BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1 Evaluasi
Menurut Husni (2010), evaluasi adalah suatu proses untuk menyediakan informasi mengenai hasil penilaian atas permasalahan yang ditemukan.
Menurut Umar (2005, p36), evaluasi adalah suatu proses untuk menyediakan informasi tentang sejauh mana suatu kegiatan tertentu telah dicapai, bagaimana perbedaan pencapaian itu dengan suatu standar tertentu untuk mengetahui apakah ada selisih diantara keduanya, serta bagaimana manfaat yang telah dikerjakan itu bila dibandingkan dengan harapan-harapan yang ingin diperoleh.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008), evaluasi adalah proses penilaian yang sistematis, mencakup pemberian nilai, atribut, apresiasi, pengenalan permasalahan dan pemberian solusi atas permasalahan yang ditemukan.
Dari pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa evaluasi adalah proses untuk memberikan informasi kepada pihak yang terkait tentang pencapaian suatu kegiatan yang dinilai dengan sistematis berdasarkan suatu standar tertentu.
2.2 Pengembangan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008), pengembangan adalah suatu proses atau cara dan upaya yang dilakukan untuk memperluas, meningkatkan, menyempurnakan sesuatu yang telah ada menjadi sesuatu yang lebih baik, memenuhi kebutuhan serta perubahannya.
2.3 Auditing
2.3.1 Pengertian Auditing
Menurut ISO 9000, auditing adalah proses sistematis, mandiri (independen) dan terdokumentasi untuk memperoleh bukti audit dan mengevaluasinya secara objektif untuk menentukan sejauh mana kriteria audit telah terpenuhi.
Menurut Tunggal (2011, p13), auditing adalah pemeriksaan dan pengujian proses atau mutu untuk menjamin terpenuhinya kebutuhan/
spesifikasi pelanggan.
Menurut Messier, Glover dan Prawitt (2006, p7), pengertian auditing adalah sebagai berikut :
“Auditing is a systematic process of objectively obtaining and evaluating evidence regarding assertions about economic actions and events to ascertain the degree of correspondence between those assertions and established criteria and communicating the result to interested users”
Menurut Messier, Glover dan Prawitt (2006, p7), beberapa konsep penting dari pengertian auditing adalah sebagai berikut :
1. Proses yang sistematis (Systematic process)
Proses yang sistematis menyatakan secara tidak langsung bahwa seharusnya ada pendekatan terencana untuk melakukan audit, dimana auditing merupakan rangkaian proses dan prosedur yang bersifat logis, terstruktur dan terorganisir.
2. Menghimpun dan mengevaluasi bukti secara objektif (Objectively obtaining and evaluating evidence)
Auditor harus mencari dan mengevaluasi secara objektif, relevansi dan validitas dari bukti-bukti yang telah dikumpulkan. Objektif berarti mengungkapkan fakta apa adanya dan senyatanya, tidak bias, atau tidak memihak dan tidak berprasangka buruk terhadap individu atau entitas yang membuat representasi tersebut. Proses pengumpulan dan pengevaluasian bukti-bukti merupakan aktivitas audit yang paling banyak dilakukan auditor, walaupun tipe-tipe, kuantitas dan tingkat kepercayaan bukti bervariasi dalam pelaksanaan audit.
3. Asersi tentang berbagai tindakan dan kejadian ekonomi (Assertion about economic actions and events)
Bukti-bukti yang dikumpulkan auditor harus berhubungan dengan pernyataan tentang tindakan dan kejadian ekonomi. Auditor membandingkan bukti-bukti yang telah dikumpulkan dengan pernyataan
kegiatan ekonomi untuk menilai derajat kesesuaian antara pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan.
4. Menyampaikan hasilnya kepada para pemakai yang berkepentingan (Communicating the results to interested users)
Menyampaikan hasilnya kepada para pemakai yang berkepentingan menekankan pada tipe pelaporan yang akan disediakan auditor kepada para calon pemakai. Tipe-tipe komunikasi bervariasi tergantung pada tipe dan tujuan audit. Untuk tipe-tipe audit, isi dan bentuk pelaporan bervariasi tergantung pada keadaannya.
Menurut Arens, Elder, Beasley (2010, p4), pengertian auditing adalah sebagai berikut :
“Auditing is the accumulation and evaluation of evidence about information to determine and report on the degree of correspondence between the information and established criteria. Auditing should be done by a competent, independent person”
Menurut Arens, Elder, Beasley (2010, p4), beberapa konsep penting dari pengertian auditing adalah sebagai berikut :
1. Informasi dan kriteria yang ditetapkan (Information and established criteria)
Pelaksanaan audit didalamnya terkandung informasi-informasi yang berupa bukti-bukti (verifiable form) dan beberapa standar (kriteria), dimana melalui kedua hal-hal tersebut auditor dapat mengevaluasi informasi. Auditor secara rutin melakukan audit akan informasi, tidak hanya kuantitatif melainkan juga informasi kualitatif, termasuk laporan keungan perusahaan dan laporan pajak penghasilan individu. Auditor juga melakukan audit akan informasi subjektif, seperti efektifitas sistem komputer dan efisiensi operasional produksi. Kriteria untuk mengevaluasi informasi tersebut bervariasi tergantung pada informasi yang akan diaudit.
2. Mengumpulkan dan mengevaluasi bukti (Accumulating and evaluating evidence)
Bukti-bukti adalah informasi yang digunakan oleh auditor untuk menentukan apakah informasi yang sedang diaudit sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Bukti- bukti dapat berupa pernyataan lisan para auditan (klien), komunikasi tertulis dari pihak luar dan hasil pengamatan yang dilakukan auditor.
3. Orang yang kompeten dan tidak memihak (Competent, independent person)
Auditor harus memiliki kualifikasi dalam memahami kriteria yang digunakan dan harus kompeten dalam mengetahui tipe-tipe dan jumlah bukti-bukti yang harus dikumpulkan, untuk menghasilkan kesimpulan yang tepat setelah bukti-bukti tersebut diperiksa. Auditor juga harus memiliki sikap mental yang independen (independent mental attitude).
Jika pengumpulan dan pengevaluasian bukti-bukti dilakukan secara berat sebelah, maka pelaksanaan audit dikatakan tidak memadai.
4. Pelaporan (Reporting)
Tahap terakhir dalam proses auditing adalah penyiapan laporan audit (audit report), yang merupakan komunikasi antara temuan auditor kepada pemakai yang berkepentingan.
Dari definisi yang telah dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa setidaknya ada tiga elemen fundamental dalam auditing, yaitu :
1. Seorang auditor harus independen
2. Auditor bekerja mengumpulkan bukti (evidence) untuk mendukung pendapatnya
3. Hasil pekerjaan auditor adalah laporan (report) yang harus disampaikan kepada para pemakai yang berkepentingan
2.3.2 Metode Audit
Menurut Gondodiyoto (2007, p451), metode audit meliputi : 1. Auditing around the computer
Dalam pendekatan audit di sekitar komputer, auditor (dalam hal ini harus akuntan yang registered, dan bersertifikasi akuntan publik) dapat mengambil kesimpulan dan merumuskan opini dengan hanya menelaah struktur pengendalian dan melaksanakan pengujian transaksi dan prosedur verifikasi saldo perkiraan dengan cara sama seperti pada sistem akuntansi manual. Auditor tidak perlu menguji pengendalian sistem informasi berbasis teknologi informasi klien (file program/pengendalian atas file/data di komputer) melainkan cukup terhadap input serta output sistem aplikasi saja. Sistem komputerisasi dianggap sebagai blackbox (sesuatu yang diketahui fungsinya, tapi tidak perlu diperiksa bagaimana kinerjanya).
2. Auditing through the computer
Dalam pendekatan audit ke sistem komputer, auditor melakukan pemeriksaan langsung terhadap program-program dan file-file komputer pada audit SI berbasis TI. Auditor menggunakan komputer atau dengan pengecekan logika atau listing program (desk test on logic or porgram source code) untuk menguji logika program dalam rangka pengujian pengendalian yang ada pada komputer. Selain itu auditor juga dapat meminta penjelasan dari para teknisi komputer mengenai spesifikasi sistem dan atau program yang diaudit.
3. Auditing with the computer
Pada pendekatan ini, audit dilakukan dengan menggunakan komputer dan software untuk mengotomatisasi prosedur pelaksanaan audit. Pendekatan ini dapat menggunakan beberapa computer assisted audit techniques, misalnya system control audit review file (SCARF), snapshot dan sebagainya. Pendekatan audit dengan bantuan komputer merupakan cara yang sangat bermanfaat, khususnya dalam pengujian substantif atas file dan record perusahaan.
2.3.3 Kategori Bahan Bukti Audit
Menurut Elder, Beasley dan Arens (2010, p153), dalam menentukan prosedur audit digunakan tujuh kategori bahan bukti yang dapat digunakan oleh auditor yaitu :
1. Pemeriksaan Fisik
Adalah suatu tindakan verifikasi atas suatu aset apakah aset tersebut memang benar ada. Pemeriksaan Fisik dianggap sebagai suatu bahan bukti yang paling handal dan berguna.
2. Konfirmasi
Digambarkan sebagai penerimaan jawaban tertulis maupun lisan dari pihak ketiga yang independen dalam memverifikasi akurasi informasi yang telah diminta.
3. Dokumentasi
Sering kali dijadikan sebagai bukti di dalam audit karena bukti ini sudah tersedia dengan biaya relatif rendah. Terkadang, bukti ini menjadi satu- satunya jenis bukti yang tersedia.
4. Prosedur Analitis
Adalah menggunakan perbandingan dan hubungan untuk menentukan apakah saldo akun tersaji secara layak. Prosedur analitis sangat penting sehingga harus dilakukan selama tahap perencanaan dan penyelesaian di setiap audit.
5. Pernyataan dari klien
Adalah mendapatkan informasi tertulis atau lisan dari klien dengan menjawab pertanyaan auditor. Meskipun sebagai bahan bukti yang diperhitungkan dan diperoleh dari klien melalui tanya jawab, biasanya yanya jawab tidak dapat diperlakukan sebagai kemampuan memberikan kesimpulan, karena didapat dari sumber yang tidak independen dan mungkin memihak kepentingan klien. Dengan demikian, apabila auditor memperoleh bahan bukti lain yang menguatkan melalui prosedur yang lain.
6. Perhitungan Ulang
Melibatkan pemeriksaan ulang dari suatu sample dari perhitungan yang dibuat oleh klien. Banyak bagian perhitungan ulang auditor dilakukan oleh computer-assisted audit software.
7. Pelaksanaan Ulang
Mencakup pengecekan ulang suatu sample perhitungan dan perpindahan informasi yang dilakukan oleh klien selama periode yang diaudit.
8. Pengamatan
Adalah penggunaan perasaan untuk menetapkan aktivitas tertentu. Dalam keseluruhan audit, maka ada banyak kesempatan untuk melihat, mendengar, dan mencium untuk mengevaluasi bermacam benda.
2.3.4 Jenis-jenis Audit
Menurut Messier, Glover dan Prawitt (2006, p11) terdapat empat jenis audit yaitu :
1. Audit Laporan Keuangan (Financial Statement Audits)
Audit laporan keuangan menentukan apakah keseluruhan penyajian laporan keuangan telah sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan.
Jenis audit ini biasanya meliputi laporan keuangan dasar yaitu neraca (balance sheet), laporan laba rugi (income statement), laporan perubahan ekuitas (statement of stockholders equity) dan laporan arus kas (statement of cash flows), serta Standar Akuntansi Keuangan sebagai kriteria atau standarnya. Walaupun demikian, beberapa audit memerlukan kriteria atau standar lain seperti cash basis atau income tax basis.
2. Audit Ketaatan (Compliance Audits)
Audit ketaatan menentukan sejauh mana peraturan, kebijakan, hukum, perjanjian atau peraturan pemerintah dipatuhi oleh perusahaan yang diaudit. Ukuran kesesuaian audit ketaatan adalah ketepatan. Hasil audit ketaatan tersebut biasanya disampaikan kepada pihak yang menentukan
kriteria tersebut yang terdiri dari : (1) ikhtisar hasil temuan; atau (2) tingkat ketaatan dengan kriterianya.
3. Audit Operasional (Operational Audits)
Audit operasional meliputi tinjauan sistematis akan keseluruhan aktivitas organisasi, atau sebagian darinya, dalam kaitannya dengan penggunaan sumber-sumber daya yang efektif dan efisien. Tujuan dari audit operasional adalah untuk menilai kinerja, mengidentifikasi kesempatan untuk perbaikan dan membuat rekomendasi-rekomendasi untuk pengembangan dan perbaikan.
4. Audit Forensik (Forensic Audits)
Tujuan audit forensik adalah untuk mendeteksi atau mencegah kecurangan. Kegunaan auditor untuk melakukan audit forensik telah berkembang secara signifikan, khususnya dimana kecurangan meliputi hasil keuangan.
2.3.5 Pedoman Penentuan Sampel Audit
Menurut ISO 9000, pedoman yang harus digunakan dalam menetukan sampel audit adalah sebagai berikut:
1. Untuk data berjumlah 1-15, jumlah sampel yang diambil sebesar 2 2. Untuk data berjumlah 16-25, jumlah sampel yang diambil sebesar 3 3. Untuk data berjumlah 26-50, jumlah sampel yang diambil sebesar 5 4. Untuk data berjumlah 51-90, jumlah sampel yang diambil sebesar 8 5. Untuk data berjumlah 91-150, jumlah sampel yang diambil sebesar 13 6. Untuk data berjumlah > 151, jumlah sampel yang diambil sebesar 20
2.3.6 Temuan Audit
Menurut ISO 9000, temuan audit adalah hasil evaluasi dari bukti audit yang dikumpulkan terhadap kriteria audit. Temuan audit dapat mengindikasikan, baik kesesuaian ataupun ketidaksesuaian dengan kriteria audit atau peluang perbaikan. Pengertian ketidaksesuaian sendiri adalah penyimpangan melalui bukti obyektif atas kriteria audit yang ditetapkan
auditor harus menginvestigasi untuk menentukan secara tepat kriteria audit yang dilanggar dan menetapkan rekomendasi tindakan perbaikan.
Jenis ketidaksesuaian dalam temuan audit antara lain:
1. Major
Sebuah temuan audit dikatakan kategori major, apabila tidak sesuai dengan persyaratan ISO 9001:2008 yang seharusnya dijalankan dan harus dilakukan perbaikan segera.
2. Minor
Sebuah temuan audit dikatan kategori minor, apabila terdapat inkonsistensi dalam menjalankan prosedur yang diturunkan dari ISO 9001:2008 dan diberikan deadline waktu tertentu untuk memperbaikinya.
3. Observasi
Sebuah temuan audit dikatakan kategori observasi, apabila temuan tersebut bukan termasuk dalam persyaratan ISO 9001:2008 tetapi sebaiknya dijalankan. Dalam temuan observasi, auditor akan memberikan rekomendasi sebagai usulan peningkatan, namun divisi terkait dalam perusahaan memiliki hak bebas untuk menjalankan atau tidak menjalankan usulan tersebut.
2.4 Audit Operasional
2.4.1 Pengertian Audit Operasional
Menurut Arens, Elder, Beasley (2010, p738), pengertian audit operasional adalah sebagai berikut :
“An operational audits is a review of any part of organization’s operating procedures and methods for the purpose of evaluating efficiency and effectiveness. At the completion of an operational audit, recommendations to management for improving operations are normally expected”
Menurut Tunggal (2011, p7), audit operasional merupakan suatu proses yang sistematis seperti dalam audit laporan keuangan, audit operasional mencakup serangkaian langkah atau prosedur yang terstrukur
dan diorganisasi. Aspek ini mencakup perencanaan yang tepat dan juga mendapatkan dan secara objektif menilai bukti yang berkaitan dengan aktivitas yang di audit. Dari pengertian di atas, maka dapat disimpulkan :
1. Audit operasional merupakan penelaahan sistematis yang menentukan bahwa proses pengumpulan dan penganalisaan bukti dilakukan secara sistematis berdasarkan pengamatan dan analisa objektif.
2. Tujuan audit operasional adalah menilai efektivitas, efisiensi, ekonomis serta lebih lanjut mengidentifikasikan kemungkinan perbaikan.
3. Audit operasional lebih berorientasi ke masa depan, artinya hasil penilaian berbagai kegiatan operasional diharapkan dapat membantu manajemen dalam meningkatkan efektivitas pencapaian tujuan yang telah ditetapkan oleh organisasi.
4. Melalui audit operasional, hasil evaluasi dapat dilaporkan kepada pihak-pihak yang berwenang dan memberikan rekomendasi yang berguna bagi peningkatan perbaikan kepada pihak manajemen.
2.4.2 Tujuan Audit Operasional
Menurut Tunggal (2011, p12), tujuan dari audit operasional adalah sebagai berikut:
1. Objek dari audit operasional adalah mengungkapkan kekurangan dan ketidakberesan dalam setiap unsur yang diuji oleh auditor operasional dan untuk menunjukkan perbaikan apa yang dimungkinkan untuk memperoleh hasil yang terbaik dari operasi yang bersangkutan.
2. Untuk membantu manajemen mencapai administrasi operasi yang paling efisien.
3. Untuk mengusulkan kepada manajemen, cara-cara dan alat-alat untuk mencapai tujuan apabila manajemen organisasi sendiri kurang memiliki pengetahuan tentang pengelolaan yang efisien.
4. Audit operasional bertujuan untuk mencapai efisiensi dari pengelolaan.
5. Untuk membantu manajemen, auditor operasional berhubungan dengan setiap fase dari aktivitas usaha yang dapat merupakan dasar pelayanan kepada manajemen.
6. Untuk membantu manajemen pada setiap tingkat dalam pelaksanaan yang efektif dan efisien dari tujuan dan tanggung jawab mereka.
Tujuan umum dari audit operasional adalah : 1. Menilai kinerja
Untuk menilai suatu kinerja dapat dilakukan dengan membandingkan bagaimana suatu organisasi menjalankan aktivitasnya dengan :
• Tujuan yang sudah ditetapkan oleh manajemen seperti kebijakan organisasi, standar, sasaran, tujuan dan rencana detail lainnya
• Perbandingan fungsi atau individu dengan jenis perusahaan yang sama (external benchmarking)
2. Melakukan identifikasi adanya peluang untuk melakukan perbaikan Kriteria umum yang menunjukkan adanya perbaikan adalah peningkatan efisiensi, efektivitas dan ekonomis. Auditor melakukan identifikasi terhadap peluang untuk melakukan perbaikan dengan menganalisis dan melakukan wawancara terhadap orang-orang di dalam dan di luar organisasi, mengobservasi operasi, menelaah data operasi sekarang dan historis, menganalisis transaksi dan membuat perbandingan internal dan eksternal
3. Memberikan rekomendasi untuk perbaikan dan tindak lanjut
Dalam banyak kasus, auditor mampu untuk membuat suatu rekomendasi yang sifatnya khusus. Auditor harus terus-menerus mencari praktik yang terbaik dalam upaya untuk melakukan perbaikan yang berkesinambungan. Untuk itu sebaiknya, orang-orang operasional juga ikut dilibatkan dalam membuat dan menerapkan rekomendasi.
2.4.3 Pelaksanaan Audit Operasional
Menurut Tunggal (2011, piv), audit operasional dapat memberikan manfaat yang berharga kepada manajemen dan operasional melalui beberapa cara sebagai berikut :
1. Mengidentifikasi permasalahan yang timbul, penyebabnya dan alternatiff solusi perbaikannya
Hal ini merupakan tugas utama audit operasional. Meskipun sering mengetahui adanya suatu masalah, seringkali manajemen tidak dapat memahami inti permasalahannya dengan tepat. Auditor diharapkan dapat memberikan sudut pandang yang objektif untuk membantu manajemen memahami permasalahannya yang sebenarnya.
Tugas auditor juga mengindentifikasi penyebab masalah yang sebenarnya (bukan gejala) yang mungkin timbul sebagai akibat dari suatu kebijakan atau tindakan manajemen. Pada akhirnya, auditor harus memformulasikan jalan keluar yang realistis dan dapat diterapkan. Pada saat inilah pengalaman bekerja dengan berbagai departemen lain menjadi suatu hal yang sangat berharga. Harus diingat bahwa sebuah organisasi selalu mencari praktik yang terbaik, baik eksternal maupun internal yang dapat diterapkan sebagai bagian dari upaya perbaikan yang berkesinambungan. Satu hal yang harus dipahami auditor adalah tidak boleh merekomendasikan sesuatu yang tidak mungkin dapat dijalankan/
diterapkan.
2. Menemukan peluang untuk menekan pemborosan dan efisiensi biaya (cost reduction)
Peranan auditor adalah membantu manajemen menjalankan perusahaan dengan biaya yang paling optimum pada semua situasi/ kondisi. Biaya sebaiknya selalu berada pada tingkat yang wajar dan jika harus ada penghematan seyogyanya keputusan yang dibuat jangan sampai mengganggu/ membawa dampak negatif bagi operasi perusahaan.
3. Menemukan peluang untuk meningkatkan pendapatan (income improvement)
Naiknya pendapatan juga mempunyai pengaruh terhadap keuntungan perusahaan. Auditor dapat ikut serta berperan aktif dalam mengupayakan peluang untuk meningkatkan pendapatan.
4. Mengidentifikasi sasaran, tujuan, kebijakan dan prosedur organisasi yang belum ditentukan
Adalah suatu hal yang indah jika semua perusahaan telah menjalankan perencanaan jangka pendek dan panjang secara efektif. Meskipun demikian, dalam kenyataannya lebih banyak pengecualian dari hal yang di atas. Hal ini berarti auditor harus membantu manajemen untuk menentukan sasaran, tujuan dan detil perencanaan yang belum ditentukann dan membantu mengembangkannya. Tanpa suatu perencanaan akan menyebabkan tidak adanya tolak ukur untuk mengukut efektivitas organisasi.
5. Mengidentifikasi kriteria untuk mengukur pencapaian sasaran dan tujuan organisasi
Auditor dituntut untuk membantu manajemen dalam mengembangkan kriteria yang digunakan sebagai acuan untuk mengukur pencapaian sasaran dan tujuan.
6. Merekomendasikan perbaikan kebijakan, prosedur dan struktur organisasi Auditor mungkin mendapatkan suatu contoh bahwa penyebab timbulnya suatu masalah berasal dari penerapan kebijakan atau prosedur yang berlaku. Meskipun kebijakan disusun oleh Manajemen Senior dalam organisasi, tetapi tidak tertutup kemungkinan bahwa kebijakan tersebut perlu dikoreksi.
7. Melaksanakan pemeriksaan atas kinerja individu dan unit organisasi Tanggung jawab auditor adalah meyakinkan bahwa pemeriksaan atau pengukuran kriteria yang cukup memadai telah dilakukan untuk memonitor tahapan pencapaian kinerja.
8. Menelaah ketaatan/ kepatuhan terhadap ketentuan hukum, tujuan organisasi, sasaran, kebijakan dan prosedur
Auditor harus yakin bahwa perusahaan telah menjalankan operasinya sesuai dengan hokum dan peraturan internal yang telah dibuat. Jika terdapat ketidaktaatan, auditor harus menyatakan akibat/ konsekuensinya.
9. Menguji adanya tindakan yang tidak diotorisasi, kecurangan atau ketidaksesuaian lainnya
Beberapa pengujian dibutuhkan dalam audit operasional, khususnya untuk membuktikan bahwa suatu tindakan menyebabkan dampak negatif/
merugikan perusahaan.
10. Menilai sistem informasi manajemen dan sistem pengendalian Auditor harus memperhatikan beberapa hal sebagai berikut :
• Apakah sistem pelaporan sudah cukup menyediakan informasi yang penting sehingga manajemen dan staf operasional dapat menjalankan semua aspek dalam organisasi secara efektif?
• Apakah tingkat rincian informasi sudah sesuai dengan tingkat operasinya (misalnya rincian yang lebih detil pada level yang lebih rendah dan kurang detil pada level yang lebih tinggi?)
• Apakah seluruh indikator kunci sudah dipertimbangkan?
11. Menyediakan media komunikasi antara level operator dan manajemen Dalam banyak organisasi terdapat pemisahan yang jelas antara operasi dan manajemen yaitu manajemen adalah pihak yang membuat keputusan, sedangkan operasi adalah pihak yang menjalankannya. Salah satu hal penting yang dituntut dalam audit operasional adalah kemampuan auditor untuk menjembatani komunikasi antara operasional dan manajemen.
12. Memberikan penilaian yang independen dan objektif atas suatu operasi Baik manajemen maupun staf operasi terkadang begitu amat dekat dengan apa yang sedang terjadi di dalam organisasi sehingga sulit untuk menilai secara efektif hasilnya. Audit operasional yang independen dapat membantu dalam memberikan penilaian yang objektif terhadap hasilnya.
2.4.4 Jenis-jenis Audit Operasional
Menurut Elder, Beasley, Arens (2010, p740), ada tiga kategori audit operasional yaitu :
1. Audit Fungsional (Functional Audit)
Audit fungsional berkaitan dengan sebuah fungsi atau lebih dalam suatu organisasi, misalnya fungsi pengeluaran kas, penerimaan kas, pembayaran gaji. Audit fungsional memungkinkan adanya spesialisasi oleh auditor. Auditor yang merupakan staf dari internal audit dapat lebih efisien memakai seluruh waktu mereka untuk memeriksa dalam bidang tersebut. Tapi di samping itu, audit fungsional memiliki kekurangan yaitu tidak dievaluasinya fungsi yang saling berkaitan.
2. Audit Organisasional (Organizatinal Audit)
Audit organisasional menyangkut keseluruhan unit organisasi, seperti departemen, cabang atau anak perusahaan. Penekanan dalam audit ini adalah seberapa efisien dan efektif fungsi-fungsi saling berinteraksi.
Rencana organisasi dan metode-metode untuk mengkoordinasikan aktivitas yang ada, sangat penting dalam audit jenis ini.
3. Penugasan Khusus (Special Assignment)
Penugasan khusus ini timbul atas permintaan manajemen, sehingga dalam audit jenis ini terdapat banyak variasi. Contohnya adalah menentukan penyebab sistem EDP yang efektif, peneyelidikan kemungkinan fraud dalam suatu divisi dan membuat rekomendasi untuk mengurangi biaya pembuatan suatu barang.
2.4.5 Tahapan Audit Operasional
Dalam melakukan audit operasional diperlukan adanya suatu kerangka tugas sebagai pedoman dalam melaksanakan audit. Menurut Elder, Beasley, Arens (2010, p740), pemeriksaan operasional dibagi menjadi tiga tahapan : 1. Perencanaan (Planning)
Dalam pemeriksaan operasional serupa dengan pemeriksaan atas laporan keuangan. Pada saat perencanaan, auditor harus menentukan ruang
lingkup penugasan, menyampaikan pada unit organisasional, menentukan staf yang tepat dalam penugasan, memperoleh informasi mengenai latar belakang unit.
2. Pengumpulan Bukti dan Evaluasi (Evidence Accumulation and Evaluation)
Adalah suatu tahap dimana auditor mengumpulkan berbagai jenis bukti yang diperoleh melalui cara pendokumentasian, wawancara dengan klien dan observasi. Setelah bukti terkumpul, maka auditor harus mengevaluasinya agar menarik suatu kesimpulan mengenai temuan- temuan yang diperolehnya dan mengajukan saran-saran atau rekomendasi.
3. Pelaporan dan Tindak Lanjut (Reporting and Follow-Up)
Merupakan suatu tahap dimana pelaporan pemeriksaan operasional ditujukan hanya kepada pihak manajemen. Laporan pemeriksaan operasional perlu disusun secara khusus untuk menyajikan ruang lingkup audit, temuan dan rekomendasi yang akan disampaikan kepada manajemen. Tujuannya adalah untuk memastikan apakah perubahan- perubahan yang direkomendasikan telah dilakukan dan jika tidak, mengapa. Tindak lanjut biasanya dilakukan setelah rekomendasi.
Secara umum, kerangka tugas dalam suatu audit operasional terdiri dari tahap-tahap sebagai berikut :
1) Tahap audit pendahuluan 2) Tahap audit mendalam 3) Tahap pembuatan laporan
2.4.5.1 Tahap Audit Pendahuluan
Dalam audit pendahuluan, auditor harus mengumpulkan data agar dapat memiliki pengetahuan yang cukup untuk mengidentifikasi berbagai bidang dan peristiwa yang dianggap penting, menentukan hal-hal apa dan dimana yang memerlukan penyelidikan lebih lanjut.
Tahap audit pendahuluan terdiri dari : a) Pengamatan fisik sekilas
Dalam tahap ini observasi langsung akan banyak bermanfaat untuk mendapatkan informasi mengenai perusahaan dan bagian- bagiannya. Disini, auditor harus mempelajari indikasi-indikasi permasalahan, mewawancarai masing-masing pimpinan yang bertanggung jawab atas suatu fasilitas fisik. Dalam hal ini auditor menggunakan checklist yang telah tersusun menurut tekanan permasalahan tertentu. Tahap pengamatan fisik sekilas dapat menjadi alat bantu yang amat baik bagi kemampuan auditor dalam menemukan hal-hal yang penting. Pengamatan fisik tidak hanya digunakan sebagai orientasi, tetapi juga sebagai pandangan pertama untuk menetukan yang baik dan mana yang buruk.
Manfaat pengamatan fisik bagi auditor sedikit banyak berkaitan dengan inisiatif dan kemampuan auditor untuk mengobservasi.
b) Mencari data tertulis
Tahap ini bertujuan untuk menetapkan apakah perusahaan menerapkan praktek manajemen yang konsisten. Auditor harus mendapatkan dokumentasi yang dijadikan bahan perbandingan dengan data per departemen. Jenis-jenis dokumen tertulis yang harus diperoleh auditor antara lain adalah sasaran dan tujuan perusahaanyang tertulis, petunjuk kebijakan dan prosedur perusahaan, uraian tugas, bagan organisasi, laporan keuangan dan lain-lain. Ada kemungkinan data di atas dapat diperoleh selama pengamatan fisik sekilas atau pada wawancara dengan manajemen. Oleh karena itu kegiatan mencari data tertulis tidak dapat dikatakan tahap tersendiri. Namun untuk memudahkan perencanaan, hal ini dianggap sebagai suatu tahap yang terpisah.
c) Wawancara dengan manajemen
Pada tahap ini, auditor operasional harus belajar dari karyawan perusahaan, dalam arti memahami apa yang mereka rasakan dan bagaimana pandangan mereka terhadap suatu permasalahan tertentu. Dengan mewawancarai para manajer, auditor dapat memperoleh informasi yang terbaik untuk mengidentifikasikan perusahaan.
d) Kegiatan analisis
Tahap ini merupakan tahap terakhir dari audit pendahuluan.
Dokumentasi yang diperlukan dalam analisis harus sudah dilengkapi dalam tahap pengumpulan data. Tahap ini mencakup analisis laporan keuangan dan laporan manajemen lainnya.
Hasil dari tahap audit pendahuluan ini kemudian disimpulkan dalam suatu laporan audit pendahuluan yang lazim disebut memoranda survei. Laporan ini tidak boleh diserahkan kepada pihak lain, akan tetapi semata-mata digunakan untuk menetapkan daerah atau bagian mana yang kiranya memerlukan audit yang lebih mendalam.
2.4.5.2 Tahap Audit Mendalam
Walaupun dari audit pendahuluan, auditor sudah memiliki bayangan yang kuat tentang audit yang ada, namun auditor belum dapat melontarkan kesimpulan yang semata-mata berdasarkan hal tersebut. Dengan melaksanakan audit mendalam, auditor akan memperoleh kesempatan lebih luas untuk memperkuat dan meyakinkan kesimpulannya, karena dalam hal ini semua bukti pendukung dapat dianalisis. Audit mendalam mencakup kegiatan- kegiatan studi lapangan dan analisis.
Studi lapangan diantaranya meliputi wawancara dengan pihak internal juga eksternal, observasi atas aktivitas operasional, penelitian sistem pengendalian internal, penelitian arus transaksi dan lain-lain.
Kegiatan analisis meliputi diantaranya penghubungan data yang dikumpulkan dengan kriteria pengukuran kegiatan, penegasan kembali kriteria pengukuran dengan pegawai yang bersangkutan, pendiskusian temuan dan kesempatan perbaikan dengan pegawai yang bersangkutan, dan pengembangan alternatif, rekomendasi dan saran-saran.
Tidak semua kegiatan yang tercakup dalam studi lapangan dan analisis di atas perlu dilaksanakan oleh seorang auditor operasional, tidak hanya kegiatan tersebut yang dapat dilaksanakan. Kegiatan yang akan dilaksanakan auditor dalam audit mendalam ini perlu dipertimbangkan sendiri untuk mendapatkan temuan yang bermanfaat bagi upaya peningkatan kualitas manajemen yang diperiksanya. Dalam hal ini auditor dapat berpedoman pada memoranda survei yang telah mengidentifikasikan derah-daerah yang dianggap lemah sebagai hasil dari audit pendahuluan, yang memerlukan porsi audit mendalam yang lebih besar dibanding daerah-daerah lainnya.
Dalam auditor mendalam ini auditor merakit berbagai pandangan, saran, komentar dan perkembangan dalam suatu wawancara dan dipadukan dengan hasil observasi dan analisisnya sendiri.
2.4.5.3 Tahap Penyusunan Laporan
Bentuk dan sifat laporan yang dibuat oleh auditor operasional akan tergantung kepada keinginan pihak yang menugasi. Suatu laporan biasanya mengandung uraian mengenai kegiatan apa yang dikerjakan dalam audit, daerah-daerah mana yang perlu mendapat perbaikan dan rekomendasi yang yang diusulkan. Laporan harus dapat membangun suatu pemikiran rasional dalam simpulan dan rekomendasinya serta dialamatkan pada pihak yang mempunyai ide bahwa audit tersebut harus dilakukan.
Laporan audit operasional secara keseluruhan harus dibicarakan dengan para pejabat klien sebelum selesai, dengan jalan wawancara khusus dengan pimpinan departemen yang diperiksa secara mendalam. Wawancara khusus itu akan banyak membantu dalam menetapakan ketelitian fakta dan memudahkan diterimanya laporan oleh mereka yang bersangkutan.
Isi laporan audit operasional berbeda antara satu dengan yang lainnya, tergantung pada sifat perusahaan yang diperiksa dan tipe masalah yang ditelaah. Umumnya suatu laporan audit operasional akan meliputi unsur-unsur seperti tujuan dan ruang lingkup penugasan, prosedur-prosedur yang digunakan oleh auditor, temuan- temuan khusus, komentar-komentar yang diberikan selama wawancara khusus dan rekomendasi-rekomendasi jika diperlukan.
2.4.6 Laporan Audit Operasional
Seperti audit laporan keuangan, sebagai hasil akhir audit operasional akan dihasilkan pula suatu laporan hasil audit oleh auditor. Bagi pimpinan organisasi perusahaan yang tersangkut di dalam audit, laporan audit merupakan bukti nyatayang mereka lihat mengenai audit yang telah dilakukan.
Bentuk dan sifat laporan yang dibuat tergantung pihak yang memberikan tugas. Akan tetapi pada umumnya, suatu laporan audit operasional akan meliputi unsur-unsur :
1) Tujuan dan ruang lingkup
2) Prosedur-prosedur yang dipergunakan oleh auditor 3) Temuan-temuan khusus
4) Rekomendasi-rekomendasi bila perlu.
Ringkasan laporan hasil audit itu hendaknya : 1) Menjelaskan ruang lingkup dan tujuan audit
2) Menyajikan hal-hal aktual dengan akurat, lengkap dan wajar.
3) Menjelaskan temuan dan rekomendasi.
4) Mencantumkan informasi, temuan dengan didukung oleh bukti-bukti yang cukup untuk menunjukan dasar permasalahan yang dilaporkan serta kebenaran dan kelayakannya.
5) Membuat identifikasi dan penjelasan mengenai masalah dan peryataan yang memerlukan penelaahan dan pertimbangan lebih lanjut dari auditor.
6) Menyertakan tindakan manajemen yang patut diperhatikan terutama dalam perbaikan manajemen yang memerlukan perluasan lebih lanjut.
7) Menempatkan tekanan pokok pada perbaikan di masa depan dan bukannya pada kritik di masa lalu.
2.5 Standard Operating Procedure (SOP) 2.5.1 Pengertian SOP
Menurut Ekotama (2010, p19), SOP adalah sistem yang digunakan untuk memudahkan, merapikan dan menertibkan pekerjaan kita. Sistem ini berisi urutan melakukan pekerjaan dari awal hingga akhir. Hampir semua bisnis yang dijalankan secara modern memiliki SOP.
Menurut Tjipto Atmoko, SOP adalah pedoman atau acuan untuk melaksanakan tugas pekerjaan sesuai dengan fungsi dan alat penilaian kinerja perusahaan berdasarkan indikator indikator teknis, administrasif dan prosedural sesuai dengan tata kerja, prosedur kerja dan sistem kerja pada unit kerja yang bersangkutan.
SOP merupakan gambaran langkah-langkah kerja (sistem, mekanisme dan tata kerja internal) yang diperlukan dalam pelaksanaan suatu tugas untuk mencapai tujuan perusahaan. SOP sebagai suatu dokumen/instrumen memuat tentang proses dan prosedur suatu kegiatan yang bersifat efektif dan efisisen berdasarkan suatu standar yang sudah baku. Pengembangan instrumen manajemen tersebut dimaksudkan untuk memastikan bahwa proses pelayanan di seluruh unit kerja perusahaan dapat terkendali dan dapat berjalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Sebagai suatu instrumen manajemen, SOP berlandaskan pada sistem manajemen kualitas (Quality Management System), yakni sekumpulan prosedur terdokumentasi dan praktek-praktek standar untuk manajemen sistem yang bertujuan menjamin kesesuaian dari suatu proses dan produk (barang dan/atau jasa) terhadap kebutuhan atau persyaratan tertentu. Sistem manajemen kualitas berfokus pada konsistensi dari proses kerja. Hal ini mencakup beberapa tingkat dokumentasi terhadap standar-standar kerja.
Sistem ini berlandaskan pada pencegahan kesalahan, sehingga bersifat proaktif, bukan pada deteksi kesalahan yang bersifat reaktif.
2.5.2 Tujuan SOP
Menurut Tjipto Atmoko, tujuan SOP bagi perusahaan adalah menciptakan komitmen mengenai apa yang dikerjakan oleh satuan unit kerja perusahaan untuk mewujudkan good governance.
Menurut Tunggal (2011, p20), tujuan SOP adalah menyederhanakan pekerjaan kita supaya hanya berfokus pada intinya, tetapi cepat dan tepat.
Dengan cara ini, keuntungan mudah diraih, pemborosan diminimalisasi dan kebocoran keuangan bisa dicegah.
Menurut Widari (2008), tujuan SOP adalah sebagai berikut:
1. Membakukan standarisasi kerja secara administratif agar tidak terjadi variasi prosedur dalam menjalankan aktivitas kerja.
2. Pedoman bagi pelaksana, menjadi alat komunikasi antara pelaksana dan pengawas, dan menjadikan pekerjaan diselesaikan secara konsisten.
3. Sebagai salah satu alat training dan bisa dipergunakan untuk mengukur kinerja karyawan.
4. Sarana penunjang yang sangat penting sebagai alat yang efektif dan efisien guna menggerakkan kegiatan organisasi dalam meningkatkan produktivitas dan menjamin mutu layanan.
5. Menetapkan spesifikasi teknis atau sesuatu yang dibakukan termasuk tata cara dan metode yang disusun berdasarkan konsesus semua pihak yang terkait dengan memperhatikan syarat-syarat keselamatan, keamanan,
kesehatan, lingkungan hidup, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pengalaman, perkembangan masa kini dan masa yang akan datang untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya.
Dari tujuan yang telah dipaparkan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan SOP bagi perusahaan adalah menjaga konsistensi dan tingkat kinerja karyawan, mengetahui peran dan fungsi tiap-tiap posisi, memperjelas alur alur tugas, wewenang dan tanggung jawab dari karyawan, melindungi perusahaan dari resiko kesalahan administrasi, menghindari kesalahan, keraguan, duplikasi dan inefisiensi.
2.5.3 Manfaat SOP
Manfaat teknis menjadi standar dan sangat penting karena dapat digunakan sebagai acuan dalam pengendalian atas pelaksanaan penerapan SOP di dalam organisasi. Menurut Tambunan (2011, p30), manfaat teknis dari SOP adalah:
1. Menjamin adanya standarisasi kebijakan, peraturan, baik yang dibuat intern organisasi maupun berasal dari ekstern, misalnya Undang-Undang, Keputusan Presidean atau Menteri, maupun yang berupa aturan lainnya dari institusi seperti Bapepam, dll.
2. Menjamin adanya standarisasi pelaksanaan setiap prosedur operasional standar yang telah ditetapkan menjadi pedoman baku organisasi.
3. Menjamin adanya standarisasi untuk penggunaan dan distribusi formulir, blanko dan dokumen dalam prosedur operasional standar. Alir formulir, blanko dan dokumen pada dasarnya merupakan alir dari birokrasi di dalam organisasi, sehingga efektifitas dan efisiensi dari alir formulir, blanko dan dokumen merupakan efektifitas dan efisiensi birokrasi.
4. Menjamin adanya standarisasi sistem administrasi (termasuk kegiatan penyimpanan arsip dan sistem dokumentasi). Sistem administrasi menjadi jaminan adanya upaya untuk menghargai tiap transaksi dan peristiwa yang terjadi di dalam organisasi.
5. Menjamin adanya standarisasi validasi, salah satu tindak atau aksi yang memastikan bahwa kontrol di dalam suatu alur kegiatan telah diterapkan adalah dengan melihat validasi dalam alur tersebut (control activities).
Validasi harus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari SOP.
6. Menjamin adanya standarisasi pelaporan. Laporan adalah apa yang dibutuhkan oleh pengguna sistem termasuk SOP. Salah satu indikator menentukan keberhasilan atau efektivitas sistem adalah laporan-laporan yang dihasilkan sistem bermanfaat bagi penggunannya sebagai dasar untuk mengambil keputusan dan melakukan tindakan yang diperlukan sesuai dengan tujuan, target dan program-program yang telah dtetapkan secara periodik.
7. Menjamin adanya standarisasi kontrol. Penerapan kontrol sesungguhnya bukan hanya merupakan validasi, tetapi mengimplementasikan komponen-komponen pengendalian lainnya yang mempengaruhi kualitas pengendalian organisasi secara keseluruhan yaitu: lingkungan pengendalian, penilaian resiko, informasi dan komunikasi dan pemantauan.
8. Menjamin adanya standarisasi untuk pelaksanaan evaluasi dan penilaian kegiatan organisasi.
9. Menjamin adanya standarisasi untuk pelayanan dan tanggapan kepada pihak luar organisasi. Standar ini adalah refleksi dari dampak SOP suatu organisasi adalah refleksi dari dampak SOP suatu organisasi terhadap pihak ekstern organisasi. SOP yang efektif memastikan bahwa semua kegiatan organisasi bisa berjalan pada pola yang paling ekonomis, efektif dan efisien
10. Menjamin adanya standarisasi untuk keterpaduan dan keterkaitan di antara prosedur dengan prosedur operasional lainnya di dalam konteks dan kerangka tujuan organisasi.
11. Menjamin adanya acuan yang formal bagi anggota organisasi untuk menjalankan kewajiban di dalam prosedur operasional standar.
12. Menjamin adanya acuan yang formal untuk setiap perbaikan serta pengembangan prosesur-prosedur operasional standar di masa mendatang.
2.5.4 Fungsi SOP
Menurut Tjipto Atmoko, fungsi SOP dalam perusahaan adalah sebagai berikut :
1. Membentuk sistem kerja & aliran kerja yang teratur, sistematis, dan dapat dipertanggungjawabkan.
2. Menggambarkan bagaimana tujuan pekerjaan dilaksanakan sesuai dengan kebijakan dan peraturan yang berlaku.
3. Menjelaskan bagaimana proses pelaksanaan kegiatan berlangsung.
4. Sebagai sarana tata urutan dari pelaksanaan dan pengadministrasian pekerjaan harian sebagaimana metode yang ditetapkan.
5. Menjamin konsistensi dan proses kerja yang sistematik.
6. Menetapkan hubungan timbal balik antar Satuan Kerja.
Menurut Widari (2008), fungsi SOP adalah sebagai berikut:
1. Dapat digunakan sebagai sarana untuk mengkomunikasikan pelaksanaan suatu pekerjaan di perusahaan.
2. Dapat digunakan sebagai sarana acuan dalam melakukan penilaian terhadap proses layanan di perusahaan.
3. Dapat digunakan sebagai sarana pelatihan bagi staf / karyawan baru sehingga mengurangi waktu yang terbuang untuk memberikan pengarahan.
4. Dapat digunakan sebagai sarana mengendalikan dan menggantisipasi apabila terdapat suatu perubahan sistem di perusahaan.
5. Dapat digunakan sebagai sarana audit di perusahaan.
6. SOP yang baik akan menjadi pedoman bagi pelaksana, menjadi alat komunikasi antara pelaksana dan pengawas, dan menjadikan pekerjaan diselesaikan secara konsisten.
7. Para pekerja akan lebih memiliki percaya diri dalam bekerja dan tahu apa yg harus dicapai dalam setiap pekerjaan.
8. SOP juga bisa dipergunakan sebagai salah satu alat training dan bisa dipergunakan untuk mengukur kinerja karyawan.
Dari fungsi yang telah dipaparkan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa fungsi SOP bagi perusahaan adalah memperlancar tugas karyawan, sebagai dasar hukum bila terjadi penyimpangan dan sebagai pedoman dalam melaksanakan pekerjaan rutin perusahaan.
2.5.5 Perubahan SOP
Menurut Ekotama (2010, p101), yang dimaksud mengubah adalah sebagai berikut:
1. Perusahaan hanya melakukan revisi ringan agar SOP hanya mampu mengakomodasi jenis pekerjaan yang lebih kompleks.
2. Perusahaan mengubah sebagian besar ketentuan SOP karena ketentuan yang lama sudah tidak bisa dipakai lagi.
3. Perusahaan membuat SOP baru karena SOP lama tidak bisa diaplikasikan pada usaha baru.
Selain itu, terdapat tiga alasan mengapa perusahaan mengubah SOP yaitu :
1. Jika SOP tersebut sudah tidak sesuai dengan perkembangan usaha perusahaan. Contoh: dulu perusahaan hanya membuat usaha laundry kiloan. Namun ternyata berdasarkan permintaan pasar, perusahaan harus membuka laundry yang melayani pencucian batik atau jas, maka perusahaan harus menambahkan SOP baru untuk pencucian batik atau jas.
2. Jika SOP tersebut ternyata tidak efisien dan ada cara lain untuk melakukan pekerjaan yang lebih efisien. Contoh: dulu perusahaan hanya membuat aturan bahwa pembayaran gaji harus dilakukan dengan tunai, uang harus diambil dulu dari bank, dibawa ke kantor, dimasukkan amplop satu per-satu, baru dibayarkan kepada karyawan. Ternyata dalam
perkembangannya, perbankan bisa melayani pembayaran gaji karyawan lewat transfer. Perusahaan tinggal menyediakan dana di bank, menyetorkan daftar gaji karyawan beserta nomor rekening masing- masing dan pihak bank secara otomatis akan mentransfernya ke rekening karyawan. Oleh karena itu, perusahaan harus mengubah cara pembayaran tunai menjadi sistem transfer yang lebih aman.
3. Jika perusahaan mengubah core business usahanya. Contoh: dulu kita membuka restoran seafood. Dalam perkembangannya, restoran seafood kita tidak diminati pembeli dan kita membuka restoran makanan khas Sunda di lokasi yang sama. SOP untuk restoran seafood tentu sangat berbeda dengan SOP untuk restoran khas Sunda. Oleh karena itu, perubahan core business harus diikuti dengan perubahan SOP-nya.
2.5.6 Penyusunan SOP
Menurut Tjipto Atmoko, tahap penting dalam penyusunan standar operasional prosedur adalah melakukan analisis sistem dan prosedur kerja, analisis tugas, dan melakukan analisis prosedur kerja.
1. Analisis sistem dan prosedur kerja
Analisis sistem dan prosedur kerja adalah kegiatan mengidentifikasikan fungsi-fungsi utama dalam suatu pekerjaan, dan langkah-langkah yang diperlukan dalam melaksanakan fungsi sistem dan prosedur kerja. Sistem adalah kesatuan unsur atau unit yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi sedemikian rupa, sehingga muncul dalam bentuk keseluruhan, bekerja, berfungsi atau bergerak secara harmonis yang ditopang oleh sejumlah prosedur yang diperlukan, sedang prosedur merupakan urutan kerja atau kegiatan yang terencana untuk menangani pekerjaan yang berulang dengan cara seragam dan terpadu.
2. Analisis Tugas
Analisis tugas merupakan proses manajemen yang merupakan penelaahan yang mendalam dan teratur terhadap suatu pekerjaan,
karena itu analisa tugas diperlukan dalam setiap perencanaan dan perbaikan organisasi. Analisa tugas diharapkan dapat memberikan keterangan mengenai pekerjaan, sifat pekerjaan, syarat pejabat, dan tanggung jawab pejabat. Di bidang manajemen dikenal sedikitnya 5 aspek yang berkaitan langsung dengan analisis tugas yaitu :
a. Analisa tugas
Merupakan penghimpunan informasi dengan sistematis dan penetapan seluruh unsur yang tercakup dalam pelaksanaan tugas khusus.
b. Deskripsi tugas
Merupakan garis besar data informasi yang dihimpun dari analisa tugas, disajikan dalam bentuk terorganisasi yang mengidentifikasikan dan menjelaskan isi tugas atau jabatan tertentu. Deskripsi tugas harus disusun berdasarkan fungsi atau posisi, bukan individual; merupakan dokumen umum apabila terdapat sejumlah personel memiliki fungsi yang sama; dan mengidentifikasikan individual dan persyaratan kualifikasi untuk mereka serta harus dipastikan bahwa mereka memahami dan menyetujui terhadap wewenang dan tanggung jawab yang didefinisikan itu.
c. Spesifikasi tugas berisi catatan-catatan terperinci mengenai kemampuan pekerja untuk tugas spesifik.
d. Penilaian tugas, berupa prosedur penggolongan dan penentuan kualitas tugas untuk menetapkan serangkaian nilai moneter untuk setiap tugas spesifik dalam hubungannya dengan tugas lain.
e. Pengukuran kerja dan penentuan standar tugas merupakan prosedur penetapan waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan setiap tugas dan menetapkan ukuran yang dipergunakan untuk menghitung tingkat pelaksanaan pekerjaan.
Melalui analisa tugas ini tugas-tugas dapat dibakukan, sehingga dapat dibuat pelaksanaan tugas yang baku. Setidaknya ada dua manfaat
analisis tugas dalam penyusunan standar operasional prosedur yaitu membuat penggolongan pekerjaan yang direncanakan dan dilaksanakan serta menetapkan hubungan kerja dengan sistematis.
3. Analisis prosedur kerja
Analisis prosedur kerja adalah kegiatan untuk mengidentifikasi urutan langkah-langkah pekerjaan yang berhubungan apa yang dilakukan, bagaimana hal tersebut dilakukan, bilamana hal tersebut dilakukan, dimana hal tersebut dilakukan, dan siapa yang melakukannya.
Prosedur diperoleh dengan merencanakan terlebih dahulu bermacam- macam langkah yang dianggap perlu untuk melaksanakan pekerjaan.
Dengan demikian prosedur kerja dapat dirumuskan sebagai serangkaian langkah pekerjaan yang berhubungan, biasanya dilaksanakan oleh lebih dari satu orang, yang membentuk suatu cara tertentu dan dianggap baik untuk melakukan suatu keseluruhan tahap yang penting. Analisis terhadap prosedur kerja akan menghasilkan suatu diagram alur (flow chart) dari aktivitas organisasi dan menentukan hal-hal kritis yang akan mempengaruhi keberhasilan organisasi. Aktivitas-aktivitas kritis ini perlu didokumetasikan dalam bentuk prosedur-prosedur dan selanjutnya memastikan bahwa fungsi- fungsi dan aktivitas itu dikendalikan oleh prosedur-prosedur kerja yang telah terstandarisasi.
Prosedur kerja merupakan salah satu komponen penting dalam pelaksanaan tujuan organisasi sebab prosedur memberikan beberapa keuntungan antara lain memberikan pengawasan yang lebih baik mengenai apa yang dilakukan dan bagaimana hal tersebut dilakukan; mengakibatkan penghematan dalam biaya tetap dan biaya tambahan; dan membuat koordinasi yang lebih baik di antara bagian-bagian yang berlainan. Dalam menyusun suatu prosedur kerja, terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan yaitu :
1) Prosedur kerja harus sederhana sehingga mengurangi beban pengawasan
2) Spesialisasi harus dipergunakan sebaik-baiknya
3) Pencegahan penulisan, gerakan dan usaha yang tidak perlu 4) Berusaha mendapatkan arus pekerjaan yang sebaik-baiknya 5) Mencegah kekembaran (duplikasi) pekerjaan
6) Harus ada pengecualian yang seminimun-minimunya terhadap peraturan
7) Mencegah adanya pemeriksaan yang tidak perlu
8) Prosedur harus fleksibel dan dapat disesuaikan dengan kondisi yang berubah
9) Pembagian tugas tepat
10) Memberikan pengawasan yang terus menerus atas pekerjaan yang dilakukan
11) Penggunaan urutan pelaksanaan pekerjaaan yang sebaik-baiknya
12) Tiap pekerjaan yang diselesaikan harus memajukan pekerjaan dengan memperhatikan tujuan
13) Pekerjaan tata usaha harus diselenggarakan sampai yang minimum 14) Menggunakan prinsip pengecualian dengan sebaik-baiknya
Penyusunan SOP dilakukan disetiap satuan unit kerja dan menyajikan langkah-langkah serta prosedur yang spesifik berkenaan dengan kekhasan tugas pokok dan fungsi masing-masing satuan unit kerja yang meliputi penyusunan langkah-langkah, tahapan, mekanisme maupun alur kegiatan.
SOP kemudian menjadi alat untuk meningkatkan kinerja penyelenggaraan pemerintahan secara efektif dan efisien.
Prinsip dasar yang perlu diperhatikan dalam penyusunan SOP adalah :
1) Penyusunan SOP harus mengacu pada Susunan Organisasi dan Tata Kerja (SOTK), Tugas Pokok dan Fungsi (TUPOKSI), serta alur dokumen.
2) Prosedur kerja menjadi tanggung jawab semua anggota organisasi.
3) Fungsi dan aktivitas dikendalikan oleh prosedur, sehingga perlu dikembangkan diagram alur dari kegiatan organisasi.
4) SOP didasarkan atas kebijakan yang berlaku.
5) SOP dikoordinasikan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kesalahan/penyimpangan.
6) SOP tidak terlalu rinci.
7) SOP dibuat sesederhana mungkin.
8) SOP tidak tumpang tindih, bertentangan atau duplikasi dengan prosedur lain.
9) SOP ditinjau ulang secara periodik dan dikembangkan sesuai kebutuhan.
2.5.7 Tahapan Teknis Penyusunan SOP 1. Tahap Persiapan
Tahap ini bertujuan untuk memahami kebutuhan pernyusunan atau pengembangan SOP serta menyusun alternatif tindakan yang harus dilakukan dalam organisasi yang terdiri dari empat langkah:
mengevaluasi kebutuhan, mengevaluasi dan menilai kebutuhan, menetapkan kebutuhan dan menetapkan alternatif tindakan.
Produk dari tahapan ini adalah keputusan mengenai alternatif tindakan yang akan dilakukan.
2. Tahap Pembentukan Organisasi Tim
Tahap ini bertujuan untuk menetapkan tim atau organisasi tim yang bertanggung jawab untuk melaksanakan alternatif tindakan yang telah dibuat dalam tahap persiapan. Tahap ini mencakup lima langkah:
menetapkan organisasi tim penanggungjawab pelaksanaan, menyusun pembagian tugas pelaksanaan, menetapkan orang yang diberi tanggung jawab atas pelaksanaan secara garis besar, menetapkan mekanisme kontrol pekerjaan dan membuat pedoman pembagian pekerjaan dan kontrol pelaksanaan pekerjaan.
Produk dari tahap ini adalah pedoman pembagian tugas dan kontrol pekerjaan.
3. Tahap Perencanaan
Tahap ini bertujuan menyusun serta menetapkan strategi, metodologi, rencana dan program kerja yang akan digunakan oleh tim pelaksana penyusunan. Tahap ini terdiri dari empat langkah: menyusun strategi dan metodologi kerja, menyusun perencanaan kerja, menyusun program-program kerja rinci dan menyusun pedoman perencanaan dan program kerja rinci.
4. Tahap Penyusunan
Tahap ini bertujuan untuk melaksanakan penyusunan SOP sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan. Tahap ini terdiri dari lima langkah: mengumpulkan informasi terkait dengan metode pendekatan pengumpulan yaitu dengan metode pendekatan sistem atau resiko kegiatan, mengumpulkan informasi pelengkap yaitu alur otorisasi, kebijakan, pihak yang terlibat, formulir, kaitan dengan prodesur lain dan kode prosedur, menetapkan metode dan teknik penulisan SOP yang dipilih, apakah naratif, bagan arus, tabular atau panduan di antara ketiganya, melaksanakan penulisan SOP dan membuat draft pedoman SOP.
Produk dari tahapan ini adalah draft pedoman SOP.
5. Tahap Uji Coba
Tahap ini bertujuan menerapkan SOP dalam bentuk uji coba draft pedoman SOP yang telah dibuat dalam tahap penyusunan. Tahap ini terdiri dari enam langkah yaitu: merancang metodologi uji coba, mempersiapkan materi uji coba, menetapkan tim pelaksana uji coba, mempersiapkan sarana uji coba, melaksanakan uji coba dan menyusun laporan hasil uji coba.
Produk dari tahap ini adalah laporan hasil uji coba yang digunakan untuk melakukan penyempurnaan draft pedoman SOP.
6. Tahap Penyempurnaan
Tahap ini bertujuan menyempurnakan pedoman SOP berdasarkan laporan hasil uji coba yang telah dilakukan pada tahap sebelumnya.
Tahap ini terdiri dari enam langkah: mendiskusikan laporan hasil uji coba, merancang dan merencanakan langkah-langkah penyempurnaan pedoman SOP, menyusun pembagian tugas penyempurnaan, melaksanakan penyempurnaan dan melakukan uji coba terbatas dengan tim atau tim penyeimbang (counterpart) atau kelompok fokus (focus group) yang dibentuk secara khusus.
Produk dari tahap ini adalah pedoman SOP akhir (final manual atau final guidance) yang digunakan sebagai pedoman dalam organisasi.
7. Tahap Implementasi
Tahap ini bertujuan untuk mengimplementasikan pedoman SOP akhir secara menyeluruh dan standar dalam organisasi. Tahap ini terdiri dari enam langkah yaitu: merancang metodologi implementasi, mempersiapkan materi implementasi, menetapkan tim pelaksana implementasi, mempersiapkan sarana implementasi, melaksanakan implementasi, menyusun laporan implementasi.
Produk dari tahap ini adalah laporan implementasi yang akan menjadi dasar dalam melakukan tahapan pemeliharaan dan audit.
8. Tahap Pemeliharaan dan Audit
Tahap ini merupakan tahap akhir dari seluruh tahap-tahap teknis penyusunan SOP dan bertujuan untuk menyelenggarakan pemeliharaan dan audit atas pelaksanaan penerapan SOP dalam organisasi selama periode tertentu. Tahap ini terdiri dari tujuh langkah yaitu:
merencanakan kegiatan pemeliharaan dan audit atas pedoman SOP yang diterapkan, mempersiapkan tim pemeliharaan dan audit, melaksanakan pemeliharaan dan audit, membuat laporan setiap kegiatan pemeliharaan dan audit, menyimpulkan temuan-temuan di dalam laporan kegiatan pemeliharaan dan audit dan menyusun perencanaan perbaikan yang diperlukan, melaksanakan perbaikan segera (bila perbaikan adalah kecil dan bersifat rutin), melaksanakan tahap-tahap teknis penyusunan SOP dari awal (bila perbaikan adalah besar dan bersifat tidak rutin).
2.6 International Organization for Standardization (ISO) 9001 : 2008
Menurut Djatmiko dan Jumaedi (2011, p3), ISO 9001 adalah standar internasional yang diakui untuk sertifikasi sistem manajemen mutu. ISO 9001 menyediakan kerangka kerja bagi perusahaan dan seperangkat prinsip-prinsip dasar dengan pendekatan manajemen secara nyata dalam aktivitas rutin perusahaan.
Tujuannya, menciptakan konsistensi untuk mencapai kepuasan pelangan.
ISO 9001:2008 merupakan standar internasional yang disusun oleh International Organization for Standardization (IOS). IOS didirikan di Genewa (Swiss) pada tahun 1946, dan merupakan Federasi Internasional dari badan-badan standarisasi nasional di seluruh dunia (Lebih dari 157 Negara Anggota). Produk- produk IOS yang terkenal:
• ISO 9000 : Sistem Manajemen Mutu
• ISO 14000 : Sistem Manajemen Lingkungan
• ISO TS 17025 : Sistem Pengujian & Kalibrasi Laboratorium
• ISO TS 16949 : Sistem Manajemen Mutu Industri Otomotif
2.6.1 Sejarah ISO 9001
Sejarah sistem manajemen mutu diawali dengan adanya Perang Dunia ke-2. Saat itu terjadi perang antara blok sekutu (USA, Inggris, Rusia, Perancis, dan Belanda) melawan blok poros, axis (Jerman, Italia, dan Jepang). Blok sekutu sendiri seperti Amerika, Inggris, dan Perancis memiliki sistem persenjataan yang berbeda satu dengan yang lainnya sehingga mereka tidak bisa saling men-supply amunisi ke sesama anggota. Dengan kondisi seperti itu, mereka mulai sadar bahwa standardisasi senjata perang sangat penting untuk keefektifan kemenangan perang.
Tahun 1963, untuk pertama kalinya NATO (North Athlantic Trity Organization) Fakta Perjanjian Atlantik Utara membuat standardisasi senjata api yang pertama, yaitu MIL-Q-9858 A. Ini merupakan tonggak pertama militer membuat standardisasi persenjataan di dunia. Keberhasilan
standardisasi yang dibuat militer tersebut mendorong organisasi lain di luat militer membuat standardisasi sesuai dengan bidang tertentu.
Adapun ISO adalah suatu badan standar internasional yang bergerak di bidang standardisasi. ISO 9001 series sendiri yang dikenal dengan sistem manajemen mutu, pertama kali dipublikasikan tahun 1987. Namun, tidak spesifik pada suatu industri, produk, atau jasa yang khusus, sehingga pada tahun 1994 standar ini direvisi. Dalam versi 1994, standar dikembangkan untuk menolong perusahaan agar secara efektif dapat mendokumentasikan elemen-elemen sistem mutu yang diterapkan. Kemudian, standar ini direvisi kembali pada 15 Desember 2000 dan direvisi terakhir pada tahun 2008.
Keluarga standar sistem manajemen mutu ISO 9001 di antaranya adalah sebagai berikut.
• IWA 1: Sistem Manajemen Mutu-Penuntun untuk proses peningkatan dalam organisasi jasa kesehatan.
• IWA 2: Sistem Manajemen-Penuntun untuk penerapan ISO 9001:2000 dalam pendidikan.
• ISO 9001:2005: Sistem Manajemen Mutu-Dasar-dasar dan kosa kata.
• ISO 9001: Sistem Manajemen Mutu-Persyaratan.
• ISO 9004: Sistem Manajemen Mutu-Penuntun untuk peningkatan kerja.
• ISO/TS 16949 : Sistem Manajemen Mutu-Persyaratan khusus untuk penerapan ISO 9001, untuk organisasi produsen otomotif dan bagian yang relevan dengan otomotif.
• ISO 19011: Penuntun untuk audit sistem manajemen mutu dan/atau sistem manajemen lingkungan.
2.6.2 Manfaat Penerapan Standar Sistem Manajemen Mutu ISO 9001
Menurut Djatmiko dan Jumaedi (2011, p3), manfaat penerapan sistem manajemen mutu ISO 9001 adalah sebagai berikut :
1. Meningkatkan daya saing produk yang dihasilkan sehubungan dengan perdagangan bebas yang tidak mengenal batas wilayah. Hanya produk yang mempunyai daya saing tinggilah yang diterima di pasar.
2. Dengan banyaknya persaingan di pasar bebas, maka konsumen akan memilih produk dengan mutu baik dan konsisten. Apabila perusahaan tidak dapat memenuhi permintaan konsumen akan produk yang bermutu, maka lambat laun perusahaan akan mengalami kebangkrutan karena perusahaan tidak dapat menjual produknya. Dengan demikian, pola konsumen pada masa mendatang akan cenderung memilih produsen yang mempunyai sertifikasi standar mutu (ISO).
3. Penerapan ISO akan meningkatkan produktivitas, efisiensi, efektivitas operasional, dan mengurangi biaya yang ditimbulkan barang cacat (reject) atau barang bermutu rendah dan limbah.
4. Penerapan ISO membuat sistem kerja dalam suatu perusahaan mejadi standar kerja yang terdokumentasi. Dengan demikian, perusahaan mempunyai aturan kerja yang baik sehingga memudahkan dalam pengendalian.
5. Penerapan ISO dapat meningkatkan semangat dan moral karyawan karena adanya kejelasan tugas dan wewenang (job description) serta hubungan antar bagian yang terkait. Dengan begitu, karyawan dapat bekerja dengan efisien dan efektif.
6. Nilai kompetisi dan image perusahaan semakin meningkat dengan sertifikasi ISO.
7. Penerapan ISO menjamin proses yang dilaksanakan sesuai dengan sistem manajemen mutu yang ditetapkan.
8. Penerapan ISO memudahkan Top Management mencapai target karena sudah dipersiapkan target dan rencana pencapaiannya.
2.6.3 Sistem Manajemen Mutu
2.6.3.1 Pengertian Mutu (Kualitas)
Menurut ISO 9001:2008, mutu adalah derajat/ tingkat karakteristik yang melekat/ditetapkan pada produk dalam memenuhi persyaratan.
Menurut ISO 9001:2008, beberapa konsep penting dari pengertian mutu adalah sebagai berikut:
• Derajat/tingkat : Menunjukan adanya tingkatan.
• Karakteristik : Ciri khusus yang dimiliki dan menggambarkan sifat sebuah produk.
o Fisik (misalnya karakteristik mekanik, listrik, kimia atau biologi)
o Keinderaan (misalnya berkaitan dengan bau, sentuhan, rasa, penglihatan, pendengaran)
o Perilaku (misalnya kesopanan, kejujuran, kebenaran) o Temporal (misalnya ketepatan , keandalan, ketersedian)
o Ergonomik (misalnya karakteristik fisiologis, atau berkaitan dengan keselamatan manusia)
o Fungsional (misalnya kecepatan maksimum pesawat terbang)
• Persyaratan: Harapan atau kebutuhan yang dinyatakan secara tersirat dan atau tertulis.
2.6.3.2 Pengertian Sistem Manajemen Mutu
Menurut ISO 9001:2008, sistem manajemen mutu adalah sistem pengelolaan yang memuat garis besar kebijakan dan prosedur yang diperlukan sebagai panduan pelaksanaan berbagai proses yang bertujuan untuk meningkatkan mutu dan kinerja personil/organisasi sebagaimana yang dipersyaratkan oleh pelanggan.
Menurut Djatmiko dan Jumaedi (2011, p2), sistem manajemen mutu adalah suatu aktivitas yang terkoordinasi untuk mengarahkan dan mengendalikan suatu organisasi dalam mencapai sasaran yang diharapkan berkenaan dengan mutu.
2.6.3.3 Cakupan Sistem Manajemen Mutu
Menurut Djatmiko dan Jumaedi (2011, p4), cakupan sistem manajemen mutu adalah sebagai berikut.
1. Mengatur semua kegiatan perusahaan. Mulai dari hal teknis, administrasi, sampai sumber daya manusia yang memengaruhi mutu produk atau jasa yang dihasilkan.
2. Memberikan kepuasan kepada pelanggan.
3. Menerapkan konsep penghematan biaya.
4. Memberikan petunjuk tentang koordinasi antara manusia, mesin, dan informasi untuk mencapai tujuan standar.
5. Memberitahukan kepada para supplier tentang cara mencapai mutu yang baik.
6. Memberikan keyakinan kepada pelanggan bahwa produk yang dibelinya telah melalui proses sistem manajemen mutu yang terkendali.
2.6.3.4 Prinsip Sistem Manajemen Mutu
Dalam ISO 9001:2008, terdapat delapan prinsip sistem manajemen mutu yang dijadikan sebagai acuan kerangka kerja yang membimbing organisasi menuju peningkatan kerja. Kedelapan prinsip sistem manajemen mutu yang terdapat dalam ISO 9001:2008, adalah:
1. Customer Focus
Pelanggan merupakan bagian yang sangat penting bagi organisasi, oleh sebab itu manajemen organisasi harus benar-benar memahami, memenuhi kebutuhan pelanggan saat ini dan yang akan datang bahkan melebihi harapan pelanggan, juga secara proaktif dalam menetapkan level kepuasan pelanggan.
2. Leadership
Pemimpin sangat penting dalam menciptakan kesatuan arah dan tujuan organisasi, menciptakan dan mempertahankan lingkungan internal sehingga personel terlibat secara penuh untuk mencapai tujuan organisasi. Seorang pemimpin bertanggung jawab untuk
menetapkan kebijakan mutu, struktur organisasi, mengidentifikasi dan menyediakan sumber daya, menciptakan lingkungan kerja dimana semua personel ambil bagian dalam pencapaian target atau sasaran organisasi, dan memiliki komitmen dalam perbaikan berkelanjutan untuk sistem manajemen mutu.
3. Involvement of People
Keterlibatan personel secara penuh pada semua tingkatan organisasi sangat penting sehingga kemampuan personel dapat digunakan untuk kepentingan organisasi. Manajemen organisasi bertanggung jawab untuk mengidentifikasi tanggungjawab dan wewenang, mengidentifikasi kompetensi, kebutuhan, penyediaan dan mengevaluasi pelatihan serta memelihara catatan pelatihan, mengidentifikasi dan mengendalikan faktor manusia dan area kerja untuk mencapai kesesuaian produk.
4. Process Approach
Pendekatan proses sangat penting untuk mencapai hasil yang diinginkan agar lebih efisien, dengan mengelola aktivitas dan sumber-sumber daya yang berkaitan sebagai suatu proses. Proses merupakan integrasi yang berurutan dari personel, material, metode, mesin, dan peralatan, dalam suatu lingkungan untuk menghasilkan keluaran yang memiliki nilai tambah bagi pelanggan. Manajemen organisasi bertanggung jawab untuk menentukan orientasi hasil yang efektif, mengendalikan sumber daya dan aktivitas sebagai sebuah proses (Business Process Map) dan secara sistematis mengidentifikasi dan mengendalikan proses yang digunakan untuk memastikan kesesuaian produk (Procedure).
5. System Approach to Management
Pengidentifikasian, pemahaman dan pengelolaan proses-proses yang saling berkaitan sebagai suatu sistem yang mendukung efektivitas dan efisiensi organisasi dalam mencapai tujuan-
tujuannya dengan menetapkan sasaran mutu setiap proses, menetapkan interaksi dan rangkaian proses, memantau dan mengukur efektivitas setiap proses.
6. Continual Improvement
Peningkatan berkesinambungan akan meningkatkan kinerja organisasi secara keseluruhan dan harus menjadi komitmen perusahaan. Peningkatan berkesinambungan merupakan suatu proses berkesinambungan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi organisasi dalam memenuhi kebijakan dan mencapai tujuan organisasi. Manajemen organisasi bertanggung jawab untuk menentukan sasaran tetap organisasi, memantau kinerja melalui sasaran mutu yang terukur setiap fungsi terkait dan level dengan melakukan internal audit, tinjauan manajemen, corrective and preventive action, dll.
7. Factual Approach to Decision Making
Keputusan yang efektif harus berdasarkan analisis data dan informasi yang faktual, sehingga masalah-masalah mutu dapat terselesaikan secara efektif dan efisien. Keputusan yang diambil harus ditujukan untuk meningkatkan kinerja organisasi dan efektivitas implementasi sistem manajemen mutu.
8. Mutually Beneficial Supplier Relationships
Organisasi dan pemasok-pemasoknya saling tergantung dan hubungan yang saling menguntungkan akan meningkatkan kemampuan bersama dalam menciptakan nilai tambah bagi pelanggan. Oleh karena itu, manajemen organisasi bertanggung jawab untuk menetapkan dan mendokumentasikan persyaratan yang harus dipenuhi oleh pemasok, meningkatkan kemampuan kedua organisasi untuk menjadi lebih baik, melakukan seleksi, meninjau dan mengevaluasi kinerja pemasok untuk mengendalikan produk yang dipasok.
2.6.3.5 Keuntungan Implementasi Sistem Manajemen Mutu
2.6.4 Pe 2.
Gam
ersyaratan 6.4.1 Pend 1. U Pe ke si a)
b) c) d) e) f) B m m m ad
mbar 2.1 Ke
ISO 9001:2 dahuluan IS Umum
enggunaan eputusan stra istem manaje ) Lingkung
lingkunga lingkunga ) Kebutuha ) Sasaran-s ) Produk-pr ) Proses-pr ) Ukuran d Bukan meru menyeragamk menyeragamk manajemen m dalah melen
euntungan Im
008
O 9001:200
suatu sistem ategis dari s emen mutu o gan organ an tersebut an tersebut an yang berv sasaran terten
roduk yang roses yang di dan struktur o upakan tuj kan struktu kan dokum mutu yang di ngkapi pers
mplementas
08
m manajem uatu organis organisasi di nisasi, pe
t, dan res
variasi ntu
diberikan iterapkan organisasi
uan dari ur sistem mentasi. Per
itetapkan da syaratan-per
i Sistem Ma
men mutu m sasi rancanga
ipengaruhi o rubahan-per siko-resiko
Standar I manajeme rsyaratan-per alam Standar
rsyaratan pr
anajemen Mu
merupakan an dan pene oleh:
rubahan d terkait de
nternasional en mutu rsyaratan s r Internasion roduk. Info
utu
suatu rapan
dalam engan
l ini atau sistem nal ini rmasi