7 BAB II
LANDASAN TEORI
A. Kajian Pustaka 1. Pendidikan Karakter
Menurut Saptono (2011: 18) karakter dipahami sebagai kondisi rohaniah yang belum selesai. Ia bisa diubah dan dikembangkan mutunya, tetapi bisa pula ditelantarkan sehingga tidak ada peningkatan mutu atau bahkan makin terpuruk.
Karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang dibuat (Damayanti, 2014: 11).
Seorang filsuf Yunani bernama Aristoteles dalam Lickonan (1991: 81) mendefinisikan karakter yang baik sebagai kehidupan dengan melakukan tindakan- tindakan yang benar sehubungan dengan diri seseorang dan orang lain. Aristoteles mengingatkan kepada semua orang tentang apa yang cenderung dilupakan di masa sekarang ini. Kehidupan yang berbudi luhur termasuk kebaikan yang berorientasi pada diri sendiri (seperti kontrol diri dan moderasi) sebagaimana dengan kebaikan yang berorientasi pada hal lainnya (seperti kemurahan hati dan belas kasihan) dan kedua jenis ini berhubungan. Semua orang perlu untuk mengendalikan dirinya sendiri, keinginannya dan hasratnya untuk melakukan hal yang baik bagi orang lain.
Thomas Lickona (1991: 81) memberikan suatu cara berpikir tentang karakter yang tepat bagi pendidikan nilai: Karakter terdiri dari nilai operatif, nilai dalam tindakan. Setiap orang berproses dalam karakternya masing-masing, seiring suatu nilai menjadi suatu kebaikan, suatu disposisi batin yang dapat diandalkan untuk menanggapi situasi dengan cara yang menurut moral itu baik. Karakter yang terasa demikian memiliki tiga bagian yang saling berhubungan: pengetahuan moral,
commit to user
perasaan moral, dan perilaku moral. Karakter yang baik terdiri dari mengetahui hal yang baik,menginginkan hal yang baik, dan melakukan hal yang baik. Ketiga hal ini diperlukan untuk mengarahkan suatu kehidupan moral; ketiganya ini membentuk kedewasaan moral. Ketika seseorang berpikir tentang jenis karakter yang diinginkan bagi anak-anaknya, sudah jelas bahwa orang tersebut menginginkan anak-anaknya untuk mampu menilai apa yang benar, sangat peduli tentang apa yang benar dan kemudian melakukan apa yang mereka yakini itu benar meskipun berhadapan dengan godaan dari dalam dan tekanan dari luar. (Lickona, 1991: 82)
Karakter identik dengan akhlak sehingga karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang universal yang meliputi seluruh aktivitas manusia baik dalam rangka berhubungan dengan Tuhan, diri sendiri, sesama manusia, maupun lingkungan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat.
(Marzuki, 2015: 21) Pendidikan karakter adalah sebuah upaya manusia menuju standar baku. Upaya ini juga memberi jalan untuk menghargai persepsi dan nilai- nilai pribadi yang ditampilkan sekolah. Fokus pendidikan karakter adalah pada tujuan-tujuan etika, tetapi praktiknya meliputi penguatan kecakapan-kecakapan yang penting yang mencakup perkembangan sosial siswa. (Abdul & Dian, 2013: 11)
Menurut Mohammad Nuh (2013: 52) pendidikan karakter bukanlah menghafal setumpuk dalil dan teori tentang kebaikan, kejujuran, ketulusan dan karakter luhur lainnya yang hanya menambah pengetahuan tentang kebaikan. Akan tetapi, pendidikan karakter juga meliputi pengetahuan tentang kebaikan, lalu menimbulkan komitmen terhadap kebaikan dan akhirnya benar-benar melakukan kebaikan, setidaknya perlu dua hal utama selain pengajaran, yaitu keteladanan (modeling) dan pembiasaan (habituations).
Menurut Musa Pelu (2017: 39-40) pendidikan karakter dalam konteks pendidikan di sekolah adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada waga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut. Pendidikan karakter adalah proses
commit to user
pemberian tuntunan kepada peserta didik untuk menjadi manusia seutuhnya yang berkarakter dalam dimensi hati, pikir, raga, serta rasa dan karsa. Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik, dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati. Menurut Damayanti (2014, 11-12) pendidikan karakter adalah gerakan nasional menciptakan sekolah yang membina etika, bertanggung jawab dan merawat orang-orang muda dengan pemodelan dan mengajarkan karakter baik melalui penekanan pada universal, nilai- nilai yang kita semua yakini. Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action).
Thomas Lickona (1991: 69) menyebutkan dua nilai utama dalam pendidikan moral: sikap hormat dan tannggung jawab. Nilai-nilai tersebut mewakili dasar moralitas utama yang berlaku secara universal. Rasa hormat berarti menunjukkan penghargaan seseorang terhadap harga diri orang lain ataupun hal lain selain dirinya.
Terdapat tiga hal yang menjadi pokok yaitu penghormatan terhadap diri sendiri, penghormatan terhadap orang lain dan penghormatan terhadap semua bentuk kehidupan dan lingkungan yang saling menjaga satu sama lain. Tanggung jawab merupakan suatu bentuk lanjutan dari rasa hormat. Tanggung jawab secara literal berarti “kemampuan untuk merespon atau menjawab”. Itu artinya, tanggung jawab berorientasi terhadap orang lain, memberikan bentuk perhatian dan secara aktif memberikan respon terhadap apa yang mereka inginkan. Tanggung jawab menekankan pada kewajiban positif untuk saling melindungi satu sama lain.
Bentuk-bentuk nilai lain yang sebaiknya diajarkan di sekolah adalah kejujuran, keadilan, toleransi, kebijaksanaan, disiplin diri, tolong menolong, peduli sesama, kerja sama, keberanian, dan sikap demokratis (Lickona, 1991: 74). Nilai- nilai khusus tersebut merupakan bentuk dari rasa hormat dan tanggung jawab ataupun sebagai media pendukung untuk bersikap hormat dan bertanggungjawab.
commit to user
a. Kejujuran : Kejujuran adalah salah satu bentuk nilai yang hubungannya dengan manusia seperti tidak menipu, berbuat curang, atau mencuri merupakan salah satu cara dalam menghormati orang lain.
b. Keadilan : Sikap adil mengharuskan seseorang untuk memperlakukan orang- orang dengan sama dan tidak membeda-bedakan.
c. Toleransi : Toleransi merupakan bentuk refleksi dari sikap hormat. Meskipun toleransi dapat berbaur menjadi sebuah relativisme netral untuk menghindari berbagai prasangka yang menyangkut etika, toleransi pada akhirnya adalah tanda dari salah satu arti kehidupan yang beradab. Toleransi merupakan sebuah sikap yang memiliki kesetaraan dan tujuan bagi mereka yang memiliki pemikiran, ras, dan keyakinan berbeda-beda. Toleransi adalah sesuatu yang membuat dunia setara dari berbagai bentuk perbedaan.
d. Kebijaksanaan : Nilai lain yang dapat menjadikan seseorang menghormati diri sendiri adalah kebijaksanaan. Misalnya, ketika seseorang menjauhi diri orang lain dari hal-hal yang dapat membahayakan diri baik secara fisik maupun moral (sejalan dengan gagasan klasik, “menghindari hal-hal yang menimbulkan dosa”).
e. Disiplin diri : Disiplin diri membentuk diri seseorang untuk tidak mengikuti keinginan hati yang mengarah pada perendahan nilai diri atau perusakan diri, tetapi untuk mengejar apa-apa yang baik bagi dirinya, dan untuk mengejar keinginan sehat/positif dalam kadar yang sesuai. Disiplin diri juga membentuk diri kita untuk tidak mudah puas terhadap apa yang telah diraih, dengan cara mengembangkan kemampuan, bekerja dengan manajemen waktu yang bertujuan, dan menghasilkan sesuatu yang berarti bagi kehidupan. Semua itu merupakan bentuk dari sikap hormat.
f. Tolong-menolong : Jiwa tolong-menolong memberikan bimbingan untuk berbuat kebaikan dengan hati.
g. Peduli sesama : Sikap peduli sesama (dengan arti “berkorban untuk”) membantu seseorang untuk tidak hanya mengetahui apa yang menjadi tanggung jawabnya, tetapi juga merasakannya.
commit to user
h. Bekerja sama : Sikap saling bekerja sama mengenal bahwa “tidak ada yang mampu hidup sendiri di sebuah pulau (tempat kehidupan) dan dunia yang semakin sering membutuhkan, setiap orang harus bekerja secara bersama-sama dalam meraih tujuan yang pada dasarnya sama dengan upaya pertahanan diri.
i. Keberanian : Sikap berani akan membantu para pemuda untuk menghormati diri mereka sendiri agar dapat bertahan dalam berbagai tekanan teman-teman sebaya untuk melakukan sesuatu yang membahayakan keselamatan hidup mereka.
Sikap berani juga membentuk kita semua untuk menghormati hak-hak orang lain ketika kita menghadapi sebuah tekanan yang memaksa kita untuk bergabung dalam sikap yang mengarah pada ketidakadilan. Keberanian juga membentuk diri kita untuk bertindak tegas dan positif terhadap orang lain.
j. Demokrasi : Demokrasi, pada gilirannya merupakan cara yang diketahui terbaik dalam menjamin keamanan dari hak asasi masing-masing individu (untuk memiliki rasa hormat) dan juga mengangkat makna dari kesejahteraan umum (bersikap baik dan bertanggung jawab kepada semua orang). Mendidik sebuah pemahaman dan penghargaan terhadap nilai-nilai demokrasi tersebut dan bagaimana mereka membangun realitas melalui hukum-hukum yang berlaku merupakan bagian utama dari perubahan moral yang terjadi di sekolah. Nilai- nilai tersebut juga membantu kita untuk mendefinisikan makna “patriotisme”
yang seharusnya diajarkan di sekolah. Dalam sebuah demokrasi, patriotisme bukanlah berarti, “Inilah negeriku, dengan segala yang benar dan yang salah.”
Dengan demikian, loyalitas berada pada nilai-nilai demokratis, di mana negeri ini pun dibangun atas hal tersebut
(Lickona, 1991: 74-76)
Demikian dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter merupakan tugas utama pendidikan. Dalam lingkungan sekolah, penyelenggaraan pendidikan karakter harus berpijak pada nilai-nilai karakter dasar manusia. Nilai dasar tersebut kemudian dikembangkan menjadi nilai-nilai yang lebih banyak atau lebih tinggi disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi, dan lingkungan sekolah itu sendiri.
commit to user
2. Pondok Pesantren
Istilah pondok berasal dari pengertian asrama para santri, tempat mondok atau tempat tinggal yang dibuat dari bambu. Kata itu berasal dari bahasa Arab yaitu funduq yang berarti hotel atau asrama tempat murid-murd belajar mengaji atau disebut tempat belajar agama Islam. Pesantren adalah lembaga pendidikan tradisional Islam yang mendidik para santri untuk memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam (tafaquh fi al din) sebagai pedoman hidup sehari-hari (Nizar, 2013: 113- 114).
Secara etimologi perkataan pesantren berasal dari akar kata santri dengan awalan pe dan akhiran an berarti tempat tinggal santri (Dhofier, 1994: 18). Asal kata pesantren terkadang dianggap gabungan dari kata “sant” (manusia baik) dengan suku kata “ira” (suka menolong), sehingga kata pesantren dapat berarti tempat pendidikan manusia baik-baik. Profesor John berpendapat bahwa istilah santri berasal dari bahasa Tamil, yang berarti guru mengaji. CC Berg berpendapat bahwa istilah pesantren berasal dari kata shastri yang dalam bahasa India adalah orang- orang yang tahu buku-buku suci agama Hindu, atau orang sarjana ahli kitab suci Hindu (Daulay, 2001: 7). Santri juga diyakini berasal dari bahasa Jawa yaitu cantrik yang berarti orang yang selalu mengikuti seorang guru kemanapun sang guru pergi dan menetap dengan tujuan dapat belajar suatu keahlian (Malik, 2008: 15-16). Di luar pulau Jawa lembaga pendidikan pesantren ini disebut dengan nama lain seperti Surau di Sumatra Barat, Rangkang dari Dayah di Aceh, dan pondok di daerah lain.
Secara terminologis, Steenbrink menjelaskan bahwa pendidikan pesantren, dilihat dari segi bentuk dan sistemnya berasal dari India. Sistem ini sebelum proses penyebaran Islam di Indonesia, telah digunakan secara umum untuk pendidikan dan pengajaran agama Hindu di Jawa, kemudian di ambil alih oleh Islam setelah Islam masuk dan tersebar di Jawa (Nizar, 2013: 87).
Dari pemaparan pendapat di atas, maka dapat digambarkan bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan keagamaan yang memiliki kekhasan tersendiri dan berbeda dengan lembaga pendidikan lainnya dalam menyelenggarakan sistem
commit to user
pendidikan dan pengajaran agama. Ditinjau dari segi historisnya pesantren sudah dikenal jauh sebelum Indonesia merdeka bahkan sebelum Islam datang dan masuk ke Indonesia sebab lembaga serupa sudah ada sejak zaman Hindu dan Buddha.
a. Elemen-elemen Pesantren
Pesantren memiliki ciri yang khas dan menjadi sarat disebut sebagai pesantren. Terdapat elemen-elemen yang tidak dimiliki lembaga pendidikan di luar pesantren dan elemen tersebut hanya ada di pesantren. Elemen atau unsur tersebut ialah :
1) Kyai
Kyai adalah gelar bagi seseorang yang memiliki pengetahuan agama yang luas, memiliki kesalehan yang baik dan mempunyai kepribadian yang terpuji (Nizar, 2013: 128-129). Menurut asal-usulnya, perkataan kyai dalam bahasa Jawa dipakai untuk tiga jenis gelar yang saling berbeda. Pertama, sebagai gelar kehormatan bagi barang-barang yang dianggap keramat. Kedua, gelar kehormatan untuk orang-orang tua umumnya. Ketiga, gelar yang diberikan masyarakat kepada seorang yang ahli agama Islam yang memiliki pesantren dan mengajarkan kitab Islam klasik kepada santrinya (Dhofier, 1994:
55). Kyai dalam pembahasan ini mengacu pada pengerian yang ketiga, kebanyakan sekarang yang memiliki keilmuan agama Islam tinggi yang bisa disebut sebagai kyai.
2) Santri
Santri adalah orang yang belajar di pesantren, santri ini dapat digolongkan menjadi dua kelompok :
a) Santri mukim, yaitu murid-murid yang berasal dari daerah yang jauh dan menetap dalam kelompok pesantren. Sebagai santri mukim mereka memiliki kewajiban-kewajiban tertentu.
b) Santri kalong, yaitu muri-murid yang berasal dari desa-desa di sekeliling pesantrean, yang biasanya tidak menetap dalam pesantren. Santri kalong
commit to user
mengikuti pelajaran dengan cara pulang pergi antara rumahnya dengan pesantren. (Dhofier, 1994: 51-52)
3) Pondok/Asrama
Istilah pondok diambil dari bahasa Arab Al Funduk yang berarti tempat penginapan atau asrama. Pondok mengandung arti tempat tinggal bagi para santri dan juga kyai di sebuah pesantren. keberadaan pondok sangatlah penting karena di tempat tersebut selalu terjadi komunikasi antara santri dan kyai.
(Daulay, 2001: 16) 4) Masjid
Masjid diartikan secara harfiah adalah tempat sujud, karena di tempat ini setidaknya seorang muslim lima kali sehari semalam melaksanakan sholat.
Masjid di zaman Rosulullah masih berfungsi sebagai tempat ibadah dan urusan-urusan sosial kemasyarakatan. Suatu pesantren mutlak mesti memiliki masjid, sebab disitulah pada mulanya dilaksanakan pembelajaran, komunikasi hubungan antara santri dan kyai. Kyai hingga sekarang sering mempergunakan masjid sebagai tempat membaca kitab-kitab klasik, dengan metode wetonan dan sorogan. (Daulay, 2001: 17)
5) Pengajaran Kitab-kitab Islam
Pengajaran ilmu-ilmu di pesantren, pada umumnya dilaksanakan lewat pengajaran kitab-kitab klasik, di samping ada sebagian pesantren yang memakai kitab-kitab berbahasa Arab yang tidak tergolong kitab klasik.
a) Pengajian kitab-kitab Islam klasik
Kitab-kitab Islam klasik yang lebih populer dengan sebutan kitab kuning, ditulis oleh ulama-ulama Islam pada zaman pertengahan.
Kepintaran dan kemahiran seorang santri diukur dari kemampuannya membaca serta mensyarahkan (menjelaskan) isi kandungan kitab-kitab tersebut. Seorang santri agar bisa membaca dan memahami suatu kitab dengan benar, dituntut terlebih dahulu untuk memahami ilmu-ilmu bantu seperti nahwu, sharaf, balaghah, ma’ani, dan bayan. Kitab klasik yang
commit to user
diajarkan di pesantren dapat digolongkan menjadi 8 kelompok yaitu : nahwu/sharaf, fiqh, ushul fiqh, hadits, tafsir, tauhid, tasawuf dan etika, serta cabang-cabang ilmu lainnya seperti tarikh dan balaghah. Posisi kitab kuning sedemikian tinggi sehingga setiap pesantren selalu mengadakan pengajian kitab kuning.
b) Pengajian kitab-kitab Islam non Klasik
Pesantren yang tergolong tradisional atau salafiyah, pengajian kitab klasik mutlak dilaksanakan (tidak demikian halnya dengan pesantren yang tergolong modern). Pesantren modern kitab-kitab klasik tidak menjadi bagian penting, bahkan boleh dikatakan tidak diajarkan. Pengajian ilmu- ilmu agama diambil dari kitab-kitab berbahasa Arab yang disusun oleh ulama-ulama yang tergolong mutaakhir. Pengajian di pesantren ini kebanyakan bersumber pada kitab-kitab karangan ulama yang sudah tergolong abad ke-20. Misalnya Mahmud Yunus, K.H. Imam Zarkasyi, Abdul Hamid Hakim, Umar Bakri, dan lain-lain. Pelajaran-pelajarannya disusun menggunakan bahasa Arab. Jadi, kemampuan mendalami dan menguasai kaedah-kaedah bahasa Arab juga merupakan hal penting untuk dapat membaca dan memahami kitab-kitab tersebut. (Daulay, 2001: 18-19) b. Jenis-jenis Pesantren
1) Pesantren Tradisional
Pesantren dengan corak yang pertama, meskipun tidak' setradisional yang dulu, masih tetap mempertahankan nilai-nilai tradisionalnya, dalam arti tidak mengalami transformasi yang berarti dalam sistem pendidikannya.
Pesantren tradisional juga tidak begitu terpengaruh oleh perubahan dan perkembangan zaman. Ciri khas yang tetap dilestarikan dalam pesantren corak ini ialah materi pelajaran dan metodenya, yang cenderung merujuk pada kitab- kitab klasik atau lazim disebut “kitab kuning”. Motivasi belajar para santri lebih kepada prinsip tafaqquh fi al-din. Sistem pengajarannya tidak disisipkan sama sekali pendidikan umum atau tidak keluar dari jalur mazhab tertentu. Para
commit to user
santri biasanya mengkaji kitab secara kontinu, dari awal sampai tamat, di bawah bimbingan guru atau kiai, bahkan metodenya sangat monoton, dengan fasilitas yang sangat sederhana. Aktivitas spiritual atau sufistiknya masih menonjol. Pesantren corak ini masih eksis di daerah-daerah pedalaman atau countryside. (Nata, 2001: 123)
2) Pesantren Transisional
Pendidikan dalam corak yang transisional dapat ditandai pada porsi adaptasinya pada nilai-nilai baru. Corak pendidikan ini sudah mulai mengadopsi sistem pendidikan modern, tetapi tidak sepenuhnya. Prinsip selektivitas untuk menjaga nilai tradisional masih terpelihara. Nilai-nilai positif dari sistem pendidikan modern diambil sebagai pelengkap atau pendukung sistem tradisional, misalnya metode pengajaran dan beberapa rujukan tambahan yang dianggap dapat menambah wawasan para santri sebagai penunjang kitab-kitab klasik seperti kitab ushul fiqh karya Ibn As-Sa’ati yaitu kitab Badi’ An-Nizham, Kitab At-Tanqih karya Imam Ubaidillah bin Mas’ud, kitab Jam’u Al Jawami’ karya Imam Abdul Wahab bin Ali dan masih banyak lagi referensi dari ulama mutaakhirin yang digunakan di pesantren transisional.
Manajemen dan administrasi sudah mulai ditata secara modern meskipun sistem tradisionalnya tetap dipertahankan. Pesantren corak transisional terdapat di daerah-daerah urban atau di sekitarnya. (Nata, 2001: 124)
3) Pesantren Modern
Pesantren corak modern telah mengalami transformasi yang sangat signifikan baik dalam sistem pendidikannya maupun unsur-unsur kelembagaannya. Materi pelajaran dan metodenya misalnya, sepenuhnya menganut sistem modern. Pesantren sudah diatur atau dikelola dengan manajemen dan administrasi yang rapi. Pendidikan secara klasikal sudah diterapkan dan keterampilan atau keahlian pun dijadikan sebagai pokok kajian.
Pengembangan minat dan bakat sangat diperhatikan sehingga para santri dapat menyalurkan bakat dan hobinya secara proporsional. Sistem pengajaran
commit to user
dilaksanakan dengan porsi sama antara pendidikan agama dan umum.
Penguasaan bahasa asing (bahasa Arab dan Inggris), terutama percakapan sangat ditekankan. (Nata, 2001: 125-126)
3. Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam a. Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran merupakan aspek kegiatan manusia yang kompleks.
Secara sederhana, pembelajaran dapat diartikan sebagai produk interaksi berkelanjutan antara pengembangan dan pengalaman hidup. Pembelajaran merupakan proses kerja sama antara guru dan peserta didik dalam memanfaatkan segala potensi dan sumber daya yang ada, baik potensi yang bersumber dari dalam peserta didik itu sendiri seperti bakat, minat, dan kemampuan dasar yang dimiliki, termasuk gaya belajar, maupun potensi yang ada di luar diri siswa seperti lingkungan, sarana, dan sumber belajar sebagai upaya untuk mencapai tujuan belajar tertentu. (Agung & Wahyuni, 2013: 3).
Pembelajaran menurut Rifa’i merupakan serangkaian peristiwa eksternal peserta didik yang dirancang untuk mendukung proses internal belajar. Jadi, dalam proses pembelajaran dirancang sedemikian rupa komponen-komponen belajarnya sehingga memungkinkan peserta didik untuk menambah pengetahuan dan mengembangkan karakternya (Rifa’i, 2009:191).
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tetang Sistem Pendidikan Nasional, ditegaskan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Menurut pengertian ini, pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan, kemahiran, dan tabiat, serta pembentukan sikap dan keyakinan pada peserta didik (Susanto, 2013:19). Proses pembelajaran merupakan proses yang terpenting karena dari sinilah terjadi interaksi langsung antara pendidik dan peserta didik. Campur tangan langsung antara pendidik dan peserta didik berlangsung sehingga dapat dipastikan bahwa hasil pendidikan sangat tergantung dari perilaku pendidik
commit to user
dan perilaku peserta didik. Dengan demikian dapat diyakini bahwa perubahan hanya akan terjadi jika terjadi perubahan perilaku pendidik dan peserta didik.
Dari definisi tentang pembelajaran di atas, dapat ditarik simpulan bahwa pembelajaran adalah usaha membelajarkan peserta didik menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar melalui interaksi dua arah antara pendidik dan peserta didik. Keduanya saling terjadi komunikasi yang intens, sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik.
b. Sejarah Kebudayaan Islam
Kata sejarah bersal dari bahasa Arab syajara berarti terjadi, syajarah berarti pohon, syajarah an-nasab berarti pohon silsilah, bahasa Inggris history, bahasa Latin dan Yunani historia (Kuntowijoyo, 1995: 1). Sejarah bukan hanya berarti pohon, dalam arti “pohon keluarga” dan tidak hanya berarti keturunan, asal-usul dan silsilah. Walaupun demikian, mempelajari sejarah, sedikit- sedikitnya tentu mempelajari ceritera, keturunan, silsilah, riwayat, asal-usul tentang seseorang atau kejadian. Arti kata sejarah ditinjau dari sudut etimologi yang menggambarkan sifat seperti pohon yang tumbuh, namun demikian bukanlah dimaksudkan bahwa sejarah itu secara bio.logis, tumbuh, berkembang, berbuah atau tidak dan akhirnya mati. Sejarah memang tumbuh, hidup, berkembang dan bergerak terus dan akan berjalan terus tiada hentinya sepanjang masa (Sjamsudin dan Ismaun, 1996: 2).
Kalangan umat Islam menggunakan istilah tarikh dalam menisbatkan makna sejarah. Kata tarikh lebih umum digunakan untuk peristiwa dan kejadian sejarah. Tarikh awalnya adalah sistem pembagian waktu atau suatu periode seperti hari, minggu, bulan dan tahun serta pengaturan pembagian tersebut dalam susunan tertentu. Secara bahasa berarti era. kronologi, penanggalan, kronik, karya sejarah atau sejarah itu sendiri, berkembang menjadi ilmu tarikh. yaitu ilmu yang berusaha menggali peristiwa masa lalu agar tidak dilupakan orang (Sulaiman, 2014; 22).
commit to user
Menurut Sutrasno (1975: 7) yang dimaksud dengan sejarah ialah segala kejadian sepanjang masa. Segala kejadian tidak berarti semua kejadian dicatat dalam sejarah, tetapi terbatas yang ada hubungannya dengan tata kehidupan manusia. Sejarah mencatat akan adanya saling hubungan, seperti kebudayaan, di satu tempat dengan tempat lain, antar waktu atau dengan kata lain mencatat adanya pengaruh luar dan perkembangannya. Sejarah ialah rekonstruksi masa lalu mengenai apa yang sudah dipikirkan, dikatakan, dikerjakan, dirasakan dan dialami oleh orang (Kuntowijoyo, 1995: 17).
Kebudayaan secara umum dapat dipahami sebagai semua hasil karya, rasa, dan karsa masyarakat (Mubarok, 2004: 2). Ki Hajar Dewantara (1967: 65) mengartikan kebuyaan sebagai buah budi manusia. Budi tidak lain ialah “jiwa yang sudah masak, sudah cerdas” dan boleh karenanya sanggup mencipta.
Karena budi manusia itu mempunyai dua sifat yang istimewa, yaitu sifat luhur dan sifat halus, maka segala ciptaannya senantiasa mempunyai sifat luhur dan halus pula, sesuai dengan pelajaran Ethika dan Aesthetika. Budi manusia meliputi segala gerak-gerik fikiran, rasa dan kemauan manusia, maka kebudayaan dapat dibagi menjadi: buah fikiran (ilmu pengetahuan, pedidikan, pengajaran dan filsafat), buah perasaan (segala sifat keindahan dan keluhuran batin, kesenian, adat istiadat, kenegaraan, keadilan, keagamaan dan kesosialan), buah kemauan (semua sifat perbuatan dan buatan manusia seperti industri, pertanian, perkapalan, bangunan-bangunan).
Menurut Koentjaraningrat (1990: 181) kata “kebudayaan” berasal dari bahasa Sansekerta buddhayah, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti
“budi” atau “akal”. Dengan demikian kebudayaan dapat diartikan sebagai hal- hal yang bersangkutan dengan akal. Kebudayaan merupakan sesuatu yang mencakup seluruh aktivitas manusia dalam bermasyarakat. Secara fungsional, bila dihubungkan antara kebudayaan dan usaha-usaha manusia dalam hidup bermasyarakat, maka kebudayaan dapat dilihat sebagai pengetahuan manusia yang digunakan untuk menginterpretasi dan memahami lingkungan yang
commit to user
dihadapi sebagai pedoman untuk bertindak sesuai dengan lingkungan tersebut (Sulaiman, 2014: 31). Sultan Takdir Alisyahbana (1986: 205) menjelaskan tentang kebudayaan sebagai berikut: Pertama, suatu keseluruhan yang kompleks yang terjadi dari unsur-unsur yang berbeda-beda seperti pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, moral, adat istiadat, dan segala kecakapan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Kedua, warisan sosial atau tradisi. Ketiga, cara, aturan dan jalan hidup manusia.
Keempat, penyesuaian manusia terhadap alam sekitarnya dan cara-cara menyelesaikan persoalan. Kelima, hasil perbuatan atau kecerdasan manusia.
Keenam, hasil pergaulan atau perkumpulan manusia. Menurut ilmu antropologi, kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar (Koentjaraningrat, 1990: 181).
Islam memiliki arti agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Allah kepada manusia melalui Nabi Muhammad sebagai Rasul, baik dengan perantaraan malaikat Jibril, maupun secara langsung. Islam menurut Anshari (1980: 23) ialah suatu sistem keyakinan dan tata ketentuan yang mengatur segala perikehidupan dan penghidupan manusia dalam pelbagai hubungan:
baik hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan sesama manusia ataupun hubungan manusia dengan alam yang bersumber pada Al quran dan Sunnah.
Jadi dapat disimpulkan sejarah kebudayaan Islam adalah kejadian atau peristiwa masa lampau yang berbentuk hasil karya, karsa, dan cipta umat Islam yang didasarkan kepada sumber nilai-nilai Islam.
c. Pengertian Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam
Pembelajaran sejarah adalah perpaduan antara aktivitas belajar dan mengajar yang di dalamnya mempelajari tentang peristiwa masa lampau yang erat kaitannya dengan masa kini. Peran penting pembelajaran sejarah terlihat jelas bukan hanya sebagai proses transfer ide, akan tetapi juga proses
commit to user
pendewasaan peserta didik untuk memahami identitas, jati diri dan kepribadian bangsa melalui pemahaman terhadap peristiwa sejarah (Susanto, 2014: 56).
Pembelajaran sejarah dibedakan atas sejarah empiris dan sejarah normatif. Sejarah empiris menyajikan substansi kesejarahan yang bersifat akademis. Sejarah normatif menyajikan substansi kesejarahan yang dipilih menurut ukuran nilai dan makna yang sesuai dengan tujuan yang bersifat normatif, sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Berkaitan dengan itu, pelajaran sejarah mengandung dua misi, yakni (1) untuk pendidikan intelektual dan (2) pendidikan nilai, pendidikan kemanusiaan, pendidikan pembinaan moralitas, jati diri, nasionalisme dan identitas nasional (Agung dan Wahyuni, 2013: 63).
Pembelajaran sejarah hendaknya memperhatikan beberapa prinsip:
1) Pembelajaran yang dilakukan haruslah adaptif terhadap perkembangan peserta didik dan perkembangan zaman. Kendatipun sejarah bercerita tentang kehidupan pada masa lalu, bukan berarti sejarah tidak bisa diajarkan secara kontekstual. Banyak nilai dan fakta sejarah yang bila disampaikan dengan benar dan sesuai dengan alam fikiran peserta didik akan mampu membangkitkan pemahaman dan kesadaran peserta didik terhadap nilai-nilai nasionalisme, patriotisme dan persatuan.
2) Pembelajaran sejarah hendaklah berorientasi pada pendekatan nilai.
Menyampaikan fakta memang sangat penting dalam pembelajaran sejarah, akan tetapi yang juga tidak kalah penting adalah bagaimana mengupas fakta-fakta tersebut dan mengambil intisari nilai yang terdapat di dalamnya sehingga si pembelajar akan menjadi lebih mawas diri sebagai akibat dari pemahaman nilai tersebut.
3) Strategi pembelajaran yang digunakan hendaklah tidak mematikan kreatifitas dan memaksa peserta didik hanya untuk menghafal fakta dalam buku teks. Sejarah sudah saatnya diajarkan dengan cara yang berbeda, kebekuan pembelajaran yang terjadi seringkali dikarenakan rendahnya
commit to user
kreatifitas dalam pembelajaran sejarah. Sebagai akibatnya kejenuhan seringkali menjadi faktor utama yang dihadapi guru dalam mengajarkan sejarah dan siswa dalam belajar sejarah. (Susanto, 2014: 56-57)
Sejarah Kebudayaan Islam merupakan catatan perkembangan perjalanan hidup manusia muslim dari masa ke masa dalam beribadah, bermuamalah dan berakhlak serta dalam mengembangkan sistem kehidupan atau menyebarkan ajaran Islam yang dilandasi oleh akidah (PMA No. 65 Th 2014). Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam merupakan proses pembelajaran yang menekankan pada kemampuan mengambil ibrah/ hikmah (pelajaran) dari sejarah Islam, meneladani tokoh-tokoh berprestasi, dan mengaitkannya dengan fenomena sosial, budaya, politik, ekonomi, iptek dan seni, dan lain-lain, untuk mengembangkan Kebudayaan dan peradaban Islam pada masa kini dan masa yang akan datang.
B. Penelitian yang Relevan
Terdapat beberapa pernelitian relevan yang terkait dengan penelitian Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di Pondok Pesantren Modern Al Amin meskipun fokus masalah dalam setiap penelitian terdahulu berbeda-beda. Penelitian relevan tersebut diantaranya:
1.
Penelitian oleh Imam Syafe’I (2017) dengan judul “Pondok Pesantren: Lembaga Pendidikan Pembentukan Karakter”. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa prinsip pesantren adalah al muhafadzah „ala al qadim al shalih, wa al akhdzu bi al jadid al ashlah, yaitu tetap memegang tradisi yang positif, dan mengimbangi dengan mengambil hal-hal baru yang positif. Dengan demikian, pesantren dapat memainkan peran edukatifnya dalam penyediaan sumber daya manusia yang berkarakter dan berkualitas yang terintegrasikan dalam iman, ilmu, dan amal shaleh. Relevansi antara penelitian terdaulu dengan penelitian yang akan penulis teliti adalah penelitian ini sama-sama membahas pendidikan karakter di lembagacommit to user
pondok pesantren. Pelaksanaan pendidikan karakter yang ada di pondok pesantren menjadi ciri khas dalam dunia pendidikan Islam. Perbedaan penelitian terdahulu ini dengan penelitian yang akan diteliti adalah bahwa penelitian terdahulu menjelaskan secara komperehensif pendidikan karakter yang ada di pondok pesantren sedangkan peneliti akan meneliti secara khusus pendidikan karakter yang ada dalam pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di Pondok Pesantren.
2.
Penelitian oleh Sutrisno (2017) dengan judul “Implementasi Pendidikan Karakter di Pondok Pesantren Modern Muhammadiyah Boarding School (MBS) Yogyakarta”. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa pendidikan karakter bukan hanya menjadi suatu wacana saja, akan tetapi pendidikan karakter dilaksankan di pondok pesatren ini melalui metode pembiasaan, metode pemberian nasehat, metode keteladanan, metode praktik dan metode pemberian reward dan punishment. Relevansi antara penelitian terdaulu dengan penelitian yang akan penulis teliti adalah penelitian ini sama-sama membahas pendidikan karakter di lembaga pondok pesantren. Penggunaan metode yang lazim digunakan di pondok pesantren menjadi perhatian peneliti. Perbedaan penelitian terdahulu ini dengan penelitian yang akan diteliti adalah bahwa penelitian terdahulu menjelaskan nilai-nilai karakter dan metode pelaksanaan yang ada di pondok pesantren sedangkan peneliti akan meneliti secara khusus pendidikan karakter yang ada dalam pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di Pondok Pesantren.3.
Penelitian oleh Makhrus Fauzi (2015) dengan judul “Pembentukan Karakter Siswa Melalui Proses Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di Kelas IV Madrasah Ibtidaiyah Ma’arif Giriloyo I Imogiri Bantul”. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa pemblajaran SKI telah melakukan pendidikan karakter dan nilai karakter yang tercantum dalam pembelajaran SKI diantaranya yaitu jujur, religius, rajin, rasa ingin tahu, kepedulian sosial, tanggung jawab,commit to user
toleransi, kerja keras, komunikatif, demokratis, disiplin, mandiri, dan gemar membaca. Relevansi antara penelitian terdaulu dengan penelitian yang akan penulis teliti adalah penelitian ini sama-sama membahas pendidikan karakter dalam pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam. Perbedaan penelitian terdahulu ini dengan penelitian yang akan diteliti adalah lembaga yang diteliti bahwa penelitian terdahulu meneliti lembaga madrasah ibtidaiyah sedangkan peneliti akan meneliti lembaga pondok pesantren.
4.
Penelitian oleh Mustika Zahro, Sumardi dan Marjono (2017) dengan judul “The Implementation Of The Character Education In History Teaching”. Nilai-nilai karakter yang dikembangkan melalui mata pelajaran sejarah di SMA Negeri 1 Tanggul antara lain: Cinta tanah air, kejujuran, disiplin, bersahabat atau komunikatif, dan religius. Perbedaan penelitian terdahulu ini dengan penelitian yang akan diteliti adalah lembaga yang diteliti bahwa penelitian terdahulu meneliti lembaga SMA sedangkan peneliti akan meneliti lembaga pondok pesantren dan perbedaan pada mata pelajaran dimana penelitian terdahulu meneliti mata pelajaran Sejarah Indonesia sedangkan peneliti akan meneliti Sejarah Kebudayaan Islam.5.
Penelitian oleh Ranulin Windarsari (2017) dengan judul “Character Education Through History Learning on Nonformal Education”. Hasil penelitian menunjukkan belajar sejara memiliki posisi penting dalam pembentukan karakter nasional. Dalam konteks pengajaran sejarah di tingkat pendidikan non- formal program yang berfokus pada Paket C untuk memberikan keterampilan motivasi bagi peserta didik yang berfungsi sebagai untuk memperkuat identitas dan rasa kebangsaan sebagai bagian dari pembangunan karakter nasional.Perbedaan penelitian terdahulu ini dengan penelitian yang akan diteliti adalah lembaga yang diteliti bahwa penelitian terdahulu meneliti pendidikan non- formal sedangkan peneliti akan meneliti lembaga pondok pesantren dan
commit to user
perbedaan pada mata pelajaran dimana penelitian terdahulu meneliti mata pelajaran Sejarah sedangkan peneliti akan meneliti Sejarah Kebudayaan Islam.
C. Kerangka Berpikir
Pendidikan karakter menjadi tujuan pendidikan di Indonesia. Pelaksanaan pendidikan karakter di lembaga pendidikan bertujuan untuk membentuk karakter siswa sejak dini agar memiliki watak dan kepribadian yang berkarakter kuat. Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan yang selalu mengedepankan pendidikan karakter. Tata tertib yang dibuat berdasarkan nilai-nilai ajaran agama dan nilai moral yang berlaku di masyarakat sehingga membentuk pembiasaan bagi diri santri untuk melakukan hal-hal positif dan akan mendapatkan sanksi ketika melakukan pelanggaran dan melakukan hal negatif. Model dan metode pembelajaran di pondok pesantren sangat kental akan penanaman nilai-nilai karakter. Penerapan sistem pendidikan terpadu 24 jam dimana santri di didik dari dari bangun tidur sampai tidur lagi, tidak hanya di dalam kelas tetapi dilaksanakan juga diluar kelas melalui pengawalan para pendidik baik kiai, ustadz maupun santri senior. Dengan sistem terpadu 24 jam santri akan dinamis dan menghasilkan perilaku yang dinamis pula.
Hal ini biasa disaksikan bahwa santri yang terbiasa dengan tugas dan kegiatan yang banyak, maka gerak dan langkahnyapun terlihat cepat. Kajian-kajian kitab dalam berbagai disiplin ilmu memiliki perannya masing masing. Salah satu disiplin ilmu yang mengandung nilai-nilai karakter ialah Sejarah Kebudayaan Islam.
Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam dapat mengembangkan sikap dan kepribadian bagi peserta didik. Semakin peserta didik memahami sejarah, maka ia akan berhati-hati dalam bertindak, mengambil keputusan dan memiliki pola pikir yang luas karena tidak ingin mengulang kesalahan yang terjadi di masa lalu.
Peristiwa-peristiwa dan tokoh-tokoh kejayaan masa lalu dapat dijadikan pelajaran bagi peserta didik dan diambil nilai manfaatnya. Pelaksanaan pendidikan karakter dapat diintegrasikan dalam proses pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di
commit to user
pondok pesantren. Dalam pelaksanaan proses pembelajaranya, ustadz berusaha untuk menggunakan pendekatan kontekstual, yakni pembelajaran yang tidak terfokus pada isi materi atau teks, tetapi makna di balik materi atau teks yang dihubungkan dengan situasi dan kondisi kekinian. Ustadz memberikan pembelajaran yang merangsang tumbuhnya karakter dan potensi peserta didik baik aspek kognitif maupun afektif pada siswa. Nilai-nilai karakter dapat terwujud dalam pengamalan nyata dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Tujuan akhir dari pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam adalah menjadikan peserta didik mampu mengambil nilai-nilai karakter yang baik dari peristiwa maupun tokoh sejarah dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Agar lebih jelasnya dapat dilihat skema mengenai kerangka berpikir di bawah ini :
Gambar 2.1 Bagan Kerangka Berpikir Pondok Pesantren
Pendidikan Karakter Nilai-nilai karakter
Proses Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam
commit to user