RETAIL BANKING
Micro and Retail Banking
186
Consumer Finance
194
CORPORATE CENTER &
SHARED SERVICES
Risk Management
202
Technology & Operations
216
Compliance and Human Capital
220
Corporate Secretary, Legal &
Customer Care
226
Internal Audit
230
Change Management Office
232
Finance and Strategy
236
DAFTAR CABANG
Daftar Cabang Bank Mandiri
268
Daftar Kantor Luar Negeri/Perwakilan
291
Daftar MBU, MBDC, CBC, & SBDC
292
Pernyataan Dewan Komisaris
308
Pernyataan Direksi
309
Laporan Keuangan Konsolidasian
beserta Laporan Auditor Independen
312
Informasi Pemegang Saham
244
Produk dan Layanan
252
Manajemen
256
Group Heads
257
Laporan Tugas Pengawasan
Dewan Komisaris
74
Pelaksanaan
Good Corporate Governance
80
Komite Audit
85
Komite Pemantau Risiko
87
Komite Remunerasi dan Nominasi
89
Komite Good Corporate Governance
91
Tugas dan Tanggung Jawab Direksi
93
Komite di Bawah Direksi
106
Warisan Tak Ternilai
2
Penghargaan
4
Ringkasan Laporan Keuangan
8
Sambutan Komisaris Utama
10
Dewan Komisaris
13
Sambutan Direktur Utama
18
Direksi & EVP Koordinator
32
Struktur Organisasi
42
Credit Committee
120
Fungsi Kepatuhan, audit Intern dan
Audit Ekstern
125
Rencana Strategis Bank
138
Corporate Social Responsibility
142
Komite Pihak Independen Non Dewan
Komisaris & Corporate Secretary
152
Siaran Pers
153
WHOLESALE BANKING
Corporate Banking
158
Commercial Banking
166
Treasury and International Banking
176
Special Asset Management
180
73
GOOD CORPORATE
GOVERNANCE
489
REFERENSI
BAPEPAM LK
157
185
201
243
INFORMASI
PERUSAHAAN
267
311
LAPORAN
KEUANGAN
43
PEMBAHASAN
UMUM
& ANALISIS
MANAJEMEN
DRAFT (March 25, 2010)
1. Foto- foto masih draft, fotografer akan
memberikan pilihan
2. Narasi Direktorat SBU belum
menggu-nakan hasil interview Bursons
3. Narasi Direktorat non SBU sebagian
besar sudah mendapatkan approval
direktur
4. Cover masih lowrest, nantinya akan di
lakukan Digital Imaging agar logo dan
awan lebih real
5. Alt. cover in progress
MENEMBUS BATAS KEINGINAN
LAPORAN TAHUNAN 2009
2 Oktober 1998 sebagai bagian dari program restrukturisasi perbankan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia. Pada bulan Juli 1999, empat bank milik Pemerintah yaitu Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, Bank Ekspor Impor Indonesia dan Bank Pembangunan Indonesia, digabungkan ke dalam Bank Mandiri. Keempat Bank tersebut telah turut membentuk riwayat perkembangan perbankan di Indonesia dimana sejarahnya berawal pada lebih dari 140 tahun yang lalu. Proses panjang pendirian Bank Bumi Daya bermula dari nasionalisasi sebuah perusahaan Belanda De Nationale Handelsbank NV, menjadi Bank Umum Negara pada tahun 1959. Pada tahun 1964, Chartered Bank (sebelumnya adalah bank milik Inggris) juga dinasionalisasi, dan Bank Umum Negara diberi hak untuk melanjutkan operasi bank tersebut. Pada tahun 1965, Bank Umum Negara digabungkan ke dalam Bank Negara Indonesia dan berganti nama menjadi Bank Negara Indonesia Unit IV. Kemudian pada tahun 1968, Bank Negara Indonesia Unit IV beralih menjadi Bank Bumi Daya.
Bank Dagang Negara merupakan salah satu bank tertua di Indonesia, pertama kali dibentuk dengan nama Nederlandsch Indische Escompto Maatschappij di Batavia (Jakarta) pada tahun 1857. Pada tahun 1949 namanya berubah menjadi Escomptobank NV, dimana selanjutnya pada tahun 1960 dinasionalisasikan serta berubah nama
bank Pemerintah yang membiayai sektor industri dan pertambangan. Sejarah Bank Ekspor Impor Indonesia berawal dari perusahaan dagang Belanda, N.V. Nederlansche Handels Maatschappij yang didirikan pada tahun 1824 dan mengembangkan kegiatannya di sektor perbankan pada tahun 1870. Pada tahun 1960, pemerintah Indonesia menasionalisasi perusahaan ini, dan selanjutnya pada tahun 1965 perusahaan ini digabung dengan Bank Negara Indonesia menjadi Bank Negara Indonesia Unit II. Pada tahun 1968, Bank Negara Indonesia Unit II dipecah menjadi dua unit, salah satunya adalah Bank Negara Indonesia Unit II Divisi Expor-Impor, yang akhirnya menjadi Bank Ekspor Impor Indonesia, bank pemerintah yang membiayai kegiatan ekspor dan impor.
Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) berawal dari Bank Industri Negara (BIN), sebuah bank industri yang didirikan pada tahun 1951 dengan misi untuk mendukung pengembangan sektor-sektor ekonomi tertentu, khususnya perkebunan, industri dan pertambangan. Pada tahun 1960, Bapindo dibentuk sebagai bank milik negara dan BIN kemudian digabung dengan Bapindo. Pada tahun 1970, Bapindo ditugaskan untuk membantu pembangunan nasional melalui pembiayaan jangka menengah dan jangka panjang pada sektor manufaktur, transportasi dan pariwisata.
yang telah dilalui dalam
riwayat perbankan
Indonesia, Bank Mandiri
telah dan akan senantiasa
memberikan kontribusi
terbaiknya dalam
mendukung pertumbuhan
serta perkembangan
perekonomian nasional
dan masyarakat Indonesia
secara keseluruhan.
penerus suatu tradisi layanan jasa perbankan dan keuangan yang telah berpengalaman selama lebih dari 140 tahun. Masing-masing dari empat bank bergabung telah memainkan peranan yang penting dalam pembangunan ekonomi Indonesia.
KONSOLIDASI DAN INTEGRASI
Setelah selesainya proses merger, Bank Mandiri kemudian memulai proses konsolidasi, termasuk pengurangan cabang dan pegawai. Selanjutnya diikuti dengan peluncuran single brand di seluruh jaringan melalui iklan dan promosi.
Salah satu pencapaian penting adalah penggantian secara menyeluruh platform teknologi. Bank Mandiri mewarisi sembilan sistem perbankan dari keempat legacy banks. Setelah investasi awal untuk konsolidasi sistem yang berbeda tersebut, Bank Mandiri mulai melaksanakan program penggantian platform yang berlangsung selama tiga tahun, di mana program pengganti tersebut difokuskan untuk meningkatkan kemampuan penetrasi di segmen retail banking.
Pada saat ini, infrastruktur teknologi informasi Bank Mandiri sudah mampu melakukan pengembangan e-channel & produk retail dengan Time to Market yang lebih baik.
Nasabah Bank Mandiri yang terdiri dari berbagai segmen merupakan
Indonesia. Berdasarkan sektor usaha, nasabah Bank Mandiri bergerak di bidang usaha yang sangat beragam. Sebagai bagian dari upaya penerapan prudential banking & best-practices risk management, Bank Mandiri telah melakukan berbagai perubahan. Salah satunya, persetujuan kredit dan pengawasan dilaksanakan dengan ‘four-eye principle’ , dimana persetujuan kredit dipisahkan dari kegiatan pemasaran dan business unit. Sebagai bagian diversifikasi risiko dan pendapatan, Bank Mandiri juga berhasil mencetak kemajuan yang signifikan dalam melayani Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dan nasabah ritel. Pada akhir 1999, porsi kredit kepada nasabah corporate masih sebesar 87% dari total kredit, sementara pada 31 Desember 2009, porsi kredit kepada nasabah UKM dan mikro telah mencapai 42,22% dan porsi kredit kepada nasabah consumer sebesar 13,92%, sedangkan porsi kredit kepada nasabah corporate mencakup 43,86% dari total kredit.
Sejak awal didirikan, Bank Mandiri terus bertekad untuk membentuk SDM handal dan profesional serta bekerja berdasarkan prinsip good corporate governance, dengan pengawasan dan kepatuhan yang sesuai dengan standar internasional. Dalam 3 tahun terakhir Bank Mandiri memperoleh predikat sebagai bank paling terpercaya, sebagai apresiasi upaya kami untuk terus menjaga penerapan good governance.
22.909 pegawai yang tersebar di 1.095 kantor cabang dalam negeri dan 5 kantor cabang luar negeri termasuk perwakilannya serta didukung oleh anak perusahaan yang bergerak di bidang pasar modal, perbankan syariah, asuransi jiwa, bank dengan fokus di segmen mikro dan pembiayaan konsumen, Bank Mandiri menyediakan solusi keuangan yang menyeluruh bagi perorangan dan perusahaan, baik swasta maupun milik Negara, komersial, usaha kecil dan mikro dengan kualitas pelayanan prima, dimana dalam tiga tahun terakhir secara berturut-turut Bank Mandiri mendapat penghargaan sebagai yang terbaik dalam hal kualitas pelayanan.
Sesudah menyelesaikan program transformasi semenjak 2005 sampai dengan tahun 2009, Bank Mandiri sedang bersiap melaksanakan
transformasi tahap berikutnya dengan merevitalisasi visi dan misi untuk menjadi Lembaga Keuangan Indonesia yang paling dikagumi dan selalu progresif.
• The Banker Award 2009 Bank Of The Year 2009 : Indonesia
• Penghargaan sebagai Perusahaan sangat Terpercaya (Good Corporate Governance) terbaik di Indonesia
• Best Local Cash Management Bank Votrd By Financial Institutions • Best Local Currency Cash Management Services (by Currency) IDR • Best Local Cash Management Bank in Indonesia as voted by Corporates (Large : rank 1 ; Medium : rank 2; Small : rank 3) The Best Indonesia Contact Center, Kategori : Excellent Achievement (selama 2 tahun berturut-turut membuktikan memiliki layanan operasional Call Center Terbaik di Indonesia dan Asia Pacific)
Banking Efficiency Award 2009 untuk kategori BANK BUMN
Top 100 Emiten 2009 - Best Listed Companies Kategori Bank dengan Kapitalisasi Pasar > Rp 2,5 Triliun
• The Best Local Private Bank in Indonesia – 2009
• Euromoney Award 2009 For Excellence : Country Award , The Best Bank In Indonesia 2009
Alpha Southeast Asia’s 3rd Annual Best Financial Institution Awards Kategori: • Best Bank in Indonesia award for the period 2008-2009 • Best Trade Finance Bank • Best Private Wealth Management
Tax Award – Bank Mandiri Sebagai Tempat Pembayaran Pajak Favorit Kedua Tahun 2008 • The Best Investor Relations (Rank 1) • The Best Managed Company (Rank 4) • The Best Corporate Governance (Rank 5) • The Best Corporate Social Responsibility (Rank 6) • The Best Most Committed to a strong Dividend Policy (Rank3) • Finance Asia Country Awards : Best Cash Management Bank in Indonesia Perusahaan Paling Membanggakan: Sektor Perbankan ISO 9001: 2000 bidang Manajemen Kearsipan Customer Innovation Award; category: Innovation (Program Software AG & Partners Innovation Awards 2008)
Top Brand Award 2009 untuk kategori Credit Card
CSR Awards 2008 – Gold bidang sosial dan ekonomi jasa perbankan dan telematika
Indonesian Service Quality Award 2009 Untuk kategori : • Priority Banking Services ( urutan ke-2)
• Regular Banking Services – Domestic Banking ( urutan ke-2)
Good Corporate Governance Award 2009 Kategori : Best GCG SOE
Six Sigma Excellence Award 2009 dalam kategori Best Defect Elimination in Service & Transactions
ABFI Banking Award Best Performing Banking 2009 Kategori Bank Persero
Corporate Governance Asia Recognition Awards 2009: Asia’s Best Companies for Corporate Governance
Anugerah Media Humas 2009 Sebagai Juara Umum dgn merebut penghargaan:
• Juara 1 Website BUMN,
• Juara 1 Penerbitan Internal BUMN, • Juara 3 Profil Lembaga Cetak BUMN,
Asia Responsible Entrepreneurship Awards Kategori Investment in People
The Best Bank Services Excellence 2008/2009
Lafferty Cards Asia 2009: Indonesia Best Reward Program- Kartu Debit Mandiri
STP Award 2008 (Straight Through Processing) Untuk : exceptional quality of payment messages
• CALL CENTER AWARD for Excellence Service Performance, Untuk Kategori: Call Center Banking Services • CALL CENTER AWARD for Excellence Service Performance, Untuk Kategori: Call Center Credit Card Services • ISO 9001:2008 Certification untuk Seksi Bank Garansi 1 dan 2 • ISO 9001:2008 Certification untuk Seksi Legal & Collateral Document Management STP Award 2008 (Straight Through Processing), Untuk : exceptional quality of payment messages STP Award 2008 (Straight Through Processing), Untuk : exceptional quality of payment messages • Contact Center World Award 2009 (Silver Award) kategori: The Best Contact Center Outbond Call Campaign
• Contact Center World Award 2009 (Silver award) kategori IT Support • Contact Center World Award 2009 (Silver award) kategori Workforce Management Planning • Best Arranger of Indonesian Loans 2009 dari Majalah Euroweek Asia - Euromoney • Industrial Deal of the Year 2009 dari Majalah Project Finance - Euromoney.
Rp. Miliar Rp. Miliar Rp. Miliar Rp. Miliar Rp. Miliar USD juta
Diaudit Diaudit Diaudit Diaudit Diaudit
LABA RUGI KONSOLIDASIAN
Pendapatan Bunga Bersih 8.955 10.345 12.355 14.800 16.777 1.786 Pendapatan Selain Bunga 1) 2.489 2.733 3.377 4.600 5.663 603
Pendapatan Operasional 2) 11.444 13.078 15.732 19.400 22.440 2.389
Beban Overhead 3) 6.267 6.269 7.451 8.426 9.178 977
Beban Penyisihan / (Pembalikan) Penghapusan
Aktiva Produktif dan Komitmen & Kontinjensi 4.445 3.634 2.053 2.765 1.185 126 Beban Penyisihan / (Pembalikan) Penghapusan Lainnya (1.057) (129) (313) (170) 810 86 Laba Operasional 1.188 2.711 6.213 7.910 10.434 1.111 Laba (rugi) Sebelum Taksiran Pajak Penghasilan
Dan Hak Minoritas 1.233 2.831 6.333 8.069 10.824 1.152 Laba (Rugi) Bersih 603 2.421 4.346 5.313 7.155 762 Laba Bersih per Saham Dasar (rupiah) 29,90 119,08 209,78 254,51 341,72
-NERACA KONSOLIDASIAN
Jumlah Aktiva 263.383 267.517 319.086 358.439 394.617 42.002 Aktiva Produktif (Bruto) 244.147 245.702 286.477 334.412 368.774 39.252 Aktiva Produktif (Neto) 229.059 229.004 271.227 320.573 354.903 37.776 Kredit yang diberikan 106.853 117.671 138.530 174.498 198.547 21.133 Penyisihan Penghapusan Kredit 4) (11.824) (14.389) (13.042) (11.860) (12.452) (1.325)
Jumlah Dana Pihak Ketiga 206.289 205.708 247.355 289.112 319.550 34.013 Jumlah Kewajiban - Termasuk hak Minoritas 240.168 241.176 289.842 327.925 359.508 38.266 Jumlah Ekuitas 23.215 26.341 29.244 30.514 35.109 3.737
RASIO-RASIO KEUANGAN
Imbal Hasil Rata-rata Aktiva (ROA) – sebelum pajak 5) 0,5 % 1,1 % 2,3 % 2,5 % 3,0 %
Imbal Hasil Rata-rata Ekuitas (ROE) – setelah pajak 6) 2,5 % 10,0 % 15,8 % 18,1 % 22,1 %
Marjin Pendapatan Bunga Bersih 4,1 % 4,7 % 5,2 % 5,5 % 5,2 % Rasio Pendapatan Selain Bunga terhadap
Pendapatan Operasional 21,7 % 20,9 % 20,9 % 23,1 % 24,6 % Rasio Beban Overhead terhadap
Pendapatan Operasional 7) 55,6 % 48,9 % 46,7 % 42,3 % 40,2 %
Rasio Beban Overhead terhadap Jumlah Aktiva 2,4 % 2,3 % 2,3 % 2,4 % 2,3 % Rasio Kredit Bermasalah
(Non Performing Loan/ NPL) - Bruto 25,2 % 16,3 % 7,2 % 4,7 % 2,8 % Rasio Kredit Bermasalah
(Non Performing Loan/ NPL) – Neto 15,3 % 5,9 % 1,5 % 1,1 % 0,4 % Penyisihan Penghapusan Kredit terhadap Kredit
Bermasalah (Non Performing Loan/NPL) 44,0 % 74,8 % 109,0 % 127,1 % 200,5 % Rasio Kredit terhadap Dana Pihak Ketiga – Non Bank 51,7 % 57,2 % 54,3 % 59,2 % 61,4 % Rasio Kecukupan Modal Inti (Tier 1 Capital Ratio ) 8) 18,0 % 19,6 % 17,3 % 12,8 % 12,5 %
CATATAN :
1) Termasuk keuntungan/kerugian dari kenaikan nilai dan penjualan surat-surat berharga dan Obligasi Pemerintah.
2) Pendapatan bunga bersih + Pendapatan selain bunga.
3) Beban umum dan administrasi + Beban gaji & tunjangan pegawai.
4) Termasuk pendapatan yang ditangguhkan atas kredit yang dibeli dari BPPN.
5) Laba sebelum taksiran pajak penghasilan dan hak minoritas dibagi dengan rata-rata saldo triwulanan jumlah aktiva pada tahun yang bersangkutan.
6) Laba bersih dibagi rata-rata saldo triwulanan jumlah ekuitas pada tahun yang bersangkutan.
7) Beban overhead dibagi Pendapatan operasional tidak termasuk keuntungan dari kenaikan nilai dan penjualan surat-surat berharga dan Obligasi Pemerintah.
8) Perhitungan rasio kecukupan modal inti (Tier I Capital Ratio) dan rasio kecukupan modal (CAR) berdasarkan angka bank saja.
9) CAR dengan risiko kredit.
10) Ikhtisar keuangan tahun 2009, 2008, 2007, 2006, dan 2005 diatas, diambil dan/atau dihitung dari laporan keuangan konsolidasian PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. dan Anak Perusahaan. Laporan keuangan konsolidasian pada tanggal dan tahun yang berakhir 31 Desember 2009 telah di audit oleh Kantor
Akuntan Publik Haryanto Sahari & Rekan, a member firm of PricewaterhouseCoopers Global Network. Laporan keuangan konsolidasian pada tanggal dan untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2008, 2007 dan 2006 telah di audit oleh Kantor Akuntan Publik Purwantono, Sarwoko & Sandjaja, anggota Ernst & Young Global; laporan keuangan konsoliadasian pada tanggal dan untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2005 di audit oleh Preasetio, Sarwoko & Sandjaja, anggota Ernst & Young Global. Untuk tujuan perbandingan, beberapa informasi keuangan untuk tahun 2008 dan 2007 telah direklasifikasi agar sesuai dengan penyajian informasi keuangan tahun 2009. ‘05 ‘06 ‘07 ‘08 ‘09 21.192 21.062 21.631 22.909 22.408 ‘05 ‘06 ‘07 ‘08 ‘09 909 924 956 1.027 1.095 4.000 8.000 12.000 16.000 20.000 24.000 500 600 700 800 900 1.000 ‘05 ‘06 ‘07 ‘08 ‘09 6.025 6.265 7.051 7.851 12.666 ‘05 ‘06 ‘07 ‘08 ‘09 2.560 2.800 3.186 4.120 4.996 1.000 2.000 3.000 4.000 5.000 6.000 4.000 6.000 8.000 10.000 12.000 14.000 2 4 6 8 10 12 (juta) ‘05 ‘06 ‘07 ‘08 ‘09 5.425.825 6.067.727 7.608.434 8.831.807 10.104.159
JUMLAH REKENING DANA PIHAK KETIGA PER 31 DESEMBER
EDWIN GERUNGAN
KEPADA PARA STAKEHOLDERS, PEMEGANG SAHAM SERTA MASYARAKAT,
Tahun 2009 yang merupakan tahun kedua dari fase Outperform the Market Bank Mandiri telah berhasil diselesaikan dengan baik. Pencapaian tersebut tak lepas dari upaya dan komitmen seluruh jajaran Manajemen dan Pegawai Bank Mandiri untuk menjadikan Bank Mandiri sebagai The Indonesia’s Most Admired and Progressive Financial Institution. Sejak triwulan pertama dan kedua di tahun 2009, krisis keuangan global terus berdampak terhadap perekonomian Indonesia. Hal ini menyebabkan perlambatan pada pertumbuhan kredit dan likuiditas, baik dalam Rupiah maupun Dollar AS. Namun, dengan berbekal pengalaman dan rangkaian inisiatif yang telah kami lakukan di tahun sebelumnya serta ditambah dengan pemahaman yang mendalam terhadap kondisi pasar ke depan menjadi kunci keberhasilan yang membantu kami dalam menghadapi berbagai tantangan tersebut. Di tahun 2009 kami bersyukur Bank Mandiri berhasil memperoleh beberapa pencapaian penting (milestones). Bank Mandiri membukukan laba bersih sebesar Rp. 7,2 triliun, meningkat sebesar 34,7% dari Rp. 5,3 triliun di
tahun 2008. Angka ini merupakan laba bersih tertinggi dalam 11 (sebelas) tahun terakhir sejak Bank Mandiri berdiri dan pencatatan laba bersih tersebut terjadi dalam dua tahun berturut-turut. Pencapaian ini juga diikuti oleh perbaikan pada indikator-indikator penting lainnya termasuk pertumbuhan pada fee-based income, kredit dan dana pihak ketiga. Bank Mandiri juga mencatat peningkatan rasio-rasio utama seperti rasio imbal hasil rata-rata ekuitas (ROE) yang mencapai 22,1%, rasio imbal hasil rata-rata aktiva (ROA) yang telah mencapai 3%, dan efisiensi biaya, dimana biaya mengalami penurunan sebesar 40,2%. Bersamaan dengan pengembangan bisnis, Bank Mandiri tetap fokus terhadap peningkatan kualitas aset selama tahun 2009, yang menghasilkan tingkat NPL gross dan net masing-masing menjadi 2,8% dan 0,4%. Pada saat yang sama, kami juga terus fokus pada pengembangan pembiayaan segmen ritel dan berusaha mencapai efisiensi di berbagai aspek operasional.
Perlu kita catat bahwa perbaikan kinerja yang berkesinambungan tersebut tercapai di tengah-tengah kondisi makro ekonomi global yang masih dipenuhi ketidak-pastian. Disiplin dalam pengelolaan likuiditas dengan terus menurunkan pembiayaan dengan mata uang asing di tahun
kualitas pengawasan dalam rangka mempertahankan dan memperbaiki
kualitas layanan Bank, dengan menyediakan tata kelola korporasi yang baik
(good corporate governance)
performance based culture untuk memastikan peningkatan produktivitas yang lebih baik dalam dalam rangka optimalisasi nilai saham bagi para pemegang saham. Berbagai tantangan akan terus berlanjut, namun dengan dukungan dan dedikasi dari tim kami yang sangat baik, kami akan mencapai misi kami untuk menjadi lembaga keuangan Indonesia yang paling dikagumi & selalu progresif. Akhir kata, atas nama Dewan Komisaris, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh
stakeholder dan nasabah Bank Mandiri atas dukungan dan kepercayaannya yang telah diberikan selama ini.
EDWIN GERUNGAN
Komisaris Utama dan Komisaris Independen
menetapkan tantiem dan gaji Direksi berdasarkan prestasi. Pada periode sebelumnya belum dapat dilakukan pembedaan sistem remunerasi seperti yang baru kami laksanakan. Pada saat ini juga, persentase kenaikan gaji anggota direksi ditetapkan berdasarkan kinerja masing-masing. Hal ini merupakan pertama kalinya metode ini diterapkan pada bank milik pemerintah. Pendekatan baru terhadap sistem remunerasi ini juga mendapatkan dukungan positif dari pemegang saham dan Pemerintah sebagai pemegang saham mayoritas. Memasuki tahun 2010 terdapat beberapa tantangan yang harus kami hadapi diantaranya kondisi pasar internasional yang masih belum pulih sepenuhnya karena adanya berbagai masalah yang harus dihadapi oleh negara-negara Eropa, seperti Yunani, Spanyol dan Portugal dan kami akan terus memantau perekonomian global berikut fase pemulihannya. Persaingan dalam industri perbankan nasional juga semakin meningkat. Sementara itu, komitmen untuk menjadikan Bank Mandiri sebagai lembaga keuangan Indonesia yang paling dikagumi dan selalu progresif mendorong kami untuk terus bertransformasi dengan melakukan revitalisasi visi dan misi perusahaan. Dalam 5 (lima) tahun mendatang, kami akan berupaya untuk lebih fokus pada pengembangan di 3 (tiga) area; transactional banking di segmen wholesale, menjadi nomor 1 (satu) di pembayaran ritel dan memimpin di segmen pembiayaan ritel.
Secara keseluruhan, Dewan Komisaris akan terus men-supervisi kebijakan-kebijakan Bank secara seksama dan terarah dan fokus pada sektor-sektor
yang tahan krisis serta nasabah-nasabah yang terbaik di masing-masing sektor dan wilayah geografis, memungkinkan kami untuk terus memperbaiki kinerja di saat-saat yang cukup sulit seperti yang baru kita lalui di tahun 2009.
Dewan Komisaris senantiasa melanjutkan upaya untuk
meningkatkan kualitas pengawasan dalam rangka mempertahankan dan memperbaiki kualitas layanan Bank, dengan menyediakan tata kelola korporasi yang baik (good corporate governance) melalui empat komite utama:Komite Audit, Komite Pemantau Risiko, Komite Remunerasi & Nominasi, Komite Good Corporate Governance. Keempat Komite ini merupakan sarana bagi kami untuk menjalankan fungsi pengawasan terhadap seluruh aktivitas Bank, serta untuk memastikan bahwa prinsip-prinsip tata kelola korporasi yang baik selalu menjadi hal utama dalam penyelenggaraan kegiatan harian Bank.
Fungsi Komite Audit adalah memastikan seluruh transaksi
dijalankan sesuai dengan prosedur dan peraturan-peraturan terkait. Fungsi pengelolaan dari Komite Kebijakan Risiko adalah memastikan bahwa Bank memiliki likuiditas yang memadai baik dalam Rupiah maupun Dollar AS terkait dengan adanya ketidakpastian di dalam pasar sebagai akibat dari krisis global, terutama pada semester pertama tahun 2009.
Pada tahun 2009, Komite
Nominasi dan Remunerasi, dengan fokus spesifik pada sumber daya manusia menciptakan sebuah
1. Edwin Gerungan
Komisaris Utama & Komisaris Independen
2. Muchayat
Wakil Komisaris Utama3. Mahmuddin Yasin
Komisaris4. Soedarjono
Komisaris Independen5. Pradjoto
Komisaris Independen6. Gunarni Soeworo
Komisaris Independen6.
5.
3.
1.
4.
2.
Edwin Gerungan
Komisaris Utama Dan Komisaris Independen
Muchayat
Wakil Komisaris Utama
Lahir pada tahun 1948. Menyelesaikan pendidikan dan memperoleh gelar sarjana dari Principia College, Illinois pada bulan Juni 1972 dan bergabung dengan Citibank N.A. bulan Agustus 1972. Puncak karier beliau selama 25 tahun di Citibank pada saat menduduki posisi jabatan Head of Treasury and Financial Markets. Bergabung dengan Atlantic Richfield tahun 1997, sebagai Senior Advisor. Tahun 1999, beliau kembali berkarier di dunia perbankan dan bergabung dengan Bank Mandiri menduduki posisi Executive Vice President – Treasury & International. Tahun 2000 sampai tahun 2001, beliau bekerja sebagai Kepala BPPN yang membawahi bidang restrukturisasi perusahaan, perbankan dan program penjaminan serta asset disposals.
Tahun 2002 beliau ditunjuk menjadi Komisaris Bank Central Asia. Kemudian beliau juga menjabat sebagai Komisaris Bank Danamon pada kurun waktu September 2003 sampai dengan Mei 2005.
Pada bulan Mei 2005, beliau ditunjuk menjadi Komisaris Utama Bank Mandiri. Pada bulan Oktober 2007, beliau ditunjuk sebagai Direktur Utama BHP Billiton Indonesia.
Lahir pada tahun 1950. Menyelesaikan pendidikan Sarjana Teknik Kimia dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya tahun 1978, memperoleh gelar Master tahun 1983, dan Certificate Industrial Management dari Institut National Polytechnique de Lorraine (INPL) di Nancy, Perancis tahun 1984.
Beliau memulai karier sebagai Pengajar (Dosen) di Fakultas Teknik Kimia Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya tahun 1979. Tahun 1982, beliau ditunjuk sebagai Wakil Ketua Jurusan Fakultas Teknik Kimia sampai dengan tahun 1984. Dari tahun 1990 sampai tahun 1996, beliau menjabat Komisaris Utama PT. Surabaya Artha Selaras Securitas di Surabaya. Tahun 1996 beliau menduduki posisi Komisaris PT. IEF Consultan, kemudian menjadi Koordinator Pencatatan Efek (Listing Committee) Bursa Efek Surabaya (BES).
Tahun 1998 sampai tahun 1999, beliau menjabat sebagai anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR – RI). Tahun 2001 beliau terpilih sebagai Wakil Ketua KPKPN untuk masa jabatan tiga tahun.
Beliau menduduki posisi sebagai Komisaris Utama Asuransi Jiwa Bersama Bumiputera 1912 pada tahun 2003. Pada bulan Mei 2005, beliau ditunjuk menjadi Komisaris Bank Mandiri.
Jabatan profesional lainnya meliputi Wakil Ketua KADIN tahun 2004 dan Ketua Ikatan Konsultan nasional Indonesia dari tahun 1997 sampai dengan tahun 2002.
Soedarjono
Komisaris Independen
Lahir pada tahun 1954. Menyelesaikan pendidikan Sarjana Ekonomi dari Universitas Krisnadwipayana Jakarta pada tahun 1982 dan memperoleh gelar Master of Business Administration dari Washington University St Louis USA pada tahun 1986.
Pada tahun 2000 beliau menjabat sebagai Deputi Ketua BPPN (Badan
Penyehatan Perbankan Nasional) sampai dengan tahun 2001. Pada tahun 2004 sampai dengan bulan Mei 2008 beliau menduduki posisi sebagai Komisaris Utama PT. Pupuk Sriwidjaja.
Tahun 2005 beliau ditunjuk sebagai Komisaris Utama PT. Socfin Indonesia selama kurun waktu 2 tahun sampai dengan tahun 2007. Pada tahun 2007 beliau menjabat Komisaris PT. Telekomunikasi Indonesia dan pada bulan Oktober 2008 beliau ditunjuk sebagai Komisaris di Bank Mandiri
Pada tahun 1995 mengikuti Training Securities di Merrill Lynch New York dan Indonesia Executive Program di General Electric, Crotonville New York. Memperoleh pelatihan khusus Advanced Management Training dari Oregon University pada tahun 1996.
Lahir pada tahun 1939. Menyelesaikan pendidikan Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi dari Universitas Indonesia tahun 1965 dan memulai karier sebagai Akuntan di kantor Akuntan Negara Yogyakarta tahun 1966.
Beliau tetap berkarier di Kantor Akuntan Negara setelah berganti nama menjadi Badan Pengawas Keuangan Pembangunan (BPKP), dan menjadi Deputi Kepala pada periode tahun 1989 sampai dengan 1991.
Pada tahun 1993 ditunjuk sebagai Kepala BPKP dan menjabat selama 6 tahun. Beliau juga Kepala Bapeksta untuk Fasilitas Ekspor di Departemen Keuangan dari tahun 1991 sampai dengan tahun 1993.
Tahun 1998 sampai 2003 beliau menjabat sebagai Komisaris Bank Mandiri, juga menjabat Ketua Komite Audit. Beliau menjabat Komisaris Utama Bank Danamon dari tahun 2001 sampai dengan tahun 2002, juga menjabat Ketua Tim Pengawas Bank International Indonesia dari tahun 2002 sampai tahun 2003.
Sejak tahun 2004, beliau menjabat Komisaris Utama PT. Danareksa (Persero), dan ditunjuk kembali menjadi Komisaris Bank Mandiri pada bulan Mei 2005.
Beliau juga pernah memegang posisi penting di berbagai organisasi profesi lainnya termasuk sebagai Ketua Ikatan Akuntan Indonesia dari tahun 1994 sampai dengan tahun 1998.
Mahmuddin Yasin
Pradjoto
Komisaris Independen
Lahir pada tahun 1953. Menyelesaikan pendidikan Sarjana Hukum dari Universitas Indonesia tahun 1981 dan berkarier di PT. Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) selama dua belas tahun, kemudian melanjutkan pendidikan Master di Faculty of Economy Universitas Kyoto Jepang tahun 1994.
Tahun 1994, bergabung dengan Kantor Konsultan Hukum Pradjoto & Associates, hingga mencapai posisi Senior Partner. Dari tahun 1999 sampai dengan tahun 2001, menjadi tenaga pengajar pada Program Magister Manajemen Universitas Atmajaya, Jogjakarta.
Tahun 2000, terpilih menjadi anggota Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia, dimana beliau menjadi Tim Perumus Perubahan UU Kepailitan. Beliau juga adalah anggota Komisi Ombudsman Nasional dan Komite Ombudsman BPPN.
Tahun 2001, menjadi anggota Tim Gabungan Tindak Pidana Korupsi (TGTPK), Ketua Ombudsman BPPN dan anggota Oversight Committee BPPN.
Tahun 2003 dan 2004, menjadi anggota Tim Independen Divestasi Bank Danamon dan Bank Permata serta anggota Tim Panel Arsitektur Perbankan Indonesia (API).
Pada tahun 2005, ditunjuk sebagai tenaga ahli Kejaksaan Agung RI dan sekaligus anggota Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi).
Pada periode tahun 2002 sampai dengan bulan September 2006 beliau menjabat sebagai Komisaris di Bank International Indonesia kemudian mengundurkan diri untuk melanjutkan tugas menjadi Komisaris di Bank Mandiri.
Pada bulan Mei 2005 ditetapkan menjadi Komisaris Independen di Bank Mandiri. Pada tahun 2005 ditunjuk sebagai Penasehat Dewan Gubernur BI.
Gunarni Soeworo
Komisaris Independen
Lahir pada tahun 1943. Menyelesaikan pendidikan Sarjana Ekonomi dari Universitas Padjajaran, Bandung tahun 1968 dan bekerja pada PT. Unilever di bidang penjualan pada tahun yang sama.
Bergabung dengan Citibank NA, Jakarta tahun 1970 dan menduduki posisi Credit Department Head sebelum ditugaskan ke New York tahun 1976. Beliau kembali ke Jakarta tahun 1978 menduduki posisi Division Head of Corporate Banking Group.
Tahun 1987, beliau bergabung dengan Bank Niaga, Jakarta sebagai Senior Vice President and Group Head, Marketing & Credit. Dipromosikan sebagai Direktur Bank Niaga membawahi Marketing and Credit Directorate pada tahun 1989, dan ditunjuk sebagai Direktur Utama sejak tahun 1994 selama jangka waktu 5 tahun.
Tahun 1999 sampai dengan tahun 2007, beliau ditunjuk sebagai Wakil Komisaris Utama Bank Niaga, dan pada bulan Mei 2005 ditunjuk sebagai Komisaris Independen Bank Mandiri.
Beliau merupakan anggota Dewan Ekonomi Nasional pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid dan Komite Pengawas BPPN (Oversight
Committee). Terpilih sebagai Ketua Perbanas sejak tahun 1999 sampai tahun 2003.
Tahun 1999 sampai dengan tahun 2004, beliau menjabat Wakil Ketua Komite Nasional Good Corporate Governance. Saat ini beliau juga menjabat anggota Dewan Penasehat Institut Bankir Indonesia dan Perbanas. Beliau juga terpilih sebagai Wakil Ketua IRPA (Indonesian Risk Professional Association).
AGUS MARTOWARDOJO
PEMEGANG SAHAM YANG TERHORMAT,
Tahun 2009 menandai berakhirnya tahap pertama transformasi Bank Mandiri yang telah dimulai sejak tahun 2005. Tahun 2009 juga merupakan tahun kedua fase “Outperform the Market”, dimana Bank Mandiri berhasil mengukir sejumlah prestasi baru, meskipun Bank Mandiri harus menghadapi situasi yang penuh ketidakpastian sebagai akibat dari krisis ekonomi global. Kami terus fokus untuk bisa menjalankan strategi utama kami untuk dapat melampaui berbagai milestone keuangan maupun non keuangan.
Sasaran bisnis kami tahap pertama pada periode transformasi sejak tahun 2005 hingga 2009 adalah untuk menjadi “Dominant Multi Specialist Bank” di Indonesia. Kami berhasil mencapai tujuan tersebut dengan mencatat pertumbuhan di berbagai strategic business unit (SBU) kami, yaitu Corporate Banking, Commercial Banking, Micro and Retail Banking, Consumer Finance serta Treasury and International Banking serta target kapitalisasi pasar yang kami canangkan di awal transformasi. Direktorat Special Asset Management kami bekerja sangat baik dengan keberhasilannya meningkatkan kualitas aset secara signifikan dan menurunkan tingkat kredit bermasalah (NPL). Kami juga dapat memperluas
jaringan distribusi di semua segmen dan terus melakukan investasi di bidang sumber daya manusia, manajemen risiko dan platform teknologi untuk mendukung ekspansi usaha. Kami juga meningkatkan sinergi antara berbagai SBU dan anak perusahaan untuk memberikan manfaat bagi para nasabah.
Hasil dari tahap pertama transformasi sangatlah nyata ditunjukkan pada kinerja operasional dan keuangan kami. Laba bersih kami di tahun 2009 mencapai Rp 7,2 triliun dibandingkan dengan Rp 603 miliar di tahun 2005 atau meningkat hampir 12x dalam 4 tahun. ROE mencapai 22,1% pada tahun 2009 dibandingkan dengan tahun 2005 yang hanya 2,5%. Fee-based income mencapai Rp 5,7 triliun pada tahun 2009 dibandingkan dengan Rp 2,5 triliun di tahun 2005. Pada penghujung tahun 2009 Bank Mandiri mampu melampaui milestone utama menjadi Dominant Multi Specialist Bank, yaitu mencapai market capitalization sebesar Rp 100 triliun atau meningkat 3 kali dibandingkan dengan pada bulan Mei 2005 ketika kami memulai perjalanan transformasi kami.
Di tahun 2010, kami akan memulai tahap kedua dari transformasi kami dengan melakukan revitalisasi atas visi kami yaitu untuk menjadi lembaga keuangan Indonesia yang
Kami akan meneruskan prestasi yang telah kami capai di tahun 2009
untuk mewujudkan pertumbuhan yang berkesinambungan dan
berimbang dalam lima tahun ke depan. Kami akan mewujudkan visi kami
untuk menjadi lembaga keuangan Indonesia yang paling dikagumi dan
selalu progresif di mata para nasabah, masyarakat dan pemegang saham
Prospek dan Tantangan Pemulihan Ekonomi Global.
Kondisi perekonomian global terus mengalami pemulihan di semester kedua tahun 2009. Hal ini tidak terlepas dari dukungan optimal pemerintah di berbagai negara. Paket stimulasi fiskal dan moneter bernilai triliunan USD sukses mengangkat perekonomian dunia dari dasar krisisnya. Merespon perkembangan kebijakan yang sangat agresif ini, aktivitas pasar keuangan juga terlihat membaik. Indeks saham di berbagai belahan dunia meningkat antara 30% hingga 60% dari bottom yang terjadi pada periode Oktober 2008 - Maret 2009. Peningkatan terjadi khususnya pada negara-negara berkembang yang menunjukkan daya tahan terhadap krisis seperti Cina, India dan ASEAN.
Prospek perekonomian terus mengalami revisi positif. IMF pada bulan Januari 2010 memperkirakan kontraksi perekonomian global tahun 2009 terjadi sebesar -0.8% lebih kecil daripada proyeksi di bulan Juni 2009 sebesar -1.4%. Untuk tahun 2010, IMF memperkirakan ekonomi dapat tumbuh sebesar 3.9% naik dari proyeksi sebelumnya di 2.5%. Negara-negara maju diperkirakan masih akan mempertahankan kebijakan ekonomi yang longgar untuk mendukung pemulihan ekonomi.
Meskipun kondisi ekonomi global pada tahun 2010 diperkirakan lebih baik dari 2009, namun diperkirakan terdapat tiga risiko utama yang berdampak negatif terhadap pemulihan. Pertama adalah risiko likuiditas, negara-negara maju umumnya masih akan menerapkan kebijakan yang longgar yang berimplikasi
Impor Ekspor Pembentukan Modal Tetap Bruto Konsumsi Pemerintah Konsumsi Rumah Tangga
PRODUK DOMESTIK BRUTO
709 833 932 1,032 510 493 196 169 1,249 1,191 200 400 600 800 1,000 1,200 1,400 2009 2008 Q109 Q209 Q309 Q409 BI RATE DAN INFLASI 7.75 7.92 7 3.56 6.5 2.83 6.5 2.78 1.5 3 4.5 6 7.5 9 11.5 BI Rate (%) Inflasi, YoY (%) Q109 Q209 Q309 Q409
CADANGAN DEVISA DAN NILAI TUKAR
54.8 11.555 57.6 10.208 62.3 9.663 66.1 9.390 10 20 30 40 50 60 70 Cadangan Devisa (USD miliar) Nilai Tukar Rp/ USD (Rp. Ribu)
kepada kondisi likuiditas yang tinggi. Disisi lain, penyerapan likuiditas ini oleh sektor riil masih belum optimal karena daya beli masyarakat dan prospek bisnis belum kembali normal. Dalam situasi ini bahaya inflasi dan asset bubble akan meningkat yang pada gilirannya dapat menimbulkan potensi krisis baru. Kedua adalah kerentanan fiskal, untuk menanggulangi krisis global yang terjadi pada periode 2008-2009 banyak negara memberikan stimulus fiskal dalam jumlah yang masif. Dengan demikian saat ini, banyak negara-negara tersebut yang memiliki daya tahan fiskal yang rendah yang ditunjukkan oleh tingginya rasio defisit fiskal maupun rasio hutang publik terhadap pendapatan domestik bruto. Beberapa lembaga pemeringkat seperti S&P, Moodys dan Fitch telah menurunkan rating atau credit outlook dari Yunani, Spanyol, Portugal dan Jepang akibat prospek fiskal yang negatif ini.
Risiko perekonomian global terakhir adalah penarikan stimulasi ekonomi (exit strategy) yang kurang cermat (ill-timing atau terlalu drastis). Kondisi ekonomi global meskipun telah pulih namun masih belum berada pada tingkat yang normal. Tingkat pengangguran di beberapa negara masih berada pada kisaran 8% s/d 10%. Tingginya tingkat pengangguran menyebabkan daya beli masyarakat menjadi lemah sehingga mengurangi motivasi perusahaan untuk ekspansi produksi. Disamping itu sektor perbankan juga belum dapat melaksanakan fungsi intermediasi secara baik karena keterbatasan modal dan sikap membatasi risiko (risk averse). Dengan demikian jika penarikan stimulasi ekonomi tidak dilakukan secara baik maka confidence pelaku ekonomi
dapat terguncang sehingga proses pemulihan akan terhambat. Kinerja Perekonomian Indonesia di Tengah Krisis.
Dampak krisis global juga dialami oleh Indonesia. Pertumbuhan ekonomi turun dari 6.1% pada tahun 2008 menjadi 4.5% pada 2009. Perdagangan luar negeri mengalami kontraksi sebesar 9,7% dan investasi swasta hanya tumbuh sebesar 3.3% (jauh dibawah tahun 2008, yang mencapai 11.7%). Konsumsi domestik dapat bertahan untuk tetap tumbuh di 4.5%, terutama karena adanya aktivitas Politik (Pemilu dan Pilpres). Kinerja ini cukup bagus mengingat negara-negara lain umumnya mengalami kontraksi. Daya tahan ekonomi Indonesia terhadap krisis cukup tinggi. Hal ini disebabkan relatif rendahnya keterkaitan dengan luar negeri. Sebagai suatu ukuran, rasio Ekspor Indonesia terhadap GDP tahun 2008 hanya sebesar 27%. Fundamental ekonomi lainnya juga cukup solid, rasio utang luar negeri terhadap GDP tahun 2009 hanya sebesar 31.5% sedangkan rasio defisit fiskal adalah konservatif disekitar 1,6%. Indikator ekonomi yang sangat baik ini memberikan keyakinan bagi para investor dan menghindari adanya gejolak pasar. Disamping itu, pemerintah juga memberikan stimulus fiskal senilai Rp71.3 Triliun dalam bentuk insentif produksi, perdagangan, keringanan pajak dan pengeluaran proyek. Hal ini sangat membantu untuk mengurangi dampak krisis dengan menstimulasi permintaan dalam negeri. Penguatan Nilai Tukar Rupiah.
Pada 4Q08 hingga 1Q09 terdapat aliran dana keluar (capital outflow) yang
menyebabkan tekanan pada nilai tukar. Rupiah sempat diperdagangkan pada kisaran Rp12.000/USD pada bulan November 2008, posisi terlemah sejak tahun 1998. Sejalan dengan pulihnya psikologi pasar global, sejak kuartal kedua aliran dana asing masuk ke Indonesia dan menyebabkan Rupiah terus menguat mencapai Rp9.390/USD pada akhir tahun 2009.
Arus dana asing ini telah menyebabkan neraca pembayaran mengalami surplus. Pada tahun 2009, dana asing yang masuk tercatat sebesar USD10.1 milyar. Aliran dana juga telah meningkatkan cadangan devisa yang mencapai USD66 Milyar di tahun 2009 dari USD52 Milyar di tahun 2008. Surplus neraca pembayaran diperkirakan akan bertahan hingga tahun 2010, mengingat instrumen investasi Indonesia masih memiliki daya tarik.
Tekanan Inflasi Masih Rendah. Sejalan dengan melemahnya daya beli akibat krisis, maka tekanan harga dari sisi permintaan juga menurun. Tingkat inflasi tahun 2009 hanya mencapai 2.78% jauh di bawah inflasi tahun 2008 yang mencapai 11.06%. Tingkat inflasi ini juga berada di bawah ekspektasi dan target BI yakni 4%. Selain dampak resesi ekonomi dunia, rendahnya tingkat inflasi di tahun 2009 juga bersumber dari (1) turunnya harga komoditas, (2) apresiasi nilai tukar rupiah dan (3) harga pangan yang stabil.
Tingkat Bunga Acuan Berada Pada Level Yang Rendah.
Upaya untuk menanggulangi dampak krisis juga dilakukan melalui kebijakan moneter. Sejak Desember 2008, BI terus
menurunkan suku bunga acuan (BI rate) dari sekitar 9.25% hingga mencapai 6.50% di bulan Juli 2009. Suku bunga acuan dipertahankan pada tingkat yang rendah yaitu 6.50% hingga saat ini. Bank Indonesia menempuh kebijakan longgar karena tingkat inflasi yang rendah dan nilai tukar yang cenderung menguat (dan stabil). Disamping itu, sikap kebijakan moneter negara maju yang juga longgar turut memberikan ruang bagi BI untuk menahan suku bunga pada tingkat yang rendah.
Kinerja Perbankan Indonesia.
Realisasi kredit turun secara signifikan. Pada tahun 2008, kredit masih tumbuh sebesar 30.5% YoY sedangkan pada tahun 2009 hanya tumbuh sebesar 10.7%. Rendahnya pertumbuhan kredit ini disebabkan berbagai faktor baik dari sisi permintaan maupun penawaran. Sebagai respon krisis, perbankan melakukan pengetatan terhadap standar kredit dan memilih untuk menaruh dana pada instrumen likuid, seperti Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan Surat Utang Negara (SUN). Pada akhir tahun 2009, posisi bank di SBI mencapai Rp286 Triliun dan Rp257 Triliun di SUN. Realisasi kredit juga rendah akibat lemahnya permintaan. Fasilitas kredit yang disetujui tetapi tidak digunakan (undisbursed loan) meningkat dari Rp248 triliun (Desember 2008) ke Rp324 triliun (Desember 2009).
Sikap lebih berhati-hati juga terlihat dari indikator perbankan lainnya. Loan to Deposit Ratio (LDR) memiliki tendensi menurun. Pada akhir tahun 2008, posisi LDR perbankan nasional berada pada 74.6% sedangkan di akhir tahun 2009 indikator ini telah turun ke 73.9%. Perbankan juga terlihat mengurangi
Q109 Q209 Q309 Q409
DANA PIHAK KETIGA NASIONAL
310 1,476 291 1,532 304 1,554 316 1,657 250 500 750 1,000 1,250 1,500 1,750 Dana Valas (Rp. Triliun) Dana Rupiah (Rp. Triliun)
Q109 Q209 Q309 Q409 PENYALURAN KREDIT NASIONAL 244 1060 215 1120 200 1166 209 1438 250 500 750 1,000 1,250 1,500 1,750 Kredit Valas (Rp. Triliun) Kredit Rupiah (Rp. Triliun)
Q109 Q209 Q309 Q409 NPL (%) 3.93 3.94 3.80 3.31 1 2 3 4 5 6 7
eksposure terhadap risiko valuta asing. LDR valas telah turun dari 86.64% (Desember 2008) ke 66.1% (Desember 2009). Kencederungan pengurangan eksposure khsusnya terlihat pada kategori bank swasta devisa nasional dan bank asing (foreign dan joint venture). Sepanjang tahun 2009, perbankan dapat mempertahankan kualitas kredit. Non Performing Loan (NPL) dapat dijaga pada kisaran 4%. Dengan tingkat kualitas kredit yang tinggi maka perbankan Indonesia dapat menjaga modalnya secara memadai. Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan nasional per Desember 2009 masih berada di 17.4% jauh diatas tingkat yang disyaratkan BI, yakni 8%. CAR yang tinggi memberikan kemampuan kepada bank untuk melakukan ekspansi kredit. Perkiraan Kinerja Makro Ekonomi Indonesia di 2010.
Pemulihan ekonomi Indonesia
diprediksi akan berlanjut di tahun 2010. Perekonomian diperkirakan mengalami ekspansi sebesar 5.2%-5.5% ditopang oleh kenaikan ekspor dan investasi swasta. Tahun ini, ekspor diperkirakan tumbuh sebesar 8.2% membaik dari kondisi kontraksi sebesar 12.6% tahun 2009. Sedangkan investasi swasta (gross fixed capital formation) dapat tumbuh sebesar 7.7% meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan angka tahun 2009 sebesar 3.6%. Konsumsi sektor swasta diperkirakan stabil pada 5.4% sedangkan belanja negara diprediksi menurun pada level 6.0% (dari 11.2%). Turunnya belanja negara disebabkan oleh selesainya program stimulus fiskal. Tingkat inflasi di tahun 2010 diprediksi cukup terkendali pada kisaran 6.2%.
Diperkirakan inflasi akan lebih rendah dari ekspektasi. Hal ini terjadi karena pemerintah tengah mengusulkan penambahan pos subsidi untuk administered price seperti BBM, listrik, transportasi dan gas. Jika disetujui maka harga komoditas tersebut akan stabil dan mengurangi tekanan terhadap tingkat harga. Disamping itu, nilai tukar yang diperkirakan terus menguat akan mengurangi besaran inflasi, khususnya dari sisi supply.
Dengan prospek tingkat inflasi yang rendah, maka Bank Indonesia (BI) memiliki ruang untuk mempertahankan suku bunga pada tingkat yang
akomodatif seperti saat ini di 6.5%. Kedepan dengan tingkat inflasi yang cenderung meningkat dan juga sejalan dengan siklus pemulihan global maka BI diperkirakan akan melakukan pengetatan moneter. Kenaikan BI rate diperkirakan terjadi pada akhir kuartal kedua hingga kuartal ketiga, serta berlangsung secara terukur hingga mencapai 7.25% diakhir tahun 2010.
Nilai tukar juga diperkirakan mengalami penguatan. Indonesia sebagai wilayah dengan prospek ekonomi positif diperkirakan akan banyak menarik dana-dana asing. Menurut data Institute International Finance, dana asing yang masuk ke wilayah Asia dapat mencapai USD273 milyar di tahun 2010, meningkat 43% dari tahun 2009. Di sisi lain, neraca perdagangan Indonesia diperkirakan juga masih mencatat surplus sebesar USD1.79 milyar. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa supply USD akan relatif lebih banyak daripada demand nya. Hal ini membantu posisi Rupiah untuk menguat. Untuk tahun 2010, rupiah diprediksi mengalami apresiasi hingga Rp8.927/USD di akhir tahun.
Kondisi perbankan Indonesia saat ini berbeda dengan kebanyakan kondisi perbankan negara maju yang mengalami kenaikan NPL dan penurunan modal. Kondisi perbankan yang relatif kuat ini memberikan kemampuan untuk melakukan ekspansi di tahun 2010. Pertumbuhan kredit 2010 diperkirakan meningkat menjadi 20-25% terutama dipicu oleh pemulihan optimisme pelaku bisnis. Perbankan Indonesia mampu mengakomodasi pertumbuhan kredit ini karena rendahnya beban penghapusan kredit dan relatif tingginya permodalan.
Kami akan meneruskan perjalanan transformasi yang telah kami capai di tahun 2009 untuk mewujudkan pertumbuhan yang berkesinambungan dan berimbang dalam lima tahun ke depan. Untuk merealisasikan visi tersebut Bank Mandiri akan terus membangun hubungan yang mendalam dengan para nasabah kami, baik bisnis maupun individual. Bersama dengan bertumbuhnya para nasabah kami, kami akan tumbuh bersama dengan Indonesia. Kami sepenuhnya menyadari harapan para pemegang saham yang terus meningkat dan industri yang semakin kompetitif. Bank Mandiri akan terus berupaya meningkatkan keunggulan bisnis dan operasionalnya, meningkatkan dan memperbaiki infrastruktur, memperkuat platform tata kelola, dan melakukan investasi sumber daya manusia untuk mewujudkan visi kami dalam lima tahun ke depan. Kami berharap bahwa menjadi lembaga keuangan yang dikagumi, kami akan dikenal karena kinerja kami yang berkesinambungan, SDM kami yang berkualitas serta kerja keras dan kerjasama kami.
MAKROEKONOMI DAN PERKEMBANGAN PERBANKAN INDONESIA DI TAHUN 2009
Sebagai bank terbesar di Indonesia, Bank Mandiri memainkan peran penting dalam ekonomi dan industri perbankan nasional. Krisis ekonomi global, yang awalnya berasal dari runtuhnya industri kepemilikan properti di Amerika Serikat, mulai mempengaruhi kepercayaan komunitas bisnis di Indonesia pada awal tahun 2009.
Efek dari krisis global tersebut secara khusus dirasakan dengan terjadinya
cepat di sektor perbankan pada awal tahun 2009. Otoritas moneter dan fiskal Indonesia bertindak cepat untuk mencegah dampak potensial akibat pengetatan likuiditas dan kekhawatiran para investor. Langkah-langkah kebijakan fiskal dan moneter yang terintegrasi segera diterapkan dan pada triwulan kedua tahun 2009 tampak tanda-tanda yang menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia masih dapat terus berkembang, meskipun pada tingkat yang menurun dibanding tahun sebelumnya.
Pada tahun 2009, ekonomi Indonesia dapat tetap tumbuh 4,5%, yang merupakan pertumbuhan ekonomi tertinggi ketiga di antara negara-negara di Asia Pasifik setelah China dan India. Inflasi terjaga pada 2,78%, tingkat terendah dalam 10 tahun terakhir. Cadangan devisa juga terus meningkat mencapai US$ 66,1 miliar dengan nilai tukar menguat ke Rp 9.395 per dollar AS pada akhir tahun 2009. Meskipun terjadi penurunan perdagangan internasional, Indonesia tetap mencatat surplus perdagangan sebesar US$ 19,68 miliar (Kementerian Perdagangan, Republik Indonesia) sepanjang tahun 2009. Seiring dengan kondisi ekonomi Indonesia yang relatif resilient terhadap perekonomian global, perbankan Indonesia juga cenderung memperlihatkan kinerja yang membaik di 2009 dibandingkan 2008. Laba dari sektor perbankan mencapai Rp 45,2 triliun pada tahun 2009, meningkat 47,7% dari Rp 30,6 triliun di tahun 2008. Total kredit tumbuh 9,96% pada tahun 2009, memang lebih rendah dibandingkan tahun 2008 sebesar 30% akibat ketidakpastian dampak dari krisis ekonomi global terhadap perekonomian
secara signifikan. Namun NPL sektor perbankan hanya naik tipis 3,3% pada tahun 2009, dari 3,2% di tahun 2008 dan keseluruhan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio atau CAR) industri cukup sehat di tingkat 16,8% pada tahun 2009.
Sektor perbankan Indonesia juga terus menarik bagi investor internasional terbukti dari beberapa pengambilalihan bank-bank Indonesia oleh pemilik asing. Industri ini juga siap untuk terus tumbuh seiring dengan perkembangan ekonomi Indonesia yang diperkirakan akan membaik pada tahun 2010.
BEBERAPA INISIATIF BARU UNTUK MEMBANGUN DAN MEMPERTAHANKAN PERTUMBUHAN
Sepanjang tahun 2009, Bank Mandiri telah melakukan sejumlah inisiatif penting sebagai bagian dari strategi ini, mencakup:
• Terus menciptakan momentum pertumbuhan untuk pertumbuhan kredit, fee based income, dana murah serta terus memperkuat neraca. • Memperkuat permodalan dan
melakukan pertumbuhan non-organik sebagai platform pertumbuhan masa datang.
• Mengembangkan jaringan dengan penambahan cabang-cabang, Commercial Banking Centers (CBC), dan Small Business Development Centers (SBDC), yang memberikan kontribusi pada peningkatan kualitas pelayanan dan kenyamanan para nasabah kami.
• Melanjutkan pembangunan budaya baru dan keterlibatan pegawai. • Melakukan upaya yang terus menerus
untuk menyelesaikan NPL, baik
penagihan, serta melakukan divestasi terhadap non core assets.
• Melakukan upaya aliansi antar unit bisnis dan anak perusahaan yang lebih erat.
• Menerapkan manajemen risiko yang sehat secara konsisten dan menyeluruh, dengan
mengembangkan metodologi best practices dalam mengukur risiko. Inisiatif-inisiatif ini, yang merupakan bagian dari tahap transformasi yang diluncurkan pada tahun 2005, menghasilkan berbagai prestasi baru bagi Bank Mandiri sepanjang tahun 2009. Laba bersih meningkat 2009 dari 2008. Dibandingkan laba yang dicatat Bank Mandiri pada tahun 2005, tingkat laba yang dicapai di tahun 2009 ini meningkat hampir 12 kali lipat. Prestasi lainnya di tahun 2009 adalah pengurangan signifikan kredit bermasalah ke level 2,8% dari 25,2% di tahun 2005. Kepercayaan para pemegang saham dan stakeholders terhadap kinerja Bank Mandiri semakin nyata dengan keberhasilan kami mencatat kapitalisasi pasar lebih dari Rp 110 triliun pada bulan Oktober 2009, yang merupakan tingkat kapitalisasi tertinggi yang berhasil dicapai sejak Bank Mandiri melakukan penawaran saham perdana (IPO) pada tahun 2003.
Bank Mandiri mengembangkan jaringan distribusi menjadi 1.095 cabang, 4.996 jaringan ATM, 20 unit mobile banking, dan 811 outlet micro banking di seluruh Indonesia. Pada tahun 2009, Bank Mandiri mempercepat pertumbuhan di segmen pembiayaan konsumen melalui akuisisi PT. Tunas Financindo Sarana, yang kemudian berganti nama menjadi Mandiri Tunas Finance.
Mandiri berhasil memperoleh Rp 3,5 triliun melalui penerbitan obligasi subordinasi, yang merupakan obligasi subordinasi terbesar dalam denominasi Rupiah. Keberhasilan program peningkatan modal tersebut memperkokoh keyakinan para investor terhadap tahapan transformasi Bank Mandiri.
Atas berbagai prestasi yang berhasil kami capai sepanjang tahun 2009, dengan bangga kami menerima sejumlah penghargaan penting dari berbagai lembaga domestik dan internasional penting seperti “The Best Bank in Service Excellence” untuk tahun kedua dan “The Best Bank in Corporate Governance” dari Corporate Governance Asia dan Institute for Corporate Governance.
Kini perkenankan kami memaparkan kinerja kami di beberapa bidang berikut:
1. Mempertahankan momentum pertumbuhan bisnis
Sejak awal tahun 2009, kami di Bank Mandiri telah melakukan antisipasi kemungkinan terburuk. Prudential Banking adalah salah satu inti dari strategi bisnis kami selama ini. Kami sengaja mengurangi ekspansi kredit kami sepanjang tahun 2009 dan kredit tumbuh hanya 13% dibandingkan 30% di tahun 2008. Di dalam portofolio kredit Corporate Banking, kami juga merevitalisasi portofolio kredit kami sehingga 65% rekening korporasi kami berada pada peringkat antara A dan AAA yang menunjukkan kualitas aset yang lebih baik pada tahun 2009, sementara 3 tahun sebelumnya hanya 51% dari nasabah kami yang berada dalam kategori ini. Sebagian besar
kemampuan mereka untuk bertahan ditengah-tengah ketidakpastian kondisi ekonomi global, dimana hal ini memberikan kontribusi pada kualitas aset yang lebih baik sepanjang tahun 2009.
Dalam kondisi yang masih penuh diliputi ketidakpastian, terutama di awal tahun 2009, kami juga bertindak cepat untuk terus memperkuat basis pendanaan kami. Pada tahun 2009, total dana pihak ketiga Bank Mandiri mencapai Rp 319,6 triliun, atau naik 10,5% dari Rp 289,1 triliun di tahun 2008 atau 59% dari Rp 206,3 triliun di tahun 2005. Berbagai upaya terus kami lakukan untuk menarik dana murah, upaya tersebut berhasil meningkatkan pertumbuhan rekening tabungan dan giro. Rekening tabungan dan giro masing-masing tumbuh sebesar 19,8% dan 5,2% pada tahun 2009, sementara deposito tumbuh 6,4%.
Micro and Retail Banking kami terus menunjukkan kemajuan signifikan di tahun 2009. Volume kredit untuk segmen Micro Banking tumbuh 44%, sementara volume kredit untuk usaha kecil dan menengah tumbuh 12,3%. Bisnis Commercal Banking kami berhasil meningkatkan perolehan kredit sebesar 17,3% pada tahun 2009. Bisnis perbankan syariah, yang ditawarkan melalui anak perusahaan kami, Bank Syariah Mandiri (BSM) juga berhasil meningkatkan aset dan jaringan distribusinya. Pada tahun 2009, aset BSM meningkat sebesar 29,1% menjadi Rp 22.037 miliar. BSM juga menambah 77 jaringan distribusi menjadi total 390 cabang sepanjang tahun 2009.
Kami juga meningkatkan pendapatan fee based hingga mencapai Rp 5,7
dari tahun 2008. Pendapatan fee based menyumbang 24,6% pada pendapatan operasional bank pada tahun 2009, meningkat dari 23,3% pendapatan operasional bank di tahun 2008. Pelaksanaan inisiatif “Outperform The Market” yang kami lakukan dengan terarah menghasilkan berbagai peningkatan signifikan terhadap kinerja mendasar kami. Laba bersih mencapai Rp 7,2 triliun pada tahun 2009, meningkat sebesar 34,7% dari tahun 2008 atau naik 82,4% dari tahun 2005. Hasil ini juga terlihat dari perbaikan Return on Equity (ROE) yang mencapai 22,07% pada tahun 2009 dibandingkan 18,06% di tahun 2008 atau 2,53% di tahun 2005.
Suatu kemajuan signifikan berhasil dicapai pada kredit bermasalah dimana Bank Mandiri berhasil mencapai tingkat 2,8% (gross), yang jauh lebih rendah daripada target NPL (gross) 4,7%. Program penagihan dan keberhasilan melaksanakan program-program restrukturisasi kredit memberikan kontribusi pada keberhasilan kami memperkecil tingkat NPL Bank Mandiri. Sementara jumlah NPL terus menurun, kami secara konservatif terus meningkatkan rasio cash coverage terhadap NPL menjadi sebesar 200,5% pada tahun 2009 dibandingkan 127,1% di tahun 2008 dan sudah sangat jauh diatas 44,0% di tahun 2005.
2. Pengembangan jaringan dan modernisasi channel
Salah satu faktor penting dalam pertumbuhan dana murah adalah perluasan jaringan distribusi kami. Pada tahun 2009, kami menambah 68 kantor cabang, 876 unit ATM, dan 6,121 unit EDC. Selain itu, kami terus melakukan
investasi untuk meningkatkan fitur-fitur bernilai tambah dan pembayaran lainnya atau saluran distribusi termasuk melalui SMS, internet, selular, dan Call Center 1400 kami.
Selain daripada pengembangan cabang-cabang, kami juga menambah 2 Commercial Banking Center (CBC) dan 4 CBC Floor. Mulai di tahun 2009 kami juga melebarkan network untuk segmen korporasi dengan membuka corporate floor di Medan dan Surabaya serta corporate desk di Bandung dan Palembang.
Pada tahun 2009 kami juga secara signifikan menambah 356 outlet micro yang terdiri dari 200 MBU dan 156 sales outlet. Hal yang menarik adalah bahwa kami membuka outlet micro yang tidak
lagi berada dalam satu lokasi cabang-cabang kami, sebagai platform bagi pengembangan micro banking di masa mendatang.
3. Memperkuat modal dan tumbuh non-organik
Inisiatif penting lainnya yang dilakukan adalah memperkuat modal kami melalui penerbitan pinjaman subordinasi denominasi Rupiah sebesar Rp 3,5 triliun pada tanggal 14 Desember 2009. Awalnya kami hanya menargetkan Rp 3 triliun, namun mengingat tingginya tingkat permintaan, kami kemudian menaikkan jumlah penawaran sebesar Rp 500 miliar. Penerbitan pinjaman subordinasi tersebut merupakan yang pertama sejak Bank Indonesia menerbitkan peraturan No. 10/15/
PBI/2008 tentang Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank Umum. Tingkat permintaan yang tinggi ini juga membuktikan kepercayaan para investor yang sangat kuat terhadap kinerja Bank Mandiri hingga saat ini dan strategi bisnis kami ke depan. Per akhir tahun 2009, tingkat CAR kami mencapai 15,43%, jauh di atas ketentuan minimum yang ditetapkan Bank Indonesia sebesar 8%. Struktur modal yang lebih kuat akan mendukung rencana ekspansi Bank Mandiri seiring dengan mulai dilaksanakannya tahap kedua transformasi mulai tahun 2010. Meskipun kami bertindak hati-hati untuk mengurangi potensi akibat krisis ekonomi global terhadap Bank Mandiri khususnya pada semester pertama tahun 2009, kami juga tetap awas
MENJADI LEMBAGA KEUANGAN YANG PALING DIKAGUMI DAN PROGRESIF DI INDONESIA
No. 1 Kapitaliasi Pasar terbesar di Indonesia tahun 2014
• Menghilangkan ‘silos’ untuk menyediakan solusi yang terintegrasi bagi nasabah dan program aliansi. • Memperbaharui infrastruktur penting (cabang, IT, operations, risk, PMS) agar dapat memberikan pengalaman nasabah terbaik. • Memperkuat kinerja sumber daya manusia, kerja sama dan inovasi. Memperkuat sektor Wholesale Transaction Banking • Solusi komprehensif pada transaksi dan pembiayaan. • Pendekatan hubungan secara menyeluruh sebagai lembaga terdepan di Indonesia.
Menjadi bank pilihan untuk retail deposit & payment • Mengembangkan solusi pembayaran yang inovatif. • Melayani transaksi retail payment secara unik untuk masing-masing segment.
Mencapai posisi #1 atau #2 pada segmen pembiayaan retail • Memperkuat posisi di pembiayaan pada segmen individu. • Membangun segmen micro. • Terdepan dalam Syariah di Indonesia
Pada tahun 2009, mengakuisisi Mandiri Tunas Finance untuk mengembangkan portofolio kami ke segmen kredit otomotif. Sektor otomotif adalah salah satu sektor pembiayaan konsumen yang tumbuh pesat di Indonesia. Akuisisi atas Mandiri Tunas Finance, yang mengoperasikan 32 cabang di seluruh nusantara, merupakan batu loncatan bagi bisnis pembiayaan konsumen Bank Mandiri di tahun 2009.
Kami juga mengawasi dengan ketat biaya-biaya overhead meskipun kami menikmati pertumbuhan yang kuat di tahun 2009. Rasio efisiensi biaya (cost efficiency ratio atau CER) kami tercatat sebesar 40,2% pada tahun 2009, di bawah rata-rata pesaing utama sebesar 43,36%. Meskipun kami menerapkan inisiatif pengawasan biaya yang ketat, kami terus melakukan investasi pada pegawai kami melalui berbagai pelatihan dan retensi bakat dan mempertahankan tingkat pengeluaran modal yang dibutuhkan untuk
memperkuat infrastruktur kami untuk terus tumbuh.
4. Memperkuat Sinergi Strategis dan Aliansi Antar Unit-Unit Bisnis Strategis
Penguatan sinergi dan aliansi antar unit bisnis sangatlah penting dalam pertumbuhan bisnis kami di tahun 2009. Sebagai bank terbesar di Indonesia, basis pelanggan kami yang kuat, bervariasi dan ekstensif merupakan platform alami untuk aliansi antar berbagai unit bisnis strategis yang kami miliki. Kami secara berkala melakukan survei untuk mengidentifikasi nasabah-nasabah potensial untuk aliansi tersebut, yang tentunya juga membantu meningkatkan pangsa pasar SBU yang berbeda.
tersebut juga melibatkan anak-anak perusahaan kami, termasuk Bank Syariah Mandiri, Mandiri Sekuritas, AXA Mandiri, Mandiri Manajemen Investasi, Bank Sinar Harapan Bali (BSHB) dan Mandiri Tunas Finance. Beberapa contoh sukses penerapan sinergi strategis dan aliansi tersebut antara lain peluncuran pembayaran e-card untuk para pelanggan Pertamina (perusahaan minyak dan gas negara terkemuka) dan Jasa Marga (operator jalan tol terkemuka di Indonesia). Layanan pelanggan bernilai tambah merupakan inti dari upaya sinergi strategis dan aliansi antar unit bisnis yang kami lakukan. Selama dua tahun berturut-turut, Bank Mandiri dianugerahi peringkat pertama dalam hal kualitas layanan oleh Marketing Research Indonesia (MRI).
5. Mengembangkan Manajemen Risiko sesuai Best Practice
Pada tahun 2009, inisiatif ekspansi bisnis kami juga dilakukan dengan memastikan pengelolaan, sistem dan prosedur manajemen risiko yang kami laksanakan selaras dengan international best practice. Selain mematuhi peraturan Bank Indonesia, sistem pasar, operasional, dan manajemen risiko kredit kami harus diselaraskan dengan pedoman Basel II. Kami terus meningkatkan rating dan sistem penilaian internal kami untuk mengukur kualitas aset yang kami miliki, termasuk portofolio kredit. Kami telah mengembangkan rating Kriteria Penerimaan Risiko (Risk Acceptance Criteria atau RAC) per industri. Sistem rating dan penilaian internal ketat tersebut berkontribusi pada peningkatan signifikan terhadap
pada tahun 2009.
Kami menerapkan Manajemen Risiko Perusahaan (Enterprise Risk Management atau ERM) sebagai bagian dari peningkatan perangkat dalam proses bisnis dan Manajemen Risiko Operasional (Operational Risk Management atau ORM) hingga 90% dari semua unit kerja di Bank Mandiri, mengkonsolidasikan manajemen risiko kantor-kantor cabang internasional dan anak-anak perusahaan kami, dan melakukan tinjauan setiap triwulan terhadap risiko operasional semua unit bisnis.
Kami juga mendirikan Risk Academy intern untuk memperluas pengetahuan dan keahlian pegawai kami dalam hal manajemen risiko.
6. Investasi Berkelanjutan pada Pegawai
Pegawai adalah aset utama Bank Mandiri dan kami menyadari kebutuhan untuk terus berinvestasi meningkatkan keterampilan dan pengetahuan mereka agar mampu memberikan pelayanan dan praktek terbaik di kelasnya. Selain memberikan panduan jelas perkembangan karir mereka, kami juga melakukan investasi melalui serangkaian program pelatihan yang ditujukan untuk mendapatkan pengetahuan baru dan memperkuat kemampuan kepemimpinan untuk lebih
meningkatkan kapasitas sumber daya kami dan mendorong keterlibatan. Kami juga mengembangkan berbagai Banking Academy internal selain program pengembangan pegawai Officer Development Program (ODP), Staf Development Program (SDP)
anggota direksi dan manajemen senior.
Pengembangan profesional
berkelanjutan sumber daya manusia yang kami laksanakan turut
berkontribusi pada pencapaian dan peningkatan kinerja bisnis kami dari tahun ke tahun dan kami terus melanjutkan fokus kami ini pada tahun 2010. Bank Mandiri berkomitmen untuk menyediakan lingkungan kerja yang dinamis untuk mendorong inovasi dan kerjasama tim guna memenuhi kebutuhan dan harapan semua nasabah kami di tahun 2010 dan seterusnya.
RENCANA TRANSFORMASI 2010-2014
Kami menyadari sepenuhnya persaingan industri perbankan di Indonesia akan semakin ketat di masa datang seiring dengan kebijakan pemerintah untuk terus membuka peluang investasi internasional. Hal ini akan menjadi sebuah tantangan, tapi ini merupakan tantangan yang kami yakin dapat kami atasi karena Bank Mandiri memiliki visi, strategi dan sumber daya untuk terus
mencapai kinerja yang lebih tinggi dan meraih berbagai prestasi baru dengan strategi tersebut.
Menyadari berbagai tantangan serta aspirasi untuk menjadi perwakilan Indonesia sebagai Top 3 di ASEAN di 2020 kami mencanangkan dimulainya tahap kedua transformasi Bank Mandiri (2010 – 2014) untuk menjadi lembaga keuangan Indonesia yang terpandang dan maju di Indonesia pada tahun 2014. Tujuan kami di Bank Mandiri dibagi ke dalam tiga bidang prioritas sebagai berikut:
terbaik di Indonesia, memfokuskan pada penerapan solusi pembayaran inovatif untuk meningkatkan pengalaman perbankan bagi para nasabah.
2. Untuk menjadi Wholesale Transaction Bank terbaik di Indonesia, memperkuat wholesale lending business kami dan mencapai lebih dari 30% dan 15-20% pangsa pasar untuk masing-masing corporate dan commercial banking.
3. Untuk menjadi pemain utama pembiayaan ritel di Indonesia, menjadi pemain nomor 1 (satu) di perbankan konsumen, salah satu pemain utama di micro banking dan pemain dominan di perbankan Syariah.
Dalam lima tahun mendatang kami berharap bahwa kami akan dapat terus secara berkesinambungan meningkatkan ROE sehingga mencapai 25% dalam kurun waktu lima tahun mendatang, ditengah persaingan serta ekspektasi nasabah yang terus meningkat. Dengan peningkatan ROE tersebut, kami akan dapat terus meningkatkan nilai kapitalisasi pasar kami sehingga dapat menembus Rp.225 triliun untuk menjadi Top 5 Bank dari sisi market kapitalisasi di tahun 2014 untuk kemudian menjadi Top 3 di tahun 2020 mendatang. Kami yakin kami akan dapat meraih prestasi-prestasi baru ini dalam lima tahun mendatang melalui penguatan sinergi strategis dan aliansi antar unit bisnis kami, penawaran produk, jasa dan solusi perbankan terbaru yang sesuai dengan kebutuhan nasabah kami yang jumlahnya besar dan beragam, investasi berkelanjutan
transformasi kami untuk menjadi lembaga keuangan Indonesia yang paling terpandang dan maju yang tentunya akan menjadi aset bagi Indonesia.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.
Agus Martowardojo Direktur Utama
perluasan jaringan distribusi kami, dan memperkuat manajemen risiko, audit internal serta sistem dan prosedur tata kelola kami yang akan mengurangi potensi risiko seiring pertumbuhan bank.
Untuk melaksanakan tahap selanjutnya dari strategi kami dan visi yang diperbaharui, kami telah:
1. Membangun organisasi baru untuk menyelaraskan dengan visi yang baru termasuk mendirikan unit-unit pengembangan jaringan mikro untuk mempercepat pengembangan outlet-outlet mikro kami, mendirikan direktorat baru untuk mengelola hubungan pendanaan kelembagaan, dan memberikan fokus yang lebih terarah untuk membangun berbagai saluran elektronik
2. Menetapkan 45 inisiatif spesifik dengan tujuan dan ruang lingkup yang jelas
3. Membangun tim implementasi yang berada di bawah pengawasan direktorat Change Management Office (CMO) yang terdiri dari SDM yang berasal dari berbagai unit bisnis lainnya.
Tahap pertama transformasi Bank Mandiri (2005-2009) telah menghasilkan sejumlah prestasi baru bagi bank, pemegang saham dan stakeholders. Kami sangat menghargai kepercayaan dan keyakinan para pemegang saham dan stakeholders terhadap Bank Mandiri. Kami tentunya terus mengharapkan dukungan anda
DIREKSI
1. Agus Martowardojo
Direktur Utama
2. I Wayan Agus Mertayasa
Wakil Direktur Utama
3. Zulkifli Zaini
Direktur Commercial Banking
4. Sasmita
Direktur Technology & Operations
5. Abdul Rachman
Direktur Special Asset Management
6. Sentot A. Sentausa
Direktur Risk Management
7. Bambang Setiawan
Direktur Corporate Secretary, Legal & Customer Care
8. Riswinandi
Direktur Corporate Banking
9. Thomas Arifin
Direktur Treasury & International Banking
10. Budi G. Sadikin
Direktur Micro & Retail Banking
11. Ogi Prastomiyono
Direktur Compliance & Human Capital EVP KOORDINATOR 12. Pahala N. Mansury EVP Koordinator Finance & Strategy Chief Financial Officer 13. haryanto T. Budiman
EVP Koordinator Change Management Office
14. Mansyur S. Nasution
EVP Koordinator Consumer Finance
15. Riyani T. Bondan