i LAPORAN
PENELITIAN DOSEN PEMULA UNIVERSITAS LAMPUNG
PERSEPSI PENGAJAR TERHADAP MULTIPLE INTELLIGENCE BERBASIS PENGAJARAN BAHASA INGGRIS UNTUK YOUNG LEARNERS
TIM PENELITI
Nama Ketua : Lidya Ayuni Putri, S.Pd., M.Hum.
NIDN : 0002068804
SINTA ID : 6682397
Nama Anggota : Rafista Deviyanti, S.Pd., M.Pd.
NIDN : 0008128704
SINTA ID : 6648713
Nama Anggota : Sri Suningsih, S.Pd., M.Pd.
NIDN : 0013028903
SINTA ID : 6682900
JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS LAMPUNG 2021
DIPA BLU UNILA
Nomor: 1504/UN26.21/PN/2021 Tanggal: 21 April 2021
HALAMAN PENGESAHAN PENELITIAN DOSEN PEMULA
UNIVERSITAS LAMPUNG
Judul Pengabdian : PERSEPSI PENGAJAR TERHADAP MULTIPLE INTELLIGENCE BERBASIS PENGAJARAN BAHASA INGGRIS UNTUK YOUNG LEARNERS Ketua Pelaksana
a. Nama Lengkap : Lidya Ayuni Putri, S.Pd., M.Hum.
b. NIDN c. SINTA ID
: :
0002068804 6682397
d. Jabatan Fungsional : Asisten Ahli 0-Kum e. Program Studi : Manajemen
f. Nomor HP : 081297303636
g. Alamat surel (e-mail) : [email protected] Anggota (1)
a. Nama Lengkap : Rafista Deviyanti, S.Pd., M.Pd.
b. SINTA ID : 6648713
c. Program Studi : Pendidikan Bahasa Inggris Anggota (2)
a. Nama Lengkap : Sri Suningsih, S.Pd., M.Pd.
b. SINTA ID : 6682900
c. Program Studi : Akuntansi Mahasiswa yang Terlibat (1) :
a. Nama Lengkap : Varra Helga Adrea Patricia
b. NPM : 1913042021
c. Program Studi : Pendidikan Bahasa Inggris Mahasiswa yang Terlibat (2) :
a. Nama Lengkap : Yoanda Johan
b. NPM : 1913042023
c. Program Studi : Pendidikan Bahasa Inggris Biaya Pengabdian : Rp 15.000.000,-
Sumber Dana : DIPA BLU Unila
Bandarlampung, 13 September 2021 Mengetahui,
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Ketua Pelakasana, Universitas Lampung
Dr. Nairobi, S.E., M.Si Lidya Ayuni Putri, S.Pd., M.Hum NIP 19660621 19900310 1 003 NIK 231704880602201
Menyetujui,
Ketua LPPM Universitas Lampung,
Dr. Lusmeilia Afriani, D.E.A.
ii
DAFTAR ISI
RINGKASAN ... iii
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 2
1.3 Tujuan Penelitian ... 3
1.4 Urgensi Penelitian ... 3
1.5 Batasan Penelitian ... 3
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 4
2.1 Pengertian Persepsi ... 4
2.2 Pengertian Multiple Intelligence ... 5
2.3 Sembilan Jenis Kecerdasan... 6
2.4 Kecerdasan Majemuk dalam Konteks Pendidikan ... 7
2.5 Pengajaran Bahasa Inggris untuk anak-anak ... 7
2.6 Peta Jalan / Roadmap Penelitian ... 8
BAB III. METODE PENELITIAN ... 9
3.1 Metode dan Prosedur Penelitian ... 9
3.2 Observasi ... 9
3.3 Subjek Penelitian dan Lokasi Penelitian ... 10
3.4 Instrumen Penelitian ... 10
3.5 Prosedur Analisis Data ... 10
3.6 Indikator Capaian Terukur ... 11
3.7 Luaran Wajib ... 11
BAB 4. RENCANA BIAYA DAN JADWAL PENELITIAN... 12
4.1. Anggaran Biaya ... 12
4.2. Jadwal Penelitian ... 13
DAFTAR PUSTAKA ... 14
RINGKASAN
Teori Multiple Intelligence menegaskan bahwa kecerdasan manusia tidak hanya diukur dengan tes IQ standar pada kemampuan verbal dan matematis. Namun teori ini berasumsi bahwa kecerdasan manusia terdiri dari sembilan jenis kecerdasan yang ditunjukkan oleh setiap individu. Dengan mengenali berbagai jenis kecerdasan, maka akan membantu untuk mengetahui perbedaan gaya belajar peserta didik.
Berawal dari hal ini, banyak guru yang memahami perbedaan pembelajaran di antara siswa, mereka mulai menerapkan teori ini untuk pembelajaran mereka guna meningkatkan kualitas pengajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi keyakinan para guru tentang penggunaan pengajaran bahasa Inggris berbasis Multiple Intelligence untuk pelajar muda. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif deskriptif untuk mengeksplorasi persepsi guru tentang penggunaan pengajaran bahasa Inggris berbasis Multiple Intelligence untuk pelajar muda EFL.
Penelitian ini dilakukan di beberapa sekolah dasar di Bandar Lampung yang menerapkan teori Multiple Intelligence sebagai sistem dalam proses pembelajarannya. Sepuluh guru akan dipilih untuk berpartisipasi dalam penelitian ini dan data dikumpulkan melalui kuesioner dan wawancara. Penelitian ini akan menginvestigasi persepsi guru terhadap pengajaran bahasa Inggris berbasis teori Multiple Intelligence untuk anak didik sebagai strategi terbaik untuk diterapkan dalam proses belajar mengajar saat ini di sekolah mereka.
Kata-kata kunci: persepsi guru, Multiple Intelligence, Pengajaran Bahasa Inggris untuk pelajar muda, English as a Foreign Language.
1 BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Salah satu hal yang membedakan manusia dengan makhluk hidup lainnya adalah kecerdasan. Manusia memiliki kecerdasan yang jauh lebih tinggi dibandingkan makhluk hidup lainnya. Dengan kecerdasannya ini, manusia bisa menguasai dunia dan melangsungkan peradaban. Kecerdasan manusia bisa berkembang sejalan dengan interaksi manusia dengan alamnya. Dengan kata lain, manusia mempunyai kemampuan untuk belajar dan meningkatkan potensi kecerdasannya. Kecerdasan yang dimiliki manusia tidak terdapat pada satu sisi saja, tetapi banyak kecerdasan yang akan ditingkatkan untuk kelangsungan hidupnya. Kecerdasan itu harus diseimbangkan sehingga dalam mencapai tujuan hidup dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya.
Kecerdasan dalam menyusun kata-kata yang baik secara lisan dan tulisan merupakan kecerdasan dalam bahasa. Seseorang mampu berkarya seperti menulis, berpuisi, dan membaca dengan baik merupakan salah satu kecerdasan bahasa yang dimilikinya.
Demikian juga dalam menghadapi sesuatu yang melibatkan untuk berpikir secara mendalam. Seseorang yang memiliki kecerdasan matematik/logika, ia akan mampu memecahkan masalah dengan baik karena kemampuan analisanya yang tinggi.
Kemampuan berpikir dan kemampuan bahasa merupakan kecerdasan yang diperoleh melalui pendidikan. Pendidikan yang memproses manusia menjadi lebih baik untuk meningkatkan potensi yang ada dalam dirinya. Oleh sebab itu, dalam hal ini akan dibahas Multiple Intelligence melalui pendidikan untuk membantu meningkatkan kecerdasan yang dimiliki peserta didiknya.
Saat ini, salah satu metode pengajaran yang populer adalah teori kecerdasan majemuk Howard Gardner. Teori ini percaya bahwa kecerdasan manusia tidak hanya diukur dengan tes IQ tradisional dalam kemampuan verbal dan matematis. Namun, teori ini mendefinisikan bahwa kecerdasan manusia adalah kemampuan manusia untuk memecahkan masalah dan menciptakan produk yang berharga dengan menggunakan kemampuannya dalam situasi kehidupan nyata tidak hanya dengan IQ dan dengan tes bakat, yang didasarkan pada kemampuan verbal dan keterampilan komputasi (Hoerr, 2000, hlm. 3). Selanjutnya teori ini diadaptasi oleh para Pendidik untuk
mengembangkan suatu metode dalam proses belajar mengajar bahasa.
Hoerr (2000) mengemukakan bahwa pendekatan Multiple Intelligence (MI) untuk bidang pendidikan berfokus pada model pembelajaran student-center dimana semua proses belajar mengajar diadaptasi dan dimodifikasi agar sesuai dengan kebutuhan siswa untuk belajar. Konsep ini meyakini bahwa semua siswa memiliki nilai yang sama untuk mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan kecerdasan majemuknya secara maksimal. Kesempatan ini akan membantu mereka untuk mencapai kesuksesan dalam hidup mereka berdasarkan ahli bidang mereka (Harmer, 2007; Chatib, 2013; Hoerr, 2000, Armstrong, 2009).
Salah satu sekolah dasar di Surakarta menawarkan sistem kecerdasan ganda sebagai pendekatan dasar yang diajarkan kepada siswanya. Sistem Multiple Intelligence menjadi pendekatan dalam proses belajar mengajar bahasa Inggris dan semua mata pelajaran wajib. Pendekatan ini merupakan paradigma dasar bagi seluruh proses belajar mengajar di sekolah. Oleh karena itu, setiap langkah dalam instruksi mengacu pada sistem kecerdasan ganda. Para peneliti akan mereplikasi penelitian ini untuk mengetahui apakah terdapat Sekolah Dasar yang menerapkan hal yang sama dalam implementasi pengajaran di sekolah.
Dalam mengimplementasikan sistem kecerdasan ganda seorang guru menjadi peran penting dalam melaksanakan pembelajaran. Ia menjadi fasilitator dan pemangku kepentingan untuk mendidik siswa. Oleh karena itu, pengetahuan dan persepsi guru berkontribusi banyak terhadap tindakan guru di kelas. Menurut Fauziati (2015), persepsi guru memainkan peran penting dalam praktik di kelas karena apa yang dilakukan guru di kelas mencerminkan apa yang mereka yakini. Persepsi guru mempengaruhi apa yang akan dikatakan dan dilakukan guru dalam praktik mengajar.
Selain itu, Richards dan Lockharts (1996, seperti dikutip dalam Bedir, 2010) menyatakan bahwa pengetahuan dan keyakinan guru memberikan kerangka atau skema yang mendasari tindakan guru di kelas. Persepsi tersebut akan berdampak pada kemajuan belajar siswa. Dengan demikian, persepsi guru yang diteliti dalam penelitian ini berkaitan dengan persepsi mereka pada pengajaran bahasa Inggris berbasis Multiple
3 1.2 Rumusan Masalah
Dengan mempertimbangkan latar belakang yang dijabarkan di atas, maka rumusan masalah dari penelitian ini adalah:
1. Bagaimana persepsi guru Bahasa Inggris pada level SD di Bandar Lampung terhadap pengajaran multiple intelligence?
2. Bagaimanakah implementasi multiple intelligence dalam pengajaran Bahasa Inggris di level SD di Bandar Lampung
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan, maka tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah:
Untuk mengetahui persepsi guru Bahasa Inggris pada SD mengenai Multiple Intelligence dan bagaimana implementasinya dalam pengajaran Bahasa Inggris yang dilakukan oleh guru tersebut.
1.4 Urgensi Penelitian
Dari aspek akademik, hasil penelitian ini diharapkan :
Bagi pengembangan ilmu umumnya, hal ini diharapkan dapat menjadi sumbangan pengetahuan dibidang pengajaran Bahasa pada khususnya dalam hal yang terkait Pengajaran Bahasa Inggris untuk anak-anak. Sedangkan dari aspek praktis, manfaat hasil penelitian ini diharapkan dapat :
Untuk menunjukkan pentingnya Multiple Intelligence dalam pengajaran Bahasa Inggris yang baik bagi para pengajar Bahasa Inggris, sehingga diharapkan hal ini dapat memenuhi akuntabilitas dan profesionalisme pengajar, juga memudahkan hubungan antara pengajar dan pelajarnya dengan menyediakan pembelajaran yang baik bagi mereka.
Bagi institusi Pendidikan agar senantiasa menemukan cara-cara dan konsep- konsep yang mutakhir dalam rangka tercapainya tujuan agar tercipta mutu pembelajaran yang lebih baik dengan memperhatikan kebutuhan pelajar yang berbeda- beda.
1.5 Batasan Penelitian
Penelitian ini akan meneliti mengenai persepsi guru Bahasa Inggris di SD di Bandar Lampung mengenai penggunaan Multiple Intelligence untuk anak-anak. Objek penelitian adalah guru bahasa Inggris di SD di Bandar Lampung yang berjumlah 10 orang. Penelitian dilakukan dengan kuesioner dan wawancara kepada seluruh responden. Hasil penelitian akan dianalisis secara kualitatif deskriptif guna memaparkan hasil secara lebih rinci.
5 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Persepsi
Richardson (dikutip dalam Hofer & Pintrich, 1997) menyatakan bahwa persepsi dianggap sebagai pemahaman, premis, atau proposisi yang dipegang secara psikologis tentang dunia yang dianggap benar. Selain itu, Canh dan Barnand (2009, p.247) menyatakan bahwa hubungan antara persepsi guru dan praktik pembelajaran semakin menarik perhatian peneliti pendidikan. Secara umum, penelitian tentang proses berpikir guru didasarkan pada tiga asumsi utama: (1) pengajaran sebagian besar dipengaruhi oleh kognisi guru, (2) pengajaran dipandu oleh pemikiran dan penilaian guru, dan (3) pengajaran merupakan hal yang tinggi. tingkat proses pengambilan keputusan (Sabiq, 2013, p.13). Selain itu, Bingimlas & Hanraham (2010, hlm. 418) menyatakan bahwa keyakinan mempengaruhi praktik guru. Ini mempengaruhi tindakan guru selama kegiatan kelas. Oleh karena itu, guru berperilaku berdasarkan keyakinan yang mereka miliki.
Lebih lanjut Woods (1996, p. 184) menunjukkan bahwa persepsi guru merupakan model dasar perencanaan dan pengambilan keputusan dalam proses belajar mengajar. Ia kemudian mengemukakan pengertian BAK (keyakinan, asumsi, dan pengetahuan) sebagai gambaran proses pengambilan keputusan. Dalam menyusun perencanaan dan pengambilan keputusan untuk pembelajaran, Woods menganggap keyakinan, asumsi, dan pengetahuan guru sebagai peran penting yang mempengaruhi proses keputusan guru. Asumsi ini sejalan dengan Fauziati (2015, h. 53) yang menyatakan bahwa keyakinan merupakan fungsi fundamental untuk menuntun pemikiran dan tindakan masyarakat. Selain itu, Borg & Busaidi (2012, p.6) menyatakan bahwa keyakinan guru dapat dengan kuat membentuk apa yang dilakukan guru, dan akibatnya kesempatan belajar yang diterima peserta didik.
Selain itu, hal ini menunjukkan bagaimana guru bahasa memahami apa yang mereka lakukan, apa yang mereka ketahui tentang pengajaran bahasa, bagaimana mereka berpikir tentang praktik kelas mereka, dan bagaimana pengetahuan dan proses berpikir tersebut belajar melalui pendidikan guru formal dan pengalaman informal
sebagai tindakan mereka dalam pembelajaran. proses (Freeman & Richards, 1996, hal.
1). Kesimpulannya, persepsi guru adalah pengambilan keputusan guru atau proses keyakinan guru tentang pandangan mereka terhadap proses belajar mengajar, yang tercermin dari tindakan mereka terhadapnya.
2.2 Pengertian Multiple Intelligence
Kecerdasan menurut arti bahasa adalah pemahaman, kecepatan, dan kesempurnaan sesuatu. Dalam arti kemampuan (al-qudrah) dalam memahami sesuatu secara cepat dan sempurna. Begitu cepat penangkapannya sehingga Ibnu Sina, seorang psikolog falsafi, menyebut kecerdasan sebagai kekuatan intuitif (al-hads). Pada mulanya, kecerdasan hanya berkaitan dengan kemampuan struktur akal (intelek) dalam menangkap gejala sesuatu, sehingga kecerdasan hanya bersentuhan dengan aspek- aspek kognitif. Namun pada perkembangan berikutnya, disadari bahwa kehidupan manusia bukan semata-mata memenuhi struktur akal, melainkan terdapat struktur qalbu yang perlu mendapat tempat tersendiri untuk menumbuhkan aspek-aspek afektif, seperti kehidupan emosional, moral, spiritual, dan agama. Karena itu, jenis- jenis kecerdasan pada diri seseorang sangat beragam seiring dengan kemampuan atau potensi yang ada pada dirinya.
Menurut Abuddin Nata, kecerdasan secara harfiah berarti sempurna perkembangan akal budinya, pandai dan tajam pikirannya. Selain itu cerdas dapat pula berarti sempurna pertumbuhan tubuhnya seperti sehat dan kuat fisiknya. Selanjutnya pendapat lain mengatakan bahwa, kecerdasan adalah suatu kemampuan untuk memecahkan masalah atau menghasilkan sesuatu yang dibutuhkan di dalam latar budaya tertentu. Rentang masalah atau sesuatu yang dihasilkan mulai dari yang sederhana sampai yang kompleks. Seseorang dikatakan cerdas bila ia dapat memecahkan masalah yang dihadapi dalam hidupnya dan mampu menghasilkan sesuatuyang berharga/berguna bagi umat manusia. Sedangkan kecerdasan menurut Gardner adalah kemampuan untuk memecahkan masalah, atau untuk menciptakan produk, yang dinilai dalam satu atau lebih budaya.
7 Inteligensi sering didefinisikan sebagai kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan atau belajar dari pengalaman. Manusia hidup dan berinteraksi di dalam lingkungannya yang kompleks. Manusia harus belajar dari pengalaman demi kelestarian hidupnya. Manusia yang belajar sering menghadapi situasi-situasi baru serta permasalahannya. Hal itu memerlukan kemampuan individu yang belajar untuk menyesuaikan diri serta memecahkan setiap permasalahan yang dihadapi.
Dalam konsep Multiple Intelligence, perbedaan individual peserta didik diterima dan dilayani dengan suatu keyakinan berpijak sebagaimana dinyatakan Howard Gardner bahwa “kita semua begitu berbeda karena pada hakikatnya kita memiliki kombinasi inteligensi yang berbeda”. Jika disadari hal ini, setidaknya lebih berpeluang untuk mampu mengatasi secara tepat berbagai problem yang dihadapi dalam hidup di dunia. Aplikasi Multiple Intelligence dalam pendidikan akan menyebabkan pendidik lebih arif dan mampu menghargai serta memfasilitasi perkembangan peserta didiknya.
2.3 Sembilan Jenis Kecerdasan
Pada permulaan, Gardner (1999) mengemukakan bahwa semua manusia memiliki sekurang-kurangnya tujuh bidang kecerdasan, masing-masing berkaitan dengan satu bidang tertentu di otak. Baru-baru ini, dia telah menambahkan kecerdasan delapan dan kesembilan, dan dia terus meneliti kemungkinan kecerdasan lainnya (Gardner: 1999).
Menurut Armstrong (2009) Gardner menjelaskan berbagai jenis kecerdasan sebagai berikut:
1. Kecerdasan Linguistik mengacu pada kepekaan terhadap bahasa lisan dan tulisan, kemampuan untuk mempelajari bahasa dan kemampuan menggunakan bahasa untuk mencapai tujuan tertentu.
2. Kecerdasan Logis-Matematis mengacu pada kemampuan untuk menganalisis masalah secara logis, melakukan operasi matematika dan menyelidiki masalah secara ilmiah.
3. Kecerdasan Musikal mengacu pada keterampilan dalam pertunjukan, komposisi, dan apresiasi pola musik.
4. Kecerdasan Spasial adalah potensi untuk mengenali dan memanipulasi pola ruang yang luas serta pola kawasan yang lebih terbatas.
5. Kecerdasan Kinestetik-Tubuh mengacu pada potensi menggunakan seluruh tubuh atau bagian tubuh seseorang untuk memecahkan masalah atau menciptakan produk.
6. Kecerdasan Naturalistik mengacu pada keahlian dalam pengenalan dan klasifikasi berbagai spesies (tumbuhan & fauna) di lingkungannya. Kecerdasan ini berkaitan dengan potensi untuk memikirkan dan memahami alam. Ini adalah kemampuan untuk mengenali dan mengklasifikasikan tumbuhan dan hewan serta aspek lain dari lingkungan Anda.
7. Kecerdasan Interpersonal yang mengacu pada kemampuan seseorang untuk memahami niat, motivasi, keinginan orang lain, dan untuk bekerja secara efektif dengan orang lain.
8. Kecerdasan Intrapersonal mengacu pada kapasitas untuk memahami diri sendiri, memiliki model kerja yang efektif dari diri sendiri (termasuk keinginan, ketakutan, dan kapasitas sendiri) dan untuk menggunakan informasi tersebut secara efektif dalam mengatur kehidupannya sendiri.
9. Kecerdasan eksistensial, yang mengacu pada kemampuan berpikir tentang kosmis dan isu-isu eksistensial dari peran iklan keberadaan kita di alam semesta hingga sifat kehidupan, kematian, kebahagiaan dan tragedi (Fleetham, 2006).
2.4 Kecerdasan Majemuk dalam Konteks Pendidikan
Hoerr (2000, p.1) menyatakan bahwa teori kecerdasan yang pertama kali datang dari bidang psikologi mulai menarik minat para pendidik setelah kemunculannya. Teori Multiple Intelligence (MI) menjadi pendekatan inovasi baru untuk menggunakan kekuatan siswa dalam membantu mereka belajar. Ia juga menyebutkan melalui MI, siswa dapat mengembangkan keterampilan dan aktivitasnya untuk belajar dan memecahkan masalah di sekolah dan kelas. Selanjutnya, paradigma cerdas akan diperluas maknanya yang tidak hanya berdasarkan nilai tes tetapi cerdas ditentukan oleh seberapa baik siswa belajar dengan berbagai cara.
Menurut Linse (2005) teori Multiple Intelligence menjadi bagian penting bagi
9 pelajaran. Oleh karena itu, diharapkan dapat membantu para guru untuk mengidentifikasi gaya belajar siswa melalui kekuatan kecerdasan dominannya. Ketika siswa mengembangkan kecerdasannya sebagai pintu belajar materi, maka akan bermanfaat untuk memahami pelajaran dengan mudah. Misalnya, untuk pelajar kinestetik tubuh, guru dapat memasukkan tarian ke lagu berbahasa Inggris untuk pembelajaran kosakata.
Pritchard (2009) menyebutkan beberapa pertimbangan dalam merencanakan kecerdasan ganda untuk proses belajar mengajar sebagai berikut “Dalam perencanaan kecerdasan majemuk guru mempertimbangkan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan isi pelajaran dan hasil belajar yang diharapkan yang akan memberikan berbagai peluang untuk kekuatan kecerdasan anak-anak yang berbeda ”.
Kesimpulannya, pengajaran bahasa Inggris berbasis kecerdasan majemuk percaya bahwa setiap orang pintar. Siswa diharapkan memiliki harapan dan ekspektasi terhadap dirinya sendiri. Kemudian, prestasi siswa dapat ditingkatkan yang diukur dengan tes terstandardisasi atau informal. Selanjutnya pengajaran bahasa Inggris berbasis MI mempengaruhi siswa dan guru secara signifikan untuk menciptakan pengembangan diri dan potensi intelektual yang positif. Hal ini diharapkan dengan menggunakan instruksi berbasis MI, ini dapat membuka pintu untuk mengalami kesuksesan dalam berbagai cara ketika siswa beranjak dewasa.
2.5 Pengajaran Bahasa Inggris untuk anak-anak
Mengajar bahasa Inggris kepada anak-anak berarti memperkenalkan anak-anak untuk mempelajari salah satu bahasa internasional di luar bahasa ibu atau bahasa nasional mereka. Anak-anak berada pada kesempatan emas dan periode ideal untuk belajar bahasa Inggris. Cameron (2001, p.1), menyatakan “Anak-anak selalu dapat melakukan lebih dari yang kita kira mereka bisa; mereka memiliki potensi belajar yang besar, dan kelas bahasa asing merugikan mereka jika kita tidak memanfaatkan potensi itu”. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran bahasa pada usia dini baik untuk anak baik pada tahap pertama maupun tahap kedua.
Selain itu, pengajaran bahasa Inggris kepada anak-anak berbeda dari pengajaran bahasa Inggris kepada remaja atau pelajar dewasa dalam hal teknik, strategi, aktivitas, pengetahuan latar belakang anak dan motivasi. Beberapa perbedaan terlihat dari
Peta Jalan/Roadmap Riset
kegairahan anak dalam belajar karena mereka tidak dapat menyimpan motivasi mereka untuk mengerjakan tugas-tugas yang sulit dan kehilangan motivasi dengan cepat.
Perbedaan yang signifikan berasal dari perkembangan linguistik, psikologis dan sosial peserta didik di mana kebutuhan guru pembelajar muda untuk mengelola dengan hati-hati bahasa yang akan diajarkan dan kegiatan kelas akan dilakukan untuk mereka.
Menurut Linse (2005) peserta didik muda memiliki kebutuhan fisik dan psikologis dasar daripada remaja atau peserta didik dewasa, oleh karena itu guru harus mempersiapkan dengan baik pembelajaran yang menarik. Selain itu, mereka harus memberikan perhatian yang baik untuk memenuhi kebutuhan anak didik yang diharapkan dapat membuat anak lebih memperhatikan proses belajarnya.
2.6 Peta Jalan / Roadmap Penelitian
11 BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Metode dan Prosedur Penelitian
Untuk mengetahui persepsi guru dalam menerapkan Multiple Intelligence di Sekolah Dasar di Bandar Lampung, Indonesia secara mendalam, penelitian ini akan menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Peneliti akan menggunakan kuisioner terbuka untuk mendapatkan data. Selain itu, wawancara juga digunakan sebagai instrumen pengumpulan data untuk mendapatkan data yang lebih dalam dan untuk menggali serta mengkonfirmasi jawaban dari kuisioner yang dies. Peserta dalam penelitian ini adalah 10 orang guru bahasa Inggris yang berpengalaman yang mengajar menggunakan metode Multiple Intelligence. Para guru telah mengajar selama lebih dari empat tahun dengan menggunakan sistem multiple intelligence untuk pengajaran mereka. Dengan demikian, dapat diasumsikan bahwa mereka mampu menerapkan sistem multiple intelligence dalam proses pembelajaran bahasa Inggris. Selain itu, dalam menganalisis data kualitatif, peneliti menggunakan 3 langkah, yaitu:
mengorganisir dan membiasakan, mengkode dan mereduksi, serta menafsirkan dan merepresentasikan (Ary et al, 2010).
Pelaksanaan penelitian akan dilakukan melalui beberapa tahapan yang didasarkan atas perpaduan beberapa teori sehingga membentuk alur penelitian sebagai berikut:
3.2 Observasi
Pada tahap ini dilakukan pengumpulan informasi dan data-data yang mendukung pelaksanaan penelitian yang dimulai sejak bulan pertama jadwal riset.
publikasi data
Observasi
data an respon
guru dan kuisioner
dan
interview
1. Di sini, tim peneliti akan melakukan observasi dan pilot research serta melakukan informal interview tentang keadaan pengajaran bahasa Inggris di sekolah di mana objek penelitian mengajar. Data ini kemudian akan diolah untuk menentukan isi dari kuisioner seria pertanyaan yang akan ditanyakan dalam pengambilan data.
2. Dalam pengambilan data, responden dipilih menggunakan purposive sampling.
Hal ini dilakukan karena tidak semua Sekolah Dasar di Bandar Lampung menggunakan metode Multiple Intelligence dalam pengajaran.
3.3 Subjek Penelitian dan Lokasi Penelitian
Sepuluh guru Bahasa Inggris di level SD di Bandar Lampung akan menjadi subjek penelitian ini yang berasal dari berbagai SD yang berbeda yang menggunakan Multiple Intelligence dalam pembelajarannya. Lokasi penelitian adalah Bandar Lampung.
3.4 Instrumen Penelitian 1. Kuisioner
Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif untuk menggambarkan implikasi dari jenjang pendidikan, latar belakang pendidikan, pengalaman lama mengajar terhadap persepsi pengajar tentang mutu pembelajaran yang lebih baik. Penelitian ini akan menguraikan fakta-fakta dan informasi yang diperoleh di lapangan, dan membuat gambaran secara sistematis, aktual, dan akurat dalam hubungan antara variabel yang diteliti dan implikasi dari suatu masalah yang diteliti. Kuisioner akan dibuat dalam format Google Form yang sebelumnya akan diuji validitas dan reliabilitasnya terlebih dahulu sebelum diberikan kepada responden. Kuisioner akan diberikan kepada responden setelah tahap observasi dan uji coba kuisioner selesai.
2. Wawancara
Setelah mendcapatkan data responden melalui kuisioner, peneliti akan
13 pendapat lebih lanjut mengenai aspek yang akan dianalisa. Wawancara ini akan dilakukan secara semi terstruktur, yang berarti pertanyaan-pertanyaan yang muncul telah dipersiapkan sebelumnya, namun tidak menutup kemungkinan akan ada pertanyaan lanjutan yg muncul dari jawaban yang diberikan oleh responden. Semua wawancara akan dilakukan secara online melalui zoom meeting atau google meeting.
3.5 Prosedur Analisis Data
Penelitian ini akan melakukan analisis data dengan beberapa tahapan. Masing-masing tahapan akan dilakukan untuk mendapatkan data yang diinginkan.
Respon kuisioner akan dikumpulkan kemudian dikelompokkan berdasarkan jenis respon persepsi; persepsi negatif dan persepsi positif.
Hasil respon akan dihitung berdasarkan kelompok yang telah dibagi kemudian disajikan dalam bentuk diagram dan kemudian dinarasikan.
Hasil wawancara akan dianalisis dan datanya akan disajikan untuk memperjelas hasil kuisioner.
3.6 Indikator Capaian Terukur
Penelitian ini dianggap memenuhi capaian target berhasil memperoleh respon guru- guru yang mengajar bahasa Inggris di level SD yang menggunakan pendekatan Multiple Intelligence. Hasil dari respon guru-guru ini dapat dijadikan rujukan tentang pengajaran bahasa Inggris bagi anak-anak. Selain itu respon guru juga dapat digunakan untuk meneruskan penelitian di bitang serupa yang berkaitan dengan pembelajaran bahasa asing dengan menggunakan multiple intelligence.
3.7 Luaran Wajib
Penelitian dosen pemula ini akan memenuhi beberapa luaran wajib berupa :
1. Satu artikel yang akan diterbitkan di jurnal terakreditasi national (SINTA 4) 2. Satu artikel yang akan dipresentasikan di konferensi international.
3. Laporan penelitian yang diunggah ke silemlit dan repository Unila.
BAB 4
HASIL DAN DISKUSI
4.1 Hasil Observasi
Observasi kegiatan belajar mengajar Bahasa Inggris dilakukan di 3 sekolah berbeda yang dilakukan oleh tim peneliti. Ketiga sekolah ini menggunakan metode pembelajaran Multiple Intelligence dalam kegiatan belajar mengajarnya. Observasi ini dilakukan sebagai pilot research untuk mengetahui proses kegiatan belajar mengajar. Selama tiga hari observasi di tiga sekolah yang berbeda, diperoleh gambaran tentang proses pembelajaran sebelum kuisioner dibagikan.
Saat pembelajaran berlangsung, terlihat bahwa guru telah melakukan tahap-tahap pembelajaran yang mencerminkan pembelajaran Multiple Intelligence yang dimulai dari kegiatan apersepsi dan motivasi (alfa zone, warmer, scene setting, dan pre teach), serta pengembangan 9 jenis kecerdasan. Multiple intelligences memiliki makna kecerdasan majemuk atau banyak. Istilah tersebut digunakan untuk mewakili keberagaman kecerdasan yang dimiliki manusia. 9 kecerdasan yang telah teridentifikasi yakni kecerdasan linguistik, matematika-logis, visual- spasial, kinestetik, musikal, intrapersonal, interpersonal, naturalis dan eksistensial.
Kemampuan linguistik-verbal seorang anak pada dasarnya sudah dibawa sejak masih berada dalam kandungan. Kemampuan ibunya dalam berbicara ikut menjadikan anak yang berada dalam rahim memiliki tingkat kecerdasan lingustik anak aktif dan berkembang. Kecerdasan linguistik tidak hanya berupa kemampuan seseorang dalam mengolah bahasa namun juga kemampuan berkomunikasi. Dalam mengembangkan kecerdasan linguistik, guru telah memfasilitasi peserta didik dengan kegiatan presentasi lisan, membaca buku, hafalan surat-surat pendek, puisi, drama, bercerita, menulis kalimat, mengemukakan pendapat dan lain sebagainya.
Strategi yang diterapkan guru untuk mengembangkan kecerdasan linguistik-verbal antara lain:
mendengarkan cerita, membaca, membuat cerita, mendengarkan dan membuat puisi, diskusi kelompok, dan meminta peserta didik untuk latihan menulis dan menghafal.
4.2 Hasil Kuisioner
15 mereka ketahui tentang multiple intelligence, metode assessment yang digunakan, dll. Kuisioner menggunakan close-ended kuisioner,di mana hal ini berarti responden diberikan opsi untuk memilih jawaban. Kuisioner ini digunakan untuk mendapatkan data kuantitatf. Untuk melihat rincian hasil dari kuisioner yang dibagikan kepada guru, dapat dilihat pada table berikut ini:
Pernyataan Percentages Distribution
SD D A SA
1 0% 4,54% 81,8% 13,64%
2 0% 2,6% 70,2% 27,2%
3 0% 5,8 % 79,7% 17,7%
4 0% 4,54% 80,2% 15,26%
5 0% 2,3% %28,5 69,2%
6 0% 3,6% 20,8% 75,6%
7 22,7% 77,19% 0% 0%
8 10,58% 82,3% 6,92% 0%
9 32,6% 74,4% 5,8% 1,2%
10 35% 62,6% 2,4% 0%
11 18,2% 73,5% 5,6% 2,7%
12 18,1% 75,8% 6,1% 0%
Tabel 1. Distribusi persentasi persepsi guru terhadap pembelajaran multiple Intelligence di sekolah.
Tabel 1 mempersentasikan distribusi persepsi guru terhadap pembelajaran berbasis multiple intelligence di sekolah. Hasil dari pendapat pertama menunjukkan bahwa terdapat 13,64%
responden yang sangat setuju dan 81,8% responden yang setuju jika pembelajaran multiple intelligence membantu guru mengajarkan pembelajaran Bahasa Inggris di sekolah. Terdapat 4,54% responden yang tidak setuju dan 0% responden yang sangat tidak setuju. Dari pernyataan pertama, dapat dilihat bahwa hampir semua guru setuju dengan pendekatan multiple intelligence dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran mengajar Bahasa Inggris.
Hasil kuisioner pada pernyataan ke tujuh menunjukkan bahwa bahwa terdapat 22,7% responden yang sangat tidak setuju dan 77,19% tidak setuju jika pendekatan metode pembelajaran Multiple Intelligen menyulitkan guru dalam mengajarkan Bahasa Inggris kepada anak-anak. Tidak ada responden yang menyatakan setuju atau sangat setuju di pernyataan ini (0%). Hal ini membuktikan bahwa pendekatan pembelajaran Multiple Intelligence sangat membantu guru dalam mengajarkan Bahasa Inggris ke anak-anak. Data kualitatif tentang pembahasan secara mendalam didapatkan dari interview yang dilakukan kepada guru.
4.3. Hasil Interview dan Pembahasan
Data pertama merupakan definisi responden mengenai pendekatan multiple intelligence. Data ini diperoleh dari proses wawancara 10 guru, sedangkan dalam penelitian ini sampel yang digunakan adalah guru A dan guru B. Kedua guru tersebut ditanyakan mengenai pemahaman mereka tentang pendekatan multiple intelligence dalam pengajaran bahasa untuk young learners.
Hasil penelitian mengungkapkan berbagai tanggapan guru tentang definisi Multiple Intelligence menurut mereka. Guru A mendefinisikan multiple intelligence sebagai suatu metode dalam pembelajaran untuk meningkatkan prestasi belajar siswa dengan mengembangkan potensi siswa berdasarkan teori Multiple Intelligence untuk siswa. Definisi tersebut diuraikan pada penjelasan di bawah ini:
“Multiple intelligence berarti semua pembelajaran yang dirangkaikan oleh anak berbeda-beda.
Jadi pembelajaran yang berkaitan dengan multiple intelligence adalah bagaimana kita meningkatkan dan mengembangkan pembelajaran melalui kemampuan atau potensi yang dimiliki oleh setiap anak, yaitu teknik atau metode pembelajaran yang ada, kita dituntut untuk dapat meningkatkan, mengembangkan potensi anak sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.”
Senada dengan pernyataan guru A, guru B juga mendefinisikan multiple intelligence sebagai cara guru dalam melakukan pengajaran kepada siswa berdasarkan kecerdasan yang dimilikinya.
17 matematika, kinestetik, dan lainnya.”
Dalam penelitian ini, para peneliti juga mewawancarai kepala sekolah untuk membuktikan informasi tentang sistem multiple intelligence yang digunakan di sekolah tersebut.
Pernyataan di atas juga didukung oleh definisi kepala sekolah tentang Multiple Intelligence.
Kepala Sekolah mendefinisikan Multiple Intelligence sebagai teori yang memperdalam tentang kecerdasan siswa yang diyakini bahwa setiap siswa memiliki kecerdasannya masing-masing.
Kepala Sekolah juga menjelaskan bahwa multiple intelligence yang digunakan di sekolah ini berarti strategi yang digunakan oleh guru dalam mengajar siswa berdasarkan kecenderungan siswa. Hal ini dikarekanan kecenderungan kecerdasan siswa akan menunjukkan gaya belajar siswa. Oleh karena itu, guru akan menyiapkan materi dan strategi di kelas berdasarkan gaya belajar siswa. Pernyataan-pernyataan tersebut disebutkan di bawah ini:
“Multiple Intelligence adalah ilmu terapan baru yang berkembang di Eropa, sebenarnya kalau saya lihat sendiri, kalau kita mau melihatnya dari perspektif Islam, sebenarnya sejak zaman Nabi sudah ada. Jadi karena Multiple Intelligence itu sebenarnya adalah sebuah strategi belajar.
Artinya, setiap anak memiliki multiple intelligence yang lebih dari satu, berbeda-beda persentasenya, komposisinya. Nah, kalau saya lihat, Multiple Intelligence adalah kecerdasan yang pasti, karena setiap anak memiliki kecerdasan yang beragam. Akan tetapi, jika kita menerapkannya dan menggunakan Multiple Intelligence ini sebagai salah satu strategi, strategi pendekatan sehingga kita menyiapkan materi sesuai dengan kecenderungan intelektual anak.
Jika dia cerdas dalam berbahasa, dia mengajar matematika, maka dia akan mengajarkan seni berhitung menggunakan bahasa. Anak-anak yang secara alamiah sudah cerdas, missal mengajar Bahasa Indonesia, kemudian mengambil tema-tema yang berhubungan dengan alam, maka anak- anak akan menyukainya. Jadi, efek ini sebenarnya masuk ke keinginan, apa yang disukai, kesesuaian dalam belajar.
Isu kedua terkait keyakinan guru tentang penggunaan Multiple Intelligence dalam pengajaran bahasa untuk young learners akan menjelaskan tentang alasan dan pentingnya guru memahami tentang hal itu. Data dikumpulkan dari proses wawancara dengan menanyakan kepada guru tentang alasan mereka menggunakan Multiple Intelligence dalam proses pembelajaran. Data dari
guru A menunjukkan bahwa alasannya menggunakan Multiple Intelligence dalam mengajar bahasa Inggris untuk young learners adalah karena merupakan sistem pendekatan yang dipilih oleh Yayasan sekolah walaupun pada awalnya dikatakan bahwa beliau juga menyetujui penggunaan multiple intelligence di kelasnya.
Selain itu, sistem ini juga memberikan paradigma baru bagaimana meningkatkan kualitas pengajaran. Dimana dalam sistem ini lebih ditunjukkan penghargaan gaya belajar siswa yang ditunjukkan dari kecenderungan kecerdasan siswa. Dengan demikian, proses belajar mengajar akan berlangsung menyenangkan, mudah, dan menghargai cara setiap individu dalam menerima materi. Ia berharap semua siswa dapat memahami materi dengan baik. Dalam sistem Multiple Intelligence, sekolah tidak mengadakan tes untuk menerima siswa, semua orang bisa masuk sekolah asalkan kuota penerimaan siswa baru mencukupi. Guru tersebut menjelaskan:
“Di sini memang benar ketika anak masuk sekolah tidak diuji secara akademis, tetapi dilihat dari psikologi, kemampuan, intrapersonal, dan kebiasaannya. Dari situlah kami menggunakan Multiple Intelligence, karena kami percaya bahwa anak anak itu beragam. Biasanya siswa yang mendaftar masuk sekolah akan diuji secara akademis karena mereka terdidik secara akademis.
Namun, dalam hal ini berbeda, banyak sekali jenis anak yang tidak baik secara akademis, kami tidak berharap mereka akan hanya duduk diam mendengarkan pembelajaran konvensional.
Oleh sebab itu, kita perlu menggabungkan penggunaan multiple intelligence agar anak-anak yang memiliki potensi tidak hanya visual, kinestetik, tetapi semua bisa rata dan bisa menerima materi dengan baik.”
Selain itu, guru B menjelaskan bahwa alasan penggunaan Multiple Intelligence dalam pengajaran bahasa untuk young learner berasal dari sistem sekolah. Sistem mencoba melihat siswa sebagai individu yang memiliki kecerdasan yang berbeda. Oleh karena itu, dalam proses belajar mengajar, guru tidak dapat mengajar mereka secara konvensional karena kecerdasan mereka yang berbeda dan gaya belajar yang juga berbeda. Dalam aplikasinya, guru harus memastikan bahwa cara mengajarnya sesuai dengan gaya belajar siswa yang ditunjukkan dari
19
“Karena setiap siswa memiliki kecerdasan yang berbeda-beda. Semuanya tidak hanya berbakat di linguistic atau di matematika logika saja. Jadi, kita harus memastikan bahwa cara mengajarnya sesuai dengan kecerdasan siswa. Kita harus menyesuaikan dengan siswa bukan siswa yang harus beradaptasi kepada gurunya. Ini adalah pendekatan yang lebih manusiawi dan lebih dalam untuk pembelajaran yang menyenangkan. Dengan demikian, anak tidak merasa terbebani”
Selain itu, guru juga percaya bahwa Multiple Intelligence dapat menjadi salah satu solusi yang baik untuk mengajar siswa dengan cara yang menyenangkan dan mudah karena Multiple Intelligence akan membuat siswa mudah memahami materi dan menikmati proses pembelajaran.
Ia juga mengatakan agar para siswa tidak terbebani dalam proses belajar mengajar, seperti contoh ketika ada siswa yang memiliki kecerdasan kinestetik dan gaya belajarnya dengan kegiatan gerak tetapi guru hanya mengajar dengan kegiatan membaca dan menulis tanpa melibatkan kegiatan gerak. Kemudian, siswa tersebut tidak akan memahami materi secara utuh. Dia menegaskan bahwa:
“Jadi Multiple Intelligence akan membuat anak-anak lebih paham, mudah dipahami dan mudah mendapat poin. Kedua, siswa tidak merasa bosan dan terbebani. Bayangkan jika anak kinestetik suka bergerak tapi hanya disuruh duduk diam saja kan? “Ini akan memudahkan siswa dalam memahami materi dan siswa dapat menikmati proses pembelajaran.”
Selanjutnya, terkait dengan pernyataan sebelumnya dari dua guru bahasa Inggris, penulis juga mengajukan pertanyaan kepada kepala sekolah tentang alasan sekolah menggunakan sistem multiple intelligence sebagai pendekatan dasarnya. Kemudian, kepala sekolah menyatakan bahwa yayasan sekolah menganggap multiple intelligence dapat menjadi strategi terbaik untuk proses belajar mengajar saat ini untuk diterapkan di suatu institusi. Diharapkan dengan menggunakan pendekatan multiple intelligence sekolah akan menerapkan pendekatan humanis kepada siswa. Artinya guru akan mengajar siswa menyesuaikan dengan gaya belajarnya, dalam hal ini gaya belajar siswa ditunjukkan dengan kecenderungan kecerdasan siswa. Oleh karena itu, dalam pendekatan multiple intelligence, kecerdasan siswa menjadi bagian penting menurut sistem ini. Selain itu, selalu ada observasi untuk menggali kecerdasan siswa untuk mengetahui gaya belajar mereka di setiap semester. Penjelasan tersebut disebutkan di bawah ini:
“Alasan utamanya, kita tahu anak-anak tumbuh dan ilmunya selalu dinamis. Jadi situasi ini menuntut kita untuk menggunakan strategi yang tepat dalam mengajar. Saat ini, kami merasa bahwa pendekatan multiple intelligence adalah strategi yang paling tepat saat ini, memang bukan berarti tidak akan ada yang lain karena sains itu dinamis bukan statis. Sekarang kita mengerti bahwa pendekatan multiple intelligence adalah strategi yang paling tepat untuk diterapkan di sebuah lembaga pendidikan. Mengapa? Karena dengan menggunakan konsep ini, sistem ini, sekolah lebih memanusiakan anak. Mengapa kami menyebutnya seperti itu? Karena nanti, guru akan mengajar anak-anak sesuai dengan gaya belajarnya. Nah, makanya kami menggunakan sistem ini.”
Menyikapi tanggapan guru di atas, terlihat bahwa para guru meyakini penggunaan pendekatan multiple intelligence dalam proses belajar mengajar berada dalam pemahaman yang sama.
Mereka percaya itu adalah strategi terbaik untuk diterapkan dalam proses belajar mengajar saat ini di sekolah mereka. Mereka juga percaya bahwa dengan pendekatan multiple intelligence, proses belajar mengajar akan menyenangkan dan mudah. Selain itu, pembelajaran yang menyenangkan di kelas akan membuat siswa mudah memahami materi dan menikmati proses pembelajaran. Oleh karena itu, mereka akan belajar tanpa beban atau kekuatan apapun.
Diharapkan, proses ini akan membuat pemahaman mereka tentang materi bertahan lebih lama dalam ingatan jangka panjang mereka.
Menurut Shearer (2018, p.6) “teori multiple intelligence menyediakan peta luas perangkat lunak pikiran yang selaras dengan ilmu kognitif dan kecerdasan umum”. Sejalan dengan itu, secara umum, temuan penelitian menunjukkan bahwa guru percaya bahwa multiple intelligence memberikan kontribusi yang baik terhadap proses belajar mengajar. Lebih lanjut, Dolati et al (2016) mengemukakan bahwa multiple intelligence membantu siswa untuk mempelajari pelajaran dengan lebih efektif.
Selain itu, berkaitan dengan pengetahuan tentang multiple intelligences, penelitian menunjukkan bahwa guru memahami definisi dan implementasinya. Sebaliknya dalam penelitian Dolati dan
21 menyebabkan kerugian bagi peserta didik (Dolati dan Tahriri, 2017). Dalam konteks yang lebih baik, dengan memberikan multiple intelligence dalam konteks kelas akan membantu mereka untuk belajar lebih baik, terutama dalam belajar bahasa Inggris.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Akhirnya, temuan penelitian ini diharapkan menjadi sumber bagi para guru untuk memperbaharui keyakinan mereka tentang kemampuan siswa. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi guru bahasa Inggris untuk mengeksplorasi dan meningkatkan kualitas pengajaran mereka. Guru juga diharapkan dapat menciptakan strategi mengajar secara kreatif dengan mewujudkan gaya belajar siswa yang berbeda. Penelitian ini dapat dijadikan sebagai alternatif sistem pembelajaran yang lebih membantu peserta didik dalam mengembangkan kecerdasan dan bakatnya. Multiple Intelligence juga dapat direkomendasikan bagi para orang tua untuk lebih memahami kemampuan anak-anak mereka. Sehingga orang tua bisa mengarahkan anaknya tanpa memaksakan kehendaknya. Orang tua juga dapat membimbing dengan penuh perhatian tanpa menggunakan kekerasan fisik maupun verbal.
5.2 Saran
Adapun saran dalam penelitian ini bagi peneliti selanjutnya adalah:
1. Agar peneliti selanjutnya melakukan penelitian komparatif sehingga dapat lebih jelas menganalisis perbedaan antara metode pengajaran berbasis Multiple Intelligence dengan yang berbasis Non-multiple Intelligence.
2. Bagi sekolah agar lebih memperhatikan kurikulum dan metode pengajaran yang mengembangkan aspek kecerdasan Linguistik. Sekolah juga dapat memberikan penyuluhan dan pengetahuan kepada orang tua siswa tentang Multiple Intelligence dalam upaya pengembangannya agar orang tua dapat mengambil pesan dalam mengembangkan Multiple Intelligence anaknya.
3. Bagi guru dan orang tua hendaknya mencari pengetahuan tentang Multiple Intelligence dan bagi orang tua khususnya, hendaknya berkonsultasi kepada pihak sekolah tentang Multiple Intelligence agar dapat mengenali kecerdasan yang dimiliki oleh siswa. Hal ini bertujuan untuk dapat menerapkan metode pembelajaran di luar sekolah yang dapat mendorong perkembangan
23 DAFTAR PUSTAKA
Armstrong, T. (2009). Multiple Intelligences in the Classroom (3rd Ed). Virginia, USA: ASCD (Association for Supervision and Curriculum Development).
Ary, D., et al. (2010). Introduction to Research in Education (4th Ed.). Belmont:
Wadsworth Cengage Learning.
Bingimlas, K. & Hanrahan, M. (2010). The Relationship between Teachers’ Beliefs and Their Practice: How the Literature Can Inform Science Education Reformers and Researchers. In M.F. Tasar & G. Gakamkci (Eds.).
Contemporary Science Education Research: International Perspectives (pp.
415-422). Ankara, Turkey: Pegem Akademi.
Borg, S. & Al-Busaidi, S. (2012). Teachers’ Beliefs and Practice Regarding Learning Autonomy. ELT Journal Vol. 66, 283-292.
Bedir, H. (2010). Teachers’ Beliefs on Strategies Based Instruction in EFL Classes of Young Learners. Procedia-Social and Behavioral Sciences, 2 (2), pages 5208- 5211. doi: 10.1016/j.sbspro.2010.03.847
Cameron, L. (2001). Teaching Languages to Young Learners. Cambridge: Cambridge University Press.
Canh, L. & Barnard, R. 2009. A Survey of Vietnamese EAP Teacher’s Beliefs about Grammar Teaching. In Zhang, L.J., & Rubdy, R., & Alsagoff, L. (eds.). 2009.
Englishes and Literatures in English in a Globalised World: Proceedings of the 13th International Conference on English in Southeast Asia, 246-259.
Singapore: National Institute of Education, Nanyang Technological University.
Chatib, M. (2013). Sekolahnya Manusia. Bandung: Kaifa Dolati, Z., & Tahriri, A.
(2017) EFL Teachers’ Multiple Intelligences and Their Classroom Practice.
SAGE. 2017 (1-12) Doi: 10.1177/2158244017722582.
Fauziati, E. (2015). Teaching English as A Foreign Language: Principle and Practice.
Surakarta: Era Pustaka Utama.
Fleetham, M. (2006). Multiple Intelligences in Practice: Enhancing Self-Esteem and Learning in the Classroom. Stafford, UK: Network Continuum Education.
Freeman, D., & Richards, J. C (Eds.). (1996). Teacher Learning in Language Teaching. Cambridge: Cambridge University Press.
Gardner, H. (1999). Intelligence Reframed: Multiple Intelligences for the 21st Century. New York, NY: Basic Books.
Harmer, J. (2007). The Practice of English Language Teaching (4th ed). Essex, UK:
Pearson Education.
Hoerr, T. R. (2000). Becoming A Multiple Intelligences School. Virginia, USA: ASCD (Association for Supervision and Curriculum Development).
Hofer, B.K and Pintrich, P.R. 1997. The development of Epistemological Theories:
Beliefs about Knowledge and Knowing and their relation to learning. Review of Educational Research 67 (1), 88-140.
Linse, C. T. (2005). Practical English Language Teaching: Young Lerners. New York:
McGraw-Hill Companies, Inc.
Nicholson, K. & Nelson. (1998). Developing Students’ Multiple Intelligences. New York: Scholastic Proffesional Books.
Pritchard, Alan. (2009). Ways of Learning-learning theories and learning styles in the classroom. Oxon: Routledge
Sabiq. R.A. 2013. Teachers’ Beliefs and Practices in Teaching Grammar.
Unpublished Thesis. UNS Solo.
Shearer, B. (2018). Multiple Intelligences in Teaching and Education: Lessons Learned from Neuroscience. Journal of Intelligence. Doi:
10.3390/jintelligence6030038
Woods, D., (1996). Teacher Cognition in Language Teaching: Beliefs, Decision- making and Classroom Practice. Cambridge: Cambridge University Press.
25 LAMPIRAN
1. Letter of Acceptance
2. Abstract Paper Ulicoss
27 3. Bukti Kepesertaan di Ulicoss 2021
4. Invoice Publikasi pada Ulicoss 2021
5. Kuesioner Persepsi Guru Terhadap Pendekatan Multiple Intelligence
No Pernyataan Pilihan Jawaban
STS TS S SS
1 Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan multiple intelligence membantu saya mengajarkan
pembelajaran Bahasa Inggris di sekolah 2 Saya menemukan banyak
manfaat bagi saya sendiri saat mengajarkan Bahasa Inggris dengan
menggunakan pendekatan Multiple intelligence 3 Saya melihat siswa saya
menjadi lebih aktif saat saya mengajar
menggunakan pendekatan Multiple Intelligence 4 Saya menemukan tujuan
dan manfaat dari pembelajaran Bahasa Inggris dengan
menggunakan pendekatan Multiple Intelligence 5 Saya aktif mengikuti
perkembangan pendekatan Multiple Intelligence, khususnya dalam pembelajaran Bahasa Inggris 6 Saya selalu melakukan
persiapan sebelum memulai pembelajran Bahasa Inggris 7 Pendekatan metode
pembelajaran Multiple Intelligen menyulitkan saya dalam mengajarkan Bahasa Inggris kepada anak-anak
8 Anak-anak mudah bosan saat belajar Bahasa Inggris menggunkan pendekatan Multiple Intelligence
29 menggunakan pendekatan
Multiple Intelligence 10 Saya sulit memberikan
contoh kepada murid- murid saya dalam mengajarkan Bahasa Inggris dengan
menggunakan pendekatan Multiple Intelligence 11 Saya tidak pernah
mengikuti pelatihan mengajar dengan
menggunakan pendekatan Multiple Intelligence 12 Saya selalu merasa malas
dating ke kelas untuk mengajar Bahasa Inggris Ketika saya harus
menggunakan pendekatan multiple Intelligence
STS : Sangat tidak Setuju TS : Tidak Setuju S : Setuju SS : Sangat Setuju