• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II STUDI LITERATUR. II.1. Pengelolaan Rantai Pasok di Industri Manufaktur

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II STUDI LITERATUR. II.1. Pengelolaan Rantai Pasok di Industri Manufaktur"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

STUDI LITERATUR

II.1. Pengelolaan Rantai Pasok di Industri Manufaktur

II.1.1. Definisi Pengelolaan Rantai Pasok

Pengelolaan rantai pasok (supply chain management) merupakan koordinasi yang strategis dan sistematis antara fungsi-fungsi bisnis tradisional pada suatu perusahaan dan di sepanjang jaringan rantai pasok kegiatan bisnisnya dengan tujuan untuk meningkatkan hasil prestasi perusahaan dan rantai pasok secara jangka panjang. Hal ini sesuai dengan pendefinisian yang diberikan oleh The Council of Logistics Management.

Pujawan (2005) menjelaskan, kalau rantai pasok adalah jaringan fisik dari perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam memasok bahan baku, memproduksi barang, maupun mengirimkannya ke pemakai akhir, maka pengelolaan rantai pasok adalah metode, alat, atau pendekatan pengelolaan yang menghendaki pendekatan atau metode yang terintegrasi dengan semangat kolaborasi.

Tidak hanya urusan internal perusahaan saja yang dikelola, melainkan juga urusan eksternal menyangkut hubungan dengan perusahaan-perusahaan partner. Untuk itu diperlukan kerja sama, koordinasi, dan kolaborasi antar perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam jaringan rantai pasok, karena pada hakikatnya tujuan mereka adalah sama yakni ingin memuaskan konsumen akhir yang sama. Mereka harus bekerja sama dalam membuat produk yang murah, kemudian mengirimkannya tepat waktu serta dengan kualitas yang bagus. Sehingga dewasa ini persaingan bukanlah lagi persaingan antar perusahaan melainkan persaingan antar rantai pasok.

(2)

Menurut Heizer et al. (2001), pengelolaan rantai pasok merupakan kegiatan pengelolaan kegiatan-kegiatan dalam rangka memperoleh bahan mentah menjadi barang dalam proses atau barang setengah jadi dan barang jadi, kemudian mengirimkan produk tersebut ke konsumen melalui sistem distribusi.

Upaya pengelolaan rantai pasok ini didasari oleh pemikiran yang berusaha mengurangi kesia-siaan dan meningkatkan nilai pada jaringan rantai pasoknya.

II.1.2. Tujuan Pengelolaan Rantai Pasok

Perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam jaringan rantai pasok harus saling mendukung agar kegiatan pengadaan dan penyaluran bahan baku dan produk akhir dapat terintegrasi secara baik dan benar. Sehingga misi yang mereka capai adalah “to get the right goods or services to the right place, at the right time, and

in the desired condition, while making the greatest contribution to the firm”.

II.1.3. Lingkup Kegiatan Pengelolaan Rantai Pasok

Wisner et al. (2005) mengidentifikasi elemen-elemen penting pada pengelolaan rantai pasok, yakni terdiri dari:

a. Elemen pembelian (purchasing)

Mencakup: aliansi pemasok, pengelolaan pemasok, dan strategi pembelian. b. Operasional (operation)

Mencakup: pengelolaan persediaan, MRP, ERP, JIT, dan TQM. c. Distribusi (distribution)

Mencakup: pengelolaan transportasi, pengelolaan hubungan dengan pelanggan, perencanaan jaringan, dan pelayanan terhadap pelanggan.

d. Integrasi (integration)

Mencakup: koordinasi antar aktifitas, permasalahan integrasi global, dan pengukuran kinerja.

(3)

Sementara itu, Pujawan (2005) menjelaskan tentang cakupan kegiatan utama pengelolaan rantai pasok pada perusahaan manufaktur terdiri dari:

a. Pengembangan produk (product development)

Kegiatannya meliputi: melakukan riset pasar, merancang produk baru, dan melibatkan pemasok dalam perancangan produk baru.

b. Pengadaan (procurement)

Kegiatannya meliputi: memilih pemasok, mengevaluasi kinerja pemasok, melakukan pembelian bahan baku dan komponen, memonitor rantai pasok, membina dan memelihara hubungan dengan pemasok.

c. Perencanaan dan pengendalian (planning and control)

Kegiatannya meliputi: perencanaan persediaan, peramalan permintaan, perencanaan kapasitas, dan perencanaan produksi.

d. Operasi/produksi (production)

Kegiatannya meliputi: eksekusi produksi dan pengendalian kualitas. e. Pengiriman/distribusi (distribution)

Kegiatannya meliputi: perencanaan jaringan distribusi, penjadwalan pengiriman, mencari dan memelihara hubungan dengan perusahaan jasa pengiriman, memonitor service level di setiap pusat distribusi.

Sedangkan Heizer et al. (2001) mengatakan, kegiatan pengelolaan rantai pasok bisa meliputi penetapan pengangkutan, pentransferan kredit dan tunai, pemasok, distributor, bank, utang dan piutang, penggudangan, pemenuhan pesanan, membagi informasi mengenai ramalan permintaan, produksi, dan kegiatan pengendalian persediaan.

Menurut Siagian (2005), ruang lingkup pengelolaan rantai pasok meliputi:

a. Seluruh kegiatan arus dan transformasi barang mulai dari bahan mentah

sampai penyaluran ke tangan konsumen termasuk aliran informasinya. Bahan baku dan aliran informasi merupakan rangkaian dari rantai pasok.

b. Suatu sistem tempat organisasi menyalurkan barang produksi dan jasa kepada para pelanggannya.

(4)

Sehingga terdapat aliran barang, pelayanan, dan informasi pada sektor manufaktur dan jasa.

II.1.4. Interaksi Pihak-pihak dalam Rantai Pasok

Menurut Siagian (2005), rantai pasok mencakup keseluruhan interaksi antara

pemasok, perusahaan manufaktur, distributor, dan konsumen. Tingkat ketergantungan di antara pihak-pihak yang terlibat dalam rantai pasok ini menjadi sangat tinggi dan bersifat jangka panjang. Usaha bersama yang saling mendukung dapat meningkatkan kemampuan bersaing antar kedua belah pihak.

II.1.5. Manfaat Pengelolaan Rantai Pasok

Keuntungan yang didapat dari keberhasilan pengelolaan rantai pasok tidak hanya bersifat jangka pendek, bahkan juga jangka panjang seperti kemungkinan peningkatan profit dari adanya kerja sama yang berkepanjangan dengan berbagai pihak, perluasan pangsa pasar, dan kepuasan konsumen.

II.2. Pengelolaan Rantai Pasok di Industri Konstruksi

Industri manufaktur dikenal sebagai industri yang memiliki karakter produksi yang berulang-ulang, rutin, berlangsung dalam jangka panjang, memiliki intensitas kegiatan yang relatif sama, dengan batasan anggaran dan jadwal yang tidak setajam dalam proyek, macam kegiatannya tidak terlalu banyak, serta memiliki macam dan volume kebutuhan sumber daya yang relatif konstan. Namun tidak seperti industri manufaktur, industri konstruksi memiliki tingkat kompleksitas dan resiko yang sangat tinggi dengan karakternya yang bercorak dinamis, nonrutin, dengan siklus proyek yang relatif pendek, memiliki intensitas kegiatan dalam periode siklus proyek yang berubah-ubah (naik-turun), kegiatannya harus diselesaikan berdasarkan anggaran dan jadwal yang telah ditentukan, terdiri dari bermacam-macam kegiatan yang melibatkan berbagai

(5)

disiplin ilmu, serta memerlukan sumber daya yang berubah-ubah, baik macam maupun volumenya. [Soeharto, 1997].

Pihak-pihak yang terlibat pada pendirian suatu kontruksi sangatlah banyak, yang mengakibatkan seringkali ditemukan berbagai ketidak-efisienan dan permasalahan di setiap tingkat dan tahapan prosesnya, seperti biaya konstruksi yang kian waktu

kian meningkat dan melebihi budget, durasi pelaksanaan konstruksi yang

melebihi waktu yang ditargetkan, kualitas konstruksi yang tidak sesuai dengan spesifikasi yang diminta, belum lagi masalah koordinasi dan misscommunication

antar berbagai pihak yang terlibat yang sangat berpotensi untuk menimbulkan

dispute. [Tucker et al., 2001].

Oleh karenanya dewasa ini berbagai pihak di industri konstruksi mulai berusaha menerapkan konsep pengelolaan rantai pasok yang telah dikenal cukup efektif dan efisien di industri manufaktur untuk diterapkan pada industri konstruksi, dengan harapan dapat meminimalisir berbagai ketidak-efisienan dan permasalahan yang seringkali muncul.

Di industri konstruksi, penumpukan persediaan yang terlalu lama akan mengakibatkan adanya dana yang mengendap dan tidak produktif serta tidak menghasilkan pendapatan. Bahkan bisa menambah biaya proyek karena adanya

tambahan biaya penyimpanan stok bahan (inventory carrying cost), juga ada

biaya-biaya untuk mengganti bahan yang sudah kadaluarsa (obsolescence),

mengalami kerusakan (damage) atau hilang (spoilage). [PT PP, 2003].

Sehingga mengelola aliran persediaan dengan tepat adalah salah satu tujuan utama dari pengelolaan rantai pasok. Aliran yang tepat artinya persediaan dapat tiba pada saat dibutuhkan dengan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan dan terkirim ke tempat yang memang membutuhkan. [Siagian, 2005].

Terlebih lagi dewasa ini mengurangi biaya rantai pasok konstruksi menjadi salah satu strategi kontraktor dalam bersaing. Untuk itu diperlukan upaya pengawasan

(6)

terhadap biaya penyelenggaraan kegiatan rantai pasok konstruksi, baik di tingkat perusahaan maupun proyek.

Penelitian-penelitan mengenai pengelolaan rantai pasok konstruksi dewasa ini mulai berkembang dengan pesat, yang dibuktikan dengan telah teridentifikasinya beberapa manfaat dari pengelolaan rantai pasok konstruksi. Beberapa penelitian yang telah dilakukan mengenai pengelolaan rantai pasok konstruksi di Indonesia

adalah: Nurisra (2002) melakukan studi pada hubungan antara kontraktor dan

subkontraktor; Syachrani (2005) melakukan pengembangan model seleksi mitra

pemasok pada proyek konstruksi; Susilawati (2005) melakukan studi pola jaringan rantai pasok konstruksi dan proses pembentukan rantai pasok pada proyek konstruksi pada proyek gedung; Febrina dan Nugroho (2006) melakukan studi hubungan pihak-pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan konstruksi di

proyek; Yustiarini (2006) melakukan studi pengidentifikasian system QA pada

anggota rantai pasok di proyek konstruksi; Wirahadikusumah, R. D. et al, (2007) melakukan studi penelitian kajian hubungan antar pihak yang terlibat dalam rantai pasok proyek konstruksi bangunan gedung; Noorlaelasari, Y. (2008) meneliti pengembangan indikator kinerja supply chain pada proyek konstruksi

bangunan gedung: dan Oktaviani (2008) meneliti kajian kinerja supply chain

pada proyek konstruksi bangunan gedung.

II.3. Persediaan (Inventory) di Industri Manufaktur

Persediaan di sepanjang rantai pasok memiliki pengaruh yang besar terhadap kinerja finansial suatu perusahaan. Biaya modal yang tertahan dalam bentuk persediaan di suatu perusahaan atau rantai pasok bisa menjadi sangat signifikan karena jumlah uang yang tertanam biasanya sangat besar sehingga persediaan merupakan satu aset terpenting yang dimiliki rantai pasok. Banyak perusahaan yang menginvestasikan lebih dari 25% dari total asetnya untuk persediaan. [Pujawan, 2005]. Christopher (2005) mengatakan bahwa salah satu elemen biaya logistik terbesar yang seringkali dilupakan adalah biaya penyimpanan persediaan, nilainya berkisar sekitar 25% per tahun dari nilai buku persediaan.

(7)

Mengelola aliran material/produk dengan tepat adalah salah satu tujuan utama dari pengelolaan rantai pasok. Aliran yang tepat artinya tiba pada saat dibutuhkan dengan jumlah yang sesuai dengan kebutuhan dan terkirim ke tempat yang memang membutuhkan. Tersine (1994) mengatakan, salah satu tujuan mengelola persediaan adalah untuk mengurangi biaya.

II.3.2. Definisi Persediaan

Menurut Siagian (2005), persediaan merupakan bahan atau barang yang disimpan untuk tujuan tertentu, antara lain untuk proses produksi. Jika berupa bahan mentah, maka akan diproses lebih lanjut. Jika berupa komponen (spare part), maka akan dijual kembali menjadi barang dagangan.

Pada banyak perusahaan, persediaan merupakan asset yang paling mahal, karena menghabiskan sekitar 40% dari total modal yang diinvestasikan. Di samping itu, persediaan menjadi salah satu faktor yang harus dikelola dengan benar, karena sangat berpengaruh terhadap proses produksi. Maka sudah selayaknya persediaan dikelola dengan baik, karena mengelola manajemen persediaan dapat meminimalisir biaya.

Persediaan mengambil porsi bagian yang terbesar dari penggunaan modal kerja perusahaan dan merupakan aktiva yang selalu berubah setiap saat. Persediaan mengalami perputaran yang berbeda-beda, yang berpengaruh langsung terhadap dana yang dibutuhkan untuk penyimpanan persediaan tersebut. Semakin tinggi perputaran persediaan, maka waktu yang dibutuhkan dalam menyimpan persediaan akan semakin pendek, sehingga dana yang dibutuhkan relatif lebih kecil. Namun jika perputaran persediaan semakin lamban, maka waktu penyimpanan yang dibutuhkan akan semakin lama dan dana yang dibutuhkan akan relatif lebih besar.

(8)

Setidaknya ada dua persyaratan untuk mencapai persediaan yang ideal, yakni:

a. Peningkatan pelayanan terhadap pelanggan dengan memberikan pelayanan

berupa penyediaan bahan/barang yang pelanggan butuhkan (service

availability).

b. Penekanan biaya penyimpanan persediaan.

II.3.3. Fungsi Persediaan

Menurut Kapoor et al. (2003), persediaan memiliki empat fungsi yakni: a. Mengurangi biaya pada tingkat persediaan yang diharapkan

Jika persediaan mempunyai kuantitas yang kecil, maka investasi terhadap persediaan akan rendah, namun biaya pemesanannya tinggi. Objektifnya adalah bagaimana caranya agar biaya total penyimpanan dapat ditekan seminimum mungkin dalam tingkat persediaan yang tidak mengganggu bagian produksi atau pelanggan.

b. Memberikan pelayanan terhadap pelanggan pada tingkat yang diharapkan Persediaan di gudang akan mempengaruhi tingkat pelayanan dalam hal memuaskan pelanggan. Persediaan juga akan berpengaruh pada waktu dan biaya pelayanan. Lokasi persediaan akan menentukan waktu dan biaya pelayanan pada tingkat mana pelanggan akan dilayani.

c. Merangkaikan berturut-turut beberapa operasi atau fungsi

Persediaan yang sedikit membutuhkan respons transportasi yang lebih sering. Di sisi lain, persediaan yang banyak akan membutuhkan respons transportasi yang lebih jarang.

d. Menstabilkan produksi dan tenaga kerja sehingga dapat mengurangi

kebutuhan modal

Sedangkan menurut Siagian (2005), persediaan memiliki fungsi penting untuk menambah fleksibilitas operasi suatu perusahaan. Fungsi dasarnya sangat sederhana, yakni untuk meningkatkan profitability perusahaan.

(9)

Fungsi persediaan lainnya adalah: a. Fungsi pemisahan wilayah

Merupakan spesialisasi ekonomis antara unit pembuatan (manufacturing)

dengan unit distribusi yang dibagikan dalam wilayah-wilayah yang ditangani. b. Fungsi decoupling

Merupakan fungsi suatu produk yang diproses dan didistribusikan dalam ukuran yang ekonomis.

c. Fungsi penyeimbang dengan permintaan

Merupakan fungsi untuk menyeimbangkan kebutuhan konsumsi dengan produksi, agar kebutuhan konsumsi dapat dipenuhi dengan lancar dari proses produksi yang dilakukan.

d. Fungsi penyangga (buffer stock)

Sebagai penyangga yang dilaksanakan dengan menetapkan persediaan pengaman (safety stock) agar proses produksi berjalan lancar tanpa hambatan.

Kebijakan persediaan tradisional yang aman yaitu memiliki persediaan dalam jumlah banyak, namun hal ini berakibat tingginya biaya penyimpanan dan biaya pembelian bahan/barang tersebut. Di samping itu, kelebihan persediaan menyebabkan banyaknya dana yang terserap dalam persediaan sehingga tidak efisien. Sebaliknya, bila persediaan terlalu sedikit akan berakibat terjadinya kekurangan bahan/barang yang dapat menganggu kelancaran proses produksi.

II.3.4. Klasifikasi Persediaan

Menurut Kapoor et al. (2003), berdasarkan material yang disimpan, dikenal tiga tipe persediaan, yaitu:

a. Persediaan bahan baku/mentah (raw material/components/fuel) b. Persediaan barang dalam proses (work in progress)

(10)

Sedangkan berdasarkan kelasnya, dikenal tiga kelas persediaan, yakni:

a. working/cycle stock

b. safety/buffer stock

c. seasonal/speculative stock

Pujawan (2005) mengklasifikasikan persediaan dalam tiga jenis klasifikasi: a. Berdasarkan bentuknya

1. Persediaan bahan baku (raw materials) 2. Persediaan barang setengah jadi (wip) 3. Persediaan produk jadi (finished product) b. Berdasarkan fungsinya

1. Pipeline/transit inventory

Persediaan jenis ini muncul karena adanya lead time pengiriman dari satu tempat ke tempat lain. Persediaan ini akan banyak kalau jarak dan waktu pengirimannya panjang. Namun juga bisa dikurangi dengan mempercepat pengiriman, misalnya dengan memilih moda transportasi yang lebih cepat atau memilih pemasok yang lokasinya lebih dekat.

2. Cycle stock

Persediaan yang muncul akibat motif memenuhi skala ekonomi. Pada saat pengiriman, persediaan ini jumlahnya banyak, kemudian berkurang sedikit demi sedikit karena dijual/digunakan, sampai akhirnya habis/hampir habis, lalu kembali pada siklus yang baru.

3. Persediaan pengaman (safety stock)

Persediaan yang berfungsi sebagai perlindungan terhadap ketidakpastian permintaan maupun pasokan. Umumnya perusahaan menyimpan persediaan lebih banyak dari perkiraan kebutuhan dengan maksud untuk dapat melayani kebutuhan yang lebih banyak tanpa harus menunggu lama. Sulit untuk menentukan besarnya persediaan pengaman, karena nilainya akan bergantung pada biaya persediaan dan tingkat pelayanan yang diharapkan.

(11)

Persediaan yang dibutuhkan untuk mengantisipasi kenaikan permintaan akibat sifat musiman permintaan terhadap suatu produk. Walaupun persediaan jenis ini untuk mengantisipasi permintaan yang bersifat tidak pasti, namun perusahaan dapat memprediksi adanya kenaikan dalam jumlah yang signifikan (bukan sekedar pola acak).

c. Berdasarkan sifat ketergantungan kebutuhan antara persediaan yang satu

dengan yang lainnya

1. Persediaan yang kebutuhannya bergantung pada kebutuhan persediaan

yang lain (dependent demand item)

Biasanya terdiri dari komponen atau bahan baku yang akan digunakan untuk membuat produk jadi, karena kebutuhannya akan ditentukan oleh banyaknya produk jadi yang akan dibuat.

2. Persediaan yang kebutuhannya tidak bergantung pada kebutuhan

persediaan yang lain (independent demand item)

Produk jadi biasanya tergolong dalam independent demand item karena

kebutuhannya tidak mempengaruhi kebutuhan produk jadi yang lain.

Menurut Siagian (2005), persediaan dapat dibedakan dalam beberapa jenis

sebagai berikut:

a. Persediaan bahan baku/mentah (raw material inventory)

Merupakan persediaan bahan atau barang yang akan diproses lebih lanjut menjadi barang jadi.

b. Persediaan barang dalam proses (work in process inventory)

Merupakan persediaan barang yang telah mengalami perubahan, namun belum selesai. Dibutuhkan waktu siklus tertentu yang mencukupi untuk membuat persediaan WIP. Pengurangan waktu siklus dapat berakibat persediaan WIP berkurang.

c. Supplies inventory

Merupakan persediaan yang berfungsi sebagai penunjang dalam proses operasi atau produksi agar berjalan lancar.

d. Persediaan barang dagangan (merchandise inventory)

(12)

e. Persediaan barang jadi (finished good inventory)

Merupakan persediaan yang diperoleh dari hasil operasi atau produksi yang sudah selesai dan masih disimpan di gudang perusahaan.

Masih menurut Siagian (2005), terdapat jenis persediaan yang lain dalam dunia logistik yakni:

a. Pipeline (intransit inventory)

Merupakan persediaan yang masih dalam proses persediaan. Persediaan pipeline terbagi dalam dua jenis, yakni Free On Broad (FOB) destination dan

Free On Broad (FOB) origin. Pada FOB destination, barang masih menjadi

tanggung jawab pihak pengirim hingga barang sampai di tempat tujuan.

Sedangkan FOB origin, barang menjadi tanggung jawab pihak penerima

setelah barang dikirim.

b. Speculation

Merupakan persediaan yang dibeli untuk tujuan spekulasi berkenaan dengan sifat permintaan musiman.

c. Regular atau cyclical

Merupakan persediaan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan rutin, baik kebutuhan yang digunakan pada proses produksi ataupun kebutuhan yang lain.

d. Safety stock

Merupakan persediaan pengaman berkenaan dengan sifat permintaan yang berubah-ubah dengan waktu tunggu (lead time) yang tidak teratur. Persediaan pengaman adalah tambahan persediaan dari jumlah biasanya sebesar rata-rata kondisi persediaan dan lamanya waktu tunggu. Peranan peramalan sangat penting di sini untuk menentukan besarnya persediaan pengaman. Jika peramalan dilakukan dengan tepat, maka perusahaan boleh tidak mempunyai persediaan pengaman.

e. Persediaan antisipasi atas bahan baku yang sering mengalami kerusakan,

kadaluarsa, usang, susut, tidak layak, atau hilang dicuri sebelum berhasil dijual.

(13)

II.3.5. Biaya-biaya Persediaan

Menurut Chopra et al. (2007), biaya yang berkenaan dengan persediaan yakni

biaya penyimpanan (inventory holding cost) dan biaya pemesanan (order cost). a. Biaya penyimpanan (inventory holding cost)

Komponen penyusunnya terdiri dari biaya modal (cost of capital), biaya

keusangan (obsolescence or spoilage cost), biaya pengolahan (handling cost), biaya kepemilikan (occupancy cost), dan biaya lain-lain (miscellaneous cost). b. Biaya pemesanan (order cost)

Komponen biaya pemesanan terdiri dari biaya pembelian kembali (buyer time cost), biaya transportasi (transportation cost), biaya penerimaan (receiving cost), dan biaya lain-lain (other cost).

Kapoor et al. (2003) mengklasifikasikan biaya persediaan menjadi beberapa biaya sebagai berikut:

a. Biaya pengadaan (procurement cost)

Terdiri dari biaya pemrosesan pesanan (cost of order processing), biaya

penempatan pesanan (cost of placing order), biaya transportasi (cost of

transportation), biaya pengolahan material (cost of material handling).

b. Biaya penyimpanan (inventory carrying cost)

Terdiri dari biaya modal (capital cost), biaya asuransi dan pajak (insurance

and taxation cost), biaya keusangan dan pemerosotan (obsolescence and

deterioration cost), dan biaya gudang (storage cost).

c. Biaya kehabisan bahan (out of stock cost)

Terdiri dari biaya kehilangan penjualan (lost sales cost) dan biaya pemesanan tunggakan (back order cost).

d. Biaya kelebihan bahan (over stock cost)

Hampir mirip dengan pengklasifikasian biaya yang dibuat Kapoor et al, Tersine (1994) membagi biaya persediaan sebagai berikut:

(14)

Merupakan biaya untuk memperoleh persediaan apabila persediaan tersebut dibeli dari suplier atau biaya untuk memproduksi persediaan apabila diproduksi sendiri secara internal.

b. Biaya pemesanan/penyiapan (order/setup cost)

Yakni biaya yang berkaitan dengan pengurusan proses-proses pemesanan pembelian kepada suplier atau biaya pengaturan produksi internal. Biasanya diasumsikan besarnya bergantung pada jumlah pemesanan atau pengaturan. Biaya pemesanan di antaranya adalah membuat daftar permintaan, menganalisa vendor, memesan pembelian, menerima material, inspeksi material, pesanan susulan, dan proses-proses yang diperlukan untuk melengkapi transaksi. Sedangkan biaya penyiapan terdiri dari biaya-biaya di sepanjang proses produksi untuk menghasilkan bahan pesanan, biasanya meliputi persiapan permintaan pesanan, menjadwalkan pekerjaan, pengaturan sebelum proses produksi, percepatan, dan penerimaan kualitas pesanan.

c. Biaya penyimpanan (holding cost)

Biaya penyimpanan merupakan biaya yang diasosiasikan dengan investasi pada persediaan dan pemeliharaan investasi fisik di gudang, seringkali diistilahkan dengan holding cost atau carrying cost. Terdiri dari biaya modal

(capital cost), pajak (taxes), asuransi (insurance), biaya pengolahan

(handling), biaya gudang (storage), biaya penyusutan (shrinkage), biaya

keusangan (obsolescence), dan biaya kemerosotan (deterioration). d. Biaya kehabisan bahan (stock out cost)

Merupakan konsekuensi ekonomi dari kekurangan persediaan, baik secara eksternal maupun internal. Kekurangan eksternal terjadi apabila pesanan pelanggan tidak dapat dipenuhi. Sedangkan kekurangan internal terjadi ketika pesanan departemen dalam suatu organisasi tidak dapat dipenuhi. Kekurangan eksternal dapat menimbulkan biaya pemesanan kembali, kehilangan keuntungan saat ini (penjualan potensial), dan kehilangan keuntungan di masa mendatang (hilangnya minat pelanggan untuk membeli). Kekurangan internal mengakibatkan kehilangan produksi (adanya sumber daya yang tidak bekerja) dan keterlambatan waktu penyelesaian. Tingkatan biaya ini tergantung pada bagaimana respon pelanggan dalam menghadapi kondisi kehabisan bahan.

(15)

Kehilangan ekonomi yang terjadi tergantung pada apakah dilakukan pemesanan kembali, atau pesanan diganti dengan jenis yang lain, ataukah dilakukan pembatalan pesanan. Sangatlah fatal apabila kondisi kehabisan bahan ini menjadikan proses produksi tidak berjalan atau bahkan pelanggan memilih pergi memesan di tempat yang lain di masa mendatang.

Jika Kapoor et al dan Tersine membagi biaya persediaan ke dalam empat jenis biaya, lain halnya dengan Bowersox (1978) yang memecah biaya persediaan menjadi dua kelompok besar sebagai berikut:

a. Biaya pemeliharaan (maintenance cost)

Terdiri dari biaya pajak (taxes), biaya gudang (storage), biaya modal (capital), biaya asuransi (insurance), dan biaya keusangan (obsolescence).

b. Biaya pemesanan (ordering cost)

Terdiri dari biaya penempatan pesanan (cost of placing order), biaya persiapan

pesanan (order preparation), biaya komunikasi pemesanan (order

communication), biaya perbaikan aktifitas (update activities), biaya

pengawasan manajemen (managerial supervision).

Sementara itu, Siagian (2005) mengklasifikasikan biaya persediaan menjadi beberapa biaya, yakni:

1. Biaya penyimpanan (inventory carrying cost)

Didefinisikan sebagai biaya untuk menyimpan, menjaga atau merawat persediaan. Misalnya biaya sewa gudang, biaya keusangan, asuransi, biaya penjaga gudang, biaya listrik, dan biaya peralatan untuk perawatan.

2. Biaya pemesanan (ordering cost)

Merupakan biaya yang timbul selama proses pemesanan. Misalnya biaya administrasi pemesanan, biaya proses pesan, biaya bongkar muatan, dan sebagainya.

3. Biaya penyiapan (setup cost)

Merupakan biaya yang timbul untuk mempersiapkan mesin atau proses untuk produksi, apabila barang/komponen yang diperlukan diproduksi sendiri oleh

(16)

perusahaan. Misalnya, biaya untuk membersihkan dan mempersiapkan mesin, biaya untuk menyetel mesin, biaya penjadwalan mesin, dan sebagainya.

4. Biaya kehabisan bahan (stock out cost)

Merupakan biaya yang timbul jika terjadi kehabisan bahan. Misalnya, biaya kehilangan penjualan, biaya kehilangan pelanggan, selisih harga beli antara harga suplier, eceran, dan sebagainya.

Biaya-biaya tersebut akan menjadi bahan pertimbangan dalam menetapkan kebijakan persediaan. Kebanyakan model persediaan dari berbagai literatur bertujuan untuk meminimalkan biaya total persediaan secara keseluruhan.

II.4. Gudang (Warehouse) di Industri Manufaktur

II.4.1. Definisi Gudang

Gudang (warehouse) biasa difahami sebagai tempat penyimpanan barang sesuai

dengan penggunaannya. Di masa lampau gudang hanya berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan persediaan saja. Dewasa ini bagi beberapa distributor, gudang merupakan salah satu dasar pelayanan yang memberikan nilai tambah bagi pelanggan, sehingga ada suatu kebutuhan untuk memindahkan fungsi gudang pada fungsi yang strategis fundamental dalam menghadapi persaingan bisnis. Dalam konsep modern, gudang merupakan salah satu dari beberapa fungsi bisnis yang berintegrasi secara bersama-sama untuk memberikan manfaat persaingan yang unik bagi perusahaan [Kapoor, 2003]. Dalam konteks ekonomi, gudang menciptakan kegunaan menurut waktu. Gudang meningkatkan nilai barang yang disimpan dengan menyeimbangkan antara kekuatan persediaan dan penawaran. Sehingga, barang dipindahkan ke gudang untuk disimpan sampai permintaan terhadap barang tersebut mencapai kapasitas yang cukup untuk dilakukan pengiriman barang.

(17)

II.4.2. Fungsi Gudang

Gudang diperlukan untuk beberapa fungsi sebagai berikut:

a. menyediakan persediaan cadangan untuk mengantisipasi

kekurangan/kehilangan produksi dan menjaga sejumlah ukuran ekonomis serta menstabilkan persediaan

b. menyelamatkan persediaan dari bahaya lingkungan dan resiko kecurian c. mengelola persediaan secara efisien

II.4.3. Klasifikasi Gudang

Menurut Kapoor (2003), terdapat beberapa tipe gudang yakni sebagai berikut:

a. Gudang pengolahan material (material handling warehouses), pemasangan

(assembly) atau pendistribusian (distribution)

Gudang ini digunakan untuk proses pemasangan (assemble), pencampuran

(mix), dan pembagian barang untuk pengangkutan (segment goods in transit). Gudang jenis ini melayani produk sementara hanya sebentar saja. Gudang untuk proses pemasangan biasa digunakan oleh perusahaan-perusahaan untuk membeli barang agrikultur dalam jumlah besar yang berasal dari banyak sumber, juga digunakan oleh perusahaan industri dan institusi pemasaran yang melakukan pembelian barang dalam jumlah besar dari supplier. Gudang untuk

proses distribusi kadang kala disebut sebagai gudang pasar (market

warehouses), digunakan untuk menerima produk dari pusat produksi dalam

borongan dan kemudian mendistribusikannya ke pasar melalui mekanisme pemesanan oleh pelanggan. Gudang distribusi seringkali digunakan untuk mencampurkan dan memindahkan muatan mobil dan muatan truk dari sejumlah besar titik produksi ke sejumlah yang lebih besar lokasi pelanggan. Fungsi yang paling penting dari gudang untuk pemasangan adalah perpindahan. Aktivitas utama pada gudang pengolahan material adalah menerima, menyimpan, mengkonsolidasikan, memilih, dan mengirimkan.

(18)

b. Gudang penyimpanan (storage warehousing)

Gudang jenis ini mempunyai beberapa kegunaan yang semuanya berkenaan dengan permintaan dan persediaan. Setiap industri dengan permintaan musiman atau pola produksi menggunakan jenis gudang penyimpanan ini.

Ada yang menggunakan gudang ini untuk tujuan pendewasaan (maturing),

pematangan (ripening), menyimpan dalam waktu yang lama (aging), atau

sekedar untuk tujuan spekulatif.

c. Gudang kombinasi (combination warehousing)

Tidak ada batasan garis yang tegas antara gudang pengolahan material dan gudang penyimpanan. Banyak gudang yang didisain untuk berfungsi sebagai paduan antara keduanya.

II.5. Persediaan (Inventory) di Industri Konstruksi

Berdasarkan pengalaman di lapangan, durasi penyimpanan stok/persediaan adalah selama 14 hari (dari mulai material datang hingga terpasang di konstruksi). Penumpukan persediaan yang terlalu lama akan mengakibatkan adanya dana yang mengendap dan tidak produktif serta tidak menghasilkan pendapatan. Bahkan bisa menambah biaya proyek karena adanya tambahan biaya penyimpanan stok bahan

(inventory carrying cost), juga ada biaya-biaya untuk mengganti bahan yang

sudah kadaluarsa (obsolescence), mengalami kerusakan (damage) atau hilang

(spoilage). Hal ini sesuai dengan pandangan [PT PP, 2003].

II.6. Gudang (Warehouse) di Industri Konstruksi

Gudang yang digunakan untuk penyimpanan besi beton di industri konstruksi berbeda halnya dari industri manufaktur. Proyek konstruksi umumnya hanya menggunakan gudang jenis terbuka saja tanpa bangunan yang khusus seperti pada manufaktur.

(19)

II.7. Komponen Biaya Rantai Pasok

Beberapa literatur mendefinisikan total biaya rantai pasok adalah sebagai berikut:

Menurut Kapoor et al (2003), biaya distribusi total terdiri atas biaya transportasi, biaya fasilitas, biaya komunikasi, biaya persediaan, biaya perlindungan pemaketan, dan biaya pengelolaan distribusi.

Total Distribution Cost = TC + FC + CC + IC + PPC + DMC

dimana,

TC Transport Cost

FC Facilities Cost

CC Communication Cost

IC Inventory Cost

PPC Protective Packaging Cost

DMC Distribution Management Cost

Sedangkan Frazelle (2002), merumuskan biaya logistik total mencakup segala

pengeluaran dan biaya modal pada lima proses logistik, yakni pelayanan terhadap

pelanggan (customer response), perencanaan dan pengelolaan persediaan

(inventory planning and management), pemasokan (supply), transportasi

(transportation), dan gudang (warehousing).

Total Logistics Cost = TRC + TIC + TSC + TTC + TWC

dimana,

TRC Total Response Costs

TIC Total Inventory Costs

(20)

TTC Total Transportation Costs

TWC Total Warehousing Costs

Customer response costs atau total response costs (TCR) mencakup biaya tenaga

kerja, telekomunikasi, dan biaya yang dibutuhkan bagi personal dan sistem pada proses pemesanan dan komunikasi status pesanan.

Total inventory costs (TIC) meliputi inventory carrying cost (ICC), biaya tenaga

kerja, ruang kantor, dan sistem yang diaplikasikan dalam mengelola persediaan.

ICC = AIV x ICR

dimana,

AIV Average Inventory Value

ICR Inventory Carrying Rate

Total supply costs (TSC) meliputi biaya tenaga kerja, ruang, sistem, dan

telekomunikasi yang digunakan selama proses perencanaan, persetujuan, pelaksanaan, dan pengawasan pesanan pembelian.

Total transportation costs (TTC) meliputi biaya-biaya transportasi pada

pengangkutan di hulu dan hilir rantai pasok.

Total warehousing costs (TWC) meliputi biaya tenaga kerja, ruang,

material-handling systems, dan information handling systems. Biaya tenaga kerja,

sederhananya adalah perkalian dari annual working hours (AWH, hour/year)

dengan warehouse wage rate (WWR, dollars/hour with fringes). Biaya ruang,

merupakan perkalian dari total floorspace (TFS, in squarefeet) dengan space

occupancy rate (SOR, dollars/SF x year). Biaya material-handling systems,

adalah perkalian dari material handling systems investment (MHSI, dollars)

(21)

information handling systems, merupakan perkalian dari information handling

systems investment (IHSI, dollars) dengan SCR.

Blanchard (2004) merumuskan biaya total logistik sebagai berikut:

Total Logistics Cost (TLC) = CDL + CPLE + COL + CMS

dimana,

CDL Cost of Development of Logistics

CPLE Cost of Producing Logistics Elements

COL Cost of Operational Logistics

CMS Cost of Maintenance and Support

(Sustaining)

sedangkan, Cost of Operational Logistics (COL) dirumuskan sebagai

COL = P + MH + T + CS

dimana,

P Cost of Material Acquisition (Purchasing)

MH Cost of Material Processing (Materials

Handling)

T Cost of Distribution (Transportation)

CS Cost of Customer Service

Bernard et al. (1976) mendefinisikan total biaya rantai pasok sebagai berikut:

Total Costs = ICC + LQC + WC + TC + CLS

(22)

ICC Inventory Carrying Costs

LQC Lot Quantity Costs

WC Warehousing Costs

TC Transportation Costs

CLS Cost of Lost Sales

Objektifnya adalah untuk memperbesar keuntungan perusahaan dan mengurangi biaya total penyelenggaraan rantai pasok. Keuntungan perusahaan dapat ditingkatkan dengan cara mengurangi persediaan dan mengalihkannya pada transportasi atau sistem logistik. Alokasi persediaan yang sedikit dengan biaya penyimpanan yang rendah akan menimbulkan masalah pada penggunaan gudang yang banyak (atau pemesanan berkali-kali) dan pemilihan moda transportasi yang berdurasi lambat seperti kereta api. Sedangkan alokasi persediaan yang banyak dengan biaya penyimpanan yang tinggi akan menjadikan lokasi penyimpanan berjumlah terbatas dengan kebutuhan penggunaan moda transportasi cepat seperti kendaraan bermotor atau bahkan mungkin pesawat terbang.

II.8. Faktor Penting Biaya Penyimpanan (Inventory Carrying Cost) di Industri Manufaktur

Bernard et al. (1976) telah mencoba mengembangkan suatu metodologi untuk

menentukan proporsi biaya penyimpanan (inventory holding cost). Tujuannya

agar dapat menjadi framework bagi para manajer dalam menetapkan kebijakan

mengenai biaya penyimpanan. Menurutnya, biaya penyimpanan tersusun oleh sejumlah komponen biaya yang berbeda dan secara umum merupakan salah satu biaya tertinggi dalam sistem distribusi fisik (physical distribution system). Biaya ini berkisar antara 12% sampai 35% dari biaya total penyelenggaraan rantai pasok.

Terdapat empat kategori biaya dasar yang harus dipertimbangkan ketika menghitung biaya penyimpanan, yaitu:

(23)

a. Biaya modal (capital cost)

Menyimpan persediaan artinya membiarkan modal tertahan yang sebenarnya dapat dimanfaatkan pada investasi lainnya. Terdapat dua tipe biaya modal yakni:

1. Investasi persediaan (inventory investment) 2. Aset investasi (investment in assets)

b. Biaya pelayanan persediaan (inventory service cost)

Jenis biaya ini tersusun oleh komponen-komponen sebagai berikut: 1. Pajak (taxes)

Besarnya biaya pajak bervariasi dan tergantung secara langsung dengan tingkat persediaan.

2. Asuransi (insurance)

Merupakan sejumlah biaya antisipasi yang dibayarkan untuk menutupi kerugian yang ditimbulkan atas risiko menyimpan persediaan. Tingkat asuransi bervariasi tergantung dari jenis material yang digunakan, usia, dan berbagai pertimbangan perlindungan yang diharapkan.

c. Biaya gudang (storage space cost)

Secara umum, terdapat empat tipe fasilitas yang harus dipertimbangkan karena membutuhkan perlakuan yang berbeda bagi setiap tipenya, yakni:

1. plant warehouses

2. public warehouses

3. rented/leased warehouses

4. privately owned warehouses

d. Biaya risiko persediaan (inventory risk cost)

Kebijakan mengenai komponen biaya risiko persediaan ini bisa berbeda-beda antara satu perusahaan dengan perusahaan lainnya. Komponennya antara lain:

1. obsolescence

2. damage

3. pilferage

(24)

Tersine (1994) mendefinisikan biaya penyimpanan sebagai biaya yang diasosiasikan dengan investasi pada persediaan dan pemeliharaan investasi fisik di gudang, seringkali diistilahkan dengan holding cost atau carrying cost. Asumsi penyederhanaan biaya penyimpanan umumnya dibuat dalam mengelola persediaan, yakni berkisar pada 20% - 40% dari investasi persediaan.

Biaya penyimpanan terdiri dari: a. Biaya modal (capital cost)

Biaya yang dialokasikan untuk jenis pengembalian yang belum diterima. Biaya ini merefleksikan besarnya kehilangan daya pendapatan (lost earning

power) atau kehilangan peluang (opportunity cost).

b. Pajak (taxes)

c. Asuransi (insurance)

d. Biaya pengolahan (handling) e. Biaya gudang (storage) f. Biaya penyusutan (shrinkage)

Biaya yang dialokasikan untuk mengatasi resiko pengurangan jumlah persediaan karena hilang atau dicuri.

g. Biaya keusangan (obsolescence)

Biaya yang dialokasikan untuk mengatasi resiko persediaan yang akan kehilangan nilainya karena pergeseran corak mode atau pilihan pelanggan. h. Biaya kemerosotan (deterioration)

Biaya yang dialokasikan untuk mengatasi perubahan karakter material karena faktor usia atau penurunan kondisi lingkungan.

Baru-baru ini, Chopra et al. (2007) membagi biaya penyimpanan (inventory

holding cost) menjadi:

a. Biaya modal (cost of capital)

Biaya modal merupakan komponen yang paling dominan dari biaya penyimpanan untuk jenis produk yang tidak cepat usang. Pendekatan yang

tepat didapatkan dengan mengevaluasi weight average cost of capital

(25)

b. Biaya keusangan (obsolescence/spoilage cost) c. Biaya pengolahan (handling cost)

d. Biaya kepemilikan (occupancy cost) e. Biaya lain-lain (miscellaneous cost)

Berbeda halnya dengan Christopher (2005) yang membagi biaya penyimpanan

(the cost of holding inventory) secara lebih terperinci sebagai berikut:

a. Biaya modal (cost of capital)

b. Biaya gudang dan pengolahan (storage and handling) c. Biaya keusangan (obsolescence)

d. Biaya ganti rugi kerusakan dan kemerosotan (damage and deterioration) e. Biaya kecurian/penyusutan (pilferage/shrinkage)

f. Biaya asuransi (insurance)

g. Biaya pengelolaan (management cost)

Menurut Bowersox et al. (2002), biaya penyimpanan (inventory carrying cost) adalah sejumlah biaya yang diasosiasikan dengan pemeliharaan persediaan, dapat dihitung dengan mengalikan presentase biaya penyimpanan tahunan dengan rata-rata nilai persediaan. Hampir mirip dengan pembagian di atas, biaya penyimpanan

(inventory carrying cost) dipecah menjadi:

a. Biaya modal (capital cost)

Besarnya didasarkan pada target pengembalian investasi (return on

investment) yang diharapkan bagi perusahaan, umumnya berkisar sekitar 25%.

Dana yang diinvestasikan pada persediaan akan kehilangan daya pendapatannya, membatasi ketersediaan modal, dan membatasi investasi untuk yang lainnya.

b. Biaya pajak (taxes)

Umumnya persediaan di gudang akan dikenakan pajak yang nilainya tergantung pada lokasi. Biaya pajak ini biasanya langsung dipungut berdasarkan tingkat persediaan pada suatu waktu atau tingkat persediaan rata-rata pada suatu rentang periode waktu.

(26)

c. Biaya asuransi (insurance)

Biaya asuransi adalah pengeluaran yang didasarkan pada prediksi resiko atau kerugian selama waktu tertentu. Resiko kerugian bergantung pada jenis produk dan karakter fasilitas pengaman yang digunakan.

d. Biaya keusangan (obsolescence)

Adalah biaya keusangan persediaan yang disebabkan oleh kemerosotan selama disimpan di gudang, misalnya karena kadaluarsa atau usang karena mode/gaya. Berdasarkan pengalaman, penentuan biaya ini biasanya besarnya berupa prosentase dari nilai persediaan rata-rata yang usang tiap tahun.

e. Biaya gudang (storage)

Biaya fasilitas yang berhubungan dengan penyimpanan persediaan. Pada gudang milik public atau contract, muatan gudang ditagih secara individual.

Sedangkan untuk gudang milik sendiri (private owned), biaya depresiasi

tahunan total gudang harus dihitung dengan satuan pengukuran yang standar, seperti biaya/hari/m2 atau biaya/hari/m3. Biaya kepemilikan tahunan total dapat dihitung dengan mengalikan rata-rata harian ruang yang digunakan dengan faktor biaya standar pada tahun tersebut. Biaya ini dapat didistribusikan pembebanannya pada seluruh persediaan yang disimpan guna menentukan biaya gudang rata-rata per unit persediaan produk. Prosentase biaya penyimpanan yang akan digunakan perusahaan ditentukan oleh kebijakan manajerial perusahaan. Keputusan mengenai besarnya alokasi untuk biaya penyimpanan merupakan keputusan yang penting, karena biaya penyimpanan berinteraksi dengan komponen-komponen biaya logistik lainnya.

Khusus biaya penyimpanan, Hohenstein (1982) mendefinisikannya sebagai biaya tambahan yang diperlukan untuk menyimpan barang persediaan selama satu tahun, biasa diistilahkan dengan holding cost atau carrying cost. Jika biaya setiap pemesanan besarnya sama dan tidak tergantung pada jumlah pemesanan, maka biaya penyimpanan dapat bertambah atau berkurang sesuai dengan jumlah pemesanan. Misalkan untuk persediaan senilai $ 1 membutuhkan biaya penyimpanan sebesar $ 0.2 per tahun, maka untuk persediaan senilai $ 2 akan

(27)

membutuhkan biaya penyimpanan sebesar $ 0.4 per tahun. Dapat dilihat bahwa biaya penyimpanan berkaitan/berhubungan langsung dengan jumlah jumlah persediaan (rata-rata).

Menurut Hohenstein, komponen biaya penyimpanan terdiri dari: a. Biaya investasi (the extra cost of money invested in stock)

Pemilik modal yang berinvestasi dalam bentuk persediaan berhak mendapatkan pengembalian atas investasi tersebut. Dalam pengaturan laju pengembalian modal, pemilik modal berhak pula atas laju yang lebih tinggi dibandingkan laju normal, karena faktor resiko terhadap modal bisnis berhubungan langsung dengan junlah resiko bisnis itu sendiri.

b. Biaya pajak (property taxes paid on inventory) c. Biaya asuransi (insurance on stock)

d. Biaya kehilangan/kerusakan (stock losses due to stockroom pilferage or other

stock handling damage)

e. Biaya gudang (storage space)

Berdasarkan kajian dari beberapa literatur di atas, dapat disimpulkan faktor-faktor yang mempengaruhi biaya penyimpanan pada rantai pasok di industri manufaktur adalah sebagai berikut:

a. Biaya modal (capital cost)

b. Biaya pelayanan persediaan (inventory service cost) 1. Pajak (taxes)

2. Asuransi (insurance)

c. Biaya gudang (storage space cost)

a. plant warehouses

b. public warehouses

c. rented/leased warehouses

d. privately owned warehouses

d. Biaya risiko persediaan (inventory risk cost)

(28)

2. damage

3. pilferage

Referensi

Dokumen terkait

Pada saluran tanah (tanpa pasangan) yang masih baru, as saluran , batas tanggul, lebar tanggul masih terlihat profilnya, namun dengan berjalannya waktu tanda – tanda tadi

(1999), yang menguji apakah politik dan dukungan organisasional yang dipersepsikan berhubungan dengan komitmen afektif dan continuance, kepuasan kerja, turnover intent, kinerja

Mempersiapkan sarana transp'rtasi dan pengemudinya untuk mempelai, petugas +4A, anak yatim, ustad?, perias, keluarga maupun seksi / seksi yang memerlukan sarana

Pada diatas, dapat dilihat bahwa hasil fermentasi cincalok udang rebon yang dibuat dengan metode Backslopping berpengaruh nyata terhadap nilai kadar air, abu,

Dalam aktifitas ini manager purchasing akan melakukan proses approval untuk pesanan ke supplier yang telah melewati tahap negosiasi dari Staff purchasing Aktifitas

Maka dapat disimpulkan bahwa selama periode Tahun Anggaran 2017 akuntabilitas kinerja di Badan PengelolaanKeuangan dan Pajak Daerah Kota Surabaya mengenai laporan

Kemudian usaha kedua yaitu merencanakan kampanye diawali dengan menyusun tujuan dari kampanye Counting Down ini yaitu: untuk menberikan informasi kepada

Tahap persiapan untuk kegiatan kewaspadaan universal yang meliputi pengadaan handclean dan observasi teknik mencuci tangan 7 langkah keperawatan dimulai