%
2) Setelah dihitung persentase pemahaman awal siswa, kemudian persentase yang diperoleh siswa tersebut diklasifikasikan dalam skala klasifikasi seperti dibawah ini sangat baik, baik, cukup, kurang, dan sangat kurang. Adapun penentuan interval skor dan skala klasifikasi sebagai berikut :
Passing skor adalah skor terendah untuk nilai cukup. Ditetapkan passing skor untuk nilai cukup adalah 65%. b) Menentukan aturan konversi
• Untuk kelompok atas
Untuk kelompok atas banyaknya klasifikasi ada 3 yaitu cukup, baik, dan sangat baik. Lebar interval untuk kelompok atas adalah 100 – 64 = 36. Apabila ditetapkan lebar untuk setiap klasifikasi sama maka setiap klasifikasi menempati interval skor yang lebarnya = 36 : 3 = 12. Jadi klasifikasi cukup menempati interval 65% - 76%, klasifikasi baik menempati interval 77% - 88% , dan klasifikasi sangat baik menempati interval 89% - 100%.
• Untuk kelompok bawah
Untuk kelompok bawah ditetapkan skor minimal untuk klasifikasi kurang adalah 50% sehingga skor yang menempati klasifikasi kurang adalah skor pada interval 50% - 64% dan skor yang menempati klasifikasi sangat kurang adalah 0 – 49%.
Tabel 1. Klasifikasi dan interval skor Interval Skor (%) Klasifikasi
0 – 49 Sangat Kurang 50 – 64 Kurang
65 – 76 Cukup
77 – 88 Baik
89 – 100 Sangat Baik
Tabel 2. Nilai dan klasifikasi pada pretest dan posttest
1) D
ari tabel nilai dan klasifikasi siswa dalam pembelajaran kooperatif dapat diketahui banyaknya siswa yang menguasai konsep perpindahan kalor. Cara menghitung banyaknya siswa yang menguasai konsep perpindahan kalor dengan menjumlah banyaknya siswa sesuai dengan klasifikasi yang ditempati.
Tabel 3. Jumlah dan klasifikasi siswa pada pretest dan posttest Interval
Skor Klasifikasi
Jumlah Siswa
Pretest Posttest Kode
Siswa
b. Hasil belajar yang dicapai dalan pembelajaran menggunakan menggunakan metofe kooperatif.
Untuk menganalisis adanya peningkatan belajar, dilakukan dengan uji test-T untuk satu kelompok yang di tes dua kali. Analisis dilakukan dengan menggunakan program SPSS.
Setelah hasil muncul, kita dapat menyimpulkan : a) Apabila p = 0 .000 < α = 0.05 maka signifikan
b) Apabila p = 0 .000 > α = 0.05 maka tidak signifikan
2. Diskusi I
Soal diskusi ini berisi pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan konsep perpindahan kalor. Untuk mengetahui pemahaman siswa pada kegiatan ini dilakukan analisis sebagai berikut :
a. Jawaban setiap soal dinyatakan dengan skor. Jumlah skor maksimal pada kegiatan ini adalah 100. Setelah didapatkan skor setiap siswa kemudian dicari persentase skor dengan cara membagi skor yang dicapai dengan skor maksimum kemudian dikalikan 100%
(nilai % merupakan hasil pembulatan ; kurang dari 0,5 dihilangkan sedangkan sama atau lebih dari 0,5 dijadikan 1).
b. Setelah menghitung persentase skor yang diperoleh oleh siswa, nilai tersebut kemudian dimasukkan ke dalam tabel dan diklasifikasikan dalam skala klasifikasi seperti dibawah ini sangat baik, baik, cukup, kurang, dan sangat kurang. Adapun penentuan interval skor dan skala klasifikasi sebagai berikut :
1) Menentukan passing skor
Passing skor adalah skor terendah untuk nilai cukup. Ditetapkan passing skor untuk nilai cukup adalah 65%.
2) Menentukan aturan konversi
• Untuk kelompok atas
Untuk kelompok atas banyaknya klasifikasi ada 3 yaitu cukup, baik, dan sangat baik. Lebar interval untuk kelompok atas adalah 100 – 64 = 36. Apabila ditetapkan lebar untuk setiap klasifikasi sama maka setiap klasifikasi menempati interval skor yang lebarnya = 36 : 3 = 12. Jadi klasifikasi cukup menempati interval 65% - 76%, klasifikasi baik menempati interval 77% - 88% , dan klasifikasi sangat baik menempati interval 89% - 100%.
Untuk kelompok bawah ditetapkan skor minimal untuk klasifikasi kurang adalah 50% sehingga skor yang menempati klasifikasi kurang adalah skor pada interval 50% - 64% dan skor yang menempati klasifikasi sangat kurang adalah 0 – 49%. Klasifikasi dan interval skor tersebut dapat dilihat pada tabel :
Tabel 4. Klasifikasi dan interval skor Interval Skor (%) Klasifikasi 0 – 49 Sangat Kurang
50 – 64 Kurang
65 – 76 Cukup
77 – 88 Baik
89 – 100 Sangat Baik •
Tabel 5. Nilai dan klasifikasi siswa pada diskusi I
3) Dari tabel nilai dan klasifikasi siswa dalam pembelajaran kooperatif dapat diketahui banyaknya siswa yang menguasai konsep perpindahan kalor. Cara menghitung banyaknya siswa yang menguasai konsep perpindahan kalor dengan menjumlah banyaknya siswa sesuai dengan klasifikasi yang ditempati.
Tabel 6. Jumlah dan klasifikasi siswa pada diskusi I
Interval Skor Klasifikasi Jumlah Siswa
3. Diskusi II
Diskusi II ini berisi pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan konsep perpindahan kalor. Untuk menguasai penguasaan siswa dalam mengerjakan soal-soal diskusi tentang konsep perpindahan kalor menggunakan metode kooperatif, dilakukan analisis sebagai berikut :
a. Menganalisis jawaban siswa untuk mengetahui pemahaman siswa dalam pembelajaran dengan pembelajaran kooperatif. Jawaban setiap soal dinyatakan dengan skor. Jumlah skor maksimal untuk kegiatan ini adalah :
Jumlah skor untuk kegiatan I : 55 Jumlah skor untuk kegiatan II : 50 Jumlah skor untuk kegiatan III : 45
% 100 maksimal
skor
dicapai yang
Skor skor
% = x
Nilai yang diperoleh setiap siswa dimasukkan ke dalam tabel : Tabel 7. Nilai diskusi II setiap siswa
Kode Siswa
Aspek Penilaian
Konduksi Konveksi Radiasi
b. Penguasaan konsep diskusi II dengan menjumlah banyaknya siswa sesuai dengan klasifikasi yang ditempati.
Tabel 8. Jumlah dan klasifikasi siswa pada diskusi II
Interval Klasifikasi Jumlah Siswa
Koduksi Konveksi Radiasi
4. Keterampilan siswa dalam pembelajaran menggunakan metode kooperatif
observer selama kegiatan observasi dan pembelajaran berlangsung. Peneliti hanya membatasi pada keterampilan antara lain :
A. Kesungguhan selama pembelajaran B. Memberi respon selama pembelajaran C. Memberi kesempatan pada orang lain D. Mendengarkan secara aktif
a. Untuk mengetahui keterampilan siswa, peneliti menganalisis data dari keterampilan siswa selama proses kegiatan pembelajaran berlangsung dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1) Peneliti menentukan kriteria skor setiap butir keterampilan yang dilakukan oleh siswa. Kriteria Penskoran keterampilan kooperatif :
Skor 5 apabila keterampilannya sangat baik
Skor 4 apabila keterampilannya baik
Skor 3 apabila keterampilannya cukup
Skor 2 apabila keterampilannya rendah
Skor 1 apabila keterampilannya sangat rendah
Skor 0 apabila siswa tidak terlibat sama sekali dalam kegiatan
%
Jumlah skor maksimum yang dapat diperoleh setiap siswa adalah 20. 3) Setelah dihitung persentase keterampilan siswa, kemudian persentase
yang diperoleh siswa tersebut dikatagorikan dalam skala kriteria seperti dibawah ini sangat tinggi, tinggi, cukup, kurang, sangat kurang. Adapun penentuan interval skor dan skala klasifikasi sebagai berikut :
a) Menentukan passing skor
Passing skor adalah skor terendah untuk nilai cukup. Ditetapkan passing skor untuk nilai cukup adalah 65%.
b) Menentukan aturan konversi
• Untuk kelompok atas
klasifikasi tinggi menempati interval 73% - 86% , dan klasifikasi sangat tinggi menempati interval 86% - 100%.
• Untuk kelompok bawah
Untuk kelompok bawah ditetapkan skor minimal untuk klasifikasi kurang adalah 50% sehingga skor yang menempati klasifikasi kurang adalah skor pada interval 50% - 59% dan skor yang menempati klasifikasi sangat kurang adalah 0 – 49%
Klasifikasi dan interval skor tersebut dapat dilihat pada tabel : Tabel 9. Klasifikasi dan interval skor
Interval Skor (%) Klasifikasi keterampilan 0 – 49 Sangat Kurang
50 – 59 Kurang
60 – 72 Cukup
73 – 86 Tinggi
87 – 100 Sangat Tinggi
Tabel 10. Persentase dan klasifikasi skor keterampilan siswa pada observasi, diskusi I, dan diskusi II
Kode Siswa
Observasi Diskusi I Diskusi II %
Skor Klasifikasi
%
Skor Klasifikasi
% Skor
Klasifikasi
4) Dari tabel nilai dan klasifikasi keterampilan siswa dalam pembelajaran kooperatif dapat diketahui banyaknya siswa yang menunjukkan keterampilan pada saat pembelajaran berlangsung. Cara menghitung banyaknya siswa yang menguasai konsep perpindahan kalor dengan menjumlah banyaknya siswa sesuai dengan klasifikasi yang ditempati.
Tabel 11. Jumlah dan klasifikasi keterampilan siswa
Interval Skor (%)
Klasifikasi Ketrampilan
Jumlah siswa
Observasi Diskusi I Diskusi II
b. Hasil peningkatan keterampilan
Setelah hasil muncul, kita dapat menyimpulkan : a) Apabila p = 0 .000 < α = 0.05 maka signifikan
56 BAB IV
DATA, ANALISIS DATA, DAN PEMBAHASAN
A. Data dan Analisis Data
Pada penelitian ini, peneliti mengambil beberapa data yaitu : pretest, kegiatan diskusi I, kegiatan diskusi II, ketrampilan kooperatif siswa dan posttest.
1. Ada tidaknya peningkatan pemahaman siswa SMP N 2 Moyudan tentang materi perpindahan kalor.
a. Menganalisis konsep awal dan akhir siswa tentang perpindahan kalor.
Tabel 12. Persentase rata-rata peningkatan pemahaman siswa
No. Soal Pretest (%) Posttest (%)
Peningkatan (%)
1 0 92,31 92,31
2 21,03 43,59 22,56 3 53,85 60,77 6,92 4 21,11 68,27 47,16 5 0 50 50 %
Tabel 13.Nilai dan klasifikasi siswa pada pretest dan posttest
Kode Siswa
Pretest (X1) Posttest (X2) Skor Klasifikasi Skor Klasifikasi
Kode Siswa
Pretest (X1) Posttest (X2) Skor Klasifikasi Skor Klasifikasi 23 11 Sangat kurang 44 Sangat kurang
24 33 Sangat kurang 78 Baik
25 28 Sangat kurang 78 Baik
26 33 Sangat kurang 78 Baik
Tabel 14. Jumlah dan klasifikasi siswa pada pretest dan posttest
Interval Klasifikasi Jumlah Siswa
Pretest Posttest
89 – 100 Sangat baik 0 2
77 – 88 Baik 0 5
65 – 76 Cukup 0 10
50 – 64 Kurang 0 0
0 – 49 Sangat kurang 26 9
Jumlah 26 26
b. Hasil belajar yang dicapai dalan pembelajaran menggunakan menggunakan metofe kooperatif.
Tabel 15. Hasil analisis pretest dan posttest
Paired Samples Statistics
Mean N Std. Deviation Std. Error Mean
Pair 1 pretest 23.31 26 13.308 2.610
posttest 61.12 26 20.831 4.085
Paired Samples Correlations
N Correlation Sig.
Pair 1 pretest & posttest 26 .533 .005
Paired Samples Test
Paired Differences
T df Sig. (2-tailed) Mean Std. Deviation Std. Error Mean
95% Confidence Interval of the Difference
Lower Upper
Pair 1 pretest – posttest -37.808 17.765 3.484 -44.983 -30.632 -10.852 25 .000
2. Diskusi I
Tabel 16. Persentase tingkat ketercapaian siswa untuk diskusi I No. Soal Persentase
Ketercapaian (%)
Tabel 17. Nilai dan klasifikasi siswa dalam pembelajaran kooperatif pada diskusi I
Kode
Siswa Nilai Klasifikasi
Kode
Siswa Nilai Klasifikasi
17 80 Cukup
Tabel 18. Jumlah dan klasifikasi siswa pada diskusi I
Interval Klasifikasi Jumlah Siswa
89 – 100 Sangat baik 0
Tabel 19. Nilai dan klasifikasi siswa dalam pembelajaran kooperatif pada diskusi II
Kode Siswa
Konduksi Konveksi Radiasi
Nilai Klasifikasi Nilai Klasifikasi Nilai Klasifikasi
Kode Siswa
Konduksi Konveksi Radiasi
Nilai Klasifikasi Nilai Klasifikasi Nilai Klasifikasi 8 91 Sangat baik 70 Cukup 44 Sangat kurang
Tabel 20. Jumlah dan klasifikasi siswa pada diskusi II
Interval Klasifikasi Jumlah Siswa
Konduksi Konveksi Radiasi
4. Keterampilan siswa dalam pembelajaran menggunakan metode kooperatif
a. Menganalisis keterampilan siswa selama kegiatan observasi, diskusi I dan diskusi II.
Tabel 21. Persentase dan klasifikasi skor keterampilan siswa pada observasi, diskusi I, dan diskusi II
Kode Siswa
Observasi Diskusi I Diskusi II %
Skor Klasifikasi
%
Skor Klasifikasi
Tabel 22. Klasifikasi keterampilan siswa Interval
Skor (%)
Klasifikasi Ketrampilan
Jumlah siswa
Observasi Diskusi I Diskusi II
89 – 100 Sangat Tinggi - 1 9
77 – 88 Tinggi - 15 11
65 – 76 Cukup 10 3 4
50 – 64 Kurang 9 7 2
0 – 49 Sangat Kurang 7 - 0
Selain aspek-aspek pada keterampilan siswa yang muncul selama, ada beberapa sikap siswa lainnya yang muncul selama pembelajaran. Adapun sikap siswa yang muncul antara lain :
Observasi :
• Siswa dengan kode 5, 8, 12, 15, 16, 18, 19, 20, dan 22 terlihat ngobrol ketika guru menerangkan.
• Siswa dengan kode 13 tertidur saat kegiatan pembelajaran.
• Siswa dengan kode 17, 25, dan 26 asyik menggambar.
Diskusi I :
• Siswa dengan kode 4 dan 24sempat bercanda ketika pembelajaran.
• Peningkatan keterampilan siswa dalam pembelajaran menggunakan metode kooperatif
Paired Samples Statistics
N Correlation Sig. Pair 1 observasi & diskus.1 26 .289 .152
95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper
Paired Samples Statistics
Mean N Std. Deviation
Std. Error Mean
Pair 1 diskus.1 69.81 26 13.075 2.564
diskus.2 78.85 26 12.830 2.516
Paired Samples Correlations
N Correlation Sig. Pair 1 diskus.1 & diskus.2 26 .714 .000
Paired Samples Test
95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper
Pair 1 diskus.1 - diskus.2 -9.038 9.800 1.922 -12.997 -5.080 -4.703 25 .000
Paired Samples Statistics
Mean N Std. Deviation
Std. Error Mean
Pair 1 observasi 2.77 26 .587 .115
Discus.1 3.88 26 .864 .169
Paired Samples Correlations
N Correlation Sig. Pair 1 observasi & diskus.1 26 .182 .373
Paired Samples Test
95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper