• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi tanaman arugula menurut (USDA, 2022). Tanaman arugula

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II. TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi tanaman arugula menurut (USDA, 2022). Tanaman arugula"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

5

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanaman Arugula

Klasifikasi tanaman arugula menurut (USDA, 2022). Tanaman arugula memiliki klasifikasi sebagai berikut:

Taksonomi Kingdom : Plantae

Subkingdom : Tracheobionta Superdivisi : Spermatophyta

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Magnoliopsida

Subkelas : Rosidae

Ordo : Brassilcales

Famili : Brassicaceae

Genus : Eruca Mill

Spesies : Eruca vesicaria mill.

Tanaman arugula umumnya dikenal dengan sebutan tanaman roket (roquette), tanaman ini termasuk kedalam family Brassicaceae yang berasal dari

wilayah lembah mediterania, timur tengah, dan asia selatan. dapat tumbuh dengan baik pada wilayah dingin. Arugula biasanya dimanfaat sebagai bahan untuk pembuatan salad, juga bisa digunakan sebagai bahan penyedap rasa. Tanaman arugula juga memiliki beberapa manfaat yaitu dapat digunakan sebagai obat untuk asam lambung karena mengandung, sebagai antioksidan alami, anti bakteri, serta baik untuk penderita jantung dan hipertensi (Jaafar dan Jaafar, 2019).

(2)

Arugula adalah tanaman sayuran yang berukuran tidak terlalu besar dengan daun yang panjang dengan rata-rata ketinggian 10 sampai 30 cm. pada suhu yang rendah masa panen dapat dilakukan antara 35 sampai 50 hari setelah tanam.

Produksi tanaman arugula dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti cara budidaya, irigasi, iklim, pengendalian hama dan penyakit tanaman, pemberian nutrisi. Ketersediaan air dan nutrisi merupakan hal yang paling penting dalam

memproduksi tanaman, karena dapat mempengaruhi proses pertumbuhan (Jaafar dan Jaafar, 2019).

2.2 Hidroponik

Hortikultura menurut bahasa dapat diartikan sebagai budidaya tanaman kebun. Secara luas hortikultura bisa diartikan budidaya tanaman yang meliputi pembenihan, produksi tanaman, kultur, hama dan penyakit, pemanenan, hingga pemasaran. Orang yang menekuni bidang hortikultura dengan profesional disebut sebagai hortikulturis (Prihartono dan Indriyani, 1999). Hortikultura pun merupakan cabang dari agronomi. Tidak semua budidaya tanaman kebun membutuhkan lahan yang luas, pemanfaatan lahan bukan pertanian dan melakukan pengoptimalan mutu pertanian dapat direalisasikan dengan teknologi hidroponik.

Hidroponik berasal dari 2 kata yaitu hydro dan ponos. Hydro berarti air dan ponos berarti kerja. Sehingga hidroponik memiliki pengertian sistem bercocok

Gambar 1: Tanaman Arugula

(3)

tanam tanpa tanah yang biasa dilakukan di lingkungan terkendali (Indrawati dkk., 2016). Lebih tepatnya hidroponik merupakan metode menanam tanaman dengan menggunakan mineral larutan nutrisi, serta tanpa menggunakan tanah. Kelebihan dari hidroponik sebagai metode dalam menanam yaitu dalam bercocok tanam dapat menggunakan tanah yang lebih sedikit, meningkatkan produktivitas per area, dapat menghasilkan berbagai tanaman di lahan sempit seperti halaman belakang, teras, atau di kantor dengan menggunakan larutan air yang kaya nutrisi (Daud dkk., 2018).

Menurut (Kurnia, 2018) terdapat perbedaan antara budidaya menggunakan system hidroponik dengan system konvesional penanaman di tanah, yaitu:

Table 1: Perbandingan Penanaman Secara Sistem Hidroponik Dengan Di Tanah.

Sistem Hidroponik Penanaman Konvensional di tanah

• Pengerjaan dalam keadaan steril.

• Nutrisi yang diberikan akan diserap tanaman dengan efisien

• Tanaman terbebas dari hama dan penyakit karena mudah dikontrol setiap saat

• Hasil panen memiliki kualitas dan kuantitas yang bagus

• Tidak membutuhkan lahan yang luas

• Nilai jual produk panen yang tinggi

• Pengerjaan tidak dalam keadaan steril

• Nutrisi yang diberikan ke tanaman tidak terserap secara efisien

• Tanaman mudah terserang hama dan penyakit dari tanah

• Kualitas dan kuantitas tidak selalu baik

• Membutuhkan lahan yang luas

• Nilai jual produk panen yang rendah

(4)

Menurut (Guntoro dalam (Agustin, 2018)) Keunggulan sistem hidroponik daripada penggunaan lahan, yaitu lebih efisien, tanaman berproduksi tanpa penggunaan tanah, tidak terdapat resiko pengolahan lahan terhadap penanaman yang terjadi secara berlanjut, kualitas tanaman yang baik dan higenis, penggunaan air dan nutrisi yang efisien, tidak ada gulma, periode tanam yang pendek, dan tidak terserang hama dan penyakit dengan mudah. Namun, terdapat beberapa kelemahan pada sistem hidroponik, seperti biaya modal untuk memulai yang besar, jika tanaman terserang pathogen maka akan terjadi infeksi pada tanaman yang lainnya dalam waktu yang singkat, Beberapa hal penting yang patut diperhatikan selama budidaya tanaman dengan sistem hidroponik agar pertumbuhan tanaman optimal, yaitu pengolahan tanaman dan lingkungan tempat tumbuh yang sehat.

2.3 Deep Flow Technique (DFT)

Deep flow technique merupakan metode hidroponik yang menggunakan

metode larutan nutrisi yang memiliki kedalaman 4 hingga 10 cm disirkulasikan melewati daerah perakaran menggunakan pompa air maupun dengan memanfaatkan gaya gravitasi. Teknik ini sangat cocok digunakan pada budidaya tanaman sayuran, buah, dan daun (Fallah, 2006) dalam (Aisyah, 2013). Tanaman yang tumbuh dalam hidroponik metode ini dapat bertahan dalam rendahnya tingkat oksigen yang terlarut dalam nurtisi (Tongaram,2007). Pada sistem DFT air yang di

Gambar 2: Instalasi Hidroponik

(5)

sirkulasikan dalam sistem talang air atau pipa PVC dialirkan menggunakan pompa listrik. Pada sistem ini air yang tersisa akan menggenang dan menyebabkan pergantian nutrisi dan oksigen terhenti. Larutan nutrisi yang tidak terganti menghambat pertumbuhan tanaman dan mengakibatkan busuk akar. Keuntungan teknik DFT antara lain mampu menyediakan air dan oksigen bagi tanaman. DFT sangat ideal untuk menanam sayuran (leafy vegetables) (Mansyur dkk., 2014) 2.4 Media Tanam

Media tanam merupakan tempat tumbuh dan berkembangnya tanaman, tempat akar, dan bakal akar, media tanam digunakan sebagai tempat berpegangnya akar tanaman sehingga tanaman dapat berdiri tegak dan kokoh diatas media tanam.

Terdapat beberapa syarat yang harus di penuhi oleh media tanam yaitu bebas dari hama, bebas dari gulma, bebas dari penyakit, dapat menampung air tetapi juga dapat membuang kelebihan air, remah dan porous sehingga tanaman dapat tumbuh dan berkembang dengan baik (Bui dkk., 2015). Dalam Teknik budidaya harus bisa menentukan media tanam yang tepat karena dalam budidaya tanaman sulit untuk menentukan media tanam yang cocok untuk digunakan, penentuan media tanam perlu memperhatikan beberapa faktor, yaitu iklim, cuaca, konsistensi tanah, dan konsistensi air karena berhubungan dengan pertumbuhan tanaman. Peranan media adalah tanam untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Media tanam memiliki fungsi untuk menahan unsur hara dan air agar tanaman dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Ketersediaan nutrisi dan air pada zona perakaran sangat dipengaruhi oleh seifat dan jenis media tanam. Daya ikat air dan nutrisi untuk tanaman serta porositas , kelembaban, dan aerasi dipengaruhi oleh tiap jenis media tanam (Hali dan Telan, 2018).

(6)

Pada sistem hidroponik, media tanam terbagi atas dua kelompok, yaitu kultur air dan kultur substrat. Kultur air tidak membutuhkan media pendukung lainnya untuk menopang tumbuhnya perakaran tanaman. Pada kultur substrat akar tanaman tumbuh pada media padat. Menurut (Suryani, 2019) Media dalam budidaya hidroponik memiliki fungsi sebagai tempat penyangga larutan nutrisi serta sebagai penopang akar tanaman. Terdapat berbagai macam media tanam yang dapat digunakan dalam sistem hidroponik, terdapat berbagai macam asalkan memiliki porus serta ringan. Pada hidroponik, tanah bukan merupakan media yang digunakan dalam menompang pada pertumbuhan tanaman, tetapi terdapat beberapa alternatif media lain yang dapat digunakan, salah satunya rockwoll.

Media tanam rockwool yang digunakan biasanya terbuat dari batu, kaca, maupun keramik yang sudah dilelehkan yang nantinya akan membentuk serat-serat seperti gula kapas yang kemudian akan didinginkan. Kegunaan rockwool selain sebagai media tanam dapat dimanfaatkan sebagai media semai. Keunggulan rockwool sebagai media tanam yaitu memiliki kemampuan untuk menahan air dalam jumlah yang banyak, karena adanya struktur serat yang dimiliki oleh rockwool sehingga rockwool dapat digunakan untuk menompang batang serta akar pada tanaman agar tanaman dapat berdiri dengan stabil. Tetapi karena rockwool cenderung memiliki massa jenis yang sangat ringan apabila terkena angin dapat memungkinkan rockwool terbang terbawa angin (Susilawati, 2019).

Gambar 3: Media Tanam Rockwool

(7)

2.5 Nutrisi

Perbedaan budidaya tanaman secara hidroponik dan budidaya konvensional terdapat pada tersedianya nutrisi tanaman. Ketersediaan nutrisi tanaman pada budidaya konvensional tergantung pada jumlah dan kelengkapan unsur hara yang mampu disediakan oleh tanah. Pada budidaya hidroponik, nutrisi yang dibutuhkan diusahakan tersedia dan terserap dengan efisien oleh tanaman (Moerhasrianto, 2011). Berbagai macam formula didapatkan melalui kombinasi bahan yang biasa digunakan sebagai unsur hara makro dan mikro.

Unsur hara makro dan hara mikro umumnya sangat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Unsur N, P, K, dan S merupakan unsur hara makro Sedangkan unsur hara mikro umumnya ditambahkan ke dalam nutrisi hidroponik guna memasok unsur-unsur mikro penting, di antaranya adalah Mn (mangan), Fe (besi), Zn (seng), Cu (tembaga), Cl (klorin), Ni (nikel), dan B (boron) (Sastro dan Rokhman, 2016). Berdasarkan penelitian terdahulu menurut Frasetya dkk. (2019) formulasi nutrisi terbaik yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman adalah formulasi nutrisi yos sutiyoso yang memiliki komposisi N, P, dan K tertinggi dibanding dengan formulasi nutrisi yang lainnya. Tanaman ini sangat dipengaruhi oleh ketersediaan unsur nitrogen (N) guna menunjang pertumbuhannya, terutama pada fase vegetative. Jika kekurangan hara N daun pada tanaman akan mengalami perubahan menjadi warna kuning karena tidak cukup untuk membentuk protein dan klorofil yang akhirnya kemampuan dan produksi karbohidrat akan berkurang (Alsyah dkk., 2018).

(8)

2. 6 Interval Aliran Nutrisi

Lama aliran nutrisi yang sesuai akan menghasilkan penyerapan nutrisi yang optimal karena mampu menjaga kelembapan perakaran dengan baik. Kecepatan nutrisi dihasilkan dari debit aliran yang berbeda sangat mempengaruhi kemampuan akar dalam menyerap unsur hara. Menurut Maulido dkk. (2016) Kecepatan aliran yang sesuai akan mendorong penyerapan nutrisi secara optimal dengan fluktuasi suhu yang rendah. Penyerapan nutrisi yang baik secara langsung akan berpengaruh terhadap pertumbuhan tinggi tanaman sehingga perlakuan debit aliran yang berbeda juga akan menghasilkan pengaruh yang berbeda pula pada variabel tinggi tanaman, berdasarkan penelitian terdahulu Ninggrum dkk. (2014) hasil tanaman hidroponik menggunakan interval menyala 15 menit dan mati 60 menit menghasilkan hasil panen tertinggi pada tanaman sawi, selain itu menghasilkan nilai konsumsi pupuk dan listrik yang paling rendah.

Pemberian aerasi yang cukup terhadap penyusunan tanaman, akan

mempengaruhi tingkat produksi tanaman, karena aerasi bisa membantu seberapa banyak nutrisi yang bisa diserap oleh tanaman guna membantu tingkat

pertumbuhan yang lebih cepat. Aerasi yang tepat dapat membuat media tanam yang digunakan memiliki kelempaban yang baik juga. kelembaban merupakan perhatian utama sistem hidroponik karena sangat berpengaruh pada pertumbuhan tanaman (Laksono dan Sugiono, 2017)

Gambar

Gambar 1: Tanaman Arugula
Table 1: Perbandingan Penanaman Secara Sistem Hidroponik Dengan Di Tanah.
Gambar 2: Instalasi Hidroponik
Gambar 3: Media Tanam Rockwool

Referensi

Dokumen terkait

Batang kelapa sawit memiliki tiga fungsi utama, yaitu: (1) struktur yang mendukung daun, bunga dan buah; (2) sebagai sistem pembuluh yang mengangkut air dan

Oleh karena itu, agar sistem struktur tetap mampu untuk menahan beban gempa yang bekerja, maka unsur-unsur vertikal utama (kolom) dari struktur bangunan yang berfungsi untuk

Oleh karena itu, agar sistem struktur tetap mampu untuk menahan beban gempa yang bekerja, maka unsur-unsur vertikal utama (kolom) dari struktur bangunan yang berfungsi untuk

Serat nylon 6 merupakan serat yang kuat, mampu menyerap kelembapan dengan cepat dan memiliki efektivitas yang tinggi pada proses filtrasi air, dimana serat dari nylon 6 ini

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah cangkul/sekop untuk memindahkan media tanam ke dalam kotak stek, gembor untuk menyiram tanaman, meteran untuk mengukur luas lahan

Ikatan-ikatan hidrokarbon terpolimerisasi kemudian akan membentuk matriks polimer di dalam matriks kolagen yang akan menahan struktur serat kolagen terpisah/berjauhan, sehingga

Sebagai bahan pengisi, serat digunakan untuk menahan gaya yang bekerja pada bahan komposit, matrik berfungsi melindungi dan mengikat serat agar dapat bekerja dengan baik

Sebagai bahan pengisi serat digunakan untuk menahan sebagian besar gaya yang bekerja pada bahan komposit, matrik sendiri mempunyai fungsi melindungi dan mengikat serat agar