25
STRATEGI PENGEMBANGAN KOMODITI PADI DI KECAMATAN PAMONA
PUSELEMBA KABUPATEN POSO SULAWESI TENGAH
Darmawanto Uria
Dosen Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Papua Jl. Gunung Salju Amban
Email: [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini dilatarbelakangi komoditi padi di Kecamatan Pamona Puselemba sangat potensial untuk dikembangkan, namun pada kenyataanya luas lahan sawah mengalami penyusutan sehingga mengakibatkan produksi menurun. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor strategi internal dan eksternal dan strategi prioritas bagi pengembangan komoditi padi.Sumber data berasal dari data primer dan sekunder. Pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling atau secara sengaja yaitu memilih area dan informan kunci dengan mempertimbangkan karakteristik, sifat dan ciri-ciri dari sampel yang akan diambil sehingga jumlah informan adalah 16 informan kunci. Metode yang digunakan untuk mencapai tujuan penelitian ini dengan teknik survey yaitu analisis AHP untuk mengetahui potensi komoditas unggulan, analisis SWOT untuk mengetahui strategi pengembangan. Hasil dari penelitian ini menjelaskan potensi komoditas pertanian di Kecamatan Pamona Puselemba adalah padi dengan nilai vektor eigen 0,735. Kombinasi faktor-faktor internal dan eksternal berada pada posisi mendukung strategi diversifikasi. Strategi utama yang perlu dikembangankan untuk komoditi padi di Kecamatan Pamona Puselemba adalah menambah luas lahan baru usahatani padi sawah/ladang, mengadopsi varietas baru atau bibit unggul, menerapkan system pertanian yang terintegerasi (integrasi tanaman dengan ternak atau budidaya ikan).
Kata Kunci: Strategi, Analisis SWOT, AHP dan Komoditas Unggulan
PENDAHULUAN
Potensi sektor pertanian di Sulawesi Tengah meliputi pertanian tanaman pangan, tanaman perkebunan, hortikultur sayuran, dan hortikultur buah-buahan.Tanaman pangan yang banyak diusahakan terdiri dari padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang tanah, kacang kedele dan kacang hijau. Data Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) Sulawesi Tengah atas dasar harga yang berlaku dari tahun 2009 sampai tahun 2013 menurut lapangan usaha menjelaskan bahwa tanaman bahan makanan terus mengalami peningkatan dari 43.78% naik menjadi 44.21%. Selain itu pada tahun 2013 menunjukkan bahwa Kabupaten Poso memiliki luas lahan sawah sebesar 19.629 ha atau terbesar ke-5 dari 13 Kabupaten jika dibandingkan dengan Kabupaten lain yang ada di Sulawesi Tengah.
Komoditas unggulan daerah menggambarkan kemampuan daerah menghasilkan produk, menciptakan nilai, memanfaatkan sumber daya secara nyata, memberikan kesempatan kerja, mendatangkan pendapatan bagi masyarakat maupun pemerintah, memiliki prospek untuk meningkatkan produktivitas dan investasinya. Berdasarkan ciri khas sebuah komoditas dikatakan unggul jika memberikan kontibusi yang besar bagi penyerapan tenaga kerja dibandingkan dengan komoditas yang lain. Hasil survey angkatan kerja nasional menunjukkan bahwa penyerapan tenaga kerja menurut lapangan pekerjaan utama dari tahun 2012 sampai tahun 2013 bahwa sektor pertanian memberikan kontribusi terbesar dibandingkan dengan sektor industri, perdagangan dan jasa. Pada tahun 2013 sektor pertanian menyerap tenaga kerja sebesar 49,25% sedangankan sektor industri sebesar 5,04%, sektor perdagangan sebesar 14,22% dan sektor jasa sebesar 18 ,86%. Namun potensi sumber daya alam yang cukup baik tetapi berbanding terbalik dengan laju pertumbuhan ekonomi yang mengalami penurunan dari tahun 2012 sebesar 7,96% menjadi 7,84% pada tahun 2013.
Produksi terbesar dihasilkan dari tanaman bahan makan adalah komoditi padi di Kecamatan Pamona Puselemba. Namun permasalahan yang terjadi produktivitas yang dihasilkan oleh petani rendah, hal ini ditandai dengan nilai produksi padi dari tahun 2012 sebesar 12.536, 35 ton menurun sampai pada tahun 2013 sebesar 8.253,3 ton. Petani selama ini masih mengandalkan luas lahan sehingga
26
dengan penggunaan tanah tidak efesien akibatnya pembukaan lahan baru tidak menjamin produksi pertanian meningkat dan tidak bertahan dalam jangka waktu panjang. Kelangkaan benih atau varietas unggul dan pupuk salah satu masalah rendahnya produksi di kabupaten Poso. Pengembangan komoditas unggulan di kabupaten Poso menghadapi berbagai kendala disebabkan petani mengalami kekurangan pupuk setiap musim, alokasi pupuk tidak sesuai dengan luas area dan tidak sesuai dengan kebutuhan yang ada (Antaranews, 2016). Sementara itu pemerintah daerah masih kesulitan untuk menetapkan kebijakan pembangunan terhadap sektor unggulan daerah sehingga prioritas pembangunan pertanian belum terarah dan mengalami berbagai hambatan untuk memilih sektor mana yang harus dibangun terlebih dahulu. Berdasarkan masalah yang telah diuraian pada latar belakang tersebut, maka yang menjadi tujuan penelitian adalah menganalisis potensi komoditi pertanian serta mengetahui faktor-faktor internal dan eksternal pengembangan komoditi padi dan mengembangkan strategi komoditi pertanian di Kecamatan Pamona Puselemba.
METODE PENELITIAN
1. Rancangan Penelitian
Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dengan teknik survei untuk mendiskripsikan variabel penelitian dengan menggunakan pendekatan kuantitatif.
2. Waktu dan Tempat Penelitian
Lokasi penelitian ini dilakukan di Kecamatan Pamona Puselemba di Kabupaten Poso, waktu penelitian dilakukan selama 1 tahun.
3. Jenis dan Sumber Data
Data Primer, Sumber data dikumpulkan secara langsung dari lokasi kegiatan dan data sekunder diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Poso.
4. Taknik Sampling dan Pengumpulan Data
Pengambilan sampel dilakukan dengan purposive sampling atau secara sengaja yaitu memilih area dan informan kunci dengan mempertimbangkan karakteristik, sifat dan ciri-ciri dari sampel yang akan diambil sehingga jumlah informan adalah 16 informan kunci dari kalangan kelompok petani, penyuluh, dinas pertanian dan akademisi. Teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner, dokumentasi dan focus group giscussion (FGD)
5. Teknik Analisis Data
Analisis AHP digunakan dalam pengambil keputusan untuk memahami kondisi suatu sistem dan melakukan proses pengambilan keputusan yang sederhana dan fleksibel, yang menampung kreativitas dalam rancangannya terhadap suatu masalah (Saaty, 1993). Analisis faktor eksternal dan internal dan analisis SWOT, dikembangkan secara kuantitaif dan kualitatif melalui perhitungan analisis SWOT yang dikembangkan oleh Pearce and Robinson (1998) agar diketahui secara pasti posisi organisasi yang sesungguhnya
HASIL DAN PEMBAHASAN Potensi Komoditas unggulan di Kecamatan Pamona Puselemba
Berdasarkan nilai konsistensi (CR) perbandingan berpasangan untuk kriteria pendapatan, potensi, produksi dan sebaran komoditas yaitu CR<0,100, artinya preferensi atau jawaban informan menunjukkan nilai yang konsisten.
Hasil penelitian ini menjelaskan Tabel 1 berdasarkan kriteria pendapatan, padi memiliki nilai vektor eigen 0,555 atau 55,5%, lebih tinggi dibandingkan dengan cengkeh sebesar 0,266 atau 26,6% selanjutnya durian dengan nilai vektor eigen 0,119 atau 11,9% dan diikuti komoditi perikanan umum dengan vektor eigen 0,058 atau 5,8%. Berdasarkan potensi yang dimiliki pada Tabel 2 menunjukkan komoditi padi menjadi prioritas utama sebesar 0,555 atau 55,5% diikuti dengan potensi komoditi cengkeh sebesar 0,266 atau 26,6%, komoditi durian sebesar 0,119 atau 11,9% dan perikanan umum sebesar 0,058 atau 5,8%. Tabel 3 menunjukkan berdasarkan produksi nilai perbandingan berpasangan bahwa komoditi padi memiliki nilai vector eigen tertinggi sebesar 0,578 atau 57,8%, selanjutnya diikuti
27
dengan cengkeh sebesar 0,225 atau 22,5%, durian sebesar 0,124 atau 12,4% dan perikanan umum 0,071 atau 7,1%. Sedangkan nilai vector eigen berdasarkan sebaran komoditas pada Tabel 4 menunjukkan padi masih tetap memiliki sebaran tertinggi sebesar 0,630 atau 63% dibandingkan dengan cengkeh sebesar 0,233 atau 23,3% durian memiliki nilai 0,087 atau 8,7% dan perikanan umum 0,048 atau 4,8%.
Hasil penelitian ini menjelaskan pemilihan prioritas komoditi unggulan di Kecamatan Pamona Puselemba. Kecamatan Pamona Puselemba memiliki 4 komoditi unggulan yaitu cengkeh, durian, padi dan perikanan umum. Namun berdsarkan analisis AHP (Analitical Hierarchy Process) yang dapat dilihat pada Gambar 1 menjelaskan komoditi ungulan yang memiliki nilai vektor eigen paling tinggi atau menjadi prioritas adalah padi sebesar 0,545, setelah itu nilai komoditi unggulan lain cengkeh sebesar 0,267, selanjutnya diikuti dengan komoditi durian sebesar 0,125 sedangkan perikanan umum memiliki prioritas komoditi unggulan yang lebih rendah dengan nilai 0,061 dibandingkan dengan yang lainnya.
Kombinasi Faktor Internal Dan Eksternal komoditi padi
Hasil penelitian menemukan bahwa faktor internal dan eksternal di Kecamatan Pamona Puselemba pada komoditi padi menjelaskan faktor internal memiliki nilai skor kekuatan sebesar 15,4 sedangkan kelemahannya memiliki skor 14,0. Selanjutnya faktor eksternal memiliki peluang sebesar -5,2 dan ancaman sebesar -6,0.
Jika diplotkan dalam diagram SWOT akan menempati pada posisi seperti Gambar 2 sehingga strategi yang terbaik untuk pengembangan komoditi unggulan padi di Kecamatan Pamona Puselemba Kabupaten Poso berada pada posisi Mendukung Strategi Diversifikasi, artinya Komoditi padi di Kecamatan Pamona Puselemba dalam kondisi mantap namun menghadapi sejumlah tantangan berat sehingga diperkirakan akan mengalami kesulitan dalam pengembangan komoditi. Oleh karenanya, pemerintah disarankan untuk segera memperbanyak ragam strategi seperti pengembangan varietas unggul, perluasan lahan komoditi padi, melakukan diversifikasi tanaman atau pertanian yang terintegrasi misalnya padi dan ternak atau ikan
28
Gambar 2. Diagram analisis swot komodti padi di Kecamatan Pamona Puselemba Pengembangan Komoditi Padi di Kecamatan Pamona Puselemba
Hasil penelitian ini menemukan kombinasi antara kekuatan atau strengths (S) sekaligus memanfaatkan peluang atau oppoertunities (O) yang biasanya disebut dengan Aggressive Strategy dengan cara meningkatan kuantitas dan kualitas produksi, membuat kebijakan dan regulasi pemerintah daerah, mengembangkan program-program sektoral perwilayahan komoditas unggulan, meningkatkan SDM dan memotivasi petani dalam mengembangkan usahatani, sinergi antara petani, pengusaha dan pemerintah daerah agar saling mendukung dalam pengembangan sektor pertanian.
Hasil penelitian menemukan kombinasi strategi strengths (S) dan threats (T) adalah strategi yang harus mampu menonjolkan kekuatan guna mengatasi ancaman yang mungkin timbul maka perlu meningkatkan profitabilitas petani dengan cara menambah luas lahan baru usahatani padi, mengadopsi varietas baru, menerapkan system pertanian yang terintegerasi (integrasi tanaman dengan ternak atau budidaya ikan). Strategi ini disebut Diversification Strategy.
Hasil penelitian ini menejelaskan kombinasi strategi weaknesses (W) dan oppoertunities (O) seperti penguatan kelembagaan pertanian, memperbaiki sistem Manajemen petani, Intensifikasi dan ekstensifikasi usahatani. Strategi ini harus mengurangi kelemahan yang dihadapi dan pada saat yang bersamaan memanfaatkan peluang yang ada. Strategi ini disebut dengan Turn Around .
Hasil penelitian ini menjelaskan Strategi Weaknesses (W) dan Threats (T) maka yang perlu dikembangankan seperti revitalisasi sarana dan prasarana pertanian, diversifikasi tanaman. Strategi ini bertujuan mengatasi hambatan serta meminimalkan dampak dari ancaman yang ada. Strategi ini juga disebut difensif
Komoditas utama di Kecamatan Pamona Puselemba adalah padi sehingga disebut sebagai komoditi unggulan. Menurut Hendayana (2003) menemukan bahwa terdapat 7 jenis komoditas tanaman pangan yang teridentifikasi dari 29 Provinsi yaitu padi (sawah dan lading, kedelai, kacang tanah , kacang hijau, ubi jalar, dan ubi kayu. Jika mengacu pada nilai LQ maka padi merupakan komoditas paling unggul berada di 16 Provinsi. Secara Nasional nilai LQ padi paling tinggi adalah Provinsi Banten, menariknya DKI memiliki posisi nilai LQ relative tinggi mencapai 2,18 mengalahkan Sulawesi Tengah hanya 1,60 meskipun di Sulawesi Tengah secara Nasional share area panen komoditi padi masih lebih rendah dibandingkan dengan daerah lain namun padi masih termasuk basis komoditi secara Nasional. Penelitian yang dilakukan oleh Syafruddin (2004) menjelaskan konsep system pakar dapat digunakan dalam menetapkan system pertanian dan menetapkan komoditas unggulan. Dalam penelitiannya menyatakan bahwa untuk meningkatkan produktivitas dan pengembangan komoditas unggulan perlu dilakukan dengan memperhatikan kesesuainya dengan kondisi agroekosistem, berkelanjutan, serta dukungan kebijakan pemerintah.
-20.00 -15.00 -10.00 -5.00 0.00 5.00 -10.00 -5.00 0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00 35.00 Mendukung Strategi Turn Around Mendukung Strategi Difensif Mendukung Strategi Agresif Mendukung Strategi Diversifikasi
29
Komoditi padi di Kecamatan Pamona Puselemba berada pada posisi Mendukung Strategi
Diversifikasi. Menurut David (2009), menjelaskan bahwa strategi-strategi diversifikasi terkait dan tak
terkait, usaha dikatakan terkait jika rantai usahatani memiliki kesesuaian strategi lintas usahatani secara kompetitif sedangkan dikatakan tidak terkait ketika rantai nilai usaha sangat tidak mirip sehingga tidak ada hubungan lintas usaha yang bernilai secara kompetitif. Usahatani padi terus dikembangkan namun saat ini mengalamin berbagai tantangan seperti menurunya produksi padi disebabkan karena menurunnya luas lahan, produktivitas tenaga kerja semakin rendah, degradasi lahan pertanian dari lahan sawah menjadi lahan pemukiman penduduk oleh sebab itu menurut Kotler (2000), menjelaskan konsep diversifikasi produk salah satu cara untuk meningkatkan kinerja usaha dengan mencari peluang usaha yang lain diluar usaha saat ini berdasarkan definisi tersebut dapat dismpulkan untuk meningkatkan profitabilitas usahatani maka perlu adanya perluasan usahatani padi sawah atau penambahan lahan baru, mengadopsi varietas baru serta menerapkan system pertanian yang terintegerasi (integrasi tanaman dengan ternak atau budidaya ikan). Varietas padi adalah salah satu teknologi yang mampu meningkatkan produktifitas. Tersedianya varietas unggul mampu meningkatkan produksi pertanian secara signifikan, dengan adanya permintaan beras yang semakin meningkat petani dituntut tidak hanya hampu menyediakan pangan secara kuantitas tetapi juga kulitas sesuai dengan kebutuhan konsumen. Untuk dapat terus bersaing petani seharunya mendapatkan variatas baru yang tahan terhadap hama dan penyakit serta sesuai dengan permintaan konsumen. Upaya peningkatan produksi padi, pemerintah mendistribusikan jenis-jenis padi yang mempunyai sifat-sifat baik. Jenis padi yang mempunyai sifat baik itu disebut dengan “padi jenis unggul” atau disebut “varietas unggul”. Caranya dengan mengadakan perkawinan-perkawinan silang antara jenis padi yang mempunyai sifat-sifat baik dengan jenis padi lain yang juga mempunyai salah satu sifat baik pula, sehingga akan didapat satu jenis padi yang mempunyai sifat yang paling baik atau unggul (Sugeng, 2001). Peningkatan produktifitas usaha tani tanaman padi sangat dibutuhkan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pangan rakyat Indonesia. Dimana padi merupakan bahan makanan pokok masyarakat Indonesia. Untuk itu Badan Pengkajian Teknologi Pertanian menciptakan komponen teknologi PTT yaitu pengelolaan tanaman terpadu yang terdiri dari varietas unggul, persemaian, bibit muda, sistem tanam, pemupukan berimbang, penggunaan bahan organik, pengendalian hama penyakit, panen dan pasca panen. Kesinergisan komponen PTT mampu meningkatkan produktifitas padi (Sembiring, 2001) Budidaya padi dengan pendekatan PTT pada prinsipnya memadukan berbagai komponen teknologi saling menunjang (sinergis) guna meningkatkan efektifitas dan efisiensi usaha tani seperti selama ini telah dikembangkan dilahan irigasi. Dilahan rawa pasang surut, kemajuan teknologi seperti perakitan varietas baru, pengelolaan tata mikro, pengelolaan hara tanaman sesuai tipologi lahan, peningkatan monitoring hama/penyakit, ameliorasi lahan yang disertai dengan penerapan beberapa komponen teknologi lain yang saling menunjang diharapkan dapat juga berhasil seperti halnya pendekatan pengembangan PTT dilahan irigasi. Akan tetapi dilahan rawa pasang surut suatu perhatian khusus diperlukan karena lahan ini terdiri dari beberapa tipologi lahan sehingga memerlukan penerapan teknologi sfesifik lokasi dan tidak bisa disamaratakan. Hasil dari kombinasi faktor internal dan eksternal untuk pengembangan komoditi padi meliputi peningkatan kuantitas dan kualitas produksi, membuat kebijakan dan regulasi pemerintah daerah, mengembangkan program-program sektoral perwilayahan komoditas unggulan, meningkatkan SDM dan memotivasi petani dalam mengembangkan usahatani, sinergi antara petani, pengusaha dan pemerintah daerah agar saling mendukung dalam pengembangan sektor pertanian, menambah luas lahan baru usahatani padi, mengadopsi varietas baru, menerapkan system pertanian yang terintegerasi (integrasi tanaman dengan ternak atau budidaya ikan), Penguatan kelembagaan pertanian, Intensifikasi dan ekstensifikasi usahatani, revitalisasi sarana dan prasarana pertanian, diversifikasi tanaman. Menurut David (2009), menjelaskan strategi sering kali didefinisikan sebagai pencocokan yang dibuat suatu organisasi antara sumber daya dan keterampilan internalnya serta peluang dan risiko yang diciptakan oleh factor-faktor ekternal. Matriks Kekuatan-Kelemahan-Peluang-Ancaman adalah sebuah alat pencocokan yang penting yang membantu para manajer mengembangkan empat jenis strategi: Strategi SO (kekuatan-peluang) memanfaatkan kekuatan internal perusahaan untuk menarik keuntungan dari peluang eksternal. Strategi WO bertujuan untuk memperbaiki kelemahan internal dengan cara mengambil keuntungan dari peluang eksternal. Strategi ST menggunakan kekuatan sebuah
30
perusahaan untuk menghindari atau mengurangi dampak ancaman eksternal. Strategi WT merupakan taktik difensif yang diarahkan untuk mengurangi kelemahan internal serta menghindari ancaman eksternal. Berdasarkan penelitian Safitri (2013), menjelaskan secara internal luas lahan, pengalaman bertani, produksi, pelaksanaan tahapan pertanian, pencatatan kegiatan usahatani, ketersediaan modal dan pendapatan merupakan faktor yang mempengaruhi sistem agribisnis beras organik dan secara eksternal faktor yang mempengaruhi adalah sarana produksi pertanian, ketersediaan mesin penggiling dan tempat penjemuran, mutu beras organik, jaringan pemasaran beras organik, permintaan beras organik, dukungan kelompok tani, dukungan pemerintah, dukungan lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan sarana irigasi.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
1. Komoditas unggulan di Kecamatan Pamona Puselemba adalah padi
2. Kombinasi faktor-faktor internal dan eksternal menjelaskan komoditas pertanian di Kecamatan Pamona Puselemba berada pada posisi Diversification Strategy.
3. Strategi pengembangan komoditi padi di Kecamatan Pamona Puselemba adalah menambah luas
lahan baru usahatani padi sawah/ladang, mengadopsi varietas baru/bibit unggul, menerapkan system pertanian yang terintegerasi (integrasi tanaman dengan ternak atau budidaya ikan)
Saran
Berdasarkan hasil kajian maka disarankan agar pemerintah daerah untuk dapat mengembangkan komoditas padi yang didukung berdasarkan regulasi atau aturan pemerintah untuk tidak menjadikan lahan sawah menjadi pemukiman pendudukan dan menambah lahan sawah baru atau ladang.
DAFTAR PUSTAKA
BPS Poso.,2013. Badan Pusat Statistik Kabupaten Poso Sulawesi Tengah. BPS Poso. Poso. David, F. R., (2009), Manajemen Strategi. Salemba Empat, Jakarta: 260
David, F. R., (2009), Manajemen Strategi. Salemba Empat, Jakarta: 325-327 Kotler, 2000. Marketing Manajemen. Erlangga, jakarta
Rachmat Hendayana, R., 2003. Aplikasi Metode Location Quotient (LQ) dalam Penentuan Komoditas Unggulan Nasional, Informatika Pertanian volume 12, Bogor
Safitri, S.A., 2013. Strategi Pengembangan Komoditi Padi. Skripsi, Universitas Sumatra Utara. Sembiring. H., 2001. Komoditas Unggulan Pertanian Provinsi Sumatera Utara. Badan Penelitian dan Pengembangan Teknologi, Sumatera Utara.
Suratiyah, Jen., 2006. Ilmu Usaha Tani. Penebar Swadaya, Jakarta. Sugeng, HR., 2001. Bercocok Tanam Padi. Aneka Ilmu, Semarang
Syafruddin, dkk., 2004. Penataan Sistem Pertanian dan Penetapan Komoditas Unggulan Berdasarkan Zona Agroekologi di Sulawesi tengah. Jurnal Litbang Pertanian, 23 (2), Sulawesi Tengah Masa, A.,2016. Petani Sulawesi Tengah Keluhkan Sulit Peroleh Pupuk. Antaranews. Sulawesi
Tengah.https://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:F7ZFU_bLmcoJ:https://sult
31
Lampiran
Tabel 1. Perbandingan komoditi pertanian berdasarkan pendapatan
No Komoditi Pertanian Nilai Vektor Eigen Persentase (%)
1 Cengkeh 0,287 28,7%
2 Durian 0,143 14,3%
3 Padi 0,504 50,4%
4 Perikanan Umum 0,064 6,4%
Nilai Inkonsistensi 0,074 < 0,100 artinya konsistensi Tabel 2. Perbandingan berpasangan berdasarkan potensi
Tabel 3. Perbandingan berpasangan berdasarkan produksi
No Komoditi Pertanian Nilai Vektor Eigen Persentase (%)
1 Cengkeh 0,225 22,5%
2 Durian 0,124 12,4%
3 Padi 0,578 57,8%
4 Perikanan Umum 0,071 7,1%
Nilai Inkonsistensi 0,094 < 0,100 artinya konsistensi
Tabel 4. Perbandingan berpasangan berdasarkan sebaran komoditas
No Komoditi Pertanian Nilai Vektor Eigen Persentase (%)
1 Cengkeh 0,233 23,3%
2 Durian 0,087 8,7%
3 Padi 0,630 63%
4 Perikanan Umum 0,048 4,8%
Nilai Inkonsistensi 0,078 < 0,100 artinya konsistensi
No Komoditi Pertanian Nilai Vektor Eigen Persentase (%)
1 Cengkeh 0,266 26,6%
2 Durian 0,119 11,9%
3 Padi 0,555 55,5%
4 Perikanan Umum 0,058 5,8%