• Tidak ada hasil yang ditemukan

Oleh: Sutiyah SDN 1 Karangan, Karangan, Trenggalek

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Oleh: Sutiyah SDN 1 Karangan, Karangan, Trenggalek"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR SISWA BIDANG STUDI IPS

MATERI KERAGAMAN SUKU BANGSA DAN BUDAYA DI

INDONESIA DENGAN MENERAPKAN METODE BELAJAR

KOOPERATIF STAD PADA SISWA KELAS V SEMESTER I TAHUN

2014/2015 SDN 1 KARANGAN KECAMATAN KARANGAN

KABUPATEN TRENGGALEK

Oleh: Sutiyah

SDN 1 Karangan, Karangan, Trenggalek

Abstrak. Tujuan penelitian ini adalah untuk Mengetahui Peningkatan Prestasi Belajar Siswa Bidang Studi IPS Materi Keragaman Suku Bangsa Dan Budaya Di Indonesia Dengan Menerapkan Metode Belajar Kooperatif STAD Pada Siswa Kelas V SDN 1 Karangan Kecamatan Karangan Kabupaten Trenggalek Semester I Tahun 2014/2015. Metode Belajar kooperatif adalah suatu cara mengajar dimana siswa di dalam kelas dipandang sebagai suatu kelompok atau dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 5 siswa, mereka bekerja bersama dalam memecahkan masalah, atau melaksanakan tugas tertentu, dan berusaha mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan pula oleh guru. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan selama dua siklus dapat disimpulkan bahwa: (1) Dengan membagi kelas dalam kelompok-kelompok kecil memudahkan guru untuk menguasai kelas dan menjadi fasilitator dan motivator secara merata. Dalam pembelajaran kooperatif STAD ini kelas dibagi dalam 5 kelompok. Setiap kelompok mempunyai tanggung jawab yang sama untuk menyelesaikan permasalahan yang diberikan oleh guru. Dalam pembelajaran kooperatif STAD setiap anggota kelompok mempunyai tanggung jawab yang sama dalam kelompoknya, dalam artian adanya kebergantungan yang positif dalam diri siswa. Selain itu dalam pembelajaran kelompok, kepala sekolah senantiasa memotivasi guru kelas untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dengan memberikan reward tersendiri kepada siswa yang aktif. Dengan cara ini cukup mampu memotivasi siswa untuk terlibat aktif dalam pembelajaran. Untuk mengetahui motivasi belajar siswa, peneliti melakukan serangkaian tes evaluasi. Dari hasil tes evaluasi diketahui bahwa prestasi belajar bidang studi IPS sebelum siklus diperoleh nilai rata - rata 59,65 dengan persentase ketuntasan belajar siswa 40,00% , siklus I diperoleh nilai rata - rata: 71,00 dengan persentase ketuntasan belajar siswa sebesar 80% dan pada siklus II mengalami peningkatan menjadi: 84,00 dengan persentase ketuntasan belajar siswa sebesar 100,00%. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan Metode Pembelajaran Kooperatif STAD dapat meningkatkan motivasi belajar bidang studi IPS pada siswa Kelas V Semester I SDN 1 Karangan Tahun 2014/2015.

Kata kunci: Prestasi Belajar, IPS, Kooperatif STAD

Mata pelajaran IPS dirancang untuk mengembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan siswa terhadap kondisi sosial di masyarakat. Kemampuan tersebut diperlukan untuk memasuki kehidupan ma-syarakat yang dinamis. Mata pelajaran IPS disusun secara sistematis, komprehensif, dan

terpadu dalam proses pembelajaran menuju kedewasaan dan keberhasilan dalam kehi-dupan di masyarakat. Dengan pendekatan tersebut diharapkan siswa akan memperoleh pemahaman yang lebih luas dan mendalam pada bidang ilmu yang berkaitan. Mata pelajaran IPS bertujuan untuk agar siswa:

(2)

(1) Memiliki kemampuan memahami kon-sep-konsep yang berkaitan dengan kehidup-an masyarakat dkehidup-an lingkungkehidup-annya, (2) Ber-pikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, meme-cahkan masalah, dan ketrampilan dalam kehidupan sosial, (3) Berkomitmen terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan, (4) Ber-komunikasi, bekerjasama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk tingkat lo-kal, nasional dan global. Mata pelajaran IPS dirancang untuk mengembangkan penge-tahuan, pemahaman, dan kemampuan ana-lisis terhadap kondisi social masyarakat da-lam memasuki kehidupan bermasyarakat yang dinamis. (Bambang Doroeso. 1988. 190)

Adapun ruang lingkup mata pelajaran IPS meliputi beberapa aspek yaitu 1) manu-sia, tempat dan lingkungan, 2) waktu, berke-lanjutan, dan perubahan, 3) perilaku ekono-mi dan kesejahteraan, 4) sistem sosial dan budaya.

Dimasa yang akan datang peserta di-dik akan menghadapi tantangan berat karena kehidupan masyarakat global selalu meng-alami perubahan setiap saat. Oleh karena itu mata pelajaran IPS dirancang untuk me-ngembangkan pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan analisis terhadap kondisi sosial masyarakat dalam memasuki kehidup-an bermasyarakat ykehidup-ang dinamis.

Mata pelajaran IPS disusun secara sistematis, komprehensif, dan terpadu dalam proses pembelajaran menuju kedewasaan dan keberhasilan dalam kehidupan di masyarakat. Dengan pendekatan tersebut diharapkan peserta didik akan memperoleh pemahaman yang lebih luas dan mendalam pada bidang ilmu yang berkaitan.

Dengan strategi pembelajaran ini sis-wa dituntut untuk lebih aktif. Pada saat ini dalam kegiatan belajar dan mengajar guru

sering menggunakan berbagai macam meto-de antara lain metometo-de ceramah, tanya jawab, dan lain-lain. Metode-metode tersebut meru-pakan metode lama yang sudah sangat dinal oleh guru dan siswa. Oleh karena itu, ke-dangkalan penerapan metode tersebut me-nyebabkan siswa tidak tertarik lagi dan merasa bosan karena sering melakukannya. Akibatnya siswa menjadi kurang berminat dalam pembelajaran. Fokus permasalahan yang diprioritaskan dalam penelitian ini adalah adanya keinginan untuk mengem-bangkan pembelajaran untuk menghadapi permasalahan yang dihadapi guru di kelas. Permasalahan yang akan dikembangkan da-lam penelitian ini adalah bagaimana meningkatkan motivasi belajar siswa dalam mata pelajaran IPS. Dan tentunya ini ber-pengaruh terhadap prestasi belajar siswa.

Menurut WJS. Purwadarminta dalam “Kamus Umum Bahasa” mengatakan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang dicapai atau dilakukan (Poerwadarminta, 1976: 768). Tanpa disadari, sering diucapkan kata “prestasi” baik itu dalam kegiatan maupun dalam pendidikan. Dalam kenyataannya prestasi yang diperoleh tiap-tiap orang tidak sama, karena kemampuan seseorang itu tidak sama.

Bentuk prestasi belajar itu tidak bisa dipandang dari nilai yang diperoleh dari hasil ulangan saja, tetapi prestasi dapat dili-hat dari segi yang lain. Simon Bloom dalam buku “Supervisi Pendidikan “ menjelaskan bahwa bentuk prestasi belajar mencakup tiga mantra, yaitu: kognifikan, afektif dan psikomotorik (simon, 1987: 68).

Dalam kenyataannya, kemampuan da-lam memahami kegiatan siswa rendah, hal itu dapat dilihat dari nilai ulangan harian dan raport sebelumnya. Nilai ulangan harian siswa secara rata-rata hanya mampu

(3)

men-capai taraf kurang dari target ketuntasan belajar. Hal tersebut di atas disebabkan oleh guru yang hanya menggunakan metode ce-ramah, urutan materi mengajar tidak runtut, guru hanya menggunakan papan tulis, dan guru tidak menggunakan metode yang tepat sehingga para siswa kehilangan minat untuk belajar karena dianggap pelajaran ilmu sosial tidak menarik dan membosankan oleh Karena itu harus menggunakan metode yang tepat dalam pembelajaran.

Teknik Belajar Kooperatif ini sebagai salah satu Metode Belajar mengajar, ialah suatu cara mengajar dimana siswa di dalam kelas dipandang sebagai suatu kelompok atau dibagi menjadi beberapa kelompok. Se-tiap kelompok terdiri dari 3 sampai 5 siswa, mereka bekerja bersama dalam memecahkan masalah, atau melaksanakan tugas tertentu, dan berusaha mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan pula oleh guru. (Surakhmad, Winarno. 1978. 18).

Robert L. Cilstrap dan William R. Martin memberikan pengertian Kooperatif sebagai kegiatan sekelompok siswa yang bi-asanya berjumlah kecil, yang diorganisir un-tuk kepentingan belajar. Keberhasilan Ko-operatif ini menuntut kegiatan yang ko-operatif dari beberapa individu tersebut.

Demi menciptakan pendidikan yang lebih maju kita seharusnya menggunakan metode pembelajaran yang tepat. Salah satu-nya dengan menerapkan Metode Belajar ko-operatif STAD. Merupakan pendekatan pembelajaran yang paling sederhana. Siswa dalam satu kelas di pecah menjadi beberapa. Setiap kelompok harus heterogen, terdiri dari laki-laki dan perempuan berasal dari berbagai suku serta memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah. (Hadi, Sutrisno. 1987. 108)

Dalam penelitian ini, kajian diarahkan kepada pengembangan Metode Belajar Ko-operatif STAD, karena faktor penyebab yang lain menjadi bidang kajian tersendiri. Oleh karena itu, dalam penelitian ini diterapkan Metode Belajar Kooperatif ST-AD untuk mengatasi masalah tersebut di atas. Menurut Slavin, (1995) agar pembela-jaran dengan menerapkan metode kooperatif STAD dapat berhasil, maka langkah langkah yang harus dilakukan adalah: (1) Memben-tuk kelompok yang anggotanya + 4 orang secara heterogen (prestasi, jenis kelamin, su-ku, dll); (2) Guru menyajikan pelajaran; (3) Guru memberi tugas kepada kelompok un-tuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelom-pok; (4) Guru memberi kuis/pertanyaan ke-pada seluruh peserta didik. Pada saat men-jawab kuis tidak boleh saling membantu; (5) Memberi evaluasi; (6) Kesimpulan.

METODE PENELITIAN

Dalam penelitian tindakan kelas ini, penelitian dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus dilaksanakan dalam dua kali pertemuan. Dalam penelitian ini setiap per-temuan beralokasi waktu 2x45 menit. Pada tahap ini kegiatan penelitian memuat bebe-rapa kegiatan pra tindakan dan kegiatan pelaksanaan tindakan yang meliputi peren-canaan tindakan, pelaksanaan tindakan, pe-ngamatan dan refleksi. Kegiatan pelaksana-an Tindakpelaksana-an terdiri dari

Tahap Perencanaan

Dari kegiatan pra tindakan, disusun rencana tindakan perbaikan atas masalah masalah yang ada dalam pembelajaran. Pada tahap ini ditetapkan dan di susun rancangan perbaikan pembelajaran IPS dengan strategi Kooperatif tipe STAD. Kegiatan yang

(4)

dila-kukan dalam tahap perencanaan, meliputi: (a) Peneliti dan mitra guru/pengamat meru-muskan permasalahan secara operasional, relevan dengan rumusan masalah penelitian; (b) Peneliti dan mitra guru/pengamat meru-muskan hipotesis tindakan. Karena peneli-tian tindakan lebih meniti beratkan pada pendekatan naturalistik, maka hipotesis tin-dakan yang dirumuskan bersifat tentatif yang mungkin mengalami perubahan sesuai dengan keadaan lapangan; (c) Menetapkan dan merumuskan rancangan tindakan.

Tahap Tindakan

Kegiatan yang dilakukan dapat dike-mukakan sebagai berikut: (a) Guru melaku-kan tindamelaku-kan sesuai dengan rancangan yang telah dibuat; (b) Peneliti dan observer mela-kukan pengamatan dengan menggunakan format observasi, format catatan lapangan dan melakukan refleksi terhadap tindakan melalui diskusi.

Tahap Observasi/ Pengamatan

Selama proses pembelajaran berlang-sung pengamat mengobservasi kegiatan pembelajaran dengan menggunakan lembar observasi yang sudah dipersiapkan sebelum-nya. Observer juga mencatat segala sesuatu yang berhubungan dengan proses pembela-jaran yang tidak tersedia/tertampung dalam lembar observasi.

Tahap Refleksi

Peneliti dan kolaborator penelitian mendiskusikan hasil pengamatan yang telah dilakukan. Kegiatan yang dilakukan meli-puti: analisis, sintesis, pemaknaan, penjelas-an, dan penyimpulan data dan informasi yang berhasil dikumpulkan. Hasil yang diperoleh berupa temuan tingkat efektivitas pembelajaran dengan menggunakan strategi

Pembelajaran Kooperatif STAD Pembela-jaran Kooperatif STAD yang dirancang dan daftar permasalahan yang muncul di lapa-ngan yang selanjutnya dapat dipakai sebagai dasar untuk melakukan perencanaan ulang.

Subjek dalam penelitian ini adalah sis-wa kelas V SDN 1 Karangan Kecamatan Karangan Kabupaten Trenggalek yang ber-alamatkan di Jl. P. Sudirman No. 43. Jumlah subjek penelitian adalah 25 siswa dengan rincian 13 siswa laki laki dan 12 siswa pe-rempuan. Alasan peneliti melakukan pene-litian di kelas V SDN 1 Karangan dikare-nakan nilai rata rata siswa kelas V SDN 1 Karangan mata pelajaran IPS masih diba-wah KKM 75.

Dalam penelitian tindakan kelas ini, instrument yang digunakan adalah instru-men tes. Skor hasil tes siswa dalam instru- menger-jakan soal-soal yang meliputi tes pada tiap akhir siklus (siklus I dan siklus II). Hasil dari tes tersebut akan digunakan untuk meli-hat peningkatan pemahaman dan pencapaian hasil belajar siswa.

Data berupa hasil tes tulis siswa juga dianalisis dengan acuan terhadap ketuntasan belajar. Ketuntasan belajar yang digunakan adalah berdasarkan SKM (Standar Ketun-tasan Minimal) yang ditetapkan oleh seko-lah yaitu sebesar 75. Seorang siswa diang-gap tuntas belajarnya apabila siswa tersebut telah menyelesaikan sekurang-kurangnya 75% dari tujuan pembelajaran yang harus dicapai dan secara klasikal jika 85% dari banyaknya siwa kelas tersebut menyele-saikan sekurang-kurangnya 85% dari tujuan pembelajaran yang harus dicapai.

Dalam penelitian ini, rumus yang digunakan untuk mengetahui tingkat

(5)

pema-haman dan pencapaian skor hasil belajar siswa adalah sebagai berikut:

Presentase ketuntasan individual

% 100 1 x T T KB Dimana:

KB = presentase ketuntasan individual T = jumlah skor yang dicapai siswa T1 = jumlah skor ideal

(Trianto, 2010: 241)

Presentase ketuntasan kelas

% 100 % 1 x N X X

%X = presentase ketuntasan kelas X1 = jumlah siswa yang tuntas individual

N = jumlah seluruh siswa

KKM ( Kriteria Ketuntasan Minimal )

KKM ditetapkan oleh sekolah pada awal tahun pelajaran.KKM yang telah ditetapkan pada pelajaran IPS di SDN 1 Karangan adalah 75. Analisis ini dihitung dengan menggunakan statistik sederhana yaitu:

Untuk menilai ulangan atau tes formatif

Peneliti melakukan penjumlahan nilai yang diperoleh siswa, yang selanjutnya di-bagi dengan jumlah siswa yang ada di kelas tersebut sehingga diperoleh rata-rata tes formatif dapat dirumuskan:

N X X Dengan: X = Nilai rata-rata

Σ X = Jumlah semua nilai siswa Σ N = Jumlah siswa

Untuk ketuntasan belajar

Ada dua kategori ketuntasan belajar yaitu secara perorangan dan secara klasikal.

Berdasarkan petunjuk pelaksanaan belajar mengajar kurikulum 1994 (Depdikbud, 1994), yaitu seorang siswa telah tuntas bela-jar bila telah mencapai skor 65% atau nilai 65, dan kelas disebut tuntas belajar bila di kelas tersebut terdapat 85% yang telah men-capai daya serap lebih dari atau sama de-ngan 65%. Untuk menghitung persentase ketuntasan belajar digunakan rumus sebagai berikut: % 100 . . . x Siswa belajar tuntas yang Siswa P

HASIL DAN PEMBAHASAN Pra Siklus

Refleksi awal dilakukan sebelum tin-dakan siklus I yaitu dilaksanakan pada tang-gal 1 Oktober 2014. Dalam kegiatan ini pe-neliti selaku guru kelas V menjelaskan ma-teri seperti biasa dan dilanjutkan dengan memberikan soal test kepada siswa. Setelah melakukan tes, peneliti menganalis nilai sis-wa. setelah dianalisis, ternyata nilai rata rata siswa hanya mencapai 69,60 dengan ketun-tasan belajar sebesar 68,00%. Hal tersebut dikarenakan metode yang diterapkan oleh guru pengajar kurang bervariasi. Guru hanya menjelaskan dipapan tulis dan berceramah saja didepan kelas sementara siswa hanya mendengarkan dan mencatat apabila dibim-bing oleh guru pengajar. Sebagian siswa ju-ga masih ada yang ramai sendiri saat pela-jaran sehingga pembelapela-jaran dikelas terasa tidak kondusif.

Menyikapi hal tersebut, dengan mene-rapkan metode Kooperatif STAD diharap-kan mampu meningkatdiharap-kan prestasi belajar siswa.

(6)

Siklus I Perencanaan

Pada tahap ini kegiatan-kegiatan yang dilakukan antara lain: (a) Peneliti (guru kelas) bersama mitra guru (pengamat) me-nyusun perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana pembelajaran (RP); (b) Peneliti (guru kelas) menyusun petunjuk kegiatan siswa; (c) Peneliti (guru kelas) menyiapkan instrumen penelitian, yaitu lembar observasi guru dan siswa; (d) Peneliti (guru kelas) menyiapkan alat tes; (e) Peneliti (guru kelas) membuat perangkat sistem penilaian; (f) Menyusun jadwal penelitian.

Pelaksanaan

Pelaksanaan pembelajaran pada siklus dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah disusun peneliti. Kegiatan pada siklus I sebagai berikut:

Pertemuan pertama, terdiri dari: (1) Kegiatan Awal / Pendahuluan, meliputi: (a) Guru dan siswa berdoa bersama; (b) Guru mengabsen siswa; (c) Siswa mengacungkan tangan ketika diabsen guru. (2) Kegiatan In-ti, meliputi: (a) Guru meminta siswa untuk Membentuk kelompok yang anggotanya 5 siswa; (b) Guru menyajikan pelajaran; (c) Guru memberi tugas kepada kelompok un-tuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelom-pok; (d) Guru memberi kuis/pertanyaan ke-pada seluruh peserta didik. Pada saat men-jawab kuis tidak boleh saling membantu; (e) Guru memberikan soal evaluasi untuk diker-jakan siswa secara individu. (3) Kegiatan Akhir/Penutup, meliputi: (a) Guru bersama siswa menyimpulkan hasil pembelajaran pa-da pertemuan pertama; (b) Siswa bersama guru melakukan refleksi; (c) Guru mengu-mumkan materi yang akan dibahas pada per-temuan selanjutnya; (d) Guru membimbing

siswa berdoa bersama untuk mengakhiri pembelajaran.

Pertemuan kedua, terdiri dari: (1) Kegiatan Awal / Pendahuluan, meliputi: (a) Guru dan siswa berdoa bersama; (b) Guru mengabsen siswa; (c) Siswa mengacungkan tangan ketika diabsen guru. (2) Kegiatan Inti, meliputi: (a) Guru meminta siswa untuk Membentuk kelompok yang anggotanya 5 siswa; (b) Guru menyajikan pelajaran; (c) Guru memberi tugas kepada kelompok un-tuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelom-pok; (d) Guru memberi kuis/pertanyaan ke-pada seluruh peserta didik. Pada saat men-jawab kuis tidak boleh saling membantu; (e) Guru memberikan soal evaluasi untuk diker-jakan siswa secara individu. (3) Kegiatan Akhir/Penutup, meliputi: (a) Guru bersama siswa menyimpulkan hasil pembelajaran pa-da pertemuan pertama; (b) Siswa bersama guru melakukan refleksi; (c) Guru mengu-mumkan tes evaluasi pada pertemuan selan-jutnya; (d) Guru membimbing siswa berdoa bersama untuk mengakhiri pembelajaran.

Pengamatan

Pengamatan dilakukan oleh observer terhadap aktivitas pembelajaran di Kelas V baik untuk aktivitas siswa atau guru. Untuk aktivitas pada guru, guru tampak sudah mampu menerapkan metode pembelajaran dengan baik. Akan tetapi guru dalam memo-tivasi siswa untuk lebih aktif dalam kegiatan diskusi masih kurang. Guru belum mampu memberikan kesempatan kepada siswa yang berkemampuan rendah untuk terlibat secara aktif dalam pembelajaran. Untuk aktivitas guru dalam pembelajaran pada siklus I memperoleh persentase sebesar 70,00% dan termasuk dalam kriteria aktivitas yang baik.

Sedangkan untuk aktivitas siswa da-lam pembelajaran IPS dengan menerima

(7)

tin-dakan perbaikan pembelaajaran yang dilaku-kan oleh guru mendapatdilaku-kan apresiasi sebe-sar 65,00% dan termasuk dalam kriteria ak-tivitas yang baik. Akak-tivitas siswa yang ma-sih perlu ditingkatkan adalah keterlibatan siswa dalam kegiatan diskusi. Dari aktivitas pembelajaran yang semakin berkembang di Kelas V dalam pembelajaran IPS menunjuk-kan perkembangan prestasi yang baik. Hal ini dapat dilihat perolehan prestasi belajar siswa pada Tabel 1. Berdasarkan Tabel 1 da-pat diketahui bahwa nilai rata rata siswa mencapai 70,80 dengan ketuntasan belajar sebesar 76,00%.

Refleksi

Dari hasil pengamatan dapat direflek-sikan bahwa pembelajaran IPS di Kelas V sudah mengalami peningkatan menuju ke arah yang baik. Hal ini dapat dilihat dari aktivitas pembelajaran dan perolehan pres-tasi belajar siswa pada siklus I yang mening-kat. Akan tetapi dalam menerapkan metode pembelajaran kooperatif STAD di Kelas V masih ditemui kendala sehingga prestasi belajar siswa tidak maksimal. Hal ini terlihat

dari ketuntasan belajar siswa yang hanya mencapai 76,00%. Untuk itu diperlukan tin-dakan perbaikan pembelajaran pada siklus selanjutnya karena ketuntasan belajar masih kurang dari standart minimal yang diten-tukan yaitu 85,00%.

Siklus II Perencanaan

Perencanaan tindakan pada siklus II secara garis besar sama dengan siklus I, hanya saja pada siklus II ditambah dengan rencana perbaikan untuk mengatasi kendala pembelajaran yang muncul pada siklus I. Penambahan rencana perbaikan tindakan adalah guru akan lebih meningkatkan peran sebagai motivator dalam pembelajaran, guru lebih memotivasi siswa untuk lebih aktif dalam proses diskusi, guru membentuk nama anggota kelompok siswa secara heterogen baik dari segi jenis kelamin maupun tingkat kemampuan siswa, dan guru memberikan penghargaan/ reward kepada siswa yang aktif dalam diskusi kelas maupun presentasi.

Tabel 1 Nilai Siswa Pada Siklus I

No Nama Siswa Nilai Tuntas %Ketuntasan Tidak Tuntas

1 ACHILE KEZA ALAYSIA 90 T

2 AHMAD MA'RUF H 70 T

3 BONDAN TRI WIKANTO 70 T

4 DANU SUPRATMAN 70 T

5 DYAH RESTI FAUZY 70 T

6 DYAH TRI YULIANA 60 TT

7 FEBRICHA SANY V. 90 T

8 GARDA WIRA ARNANDA 70 T

9 JOVITA WIDYAWATI 70 T

10 M. SOLIKIN 70 T

11 MIKO RAHMAT S. 70 T

12 NABILLA AMANY NUR A. 60 TT

13 NANDA AYU TRI I 90 T

14 OKTAFIANZA AYU Z. 70 T

15 PIKI CANDRA FAJAR A. 80 T

16 RINGGA NAIYZA M. 70 T

17 ROSID JALU KUSUMO 70 T

(8)

No Nama Siswa Nilai Tuntas %Ketuntasan Tidak Tuntas 19 YOGA FATLA P. 90 T 20 ALIFIA SHABRINA M. 60 TT 21 ANGGA DIVA Y 70 T 22 ARFAN MAULANA N. 70 T 23 DEBITA FAULIRISMA G 50 TT 24 DARMA HARYO W. 70 T 25 DYAH SAYOJANAGANDHI 60 TT Jumlah 1770 19 6 Rata-rata 70.80 76.00 24.00 Pelaksanaan

Pelaksanaan tindakan pada siklus II akan peneliti diskripsikan dalam uraian berikut ini:

Pertemuan pertama, terdiri dari: (1) Kegiatan Awal / Pendahuluan, meliputi: (a) Guru dan siswa berdoa bersama; (b) Guru mengabsen siswa; (c) Siswa mengacungkan tangan ketika diabsen guru. (2) Kegiatan Inti, meliputi: (a) Guru membentuk nama anggota kelompok siswa secara heterogen baik dari segi jenis kelamin maupun tingkat kemampuan siswa; (b) Guru menyajikan pelajaran; (c) Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok; (d) Guru memberi kuis/ pertanyaan kepada seluruh peserta didik. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu; (e) Guru memberikan penghar-gaan kepada siswa yang aktif menjawab pertanyaan; (f) Guru memberikan soal evaluasi untuk dikerjakan siswa secara indi-vidu. (3) Kegiatan Akhir / Penutup, meli-puti: (a) Guru bersama siswa menyimpulkan hasil pembelajaran pada pertemuan pertama; (b) Siswa bersama guru melakukan refleksi; (c) Guru mengumumkan materi yang akan dibahas pada pertemuan selanjutnya; (d) Guru membimbing siswa berdoa bersama untuk mengakhiri pembelajaran.

Pertemuan kedua, terdiri dari: (1) Kegiatan Awal / Pendahuluan, meliputi: (a)

Guru dan siswa berdoa bersama; (b) Guru mengabsen siswa; (c) Siswa mengacungkan tangan ketika diabsen guru. (2) Kegiatan Inti, meliputi: (a) Guru membentuk nama anggota kelompok siswa secara heterogen baik dari segi jenis kelamin maupun tingkat kemampuan siswa; (b) Guru menyajikan pe-lajaran; (c) Guru memberi tugas kepada ke-lompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok; (d) Guru memberi kuis/ pertanyaan kepada seluruh peserta didik. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu; (e) Guru memberikan peng-hargaan kepada siswa yang aktif menjawab pertanyaan; (f) Guru memberikan soal eva-luasi untuk dikerjakan siswa secara individu. (3) Kegiatan Akhir / Penutup, meliputi: (a) Guru bersama siswa menyimpulkan hasil pembelajaran pada pertemuan pertama; (b) Siswa bersama guru melakukan refleksi; (c) Guru mengumumkan tes evaluasi pada pertemuan selanjutnya; (d) Guru membim-bing siswa berdoa bersama untuk meng-akhiri pembelajaran.

Pengamatan

Pengamatan pada siklus II dilakukan oleh observer dengan menggunakan format yang sama pada siklus I. Pada siklus II ini, guru telah mampu menjadi motivator yang baik dalam pembelajaran. Hal ini dapat dilihat dari siswa berkemampuan rendah maupun sedang sudah berani

(9)

mengemuka-kan gagasannya dalam kegiatan diskusi, sehingga pembelajaran di kelas menjadi aktif. Untuk aktivitas guru dalam pembela-jaran pada siklus II memperoleh persentase sebesar 80.00% dan termasuk dalam kriteria aktivitas yang baik.

Sedangkan untuk aktivitas belajar sis-wa dalam pembelajaran IPS dalam mene-rima tindakan perbaikan pembelajaran yang dilakukan oleh guru mendapatkan apresiasi

sebesar 77,50% dan termasuk dalam kriteria aktivitas yang baik. Dalam kegiatan diskusi semua siswa mampu terlibat secara aktif dalam kegiatan, sehingga tidak lagi didomi-nasi oleh siswa tertentu saja. Dari aktivitas pembelajaran yang semakin berkembang di Kelas V dalam pembelajaran IPS siklus II menunjukkan perkembangan prestasi yang baik. Hal ini dapat dilihat dari perolehan prestasi belajar siswa pada Tabel 2.

Tabel 2 Nilai Siswa Pada Siklus II

No Nama Siswa Nilai Tuntas % Ketuntasan TidakTuntas

1 ACHILE KEZA ALAYSIA 100 T

2 AHMAD MA'RUF H 70 T

3 BONDAN TRI WIKANTO 70 T

4 DANU SUPRATMAN 70 T

5 DYAH RESTI FAUZY 70 T

6 DYAH TRI YULIANA 70 T

7 FEBRICHA SANY V. 90 T

8 GARDA WIRA ARNANDA 100 T

9 JOVITA WIDYAWATI 70 T

10 M. SOLIKIN 70 T

11 MIKO RAHMAT S. 70 T

12 NABILLA AMANY NUR A. 90 T

13 NANDA AYU TRI I 100 T

14 OKTAFIANZA AYU Z. 70 T

15 PIKI CANDRA FAJAR A. 100 T

16 RINGGA NAIYZA M. 70 T

17 ROSID JALU KUSUMO 70 T

18 WINDI HARDIYANTI R 70 T 19 YOGA FATLA P. 90 T 20 ALIFIA SHABRINA M. 100 T 21 ANGGA DIVA Y 100 T 22 ARFAN MAULANA N. 100 T 23 DEBITA FAULIRISMA G 90 T 24 DARMA HARYO W. 90 T 25 DYAH SAYOJANAGANDHI 90 T Jumlah 2080 25 0 Rata-rata 83.20 100.00 0.00

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa nilai rata rata siswa sebesar 83,20 dengan ketuntasan belajar sebesar 100%.

Refleksi

Dari hasil pengamatan pada siklus II dapat direfleksikan bahwa metode

pembela-jaran dapat diterapkan secara optimal di Ke-las V. Hal ini dapat dilihat dari teratasinya kendala yang muncul pada siklus I sehingga persentase ketuntasan belajar siswa meng-alami peningkatan. Ketuntasan belajar siswa mencapai 100,00% sedangkan untuk nilai rata-rata pada siklus ke II mencapai 83,20

(10)

Untuk itu tidak diperlukan lagi perbaikan tindakan pada siklus selanjutnya.

Penerapan Metode Kooperatif STAD pada Pembelajaran IPS di Kelas V

Dengan membagi kelas dalam ke-lompok-kelompok kecil memudahkan guru untuk menguasai kelas dan menjadi fasili-tator dan motivator secara merata. Dalam pembelajaran kooperatif STAD ini kelas dibagi dalam 5 kelompok. Setiap kelompok mempunyai tanggung jawab yang sama untuk menyelesaikan permasalahan yang diberikan oleh guru. Dalam pembelajaran kooperatif STAD setiap anggota kelompok mempunyai tanggung jawab yang sama dalam kelompoknya hal ini untuk pem-belajaran siswa agar merasa punya tanggung jawab dan tidak merasa takut untuk mengungkapkan pendapat dalam diskusi kelompok, dalam artian adanya kebergan-tungan yang positif dalam diri siswa. Selain itu dalam pembelajaran kelompok, kepala sekolah senantiasa memotivasi guru kelas untuk menciptakan pembelajaran yang me-nyenangkan dengan memberikan reward tersendiri kepada siswa yang aktif. Dengan cara ini cukup mampu memotivasi siswa untuk terlibat aktif dalam pembelajaran.

Prestasi Belajar Siswa

Dari hasil penelitian (Classroom Ac-tion Research) di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar bidang studi IPS sebelum siklus diperoleh nilai rata-rata: 69,60 dengan persentase ketuntasan belajar siswa 68,00% , siklus I diperoleh nilai rata-rata: 70,80 dengan persentase ketuntasan belajar siswa sebesar 76,00% dan pada si-klus II mengalami peningkatan menjadi: 83,20 dengan persentase ketuntasan belajar siswa sebesar 100,00%. Hal ini

menunjuk-kan bahwa penggunaan Metode Pembela-jaran Kooperatif STAD dapat meningkatkan prestasi belajar bidang studi IPS pada siswa Kelas V Semester I SDN 1 Karangan Keca-matan Karangan Kabupaten Trenggalek Ta-hun 2014/2015. Berikut peneliti tampilkan grafik perkembangan prestasi belajar siswa:

Gambar 1 Peningkatan Hasil Belajar

PENUTUP Kesimpulan

Dengan membagi kelas dalam ke-lompok-kelompok kecil memudahkan guru untuk menguasai kelas dan menjadi fasili-tator dan motivator secara merata. Dalam pembelajaran kooperatif STAD ini kelas di-bagi dalam 5 kelompok. Setiap kelompok mempunyai tanggung jawab yang sama untuk menyelesaikan permasalahan yang diberikan oleh guru. Dalam pembelajaran kooperatif STAD setiap anggota kelompok mempunyai tanggung jawab yang sama dalam kelompoknya, dalam artian adanya kebergantungan yang positif dalam diri siswa. Selain itu dalam pembelajaran kelom-pok, guru kelas guna untuk menciptakan pembelajaran yang menyenangkan dengan

(11)

memberikan reward tersendiri kepada siswa yang aktif. Dengan cara ini cukup mampu memotivasi siswa untuk terlibat aktif dalam pembelajaran. Untuk mengetahui prestasi belajar siswa, peneliti melakukan serangkai-an tes evaluasi. Dari hasil tes evaluasi dike-tahui bahwa prestasi belajar bidang studi IPS sebelum siklus diperoleh nilai rata - rata: 69,60 dengan persentase ketuntasan belajar siswa 68,00% , siklus I diperoleh nilai rata-rata: 70,80 dengan persentase ke-tuntasan belajar siswa sebesar 76,00% dan pada siklus II mengalami peningkatan men-jadi: 83,20 dengan persentase ketuntasan belajar siswa sebesar 100,00%. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan Metode Pembelajaran Kooperatif STAD dapat me-ningkatkan Prestasi belajar bidang studi IPS pada siswa Kelas V Semester I SDN 1 Karangan Tahun 2014/2015.

Saran

Perlu dicoba melakukan kombinasi pola pembelajaran yang menggunakan Metode Belajar Kooperatif STAD dengan model belajar yang lain. Pembelajaran yang menggunakan Metode Belajar kooperatif STAD perlu dikembangkan untuk mata pelajaran yang lain, agar dapat meningkat-kan pemahaman siswa. Penggunaan model Pembelajaran yang menggunakan Metode Belajar Kooperatif STAD perlu terus dilaku-kan karena pembelajaran ini lebih menye-nangkan bagi siswa, mendorong dan membi-asakan siswa untuk belajar mandiri, tidak bergantung kepada guru dan berani meng-ungkapkan pendapat di dalam kelompok diskusi belajar.

DAFTAR RUJUKAN

Bambang Doroeso. 1988. Dasar Konsep IPS, Sejarah Nasional Indonesia dan Umum. Semarang. Aneka Ilmu.

Hadi, Sutrisno. 1987/1989. Metodologi Re-search II dan III. Yogyakarta:

Poerwodarminto, WJS. 1976. Kamus Baha-sa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Yayasan Penerbit Fak Psikologi Universitas Gajah Mada.

Robert L. Cilstrap dan William R. Martin, Pengertian Kooperatif, Elangga, Ja-katra

Simon. 1987 Interaksi Dan Motif Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers. Su-madi Suryabrata. 1983. Proses Belajar Mengajar Di Perguruan Tinggi. Yog-yakarta: Andi Offset.

Slavin. 1995. Metode Penelilian Naturulistik Kualitatif. Bandung: Penerbit Tarsito. Surakhmad, Winarno. 1978. Dasar dan

Te-knik Interaksi Mengajar dan Belajar. Karangan: CV. Tarsito.

Gambar

Tabel 1 Nilai Siswa Pada Siklus I
Tabel 2 Nilai Siswa Pada Siklus II
Gambar 1 Peningkatan Hasil Belajar

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil penelitian ini ditemukan bahwa (1) peran guru sebagai pendidik dalam meningkatkan keaktifan siswa melalui media pembelajaran IPA adalah dengan memberikan sikap

Peran Guru sebagai motivator di SDI Bayanul Azhar mengenai karakter religius dalam pendidikan karakter yaitu guru memotivasi siswa dengan pemberian tugas kepada siswa

Berdasarkan hasil refleksi pada siklus 2, maka dilakukan tindakan perbaikan ,yaitu guru lebih memotivasi, membimbing siswa yang pasif, untuk menyelesaikan masalah yang

Berdasarkan pada hasil pembahasan siklus I dan siklus II, kesimpulan dari penelitian tindakan kelas ini yaitu setelah guru menerapkan metode Numbered Heads

Sedangkan kelas yang dijadikan obyek dalam penelitian tindakan kelas ini adalah Siswa Kelas V Semester II SDN 3 Sumberingin Kecamatan Karangan Kabupaten

Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dengan tujuan untuk: (1) Mengetahui kolaborasi guru keals VI dengan guru kelas lain dalam meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VI SDN 1

Dengan demikian, peran guru dalam pembelajaran inkuiri terbimbing menurut Trianto (2008:135) adalah: pertama sebagai motivator yaitu memberi rangsangan supaya siswa aktif

Penelitian ini menggunakan beberapa instrumen yaitu: (1) Silabus, yaitu seperang- kat rencana dan pengaturan tentang kegiatan Pembelajaran pengelolahan kelas, serta penilaian