PEMANFAATAN ASAP CAIR DARI TEMPURUNG KELAPA
SEBAGAI BAHAN PENGAWET KAYU KARET
(Hevea brasiliensis Muell. Arg.)
Oleh:
AGNES NOVESIA NOLA
NIM. 130 500 036
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL HUTAN
JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA
SAMARINDA
PEMANFAATAN ASAP CAIR DARI TEMPURUNG KELAPA
SEBAGAI BAHAN PENGAWET KAYU KARET
(Hevea brasiliensis Muell. Arg.)
Oleh:
AGNES NOVESIA NOLA
NIM. 130 500 036
Karya Ilmiah Sebagai Salah Satu Syarat
Untuk Memperoleh Sebutan Ahli Madya pada Program Diploma III Politeknik Pertanian Negeri Samarinda
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI HASIL HUTAN
JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI SAMARINDA
SAMARINDA
HALAMAN PENGESAHAN
Judul Karya Ilmiah : Pemanfaatan Asap Cair dari Tempurung Kelapa Sebagai Bahan Pengawet Kayu Karet (Hevea brasiliensis
Muell.Arg.)
Nama : Agnes Novesia Nola
NIM : 130500036
Program Studi : Teknologi Hasil Hutan Jurusan : Teknologi Pertanian
Lulus pada
Pembimbing,
Ir. Abdul Kadir Yusran NIP. 19540710 198703 1 003
Penguji II,
Ir. Taman Alex, MP NIP. 19601212 198903 1 008 Penguji I,
M. Fikri Hernandi, S. Hut, MP NIP. 197 01127 199802 1 001
Mengetahui,
Ketua Jurusan Teknologi Pertanian
Hamka Nurkaya, S. TP. M, Sc NIP. 19760408 200812 1 002 Menyetujui,
Ketua Program Studi Teknologi Hasil Hutan
Eva Nurmarini, S. Hut. MP NIP. 19750808 199903 2 002
Penelitian ini dilatar belakangi oleh belum maksimalnya pengetahuan dan pemanfaatan kayu karet sebagai bahan baku dalam industri pengolahan kayu. Kayu karet termasuk kayu alternatif yang dapat dimanfaatkan sekarang ini, namun memiliki keawetan yang kurang baik, sehingga diperlukan suatu penelitian dengan melakukan pengawetan kayu karet.
Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui konsentrasi asap cair yang efektifitas paling baik antara konsentrasi 20%, 30%, 40% serta perendaman 1 minggu pengawetan kayu karet yang diumpankan kesarang rayap selama 5 bulan.
Penelitian ini menggunakan perlakuan pengawetan dengan tiga macam perlaukan yaitu kayu karet direndam dengan konsentrasi yang berbeda yaitu konsentrasi 20%, konsentrasi 30%, konsentrasi 40%, ditambah dengan kontrol tanpa perlakuan konsentrasi 0% dengan bahan pengawet alami asap cair dari tempurung kelapa, dan contoh uji tanpa perlaukan. Masing-masing perlakuan sebanyak 10 sampel disetiap contoh uji jumlah seluruh sampel 40. Contoh uji berukuran 45,7 cm x 1,9 cm x 1,9 cm metode pengujian digunakan standar
American Society for Testing and Material (ASTM) D 1758-96 . Parameter yang
dilihat adalah retensi, kehilangan berat.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa ternyata semakin tinggi konsentrasi bahan pengawet asap cair yang diberikan pada pengawetan kayu karet, maka semakin tinggi nilai retensinya, demikian pula semakin lama perendaman, maka semakin tinggi pula nilai retensi. Nilai retensi dengan konsentrasi 20%, 30%, dan 40% berturut-turut sebesar 0,0263 g/cm3, 0,0441
g/cm3, 0, 0550 g/cm3. Ketahanan terhadap
perusak kayu pada konsentrasi 20% pada tingkat kepercayaan 0,95 menjunjukkan
terdapat perbeda yang signifikan, sedangkan 30% dan 40% menunjukkan perbed aan yang sangat signifikan dengan tingkat kepercayaan 0,99. .
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan, bahwa konsentrasi yang paling efektif penanggulangan serangan perusak kayu adalah konsentrasi 40%.
anak pertama dari dua bersaudara pasangan ibu Margaretha Trisina dan Bapak Caverius Silpinus. Jenjang pendidikan dasar formalnya dimulai di SDN 007 Bangun Sari, Linggang Amer, Kecamatan Linggang Bigung Kabupaten Kutai Barat lulus pada tahun 2007.
Kemudian melanjutkan pendidikan di SMPN Negeri 5 Sendawar dan lulus tahun 2010. Selanjutnya pada tahun yang sama melanjutkan pendidikan di SMK Sinar Abadi Melak lulus pada tahun 2013.
Pendidikan tinggi dimulai pada tahun 2013 di Politeknik Pertanian Negeri Samarinda, Jurusan Teknologi Pertanian, Program Studi Teknologi Hasil Hutan.
Pada tanggal 07 Maret 2016 sampai 03 Mei 2016 mengikuti program Praktek Kerja Lapang selama dua bulan di KPH Kedu Selatan Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah di Purworejo. Sebagai syarat memperoleh predikat Ahli Madya Kehutanan, penulis mengadakan penelitian dengan judul Pemanfaatan asap cair dari tempurung kelapa sebagai bahan pengawet kayu karet (Hevea
brasiliensis Muell.Arg.) dibawah bimbingan Ir. Abdul Kadir Yusran.
Pemanfaatan Asap Cair dari Tempurung Kelapa sebagai bahan Pengawet Kayu Karet (Hevea
brasiliensis Muell.Arg.) sebagai salah satu syarat untuk meraih gelar Ahli Madya
di Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.
Selama proses penyelesaian penulisan karya ilmiah ini penulis telah mendapatkan banyak bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada :
1. Bapak Ir. Abdul Kadir Yusran, selaku dosen pembimbing
2. Bapak Ir. Yusdiansyah, MP, selaku Kepala Laboratorium Rekayasa Pengolahan Kayu.
3. Bapak Ir. M.Fikri Hernandi, S.Hut. MP selaku dosen penguji I dan bapak Ir. Taman Alex, MP selaku dosen Penguji II
4. Ibu Eva Nurmarini, S.Hut. MP, selaku Ketua Program Studi Teknologi Hasil Hutan
5. Bapak Hamka, S.TP, M.Sc, selaku Ketua Jurusan Teknologi Pertanian 6. Bapak Ir. H. Hasanudin, MP, selaku Direktur Politeknik Pertanian Negeri
Samarinda
7. Para staf pengajar, a dministrasi, dan PLP di Program Studi Teknologi Hasil Hutan
8. Ayah Caverius Silpinus dan Ibu Margaretha Trisina, Maria Octasia Amel, Cici Apriani, Silas Sinar, Ester, Christin Yuki, Sevensi Susanti dan seluruh anggota keluarga terima kasih yang tak terhingga atas semua dukungan doa, moril dan material yang sangat berharga bagi penulis.
9. Abelina Bianco, Dian Octi Astrini, Ismail, Kasman, M.Said Umar, Mida Dahlia, Vinsensia Bernadeta yang telah membantu dalam pembuatan contoh uji dan rekan-rekan mahasiswa angkatan 2013 serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
10. Hasan Tukan yang selalu memberikan semangat dan dukungan agar dapat menyelesaikan karya ilmiah dengan tepat waktu.
Amin.
Penyusun
Agnes Novesia Nola
ABSTRAK ... ii
RIWAYAT HIDUP ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL ... vi
DAFTAR GAMBAR ... vii
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 6
A. Keawetan Kayu ... 6
B. Tujuan dan Manfaat Pengawetan ... 8
C. Pengertian dan Pembuatan Asap C air ... 11
D. Pemanfaatan Asap Cair ... 12
E. Analisis Komposisi Kimia Asap Cair ... 13
F. Keterangan Umum Jenis Kayu Karet ... 14
BAB III. METODE PENELITIAN ... 17
A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 17
B. Alat dan Bahan Penelitian ... 18
C. Prosedur Penelitian ... 19
D. Analisis Data ... 24
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 28
A. Hasil ... 28
B. Pembahasan ... 32
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 35
A. Kesimpulan ... 35
B. Saran ... 35
DAFTAR PUSTAKA ... 36
2. Komposisi bahan kimia asap cair dari be 13
3. Jadwal kegiatan pelaksanaa 17
4. Nilai rata-rata perhitungan rete 28 5. Hasil perhitungan rata- 30
6. Nilai-nilai dalam Anova dari nilai kehilangan berat kay 31
Nomor Lampiran Halaman 7. Retensi asap cair pada kayu karet dengan konsentrasi 20% ... 39
8. Retensi asap cair pada kayu karet dengan konsentrasi 30% ... 40
9. Retensi asap cair pada kayu karet dengan konsentrasi 40% ... 41
10. Persentase kehilangan berat contoh uji ... 42
2. Pengambilan sampel contoh uji ... 20
3. Pembuatan dan pemotongan contoh uji ... 21
4. Pembuatan larutan bahan pengawet asap cair ... 22
5. Proses perendaman contoh uji dalam bahan pengawet ... 23
6. ... 24
7. Terserang jamur pada semua contoh uji ... 29
8. Kehilangan berat contoh uji akibat terserang perusak kayu ... 31
BAB I PENDAHULUAN
Kebutuhan akan kayu terus meningkat namun ketersediaan kayu semakin merosot yang diakibatkan oleh cara pengelolaan dan kegiatan eksploitasi hasil hutan yang tidak menerapkan asas kelestarian. Oleh karena itu perlu dimanfaatkan jenis-jenis kayu yang selama ini belum digunakan secara maksimal dengan sebaik-baiknya.
Kayu telah menjadi bagian dari kehidupan manusia karena kayu telah digunakan sebagai alat perlengkapan sehari-hari. Selain itu, beberapa karakteristik khas kayu yang tidak dijumpai pada bahan lain yaitu tersedia hampir diseluruh dunia, mudah diperoleh dalam berbagai bentuk dan ukuran, relatif mudah pekerjaannya, penampilan sangat dekoratif dan alami serta relatif ringan.
Kenyataan yang ada menunjukkan, bahwa tidak semua jenis kayu mempunyai tingkat keawetan yang sama. Indonesia sebagai salah satu Nega ra penghasil kayu memiliki kira-kira 4.000 jenis kayu. Dari jumlah tersebut, 15-20% diantaranya memiliki sifat keawetan alami yang tinggi, sedangkan yang lainnya 80-85% terdiri dari jenis-jenis dengan keawetan alami yang rendah dan kurang menguntungkan bagi pemakainya (Duljapar, 1996).
Pada saat ini jenis kayu dengan keawetan tinggi semakin berkurang, sehingga perlu dilakukan usaha untuk meningkatkan keawetan jenis-jenis kayu yang bermutu rendah yang penggunaannya masih sangat terbatas. Salah satu jenis kayu yang tingkat keawetannya rendah adalah kayu karet (Hevea
brasiliensis Muell.Arg.).
Secara umum tanaman karet memiliki peranan yang besar untuk dibudidayakan baik oleh masyarakat atau industri sebagai penghasil getah yang
dapat diperjual belikan. Anonim (1994), menyatakan kayu karet berwarna putih atau krem pucat kadang kadang sedikit kemerah merahan bila baru saja ditebang. Kondisi musim menyebabkan perubahan warna kuning terang coklat terang, tidak ada batas pemisahan antara kayu gubal dan kayu terasnya.
Tinggi kayu karet biasanya kurang lebih 18 meter, dengan diame ter batang biasanya berkisar 25-45 cm (Setyawijaya, 1993).
Penggunaan kayu karet sebelumnya hanya sebagai kayu bakar atau tidak dimanfaatkan, padahal jenis kayu ini memiliki kerapatan sedang dan warnanya yang cerah mempunyai yang halus sehingga digunakan untuk bahan meubel atau furniture. Akan tetapi kayu karet ini mempunyai kelemahan yaitu mudah terserang jamur biru, sehingga dalam pemanfaatan meubel atau furniture akan mengurangi nilai keindahan dari produk yang dihasilkan.
Secara alami jenis kayu memiliki tingkat ketahanan terhadap perusak yang berbeda-beda. Untuk dapat meningkatkan keawetannya diperlukan penanganan secara khusus yaitu melalui proses pengawetan. Pada umumnya pengawetan menggunakan bahan kimia yang salah satu bahan pengawet yang tdk mengandung bahan kimia buatan yang diharapkan dapat untuk mengawetkan kayu adalah asap cair. Maka dari itu perlu adanya bahan pengawet yang ramah lingkungan dan tidak berbahaya bagi manusia.
Dumanauw (2001), mengemukakan macam-macam bahan pengawet kayu menurut bahan pelarut yang digunakan yaitu:
a. Bahan pengawet yang larut dalam air, menggunakan air biasa sebagai bahan pengencer;
b. Bahan pelarut yang laut dalam minyak, menggunakan minyak sebagai bahan pengencer;
c. Bahan pengawet yang berupa minyak, tapi masih biasa diencerkan dengan bermacam-macam minyak.
Asap cair salah satu bahan pengawet yang tidak mengandung bahan yang beracun dan membahayakan manusia, suatu hasil destilasi atau pengembunan dari bahan-bahan yang banyak mengandung karbon serta senyawa-senyawa lainnya. Bahan baku yang banyak digunakan adalah kayu, bongkol kelapa sawit, ampas hasil penngergajian kayu, tempurung kelapa dan lain-lain (Gustan Pari, 2008). Asap cair adalah suatu zat dari hasil pembakaran terkontrol dari potongan-potongan kayu atau serbuk-serbuk gergaji sehingga menghasilkan asap yang mengembun menjadi cairan dan menangkap asap yang belum mencair didalam larutan atau cairan tersebut.
Selanjutnya dikatakan bahwa pengertian lain asap cair adalah hasil pendinginan dan pencairan dari bahan baku yang dibakar dalam tabung tertutup. Asap yang semula merupakan partikel padat didinginkan kemudian menjadi cair itu disebut dengan nama asap cair.
Asap cair juga salah satu bahan alternative pengawet yang pada saat ini banyak digunakan di Pulau Jawa. Asap cair ini sudah familiar diimplementasikan dalam mengawetkan bahan makanan seperti mie, bakso, ikan, daging dan buah buahan tentunya dengan proses destilasi yang sempurna (Sugiono, 2006).
Asap cair dapat digunakan sebagai bahan pengawet karena mengandung senyawa anti bakteri sehingga dapat digunakan untuk menghilangkan bau pada ikan dan daging. Selain itu asap cair juga mengandung asam asetat dan fenol sehingga dapat digunakan untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme (Hasbullah, 2006).
Bahan dasar untuk pembuatan asap cair dapat berasal dari berbagai macam bahan baku, seperti kayu, tempurung kelapa dan lain-lain. Persyaratan dari bahan dasar itu tersusun atas selulosa, hemiselulosa dan lignin (Gilbert dan Knowlew 1975 dalam Oramahi, 2007).
Tempurung kelapa salah satu bahan baku dapat digunakan sebagai bahan dasar pembuatan asap cair untuk menjadi bahan campuran sebagai pengawet. Selanjutnya dijelaskan bahwa, asap cair dari tempurung kelapa mengandung senyawa asam fenolat dan karbonil (Gustan Pari, 2007).
Penelitian tempurung kelapa dipilih untuk bahan asap cair sebagai pengawet karena keberadaannya sangat berlimpah. Tempurung kelapa dibuang begitu saja oleh petani kelapa bahkan karena melimpahnya banyak yang dibuang begitu dan tidak dimanfaatkan sehingga menjadi sampah dan kadang dibakar saja hingga menimbulkan polusi udara. Tempurung kelapa ini banyak mengandung bahan ekstraktif dan kebanyakan tempurung ini hanya digunakan untuk arang saja oleh masyarakat dan belum termanfaatkan secara maksimal.
Pengawetan pada kayu adalah perlakuan terhadap kayu dengan bahan-bahan kimia alami untuk mencegah dari serangan jamur, bakteri dan perusak kayu lainnya (Hunt dan Garratt, 1986). Selanjutnya dijelaskan bahwa, pengawetan kayu bertujuan untuk memperpanjang masa pemakaian kayu, dengan demikian dapat mengurangi biaya pemeliharaan kayu dan menghindari kerusakan yang terlalu sering terjadi dalam kontruksi ataupun produk furniture dan meningkatkan harga jualnya.
Upaya pengawetan kayu sebenarnya sudah lama dilaksanakan, namun, dalam perjalanannya banyak menghadapi hambatan dan kendala sehingga industri pengawetan kayu yang ada baik berskala usaha kecil, menengah, dan
besar tidak berkembang sebagai mana yang diharapkan. Kendala- kendala tersebut meliputi biaya pengawetan yang relatif tinggi dan tidak terjangkau oleh daya beli masyarakat, kebijakan dan perundangan yang ada belum mendukung berkembangnya penggunaan kayu yang diawetkan sehingga industri -industri pengawetan kayu tidak berkembang bahkan banyak yang bangkrut.
Keawetan kayu adalah daya tahan kayu terhadap faktor-faktor perusak kayu yang datang dari luar yang disebabkan oleh serangan jamur, serangga dan binatang (Hunt dan Garrat, 1986). Menurut Tobing (1977), keawetan kayu diartikan sebagai daya tahan kayu terhadap serangan faktor perusak kayu dari golongan biologis.
Berdasarkan hal tersebut diatas, peneliti tertarik untuk mengembangkan pemanfaatan asap cair dari bahan tempurung kelapa sebagai bahan pengawet kayu karet sehingga nantinya dapat digunakan untuk kepentingan masyarakat.
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui konsentrasi asap cair yang efektifitasnya paling baik antara konsentrasi 20%, 30% dan 40% pada kayu karet (Hevea brasiliensis) dengan lamanya perendaman selama satu minggu.
Dari hasil penelitian asap cair atau pengawet alami ini diharapkan nantinya dapat diterapkan oleh masyarakat yang ingin mengawetkan kayu karet (Hevea brasiliensis), agar masyarakat tidak lagi menggunakan bahan kimia dalam pengawetan kayu di samping karena mahal tetapi juga berbahaya bagi kesehatan manusia serta tidak ramah lingkungan .
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Keawetan Kayu
Keawetan kayu merupakan daya tahan suatu jenis kayu terhadap berbagai faktor perusak kayu seperti faktor biologis yaitu jamur, serangga dan cacing laut. Keawetan kayu ditentukan oleh genetik kayu tersebut seperti berat jenis, kandungan zat ekstraktif, dan umur pohon (Weiss, 1961).
Menurut Martawijaya (1981), keawetan alami kayu adalah suatu ketahanan secara alamiah terhadap serangan jamur dan serangga dalam lingkungan yang sesuai bagi organisme yang bersangkutan. Keawetan alami kayu terutama dipengaruhi oleh kadar ekstraktifnya, meskipun tidak semua zat ekstraktif beracun bagi organisme perusak kayu.
Menurut Anonim (1997), umur pohon memiliki hubungan yang positif dengan keawetan kayu. Jika pohon ditebang dalam umur yang tua, pada umumnya lebih awet dibandingkan dengan pohon yang ditebang dalam umur yang muda, karena semakin lama pohon tersebut hidup maka semakin banyak zat ekstraktif yang dibentuk. Penggolongan kelas awet kayu didasarkan pada perbedaan keawetan kayu terasnya, karena bagaimanapun awetnya suatu jenis kayu, bagian gubalnya selalu memiliki keawetan yang lebih rendah. Hal ini disebabkan pada kayu teras terdapat zat-zat ekstraktif seperti fenol, tanin, alkaloid, saponin, dan damar. Zat-zat tersebut mempunyai daya racun terhadap organisme perusak kayu (Wistara et al., 2002).
Beberapa jenis kayu tertentu harus diawetkan untuk mencegah serangan serangga/organisme maupun jamur perusak kayu. Yang dimaksudkan dengan pengawetan yaitu memasukkan bahan kimia ke dalam (pori -pori) kayu sehingga menembus permukaan kayu setebal beberapa mm ke dalam daging kayu.
Di Indonesia penggolongan keawetan kayu dibagi menjadi lima kelas awet yaitu kelas I (yang paling awet) sampai dengan kelas V (yang paling tidak awet). Penggolongan keawetan kayu didasarkan pada umur pakai kayu dalam kondisi penggunaan yang selalu berhubun gan dengan tanah lembab dimana terdapat koloni rayap (Tabel 1).
Tabel 1. Penggolongan kelas awet kayu Kelas Awet Umur Pakai (Tahun)
I > 8 II 5-8 III 3-5 IV 1-3 V < 1 Sumber: Nandika et al .,1996
Penggolongan kelas awet kayu ini hanya berlaku untuk dataran rendah tropik dan tidak termasuk ketahanan terhadap organisme penggerek di laut (Nandika et al., 1996).
Kayu-kayu yang telah diawetkan akan tahan terhadap serangan serangga perusak dan jamur kayu walaupun kayu diletakkan diluar ruangan.
Tobing (1977), menyatakan bahwa untuk mengetahui sifat keawetan kay u oleh faktor perusak biologis dapat dilakukan dengan dua cara pengujian, yaitu: a. Uji kuburan (Graveyard Test)
Dalam pemgujian menggunakan cara ini, kayu dalam ukuran tertentu ditanam dilapangan dan diperiksa dalam jangka waktu tertentu, untuk menentukan masa pakainya. Kelemahan dari cara ini adalah waktu pengujian yang sangat panjang menyulitkan pengamatan, lapangan pengujian harus selalu dirawat agar tidak menjadi semak-semak, serta sulit menetapkan apakah kayu tersebut rusak oleh janur atau oleh rayap bila kedua factor tersebut terdapat bersamaan dilapangan.
b. Uji Laboratorium (Laboratory Test)
Pengujian dengan menggunakan cara ini memerlukan waktu lebih pendek dan umur pakai kayu ditentukan dari besarnya kehilangan berat contoh uji kayunya. Cara ini dilakukan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan cara kuburan (graveyard test), tetapi cara ini juga masih memiliki kekurangan yaitu hanya jenis-jenis organisme perusak kayu tertentu yang dapat dibiakkan di laboratorium dan sulit mengatur kondisi yang sesuai dengan kondisi alam sebenarnya.
B. Tujan dan Manfaat Pengawetan
Pengawetan pada kayu adalah perlakuan terhadap kayu dengan bahan-bahan kimia untuk mencegah dari serangan jamur, bakteri dan perusak kayu lainnya (Hunt dan Garratt, 1986). Selanjutnya dijelaskan bahwa, pengawetan kayu bertujuan untuk memperpanjang masa pemakaian kayu, dengan demikian dapat mengurangi biaya pemeliharaan kayu dan menghindari kerusakan yang terlalu sering terjadi dalam kontruksi ataupun produk furniture.
Duljapar (1996), menyebutkan bahan pengawet kayu yang baik digunakan secara komersial, harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: 1. Memiliki daya penetrasi yang cukup tinggi, agar mendapatkan proteksi yang
tinggi bila kayu yang diawetkan pecah atau retak maka pengawetan menjadi tidak efektif.
2. Memiliki daya racun ampuh, bersifat racun terhadap organisme perusak kayu.
3. Bersifat permanen,bahan pengawet tidak mudah tercuci oleh air atau tidak mudah menguap. Sehingga diperoleh kayu dengan umur pakai sampai puluhan tahun.
4. Aman dipakai, bahan pengawet tidak menimbulkan resiko.
5. Tidak bersifat korosif terhadap logam, merupakan sifat yang dapat merusak logam pada alat pengawet maupun kayu.
6. Bersih dalam pemakaian, bahan pengawet yang dipakai tidak berwarna, tidak berbau, tidak mencemari bahan makanan dan lingkungan.
7. Tidak mengurangi sifat baik kayu. 8. Tidak mudah terbakar.
9. Mudah diperoleh dengan harga yang murah.
Menurut Dumanauw (2001), ada beberapa beberapa rendaman antara lain: rendaman panas, rendaman dingin dan rendaman panas dingin yang biasanya dilakukan dalam bak dari logam.
Dumanauw (1982) menjelaskan bahwa, pengawetan kayu bertujuan untuk meningkatkan keawetan kayu yang pada mulanya memiliki umur pemakaian yang tidak lama menjadi lebih lama, disamping itu dapat pula meningkatkan penggunaan jenis jenis kayu yang berkelas awet rendah yang sebelumnya belum pernah digunakan, mengingat Indonesia memiliki potensi hutan dengan jenis kayunya yang beraneka ragam.
Meulenhoff (1971) menyatakan bahwa tujuan pengawetan kayu adalah sebagai berikut:
1. Dapat mengurangi biaya pemeliharaan kayu untuk digunakan sebag ai bahan bangunan penting seperti jembatan, tiang-tiang dermaga, bantalan kereta api dan sebagainya.
2. Untuk mencegah serangan jamur pada kayu terutama di daerah yang lembab udaranya.
3. Supaya kayu yang khusus untuk bangunan dan furniture tahan terhadap serangan rayap.
4. Supaya kayu yang dipakai dalam kondisi yang memudahkan pembusukan dapat tahan lama umur pakainya, terutama jenis kayu yang keawetannya rendah.
Yoesoef (1977), mengemukakan bahwa, manfaat dari pengawetan kayu adalah masa pakai kayu dapt diperpanjang 2-3 kali. Dengan perpanjangan masa pakai ini pihak pemakai kayu akan memperoleh keuntungan antara lain:
a. Biaya penyusutan setiap tahun nya dapat berkurang.
b. Pemakaian kayu tidak perlu sering melakukan penggantian penggantian bagian bangunan atau perabot rumah tangga yang terbuat dari kayu.
Selanjutnya dikatakan bahwa, dengan usaha pengawetan,umur pakai kayu dapat diperpanjang dan menghindari pergantian terlalu sering baik pada kontruksi, semi permanen atau perabot rumah tangga secara ekonomi dapat menghemat biaya dan tenaga.
C. Pengertian dan Pembuatan Asap Cair
Asap cair merupakan suatu campuran larutan dari dispersi koloid asap kayu dalam air, yang dibuat dengan mengkondensasikan asap dari hasil pembakaran kayu tersebut. Oramahi (2007), mendefinisikan bahwa asap cair merupakan suspensi dari partikel padat dan cair dalam medium gas. Selanjutnya dijelaskan pula bahwa, asap cair juga merupakan sistem kompleks yang terdiri dari fase terdispersi cairan (partikel dalam asap mempunyai ukuran tertentu dan medium pendispersi gas (uap gas).
Pembuatan bahan asap cair dimulai dengan memasukkan tempurung kelapa ke dalam kiln pembuatan arang dengan susunan secara acak dan diberi
lubang rongga untuk memudahkan pembakaran, setelah itu diberi sedikit minyak tanah untuk memancing agar api dapat menyala, kemudian ditutup lubang atas pada kiln agar asap dapat tertampung dan terkondensasi oleh alat pembuat asap cair tersebut sehingga terjadi perubahan asap menjadi cair. Yang perlu diperhatikan dalam pembuatan asap cair ini adalah diusahakan pembakaran pada kiln tidak terjadi nyala api yang besar tetapi diusahakan hanya bara saja yang ada, dan yang paling penting mempertahankan jumlah oksigen yang ada pada kiln agar tidak terjadi nyala api yang berlebihan. Hal ini dimaksudkan agar produksi asap cairnya dapat meningkat (Gustan Pari, 2008).
D. Pemanfaatan Asap Cair
Para peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB), sedang mengkaji kemungkinan penggunaan asap cair dari pembakaran tempurung kelapa, sebagai disinfektan. Bahan ini disebut-sebut memiliki potensi untuk menggantikan formalin sebagai pengawet (Akhirudin, 2006). Selanjutnya Hasbullah (2006), mengaplikasikan dalam penanganan pascapanen hortikultura sebagai disinfektan dalam prosedur karantina produk ekspor, sedangkan Dadang (2006 ), mengkaji distilat asap sebagai insektisida pada sayuran. Dijelaskan bahwa, asap cair tempurung kelapa mengandung lebih dari 400 komponen dan memiliki fungsi sebagai penghambat perkembangan bakteri yang cukup aman sebagai pengawet alami.
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengatakan bahwa, asap cair (liquid smoke) yang baru-baru ini diperkenalkan sebagai bahan pengawet pangan alternatif pengganti formalin dinyatakan aman bagi kesehatan (Anonim, 2006). Ikan yang direndam selama 10-15 menit dalam campuran 25% asap cair dan 75% air bisa awet selama 25 hari untuk ikan bandeng sebanyak
1000 ekor (Bambang, 2006). Selanjutnya dijelaskan bahwa asap cair ini bisa juga digunakan untuk pengawetan makanan basah seperti tahu, namun konsentrasinya lebih rendah (lebih kurang 5%), beberapa wilayah yang telah menerapkan asap cair ini di antaranya adalah Jogjakarta, Gorontalo, Sumba dan Tabanan yang bekerja sama dengan Dekopin.
E. Analisis Komposisi Kimia Asap C air
Komposisi kimia asap cair yaitu terdiri dari asam asetat, Taraxaasterol,asam propanoat, lupenol dan alcohol kemudian dianalisis dengan Gas Chromatography-MassSpectrometry (GC-MS) dilaksanakan di Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan, Bogor. Komposisi asap cair dari beberapa jenis bahan baku dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 2. Komposisi bahan kimia asap cair dari beberapa jenis bahan baku: Jenis Bahan Fenol
(%) Karbonil (%) Keasaman (%) Pencoklatan (%) Kayu Jati 70 13,58 7,21 2,16 Kayu Lamtoro 10 10,32 6,21 0,96 Tempurung Kelapa 13 13,28 11,39 1.18 Kayu Mahoni 16 15,23 6,26 2,11 Kayu Kamper 20 8,56 4,27 0,55 Kayu Bengkirai 93 12,31 5,55 0,84 Kayu Kruing 41 8,72 5,21 0,64 Glugu 16 12,94 6,61 1 Sumber : Pari, 2007
Penelitian asap cair tempurung kelapa yang terletak di daerah lingkar kampus IPB Dermaga Bogor, diperoleh data bahwa industri tersebut mampu mengolah 4-5 kwintal arang asap cair atau sekitar 10-12,5 ton per bulan untuk memenuhi permintaan dari pabrik pengecoran besi (Hasbullah, 2006).
F. Keterangan Umum Jenis Kayu Karet (Hevea Brasiliensis)
Di Indonesia, Jenis kayu karet ( Hevea brasiliensis) merupakan salah satu hasil pertanian terkemuka karena banyak menunjang perekonomian negara.
Dalam dunia tumbuhan tanaman karet tersusun dalam sistematika sebagai berikut (Anonim, 1998):
Divisi : Spermatophyta Subdivisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledonae Ordo : Euphorbiales Famili : Euphorbiaceae Genus : Hevea
Species : Hevea brasiliensis
Daerah penyebarannya di Indonesia sangat luas terutama di Jawa, Sumatera dan Kalimantan (Barly 1998 dan Setyamidjaja, 1993).
Saat ini di masyarakat lokal, jenis kayu karet hanya digunakan untuk kayu bakar saja padahal dapat juga digunakan untuk keperluan rumah tangga, misalnya untuk keperluan perabot rumah tangga atau furniture dengan cara diawetkan. Saat ini dengan menipisnya bahan baku kayu sudah seharusnya masyarakat mulai memanfaatkan kayu karet untuk berbagai macam kerajinan maka dari itu kayu karet harus diawetkan agar menambah masa pakai dan keawetan kayu karet. Jenis karet ini termasuk pada kelas kekuatan yang menengah tetapi rentan terhadap serangan jamur dan serangan rayap.
Karet merupakan pohon yang tumbuh tinggi dan berbatang cukup besar. Batang tanaman mengandung getah yang dinamakan lateks. Daun karet berwarna hijau terdiri dari tangkai daun, panjang tangkai daun utama 3-20 cm.
Panjang tangkai anak daun 2-10 cm dan ujungnya bergetah. Biasanya ada tiga anak daun yang terdapat pada sehelai daun karet anak daun berbentuk eliptis, memanjang dengan ujung meruncing. Biji karet terdapat dalam setiap
ruang buah. Jumlah biji biasanya ada tiga kadang enam sesuai dengan jumlah ruang. Akar tanaman karet merupakan akar tunggang, akar tersebut mampu menopang batang tanaman yang tumbuh tinggi dan besar (Anwar, 2001).
Anonim (1994), menyatakan kayu karet berwarna putih atau krem pucat kadang-kadang sedikit kemerah-merahan bila baru saja ditebang. Kondisi musim menyebabkan perubahan warna kuning terang coklat terang, tidak ada batas pemisahan antara kayu gubal dan kayu terasnya.
Tinggi kayu karet biasanya kurang lebih 18 meter, dengan diameter batang biasanya berkisar 25-45 cm (Setyawijaya, 1993).
Selain itu Burgess (1996), menyatakan kayu karet memiliki bau asam, agak lunak, mudah dikerjakan terut ama dibelah, dapat digergaji tanpa menimbulkan kesulitan dan mudah diserut sampai licin, tetapi mempunyai kecenderungan untuk pecah jika dipaku.
Barly (1988), mengemukakan bahwa, karakteristik kayu karet berwarna putih atau krem pucat kadang-kadang sedikit kemerah-merahan bila baru ditebang akibatnya terjadi oksidasi enzimatik dan senyawa phenol yang terdapat dalam sel-sel kayu yang berlangsung selama kayu masih basah tidak memiliki batas pemisah antara kayu gubal dan kayu terasnya. Pada waktu basah kayu karet mudah sekali diserang bubuk kayu basah dan jamur biru (blue stain) kecuali jika kayu segera dikerjakan (digergaji, dikeringkan atau dicelup dalam larutan obat). Bekas sadapan seringkali juga menunjukkan adanya pelapukan (Martawijaya, 1981).
Anonim 1998, Tanaman karet merupakan pohon yang tumbuh tinggi dan berbatang cukup besar. Tinggi pohon dewasa mencapai 15-25 meter, batang tanaman biasanya tumbuh lurus dan memiliki percabangan yang tinggi di atas.
Di beberapa kebun karet ada kecondongan arah tumbuh tanamannya agak miring ke arah Utara. Batang tanaman ini mengandu ng getah yang dikenal dengan nama lateks. Selanjutnya dijelaskan bahwa daun karet terdiri dari tangkai daun utama dan tangkai anak daun. Panjang tangkai daun utama 3-20 cm. Panjang tangkai anak daun 3-10 cm dan pada ujungnya terdapat kelenjar. Biasanya ada 3 anak daun yang terdapat pada sehelai daun karet. Anak daun berbentuk eliptis, memanjang dengan ujung meruncing. Tepinya rata dan gundul, tidak tajam.
Bunga karet terdiri dari bunga jantan dan betina yang terdapat dalam malai payung tambahan yang jarang. Pangkal tenda bunga berbentuk lonceng. Pada ujungnya terdapat lima taju yang sempit. Panjang tenda bunga 4-8 mm. Bunga betina berambut vilt. Ukurannya lebih besar sedikit dari yang jantan dan mengandung bakal buah yang beruang tiga. Kepala putik yang akan dibuahi dalam posisi duduk juga berjumlah tiga buah. Bunga jantan mempunyai sepuluh benang sari yang tersusun menjadi suatu tiang. Kepala sari terbagai dalam dua karangan, tersusun sat u lebih tinggi dari yang lain. Paling ujung adalah suatu bakal buah yang tidak tumbuh sempurna.
BAB III
METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Rekayasa Kayu Program Studi Teknologi Hasil Hutan, dan areal Kampus Politeknik Pertanian Negeri Samarinda.
Penelitian dilakukan selama 7 bulan mulai dari 02 Desember 2015 sampai 27 Juni 2016. Adapun waktu penelitian ini meliputi pembuatan contoh uji, pengovenan contoh uji sebelum dikubur, perendaman contoh uji, penguburan contoh uji, pengovenan contoh uji setelah dikubur, pengolahan data, dan penyusunan karya ilmiah. Kegiatan penelitian dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 3. Jadwal kegiatan pelaksanaan penelitian
No Kegiatan Pelaksanaan
1. Pembuatan contoh uji 02-07 Desember 2015 2. Pengovenan contoh uji sebelum dikubur 08-10 Desember 2015 3. Perendaman contoh uji 12-17 Desember 2015 4. Penguburan contoh uji 18 Desember-18 April 2016 5. Pengangkatan contoh uji 18 April 2016
6. Pengamatan 19 April 2016
7. Pengovenan contoh uji setelah dikubur 20-23 Mei 2016 8. Pengolahan data 24 Mei-26 Juni 2016 9. Penyusunan karya ilmiah 27 Juni 2016
B. Alat dan Bahan Penelitian Bahan dan alat yang digunakan adalah sebagai berikut: 1. Asap cair sebagai bahan pengawet
2. Bahan baku kayu karet ukuran 45,7 cm x 1,9 cm x 1,9 cm 3. Bak plastik untuk perendam sampel uji
4. Timbangan elektrik untuk menimbang contoh uji
5. Air bersih untuk pencampuran bahan campuran asap cair 6. Tali rapia untuk membuat batas plot penelitian
7. Spidol untuk menulis pada sampel uji
8. Penggaris untuk mengukur kedalaman contoh uji
9. Meteran untuk mengukur diameter dan panjang contoh uji 10. Mesin pengamplas untuk menghilangkan bulu pada sampel uji 11. Gelas ukur 1000 ml banyaknya bahan larutan
12. Chain saw, untuk memotong batang dan membuang kulit pohon karet 13. Circular saw, untuk memotong membelah dan sampel uji
14. Oven untuk mengeringkan contoh uji
15. Batu pemberat untuk pemberat contoh uji agar selalu tenggelam saat perendaman
16. Micro kalifer untuk mengukur contoh uji
17. Stiker plastik untuk menandakan contoh uji sebelum dikubur
18. Paku untuk menahan stiker plastik agar tidak hilang pada saat dikubur 19. Kamera untuk menyimpan dokumen foto penelitian
20. Gunting untuk menggunting stiker plastik
C. Prosedur Penelitian
Adapun langkah-langkah prosedur penelitian pemanfaatan asap cair dari tempurung kelapa sebagai bahan pengawet kayu karet sebagai berikut:
1. Pengambilan sampel
Kayu karet diperoleh dari areal Kampus Politeknik Pertanian Negeri Samarinda, pohon karet dengan diameter sekitar 25 cm dan sudah tidak produktif lagi dan tidak dimanfaatkan atau diambil getahnya. Gambar pengukuran diameter pohon dapat dilihat berikut ini:
Gambar 1. Pengukuran diameter pohon karet sebelum ditebang
2. Pembuatan contoh uji
Prosedur pembuatan contoh uji dibuat berdasarkan standar American
Society For Testing and Material (ASTM) D 1758-96. Menurut ASTM D
1758-96, ukuran contoh uji adalah 45,7 cm x 1,9 cm x 1,9 cm. Ada tiga perlakuan dalam penelitian ini yaitu kayu karet direndam dengan konsentrasi yang berbeda yaitu 20%, 30%, 40% dengan bahan pengawet alami asap cair dari tempurung kelapa, sebagai pembanding digunakan sampel tampa perlakuan. Untuk lebih jelasnya, pengambilan sampel uji dapat dilihat pada gambar berikut ini:
Gambar 2. Pengambilan sampel contoh uji
Proses pengambilan contoh uji pada pohon dengan memotong bagian pangkal dan kemudian mengambil semua bagian mulai dari pangkal, tengah dan ujung. Kemudian dibersihkan dari kulit kayu agar menjadi bentuk blambangan agar mudah dibawa kemudian kayu dipotong-potong dengan panjang 1 cm. Setelah itu kayu dimasukkan ke mesin penyerut agar permukaan contoh uji rata dan hal us, kemudian contoh uji dipotong menggunakan mesin Circular Saw untuk menghasilkan contoh uji dengan ukuran 45,7 cm x 1,9 cm x 1,9 cm masing-masing perlakuan sebanyak 10 contoh uji disetiap contoh uji jumlah seluruh sampel ada 40 sampel.
3. Pembuatan contoh uji
Prosedur pembuatan contoh uji dibuat berdasarkan standar American
Society For Testing and Material (ASTM) D 1758-96. Menurut ASTM D
1758-96, ukuran contoh uji adalah 45,7 cm x 1,9 cm x 1,9 cm. Ada tiga perlakuan dalam penelitian ini yaitu kayu karet direndam dengan konsentrasi yang berbeda yaitu 20%, 30%, 40% dengan bahan pengawet alami asap cair dari tempurung kelapa, sebagai pembanding digunakan sampel tampa perlakuan. Pembuatan contoh uji dapat dilihat pada gambar berikut ini:
Gambar 3. Pembuatan dan proses pemotongan contoh uji
4. Pembuatan larutan pengawet
Larutan pengawetan yang digunakan adalah asap cair dengan konsentrasi 20%, 30%, dan 40%. Cara membuat larutan pengawet adalah dengan mencampurkan asap cair dengan perbandingan sebagai berikut:
a. Untuk konsentrasi asap cair 20%, bahan pengawet sebanyak 600 ml dicampur dengan air sebanyak 2400 ml.
b. Untuk konsentrasi 30%, bahan pengawet sebanyak 900 ml dicampurkan dengan air 2100 ml.
c. Untuk konsentrasi 40%, bahan pengawet sebanyak 1200 ml dicampurkan dengan 1800 ml.
Dapat dilihat pada gambar berikut proses pembuatan larutan bahan pengawet:
Gambar 4. Pembuatan larutan bahan pengawet asap cair
5. Perendaman contoh uji
Proses pengawetan contoh uji dilakukan dengan memasukan contoh uji ke dalam bak perendaman kemudian diberi pemberat diatasnya agar contoh uji tenggelam semua. Larutan pengawet dimasukkan kedalam bak
sesuai dengan konsentrasi yang berbeda dan lama perendaman selama 1 minggu. Berikut adalah proses perendaman contoh uji:
Gambar 5. Proses perendaman contoh uji dalam bahan pengawet
6. Penguburan
Contoh uji terlebih dahulu dikeringkan dalam oven pada suhu 103±2 sampai beratnya konstan untuk mendaptkan berat uji kering tanur sebelum dikubur. Contoh uji ditanam di areal Kampus Politeknik Pertanian Negeri Samarinda. Contoh uji dikubur secara acak dan yang terkubur adalah 2/3 dari panjang contoh uji dan penguburan dilakukan selama 5 bulan. Penguburan contoh uji dapat dilihat pada gambar berikut ini:
7. Pengambilan data
Data pokok yang diambil meliputi berat awal dan berat akhir dari contoh uji untuk memperoleh nilai retensi, kehilangan berat contoh uji, kerusakan kayu jenis karet yang disebabkan oleh serangan perusak kayu dari beberapa perbedaan konsentrasi 20%, 30%, 40%, dan tanpa perlakuan.
D. Analisis Data
Data pokok yang diambil meliputi berat awal dan berat akhir dari contoh uji untuk memperoleh nilai retensi, kehilangan berat contoh uji, kerusakan kayu jenis karet yang disebabkan oleh serangan rayap dari beberapa perbedaan konsentrasi yaitu konsentrasi 20%, 30%, 40%, dan tanpa konsentrasi sebagai perbandingannya dan lamanya perendaman selama 1 minggu.
1. Perhitungan data a. Retensi
Kemampuan suatu jenis kayu dalam menyerap bahan pengawet pada waktu tertentu disebut retensi. Nilai retensi dihitung berdasarkan selisih berat masing-masing contoh uji sebelum dan sesudah diawetkan dengan menggunakan contoh uji yang berukuran 45,7 cm x 1,9 cm x 1,9 cm dengan rumus seagai berikut (Peek, 1989)
)
dimana:
R = Retensi bahan pengawet (g/m3)
B1 = Berat contoh uji setelah diawetkan (g) B2 = Berat contoh uji sebelum diawetkan (g) V = Volume contoh uji yang diawetkan (m3)
C = Konsentrasi bahan pengawet (%)
b. Tingkat Serangan Rayap Japan Wood Protecion Association (JWPA) Standard II (1) (1992)
Tingkat serangan rayap dapat dihitung dari selisih antara berat sesudah pengujian dengan berat sebelum kayu diujikan dengan rumus :
Dimana :
Ma = Massa sebelum pengujian ke rayap Mb = Massa setelah pengujian ke rayap
Uji persentase kerusakan kayu, menggunakan analisa keragaman (ANOVA) desain acak lengkap diuji dengan tingkat kepercayaan 95% dan 99%.
Model matematika analisisa keragaman Analiysis Of Variances (ANOVA) desain acak lengkap diuji berdasarkan Steel dan Torrie (1993) adalah:
ij = + i + ij Dimana:
Yij = Nilai pengamatan pada jenis pengawet ke-i dan ulangan ke-j
µ = Rataan umum
Ti = Pengaruh utama bahan pengawet
ij = Pengaruh acak yang menyebar normal (0, 2). i = Perlakuan (1, 2, 3)
Menggunakan Xi untuk menunjukkan pengukuran petak ke i, Ti
sebagai jumlah perlakuan ke-i, dan n sebagai banyaknya petak percobaan [yaitu n = (r) (t)], hitung factor koreksi dan berbagai jumlah kuadrat (JK) sebagai berikut::
Faktor koreksi (F.K.) = JK umum =
JK perlakuan =
JK galat = JK umum JK perlakuan
Apabila hasil sidik ragam menunjukkan berbeda nyata atau sangat nyata, maka akan dilanjutkan uji lanjut dengan Uji Dunnett. Adapun rumus menurut (Kwanchai A. Gomez dan Arturo A. Gomez, 1995) sebagai berikut:
Uji kontrol Dunnett ini dikatakan uji khusus, karena hanya terhadap satu perlakuan (yang dianggap sebagai kontrol) semua perlakuan lain diperbandingkan.
d = tD*Se
Dimana:
d = beda signifikans (i) menurut Dunnett tD = nilai t_tabel menurut Dunnett
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil
1. Retensi
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dengan menggunakan tiga perlakuan yaitu konsentrasi 20%, 30%, dan 40% diperoleh hasil data retensi sebagai berikut:
Tabel 4. Nilai rata-rata perhitungan retensi kayu karet
No Perlakuan Retensi (gr/m3)
1 Konsentrasi 20% 0,0263
2 Konsentrasi 30% 0,0441
3 Konsentrasi 40% 0,0550
Berdasarkan data di atas dapat dikemukakan bahwa konsentrasi bahan pengawet mempengaruhi nilai retensi pada pengawetan. Hal ini dapat diterangkan bahwa semakin tinggi konsentrasi bahan pengawet asap cair maka akan semakin banyak bahan pengawet yang tertinggal di dalam kayu sehingga nilai ret ensi akan semakin besar. Pada penelitian ini konsentrasi yang paling tinggi adalah konsentrasi 40% sebesar 0,0550 gr/m3 , dan konsentrasi 30% sebanyak 0,0441 gr/m3, sedangkan konsentrasi 20% sebanyak 0,0263 gr/m3.
Hal ini dapat diterangkan bahwa semakin tinggi konsentrasi bahan pengawet pada asap cair maka akan semakin banyak bahan pengawet yang tertinggal didalam kayu sehingga nilai retensi akan semakin besar. Namun pada penelitian ini, konsentrasi yang paling tinggi pada konsentrasi 40% dan bahan pengawet asap cair yang berbentuk cairan bersifat lebih mudah diserap oleh kayu karet.
Dalam kurun waktu 5 bulan pengujian contoh uji telah melalui proses perendaman dengan konsentrasi 20%, 30%, dan 40% dengan lama perendaman selama satu minggu, dan penguburan contoh uji secara acak menunjukkan bahwa bukan hanya serangan rayap tanah yang menyerang contoh uji melainkan terdapat jamur, dan paling banyak terserang oleh rayap tanah adalah kontrol atau tanpa perlakuan dan konsentrasi 20%. Kemudian ketahanan terhadap jamur terjadi pada semua konsentrasi bahan pengawet. Pada gambar berikut ini dapat dilihat serangan perusak kayu pada contoh uji:
Gambar 7. Terserang Jamur pada semua contoh uji
2. Kehilangan berat
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dengan menggunakan tiga perlakuan terhadap kayu yaitu konsentrasi 20%, 30%, 40%, dan tanpa bahan pengawet (kontrol) sebagai perbandingan diperoleh data kehilangan berat terlihat bahwa semakin tinggi konsentrasi bahan pengawet yang digunakan maka kehilangan berat semakin sedikit yang berarti bahwa kerusakan akibat serangan perusak kayu semakin kecil. Pada
tabel berikut ini disajikan besarnya rata-rata kehilangan berat pada kayu karet pada berbagai perlakuan bahan pengawet sebagai berikut:
Tabel 5. Hasil perhitungan rata-rata kehilangan berat kayu karet dengan perbedaan perlakuan
No Perlakuan Kehilangan Berat (%)
1 Tanpa bahan pengawet 0% (kontrol) 77,47
2 Konsentrasi 20% 46,38 3 4 Konsentrasi 30% Konsentasi 40% 28,35 26,66
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa kehilangan berat kayu karet atau kerusakan kayu berkisar antara 26,66-77,47%, dimana kehilangan berat pada kayu karet tanpa bahan pengawet sebesar 77,47% artinya kerusakan kayu yang paling banyak terjadi apabila tidak diberikan bahan pengawet , dan perlakuan dengan menggunakan bahan pengawet dengan konsentrasi 20% sebesar 46,38%, dan bahan pengawet dengan konsentrasi 30% sebesar 28,35%, dan pemberian bahan pengawet dengan konsentrasi 40% adalah sebesar 26,66%. Dapat dilihat bahwa kehilangan berat kayu terendah atau yang paling banyak terserang oleh perusak kayu adalah terdapat pada perlakuan 0% atau tanpa perlakuan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 8. Kehilangan berat contoh uji akibat terserang perusak
Berdasarkan hasil perhitungan mengenai sidik ragam untuk kehilangan berat diperoleh data sebagai berikut:
Tabel 6. Nilai-nilai dalam ANOVA dari nilai kehilangan berat kayu karet Sumber kerangaman (SK) Derajat bebas (Db) Jumlah kuadrat (JK) Kuadrat tengah (KT) Fhitung Ftabel 5% 1% Perlakuan 3 88460,39 29486,79 12,07** 2,86 4,38 - - Galat 36 8788,37 244,12 - - Total 39 - - - -
Keterangan: **= Signifikan pada tahapan kepercayaan 99%
Dari hasil sidik ragam diketahui bahwa perbedaan perlakuan konsentrasi bahan pengawet asap cair berpengaruh signifikan terhadap kehilangan berat kayu karet, sehingga analisa dilanjutkan dengan menggunakan uji kontrol Dunnett uji ini boleh dikatakan uji khusus karena hanya terhadap satu perlakuan (yang dianggap sebagai kontrol) semua perlakuan lain diperbandingkan. Kemudian dibandingkan nilai-nilai tingkat kepercayaan (d) dengan melihat tabel t untuk perbandingan satu arah antara
p adalah nilai-nilai tengah perlakuan dan control pada tingkat kepercayaan
bersama p = 0,95 dengan nilai tabel t = 27,84 sedanagkan p = 0,99 adalah 35,46 dapat dibandingkan terhadap setiap nilai antara kontrol dan perlakuan lainnya.
B. Pembahasan
Terdapat perbedaan nyata anatara tiga perlakuan dengan konsentrasi 20%, 30%, dan 40% dapat dilihat pada retensi dan nilai perhitungan kehilangan berat kayu karet.
Berdasarkan hasil perhitungan rata-rata retensi dapat dikemukakan bahwa perbedaan konsentrasi bahan pengawet mempengaruhi nilai retensi. Hal ini dapat diterangkan bahwa semakin tinggi konsentrasi bahan pengawet asap cair maka akan semakin banyak bahan pengawet yang tertinggal di dalam kayu
sehingga nilai retensi akan semakin besar. Pada penelitian ini konsentrasi yang paling tinggi adalah konsentrasi 40% sebesar 0,0550 gr/cm3 bahan pengawet asap cair yang berbentuk cairan lebih mudah diserap oleh kayu karet.
Semakin tinggi konsentrasi bahan pengawet yang diberikan menyebabkan semakin banyak bahan pengawet yang masuk ke dalam kayu sehingga nilai retensi bahan pengawet semakin besar pula. Hal ini mendukung pernyataan oleh Yoesoef (1977). Demikian pula dengan pernyataan Dumananauw (2001), bahwa semakin tinggi konsentrasi bahan pengawet maka akan meningkatkan laju penyerapan bahan pengawet ke dalam kayu sehingga nilai retensi akan lebih besar.
Berdasrkan tabel 5 menujukkan bahwa persentase kerusakan kayu pada berbagai perlakuan antara konsentrasi berkisar antara 26,66%-77,47% dimana nilai kehilangan berat paling besar adalah konsentrasi bahan pengawet asap cair dengan konsentrasi 20% dan kehilangan berat yang paling rendah pada konsentrasi bahan pengawet asap cair dengan konsentrasi 40%. Pengaruh perlakuan perbedaan konsentrasi bahan pengawet berpengaruh terhadap kehilangan berat kayu karet.
Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa hasil pengujian statistika perhitungan sidik ragam nilai kehilangan berat pada tiga perlakuan yang dilakukan melihat hasil perbedaan pada perlakuan terbukti dari hasil f-hitung sebesar 12,07 yang nilainya lebih besar dari f-tabel sebesar 2,86 dan 4,38 pada tingkat kepercayaan 99%. Untuk mengetahui letak atau seberapa jauh perbedaan antara kontrol atau tanpa perlakuan dengan perlakuan 20%, 30%, dan 40% maka dilanjutkan menggunakan uj i lanjut menggunakkan uji Dunnett.
Uji Dunnett ini boleh dikatakan uji khusus, karena hanya terhadap satu perlakuan (yang dianggap sebagai kontrol) dapat dilihat dari tingkat kepercayaan 0,95 dan 0,99 untuk menentukan semua perlakan lain diperbandingkan dengan kontrol atau tanpa konsentrasi.
Hasil dari tabel uji Dunnett menunjukkan bahwa perbandingan perlakuan 0%, 20%, 30%, dan 40% menggunakan tabel uji Dunnett kemudian untuk membandingkan selisih nilai-nilai tingkat kepercayaan (d) dengan melihat tabel t untuk perbandingan satu arah antara p adalah nilai-nilai tengah perlakuan dan kontrol pada tingkat kepercayaan bersama p = 0,95 dengan nilai tabel t = 27,84 sedanagkan p = 0,99 adalah 35,46 dapat dibandingkan terhadap setiap nilai antara kontrol dan perlakuan lainnya.
Hasil selisih antara perbandingan perlakuan 0%, 20%, 30%, dan 40% menunjukkan hasil yaitu konsentrasi 20% dengan kontrol adalah 31,10 artinya 31,10 >dari 27,82 sehingga dapat dikatakan bahwa berpengaruh signifikan antara perlakuan konsentrasi 20% dengan konsentrasi 0% atau tanpa perlakuan dengan tingkat kepercayaan 0,95.
Konsentrasi 30% selisih nilai tengah atau rataan perlakuan terhadap kontrol adalah 49,38>35,46 artinya perlakuan memberikan pengaruh yang sangat signifikan antara perlakuan konsentrasi 30% dengan kontrol konsentrasi 0% terhadap kerusakan kayu karet yang terserang oleh perusak kayu dengan tingkat kepercayaan 0,99.
Selisih nilai tengah atau rataan perlakuan terhadap konsentrasi 40% dengan kontrol adalah 50,80>35,46 artinya perlakuan memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap tingkat kerusakan antara perlakuan konsentrasi
40% dengan konsentrasi 0% atau tanpa perlakuan dengan dari tingkat kepercayaan 0,99 .
Dari hasil perhitungan uji Dunnett semua contoh uji dengan konsentrasi 20% menunjukan bahwa berbeda signifikan antara kontrol dengan konsentrasi 20% karena selisih nilai rataan terhadap beda nyata Dunnet pada tingkat kepercayaan 0,95. Sedangkan konsentrasi 30% dan 40% terhadap kontrol terdapat perbedaan yang sangat signifikan anatara kontrol dan perlakuan karena selisih nilai rataan lebih besar dari nilai beda nyata Dunnet pada tingkat kepercayaan 0,99. Dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan efek yang sangat signifikan antara perlakuan dan tanpa perlakuan bahwa tingkat kerusakan kayu yang paling banyak terjadi apabila tidak diberikan bahan pengawet dengan tingkat kerusakan 77,74%, kemudian masing-masing disusul oleh pemberian bahan pengawet 20% dengan tingkat kerusakan rata-rata sebesar 46, 38% dan konsentrasi 30% dengan tingkat keruskan sebesar 28,35% dan paling sedikit kerusakan apabila diberikan bahan pengawet 40% dengan tingkat kerusakan rata-rata 26,66%. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi asap cair yang digunakan maka semakin rendah tingkat kerusakan kayu.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan beberapa hal penting sebagai berikut:
1. Pada konsentrasi bahan pengawet asap cair 20%, 30%, dan 40% ternyata semakin tinggi konsentrasi bahan pengawet asap cair yang diberikan pada pengawetan kayu karet, maka semakin tinggi nilai retensinya.
2. Ketahanan terhadap perusak kayu pada contoh uji dengan konsentrasi 20% pada tingkat keperc ayaan 0,95 menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan, sedangkan 30% dan 40% pada tingkat kepercayaan 0,99 menunjukan perbedaan yang sangat signifikan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa konsentrasi 30% dan 40% lebih baik dari konsentrasi 20%.
3. Konsentras i yang paling efektif untuk penanggulangan serangan perusak kayu adalah dengan menggunakan konsentrasi 40%.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan yang telah disampaikan dapat disarankan menggunakan konsentrasi minimal 30% untuk mengawetkan kayu.
DAFTAR PUSTAKA
Akhirudin. 2006, Asap Cair Tempurung Kelapa Sebagai Pengganti Formalin. Fakultas Poertanian IPB, Bogor.
Anonim. 1994. Brosur Pengawetan Lentrek 400 EC. PT. Pacific Chemical Indonesia
. 1997. Pengawetan Kayu dan Bambu. Tim ELSSPAT. Jakarta: Puspa Swara.
. 1998. Budidaya dan Pengelolaan Karet. Penebar Swadaya Bogor. . 2002. American Society for Testing and Materials (ASTM). Standard
Test Method of Evaluating Wood Preservatives by Field Test with Stakes. American Society for Testing and Materials. United States: ASTM D 1758-96.
. 2006. Asap Cair Teruji Bisa Menggantikan Formalin. Dekopin, Jakarta. Bambang. 2006. Asap Cair Aman untuk Kesehatan. Humaniora-Umum, CBN
Xcess Soho, Unlimited Internet Acces.
Barly. 1998. Duta Rimba No.97-98/XIV/88. Majalah Perum Perhutani Puslitbang Kehutanan Bogor.
Burgess, P.F. 1996. Pengawetan kayu. PT. Gramedia. Jakarta.
Dadang. 2006. Mengaji Distilat Asap sebagai Insektisida pada Sayuran, Departemen Proteksi Tanaman Fakulitas Pertanian IPB, Bogor
Duljapar.K. 1996. Pengawetan Kayu. Penebar Swadaya. Jakarta.
Dumanauw,J.F. 1982. Mengenal Sifat-sifat Kayu Indonesia dan Penggunaannya. Kanisius, Jogjakarta.
Dumanauw. 2001. Mengenal kayu. PT. Gramedia. Jakarta.
Gomez.A.Arturo dan Gomez.A.Kwanchai. 1995. Prosedur Statistik Untuk Penelitian Pertanian Edisi Kedua. Penerbit Universitas Indonesia. Hasbullah. 2006. Kaji Asap Cair Tempurung Kelapa Sebagai Disinfektan dan
Pengganti Formalin. IPB, Bogor.
Hunt, G.M dan G.A Garratt. 1986 Pengawetan Kayu. CV. Akademika Pressindo. Jakarta.
Martawijaya. A. 1981. Atlas Kayu Indonesia Jilid I, Kerjasama Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Bogor.
Meullenhoff.L.W.M, 1971 . Teknologi Kayu. Direktorat Perdagangan dan Distribusi Hasil Hutan, Jakarta.
Nandika D, Soenaryo dan Saragih A. 1996. Kayu dan Pengawetan Kayu. Jakarta: Dinas Kehutanan DKI Jakarta.
Oramahi. 2007. Asap Cair Sebagai Alternatif Pengawet Makanan. Pontianak Post.
Pari, G 2007. Diversivikasi Produk Karbonisasi. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan Bogor.
Pari, G. 2008. Diversivikasi Produk Karbonisasi. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan Bogor.
Pari, G. 2008. Proses Produksi dan zpemanfaatan Arang, Briket Arang dan Cuka Kayu, Pusat Penelitian dan Pengengembangan Hasil Hutan Bogor. Peek R.D. 1989 . Wood Protection In Indonesia With References To Special
Condition In East Kalimantan. Universitas Mulawarman Samarinda. Prasetyo, K.W dan S. Yusuf. 2005. Mencegah dan Membasmi Rayap. PT. Agro
Media Pustaka Tanggerang. 64 h.
Setyamidjaja. 1993. Karet, Budidaya dan Pengolahan. Kanisius. Yogyakarta. Sugiono. 2006. Asap Cair Tempurung Kelapa, Disinfektan Pengganti Formalin,
Fakultas Pertanian, IPB Bogor.
TobingT. L. 1977. Pengawetan Kayu. Bogor : Lembaga Kerjasama Fakultas
Kehutanan . Institut Pertanian Bogor.
Torrie, J.H. dan Robert, G.D.S. 1993. Prinsip dan Prosedur Statistika Suatu Pendekatan Biometrik. Gramedia Pustaka Umum. Jakatra (terjemahan).
Weiss HF. 1961. Preservation of Structural Timber. American: The Mc Graw-Hill
Book Company, Inc.
Wistara INJ, Rachmansyah R dan Denes F Young RA. 2002. Ketahanan 10 Jenis Kayu Tropis. Jurnal Teknologi Hasil Hutan Volume XV. Badan Litbang Kehutanan. Bogor.
Yoesoef, M. 1977. Pengawetan Kayu I. Yayasan Pembina Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada. Jogjakarta.
Berat kayu Ukuran kayu contoh uji
Volume (cm3)
Retensi (gr/cm3) No Berat kayu sebelum
pengawetan (gram) Berat kayu sesudah pengawetan (gram) Tebal (cm) Lebar (cm) Panjang (cm) 1 98,03 121,36 2,14 2,13 47,4 216,05868 0,021595984 2 104,06 133,14 2,01 2,19 47,3 191,90475 0,030306701 3 109,15 139,52 2,09 2,14 47,4 212,00124 0,021641382 4 92,81 115,75 2,01 2,03 47,5 193,81425 0,023672151 5 103,27 129,98 1,97 2,04 47,4 190,49112 0,028043301 6 99,73 125,22 2,09 1,97 47,5 195,57175 0,026067159 7 90,06 112,87 2,03 2,09 47,3 200,67971 0,022732741 8 96,51 123,49 2,07 1,91 47,5 187,80075 0,028732579 9 110,60 139,51 1,97 1,92 47,4 179,28576 0,032250190 10 112,36 141,95 2,02 2,18 47,4 208,73064 0,028352330 Jumlah 0,263394518 Rata-rata 0,026339451
Berat kayu Ukuran kayu contoh uji Volume (cm3) Retensi (gr/cm3) No Berat kayu sebelum pengawetan (gram) Berat kayu setelah pengawetan (gram) Tebal (cm) Lebar (cm) Panjang (cm) 1 98,41 125,56 2,03 1,96 47,4 188,59512 0,043187755 2 106,91 139,83 2,01 2,11 47,5 201,45225 0,049024024 3 103,25 130,48 2,07 2,07 47,5 203,53275 0,040136046 4 101,46 128,80 2,07 1,98 47,4 194,27364 0,04221880 5 105,11 131,89 1,98 2,09 47,4 196,15068 0,040958308 6 97,02 123,79 1,91 1,98 47,3 178,87914 0,044896235 7 101,61 131,90 2,01 2,03 47,5 193,81425 0,046885097 8 99,84 129,21 2,09 2,01 47,4 199,12266 0,044249107 9 98,86 127,08 1,97 2,12 47,4 197,96136 0,042765921 10 101,12 130,51 1,99 1,97 47,5 186,21425 0,047348650 Jumlah 0,441669943 Rata-rata 0,044166994
Berat kayu Ukuran kayu contoh uji Volume (cm3) Retensi (gr/cm3) No Berat kayu sebelum pengawetan (gram) Berat kayu setelah pengawetan (gram) Tebal (cm) Lebar (cm) Panjang (cm) 1 103,12 134,85 2,12 2,17 47,4 218,05896 0,058204441 2 101,81 127,73 2,07 1,98 47,4 194,27364 0,053368022 3 107,78 136,66 2,17 2,17 47,5 223,67275 0,051646881 4 96,47 123,51 2,02 2,01 47,4 192,45348 0,056200594 5 102,63 126,01 1,98 1,96 47,3 183,56184 0,050947408 6 107,71 136,34 2,02 2,19 47,4 209,68812 0,054614443 7 99,32 126,64 2,02 20,3 47,4 194,36844 0,056223119 8 101,45 130,74 2,08 2,19 47,4 215,91648 0,054261721 9 101,71 128,56 2,03 1,97 47,5 189,95725 0,056539037 10 93,74 122,67 2,04 2,03 47,4 196,29288 0,058952724 Jumlah 0,55095839 Rata-rata 0,055095839
Tabel 10. Persentase kehilangan berat contoh uji dengan konsentrasi 20%
No
Berat contoh uji kering tanur sebelum
dikubur (gr)
Berat contoh uji kering tanur setelah dikubur (gr) Persentase kehilangan berat kayu karet (%) 1 98,03 66,31 31,72 2 104,06 63,31 40,75 3 109,15 58,14 51,01 4 92,81 43,42 49,39 5 63,27 44,18 19,09 6 99,73 47,62 52,11 7 90,06 57,19 32,87 8 96,51 35,13 61,38 9 108,15 41,17 66,98 10 112,36 51,28 61,08 Jumlah 466,38 Rata-rata 46,638 No
Berat contoh uji kering tanur sebelum
dikubur (gr)
Berat contoh uji kering tanur setelah dikubur (gr) Persentase kehilangan berat kayu karet (%) 1 98,41 78,14 20,27 2 106,91 79,85 27,06 3 103,25 69,61 33,64 4 101,46 79,45 22,01 5 105,11 73,54 31,57 6 97,02 67,61 29,41 7 101,61 71,95 29,66 8 99,84 72,82 27,02 9 98,86 64,42 34,44 10 101,12 72,63 28,49 Jumlah 283,57 Rata-rata 28,357
Tabel 12. Persentase kehilangan berat contoh uji dengan konsentrasi 40%
No
Berat contoh uji kering tanur sebelum
dikubur (gr)
Berat contoh uji kering tanur setelah dikubur (gr) Persentase kehilangan berat kayu karet (%) 1 103,12 83,07 20,05 2 101,81 74,56 27,25 3 107,78 83,14 24,64 4 96,47 67,28 29,19 5 102,63 75,41 27,22 6 101,71 68,26 33,45 7 99,32 82,04 17,28 8 101,45 66,72 34,73 9 102,71 71,18 31,53 10 93,74 72,41 21,33 Jumlah 266,67 Rata-rata 26,667
Tabel 13. Persentase kehilangan berat contoh uji dengan konsentrasi 0%
No
Berat contoh uji kering tanur sebelum
dikubur (gr)
Berat contoh uji kering tanur setelah dikubur (gr) Persentase kehilangan berat kayu karet (%) 1 113,06 14,53 98,53 2 96,33 23,53 72,81 3 90,31 29,75 60,56 4 103,62 17,21 86,41 5 117,64 13,67 103,97 6 98,33 21,56 76,77 7 102,29 18,06 84,23 8 80,53 35,38 45,15 9 100,87 13,38 87,49 10 93,55 27,68 65,87 Jumlah 774,72 Rata-rata 77,472
Tabel 10. Persentase kehilangan berat contoh uji
No Konsentrasi 20% Konsentrasi 30% Konsentrasi 40% Kontrol
1 31,72 20,27 20,05 98,53 2 40,75 27,06 21,25 72,81 3 51,01 33,64 24,64 60,56 4 49,39 22,01 19,19 86,41 5 19,09 31,57 27,22 96,97 6 52,11 29,41 17,45 76,77 7 32,87 29,66 17,28 84,23 8 61,38 27,02 18,73 45,15 9 66,98 34,44 21,53 87,49 10 61,08 28,49 21,53 65,87 Rata-rata 4,6638 2,7357 2,0887 7,7479