• Tidak ada hasil yang ditemukan

JURNAL SOSIO AGRI PAPUA VOL 4 NO 1 JUNI 2015

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "JURNAL SOSIO AGRI PAPUA VOL 4 NO 1 JUNI 2015"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Derland Samori, Josina Waromi, Ishak Suwardi 1

Analisis Usaha Keripik Singkong

(Kasus : Usaha Keripik Singkong Keluarga Subani Distrik Manokwari Barat Kabupaten Manokwari)

Derland Samoriˡ), Josina Waromi2), Ishak Suwardi3)

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keuntungan dan efisiensi usaha keripik singkong Keluarga Subani. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik studi kasus. Sebagai kasus dalam penelitian ini adalah usaha keripik singkong yang dikelola oleh Bapak Subani karena usaha keripik singkong ini merupakan usaha keripik pertama di Manokwari dan sudah berjalan cukup lama. Keluarga Subani mengembangkan usaha keripik singkong ini dengan menggunakan gerobak dorong, sehingga keuntungan dan efisiensi dari usaha keripik singkong ini perlu diketahui. Subyek dalam penelitian ini adalah Pengusaha Keripik Singkong yaitu Pemilik Usaha Keripik Singkong Keluarga Subani Distrik Manokwari Barat Kabupaten Manokwari, sehingga data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder yang selanjutnya dianalisis secara tabulasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa besarnya keuntungan yang diperoleh dari usaha keripik singkong keluarga subani selama satu bulan adalah Rp. 8.844.000. Usaha keripik singkong keluarga subani mempunyai nilai efisiensi lebih dari satu, yaitu sebesar 1,54 sehingga dapat dikatakan bahwa usaha ini menguntungkan.

Setiap Rp. 1,00 biaya yang dikeluarkan dalam kegiatan usaha keripik singkong keluarga subani memberikan penerimaan sebesar 1,54 kali dari biaya yang dikeluarkan.

Kata Kunci : Analisis usaha, Keripik Singkong, Keuntungan, Efisiensi.

ABSTRACK

This study aims to determine the profitability and efficiency of business Subani Family cassava chips. The method used is descriptive method with a case study. As is the case in this research effort cassava chips managed by Mr. Subani because cassava chips this effort is the first attempt in Manokwari chips and has been running for a long time. Family Subani develop business cassava chips by using a wheelbarrow, so the profitability and efficiency of the cassava chips effort needs to be known. The subjects in this study is that entrepreneurs Cassava Chips Cassava Chips Family Business Owners Subani West Manokwari Manokwari District, so that the data collected is primary data and secondary data were further analyzed by tabulation. The results of this study indicate that the magnitude of the benefits of family businesses subani cassava chips for a month is Rp. 8.844 million. Cassava chips subani family businesses have more than one value efficiency, ie by 1.54 so it can be said that this venture profitable. Each Rp.

1.00 costs incurred in operations subani family cassava chips provide receipts by 1.54 times than the costs incurred.

Keyword : Business analysis, Cassava Chips, Gain, Efficiency.

PENDAHULUAN Latar Belakang

Sektor pertanian dalam wawasan agribisnis dengan perannya dalam perekonomian nasional memberikan beberapa hal yang menunjukkan keunggulan

yang dapat dipertimbangkan. Keunggulan tersebut antara lain nilai tambah pada agroindustri, misalnya dengan cara pengawetan produk pertanian menjadi produk olahan yang lebih tahan lama dan siap dikonsumsi. Mengingat sifat produk pertanian yang tidak tahan lama maka peran agroindustri sangat diperlukan.

(2)

Derland Samori, Josina Waromi, Ishak Suwardi 2 Singkong merupakan salah satu

tanaman pangan yang memiliki banyak kelebihan. Misalnya saja pada saat cadangan makanan (padi-padian) mengalami kekurangan, singkong masih dapat diandalkan sebagai sumber bahan pengganti karena ubi kayu merupakan tanaman yang tahan terhadap kekurangan air sehingga masih dapat diproduksi di lahan kritis sekalipun dan cara penanaman singkong sangatlah mudah. Singkong juga merupakan salah satu jenis produk pertanian yang bisa diolah lebih lanjut dan dapat dikonsumsi langsung oleh konsumen tanpa pengolahan lebih lanjut, misalnya keripik singkong, tapioka, dan lauk pauk rumah tangga. Tujuan pengolahan singkong itu sendiri adalah untuk meningkatkan keawetan singkong sehingga layak untuk dikonsumsi dan memanfaatkan singkong agar memperoleh nilai jual yang tinggi dipasaran.

Papua Barat adalah salah satu kawasan di Indonesia Timur yang dijadikan sentra produksi ubi-ubian. Jenis tanaman ubi- ubian (singkong, talas, keladi, ubi jalar) merupakan makanan pokok sebagian besar penduduk Papua Barat, yang hingga saat ini dijadikan sebagai makanan cadangan pengganti padi. Salah satu daerah yang memproduksi ubi-ubian adalah Manokwari dengan luas panen 1380 Ha dan produksi 3879 ton. (Anonimous, 2011).

Manokwari merupakan salah satu daerah di Propinsi Papua Barat, yang memiliki potensi untuk pengembangan usaha pegolahan keripik singkong. Hal ini disebabkan Manokwari merupakan salah satu daerah yang memproduksi singkong yang dapat mendukung ketersediaan bahan baku dalam pembuatan keripik singkong tersebut.

Masalah

Kabupaten Manokwari merupakan daerah yang mempunyai potensi untuk mengembangkan komoditi-komoditi pertanian yang berbasis karbohidrat misalnya ubi jalar, singkong, talas, keladi, dan pisang.

Dalam rangka mendukung ketahanan pangan yaitu yang berkaitan dengan difersivikasi pangan maka banyak agro-industri yang bergerak dalam bidang pengolahan ubi jalar, singkong, pisang, dan lain-lain.

Singkong merupakan Produk Pertanian yang cocok untuk di jadikan unit bisnis karena manfaat yang di peroleh komoditi tersebut cukup banyak dan bermanfaat. Dengan melihat pangsa pasar yang cukup menggiurkan atas bahan baku singkong, diperlukan adanya nilai tambah agar mempunyai nilai yang lebih baik melalui proses pengolahan singkong menjadi keripik singkong, dengan cara memanfaatkan potensi sumberdaya manusia yang ada dan ketersediaan bahan baku singkong yang melimpah dapat menjadikan usaha keripik singkong ini dapat berjalan baik.

Usaha keripik singkong keluarga Subani ini merupakan usaha yang dikelola dengan menggunakan gerobak dorong. Usaha ini dianggap menjadi usaha andalan dalam keluarga karena dapat memenuhi kebutuhan serta meningkatkan pendapatan keluarga.

Dalam memenuhi permintaan konsumen di Kabupaten Manokwari, pengusaha keripik singkong ini memiliki sejumlah masalah, antara lain kurangnya modal dan tenaga kerja, serta ketersediaan bahan baku yang sulit diperoleh karena pengusaha keripik singkong ini bertempat di kota Manokwari. Untuk mendapatkan bahan baku tersebut pengusaha harus mendapatkan dari berbagai tempat seperti di pedesaan (Prafi, Oransbari dll), sehingga usaha ini berpengaruh terhadap sistem penjualan usaha keripik singkong.

Berdasarkan uraian diatas, maka perlu dilakukan penelitian mengenai “ analisis usaha keripik singkong” untuk mengetahui berapa besar keuntungan dan efesiensi yang diperoleh dari usaha keripik singkong di Manokwari.

Tujuan dan manfaat

Penelitian ini bertujuan untuk :

1. Mengetahui besarnya keuntungan dari usaha pengolahan singkong menjadi keripik singkong di Kabupaten Manokwari.

2. Mengetahui besarnya efisiensi dari usaha pengolahan singkong menjadi keripik singkong di Kabupaten Manokwari.

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pengusaha keripik singkong sebagai informasi untuk mengetahui

(3)

Derland Samori, Josina Waromi, Ishak Suwardi 3 pendapatan serta kelayakan usaha keripik

singkong dalam mengembangkan usahanya dan sebagai bahan pertimbangan bagi pemerintah daerah setempat dalam pengembangan usaha keripik singkong.

METODE PENELITIAN

Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilaksanakan di industri rumah tangga keripik singkong Keluarga Subani yang berada di Kelurahan Wosi Distrik Manokwari Barat Kabupaten Manokwari Propinsi Papua Barat, yang berlangsung kurang lebih satu bulan, mulai tanggal 25 Maret sampai dengan 25 April 2014.

Metode dan Teknik Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknik studi kasus yaitu usaha keripik singkong keluarga Subani. Alasan memilih usaha keripik singkong keluarga Subani karena usaha keripik singkong ini merupakan usaha keripik pertama di Manokwari dan sudah berjalan cukup lama. Keluarga Subani mengembangkan usaha keripik singkong ini dengan menggunakan gerobak dorong, sehingga keuntungan dan efisiensi dari usaha keripik singkong ini perlu diketahui.

Subyek Penelitian

Subyek penelitian dalam penelitian ini adalah Pengusaha Keripik Singkong yaitu Pemilik Usaha Keripik Singkong Keluarga Subani di Kelurahan Wosi Distrik Manokwari Barat Kabupaten Manokwari Propinsi Papua Barat.

Metode Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan berupa data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara langsung dengan responden berdasarkan daftar pertanyaan (kuisioner) yang telah disiapkan dan pengamatan langsung dilapangan.

Sedangkan data sekunder diperoleh dari instansi-instansi terkait dengan usaha keripik singkong.

Metode Analisis Data

Data yang diperoleh diolah secara tabulasi dan dilanjutkan dengan analisis

usaha. Analisis tabulasi digunakan untuk mengetahui keadaan usaha keripik singkong.

Analisis usaha digunakan untuk mengetahui keuntungan yang diperoleh serta efisiensi dari usaha keripik singkong.

Konsep Operasional Penelitian

Keuntungan Usaha

Keuntungan (Laba) atau rugi suatu usaha diperoleh dari penerimaan hasil penjualan produk (keripik) yang dikurangi dengan total biaya produksi. Secara matematis ditulis sebagai berikut :.

Dimana :

Π = Keuntungan usaha pengolahan singkong menjadi keripik singkong (Rp)

TR = Penerimaan usaha pengolahan singkong menjadi keripik singkong (Rp)

TC = Biaya total usaha pengolahan singkong

menjadi keripik singkong (Rp) Efisiensi usaha keripik singkong

Efisiensi usaha keripik singkong diperoleh dari rasio penerimaan terhadap biaya. Secara sistematis ditulis sebagai berikut :

Kriteria Efisiensi sebagai berikut :

• Apabila R/C rasio > 1 berarti usaha pengolahan singkong menjadi keripik singkong efisien

• Apabila R/C rasio = 1 berarti usaha pengolahan singkong menjadi keripik singkong belum efisien atau usaha mencapai titik impas

• Apabila R/C rasio ≤1 berarti usaha pengolahan singkong menjadi keripik singkong tidak efisien.

Penerimaan

Penerimaan dalam penelitian ini ditentukan oleh jumlah produk keripik

π = TR – TCπ

= TR – TC

R / C rasio = TR / TC rasio

(4)

Derland Samori, Josina Waromi, Ishak Suwardi 4 singkong dikalikan dengan harga produk

keripik singkong tersebut. Satuan produk yang dijual dinyatakan dalam bentuk rupiah (Rp/Kg). Secara sistematis penerimaan dihitung dengan menggunakan rumus :

Dimana :

TR = Penerimaan total usaha pengolahan ubi kayu menjadi keripik singkong \ (Rp)

P = Harga produk keripik singkong (Rp) Q = Jumlah produk keripik singkong (Kg)

Biaya Produksi

Biaya total diperoleh dari penjumlahan biaya tetap ditambah dengan biaya variabel. Secara matematis ditulis sebagai berikut :

Dimana :

TC = Biaya total usaha pengolahan ubi kayu menjadi keripik singkong (Rp) TFC = Biaya tetap usaha pengolahan ubi

kayu menjadi keripik singkong (Rp) TVC = Biaya variabel usaha pengolahan ubi kayu menjadi keripik singkong

(Rp)

Satuan biaya total adalah Rp (rupiah).

Biaya tetap adalah biaya yang digunakan dalam proses produksi yang besarnya tidak dipengaruhi oleh jumlah output yang dihasilkan. Yang termasuk biaya tetap adalah biaya penyusutan alat dinyatakan dengan rumus :

Biaya variabel tediri dari biaya pembelian bahan baku utama, biaya pembelian bahan tambahan dan biaya pembebanan input lain ( Biaya tenaga kerja dan biaya transportasi)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Persediaan Bahan Baku Singkong

Kegiatan produksi keripik singkong dapat diselenggarakan dengan lancar jika memiliki persediaan singkong yang cukup.

Singkong diperoleh dengan membeli langsung dari para petani di luar kecamatan (Prafi, Ransiki, Oransbari) dan di pasar terdekat yang berada di Kabupaten Manokwari dengan cara pengusaha harus pesan terlebih dahulu sebelum singkong dipanen yaitu menghubungi salah satu petani di daerah produksi dan petani tersebut berkoordinasi dengan petani lain yang juga memproduksi singkong untuk dikumpulkan kemudian pengusaha hanya datang untuk membeli. Hal ini disebabkan oleh faktor jarak tempuh yang cukup jauh menyebabkan pengusaha keripik singkong melakukan pembelian hanya dua kali dalam seminggu.

Jumlah singkong yang dibeli tergantung pada jumlah keripik singkong yang akan diproduksi setiap hari. Untuk itu perlu diketahui berapa banyak singkong yang harus dibeli agar aman dari sudut produksi dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Jumlah Pemesanan Bahan Baku Singkong

Jumlah Singkong

Sekali Pembelian

Frekuensi Pembelian

(Bln)

Harga (Rp/

Kg)

Jumlah Petani

400 Kg 12 kali 4.500 2 -3 Orang Sumber : Data Primer, 2014

Tabel 1 menunjukkan bahwa produsen atau pengusaha keripik singkong melakukan pembelian bahan baku sebanyak 1.200 kilo gram dengan harga Rp. 4.500 per kilo gram yang sudah dipesan dari petani sebanyak 2 - 3 orang. Hal ini dikarenakan jarak tempuh yang jauh menyebabkan produsen atau pengusaha keripik singkong tersebut melakukan pemesanan singkong dalam jumlah yang banyak.

Menurut Riyanto (1988), banyaknya persediaan singkong yang harus dimiliki pengusaha keripik singkong dihitung sebagai berikut :

TC = TFC + TVC

𝑁𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑃𝑒𝑛𝑦𝑢𝑠𝑢𝑡𝑎𝑛 =Harga Beli − Harga Sisa Umur Ekonomis

TR = Q x P

R = PR . W

(5)

Derland Samori, Josina Waromi, Ishak Suwardi 5 Dimana :

R = Jumlah persediaan singkong yang

dibutuhkan oleh pengusaha (Kg/Bln)

PR = Jumlah singkong yang digunakan (kg/Hari)

W = Rata-rata hari produksi dalam bulan (hari)

Perhitungan persediaan singkong selama satu bulan dapat dilihat pada Tabel 2 berikut.

Tabel 2. Jumlah Singkong Yang Diproduksi No Jumlah singkong

yang digunakan /diproduksi/hari

(Kg/hari)

Frekuensi produksi

dalam sebulan

(Hari)

Singkong Terpakai (Kg/Bln)

100 12 1.200

X 100 12 1.200

Sumber : Data Primer, 2014

Tabel 2 menunjukkan bahwa jumlah singkong yang dipakai pada usaha keripik singkong keluarga Subani sebesar 1.200 Kg/bulan. Dalam sekali produksi jumlah singkong yang digunakan sebesar 100 Kg/hari dan frekuensi produksi dalam satu bulan adalah 12 hari.

Modal

Produsen keripik singkong membutuhkan modal untuk memulai usahanya, baik untuk membeli peralatan dan bahan-bahan yang dibutuhkan dalam proses pembuatan keripik singkong, maupun untuk memasarkan keripik singkong yang telah dihasilkan. Sumber modal yang digunakan dalam usaha keripik singkong keluarga Subani adalah dengan menggunakan modal sendiri. Modal yang digunakan untuk usaha keripik singkong keluarga Subani, dapat dilihat pada Tabel 3 berikut.

Tabel 3. Penggunaan Modal No Jenis Modal Jumlah

(Rp/Bulan)

Nisbah (%) 1 Modal Tetap 1.650.000 33 2 Modal

Variabel

3.350.000 67 Total 5.000.000 100 Sumber : Data primer, 2014

Tabel 3 menunjukkan bahwa total penggunaan modal pada usaha keripik

singkong adalah sebesar Rp. 5.000.000,- per bulan. Penggunaan modal variabel lebih besar yaitu sebesar 67 %. Hal ini disebabkan karena penggunaan modal variabel meliputi bahan baku singkong, bahan penolong, bahan bakar, tenaga kerja, transportasi, dan listrik.

Tenaga Kerja

Tenaga kerja mempunyai peran penting dalam menjalankan suatu usaha, dimana tanpa tenaga kerja suatu usaha tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya. Jumlah tenaga kerja yang digunakan pada usaha keripik singkong keluarga Subani dapat dilihat pada Tabel 4 berikut.

Tabel 4. Jumlah Tenaga Kerja No Tenaga

Kerja

Jumlah (Orang)

Nisbah (%) 1. Dalam

Keluarga

1 14,29

2. Luar Keluarga

6 85,71

Total 7 100

Sumber : Data Primer, 2014

Tabel 4 menunjukkan bahwa tenaga kerja yang digunakan dalam usaha keripik singkong keluarga subani terdiri dari 7 orang.

Jumlah tenaga kerja yang berasal dari dalam keluarga adalah sebanyak 1 atau 14,29 % yaitu pemilik usaha dan tenaga kerja luar keluarga sebanyak 6 atau 85,71 % yaitu keluarga pemilik yang didatangkan dari daerah tempat asal pemilik (Daerah Jawa) . Sistem Pengupahan

Sistem pengupahan dilakukan dengan cara bagi hasil dimana pemilik usaha keripik singkong memberikan kepada setiap tenaga kerja adalah sebesar Rp.10.000,- per kilo gram, dari harga jual keripik singkong sebesar Rp. 35.000,- per kilo gram, dimana setiap penjualan yang dilakukan per hari adalah sebanyak 10 kilogram sehingga gaji yang diperoleh akan diterima setiap satu bulan.

Analisis Usaha

1.

Produksi

Produksi keripik singkong dapat dilihat pada Tabel 5.

(6)

Derland Samori, Josina Waromi, Ishak Suwardi 6 Tabel 5. Produksi Keripik Singkong

Jumlah Keripik Singkong

Yang Dihasilkan

Tiap Hari (kg)

Harga Jual Keripik Singkong

(Rp/kg)

Jumlah Keripik Singkong

Yang Dijual

(Kg)

Jumlah Sisa Penjualan

Keripik Singkong

(Kg)

60 35.000 10 / Kg 1-4

Sumber : Data Primer, 2014

Tabel 5 menunjukkan bahwa hasil produksi pada usaha keripik singkong keluarga Subani dilakukan dengan berbahan baku singkong yang diproduksi sebanyak 60 kilo gram per hari untuk masing-masing gerobak 10 kilo gram per gerobak dengan jumlah sisa penjualan per hari ± 1 - 4 kilo gram keripik singkong yang akan dijual pada hari berikutnya. Frekuensi produksi keripik singkong adalah 12 kali dalam sebulan sehingga total keseluruhan produksi yaitu sebanyak 720 kilo gram per bulan. Makin tinggi jumlah produksi yang dihasilkan oleh pengusaha keripik singkong, maka semakin tinggi pula pendapatan yang akan diperoleh.

2.

Biaya

2.1. Biaya Tetap

Keseluruhan biaya tetap dalam penelitian ini timbul karena penggunaan faktor produksi yang tetap, sehingga biaya yang dikeluarkan untuk membiayai faktor produksi juga tetap tidak berubah walaupun jumlah keripik singkong yang dihasilkan berubah-ubah. Total biaya tetap pada usaha keripik singkong keluarga Subani di Distrik Manokwari Barat Kabupaten Manokwari dapat dilihat pada Tabel 6 berikut.

Tabel 6. Total Biaya Tetap Per Bulan Jenis Biaya Tetap Total per

Bulan (Rp)

Nisbah (%) Penyusutan

Peralatan

100.900 100

Jumlah 100.900 100

Sumber : Data Primer, 2014

Tabel 6 menunjukkan bahwa pengusaha keripik singkong keluarga Subani mengeluarkan biaya tetap dalam satu bulan adalah sebesar Rp. 100.900 dengan sumber

biaya tetap yang berasal dari biaya penyusutan peralatan. Produsen menggunakan peralatan dalam pelaksanaan proses produksi keripik singkong, yang mana peralatan tersebut masih sederhana, sehingga dapat memperkecil biaya penyusutan peralatan, namun disisi lain hal ini menyebabkan proses produksi berjalan lambat dan membutuhkan curahan waktu kerja yang lebih banyak.

Biaya tetap yang digunakan dalam proses produksi untuk usaha keripik singkong keluarga Subani diperoleh dari penjumlahan penyusutan peralatan dikurangi nilai-nilai barang modal yang terpakai dalam proses produksi, yang mencakup pengupas singkong, pisau, pasha/alat pemotong singkong, ember besar, ember kecil, tampah/Loyang tirisan singkong, sotil/alat pembalik keripik dalam wajan, serok/alat pengangkat keripik yang sudah masak dariwajan, timbangan, dan gerobak dorong.

Alat-alat yang digunakan ini adalah milik sendiri.

2.2. Biaya Variabel

Biaya variabel adalah biaya yang digunakan dalam usaha keripik singkong keluarga Subani di Distrik Manokwari Barat, Kabupaten Manokwari yang besarnya berubah-ubah secara proporsional sesuai dengan jumlah keripik singkong yang dihasilkan. Biaya variabel dalam usaha keripik singkong milik keluarga subani meliputi biaya bahan baku, biaya bahan penolong, biaya bahan bakar, biaya biaya transportasi dan biaya tenaga kerja. Total biaya variabel pada usaha keripik singkong milik keluarga Subani dapat dilihat pada Tabel 7 berikut.

Tabel 7. Total Biaya Variabel Jenis Biaya

Variabel

Rata-rata per Bulan (Rp)

Nisbah (%)

Bahan baku

singkong

5.400.000 33,22 Bahan Penolong 896.000 5,51 Bahan bakar 860.000 5,30 Tenaga kerja 8.400.000 51,67 Transportasi 500.000 3,08

Listrik 200.000 1,23

Jumlah 16.256.000 100

Sumber : Data Primer, 2014

Tabel 7 menunjukkan bahwa total biaya variabel yang dikeluarkan oleh

(7)

Derland Samori, Josina Waromi, Ishak Suwardi 7 pengusaha keripik singkong Keluarga Subani

dalam satu bulan adalah sebesar Rp.

16.256.000,- Besarnya biaya variabel ini dipengaruhi oleh volume produksi keripik singkong yang dihasilkan, semakin besar volume produksi maka semakin besar pula biaya variabel yang dikeluarkan. Demikian pula sebaliknya, biaya variabel dengan proporsi terbesar dalam industri keripik singkong keluarga Subani berasal dari biaya bahan baku yang dikeluarkan oleh produsen keripik singkong dalam satu bulan adalah sebesar Rp. 5.400.000,00 atau 33,22 % dari jumlah total biaya variabel. Dalam satu bulan, pengusaha keripik singkong keluarga Subani membutuhkan bahan baku sebesar 1.200 Kg. Pengadaan bahan baku ini berasal dari petani maupun pengepul, dengan harga rata-rata sebesar 4.500/ Kg.

Biaya bahan penolong yang digunakan yaitu sebesar Rp. 896.000,- atau 5,51 % per bulan. Bahan penolong yang digunakan dalam usaha keripik singkong keluarga Subani adalah gula pasir, pemanis buatan, garam, minyak goreng, vanili dan bawang putih.

Biaya bahan bakar yang digunakan adalah sebesar Rp. 860.000,- atau 5,30 %.

Bahan bakar yang digunakan dalam usaha keripik singkong keluarga Subani adalah kayu bakar sebanyak 40 ikat per bulan dengan harga rata-rata per bulan Rp.

600.000,-dan serbuk gergaji sebanyak 40 karung per bulan dengan harga per bulan Rp.

200.000,- serta minyak tanah sebanyak 15 liter per bulan dengan harga Rp. 60.000,-.

Tenaga kerja yang digunakan dalam usaha keripik singkong keluarga Subani adalah tenaga kerja dalam keluarga dan luar keluarga. Tenaga kerja luar keluarga digunakan untuk menjual hasil produk keripik singkong yang telah diolah, sedangkan pemilik usaha bertugas untuk mengolah bahan baku menjadi keripik singkong. Biaya tenaga kerja yang dikeluarkan oleh pengusaha keripik singkong keluarga Subani setiap bulannya adalah Rp.

8.400.000,- atau 51,67 % dari jumlah total biaya variabel, dengan keseluruhan rata-rata pendapatan bersih yang diterima oleh masing-masing tenaga kerja yang diperoleh dari selisih persen penjualan produk yaitu sebesar Rp.1.200.000,- per tenaga kerja.

Biaya transportasi yang dikeluarkan oleh pengusaha keripik singkong keluarga Subani dalam satu bulan adalah sebesar Rp.

500.000,- atau 3,08 % dari jumlah total biaya variabel. Jenis transportasi adalah motor dengan bahan bakar bensin yang digunakan oleh pemilik usaha keripik singkong untuk menyiapkan bahan-bahan pembuatan keripik singkong.

Biaya listrik yang dikeluarkan oleh pengusaha keripik singkong keluarga Subani selama satu bulan adalah sebesar Rp.

200.000,- atau 1,23 % dari jumlah total biaya variabel. Penggunaan listrik untuk usaha keripik singkong hanya pada pemakaian lampu sebagai penerang, tetapi biaya listrik besar disebabkan karena tidak ada pemisah antara listrik untuk usaha keripik singkong dan listrik untuk kegiatan dirumah.

2.3. Biaya Total

Biaya total dalam keripik singkong keluarga Subani di Distrik Manokwari Barat, Kabupaten Manokwari merupakan hasil dari penjumlahan seluruh biaya tetap dan biaya variabel yang dikeluarkan selama proses produksi usaha keripik singkong. Besarnya biaya total untuk proses produksi keripik singkong selama satu bulan dapat dilihat pada Tabel 8 berikut.

Tabel 8. Total Biaya Untuk Proses Produksi Keripik Singkong Selama Satu Bulan

Jenis Biaya Rata-rata per Bulan (Rp)

Nisbah (%) Biaya Tetap 100.900 0,62 Biaya variabel 16.256.000 99,38

Jumlah 16.356.900 100 Sumber : Data Primer, 2014

Tabel 8 menunjukkan bahwa biaya total per bulan yang dikeluarkan oleh Pengusaha Keripik Singkong Keluarga Subani adalah sebesar Rp. 16.356.900. Biaya terbesar yang dikeluarkan dalam usaha keripik singkong keluarga Subani berasal dari biaya variabel yaitu sebesar Rp. 16.256.000 atau 99,38 % dari biaya total seluruhnya.sedangkan biaya tetap yang dikeluarkan oleh Pengusaha Keripik Singkong Keluarga Subani adalah sebesar Rp. 100.900 atau 0,62 dari biaya total seluruhnya.

(8)

Derland Samori, Josina Waromi, Ishak Suwardi 8 3. Penerimaan

Penerimaan usaha keripik singkong merupakan perkalian antara total keripik singkong yang diproduksi dengan harga keripik singkong per kilogram. Tabel 9 berikut menunjukkan penerimaan usaha keripik singkong milik keluarga Subani di Distrik Manokwari Barat, Kabupaten Manokwari.

Tabel 9. Penerimaan Usaha Keripik Singkong

Jumlah (Kg)/Bln

Harga / Kg (Rp) Rata-rata Penerimaan per

Bulan (Rp) 720 35.000,00/Kg 25.200.000

Jumlah 25.200.000

Sumber : Data Primer, 2014

Tabel 9 menunjukkan bahwa total penerimaan pada usaha keripik singkong keluarga Subani yaitu sebesar Rp. 25.200.000 per bulan dengan Harga yang ditawarkan oleh produsen kepada konsumen adalah sebesar Rp. 35.000,- / Kg sehingga penghasilan yang diterima per bulan adalah sebesar Rp. 25.200.000,- dari jumlah penjualan keripik singkong keluarga subani yang diproduksi sebanyak 720 Kg per bulan.

4. Keuntungan

Keuntungan yang diperoleh dari usaha keripik singkong milik keluarga Subani di Distrik Manokwari Barat, Kabupaten Manokwari merupakan selisih antara penerimaan dengan biaya total. Untuk mengetahui keuntungan usaha keripik singkong milik keluarga Subani dapat dilihat pada Tabel 10 berikut.

Tabel 10. Keuntungan Usaha Keripik Singkong

Uraian Keuntungan per Bulan (Rp) Penerimaan 25.200.000 Biaya Total 16.356.000 Keuntungan 8.844.000 Sumber : Data Primer, 2014

Tabel 10 menunjukkan bahwa dalam satu bulan produksi keripik singkong keluarga Subani, keuntungan yang diterima oleh pengusaha adalah sebesar Rp.

8.844.000,- per bulan. Keuntungan ini

diperoleh dari penjualan keripik singkong selama satu bulan.

5. Efisiensi

Efisiensi yang diperoleh dari usaha keripik singkong milik keluarga Subani di Kelurahan Wosi, Distrik Manokwari Barat, Kabupaten Manokwari dilakukan dengan menggunakan analisis perhitungan R/C Ratio, yaitu dengan membandingkan penerimaan dengan biaya yang dikeluarkan.

Besar efisiensi usaha keripik singkong milik keluarga Subani dapat dilihat pada Tabel 11 berikut.

Tabel 11. Efisiensi Usaha Keripik Singkong Uraian Jumlah Penerimaan 25.200.000

Biaya Total 16.356.000

R/C Ratio 1,54

Sumber : Data Primer, 2014

Tabel 11 menunjukkan bahwa usaha keripik singkong keluarga Subani yang dilakukan memiliki nilai efisiensi sebesar 1,54. Dengan demikian usaha keripik singkong keluarga Subani yang dijalankan tersebut sudah efisien karena nilai R/ C ratio- nya lebih dari satu. Misalnya, dala usaha keripik singkong keluarga subani mengeluarkan biaya sebesar Rp. 10.000,- maka pengusaha keripik singkong akan memperoleh penerimaan sebesar Rp. 15.400,- . Dari sini terlihat bahwa total penerimaan yang diperoleh pengusaha keripik singkong keluarga Subani ternyata telah mampu menutup biaya total yang dikeluarkan dalam industri keripik singkong keluarga Subani.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan dari penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa :

1. Besarnya keuntungan yang diperoleh dari usaha keripik singkong keluarga Subani selama satu bulan adalah Rp. 8.844.000 2. Usaha keripik singkong keluarga Subani

mempunyai nilai efisiensi lebih dari satu, yaitu sebesar 1,54 sehingga dapat dikatakan bahwa usaha ini telah efisien.

Setiap Rp. 1,00 biaya yang dikeluarkan dalam kegiatan usaha keripik singkong keluarga Subani memberikan penerimaan

(9)

Derland Samori, Josina Waromi, Ishak Suwardi 9 sebesar 1,54 kali dari biaya yang

dikeluarkan.

Saran

Berdasarkan hasil penelitian, maka saran yang dapat diberikan demi kemajuan usaha keripik singkong keluarga subani di kelurahan wosi distrik manokwari barat antara lain sebagai berikut :

1. Untuk meningkatkan keuntungan usaha keripik singkong pemerintah daerah perlu memberikan pembinaan tentang diversivikasi produk keripik singkong dalam kemasan agar terlihat lebih menarik sehingga dapat memberikan nilai tambah produk.

2. Pemerintah hendaknya lebih memperhatikan produksi ketersediaan bahan baku singkong guna mengembangkan usaha pegolahan singkong menjadi suatu produk, karena usaha ini mampu memberikan keuntungan bagi petani.

DAFTAR PUSTAKA

Anonimous, 2011. Papua Barat Dalam Angka. Badan Pusat Statistik. Propinsi Papua Barat.

/http://aplikasi.deptan.go.id/bdsp/hasil _kom.asp Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat. Diakses 15 januari 2014.

Atmodjo, E dan Supri Hadi. 1999.

Pembiayaan Perusahaan Pertanian.

Bahan ajar Fakultas Pertanian Universitas Cendrawasih Manokwari.

Irian Jaya.

Assauri Sofjan. 1998. Manajemen Produksi dan Operasi. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Jakarta.

Gasperz, V. 1999. Ekonomi Manajerial Pembuatan Keputusan Bisnis. PT.

Gramedia. Jakarta.

Iriani D. 2006. Analisis Usaha Perikanan Air Tawar di Distrik Muara Tami Kota Jayapura (Skripsi). Fakultas Pertanian dan Teknologi Pertanian. Universitas Negeri Papua. Manokwari. (Tidak Diterbitkan).

Lipsey, G.R., Peter,O.S. & Douglas, D.P.1990. Pengantar Mikro ekonomi.

Erlangga. Jakarta.

Nicholson, W. 1992. Mikroekonomi Intermediate dan Penerapannya.

Erlangga. Jakarta.

Prasasto, S. 2007. Aspek Produksi Keripik Singkong.

http://WordPress.com.diakses pada hari selasa 11 Mei 2009.

Purba, R. 1986. Manajemen Manunggal Bagi Wiraswasta. Pustaka Dian. Jakarta.

http://heropurba.

blogspot.com/2012/04/potensi- singkong-ubi-kayu-dalam.html.

Diakses 15 Januari 2014.

Soekartawi. 1991. Agribisnis Teori dan Aplikasinya. Rajawali Press. Jakarta.

Soekartawi. 1995. Analisis Usaha Tani. UI Press. Jakarta.

Woran J. & Killian. 1999. Ilmu Usahatani Ternak dan Koperasi (Bahan Ajaran).

Fakultas Pertanian Universitas Cenderawasih. Manokwari. (Tidak Diterbitkan)

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut perlu dilakukan penelitian mengenai Kajian Kinerja Penyuluh Pertanian Pada Balai Penyuluhan Pertanian (BPP)

2). pengurangan kesenjangan antarwilayah melalui penguatan konektivitas dan kemaritiman; 3). penguatan nilai tambah ekonomi dan penciptaan lapangan kerja melalui

Berdasarkan informasi tentang kelompok tani di Kampung Rimba Jaya peneliti ingin melihat proses komunikasi dan efektivitas komunikasi kegiatan penyuluh seperti apa yang

Faktor penarik tranformasi tenaga kerja di Kampung Aimasi adalah pendapatan non pertanian yang lebih besar/menjanjikan dibandingkan sektor pertanian dan kondisi pekerjaan yang

Provinsi Papua merupakan salah satu provinsi yang sedang melakukan kegiatan pengembangan kakao karena memiliki potensi lahan yang memadai untuk bercocok tanam

Biaya Total yang Digunakan Agroindustri Tahu Mbak Rubingah di Desa Kuantan Sako Kecamatan Logas Tanah Darat Kabupaten Kuantan Singingi No Jenis Biaya Jumlah Rp Persenta se % 1 Biaya

Dalam penelitian ini konsep yang digunakan adalah konsep biaya total dimana dalam konsep ini harga jual ditentukan dari biaya total biaya produksi + biaya pemasaran + Biaya administrasi

Dalam penelitian ini konsep yang digunakan adalah konsep biaya total dimana dalam konsep ini harga jual ditentukan dari biaya total biaya produksi + biaya pemasaran + Biaya administrasi