• Tidak ada hasil yang ditemukan

INDUSTRI KAIN TENUN DI BALI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "INDUSTRI KAIN TENUN DI BALI"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

623/Antropologi

LAPORAN PENELITIAN

INDUSTRI KAIN TENUN DI BALI

Oleh

Dr. Drs. Putu Sukardja, M.Si (NIDN. 0022065205)

UNIVERSITAS UDAYANA JUNI, 2016

(2)

KATAPENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, karena atas perkenanNya penelitian mandiri yang berjudul “INDUSTRI KAIN TENUN DI BALI”

dapat diselesaikan tepat pada waktunya.

Penelitian mandiri ini dilakukan untuk mengetahui desa-desa yang menjadi penghasil kain tenun di Bali. Berdasarkan data yang diperoleh dilapangan dapat diketahui beberapa desa yang masih eksis melakukan aktivitas menenun sampai saat ini. Aktivitas menenun dilakukan selain untuk memenuhi kebutuhan lokal khususnya sebagai bahan pakain trdisional, kain tenun tradisional Bali juga mulai diminati oleh wisatawan yang berkunjung ke Bali.

Kegiatan penelitian ini dilakukan sebagai salah satu bentuk Tri Darma Perguruan Tinggi dosen di Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana pada tahun 2016.

Penelitian mandiri ini dapat diselesaikan tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak.

Untuk itu pada kesempatan ini peneliti mengucapkan banyak terima kasih kepada yang terhormat Prof.Dr.dr. Ketut Suastika, Sp.PD-KEMD., selaku Rektor Universitas Udayana dan jajarannya atas kesempatan dan fasilitas yang telah diberikan sehingga penelitian dapat menghasilkan laporan penelitian ini.

Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada yang terhormat Prof.Dr.Ni Luh Sutjati Beratha, M.A. selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya beserta jajarannya, atas kesempatan dan fasilitas yang telah diberikan sejak awal hingga kegiatan penelitian ini selesai.

(3)

Ucapan terima kasih ditujukan pula kepada Drs. I Nyoman Suarsana, M.Si pejabat Ketua Jurusan Antropologi, Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Udayana beserta jajarannya yang telah memfasilitasi dan memberikan berbagai arahan terkait dengan persyaratan untuk melakukan penelitian mandiri sebagai salah satu bentuk Tri Darma Perguruan Tinggi.

Pada kesempatan ini peneliti juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam pengumpulan data sehingga penelitian ini dapat terselesaikan sesuai dengan perencanaanya.

Akhirnya, semoga Ida Sang Hyang Widhi Wasa selalu melimpah rahmat-Nya kepada semua pihak yang telah dengan tulus membantu kegiatan penelitian ini hingga terselesaikan dalam bentuk laporan penelitian.

Denpasar, Juni 2016 Peneliti

(4)

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang dan Permasalahan

Di Bali, faktor ekonomi mempunyai peranan yang sangat besar dalam perubahan sosial di pedesan. Perkembangan ekonomi pedesaan sesungguhnya tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan pariwisata di daerah ini. Beberapa desa telah berubah karakteristik sosial budayanya disebabkan oleh kunjungan wisatawan ke desa tersebut. Masyarakat pedesaan di Bali mempunyai daya tanggap dan kreativitas yang tinggi dalam menyikapi perkembangan pariwisata yang secara langsung mempunyai dampak ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakatnya.

Menenun merupakan aktivitas budaya yang telah lama berkembang di Bali.

Aktivitas budaya tersebut pada awalnya hanya merupakan tradisi masyarakat di beberapa desa di Bali yang hasilnya sebagian besar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di lingkungannya desa tersebut. Pada saat ini menenun tidak hanya menjadi pekerjaan sampingan atau pengisi waktu tetapi aktivitas menenun telah berkembang menjadi industri kreatif.

Industri kreatif dapat dipahami sebagai bagian dari dari ekonomi kreatif yaitu wujud dari upaya mencari pembangunan yang berkelanjutan melalui kreativitas, yang mana pembangunan berkelanjutan adalah suatu iklim prekonomian yang berdaya saing dan memiliki cadangan sumberdaya yang terbarukan. Hal itu itu sejalan dengan kebijkanan Pemerintah Republik Indonesia yang Tahun Indonesia Kreatif dengan konsentrasi industri

(5)

kreatif dan aneka kegiatan kreatif yang berbasis budaya unggul (Depbudpar, 2008;

Deperindag, 2008).

2. Rumusan Maalah

Dengan perkembangan industri periwisata di Bali, beberapa desa dan kelurahan masyarakatnya melakukan terobosan dengan melakukan aktivitas menenun sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. Bali yang telah menjadi ikon tujuan wisata di Indonesia Bagian Timur belum seluruhnya dirambah oleh wisatawan. Oleh karena itu perkembangan industri tenun tidak seluruhnya mampu menembus pasar melelui ranah pariwisata. Kondisi yang tidak merata dalam kunjungan pariwisata ke Bali menyebabkan hanya beberapa desa yang mampu muncul sebagai desa yang dikenal sebagai penghasil kain tenun. Hal itu menjadi menarik untuk diteliti, di desa apa saja industri kerajinan kain tenun berkembang di Bali ?

3. Kelurahan Sangkaragung Jembrana

Kelurahan Sangkaragung merupakan daerah pertanian yang sangat subur. Dari luas wilayahnya 527,177 Ha, hampir sebagian besar (81,8 %) merupakan areal pertanian (231,10 Ha sawah dan 200,12 Ha ladang/perkebunan). Luasnya areal pertanian di derah itu mengakibatkan 66,4% masyarakatnya hidup sebagai petani. Petani di kelurahan Sangkaragung belum banyak yang melakukan alih fungsi lahan pertanian karena ketergantungan masyarakat dari hasil pertanian khususnya padi masih cukup tinggi.

(6)

Pertanian padi merupakan jenis pertanian yang paling mudah menerima teknologi baru seperti misalnya penggunaan bibit unggul, pupuk buatan, penggunaan traktor, penggunaan pestisida, dan penggilingan padi. Masuknya teknologi baru di bidang pertanian tersebut banyak buruh tani di kelurahan Sangkaragung menjadi penganggur.

Keadaan ini menimbulkan perubahan struktur, kultur dan interaksi sosial di daerah itu.

Struktur keluarga berubah, dimana buruh tani perempuan yang biasa terlibat dalam berbagai aktivitas pertanian sebagai penghasilan tambahan, sekarang sudah menghilang.

Tertutupnya peluang kerja di sektor pertanian mendorong masyarakat khususnya kaum perempuan untuk menekuni pekerjaan menenun. Selanjutnya menenun tidak saja dapat menggantikan pekerjaan berganti tetapi juga menenun kini lebih berpotensi untuk menghasilkan uang dibandingkan dengan menjadi buruh tani. Selain itu mereka juga merasa lebih terhormat, lebih tersanjung dibandingkan dengan mereka yang menyandang predikat sebagai buruh tani. Kebanggan lain yang mereka dapat dari kegiatan menenun antara lain : Pertama, mereka mendapat kebebasan untuk melakukan pekerjaan. Artinya waktu kerja tidak lagi terikat oleh pekerjaan tetapi bisa diatur sesuai dengan peluang dan keiinginan. Kedua, kaum perempuan yang terlibat dalam aktivitas menenun mempunyai peluang untuk mengakses dunia luar yang lebih luas. Adanya hubungan dagang dengan daerah lain akan memberikan pengetahuan dan pengalaman dari proses perdagangan itu.

Ketiga, pergaulan dengan dunia luar melalui hubungan kerja dan perdagangan akan memberikan peluang masuknya unsur-unsur kebudayaan baru untuk memperkaya dan meningkatkan nilai estetika kain tenun yang diproduksi. Nilai estetika tersebut tampak

(7)

pada motif-motif kain tenun yang dihasilkan dengan cara mengadopsi motif-motif dari luar Sangkaragung.

Menenun menjadi pilihan yang bisa menjawab persoalan masyarakat khususnya kaum perempuan. Aktivitas tersebut juga merupakan industri rumahtangga dan kegiatan ekonomi yang berada di sekitar rumah (home-based production), karena:

(1) Menenun tidak memerlukan skill yang tinggi;

(2) Menenun bisa dikerjakan di rumah tanpa meninggalkan tugasn sehari-hari;

(3) Menenun bisa menghasilkan uang dalam waktu singkat (harian, mingguan);

(4) Menenun tidak membutuhkan teknologi yang tinggi; dan (5) Modal yang diperlukan tidak terlalu besar.

Dibandingkan dengan industri lainnya maka industri kain tenun lebih banyak menyerap tenaga. Oleh karena itu, industri kain tenun sangatlah penting dalam rangka menyediakan peluang kerja bagi masyarakat di kelurahan Sangkaragung. Industri kain tenun pada umumnya merupakan usaha keluarga (family business) yang menekankan pada penggunaan tenaga kerja keluarga. Sebagai usaha keluarga, jelas bahwa pengelolaan usaha tidak secara tegas terpisah dengan pengelolaan rumahtangga sehari-hari, sehingga tidak mustahil bila sering terjadi tumpang tindih antara kepentingan usaha dengan kepentingan konsumsi rumahtangga (Sukardja, 2008).

Meningkatnya permintaan pasar terhadap kain tenun mengakibatkan perubahan pola berpikir masyarakat di bidang ekonomi. Mereka mengedepankan aktivitas menenun sebagai aktivitas utama karena menenun telah dapat memberikan kontribusi ekonomi yang

(8)

dirasakan telah sesuai dengan beban kerja yang dilakukan. Kain tenun yang diproduksi adalah jenis kain songket dengan alat cagcag (sejenis alat tenun trasional non mesin).

Pemasaran kain tenun yang diproduksi di Kelurahan Sangkaragung kini telah merambah pasar regional, nasional bahkan pasar internasional sudah mulai dijangkau.

Pameran dagang pada Pekan Kesenian Bali (PKB) di Art Centre Denpasar merupakan salah satu media untuk memperkenalkan sekaligus memasarkan hasil produksi kain tenun.

Meskipun PKB dilaksanakan setiap tahun sekali, namun bagi pengerajin kain tenun di Sangkaragung hal itu mempunyai arti yang sangat penting. Pada ajang Pesta Kesenian Bali umumnya konsumen dari berbagai daerah dapat memilih dan membeli kain tenun yang mereka senangi.

Kain tenun Sangkaragung sudah mulai mengadopsi motif-motif kain tenun daerah lain untuk memperkaya motif-motif asli. Motif-motif baru yang berasal dari daerah lainnya sebagian besar dibawa langsung oleh konsumen yang memesan langsung ke Sangkaragung. Dengan proses akulturasi motif-motif kain tenun para pengerajin kain tenun berharap dapat memenuhi selera konsumen yang setiap saat mengalami perkembangan sesuai dengan perkembangan mode. Kain tenun Sangkaragung kini tidak saja dijadikan bahan untuk pakaian adat Bali, banyak sudah banyak dipergunakan untuk bahan pakaian nasional yang dikombinasikan dengan kain dari daerah lainnya.

Berkembangnya motif-motif baru dan meluasnya wilayah pemasaran hasil industri kain tenun masyarakat di kelurahan Sangkaragung telah menjadikan industri kain tenun sebagai ikon kelurahan tersebut. Hal itu tidak hanya mengangkat nama

(9)

desa/kelurahan ke tingkat yang lebih tinggi, tapi juga mampu membina, melestarikan unsur kebudayaan sehingga terhindar dari kepunahan.

4. Desa Sampalan Klungkung

Semula Desa Sampalan Tengah diklasifikasikan sebagai daerah agraris dan merupakan lumbung beras di Kabupaten Klungkung. Tetapi, setalah Gunung Agung meletus tahun 1963 hamparan sawah berubah menjadi lahan pasir dan tidak bisa lagi diolah menjadi lahan pertanian. Kenyataan seperti ini, memberikan dorongan kepada mereka untuk berusaha di bidang lain. Berwiraswasta merupakan prinsip hidup masyarakat Sampalan Tengah, mereka yakin hidup sebagai wiraswasta lebih menguntungkan, dibandingkan dengan berkehidupan dengan sumber-sumber lain, seperti PNS. Usaha produksi kain tenun ikat di Desa Sampalan Tengah pertamakali dirintis oleh seorang perempuan Ni Wayan Supani yang memiliki Pertenuan Supani dan merupakan perusahaan terbesar saat itu. Produk awal dari Pertenunan Supani adalah stagen yang pengerjaannya menggunakan ATBM ukuran kecil, serta prosesnya lebih sederhana dari pembuatan kain tenun ikat. Sekitar tahun 1970 ibunya beralih ke bidang produksi kain tenun ikat yang memiliki prospek lebih baik karena penggunaannya lebih banyak daripada stagen. Keberhasilan yang dicapai oleh ibunya akhirnya mendorong masyarakat Sampalan Tengah terutama para perempuan untuk menekuni usaha tenun ikat (Tejawati, 2005).

Ketenaran Sampalan Tengah sebagai penghasil kain tenun ikat karena basis penghasil kain tenun ikat berlokasi di kawasan Desa Sampalan Tengah. Kondisi ini akan memperkuat image Desa Sampalan Tengah sebagai pusat produksi kain tenun ikat.

(10)

Keuntungan lokasi ini akhirnya secara tidak sengaja dimanfaatkan oleh para pedagang dari Desa Sampalan Tengah untuk mengklaim dirinya sebagai penghasil kain tenun ikat terbesar di Kabupaten Klungkung. Ketika orang ingin membeli kain tenun ikat mereka akan mencari kain endek (tenun ikat) Sampalan, meskipun kenyataannya kain tersebut tidak seluruhnya produk masyarakat Sampalan Tengah. Sejalan dengan pendapat (Lury, 1998 : 77) dalam budaya konsumen, para produsen akan berusaha menyesuaikan makna yaitu, suatu usaha untuk memasukkan citra dan simbol kedalam benda-benda sehingga dapat dijual atau dibeli. Para konsumen, pada sisi lain berusaha memberikan makna sendiri kepada berbagai komoditas dan jasa yang mereka beli. Oleh sebab itu citra, memegang peranan penting dalam industri perdagangan.

Terlibatnya beberapa perempuan di Desa Sampalan Tengah dalam usaha produksi kain tenun ikat tidak bisa dilepaskan dari beberapa faktor yang melatarbelakanginya.

Faktor-faktor tersebut antaralain :

1)Faktor Infrastruktur. Infrastruktur material berisi bahan-bahan baku dan bentuk-bentuk

sosial dasar yang berkaitan dengan upaya manusia mempertahankan hidup dan beradaptasi dengan lingkungannya. Infrastruktur sebuah masyarakat adalah komponen yang paling dasar, dalam artian tanpa komponen ini manusia tidak mungkin bertahan secara fisik (Sanderson, 2000 : 66).

2) Faktor Teknologi. Perspektif materialis memandang teknologi dapat memberikan

sumbangan yang besar bukan saja dalam proses, tetapi juga dalam proses perubahan sosial budaya. Dalam melakukan aktivitas keseharian manusia seakan-akan tidak terpisahkan dari teknologi, teknologi telah menajdi agama baru bagi manusia, tanpa

(11)

teknologi manusia akan dicap sebagai mahluk terbelakang. Bahkan, secara radikal ada pendapat yang menyatakan bahwa teknologilah yang membuat manusia menjadi manusia atau ketrampilan perkakaslah yang membentuk kebudayaan manusia (Lubis, 1985 : 8).

3)Faktor Ekonomi. Alasan ekonomi merupakan motivasi terbesar kaum perempuan

terjun ke sektor produktif sebagai pengusaha tenun ikat dan penghasilan yang diperoleh sepenuhnya digunakan untuk menafkahi keluarga (membantu suami). Umumnya dalam masyarakat di desa Sampalan masalah ekonomi dalam keluarga adalah tanggung jawab orang tua, yaitu ayah dibantu oleh ibu dan dalam beberapa keluarga anak-anak juga mampu memberikan sumbangan ekonomi. Dengan demikian, menurut pandangan masyarakat Sampalan (penganut sistem patrilineal), ayahlah yang bertanggung jawab soal ekonomi keluarga. Hal ini dikarenakan dalam masyarakat patrilineal, menekankan laki- laki sebagai penacari nafkah utama, sedangkan perempuan adalah pencari nafkah tambahan. Apa yang dihasilkan laki-laki disebut upah keluarga, yakni bahwa ia bertanggung jawab mencari nafkah untuk seluruh keluarga (Bhasin, 2002 : 33).

Dengan terlibatnya perempuan Sampalan dalam dunia produktif sebagai pencari nafkah, seperti tampak di lokasi penelitian telah berhasil berubah pandangan masyarakat bahwa perempuan pun mampu mensejahterakan keluarganya. Hal itu menunjukkan bahwa kesejahteraan dan kelangsungan hidup suatu keluarga tidak lagi ditentukan oleh suami sendiri, melainkan partisipasi perempuan (istri) memegang peranan penting dalam memperoleh nafkah keluarga. Usaha perempuan dalam kegiatan menenun yang bersifat ekonomis di luar pekerjaan rutinnya sebagai pekerja domestik telah melahirkan paradigma budaya dalam kehidupan perempuan di desa Sampalan. Aktivitas menenun tidak akan

(12)

berhenti pada pemenuhan ekonomi rumah tangga, kegiatan menenun akan terus meningkat bersamaan dengan obsesi untuk meningkatkan harkat dan martabat keluarganya.

Pemasaran kain tenun hasil produksi desa Sampalan tidak terbatas di lingkungan desa tetapi sudah mulai memasuki pasar-pasar besar seperti pasar Klungkung, pasar Badung (Denpasar), pasar Gianyar. Selain itu pengusaha yang berhasil dan memiliki modal besar, mereka membangun toko-toko untuk menjual kain tenun pada lokasi-lokasi strategis di beberapa kota di Bali. Di denpasar misalnya toko yang menjual kain endek yang diproduksi di Kabupaten Klungkung, khususnya endek Sampalan dapat di lihat di sekitar Jalan Baypass Ngurah Rai, Jalan Diponegoro, Airport Ngurah Rai, Nusa Dua, Sanur dan sekitarnya.

Kain tenun Sampalan juga sering dipamerkan di Art Centre pada saat pelaksanaan Pekan Kesenian Bali. Meskipun beberapa stand tidak secara khusus menjual dan memamerkan kain tenun Sampalan, tetapi masing-masing stand pameran kain tenun lebih dominan memajang kain tenun yang berkualitas termasuk kain endek Sampalan.

Kabupaten Klungkung memang mempunyai potensi yang sangat besar di bidang tekstil. Beberapa pengusaha kain tenun tetap konsen dalam produksi dan pemasaran.

Menurut informasi dari beberapa pengusaha yang memamerkan kain tenun endek di Art Centre, bahwa konsumen yang berminat terhadap kain endek sudah mendunia. Beberapa kolektor kain tenun tradisional dari beberapa negara seperti Prancis, Belanda, Italia, Thailand sengaja datang mencari kain-kain tenun tradisonal termasuk kain tenun endek produksi Desa Sampalan Klungkung. Hal itu bukan saja merupakan kebanggan bagi

(13)

masyarakat di desa Sampalan tetapi masyarakat Bali patut bersyukur dengan fenomena seperti itu. Dengan adanya eksport kain tenun tradisional Bali khususnya endek Sampalan kiranya akan turut meningkatkan pendapat daerah maupun devisa negara Republik Indonesia.

5. Desa Tenganan Pegringsingan Karangasem

Desa Pegeringsingan, Kecamatan Manggis, Karangasem merupakan salah desa tradisional Bali yang masih banyak menyimpan dan melestarikan unsur-unsur budaya yang mempunyai nilai tinggi. Masyarakat desa Tenganan Pegeringsingan juga mengklaim bahwa mereka merupakan masyarakat menempati desa tertua di Bali. Bahkan untuk menguatkan identitas mereka sebagai masyarakat tertua di Bali mereka juga menyebut desa TenganaPegeringsingan sebagai desa Baliaga. Kini Desa Tenganan Pegeringsingan sudah menjadi pusat perhatian Pemerintah sehingga desa Tenganan Pegeringsingan tampaknya tidak berbeda dengan kondisi desa-desa lainnya di Bali.

Dengan memiliki berbagai ragam potensi adat dan budaya yang khas dan unik, desa Tenganan Pegeringsingan juga dikenal sebagai salah satu desa tujuan wisata di Bali.

Salah satu daya tarik wisatawan untuk mengunjungi desa Tenganan Pegeringsingan sebagai obyek wisata adalah lingkungan alam yang tertata dan terpelihara. Bentuk-bentuk bangunan tradisonal masih tetap dipertahan sehingga wajah desa Tenganan tidak mungkin dapat diketemukan di desa lainnya di Bali.

Desa Tenganan Pegeringsingan hingga kini masih melestarikan adat-istiadat yang berkaitan dengan sistem religi, sistem kesenian, sistem sosial (organisasi sosial dan

(14)

kekerabatan), sistem keamanan, dan pelestarian lingkungan alam. Salah satu unsur kebudayaan yang mempunyai nilai estetis yang tinggi yaitu budaya membuat kain tenun dobel ikat “Geringsing”. Nama desa Tenganan Pegeringsingan sangat identik dengan nama kain tenun yang dihasilkan oleh masyarakat di desa itu yaitu kain tenun Geringsing, namun sampai saat ini belum ada data atau informasi yang pasti tentang apakah sebutan

“Geringsing” berasal dari nama desa, atau sebaliknya nama desa berasal dari nama kain tenun yang dijadikan nama desa.

Antara nama desa dan nama kain tenun seolah-olah sudah menyatu menjadi salah satu penguat identitas desa Tenganan sebagai penghasil kain tenun yang mempunyai mutu tinggi. Tingginya Mutu dan kualitas estetik kain tenun geringsing telah diakui oleh masyarakat dunia yang mengerti dan memahami jenis dan kualitas kain. Selain itu aktivitas menenun tidak pernah berhenti sejak dulu sampai sekarang karena kain tenun geringsing secara khusus merupakan bagian terpenting dari kehidupan sosial yang

berkaitan dengan sistem religi di desa tersebut. Menenun juga merupakan aktivitas keseharian bagi kaum perempuan di desa Tenganan Pegeringsingan.

Budaya menenun diwarisi dan dipelajari secara turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya sehingga pengetahuan dan keterampilan tidak pernah hilang dari lingkungan masyarakat di desa Tenganan Pegeringsingan. Tradisi menenun seolah-olah menjadi prilaku yang wajib dilakukan khususnya oleh kaum perempuan didesa itu. Prilaku wajib tersebut selain karena kebutuhan kain tenun untuk keperluan adat dan agama juga karena kain tenun kini telah menjadi komoditas pariwisata yang mempunyai nilai ekonomis. Kini masyarakat desa Tenganan Pegeringsingan tidak perlu khawatir akan

(15)

punahnya tenun geringsingsing, karena keuntungan yang diperoleh dari menenun melampui pendapatan dari sektor lainnya.

Kain tenun geringsing kini mempunyai multifungsi. Dalam melaksanakan sistem religi yang berkaitan dengan upacara dan upakara (Dewa Yanya, Pitra Yadnya, Buta Yadnya dan Manusa Yadnya) kain Geringsing menjadi unsur yang sangat diperlukan

baik untuk peralatan atau pelengkapan sarana upakara maupun digunakan untuk pakaian adat pada saat upacara berlangsung.

Berkaitan dengan sistem religi, pada upacara Ngusaba Kasa (sekitar Bulan Juni- Juli) masyarakat di desa Tenganan melaksanakan upacara Ngusaba yang merupakan upacara terbesar dari rangkaian upacara yang ada di desa Tenganan Pegeringsingan.

Upacara ini dilaksanakan setiap tahun sekali dengan melibatkan seluruh warga desa Tenganan Pegeringsingan. Pada waktu pelaksanaan upacara tersebut masyarakat diharuskan menggunakan kain geringsing selama upacara berlangsung (sekitar satu bulan).

Pada puncak upacara juga dipentaskan kesenian asli desa Tenganan Pegerisingan yaitu Tari Rejang Abuang yang ditarikan oleh para gadis. Tari ini sesungguhnya merupakan tari yang sakral yang hanya dipentaskan pada saat upacara Ngusaba Kasa, akan tetapi belakangan ini tari

Rejang Abuang juga selalu hadir pada Pembukaan Pesta Kesenian Bali yang berlangsung setiap tahun di Denpasar. Tari Rejang Abuang menggunakan kain geringsing dengan asessoris khas Tenganan Pegeringsingan.

(16)

Penggunaan kain geringsing sebagai sarana upacara tidak terlepas dari kepercayaan yang didasari atas pustaka-pustaka suci agama hindu. Sebagai kain yang disakralkan geringsing dipergunakan dalam berbagai upacara yadnya, yaitu Dewa Yadnya, Manusia Yadnya, Pitra Yadnya, dan Bhuta Yadnya. Dalam pertemuan adat atau upacara tertentu di Desa Tenganan Pegeringsingan kain geringsing yang khusus juga dipergunakan oleh wanita tertentu yang sudah monopaus (baki). Dalam penggunaan kain yang sama antara upacara yang satu dengan upacara yang lainnya tidak dapat disatukan sehingga ada istilah kain sukla, kain pengange/ lungsuran, kain pekebah dan mekebah.

- Kain sukla adalah kain masih baru atau sudah pernah dipakai khusus untuk Dewa Yadnya saja dan disucikan, biasanya kain ini disimpan ditempat khusus ; - Kain yang dipergunakan sebagai kain busana pelinggih sesuai dengan

peruntukannya dan kain ini juga disimpan di tempat yang khusus ;

- Kain pekebah adalah kain yang biasanya dipakai khusus dalam upacara Pitra Yadnya saja.

- Mekebah adalah kain-kain yang sudah pernah dipakai oleh seseorang dan kain ini tidak bisa dipakai dalam berbagai sarana upacara.

Dalam penggunaan kain geringsing pada suatu upacara di Desa Tenganan Pegeringsingan ada kain yang tidak boleh dipergunakan kembali dan biasanya kain ini biasanya ditanam, tetapi kebanyakan kain geringsing bisa dipergunakan lagi setelah dapat dipergunakan dalam upacara tertentu, seperti kain yang dipergunakan untuk pengangge pelinggih biasanya dipergunakan pada setiap upacara (wali), juga untuk kain yang sudah dipergunakan, tetapi kalau memang ada alangkah baiknya bila menggunakan yang baru.

(17)

Kain geringsing selain dipergunakan peralatan dalam sistem religi dan sebagai busana adat, kain geringsing juga dipakai untuk sarana pengobatan dan keselamatan (Ray, 2006).

Secara sosial ekonomis, produksi kain geringsing merupakan salah satu lapangan kerja yang dapat mengerakkan masyarakat Desa Tenganan Pegeringsingan dalam rangka memenuhi kebutuhan ekonomi mereka. Untuk menjadi kualitas dan ciri khas kain tenun Geringsing, masyarakat Desa Tenganan Pegeringsingan diwajibkan memegang teguh aturan-aturan yang berlaku dalam pembuatan kain geringsing seperti, penggunaan warna alam, dan mengikuti dewasa (hari baik) dalam pengikatan yang telah ditentukan oleh leluhurnya (Ray, 2006).

Kain geringsing dalam perjalanannya mengalami pasang surut yang disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya : faktor kekuasaan, politik dan pariwisata. Geringsing berperan penting dalam perekonomian masyarakat Desa Tenganan Pegeringsingan minimal di mulai sejak Bali dikenal sebagai daerah pariwisata, sehingga banyak masyarakat Bali pada umumnya dan masyarakat Desa Tenganan Pegeringsingan pada khususnya banyak tergantung dari produksi kain geringsing. Selembar kain geringsing mencapai harga jutaan bahkan ratus juta tergantung dari jenis dan usianya, sehingga tidak mengherankan bagi masyarakat yang memiliki kain geringsing lama sama dengan memiliki uang jutaan rupiah. Kini setiap hari desa Tenganan mendapat kunjungan wisata yang ingin membeli hasil kerajinan tradisonal desa tersebut antara kain tenun Geringsing.

Hal itu dapat dilihat pada gambar-gambar berikut ini.

Kain Tenun Geringsing selain dijual di beberapa toko kesenian yang ada di lingkungan wilayah desa Tenganan Pegeringsingan kini telah banyak dijual di pasar-pasar

(18)

tradisional seperti di Amlapura (Karangasem), Semarapura (Klungkung), Pasar Kabupaten Gianyar, di Denpasar (Pasar Kumbasar, Pasar Badung, Pasar Kreneng). Beberapa toko kesenian yang berlokasi di pusat-pusat pariwisata (Kuta, Nusa Dua, Sanur, Ubud) juga banyak yang menyediakan kain geringsing bagi wisatawan yang kebetulan menginap atau berkunjung ke daerah tersebut. Pada umumnya kain geringsing tersebut di jual pada toko kesenian yang ada di dalam hotel.

6. Kesimpulan dan Saran

Dari hasil penelitian dan pengamatan dibeberapa desa di Bali, dapat diketahui dan disimpulkan bahwa tiga desa di Bali masyarakatnya masih eksis melakukan aktivitas menenun. Kain tenun yang diproduksi tidak hanya dimunati oleh masyarakat lokal namun sudah menjadi salah satu komuditas pariwisata.

Untuk melestarikan industri kerajinan kain tenun di Bali kiranya pemerintah perlu memberi motivasi dan bantuan lainnya terkait dengan industri kain tenun tersebut.

Koperasi Unit Desa di masing-masing desa yang masyarakatnya mampu menghasilkan kain tenun yang berkualitas agar bisa memberi bantuan modal dan mau membeli hasil produksi di desa-desa tersebut.

(19)

DAFTAR PUSTAKA

Bhasin, K. 2002. Memehami Gender (terjemahan). Jakarta : Teplok Press.

Depbudpar, 2008. Kegiatan Tahun Indonesia Kreatif 2025. Bogor :Seminar Indonesia Kreatif.

Deperindag, 2008. Pengembangan Ekonomi Kreatif 2025. Makalah dalam Creative Conference, Bali.

Lubis, Mochtar 1985. “Dampak Teknologi Pada Kebudayaan” dalam Y.B. Mangunwijaya (ed). Teknologi dan Dampak Kebudayaannya. Jakarta : Yayasan Obor.

Lury, Celia 1998. Budaya Konsumen. Jakarta : Yayasan Obor.

Ray, D.A.Tirta 2006. Kain Geringsing Dalam Kehidupan Masyarakat Tenganan Pegeringsingan Suatu Perspekti Budaya (thesis) pada Program Magister (S2) Kajian Budaya, Universitas Udayana, Denpasar.

Sanderson, S.K. 2000. Sosisologi Makro: Sebuah Pendekatan Terhadap Realitas Sosial (terjemahan). Jakarta : Rajawali Press.

Sukardja, Putu 2008. Enkulturasi Dan Masalah Gender Pada Industri Kain Tenun Di Kelurahan Sangkaragung, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana (Disertasi) pada Program Doktor (S3) Kajian Budaya, Universitas Udayana, Denpasar.

Tejawati, Ni Luh Putu 2005. Perempuan Pengusaha Tenun Ikat Dan Implikasinya Terhadap Kesetaraan Gender : Studi Kasus di Desa Sampalan Tengah Dan Desa Sulang, Klungkung (Thesis) pada Program Magister (S2) Kajian Budaya, Universitas Udayana, Denpasar.

Referensi

Dokumen terkait

Menggunakan kendaraan dengan bak tertutup untuk meminimalisisr ceceran material Setiap hari Selama kegiatan mobilisasi dan demobilisasi kendaraan pengangkut Radius ± 100

Perasaaan tersebut memang telah terlihat semakin lama semakin menipis dan dapat dibuktikan dari banyaknya masyarakat yang ingin melakukan aksi main hakim sendiri kepada

Selain itu, petugas KUA juga perlu melakukan program konseling yang bertujuan untuk mendampingi pasangan muda dalam mengelola keluarga dengan lebih matang, dan

Dari metode yang sudah dilakukan tersebut, dapat disimpulkan bahwa ternyata responden setuju dengan mengetahui proses kreatif dari suatu pementasan teater boneka maka

Suatu Graph terdiri dari suatu himpunan tak kosong yang unsur-unsur- nya masing-masing disebut titik ( vertex ) dan suatu himpunan pasangan titik-titik yang tidak

Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan proposal laporan Tugas Akhir ini,

Efek Toksik Tak Terbalikkan (Ireversibel) Kerusakan bersifat permanen Paparan berikutnya akan menyebabkan kerusakan yang sifatnya sama memungkinkan terjadinya akumulasi efek