• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Masalah permukiman kumuh tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi juga berlangsung hampir di seluruh negara berkembang di Asia dan Afrika. Hasil penelitian World Bank (1999) menggambarkan lingkungan permukiman kumuh sebagai bagian yang terabaikan dari lingkungan perkotaan, dengan kondisi kehidupan dan penghidupan masyarakat yang sangat memprihatinkan, yang diantaranya ditunjukkan dengan kondisi lingkungan hunian yang tidak layak huni, tingkat kepadatan yang tinggi, sarana dan prasarana lingkungan yang tidak memenuhi syarat, tidak tersedianya fasilitas pendidikan, kesehatan maupun sarana dan prasarana sosial budaya kemasyarakatan yang memadai. Permukiman kumuh perkotaan muncul sebagai produk migrasi desa ke kota yang cepat, pertumbuhan penduduk, globalisasi, kemiskinan dan ketidakmampuan pengelola kota dalam mengendalikan pertumbuhan dan menyediakan pelayanan kota yang memadai (UN-HABITAT, 2007).

Di Indonesia permukiman kumuh banyak terdapat di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Medan, dan Surabaya. Laju perkembangan kota yang semakin pesat mengakibatkan pemanfaatan lahan semakin kompetitif, sementara perkembangan kota juga menjadi daya tarik urbanisasi yang pada akhirnya menyebabkan tingginya permintaan akan tempat tinggal di dalam kota. Pertumbuhan penduduk kota yang semakin pesat ini mengakibatkan peningkatan kebutuhan akan perumahan, akan tetapi kebutuhan ini tidak diimbangi oleh penyediaan perumahan di perkotaan (Panudju, 1999). Sedangkan tingkat kemampuan ekonomi yang sangat rendah dari masyarakat dan keterkaitan yang tinggi dengan tempat mata pencaharian, menyebabkan berdirinya kawasan kumuh yang dihuni masyarakat miskin perkotaan (Kusumaatmadja, 2006). Karena dalam pemilihan lokasi hunian, terdapat kecenderungan orang untuk memilih lokasi yang tidak jauh dari lokasi tempat bekerjanya, yang pada umumnya tempat bekerja tersebut berada di kawasan pusat kota (Roistacher dalam Morris, 1990).

(2)

Akumulasi kondisi ini mengakibatkan tingginya potensi permukiman kumuh di kawasan pusat kota.

Kota Bandung sebagai salah satu kota yang memiliki tingkat pertumbuhan yang cepat, yang ditandai dengan tersedianya aktivitas ekonomi di bidang industri, tersedianya sarana komunikasi dan transportasi yang lengkap, serta sarana pendidikan dan kesehatan yang memadai telah menjadikan Kota Bandung sebagai salah satu tujuan migrasi. Kondisi ini mengakibatkan pertumbuhan Kota Bandung menjadi pesat, namun kondisi ini juga berkontribusi terhadap tercipta dan berlangsungnya permukiman kumuh di perkotaan. Dan berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah Kota Bandung untuk memperbaiki lingkungan permukiman kumuh perkotaan, antara lain Kampung Improvement Program (KIP), Bandung Urban Development Project (BUDP), Peremajaan Lingkungan Perumahan Kota Dan Pengembangan Perumahan (PLPKP2), Jaringan Pengaman Sosial (JPS), dan Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP).

Akan tetapi, seringkali program-program yang dilakukan tidak dapat mencapai sasaran perbaikan yang diharapkan. Hal ini disebabkan oleh desain proyek yang kurang baik dan lemahnya institusi pemerintahan yang memberikan parameter dalam perencanaan dan pelaksanaan program penanganan masalah permukiman kumuh (van Horen, 2004). Moser (dalam van Horen, 2004) mengatakan bahwa dampak intervensi penanganan masalah permukiman kumuh terhadap pengurangan kemiskinan bergantung pada tingkat aset produktif komunitas yang dibangun dan kapasitas manajemen aset-aset tersebut. Aset-aset produktif komunitas tersebut terdiri atas aset fisik, aset alam, modal manusia, modal sosial, dan aset ekonomi. Program-program penanganan masalah permukiman kumuh tidak akan memberikan dampak jangka panjang dan berkelanjutan apabila dalam pelaksanaannya tidak memperhatikan pembangunan aset-aset produktif komunitas.

Sementara itu, untuk mencapai sasaran yang lebih baik diperlukan informasi atau pengetahuan mengenai program-program yang pernah dilakukan sebelumnya. Informasi ini berguna sebagai suatu pembelajaran dan acuan untuk melakukan penanganan masalah permukiman kumuh yang lebih tepat sasaran.

(3)

Oleh karena itu, perlu dibuat sebuah cacatan mengenai pengalaman penanganan masalah permukiman kumuh, khususnya yang menyangkut perhatian masing-masing program terhadap pembangunan aset-aset produktif komunitas.

1.2 Rumusan Masalah

Salah satu indikator untuk mencapai penanganan masalah permukiman kumuh yang berkelanjutan adalah pembangunan aset produktif yang terdapat dalam komunitas lokal. Berbagai program penanganan masalah permukiman kumuh telah dilakukan oleh pemerintah, tetapi belum ada sebuah kompilasi dan catatan yang secara sistematis memaparkan pengalaman penanganan masalah permukiman kumuh, khususnya yang menunjukkan perhatian masing-masing program terhadap pembangunan aset-aset produktif komunitas.

1.3 Tujuan dan Sasaran

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan dan menyusun secara sistematis pengalaman-pengalaman penanganan permukiman kumuh di Indonesia pada umumnya dan di Kota Bandung secara khusus berdasarkan perhatiannya terhadap pembangunan lima aset produktif komunitas. Adapun sasarannya antara lain :

• Mengidentifikasi program-program penanganan permukiman kumuh yang pernah dilakukan di Indonesia.

• Mengidentifikasi program-program penanganan permukiman kumuh yang pernah dilakukan di Kota Bandung.

• Mengidentifikasi dan menganalisis perhatian program-program di Kota Bandung terhadap aset-aset produktif komunitas.

1.4 Manfaat Studi

Hasil dari kajian studi ini diharapkan dapat memberikan masukan dan manfaat terhadap pihak-pihak yang membaca, sebagai bahan acuan atau pembelajaran sesuai dengan kebutuhan masing-masing pihak. Adapun manfaat

(4)

yang kiranya dapat diperoleh melalui kajian studi ini terdiri atas manfaat akademis dan manfaat praktis.

1.4.1 Manfaat Akademis

Pertumbuhan kota yang pesat akibat urbanisasi dan pertumbuhan alami kota menjadi salah satu penyebab tumbuh dan berkembangnya permukiman kumuh perkotaan. Permukiman kumuh menjadi masalah perkotaan karena keterbatasan lahan dan ketidakmampuan pemerintah dalam menyediakan perumahan bagi masyarakat miskin. Masalah permukiman kumuh ini merupakan masalah perkotaan yang khususnya terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan.

Melalui studi ini, penulis ingin mempelajari dan menambah wawasan mengenai upaya pemerintah, khususnya Pemerintah Kota Bandung dalam menangani permukiman kumuh. Dengan mengacu pada lima aset produktif komunitas dalam slum upgrading, penulis ingin mempelajari pengalaman penanganan masalah permukiman kumuh berdasarkan perhatian program terhadap lima aset tersebut.

1.4.2 Manfaat Praktis

Studi ini disusun berdasarkan kajian dan pembelajaran terhadap program-program yang pernah dilakukan untuk menangani masalah permukiman kumuh. Khusus untuk instansi-instansi terkait, studi ini dapat dijadikan sebagai acuan dan sekaligus sebagai pembelajaran untuk pelaksanaan program-program penanganan permukiman kumuh di masa mendatang. Di bidang praktis, studi ini dapat dijadikan acuan atau sumber informasi untuk melakukan studi atau kajian terhadap upaya pemerintah dalam menangani permukiman kumuh perkotaan dan untuk mengetahui perhatian program terhadap aset produktif komunitas.

1.5 Ruang Lingkup

Ruang lingkup akan dibagi dua yaitu ruang lingkup wilayah studi dan ruang lingkup materi yang digunakan dalam penelitian ini.

(5)

1.5.1 Ruang lingkup wilayah

Ruang lingkup wilayah yang menjadi batasan dalam studi ini yaitu : • Indonesia, khusus untuk mengkompilasi program-program penanganan

permukiman kumuh dan mempelajari pengalaman penanganan permukiman kumuh yang pernah dilakukan di Indonesia.

• Kota Bandung, untuk mengkompilasi program-program penanganan permukiman kumuh dan untuk mempelajari pengalaman penanganan permukiman kumuh yang pernah dilakukan di Kota Bandung berdasarkan perhatiannya terhadap aset-aset produktif komunitas.

Kota Bandung telah berkembang menjadi salah satu kota besar di Indonesia, dengan luas wilayah 16.729,65 Ha dan dengan jumlah penduduk 2.429.142 jiwa atau rata-rata 146 jiwa/Ha, menjadikan Kota Bandung berada di peringkat 38 dari 140 kota di Asia dalam urutan kualitas kota (Rosada, 2007).Jika 1 unit rumah dihuni rata-rata 5 jiwa, Kota Bandung membutuhkan tidak kurang 500.000 unit rumah. Sementara yang sudah ada saat ini baru mencapai 387 ribu unit, kekurangan 113 ribu unit yang merupakan kebutuhan mendesak. Kondisi ini menimbulkan beberapa wilayah pemukiman di Kota Bandung, menjadi padat penduduk, kumuh dan tidak sehat. Walikota Kota Bandung, Dada Rosada (2007) mengatakan hal ini lebih disebabkan oleh luas lahan yang tersedia sangat sempit, tidak seimbang dengan tuntutan kebutuhan rumah hunian.

Terjadinya pemusatan penduduk di kota ini bukan sesuatu yang harus disesali, karena bagaimanapun Kota Bandung dengan lokasi, kondisi alam, prasarana yang telah dikembangkan dan berbagai daya tarik lainnya yang terus berkembang, telah menjadi salah satu magnit yang terus menerus menarik dan menimbulkan konsentrasi penduduk. Oleh karena itu sangat dimengerti apabila di Kota Bandung terus menerus terjadi proses pemadatan penduduk dengan kepadatan yang tidak merata. Ada kawasan permukiman kota yang memiliki kepadatan rendah, yaitu kurang dari 50 orang per hektar dan ada pula yang sangat tinggi, lebih dari 400 orang per hektar (RUTRK, 2005). Pada kawasan dengan kepadatan tinggi inilah banyak muncul permasalahan fisik maupun permasalahan

(6)

sosial, termasuk didalamya adalah muncul dan berlangsungnya masalah permukiman kumuh.

1.5.2 Ruang lingkup studi

Ruang lingkup studi yang dibahas dalam penelitian ini antara lain :

• Program-program penanganan permukiman kumuh yang pernah dilakukan di Indonesia.

• Program-program penanganan permukiman kumuh yang pernah dan/atau sedang dilakukan di Kota Bandung.

• Kegiatan-kegiatan yang menjadi fokus utama dari setiap program penanganan permukiman kumuh, khususnya untuk program di Kota Bandung.

• Studi ini akan membatasi lingkup materi dengan menitikberatkan bahasan pada perhatian masing-masing program di Kota Bandung terhadap pembangunan aset produktif komunitas.

Banyak program penanganan masalah permukiman kumuh yang pernah dilakukan di Kota Bandung, tetapi yang akan dibahas dalam studi ini dibatasi pada beberapa program yang cukup komprehensif, meliputi Eksperimen UNEP, Bandung Urban Development Project (BUDP), Peremajaan Lingkungan Perumahan Kota Dan Pengembangan Perumahan (PLPKP2), Jaringan Pengaman Sosial (JPS), dan Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP). Batasan ini didasarkan pada saran dari beberapa orang pelaksana yang telah diwawancarai, yang mengatakan bahwa program-program ini merupakan lima prorgam yang paling besar dan mempunyai pengaruh yang paling besar dalam penanganan masalah permukiman kumuh di Kota Bandung. Program-program ini juga dapat memberikan gambaran secara umum mengenai penanganan permukiman kumuh yang memperhatikan aset-aset produktif komunitas.

1.6 Metodologi Penelitian

Metodologi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Kirk dan Miller (dalam Patilima, 2005) mendefinisikan bahwa peneltian

(7)

kualitatif adalah tradisi dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan manusia dalam kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasannya dan dalam peristilahannya. Dua teknik yang biasa dikaitkan dengan metode kualitatif dalam pengumpulan data adalah wawancara dan pengamatan (Strauss, 2003).

Berikut ini adalah metode dalam pengumpulan data serta metode analisis yang digunakan dalam studi ini.

1.6.1 Metode Pengumpulan Data

Untuk mendukung pelaksanaan penelitian ini dibutuhkan data sekunder dan data primer. Dalam penelitian ini, data primer digunakan sebagai pelengkap terhadap data sekunder. Pengumpulan data tersebut dilakukan dengan cara :

a. pengumpulan data sekunder

Pengumpulan data sekunder dilakukan melalui studi literatur terhadap buku, artikel, jurnal, media cetak, laporan kajian/penelitian, serta studi-studi terkait yang telah dilakukan sebelumnya. Data sekunder ini berfungsi sebagai sumber untuk memperoleh tinjauan literatur yang digunakan dalam studi ini. Selain itu, data sekunder juga berfungsi sebagai data utama untuk memperoleh informasi mengenai program penanganan permukiman kumuh yang pernah dilakukan di Indonesia dan di Kota Bandung.

Adapun data-data sekunder yang dibutuhkan antara lain : • Wacana mengenai kemiskinan perkotaan,

• Wacana mengenai masalah permukiman kumuh di perkotaan, • Wacana terkait dengan penanganan masalah permukiman kumuh. • Wacana mengenai aset-aset produktif komunitas,

• Wacana dan dokumen mengenai penanganan permukiman kumuh di Indonesia,

• Wacana dan dokumen mengenai penanganan permukiman kumuh di Kota Bandung.

(8)

b. pengumpulan data primer

Pengumpulan data primer dilakukan melalui wawancara semi terstruktur yaitu wawancara yang bersifat terbuka melalui pertanyaan pokok yang telah disiapkan dan dapat dikembangkan sesuai kebutuhan pada saat dilakukan wawancara tersebut (Alwasilah, 2003). Dalam studi ini wawancara dilakukan untuk melengkapi kebutuhan data sekunder yang telah diperoleh. Wawancara ini ditujukan kepada pihak pelaku, yang terlibat dalam pelaksanaan program penanganan permukiman kumuh, yang meliputi ahli (expert) dalam perencanaan wilayah dan kota khususnya ahli di bidang Tata Ruang Perumahan dan Permukiman; dan kepada Pemerintah Kota Bandung, sebagai pihak pelaksana atau fasilitator dalam program penanganan permukiman kumuh di Kota Bandung. Pemilihan responden yang akan diwawancarai dilakukan dengan prinsip purpossive sampling, yaitu tidak semua individu memiliki kesempatan yang sama untuk dijadikan responden. Teknis awal pengambilan sampel dilakukan dengan mencari informan kunci yaitu pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program penanganan masalah permukiman kumuh. Informan kunci adalah orang-orang tertentu yang memiliki posisi pengetahuan dan kemampuan dalam berkomunikasi serta memberi rekomendasi informan selanjutnya yang sesuai untuk diinterviu (Merriam dalam Moleong, 2001). Informan kunci ini merupakan sumber informasi yang tidak dapat diperoleh dari data sekunder dan dari observasi secara langsung.

Informan kunci dalam studi ini adalah pihak pelaku, yang merupakan pemrakarsa dan pelaksana program perbaikan permukiman kumuh yang berasal dari dinas pemerintahan Kota Bandung, sebagai pihak pelaksana atau fasilitator dalam program penanganan permukiman kumuh di Kota Bandung. Langkah awal penentuan responden dalam studi ini adalah meminta rekomendasi dari dinas pemerintahan BAPPEDA Kota Bandung mengenai pihak pelaksana yang dapat dijadikan sebagai sumber informasi. Kemudian dilakukan wawancara dengan pihaik-pihak yang telah direkomendasikan. Untuk menemukan responden berikutnya, dalam studi ini juga dilakukan teknik snowballing sampling. Mulyana (2001) menguraikan bahwa pemilihan sampel dengan teknik snowballing

(9)

sampling berarti pewawancara terlebih dahulu menemukan seorang atau beberapa responden, apakah secara kebetulan, lewat kenalan, melalui iklan, atau cara lainnya. Setelah mewawancarai responden awal, kemudian pewawancara meminta sejumlah responden lain yang mereka kenal, yang dapat menjadi responden berikutnya. Kemudian melalui responden-responden tersebut, pewawancara juga dapat menemukan lebih banyak responden lagi.

Daftar responden yang akan diwawancarai dalam studi ini dapat dilihat dalam Tabel 1.1.

Tabel 1.1

Daftar Responden Yang Diwawancarai

Program Responden Peran dalam Pelaksanaan

Program

Eksperimen UNEP

*

Dewi Sartika (KIP-BUDP I)

Ibu Sutikni Utoro Perencana Pelaksanaan BUDP I Ibu Ratna Perencana BUDP

KIP - BUDP II

Ibu Siti Sarah Lestari

Pembantu Pimpinan Proyek BUDP I dan BUDP II di bidang KIP

PLPKP2 Bpk. Hidayat Jatamiharja

Ketua Badan Pelaksanaan Perencanaan Pembangunan Permukiman Kumuh (BP4K) Pemerintah Kota Bandung

Bpk. Puthut Samyahardja

Koordinator kegiatan perencanaan untuk 1 blok kawasan

permukiman Industri Dalam Jaring Pengaman Sosial

(JPS) Bpk. Pagat Risjanuar

Pimpinan Proyek JPS Bidang PDMDKE Kota Bandung P2KP I Tahap I dan II Bpk. Ade Irawan, SP Asisten Koordinator P2KP Kota

Bandung

Keterangan: * Informasi mengenai pelaksanaan Eksperimen UNEP diperoleh dari studi literatur dengan teknik content analysis.

(10)

1.6.2 Metode Analisis

Analisis dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif. Metode kualitatif merupakan prosedur studi yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati (Bogdan dan Tailor dalam Moleong, 2001). Metode ini lebih mudah diadaptasikan dengan realitas yang beragam dan saling berinteraksi. Metode ini juga dinilai lebih sensitif terhadap segala aspek dan perubahan yang akan dihadapi peneliti. Adapun analisis dalam metode kualitatif yang digunakan dalam studi ini adalah content analysis (analisis dokumen) dan analisis deskriptif eksploratif. George dan juga Kraucer (dalam Muhadjir, 1989) menyatakan bahwa analisis dokumen kualitatif lebih mampu menyajikan nuansa dan lebih mampu melukiskan prediksi lebih baik. Dan dalam analisis ini, dokumen dianalisis dengan tetap mempertahankan keaslian teks yang memaknainya (Anis, 2006). Melalui analisis deskriptif eksploratif, studi ini berusaha untuk mengeksplor suatu isu/masalah tertentu yang membutuhkan beberapa sumber data penting yaitu observasi dan wawancara (Lestari, 2006).

Dalam studi ini wawancara yang dilakukan bersifat sistematis dan disusun untuk mengetahui ada atau tidak adanya perhatian masing-masing program terhadap variabel-variabel pembentuk masing-masing aset produktif komunitas. Analisis terhadap ada atau tidak adanya perhatian program terhadap variabel-variabel pembentuk aset-aset produktif komunitas ini didasarkan pada evaluasi studi yang dihasilkan oleh Moser (1998) dan Healey (van Horen, 2004) yang mengidentifikasikan lima aset produktif komunitas yang harus dibangun dalam penanganan kemiskinan terutama dalam perbaikan permukiman kumuh.1 Indikator-indikator terhadap pembentukan masing-masing aset produktif komunitas ini dapat dilihat pada Tabel 1.2.

1

Variabel-variabel pembentuk aset-aset produktif komunitas ini diperoleh dari pendekatan perbaikan permukiman kumuh oleh van Horen, yang terdapat dalam makalah yang berjudul “Community Upgrading and Institutional Capacity Building to Benefit The Urban Poor In Asia” (van Horen, 2004). Penjelasan lebih lengkap terdapat dalam Bab 2 Studi Literatur.

(11)

Tabel 1.2

Indikator-Indikator Terhadap Pembentukan Aset-Aset Produktif Komunitas

Aset Variabel Indikator Perhatian

Fisik

Air bersih • Pengadaan akses air minum ke rumah- rumah penduduk Ada/tidak ada

• Tempat penampungan air bersih Ada/tidak ada

Sanitasi Saluran pembuangan air kotor Ada/tidak ada

Sampah

• Penyediaan tempat pembuangan sampah sementara

(TPS) Ada/tidak ada

• Pengangkutan sampah secara rutin dari rumah-rumah

penduduk ke TPS Ada/tidak ada

Drainase Penyediaan dan perbaikan drainase Ada/tidak ada

Jalan Pengadaan dan perbaikan jalan Ada/tidak ada

Listrik

• Pemasangan saluran listrik ke rumah-rumah penduduk Ada/tidak ada

• Pemasangan lampu untuk penerangan ruang-ruang

publik Ada/tidak ada

Fasilitas kesehatan

• Pembangunan dan perbaikan balai-balai kesehatan,

seperti puskesmas, rumah sakit Ada/tidak ada

• Pengadaan posyandu Ada/tidak ada

Fasilitas pendidikan Pembangunan dan perbaikan gedung-gedung sekolah Ada/tidak ada Fasilitas ruang publik Pembangunan ruang-ruang untuk pertemuan publik Ada/tidak ada

Rumah Perbaikan konstruksi rumah Ada/tidak ada

Fasilitas kegiatan ekonomi Pembangunan dan perbaikan gedung-gedung untuk

(12)

Aset Variabel Indikator Perhatian

Alam

• Rehabilitasi terhadap sumber daya alam rusak. Ada/tidak ada

• Pemberian pendidikan dan penyuluhan kepada komunitas masyarakat untuk menjaga dan memelihara lingkungan.

Ada/tidak ada

Modal Manusia

Pendidikan & Kesehatan Alokasi dana untuk meningkatkan kondisi kesehatan

dan pendidikan masyarakat di permukiman kumuh Ada/tidak ada

Produktivitas

• Pengadaan pelatihan untuk meningkatkan

pengetahuan dan keahlian masyarakat Ada/tidak ada

• Pelibatan masyarakat dalam kegiatan perbaikan dan pembangunan sarana dan prasarana di lingkungan permukiman kumuh

Ada/tidak ada

Modal Sosial

Jaringan Internal dan Eksternal dalam masyarakat

• Menciptakan kerjasama antar organisasi di dalam

masyarakat. Ada/tidak ada

• Menciptakan kerjasama antar organisasi dengan

organisasi-organisasi dari luar Ada/tidak ada Peran serta Mengikutsertakan organisasi-organisasi masyarakat

dalam perbaikan lingkungan permukiman kumuh Ada/tidak ada

Ekonomi

Kredit Mengadakan akses kredit kepada masyarakat Ada/tidak ada

Bidang usaha Mendukung pengembangan usaha-usaha kecil dan kegiatan-kegiatan ekonomi masyarakat Ada/tidak ada Kepemilikan rumah Memberikan jaminan kepemilikan tanah dan rumah Ada/tidak ada

(13)

Adapun sifat-sifat tertentu yang pada umumnya terdapat dalam metode deskriptif, yang dapat dipandang sebagai ciri, yakni bahwa metode deskriptif (Surakhmad, 1964) :

1. memusatkan diri pada pemecahan masalah-masalah yang ada pada masa sekarang, pada masalah-masalah yang aktual.

2. data yang dikumpulkan mula-mula disusun, dijelaskan dan kemudian dianalisa (karena itu metode ini sering pula disebut metode analitik). Dalam metode deskriptif ini, deskripsi dan analisa mendapat tempat yang penting sekali.

Adapun tahapan analisis dalam studi ini adalah sebagai berikut :

• Mengidentifikasi dan mengkaji program-program penanganan permukiman kumuh yang pernah dilakukan di Indonesia dan di Kota Bandung.

• Melakukan identifikasi ketersediaan perhatian masing-masing program terhadap aset-aset produktif komunitas.

• Mensistematikakan setiap program penanganan permukiman kumuh di Kota Bandung dengan mengacu pada perhatian masing-masing program terhadap lima aset produktif komunitas.

(14)

1.7 Sistematika Pembahasan

Adapun sistematika penulisan dalam kajian ini yaitu : Bab 1 Pendahuluan

Pada bab ini dibahas mengenai latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan sasaran penelitian, ruang lingkup penelitian meliputi ruang lingkup wilayah dan materi, metodologi penelitian, serta sistematika penulisan. Bab 2 Tinjauan Pustaka

Pada bab ini akan dibahas antara lain definisi dan karakteristik slums dan squatters, upaya-upaya/pengalaman-pengalaman dunia internasional dalam menangani slums dan squtters, dan isu serta pengalaman penanganan slums dan squatters yang dilakukan di Indonesia.

Bab 3 Wilayah Studi

Pada bab ini akan dipaparkan mengenai persoalan permukiman kumuh di Kota Bandung dan upaya-upaya penanganan yang pernah dilakukan. Bab 4 Pengalaman Penanganan Permukiman Kumuh yang Memperhatikan

Aset-Aset Produktif Komunitas di Kota Bandung

Dalam bab ini program-program penanganan permukiman kumuh yang pernah dilakukan di Kota Bandung akan dianalisis dengan mensistematikakan setiap program menggunakan lima aset indikator dalam penanganan permukiman kumuh.

Bab 5 Kesimpulan

Bab ini berisi kesimpulan, rekomendasi, dan keterbatasan kajian serta saran bagi studi lanjutan.

(15)

GAMBAR 1.1

Referensi

Dokumen terkait

Penjelasan mengenai pengalaman tersebut dilakukan berdasarkan perhatian masing-masing program pada lima aset produktif komunitas, yang mencakup aset fisik, alam, modal

Hal inilah yang menjadi perhatian penulis dalam mengambil studi kasus untuk Tugas Akhir, dalam kasus ini penulis merasa tertarik untuk dapat mewujudkan sebuah

Adapun dalam penelitian ini menggunakan batasan studi guna membatasi jumlah materi dan analisis yang digunakan dalam penyusunan studi : Studi ini hanya membahasan mengenai

Judul penelitian ini adalah “ STRATEGI KOMUNITAS CINDE LARAS DALAM MEMPERTAHANKAN EKSISTENSI SENI WAYANG KULIT (Studi kasus Komunitas Cinde Laras di Desa

Dalam upaya produktifitas aset wakaf, mulai kembali dibahas mengenai efisiensi wakaf uang (tunai) dalam pemanfaatan harta tanah secara produktif. Wakaf uang adalah wakaf

Hal tersebut menjadi dasar utama mengapa diperlukannya sebuah fasilitas khusus yang memberi perhatian lebih pada seseorang, sekelompok maupun komunitas mualaf, karena

Evaluasi dilakukan dengan pengumpulan data, analisis data dan pengolahan data sehingga dapat digunakan untuk menjawab permasalahan pelaksanaan program yang

Diantara pendayagunaan zakat produktif di BAZNAS Gresik yang menarik untuk dikaji yaitu Program Gresik Berdaya yang memiliki Pembinaan kepada mustahiq produktif yang