TINJAUAN PUSTAKA. Tahap tersebut dapat digunakan untuk memperkirakan status kelangkaan spesies

18 

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

TINJAUAN PUSTAKA

Inventarisasi

Inventarisasi merupakan usaha menghitung jumlah individu suatu spesies tumbuhan untuk mengetahui kelimpahan populasi tersebut di habitat aslinya. Tahap tersebut dapat digunakan untuk memperkirakan status kelangkaan spesies tumbuhan tertentu berdasarkan data populasi di habitat aslinya (Yulia dan Ruseani, 2008).

Inventarisasi dilakukan secara eksploratif (Puspitaningtyas, 2007). Inventarisasi anggrek dilakukan dengan tujuan untuk melihat kekayaan spesies anggrek di suatu kawasan. Untuk melihat kelimpahan relatif spesies anggrek dilakukan pengamatan jumlah individu maupun frekuensinya. Pengamatan dilakukan pada setiap kali penjumpaan. Setiap kali berjalan dijumpai anggrek, maka pada saat itu dilakukan pengamatan populasi dan pengulangan penjumpaan dihitung sebagai frekuensinya. Kelimpahan relatif dihitung dari penjumlahan persentase jumlah individu dan persentase frekuensi keterdapatannya (Puspitaningtyas, 2010).

Eksplorasi adalah pelacakan atau penjelajahan atau dalam plasma nutfah tumbuhan dimaksudkan sebagai kegiatan mencari, mengumpulkan, dan meneliti spesies plasma nutfah tertentu untuk mengamankan dari kepunahan. Plasma nutfah yang ditemukan perlu diamati sifat dan asalnya. Eksplorasi dilengkapi dengan denah penjelajahan yang menggambarkan tempat tujuan eksplorasi dan data paspor (memuat nama daerah plasma nutfah anggrek, kondisi biogeografi, dan ekologi) (Sabran, dkk., 2003).

(2)

Identifikasi tingkat genus dilakukan dengan cara melakukan pengamatan morfologi tumbuhan. Untuk mengidentifikasi sampai tingkat spesies diperlukan pengamatan morfologi bunganya. Spesies yang sedang tidak berbunga hanya dapat diidentifikasi sampai tingkat genusnya (Puspitaningtyas, 2010).

Anggrek Tanah

Menurut Soeryowinoto (1974), anggrek tanah adalah anggrek yang hidup di permukaan tanah dan nutrisinya diperoleh dari dalam tanah. Anggrek tersebut memiliki rambut-rambut akar yang panjang. Akar anggrek tanah berbeda sekali dengan anggrek saprofit atau anggrek epifit. Akar anggrek tanah mempunyai akar rambut yang panjang dan rapat. Umumnya anggrek tanah berdaun lebar dengan helain daun yang relatif tipis. Daun tersebut tidak sekulen, umumnya berwarna hijau sehingga diharapkan dapat mengambil gas CO2 dari udara bebas dan

mengambil zat-zat anorganik tanah. Beberapa contoh anggrek tanah adalah: Phaius, Arundina, dan Sphatoglottis.

Menurut Ashari (1995), anggrek tanah selain memiliki akar rambut (alat penghisap) juga adakalanya memiliki akar umbi yang berfungsi untuk menyimpan makanan dari hasil fotosintesis.

Klasifikasi Anggrek

Menurut Parnata (2005), anggrek diklasifikasikan sebagai berikut: Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae Kelas : Monocotyledoneae Ordo : Orchidales

(3)

Famili : Orchidaceae Genus : ±1.200 genus

Spesies : ±50.000 spesies alam dan ±100.000 spesies hibrida

Struktur Morfologi Anggrek Bunga

Menurut Latif (1960) dalam Berliani (2008), bunga anggrek terdiri dari lima bagian utama yaitu sepal (kelopak bunga), petal (mahkota bunga), benang sari, putik dan ovari (bakal buah). Pelindung bunga terluar saat bunga masih kuncup adalah sepal. Anggrek mempunyai tiga helai sepal yang berwarna indah. Letaknya membentuk segitiga. Sesudah sepal, terdapatkan tiga helai petal yang juga terletak dalam bentuk segitiga. Dua helai yang diatas membentuk sudut 120° dengan lembar ke-3 yang lebih besar dan disebut labelum atau bibir. Labelum bermacam-macam bentuk, dan warna lebih cerah pada beberapa spesies anggrek. Labelum membentuk semacam platform tempat hinggapnya serangga. Benang sari pada bunga anggrek ada yang satu (monandrae), dan ada yang dua (diandrae). Benang sari dan tangkai putik menjadi satu membentuk suatu struktur yang disebut columna. Tidak seperti tumbuhan lainnya, columna anggrek tidak mempunyai tepung sari seperti serbuk, tetapi mempunyai gumpalan serbuk sari yang disebut polinia. Polinia melekat pada ujung columna melalui suatu struktur yang disebut plasenta dan tertutup dengan sebuah cap. Tergantung dari spesiesnya, jumlah polinia ada yang 2, 4, 6 atau 8. Kepala putik (stigma) terletak di bawah cap dan polinia, menghadap ke labelum. Tampaknya seperti lubang dangkal yang bulat dan agak lengket. Ovari bunga terletak di bawah struktur mahkota. Kedudukan yang demikian disebut inferior ovari. Ovari biasanya bersatu

(4)

dengan tangkai bunga (flower stalk). Bunga anggrek ada yang terbentuk pada pucuknya/ujung tanaman seperti pada Cattleya. Golongan demikian disebut acranthe (Gambar 1). Golongan lainnya adalah bunga yang terbentuk antara helai daun yang disebut pleuranthe, seperti yang dapat diamati pada Vanda (Gambar 2).

Bunga-bunga anggrek berbentuk karangan atau rangkaian, muncul dari tangkai bunga yang memanjang. Beberapa spesis anggrek mempunyai karangan bunga yang letaknya lateral dan beberapa lagi letaknya terminal. Bunga yang letaknya terminal terpusat di puncak tanaman atau di ketiak daun. Sementara itu,bunga yang letaknya lateral, lebih menyebar (Parnata, 2005).

Gambar 1. Struktur bunga Cattleya, A. Bunga: 1. kelopak dorsal, 2. mahkota (corolla), 3. kelopak lateral, 4. bibir (labellum), 5. columna, dan B. Columna: 6. kepala sari, 7. rostellum, 8. kepala putik (stigma) 9. bakal buah (Gunadi, 1985b)

Gambar 2. Struktur bunga Vanda, A. Bunga: 1. bakal buah, 2. kelopak dorsal, 3. kelopak lateral, 4. mahkota (corolla), 5. bibir (labellum), 6. columna, dan B. Polinia (gumpalan serbuk sari): 7. serbuk sari, 8. tangkai sari, 9. lempeng perekat (Gunadi, 1985b)

A B 4 3 2 6 7 8 9 5 1 2 A B 7 8 9 5 3 6 4 2 4 3 1

(5)

Buah

Menurut Latief (1960) dalam Berliani (2008), Buah anggrek merupakan buah capsular yang berbelah enam. Biji didalam buah sangat banyak. Biji-biji anggrek tidak mempunyai endosperm yaitu cadangan makanan seperti biji tumbuhan lain. Cadangan makanan diperlukan dalam perkecambahan dan pertumbuhan awal biji, maka untuk perkecambahannya dibutuhkan gula dan persenyawaan-persenyawaan lain dari luar atau dari lingkungan sekelilingnya.

Bakal biji anggrek anatrop, sangat kecil. Buah biasanya berupa buah kendaga, membuka ke samping dengan 3 sampai 6 celah-celah membujur. Biji banyak, sangat kecil, seperti serbuk, memanjang pada 2 ujung atau jarang sekali bersayap, endosperm tidak terdapat lembaga, belum terbentuk atau belum terdiferensiasi (Tjitrosoepomo, 2004)

Menurut Sumartono (1981), buah anggrek mengandung ribuan sampai jutaan biji yang sangat halus, berwarna kuning sampai coklat. Pembiakan dengan biji lebih sukar dibandingkan dengan cara-cara lainnya, karena biji anggrek sangat kecil dan mudah diterbangkan angin. Maka pembiakan dengan biji yang dilakukan orang bertujuan untuk mendapatkan spesies baru. Biji diperoleh dari penyerbukan serbuk sari pada putik. Di hutan penyerbukan terjadi dengan bantuan serangga. Namun secara sengaja penyerbukan dapat dilakukan dengan mengambil serbuk sari dengan alat dan letakkan pada kepala putik sehingga terjadi pembuahan.

Daun

Menurut Latif (1960) dalam Berliani (2008), pada umumnya tanaman monokotil, daun anggrek tidak mempunyai tulang daun yang terbentuk jala menyebar, tetapi tulang daunnya sejajar dengan helaian daun. Tebal daun juga

(6)

bervariasi dari tipis sampai tebal berdaging (sukulen). Pada Vanda bahkan ada yang membulat seperti pistil. Daun melekat pada batang dengan kedudukan satu helai tiap buku dan berhadapan dengan daun pada buku berikutnya atau berpasangan yaitu setiap buku terdapat dua helai daun yang berhadapan.

Warna daun anggrek hijau muda hingga hijau tua, kekuningan dan ada pula yang bercak-bercak. Anggrek daun memiliki daun atau tulang daun yang berwarna dan keindahan spesies anggrek terletak pada daun tersebut. Bentuk daun anggrek bervariasi (Latif, 1972 dalam Berliani, 2008).

Menurut Latif (1960) dalam Berliani (2008), ujung daun anggrek ada yang runcing biasa, belah dua atau sama saja belahnya atau tidak sama, ada bagian ujung daun yang seperti dipatahkan dengan jari (memar). Jika dilihat dari pertumbuhan daunnya, anggrek digolongkan menjadi dua kelompok, yaitu tipe evergreen dan tipe deciduous. Tipe evergreen adalah tipe daun yang tetap segar, hijau dan tidak gugur secara serentak. Tipe deciduous adalah tipe anggrek berdaun gugur serentak yakni pada waku tertentu seluruh daun akan gugur secara bersamaan dan tanaman mengalami masa istirahat.

Batang

Berdasarkan pola pertumbuhannya, tanaman anggrek dibedakan menjadi dua tipe yaitu, simpodial dan monopodial. Pada pola pertumbuhan simpodial yaitu anggrek dengan pertumbuhan ujung batang terbatas. Batang tersebut akan tumbuh terus. Setelah mencapai batas maksimum, pertumbuhan batang akan berhenti. Pertumbuhan baru tersebut dilanjutkan oleh anakan baru yang tumbuh disampingnya. Pada anggrek simpodial terdapat suatu penghubung yang disebut rhizoma atau batang dibawah tanah. Pertumbuhan tunas baru akan keluar dari

(7)

rhizoma, sebagai contoh yang paling jelas adalah pada anggrek Cattleya. Pada anggrek Cattleya, bentuk antara rhizoma dan daun disebut pseudobulb. Pseudobuld tersebut ukurannya bervariasi demikian juga bentuknya (Latif, 1960 dalam Berliani, 2008).

Anggrek tipe simpodial merupakan anggrek yang tidak memiliki batang utama, bunga keluar dari ujung batang dan berbunga kembali dari anak tanaman yang tumbuh, dapat dilihat pada Gambar 3. Kecuali pada anggrek spesies Dendrobium sp. yang dapat mengeluarkan tangkai bunga baru di sisi-sisi batangnya. Contoh dari anggrek tipe simpodial antara lain: Dendrobium sp., Cattleya sp., dan Cymbidium sp.. Anggrek tipe simpodial pada umumnya bersifat epifit (Sumartono, 1981).

Anggrek tipe monopodial adalah anggrek yang dicirikan oleh titik tumbuh yang terdapat di ujung batang, pertumbuhannnya lurus ke atas pada satu batang. Batang anggrek ada yang berbentuk tunggal dengan bagian ujung batang tumbuh lurus tidak terbatas. Daun-daunnya yang tua pada batang bagian bawah gugur. Setelah daun gugur batang tampak seperti mati. Pada umumnya untuk perbanyakan dapat digunakan potongan-potongan batang tunggal tersebut. Bekas potongan dapat membentuk pucuk baru kembali (Latif, 1972 dalam Berliani, 2008). Bunga keluar dari sisi batang di antara dua ketiak daun, lebih jelas dapat dilihat pada Gambar 4. Contoh anggrek tipe monopodial antara lain: Vanda sp., Arachnis sp., Phalaenopsis sp., dan Aranthera sp. (Soeryowinoto, 1974).

(8)

Gambar 3. Anggrek simpodial: 1. batang tua, 2. batang, 3. umbi semu, 4. akar, 5. daun, 6. tangkai-bunga, 7. bunga, 8. kuncup bunga, 9. akar tinggal (Gunadi, 1985b)

Gambar 4. Anggrek monopodial (Gunadi, 1985b) Akar

Akar anggrek umumnya lunak dan mudah patah. Ujungnya meruncing, licin dan sedikit lengket. Akar anggrek mempunyai lapisan velamen yang bersifat spongy (berongga). Di bawah lapisan tersebut terdapat lapisan yang mengandung klorofil. Pada saat akar menyentuh batang yang keras, maka akar tersebut mudah

4 1 B C A 8 6 5 2 7 7 6 3 9

(9)

melekat. Akar-akar yang sudah tua akan menjadi coklat dan kering, kemudian fungsinya digantikan dengan akar-akar baru yang tumbuh. Pada jenis monopodial terdapat banyak akar lateral yaitu akar yang keluar dari batang diatas. Akar aerial yang masih aktif ujungnya berwarna hijau, hijau keputihan atau kuning kecoklatan, licin dan mengkilat. Akar tersebut besar dan dapat bercabang-cabang. Pada tempat yang kering akar tersebut makin banyak percabangannya untuk mencari tempat yang lembab (Latif, 1960 dalam Berliani, 2008).

Menurut Latif (1972) dalam Berliani (2008), akar anggrek umumnya ada dua macam yaitu akar tanah dan akar gantung. Akar tanah tentu terdapat pada anggrek tanah dan akar gantung terdapat pada anggrek epifit. Selain itu ada juga akar anggrek yang melekat pada benda keras seperti kayu dan batu. Akar anggrek ada yang semacam akar pikat yaitu akar yang pada beberapa anggrek diluar dari jenis akar yang biasa. Letaknya di pangkal (rumpun) batang. Ukurannya pendek, kaku, berliku-liku sedikit, ujungnya tajam dan arahnya keatas, misalnya terdapat pada spesies Cymbidium dan Grammatophyllum.

Habitat Anggrek

Anggrek atau Orchidaceae termasuk dalam keluarga bunga-bungaan. Anggrek terdapat di hutan yang gelap, lereng yang terbuka, batu karang yang terjal, dan batu-batuan di daerah pantai dengan garis pasang surut tinggi. Bahkan di tepi gurun pasir anggrek dapat ditemukan. Anggrek tumbuh dari kutub utara sampai daerah khatulistiwa dan selatan pada semua benua kecuali Antartika (Nursub’i, dkk., 2011).

Menurut Sihotang (2010), dilihat dari tempat tumbuh (habitat) tanaman anggrek dapat dibedakan menjadi tiga pengelompokan spesies, yaitu:

(10)

1. Anggrek pohon (epifit), adalah spesies anggrek yang menumpang pada batang/pohon lain tetapi tidak merusak/merugikan tempat yang ditumpangi (inang). Anggrek tersebut biasanya menempel di pohon-pohon besar dan rindang di habitat aslinya. Contoh anggrek epifit antara lain: Dendrobium, Cattleya, dan Phalaenopsis.

2. Anggrek tanah (terrestrial), adalah spesies anggrek yang hidup di atas permukaan tanah. Anggrek tersebut biasanya membutuhkan cahaya matahari penuh atau cahaya matahari langsung. Contoh anggrek tanah antara lain: Vanda, Arachnis dan Aranthera.

3. Anggrek sampah (saprofit), adalah anggrek yang tumbuh pada media yang mengandung humus atau daun-daun kering. Contoh anggrek saprofit antara lain: Goodyera sp.

Syarat - Syarat Tumbuh Anggrek Iklim

Anggrek dapat tumbuh baik dengan keadaan iklim yang mendukung untuk pertumbuhannya. Yudi (2007) menyatakan bahwa iklim tersebut terbagi menjadi beberapa bagian yaitu:

a. Angin dan curah hujan tidak terlalu berpengaruh terhadap pertumbuhan anggrek.

b. Cahaya matahari sangat dibutuhkan sekali bagi anggrek. Kebutuhan cahaya berbeda-beda tergantung pada spesies anggrek. Ada yang memerlukan intensitas cahaya penuh, ada juga yang tidak penuh atau memerlukan naungan. c. Suhu minimum untuk pertumbuhan anggrek adalah 9°C dan suhu

(11)

9°C, maka daerah tersebut tidak dianjurkan untuk pertumbuhan anggrek. Suhu yang tinggi dapat menyebabkan dehidrasi yang dapat menghambat pertumbuhan anggrek.

d. Kelembaban relatif (RH) yang diperlukan untuk anggrek berkisar antara 60 – 85%. Fungsi kelembaban yang tinggi bagi tanaman antara lain untuk menghindari penguapan yang terlalu tinggi. Pada malam hari kelembaban dijaga agar tidak terlalu tinggi, karena dapat mengakibatkan busuk akar pada tunas-tunas muda.

Media tanam anggrek

Darmono (2008) menyatakan bahwa terdapat 3 jenis media untuk anggrek, yaitu:

1. Media untuk anggrek epifit terdiri atas serat pakis yang telah direbus, kulit kayu yang dibuang getahnya, serabut kelapa yang telah direndam air selama 2 minggu, ijuk, potongan batang pohon enau, arang kayu, pecahan genting/batu bata.

2. Media untuk anggrek tanah terdiri atas tanah yang ditambah pupuk kompos, sekam, serat pakis dan lainnya. pH tanah yang ideal untuk anggrek tanah adalah 6,5 dan nilai kisaran pH optimumnya adalah 4,0 – 5,0.

3. Media untuk anggrek saprofit terdiri atas serasah, tanah yang ditambah pupuk kompos, dan lainnya.

(12)

Ketinggian tempat

Menurut (Gunadi, 1985b), suhu optimal bagi anggrek sesuai dengan ketinggian tempat tumbuhnya adalah sebagai berikut:

Tabel 1. Suhu optimal bagi anggrek berdasarkan ketinggian tempat Tipe anggrek berdasarkan

ketinggian tempat

Ketinggian (m dpl) Suhu optimal siang malam Anggrek panas 0 – 650 26°C – 30°C 21°C – 26°C Anggrek sedang 650 – 1.500 21°C – 26°C 15°C – 21°C Anggrek dingin >1.500 15°C – 21°C 9°C – 15°C Persebaran Anggrek

Anggrek dalam penggolongan taksonomi termasuk dalam famili Orchidaceae, suatu famili yang sangat besar dan bervariasi (Sandra, 2001). Anggrek ditemukan hampir di seluruh pelosok dunia dan spesiesnya dapat dijumpai tumbuh liar di setiap benua. Keanekaragaman anggrek di seluruh dunia sangat tinggi. Anggrek merupakan salah satu tumbuhan yang banyak ditemukan pada kawasan hutan tropis, terutama di daerah Indo-Malaya. Di Indonesia diperkirakan mempunyai 3.000 spesies anggrek liar. Spesies tersebut tersebar di hutan-hutan Sumatera, Kalimantan, Papua, dan Sulawesi (Widhiastuti, dkk., 2007).

Pada umumnya genus yang paling banyak dijumpai adalah anggrek epifit, sedangkan genus di daerah artik dan antartika (suhu dingin) hampir sebagian besar adalah anggrek tanah. Walaupun anggrek dapat tumbuh pada daerah arktik dan antartika, tapi anggrek tersebut banyak ditemukan di daerah tropis (Comber, 2001).

Anggrek tersebar luas di daerah hutan hujan tropis basah seperti Amerika Selatan, Amerika Tengah, Meksiko, India, Sri Lanka, Indonesia, Thailand dan Malaysia (Loveless, 1989). Beberapa genus anggrek yang tumbuh di benua Asia

(13)

adalah Dendrobium, Spathoglottis, Vanda, Cymbidium, dan Aerides. Di benua Amerika, beberapa spesies anggrek yang tumbuh adalah Accallis, Leptotes dan Mormodes, sedangkan genus yang terdapat di benua Afrika yaitu Aeranthes, Satyrum dan Cyrtorchis. Di benua Eropa genus yang tumbuh adalah yaitu Spiranthes, Orchis dan Pseudoorchis, sedangkan di benua Australia dan Selandia Baru genus yang tumbuh adalah Glossodia, Earina dan Corybas (Gunadi, 1986).

Sumatera Utara adalah tempat yang sangat cocok untuk anggrek, karena memiliki iklim dengan curah hujan yang merata sepanjang tahun. Sumatera Utara diperkirakan mempunyai 1.118 spesies anggrek liar (Comber, 2001).

Menurut Berliani (2008) di Hutan Gunung Sinabung Kabupaten Karo Sumatera Utara, terdapat 37 spesies anggrek epifit yang termasuk dalam 17 genus dengan spesies terbanyak berasal dari genus Bulbophyllum. Puspitaningtyas (2010) menemukan bahwa di Kawasan Suaka Margasatwa Barumun – Sumatera Utara, terdapat 60 spesies anggrek yang terdiri dari 51 anggrek epifit dan 9 anggrek tanah. Puspitaningtyas (2005) juga menambahkan bahwa di Cagar Alam Gunung Simpang Jawa Barat, terdapat 137 spesies anggrek yang terdiri dari 95 anggrek epifit dan 42 anggrek tanah. Selain itu, di Taman Nasional Meru Betiri – Jawa Timur, terdapat 20 spesies anggrek epifit dan 5 spesies anggrek tanah (Puspitaningtyas, 2007).

Spesies anggrek tanah yang terdapat di stasiun penelitian Soraya Ekosistem Leuser Banda Aceh adalah Macodes patula, Malaxis oculata, Aphyllorchis pallida, Calanthe sp., dan Corymborchis veratifolia (Desyana, 1999). Ruhana (2003) meyatakan bahwa di stasiun penelitian Ketambe Ekosistem Leuser Banda Aceh ditemukan spesies anggrek tanah seperti Calanthe sp.,

(14)

Corymborchis sp., Cryptostylis sp., Macodes sp., dan Malaxis sp. Kemudian di daerah tersebut ditemukan juga spesies anggrek epifit seperti Acriopsis sp., Aerides sp., Agrostophyllum sp., Cymbidium sp., Epidendrum sp., Phalaeonopsis sp., dan Sarcanthus sp.

Spesies anggrek yang terdapat di Hutan Jobolarangan adalah 11 spesies anggrek epifit (Marsusi, dkk., 2001). Sedangkan menurut Djuita, dkk. (2004), di Situ Gunung Sukabumi terdapat 22 spesies anggrek epifit, 18 spesies anggrek tanah, dan 1 spesies anggrek saprofit. Sementara di Kabupaten Sintang Kalimantan Barat terdapat 30 spesies anggrek epifit dan 10 spesies anggrek tanah (Ariyanti dan Pa’i, 2008). Anggrek juga ditemukan di Kawasan Hutan Lindung Lemor Lombok Timur Nusa Tenggara Barat, yaitu 6 spesies anggrek tanah (Astuti dan Darma, 2010). Dan menurut Hartini dan Wawangningrum (2009), di Pulau Batudaka terdapat 9 spesies anggrek tanah dan 8 spesies anggrek epifit.

Manfaat Anggrek

Anggrek alam atau anggrek hutan biasanya dikenal sebagai anggrek spesies. Anggrek spesies tersebut tumbuh secara alami di tempat-tempat yang tidak terpelihara oleh manusia. Anggrek spesies tersebut memegang peranan penting sebagai induk persilangan (Sarwono, 2002).

Manfaat utama anggrek adalah sebagai tanaman hias karena bunga anggrek memiliki keindahan bentuk dan warnanya. Selain itu anggrek bermanfaat sebagai campuran ramuan obat-obatan, bahan dasar pembuatan minyak wangi serta minyak rambut (Purwanto, dkk., 2005).

(15)

Tanaman anggrek mempunyai nilai ekonomis yang tinggi, selain karena keindahannya, bunga anggrek dapat dimanfaatkan sebagai bunga potong yang tahan lama tidak seperti bunga-bunga lain (Rahardi dan Wahyuni, 1993).

Saat ini, anggrek bukan saja dipelihara karena nilai estetika dan sosial budayanya, tapi sejalan dengan semakin fungsionalnya anggrek dalam kehidupan masyarakat, maka orang pun melihatnya sebagai komoditi yaitu menjadi ladang garapan bagi kemungkinan ekonomi atau usaha industri (Gunadi, 1985b).

Kondisi Umum Cagar Alam Dolok Sibual-buali Letak dan luas

Cagar Alam Dolok Sibual-buali secara administrasi pemerintahan terletak di 3 wilayah kecamatan yaitu Kecamatan Sipirok, Kecamatan Padang Sidempuan Timur dan Kecamatan Marancar Kabupaten Tapanuli Selatan Propinsi Sumatera Utara. Sedangkan berdasarkan wilayah pengelolaan hutan termasuk dalam wilayah kerja Seksi Konservasi Wilayah II yang berkedudukan di Rantau Prapat, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara II.

Cagar Alam Dolok Sibual-buali secara geografis terletak pada koordinat 01°30′ - 01°37′ Lintang Utara dan 99°11′15″ - 99°17′55″ Bujur Timur. Cagar Alam Dolok Sibual-buali terletak pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Barumun. Berdasarkan letak pada ketinggian di atas permukaan laut maka Cagar Alam Dolok Sibual-buali terletak pada ketinggian 750 − 1.819 m dpl. Setelah beralih fungsi menjadi Cagar Alam, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No.215/Kpts/Um/14/1982 tanggal 8 April 1982, maka Cagar Alam Dolok Sibual-buali Register 3 memiliki luas 5.000 hektar (Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam Sumatera Utara, 2011).

(16)

Penataan batas

Kawasan Cagar Alam Dolok Sibual-buali sebagian besar berbatasan dengan hutan rakyat dan kebun.

 Bagian Utara berbatasan dengan wilayah Desa Bulumario dan Desa Huraba.  Bagian Selatan berbatasan dengan wilayah Desa Sialaman, Sibio-bio, Aek

Sabaon Julu, Sukarame, Sugitonga, dan Sugijulu

 Bagian Timur berbatasan dengan wilayah Desa Sumuran, Hutaraja, Mandurana, Aek Horsik, Paringgonan, Hasahatan, Pinang Sori dan Gunungtua Baringin

 Bagian Barat berbatasan dengan wilayah Desa Sugijae, Pasar Marancar, Simaretung/Haunatas, Bonan Dolok, Tanjung Rompa, Janjimanaon dan Aek Nabara

(Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam Sumatera Utara, 2011). Topografi, geologi, dan iklim

Cagar Alam Dolok Sibual-buali sebagian besar memiliki topografi bergelombang dan berbukit. Terdapat 4 buah gunung utama/tertinggi dan 6 buah anak gunung. Kemiringan lahan sebagian besar adalah curam (21 – 55 %). Jenis tanahnya berupa tanah aluvial yang berhumus sedang dengan warna tanah coklat tua kehitaman dengan pH antara 5 – 6,5.

Iklim di Cagar Alam Dolok Sibual-buali ditandai dengan hujan yang paling sering turun pada bagian utara dan barat kawasan, sehingga pada beberapa lokasi banyak terdapat longsor. Sebagian besar kawasan sudah tertutup embun mulai jam 17.00 WIB, sedangkan di beberapa bagian puncak mulai turun embun jam 16.00 WIB. Angin bertiup dari arah barat menuju utara dan timur. Suhu

(17)

maksimum 29 °C dan minimum 18 °C dengan kelembaban antara 35 – 100% (Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam Sumatera Utara, 2011).

Flora

Hingga saat ini masih banyak spesies tumbuhan yang terdapat di dalam Cagar Alam Dolok Sibual-buali, beberapa spesies diantaranya merupakan spesies komersil seperti spesies meranti-merantian. Demikian juga spesies anggrek baik anggrek tanah maupun anggrek epifit, masih banyak dijumpai di dalam kawasan ini.

Berdasarkan hasil survei identifikasi tanaman obat-obatan tahun 2002 oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam Sumatera Utara II, terdapat lebih dari 107 spesies tumbuhan obat-obatan yang terdapat di dalam Cagar Alam Dolok Sibual-buali dan daerah sekitarnya.

Berdasarkan hasil kegiatan Eksplorasi Flora Nusantara yang dilaksanakan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) UPT Kebun Raya Indonesia pada tahun 1999 telah diidentifikasi pada tingkat spesies sebanyak 18 spesies non anggrek dan 19 spesies anggrek (Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam Sumatera Utara, 2011).

Fauna

Berbagai spesies satwa terdapat di Cagar Alam Dolok Sibual-buali, beberapa spesies diantaranya dilindungi seperti Mawas (Pongo abelii), Siamang (Hylobates sindactylus), Kambing Hutan (Capricornis sumatrensis), Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrensis), Kuau (Argosianus argus), Rusa (Cervus sp.), dan lain-lain (Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam Sumatera Utara, 2011).

(18)

Pemanfaatan dan pengelolaan 1. Fungsi Kawasan

 Sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan/atau satwa beserta ekosistemnya dan/atau ekosistem tertentu

 Sebagai wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan

 Sebagai kawasan yang dimanfaatkan untuk penelitian, pendidikan dan kegiatan-kegiatan lain yang menunjang budidaya

 Sebagai lokasi kegiatan wisata terbatas pada bagian tertentu kawasan dalam rangka menunjang pembangunan daerah Kabupaten Tapanuli Selatan di bidang konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya

(Balai Besar Konservasi Sumberdaya Alam Sumatera Utara, 2011). 2. Tujuan Pengelolaan

 Terjaminnya kelestarian spesies tumbuhan dan/atau satwa beserta ekosistemnya

 Terjaminnya keutuhan kawasan cagar alam dalam memelihara kelangsungan proses ekologis

 Optimalnya pemanfaatan tumbuhan dan/atau satwa beserta ekosistemnya untuk kepentingan penelitian dan pengembangan, ilmu pengetahuan, pendidikan dan kegiatan lainnya yang menunjang budidaya

 Terkendalinya kegiatan wisata terbatas pada lokasi-lokasi tertentu yang hingga saat ini realitasnya menjadi obyek wisata

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :