PENETAPAN KADAR KALSIUM LAKTAT

15 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FARMASI II

PENETAPAN KADAR KALSIUM LAKTAT

METODE KOMPLEKSOMETRI

DISUSUN OLEH :

KELAS A KELOMPOK 2

MEJA 1

NUR FAUZIAH KASIM

NUREVA RAMLI

NURNANENGSIH

SITI HAJAR IRMAWATI

ULMI FAJRI

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MAKASSAR

JURUSAN FARMASI

(2)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Kompleksometri merupakan titrasi berdasarkan pembentukan senyawa kompleks antara kation dengan zat pembentuk kompleks. Salah satu zat pembentuk kompleks yang banyak digunakan dalam titrasi kompleksometri adalah garam dinatrium etilendiamin tetra asetat (EDTA). Senyawa ini dengan banyak kation membentuk komplels dengan pembanding 1:1.

Titrasi kompleksometri dikenal juga dengan reaksi yang meliputi reaksi pembentukan ion-ion kompleks ataupun pembentukan molekul netral yang terdisosiasi dalam larutan. Persyaratan berdasarkan terbentuknya kompleks dari kelarutan.

Tablet kalsium laktat merupakan salah satu sediaan yang sering digunakan sebagai terapi suplemen pada hipokalsemia atau kebutuhan kalsium meninggi. Sediaan ini merupakan garam kalsium yang berguna untuk menjamin kebutuhan tubuh akan kalsium.

Dalam penetapan kadar ini dilakukan secara titrasi kompleksometri dengan menggunakan indikator biru hidroksi naftol dan pentiter EDTA. Suatu EDTA dapat membentuk senyawa kompleks yang mantap dengan sejumlah besar ion logam sehingga EDTA merupakan ligan yang tidak selektif. Dalam larutan yang sedikit asam dapat terjadi protonasi parsial EDTA tanpa pematahan sempurna kompleks, logam yang ada dalam larutan tersebut maka titrasi dengan EDTA akan menunjukkan jumlah semua ion logam yang ada dalam larutan tersebut.

(3)

1.2 Maksud dan Tujuan 1.2.1 Maksud Percobaan

Mengetahui dan mempelajari cara menentukan kadar suatu zat dalam sediaan farmasi dengan metode kompleksometri.

1.2.2 Tujuan Percobaan

Menetapkan kadar kalsium laktat dalam sediaan tablet dengan metode kompleksometri.

1.3 Prinsip Percobaan

Penentuan kadar kalsium laktat dalam sediaan tablet dengan metode kompleksometri. Metode ini berdasarkan reaksi pembetukan senyawa kompleks, antara kalsium laktat sebagai zat uji dari EDTA sebagai larutan baku. Titik akhir ditandai dengan perubahan warna indikator dari ungu menjadi biru.

(4)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Dasar Teori

Kompleksometri merupakan jenis titrasi dimana titrasi dan titran saling mengkompleks, membentuk hasil berupa kompleks. Reaksi-reaksi pembentukan kompleks atau yang menyangkut kompleks banyak sekali dan penerapannya juga banyak, tidak hanya dalam titrasi karena itu perlu pengertian yang cukup luas tentang kompleks, sekalipun disini pertama-tama akan diterapkan pada titrasi.

Titrasi kompleksometri juga dikenal sebagai reaksi yang meliputi reaksi pembentukan ion-ion kompleks ataupun pembentukan molekul netral yang terdisosiasi dalam larutan. Persyaratan mendasar terbentunya kompleks demikian adalah tingkat kelarutan tinggi.

Selain titrasi kompleks biasa seperti di atas dikenal juga kompleksometri yang dikenal sebagai titrasi kompleksimetri, seperti yang menyangkut penggunaan EDTA. Gugus-gugus yang terkait pada ion pusat, disebut ligan dan dalam larutan air, reaksi dapat dinyatakan oleh persamaan: m (H2O)n + L  m (H2O) (n-1) L + H2O.

EDTA merupakan salah satu jenis asam amino polikarboksilat EDTA sebenarnya adalah ligan seksidentat yang terdapat berkoordinasi dengan suatu ion logam lewat kedua nitrogen dan keempat gugus karboksilnya atau disebut ligan multidentat yang menagndung lebih dari dua atom koordinasi permolekul, misalnya asam 1,2-diaminoetanatetraasetat (EDTA) yang mempunyai dua atom nitrogen penyumbang dan empat atom oksigen penyumbang dalam molekul.

Penetapan titik akhir titrasi digunakan indikator biru hidroksi naftol yaitu indikator yang membentuk senyawa kompleks dengan ion logam. Ikatan kompleks antara indikator dan logam harus lebih lama daripada ikatan kompleks antara larutan titer dan ion logam. Larutan indikator bebas mempunyai warna yang berbeda dengan larutan kompleks indikator.

(5)

Indikator yang banyak digunakan dalam kompleksometri adalah biru hidroksi naftol.

2.2 Uraian Bahan 1. Kalsium Laktat

Nama Resmi : CALCII LACTAS Nama Lain : Kalsium Laktat

BM/RM : 308, 30 / (CH3SO3)2Ca.5H2O

Pemerian : Serbuk hablur berwarna putih, bau lemah

Kelarutan : Larut dalam lebih kurang 20 bagian air, larut dalam air panas, sangat sukar larut dalam etanol. Kegunaan : Zat uji

2. CaCO3

Nama Resmi : CALCII CARBONAS Nama Lain : Kalsium Karbonat BM/RM : 100,09 / CaCO3

Pemerian : Serbuk hablur putih, tidak berbau, tidak berasa. Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, sangat sukar larut

dalam air yang mengandung karbondioksida. Kegunaan : Zat tambahan

3. HCL

Nama Resmi : ACIDUM HYDROCHLORIDUM Nama Lain : Asam Klorida

Pemerian : Cairan, tidak berwarna, berasap, bau merangsang, jika diencerkan, dengan 2 bagian asam dan bau hilang.

Kegunaan : Zat tambahan 4. Amonium Klorida

Nama Resmi : AMONII CHLORIDUM Nama Lain : Amonium Klorida

Pemerian : Serbuk butir atau hablur, putih tidak berbau, rasa asin, dan dingin hidroskopik.

Kelarutan : Mudah larut dalam air dan dalam gliserol P, lebih mudah larut dalam air mendidih agak sukar larut dalam etanol P.

Kegunaan : Zat tambahan 5. Amoniak

Nama Resmi : AMMONIA Nama Lain : Amoniak

(6)

Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, bau khas, menusuk kuat.

Kelarutan : Mudah larut dalam air Kegunaan : Zat tambahan

6. Aquades

Nama Resmi : AQUA DESTILLATA Nama Lain : Air Suling

Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa.

Kegunaan : Pelarut 2.3 Uraian Sampel

Kalsium Laktat

Komposisi : Tiap tablet mengandung 500 mg kalsium laktat. Indikasi : Kalsium tambahan pada masa pertumbuhan, hamil,

menyusui, dan untuk pertumbuhan tulang dan gigi. Juga sebagai antasida.

Kontra Indikasi : Diketahui mengalami gangguan ginjal berat, hyperkalemia.

Perhatian : Infusiensi ginjal atau yang menderita ginjal. Kemasan : Botol 1000 tab

Produsen : PT. Kimia Farma BAB III METODE KERJA 3.1 Alat dan Bahan

3.1.1 Alat yang digunakan

1. Timbangan 6. Buret

2. Erlenmeyer 7. Statif

3. Beker gelas 8. Corong gelas 4. Pipet tetes 9. Alu dan lumpang 5. Gelas ukur 10. Pengorek

6. Sendok tanduk 3.1.2 Bahan yang digunakan

1. Kalsium laktat tablet 6. Amonia

2. CaCO3 7. Indikator biru hidroksi naftol

3. HCL 2 N 8. Larutan baku EDTA 0,05 M 4. Aquades 9. Kertas saring

5. Ammonium Klorida 10. Kertas perkamen 3.2 Cara Kerja

3.2.1 Pembuatan Dapar Amonia pH 10

1. Ditimbang 7,0 g ammonium klorida, dimasukkan ke dalam Erlenmeyer bertutup.

(7)

2. Ditambahkan 57 ml amonium pekat.

3. Dicukupkan volumenya dengan aquades ad 100 ml. 3.2.2 Pembakuan Larutan EDTA 0,05 M

1. Ditimbang saksama 100 mg CaCO3 p.a., dimasukkan ke dalam

erlenmeyer.

2. Ditambahkan HCL 2 N tetes demi tetes hingga larut. 3. Ditambahkan 30 ml aquades, 15 ml dapar ammonia.

4. Dititrasi dengan larutan baku EDTA 0,05 M menggunakan indikator biru hidroksi naftol hingga mencapai titik akhir. 3.2.3 Penetapan Kadar

1. Ditimbang berat 10 tablet, lalu dihitung berat rata-rata pertablet, lalu diserbukkan.

2. Ditimbang saksama serbuk tablet setara dengan 250 mg kalsium laktat anhidrat, dimasukkan ke dalam erlenmeyer. 3. Ditambahkan 30 ml aquades, dikocok selama 3 menit,

kemudian disaring secara kuantitatif sebanyak 3 kali sebanyak 5 ml.

4. Ditambahkan 15 ml dapar ammonia pH 10.

5. Dititrasi dengan larutan baku EDTA 0,05 M menggunakan indikator biru hidroksi naftol hingga mencapai titik akhir.

(8)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Pengamatan

4.1.1 Data Hasil Titrasi pada Pembakuan

Larutan titer yang digunakan : EDTA 0,05 M

No Berat Zat

(g)

Pembacaan Skala Buret Volume Titrasi (ml) Titik Awal Titik Akhir

1. 0,1048 0 16,7 16,7

2. 0,1067 16,7 35,7 19

3. 0,1019 0 16,7 16,7

mmol CaCO3 = mmol EDTA

mg CaCO3 BM CaCO3 =VEDTA ×MEDTA 104,8 100,09=16,7× MEDTA MEDTA= 1,047 16,7 =0,0626M

mmol CaCO3 = mmol EDTA

mg CaCO3 BM CaCO3 =VEDTA ×MEDTA 106,7 100,09=19× MEDTA MEDTA=1,066 19 =0,05M

(9)

mg CaCO3 BM CaCO3 =VEDTA ×MEDTA 101,9 100,09=16,7× MEDTA MEDTA=1,018 16,7 =0,06M Mratarata=0,0626+0,0561+0,06 3 =0,0595M

4.1.2 Data Hasil Titrasi Sampel

No Berat Zat

(g)

Pembacaan Skala Buret Volume Titrasi (ml) Titik Awal Titik Akhir

1. 0,3073 0 15,5 15,5

2. 0,3067 15,5 34,4 18,9

3. 0,3034 0 17,1 17,1

Berat 10 tablet = 6,0414 g

Berat ratarata=6,0414 10

Berat yang ditimbang=250mg

500mg×0,60414g=0,30207g

Penetapan Kadar

mmol kalsium laktat = mmol EDTA

mg Calaktat

BM Calaktat=VEDTA× MEDTA

mgCalaktat=VEDTA× MEDTA× BMCalaktat

¿15,5×0,0595×308,30 ¿284,32mg=0,28432g

(10)

kadar Calaktat per tab(praktek)=berat ratarata per tab

berat yang ditimbang ×hasil perhitung

an

¿0,6041

0,3073×0,2843 ¿0,5588g

kadar kemurnian=kadar Calaktat per tablet(praktek)

kadar Calaktat per tab(etiket) ×100

¿0,5588

0,5 ×100

¿111,76

mmol kalsium laktat = mmol EDTA

mg Calaktat

BM Calaktat=VEDTA× MEDTA

mgCalaktat=VEDTA× MEDTA× BMCalaktat

¿18,9×0,0595×308,30 ¿346,69mg=0,34669g

kadar Calaktat per tab(praktek)=berat ratarata per tab

berat yang ditimbang ×hasil perhitung

an

¿0,6041

0,3067×0,3466 ¿0,6829g

(11)

kadar kemurnian=kadar Calaktat per tablet(praktek)

kadar Calaktat per tab(etiket) ×100

¿0,6829

0,5 ×100 ¿132,52

mmol kalsium laktat = mmol EDTA

mg Calaktat

BM Calaktat=VEDTA× MEDTA

mgCalaktat=VEDTA× MEDTA× BMCalaktat

¿17,1×0,0595×308,30 ¿313,67mg=0,31367g

kadar Calaktat per tab(praktek)=berat ratarata per tab

berat yang ditimbang ×hasil perhitung

an

¿0,6041

0,3034×0,31367

¿0,6244g

kadar kemurnian=kadar Calaktat per tablet(praktek)

kadar Calaktat per tab(etiket) ×100

¿0,6244

0,5 ×100 ¿124,88

(12)

kadar ratarata=111,76+132,52+124,88

3 =123,05

4.2 Pembahasan

Pada percobaan di atas, dilakukan penetapan kadar kalsium laktat dengan metode kompleksometri. Cara titrimetri ini didasarkan pada kemampuan ion-ion logam membentuk senyawa kompleks yang mantap dan larut dalam air. Pereaksi yang dipakai adalah ligan bergigi banyak, salah satu diantaranya yaitu asam etilendiamin tetraasetat (EDTA). EDTA merupakan ligan seksidentat yang berpotensi yang dapat berkoordinasi dengan ion logam dengan pertolongan kedua nitrogen dan empat gugus karbonil. Sebagian besar titrasi kompleksometri menggunakan indikator yang bertindak sebagai pengompleks dan tentu saja kompleks logamnya mempunyai warna yang berbeda dengan pengkompleksnya sendiri.

Kompleksometri ini termasuk salah satu analisis kimia kuantitatif. Adapun prinsip kerjanya yaitu berdasarkan reaksi pembentukan senyawa kompleks dengan EDTA, sebagai larutan standar dengan bantuan indikator tertentu. Titik akhir ditunjukkan dengan terjadinya perubahan warna larutan, yaitu dari ungu menjadi biru. Penetapan kadar ini dilakukan dengan mereaksikan sampel dengan air, dikocok dan disaring, kemudian ditambahkan ditambahkan dapar ammonia pH 10 dan indikator biru hidroksi naftol dan selanjutnya dititrasi dengan larutan baku EDTA 0,05 M hingga titik akhir berwarna biru.

Dari praktikum ini diperoleh kadar kalsium laktat tablet PT. Kimia Farma adalah 123,05 % dengan metode kompleksometri. Sementara dalam ketentuan Farmakope Indonesia Edisi III menyatakan kadar kalsium laktat yang terkandung ialah tidak kurang dari 94,0 % dan tidak lebih dari 106,0 % yang tertera pada etiket.

Adapun faktor-faktor kesalahan dalam percobaan yang mengakibatkan hasil titrasi yang tidak sesuai dibandingkan dengan literatur dalam Farmakope Indonesia yaitu seperti dalam menentukan titik akhir titrasi yang kurang tepat, dimana titrasi ditentukan tidak tepat

(13)

sebelum atau sesudah titik ekivalen, ketidaktelitian dalam membaca skala alat ukur, pemberi air dalam melarutkan larutan, indikator yang digunakan telah rusak serta kesalahan dalam melakukan penimbangan atau penentuan berat sampel yang digunakan dalam titrasi.

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan, kadar kalsium laktat dalam tablet dengan metode kompleksometri, yaitu :

Pada titrasi pertama diperoleh kadar kalsium laktat sebanyak 0,5588 g dengan kadar kemurnian 111,76 %, pada titrasi kedua diperoleh kadar kalsium laktat sebanyak 0,6826 g dengan kadar kemurnian 136,52 %, dan pada titrasi ketiga diperoleh kadar 0,6244 g dengan kadar kemurnian 124,88%. Kadar kemurnian rata-rata yang diperoleh dari hasil tersebut adalah 123,05%.

(14)

Sebaiknya praktikan berhati-hati dalam penggunaan larutan-larutan yang berbahaya.

DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan: Jakarta.

Sudjadi, dan Rohman, A. 2008. Analisis Kuantitatif Obat. Gadjah Mada University: Yogyakarta.

(15)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :