• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I FONOLOGI & MORFOLOGI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I FONOLOGI & MORFOLOGI"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

FONOLOGI & MORFOLOGI

I. FONOLOGI

1.1. Pengertian Fonologi

Fonologi adalah bagian dan ilmu bahasa yang menganalisis bunyi ujaran. Bunyi ujaran adalah bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia dan digunakan dalam kegiatan berbicara. Fonologi meliputi dua bidang kajian yaitu fonetik dan fonemik.

Fonetik merupakan bagian dan fonologi yang mempelajari bagaimana suatu bunyi ujaran dihasilkan oleh alat ucap marusia. Bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia itu lazim disebut dengan istilah fon dan fona.

Fonemik merupakan bagian dan fonologi yang mempelajari satuan-satuan bunyi bahasa dalam fungsinya sebagai pembeda arti. Satuan bunyi terkecil yang berfungsi membedakan arti disebut fonem. Dalam realisasinya pada suatu tuturan, fonem dapat bervariasi. Variasi fonem disebut alofon. Mengenai fonem dan alofon ini akan dijelaskan lebih lanjut pada butir uraian 2.5.

1.2. Alat Artikulasi

Proses terjadinya bunyi ujaran disebut artikulasi. Alat ucap yang digunakan dalam proses artikulasi disebut artikulator. Ada dua macam artikulator, yaitu:

a. artikulator aktif, yakni alat ucap yang dapat bergerak (selanjutnva disebut artikulator saja).

b. artikulator pasir, yakni alat ucap yang tidak dapat bergerak atau hanya menjadi tujuan sentuh dan artikulator (selanjutnva disebut titik artikulasi).

Untuk menghasilkan bunyi ujaran diperlukan kerja sama antara artikulator dan titik artikulasi. Kerja sama tersebut berupa pengaturan dan modifikasi arus udara yang berasal dan paru-paru dan bergerak keluar melalui pita suara yang akan dikeluarkan melalu rongga mulut atau rongga hidup.

Alat-alat yang berperan mengatur dan memodifikasi arus udara sehingga menjadi bunyi ujaran adalah sebagai berikut :

1. labium (bibir) 2. dentum (gigi)

3. alveolum (gusi atas)

4. palatum (langit-langit keras) 5. velum (langit-langit lunak) 6. uvula (anak tekak)

7. apeks (ujung lidah) 8. lamina (daun lidah) 9. dorsum (punggung lidah) 10. nasus (rongga hidung) 11. orus (rongga mulut) 12. faring (rongga tenggorok) 13. glotis (pita suara)

1.3. Vokal dan Konsonan

(2)

Vokal adalah bunyi yang dihasilkan dengan menggerakkan udara ke luar tanpa rintangan. Konsonan adalah bunyi yang dihasilkan dengan menggerakkan udara ke luar mendapat rintangan.

Yang dimaksud dengan “rintangan” dalam hal ini adalah terhambatnya udara keluar oleh adanya gerakan atau perubahan posisi artikulator.

Vokal dalam bahasa Indonesia ada enam, yaitu a, i, u, e (taling), e (pepet), dan o.

Vokal e (taling) adalah vokal seperti yang terdapat pada kata ember, tempe dan enak. Vokal e (pepet) adalah vokal seperti yang terdapat pada kata enam, segar, genap, dan lerang.

Konsonan dalam bahasa Indonesia ada dua puluh. yaitu b, d, j, g, z, p, t, c, k, s, sy, kh, h, m, n, ny, ng, r, l, dan f. Dan konsonan-konsonan tersebut ada tempat konsonan serapan dan bahasa asing yaitu: z, sy. kh, dan f.

1.4. Semivokal dan Diftong

Semivokal adalah bunyi yang cara artikulasinya mirip dengan cara artikulasi vokal dan sekaligus mirip dengan cara artikulasi konsonan. Pada artikulasi vokal, arus udara keluar tidak mendapat halangan, sedangkan pada artikulasi konsonan, arus udara keluar mendapat halangan. Pada artikulasi semivokal, arus udara keluar hanya mendapat “sedikit” halangan. Yang tergolong semivokal adalah bunvi w dan y.

Diftong adalah dua vokal berurutan yang diucapkan dalam satu kesatuan waktu.

Dalam realisasinya, diftong merupakan gabungan sebuah vokal dan sebuah semivokal yang diucapkan dalam satu kesatuan waktu. Ada tiga diftong dalam bahasa Indonesia, yaitu au (aw), ai (ay), dan oi (oy) seperti pada kata-kata berikut

imbau petai amboi

kerbau lantai sepoi galau pantai

santai harimau 1.5. Fonem dan Alofon

Fonem adalah satuan bunyi terkecil yang berfungsi membedakan arti. Fonem dibuktikan eksistensinya melalui pasangan minimal.

Pasangan minimal adalah dua kata yang mirip ucapannya, hanya ada perbedaan dalam satu bunyi. Perbedaan bunyi terkecil dalam suatu pasangan minimal disebut kontras minimal.

Perhatikan contoh berikut ini!

duri ‘onak’

turi ‘nama sejenis pohon’

Pasangan di atas memperlihatkan kontras minimal d dan t, kontras itu menyebabkan perbedaan makna ‘onak’ dan nama sejenis pohon. Dengan pemikiran bunyi /d/ dan /t/, masing-masing merupakan fonem.

Alofon adalah variasi dan suatu fonem. Alofon berupa perbedaan bunvi yang tidak menyebabkan perubahan arti seperti pada telur dan telor, lubang dan lobang;

berembug dan berembuk.

II. MORFOLOGI

(3)

Morfologi adalah bagian ilmu bahasa yang mempelajari kata dan proses pembentukannya. Morfologi disebut juga tata bentukan.

2.2 Morfem dan Alomorf

Morfem adalah satuan gramatikal terkecil yang bermakna atau dapat dibedakan maknanya. Morfem dibedakan atas dua macam, yaitu morfem bebas dan morfem terikat.

Morfem bebas adalah morfem yang secara potensial dapat berdiri sendiri sebagai kata dan secara gramatikal dapat menduduki salah satu fungsi dalam kalimat. Dalam bahasa Indonesia, morfem bebas disebut juga kata dasar.

Morfem terikat adalah morfem yang tidak berpotensi untuk berdiri sendiri sehingga hanya dapat ditampilkan dalam tuturan setelah mengaitkan dirinya dengan morfem bebas melalui proses morfologis. Morfem terikat berupa imbuhan.

Alomorf adalah variasi dari suatu morfem yang terjadi karena pengaruh lingkungan yang dimasukinya atau bentuk yang dilekatinya. Morfem ber−, misalnya, dapat berubah menjadi be− atau bel− seperti pada kata beternak dan belajar.

2.3 Proses Morfologis

Proses morfologis adalah proses pembentukan kata dari suatu bentuk dasar menjadi suatu bentuk jadian. Proses ini meliputi proses afiksasi, proses reduplikasi, dan proses komposisi.

2.3.1 Kata Dasar dan Bentuk Dasar

Kata dasar adalah kata yang belum berubah, belum mengalami proses morfologis. Bentuk dasar adalah bentuk yang menjadi dasar dalam proses morfologis. Bentuk dasar dapat berupa kata dasar dapat pula berupa kata jadian. Perhatikan contoh berikut.

Kata manusia adalah kata dasar (KD) yang dalam diagram di atas merupakan bentuk dasar (BD) bagi pembentukan kata kemanusiaan dengan menambahkan imbuhan ke-an.

Selanjutnya, kata kemanusiaan merupakan bentuk dasar bagi pembentukan kata perikemarusiaan dengan penambahan imbuhan peri ; dan perikemanusiaan merupakan bentuk dasar bagi pembentukan kata berperikemanusiaan dengan penambahan imbuhan ber-.

2.3.2 Proses Afiksasi

BD I (KD) : manusia

BD II : kemanusia

an

BD III :

+ ke − an

+ peri

perikemanusia + ber − an

berperikemanusiaa n

(4)

Proses afiksasi atau proses pengimbuhan adalah proses pembentukan kata dengan cara menambahkan imbuhan pada suatu bentuk dasar. Proses ini menghasilkan kata jadian berupa kata kompleks.

Kata kompleks adalah kata yang mnengandung morfem bebas dan morfem terikat.

2.3.2.1 Macam-macam Afiks

Ditinjau dan posisi tenhadap bentuk dasarnya, afiks dibedakan atas 4 macam yaitu:

1 prefiks (awalan) melekat di awal bentuk dasar.

2 infiks (sisipan) menyisip di tengah bentuk dasar.

3 Sufiks (akhiran) melekat di belakang bentuk dasar.

4 Konfiks (imbuhan terbagi) melekat di awal dan di belakang bentuk dasar sekaligus.

Catatan: Konfiks, atau imbuhan terbagi dianggap sebagai satu imbuhan. Dalam penghitungan morfem, konfiks dihitung satu morfem saja.

Ditinjau dan kemampuan untuk menghasilkan bentuk jadian, imbuhan dibedakan atas imbuhan produktif dan imbuhan improduktif.

Imbuhan produktif mampu menghasilkan banyak bentuk jadian, sedangkan imbuhan improduktif tidak banyak menghasilkan bentuk jadian.

Ditinjau dari bahasa asalnya, imbuhan dibedakan atas imbuhan asli dan imbuhan serapan. Imbuhan serapan adalah imbuhan yang diserap dan bahasa asing atau bahasa daerah.

2.3.2.2 Fungsi Afiks

Yang dimaksud dengan fungsi afiks adalah peranan afiks dalam pembinaan, penentuan, atau

perubahan kelas kata. Perhatikan contoh berikut!

(1) ber + telur → bertelur

KB KK

(2) ber + lari berlari

KK KK

(3) ber + satu → bersatu K.Bil KK

Pada contoh (1) prefiks ber− berfungsi membentuk kata kerja dan bentuk dasar kata benda, dengan kata lain prefiks ber− berfungsi mengubah kata benda menjadi kata kerja.

Pada contoh (2) prefiks ber− berfungsi membentuk kata kerja dan bentuk dasar kata kerja.

Pada contoh (3) prefiks ber− berfungsi membentuk kata kerja dari bentuk dasar kata bilangan

(5)

Makna afiks adalah makna gramatikal yang timbul setelah suatu afiks melekat pada suatu bentuk dasar. Perhatikan contoh berikut!

(1) bertelur ‘menghasilkan telur’

(2) berlari ‘melakukan tindakan lari’

(3) bersatu ‘menjadi satu’

Pada contoh (1) prefiks ber− bermakna ‘menghasilkan’. Pada contoh (2) prefiks ber- bermakna ‘melakukan tindakan yang tersebut pada bentuk dasarnya’. Pada contoh (3) prefiks ber− bermakna ‘menjadi’.

Berikut ini dikemukakan beberapa afiks beserta fungsi dan maknanya.

1. Prefiks di-. berfungsi membentuk verba pasif. Subjek dan predikat kata benda atau di- menjadi sasaran tindakan. contoh: dibeli, dijual, dilukis

2. Prefiks ber–, berfungsi membentuk verba. Maknanya antara lain sebagai berikut:

(1) Mempunyai, contoh: beruang, berbulu

(2) Memakai, contoh: berbaju, bersepatu, bercelana

(3) Berada dalam keadaan, contoh: bersantai-santai, bermalas-malas (4) Saling, contoh: bertinju, bergandengan, bersalaman

(5) Tindakan untuk diri sendiri (refleksif), contoh: bercukur. berhias, bercermin, berlindung.

3. Prefiks me—, pada umumnya berfungsi membentuk verba aktif, kadang- kadang dapat pula membentuk adjektiva. Maknanya antara lain sebagai berikut:

(1) melakukan tindakan seperti tersebut dalam bentuk dasarnya, contoh: menulis, menanam, mencakar.

(2) membuat jadi, contoh: menggulai, menyate

(3) menjadi, contoh: menyatu, menua, menguning, memutih (4) dalam keadaan sebagai, contoh: menjanda, menduda.

(5) mengerjakan dengan alat, contoh: menggergaji, menjahit, mencangkul, menggunting.

(6) mencari atau mengumpulkan contoh : merumput,merotan (7) berbuat seperti, contoh : membabi buta

(8) berlaku sebagai, contoh: mengabdi, menghamba.

4. Prefiks pe—, berfungsi membentuk nomina maknanya antara lain sebagai berikut:

(1) alat untuk melakukan tindakan, contoh: pemotong, pengukur, penggaris.

(2) pelaku tindakan, contoh: penonton, pemeriksa, penanya, penunggu.

(3) yang dikenai perbuatan, contoh: pesuruh, pelalar.

(4) yang gemar suka terhadap, contoh: pecandu, peminum, pemadat.

5. Prefiks ke–, berfungsi membentuk nomina, kata bilangan kelompok, dan kata bilangan tingkat. Sebagai pembentuk nomina, prefiks ke– bermakna : (1) yang di . . . i, contoh: kekasih

(2) yang di ... kan, contoh: ketua

(6)

6. Prefiks ter–, berfungsi membentuk verba dan ajektiva. Sebagai pembentuk verba, prefiks ter–menyatakan makna:

(1) dikenai tindakan tak sengaja, contoh: terbawa, terkena, tersentuh, tertubruk, terhapus.

(2) dalam keadaan... , contoh: terikat, terpampang, terbuka, terkunci.

(3) dapat di ... , contoh: terjangkau, tertampung, terbakar.

(4) spontanitas, contoh: terkejut, terpengaruh

Sebagai pembentuk ajektiva, prefiks ter— menyatakan makna ‘superlatif contoh: tercantik, terpandai, terbaru.

7. Prefiks per— berfungsi membentuk verba imperatif. Maknanya antara lain sebagai berikut:

(1) membagi jadi, contoh: perdua, pertiga (2) membuat jadi, contoh: permudah, pertuan.

(3) membuat lebih, contoh: perdalam, perkuat, perkecil.

8. Prefiks se–, prefiks ini tidak mengubah kelas kata bentuk dasarnya.

Adapun maknanya adalah sebagai berikut:

(1) satu, contoh: .seorang, sebungkus, seikat

(2) seluruh atau segenap, contoh: sejagad, se–Indonesia.

(3) berada dalam satu ... , contoh: sekamar, serumah, sekampung.

(4) memiliki satu ... yang sama, contoh: sewarna, seibu, searah, seasal.

(5) satu kesatuan waktu dengan aspek simultan, atau segera sesudah, Contoh: sepulang (sekolah), sesampainya, sekembalinya.

9. Konfiks ke–an berfungsi membentuk nomina, ajektiva, dan verba.

Sebagai pembentuk nomina, konfiks ke−an menyatakan nomina abstrak, contoh: keadilan, kejujuran, kebaikan, kemajuan, keindahan.

Sebagai pembentuk adjektiva, konfiks ke−an menyatakan makna sifat seperti contoh : keibuan, kebapakan, kekanak-kanakan.

Sebagai pembentuk verba, konfiks ke−an menyatakan verba pasif dengan makna sebagai berikut :

(1) terkena sesuatu secara tidak sengaja, contoh : kejatuhan, kepercikan, kehilangan.

(2) menderita atas tindakan yang tersebut pada bentuk dasarnya, contoh: kecopetan, kemalingan.

10. Konfiks pe−an, berfungsi membentuk nomina. Makna konfiks pe−an antara lain adalah sebagai berikut:

(1) perihal yang di− ... , contoh: pengalaman, pengetahuan, pendapatan, penjabaran.

(2) proses me ..., contoh: penyesuaian, pemerataan, pemeriksaan, pengalaman.

11. Konfiks per−an, berfungsi membentuk nomina. Makna konfiks per−an antara lain adalah sebagai berikut:

(1) perihal ber ... , contoh: perdagangan, persahahatan, pergaulan, perkelahian, perbuatan.

(2) apa yang di ... kan, contoh: perkataan, pertanyaan.

(7)

(3) tempat untuk ber− ... , contoh: perhentian, pertapaan, perburuan.

12. Sufiks −i secara umum sufiks ini berfungsi membentuk verba. Secara rinci fungsi dan makna sufiks−i adalah sebagai berikut:

(1) berfungsi membentuk verba imperatif dengan makna:

(a) perintah untuk melakukan perbuatan seperti tersebut pada bentuk dasarnya, Contoh : duduki, tangani, sirami, datangi.

(b) perintah untuk memberi sesuatu yang tersebut pada bentuk dasarnya, Contoh : gulai, obati, garami, bumbui.

(2) Berfungsi membentuk verba intransitif dengan makna:

(a) melakukan tindakan untuk orang lain, contoh : menangisi (b) kausatif, contoh: membasahi

13. Sufiks −kan berfungsi membentuk verba imperatif dengan makna:

(1) jadikan lebih, contoh : lebarkan, panjangkan, kecilkan.

(2) jadikan, contoh : betulkan, rapikan, tegakkan.

14. Sufiks −an berfungsi membentuk nomina dan adjektiva sebagai pembentuk nomina sufiks −an bermakna sebagai berikut :

(1) yang di ... , contoh : dagangan, titipan, bawaan, cucian.

(2) alat untuk me− ... , contoh : pikulan, gantungan, timbangan (3) hasil dari perbuatan, contoh: didikan, tulisan, lukisan, catatan.

2.4 Reduplikasi

Istilah reduplikasi dalam buku ini mengacu kepada dua hal, yaitu:

(1) proses morfologis dan (2) hasil dari proses morfologis.

Sebagai proses morfologis, reduplikasi berarti proses pengulangan. Sebagai hasil dan proses morfofogis, reduplikasi berarti kata ulang.

2.4.1 Macam-macam Reduplikasi

Ada beberapa jenis kata ulang dalam bahasa Indonesia, yakni sebagai berikut :

(1) kata ulang penuh, yaitu kata ulang dibentuk dengan mengulang seluruh bentuk dasar. Berdasarkan bentuk dasar yang diulang itu, kata ulang penuh dibedakan menjadi dua macam, yaitu :

a. Dwipurna, yaitu kata ulang penuh yang bentuk dasarnya morfem bebas (kata dasar). Contoh : orang-orang, anak-anak, rumah-rumah, b. Kata ulang penuh yang bentuk dasarnya kata berimbuhan, contoh :

persoalan-persoalan, kunjungan-kunjungan, ujian-ujian.

(2) Dwipurwa, kata ulang yang terjadi karena pengulangan suku pertama bentuk dasarnya, contoh: leluhur, tetangga, lelaki, reranting.

(3) Dwipurna salinsuara, kata ulang berubah bunyi, contoh : sayur-mayur, mondar-mandir, gerak-gerik, serba-serbi, lauk-pauk.

(4) Kata ulang berimbuhan, contoh : goreng-gorengan, tulis-menulis, kekanak- kanakan, meraba-raba, menggaruk-garuk.

(5) Kata ulang semu. Bentuk ini sebenarnya bukan hasil dan proses reduplikasi, melainkan merupakan kata dasar, contoh : lab-laba, kupu- kupu, rama-rama, empek-empek, ubur-ubur.

2.4.2 Arti Reduplikasi

(8)

Reduplikasi dapat menyatakan bermacam-macam arti, antara lain sebagai berikut :

1. Menyatakan intensitas kualitatif Ida membungkus kue itu rapat-rapat.

Baju yang dijual di toko bagus-bagus.

Wahyu menendang lawannya kuat-kuat.

2. Menyatakan intensitas kuantitatif

Beribu-ribu orang menderita akibat bencana itu.

Kapal Hinomaru mengangkat beratus-ratus peti kemas.

Berkarung-karung beras tersimpan di gudang.

3. Menyatakan instesitas frekuentatif Orang itu berjalan mondar-mandir.

Berkali-kali anak itu dipukuli ibunya.

Pada akhir bulan ini tante Nita marah-marah saja.

4. Menyatakan jamak

Buku-buku tersusun rapi di rak buku.

Di halaman sekolah murid-murid berkumpul.

5. Menyatakan arti melemahkan

Warna mobilnya kuning kehijau-hijauan.

Anita tersenyum kemalu-maluan.

6. Menyatakan arti bermacam-macam Ibu membeli buah-buahan

Sayur-mayur dijual di Pasar Cileduk.

Pepohonan menghiasi puncak bukit.

7. Menyatakan arti dalam keadaan Dimakannya daging itu mentah-mentah Pemain debus itu terkubur hidup-hidup 8. Menyatakan arti resiproks (saling)

Kedua anak itu tendang-menendang

Tolong-menolong merupakan ciri masyarakat kita 9. Menyatakan arti menyerupai atau tiruan

Tingkah laku orang itu kekanak-kanakan.

Adik bermain mobil-mobilan.

10. Menyatakan arti meskipun

Kecil-kecil, cabe rawit pedas rasanya.

Hujan-hujan, datang juga mereka ke rumahku 11. Menyatakan arti perihal

Sekretaris di kantor ini bukan hanya menangani surat-menyurat.

Kakak saya mengikuti lomba masak-memasak.

12. Menyatakan arti seenaknya, untuk bersenang-senang, sekadarnya saja

Tiga orang remaja duduk-duduk di bawah pohon.

Semalaman Adi mengadakan acara makan-makan.

Di pasar swalayan itu, mereka hanya melihat-lihat saja.

2.5 Komposisi

(9)

Komposisi adalah proses morfologi yang menghasilkan kompositum (kata majemuk).

Kata majemuk dapat dibedakan dengan frasa idiomatik (ungkapan). Perhatikan batasan berikut ini!

Kata majemuk adalah gabungan dua kata atau lebih yang membentuk satu kesatuan dengan satu makna yang baru, dan makna barunya itu dapat ditelusuri dari (dikembalikan kepada) makna unsur pembentuknya. Contoh : rumah makan, meja belajar, sapu tangan, kamar mandi.

Frase atau kelompok kata adalah susunan dua kata atau lebih yang tidak bersifat predikatif. Dalam frasa tidak terjadi pembentukan makna baru. Contoh : buku bacaan, orang ini, yang sedang duduk, ke pasar, di rumah.

Frasa idiomatik atau ungkapan adalah gabungan dua kata atau lebih membentuk satu kesatuan dengan suatu makna yang baru, dan makna barunya itu tidak dapat ditelusuri dari (dikembalikan kepada) makna unsur pembentuknya. Contoh : meja hijau, polisi tidur, panjang tangan, tinggi hari, berat hati.

Perhatikan kalimat-kalimat di bawah ini!

(a) Riva menolong orangtua itu menyeberang jalan.

(b) Orangtua Riva tinggal di Cirendeu.

Susunan kata orang tua pada kalimat (a) adalah sebuah frasa. Kata orang tua di sini berarti orang yang sudah tua.

Susunan kata orang tua pada kalimat (b) adalah sebuah kompositum (kata majemuk).

Kata orang tua di sini berarti ibu dan bapak Perhatikan pula kalimat-kalimat berikut ini!

(c) Tangan kanan Hasan membengkak karena terkilir.

(d) Saya tahu bahwa Bang Dulo sudah lama menjadi tangan kanan Babah Liem.

Susunan kata tangan kanan pada kalimat (c) adalah sebuah kata majemuk yang bermakna ‘tangan sebelah kanan’, sedangkan susunan kata tangan kanan pada kalimat (d) adalah sebuah frasa idiomatik (ungkapan) yang bermakna ‘orang kepercayaan’ atau ‘pembantu utama.

2.5.1 Ciri Kata Mejemuk

Suatu gabungan kata dapat digolongkan kata majemuk apabila memperlihatkan ciri-ciri sebagai berikut :

1. gabungan itu membentuk satu arti yang baru

2. dalam kalimat gabungan itu menduduki satu fungsi sintaksis 3. gabungan itu berhubungan erat, tidak dapat disisipi kata lain.

2.5.2 Macam-macam Kata Majemuk

Dengan memandang kata majemuk suatu frasa, kata majemuk dapat dibedakan atas tiga macam sebagai berikut :

1. Kata majemuk yang bersifat

endosentris atributif, contoh : rumah sakit, gempa bumi, meja tulis, surat kabar, pasar malam.

2. Kata majemuk yang bersifat

endosentris koordinatif, contoh : tanah air, pecah belah, warta berita, rindu dendam, tegur sapa.

3. Kata majemuk yang bersifat

eksosentris, contoh: luar negeri, dalam negeri, ke luar, bawah sadar.

2.6 Kelas Kata

(10)

Tata bahasa tradisional mengelompokkan kata-kata atas sepuluh kelas, sebagai berikut :

1. nomina (kata benda) 2. verba (kata kerja) 3. adjektiva (kata sifat) 4. pronomina (kata ganti) 5. numeralia (kata bilangan) 6. adverbia (kata keterangan) 7. konjungsi (kata sambung) 8. preposisi (kata depan) 9. artikula (kata sandang) 10. interjeksi (kata seru)

Tata bahasa baru mengelompokkan kata-kata atas empat kelas, sebagai berikut : 1. nomina (kata benda), termasuk dalam kelompok ini pronomina dan artikula 2. verba (kata kerja)

3. adjektiva (kata sifat), termasuk dalam kelompok ini numeralia.

4. kata tugas termasuk dalam kelompok ini preposisi, adverbia, dan konjungsi.

2.6.1 Ciri-ciri Kata Benda

Kata benda merupakan nama dari semua benda dan hal-hal yang di bendakan.

Adapun ciri-cirinya adalah sebagai berikut :

1. dapat dinegasikan dengan kata bukan.

2. dapat diperluas dengan frase yang + kata

sifat.

Contoh :

bukan buku, bukan ayah bukan rumah, bukan ibu rumah yang besar

rumah yang baru ayah yang baik ibu yang cantik

2.6.2 Ciri Kata Kerja

Kata kerja adalah kata yang menyatakan tindakan, proses, gerak, dan perbuatan. Adapun ciri-cirinya adalah sebagai berikut :

1. dapat dinegasikan dengan kata tidak

2. dapat diperluas dengan frase dengan + kata sifat Contoh:

tidak tidur tidak tertawa tidak duduk tidak makan tidur dengan nyenyak duduk dengan santai tertawa dengan nyaring makan dengan lahap

2.6.3 Ciri-ciri Kata Sifat

Referensi

Dokumen terkait

Dat a hasil penelit ian ini dianalisis dengan pendekat an kuant it at if yait u m enj elaskan pengar uh ant ar var iabel penelit ian, m enggunakan m et ode sur vei

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas nasi kuning berbahan baku beras organik dan non organik, dengan metode pemasakan dandang dan rice cooker dari segi

Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) merupakan kegiatan yang harus dilakukan oleh mahasiswa praktikan, sebagai pelatihan untuk menerapkan teori yang diperoleh dalam

Yang menarik dari etika diskursus milik habermas ini adalah walaupun habermas telah menganggap rasio praktis subjek kant sebagai sesuatu yang telah tidak bisa diterima lagi, namun

Selanjutnya, penulis menganalisis generic structures dari setiap teks monolog dalam buku “English In Focus” untuk Kelas VIII SMP/MTs Penerbit Pusat Perbukuan

Berdasarkan uraian tersebut perlu dilakukan penelitian tentang perbedaan efektivitas penggunaan obat antidiabetik oral tunggal glibenklamid dengan kombinasi antara

Perkiraan Tanggal Distribusi Saham 05 Mei 2009 Perkiraan Tanggal Pencatatan Saham pada BEI 06 Mei 2009 Perkiraan Tanggal Pengembalian Uang Pesanan 05 Mei 2009 Sumber: Bisnis

Adapun faktor-faktor yang dapat menimbulkan kebosanan, kelelahan dan keluhan muskuloskeletal pada peserta didik adalah: (1) peserta didik duduk pasif dalam