• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMAKNAAN IKLAN ROKOK DJARUM 76 VERSI “JIN TAKUT ISTRI” (Studi Semiotik Terhadap Iklan Rokok Djarum 76 Versi “Jin Takut Istri” di Televisi).

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PEMAKNAAN IKLAN ROKOK DJARUM 76 VERSI “JIN TAKUT ISTRI” (Studi Semiotik Terhadap Iklan Rokok Djarum 76 Versi “Jin Takut Istri” di Televisi)."

Copied!
127
0
0

Teks penuh

(1)

Televisi)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Per syaratan Dalam Memperoleh Gelar Sarjana Program Studi Ilmu Komunikasi Pada FISIP UPN “Veteran”

J awa Timur

Oleh :

AZZAHRA MEUTIA HATTA

NPM. 0843010265

YAYASAN KESEJ AHTERAAN PENDIDIKAN DAN PERUMAHAN UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “ VETERAN “ J AWA TIMUR

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI

(2)

Oleh :

AZZAHRA MEUTIA HATTA NPM. 0843010265

Telah diper tahankan dihadapan dan diter ima oleh Tim Penguji Skr ipsi Pr ogram Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Univer sita s Pembangunan Nasional “Veteran” J awa Timur Pada tanggal 14 J uni 2012

PEMBIMBING Tim Penguji :

1. Ketua

Dr s.Syaifuddin Zuhr i.MSi. J uwito, S.Sos, M.Si

N.P.T.3.7006.94.0035.1 N.P.T. 3.6704.95.0036.1

(3)

Konsentrasi dari penelitian ini adalah mengenai feminisme pada laki-laki yang terdapat dalam iklan rokok Djarum 76 versi “Jin Takut Istri”. Feminisme adalah gerakan mulanya berangkat dari asumsi bahwa kaum perempuan pada dasarnya ditindas dan dieksploitasi, serta usaha untuk mengakhiri penindasan dan eksploitasi tersebut.

Metode yang digunakan sebagai pendekatan dalam menganalisis data penelitian ini adalah analisis semiotik John Fiske yang membagi film (iklan) menjadi tiga level yaitu level realitas, representasi dan ideologi. Peneliti menginterpretasikan dan menganalisis iklan ini dari potongan scene iklan.

Dari hasil analisis penelitian, dihasilkan bahwa dalam iklan ini membangun feminisme pada laki-laki yang dapat dilihat dari aktivitas, suara (voice over), ekspresi, teknik kamera, dan ideologi yang ada.

Kata kunci : feminisme, iklan televisi, semiotik.

ABSTRACTION

AZZAHRA MEUTIA HATTA (0843010265), MEANING CIGARETTE ADVERTISING DJ ARUM 76 “FEAR J IN’S WIFE’’ VERSION (Semiology is Study Of Meaning Cigarette Advertising Djar um 76 “Fear J in’s Wife” Version on Television).

Concentration of this study is on feminism in men found in cigarette advertising Djarum 76 version of "Fear Jin's wife". Feminism is a movement first start from the assumption that women are basically oppressed and exploited, as well as efforts to end oppression and exploitation.

The method used as an approach in analyzing the data of this study is an analysis that divides the semiotic John Fiske film (ad) into three levels, namely level of reality, representation and ideological. Researchers interpret and analysis this advertising from advertising scene.

From the analysis of the study, results in ads that feminism is built on a man who can be seen from the activity, the sound (voice over), the expression, camera techniques and existing ideology.

(4)

dengan limpahan rahmat, karunia serta hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan

skripsi yang berjudul Pemaknaan Iklan Rokok Djarum 76 Versi Jin Takut Istri (Studi

Semiotik Terhadap Iklan Rokok Djarum Versi “Jin Takut Istri” di Televisi).

Dalam proses penyelesaian skripsi ini, penulis mengucapkan banyak terima

kasih kepada pihak-pihak berikut ini:

1. Prof. Dr. Ir. H. Teguh Soedarto, MP, sebagai rektok UPN Veteran Jatim.

2. Dra. Suparwati, M.Si, sebagai Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

(FISIP) UPN “Veteran” Jatim.

3. Juwito, S.Sos, M.Si, sebagai Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP

UPN “Veteran” Jatim.

4. Drs. Syaifuddin Zuhri, M.Si sebagai Sekretaris Program Studi Ilmu

Komunikasi FISIP UPN “Veteran” Jatim sekaligus Dosen Pembimbing

Penulis. Terima kasih atas segala bimbingan dan masukannya.

5. Seluruh Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi maupun Staf Karyawan

FISIP hingga UPN “Veteran” Jatim pada umumnya.

6. Ibu tercinta, terima kasih atas kesabaran, perhatian,kasih sayang, serta

doa-doa yang tiada hentinya dalam mendidik dan membimbing Penulis sampai

seperti sekarang ini dan untuk selamanya.

7. Teman-teman angkatan 2008 yang sedang berjuang menyelesaikan skripsi

(5)

Akhir kata, penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari kesempurnaan.

Oleh sebab itu, kritik maupun saran selalu penulis harapkan demi tercapainya hal

terbaik dari skripsi ini. Besar harapan penulis, semoga skripsi ini dapat

memberikan manfaat sekaligus menambah pengetahuan bagi berbagai pihak.

Amin.

(6)

HALAMAN J UDUL ... i

1.3. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 11

1.3.1. Tujuan Penelitian ... 11

2.1.3. Televisi Sebagai Media Iklan ... 22

2.1.4. Keberadaan Iklan di Masyarakat ... 27

2.1.5. Komunikasi adalah Suatu Proses Simbolik ... 29

(7)
(8)

DAFTAR PUSTAKA ……… 118

(9)

1.1Latar Belakang Masalah

Manusia dalam sejarah hidupnya tidak dapat terlepas dari peristiwa

komunikasi. Di dalam berkomunikasi manusia memerlukan sarana untuk

mengungkapkan ide, gagasan, isi pikiran, maksud, realitas, dan sebagainya.

Sarana yang paling utama dan bersifat vital untuk memenuhi kebutuhan tersebut

adalah bahasa.

Bahasa pada umumnya muncul dalam proses sosial dan selalu muncul

dalam bentuk teks, karena bahasa selalu merealisasikan suatu perilaku verbal

baik itu yang bersifat sentral atau dominan yang terdapat dalam proses sosial

kebahasaan maupun yang bersifat periferal atau yang melengkapi dalam proses

sosial non-kebahasaan. Bahasa yang digunakan merupakan pilihan penuturnya

dalam rangka merealisasikan fungsi sosial teks.

Setiap anggota masyarakat dan komunitas selalu terlibat dalam

komunikasi bahasa, baik bertindak sebagai komunikator (pembicara atau

penulis) maupun sebagai komunikan (pendengar atau pembaca). Salah satu

(10)

tercapainya maksud yang disampaikan adalah iklan. Secara sederhana Rhenald

Khasali menyatakan, “iklan sebagai pesan yang menawarkan suatu produk yang

ditujukan kepada masyarakat lewat suatu media’’ (1995:09).

Iklan (advertising) berasal dari kata yunani yang kurang lebih artinya

adalah menggiring orang pada gagasan. Proses penyampaian pesan atau

informasi kepada sebagian atau seluruh khalayak dengan menggunakan media.

Iklan atau periklanan didefinisikan sebagai kegiatan berpromosi atau

berkampanye melalui media massa (Wibowo, 2003:05).

Iklan dapat digunakan untuk membangun citra jangka panjang suatu

produk atau sebagai pemicu penjualan-penjualan cepat. Disadari atau tidak,

iklan dapat berpengaruh tetapi juga dapat beralu begitu cepat. Oleh karenanya,

aktifitas perpindahan informasi tentang produk yang diiklankan pada khalayak

harus mengandung daya tarik setelah pemirsa atau khalayak mengetahui

sehingga mampu menggugah perasaan. Untuk menampilkan kekuatan iklan

tidak hanya sekedar menampilkan pesan verbal tetapi juga harus menampilkan

pesan nonverbal yang mendukung iklan (Widyatama, 2006:16).

Awalnya iklan merupakan sebuah produk yang diciptakan untuk

memenuhi kebutuhan pemasang iklan. Untuk itu pengiklan memanfaatkan

kaidah-kaidah, norma-norma maupun ketentuan-ketentuan yang berlaku

(11)

Ada dua sudut pandang tujuan periklanan, yaitu sudut pandang

perusahaan dan sudut pandang konsumen. Dari sudut pandang perusahaan,

menurut Robert V. Zacher (Sumartono, 2002:66), tujuan periklanan diantaranya

adalah ;

a. Menyadarkan komunikan dan member informasi

tentang suatu barang dan jasa atau ide.

b. Menimbulkan dalam diri komunikan suatu perasaan

suka akan barang dan jasa ataupun ide yang disajikan

dengan memberi prefensi kepadanya.

c. Meyakinkan komunikan akan kebenaran tentang apa

yang dianjurkan dalam iklan dan karenanya

menggerakan untuk berusaha memiliki atau

menggunakan barang atau jasa yang dianjurkan.

Sedangkan dari sudut pandang konsumen, iklan dipandang sebagai suatu

media penyedia informasi tentang kemampuan, harga, fungsi produk maupun

atribut lainnya yang berkaitan dengan suatu produk.

Wacana iklan memiliki kekhasan bahasa di bidang jurnalistik. Kekhasan

itu tampak pada bahasanya yang persuasif dan kreatif untuk memadukan

berbagai bentuk dalam komposisinya. Namun demikian, untuk membedakan

dengan pengumuman biasa, iklan lebih diarahkan untuk membujuk orang

supaya membeli, seeperti yang dikemukakan oleh American Marketing

Association (AMA) iklan didefinisikan sebagai : Any paid form of non personal

(12)

(Kasali, 1995:10). Iklan adalah suatu bentuk presentasi atau penyajian yang

bersifat non-personal dan promosi tentang ide, barang atau pelayanan oleh

sebuah badan sponsor.

Iklan sangat erat kaitannya dengan media massa, karena iklan

menggunakan media massa sebagai medianya untuk beriklan. Media massa

sendiri terbagi menjadi dua yaitu media cetak (surat kabar, tabloid, majalah) dan

media elektronik yaitu televise dan radio yang juga menyajikan berbagai

informasi. Dengan adanya iklan melalui media cetak maupun media elektronik

diharapkan dapat memberikan nilai yang lebih, untuk menjamin ketertarikan

konsumen terhadap barang dan jasa yang diiklankan. Terkadang sebuah iklan

senantiasa diingat oleh konsumen dari tanda-tandanya, seperti gambarnya yang

menarik atau hiasannya yang unik (bukan nama penguklan atau penawaran

yang diajukan). Karena akhirnya jika seorang mengingat tanda-tanda khas dari

suatu iklan ia akan terdorong untuk mengingat dan mengidentifikasikan hal-hal

yang penting lainnya yang tertera pada iklan tersebut (Jefkins, 1995:16-17).

Media elektronik melakukan perkembangan sesuai permintaan pasar.

Perkembangan media elektronik dapat dilihat dalam berbagai bentuk. Bentuk

TV digital mendapat kemajuan menjadi TV kabel dan situs Youtube yang

fenomenal dalam hal video online merupakan salah satu dari beberapa bentuk

(13)

perkembangan ini juga terasa pada segmentasi yang diterapkan TV swasta di

Indonesia.

Televisi merupakan salah satu media dalam beriklan yang menggunakan

warna, suara, gerakan dan music atau dapat disebut sebagai media audio visual

sehingga televisi sebagai media beriklan terbukti merupakan media komunikasi

yang paling efektif dan efisien sebagai media untuk informasi produk dan citra

perusahaan dan meyakinkan komunikan akan kebesaran tentang apa yang

dianjurkan dalam iklan dan karenanya menggerakan untuk berusaha memiliki

atau menggunakan barang atau jasa yang dianjurkan. Kekuatan dan kelebihan

teknologis yang dimilikinya, memungkinkan tercapainya tingkat efektifitas dan

efisiensi yang diharapkan oleh suatu perusahaan atau lembaga lainnya. Luasnya

jangkauan televisi yang dapat ditempuh dalam waktu bersamaan secara

serentak, pesan dan informasi yang disampaikan melalui televisi mampu

menjangkau jutaan khalayak sasarannya (Sumartono, 2001:20).

Televisi merupakan salah satu media yang termasuk dalam kategori

above the line. Sesuai dengan karakternya, iklan televisi mengandung unsur

suara, gambar dan gerak, oleh karena itu pesan yang disampaikan melalui media

ini sangat menarik perhatian dan impresif.

Iklan pada televisi pun beraneka ragam dan apabila dilihat dari

(14)

a. Iklan Komersial yaitu iklan yang bertujuan untuk

mendukung kampanye pemasaran suatu produk atau

jasa.

b. Iklan yang bertujuan membangun citra suatu

perusahaan yang pada akhirya diharapkan juga

membangun citra positif produk-produk atau jasa yang

diproduksi oleh perusahaan tersebut.

c. Iklan Layanan Masyarakat merupakan bagian dari

kampanye sosial marketing yang bertujuan menjual

gagasan atau ide untuk kepentingan atau pelayanan

masyarakat.

Dari sekian banyak iklan komersial di televisi yang pada umumnya,

iklan akan langsung merujuk pada produk yang diiklankan, namun tidak begitu

halnya dengan iklan rokok. Dari segala macam produk yang beriklan, iklan

produk rokok termasuk dalam kategori iklan yang terbatas dalam

memvisualisasikan kelebihan dan keindahan produknya dibandingkan

iklan-iklan lain karena dibatasi peraturan dan kode etik periklan-iklanan. Iklan-iklan-iklan produk

rokok tidak boleh menampilkan secara langsung visual yang menunjukan orang

merokok, dan gambar produknya secara jelas. Oleh karena itu, iklan rokok

hanya boleh menampilkan image atau citra produk tanpa adanya perwujudan

dari produk rokok tersebut. Banyak produk iklan yang menggunakan

pendekatan citra.

(15)

rokok, baik untuk media cetak, media elektronik, maupun media luar ruangan

yang menggambarkan (dalam bentuk tulisan, gambar atau gabungan keduanya)

rokok atau orang sedang merokok.

Peraturan pemerintah diatas semakin mempersempit ruang gerak para

produsen beserta biro iklan rokok. Untuk menampilkan ide-ide atau

konsep-konsep yang lebih kreatif, sehingga untuk memvisualisasikan sebuah iklan

rokok tanpa harus menampilkan bentuk dan perwujudan rokok akan tetapi dapat

mengetahui jenis produk yang diiklankan, para pembuat iklan rokok di televisi

dalam menampilkan produknya harus berpikir dua kali di dalam pembuatan

iklan produk mereka dan berusaha untuk lebih berpikir kreatif dalam pembuatan

iklan produk mereka di televisi.

Para produsen rokok dan biro iklan akhirnya mencari celah dari

peraturan yang ada itu dan dibutuhkan sebuah kreatifitas yang tinggi untuk

mengatasi hal tersebut. Dengan mengembangkan daya kreatifitas yang tinggi

untuk mengatasi hal tersebut. Dengan mengembangkan daya kreatifitas, maka

iklan rokok dapat ditampilkan tanpa menyalahi peraturan-peraturan sehingga

masyarakat luas dan pemerintah dapat menyetujui iklan tersebut. Biro iklan

dapat tetap melakukan pekerjaannya tanpa khawatir akan mendapat hambatan

dari berbagai pihak. Misalnya iklan rokok dalam televisi, Djarum Super

menampilkan maskulinitas dan petualang sejati, kebudayaan dan alam

(16)

dari Sampoerna Mild dengan slogan “Bukan Basa Basi’’, Gudang Garam Merah

dengan slogan “Selera Pemberani’’, dan Djarum 76 sendiri memiliki slogan

“Yang Penting Hepi’’.

Sejauh ini hampir semua iklan di televisi pada umumnya menampilkan

laki-laki macho, pemberani dan pahlawan. Di dalam iklan-iklan rokok tersebut

mereka terlihat jelas sisi maskulinitasnya, misalnya aktifitas olahraga

menantang, memperlihatkan otot, kejantanan dan keberanian yang kebanyakan

dilakukan di alam bebas. Namun yang menarik dalam iklan Djarum 76 versi

“Jin Takut Istri’’ menampilkan sisi laki-laki yang takut terhadap perempuan.

Berbeda dengan iklan rokok lain yang menampilkan keberanian dan kejantanan

perempuan.

Bahasa iklan mengandung bahasa informatif persuasif yang secara

konsensus harus memilih kata-kata yang dimengerti oleh masyarakat pembaca.

Di samping itu juga, gaya bahasa dalam iklan mempunyai sifat khas yang

menjadi karakteristik, yaitu singkat, lancar, padat, sederhana, lugas, netral, dan

menarik.

Bahasa iklan mempunyai sebuah bentuk komunikasi yang khas. Bahasa

iklan merupakan bahasa yang dipakai untuk segala macam bentuk pesan tentang

suatu produk di berbagai media, baik media cetak maupun media elektronik,

(17)

komunikasi atau pesan suatu produk, iklan biasa menjadi alat untuk menarik

perhatian. Warna, ilustrasi, judul, teks, dan logo (dalam hal ini adalah iklan di

media luar ruangan) biasa dipakai sebagai sarana bagi biro jasa periklanan

untuk memberikan kesan kepada khalayak sasaran, baik dalam jangka panjang

maupun pendek. Bahasa iklan juga biasa dipakai oleh para insan kreatif untuk

mengekspresikan gagasan, atau sebagai sarana persuasif.

Iklan rokok selalu memiliki kreatifitas dalam menyampaikan pesannya

yang mengandung makna. Ketertarikan peneliti pada pemilihan iklan rokok

Djarum 76 versi Jin Takut Istri atau yang biasa disebut juga versi Aku Yo Wedi

sebagai obyek penelitian karena selain iklan rokok tersebut masih ditayangkan

dan baru serta ranah pesan dengan dua bahasa, yaitu bahasa Jawa dan bahasa

Indonesia. Sifat daya tarik yang dibuat untuk menjual produk dari script iklan

perpaduan dari dua bahasa Jawa dan Indonesia sehingga penampilan orang yang

terlibat memiliki variasi dalam iklan. Dan hal yang menarik lainnya dari iklan

rokok Djarum 76 versi “Jin Takut Istri’’ ini juga menampilkan sisi laki-laki

yang takut terhadap perempuan. Berbeda dengan iklan rokok lain yang

menampilkan keberanian dan kejantanan atau maskulinitas seorang laki-laki.

Visualisasi teks iklan tersebut diawali dengan adanya seorang laki-laki

yang dimarahi oleh pacarnya karena terlambat datang kerumah pacarnya. Pacar

laki-laki tersebut marah-marah sambil melempar sandal kepada laki-laki

(18)

mengenai Poci ajaib yang berisi dua jin jawa suami istri. Tak disangka Jin Jawa

(suami) yang bebas dari poci tersebut siap mengabulkan satu permintaan dari

orang yang membebaskannya (seorang laki-laki). Seorang laki-laki itupun

meminta agar pacarnya takut dan klepek-klepek kepada laki-laki tersebut. Saat

istri Jin Jawa yang berada di sebelahnya mendengar permintaan laki-laki itu,

istri jin jawa tersebut langsung memasang muka marah dan mengancam pada

suaminya (Jin Jawa). Dan dengan wajah ketakutan kepada istrinya yang berada

disebelahnya, sambil menunjukan jari ke arah istrinya, si Jin Jawa berkata “Sory

yo, Aku Yo Wedi kok”, yang maksudnya dia juga takut pada perempuan

(istrinya) seperti laki-laki itu yang takut pada pacarnya.

Setting yang ditampilkan dalam iklan rokok Djarum 76 versi “Jin Takut

Istri” ini adalah pelataran rumah joglo khas Jogjakarta untuk memperjelas

bahwa pelaku atau model dalam iklan tersebut adalah orang Jawa. Tetapi dari

kostum dan make up yang digunakan model bertolak belakang dengan adat

jawa yang cenderung sederhana. Model mengenakan pakaian modern

menggunakan blouse, kemeja dan celana jeans. Hal tersebut dimaksudnya

bahwa rokok Djarum 76 diperuntukan untuk masyarakat dari seluru kalangan.

Dan menunjukan bahwa rokok Djarum 76 bersifat modern dan universal.

Berdasarkan uraian diatas, maka pada penelitian ini peneliti tertarik

(19)

rokok Djarum 76 versi “Jin Takut Istri’’ dengan menggunakan pendekatan

semiotika John Fiske.

1.2Rumusan Masalah

Dari uraian latar belakang masalah di atas, maka permasalahan yang

akan diteliti adalah sebagai berikut :

“Bagaimanakah pemaknaan iklan rokok Djarum 76 versi Jin Takut Istri”

1.3Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1.3.1 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan penelitian

ini adalah untuk mengetahui makna iklan rokok Djarum 76 versi “Jin

Takut Istri’’ di televisi.

1.3.2 Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan akan memberikan setidaknya dua

manfaat utama bagi masyarakat ilmiah dan umum seperti berikut :

a. Secara teoritis, manfaat yang ingin diperoleh dalam penelitian

ini diharapkan dapat memberikan masukan atas wawasan serta

bahan referensi bagi mahasiswa komunikasi pada jenis

(20)

agar dapat dipublikasikan untuk perkembangan ilmu

komunikasi.

b. Secara praktis, untuk memberikan masukan kepada praktisi

periklanan, khususnya kreator iklan, dalam kaitannya dengan

konsep-konsep iklan yang akan dihadirkan ke tengah

masyarakat. Dan menambah referensi bagi mahasiswa jurusan

Ilmu Komunikasi UPN “Veteran’’ Jawa Timur, khususnya

(21)

2.1 Landasan Teori

2.1.1 Perikalan

Dalam konsep bahasa yang sederhana, ‘iklan’ memiliki arti

‘menarik perhatian kepada sesuatu’ atau menunjukkan atau memberi

informasi kepada seseorang atas suatu hal (Dyer, 1996:2). Dyer juga

menambahkan bahwa pada awalnya fungsi utama dari sebuah iklan

adalah untuk memperkenalkan berbagai variasi barang kepada publik

sehingga mendukung terciptanya perekonomian bebas. Istilah iklan

sendiri berasal dari bahasa inggris yaitu Advertising yang

menunjukkan suatu proses atau kegiatan komunikasi yang melibatkan

pihak-pihak sponsor (pemasang iklan atau advertiser), media massa,

atau agen periklanan (biro iklan). Ciri utama dari kegiatan tersebut

adalah kegiatan pembayaran yang dilakukan para pemasang iklan

melalui biro iklan atau langsung kepada media massa terkait atas

dimuatnya atau disiarkannya penawaran barang dan jasa yang

dihasilkan si pemasang iklan tersebut (Aaker dalam Widyatama,

(22)

Namun seiring dengan perkembangan jaman, dunia periklanan

telah menjadi semakin jauh terlibat dalam manipulasi nilai-nilai sosial

dan perilaku, menampilkan wajah komersialisasi secara dominan

dengan menghadirkan beragam acara serta menggiring khalayak

kepada pengiklan dan pada akhirnya semakin tidak berkaitan langsung

dengan esensi komunikasi (dalam hal ini, media massa) mengenai

informasi tentang barang dan jasa dan pada akhirnya menjadikan

media sebagai bagian dari sistem kapitalisme global.

Iklan yang baik sangat penting bagi pemasaran. Iklan akan

meningkatkan kepercayaan masyarakat pada produk yang

dipromosikan. Iklan dapat membuat penjualan meningkat dan

memperendah biaya produksi. Tujuan dasar iklan adalah

memenangkan hati dan pikiran sasaran pasar. Dalam kondisi dan

situasi pasar yang makin kompetitif, pencipta iklan harus kreatif

sehingga iklan yang diciptakannya dapat berdampak positif.

(Kuswandi, 2008:113)

Menurut pandangan Dunn dan Barban (1978) bahwa iklan

merupakan bentuk kegiatan komunikasi non personal yang

disampaikan lewat media dengan membayar ruang yang dipakainya

(23)

kepada konsumen oleh perusahaan, lembaga non komersial, maupun

pribadi yang berkepentingan (Widyatama,2007:15)

Dari beberapa pengertian iklan terdapat enam prinsip dasar

yang terkandung dalam iklan, yaitu:

1. Adanya pesan tertentu, sebuah iklan tidak akan ada tanpa

adanya pesan.

2. Dilakukan oleh komunikator (sponsor), pesan iklan ada karena

dibuat oleh komunikator.

3. Dilakukan dengan cara non personal, dari beberapa pengertian

iklan, hampir semua berpendapat bahwa iklan merupakan

penyampaian pesan yang dilakukan secara non personal.

4. Disampaikan untuk khalayak tertentu, iklan diciptakan oleh

komunikator karena ingin ditujukan kepada khalayak tertentu.

5. Dalam penyampaian pesan tersebut, dilakukan dengan cara

membayar.

6. Penyampaian pesan tersebut, mengharapkan dampak tertentu.

Dalam sebuah visualisasi iklan, seluruh pesan dalam iklan

semestinya merupakan pesan yang efektif.

(24)

Kesimpulannya, secara prinsip iklan adalah bentuk penyajian

pesan yang dilakukan oleh komunikator secara non personal melalui

media untuk ditujukan pada komunikan dengan cara membayar.

Menurut Hedges iklan dapat dioperasikan pada sejumlah

tingkatan antara lain :

a. Secara sederhana meningkatkan rasa suka, kesadaran akan

keberadaan suatu merk produk. Seseorang lebih suka membeli

merk yang mereka kenal sebelumnya meskipun secara tidak

sadar hal itu berhubungan dengan ingatan mereka terhadap

iklan.

b. Iklan meunjukkan suatu informasi baik berupa selogannya

maupun kemasannya.

c. Boleh jadi suatu iklan mengitari merk dengan asosiasi khusus

seperti perasaan atau suasana hati.

d. Kadang kala argumentasi rasional ditempatkan di awal.

Alasannya pada tingkatan itulah konsumen menaruh perhatian

seperti yang diinginkan (Wilmshurst Dalam Hizbul, 2005:9).

Berdasarkan tujuannya, iklan diklasifikasikan menjadi 3 jenis,

yakni :

(25)

Iklan ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

a. bertujuan untuk membentuk atau menciptakan

kesadaran/pengenalan dan pengetahuan tentang produk

atau fitur-fitur baru dari produk yang sudah ada.

b. Menginformasikan perubahan harga dan kemasan produk.

c. Menjelaskan cara kerja produk.

d. Mengurangi ketakutan konsumen.

e. Mengoreksi produk.

2. Iklan Persuasif (Persuasive Advertising)

Iklan ini mempunyai cirri-ciri sebagai berikut:

a. Bertujuan untuk menciptakan kesukaan, preferensi dan

keyakinan sehingga konsumen mau membeli dan

menggunakan barang dan jasa.

b. Mempersuasif khalayak untuk memilih merk tertentu.

c. Menganjurkan untuk membeli.

d. Mengubah persepsi konsumen.

(26)

3. Iklan Reminder (Reminder Advertising)

Iklan ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

a. Bertujuan untuk mendorong pembelian ulang barang dan

jasa.

b. Mengingatkan bahwa suatu produk memiliki kemungkinan

akan sangat dibutuhkan dalam waktu dekat.

c. Mengingatkan pembeli dimana membeli produk tersebut.

d. Menjaga kesadaran akan produk (consumer’s state of

mind).

e. Menjalin hubungan baik dengan konsumen.

(ht tp:/ / enikkirei.mult iply.com/ journal/ it em/ 12/ Jenis_Iklan_dan_Contohnya)

Secara umum, iklan dihargai karena dikenal sebagai pelaksana

beragam fungsi komunikasi yang penting bagi perusahaan bisnis dan

organisasi lainnya, fungsi iklan diantaranya :

1. Informing, iklan menampilkan peran informasi bernilai

lainnya, baik untuk merek yang diiklankan maupun

konsumennya dengan mengajarkan manfaat-manfaat baru dari

(27)

2. Persuading, iklan yang efektif akan mampu mempersuasi

(membujuk) pelanggan untuk mencoba produk dan jasa yang

diiklankan.

3. Reminding, iklan menjaga agar merek perusahaan tetap segar

dalam ingatan para konsumen. Saat kebutuhan yang

berhubungan dengan produk yang diiklankan muncul, dampak

periklanan di masa lalu memungkinkan merek pengiklan untuk

hadir di benak konsumen.

4. Adding Value, iklan memberi nilai tambah pada merek dengan

mempengaruhi konsumen. Karena iklan yang efektif

menyebabkan merek dipandang lebih elegan, lebih bergaya,

lebih bergengsi, dan lebih unggul dari merek lainnya. (Shimp,

2003:360-361)

Iklan berkaitan dengan pemberian informasi akan produk

kepada khalayak. Oleh karenanya, iklan harus dibuat sedemikian rupa

agar dapat menarik perhatian, minat khalayak serta memiliki

karakteristik tertentu dan persuasif. Sehingga khalayak akan akan

tertarik untuk memperhatikan setiap pesan yang ditayangkan iklan di

televisi dan pada tahap selanjutnya khalayak secara sukarela terdorong

untuk melakukan sesuatu tindakan sesuai yang diinginkan pengiklan

(28)

2.1.2 Peranan dan Fungsi Iklan

Periklanan adalah suatu cara untuk menciptakan kesadaran dan

pilihan. Iklan ada karena ia memiliki fungsi. Dilihat sebagai alat, iklan

dapat digunakan untuk mencapai berbagai tujuan, ia bergantung pada

kemana komunikator hendak mengarahkan pesannya (Widyatama,

2005:144).

Iklan memiliki beberapa tujuan yaitu tujuan jangka pendek

yang artinya iklan diharapkan mampu memberikan dampak segera

setelah iklan disampaikan di tengah masyarakat. Berbeda dengan

tujuan jangka pendek iklan juga memiliki tujuan jangka panjang yaitu,

dampak yang baru dapat dipetik dalam kurun waktu yang lama setelah

iklan diluncurkan. Iklan tidak sekedar menjual barang, ia juga

menginformasikan, membujuk, menawarkan status, membangun citra,

dan bahkan menjual mimpi. Pendeknya, iklan merekayasa kebutuhan

dan dan menciptakan ketergantungan psikologis (Hamelink, 1983:16).

Karena sifatnya yang persuasif, iklan menurut Tilman dan Kirk Patrick

merupakan komunikasi massa yang menawarkan janji kepada

konsumen.

Melalui pesan yang informatif sekaligus persuasif mereka

menjanjikan :

(29)

(2) tempat memperolehnya.

(3) kualitas dari barang dan jasa.

Menurut Alo Liliweri (1998), iklan mempunyai fungsi yang

sangat luas. Fungsi-fungsi tersebut meliputi, fungsi pemasaran, fungsi

komunikasi, fungsi pendidikan, fungsi ekonomi dan fungsi sosial.

Fungsi pemasaran adalah fungsi iklan yang diharapkan untuk

membantu pemasaran atau menjual produk. Artinya, iklan digunakan

untuk mempengaruhi khalayak untuk membeli dan mengkonsumsi

produk. Yang kedua adalah fungsi komunikasi artinya, bahwa iklan

sebenarnya merupakan sebentuk pesan dari komunikator kepada

khalayaknya. Fungsi yang ketiga menurut Liliweri adalah fungsi

pendidikan. Fungsi ini mengandung makna bahwa iklan merupakan

alat yang dapat membantu mendidikan khalayak mengenai sesuatu

agar mengetahui dan mampu melakukan sesuatu. Fungsi keempat dari

iklan adalah fungsi ekonomi, yang artinya iklan mampu menjadi

penggerak agar kegiatan ekonomi tetap dapat berjalan. Yang terakhir

adalah fungsi sosial. Dalam fungsi ini iklan ternyata telah mampu

menghasilkan dampak sosial psikologis yang cukup besar, iklan

membawa berbagai pengaruh dalam masyarakat, misalnya munculnya

(30)

budaya pop dan sebagainya. Karena iklan ditujukan untuk khalayak

ramai, maka dengan demikian iklan bukan merupakan komunikasi

interpersonal melainkan non personal. Oleh karena itu, tepat rasanya

bila komunikasi semacam ini digolongkan dalam bentuk komunikasi

massa. Iklan memang menonjolkan sifat persuasifnya, yakni

bagaimana seorang individu berubah sikap sebagai hasil transaksi

dengan pihak lain.

Komunikasi massa dapat diartikan sebagai suatu proses dimana

komunikator secara profesional menggunakan media massa didalam

menyebarkan pesannya guna mempengaruhi khalayak banyak, baik

menggunakan media massa cetak maupun elektronik.

Jadi, peranan iklan adalah sebagai bentuk komunikasi massa

yaitu berfungsi untuk menyampaikan pesan kepada khalayak akan

sesuatu hal.

2.1.3 Televisi Sebagai Media Iklan

McLuhan mengatakan bahwa kecenderungan yang pasti dari

periklanan adalah selalu berusaha menampakkan produk sebagai salah

satu bagian internal dari produk sosial dan kebutuhan sosial yang luas

(Bungin, 2001:122). Iklan bagaikan sebuah dunia magis yang dapat

(31)

mempesona, sebuah sistem yang keluar dari imajinasi dan muncul ke

dalam dunia nyata melalui media.

Televisi saat ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari

kehidupan manusia. Banyak orang menghabiskan waktunya lebih lama

di depan televisi dibandingkan dengan waktu yang digunakan untuk

ngobrol dengan keluarga atau pasangan mereka. (Morrisan, 2004: 1).

Oleh karena itu, televisi merupakan sasaran media yang disukai oleh

para pengiklan karena media televisi mempunyai unsur audio dan

visual.

Media televisi mampu menyediakan informasi dan kebutuhan

manusia secara keseluruhan, seperti berita cuaca, informasi finansial

atau catalog berbagai macam produksi barang. (Widyatama,

2008:14-15).

Televisi merupakan media yang paling disukai oleh para

pengiklan. Hal tersebut disebabkan keistimewaan televisi yang

mempunyai unsur audio dan visual. Sehingga para pengiklan percaya

bahwa televisi mampu menambah daya tarik iklan dibanding media

lain. Televisi juga diyakini sangat berorientasi mengingat khalayak

(32)

Sebagai alat untuk menyampaikan informasi, televisi sebagai

salah satu media massa mampu menyiarkan informasi yang amat

memuaskan. Hal ini disebabkan karena adanya faktor immediacy yang

dalam pengertiannya langsung dekat, dengan adanya faktor realism

yang mengandung makna kenyataan. Dalam melaksanakan fungsinya

sebagai sarana penerangan, televisi selain menyiarkan informasi dalam

siaran pandangan mata, atau berita yang dibacakan penyiar, dilengkapi

dengan gambar-gambar yang faktual, juga diskusi panel, ceramah,

komentar, dan wawancara yang kesemuanya realistis. Sebagai alat

untuk mendidik, televisi merupakan sarana yang ampuh untuk

menyiarkan acara pendidikan kepada khalayaknya yang jumlahnya

begitu banyak secara simultan. Selain acara pendidikan yang disiarkan

secara berkesinambungan, televisi juga menyiarkan berbagai acara

yang secara implisit mengandung pendidikan seperti sandiwara,

ceramah, film, dan sebagainya. (Effendy, 1984:28).

Dari beberapa uraian diatas tampak bahwa televisi merupakan

media komunikasi yang efektif dan efisien. Hal ini dapat dilihat dari

beberapa faktor misalnya efisiensi biaya. Dampak dan pengaruh yang

dihasilkan oleh media televisi sangat kuat. Hal ini membuat

(33)

perkembangan teknologi yang sangat cepat membuat media televisi

lebih menarik.

Iklan menjadi wacana penting dalam bisnis, terutama dalam

proses membangun merek atau branding. Kegiatan periklanan yang

efektif dipandang mampu mempengarui kecenderungan

mengkonsumsi dalam masyarakat. Iklan yang efektif juga akan

mengubah pengetahuan publik mengenai ketersediaan dan

karakteristik sebuah produk, elastisitas permintaan produk akan sangat

dipengaruhi aktivitas periklanan. Iklan televisi atau TVC

sesungguhnya hanya sebagian kecil dalam proses branding, masih

banyak elemen-elemen lain dalam mencapai sebuah merek yang kuat

dan (diharapkan) mempunyai brand life cycle yang panjang bahkan

abadi.

Periklanan dipandang sebagai media paling lazim digunakan

suatu perusahaan untuk mengarahkan komunikasi yang persuasif pada

konsumen. Iklan ditujukan untuk mempengaruhi perasaan,

pengetahuan, makna, kepercayaan, sikap dan citra konsumen yang

berkaitan dengan suatu produk atau merk. Tujuan ini bermuara pada

upaya mempengaruhi perilaku konsumen dalam membeli, meskipun

tidak secara langsung berdampak pada pembelian. Iklan menjadi

(34)

komunikasi antara perusahaan ke konsumen dan sebagai upaya

perusahaan dalam menghadapi pesaing. Kemampuan ini muncul

karena adanya suatu produk yang dihasilkan suatu perusahaan.

Bagaimanapun bagusnya suatu produk jika harus dirahasiakan dari

konsumen maka tidak ada gunanya.

Pada dasarnya media televisi bersifat transistory atau hanya

sekilas dan penyampaian pesannya dibatasi oleh durasi (jam, menit,

detik). Pesan dari televisi memiliki kelebihan tersendiri, tidak hanya

didengar tetapi juga dapat dilihat dalam gambar yang bergerak (audio

visual). Televisi merupakan media yang paling disukai oleh para

pengiklan. Hal tersebut disebabkan keistimewaan televisi yang

mempunyai unsur audio dan visual, sehingga para pengiklan percaya

bahwa televisi mampu menambah daya tarik iklan dibanding media

lain. Televisi juga diyakini sangat berorientasi mengingatkan khalayak

sasaran terhadap pesan yang disampaikan (Kasali,1992:172).

Televisi memiliki daya tarik yang sangat kuat melebihi media

massa lainnya, sebab televisi memiliki unsur visual berupa gambar

hidup yang menimbulkan kesan mendalam bagi penontonnya. Televisi

menimbulkan dampak yang kuat bagi pemirsanya. Hal ini disebabkan

(35)

pengelihatan dan pendengaran, selain itu televisi juga memiliki

kombinasi gerak dan suara.

Untuk tujuan komersial, televisi dipandang sebagai media yang

efektif karena televisi memiliki kemampuan menjangkau khalayak

sasaran yang sangat luas dan televisi memiliki kemampuan yang kuat

untuk mempengaruhi persepsi khalayak sasaran. Masyarakat lebih

sering meluangkan waktunya didepan televisi guna mendapatkan

informasi dan hiburan. Televisi telah menjadi cerminan budaya

tontonan pemirsa dalam era informasi dan komunikasi saat ini.

Jadi, dari uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa televisi

diyakini sebagai media paling efektif dan efisien dalam

menyampaikan pesan melalui iklan. Televisi mampu menambah daya

tarik iklan dibanding media lain. Televisi juga diyakini sangat

berorientasi mengingat khalayak sasaran terhadap pesan yang

disampaikan iklan sesuai dengan tujuan periklanannya.

2.1.4 Keberadaan Iklan di Masyarakat

Fenomena periklanan sebagai bagian bentuk ekspresi bahasa

simbolik dalam kebudayaan manusia, yakni sejak zaman Yunani dan

Romawi kuno. Pada zaman diawal keberadaannya, wujud iklan hadir

dalam bentuk berupa pesan berantai yang dilaksanakan melalui

(36)

kelancaran jual beli dalam masyarakat yang masih sangat sederhana,

yakni sebuah tipologi masyarakat yang pada waktu itu mayoritasnya

masih belum mengenal huruf, dan perdagangan juga masih

menggunakan sistem tukar menukar barang secara langsung.

Kemudian setelah manusia mulai mengenal tulisan sebagai

sarana penyampaian pesan, kegiatan periklanan mengalami

perkembangan selangkah lebih maju, yakni dengan menggunakan

mdia tulisan sebagai sarana penyampaian pesan, kegiatan periklanan

mengalami perkembangan selangkah lebih maju, yakni dengan

menggunakan media tulisan, perkembangan selanjutnya, yakni iklan

dengan menggunakan media gambar, yang ditorehkan atau dipahatkan

pada batu, dinding, atau terakota (keramik), yang diantara artefak

peninggalannya yang cukup terkenal, adalah berupa pengumuman

rencana penyelenggaraan pesta pertarungan gladiator, yang ditemukan

pada puing-puing dinding Herculaneum. Selain itu, pada zaman

Romawi kuno, juga dikenal iklan dalam bentuk stempel batu, yang

banyak digunakan oleh para dukun untuk menjajakan obat-obatan,

maupun oleh tuan, untuk memberi cap pada punggung para budak

belian (Kasiyan, 2008:145).

Jadi, keberadaan iklan di masyarakat telah ada sejak zaman

(37)

perubahan zaman sampai saat ini, sehingga iklan dapat dinikmati

khalayak iklan melalui media cetak maupun media elektronik.

2.1.5 Komunikasi adalah Suatu Proses Simbolik

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia karangan WJS

Poerwadarminta disebukan, simbol atau lambang adalah semacam

tanda, lukisan, perkataan, lencana, dan sebagainya, yang menyatakan

sesuatu hal, atau mengandung maksud tertentu. Misalnya, warna putih

merupakan lambang kesucian, lambang padi lambang kemakmuran,

dan kopiah merupakan salah satu tanda pengenal bagi warga nergara

Republik Indonesia (Sobur, 2004:156).

Dalam “bahasa” komunikasi, simbol seringkali diistilahkan

sebagai lambang. Simbol atau lambang adalah sesuatu yang

dipergunakan untuk menunjuk sesuatu lainnya, berdasarkan

kesepakatan kelompok orang. Lambang meliputi kata-kata (pesan

verbal), perilaku non verbal, dan objek maknanya disepakati bersama,

misalnya memasang bendera dihalaman rumah untuk menyatakan

penghormatan atau kecintaan kepada negara. Kemampuan manusia

menggunakan lambang verbal memungkinkan perkembangan bahasa

dan menangani hubungan antara manusia dan objek tersebut (Sobur.

(38)

Lambang adalah salah satu kategori tanda. Hubungan antara

tanda dengan objek dapat juga direpresentasikan oleh ikon dan indeks,

namun ikon dan indeks tidak memerlukan kesepakatan. Ikon adalah

suatu benda fisik (dua atau tiga dimensi) yang menyerupai apa yang

direpresentasikannya. Representasi itu ditandai dengan kemiripan.

Misalnya patung Soekarno adalah ikon Soekarno dan foto anda pada

KTP adalah ikon anda. (Mulyana, 2005:84)

2.1.6 Feminisme

Feminisme sebagai gerakan mulanya berangkat dari asumsi

bahwa kaum perempuan pada dasarnya ditindas dan dieksploitasi,serta

usaha untuk mengakhiri penindasan dan eksploitasi tersebut (Fakih,

2001 : 99). Sedangkan feminisme menurut M. Shiddiq, dapat diberi

pengertian sebagai “sesuatu kesadaran akan penindasan dan pemersan

terhadap perempuan dalam masyarakat, dalam keluarga maupun di

tempat kerja, serta tindakan sadar oleh perempuan maupun lelaki

untuk merubah keadaan tersebut”. Menurut definisi ini, seorang yang

mengenali adanya sexisme (diskriminasi atas dasar jenis kelamin),

dominasi lelaki, serta sistem patriarki dan melakukan suatu tindakan

untuk menentangnya adalah seorang feminis

(39)

Diantara sekian banyak jenis gerakan feminisme dalam

sepanjang sejarah perkembangannya yang ada di masyarakat di

berbagai belahan dunia, ada beberapa jenis gerakan yang menjadi arus

utama (mainstream) dan mempunyai pengaruh yang cukup luas,

sehingga banyak dijadikan sebagai model gerakan di berbagai tempat.

Secara garis besar, arus utama jenis pergerakan feminisme tersebut

dikelompokkan menjadi dua kategori besar, yakni pertama, gerakan

yang diilhami oleh paradigma fungsionalisme struktural, yakni

feminisme liberal, dan kedua adalah yang dipengaruhi oleh paradigma

konflik, yakni feminisme radikal, feminisme sosialis, dan feminisme

marxis.

Untuk mendapatkan gambaran pemahaman perihal

keempat gerakan feminisme sebagaimana dimaksud, berikut ini uraian

singkat mengenai pandangan dari berbagai paham feminisme tersebut :

a. Feminisme Liberal. Muncul pada awal abad 16, memandang

untuk menempatkan perempuan yang memiliki kebebasan dan

kesamaan berakar pada rasionalitas dan pemisahan antara

dunia privat dan publik. Kaum feminis liberal mendasari

gerakannya pada prinsip – prinsip falsafah liberalisme, yakni

(40)

setiap orang harus mempunyai kesempatan yang sama untuk

memajukan dirinya.

b. Feminisme Marxis. Gerakan ini menekan asumsi, bahwa

ketidakadilan gender dalam masyarakat lebih disebabkan oleh

penindasan kelas dalam hubungan produksi ekonomi. Oleh

karena itu, persoalan penindasan perempuan, selalu diletakkan

dalam kerangka kritik terhadap kapitalisme.

c. Feminisme Radikal. Teorinya mempersoalkan fungsi

reproduksi dan melahirkan, serta perbedaan seks dan gender

yang merampas kekuasaan perempuan. Dalam kaitannya

dengan keuasaan, feminis radikal mempermasalahkan

perbedaan seks atas dasar biologis, kemudian dikonstruksi

menjadi perbedaan gender oleh budaya patriarki.

d. Feminisme Sosialis. Pandangannya berusaha menggabungkan

teori feminisme marxis dan radikal. Mereka mengkritik asumsi

umum, hubungan antara partisipasi perempuan dalam ekonomi

memang perlu, tapi tidak akan selalu menaikkan status

perempuan, bagi feminis sosialis, meningkatnya partisipasi

perempuan dalam ekonomi lebih berakibat pada peran

(41)

Sesungguhnya masih banyak lagi aliran feminisme selain

keempat aliran utama dari gerakan feminisme tersebut. Sperti aliran

post-modern, eco-feminisme, psikoanalitik, eksistansialis. Yang

menajubkan, gerakan feminisme ternyata lahir di kalangan agama,

seperti kristen protestan dan katolik, bahkan dikalangan islam telah

lahir gerakan feminisme muslim.

2.1.7 Konsep Makna

Para ahli mengakui, istilah makna (meaning) memang

merupakan kata dan istilah yang membingungkan. Dalam bukunya

The Meaning of Meaning, (Ogden dan Ricards dalam Kurniawan,

2008:27) telah mengumpulkan tidak kurang dari 22 batasan mengenai

makna.

Makna sebagaimana dikemukakan oleh Fisher (dalam Sobur,

2004:248), merupakan konsep yang abstrak yang telah menarik

perhatian para ahli filsafat dan para teoritis ilmu sosial selama 2000

tahun silam. Semenjak Plato mengkonseptualisasikan makna manusia

sebagai salinan “ultarealitas”, para pemikir besar telah sering

mempergubakan konsep itu dengan penafsiran yang sangat kuas yang

merentang sejak pengungkapan mental dari Locke sampai ke respon

yang dikeluarkan dari Skinner. “tetapi”, kata (Jerold Katz dalam

(42)

langsung telah gagal. Beberapa saat misalnya Plato, telah terbukti

terlalu samar dan spekulatif. Yang lainnya memberikan jawaban

salah”.

Menurut Devito, makna terletak pada kata-kata melainkan

manusia. “Kita” lanjut Devito, menggunakan kata-kata yang

mendekati makna yang ingin kita komunikasikan. Tetapi kata-kata ini

secara sempurna dan lengkap menggambarkan makna yang kita

maksudkan. Demikian pula makna yang didapat pendengar dari

pesan-pesan akan sangat berbeda dengan makna yang ingin kita

komunikasikan. Komunikasi adalah proses yang kita gunakan untuk

memproduksi dibenak pendengar dan apa yang ada dalam benak kita.

Ada tiga hal yang dijelaskan para filusuf dan linguis

sehubungan dengan usaha menjelaskan istilah makna. Ketiga hal

tersebut adalah :

(1) menjelaskan makna secara alamiah.

(2) mendeskripsikan secara alamiah.

(3) menjelaskan makna dalam proses komunikasi (Kempson dalam

(43)

Ada beberapa pandangan yang menjelaskan teori atau konsep

makna. Model konsep makna (Johnson dalam Devito, 1997:123-125)

sebagai berikut:

1. Makna dalam diri manusia. Makna tidak terletak pada

kata-kata melainkan pada manusia. Kita menggunakan kata-kata-kata-kata

untuk mendekati makna yang ingin kita komunikasikan, tetapi

kata-kata itu tidak secara sempurna dan lengkap

menggambarkan makna yang kita maksudkan. Komunikasi

adalah proses yang kita gunakan untuk memproduksi dibenak

pendengarkita dan proses ini adalah prosesyang bisa salah.

2. Makna berubah. Kata-kata relatif statis, banyak dari kata-kata

yang kita gunakan 200 atau 300 tahun yang lalu. Tetapi makna

dari kata-kata ini dan berubah dab ini khusus yang terjadi pada

dimensi emosional makna.

3. Makna membutuhkan acuan. Walaupun tidak semua

komunikasi mengacu pada dunia nyata, komunikasi hanya

masuk akal bilamana ia mempunyai kaitan dengan dunia atau

lingkungan eksternal.

4. Penyingkatan berlebihan akan mengubah makna. Berkaitan

erat dengan gagasan bahwa acuan tersebut kita butuhkan

(44)

berlebihan tanpa mengaitkan acuan yang diamati. Bila kita

berbicara tentang cerita, persahabatan, kebahagian, kejahatan,

dan konsep-konsep lain yang serupa tanpa mengaitkannya

dengan sesuatu yang spesifik, kita tidak bisa akan berbagi

makna dengan lawan bicara.

5. Makna tidak terbatas jumlahnya. Pada suatu saat tertentu,

jumlah kata dalam suatu bahasa terbatas, tetapi maknanya tidak

terbatas. Karena itu kebanyakan kita mempunyai banyak

makna. Ini bisa menimbulkan masalah bila ada sebuah kata

diartikan secara berbeda oleh dua orang yang sedang

berkomunikasi.

6. Makna yang dikomunikasikan hanya sebagian. Makna yang

kita peroleh dari suatu kejadian bersifat multi aspek dan sangat

kompleks, tetapi hanya sebagian saja dari makna-makna ini

yang benar-benar dapat dijelaskan. Banyak dari makna tersebut

yang tetap tinggal benak kita, karenanya pemaknaan yang

sebenarnya mungkin juga merupakan tujuan yang ingin kita

capai tetap tidak pernah tercapai (Sobur, 2003:285-289).

2.1.8 Semiotika

(45)

semiotika berasal dari kata yunani Semeion yang berarti ”tanda”.

Tanda itu sendiri didefinisikan sebagai sesuatu yang atas dasar

konvensi sosial yang terbangun sebelumnya, dapat dianggap mewakili

sesuatu yang lain.

Menurut Barthes, semiologi pada dasarnya hendak

mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memaknai hal-hal

(things). Memaknai (to signify) dalam hal ini tidak dapat

dicampuradukkan dengan mengkomunikasikan (to communicate).

Memaknai berarti bahwa objek-objek tidak hanya membawa

informasi, dalam hal sama objek-objek itu hendak berkomunikasi,

tetapi juga mengkonstitusi sistem terstruktur dari tanda (Barthes dan

Kurniawan dalam Alex Sobur, 2004:15).

Sedangkan menurut John Fiske, semiotika adalah studi tentang

penandaan dan makna dari sistem tanda; ilmu tentang tanda, tentang

bagaimana makna dibangun dalam “teks” media; atau studi tentang

bagaimana tanda dari jenis karya apapun dalam masyarakat yang

mengkomunikasikan makna.(Fiske, 2004:282).

Terdapat tiga bidang penting dalam studi semiotik, yakni:

1. Tanda itu sendiri. Hal ini terdiri atas studi tentang berbagai

tanda yang berbeda, cara tanda-tanda yang berbeda itu dalam

(46)

manusia yang menggunakannya. Tanda adalah konstruksi

manusia dan hanya bisa dipahami dalam artian manusia yang

menggunakannya.

2. Kode atau sistem yang mengorganisasikan tanda. Studi ini

mencakup cara berbagai kode dilambangkan guna memenuhi

kebutuhan suatu masyarakat atau budaya untuk

mengeksploitasi saluran komunikasi yang tersedia untuk

mentransmisikannya.

3. Kebudayaan tempat tanda dan kode bekerja. Ini pada

gilirannya bergantung pada penggunaan kode-kode dan

tanda-tanda itu untuk keberadaan dan bentuknya sendiri (Fiske,

2004:60).

Dari beberapa pendapat di atas maka diketahui bahwa

semiotika merupakan ilmu yang mempelajari tentang tanda, tentang

bagaimana memaknai tanda yang ada dalam pesan komunikasi.

2.1.9 Pendekatan Semiotik dalam Iklan Televisi

Definisi semiotik yang umum adalah studi mengenai

tanda-tanda (Chandler, 2002: www.aber.ac.uk). Studi ini tidak hanya

mengarah pada ‘tanda’ dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga tujuan

(47)

berupa kata-kata, gambar (images), suara, gerak tubuh dan objek. Bila

kita mempelajari tanda yang satu dengan tanda-tanda yang lain

membentuk sebuah sistem, dan kemudian dibuat sistem tanda. Lebih

sederhananya semiotik mempelajari bagaimana sistem tanda

membentuk sebuah makna. Menurut John Fiske, konsentrasi semiotik

adalah pada hubungan yang timbul antara sebuah tanda dan makna

yang terkandung di dalamnya, juga bagaimana tanda-tanda tersebut

dikomunikasikan dalam kode-kode.

Menurut James Monaco, seseorang ahli yang lebih berafiliasi

dengan gramatika (tata bahasa) mengatakan bahwa film (iklan) tidak

mempunyai gramatika (film has no grammar). Untuk itu ia

menawarkan kritik bahwa tehnik yang digunakan dalam film (iklan)

dan gramatika pada sifat kebahasaannya adalah tidak sama. Akan

sangat beresiko apabila memaksa dengan menggunakan kajian

linguistik untuk menganalisa sebuah film (iklan), karena film (iklan)

terdiri dari kode-kode yang beraneka ragam. “There is no ‘language’

or photographs of film, no sigle significant of system (as supossed to

technical apparartus) upon which all photographs or film depend (in

the sense in which all texts in English depend upon the English

(48)

which potographs or film may draw” (Chandler, 2002:

www.aber.ac.uk).

Kritik yang paling tajam menurut Barthes adalah yang diajukan

oleh Don Slater, terhadap semiotik milik Saussure :

“…describe the internal structure of system of meaning, and in answer to a rather new kind of kind of question, not ‘why she say that?’, ‘why are BMW’s status symbol?’, ‘ why in our society

Penerapan Semiotik pada iklan televisi, berarti kita harus

memperhatikan aspek medium televisi yang berfungsi sebagai tanda.

Maka dari sudut pandang ini jenis ambilan kamera (selanjutnya

disebut shot saja) dan kerja kamera (camera work). Dengan cara ini,

peneliti bisa memahami shot apa saja yang muncul dan bagaimana

maknanya. Misalnya, Close-Up (CU) shot berarti pengambilan kamera

dari leher ke atas atau menekankan bagian wajah, makna dari (CU)

shot adalah keintiman dan sebagainya. Selain shot, yang terdapat pada

camera work atau kerja kamera yaitu bagaimana gerak kamera

terhadap objek, misalnya panning-up atau pan-up yaitu gerak kamera

(49)

atas, dan ini bermakna adanya otoritas atau kekuasaan pada objek

yang diambil (Berger, 1987:37).

Lebih jauh yang harus diperhatikan tidak hanya shot dan

camerawork tetapi juga suara. Suara meliputi sound effect dan musik.

Televisi sebagai media audio visual tidak hanya mengandung unsur

visual, namun juga suara, karena suara merupakan aspek kenyataan

hidup. Suara yang keras, menghentak, lemah, memiliki makna yang

berbeda-beda. Setiap suara mengekspresikan sesuatu yang unik

(Sumarno, 1996:71).

2.1.10 Model Semiotika J ohn Fiske

John Fiske adalah salah satu tokoh semiotika komunikasi

dalam bukunya Cultural and Communication Studies, disebutkan

bahwa terdapat dua persepektif dalam mempelajari ilmu komunikasi

sebagai transmisi pesan, sedangkan perspektif yang kedua melihat

komunikasi sebagai produksi dan pertukaran makna. Bagi perspektif

yang kedua, studi komunikasi adalah studi tentang teks dan

kebudayaan, metode studinya yang utama adalah semiotika (ilmu

tentang tanda dan makna) (Fiske, 2006:9).

John Fiske memperkenalkan konsep the codes of television

(50)

yang digunakan dan muncul pada sebuah tayangan televisi dan

bagaimana kode-kode tersebut saling berhubungan dalam membentuk

sebuah makna. Menurut Fiske, sebuah kode tidak ada begitu saja.

Namun sebuah kode dipahami secara komunal oleh komunitas

penggunanya. Lebih lanjut mengenai teori ini, kode ini digunakan

sebagai penghubung antara produser, teks dan penonton.

Teori yang dikemukakan John Fiske dalam The Codes of

Television (Fiske,1987) menyatakan bahwa peristiwa yang telah

dinyatakan telah diencode oleh kode-kode sosial adalah sebagai

berikut:

1. Level Realitas (Reality)

Level ini menjelaskan suatu peristiwa yang dikonstruksikan

sebagai realitas oleh media, yang berhubungan dengan

kode-kode sosial antara lain: penampilan (appearance), kostum

(dress), riasan (make up), lingkungan (environment), kelakuan

(behaviour), dialog (speech), gerakan (gesture), ekspresi

(expression), dan suara (sound).

2. Level Representasi

Di sini kita menggunakan perangkat secara teknis. Level

representasi berhubungan dengan kode-kode sosial antara lain:

(51)

musik (music) dan suara (sound) yang ditranmisikan sebagai

kode-kode representasi yang besifat konvensional.

a. Teknik kamera, jarak dan sudut pengambilan.

- Long shot : Pengambilan yang menunjukkan semua bagian

dari objek, menekankan pada background. Shot ini

biasanya dipakai dalam shot yang lebih lama dan

lingkungannya dari pada individu sebagai fokusnya.

- Estabilishing shot : Biasanya digunakan untuk mebuka

suatu adegan.

- Medium Shot : Menunjukkan subjek atau aktornya dan

lingkungannya dalam ruang yang sama. Biasanya

digunakan untuk memperlihatkan kehadiran dua atau tiga

aktor secara dekat.

- Close Up : Menunjukkan sedikit dari scene, seperti

karakter wajah dalam detail sehingga memenuhi layar, dan

mengaburkan objek dengan konteksnya. Pengambilan ini

memfokuskan pada perasaan dan reaksi dari seseorang, dan

kadangkala digunakan dalam percapakan untuk

menunjukkan emosi seseorang.

- View Point : Jarak dan sudut nyata darimana kamera

(52)

- Point of view : Sebuah pengambilan kamera yang

mendekatkan posisinya pada pandangan seseorang yang

ada dan sedang memperlihatkan aksi lain.

- Selective focus : Memberikan efek dengan menggunakan

peralatan optikal untuk mengurangi ketajaman dari image

atau bagian lainnya. Misalnya : Wide angle shot, title shot,

angle shot dan two shot.

b. Teknik Editing

- Cut : Perubahan secara tiba-tiba dari suatu pengmbilan

sudut pandang atau lokasi lainnya. Ada bermacam-macam

cut yang mempunyai efek untuk merubah scene,

mempersingkat waktu, memperbanyak point of view, anda

membentuk kesan terhadap image atau ide.

- Jump cut : Untuk membuat suatu adegan yang dramatis.

- Motived cut : Bertujuan untuk membuat penonton segera

ingin melihat adegan selanjutnya yang tidak ditampilkan

sebelumnya.

c. Penggunaan Suara

- Commentar voice-over narration : Biasanya digunakan

untuk memperkenalkan bagian orang tertentu dari suatu

(53)

gambar, untuk menginterpretasikan kesan pada penonton

dari suatu sudut pandang, menghubungkan bagian atau

sequences dan program secara bersamaan.

- Sound effect : Untuk memberikan tambahan ilusi pada

suatuu kajian.

- Musik : Untuk mempertahankan kesan dari suatu fase

untuk mengiringi suatu adegan, warna emosional pada

musik turut mendukung keadaan emosional suatu adegan.

d. Pencahayaan : Macamnya soft and hard lighting, dan

backlighting. Cahaya menjadi unsur media visual, karena

cahayanya informasai dapat dilihat. Cahaya ini pada

mulanya hanya merupakan unsur teknis yang membuat

benda dapat dilihat. Namun dalam perkembangannya

ternyata fungsinya berkembang semakin banyak. Yakni

mampu menjadi informasi waktu, menunjang mood atau

bisa menunjang dramatik adegan (Biran,2006:43).

3. Level ideologi.

Ideologi tidak hanya berisi kompleksitas arti sebuah pesan

dimana sebuah pesan yang dangkal ternyata mempunyai arti

yang lebih dalam dan mempunyai efek buat penontonnya.

(54)

(konflik), character (karakter), action (aksi), dialogue (dialog),

casting (pemeran).

Dalam penelitian ini penulis menggunakan model semiotika

John Fiske karena tayangan iklan rokok Djarum 76 versi Jin Takut

Istri di televisi ini memiliki kode-kode yang memunculkan makna

tertentu, sehingga dapat diteliti menggunakan level-level yang

dikemukakan oleh Fiske.

Macam-macam ideologi :

a. Liberalisme

Mengenai konsep liberalism, dapat kita tarik beberapa

pokok pemikiran yang terkandung di dalamnya, sebagai

berikut :

1. Inti pemikiran : kebebasan individu.

2. Perkembangan : berkembang sebagai respons terhadap

pola kekuasaan Negara yang absolut, pada tumbuhnya

negara otoriter yang disertai dengan pembatasan ketat

melalui berbagai undang-undang dan peraturan

terhadap warganegara.

3. Landasan pemikirannya adalah bahwa manusia pada

(55)

harus diadakannya pola-pola pengaturan yang ketat dan

bersifat memaksa terhadapnya.

b.Konservatisme

Hal atau unsur yang terkandung di dalamnya, antara lain :

1. Inti pemikiran : memelihara kondisi yang ada,

mempertahankan kestabilan, baik berupa kestabilan

yang dinamis maupun kestabilan yang statis. Tidak

jarang pula bahwa pola pemikiran ini dilandasi oleh

kenangan manis mengenai kondisi terkini dan masa

lampau.

2. Filsafatnya adalah bahwa perubahan tidak selalu berarti

kemajuan. Oleh karna itu, sebaiknya perubahan

berlangsung tahap demi tahap, tanpa menggoncang

struktur sosial politik dalam negara atau masyarakat

yang bersangkutan.

3. Landasan pemikirannyaadalah bahwa pada dasarnya

manusia lemah dan terdapat “evil instinct and desires”

dalam dirinya. Oleh karna itu perlu pola-pola

(56)

c. Komunisme

Gelombang komunisme abad ke-20 ini, tidak bias

dilepaskan dari kehadiran Partai Bolshevik di Rusia.

Gerakan-gerakan komunisme internasional yang tumbuh

sampai sekarang boleh dikatakan merupakan

perkembangan dari Partai Bolshevik yang didirikan oleh

Lenin :

1. Inti pemikiran : perjuangan kelas dan penghapusan

kelas-kelas di masyarakat, sehingga negara hanya

sasaran antara.

2. Landasan pemikiran : a. penolakan situasi dan kondisi

masa lampau, baik secara tegas maupun tidak, b.

analisa yang cenderung negatif terhadap situasi dan

kondisi yang ada, c. berisi resep perbaikan untuk masa

depas, d. rencana-rencana tindakan jangka pendek yang

memungkinkan terwujudnya tujuan-tujuan yang

berbeda-beda.

d.Marxisme

Tiga hal yang merupakan komponen dasar Marxisme

adalah :

(57)

2. Sikap terhadap masyarakat kapitalis yang bertumpu

pada teori nilai kerja dari David Ricardo (1772) dan

Adam Smith (1723-1790).

3. Menyangkut teori Negara dan teori revolusi yang

dikembangkan atas dasar konsep perjuangan kelas.

Konsep ini mampu membawa masyarakat kea rah

komunitas kelas.

e. Feminisme

1. Inti pemikiran : emansipasi wanita.

2. Landasan pemikiran : bahwa wanita tidak hanya

berkutat pada urusan wanita saja melainkan juga dapat

melakukan seperti apa yang dilakukan pria. Wanita

dapat melakukan apa saja.

f. Sosoalisme

Hal-hal pokokyang terkandung dalam sosialisme adalah :

1. Inti pemikiran : kolektifitas (kebersamaan), (gotong

royong).

2. Filsafatnya : pemerataan dan kesederajatan bahwa

pengaturan agar setiap orang diperlakukan sama dan

ada pemerataan dalam berbagai hal (pemerataan

(58)

3. Landasan pemikiran : bahwa masyarakat dan juga

negara adalah suatu pola kehidupan bersama. Manusia

tidak bias hidup sendiri-sendiri, dan manusia akan lebih

baik serta layak kehidupannya jika ada kerja sama.

g.Fasisme

1. Inti pemikiran : Negara diperlukan untuk mengatur

masyarakat.

2. Filsafat : rakyat diperintah dengan cara-cara yang

membuat mereka takut dan dengan demikian menjadi

patuh kepada pemerintah. Lalu, pemerintah yang

mengatur segalanya mengenai apa yang diperlukan dan

apa yang tidak diperlukan rakyat.

3. Landasan pemikiran : suatu bangsa perlu mempunyai

pemerintahan yang kuat dan berwibawa sepenuhnya

atas berbagai kepentingan rakyat dan dalam

hubungannya dengan bangsa-bangsa lain.

h.Kapitalisme

Kapitalisme adalah bentuk sistem perekonomian

(59)

2. Filsafat : Negara tidak boleh mencampuri

kegiatan-kegiatan perekonomian, khususnya menyangkut

kegiatan perekonomian perseorangan.

3. Landasan pemikiran : kebebasan ekonomi yang bersifat

perseorangan pada instansi terakhir akan mampu

mengangkat kemajuan perekonomian seluruh

masyarakat.

i. Demokrasi

1. Inti pemikiran : kedaulatan ditangan rakyat.

2. Filsafat : a. ditilik dari pangkal tolak dan perimbangan

yang benar, bahwa sistem ini dimaksudkan untuk

kepentingan sosial dan bukan untuk kepentingan

individu, b. unjustifikasi berbagai macam teori yang

bersebrangan dengan prinsip demokrasi, c. opini umum

dan pengaruhnya.

3. Landasan pemikiran : rakyat membuat ketetapan

hokum bagi dirinya sendiri lewat dewan perwakilan,

yang kemudian dilaksanakan oleh pihak pemerintah.

j. Neoliberalisme

1. Inti pemikiran : mengembalikan kebebasan individu.

(60)

3. Landasan pemikiran : setiap manusia pada hakikatnya

baik dan berbudi pekerti.

2.1.11 Respon Psikologi Warna

Warna merupakan simbol yang menjadi penandaan dalam

suatu hal. Warna juga boleh dianggap sebagai suatu fenomena

psikologi. Respon psikologi dari masing-masing warna:

1. Merah.

Merah merupakan warna power, energy, kehangatan, cinta,

nafsu, agresif, bahaya, kekuatan, kemauan, eksentrik, aktif,

bersaing, warna ini memberikan pengaruh kemauan keras dan

penuh semangat. Sering juga diapresiasikan untuk menunjukan

emosi atau debaran jantung.

2. Oranye.

Oranye merupakan warna energi, keseimbangan, kehangatan,

antusiasme, perluasan, pencapaian bisnis, karir, kesuksesan,

keadilan, penjualan, persahabatan, kesehatan pikiran dan

pengetahuan, daya tahan, kegembiraan, gerak cepat, sesuatu

yang tumbuh, tekanan sosial, modal kecil, murah, ketertarikan

(61)

3. Kuning.

Warna kuning ini bersifat menonjol, semangat untuk maju dan

toleransi tinggi. Pengaruh warna ini antara lain riang,

dermawan, dan sukses. Kuning adalah warna yang berkesan

optimis, dan termasuk pada golongan warna yang mudah

menarik perhatian. Warna ini dapat digunakan untuk menaikan

metabolisme.

4. Merah Muda.

Merah muda berarti memiliki asosiasi yang kuat dengan citra,

keberanian dan kesenangan, ikatan antara merah dan

kehidupan memiliki peranan yang penting dalam kebudayaan

di bumi.

5. Hijau.

Hijau melambangkan alami, sehat, keberuntungan,

pembaharuan, warna bumi, penyembuhan fisik, kesuksesan

materi, kelimpahan, kesuburan, keajaiban, tanaman dan pohon,

pertumbuhan, pencapaian personal, kebangkitan, jiwa muda,

stabilitas, daya tahan, kesegaran, lingkungan, keamanan,

rujukan, cinta, keseimbangan, ketenangan, harapan,

ketergantungan, dan persahabatan. Warna hijau melambangkan

Gambar

Gambar 2.2 Bagan kerangka berpikir penelitian tentang pemaknaan iklan rokok Djarum

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari penelitan ini adalah untuk mengetahui representasi budaya korupsi yang terkandung pada iklan rokok Djarum 76 Versi “Wani Piro” di televisi.. Landasan teori yang

(Analisis Resepsi Audience Mengenai Isi Iklan Rokok Djarum 76 Versi “Wakil Dibuang Rakyat Miskin, Kontes Jin, Korupsi Pungli &.. Sogokan” di Desa Tugu,

Iklan rokok Djarum 76 versi “Wakil Dibuang Rakyat Miskin, Kontes Jin, Korupsi Pungli & Sogokan” hadir sebagai salah satu iklan kreatif yang menampilkan tema

Alasan peneliti memilih untuk menerapkan teori tanda menurut Roland Barthes pada iklan televisi rokok Djarum 76 versi “ Pengin Eksis” ialah untuk melihat makna

Berdasarkan latar belakang diatas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah Bagaimana makna yang terkandung dalam iklan rokok Djarum 76 versi

Konsep cerita yang digunakan dalam iklan Djarum tidak hanya sekedar berisi lelucon saja, tapi juga berisi kritik sosial, seperti dalam iklan Djarum 76 versi Wakil

Tujuan dari penelitan ini adalah untuk mengetahui representasi budaya korupsi yang terkandung pada iklan rokok Djarum 76 Versi “Wani Piro” di televisi.. Landasan teori yang

Televisi merupakan salah satu media dalam beriklan yang menggunakan warna, suara, gerakan dan music atau dapat disebut sebagai media audio visual sehingga televisi sebagai