ETIKA
KERAJAAN
Mengikut Yesus dalam Konteks Masa Kini
GLEN H. STASSEN
dan DAVID P. GUSHEE
Penerbit Momentum
2008
Etika Kerajaan:
Mengikut Yesus dalam Konteks Masa Kini Oleh: Glen H. Stassen dan David P. Gushee
Penerjemah: Peter Suwadi Wong Editor: Irwan Tjulianto
Tata Letak: Patrick Serudjo dan Djeffry Pengoreksi: Jessy Siswanto dan Stevy Tilaar Desain Sampul: Patrick Serudjo
Editor Umum: Solomon Yo
Originally published by InterVarsity Press as:
Kingdom Ethics: Following Jesus in Contemporary Context
by Glen H. Stassen and David P. Gushee
Copyright © 2003 by Glen H. Stassen and David P. Gushee Translated and printed by permission of InterVarsity Press P.O. Box 1400, Downers Grove. IL 60515, USA.
All rights reserved.
Hak cipta terbitan bahasa Indonesia © 2005 pada
Penerbit Momentum (Momentum Christian Literature)
Andhika Plaza C/5-7, Jl. Simpang Dukuh 38-40, Surabaya 60275, Indonesia. Telp.: +62-31-5472422; Faks.: +62-31-5459275
e-mail: [email protected] website: www.momentum.or.id
Perpustakaan Nasional: Katalog dalam Terbitan (KDT)
Stassen, Glen Harold, 1936-
Etika kerajaan: mengikut Yesus dalam konteks masa kini / Glen H. Stassen dan David P. Gushee, terj. Peter Suwadi Wong – cet. 1 – Surabaya: Momentum, 2008.
xxii + 671 hlm.; 15,5 cm. ISBN 979-3292-77-6 1. Etika Kristen 2. Yesus Kristus – Etika
3. Khotbah di Bukit – Kritik, Interpretasi, dll. I. Gushee, David P., 1962-
2008 241–dc21 Cetakan pertama: Desember 2008
Hak cipta dilindungi oleh Undang-undang. Dilarang mengutip, menerbitkan kembali atau memperbanyak sebagi-an atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apa pun dsebagi-an dengsebagi-an cara apa pun untuk tujusebagi-an komersial tsebagi-anpa izin tertulis dari penerbit, kecuali kutipan untuk keperluan akademis, resensi, publikasi atau kebutuhan nonkomersial dengan jumlah tidak sampai satu bab.
DAFTAR ISI
Ucapan Terima Kasih xiii
Prakata xv
BAGIAN SATU: Pemerintahan Allah dan Karakter Kristen 1 1. Pemerintahan Allah 3 2. Kebajikan Warga Kerajaan 19 3. Etika Karakter yang Holistik 49
BAGIAN DUA: Ajaran Yesus dan Otoritas Profetik 83 4. Otoritas dan Alkitab 85 5. Bentuk dan Fungsi Norma-norma Moral 109 6. Inisiatif-inisiatif yang Mengubah dalam Khotbah di Bukit 145
BAGIAN TIGA: Injil Kehidupan
7. Perang yang Adil, Nonkekerasan,
dan Menciptakan Perdamaian 175 8. Menabur Benih Perdamaian 213 9. Hukuman Restoratif untuk Pembunuhan 241 10. Menghargai Kehidupan Sejak dari Mulanya 269 11. Menghargai Kehidupan pada Akhirnya 301 12. Batas-batas Baru dalam Bioteknologi 323
BAGIAN EMPAT: Pria dan Wanita 345
13. Pernikahan dan Perceraian 347
14. Seksualitas 373
15. Peran Gender 403
BAGIAN LIMA: Norma-norma Sentra Etika Kristen 419
16. Kasih 421
BAGIAN ENAM: HubunganKeadilan dan Kasih 475
18. Mengatakan Kebenaran 477
19. Ras 505
20. Ekonomi 533
21. Pemeliharaan Ciptaan 559
BAGIAN TUJUH: Kerinduan pada Pemerintahan Allah 587
22. Doa 589
23. Politik 615
24. Praktik-praktik Perbuatan Baik 637
PRAKATA
Masalah: Pengesampingan Yesus dan Khotbah di Bukit
ereja mengaku bahwa Yesus dari Nazaret adalah Mesias. Ia ada-lah Alada-lah yang berinkarnasi. Ia adaada-lah Juruselamat. Ia adaada-lah Tuhan atas Gereja dan atas dunia. Ia adalah pusat, bukan hanya dari iman Kristen, tetapi juga, Alkitab menegaskan, dari alam semesta itu sendiri, dan melalui Dialah segala sesuatu dijadikan. “Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia” (Kol. 1:17). Tanpa Yesus yang merupakan figur sentralnya, sumbernya, dasar, otoritas, dan tujuannya, Kekristenan tidak memiliki makna apa pun.
G
Di sinilah masalahnya: Gereja-gereja Kristen di sepanjang spek-trum theologis dan pengakuan iman, dan etika Kristen sebagai suatu disiplin akademis yang melayani gereja-gereja, sering bersalah karena mengesampingkan Tuhan Yesus, Sang Batu Penjuru dan pusat iman Kristen. Secara spesifik, ajaran dan praktik hidup Yesus – khususnya bagian terbesar dari ajaran-ajaran-Nya, Khotbah di Bukit – terus di-abaikan atau disalahtafsirkan dalam pelayanan khotbah dan pengajar-an gereja-gereja, dpengajar-an dalam bidpengajar-ang etika akademis. Pengesampingpengajar-an ajaran-ajaran konkret Tuhan Yesus secara serius telah memberikan bentuk yang salah bagi praktik moral, kepercayaan moral, dan kesak-sian moral Kristen. Tuhan Yesus mengajarkan bahwa ujian bagi ke-muridan kita adalah apakah kita bertindak sesuai dengan ajaran-ajaran-Nya, apakah kita melakukan firman-Nya. Inilah makna dari “mendirikan rumah di atas batu” (Mat. 7:24).
Kita percaya bahwa Tuhan Yesus bersungguh-sungguh dengan apa yang dikatakan-Nya. Jadi, tidaklah berlebihan untuk mengklaim bahwa pengesampingan ajaran-ajaran Tuhan Yesus merupakan suatu krisis identitas Kristen dan menimbulkan berbagai pertanyaan tentang siapa yang sesungguhnya menjadi Tuhan atas Gereja. Ketika cara pe-muridan Tuhan Yesus diencerkan, dipinggirkan, atau dihindari, maka gereja-gereja dan orang-orang Kristen kehilangan antibodi untuk me-lawan infeksi oleh berbagai ideologi sekuler yang memanipulasi
orang-orang Kristen untuk melayani kehendak tuhan-tuhan lain. Kami sung-guh mengkhawatirkan penyembahan berhala seperti sekarang ini.
Kami menulis untuk memperbaiki masalah ini. Tujuan kami ada-lah untuk mengklaim kembali Tuhan Yesus Kristus untuk etika Kristen dan untuk kehidupan moral gereja-gereja. Kami bermaksud untuk menulis suatu interpretasi pengantar tentang etika Kristen yang diba-ngun di atas “batu” – ajaran dan praktik hidup Tuhan Yesus. Dan da-lam prosesnya, kami juga bermaksud untuk memulihkan Khotbah di Bukit untuk etika Kristen. Kami berpendapat bahwa kehidupan Kris-ten terdiri dari mengikut Yesus – menaati ajaran dan cara hidup yang diajarkan dan diteladankan-Nya. Tuhan Yesus mengajarkan bahwa ke-tika murid-murid menaati-Nya dan melakukan apa yang Ia ajarkan dan hidupi, mereka sesungguhnya berpartisipasi dalam pemerintahan Allah yang dimulai Yesus dalam pelayanan-Nya di dunia, dan yang akan mencapai klimaksnya pada waktu kedatangan-Nya kembali. Jadi, kami berusaha untuk menuliskan suatu pengantar etika Kristen yang terus berfokus pada Yesus Kristus, Dia yang memulai Kerajaan Allah.
Ketika kami mensurvei buku-buku pegangan yang ada dalam bi-dang etika Kristen, kami heran bahwa hampir tidak ada satu pun yang mempelajari sesuatu yang konstruktif dari Khotbah di Bukit – bagian terbesar dari ajaran Tuhan Yesus dalam Perjanjian Baru, pengajaran yang Tuhan Yesus katakan dalam Amanat Agung sebagai cara menja-dikan murid, dan yang lebih banyak dirujuk oleh Gereja mula-mula daripada bagian-bagian lain dari Kitab Suci. Ada sesuatu yang sangat salah di sini. Kini kami senang melihat diri kami sebagai bagian dari suatu tren untuk memulihkan cara Tuhan Yesus bagi pemuridan Kristen. Akhir-akhir ini, dan dari tiga tradisi yang berbeda, Dallas Willard telah menerbitkan The Divine Conspiracy, William Spohn te-lah menerbitkan Go and Do Likewise, dan Allen Verhey telah mener-bitkan Remembering Jesus. Dengan antusiasme yang besar kami me-nyambut tiga buku yang ditulis dengan sangat baik ini, yang masing-masing dengan serius memperhatikan jalan Yesus. Kami adalah ba-gian dari usaha yang sama, dan kami berharap keempat buku ini akan memulai suatu gerakan dan akan bekerja sama seperti satu tim yang terdiri dari empat kuda yang menarik kereta ke arah yang sama. Rencana dan Struktur Buku
Dalam buku ini kami bermaksud untuk membiarkan Tuhan Yesus, dan khususnya Khotbah di Bukit, menetapkan agenda bagi etika Kristen. Keputusan sederhana ini ternyata membawa berbagai konsekuensi yang benar-benar konkret. Banyak buku pengantar etika Kristen yang
Prakata xvii beredar sekarang – belum lagi usaha-usaha pembelaan moral dalam gereja-gereja – memfokuskan perhatian utama mereka pada isu-isu yang tidak dibicarakan oleh Yesus, sementara mereka mengabaikan beberapa hal yang terus-menerus dibicarakan oleh Yesus. Kami meng-akui kebutuhan untuk mempertimbangkan masalah-masalah yang ada sekarang, yang tidak ada pada zaman Yesus, namun kami sejauh mungkin akan berusaha membiarkan ajaran Tuhan Yesus menetapkan agenda kami. Kami hendak memfokuskan perhatian kami pada apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus sebagai yang esensial bagi pemurid-an Kristen. Kami berpikir ini adalah cara ypemurid-ang terbaik untuk menjadi orang Kristen – seorang pengikut Kristus. Pendekatan seperti itu juga merupakan suatu pengawasan terhadap penyusupan berbagai ideologi zaman sekarang dan agenda-agenda merusak yang mereka promosi-kan.
Namun ini bukanlah sekadar sebuah buku tentang Khotbah di Bukit, tetapi sebuah buku tentang etika Kristen. Selain itu, kami tidak mendasarkan bagian-bagian biblikal buku ini pada Khotbah di Bukit saja: kami secara reguler mendasarkan interpretasi pada Kitab Suci Ibrani, yaitu Perjanjian Lama, dan secara reguler melihat kepada se-mua bagian lainnya dari Perjanjian Baru untuk mendapatkan konfir-masi. Sesungguhnya, kami melihat bahwa latar belakang ajaran Tuhan Yesus tentang Kerajaan Allah terdapat di dalam perikop-perikop ten-tang keselamatan yang disampaikan Nabi Yesaya, yang begitu mem-perkaya isi pemahaman kita tentang pemerintahan Allah dalam peng-ajaran Tuhan Yesus. Pendasaran secara khusus pada Kitab Suci Ibrani ini adalah pengertian yang mengarahkan buku ini dan adalah alasan mengapa buku ini disebut Etika Kerajaan.
Buku ini dibagi menjadi tujuh bagian. Bagian Satu berusaha un-tuk meletakkan etika yang diajarkan oleh Yesus dengan memikirkan makna dari Kerajaan Allah, karena ide ini ada dalam inti proklamasi-Nya dan pemahaman diri-proklamasi-Nya. Pendekatan kami terhadap etika Kris-ten menawarkan suatu fokus yang tajam pada pemerintahan Allah, suatu fokus yang kami kira dapat sangat dibenarkan berdasarkan proklamasi Yesus sendiri. Karena itu, diskusi ini meletakkan dasar ba-gi pembahasan kami mengenai isu karakter, dimulai dari pemikiran kembali yang berpusat pada Ucapan Bahagia dan bergerak ke arah suatu pemikiran tentang etika karakter kontemporer.
Bagian Dua mempertimbangkan tema-tema otoritas moral dan norma-norma moral dalam etika Kristen yang selalu ada dalam bidang etika. Segala pendekatan etika, Kristen atau bukan, pasti menawarkan suatu penjelasan tentang apa yang akan dipandang berotoritas dalam
menentukan kebenaran moral, dan tentang bagaimana kebenaran ter-sebut dibungkus dan dikomunikasikan. Dalam bagian ini, kami berusa-ha untuk memperliberusa-hatkan cara Yesus menangani otoritas moral mau-pun bentuk dan fungsi norma-norma moral. Bagian ini merupakan bagian yang jelas sekali paling bersifat “metodologis” – tetapi seluruh buku itu memang dimaksudkan sebagai suatu demonstrasi tentang metodologi tertentu dalam etika Kristen.
Semua bab lainnya membahas isu-isu dan tema-tema yang dimun-culkan oleh Khotbah di Bukit atau disarankan oleh Khotbah itu dalam hubungannya dengan berbagai tantangan moral kontemporer. Bagian Tiga berfokus pada berbagai isu tentang kehidupan dan kematian; Ba-gian Empat membahas tentang etika seksual, gender, dan pernikahan; Bagian Lima menggali tema-tema besar tentang kasih dan keadilan; Bagian Enam meneliti hubungan antara keadilan dan kasih dengan menggali tentang hal mengatakan kebenaran, ras, ekonomi, dan pe-lestarian ciptaan. Akhirnya, Bagian Tujuh menutup buku ini dengan membahas ajaran Tuhan Yesus tentang doa, politik, dan praktik mo-ral.
Tiap bab dengan satu dan lain cara didasarkan pada satu bagian Khotbah di Bukit, tetapi Khotbah itu sendiri tidak membentuk dasar eksklusif bagi etika yang dikembangkan di sana, dan kami tidak ber-usaha untuk mengorganisasi buku ini sebagai suatu eksposisi langsung dari Khotbah di Bukit. Seperti halnya setiap buku pengantar etika Kristen yang baik, kami berusaha untuk menyajikan teks-teks Alkitab, tema-tema dan motif-motif yang paling relevan, yang berkaitan de-ngan isu-isu yang sedang dibahas. Karena kami berusaha untuk sesetia mungkin kepada etika yang diajarkan Tuhan Yesus, kami khususnya memperhatikan nas-nas Perjanjian Lama yang paling kuat mempe-ngaruhi ajaran Yesus dan bahan-bahan Perjanjian Baru yang mencer-minkan Khotbah di Bukit dan perkataan-perkataan Tuhan Yesus lain-nya sebagaimana yang diteruskan kepada Gereja mula-mula. Tetapi kami mempertimbangkan keutuhan dari seluruh kanon sebagai yang berotoritas untuk etika Kristen dan mengerjakan pekerjaan biblikal kami secara demikian.
Refleksi tentang tradisi, pengalaman, dan data sosial yang ilmiah, yang dipikirkan dengan matang dan diterangi oleh Roh Kudus, di an-tara berbagai sumber daya lainnya, juga menawarkan pemikiran ten-tang isu-isu moral yang paling banyak kita hadapi, dan banyak jenis arkeologi moral seperti itu juga dapat ditemukan di sini. Untuk meng-klaim bahwa etika Kristen harus dibangun di atas batu, yaitu Yesus Kristus, dan di atas ajaran-ajaran-Nya, bukan berarti mengklaim
bah-Prakata xix wa bagian-bagian Alkitab lainnya harus ditinggalkan atau bahwa tidak ada sumber pengetahuan lain yang relevan.
Untuk menjadikan buku ini lebih enak dibaca, kami menghindari penggunaan catatan-catatan kaki dan menambahkan catatan-catatan itu ke dalam teks dengan tanda kurung, sering kali dengan judul yang disingkat, bahkan pada rujukan pertamanya. Sebuah bibliografi di akhir buku untuk bacaan lebih lanjut memberikan informasi penerbit-an dari buku-buku ypenerbit-ang dirujuk oleh catatpenerbit-an-catatpenerbit-an ypenerbit-ang ada dalam tanda kurung tersebut. Kami berharap diskusinya cukup menarik, dan cukup kontroversial, untuk membuat Anda ingin membaca lebih lan-jut.
Tentang Penulis, Agenda, dan Pembaca
Kami selalu menghargai ketika penulis memberi tahu kami siapa dia, apa agendanya, dan siapa yang ingin dia coba jangkau. Jadi, kami di sini secara singkat memberikan penghargaan yang sama kepada para pembaca kami.
Glen dibesarkan sebagai seorang North American Baptist di Min-nesota. Ia kini menjabat sebagai Lewis B. Smedes Professor of Chris-tian Ethics di Fuller Theological Seminary. Ia menerima posisi ini pada tahun 1996, setelah dua puluh tahun mengajar di Southern Bap-tist Theological Seminary, di samping juga di Duke University, Ken-tucky Southern College, dan Berea College. David dibesarkan sebagai seorang Katolik Roma di Virginia, dan menjadi seorang Southern Baptist melalui pengalaman pertobatan pada usia enam belas tahun. Ia kini adalah Graves Professor of Moral Philosophy di Union Univer-sity, yang berlokasi di Jackson, Tennesee. David mulai mengajar di Union pada tahun 1996, setelah tiga tahun bekerja sebagai pengajar di Southern Seminary dan tiga tahun melayani sebagai editor pengelola dari penerbitan Evangelicals for Social Action dan dosen tamu di Eastern Baptist Theological Seminary.
Proyek ini dilahirkan selama tiga tahun yang bertumpang tindih di Southern Seminary (1993-1996). David, yang asalnya adalah murid Glenn, kembali ke Southern untuk bergabung dengannya sebagai dosen pendamping dalam bidang etika Kristen. Glen memiliki ide mula-mula tentang buku ini pada tahun 1995, dan belakangan David bergabung untuk proyek ini. Kami berdua sangat bersukacita sekali atas panggilan untuk menggali ajaran-ajaran dan tindakan-tindakan penebusan Tuhan Yesus bagi etika Kristen.
Keadaan berubah di luar antisipasi kami. Pada tahun 1996 David pindah ke Union, di mana ia mengembangkan suatu program etika
Kristen dalam departemen Christian Studies, sedangkan Glen pindah ke Fuller. Dari jarak dua ribu mil, dengan bantuan e-mail, kami me-nyelesaikan pekerjaan kami, meskipun cukup memakan waktu!
Agenda kami adalah untuk menulis sebuah buku pengantar yang baik untuk etika Kristen yang berdasarkan ajaran-ajaran Tuhan Yesus. Tujuan kami adalah menulis sebuah buku yang dapat dipakai dalam perkuliahan tingkat kolese dan seminari. Namun, dengan memperke-nalkan beberapa argumen jenis baru, kami juga berharap untuk me-majukan pembahasan tentang etika Kristen di antara para praktisi profesional dalam disiplin kami ini. Dan kami telah berusaha untuk menulis dengan semangat dan energi yang cukup untuk menarik pem-baca umum yang suka berpikir.
Mereka yang tertarik pada label dan kategori theologis/politis mungkin akan menemukan bahwa buku ini masuk dalam kedua kate-gori tersebut. Kami bermaksud untuk menawarkan suatu etika Kristen yang berusaha untuk mengikuti pimpinan Yesus sesetia mungkin. Da-lam hal seperti itu, ini jelas adalah sebuah buku etika Kristen. Kami menulis untuk semua orang Kristen yang memiliki keinginan untuk mengikut Yesus dan ingin memulihkan, atau memperdalam, apa mak-na dari mengikut Yesus.
Penerbit kami adalah sebuah penerbit Kristen, dan sebagai penga-rang, kami tentunya suka dengan label theologis tersebut. Kami de-ngan bersungguh-sungguh memegang otoritas Alkitab dan berbagai kepercayaan iman Kristen yang ortodoks, dan telah menuliskan karya ini atas dasar itu. Namun kami berdua berhubungan luas dengan sede-retan komunitas Kristen, baik di Amerika Utara maupun di luar nege-ri, dan berusaha untuk menghindari pengategorian ideologis yang sempit. Kami berharap, siapa saja yang tertarik pada pengajaran moral Tuhan Yesus Kristus dan kesaksian moral kontemporer Gereja Kristen akan banyak menemukan banyak hal yang bernilai di sini.
Pembaca yang berpengetahuan luas mungkin akan memperhati-kan berbagai tradisi dan tokoh-tokoh theologi/etika yang sangat mem-pengaruhi kami, tetapi baik juga untuk dikemukakan di sini secara eksplisit. Kami berdua adalah orang Baptis – jenis Baptis yang berhu-bungan dengan alur Anabaptis dan Reformed dari tradisi Baptis, di samping juga Kebangunan Rohani Besar (Great Awakening), kaum re-vivalis, dan warisan kaum Pietis dalam kehidupan North American Baptist. Alur Anabaptis secara khusus memberikan penekanan yang kuat kepada ajaran-ajaran Yesus dan Khotbah di Bukit. Alur Reformed mengembangkan tema-tema penciptaan dan kovenan, dan selalu me-negaskan Kitab Suci Ibrani dan kedaulatan Allah atas seluruh
kehi-Prakata xxi dupan, bukan hanya atas Gereja atau atas suatu bagian sempit dari ke-hidupan “religius.” Alur revivalis dan Pietis menekankan peran komit-men pribadi yang komit-menjamah hati kepada Kristus sebagai Juruselamat
dan Tuhan, dan pemampuan oleh Roh Kudus. Tema-tema ini semua-nya penting dalam pendekatan kami. Jadi, pendekatan kami berusaha untuk dengan setia dan secara konkret bersifat Trinitarian, dengan cara yang kami harapkan akan memberi kesegaran baru.
Kami juga sangat akrab dengan tradisi Gereja kaum kulit hitam di Amerika Serikat dan mengaku bahwa pemikiran kami banyak menda-patkan pengaruh darinya, khususnya penekannya pada etika inkarna-sional dan pada keadilan. Tahun-tahun terakhir ini kami cukup terke-san oleh sayap Pentakosta dan Karismatik; para pemikirnya mulai me-nawarkan sejumlah pemahaman yang penting bagi dunia akademis Kristen, dan sebagiannya kami masukkan di sini. Glen telah meng-akrabi Gereja Protestan di Eropa, khususnya di Jerman, selama bebe-rapa tahun; pengaruhnya juga terasa di sini. Akhirnya, setelah dididik dalam berbagai seminari dan universitas arus utama, kami berdua cu-kup mengenal baik etika theologis dan sosial dari aliran utama, dan te-lah mempelajari secara dekat tokoh-tokoh besar dari tradisi-tradisi itu. Para pemikir seperti Dietrich Bonhoeffer dan H. Richard Niebuhr de-ngan jelas meninggalkan tanda-tanda mereka pada karya ini.
Singkat kata, etika Kristen yang kami tawarkan di sini sarat de-ngan pengaruh tradisi-tradisi Gereja yang besar sebagai satu keutuh-an, dengan beberapa alur yang khususnya menonjol – sebagian besar karena pengakuan mereka akan sentralitas Yesus bagi etika Kristen. Kesetiaan kami yang utama adalah kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, bukan kepada tradisi-tradisi yang ada di sekitar Dia, tetapi kami senang dapat menarik pemahaman yang terbaik dari tradisi-tradisi tersebut.
Akhirnya, kami hendak menegaskan kepada para pembaca kami bahwa suara kami terjalin di seluruh karya ini. David (kadang-kadang memakai riset Glen) menulis draf pertama dari prakata ini dan dari bab-bab 4, 10-15, 18-20, dan 22-24. Michael Westmoreland-White me-nulis draf pertama dari bab 21. Glen meme-nulis draf pertama dari se-luruh bab lainnya, kecuali bab 5, yang dirancang bersama. Tiap-tiap kami berinteraksi secara saksama dalam hal draf masing-masing re-kan; hasil akhir sesungguhnya adalah karya kami bersama. Supaya jelas, ketika kami menyatakan suatu opini atau cerita pribadi dalam se-buah bab, kami akan menyebutkan pengarangnya dengan nama de-pan (mis., “Saya, David” atau “Saya, Glen”). Semua rujukan pribadi dalam bab itu akan merujuk kepada penulis yang sama. Namun,
sewa-jarnya kami akan berbicara sebagai “kami.” Tetapi kami berdua mene-rima sepenuhnya tanggung jawab atas setiap kata yang akan Anda baca di sini. Kami mengajak Anda untuk bersama-sama dengan kami menggali etika Kristen dengan jalan mengikut Tuhan Yesus."