BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Peran Aktif Siswa
1. Pengertian Peran Aktif
Menurut Sudjana (1989 : 10) peran aktif adalah partisipasi subjek didik dalam kegiatan belajar mengajar dengan menekankan peran aktif siswa dalam pengolahan pesan pelajaran. Slameto (2003 : 36) menjelaskan bahwa dalam proses belajar, guru perlu menimbulkan aktivitas siswa dalam berpikir maupun berbuat. Penerimaan pelajaran jika dengan aktivitas siswa sendiri, kesan itu tidak akan berlaku begitu saja, tetapi dipikirkan, diolah kemudian dikeluarkan lagi dalam bentuk yang berbeda. Atau siswa akan bertanya mengajukan pendapat, menimbulkan diskusi dengan guru. Bila siswa menjadi partisipasi aktif, maka ia memiliki ilmu atau pengetahuan itu dengan baik.
Dari uraian di atas maka dapat dikatakan bahwa yang dimaksud dengan peran aktif adalah kegiatan siswa dalam pembelajaran yang meliputi pengajuan pendapat, bertanya serta menimbulkan diskusi dengan guru.
Menurut Heinz (1981 : 65) untuk belajar secara aktif siswa bekerja sendiri misalnya melalui:
c). Siswa belajar bertanya.
d). Siswa mengambil keterangan dari buku maupun dari penjelasan guru. e). Siswa dapat mendiskusikan sesuatu hal dengan kawannya.
f). Siswa dapat melakukan satu percobaan sendiri. g). Siswa bertanggung jawab atas hasil pekerjaannya.
2. Ciri-ciri Pembelajaran Yang Menuntut Peran Aktif Siswa
Menurut Sudjana (1989 : 110) ciri-ciri proses belajar mengajar yang menuntut siswa untuk berperan aktif adalah sebagai berikut:
a. Siswa tidak hanya menerima informasi, tetapi lebih banyak mencari dan memberi informasi.
b. Siswa banyak mengajukan pertanyaan, baik kepada guru maupun kepada siswa lainnya.
c. Siswa lebih banyak mengajukan pendapat terhadap informasi yang disampaikan oleh guru atau terhadap pendapat yang diajukan oleh siswa lain.
d. Siswa memberikan respon nyata terhadap stimulus belajar yang diberikan oleh guru seperti membaca, mengerjakan tugas, mendiskusikan pemecahan masalahnya dengan teman sekelas, bertanya kepada siswa lain bila mendapat kesulitan, mencari informasi dari beberapa sumber belajar, dan kegiatan nyata lainnya. e. Siswa berkesempatan melakukan penilaian sendiri terhadap hasil
f. Siswa membuat sendiri kesimpulan pelajaran dengan bahasa dan cara masing-masing baik secara mandiri maupun secara berkelompok.
g. Siswa memanfaatkan sumber belajar atau lingkungan belajar yang ada disekitarnya secara optimal dalam kegiatannya, merespon stimulus belajar yang diberikan oleh guru.
B. Prestasi Belajar Matematika
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdiknas, 2007: 895), prestasi adalah hasil yang telah dicapai (dari yang telah dilakukan, dikerjakan, dan sebagainya). Sedangkan prestasi belajar diartikan sebagai penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru. Winkel (1996: 226) mengemukakan bahwa prestasi belajar merupakan bukti keberhasilan yang telah dicapai oleh seseorang. Maka prestasi belajar merupakan hasil maksimum yang dicapai oleh seseorang setelah melaksanakan usaha-usaha belajar. Sedangkan menurut Arifin (2009: 12) istilah prestasi belajar (achievement) berbeda dengan hasil belajar (learning outcome). Prestasi belajar umumnya berkenaan dengan aspek pengetahuan, sedangkan hasil belajar meliputi aspek pembentukan watak peserta didik.
1. Prestasi belajar sebagai indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan yang telah dikuasai oleh peserta didik.
2. Prestasi belajar sebagai lambang pemuasan hasrat ingin tahu. Para ahli psikologi biasanya menyebut hal ini sebagai “tendensi keingintahuan (couriosity) dan merupakan kebutuhan umum manusia”
3. Prestasi belajar sebagai bahan informasi dalam inovasi pendidikan. Asumsinya adalah prestasi belajar dapat dijadikan pendorong bagi peserta didik dalam meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan berperan sebagai umpan balik (feedback) dalam meningkatkan mutu pendidikan. 4. Prestasi belajar sebagai indikator intern dan ekstern dari suatu institusi
pendidikan. Indikator intern dalam arti bahwa prestasi belajar dapat dijadikan indikator tingkat produktivitas suatu institusi pendidikan. Asumsinya adalah kurikulum yang digunakan relevan dengan kebutuhan masyarakat dan anak didik. Indikator ekstern dalam arti bahwa tinggi rendahnya prestasi belajar dapat dijadikan indikator tingkat kesuksesan peserta didik di masyarakat. Asumsinya adalah kurikulum yang digunakan relevan pula dengan kebutuhan masyarakat.
5. Prestasi belajar dapat dijadikan indikator daya serap (kecerdasan) peserta didik. Dalam proses pembelajaran, peserta didik menjadi focus utama yang harus diperhatikan, karena peserta didiklah yang diharapkan dapat menyerap seluruh materi pelajaran.
tertentu dari kegiatan belajar proses pengukurannya menggunakan tes/ penilaian dalam pembelajaran matematika.
Prestasi belajar tidak hanya dimaksudkan untuk memperlihatkan kemampuan-kemampuan, tetapi juga memberikan umpan balik, baik bagi siswa maupun guru. Bagi siswa setelah menerima umpan balik akan mengetahui kemampuan dirinya yang menunjukkan apakah sudah atau belum mencapai tujuan belajar yang diharapkan.
Sedangkan bagi guru akan memberikan informasi tentang pengajaran yang telah dilakukannya apakah sudah atau belum berhasil. Guru akan mengetahui apakah metode yang telah diterapkan tepat dan efektif atau tidak. Hal ini akan menjadi bahan masukkan bagi guru dalam memberikan pengajaran yang lebih baik untuk pengajaran selanjutnya.
C. Pembelajaran Kooperatif
a. Pengertian Pembelajaran Kooperatif
b. Tujuan Pembelajaran Kooperatif
Isjoni (2010 : 21) menjelaskan bahwa tujuan utama dalam penerapan model belajar mengajar kooperatif adalah agar peserta didik dapat belajar secara berkelompok bersama teman-temannya dengan cara saling menghargai pendapat dan memberikan kesempatan pada orang lain untuk mengemukakan gagasannya dengan menyampaikan pendapat mereka secara berkelompok.
c. Ciri-ciri Pembelajaran Kooperatif
Menurut Isjoni (2010 : 20) beberapa ciri dari pembelajaran kooperatif adalah:
a. Setiap anggota memiliki peran
b. Terjadi hubungan interaksi langsung diantara siswa
c. Setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas belajarnya dan juga teman-teman sekelompoknya.
d. Guru membantu mengembangkan keterampilan-keterampilan interpersonal kelompok
e. Guru hanya berinteraksi dengan kelompok saat diperlukan d. Tahap-tahap Pembelajaran Kooperatif
Tabel 1.1. Tahap Pembelajaran Kooperatif
Tahap Kegiatan Guru
Tahap 1
Menyampaikan tujuan dan motivasi siswa
Tahap 2
Menyajikan informasi Tahap 3
Mengorganisasikan
siswa ke dalam kelompok-kelompok
belajar Tahap 4
Membimbing kelompok bekerja dan belajar Tahap 5
Evaluasi
Tahap 6
Memberi penghargaan
Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membentuk setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien
Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas mereka
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yamg telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya
Guru mencapai cara-cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok
e. Manfaat Pembelajaran Kooperatif
Menurut Buchari (2010 : 97) manfaat pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut:
a. Terjadi pengembangan kualitas diri peserta didik. b. Siswa belajar saling terbuka, saling percaya, dan rileks.
c. Siswa belajar bertukar pikiran dalam suasana penuh keakraban.
e. Mendorong tumbuhnya tanggung jawab sosial, meningkatkan gairah belajar.
f. Muncul sifat kesetiakawanan dan keterbukaan diantara siswa. g. Berkembangnya perilaku demokratisasi dalam kelas.
h. Meningkatkan prestasi siswa, jika model belajar ini betul-betul diterapkan secara tepat.
i. Memberi kesempatan siswa untuk berinteraksi secara aktif dalam kelompok.
j. Terbentuk keterampilan berpikir kritis dan kerjasama.
k. Muncul persatuan, hubungan antar pribadi yang positif, menghargai bimbingan dari teman, menghargai nilai.
D. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD a. Pengertian STAD
Menurut Slavin (dalam Isjoni, 2010 : 51) pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, sehingga tipe ini dapat digunakan oleh guru-guru yang baru mulai menggunakan pendekatan pembelajaran kooperatif.
ganjaran kecil harus diberikan kepada kelompok yang kinerjanya baik, dan (2) harus ada tanggung jawab individual, artinya keberhasilan kelompok itu harus ditentukan oleh hasil belajar individual dari seluruh anggota kelompok.
Mengacu pada siklus pembelajaran kooperatif tipe STAD di atas, maka pembelajaran dapat dilaksanakan sebagai berikut:
a. Mengajar
Presentasi materi pelajaran dalam bentuk penyajian informasi dilakukan di dalam kelas pada awal setiap kali pertemuan. Penyajian informasi dilakukan secara audio visual melalui pengajaran secara langsung atau dengan menggabungkan ceramah dan diskusi.
b. Belajar dalam tim
Anggota kelompok menggunakan lembar kegiatan atau perangkat pelajaran yang lain untuk menuntaskan materi pelajaran dengan cara berdiskusi, membandingkan jawaban-jawaban, memeriksa guna memperbaiki kesalahan-kesalahan dan kemudian saling membantu satu sama lain untuk memahami bahan pelajaran.
c. Tes
d. Penghargaan kelompok
Ada tiga tingkat penghargaan yang diberikan untuk prestasi kelompok berdasarkan nilai perkembangan yang diperoleh kelompok. Ketiga penghargaan tersebut adalah sebagai berikut:
Super team : diberikan bagi kelompok yang memperoleh skor rata-rata 25-30
Great team : diberikan bagi kelompok yang memperoleh skor rata-rata 15-24
Good team : diberikan bagi kelompok yang memperoleh skor rata-rata 5-14
b. Langkah-langkah STAD
Menurut Slavin (2009 : 143-163) langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah sebagai berikut:
a. Persiapan 1) Materi
2) Pembagian kelompok-kelompok kooperatif
Kelompok-kelompok dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD merupakan kelompok yang heterogen. Setiap kelompok beranggotakan 4 atau 5 siswa yang terdiri atas siswa yang dianggap pandai, sedang, dan rendah di dalam kelas tersebut. Selain itu juga perlu dipertimbangkan kriteria yang lain seperti jenis kelamin, latar belakang sosial, kesenangan, dan lain-lain. Pembagian kelompok ini dipercayakan sepenuhnya kepada guru mata pelajaran matematika dan melarang siswa memilih kelompoknya sendiri. Hal ini bertujuan untuk menghindari kecenderungan siswa memilih teman yang disenangi saja.
3) Menentukan skor awal
Skor awal yang dapat digunakan dalam kelas kooperatif adalah nilai pretest/ ulangan sebelumnya. Skor awal ini dapat berubah setelah ada kuis. Misalnya ada pembelajaran lebih lanjut dan setelah diadakan tes, maka hasil tes masing-masing individu dapat dijadikan skor awal.
4) Kerja sama kelompok
b. Penyajian Materi
Penyajian materi dalam kegiatan pembelajaran kooperatif terdiri dari tiga kegiatan yaitu:
1) Pendahuluan
Dalam pendahuluan ditekankan pada apa yang akan dipelajari siswa dalam kelompok, serta tujuan yang ingin dicapai siswa.
2) Pengembangan
- Mengembangkan materi pelajaran sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai siswa.
- Menekankan siswa mempelajari dan memahami makna yang dipelajari, bukan hafalan.
- Mengecek pemahaman siswa sesering mungkin dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan.
- Menjelaskan mengapa jawaban siswa benar atau salah.
- Melanjutkan ke materi berikutnya jika siswa telah memahami pokok masalahnya.
3) Praktek Terkendali
Praktek terkendali dalam menyajikan materi dilakukan dengan kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
- Menyuruh siswa mengerjakan soal-soal atau menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan.
- Menyuruh siswa menyelesaikan soal yang diperkirakan tidak terlalu menyita waktu dalam menyelesaikannya.
c. Kuis
Setiap siswa menerima satu lembar kuis, dan pada saat menyelesaikan kuis tersebut siswa dilarang bekerja sama. Hal ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa selama bekerja dalam kelompok. Hasil kuis ini digunakan sebagai nilai perkembangan siswa serta digunakan sebagai nilai perkembangan kelompok. Dan skala yang diberikan dalam mengetahui nilai perkembangan kelompok adalah:
Lebih dari 10 poin di bawah skor dasar 5 poin 10 poin di bawah sampai 1 poin di bawah skor dasar 10 poin Skor dasar sampai 10 poin di atas skor dasar 20 poin Lebih dari 10 poin di atas skor dasar 30 poin d. Penghargaan Kelompok
Penghargaan kelompok dilakukan dalam dua tahap perhitungan, yaitu:
1) Menghitung skor individu dan skor kelompok
2) Menghargai prestasi kelompok
Ada tiga tingkat penghargaan yang dapat diberikan dalam penghargaan prestasi kelompok yaitu kelompok baik, sedang, dan super.
c. Kelebihan dan Kekurangan STAD Kelebihan:
a. Siswa bekerja sama dalam mencapai tujuan dengan menjunjung tinggi norma-norma kelompok.
b. Siswa aktif membantu dan mendorong semangat untuk sama-sama berhasil.
c. Aktif berperan sebagai tutor sebaya untuk lebih meningkatkan keberhasilan kelompok.
d. Interaksi antar siswa seiring dengan peningkatan kemampuan mereka dalam berpendapat.
Kelemahan:
a. Bila ditinjau dari sarana kelas, maka mengatur tempat duduk untuk kerja kelompok sangat menyita waktu, hal ini disebabkan belum tersedianya ruangan-ruangan khusus yang memungkinkan secara langsung dapat digunakan untuk belajar kelompok.
c. Guru dituntut bekerja cepat dalam menyelesaikan tugas-tugas yang berkaitan dengan pembelajaran yang dilakukan, diantaranya mengoreksi kegiatan siswa, menghitung skor perkembangan, maupun menghitung skor rata-rata kelompok, bila hal ini harus dilakukan pada setiap akhir pertemuan.
d. Memerlukan waktu dan biaya yang banyak dalam mempersiapkan maupun melaksanakan pembelajaran.
(Ibrahim, 2000 : 71-77)
E. Mata Pelajaran Matematika Pokok Bahasa Himpunan
Pokok bahasan dalam penelitian ini adalah Himpunan, dengan cakupan: a. Menjelaskan irisan dan gabungan dua himpunan
b. Menjelaskan selisih (difference) suatu himpunan dari himpunan lainnya c. Menjelaskan komplemen dari suatu himpunan
d. Menyajikan irisan dan gabungan dua himpunan dengan diagram Venn e. Menyajikan selisih (difference) suatu himpunan dari himpunan lainnya
dengan diagram Venn
F. Kerangka Berfikir Keadaan awal siswa: Peran aktif siswa:
1. Siswa tidak mencari jalan untuk memecahkan masalah sendiri. 2. Sedikit siswa yang menjawab pertanyaan guru.
3. Siswa malu untuk bertanya pada guru.
4. Sedikit siswa yang mengambil keterangan dari buku maupun dari penjelasan guru.
5. Banyak siswa yang berdiskusi hal lain saat pelajaran.
6. Sedikit siswa yang mencoba mengerjakan soal-soal dari buku referensi lain.
7. Sedikit siswa yang menjawab benar. Prestasi belajar yang masih rendah
Kemampuan siswa:
1. Dapat mencari jalan untuk memecahkan masalah sendiri. 2. Dapat menjawab pertanyaan guru.
3. Dapat belajar bertanya.
4. Dapat mengambil keterangan dari buku maupun dari penjelasan guru.
5. Dapat mendiskusikan sesuatu hal dengan kawannya. 6. Dapat melakukan suatu percobaan.
7. Dapat bertanggung jawab atas hasil pekerjaannya
Pembelajaraan kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD) dapat meningkatkan peran aktif dan prestasi belajar matematika
Dari permasalahan-permasalah rendahnya peran aktif dan prestasi belajar matematika siswa di VII C yang telah disampaikan di atas, diperlukan suatu pembelajaran yang dapat meningkatkan peran aktif dan prestasi belajar matematika siswa. Salah satu pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan peran aktif dan prestasi belajar matematika siswa adalah pembelajaran kooperatif tipe STAD. Dalam pembelajaran tersebut dapat membuat siswa aktif membantu dan mendorong semangat untuk sama-sama berhasil, untuk bekerja sama dalam mencapai tujuan dengan menjunjung tinggi norma-norma kelompok, agar siswa aktif berperan sebagai tutor sebaya untuk lebih meningkatkan keberhasilan kelompok dan meningkatkan interaksi antar siswa dalam mengemukakan pendapat. Siswa berkelompok yang dibentuk secara heterogen, ini dapat memberi kesempatan pada siswa untuk saling bertukar pikiran dan saling melengkapi dalam mempelajari dan memahami materi, sehingga siswa mengetahui jawaban yang benar dan salah.
Kemudian siswa disuruh mengerjakan soal-soal yang dilontarkan oleh guru dan memanggil secara acak untuk mengerjakan di depan. Mengadakan kuis dan menghitung perkembangan nilai individu dan kelompok. Memberi penghargaan kelompok dengan menghitung skor individu dan skor kelompok, serta menghargai prestasi kelompok.
Dengan demikian diharapkan pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams Achivement Division (STAD) dapat meningkatkan peran aktif dan
G. Hipotesis Tindakan