49
FAKTOR PENARIK DAN PENDORONG TRANSFORMASI TENAGA KERJA
DI KAMPUNG AIMASI
Rissa Latul Alifah1), Djuliati Dampa2), Deasi Mayawati3) 1) Mahasiswa Proggram Studi Agribisnis Fakulltas Pertanian, Universitas Papua
2) Dosen Proggram Studi Agribisnis Fakulltas Pertanian, Universitas Papua 3) Dosen Proggram Studi Agribisnis Fakulltas Pertanian, Universitas Papua
Universitas Papua, Jl. Gunung Salju Amban Manokwari-Papua Barat, 98314
ABSTRAC
The existence of push and pull factors for the transformation of the agricultural workforce is a reflection of the condition of the non-agricultural sector which is considered to be more profitable and / or the condition of the agricultural sector which is no longer profitable. The research aims to examine the pull and push factors of labor transformation in Aimim Village and identify the types of non-agricultural sector jobs carried out by transformed workers. The respondent was determined using the snowball technique (snowball). The method of data analysis obtained in this study is processed using tabulation analysis which is the driving factor for wages, farm income, land area, risk. Attractor factors for non-agricultural income, working conditions, education level
Keywords: Manpower transformation, driving factors, wages, farm income, land area
ABSTRAK
Keberadaan faktor pendorong dan penarik transformasi tenaga kerja pertanian merupakan gambaran kondisi sektor non pertanian yang memang dianggap lebih menguntungkan dan/atau kondisi sektor pertanian yang tidak lagi menguntungkan. Penelitian bertujuan mengkaji faktor penarik dan pendorong tranformasi tenaga kerja di Kampung Aimasi dan mengidentifikasi jenis pekerjaan sektor non pertanian yang dilakukan oleh tenaga kerja yang melakukan trasformasi. Penentuan responden dilakukan dengan teknik snowball (bola salju). Metode analisis data yang diperoleh dalam penelitian ini diolah menggunakan analisis tabulasi adalah faktor pendorong upah, pendapatan usahatani, luas lahan, resiko. Faktor penarik pendapatan non pertanian, kondisi pekerjaan, tingkat pendidikan.
Kata Kunci : Tranformasi tenaga kerja, faktor pendorong, upah, pendapatan usahatani, luas lahan
PENDAHULUAN
Pertanian merupakan salah satu sektor penting dalam kemajuan suatu negara khususnya negara agraris seperti Indonesia. Jutaan penduduk Indonesia, dari Sabang sampai Merauke menggantungkan pemenuhan kebutuhannya pada hasil produksi dari sektor pertanian. Pertanian itu sendiri secara umum diartikan sebagai proses produksi yang didasarkan atas proses produksi yang didasarkan atas proses pertumbuhan tanaman dan hewan (Mosher 1966).
Tranformasi tenaga kerja atau pergeseran tenaga kerja dapat diartikan sebagai perpindahan tenaga kerja dari sektor perekonomian tertentu ke sektor perekonomian lain (Suryana dalam Helmi 1996). Sejalan dengan pernyataan tersebut, Rusli (1982) mengartikan pergeseran tenaga kerja sebagai perpindahan seseorang pekerja di dalam lingkungan kerja atau lapangan kerja tertentu. Dalam penelitian-penelitian sebelumya, setidaknya terdapat 3 pandangan yang digunakan untuk mengartikan trasformasi tenaga kerja atau pergeseran tenaga kerja dari sektor pertanian ke non sektor pertanian. Tranformasi tenaga kerja ini diartikan antara lain, pertama sebagai perpindahan mata pencaharian yang dilakukan oleh individu tenaga kerja yang sama. Kedua, perpindahan mata pencaharian yang dilakukan oleh generasi penerus dari tenaga kerja pertanian. Ketiga, dipandang sebagai perpindahan mata pencaharian yang dilakukan oleh keduanya. Damayanti (2009), Sumanto (2009), Sukartini (2003), dan Tambunan (1999) secara implisit dalam penelitiannya mengartikan trasformasi tenaga kerja dari sektor pertanian ke non
50 sektor pertanian sebagai perpindahan tenaga kerja dari sektor pertanian ke non sektor pertanian yang dilakukan individu tenaga kerja yang sama atau pada generasi yang sama.
Sektor pertanian yang masih dianggap menguntungkan dan ketidak mampuan memasuki sektor non pertanian mampu mempengaruhi kekuatan faktor pendorong dan penarik transformasi. Faktor pendorong tersebut mampu tetap mempertahankan tenaga kerja tetap berada pada sektor pertanian dan mencegah tenaga kerja pertanian untuk bertransformasi ke sektor non pertanian jika melihat jumlah tenaga kerja pertanian yang masih bertahan. Tenaga kerja pertanian yang masih bertahan akibat pengaruh faktor tersebut dimungkinkan hanya dipengaruhi atau didominasi oleh salah satu faktor pendorong.
Penelitian ini bertujuan untuk Mengkaji faktor penarik dan pendorong tranformasi tenaga kerja dan juga, mengidentifikasi jenis pekerjaan sektor non pertanian yang dilakukan oleh tenaga kerja yang melakukan trasformasi.
METODOLOGI PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini berlangsung selama kurang lebih 1 bulan. Lokasi yang dijadikan tempat penelitian adalah Kampung Aimasi/SP III Distrik Prafi Kabupaten Manokwari, dengan pertimbangan di lokasi tersebut sebagian besar petani beralih ke sektor non pertanian.
Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknik studi kasus. Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah petani yang beralih pekerjaan dari sektor pertanian ke sektor non pertanian di Kampung Aimasi/SP III Distrik Prafi Kabupaten Manokwari.
Metode Pengambilan Contoh
Metode pengambilan contoh dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik snowball sampling
(bola salju), dimana sampel diperoleh melalui proses bergulir dari satu respoden ke responden
lainya. dikarenakan belum ada data yang akurat atau yang pasti mengenai jumlah petani yang beralih ke sektor non pertanian.
Metode Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan berupa dataprimerdan data sekunder. Data primer dikumpulkan dengan menggunakan metode wawancara dengan menggunakan quisioner. Penentuan sampel didasarkan terhadap masyarakat yang telah beralih pekerjaan dari sektor pertanian ke sektor non pertanian. intansi terkait pertanian.
Metode Analisis Data
Data yang diperoleh diolah menggunakan analisis tabulasi dan kemudian dijelaskan secara deskriptif
HASIL DAN PEMBAHASAAN Faktor Pendorong
Upah
Upah tenaga kerja adalah imbalan yang diberikan kepada pekerja atau buruh berupa uang maupun barang yang memiliki nilai sesuai perjanjian. Upah yang diperoleh petani adalah upah harian pada saat bekerja pada sektor pertanian dapat dilihat pada Tabel 1.
51 Tabel 1. Upah Responden Pada Sektor Pertanian di Kampung Aimasi Tahun 2020
Upah perhari (Rp) Jumlah (Jiwa) Nisbah (%) < 50.000 - - 50.000 - 100.000 18 58,06 100.000 - 150.000 1 3,22
Sumber: Data Primer, 20 Pendapatan Usahatani
Pendapatan petani sebelum beralih ke sektor non pertanian di Kampung Aimasi dalam penelitian ini adalah pendapatan tunai. Besarnya pendapatan perbulan yang diterima petani sebelum beralih ke sektor non pertanian dapat dilihat pada Tabel 2
Tabel 2. Pendapatan Usahatani Responden Pada Sektor Pertanian di Kampung Aimasi Tahun 2020 Pendapatan perbulan (Rp) Jumlah (Jiwa) Nisbah (%) < 500.000 12 38,70 500.000 - 1.000.000 10 32,25 1.000.000 - 2.000.000 9 29,03 Jumlah 31 100
Sumber: Data Primer, 2020
Tabel 2 menunjukkan bahwa pendapatan usahatani yang didapat responden cenderung rendah yaitu kurang dari Rp. 1.000.000 per bulan (70,75% ).Penyebab rendahnya pendapatan usahatani yang pertama yaitu gagal panen karena diserang hama (90,32 %), faktor cuaca yang berubah-ubah (25,80%), bibit tidak bagus (3,22%), tidak subur (3,22) kurangnya air (3,22%), tidak dipupuk (12,90%) dan diserang penyakit (25,80%). Penyebab rendahnya pendapatan yang kedua yaitu harga/pemasaran dimana harga produk di pasar sangat rendah (74 %).
Waktu yang dibutuhkan untuk memperoleh pendapatan di sektor pertanian tergolong lama yaitu sekitar 3 bulan untuk satu kali musim tanam. Di satu sisi responden membutuhkan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kondisi ini menyebabkan responden beralih bekerja di sektor non pertanian yang pendapatannya pasti demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Luas Lahan
Luas lahan yang dimiliki petani sebelum beralih ke sektor non pertanian di Kampung Aimasi disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Luas Lahan Usahatani Responden Pada Sektor Pertanian di Kampung Aimasi Tahun 2020 Luas Lahan (ha) Jumlah (Jiwa) Nisbah (%) < 0,5 1 3,22 0,5 – 1,00 27 64,51 > 1.00 3 9,67 Total 31 100
Sumber: Data Primer, 2020
Tabel 3 menunjukkan bahwa luas lahan yang dimiliki responden saat ini berkisar antara 0,5 – 1 hektar dengan rata luas lahan sebesar 0,91 hektar. Jika dibandingkan dengan rata-rata luas lahan yang dimiliki responden saat bekerja di sektor pertanian yaitu rata-rata-rata-rata seluas 0,92 hektar, maka terjadi penurunan rata-rata luas lahan yang dimiliki responden saat ini (menurun 0,01 ha). Namun secara umum dapat dijelaskan bahwa luas lahan yang dimiliki oleh responden saat bekerja di sektor pertanian dan setelah beralih ke sektor non pertanian tidak mengalami
52 perubahan. Kondisi ini memberikan gambaran bahwa luas lahan yang dimiliki bukanlah merupakan faktor pendorong bagi petani untuk beralih ke sektor nonpertanian.
Sebagain besar lahan yang dimiliki saat ini dibiarkan begitu saja oleh responden (tidak diusahakan) dan ada sebagian responden (6,45%) yang menyewakan lahannya untuk diusahakan oleh orang lain dengan alasan tidak ada waktu untuk bertani.
Resiko
Resiko adalah ketidakpastian pada sektor pertanian seperti gagal panen, harga pasar yang berubah-ubah dan tidak menentu yang mengakibatkan pendapatan di sektor pertanian menjadi rendah. Resiko dalam penelitian ini yaitu resiko pendapatan yang diukur dengan koefisien variasi. Resiko pendapatan responden pada sektor pertanian disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Resiko Pendapatan Responden Pada Sektor pertanian di Kampung Aimasi Tahun 2020
Uraian Nilai
Rata-rata pendapatan 906.452
Standar Deviasi 444173,75
Koofisien Variasi (CV) 0,49
Sumber: Data Primer, 2020
Nilai koefisen variasi (CV) sebesar 0,49 yang menunjukkan bahwa variabilitas nilai rata-rata pendapatan sektor pertanian tergolong rendah . Hal ini menggambarkan risiko pendapatan yang dihadapi untuk mendapatkan pendapatan tersebut tidak besar. Pendapatan petani mempunyai variasi pendapatan terendah Rp. 500.000 dan tertingi Rp. 2.000.000. Jika dibandingkan dengan resiko pendapatan di sektor non pertanian (CV= 0,40) maka resiko pendapatan sektor pertanian lebih tinggi dibandingkan sektor non pertanian. Tingginya resiko yang dihadapi petani di sektor pertanian merupakan salah satu faktor pendorong bagi petani untuk meninggalkan sektor pertanian dan beralih ke sektor non pertanian.
Faktor Penarik
Pendapatan Non Pertanian
Pendapatan setelah responden beralih ke sektor non pertanian di Kampung Aimasi diperoleh dari penerimaan tunai dalam rupiah. Besarnya pendapatan yang diterima responden setelah beralih ke sektor non pertanian dapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5. Pendapatan Non Pertanian Responden Pada Sektor Pertanian di Kampung Aimasi Tahun 2020 Pendapatan perbulan (Rp) Jumlah (Jiwa) Nisbah (%) <2.000.000 3 9,67 2.000.000-5.000.000 27 87,09 >5.000.000 1 3,22 Jumlah 31 100
Sumber: Data Primer, 2020
Tabel 5 menunjukkan bahwa pendapatan saat bekerja di sektor non pertanian lebih besar dibandingkan dengan sektor pertanian. Hal ini dikarenakan pendapatan di sektor non pertanian perbulannya selalu ada, dibandingkan dengan sektor pertanian yang harus menunggu kurang lebih 3 bulan untuk panen. Pendapatan saat beralih pekerjaan sangat berpengaruh pada responden dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari sehingga responden lebih memilih pekerjaan yang menghasilkan pendapatan yang cepat untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari daripada harus menunggu hasil panen yang cukup lama dan tidak menentu.
Pekerjaan yang digeluti oleh responden di sektor non pertanian mampu memberikan pendapatan yang dapat menunjang kebutuhan sehari-hari. Pendapatan kurang dari Rp.2.000.000/bulan diperoleh dari kelompok pekerjaan teknisi dan pedagang. Kategori
53 pendapatan Rp.2.000.000 – Rp.5.000.000 dihasilkan dari pekerjaan sebagai pekerja kasar (buruh) , tenaga usaha jasa (sopir), tenaga usaha penjualan di pasar (pedagang), operator (proyek), tenaga professional (PNS), dan kategori pendapatan lebih dari Rp.5.000.000 diperoleh dari pekerjaan sebagai tenaga usaha penjualan di toko dan pasar (wiraswasta/bisnis).
Kondisi Pekerjaan
Kondisi pekerjaan di sektor non pertanian di Kampung Aimasi dilihat dari lingkungan kerja dan kepuasan kerja dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Kondisi Pekerjaan Non Pertanian Lingkungan Kerja Fisik Responden di Kampung Aimasi Tahun 2020.
Kondisi Pekerjaan Kategori
Tidak Nyaman Nyaman Sangat Nyaman
Keamanan kerja - - 31 (100%) Bahaya Pekerjaan 4 (12,90%) 27 (87,09%) - Tempratur lingkungan kerja 6 (19,35%) 25(80,64%) - Kebersihan lingkungan kerja 1 (3,22%) 30(96,77%) - Kepuasan - - 31 (100%)
Sumber: Data Primer, 2020
Tabel 6 menunjukkan bahwa ditinjau dari segi keamanan kerja, semua responden merasa sangat nyaman dengan kondisi pekerjaan sektor non pertanian. Kondisi bahaya pekerjaan (87,09%) responden merasakan nyaman dengan pekerjaan saat ini artinya pekerjaan yang mereka tekuni saat ini tidak menimbulkan bahaya. Sebagian kecil responden ( 12,90%) merasa tidak nyaman atau pekerjaan yang mereka tekuni saat ini dapat menimbulkan bahaya yaitu mereka yang melakukan pekerjaan sebagai operator (proyek), tenaga kasar (buruh) dan tenaga usaha jasa (sopir) . Bahaya yang dimaksud seperti saat melakukan pekerjaan tersebut menggunakan alat, mesin dan lain-lain. Kondisi tempratur lingkungan kerja (80,64%) responden merasa nyaman dengan tempratur lingkungan kerja saat ini yaitu mereka yang bekerja sebagai tenaga usaha jasa (sopir) , pekerja kasar (buruh), operator (proyek), pedagang dan tenaga usaha peternak (peternak). Responden yang merasa tidak nyaman dengan temperatur lingkungan kerja (19.35%) adalah mereka yang bekerja sebagai pekerja kasar (buruh), operator (proyek), dikarenakan terpapar sinar matahari. Kondisi kebersihan lingkungan kerja, sebagian besar responden merasa nyaman dengan kebersihan lingkungan kerja pada pekerjaan yang mereka tekuni saat ini dikarena pekerjaan dilakukan didalam ruangan serta lingkungan yang bersih. Kondisi kepuasan kerja, semua responden merasa sangat nyaman dengan pekerjaan yang ditekuni saat ini dikarenakan responden merasa puas dengan gaji yang diterima saat melakukan pekerjaan tersebut. Jika dibandingkan dengan kondisi pekerjaan pada sektor pertanian hasil yang didapatkan pada sektor non pertanian lebih menguntungkan sehingga memberikan kepuasan.
Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan responden berpengaruh dalam pengambilan keputusan dalam bekerja, semakin tinggi pendidikan semakin mudah seseorang menerima informasi. Pada hasil penelitian di Kampung Aimasi menunjukkan bahwa tingkat pendidikan responden di Kampung Aimasi memang tergolong cukup rendah, tetapi rendahnya tingkat pendidikan tidak mempengaruhi responden dalam bekerja. Hal tersebut bisa dilihat bahwa sebagian besar jenis pekerjaan responden pada sektor non pertanian seperti proyek, buruh, pedagang, dan sopir, sebagian besar tingkat pendidikannya hanya di bawah 12 tahun atau tidak tamat SMA. Oleh karna itu responden yang beralih tidak memiliki pendidikan yang tinggi, tetapi hanya memiliki keahlian/keterampilan pada pekerjaan tersebut. Responden yang bekerja sebagai guru (PNS) menyatakan bahwa beralihnya ke sektor non pertanian karna sudah tidak ada waktu untuk bertani, hal ini dikarenakan responden sudah menjadi guru saat masih bekerja di sektor pertanian. Jadi
54 dapat dijelaskan bahwa tinggi atau rendahnya tingkat pendidikan responden di Kampung Aimasi belum tentu/bukanlah faktor utama penarik tranformasi tenaga kerja, melainkan dilihat dari jenis pekerjaannya.
SIMPULAN DAN SARAN Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di Kampung Aimasi Distrik Prafi Kabupaten Manokwari, maka dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu:
1. Faktor penarik tranformasi tenaga kerja di Kampung Aimasi adalah pendapatan non pertanian yang lebih besar/menjanjikan dibandingkan sektor pertanian dan kondisi pekerjaan yang nyaman dibandingkan dengan bekerja di sektor pertanian. Faktor pendorong transformasi tenaga kerja terdiri dari upah yang rendah dan tidak teratur, pendapatan usahatani yang rendah dan resiko pendapatan sektor pertanian yang tinggi.
2. Jenis pekerjaan sektor non pertanian yang dilakukan oleh tenaga kerja yang melakukan trasformasi di Kampung Aimasi Distrik Prafi yaitu tenaga usaha jasa dan tenaga penjualan di toko dan pasar, pekerja kasar, tenaga usaha peternakan, operator dan teknisi.
Saran
1. Diperlukan peran penyuluh dalam menambah pengetahuan petani untuk mengendilkan hama dan penyakit tanaman agar mengurangi gagal panen sehingga produktivitas pertanian dapat meningkat dan pada akhirnya berpengaruh pada peningkatan pendapatan di sektor pertanian. 2. Perlu adanya campur tangan pemerintah dalam pemasaran produk pertanian agar petani tidak
mengalami kerugian, seperti dengan adanya Koprasi, BUMN, dan lain-lain
3. Perlu adanya campur tangan pemerintah untuk mengembangkan teknologi pertanian yang mampu mengikat daya tarik petani agar dapat bertahan di sektor pertanian agar tidak mengancam ketahanan pangan.
4. Perlu adanya penelitian lebih lanjut mengenai, aspek sosial pada tranfomasi tenaga kerja sektor pertanian ke sektor non pertanian dan dampak dari transformasi tenaga kerja dari sektor pertanian ke sektor non pertanian tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik. 2002. Klasifikasi Baku Jenis Pekerjaan Indonesia (KBJI). Badan Pusat Statistik.
Claudio, Gene H.M, dan Theodora. 2016. Faktor-faktor Penyebab Pergeseran Tenaga Kerja Sektor Pertanian Ke Sektor Non Petanian Di Kecamatan Kalawat Kabupaten Minahasa Utara.Jurnal.
C.S Pesik, Katiandagho T, M.G Kapatong. 2016. Faktor-faktor Penyebab Pergeseran Tenaga Kerja Sektor Pertanian Ke Sektor Non Pertanian. Jurnal Agri-Sosial Ekonomi Unsrat. Vol 12 No. 3A November 2016 : 67 – 80.
Maulana M, Susilowati S H. 2012. Luas Lahan Usahatani Dan Kesejahtaraan Petani: Eksistensi Petani Gurem Urgensi kebijakan Reforma Agraria. Publikasi Kebijakan Pertanian Vol. 10 No.01 2012.
Tambunan DS. 1999. Pergeseran Tenaga Kerja Muda dari Sektor Pertanian Ke Pedesaan. Skripsi. Institut Pertanian Bogor.