• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

11 BAB II

TEORI DAN PERUMUSAN HIPOTESIS

A. Penelitian Terdahulu

Penelitian oleh (Sari & Abundanti, 2016) yang berjudul “Pengaruh DPK, ROA, Inflasi dan Suku Bunga SBI Terhadap Penyaluran Kredit pada Bank Umum”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh DPK, ROA, Inflasi dan Suka Bunga SBI terhadap penyaluran kredit pada bank umum di BEI periode 2011-2015 dengan menggunakan teknik analisis regresi linier berganda. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa secara parsial DPK berpengaruh positif signifikan terhadap penyaluran kredit, ROA, Inflasi dan suku bunga SBI berpengaruh positif tidak signifikan terhadap penyaluran kredit pada bank umum.

Penelitian oleh (Putri & Akmalia, 2016) yang berjudul “Pengaruh CAR, NPL, ROA dan LDR Terhadap Penyaluran Kredit Pada Perbankan”. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Capital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing Loan (NPL), Return On Assets (ROA), dan Loan to Deposit Ratio

(LDR) terhadap Penyaluran kredit perbankan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, diperoleh hasil bahwa secara parsial rasio CAR dan ROA berpengaruh positif signifikan terhadap penyaluran kredit perbankan. Rasio NPL berpengaruh negatif signifikan terhadap penyaluran kredit perbankan. Sedangkan rasio LDR positif tidak berpengaruh signifikan terhadap penyaluran kredit perbankan.

(2)

Penelitian oleh (Chusniah & Hadi, 2018) yang berjudul “Faktor Yang Mempengaruhi Penyaluran Kredit Investasi Pada Bank Umum Di Indonesia”.

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perkembangan penyaluran kredit investasi dan pengaruh Dana Pihak Ketiga, Capital Adequacy Ratio (CAR), dan Loan to Deposit Ratio (LDR) terhadap penyaluran kredit investasi pada Bank Umum di Indonesia. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Dana pihak ketiga berpengaruh positif dan signifikan terhadap penyaluran kredit investasi, dengan nilai koefesien regresi sebesar 1.1761 dan nilai probabilitas 0.0000.

Capital Adequacy Ratio berpengaruh negatif dan tidak signifikan,dengan nilai koefesien regresi sebesar -0.0005 dan nilai probabilitas 0.3749. Loan to Deposit Ratio terhadap penyaluran kredit investasi, dengan nilai koefesien

regresi sebesar 0.0243 dn nilai probabilitas 0.0000.

Penelitian oleh (Alitu et al., 2020) yang berjudul “Analisis Pengaruh Dana Pihak Ketiga, Non Performing Loan dan Loan to Deposit Ratio Terhadap Penyaluran Kredit Investasi pada Perbankan di Sulawesi Selatan periode 2014Q1-2018Q4”. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk menganalisis besarnya pengaruh Dana Pihak ketiga, Non Performing Loan dan Loan to Deposit Ratio terhadap kredit investasi pada perbankan di Sulawesi Selatan

periode 2014Q1-2018Q4 dengan menggunakan teknik analisis regresi linier berganda metode Ordinary Least Square. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa Penelitian secara parsial, Dana Pihak Ketiga berpengaruh signifikan terhadap penyaluran kredit investasi. Sedangkan Non Performing Loan dan Loan to Deposit Ratio tidak berpengaruh signifikan terhadap penyaluran kredit

(3)

investasi. Hasil uji F, Dana Pihak Ketiga, Non Performing Loan dan Loan to Deposit Ratio berpeng aruh simultan atau secara bersama-sama signifikan

terhadap penyaluran kredit investasi pada Perbankan di Sulawesi Selatan.

Penelitian oleh (Hastuti, 2020) yang berjudul “Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Pada Penyaluran Kredit Oleh Bank Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia”. Berdasarkan penelitian diperoleh hasil bahwa variabel capital adequacy ratio (CAR), net interest margin (NIM), dan biaya operasional

pendapatan operasional (BOPO) berpengaruh positif dan signifikan terhadap penyaluran kredit. Variabel loan to deposit ratio (LDR) berpengaruh positif tetapi tidak signifikan terhadap penyaluran kredit. Variabel non performing loan (NPL) negatif dan signifikan terhadap pemberian kredit. Variabel return

on assets (ROA) berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap penyaluran kredit.

B. Landasan Teori 1. Bank Umum

Menurut Undang-Undang nomor 10 tahun 1998 bank umum adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan/atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran. Bank umum dalam pengumpulan dana biasanya berasal dari simpanan nasbah baik itu berupa giro maupun deposito. Ada 3 fungsi penting dalam bank umum yaitu, administrasi penawaran uang, penciptaan dan penghapusan uang, melakukan aktivitas peminjaman dan pemberian pinjaman (rindjin 2000). Selain fungsi bank umum juga memiliki larangan, diantaranya : bank umum tidak

(4)

diperkenankan melakukan penyetoran modal kecuali pada bank atau perusahaan lain dalam bidang keuangan serta, kecuali penyertaan modal sementara untuk mengatasi akibat kegagalan kredit atau kegagalan pembiayaan berdasarkan prinsip syariah. Bank umum juga dilarang melakukan usaha perasuransian, serta dilarang melakukan usaha lain di luar kegiatan usaha (budisantoso dan nuritomo 2014).

2. Penyaluran Kredit Investasi

Menrut Bank Pembangunan Daerah Provinsi Bali (Bali, n.d.), kredit investasi ialah kredit yang memiliki jangka waktu menengah atau panjang untuk pembelian barang-barang modal/aktiva tetap yang diperlukan untuk rehabilitasi, modernisasi, ekspansi proyek yang sudah ada atau penderian proyek baru, maupun refinancing aset produktif. Sasaran kredit dari jenis kredit ini adalah semua usaha produktif pada seluruh sektor usaha/ekonomi kecuali usaha yang dilarang oleh pemerintah atau Undang-Undang. Dengan jangka waktu kredit maksimal 15 tahun dan 20 tahun untuk sektor perkebunan.

Dalam bukunya (Budisanoso & Nuritomo, 2014) menjelaskan bahwa, kredit investasi ialah kredit yang digunakan untuk pengadaan barang modal yang akan digunakan nasabah untuk memulai usahanya dalam jangka panjang. Jumlah yang diberikan pada kredit investasi biasanya relatif besar dan pembayarannya memalui angsuran. Dalam buku yang ditulis oleh (Kasmir, 2012) kredit investasi adalah kredit yang biasanya digunakan untuk keperluan perluasan usaha atau membangun proyek/pabrik baru

(5)

dimana masa pemakaiannya untuk suatu periode yang relatif lebih lama dan biasanya kredit ini digunakan untuk kegiatan utama suatu perusahaan.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh (Runtulalo et al., 2013) kredit investasi ialah kredit yang biasanya digunakan untuk keperluan perluasan usaha atau membangun proyek atau kredit baru dimana pemakaiannya ditujukan untuk suatu periode yang panjang dan biasanya untuk kegiatan utama suatu perusahaan.

3. Hubungan NPL dengan Tingkat Penyaluran Kredit

Menurut Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 6/23/DPNP 2004, NPL merupakan cerminan resiko kredit, semakin kecil NPL maka semakin kecil pula resiko kredit yang akan ditanggung oleh bank. Yang termasuk dalam kredit bermasalah kredit yang pembayaran bunga atau cicilan kredit mengalami keterlambatan atau menunjukan gejala akan merugikan bank.

Dalam dunia perbankan internasional kredit dapat dikategorikan sebagai kredit bermasalah apabila terjadi keterlambatan pembayaran bunga atau kredit induk lebih dari 90 hari semenjak tanggal jatuh tempo, kredit yang terutang tidak dilunasi sama sekali, diperlukan negosiasi kembali atas syarat pembayaran kembali kredit dan bunga yang tercantum dalam perjanjian kredit (Sutojo, 2000).

Menurut (Huda F., 2014) semakin tinggi tingkat NPL maka akan menurunkan jumlah kredit yang disalurkan dan semakin besar pula risiko kredit yang ditanggung oleh pi hak bank begitupula sebaliknya semakin

(6)

rendah NPL maka akan meningkatkan jumlah kredit yang tersalurkan.

Adapun rumus menentukan NPL adalah sebagai berikut:

𝑁𝑃𝐿 = 𝐾𝑟𝑒𝑑𝑖𝑡 𝐵𝑒𝑟𝑚𝑎𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ

𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐾𝑟𝑒𝑑𝑖𝑡 × 100%

4. Hubungan LDR dengan Tingkat Penyaluran Kredit

Loan to Deposit Ratio adalah rasio yang digunakan untuk mengukur

perbandingan antara jumlah kredit yang diberikan dengan jumlah dana masyarakat dan modal sendiri yang digunakan, standar maksimum tingkat LDR yang ditetapkan oleh pemerintah adalah 110% (Kasmir, 2012) Adapun rumus untu mngetahui tingkat LDR adalah sebagai berikut :

𝐿𝑜𝑎𝑛 𝑡𝑜 𝐷𝑒𝑝𝑜𝑠𝑖𝑡 𝑟𝑎𝑡𝑖𝑜 = 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑙𝑜𝑎𝑛𝑠

𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐷𝑒𝑝𝑜𝑠𝑖𝑡 + 𝐸𝑞𝑢𝑖𝑡𝑦 × 100%

Menurut (Amelia & Murtiasih, 2014) Rasio ini dapat menjadi patokan untuk mengetahui kemampuan bank dalam melakukan ekspansi terhadap pinjamannya atau harus membatasinya. Jika tingkat LDR terlalu kecil maka jumlah kredit yang disalurkan akan sedikit sehingga bank akan kesulitan dalam menutup simpanan nasabahnya. Ini disebabkan oleh bank dibebani dengan bunga simpanan yang besar tetapi bunga pinjaman yang diterima bank terlampau sedikit. Sebaliknya, jika tingkat LDR tinggi maka resiko tidak tertagihnya pinjaman pada bank juga tinggi yang berakibat pada kerugian bagi bank.

(7)

5. Hubungan DPK dengan Tingkat Penyaluran Kredit

Dana bagi bank adalah sesuatu yang vital, karna tanpa adanya dana maka bank tidak dapat berbuat apa apa. Sumber dana bank dipergunakan bank untuk keperluan operasional dan terbagi menjadi 3 sumber, yaitu : a. Dana yang berasal dari modal sendiri

Dana yang berasal dari modal sendiri dapat disebut dengan Dana Pihak 1, dana ini merupakan dana yang berasal dari dalam bank, baik dari pemegang saham ataupun sumber lainnya. Dana ini terdiri dari : Modal disetor, laba ditahan, cadangan-cadangan dan agio sahan.

b. Dana yang berasal dari pinjaman

Dana yang berasal dari pinjaman biasa disebut dengan dana pihak dana ini adalah dana yang sumbernya dari pinjaman bank lain maupun lembaga keuangan lain kepada bank dan terdiri dari : Pinjaman biasa antar bank, call money, pinjaman dari bank sentral (BI), dan pinjaman dari lembaga keuangan bukan bank (LKBB).

c. Dana yang berasal dari masyarakat

Dana yang berasal dari masyarakat dapat disebut juga dengan dana pihak 3 (DPK). Sumber dana ini berasal dari masyarakat sebagai nasabah dalam bentuk giro, tabungan dan deposito. Selain memberikan pelayanan kepada msyarakat bank juga memiliki peran sebagai perantara bagi keuangan masyarakat. Oleh sebab itu bank harus selalu berada ditengah masyarakat agar senantiasa dapat menampung arus dana dari masyarakat

(8)

yang kelebihan dana dan kemudian disalurkan kembali kepada masyarakat yang mebutuhkan pinjaman dana (Abdullah, 2003).

Dana Pihak Ketiga adalah dana yang berasal dari masyarakat luas, sumber dana ini menjadi sumber pendanaan yang penting bagi bagi kegiatan operasional bank. Dalam memperoleh dana dari masyarakat bank dapat menggunakan tiga jenis simpanan, yaitu : Simpanan Giro, Simpanan Tabungan dan Simpanan Deposito. Masing masing jenis simpanan tentu memiliki keunggulan yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan nasabah.

Seperti pada simpanan giro, simpanan ini digunakan nasabah untukn kemudahan dalam melakukan pembayaran, oleh sebab itu jenis simpanan ini biasa digunakan oleh debitur yang bergerak di bidang bisnis karena penarikannya dapat dilakukan berkali kali dalam sehari baik secara tunai melalui cek maupun secara non tunai menggunakan bilyet giro. Berbeda dengan simpanan tabungan, yang lebih banyak digunakan untuk umum secara perorangan karena memiliki suku bunga yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan simpanan giro. Simpanan deposito memiliki jangka waktu yang lebih panjang, jangka waktu ini disebut dengan jatuh tempo.

Ketika seorang nasabah melakukan simpanan deposito maka simpanannya hanya akan bisa diambil saat jatuh tempo itu telah berakhir (Kasmir, 2012).

Dana Pihak Ketiga (DPK) merupakan salah satu sumber dana bank yang berasal dari dana yang disetorkan oleh nasabah, semakin tinggi DPK maka akan meningkatkan penyaluran kredit. Semakin banyak DPK yang

(9)

berhasil dihimpun akan semakin banyak kredit yang dapat disalurkan (Sari

& Abundanti, 2016)

6. Hubungan Inflasi dengan Tingkat Penyaluran Kredit

Menurut (Sukirno, 2010) masalah inflasi adalah masalah yang terus menerus mendapat perhatian pemerintah. Pemerintah selalu berupaya untuk menjaga agar tingkat inflasi berada pada tingkatan yang sangat rendah karena untuk mencapai tingkat inflasi hingga nol persen merupakan hal yang sulit dicapai.

(Sukirno, 2010) juga mengungkapkan bahwa saat terjadinya Inflasi akan berdampak pada melemahnya keinginan masyarakat untuk melakukan simpanan uang di bank, inflasi menurunkan nilai kekayaan dalam bentuk uang, baik itu dalam bentuk simpanan di bank, simpanan tunai maupun simpanan dalam institusi keuangan lain yang disebabkan oleh menurunnya nilai riil ketika inflasi berlangsung. Dengan terjadinya hal tersebut masyarakat merasa tidak diuntungkan dengan melakukan simpanan di bank karena mengharapkan bunga yang tinggi ditengah inflasi. Kondisi tersebut tentu menurunkan jumlah dana dari masyarakat yang berdampak pada menurunnya jumlah kredit yang disalurkan.

Inflasi adalah jumlah uang beredar, inflasi dapat menyebabkan nilai tukar semakin rendah atau harga barang barang semakin meningkat. Karena itu tingkat inflasi akan mempengaruhi tingkat bunga yang nantinya akan mempengaruhi volume kredit yang diberikan bank (Verina Lydia Monica, 2018). Ketika inflasi meningkat maka suku bunga akan turun, suku bunga

(10)

yang menurun akan berdampak pada meningkatnya jumlah investor karena kredit yang diberika oleh bank masih menguntungkan untuk investasi (Lubis & Zulam, 2016). Semakin tinggi tingkat suku bunga kredit yang ditawarkan akan menyebabkan akan menurunkan minat nasabah untuk melakukan pinjaman dan akan beralih pada bank lain dengan suku bunga lebih rendah (Ramelda, 2016).

C. Kerangka Pikir

Berdasarkan dari penelitian terdahulu dan landasan teori yang telah dijabarkan, maka kerangka pikir dalam penelitian ini adalah :

Gambar 2.1 Kerangka Pikir D. Perumusan Hipotesis

Berdasarkan kerangka pikir pada penelitian ini, maka hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut :

H1 : Diduga variabel Non Performing Loan berpengaruh negatif signifikan terhadap penyaluran kredit investasi

NPL (X1)

LDR (X2)

DPK (X3)

Inflasi (X4)

Kredit Investasi (Y)

(11)

H2 : Diduga variabel Loan to Deposit Ratio berpengaruh positif signifikan terhadap penyaluran kredit investasi

H3 : Diduga variabel Dana Pihak Ketiga berpengaruh positif signifikan terhadap penyaluran kredit investasi

H4 : Diduga variabel Inflasi berpengaruh negatif signifikan terhadap penyaluran kredit investasi

Gambar

Gambar 2.1 Kerangka Pikir  D.  Perumusan Hipotesis

Referensi

Dokumen terkait

Jumlah alokasi waktu pada prosem diisi sesuai dengan jam pelajaran efektif yang ada

Mengutip dari Jurnal Wiyatmi (2010), berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Mahlenfeld yang dimuat di harian de Locomotief pada awal abad XX di Pulau Jawa rata-rata

masyarakat yang telah menjadi korban penipuan melalui media sosial.

Zuryanty. Profi:sionalisme Guru Sekolah Dasar. PGSD FIP UNP.. Memformulasikan peta kemampuan guru secara nasional yang diperuntukkan bagi perumusan kebijakan program

Karakteristik sosial budaya masyarakat di daerah Kabupaten Maros seperti halnya masyarakat sulawesi lainnya umumnya termasuk klasifikasi masyarakat homogen ditandai

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 1994 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa

Seakan-akan benda (apapun) sudah menjadi daya tarik tersendiri bagi manusia untuk menunjang segala kebutuhan.. hidup akan gaya. Semakin bagus barang tersebut dengan

item skala kecemasan menghadapi pensiun dapat dilihat pada.