• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Sosio Agri Papua Vol 10 No 2 Desember 2021

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Jurnal Sosio Agri Papua Vol 10 No 2 Desember 2021"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

164 CAPAIAN KESEJAHTERAAN MASYARAKAT BERDASARKAN INDIKATOR

MAKRO DALAM RPJMD PROVINSI PAPUA BARAT

Agatha W. Widati1, Djuliati Dampa2

1 Pusat Penelitian Kependudukan dan SDM Unipa,Email: [email protected]

2Universitas Papua, Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Program Studi Agribisnis, Email: [email protected]

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk 1). mengetahui tingkat kesejahteraan masyarakat Provinsi Papua Barat tahun 2017- 2020 2). Mengetahui capaian kesejahteraan masyarakat Provinsi Papua Barat Tahun 2017-2020. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif analitis, dimana tingkat kesejahteraan menggunakan indicator IPM menurut UNDP dan untuk mengetahui capaian kesejahteraan masyarakat diukur menggunakan metode Gap Analysis. Data yang digunakan adalah data sekunder dari Badan Pusat Statistik periode 2017-2020. Hasil menunjukan bahwa IPM Provinsi Papua Barat tergolong sedang dan mengalami peningkatan dari tahun 2017-2020. Capaian IPM Papua Barat relative tinggi lebih dari 98%. Angka Harapan Hidup (AHH)Provinsi Papua Barat tahun 2017-2020 mengalami peningkatan, dengan rata-rata umur penduduk 66 tahun. AHH yang dicapai melebihi target dalam RPJMD. Berdasarkan komponen lama sekolah, penduduk Papua Barat yang berusia 25 tahun ke atas rata-rata mengenyam Pendidikan setingkat kelas 7 SMP. Capaian lama sekolah penduduk Papua Barat dibandingkan dengan target mencapai lebih dari 90% kecuali tahun 2020 mencapai 89%. Berdasarkan Angka Melek Huruf (AMH), 97,72% penduduk dapat membaca dan menulis. Pengeluaran per kapita penduduk tahun 2017-2020 cenderung meningkat, dengan peningkatan 2,24% di tahun 2020 dibandingkan dengan tahun 2017. Tahun 2017- 2019 capaian pengeluaran per kapita penduduk melebihi 100% dari target, sedangkan tahun 2020 capaian sebesar 99%.

Kata Kunci : IPM, AHH, Lama Sekolah, Pengeluaran

ABSTRACT

This research aims for 1). know the level of welfare of the people of West Papua Province in 2017-2020 2). Know the achievements of the welfare of the people of West Papua Province in 2017-2020. The method used is an analytical descriptive method, where the level of well-being uses HDI indicators according to UNDP and to find out the achievements of community welfare is measured using the Gap Analysis method. The data used is secondary data from the Central Statistics Agency for the period 2017-2020. The results showed that the HDI of West Papua Province was classified as moderate and increased from 2017-2020. The achievement of West Papua HDI is relatively high by more than 98%. Life Expectancy (AHH) of West Papua Province in 2017-2020 has increased, with an average population of 66 years. AHH achieved exceeds the target in RPJMD. Based on the old school component, West Papuans aged 25 years and above on average received education at the level of 7th grade junior high school. The old school achievement of west Papuans compared to the target of reaching more than 90% unless by 2020 reaches 89%. Based on Literacy Figures (AMH), 97.72% of the population can read and write. Per capita spending of the population in 2017-2020 is likely to increase, with an increase of 2.24% in 2020 compared to 2017. In 2017-2019 the achievement of per capita expenditure of the population exceeded 100% of the target, while in 2020 the achievement was 99%.

Keywords: HDI, AHH, School Term, Expenses

(2)

165 PENDAHULUAN

Pembangunan wilayah (regional) merupakan fungsi dari potensi sumber daya alam, tenaga kerja dan sumber daya manusia, investasi modal, prasarana dan sarana pembangunan, transportasi dan komunikasi, komposisi industri, teknologi, situasi ekonomi dan perdagangan antar wilayah, kemampuan pendanaan dan pembiayaan pembangunan daerah, kewirausahaan (kewiraswastaan), kelembagaan daerah dan lingkungan pembangunan secara luas (Adisasmita, 2008).

Pembangunan daerah mempunyai tujuan utama untuk meningkatkan jumlah dan jenis peluang kerja untuk masyarakat daerah1.

Perencanaan pembangunan wilayah ditujukan untuk mengupayakan keserasian dan keseimbangan pembangunan antar daerah sesuai dengan potensi alamnya dan memanfaatkan potensi tersebut secara efisien, tertib dan aman. Pelaksanaan pembangunan suatu daerah diawali dengan penyusunan rencana pembangunan daerah, baik jangka pendek, menengah maupun jangka panjang, salah satunya dalam bentuk Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).

Komponen perencanaan merupakan komponen dalam manajemen pembangunan yang saling terkait dengan komponen penganggaran, pelaksanaan, monitoring dan evalauasi. Evaluasi merupakan alat bantu pemerintah dalam menyusun, menetapkan dan mengelola kebijakan. Evaluasi berguna untuk menelusuri, mengukur dan menganalisa hasil dan capaian pelaksanaan rencana pembangunan yang telah ditetapkan dalam dokumen perencanaan (RKP dan RPJM). Hal ini berarti evaluasi perlu dilakukan atas kebijakan/prioritas pembangunan. Evaluasi kinerja adalah kegiatan penilaian yang diukur dengan efisiensi, efektifitas dan kemanfaatan program serta keberlanjutan pembangunan.

Evaluasi dilaksanakan terhadap keluaran kegiatan (berupa barang, jasa) dan hasil (outcomes) program pembangunan (berupa dampak dan manfaat). Evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan dilakukan terhadap pelaksanaan Renja K/L dan RKP, RPJMN dan Renstra K/L berdasar sumber daya yang digunakan, indikator dan sasaran kinerja keluaran untuk kegiatan dan atau indicator dan

1 Bab 2.PDF (ums.ac.id)

sasaran kinerja hasil untuk program.

Analisisnya mencakup berhasil atau tidaknya pelaksanaan pembangunan yang telah direncanakan tersebut, termasuk pencapaian target dan sasarannya (Bappenas, 2009).

Pelaksanaan studi evaluasi kinerja di daerah dikoordinasikan dan/atau dilakukan oleh Bappeda Propinsi/Kabupaten/Kota2.

Manfaat evaluasi adalah 1).

Memberikan umpan balik terhadap pelaksanaan pembangunan sektoral; 2).Bentuk akuntabilitas pelaksanaan pembangunan sektoral karena dibiayai oleh dana publik; 3).

Membantu pemangku kepentingan untuk belajar mendalami dan menghayati kebijakan dan kegiatan pembangunan sektoral. Fokus utama evaluasi diarahkan kepada keluaran (outputs), hasil (outcomes), dan dampak (impacts) dari pelaksanaan rencana pembangunan.

Beberapa landasan hukum dalam evaluasi kinerja pembangunan yaitu :

- UU No 25 Tahun 2004 tentang system perencanaan pembangunan nasional, - Peraturan Pemerintah Republik Indonesia

Nomor 8 Tahun 2008 tentang tahapan, tata cara penyusunan, pengendalian dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan daerah, dan

- PERMENDAGRI Nomor 86 /2017 tentang tata cara perencanaan, pengendalian dan evaluasi pembangunan daerah, tata cara evaluasi rpjpd dan rpjmd, serta tata cara perubahan RPJPD, RPJMD dan RKPD

Pembangunan daerah mempunyai tujuan utama untuk meningkatkan jumlah dan jenis peluang kerja bagi masyarakat daerah.

Guna mencapai tujuan tersebut, pemerintah dan masyarakat harus secara bersama-sama mengambil inisiatif pembangunan daerah dengan menggunakan segenap potensi yang dimiliki. Perbedaan kondisi daerah membawa implikasi bagi corak pembangunan yang akan diterapkan. Pola kebijakan yang berhasil pada suatu daerah, jika diterapkan pada daerah lainnya, belum tentu akan memberikan manfaat yang sama, sehingga pola kebijakan pembangunan yang diambil oleh suatu daerah harus disesuaikan dengan kondisi dan potensi daerah yang bersangkutan.

Papua Barat merupakan salah satu provinsi di kawasan timur Indonesia yang

2 BAB IV (bappenas.go.id)

(3)

166 termasuk dalam program prioritas

pembangunan nasional. Menurut kepala Bappenas Suharso Monoarfa, tujuh agenda pembangunan nasional terdiri dari penguatan ketahanan ekonomi, pengembangan wilayah, peningkatan SDM, peningkatan revolusi mental dan pembangunan kebudayaan, penguatan infrastruktur, pembangunan lingkungan hidup, ketahanan bencana dan perubahan iklim, dan stabilitas politik hukum dan transformasi pada publik (Julaika Hild, 2020). Secara khusus, pengembangan kawasan Papua dan Papua Barat merupakan bagian dari lima program prioritas dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2019 (Setiaji, 2018), yang meliputi 1).

pembangunan manusia melalui pengurangan kemiskinan dan peningkatan pelayanan dasar;

2). pengurangan kesenjangan antarwilayah melalui penguatan konektivitas dan kemaritiman; 3). penguatan nilai tambah ekonomi dan penciptaan lapangan kerja melalui pertanian, industri, pariwisata, dan jasa produktif lainnya; 4). pemantapan ketahanan energi pangan, dan sumber daya air; dan 5).

stabilitas keamanan nasional dan kesuksesan pemilu.

RPJMD Provinsi Papua Barat tahun 2017 – 2022, merupakan pedoman bagi pelaksanaan pembangunan daerah Provinsi Papua Barat untuk kurun waktu 2017-2022.

RPJMD tersebut memuat beberapa aspek pembangunan beserta indikator capaian pembangunan. Jika dilihat dari waktu pelaksanaan pembangunan berdasakan RPJMD, maka tahun 2021 ini merupakan tahun ke 5 pelaksanaan pembangunan daerah Papua Barat. Pencapaian pembangunan selama kurun waktu 5 tahun ini perlu diketahui, untuk itu dilakukan evaluasi kinerja pembangunan daerah Provinsi Papua Barat khususnya evaluasi pada tingkat kesejahteraan masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah 1). mengetahui tingkat kesejahteraan masyarakat Provinsi Papua Barat tahun 2017- 2020 2). Mengetahui capaian kesejahteraan masyarakat Provinsi Papua Barat Tahun 2017- 2020.

METODE

Penelitian ini menggunakan metode diskriptif analitis. Data yang digunakan adalah data sekunder yang berasal dari Badan Pusat Statistik untuk jangka waktu 4 tahun yaitu

tahun 2017- 2020. Metode pengukuran terdiri dari :

1. Tingkat kesejahteraan masyarakat diukur dengan menggunakan indikator komponen kesejahteraan masyarakat menurut UNDP

2. Capaian kesejahteraan diukur menggunakan metode gap analisis yaitu dengan membandingkan realisasi tingkat kesejahteraan dengan target capaian kesejahteraan pada komponen indikator makro dalam RPJMD Provinsi Papua Barat tahun 2017- 2022.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Provinsi Papua Barat memiliki 8 misi pembangunan yaitu 1) menciptakan tata kelola pemerintahan yang baik berbasis aparatur yang bersih dan berwibawa (good and clean governance) serta otonomi khusus yang efektif;

2) mewujudkan pengelolaan lingkungan dan sumberdaya alam yang berkeadilan dan berkelanjutan; 3) meningkatkan kualitas pelayanan dasar di bidang pendidikan dan kesehatan; 4) meningkatkan kapasitas infrastruktur dasar; 5) meningkatkan daya saing perekonomian dan investasi daerah berbasis pariwisata; 6) membangun pertanian yang mandiri dan berdaulat; 7) memperkuat pemberdayaan masyarakat, perempuan dan perlindungan anak berbasis masyarakat berketahanan sosial dan 8) memperkuat kerukunan umat beragama dan kondusivitas daerah. Berdasarkan misi-misi tersebut maka program pembangunan Povinsi Papua Barat yaitu: reformasi birokrasi, pembangunan berkelanjutan, penyediaan pelayanan dasar pendidikan dan kesehatan, pembangunan infrastruktur dasar, peningkatan daya saing ekonomi, kedaulatan pangan, perlindungan dan pemberdayaan masyarakat berketahanan sosial, dan juga peningkatan kondusivitas daerah.

Indikator pembangunan yang terdapat dalam RPJMD terdiri dari indikator makro, indikator utama (IKU) dan indikator daerah.

Indikator makro merupakan alat ukur untuk mengetahui hasil yang diharapkan secara makro atau sasaran makro sebagai impact makro pembangunan jangka menengah daerah, terdiri dari 11 indikator yaitu :

1. Meningkatnya laju pertumbuhan ekonomi setiap tahun

(4)

167 2. Meningkatnya laju pertumbuhan

ekonomi tanpa migas setiap tahun 3. Terkendalinya laju inflasi setiap tahun 4. Meningkatnya Indeks Pembangunan

Manusia (IPM)

5. Menurunnya Rasio Gini

6. Menurunnya persentase tingkat kemiskinan

7. Menurunnya Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT)

8. Menurunnya Indeks Kesenjangan Wilayah/Indeks Williamson

9. Meningkatnya pengeluaran per kapita per bulan

10. Menurunnya persentase pengeluaran konsumsi makanan

11. Meningkatnya produktivitas total daerah.

Indikator Kinerja Utama (IKU) merupakan ukuran keberhasilan dari suatu tujuan dan sasaran strategis pembangunan daerah. Tujuan IKU adalah memberikan gambaran tentang pencapaian keberhasilan target indikator sasaran daerah (outcome).

Jumlah IKU yang ditetapkan dalam RPJMD Provinsi Papua Barat tahun 2017 – 2022 sebanyak 111 indikator. Sedangkan Indikator Kinerja Daerah merupakan alat untuk menilai keberhasilan pembangunan secara kuantitatif maupun kualitatif. Tujuan Indikator Kinerja Daerah yaitu memberi gambaran tentang ukuran keberhasilan pencapaian visi dan misi Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih pada akhir periode masa jabatan sehingga indikator kinerja daerah bisa disebut sebagai IKU bagi Gubernur dan Wakil Gubernur.

Pembangunan di Indonesia bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator untuk melihat hasil pembangunan yang telah dilakukan dan menentukan arah pembangunan di masa mendatang (BPS, 2019). Pembangunan dalam kawasan tertentu, keberadaannya memiliki potensi yang kuat sebagai pendorong peningkatan kesejahteraan bagi masyarakat dan

daerah disekitarnya (Teja Mohamad, 2015).

Salah satu indikator dari pembangunan ekonomi adalah tingkat pendapatan yang meningkat. Tingkat pendapatan yang tinggi dapat dicapai apabila seseorang bekerja secara efisien atau bekerja berdasarkan prinsip-prinsip ekonomi. Menurut Gustyarini (2019), kesejahteraan itu meliputi keamanan, keselamatan, dan kemakmuran. Tingkat kesejahteraan masyarakat ini mencerminkan kualitas hidup dari sebuah keluarga. Keluarga dengan tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi berarti memiliki kualitas hidup yang lebih baik.

Fahrudin dalam Gustyarini (2019) menyatakan kesejahteraan adalah sebuah kondisi dimana seorang dapat memenuhi kebutuhan pokok, baik itu kebutuhan akan makanan, pakaian, tempat tinggal, air minum yang bersih serta kesempatan untuk melanjutkan pendidikan dan memiliki pekerjaan yang memadai yang dapat menunjang kualitas hidupnya sehingga hidupnya bebas dari kemiskinan, kebodohan, ketakutan, atau kekhawatiran sehingga hidupnya aman tentram, baik lahir maupun batin.

Komponen-komponen yang menjadi indikator kesejahteraan menurut BPS (2021) adalah kependudukan, kesehatan dan gizi, pendidikan, ketenagakerjaan, konsumsi rumah tangga, perumahan serta indikator sosial lainnya. Bhakti et al (2012) mengemukakan pengukuran tingkat kesejahteraan rakyat/masyarakat yang dikembangkan oleh UNDP tahun 1990 yaitu Human Development Index (HDI) atau Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Indeks ini dibentuk oleh 3 (tiga) dimensi dasar, yaitu angka harapan hidup, lama sekolah dan pengeluaran konsumsi.

Penelitian ini mengukur capaian pembangunan dilihat dari capaian kesejahteraan berdasarkan indikator pengukuran kesejahteraan menurut UNDP.

Berdasarkan RPJMD Provinsi Papua Barat, target capaian untuk indikator makro tahun 2017 – 2020 adalah sebagai berikut :

(5)

168 Tabel 1. Target Sasaran Makro Pembangunan Provinsi Papua Barat dalam RPJMD 2017-2022

Sasaran Makro Target Tahun

2017 2018 2019 2020

Laju pertumbuhan ekonomi (%) 5,00 7,00 7,00 7,00

Laju Pertumbuhan ekonomi tanpa migas (%) 6,75 9,00 9,00 9,00

Laju inflasi tahunan (%) 3,28 4,08 3,66 3,67

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 62,32 63,21 63,64 64,09

Rasio Gini 0,37 0,38 0,37 0,36

Persentase tingkat kemiskinan (%) 25,10 24,27 23,29 22,42 Tingkat pengangguran terbuka (%) 7,52 6,45 6,42 6,28

Indeks kesenjangan wilayah 0,45 0,43 0,42 0,41

Pengeluaran per kapita per bulan (Rp Juta) 1,10 1,20 1,30 1,40 Persentase pengeluaran konsumsi makanan (%) 50,00 49,75 49,60 49,50 Produktivitas total daerah (Rp Juta) 167,00 167,50 170,00 172,50 Sumber : RPJMD Prov. Papua Barat 2017-2022

Pertumbuhan ekonomi

Realisasi pertumbuhan ekonomi Provinsi Papua Barat jika dibandingkan dengan target capaian, maka capaian tertinggi terjadi pada tahun 2018 mencapai 89,29%. Gambar 1 juga memperlihatkan bahwa pertumbuhan ekonomi turun tajam di tahun 2020. Adanya

pandemi covid 19 menyebabkan kegiatan ekonomi lambat di seluruh Indonesia termasuk Papua Barat. Laporan Bank Indonesia3 menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi Papua Barat pada triwulan IV 2020 masih berada dalam level yang rendah yang diakibatkan oleh pandemi COVID-19.

Gambar 1. Target, Realisasi dan Capaian Pertumbuhan Ekonomi Papua Barat Tahun 2017-2020 Indeks Pembangunan Manusia (IPM)

Indikator IPM ini dapat menentukan peringkat atau level pembangunan disuatu negara sehingga dapat mengidentifikasi kelompok/negara yang jatuh tertinggal dalam kemajuan manusia dan untuk memantau distribusi perkembangan manusia yang dibantu menggunakan data kependudukan yang ada ditiap negara (Khusna dan Nugraha, 2019).

BPS menyebutkan manfaat dari IPM yaitu merupakan indikator penting untuk mengukur keberhasilan dalam upaya membangun kualitas

3 Laporan Perekonomian Provinsi Papua Barat November 2020 (bi.go.id)

hidup manusia (masyarakat/penduduk), IPM dapat menentukan peringkat atau level pembangunan suatu wilayah/negara, dan bagi Indonesia, IPM merupakan data strategis karena selain sebagai ukuran kinerja Pemerintah, IPM juga digunakan sebagai salah satu alokator penentuan Dana Alokasi Umum (DAU). IPM menurut Badan Pusat Statistik dibagi menjadi 4 kategori atau golongan yaitu Indeks Pembangunan Manusia rendah jika <

60, sedang 60≤ IPM<70, tinggi 70≤ IPM<80 dan sangat tinggi jika IPM ≥ 80. Berdasarkan

5 4.02 7 7 7

6.25

2.66

-0.77 80.4

125

53.2

-15.4

-50 0 50 100 150

-2 0 2 4 6 8

2017 2018 2019 2020

Target (%) Realisasi (%) Tingkat Capaian Kinerja (%)

(6)

169 data BPS diperoleh bahwa IPM Provinsi Papua

Barat dari tahun 2017 – 2020 mengalami peningkatan dimana pada tahun 2017 sebesar 62,99 dan pada tahun 2020 sebesar 65,09. Jika dilihat berdasarkan kategori BPS, maka IPM Provinsi Papua Barat tergolong sedang. Hal yg sama juga dikemukakan oleh Nanlohy Elen (2021) menyatakan nilai tersebut berarti pembangunan manusia di Papua Barat berada pada kategori capaian “sedang”. IPM Papua Barat 2020 tumbuh sebesar 0,60 persen bila dibandingkan dengan capaian IPM 2019,

mengalami perlambatan pertumbuhan.. Hal ini dikarenakan adanya pandemic covid-19.

Perlambatan pertumbuhan IPM Papua Barat 2020 disebabkan karena menurunnya pertumbuhan komponen pengeluaran per kapita per tahun yang disesuaikan (PPP), yaitu turun sebesar 0,48%. Jika dibandingkan dengan IPM nasional sebesar 71,94 (BPS,2020), maka IPM Papua Barat masih berada di bawah IPM nasional.

Gambar 2. Target, Realisasi dan Capaian IPM di Provinsi Papua Barat Tahun 2017-2020 Jika dibandingkan dengan target IPM

dalam RPJMD, nampak bahwa tingkat capaian IPM relatif tinggi, lebih dari 98%. Bahkan pada tahun 2018 mencapai tingkat capaian tertinggi yaitu 99,17%, artinya kualitas hidup masyarakat yang dicapai lebih tinggi dibandingkan targetnya.

Angka Harapan Hidup (AHH)

Angka harapan hidup merupakan salah satu komponen pengukur kualitas hidup manusia. Angka harapan hidup menunjukkan perkiraan lama hidup rata-rata penduduk

dengan asumsi tidak ada perubahan pola mortalitas menurut umur (BPS, 2018 dalam Widiastuty, 2019). BPS menyebutkan bahwa AHH merupakan alat untuk mengevaluasi kinerja pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk pada umumnya, dan meningkatkan derajat kesehatan pada khususnya. Maryani dan Kristiana (2018), menyatakan bahwa AHH di suatu daerah harus diikuti dengan program pembangunan kesehatan dan program sosial lainnya termasuk kesehatan lingkungan, kecukupan gizi dan kalori serta termasuk program pemberantasan kemiskinan.

Gambar 3. Target, Realisasi dan Capaian Angka Harapan Hidup di Provinsi Papua Barat Tahun 2017-2020

62.32 63.21 63.64 64.09

62.99 63.74

64.7 65.09

98.94 99.17

98.36 98.46

97.80 98.00 98.20 98.40 98.60 98.80 99.00 99.20 99.40

60 61 62 63 64 65 66

2017 2018 2019 2020

Target Realisasi Tingkat Capaian Kinerja (%)

65.4 65.5 65.6 65.7

65.32 65.55 65.9 66.02

99.88

100.08

100.46 100.49

99.40 99.60 99.80 100.00 100.20 100.40 100.60

64.8 65 65.2 65.4 65.6 65.8 66 66.2

2017 2018 2019 2020

Target Realisasi Tingkat Capaian Kinerja (%)

(7)

170 Gambar 3 menunjukan bahwa Angka

harapan hidup masyarakat di Papua Barat mengalami peningkatan dari tahun 2017 hingga 2020 (Gambar 3). AHH tahun 2020 sebesar 66,02 berarti bahwa rata-rata hidup masyarakat di Papua Barat mencapai 66 tahun namun masih lebih rendah dibandingkan angka harapan hidup secara nasional tahun 2020 sekitar 71 tahun. Jika dibandingkan dengan target capaian angka harapan hidup dalam RPJMD maka tahun 2018 hingga 2020, AHH lebih dari target.

Peningkatan AHH menjadi indikator bahwa program-program pemerintah terutama di bidang kesehatan cukup baik. Wardhana et al.

(2021) menyatakan bahwa perkembangan AHH menunjukkan keberhasilan pemerintah dalam menanggulangi penyakit dan peningkatan kesehatan masyarakat.

Peningkatan nilai AHH di Papua Barat masih perlu dilakukan, dengan memperhatikan faktor- faktor yang mempengaruhi AHH.

Pendidikan

Pendidikan menjadi indikator utama dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang berimplikasi pada kualitas sumber daya manusia (Pribadi dalam Nisa dan Samputra, 2020). Pendidikan merupakan salah satu komponen dalam mengukur IPM suatu daerah, dimana komponen pendidikan yang digunakan adalah rata-rata lama sekolah dan angka melek huruf. Tahun 2010, UNDP sudah merubah metodologi penghitungan IPM

dengan metode baru dan direvisi pada tahun 2011 yang mulai diimplementasikan di Indonesia pada tahun 2014, dimana pengukuran pendidikan rata-rata lama sekolah penduduk usia 25 tahun ke atas dan angka harapan lama sekolah (Expected Years of Schooling/EYS) penduduk usia 7 tahun ke atas (Nitivijaya M., et al., 20). Rata-rata lama sekolah dihitung dengan tiga variabel, yakni partipasi sekolah, tingkat/kelas yang sedang/pernah dijalani, dan jenjang pendidikan tertinggi yang ditamatkan (Ekosiswoyo R., et al, 2017). Data BPS menunjukan bahwa rata-rata lama sekolah di Provinsi Papua Barat tahun 2017 hingga 2020 berkisar antara 7,15 hingga 7,44, hal ini berarti bahwa penduduk usia 25 tahun ke atas di Provinsi Papua Barat rata-rata mengenyam pendidikan setingkat SMP (kelas 7 SMP). Hasil penelitian Rifqy M. et al (2020) menunjukkan bahwa jenjang pendidikan yang banyak ditamatkan di Provinsi Papua Barat adalah Sekolah Dasar, hal ini bisa dikarenakan terdapatnya kapasitas, penganggaran, dan penilaian pemerintah dalam pendidikan sekolah dasar yang cukup memadai dibandingkan dengan jenjang pendidikan lainnya. Kondisi pendidikan di Provinsi Papua Barat masih terbilang rendah, karena banyaknya persentase penduduk yang tidak memiliki ijazah dari tahun 2008, 2013, dan 2018 dibandingkan dengan persentase penduduk yang menamatkan beberapa jenjang pendidikan.

Gambar 4. Target, Realisasi dan Capaian Lama Sekolah Masyarakat di Provinsi Papua Barat Tahun 2017-2020

Angka Melek Huruf (AMH) adalah proporsi penduduk usia 15 tahun keatas yang mempunyai kemampuan membaca dan menulis huruf latin dan huruf lainnya, tanpa harus mengerti apa yang dibaca/ditulisnya terhadap

penduduk usia 15 tahun ke atas (BPS, 2020).

Angka melek huruf di Provinsi Papua Barat tahun 2017 hingga tahun 2020 cenderung meningkat hal ini berarti pendidikan di Papua Barat mengalami perubahan kea rah yang lebih

7.5 7.7

8

8.3

7.15 7.27 7.6 7.44

95.33

94.42 95.00

89.64

86.00 88.00 90.00 92.00 94.00 96.00

6.5 7 7.5 8 8.5

2017 2018 2019 2020

Target (%) Realisasi (%) Tingkat Capaian Kinerja (%)

(8)

171 baik. Tahun 2020 AMH Provinsi Papua Barat

mencapai 97,72% hal ini berarti bahwa 97,72%

penduduk di Papua Barat dapat membaca dan menulis. Jika dibandingkan antara target dalam RPJMD dan realisasinya, maka nampak bahwa

capaian untuk angka melek huruf telah melampaui target. Namun hal ini masih harus terus dipertahankan dan juga ditingkatkan melalui program-program pendidikan agar pendidikan di Papua Barat semakin lebih baik.

Gambar 5. Target, Realisasi dan Capaian Angka Melek Huruf Masyarakat di Provinsi Papua Barat Tahun 2017-2020

Pengeluaran per Kapita per Bulan

Komponen ketiga dalam pengukuran IPM adalah daya beli yang didekati dengan pengeluaran per kapita per bulan. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), pengeluaran rata- rata perkapita sebulan menunjukkan besarnya pengeluaran setiap anggota rumah tangga dalam kurun waktu satu bulan. Penduduk di Papua Barat memiliki tingkat pengeluaran per kapita per bulan yang cenderung meningkat dari tahun ke tahun (Gambar 6). Data juga menunjukan bahwa tahun 2020 terjadi peningkatan pengeluaran per kapita penduduk sebesar 2,24% dibandingkan dengan tahun 2017. Hal ini berarti bahwa kemampuan ekonomi masyarakat di Papua Barat semakin membaik. Namun jika dibandingkan antara tahun 2019 dan 2020, maka terjadi penurunan pertumbuhan. Tahun 2019 pertumbuhan sebesar 9,87% dibandingkan dengan tahun 2018, sedangkan tahun 2020 pertumbuhan

hanya mencapai 1,93%. Adanya pandemik covid 19 dapat mempengaruhi pengeluaran konsumsi masyarakat. Nanlohy Ellen (2017) menyatakan bahwa pengeluaran per kapita Papua Barat merupakan salah satu komponen yang menyebabkan penurunan IPM Papua Barat tahun 2020. Hal ini diindikasikan karena adanya pandemik covid 19 yang mengakibatkan penurunan pendapatan masyarakat.

Jika dibandingkan antara target dan realisasi, maka pada tahun 2017-2019 capaian melebihi dari target yang direncanakan, namun pada tahun 2020 mengalami penurunan dengan capaian sebesar 99,64%. Walaupun menurun dibandingkan tahun 2019, capaian tersebut masih tergolong tinggi dan pengeluaran per kapita masih meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

95 95.5 96 96.5

97.16 98.21 97.37 97.72

102.27

102.84

101.43 101.26

100.00 100.50 101.00 101.50 102.00 102.50 103.00

93 94 95 96 97 98 99

2017 2018 2019 2020

Target (%) Realisasi (%) Tingkat Capaian Kinerja (%)

(9)

172 Gambar 6. Target, Realisasi dan Capaian Pengeluaran Konsumsi Masyarakat di Provinsi

Papua Barat Tahun 2017-2020 Persentase Pengeluaran untuk Konsumsi

Makanan

Indikator ketahanan pangan yang dapat diturunkan dari data pengeluaran adalah pangsa pengeluaran pangan yang diukur dari persentase pengeluaran untuk makanan terhadap total pengeluaran. Indikator ini menggambarkan kerentanan ekonomi yang dihadapi rumah tangga. Rumah tangga yang mengalokasikan sebagian besar pengeluaran untuk makanan lebih rentan kekurangan makanan dibandingkan dengan rumah tangga yang pengeluaran untuk makanan rendah (BPS, 2017 dalam Kementerian Kesehatan RI, 2018).

Pola pengeluaran merupakan salah satu variabel yang dapat digunakan untuk mengukur

tingkat kesejahteraan (ekonomi) penduduk, sedangkan pergeseran komposisi pengeluaran dapat mengindikasikan perubahan tingkat kesejahteraan penduduk (BPS, 2012).

Berdasarkan gambar 7, terlihat bahwa persentase pengeluran masyarakat untuk makanan dari tahun 2017-2020 berada di bawah 50%. Tahun 2017-2019, persentasenya semakin menurun, yang menandakan bahwa tingkat keejahteraan masyarakat semakin membaik. Namun pada tahun 2020 persentaase pengeliaran untuk makanan mengalami peningkatan.

Gambar 7. Target, Realisasi dan Capaian Persentase Pengeluran Masyarakat untuk Konsumsi Makanan di Provinsi Papua Barat Tahun 2017-2020

1,100,000

1,200,000

1,300,000 1,400,000 1,121,892

1,245,517

1,368,510 1,395,015 101.99

103.79

105.27

99.64

96.00 97.00 98.00 99.00 100.00 101.00 102.00 103.00 104.00 105.00 106.00

- 200,000 400,000 600,000 800,000 1,000,000 1,200,000 1,400,000 1,600,000

2017 2018 2019 2020

Target (Rp) Realisasi (Rp) Tingkat Capaian Kinerja (%)

50

49.75

49.6 49.5

49.32

49.32

48.79

49.31

98.64

99.14

98.37

99.62

97.60 97.80 98.00 98.20 98.40 98.60 98.80 99.00 99.20 99.40 99.60 99.80

48 48.2 48.4 48.6 48.849 49.2 49.449.6 49.850 50.2

2017 2018 2019 2020

Target (%) Realisasi (%) Tingkat Capaian Kinerja (%)

(10)

173 KESIMPULAN

IPM Provinsi Papua Barat tergolong sedang dan mengalami peningkatan dari tahun 2017-2020.

Capaian IPM Papua Barat relative tinggi lebih dari 98%. Angka Harapan Hidup (AHH) Provinsi Papua Barat tahun 2017-2020 mengalami peningkatan, dengan rata-rata umur penduduk 66 tahun. AHH yang dicapai melebihi target dalam RPJMD. Berdasarkan komponen lama sekolah, penduduk Papua Barat yang berusia 25 tahun ke atas rata-rata mengenyam Pendidikan setingkat kelas 7 SMP.

Capaian lama sekolah penduduk Papua Barat dibandingkan dengan target mencapai lebih dari 90% kecuali tahun 2020 mencapai 89%.

Berdasarkan Angka Melek Huruf (AMH), 97,72% penduduk dapat membaca dan menulis.

Pengeluaran per kapita penduduk tahun 2017- 2020 cenderung meningkat, dengan peningkatan 2,24% di tahun 2020 dibandingkan dengan tahun 2017. Tahun 2017-2019 capaian pengeluaran per kapita penduduk melebihi 100% dari target, sedangkan tahun 2020 capaian sebesar 99%.

DAFTAR PUSTAKA

Bank Indonesia, 2020. Laporan Perekonomian Provinsi Papua Barat November 2020.

Bappenas, 2009. Buku Pedoman Evaluasi dan Indikator Kinerja Pembangunan.

Kedeputian Evaluasi Kinerja Pembangunan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Tahun 2009.

Jakarta.

Bhakti N. A., Istiqomah & Suprapto. 2012.

Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Indeks Pembangunan Manusia di Indonesia Periode 2008 – 2012. Ekuitas : Jurnal Ekonomi dan Keuangan Vol. 18 (4) : 452-469.

BPS, 2012. Pengeluaran untuk Konsumsi Penduduk Indonesia Per Provinsi. Survei Sosial Ekonomi Nasional. Buku 3. BPS Indonesia. Jakarta

BPS, 2020. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia pada tahun 2020. Berita Resmi Statistik. Badan Pusat Statistik (bps.go.id).

BPS, 2021. Indikator Kesejahteraan Rakyat Provinsi Papua Barat. BPS Provinsi Papua Barat.

Ekosiswoyo R, Kardoyo & T.J. Raharjo, 2008.

Strategi Akselerasi Pencapaian IPM

Bidang Pendidikan untuk Mendukung Keberhasilan Pembangunan Jangka Menengah Kota Semarang. Riptek Vol. 2 (2) : 1-6.

Gustyarini Nur I. D., 2019. Analisis Faktor yang Mempengaruhi Kesejahteraan Masyarakat di Provinsi Jawa Tengah.

Tugas Akhir. Universitas Negeri Semarang. Semarang.

Julaika Hilda, 2020. Bappenas : Ada 7 Prioritas Nasional di 2021. Media Indonesia 30 April 2020. Bappenas: Ada 7 Prioritas Nasional di 2021 (mediaindonesia.com) Kementerian Kesehatan RI, 2018. Konsumsi

Makanan Penduduk Indonesia. Infodatin Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI. ISSN 2442-7659.

Khusna Z. A. & J. Nugraha, 2019. Analisis Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan Pengelompokan Data Kependudukan Negara-negara di Asia Menggunakan Algoritma Self Organizing Maps (SOM) Kohonen dengan Pemetaan secara Geospasial.

Studi Kasus : Data IPM dan Kependudukan Negara di Asia Tahun 2018. Prosiding Seminar Nasional diselenggarakan Pendidikan Geografi FKIP UMP “ Manajemen Bencana di Era Revolusi Industri 5.0” ISBN 978-602- 6697-38-7. Purwokerto.

Maryani H. dan L. Kristiana, 2018. Pemodelan Angka Harapan Hidup (AHH) Laki-laki dan Perempuan di Indonesia Tahun 2016. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan Vol. 21(2) April 2018 : 71-81.

Nanlohy Elen, 2021. Perlunya Pemerataan Pembangunan Manusia di Papua Barat.

https://kumparan.com 17 Februari 2021.

Nisa S. Nur & P. L. Samputra, 2020. Analisis Ketimpangan Pendidikan di Provinsi Papua Barat. Jurnal Perspektif Ekonomi Darussalam Vol. 6 (2) : 115-135.

Nitividjaya M. 2016. Pemodelan Angka Lama Sekolah di Provinsi Papua Barat dengan Pendekatan Model Mixture Survival Bayesian. Tesis. Institut Tekologi Sepuluh November. Surabaya.

1314201709-Master_Theses.pdf

(its.ac.id) diunduh tanggal 24 Januari 2022.

Pemerintah Provinsi Papua Barat, 2017.

Rencana Pembangunan Jangka

(11)

174 Menengah Provinsi Papua Barat 2017-

2022.

Ramadhani E., N. Salwa & M. S. Mazaya, 2020. Identifikasi Faktor-faktor yang mempengaruhi Angka Harapan Hidup di Sumatera Tahun 2018 Menggunakan Analasis Regresi Spasial Pendekatan Area. Jurnal of Data Analysis Vol. 3 (2) : 62-75.

Rifky M., Aulia Nur Fitriyani, Yofi Sabilia Rosyida, Yohanes Melky Masjoyo, Umi Listyaningsih,dan Muhammad Arif Fahrudin Alfana. 2020. Analisis Derajat Pendidikan Penduduk Provinsi Papua Barat Tahun 2008, 2013, dan 2018.

DOI:10.13140/RG.2.2.12996.86401 https://www.researchgate.net/publicatio n/344592428_Analisis_Derajat_Pendidi kan_Penduduk_Provinsi_Papua_Barat diunduh tanggal 24 Januari 2022.

Teja Mohamad, 2015. Pembangunan untuk Kesejahteraan Masyarakat di Kawasan Pesisir. Development for Welfare Sociaty in Coastal Area. Aspirasi Vol.

6(1) Juni 2015 : 63-76.

Wardhana A., B. Kharisma & D. S. Sulandari, 2021. Belanja Pemerintah dan Peningkatan SDM di Indonesia. Jurnal Ecomedica : Jurnal Ekonomi, Manajemen dan Bisnis Vol. 5 (2) : 139 – 151.

Widiastuty I. L., 2019. Pengaruh Kualitas Hidup Perempuan Terhadap Dinamika Angka Harapan Hidup di Jawa Barat.

Jurnal Kependudukan Indonesia Vol. 14 (2) : 105-118.

Gambar

Gambar 1. Target, Realisasi dan Capaian Pertumbuhan Ekonomi Papua Barat Tahun 2017-2020  Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
Gambar 2. Target, Realisasi dan Capaian IPM di Provinsi Papua Barat Tahun 2017-2020  Jika dibandingkan dengan target IPM
Gambar 4. Target, Realisasi dan Capaian Lama Sekolah Masyarakat di Provinsi  Papua Barat  Tahun 2017-2020
Gambar 5. Target, Realisasi dan Capaian Angka Melek Huruf Masyarakat di Provinsi  Papua Barat Tahun 2017-2020
+2

Referensi

Dokumen terkait

Biaya total dalam keripik singkong keluarga Subani di Distrik Manokwari Barat, Kabupaten Manokwari merupakan hasil dari penjumlahan seluruh biaya tetap dan biaya

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi factor internal ( kekuatan dan kelemahan) serta factor eksternal (peluang dan ancaman) yang dihadapi dan dimiliki oleh

Penelitian ini mengadaptasi komponen pertanyaan yang digunakan pada penelitian CSI di Kenya (Maxwell dan Caldwell, 2008). Dimana pertanyaan tersebut akan diberikan bagi rumah

Peran pedagang pengumpul pada saluran ini adalah mengumpul hasil tangkapan ikan dari nelayan untuk kemudian dijual kembali kepada beberapa pedagang pengecer yang ada di kota

Kontribusi pendapatan usahatani tanaman pangan di Kampung Buk Distrik Buk Kabupaten Sorong 2020 dari total keseluruhan pendapatan rumah tangga yang diperoleh masyarakat petani

84 melakukan urbanisasi ke Kota Nabire, dengan demikian terdapat hubungan antara urbanisasi (permanen/non permanen) terhadap faktor pendorong ketersediaan fasilitas di daerah,

Penelitian ini menemukan bahwa rata-rata kinerja perusahaan masih rendah jika dibandingkan dengan kepuasan bermitra atau tingkat kepentingan petani kopi dalam kemitraan..

Peningkatan nilai tambah ekonomi dan penciptaan lapangan kerja melalui pertanian, industri, serta pariwisata dan jasa produktif lainnya.. Peningkatan nilai