• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Visi Vol.3 No.1 Maret 2014

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Jurnal Visi Vol.3 No.1 Maret 2014"

Copied!
117
0
0

Teks penuh

(1)

Volume 3, Nomor 1, Maret 2014 1

Analisis Pengaruh Sikap wirausaha terhadap

keberhasilan berwirausaha (Studi Perilaku

wirausaha pasar Los di Kota Lhokseumawe)

The purpose of this study is to investigate and analyze the extent of entrepreneurial attitudes affect the success of entrepreneurship . The method used is the analysis of quantitative data through a survey approach to distributing questionnaires to 100 respondents were used as a sample of Entrepreneurial los market in Lhokseumawe . The results showed that the simultaneous test for attitude parsialdan also positive and significant impact on the success of entrepreneurship . The most dominant variable affecting the success of creative entrepreneurship is variable . The results of this study means that the creative variables are variables that have a creative role to be able to seize opportunities and create opportunities and as an attitude that brings success entrepreneurs who must constantly be maintained and developed in the presence of various modern market .

Keywords : Entrepreneurship , the basic attitude , character , success of entrepreneurship

JURNAL VISIONER & STRATEGIS Volume 3, Nomor 1, Maret 2014

ISSN : 2338-2864 p. 1-13

A d n a n

Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Malikussaleh Lhokseumawe

(2)

2 Jurnal Visioner & Strategis

PENDAHULUAN

Persoalan pengangguran dan kemiskinan merupakan persoalan yang multidimensional, tidak hanya persoalan ekonomi semata, melainkan juga akan menimbulkan dampak sosial lainnya, budaya serta politik. Pada tahun 2012 jumlah penduduk miskin di indonesia mencapai 28.9juta jiwa atau 11.66 % dari seluruh penduduk Indonesia sekitar 250 juta jiwa (Merdeka online com, Feb : 2013), sementara angkatan kerja baru dari tahun ke tahun terus bertambah yakni sekitar 2 juta orang pertahun. Hal ini tidak terlepas dari tingkat wirausaha di Indonesia yang masih rendah dibandingkan dengan negara lain.Rasio jumlah wirausaha di Indonesia hanya 1:83 sedangkan sedangkan rasio yang ideal adalah 1:20.

Penduduk sebagai salah satu komponen dalam system wilayah atau kawasan. Perkembangan wilayah tergantung dari kegiatan sosial ekonomi penduduk suatu wilayah, yang kegiatan itu sendiri ditentukan oleh permintaan barang dan jasa. Sehingga kegiatan ekonomi erat kaitannya untuk mempertemukan permintaan dan penawaran, dan tempat kegiatannya dapat di jumpai dalam bentuk fisik yang disebut pasar.

Pada awalnya, kegiatan pasar hanya tempat usahanya berupa kios, warung, los, tenda, gerai, dan lapak, yang dimiliki/dikelola oleh pedagang kecil dengan skala kecil, modal yang kecil, dan dengan proses jual-beli barang dagangan melalui tawar menawar. Dengan semakin pesatnya perkembangan penduduk maka semakin besar pula tuntutan kebutuhan akan pasar baik secara kuantitas maupun kualitas. Seiring kemajuan teknologi dan manajemen maka semakin banyak berkembanglah pusat- pusat perbelanjaan, pusat perdagangan, department store, , supermarket. Menurut survey AC Nielsen, pertumbuhan pasar modern (termasuk, supermarket, supermall, minimarket, dll) sebesar 31,4 %, sedangkan pasar tradisional minus 8,1 %).

Adanya mekanisme pasar tersebut cenderung menguntungkan kawasan yang menjadi tempat pengelompokan kegiatan perdagangan seperti los. Proses ini apabila berlangsung terus dapat menyebabkan kawasan yang baik makin berkembang. Mekanisme pasar ternyata menimbulkan dua kegiatan ekonomi yakni pasar tradisional dan pasar modern. Pada kegiatan perdagangan biasanya muncul kelompok superior yang mendominasi kelompok inferior. Muncul pasar/toko modern di tengah keberadaan pasar-pasar tradisional.Misalnya sektor ekonomi modern dengan sektor ekonomi tradisional, aktifitas perdagangan formal dengan perdagangan informal, gaya hidup kontemporer dengan tradisional,

yang menunjukkan pada aspek-aspek lainnya (fisik bangunan, sosial budaya, dan sebagainya).

Pada banyak pasar tradisional masih banyak yang dapat ditingkatkan daya saingnya, misalnya dengan sedikit sentuhan gaya arsitektur tradisional, promosi barang-barang souvenir, keramah-tamahan pramuniaga, kekhasan dialek setempat, kandungan komponen lokal, panggung kesenian lokal, kearifan lokal, dan sebagainya. Pembinaan pasar tradisional harus dilakukan secara terintegrasi dan komperhensif dengan pembinaan pasar modern, bagi peningkatan perekonomian masyarakat.

Kota Lhokseumawe semakin hari semakin berkembang seiring perkembangan sektor industri di Aceh. Maka peranan industri ritel yang merupakan distributor menjadi bagian penting dari total sistem aktivitas bisnis yang dapat memuaskan keinginan dan kebutuhan konsumen akhir. Jalur pendistribusian tersebut adalah sistem penyaluran barang dan jasa yang berwujud perdagangan (eceran atau ritel). Hal ini dapat dilihat dengan munculnya konsep ritel baru seperti supermarket yang merupakan usaha ritel yang dapat melayani pembelian baik dalam jumlah besar (grosir) maupun kecil dengan segmen pasar dan konsumen yang bervariasi.

Munculnya konsep ritel baru seperti superrmarket, Harun Square, Alfa Mart, IndoMaret, yang termasuk ke dalam jenis ritel modern tersebut merupakan ancaman yang dinilai cukup potensial oleh para pebisnis tradisional.Potensi tersebut muncul akibat adanya pergeseran pola perilaku konsumtif yang terjadi karena perubahan gaya hidup masyarakat terutama yang tinggal di kawasan perkotaan dan sekitarnya. Konsumsi masyarakat saat ini bukan hanya berdasarkan needs tetapi telah berkembang menjadi wants yang akan dilanjutkan pada tahap demand.

Akibat perilaku konsumtif tersebut, masyarakat terutama yang tinggal di kawasan perkotaan saat ini cenderung memilih untuk berbelanja ke pusat perbelanjaan modern dari pada tradisional. Pada pasar modern, banyak barang yang tidak dikenal dan bukan menjadi kebutuhan dipajang sehingga akan menimbulkan selera konsumen.Perkembangan ini terjadi di kota-kota yang ada di Aceh khususnya Lhokseumawe.

(3)

Volume 3, Nomor 1, Maret 2014 3

total jumlah penduduk. Padahal secara konsensus, sebuah negara agar bisa maju, idealnya memiliki wirausahawan sebanyak 5% dari total penduduknya yang akan menjadi keunggulan daya saing bangsa.

Aceh merupakan salah satu provinsi yang mempunyai tingkat pertumbuhan ekonomi rendah yaitu sebesar 5,21 persen dan lebih kecil dari pertumbuhan nasional yaitu 6,5 persen. Persentase penduduk miskin di Aceh tinggi, pada tahun 2011 adalah sebesar 19,48 persen dan menurun sebesar 1,50 persen dan penurunan angka ini tidak signifikan setiap tahun. Angka terbanyak berada di pedesaan yaitu sebesar 22,01 persen. Pengangguran juga meningkat dari 149.000 pada tahun 2011 menjadi 164.000 pada tahun 2012, Tabloid Tabangun Aceh – (edisi. 29 | 12 :2012). Peran wirausaha sebagai pelaku usaha lokal dituntut untuk meningkatkan kemampuannya dalam mengelola usahanya secara lebih efisien, dengan keunggulan, karakter yang dimiliki sehingga mampu memanfaatkan potensi ekonomi lokal secara optimal.

Dalam rangka mengembangkan diri sebagai seorang wirausahawan yang potensial, harus mengenal sikap karakteristik yang dia miliki, perlunya mengenali siapa diri kita sebenarnya dan bagaimana orang lain menilai diri kita. Untuk menilai sikap dan karakteristik yang dimiliki seseorang dituntut untuk memiliki kemampuan dan melakukan penilaian terhadap beberapa kelemahan dan kekuatan pada dirinya. Menurut Hitt (1997: 19), Seseorang yang ingin berhasil dalam usaha harus memiliki kemampuan yang merupakan sekumpulan sumber daya yang secara interaktif melakukan aktifitas untuk mencapai keunggulan bersaing

Gibson, 1996 dalam Dalimunthe,(2002: 43). menyatakan, ada keterkaitan antara pengembangan Usaha Kecil dengan sikap kewirausahaan. Suatu usaha kecil yang ingin berkembang harus memiliki sikap karakter kewirausahaan agar dapat membuat keputusan dalam mengatasi masalah dan melihat peluang yang ada, dengan kata lain, pengusaha kecil harus terus membangun karakter wirausahanya.

Para wirausaha merupakan bagian dari potensi setiap kabupaten dan kota di Propinsi Aceh dan para wirausaha pasar los merupakan salah satu dari para wirausaha pasar tradisional unggulan yang dimiliki. Namun keberadaan pasar modern dikhawatirkan dapat mempengaruhi peran pasar tradisional seperti pasar los dalam kehidupan masyarakat. Kendatipun keberadaan pasar tradisional tidak dapat dikesampingkan dalam menopang perekonomian masyarakat menengah ke bawah. Tetapi ternyata keberadaan pasar modern mempengaruhi pendapatan pedagang pasar tradisional. Dalam pasar tradisional terjadi proses tawar-menawar, bangunan biasanya terdiri dari kios- atau gerai, los. Kebanyakan menjual

kebutuhan sehari-hari seperti bahan-bahan makanan, buah, sayur-sayuran, telur, daging, kain, pakaian barang elektronik, jasa dan lain-lain. Kekuatan pasar tradisional dapat dilihat beberapa aspek. Aspek-aspek tersebut di antaranya harganya lebih murah dan bisa ditawar, dekat dengan permukiman dan memberikan banyak pilihan produk yang segar. Dan akhir –akhir ini ada kecendrungan penurunan masyarakat yang berbelanja di pasar-pasar tradisional seperti pasar los, mereka lebih memprioritaskan berbelanja di pasar modern Harun Square, Indomaret atau yang lainnya. Fenomena inilah yang kemudian menjadi hal yang harus dilakukan penataan, seperti bagaimana membuat sikap dasar (karakter) seorang wirausaha yang dapat membuat mereka menjadi seorang wirausaha yang berhasil sehingga bisa bersaing dengan pasar modern.

Sikap yang harus ada dalam jiwa seorang wirausaha adalah kreativitas, inisiatif, dan percaya diri. Beberapa penelitian awal yang dilakukan khususnya pada beberapa Los telah memberikan suatu hipotesa awal bahwa tinggi rendahnya keberhasilan para wirausaha pasar los secara nyata dan positif dipengaruhi oleh tinggi rendahnya kadar kewirausahaan yang dilaksanakan oleh pengelola atau manajernya. Kewirausahaan sebagai sikap dasar ( karakter) wirausaha dari seorang memiliki ciri-ciri seperti yang dikemukakan oleh Wiryasaputra diatas. Penelitian ini akan mengkaji bagaimana pengaruh dari sikap para wirausaha yang akan membawa

Kewirausahaan merupakan semangat, sikap, perilaku dan kemampuan seseorang dalam menangani usaha dan atau kegiatan yang mengarah pada upaya mencari, menerapkan cara kerja yang lebih efesien, melalui keberanian mengambil resiko, kreativitas, inovasi serta meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik dan atau memperoleh keuntungan yang lebih besar.. Seorang wirausahawan adalah seorang pembaru yang mengorganisir, mengelola, dan mengasumsikan segala risiko pada saat dia memulai usahanya untuk mendapatkan keuntungan (Machfoedz, 2005: 9).

(4)

4 Jurnal Visioner & Strategis

kondisi yang berubah dan mau menanggung resiko dalam perubahan dan perkembangan; (2) memperkenalkan perubahan teknologi dan memperbaiki kualitas produknya; (3) mengembangkan skala operasi dan melakukan persekutuan, mengejar dan menginvestasikan kembali labanya.

Sejalan dengan pendapat diatas Kasmir (2007:18), Secara sederhana mengartikan wirausaha (entrepreneur) adalah orang yang berjiwa berani mengambil resiko untuk membuka usaha dalam berbagai kesempatan Berjiwa berani mengambil resiko artinya bermental mandiri dan berani memulai usaha, tanpa diliputi rasa takut atau cemas sekalipun dalam kondisi tidak pasti. Menurut Zimmerer (2005:51), kewirausahaan adalah “penerapan kreativitas dan inovasi untuk memecahkan masalah dan upaya memanfaatkan peluang yang dihadapi setiap hari” dan Kreativitas diartikan sebagai kemampuan untuk mengembangkan ide-ide baru dan untuk menemukan cara-cara baru dalam memecahkan persoalan dan menghadapi peluang. Sedangkan inovasi, diartikan kemampuan untuk menerapkan kreativitas dalam rangka memecahkan persoalan– persoalan dan peluang untuk meningkatkan dan memperkaya kehidupan.

Karakteristik Kewirausahaan

Akar kata karakter dapat dilacak dari kata latin Kharakter, kharassein dan kharax, yang mengandung pengertian ;1. Suatu kualitas positif yang dimiliki seseorang sehingga membuatnya menarik dan atraktif ;, 2. Reputasi seseorang ; dan 3. Seseorang yang memiliki kepribadian yang eksantrik.

Mc.Clelland mengajukan konsep Need For Achievement ( N-Ach), yang diartikan sebagai virus kepribadian yang menyebabkan seseorang ingin berbuat lebih baik dan terus maju, selalu berpikir untuk berbuat yang lebih baik dan memiliki tujuan yang realistis dengan mengambil tindakan yang beresiko yang benar- benar telah diperhitungkan.

Selanjutnya Wiryasaputra, dalam Suryana (2010 : 53), menyatakan bahwa ada sepuluh sikap dasar (karakter) wirausaha yaitu :

1. Visionary (visioner) yaitu mampu melihat jauh kedepan , selalu melakukan yang terbaik pada masa kin, sambil membayangkan masa depan yang lebih baik. Seseorang wirausaha cenderung kreatif dan inofatif.

2. Positive (bersikap positif) , yaitu membantu seorang wirausaha selalu berpikir yang baik, tidak tergoda untuk memikirkan hal-hal yang negatif, sehingga dia mampu mengubah tantangan menjadi peluang dan selalu berpikir yang lebih besar.

3. Confident (percaya diri), sikap ini memandu seseorang dalam setiap mengambil keputusan dan langkahnya. Sikap percaya diri tidak selalu mengatakan “ya” tetapi juga berani mengatakan “tidak” jika memang diperlukan.

4. Genuine (asli), seseorang wirausaha harus mempunyai ide, pendapat dan mungkin model sendiri. Bukan berarti harus menciptakan yang betul-betul baru, dapat saja dia menjual sebuah produk yang sama dengan yang lain, namun dia harus memberi nilai tambah atau yang baru. 5. Goal oriented (barpusat pada tujuan), selalu

berorientasi pada tugas dan hasil. Seorang wirausaha ingin selalu berprestasi, berorientasi pada laba,tekun,tabah,bekerja keras,dan disiplin untuk mencapai sesuatu yang telah ditetapkan. 6. Persisitent (tahan uji),harus maju terus,

mempunyai tenaga,dan semangat yang tinggi, pantang menyerah, tidak mudah putus asa, dan kalau jatuh segera bangun kembali.

7. Ready to face a risk (siap menghadapi resiko), risiko yang paling berat adalah bisnis gagal dan uang habis. Siap sedia untuk menghadapi resiko, persaingan, harga turun-naik, kadang untung atau rugi, barang tidak laku atau tidak ada order. Harus dihadapi dengan penuh keyakinan. Dia membuat perkiraan dan perencanaan yang matang, sehingga tantangan dan resiko dapat diminimalisasi. 8. Creative (kreative menangkap peluang), peluang

selalu ada dan lewat didepan kita. Sikap yang tajam tidak hanya mampu melihat peluang, tetapi juga menciptakan peluang.

9. Healty Competitor (menjadi pesaing yang baik). Kalau berani memasuki dunia usaha, harus berani memasuki dunia persaingan. Persaingan jangan membuat stres, tetapi harus dipandang untuk membuat kita lebih maju dan berpikir secara baik. Sikap positif membantu untuk bertahn dan unggul dalam persaingan.

10.Democratic Leader (pemimpin yang demokratis), memiliki kepimimpinan yang demokratis, mampu menjadi teladan dan inspirator bagi yang lain. Mampu membuat orang lain bahagia, tanpa kehilangan identitas dirinya sendiri.

Ciri-Ciri Wirausaha Yang Berhasil

Suryana (2003:20), Faktor-faktor yang merupakan konsep dalam entrepreneurship diantaranya :

1. Mempunyai Visi

(5)

Volume 3, Nomor 1, Maret 2014 5

2. Otonomi dan percaya diri

Otonomi adalah perilaku kewirausahaan yang bebas dan tidak terikat berlandaskan pada percaya diri dan kemitraan. Sikap percaya diri ini merupakan sikap dan keyakinan untuk memulai, melakukan dan menyelesaikan suatu tugas atau pekerjaan yang dihadapi serta tidak ada ketergantungan.

3. Pengambilan resiko

Tindakannya tidak didasari oleh spekulasi melainkan perhitungan yang matang, berani mengambil resiko terhadap pekerjaannya dengan terus berjuang mencari peluang sampai memperoleh hasil. Dengan demikian keberanian untuk menanggung resiko yang menjadi nilai kewirausahaan adalah pengambilan resiko yang penuh dengan perhitungan dan realistis.

4. Kreative dan Inovasi

Perilaku kewirausahaan adalah orang yang kreatif dan inovatif dengan adanya cara-cara baru yang lebih baik, (Suryana, 2003: 23), ciri-ciri kreativitas wirausaha adalah :tidak pernah puas, Selalu menuangkan imajinasi dalam pekerjaannya, Selalu ingin tampil berbeda atau selalu memanfaatkan perbedaan

5. Proaktif dan Terbuka

Proaktif dalam konsep entrepreneurship ini yaitu perilaku yang berinisiatif dan tegas. yaitu “berorintasi pada prestasi, yang tercermin dalam pandangan dan bertindak terhadap peluang, mengutamakan kualitas pekerjaan, berencana dan mengutamakan monitoring” (Suryana,2003:17). Sedangkan Terbuka, mempunyai makna bertindak pada aturan baku dan jelas serta mau menerima pendapat dan saran yang dilontarkan baik dari dalam maupun dari luar lingkungannya. 6. Mampu melihat peluang

Peluang selalu menjadi sasaran utama para entrepreneurs, karena melalui peluang itulah ia bisa menjalankan usahanya dengan cara menciptakan pasar dan mengisi pasar

7. Berjiwa kompetisi

Entrepreneurs sadar bahwa usaha bisnisnya tidak sendiri. Ada pihak lain yang berbisnis di bidang yang sama, dan itu artinya bisnisnya akan memiliki pesaing. Di sinilah seorang entrepreneurs harus mampu bersaing dengan cara selalu menjual produk atau jasa yang terbaik, unggul, dan bernilai bagi pelanggannya.

METODE PENELITIAN

Populasi adalah subjek penelitian sebagai sasaran untuk mendapatkan dan mengumpulkan data. Populasi tergantung dari objek atau sasaran dalam suatu penelitian, dapat berupa sejumlah manusia,

aktifitas manusia, jenis barang dan sebagainya. Menurut Arikunto (2009: 108) Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Metode pengumpulan data dengan jalan mencatat seluruh elemen yang menjadi subjek penelitian. Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pedagang yang ada di Pasar Los Kota Lhokseumawe yang berjumlah sekitar 356 orang pedagang , sedangkan sampel adalah kumpulan elemen yang sifatnya tidak menyeluruh melainkan hanya sebagian dari populasi saja. Hermawan (2006) mendefinisikan sampel sebagai suatu bagian (subset) dari populasi, dengan mengambil sampel penulis menarik kesimpulan yang akan digeneralisasikan terhadap populasi.

Mengingat banyak jumlah populasi yang ada maka tehnik penentuan sampel yang akan dipergunakan dalam penelitian ini adalah adalah dengan menggunakan tehnik pengambilan sampel Menurut Arikunto (2002:109) menyatakan apabila subjeknya kecil atau kurang dari 100 diambil seluruhnya, sedangkan kalau besar atau lebih dari 100 maka untuk menentukan jumlah sampelnya dapat diambil antara 10%-15% atau 20%-25% atau lebih. Dan dalam penelitian ini ditetapkan sebanyak 100 responden.

Tehnik sampling yang digunakan adalah dengan tehnik purposive Sampling (Sugiono, 2005) yaitu tehnik penentuan sampel berdasarkan responden yang diyakini sebagai pemilik dari usaha yang ada di pasar los tersebut.

Metode Analisis Data

Di dalam melaksanakan analisis penulis mengadakan Metode kuantitatif. Menurut Arikunto (2002:138) Metode kuantitatif adalah metode penganalisaan data dalam bentuk angka-angka dengan menggunakan Regresi Linier Berganda. Analisis regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Analisis regresi linier berganda digunakan apabila peneliti bermaksud meramalkan bagaimana keadaan variabel dependen bila dua atau lebih variabel independen sebagai faktor prediktor dimanipulasi (dinaik-turunkan nilainya). Jadi analisis regresi linier berganda akan dilakukan bila jumlah variabel independennya minimal dua (Sugiyono, 2007:84). Adapun persamaan regresinya adalah sebagai berikut:

Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + b5X5 + ei Dimana:

(6)

6

Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner. Uji validitas dapat dilakukan dengan melihat korelasi antara skor masing-masing item dalam kuesioner dengan total skor yang ingin diukur yaitu menggunakan Coefficient Corelation Pearson dalam SPSS. Jika nilai signifikansi (P Value) > 0,05 maka tidak terjadi hubungan yang signifikan. Sedangkan apabila nilai signifikansi (P Value) < 0,05 maka terjadi hubungan yang signifikan. Dalam uji validitas kriteria pengambilan keputusan adalah:

1. Jika r hitung > r tabel, maka pernyataan tersebut dinyatakan valid.

2. Jika r hitung < r tabel, maka pernyataan tersebut dinyatakan tidak valid.

Uji Reliabilitas

Reliabilitas adalah alat untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variabel. Suatu kuesioner dikatakan reliabel atau handal jika jawaban seseorang terhadap pertanyaan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu (Ghozali, 2005:41).

Selain menggunakan dengan bantuan SPSS uji reliabilitas dapat dilakukan dengan mengunakan koefisien alpha (α) dari cronbach (Umar, 2006 : 96) yaitu sebagai berikut :

Dalam penelitian ini misalnya variabel Pengaruh Sikap Dasar dari keberhasilan berwirausaha diukur

berupa satu pertanyaan tiap indikator. Untuk mengukur variabel pengaruh sikap dasar wirausaha satu jawaban responden dikatakan reliabel jika masing-masing pertanyaan dijawab secara konsisten. Karena masing-masing pertanyaan hendak mengukur hal yang sama. Tingkat reliabilitas suatu konstruk dapat dilihat dari hasil uji statistik Cronbach Alpha. Suatu konstruk dikatakan reliabel jika memberikan nilai Cronbach Alpha > 0.60 , menurut Nunnaly (Ghozali, 2005:42).

Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam sebuah model regresi,Uji normalitas dapat dideteksi dengan melihat penyebaran data (titik) pada sumbu diagonal dari grafik p-plot, atau dengan melihat histogram dari residual. Jika data menyebar disekitar garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal atau grafik histogramnya menunjukkan pola distribusi normal. Model regresi tersebut berarti memenuhi asumsi normalitas, demikian juga sebaliknya hal tersebut sesuai berdasarkan teori yang dinyatakan oleh santoso (2005:400).

Sedangkan menurut Ghozali (2006) untuk menguji apakah data normal atau tidak dapat dilakukan dengan menguji Normalitas Residual atau uji Statistik Non parametric kolmogorof Smirnov (K-S) dilakukan dengan membuat Hipotesis:

Ho : Data terdistribusi secara normal Ha : Data tidak terdistribusi secara normal Jika Sig > 0,05 maka Ho diterima dan menolak Ha Jika Sig < 0,05, maka Ho ditolak dan menerima Ha Uji Multikolinearitas

Uji Multikolinearitas bertujuan untuk mengetahui terjadinya Multikolinearitas sempurna atau tidak diantara variabel-variabel bebas. Menurut Ghozali (2006:95) Uji Multikolonieritas Dapat dilihat dari nilai tolerance dan Variante Inflation Factor (VIF), nilai tolerance yang besarnya diaatas 0,1 dan nilai VIF dibawah 10 menunjukkan bahwa tidak ada Multikolonieritas pada variabel independenya. Pengujian Hipotesis Secara Simultan (Uji-F)

Uji-F pada dasarnya menunjukkan semua variabel bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel terikat atau tidak.

Pengujian Hipotesis Secara Parsial (Uji-t)

(7)

Volume 3, Nomor 1, Maret 2014 7

HASIL PENELITIAN Karakteristik Responden dari Jenis Kelamin

Karakteristik responden yang berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat seperti dalam table1. Pada tabel 1 dapat dilihat bahwa yang berjenis kelamin laki-laki berjumlah 77 orang atau 77 % responden, sedangkan yang berjenis kelamin perempuan 23 orang responden atau23% dari 100 orang responden.

Berdasarkan tabel 2, dapat diketahui bahwa responden yang berusia kurang dari 21 sebanyak 2 orang responden atau 2 %. Responden yang berusia dari 21 sampai dengan 40 tahun sebanyak 49 orang responden atau 49 % sedangkan responden yang berusia antara 41 sampai dengan 50 tahun adalah sebanyak 36 orang responden atau 36 % dan yang berusia diatas 50 tahun sebanyak 13 orang responden atau 13 % responden.

Pada tabel 3 terlihat bahwa tingkat pendidikan dari responden didominasi oleh responden yang

berpendidikan tingkat Sarjana yaitu sebanyak 22 responden atau 47.8 %, sementara responden tamatan SLT sebanyak 13 responden atau 28.3 % dan responden tamatan Diploma sebanyak 11 responden (23.9 %).

Sedangkan pada tabel 4, menunjukan bahwa tingkat pendapatan dari responden didominasi oleh responden dengan tingkat pendapatan dari Rp. 5.000.000 sampai dengan Rp.7.000.000,- yang berjumlah 40 responden atau 40 %, sementara responden dengan pendapatan kurang dari Rp, 3.000.000,- berjumlah 15 orang responden atau 15 % , dan yang berpendapatan antara Rp.7.000.000, sampai dengan Rp. 9.000.000, berjumlah 22 orang responden atau 22 %, serta dengan pendapatan diatas Rp. 10.000.000 perbulan masing – masing sebanyak 9 orang responden atau 9 %

Tabel 1. Pembagian Responden Menurut Jenis Kelamin

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid Laki-laki 77 77.0 77.0 77.00

Perempuan 23 23.0 23.0 100.0

Total 100 100.0 100.0

Sumber : Hasil Penelitian (Diolah) 2013

Tabel 2. Pembagian Usia Responden

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid

<21 tahun 2 2.0 2.0 2.0

21-40 tahun 49 49.0 49.0 51.0

41-50 tahun 36 36.0 36.0 85.0

>50 tahun 13 13.0 13.0 100.0

Total 100 100.0 100.0

Sumber : Hasil Penelitian (Diolah) 2013

Tabel 3

Pembagian Tingkat Pendidikan

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid SLTP SLTA Diploma

12 61 16

12.0 61.0 16.0

12.0 61.0 16.0

12.0 73.0 89.0

Sarjana

Pascasarjana 22 47.8 47.8 100.0

Total 46 100.0 100.0

(8)

8 Jurnal Visioner & Strategis

Tabel 4. Karakteristik Responden Berdasarkan Pendapatan

Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent

Valid <=3.000.000 15 15.0 15.0 15.0

3.000.000-5.000.000 14 14.0 14.0 29.0

5.000.000-7.000.000 40 40.0 40.0 69.0

7.000.000-9.000.000 22 22.0 22.0 91.0

>=10.000.000 9 9.0 9.0 100.0

Total 100 100.0 100.0

Sumber : Hasil Penelitian (Diolah) 2013 Uji Validitas

Pengukuran tingkat validitas dapat dilakukan dengan cara melakukan korelasi antara skor butir pertanyaan dengan total score konstruk/variabel. Penentuan nilai r tabel dimana degree of freedom (df) = 100-5= 95 dengan tingkat signifikansi 0.05 dan

diperoleh nilai r tabel sebesar 0.199 dan nilai ini akan dibandingkan dengan nilai r hitung dari setiap butir pertanyaan.

Tabel 5. Validitas Indikator Variabel Indikator pertanyaan Variabel Independen (X1, X2,X

dan dependen (Y) r hitung r tabel Keterangan

X1 Visioner

X1.1 X1.2 X1.3

0.661 0.672

0.732 0.199

Valid Valid Valid X2 Siap menghadapi resiko

X2.1 X2.2 X2.3 X2.4

0.781 0.734 0.692 0.659

0.199 Valid Valid Valid Valid X3 Percaya Diri

X3.1 X3.2 X3.3

0.735 0.765 0.798

0.199 Valid Valid Valid X4 Tahan Uji

X4.1 X4.2 X4.3 X4.4

0.802 0.832

0.625 0.199

Valid Valid Valid X5 Kreatif

X5.1 X5.2 X5.3

0.767 0.787 .0831

0.199 Valid Valid Valid Y Keberhasilan Berwirausaha

Y1 Y2 Y3

0.730 0.626

0567 0.199

Valid Valid Valid

(9)

Volume 3, Nomor 1, Maret 2014 9

Tabel 6. Reliabilitas Indikator Variabel Penelitian (Alpha)

No. Variabel Indikator Jumlah Nilai Alpha Keterangan

1. Visioner (X1) 3 0,642 Reliabel

2. Siap Menghadapi Resiko (X2) 4 0,657 Reliabel

3. Percaya Diri (X3) 3 0,732 Reliabel

4. Tahan Uji (X4) 3 0,601 Reliabel

5. Kreatif (X5) 4 0,667 Reliabel

6. Keberhasilan Berwirausaha (Y) 3 0,619 Reliabel

Sumber : Hasil Penelitian (data diolah), 2013

Akumulasi koefisien korelasi variabel penelitian semua butir dan skor total untuk setiap item pertanyaan mempunyai nilai diatas 0.199 (r tabel).

Uji Reliabilitas

Pada penelitian ini uji reliabilitas alat ukur yang digunakan adalah dengan menggunakan cronbach alpha. Pedoman yang digunakan untuk mengetahui tingkat reliabilitas dilihat dari besarnya cronbach alpha yaitu nilai cronbach alpha> 0,6. (Nunnaly dalam Ghozali, 2005:42).

Berdasarkan Tabel 6 diatas dapat dijelaskan bahwa nilai cronbach alpha untuk masing-masing variabel yang terdiri atas independent variable (variabel bebas) yaitu Visioner (X1) nilai alpha sebesar 0.642, Siapa Menghadapi Resiko (X2) nilai alpha sebesar 0.657, Percaya Diri (X3) nilai alpha sebesar 0.732 , Tahan Uji (X4) nilai alpha sebesar 0.601 dan Kreatif (X5) nilai alpha sebesar 0.667 sedangkan dependent variable (variabel terikat) yaitu Keberhasilan Berwirausaha (Y) nilai alpha sebesar 0.619. .

Uji Normalitas

Berikut ini merupakan hasil olah data dari uji normalitas, yang dapat dilihat pada gambar grafik di bawah ini :

Gambar.1 Normal P-Plot Sumber : Hasil Penelitian (data diolah), 2013

Dengan data yang menyebar sekitar garis diagonal mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas, dan data yang terlihat tidak menyebar jauh dari garis diagonal dan mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi memenuhi asumsi normalitas. Dengan tampilan grafik normal plot diatas dapat disimpulkan bahwa model regresi memenuhi asumsi normalitas karena pada grafik normal plot telihat titik menyebar disekitar garis diagonal. Uji Heteroskedastisitas

Untuk mengetahui ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot antara ZPRED dan ZRESID, yaitu sumbu X dan Y yang telah di prediksi, dan sumbu X adalah residual (Y prediksi-Y sesungguhnya) yang telah di studentized. Dari hasil olah data, dapat dilihat hasil uji heteroskedastisitas sebagai berikut:

Gambar. 2 Scatterplot Sumber : Hasil Penelitian (data diolah), 2013

(10)

10 Jurnal Visioner & Strategis

model regresi , sehingga model regresi layak dipakai untuk memprediksikan pengaruh dari Sikap Dasar (Karakteristik) wirausaha terhadap Keberhasilan Berwiarausaha di kota Lhokseumawe.

Uji Multikolinieritas

Pengujian multikolinieritas dapat dilakukan dengan melihat nilai tolerance atau lawannya varianceinflation

factor (VIF). Kedua ukuran ini menunjukan bahwa setiap variabel yang manakah dijelaskan oleh variabel bebas lainnya. Nilai tolerance yang rendah sama dengan nilai VIF tinggi (VIF=1/ tolerance) dan menunjukkan adanya multikolinieritas yang tinggi. Pada umumnya nilai cut off yang sering dipakai 10. Maka untuk melihat hasil olah data uji multikolinieritas dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 7. Uji Multikolonieritas

Sumber : Hasil Penelitian (data diolah), 2013 Berdasarkan tabel di atas hasil perhitungan nilai tolerance menunjukkan tidak ada variabel independen yang memiliki nilai tolerance kurang dari 0,10 yang berarti tidak ada korelasi antar variabel independen.

PEMBAHASAN

Pengaruh Sikap Wirausaha terhadap Keberhasi-lan Berwirausaha

Hasil estimasi model penelitian dari Sikap wirauasaha terhadap Keberhasilan Berwirauasaha di Kota Lhokseumawe. Variabel-variabel yang diduga mempengaruhi keberhasilan wirausaha di Kota Lhokseumawe di rumuskan dalam sebuah model penelitian. Hasil pengolahan data-data penelitian secara lengkap diuraikan sebagai berikut :

Tabel 8. Hasil Analisis Regresi Linear Berganda Variabel Koefisien thitung Sig Constant

Sumber : Hasil Penelitian (data diolah), 2013

Berdasarkan hasil pengolahan data menunjukkan nilai kostanta 1,114, Visioner (X1) 0.149, Siap menghadapi resiko (X2) 0.163, Percaya Diri (X3) 0.198, Tahan Uji (X4) 0.127, dan Kreatif (X5) 0.259. Secara persamaan dapat ditulis sebagai berikut:

Sesuai dengan hasil analisis pada Tabel diatas, secara matematis model tersebut dapat diformulasikan sebagai berikut : secara konstan adalah 1.114.

Koefisien Visioner (X1) sebesar 0,149, hal ini memperlihatkan bahwa penilaian responden terjadi peningkatan penilaian pada variabel visioner maka akan meningkatkan juga keberhasilan berwirausaha (Y) sebesar 14.9 % dengan asumsi variabel lainnya dianggap tetap (konstan).

Koefisien Siap menghadapi resiko (X2) sebesar 0,163, hal ini memperlihatkan bahwa penilaian responden terjadi peningkatan penilaian pada variabel siap menghadapi resiko maka akan meningkatkan juga keberhasilan berwirausaha (Y) sebesar 16.3% dengan asumsi variabel lainnya dianggap tetap (konstan).

Koefisien Percaya Diri (X3) sebesar 0,198, hal ini memperlihatkan bahwa penilaian responden terjadi peningkatan penilaian pada variabel Percaya Diri maka akan meningkatkan juga keberhasilan berwirausaha (Y) sebesar 19.8% dengan asumsi variabel lainnya dianggap tetap (konstan).

Koefisien Tahan Uji (X4) sebesar 0,127, hal ini memperlihatkan bahwa penilaian responden terjadi peningkatan penilaian pada variabel Tahan Uji maka akan meningkatkan juga keberhasilan berwirausaha (Y) sebesar 12.7 % dengan asumsi variabel lainnya dianggap tetap (konstan).

(11)

Volume 3, Nomor 1, Maret 2014 11

Pengaruh Sikap Wirausaha Terhadap Keberha-silan Berwirausaha.

Koefisien korelasi (R) adalah bertujuan untuk melihat dan mengetahui keeratan hubungan diantara variabel bebas yang terdiri dari Visioner, siap menghadapi resiko, percaya diri, tahan Uji dan Kreatifitas dengan keberhasilan berwirausaha sebagai variabel terikat.

Koefisien determinasi Adjusted R Square yang telah disesuaikan (adjusted-R2) yakni 0.557 atau 55.7 % sedangkan sisanya sebesar 44.3 % dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Pembuktian Hipotesis Secara Simultan (Uji F)

Untuk menentukan tingkat signifikan secara keseluruhan pada tingkat kepercayaan sebesar 95%, pengujian hipotesis dengan uji F dilakukan dengan membandingkan antara Fhitung dengan Ftabel, apabila Fhitung > dari Ftabel, maka H0 ditolak dan Ha diterima. Dengan rumus V1 = n-k = 100-5=95 dan V2= k-1 =5-1=4. Dari hasil pengolahan data diperoleh Fhitung sebesar 12.479 sedangkan Ftabel pada tingkat kepercayaan 95% diperoleh nilai sebesar 2.47, maka H0 ditolak dan Ha diterima artinya bahwa variabel visioner (X1), siap menghadapi resiko(X2), percaya diri (X3), tahan uji (X4) dan kreatifitas (X5) berpengaruh terhadap keberhasilan berwirausaha (Y). Hasil pengujian secara simultan ( bersama- sama) ini dibuktikan dengan ditemukan bahwa nilai F-test sebesar 12.479 jauh lebih besar dibandingkan nilai kritis F-tabel distribusi yang hanya sebesar 2.47.

Pembuktian Hipotesis Secara Parsial (Uji t)

Pembuktian Hipotesis secara parsial dari pengaruh variabel independen yang terdiri dari variabel visioner, siap menghadapi resiko, percaya diri, tahan uji dan kreatifitas dari keberhasilan berwirausaha, yang diukur dari nilai koefisien regresinya. Jika koefisien regresi positif berarti pengaruhnya positif dan jika koefisien regresinya negatif berarti pengaruhnya negatif. Hasil pengujian diketahui bahwa semua variabel independen bertanda positif, artinya pengaruh variabel independen adalah positif terhadap keberhasilan berwirausaha.

Dari tabel di bawah ini diketahui hasil nilai thitung variabel visioner (X1) sebesar 2.750 sedangkan ttabel = 1.985 (2.750 > 1.985) dengan nilai signifikansi sebesar 0.007 < 0,05 artinya bahwa secara parsial variabel visioner berpengaruh secara signifikan terhadap keberhasilan berwirausaha dengan demikian Hi1 diterima

Tabel 9. Hasil Uji Parameter Penduga

Model

Unstandardized Coefficients

Standa Sumber : Hasil Penelitian (data diolah), 2013

Nilai thitung variabel siap menghadapi resiko (X2) = 2.954 sedangkan ttabel = 1.985 (2.954 > 1.985) dengan nilai signifikansi = 0.004 < 0.05 artinya bahwa secara parsial variabel siap menghadapi resiko berpengaruh secara signifikan terhadap keberhasilan berwirausaha, dengan demikian Hi1 diterima.

Nilai thitung variabel percaya diri (X3) = 3.236 sedangkan ttabel = 1.985 (3.236 > 1.985) dengan nilai signifikansi = 0.003 < 0,05 artinya bahwa secara parsial variabel percaya diri secara signifikan berpengaruh terhadap keberhasilan berwirausaha dan dengan demikian Hi1 diterima.

Nilai thitung variabel tahan uji (X4) = 2.462 sedangkan ttabel = 1.985 (2.462 > 1.985) dengan nilai signifikansi = 0.011 < 0.05 artinya bahwa secara parsial variabel tahan uji berpengaruh secara signifikan terhadap keberhasilan berwirausaha, dengan demikian Hi1 diterima, serta Nilai thitung variabel Kreatif (X5) = 3.981 sedangkan ttabel = 1.985 (3.981 > 1.985) dengan nilai signifikansi = 0.000 < 0.05 artinya bahwa secara parsial variabel kreatifitas berpengaruh secara signifikan terhadap keberhasilan berwirausaha, dengan demikian Hi1 diterima.

Variabel Yang Paling Dominan Dari Sikap Dasar (Karakter)Wirausaha terhadap Keberhasilan Berwirausaha.

(12)

12 Jurnal Visioner & Strategis

PENUTUP Kesimpulan

1. Hasil koefisien determinasi (adjusted- R2) menunjukkan besarnya pengaruh variabel-variabel Visioner, siap menghadapi resiko, percaya diri, tahan uji dan kreatifitas terhadap keberhasilan berwirausaha adalah adalah sebesar 55.7 %, sedangkan sisanya 44.3 % dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Hasil analisis koefisien korelasi (R) menunjukkan hubungan variabel bebas dengan variabel terikat adalah hubungan yang positif dan erat dengan nilai korelasi sebesar 0,749 ( 74.9 %).

2. Variabel yang paling dominan dari Sikap Dasar (Karakter) Wirausaha terhadap keberhasilan berwirausaha pada para wirausaha pasar Los adalah variabel kreatif (X1) yakni dengan nilai t hitung sebesar 3.981 pada tingkat signifikansi 0.000. Hal ini bermakna bahwa Variabel kreatif merupakan variabel yang memiliki peran kreatif untuk mampu menangkap peluang dan menciptakan peluang.

Rekomendasi

1. Variabel – variabel dari Sikap Dasar (Karakter Wirausaha) semuanya memiliki pengaruh yang kuat terhadap keberhasilan berwirausaha di kalangan para wirausaha pasar Los Kota Lhokseumawe, untuk itu mereka harus terus mempertahan dan melanjutkan Sikap Dasar (Karakter) tersebut bagi pengembangan dan keberhasilan mereka dalam melakukan Wirausaha di Pasar Los Lhokseumawe, ditengah gempuran hadirnya berbagai pasar modern.

2. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa variabel Kreatif (X5) merupakan variabel yang paling dominan pengaruhnya terhadap keberhasilan berwirausaha. Memiliki daya kreativitas tinggi yang dilandasi oleh cara berpikir yang maju dengan gagasan baru yang inovatif. Gagasan kreatif yang paling menonjol diantara karakter wirausaha harus terus dipertahankan oleh para wirausaha serta dipadukan dengan sikap dasar lain (karakter) seperti visioner, siap menghadapi resiko, percaya diri serta tahan uji.

(13)

Volume 3, Nomor 1, Maret 2014 13

REFERENSI

Arlan, Rully, 2006, Brand Trust dalam konteks Loyalitas Merek, Jurnal Manajemen Vol.6 Aaker, David A, 1991, Managing Brand Equity, The Free Press, New York.

Badawi,2007, Pengaruh Trust in a brand dan Satisfaction terhadap loyalitas merek ( studi pada perbankan syariah di Cirebon), diakses Februari 2013

Fishbein, M. & Ajzen, I. 1975. Belief, Attitude, Intention and Behavior : An Introduction to Theory and Reseach. Sydney : Addison

Ghozali, Imam ,2001, Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program SPSS. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Semarang.

Hair,et.al , 2006, Multivariate Data Analisis Edisi 6, Pearson International, Edition New Jersey

Hitt, Michael, et al., 1997, Manajemen Strategis – Menyongsong Era Persaingan Dan Globalisasi, Penerbit Erlangga, Jakarta esley Publishing.

Kasmir. (2007). Kewirausahaan., Raja Grafindo Persada, Jakarta Kotler & Keller,2009, Manajemen Pemasaran,Edisi 13,Erlangga, Jaka

Moh. Nazir, (1998), Metode Penelitian, Cetakan ke dua, Ghalia Indonesia, Jakarta.

Peter, J. Paul, 2000, Perilaku Konsumen dan Strategi Pemasaran, Penerbit: Erlangga, Jakarta

Riana,2008, Pengaruh Trust In Brand Terhadap brand loyalty pada konsumen air minum aqua di kota Denpasar, http//ejournal.unud.ac.id/abstrak/riana/pdf. Diakses pada Februari 2013

Sugiyono. 2004. Metode Penelitian Bisnis. Cetakan Pertama. Penerbit CV. Alpha Beta. Bandung. Suryana, Bayu (2011), Kewirausahaan, Pendekatan Karakteristik wirausahawan sukses, Kencana Jakarta Santoso Singgih, J. 1997. Statistik Parametrik, edisi Kedua Penerbit Gramdeia Jakrta.

Tjiptono, Fandy. 2002. Manajemen Jasa Edisi Kedua. Cetakan Pertama. Penerbit. Andy. Yogyakarta. Tabloid Tabangun Aceh, edisi,29 Desember, 2012,

(14)

Volume 3, Nomor 1, Maret 2014

15

Faktor-faktor yang Mempengaruhi

Pendapatan Nelayan di Kecamatan Idi

Rayeuk Kabupaten Aceh Timur

The study entitled Factors Affecting Income Fishermen In District Idi Rayeuk East Aceh aims to determine the partial and simultaneous factors influence the amount of fish demolition, capital, labor experience, and a long sea on the level of income of fishermen in the District of Idi Rayeuk District East Aceh. The data used in this study is primary data collected by distributing questionnaires to 92 research samples. Data analysis was performed using linear regression models were processed using SPSS version 18. The results found the number of variables simultaneously unloading fish, variable capital, labor and variable experience variables significantly terhadpat old sea fishing income. While the test was found only partially dismantling the variable amount and duration of sea fish significantly to the income of fishermen in the District of Idi Rayeuk East Aceh .

Key words: Total Demolition Fish, Capital, Labor Experience, Time at Sea, Revenues

p. 15-28

Andria Zulfa

Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Malikussaleh Lhokseumawe

(15)

16 Jurnal Visioner & Strategis PENDAHULUAN

Masyarakat pesisir pantai pada umunya bermata pencaharian dengan menangkap ikan dilaut (nelayan), yang hasilnya dijual untuk mendapatkan pendapatan dan sebagian untuk dikonsumsi sendiri. Kehidupan masyarakat pesisir pantai ini rata-rata masih berada di bawah garis kemiskinan, baik ditinjau dari segi pendidikan, material struktural, dan klasifikasi pekerjaan sosial. Masyarakat yang mata pencaharian sebagai nelayan adalah orang yang aktif melakukan pekerjaan dalam operasi penangkapan ikan di laut.

Pembangunan kawasan pesisir diperlukan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat pesisir yang sebagian besar nelayan dan petani tambak yang tergolong miskin. Pendayagunaan sumber daya perikanan ditujukan untuk mendukung pembangunan ekonomi serta memperluas lapangan kerja dan kesempatan berusaha. Taraf hidup masyarakat pesisir dapat ditingkatkan jika pendapatannya sudah dapat memenuhi kebutuhan hidup, pendapatan masyarakat pesisir tidak terlepas dari banyaknya tangkapan ikan yang mereka dapatkan.

Untuk memperoleh pendapatan yang tinggi maka nelayan dan petani tambak harus bisa meningkatkan hasil perikanan tangkap dan budidaya tambak. Selain itu nelayan dan petani tambak juga harus bisa menjaga dan memperbaiki kualitas tangkapan dan budi daya tambak. Buruknya kualitas tangkapan ikan disebabkan pengolahan tidak sesuai prosedur yang baik. Kerusakan hasil perikanan yang antara lain disebabkan busuknya ikan dalam perjalanan dari tempat penangkapan sampai ketempat penjualan. Untuk menjaga dan memperbaiki kualitas tangkap dan budidaya ikan, diperlukan adanya peralatan (teknologi) yang memadai serta tenaga kerja yang berpengalaman. Modal kerja, tenaga kerja, dan waktu melaut (jam kerja) berpengaruh positif dan signifikan terhadap peningkatan pendapatan usaha nelayan (Sasmita , 2006). kemudian

Jummaini (2008) menyimpulkan bahwa modal, pengalaman, tenaga kerja dan lama melaut secara serempak berpengaruh signifikan terhadap pendapatan nelayan.

Dalam peleksanaan untuk meningkatkan pembangunan dan kesejahteraan penduduk di Kecamatan Idi Rayeuk, yang sebahagian bermata pencaharian yang beraneka ragam seperti, petani, pedagang dan neleyan. Di samping itu bagi penduduk bermata pencaharian sebagai nelayan mempunyai pendapatan yang sangat minim, hal ini disebabkan oleh pangadaan alat dengan sarana

yang digunakan dalam melakukan profesinya tidaklah lengkap. Dengan hal ini maka pedapatan masyarakat sangat bervariasi, karena sebahagian nelayan susah menggunakan alat-alat modern dan sebahagian lainnya masih menggunakan cara yang masih tradisional.

Jumlah masyarakat Kecamatan Idi Rayeuk yang bermata pencaharian sebagai nelayan (melaut) menurut kategori tahun 2010, yang penuh (Full Time) 1.071 orang, Sambilan Utama (part time) 1.371 orang dan total 2.442 (Dinas Kelautan Dan Perikanan Aceh Timur 2013).

Kecamatan Idi Rayeuk memiliki Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Kuala Idi merupakan TPI terbesar yang ada di Kabupaten Aceh Timur yaitu berada di Kuala Idi, pelabuhan Kuala Idi dimana semua hasil laut yang berupa tangkapan nelayan baik udang, ikan dan segala yang dihasilkan dari laut akan dilansir ke kuala Idi. Di samping itu Pelabuhan Idi Rayeuk, Aceh Timur, dinyatakan layak menjadi pelabuhan ekspor ikan langsung. Produksi ikan di Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Idi Rayeuk diprediksi mencapai 35 ribu ton per hari dan cukup memenuhi permintaan ekspor. Dari hasil studi itu diketahui bahwa kapal kargo yang cocok berukuran sedang karena selain biayanya lebih kecil dibandingkan ukuran besar juga volume angkut 30 ribu ton bisa terpenuhi. Dengan potensi yang ada, maka semangat para nelayan di Kecamatan Idi Rayeuk meningkat. Oleh karena itu penulis tertarik untuk mangkaji lebih sistematis masalah tersebut kedalam bentuk penelitian dengan tujuan untuk mengetahui berapa besar pengaruh jumlah pembongkaran ikan, modal, pengalaman kerja dan lama melaut terhadap tingkat pendapatan nelayan di Kecamatan Idi Rayeuk Kabupaten Aceh Timur.

TINJAUAN TEORITIS

Pengertian Pendapatan

Menurut Sukirno (2003: 391) pendapatan adalah jumlah penghasilan yang diterima oleh penduduk atas prestasi kerjanya selama satu periode tertentu, baik harian, mingguan, bulanan maupun tahunan.

(16)

Volume 3, Nomor 1, Maret 2014 17

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan

Samuelson dan Nordhaus (2004:34), Para ekonom telah menemukan bahwa mesin kemajuan ekonomi harus bertengger di atas empat roda yang sama. Keempat roda, atau empat faktor pertumbuhan itu adalah:

1. Pembentukan modal ( mesin, pabrik, jalan) 2. Sumber daya manusia (penawaran tenaga kerja,

pendidikan, disiplin , motivasi)

3. Teknologi (sains, rekayasa, manajemen, kewirausahaan)

4. Sumber daya alam (tanah, mineral, bahan bakar, kualitas lingkungan).

Rahardja dan Manurung (2001:58), faktor-faktor yang menentukan pertumbuhan ekonomi adalah:

1. Barang modal (dapat dilakukan melalui investasi)

2. Tenaga kerja (kualitas SDM terkait dengan kemajuan teknologi produksi)

3. Teknologi (dapat memanfaatkan teknologi madia atau tepat guna secara optimal)

4. Uang (memegang peranan dan fungsi sentral dalam proses produksi)

5. Manajemen (peralatan yang dibutuhkan untuk mengelola perekonomian modern)

6. Kewirausahaan atau Entrepreneurship (diharapkan dapat menjadi motor pertumbuhan dan modernisasi perekonomian)

7. Informasi (pengambilan keputusan dapat lebih cepat dan lebih baik sehingga alokasi sumber daya ekonomi makin efisien).

Mankiw (2003:59), faktor yang menentukan produktivitas dapat diaplikasikan terhadap perekonomian yang lebih kompleks dan realistis. Faktor yang dimaksud adalah:

1. Modal fisik (peralatan dan infrastruktur yang digunakan untuk memproduksi barang dan jasa)

2. Modal manusia (pengetahuan dan keahlian-keahlian yang diperoleh pekerja melalui pendidikan, pelatihan dan pengalaman) 3. Sumber daya alam (input-input produksi

barang dan jasa yang disediakan oleh alam, sungai dan deposit-deposit mineral)

4. Pengetahuan teknologis (pemahaman masyarakat tentang cara terbaik untuk memproduksi barang dan jasa).

Modal

Menurut Mulyadi (2005:85), modal usaha nelayan adalah nilai aset (inventaris) tetap/tidak

bergerak dalam satu unit penangkap. Pada umumnya, untuk satu unit penangkap modal terdiri dari: alat-alat penangkapan (pukat dan lain-lain), boat atau sampan penangkap, alat-alat pengolahan atau pengawet di dalam kapal, dan alat-alat pengangkutan laut (carier).

Penilaian modal usaha nelayan dapat dilakukan menurut tiga cara: 1) penilaian didasarkan kepada nilai alat-alat yang baru, yaitu berupa ongkos memperoleh alat-alat tersebut menurut harga yang berlaku sekarang; 2) berdasarkan harga pembelian atau pembuatan alat-alat, jadi berapa investasi awal yang telah dilaksanakan nelayan, bertolak dari sini, dengan memperhitungkan penyusutan tiap tahun, dapat dihitung nilai alat-alat atau modal pada waktu sekarang; 3) dengan menaksir nilai alat pada waktu sekarang, yakni harga yang akan diperoleh apabila alat-alat dijual.

Menurut Soekartawi (2005:36), modal dalam usaha tani dapat diklasifikasikan sebagai bentuk kekayaan baik berupa uang maupun barang yang digunakan untuk menghasilkan sesuatu baik secara langsung maupun tidak langsung dalam suatu proses produksi. Dengan demikian pembentukan modal mempunyai tujuan yaitu: a) untuk menunjang pembentukan modal lebih lanjut; dan b) untuk meningkatkan produksi dan pendapatan usaha tani.

Menurut Samuelson dan Nordhaus (2004:35), modal adalah salah satu dari tiga faktor produksi yang utama. Dua lainnya, tanah dan tenaga kerja, sering disebut faktor-faktor produksi primer, yang berarti penawarannya sangat ditentukan oleh faktor-faktor non ekonomi, seperti tingkat kesuburan dan geografi Negara, dalam contohnya dengan perikanan, dengan menggunakan alat pancing ikan (yang merupakan peralatan modal) waktu menangkap ikan menjadi lebih produktif dalam kaitannya dengan ikan yang ditangkap perhari.

Tenaga Kerja

(17)

18 Jurnal Visioner & Strategis

Menurut Nopirin (2000:61), penggunaan tenaga kerja sebagai variabel dalam proses produksi lebih ditentukan oleh pasar tenaga kerja, dalam hal ini dipengaruhi oleh upah tenaga kerja serta harga outputnya.

Menurut Soekartawi (2002:45), Besar kecilnya tenaga yang dipakai oleh suatu usaha pertanian akan sangat tergantung dari tersedianya modal. Dalam batas-batas tertentu, maka dengan cukup tersedianya modal, maka tidak ada alasan untuk tidak mempergunakan tenaga kerja dalam jumlah yang diperlukan.

Setiap usaha kegiatan nelayan yang akan dilaksanakan pasti memerlukan tenaga kerja, banyaknya tenaga kerja yang dibutuhkan harus disesuaikan dengan kapasitas kapal motor yang dioperasikan sehingga akan mengurangi biaya melaut yang diharapkan pendapatan tenaga kerja akan lebih meningkat, karena tambahan tenaga kerja tersebut tidak profesional (Masyhuri, 1998:70).

Faktor tenaga kerja tidak hanya cukup dilihat dari segi jumlahnya saja, melainkan juga harus diperhatikan kualitas dari tenaga kerja tersebut. Dengan adanya perbaikan kualitas tenaga kerja, maka batas penurunan produksi total karena pertambahan jumlah tenaga kerja akan dapat ditunda sampai jumlah tenaga kerja yang lebih besar. Pekerja adalah mereka yang sungguh-sungguh bekerja atau melakukan kegiatan produksi dalam suatu perekonomian dan mendapatkan upah sebagai balas jasa mereka (Suparmoko dkk, 2000:97).

Pengalaman Tenaga Kerja

Menurut Samuelson dan Nordhaus (2004:85), input tenaga kerja terdiri dari kuantitas tenaga kerja dan ketrampilan angkatan kerja. Kualitas input tenaga kerja, yaitu keterampilan, pengetahuan, dan disiplin angkatan kerja, adalah satu-satunya unsur penting dari pertumbuhan ekonomi. Barang-barang modal, dapat digunakan dan dirawat secara efektif hanya oleh tenaga-tenaga kerja yang trampil dan terlatih.

Menurut Rosyidi (2002:95), kecakapan (skill) yang menjadi faktor produksi disebut orang dengan sebutan entrepreneurship. Jelas sekali entrepreneurship ini merupakan faktor produksi yang intangible (tak dapat diraba), tetapi sekalipun demikian tak lagi peranannya justru amat menentukan. Entrepreneurship atau skill ini adalah amat penting peranannya sehubungan dengan hasil yang akan dihasilkannya dan juga merupakan faktor produksi yang justru paling menentukan di dalam perkembangan perekonomian masyarakat.

Faktor penentu produktivitas dari modal manusia merupakan istilah ekonom untuk pengetahuan dan keahlian yang diperoleh pekerja melalui pendidikan, pelatihan, dan pengalaman. Modal manusia meliputi keahlian-keahlian yang diperoleh, juga pelatihan-pelatihan kerja (Mankiw, 2001:111).

Menurut Ahyari (1999:105), terdapat empat klasifikasi tenaga kerja yaitu: a) tenaga kerja ahli dan terlatih; b) tenaga kerja ahli tetapi belum terlatih; c) tenaga kerja tidak ahli tetapi terlatih; d) tenaga kerja tidak ahli dan tidak terlatih. Dimaksudkan dengan tenaga kerja ahli merupakan tenaga kerja dengan bekal pendidikan formal tertentu atau pendidikan ahli yang lain. Sedangkan yang dimaksud dengan tenaga kerja terlatih merupakan tenaga kerja yang telah mempunyai pengalaman kerja tertentu dalam jangka waktu tertentu pula (misalnya lima tahun).

Lama Melaut (jam kerja)

Dari berbagai faktor produksi yang dikenal, capital dan labor merupakan dua faktor produksi yang terpenting. Capital adalah seperangkat peralatan yang digunakan oleh pekerja. Labor adalah waktu yang dihabiskan untuk bekerja.

Fungsi produksi mencerminkan teknologi yang ada karena secara implisit menunjukkan cara mengubah capital dan labor menjadi output. Jika ditemukan cara produksi yang lebih baik, akan diperoleh lebih banyak output dari penggunaan capital dan labor yang jumlahnya sama.

Dengan berubahnya waktu terjadi perubahan dalam supply faktor produksi maupun teknologi, output yang dihasilkan juga akan berubah. Semakin meningkat kuantitas labor dan capital akan semakin banyak output yang dihasilkan (Herlambang dkk, 2002:59).

Dari sisi jam kerja, rumah tangga tani memanfaatkan waktu siang, sedangkan rumah tangga nelayan dalam penangkapan ikan pada umumnya malam hari, kecuali nelayan yang mengusahakan budi daya ikan laut dan jenis produk lainnya.

(18)

Volume 3, Nomor 1, Maret 2014 19

Menurut Masyhuri (1998:29), Pada umumnya penangkapan ikan lepas pantai yang dilakukan dalam waktu yang lebih lama dan lebih jauh dari daerah sasaran tangkapan ikan mempunyai banyak kemungkinan memperoleh hasil tangkapan (produksi) yang lebih banyak dan tentu memberikan pendapatan lebih besar dibandingkan dengan penangkapan ikan dekat pantai.

Pembangunan Tempat Pendaratan Ikan Terhadap Peningkatan Pendapatan Masyarakat Nelayan

Guna mengetahui sejauh mana dampak suatu program pembangunan tercakup juga pelaksanaan pemantauan dan evaluasi secara terus-menerus. Ini perlu, untuk segera memahami sejauh mana suatu program pembangunan telah dapat memberikan dampak yang berakibat keseimbangan sistem sosial-ekosistem senantiasa lestari. Apabila belum tercapai kelestarian, maka program pembangunan tersebut perlu mendapatkan masukan untuk menghilangkan faktor-faktor penyebab dan mengurangi tekanannya terhadap lingkungan sosial tersebut, sehingga kelestarian tetap tercapai.

Menurut Soeratmo (1998:17) dalam kenyataannya sering dijumpai dampak suatu aktivitas pembangunan proyek berdampak positif pada aspek sosial ekonomi, tetapi negatif pada aspek sosial budaya atau sebaliknya. Pentingnya suatu dampak sangat tergantung pada karakteristik masyarakat di daerah kegiatan pembangunan dilaksanakan dan karakteristik dari program itu sendiri. Hal ini penting mengingat setiap kelompok masyarakat memiliki ciri khas yang berbeda.

Pembangunan pelabuhan perikanan bertujuan untuk membangun masyarakat pesisir guna meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya, khususnya masyarakat ·nelayan. Kemudian, upaya peningkatan kualitas sumberdaya manusia bidang perikanan haruslah dilihat sebagai bagian yang integral dari pembangunan sub-sektor perikanan secara keseluruhan (Nasoetion dan Rustiadi, 1993:25). Selanjutnya, dikemukakan pula bahwa suatu hal- yang perlu diperhatikan adala'h tentang tertumpuknya tenaga kerja sub-sektor perikanan pada jabatan perburuhan merupakan kendala untuk dapat dilaksanakannya diversifikasi dan perluasan usaha. Hal ini berarti pelabuhan perikanan akan memberikan dampak pada aspek sosial ekonomi bagi masyarakat sekitar pelabuhan perikanan.

Kerangka Konseptual

Secara umum variable-variabel yang diuji dalam penelitian ini telah diteliti oleh para peneliti

sebelumnya, yang menguji pengaruh dari variabel jumlah pembongkaran ikan/jumlah hasil tangkapan, modal, tenaga kerja/pengalaman tenaga kerja, maupun lama melaut yang menghubungkan dengan tingkat pendapatan nelayan. Maka dari itu dapat dikembangkan kerangka konseptual penelitian ini sebagai berikut:

Gambar 1. Kerangka Konseptual

Hipotesis

Dari pengamatan penulis, maka hipotesis dalam penelitian adalah :

H1: Jumlah pembongkaran ikan berpengaruh signifikan terhadap tingkat pendapatan nelayan di Kecamatan Idi Rayeuk Kabupaten Aceh Timur.

H2: Diduga modal berpengaruh signifikan terhadap tingkat pendapatan nelayan di Kecamatan Idi Rayeuk Kabupaten Aceh Timur.

H3: Diduga pengalaman tenaga kerja berpengaruh signifikan terhadap tingkat pendapatan nelayan di Kecamatan Idi Rayeuk Kabupaten Aceh Timur.

H4: Diduga lama melaut berpengaruh signifikan terhadap tingkat pendapatan nelayan di Kecamatan Idi Rayeuk Kabupaten Aceh Timur.

METODE PENELITIAN

Objek Dan Lokasi Penelitian

Daerah penelitian adalah Kecamatan Idi Rayeuk dengan objek penelitian adalah masyarakat yang bermata pencaharian utama sebagai nelayan yang terbagi dalam beberapa Desa di Kecamatan Idi Rayeuk Kabupaten Aceh Timur.

(19)

20 Jurnal Visioner & Strategis

Untuk memperoleh sejumlah data dan informasi dalam menyiapkan skripsi ini, penulis mengadakan pengumpulan data secara primer melalui penelitian lapangan yaitu di Kecamatan Idi Rayeuk Kabupaten Aceh Timur dan mengumpulkan data sekunder melalui penelitian kepustakaan.

Populasi

Menurut Sugiyono (1999:72) populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang di tetapkan oleh peneliti untuk di pelajari dan kemudian di ambil kesimpulannya. Sedangkan sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang di miliki oleh populasi tersebut.

Populasi dalam penelitian ini adalah para nelayan di Kecamatan Idi Rayeuk Kabupaten Aceh Timur yang bermata pencaharian utama sebagai nelayan yang berjumlah 1.071 orang

Sampel

Penentuan jumlah sampel digunakan pendekatan Slovin (Laflilah, 2007;24) dengan formula sebagai berikut :

Dalam penelitian ini diketahui populasi sebanyak 1.071 orang yang bermata pencaharian tetap sebagai nelayan, dalam penelitian ini penulis menetapkan presisi sebesar 10% (0,10), jadi jumlah minimal sampel yang diambil oleh penulis sebesar : maka penulis mengambil sampel secara acak nelayan yang bermata pencaharian tetap sebagai nelayan (full time). Maka untuk objek penelitian penulis mengambil sebanyak 92 orang sampel nelayan di Kecamatan Idi Rayeuk Kabupaten Aceh Timur. Ukuran sampel pada masing-masing desa pesisir ditentukan dengan metode Proportionate Random Sampling.

Tabel 1. Jumlah sampel nelayan di tiap-tiap desa Pesisir di Kecamatan Idi Rayeuk Tahun 2013

No Desa Populasi Sampel

Tujuan dari penelitian ini untuk menguraikan bagaimana tingkat pendapatan nelayan di Kecamatatan Idi Rayeuk Kabupaten Aceh Timur. Adapun beberapa metode pengumpulan data menggunakan kuisioner. adalah salah satu pengumpulan data, di mana pertanyan-pertanyan ditujukan kepada keseluruhan responden sampel yang terdiri dari keseluruhan sampel.

Metode Analisis Data

Dalam penelitian ini data diolah dengan model regresi linier berganda dengan formula sebagai berikut:

Y = a + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + e Dimana :

Y= Pendapatan Nelayan (diukur dalam satuan rupiah)

a = konstanta

b1-b4 = Koefisien regresi pada model

X1 = Jumlah Pembongkaran Ikan (diukur dalam satuan kilogram)

X2 = Modal (diukur dalam satuan rupiah) X3 = Pengalaman Tenaga kerja (diukur dalam

satuan tahun)

X4 = Lama Melaut (diukur dalam satuan jam) e = error term

Uji Normalitas

Menurut Ghozali (2005:31) uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal. Untuk mengamatai data yang normal menggunakan uji statistik dengan uji non-parametrik Kolmogorov-Smirnov (K-S) Test, dimana menentukan terlebih dahulu hipotesis pengujian.

H0 = Data terdistribusi secara normal Ha = Data tidak terdistribusi secara normal

-Terima H0 bila sig (K-S) > α.

(20)

Volume 3, Nomor 1, Maret 2014 21

Uji Multikolinieritas

Multikolinearitas diartikan adanya hubungan linear yang “sempurna” atau pasti, diantara beberapa atau semua variabel yang menjelaskan dari model regresi. Untuk mendeteksi multikolinearitas didalam penelitian ini dengan menggunakan uji koefisien determinasi majemuk (R2), nilai tolerance dan variance Inflation Factor (VIF). Jika nilai tolerance < 0,2 atau VIF > 5 berarti terdapat multikolinearitas, Ghozali (2005:63)

Uji Heteroskedastisitas

Uji ini bertujuan untuk menguji apakah model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance dari residual ke residual tetap maka disebut homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas dan model regresi ini baik.

Untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas dalam model regresi penelitian ini dilakukan dengan: Uji statistik dengan uji Glejser. Tidak terjadi heteroskedastisitas, jika tidak satupun variabel independen signifikan secara statistik mempengaruhi variabel dependen nilai absolut Ut (Abs Ut) Ghozali (2005:105)

Definisi Operasional Variabel

Untuk mempermudah dalam memahami beberapa pengertian sehubungan dengan judul skripsi maka penulis memberikan definisi operasional variabel sebagai berikut :

1. Pendapatan nelayan (Y)

Pendapatan adalah arus masuk atau penambahan lain aktiva suatu entitas atau penyelesaian kewajiban-kewajiban (atau kombinasi ke duanya) yang berasal dari penyerahan atau produksi barang pemberian jasa, atau aktiva lain yang merupakan operasi ini yang berkelanjutan dari suatu entitas. Pendapatan nelayan adalah penghasilan masyarakat yang tinggal di pesisir pantai atau nelayan melalui mata pencaharian utama menangkap, memelihara ikan maupun hasil laut lainnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

2. Jumlah Pembongkaran ikan (X1)

Pembongkaran yang dilakukan adalah berupa ikan atau hasil laut lainnya yang di bawa pulang oleh nelayan yang pada setiap hari akan di turunkan ke Tempat Pendaratan Ikan (TPI). Satuan ukur yg digunakan adalah (Kg). 3. Modal (X2)

Biaya-biaya yang dikeluarkan oleh nelayan dalam operasi penangkapan ikan untuk sekali

melaut. Satuan ukuran modal nelayan yang digunakan adalah rupiah (Rp).

4. Pengalaman Tenaga Kerja (X3)

Orang atau tenaga kerja yang sudah menjalani hidupnya sebagai nelayan dalam jangka waktu tertentu. Satuan ukuran pengalaman tenaga kerja yang digunakan adalah tahun (Th). 5. Lama Melaut (X4)

Waktu yang dipergunakan oleh nelayan dalam operasi penangkapan ikan untuk sekali melaut, yang diperkirakan mulai dari berangkat kelaut sampai kembali ke darat. Satuan ukuran lama melaut yang digunakan adalah jam.

Pengujian Hipotesis

Hipotesis adalah suatu anggapan yang mungkin benar dan sering digunanakan sebagai pembuatan keputusan, pemecahan persoalan maupun dasar penelitian lebih lanjut.

Uji Secara Parsial ( Uji t )

Pengujian hipotesis terhadap koefisien regresi secara parsial menggunakan uji t terhadap tingkat keyakinan 95%, dan tingkat kesalahan α 5% dengan ketentuan degree of freedom (df)= n – k, dimana n = besar sample, k = jumlah variabel. Kesimpulan:

Apabila t hit > t tab = maka hipotesis dapat dibuktikan.

Apabila t hit < t tab = maka hipotesis yang telah disusun pada bab III tidak terbukti.

Uji Secara Keseluruhan (Uji F)

Pengujian secara keseluruhan dilakukan dengan membandingkan nilai antara F hitung dan F Tabel pada v1 = k dan v2 = n – k (v1 = 5, v2 = (X4) secara keseluruhan berpengaruh signifikan terhadap pendapatan nelayan di Kecamatan Idi Rayeuk.

(21)

22 Jurnal Visioner & Strategis

HASIL PENELITIAN

Karakteristik Responden

Karakteristik individu nelayan di bahas dalam penelitian ini untuk menunjukkan bagaimana sebenarnya karakteristik nelayan yang ada di Kecamatan Idi Rayeuk Kabupaten Aceh Timur, apakah sama dengan nelayan-nelayan di daerah lain. Berdasarkan beberapa penelitian yang dilakukan sebelumnya seperti Laflilah (2006) dan Surya (2007) menunjukkan bahwa secara umum nelayan berpendidikan rendah dengan jumlah tanggungan besar sementara pendapatan yang mereka peroleh dari hasil tangkapan ikan relatif kecil dan tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Beberapa karakteristik individu yang coba diangkat dalam penelitian ini meliputi; umur, jenis kelamin, status perkawinan, pendidikan, tanggungan keluarga. Hasil penelitian menjumpai rata-rata umur nelayan di Kecamatan Idi Rayeuk Kabupaten Aceh Timur 45 tahun. Hasil lengkap mengenai karakteristik individu nelayan sebagaimana ditampilkan pada Tabel 4.1 di bawah ini

Tabel 2

Karakterisktik Nelayan Berdasarkan Kelompok Umur, Jenis Kelamin dan Status Perkawinan

Karakteristik Frekuensi Persentasi Kelompok Umur Sumber: Data Primer (diolah), 2013

Berdasarkan data yang ditunjukkan pada Tabel 4.1 dijumpai kelompok nelayan yang paling banyak berumur antara 39 – 47 tahun yang mencapai 36 orang (35,6%), diikuti oleh kelompok umur 31 – 38 tahun sebanyak 26 orang (20%). Adapun kelompok usia paling muda dari nelayan ini adalah 23 – 30 tahun yang dijumpai sebanyak 17 orang (11,1%), sedangkan kelompok umur paling tua antara 48 – 54 tahun sebanyak 13 orang (13,3%).

Dari informasi data di atas menunjukkan bahwa umur nelayan di daerah penelitian sudah cukup dewasa dengan rata-rata umur mencapai 40-54 tahun. Dari 92 orang nelayan yang menjadi responden penelitian ini seluruhnya berjenis kelamin laki-laki, hal ini dapat dipahami mengingat di daerah penelitian, masih menjadi hal yang tabu dikalangan masyarakat untuk melibatkan kelompok perempuan dalam kegiatan mencari ikan di laut. Kebanyakan kaum perempuan hanya dilibatkan dalam proses lanjutan hasil tangkapan, misalnya dalam proses membuat ikan asin; dari proses membelah ikan, memasak, menjemur, bahkan sampai proses pemasaran baru dilakukan pelibatan terhadap kaum perempuan.

Dari data pada tabel tesebut juga memberikan informasi bahwa mayoritas dari nelayan di daerah penelitian telah berkeluarga yaitu 83 orang (90,2%), hanya 9 orang yang belum berkeluarga. Bagi nelayan yang sudah berkeluarga tentu saja tanggungjawab menjadi lebih besar untuk mencari nafkah bagi keluarganya yang ditinggalkan selama melaut.

Gambar

Tabel 4.  Karakteristik Responden Berdasarkan Pendapatan
grafik Untuk mengetahui ada tidaknya pola tertentu pada scatterplot antara ZPRED dan ZRESID, yaitu sumbu X dan Y yang telah di prediksi, dan sumbu X adalah residual (Y prediksi-Y sesungguhnya) yang telah di studentized
Tabel 8. Hasil Analisis Regresi Linear Berganda
Tabel 9. Hasil Uji Parameter Penduga
+7

Referensi

Dokumen terkait

signifikan terhadap variabel kepuasan kerja (Y). Hal ini berarti faktor hygiene yang terdiri dari kebijakan perusahaan, pengawasan, hubungan dengan rekan kerja, upah, dan

Faktor penarik tranformasi tenaga kerja di Kampung Aimasi adalah pendapatan non pertanian yang lebih besar/menjanjikan dibandingkan sektor pertanian dan kondisi pekerjaan yang

Berdasarkan hasil analisa yang diperoleh penulis dari sekolah-sekolah yang menjadi subyek penelitian adalah data hasil belajar, penulis menggunakan metode

Rendahnya kesadaran tenaga kerja konstruksi untuk memiliki SKT karena persepsi tenaga kerja terampil bahwa tidak ada korelasi yang linier antara kepemilikan

Hasil uji t didapatkan nilai thitung &gt;ttabel yaitu 2,789 &gt; 2,040 dengan tingkat signifikan 0,041 &lt; 0,05, oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa Pengawasan (X3)

Dengan melihat hasil penelitian yang telah dibahas, maka dapat ditarik kesimpulan variabel kepuasan konsumen mempunyai pengaruh yang signiikan terhadap loyalitas pelanggan pada

Berdasarkan hasil penelitian, secara simultan dan parsial variabel yang terdiri dari Pelayanan, Informasi, Reputasi, dan Pendapatan berpengaruh positif dan signifikan dan adapun faktor

Hasil uji f simultan variabel modal, tenaga kerja dan lokasi berpengaruh terhadap pendapatan dengan kriteria pengambilan keputusan menggunakan nilai signifikansi f pada 5%, diperoleh