ANALISIS DAYA SAING KOMODITI TANAMAN HIAS DAN
ALIRAN PERDAGANGAN ANGGREK INDONESIA
DI PASAR INTERNASIONAL
Oleh :
MAYA ANDINI KARTIKASARI NRP. A14105684
PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
ANALISIS DAYA SAING KOMODITI TANAMAN HIAS DAN
ALIRAN PERDAGANGAN ANGGREK INDONESIA
DI PASAR INTERNASIONAL
Oleh :
MAYA ANDINI KARTIKASARI NRP. A14105684
Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Pertanian
Pada
Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor
PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
RINGKASAN EKSEKUTIF
MAYA ANDINI KARTIKASARI, Analisis Daya Saing Komoditi Tanaman Hias dan Aliran Perdagangan Anggrek Indonesia di Pasar Internasional. (Di bawah bimbingan NUNUNG NURYARTONO)
Perkembangan usaha tanaman hias cukup pesat dan telah mampu memenuhi pasar lokal maupun pasar ekspor di mancanegara. Eksistensi usaha tanaman hias cenderung memberikan prospek yang baik terkait dengan trend masyarakat kini yang menyukai keindahan serta nilai estetika dari suatu tanaman. Dalam beberapa tahun ini, ekspor tanaman hias Indonesia ke beberapa negara tujuan mengalami peningkatan yang cukup signifikan, baik dari volume maupun nilainya. Pasar ekspor tanaman hias Indonesia terbesar adalah negara Jepang, diikuti Korea, Belanda, Amerika Serikat dan Singapura.
Salah satu komoditi unggulan tanaman hias Indonesia adalah anggrek. Anggrek merupakan komoditas yang bernilai ekonomi tinggi dan sangat prospektif untuk dibudidayakan. Selain itu, permintaan anggrek dinilai cukup tinggi dan komoditi ini memiliki cakupan wilayah ekspor yang luas. Negara tujuan utama ekspor tanaman hias Indonesia diantaranya adalah Jepang, Korea, Singapura, Belanda dan Amerika Serikat. Kinerja ekspor tanaman hias Indonesia ke lima negara tersebut setiap tahunnya berfluktuasi. Jika dibandingkan dengan Thailand, perolehan nilai ekspor tanaman hias Indonesia ke negara tujuan jauh lebih rendah. Jika perolehan nilai ekspor tanaman hias Indonesia lebih rendah dibandingkan Thailand, maka secara hipotetik penguasaan pasar tanaman hias Indonesia di negara tujuan lebih kecil dibandingkan Thailand.
Berdasarkan masalah yang terjadi dalam industri tanaman hias Indonesia, maka tujuan dari penelitian ini adalah mengukur daya saing komoditi tanaman hias Indonesia dengan Thailand di pasar Jepang, Korea, Singapura, Amerika Serikat dan Belanda. Selanjutnya Menganalisis aliran perdagangan dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor anggrek sebagai komoditi tanaman hias yang diunggulkan Indonesia ke negara-negara tujuan.
pasar Singapura cenderung menurun. Thailand memiliki keunggulan komparatif untuk komoditi tanaman hias di pasar Jepang dan Korea. Di pasar Singapura, Thailand memiliki keunggulan komparatif untuk komoditi tanaman hias pada periode 2004-2006 sedangkan di pasar Amerika Serikat pada periode 2005-2006. Berdasarkan hasil estimasi model gravity aliran perdagangan anggrek Indonesia ke lima negara tujuan diketahui bahwa metode fixed effect merupakan metode yang paling sesuai digunakan. Aliran perdagangan ekspor anggrek Indonesia ke negara tujuan dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni waktu tempuh, pendapatan per kapita, populasi, harga anggrek Indonesia dan nilai tukar. Sementara itu faktor harga anggrek di negara tujuan tidak berpengaruh terhadap model aliran perdagangan.
Judul Skripsi : Analisis Daya Saing Komoditi Tanaman Hias dan Aliran Perdagangan Anggrek Indonesia di Pasar Internasional Nama : Maya Andini Kartikasari
NRP : A.14105684
Menyetujui, Dosen Pembimbing
Dr. Ir. Nunung Nuryartono, MS NIP. 132 104 952
Mengetahui,
Dekan Fakultas Pertanian IPB
Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M.Agr. NIP 131 124 019
PERNYATAAN
DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA KARYA TULIS INI BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI DAN TIDAK MENGANDUNG BAHAN-BAHAN YANG PERNAH DITULIS ATAU DITERBITKAN PIHAK LAIN KECUALI SEBAGAI BAHAN RUJUKAN YANG DINYATAKAN DALAM NASKAH. SAYA JUGA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BELUM PERNAH DIAJUKAN SEBAGAI KARYA TULIS ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN.
Bogor, Mei 2008
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Banjarbaru, Kalimantan Selatan pada tanggal 22 Juni 1983 dari pasangan Ir. H. Darmadji WK, MM dan Hj. Yayah Rosida. Penulis terlahir sebagai anak pertama dari tiga bersaudara.
Penulis masuk pendidikan Taman Kanak-kanak Teratai di Muara Teweh Kalimantan Tengah pada tahun 1987 dan lulus pada tahun 1989. Penulis kemudian melanjutkan pendidikan ke Sekolah Dasar Pengadilan V Bogor pada tahun 1989 dan lulus pada tahun 1995. Selanjutnya penulis meneruskan pendidikan ke Sekolah Menengah Pertama Negeri IV Bogor dan lulus pada tahun 1998. Pendidikan tingkat atas dapat diselesaikan penulis pada tahun 2001 di Sekolah Menengah Umum Negeri I Bogor.
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini tepat pada waktunya. Penelitian yang berjudul “Analisis Daya Saing Komoditi Tanaman Hias dan Aliran Perdagangan Anggrek Indonesia di Pasar Internasional” bertujuan untuk menganalisis daya saing komoditi tanaman hias Indonesia dan membandingkan kinerja ekspor tanaman hias Indonesia dengan Thailand sebagai negara yang maju dalam industri tanaman hias. Selain itu penelitian ini juga bertujuan untuk menganalisis aliran perdagangan anggrek Indonesia di beberapa negara tujuan. Dengan demikian dapat diketahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi ekspor komoditi tanaman hias Indonesia ke masing-masing negara tujuan.
Penulis tertarik mengambil topik perdagangan komoditi tanaman hias karena bisnis ini mempunyai peluang yang cukup baik untuk dikembangkan. Disisi lain, Indonesia mempunyai potensi yang besar untuk mengembangkan bisnis tanaman hias karena memiliki kekayaan sumberdaya hayati. Penulis berharap skripsi ini dapat memberikan manfaat dan menjadi informasi yang berguna bagi semua pihak. Kritik dan saran sangat diharapkan untuk perbaikan di masa mendatang.
Bogor, Mei 2008
Maya Andini K
UCAPAN TERIMA KASIH
Alhamdulillahhirobbil’alamiin,
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga memberikan kekuatan dan kemudahan kepada penulis dalam menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi. Adapun penyelesaian penulisan skripsi ini tidak lepas dari bimbingan, kerjasama dan dukungan banyak pihak, maka pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada :
1. Kedua orang tua tercinta, yang penuh dengan kasih sayang dan selalu memberikan dukungan dan semangat kepada penulis.
2. Dr. Ir. Nunung Nuryartono, MS sebagai dosen pembimbing yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan arahan, masukan dan informasi yang berguna dalam penulisan skripsi penulis.
3. Ir. Yayah K Wagiono, MEc selaku dosen penguji utama, dan Ir. Popong Nurhayati, MM selaku wakil dari komisi pendidikan serta dosen evaluator pada seminar proposal penelitian..
4. Miftah Farid Said atas cinta dan kasih sayangnya yang telah dilimpahkan kepada penulis.
5. Nurrayan Armada atas dukungan dan semangat yang diberikan sebagai teman yang terbaik.
DAFTAR ISI
2.1 Tinjauan Usaha Tanaman Hias ... 142.2 Penelitian Terdahulu ... 14
4.2 Metode Analisis dan Pengolahan Data ... 51
4.3 Revealed Comparative Advantage ... 52
4.4 Gravity Model ... 53
4,6 Pengujian Kesesuaian Model ... 57
4.7 Pengujian Asumsi ... 58
BAB V. GAMBARAN UMUM 5.1 Karakteristik Negara Tujuan ... 61
5.1.1 Perkembangan Industri Tanaman Hias Jepang ... 61
5.1.2 Perkembangan Industri Tanaman Hias Rep.Korea ... 65
5.1.3 Perkembangan Industri Tanaman Hias Singapura ... 68
5.1.4 Perkembangan Industri Tanaman Hias Amerika Serikat ... 72
5.1.5 Perkembangan Industri Tanaman Hias Belanda ... 76
BAB VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1 Analisis Keunggulan Komparatif Tanaman Hias Indonesia ... 80
6.1.1 Analisis Keunggulan Komparatif Tanaman Hias Indonesia dan Thailand di Pasar Jepang... 80
6.1.2 Analisis Keunggulan Komparatif Tanaman Hias Indonesia dan Thailand di Pasar Korea ... 86
Analisis Keunggulan Komparatif Tanaman Hias Indonesia dan Thailand di Pasar Singapura ... 92
6.1.4 Analisis Keunggulan Komparatif Tanaman Hias Indonesia dan Thailand di Pasar Amerika Serikat ... 98
6.1.5 Analisis Keunggulan Komparatif Tanaman Hias Indonesia dan Thailand di Pasar Belanda ... 103
6.2 Aliran Perdagangan Ekspor Anggrek Indonesia Ke Negara Tujuan ... 107
6.2.1 Analisis Regresi Gravity Model Aliran Perdagangan Ekspor Anggrek Indonesia Ke Negara Tujuan ... 108
6.2.2 Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Aliran perdagangan Ekspor Anggrek Indonesia Ke Negara Tujuan ... 111
6.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Daya Saing Tanaman Hias dan Aliran Perdagangan Ekspor Anggrek Indonesia ... 116
BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 Kesimpulan ... 122
7.2 Saran ... 123
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman 1. Volume Dan Nilai Ekspor Komoditi Hortikultura Tahun 2001-2004 .... 3 2. Data Produksi Tanaman Hias Indonesia Tahun 1997-2006 ... 5 3. Nilai Ekspor Tanaman Hias Indonesia Dan Thailand Ke Jepang
Tahun 1996-2006 ... 63 4. Nilai Ekspor Tanaman Hias Indonesia Dan Thailand Ke Korea
Tahun 1996-2006 ... 67 5. Nilai Ekspor Tanaman Hias Indonesia Dan Thailand Ke Singapura Tahun 1996-2006 ... 71
6. Nilai Ekspor Tanaman Hias Indonesia Dan Thailand Ke
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Halaman
1. Nilai Ekspor Indonesia Ke Lima Negara Tujuan ... 128
2. Nilai Impor Lima Negara Tujuan ... 130
3. Nilai Ekspor Thailand Ke Lima Negara Tujuan ... 132
4. Pangsa Ekspor Tanaman Hias Indonesia dan Thailand ... 134
5. Data Variabel Dalam Gravity Model ... 136
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sektor pertanian sampai saat ini masih menjadi salah satu sumber devisa non-migas yang cukup diandalkan di Indonesia. Data menunjukkan pada periode Januari sampai Oktober 2007 telah terjadi peningkatan ekspor senilai US$ 93,26 miliar atau mengalami peningkatan sebesar 13,36 persen dari tahun sebelumnya. Sementara itu, pada periode yang sama ekspor non migas mencapai nilai US$ 75,91 miliar atau meningkat sebesar 17,31 persen dari tahun sebelumnya. Peningkatan ekspor non-migas salah satunya didukung oleh meningkatnya ekspor komoditi pertanian, yakni sebesar 12,69 persen dari tahun sebelumnya.1
Salah satu usaha dalam sektor pertanian, yang berpotensi untuk dikembangkan adalah hortikultura. Dalam era globalisasi perdagangan saat ini, keberadaan produk-produk pertanian Indonesia di pasar dunia harus bersaing dengan produk sejenis dari negara lain. Nilai PDB hortikultura tahun 2006 merupakan nilai tertinggi dibandingkan dua tahun sebelumnya, yakni sebesar Rp. 66,892 triliun. Sedangkan pada tahun 2004 dan 2005 nilai PDB hortikultura masing-masing sebesar Rp. 56,845 triliun dan Rp. 61,791 triliun.3 Produk hortikultura meliputi buah-buahan, diikuti sayuran, tanaman hias dan tanaman biofarmaka. Dari keempat komoditi hortikultura tersebut, komoditi tanaman hias mempunyai potensi besar untuk dikembangkan. Data volume dan nilai ekspor komoditi hortikultura dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Volume dan Nilai Ekspor Komoditi Hortikultura Tahun 2001-2004
Tahun Tanaman
Sumber : Direktorat Jendral Hortikultura (www.hortikultura.go.id).
berada di dalam kawasan Asia maupun di luar kawasan Asia. Negara-negara yang berada di kawasan Asia yang menjadi pasar potensial tanaman hias diantaranya Jepang, Korea, Taiwan, China dan Singapura. Hal ini dikarenakan tingkat konsumsi tanaman hias di negara-negara tersebut tergolong tinggi.4 Adapun keuntungan yang diperoleh dari perdagangan antar negara-negara di kawasan Asia adalah jarak antar negara yang relatif dekat, biaya lebih rendah dan prosedur pengiriman lebih mudah.
Selain di kawasan Asia, negara-negara lain yang merupakan pasar potensial tanaman hias diantaranya Amerika Serikat, Canada, Columbia, Belanda, Italia, dan Jerman. Pasar di kawasan Amerika dan Eropa rata-rata menyukai tanaman hias yang didatangkan dari kawasan Asia Tenggara karena dinilai mempunyai harga relatif lebih murah dan banyak menghasilkan ragam jenis terutama hasil persilangan. Meskipun demikian, eksportir tanaman hias Asia Tenggara mengalami ketidakuntungan dalam biaya pengiriman yang tinggi karena jarak tempuh antar negara cukup jauh.5
Keragaman jenis dan keunikan bentuk yang dimiliki tanaman hias Indonesia tidak hanya digemari oleh konsumen dalam negeri, namun juga diminati oleh konsumen luar negeri. Salah satu komoditi unggulan tanaman hias Indonesia adalah anggrek. Selain anggrek, Indonesia masih mempunyai beberapa jenis tanaman hias yang menjadi andalan komoditi ekspor seperti ; krisan, mawar, sedap malam, lily, anthurium, melati dan sebagainya. Peningkatan volume dan nilai ekspor tanaman hias Indonesia salah satunya didukung oleh berkembangnya kegiatan produksi. Data produksi tanaman hias dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Data Produksi Tanaman Hias Indonesia Tahun 1997-2006
Tahun Anggrek
1997 6.502.669 4.282.433 12.504.879 10.062.753 123.439.324 7.584.660 3.051.940
1998 7.780.202 1.670.465 6.471.772 4.445.770 63.291.838 25.052.464 2.401.066
1999 3.206.992 404.127 2.532.171 1.468.213 33.594.352 13. 450.881 3. 002.643
2000 3.260.858 583.728 4.843.188 2.281.125 78.147.515 15.134.842 754.067
2001 4.450.787 773.299 4.448.199 7.387.737 84.951.741 19.524.815 426.964
2002 4.995.735 1.006.075 10.876.948 25.804.630 55.708.137 18.233.644 1.189.617
2003 6.904.109 1.263.770 7.114.382 27.406.464 50.766.656 15.740.955 668.154
2004 8.127.528 1.112.724 14.416.172 29.503.257 57.983.747 21.622.699 445.126
2005 7.902.403 2.615.999 14.512.619 47.465.794 60.719.517 22.552.537 751.505
2006 11.370.266 1.984.514 10.483.851 62.947.649 40.184.312 15.662.855 1.036.641
Sumber : Ditjen Bina Produksi Hortikutura (www.Hortikultura.go.id).
kompleks perumahan, perhotelan dan perkantoran bertambah asri serta menunjang pembangunan industri pariwisata. Pembangunan industri tanaman hias juga diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja, menambah devisa negara dan membuka peluang tumbuhnya industri sarana produksi, produk sekunder dan jasa transportasi.
1.2 Rumusan Masalah
Setelah masa krisis ekonomi (2001-2004) pertumbuhan ekspor komoditi pertanian Indonesia sebesar 13,4 persen dan pangsa ekspor komoditi pertanian di dunia sebesar 1,87 persen. Sementara itu pertumbuhan ekspor komditi pertanian Thailand sebesar 12,7 persen dengan pangsa ekspor di pasar dunia mencapai 2,84 persen. Untuk komoditi pertanian yang diekspor Indonesia tidak semua memiliki daya saing di pasar dunia. Beberapa komoditi pertanian Indonesia yang memiliki daya saing di pasar dunia diantaranya adalah ikan dan berbagai produk olahannya, kopi, teh, coklat, lada dan tembakau. Sedangkan komoditi pertanian Thailand yang memiliki daya saing di pasar dunia antara lain daging dan produk olahannya, ikan dan produk olahannya, sereal dan produk olahannya, sayuran, buah-buahan serta gula dan produk olahannya. Dapat disimpulkan bahwa meskipun Indonesia memiliki ketersediaan sumberdaya alam yang cukup melimpah, namun Indonesia belum maksimal dalam mengolah lebih lanjut berbagai produk pertanian untuk memenuhi permintaan pasar. Padahal dengan meningkatkan produksi berbagai produk olahan dari komoditi pertanian, Indonesia dapat memperoleh keuntungan yang lebih besar dibandingkan mengekspor dalam bentuk segar saja.
urutan ke tiga setelah Brazil dan Columbia. Akan tetapi penanganan tanaman hias di Indonesia diakui memang jauh tertinggal dengan negara-negara lain. Jika dilihat dari perkembangan usaha tanaman hias di kawasan Asia Tenggara, Indonesia masih berada di bawah negara Thailand dan Malaysia yang merupakan negara maju dalam industri tanaman hias. Terlebih jika dibandingkan dengan negara Belanda, Amerika Serikat dan Columbia, keberadaan Indonesia di pasar tanaman hias dunia masih memiliki porsi yang kecil.
Dari fenomena bebarapa negara tersebut di atas, mengindikasikan bahwa peranan tanaman hias dalam dunia perdagangan begitu penting dalam menghasilkan pendapatan negara. Thailand bahkan memposisikan tanaman hias dalam prioritas utama untuk dikembangkan. Para pelaku bisnis tanaman hias mampu menangkap peluang pasar sehingga terus mengupayakan agar industri tanaman hias dapat berkembang, selain untuk memenuhi permintaan pasar, juga untuk mensejahterakan produsen dan masyarakat negara tersebut.
Dari berbagai macam jenis tanaman hias, tanaman anggrek merupakan jenis tanaman hias yang paling diunngulkan Indonesia. Selain karena Indonesia kaya akan keragaman jenis anggrek, tanaman anggrek juga memiliki nilai jual yang cukup tinggi dan banyak diminati oleh masyarakat baik dari dalam maupun luar negeri.
Dengan demikian, berdasarkan uraian yang telah dikemukakan sebelumnya maka rumusan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini mencakup :
2. Bagaimana aliran perdagangan anggrek Indonesia dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kinerja ekspor anggrek ke negara tujuan ?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan tersebut di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Mengukur daya saing komoditi tanaman hias Indonesia dengan Thailand di pasar Jepang, Korea, Singapura, Amerika Serikat dan Belanda.
2. Menganalisis aliran perdagangan dan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor anggrek sebagai komoditi tanaman hias yang diunggulkan Indonesia ke negara-negara tujuan.
1.4 Kegunaan Penelitian
Penelitian ini bermanfaat dalam memberikan informasi kepada berbagai pihak mengenai daya saing tanaman hias Indonesia di pasar Jepang, Korea, Singapura, Belanda dan Amerika Serikat. Selain itu, penelitian ini juga dapat memberikan informasi tentang bagaimana aliran perdagangan anggrek Indonesia ke negara tujuan serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor anggrek ke negara tujuan. Adapun kegunaan penelitian ini secara khusus memberikan manfaat kepada :
2. Petani dan pelaku pasar, hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi dalam merencanakan pengembangan agribisnis tanaman hias dan dapat menjadi masukan dalam penetapan strategi yang akan diterapkan pada masa kini maupun masa datang.
3. Penulis dan khalayak pembaca, penelitian ini dapat menjadi sarana pembelajaran dalam menganalisis daya saing dan aliran perdagangan tanaman hias Indonesia di pasar dunia. Selain itu dapat dijadikan bahan litertur dalam penelitian-penelitian selanjutnya.
1.5 Ruang Lingkup Penelitian
Sehubungan dengan keterbatasan waktu, ketersediaan data serta kemampuan dalam melakukan penelitian, maka ruang lingkup penelitian ini terbatas pada :
1. Penelitian ini menganalisis serta membandingkan daya saing tanaman hias Indonesia dengan Thailand dari segi keunggulan komparatif dan menganalisis aliran perdagangan anggrek sebagai komoditi tanaman hias yang diunggulkan Indonesia ke negara tujuan yakni Jepang, Korea, Singapura, Belanda dan Amerika Serikat.
2. Negara-negara yang menjadi objek penelitian ditentukan berdasarkan negara tujuan ekspor terbesar tanaman hias Indonesia.
3. Penelitian ini menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor anggrek Indonesia dilihat dari sisi penawaran dan permintaannya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Usaha Tanaman Hias
Tanaman hias baik bunga maupun daun telah lama dikenal luas dalam kehidupan masyarakat. Selain sebagai komoditi yang mengandung nilai estetika dan memberi kepuasan psikologis, beberapa jenis tanaman hias juga dianggap mempunyai mitos tertentu yang dapat memberikan pengaruh baik ataupun buruk bagi pemiliknya. Adapun kegunaan lain tanaman hias adalah dapat digunakan sebagai pemenuhan kebutuhan untuk menyatakan suatu simbol dalam kehidupan sehari-hari.
Masyarakat Indonesia memiliki selera yang unik dan beragam dalam memilih tanaman hias. Jika melihat perkembangan tanaman hias di Indonesia, telah terjadi beberapa perubahan trend dalam jenis dan bentuk tanaman hias. Pada tahun 1970-an, bunga nusa indah banyak disukai dan dicari oleh para pecinta tanaman hias. Warna bunganya yang putih dan merah cerah dianggap melambangkan kesejahteraan pemiliknya, sehingga hampir disetiap tempat baik itu di perumahan maupun perkantoran memajang bunga nusa indah.
Tidak hanya palem, tahun 1990-an juga menjadi trend tanaman peneduh seperti kamboja dan cemara.7
Trend tanaman hias cepat berganti seiring dengan pergantian tahun. Pada tahun 2000, jenis tanaman adenium, euphorbia dan aglaonema menjadi andalan di pasar tanaman hias. Jenis tanaman tersebut sebagian besar merupakan hasil silangan yang didatangkan dari Thailand dan Taiwan.8 Ketiganya sempat menjadi jenis tanaman yang paling banyak diminati oleh para kolektor dan pecinta tanaman hias. Di tahun 2007, jenis tanaman anthurium menjadi sangat populer di industri tanaman hias baik di dalam maupun di luar negeri. Meskipun demikian, beberapa jenis tanaman hias yang sempat menjadi trend pada masanya adalah jenis tanaman yang sudah lama dikenal. Anthurium sudah banyak dikenal sejak 40 tahun yang lalu, begitu juga dengan adenium atau kamboja jepang, euphorbia dan aglaonema yang sudah dikenal lama di kalangan pecinta tanaman hias.9
Namun demikian, jika dibandingkan dengan beberapa jenis tanaman hias yang pernah menjadi trend pada masanya, tanaman anggrek selalu mendapatkan tempat di hati para penggemarnya. Dengan kata lain, keberadaan anggrek tidak pernah lekang oleh waktu. Di Indonesia terdapat 5.000 jenis anggrek yang keberadaannya tersebar hampir di seluruh kepulauan Indonesia. Diperkirakan setengah dari spesies ini terdapat di Irian Jaya, sedangkan 2.000 spesies lainnya terdapat di Kalimantan dan sisanya tersebar di pulau-pulau lain. Di pulau Jawa sendiri, menurut data Kebun Raya Bogor terdapat 713 spesies anggrek yang sudah teridentifikasi. Jenis anggrek yang paling banyak diminati diantaranya Dendrobium, Phalaenopsis, Vanda, Cymbidium, Bullbophilum dan Coelogyne. Selera konsumen terhadap mutu bunga potong anggrek sangat spesifik dan berkembang sangat dinamis ke arah yang lebih serasi dan sempurna dari segi keindahan, warna, ukuran, susunan, daya tahan dan bentuk bunga tersebut. Selera masyarakat terhadap bunga dipengaruhi dan ditentukan oleh produsen dan trend luar negeri. Pada tahun 1983, selera konsumen terhadap anggrek Vanda lebih tinggi dibandingkan Aranthera dan Dendrobium. Sedangkan pada tahun 1986 selera konsumen mulai beralih, kesukaan konsumen terhadap Vanda sama dengan kesukaan terhadap Dendrobium. Pada saat ini, anggrek yang dominan disukai masyarakat adalah Dendrobium, diikuti Oncidium, Cattleya dan Vanda.11
anggrek. Sedangkan Vanda, jarang sekali digunakan untuk rangkaian karena tangkainya kaku. Anggrek Vanda banyak digunakan sebagai pemanis gelas minuman dan simbol ungkapan dukacita.
Perkembangan teknologi memungkinkan untuk menghasilkan anggrek yang berwarna-warni, tahan lama dan harga yang relatif terjangkau. Pemilihan warna bunga anggrek yang dikonsumsi banyak dipengaruhi oleh maksud penggunaannya. Pada hari natal, warna bunga yang disukai didominasi oleh warna putih. Pada hari imlek bunga yang disukai berwarna merah, pink dan ungu sedangkan untuk tanda belasungkawa, umumnya digunakan bunga berwarna kuning atau ungu.
Dari segi ekonomi, bisnis anggrek dinilai cukup menjanjikan. Hal itu dikarenakan harga jual anggrek yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman hias lain. Namun sangat disayangkan sampai saat ini belum terdapat fasilitas kredit bank untuk lebih menunjang usaha ini, sehingga para pengusaha tanaman hias di tanah air umumnya berjalan sendiri dengan dukungan yang minim dari pemerintah.
Pusat Statistik (BPS, 2007) menunjukkan kenaikan volume ekspor tanaman hias Indonesia per tahunnya sebesar 15-20 persen dan nilainya rata-rata sebesar US$ 12 juta, sangat jauh dari proyeksi pasar florikultur dunia yang menargetkan nilai perdagangan tanaman hias pada tahun 2007 sebesar US$ 80 miliar. Saat ini perkembangan industri tanaman hias Indonesia menempati urutan ke-51 di dunia.12 Hal itu membuktikan bahwa pertumbuhan industri tanaman hias di Indonesia berjalan lambat dan sektor ini tampaknya belum menjadi andalan untuk meningkatkan devisa. Disisi lain peluang pasar domestik dan internasional sangat prospektif. Oleh karena itu sudah saatnya Indonesia memanfaatkan dan mengembangkan potensi nasional menjadi industri tanaman hias yang tangguh dan mempunyai daya saing tinggi.
2.2 Penelitian Terdahulu
2.2.1 Penelitian Tentang Tanaman Hias
Chaizar (2007) melakukan penelitian tentang analisis pendapatan usahatani philodendron dan tanaman hias puring. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pendapatan usahatani yang diperoleh petani tanaman hias serta menganalisis produk apakah yang dapat dijadikan produk unggulan pada PD Atsumo. Alat analisis yang digunakan untuk pengolahan data adalah microsoft excel dan analisis R/C untuk menganalisis produk usahatani yang paling efisien.
Hasil yang diperoleh dari urutan nilai R/C memperlihatkan bahwa bunga potong menempati urutan pertama sebagai produk tanaman hias unggulan. Produk dengan tingkat biaya paling tinggi memberikan pendapatan yang tinggi pula. Urutan kedua adalah euphorbia dan tanaman puring yang posisinya lebih bergantung terhadap trend yang sedang berkembang. Akibatnya, produk tersebut mengalami penurunan harga jual yang sangat drastis.
Penelitian yang dilakukan oleh Rositasari (2006) tentang strategi pemasaran tanaman hias daun. Penelitian ini mengidentifikasi faktor-faktor lingkungan eksternal dan internal pemasaran tanaman hias daun potong di Pesona Daun Mas Asri, Bogor. Selain itu juga merumuskan alternatif strategi pemasaran dan pemilihan strategi yang tepat. Metode yang digunakan adalah analisis lingkungan pemasaran (internal dan eksternal), analisis IFE dan EFE, analisis IE dan SWOT, serta Proses Hierarki Analitik (PHA).
mempunyai posisi internal yang kuat dan mampu menggunakan kekuatan yang dimiliki untuk menutupi kelemahan. Dalam matriks SWOT diperoleh strategi utama yakni (S-O) strategi penetrasi pasar di wilayah DKI Jakarta dan diversifikasi serta pengembangan produk. Sedangkan hasil dari analisis PHA diperoleh strategi penetapan kebijakan harga yang fleksibel.
Saepuloh (2005) menggunakan metode snowbolling dengan jumlah sample sebayak 16 responden. Penelitian ini menganalisis tingkat pendapatan pedagang pengecer tanaman hias dan menganalisis pola pemasarannya. Dari hasil yang diperoleh dinyatakan bahwa usaha tanaman hias di kota Bogor menguntungkan petani, dengan nilai R/C rasio 1,34 dan R/C biaya total 1,23. para pelaku pasar tanaman hias antara lain petani, pedagang perantara, pedagang pengecer dan konsumen akhir.
Adapun penelitian tentang kelayakan usahatani lainnya dilakukan oleh Dorkas (2004). Penelitian ini mengkaji keragaan usaha tanaman hias serta menganalisis kelayakan usaha finansial dan tingkat kepekaan investasi. Metode yang digunakan adalah NPV, Net B/C, IRR dan PP. Dari hasil analisis aspek finansial dikatakan bahwa tanaman hias layak diusahakan. Berdasarkan analisis sensitivitas, penurunan output lebih sensitif dibandingkan dengan kenaikan input.
2.2.2 Penelitian Tentang Daya Saing
kompetitif lidah buaya, metode yang digunakan adalah analisis Biaya Sumberdaya Domestik (BSD) untuk mengetahui koefisien BSD dan hasil keunggulan komparatif dan kompetitifnya.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan secara umum lidah buaya memiliki keunggulan finansial dan ekonomi. Nilai KBSD yang diperoleh untuk orientasi promosi ekpor pada tahun pertama dan kedua masing-masing sebesar 0,5658 dan 0,1382. Sedangkan nilai BSD untuk tahun pertama dan kedua adalah Rp. 5.860,27 dan Rp. 1.431,96. nilai KBSD dan BSD tersebut menandakan komoditi lidah buaya di daerah penelitian layak untuk diusahakan untuk memenuhi kebutuhan promosi ekspor atau lebih menguntungkan untuk memproduksi lidah buaya daripada mengimpornya.
Penelitian Tatakomara (2005) mengenai Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ekspor Teh dan Daya Saing di Pasar Internasional. Penelitian ini menggambarkan perkembangan ekspor teh Indonesia, menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor teh serta potensi daya saing teh Indonesia di pasar internasional. Metode kuantitatif yang digunakan untuk menganalisis faktor pengaruh ekspor teh adalah model regresi linear berganda dengan metode 2SLS.
terutama mutu tehnya. Peningkatan produksi perlu didukung oleh peningkatan mutunya sehingga ekspor dapat ditingkatkan semaksimal mungkin.
Penelitian Monsaputra (2007) tentang daya saing durian serta dampak kebijakan pemerintah terhadap usahatani durian di Sumatera Barat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Policy Analisys Matriks (PAM). Hasil penelitian menunjukkan usahatani durian di Sumatera Barat menguntungkan secara finansial dan ekonomi serta memiliki daya saing baik pada harga aktual maupun pada harga ekonomi. Hal tersebut diketahui dari nilai PCR dan DRC di keempat kecamatan sampel yang kurang dari satu. Adapun kebijakan pemerintah terhadap usahatani durian belum memberikan dampak yang signifikan. Diketahui dari nilai OT yang negatif dan NPCO bernilai kurang dari satu.
2.2.3 Penelitian Tentang Revealed Comparative Advantage (RCA)
Penelitian yang dilakukan oleh Firdaus (2007) tentang Analisis Daya Saing dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ekspor Tekstil dan Produk Tekstil Indonesia di Pasar Amerika Serikat. Penelitian ini menggunakan metode Constant Market Share Analysis (CMSA) dalam mengukur dinamika tingkat daya saing yang dilanjutkan dengan metode Revealed Comparative Advantage (RCA) untuk menganalisis keunggulan TPT Indonesia dan China di pasar Amerika Serikat. Untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor TPT Indonesia ke Amerika Serikat, digunakan metode Vector Error Correction Model (VECM) .
pakaian jadi Indonesia lebih baik dibandingkan China. Hal itu karena ekspor pakaian jadi Indonesia ke Amerika Serikat memberikan kontribusi yang besar terhadap total ekspor Indonesia ke Amerika Serikat. Perkembangan indeks RCA menunjukkan bahwa pangsa pasar Indonesia di Amerika Serikat untuk komoditi pakaian jadi, kain dan benang cenderung berfluktuasi setiap tahunnya dan pangsa pasar China di Amerika Serikat cenderung bertambah.
Dalam penelitian yang dilakukan Yastuti (2004) menunjukkan kategori tekstil dan produk tekstil unggulan Indonesia adalah kategori serat sintetis, kain tertentu, dan pakaian jadi. Selama tahun 1998 sampai 2002 produk-produk tersebut menunjukkan nilai indeks yang lebih besar dari satu dan nilainya meningkat. Sementara itu dari posisi keunggulan kompetitif belakangan ini industri TPT Indonesia kehilangan daya saingnya yang disebabkan oleh kepabenan, pembiayaan usaha dan kredit, pajak pertambahan nilai dan pajak bumi dan bangunan yang dinilai cukup mahal.
2.2.4 Penelitian Tentang Gravity Model
menjelaskan variasi dari parameter tak bebas yaitu volume meubel rotan yang diekspor. Hal ini dibuktikan dengan nilai R2 yang tinggi sebesar 77,5 persen, sedangkan sisanya sebesar 22,5 persen tidak dapat dijelaskan oleh model.
Berdasarkan unsur-unsur gravity yang dianalisis terhadap aliran perdagangan meubel rotan, pendapatan per kapita berpengaruh positif dan nyata pada taraf lima persen terhadap volume ekspor rotan. Jarak Indonesia dengan negara tujuan ekspor meubel rotan berpengaruh negatif terhadap volume ekspor meubel rotan dan tidak nyata pada taraf lima persen. Biaya transportasi berpengaruh negatif dan nyata pada taraf lima persen. Jumlah penduduk di negara tujuan ekspor berpengaruh negatif dan nyata pada taraf lima persen. Nilai tukar Rupiah terhadap Dollar berpengaruh positif dan tidak nyata pada taraf lima persen. Harga meubel rotan berpengaruh negatif terhadap volume ekspor meubel rotan dan tidak nyata pada taraf lima persen. Ringkasan mengenai penelitian terdahulu ditampilkan dalam Tabel 3.
Pemilihan metode RCA sebagai alat untuk mengukur daya saing tanaman hias Indonesia di negara tujuan karena relatif lebih mudah digunakan. Hasil yang diperoleh diharapkan dapat menunjukkan kondisi daya saing tanaman hias Indonesia di negara tujuan secara komparatif.
Tabel 3. Ringkasan Penelitian Terdahulu
Nama Tahun Tujuan penelitian Metode penelitian
R/C Ratio Produk dengan tingkat biaya paling tinggi memberikan pendapatan yang tinggi pula
Rositasari 2006 Menganalisis startegi pemasaran tanaman hias daun
IFE, EFE, IE, SWOT, PHA.
Strategi penetrasi pasar dan strategi kebijakan harga
Saepulloh 2005 Menganalisis tingkat pendapatan pedagang
Tatakomara 2005 Menganalisis daya saing teh dan faktor-Firdaus 2007 Menganalsis daya
saing dan faktor yang
Gravity model Ekspor rotan dipengaruhi
BAB III
KERANGKA PEMIKIRAN
3.1
Kerangka Pemikiran Teoritis
3.1.1 Teori Perdagangan Internasional
Perdagangan internasional adalah perdagangan yang dilakukan oleh penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain atas dasar kesepakatan bersama. Penduduk yang dimaksud dapat berupa antar individu, antara individu dengan pemerintah suatu negara atau pemerintah suatu negara dengan pemerintah negara lain. Perdagangan internasional merupakan suatu ”mesin pertumbuhan” bagi negara-negara yang terlibat didalamnya, terutama bagi negara-negara berkembang. Dengan melakukan kegiatan ekspor secara intensif, maka suatu negara akan mengalami kemajuan pesat dalam pertumbuhan dan pembagunan ekonomi, oleh karena mendapatkan keuntungan dan meningkatkan pendapatan negara (Salvatore, 1996).
Melalui hubungan perdagangan internasional, suatu negara berkembang dapat beranjak dari titik produksinya yang tidak efisien dan menciptakan lahan-lahan investasi dan pasar baru yang akan menyerap produk-produk yang tidak bisa dijual di dalam negeri. Hal itu berarti akan tercipta penyaluran surplus bagi komoditi pertanian dan bahan-bahan mentah di suatu negara berkembang. Manfaat lain dari perdagangan internasional adalah dapat memperoleh produk yang tidak dapat diproduksi di dalam negeri, sehingga setiap negara mampu memenuhi kebutuhan akan barang dan jasa yang tidak diproduksi sendiri atau mengalami keterbatasan produksi.
Konsep daya saing diperkenalkan oleh Ricardo dikenal dengan model Ricardian Ricardo atau Hukum Keunggulan Komparatif (The Law of Comparative Advantage). Menurut Ricardo, meskipun sebuah negara kurang efisien dibandingkan negara lain (mengalami kerugian absolut) dalam memproduksi kedua komoditas, namun kedua negara tersebut masih dapat melakukan perdagangan yang menguntungkan kedua belah pihak. Negara yang mengalami kerugian absolut lebih kecil harus berspesialisasi dalam memproduksi komoditas tersebut dan mengekspornya kepada negara yang mengalami kerugian absolut lebih besar. Sebaliknya, negara akan mengimpor komoditas yang mengalami kerugian absolut lebih besar atau mengalami kerugian komparatif (Salvatore, 1996).
Teori keunggulan komparatif yang lebih modern adalah teorema Heckscher-Ohlin (1933). Menurut H-O, sebuah negara akan mengekspor komoditi yang produksinya lebih banyak menyerap faktor produksi yang relatif melimpah dan murah di negara itu. Dalam waktu yang bersamaan negara tersebut akan mengimpor komoditi yang produksinya memerlukan sumberdaya yang relatif langka dan mahal dalam memproduksinya. Melalui perdagangan bebas maka akan terjadi interaksi peningkatan ekspor dan impor yang mengakibatkan pada peningkatan GDP. Dengan demikian seluruh dunia mendapatkan manfaat dari perdagangan dan kedua belah pihak sekurang-kurangnya sama sejahteranya dengan atau tanpa perdagangan (Lindert dan Charles, 1995).
Masing-masing melambangkan kurva permintaan dan kurva penawaran untuk komoditi X tidak akan mengekspor komoditi X sama sekali. Hal tersebut memunculkan titik A* pada kurva S di panel B yang merupakan kurva penawaran ekspor negara 1. Panel A juga memperlihatkan bahwa berdasarkan harga relatif P2 maka akan terjadi kelebihan penawaran (QSX) apabila dibandingkan dengan tingkat permintaan untuk komoditi X (QDX) dan kelebihan itu sebesar BE. Kuantitas BE merupakan kuantitas komoditi X yang akan diekspor oleh negara 1 pada harga relatif P2. BE sama dengan B*E* dalam panel B dan terdapat titik E* yang berpotongan dengan kurva penawaran ekspor komoditi X dari negara 1 atau S.
pada titik A’, sehingga negara 2 tidak akan mengadakan impor komoditi X sama sekali. Hal itu dilambangkan oleh titik A’ yang terletak pada kurva permintaan impor komoditi X negara 2 (D) yang berada di panel B. Panel C juga menunjukkan bahwa berdasarkan harga relatif P2 akan terjadi kelebihan permintaan (QDX > QSX) sebesar B’E’. Kelebihan itu sama artinya dengan kuantitas komoditi X yang akan diimpor negara 2 berdasarkan harga relatif P2, jumlah tersebut sama dengan B*E* pada panel B yang menjadi kedudukan titik E* yang melambangkan jumlah atau tingkat permintaan impor komoditi X dari penduduk di negara 2 (D).
Berdasarkan harga relatif P2, kuantitas impor komoditi X yang diminta oleh negara 2 (B’E’ dalam panel C) sama dengan kuantitas ekspor komoditi X yang ditawarkan negara 1 (BE dalam panel A). Hal itu diperlihatkan oleh perpotongan antara kurva D dan kurva S setelah komoditi X diperdagangkan antara kedua negara (panel B). Dengan demikian, P2 merupakan harga relatif ekuilibrium untuk komoditi X setelah erdagangan internasional berlangsung. Dari panel B dapat dilihat bahwa apabila PX/PY lebih besar dari P2 maka kuantitas ekspor komoditi X yang ditawarkan akan melebihi tingkat permintaan impor sehingga lambat laun harga relatif komoditi X akan mengalami penurunan sehingga pada akhirnya akan sama dengan P2.
3.1.2 Ekspor dan Impor 3.1.2.1 Pengertian Ekspor
baik dalam kelimpahan sumberdaya maupun efisien dalam proses produksinya. Dalam suatu negara, kegiatan ekspor mempunyai peranan penting dalam peningkatan devisa. Berkembangnya kegiatan ekspor suatu negara maka akan memajukan sektor riil dan memajukan pembangunan dalam negeri.
Kinerja ekspor suatu negara ditentukan oleh penawaran dan permintaan baik di dalam maupun di luar negeri. Penawaran ekspor suatu komoditi merupakan jumlah dari komoditi yang ingin dijual oleh perusahaan atau produsen pada tingkat harga tertentu. Banyaknya suatu komoditi yang dihasilkan dan ditawarkan oleh produsen dipengaruhi oleh banyak variabel, diantaranya harga komoditi tersebut, harga komoditi lain, biaya faktor produksi, sasaran perusahaan dan tingkat teknologi. Besarnya kuantitas ekspor suatu negara ditentukan dari selisih penawaran domestik dengan permintaan domestik. Dengan demikian, kelebihan penawaran suatu komoditi di dalam negeri akan dijual ke negara lain yang mengalami kelebihan permintaan akan komoditi tersebut.
Permintaan adalah jumlah suatu komoditi yang ingin dibeli oleh semua rumah tangga. Dengan demikian permintaan ekspor merupakan penjumlahan dari permintaan-permintaan individu negara lain terhadap suatu komoditi yang dihasilkan dari negara tertentu. Permintaan ekspor suatu komoditi dipengaruhi beberapa faktor diantaranya, harga komoditi di negara pengimpor, harga komoditi di negara pengekspor, pendapatan perkapita di negara pengimpor, selera masyarakat negara pengimpor dan jumlah penduduk negara pengimpor.
3.1.2.2 Pengertian Impor
domestik terhadap suatu komoditi, sehingga untuk memenuhinya negara mendatangkannya dari luar negeri. Dalam neraca perdagangan, impor bersifat negatif karena mengurangi pendapatan negara. Namun dalam perdagangan internasional dan sistem perekonomian terbuka, ekspor dan impor tidak dapat dihindari. Bagi beberapa negara perdagangan internasional merupakan hal yang sangat penting. Pentingnya perdagangan internasional dalam suatu negara dapat dilihat dari persentase ekspor dan impor dalam PDB. Namun demikian suatu negara harus tetap berupaya agar neraca perdagangan bernilai positif (surplus) dengan meningkatkan ekspor atau mengurangi jumlah impor.
3.1.3 Keunggulan Kompetitif
Keunggulan kompetitif (daya saing) merupakan kemampuan perusahaan, industri, daerah, negara atau antar daerah untuk menghasilkan faktor pendapatan dan faktor pekerjaan yang relatif tinggi dan berkesinambungan untuk menghadapi perdagangan internasional. Sedangkan menurut Simanjuntak dalam Novianti (2003), daya saing adalah suatu konsep yang menyatakan kemampuan suatu produsen untuk memproduksi suatu komoditas dengan mutu yang cukup baik dan biaya produksi yang cukup rendah. Dengan demikian pada harga-harga yang terjadi di pasar internasional, dapat diproduksi dan dipasarkan oleh produsen dengan memperoleh laba yang mencukupi sehingga dapat mempertahankan biaya produksinya. Dengan kata lain, daya saing komoditas tercermin dari harga jual yang bersaing dan kualitas mutu yang baik.
akan meningkatkan tantangan sekaligus peluang bagi semua perusahaan baik kecil, menengah maupun besar.
Pendekatan yang sering digunakan untuk mengukur daya saing suatu komoditi adalah tingkat keuntungan yang dihasilkan dan efisiensi dalam pengusahaan komoditi tersebut. Keuntungan dapat dilihat dari dua sisi, yaitu keuntungan privat dan keuntungan sosial. Sementara itu, efisiensi pengusahaan komoditi dapat dilihat dari dua indikator yaitu keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif.
3.1.4 Keunggulan Komparatif
Hukum keunggulan komparatif (The Law of Comparative Advantage) menyatakan bahwa perdagangan memungkinkan suatu negara untuk menghasilkan barang-barang tertentu yang lebih banyak dan relatif lebih efisien. Kemudian negara tersebut dapat mengekspornya untuk ditukar dengan barang-barang yang kurang memiliki keunggulan komparatif ( Lindert, 1995). Hal itu berarti suatu negara akan memperoleh keuntungan dari perdagangan jika melakukan spesialisasi komoditi yang dapat diproduksi dengan lebih efisien dan mengimpor komoditi yang kurang efisien.
absolut yang lebih besar. Dari komoditi inilah negara mengalami kerugian komparatif (Salvatore, 1996).
3.1.5 Teori Revealed Comparative Advantage
Salah satu cara untuk mengukur daya saing tanaman hias Indonesia di pasar negara tujuan adalah dengan metode RCA. Metode RCA merupakan metode yang memungkinkan untuk digunakan dalam membandingkan daya saing tanaman hias Indonesia dengan Thailand. Hal ini dikarenakan metode ini cukup mudah digunakan dan ketersediaan data yang dibutuhkan memungkinkan untuk menggunakan metode ini. Revealed Comparative Advantage (RCA) merupakan alat analisis yang mengukur keunggulan suatu produk dalam perdagangan internasional. Konsep RCA pertama kali diperkenalkan oleh Bela Balassa pada tahun 1965 yang mengasumsikan bahwa pola keunggulan komparatif suatu negara dapat diamati dari data perdagangan yang sudah ada. Dampak positif yang ditimbulkan dari perkembangan perdagangan yang mengarah pada liberalisasi secara tidak langsung dapat diukur dengan menggunakan metode RCA. RCA dipergunakan sebagai indikator keunggulan komparatif suatu produk dan sebagai acuan spesialisasi perdagangan internasional. Indeks RCA mengukur antara pangsa ekspor komoditas atau sekelompok komoditas suatu negara terhadap pangsa ekspor secara keseluruhan di dunia perdagangan.
Rumus RCA sebagai berikut : RCA = X ij / Xit Xwj / Xwt Dimana : Xij = Nilai ekspor komoditi j di negara i
Xwt = Nilai total ekspor dunia
Jika nilai RCA untuk komoditi j bernilai lebih dari satu, maka negara i mempunyai keunggulan komparatif dalam perdagangan di dunia. Sebaliknya, jika nilai RCA kurang dari satu maka negara i mempunyai ketidakunggulan komparatif komoditi j dalam perdagangan dunia. Setiap metode mempunyai keunggulan dan kelemahannya, begitu pula dengan metode RCA. Keunggulan yang terdapat dalam metode ini adalah sangat sederhana dan mudah digunakan serta mengurangi dampak pengaruh campur tangan pemerintah. Dengan demikian, keunggulan komparatif suatu negara akan terlihat jelas dapat terlihat jelas pada setiap periode waktunya. Sedangkan kelemahannya adalah :
1. Suatu negara diasumsikan mengekspor semua komoditi
2. Dalam indeks RCA tidak dijelaskan mengenai pola perdagangan yang sedang berlangsung, apakah sudah optimal atau belum.
3. Tidak dapat mendeteksi dan memprediksi produk-produk yang mempunyai potensi untuk dikembangkan di masa datang.
4. Hasil perhitungan keunggulan komparatif suatu negara dapat terjadi kemungkinan bukan keunggulan komparatif yang sebenarnya. Hal itu dapat diakibatkan oleh adanya kebijakan pemerintah seperti kebijakan nilai tukar, kebijakan ekspor dan sebagainya.
3.1.6 Teori Model Gravity
ekonomi internasional serupa dengan model gravity pada ilmu sosial. Model gravitasi pada perdagangan internasional memprediksikan bahwa arus perdagangan bilateral antar kedua negara didasari pada ukuran perekonomian yang diukur dari PDB masing-masing negara dan jarak antar kedua negara tersebut.
Model gravity menyajikan sebuah analisa yang lebih empiris dari pola perdagangan. Model gravity pada dasarnya memprediksikan perdagangan berdasarkan jarak antar negara dan interaksi antar negara dalam ukuran ekonominya. Model ini meniru hukum gravitasi Newton yang juga memperhitungkan jarak dan ukuran fisik diantara dua benda. Model ini telah terbukti menjadi kuat secara empiris oleh analisa ekonometri. Faktor lain seperti tingkat pendapatan per kapita, hubungan diplomatik dan kebijakan perdagangan juga dimasukkan dalam versi yang lebih besar dari model ini.
Model gravitasi perdagangan digunakan dalam suatu hubungan internasional untuk mengkaji dampak yang ditimbulkan dari perjanjian dan persekutuan dalam perdagangan. Model ini digunakan untuk menguji tingkat keefektifan dari suatu perjanjian perdagangan, seperti NAFTA dan WTO. Selain itu, model gravitasi perdagangan juga biasa digunakan untuk menguji suatu hipotesis yang bersumber pada teori murni ekonomi perdagangan.
persamaan gravity model perdagangan antara kedua negara (i dan j) dapat dimodelkan dalam bentuk sebagai berikut :
Ln (ASij) = 1+ ln (Si) + ln (Mj) – 1 ln (Dij) Dimana :
ASij = Besarnya arus modal investasi dari negara i ke negara j
1 = Intersep
Si = Faktor penawaran negara i Mj = Faktor permintaan negara j Dij = Jarak dari negara i ke negara j
Berdasarkan hasil tinjauan studi terdahulu dari beberapa penelitian yang telah dilakukan, maka variabel-variabel yang diduga berpengaruh terhadap aliran perdagangan anggrek Indonesia ke negara tujuan meliputi waktu tempuh, pendapatan per kapita, populasi, harga anggrek dan nilai tukar.
1. Waktu Tempuh
Waktu tempuh merupakan proksi dari jarak antar kedua negara yang melakukan perdagangan. Waktu tempuh merupakan faktor penting yang harus dipertimbangkan dalam melakukan perdagangan antar negara. Selain menentukan besarnya biaya yang harus ditanggung, lamanya waktu tempuh suatu negara menentukan cara perlakuan suatu produk selama proses pengiriman. Data mengenai lamanya waktu tempuh pengiriman ekspor melalui jalur laut dari Indonesia ke negara tujuan berdasarkan data yang diperoleh dari PT. Pos Indonesia.
dikeluarkan. Tingginya biaya transportasi yang ditanggung eksportir, akan dibebankan kepada produk yang diperdagangkan sehingga nilai jual produk tersebut akan naik. Disamping itu, lamanya waktu tempuh untuk mencapai negara tertentu menetukan cara perlakuan suatu produk selama proses pengiriman, seperti halnya teknologi yang akan digunakan dalam pengiriman. Sebagai contoh untuk produk agribisnis yang sifatnya cepat rusak dan tidak tahan lama, maka diperlukan penanganan khusus selama proses pengiriman agar produk tidak rusak saat tiba di tujuan.
2. Pendapatan Per Kapita
Produk domestik bruto (gross domestic product) menyatakan pendapatan total dan pengeluaran total nasional atas output barang dan jasa. PDB sering dianggap sebagai ukuran terbaik dari kinerja perekonomian. Ada dua cara untuk melihat aktivitas ekonomi suatu negara, salah satunya adalah dengan melihat PDB sebagai pendapatan total dari setiap individu di dalam perekonomian (Mankiw, 2003).
Pendapatan per kapita (PDB per kapita) adalah ukuran berapa banyak perolehan pendapatan setiap individu dalam perekonomian. Pengertian lain mengenai pendapatan per kapita adalah jumlah yang tersedia bagi rumah tangga atau perusahaan untuk melakukan pengeluaran. Dengan demikian tingkat konsumsi atau kemampuan konsumsi (daya beli) suatu negara atas suatu komoditi dapat diukur dari pendapatan per kapita penduduknya. Jika pendapatan per kapita suatu negara dinilai cukup tinggi, maka dapat dikatakan suatu negara tersebut merupakan pasar potensial bagi pemasaran suatu komoditi ataupun produk tertentu. Data pendapatan per kapita masing-masing negara yang digunakan dalam analisis aliran perdagangan gravity model diperoleh dari economics data statistics world bank.
3. Populasi
Populasi atau jumlah penduduk di semua negara senantiasa mengalami perubahan jumlah setiap tahunnya. Perubahan angka populasi berimplikasi pada perubahan ukuran atau jumlah angkatan kerjanya. Perubahan populasi juga terjadi pada kepemilikan modal, karena setiap negara berusaha untuk mengerahkan seluruh sumberdaya yang dimilikinya untuk menciptakan dan mengakumulasikan modal.
Sebagai contoh, di satu negara terjadi penambahan faktor produksi tenaga kerja, sementara penambahan modal hanya terjadi sedikit atau tetap, maka output komoditi yang padat karya akan meningkat dan melampaui output komoditi yang padat modal. Bahkan secara relatif output komoditi padat modal akan menurun pada tingkat harga yang konstan.
5. Harga
Keunggulan komparatif merupakan penentu dalam persaingan tingkat dunia. Apabila suatu negara mempunyai keunggulan dalam kelimpahan sumberdaya dan efisien dalam biaya untuk menghasilkan sebuah produk, maka negara tersebut akan melakukan spesialisasi produksi dan mengekspor produknya ke negara yang memiliki ketidakunggulan komparatif. Negara yang mempunyai keunggulan komparatif tentu akan menghasilkan produk yang nilai jualnya lebih rendah dibandingkan dengan negara yang memiliki ketidakunggulan komparatif. Dengan demikian, pada tingkat harga produk di pasar internasional, produsen memperoleh keuntungan yang cukup besar.
negara tujuan, sedangkan harga anggrek di negara tujuan sebagai bentuk dari variabel yang mempengaruhi permintaan ekspor anggrek Indonesia ke negara tujuan.
5. Nilai Tukar
Nilai tukar perdagangan (terms of trade) dari suatu negara merupakan rasio harga komoditi ekspor terhadap harga komoditi impornya. Kurs antar dua negara adalah tingkat harga yang disepakati penduduk kedua negara untuk melakukan perdagangan. Besarnya nilai tukar suatu negara tidak dapat dijadikan satu-satunya alat untuk mengukur tingkat kesejahteraan negara. Perubahan dalam nilai tukar perdagangan suatu negara pada dasarnya merupakan dampak dari berinteraksinya berbagai kekuatan ekonomi negara tersebut (Salvatore, 1996).
3.1.7 Data Panel
Data panel digunakan untuk mengawasi dalam menghilangkan variabel bias dengan mengamati perubahan yang terdapat dalam variabel dependen (Abilava, 2006). Selain itu data panel juga digunakan untuk mengatasi keterbatasan ketersediaan data yang digunakan untuk mewakili variabel yang digunakan dalam penelitian. Menurut Abilava (2006) dengan menggunakan data panel maka dapat diperoleh hasil estimasi yang lebih baik dengan terjadinya peningkatan jumlah observasi yang berimplikasi terhadap peningkatan derajat bebas dan memungkinkan untuk dapat menangkap karakteristik antar individu dan antar waktu yang berbeda.
Regresi data panel berbeda dengan regresi time-series atau regresi cross-section karena dalam regresi data panel setiap variabel mengandung subscript ganda it. Rumus umum untuk regresi data panel sebagai berikut :
Yit =
+ x
it + uit, i = 1,...,N ; t = 1,....,TDimana i menunjukkan rumah tangga, individu, perusahaan, negara dan sebagainya, sedangkan t menunjukkan waktu. Dimensi cross-section ditandai oleh i dan dimensi waktu ditandai oleh t. adalah intersep, adalah slope dan xit merupakan explanatory variable pada pengamatan it. Menurut Abilava (2006) dalam analisis model data panel dikenal tiga macam teknik estimasi yakni pendekatan kuadrat terkecil (pooled least square), pendekatan efek tetap (fixed effect) dan pendekatan efek acak (random effect).
dengan metode pooled least square diasumsikan bahwa data gabungan yang ada, menunjukkan kondisi yang sesungguhnya. Hasil analisis regresi dianggap berlaku pada semua objek di semua waktu. Metode ini sering disebut dengan common effect. Kelemahan asumsi ini adalah ketidaksesuaian model dengan keadaan yang sesungguhnya. Kondisi setiap objek adalah berbeda satu sama lain, bahkan satu objek pada suatu waktu akan sangat berbeda dengan kondisi objek tersebut pada waktu yang lain. Oleh karena itu diperlukan suatu model yang dapat menunjukkan perbedaan konstan antar objek, meskipun dengan koefisien regresor yang sama.
Metode fixed effect dapat memperbaiki kelemahan yang ada pada metode common effect. Regresi fixed effect digunakan untuk menghilangkan variabel yang berbeda antara kasus masing-masing negara namun konstan sepanjang waktu. Variabel yang diubah adalah bersifat konstan sepanjang waktu namun berbeda pada tiap kasusnya. Untuk membedakan satu objek dengan objek yang lainnya, digunakan variabel semu (dummy). Oleh karena itu, model ini sering juga disebut dengan Least Square Dummy Variables atau disingkat LSDV.
Menurut Abilava (2006) keuntungan penggunaan data panel dalam gravity model adalah :
1. Dapat mengidentifikasi karakteristik antar individu (daerah) yang melakukan perdagangan pada dimensi waktu yang berbeda.
2. Dapat diperoleh hasil estimasi yang lebih baik daripada dengan teknik OLS data time-series atau cross-section saja.
3. Terjadi peningkatan derajat bebas dan mengurangi hubungan kolinear antar variabel bebas.
4. Mengurangi masalah yang timbul dari penghilangan variabel yang relevan.
3.2 Kerangka Pemikiran Operasional
Era globalisasi dalam lingkup perdagangan bebas antar negara membawa dampak ganda, dimana pada satu sisi era globalisasi membuka kesempatan kerja sama yang luas antar negara, namun di sisi lain akan membawa persaingan yang semakin ketat. Globalisasi akan memberikan perbaikan ekonomi kepada negara yang efisien dan kompetitif di pasar internasional.
Indonesia sebagai salah satu negara yang potensial dalam perekonomian dunia harus segera mempersiapkan segala sesuatunya menuju globalisasi ekonomi. Tantangan utama di masa mendatang adalah meningkatkan daya saing dan keunggulan kompetitif di semua sektor industri dan sektor jasa dengan mengandalkan kemampuan sumberdaya manusia, teknologi dan manajemen.
memajukan industri tanaman hias di dalam negeri. Hal itu didukung pula dengan meningkatnya permintaan dunia akan tanaman hias yang sejalan dengan peningkatan ekspor tanaman hias Indonesia setiap tahunnya.
Untuk dapat memasuki pasar tanaman hias dunia, Indonesia dihadapkan pada tantangan untuk dapat besaing dengan negara-negara yang lebih maju dalam pembudidayaan tanaman hias. Di kawasan Asia Tenggara, negara Thailand merupakan negara kompetitor utama yang maju dalam penerapan teknologi untuk menghasilkan berbagai jenis tanaman hias unggulan. Dengan demikian, tanaman hasil dari persilangan Thailand umumnya disukai pasar dan bernilai jual tinggi. Sejak tahun 1996 sampai dengan 2006, Indonesia memiliki lima negara tujuan ekspor terbesar tanaman hias, antara lain Jepang, Korea, Singapura, Belanda dan Amerika Serikat. Dalam usaha merebut pangsa pasar, Indonesia harus bersaing dengan Thailand sebagai negara pengekspor terbesar tanaman hias di Asia Tenggara. Negara Jepang merupakan negara tujuan ekspor utama Indonesia dan Thailand. Tahun 2006 nilai ekspor tanaman hias Indonesia ke Jepang mencapai 21,4 persen dari total ekspor tanaman hias Indonesia ke dunia. Sementara itu, di tahun yang sama nilai ekspor tanaman hias Thailand ke Jepang mencapai 32,64 persen dari total ekspor tanaman hias Thailand ke dunia. Selain itu, perkembangan ekspor tanaman hias Indonesia ke lima negara tujuan tersebut setiap tahunnya mengalami fluktuasi. Hal tersebut diduga karena adanya berbagai faktor yang mempengaruhi (ekonomi dan non ekonomi) baik yang datang dari dalam maupun dari luar negeri.
dengan Thailand di lima negara tujuan dengan menggunakan metode RCA. Metode RCA adalah metode yang menganalisis daya saing suatu komoditi dilihat dari kontribusi ekspor suatu komoditi terhadap ekspor total komoditi suatu negara. Dengan demikian hasil yang diperoleh dari analisis dengan RCA dapat mengacu pada spesialisasi suatu negara terhadap komoditi tertentu. Mengukur daya saing tanaman hias Indonesia dan Thailand dengan metode RCA relatif mudah dilakukan dan sangat sederhana dibandingkan menggunakan metode lain namun dapat langsung menggambarkan kondisi persaingan antar kedua negara.
Daya saing komoditi tanaman hias Indonesia di pasar internasional dapat dikatakan kuat jika nilai RCA yang diperoleh lebih dari satu, artinya Indonesia mempunyai keunggulan komparatif untuk komoditi tanaman hias di negara tujuan. Dengan demikian, dari hasil perhitungan RCA dapat diukur daya saing tanaman hias Indonesia di negara tujuan dan membandingkannya dengan Thailand.
negara tujuan, pendapatan per kapita negara tujuan, harga anggrek Indonesia, harga anggrek di negara tujuan dan nilai tukar antara mata uang negara tujuan terhadap Dollar Amerika Serikat.
Gambar 2. Kerangka Pemikiran Operasional Perkembangan ekspor tanaman hias Indonesia di lima negara tujuan ekspor berfluktuatif setiap tahun
Analisis aliran perdagangan anggrek sebagai komoditi tanaman hias unggulan Indonesia
di beberapa negara tujuan. Mengukur daya saing tanaman hias
3.3 Hipotesis
Berdasarkan studi penelitian terdahulu yang telah dilakukan, maka dalam penelitian ini diajukan beberapa hipotesis, diantaranya :
1. Indeks RCA lebih dari satu berarti telah terjadi peningkatan pangsa pasar di negara tujuan ekspor. Sedangkan bila nilai kurang dari satu berarti telah terjadi penurunan pangsa pasar.
2. Waktu tempuh berhubungan negatif dengan volume anggrek yang di ekspor Indonesia ke negara tujuan. Semakin jauh jarak negara tujuan yang berarti semakin besar biaya transportasi ke negara tujuan, maka volume anggrek yang diperdagangkan akan semakin berkurang.
3. Pendapatan per kapita berhubungan positif dengan volume anggrek yang diekspor. Semakin tinggi pendapatan per kapita suatu negara, maka peluang daya beli atau tingkat konsumsi masyarakat terhadap anggrek akan tinggi pula.
4. Populasi berhubungan positif terhadap volume anggrek yang diekspor. Semakin besar populasi suatu negara maka negara tersebut semakin potensial untuk perluasan pangsa pasar.
5. Harga anggrek Indonesia di negara tujuan berhubungan negatif terhadap permintaan ekspor anggrek ke negara tujuan. Jika harga anggrek Indonesia lebih tinggi dari harga anggrek di negara tujuan maka anggrek Indonesia tidak mampu bersaing dengan komoditas anggrek lokal di negara tujuan. 6. Harga anggrek di negara tujuan berhubungan positif terhadap penawaran
anggrek Indonesia lebih besar sehingga akan meningkatkan volume ekspor anggrek ke negara tujuan.
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1 Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara dengan beberapa pengusaha tanaman hias (eksportir) seperti Godong Ijo Nursery, Hara Nursery, Hans Garden, Aglaonema Florist dan pengusaha anggrek baik dari skala kecil sampai menengah. Data sekunder diperoleh dari dalam negeri maupun luar negeri dalam bentuk time series tahunan. Data tahunan yang diperoleh berada dalam kurun waktu 11 tahun (1996-2006) untuk melihat perkembangan nilai ekspor tanaman hias Indonesia di pasar dunia. Data yang dikumpulkan adalah data dari tujuh negara, yakni meliputi Indonesia, Thailand, Jepang, Korea, Singapura, Amerika Serikat dan Belanda.
Data nasional yang digunakan diperoleh dari Badan Pusat Statistik, Departemen Perdagangan, Departemen Pertanian, Ditjen Hortikultura, jurnal, skripsi, thesis serta dari berbagai literatur lainnya seperti media cetak dan berbagai situs di internet. Sedangkan data yang digunakan dari beberapa negara diperoleh dari hasil browsing di beberapa situs internet seperti departemen pertanian masing-masing negara, World Bank, WTO, FAO, AFTA, UNComtrade maupun jurnal dan informasi lainnya.
4.2 Metode Analisis dan Pengolahan Data
ini. Adapun metode kuantitatif digunakan untuk mengukur daya saing tanaman hias Indonesia serta analisis aliran perdagangan anggrek ke negara tujuan. Untuk mengetahui daya saing tanaman hias Indonesia di negara tujuan dapat dilakukan dengan berbagai cara. Adapun metode yang dapat digunakan diantaranya analisis Biaya Sumberdaya Domestik (BSD), Policy Analisys Matriks (PAM), Constant Market Share Analysis (CMSA) dan Revealed Comparative Advantage (RCA). Diantara metode tersebut, metode RCA dipilih untuk mengukur daya saing tanaman hias Indonesia dan Thailand. Hal ini karena metode RCA relatif lebih mudah digunakan dan minimal dapat dipakai untuk dapat mengetahui daya saing tanaman hias Indonesia dan Thailand. Selain itu periode waktu yang digunakan dalam penelitian ini tidak terlalu panjang (11 tahun) dan ketersediaan data yang ada memungkinkan untuk menggunakan metode ini.
4.3 Revealed Comparative Advantage (RCA)
Keberadaan daya saing komoditi tanaman hias Indonesia di pasar internasional dapat diketahui dengan menggunakan metode RCA. Metode ini didasarkan pada suatu konsep bahwa perdagangan antar wilayah sebenarnya menunjukkan keunggulan komparatif yang dimiliki suatu negara. Analisis daya saing dengan metode RCA dilakukan satu per satu pada setiap negara. Langkah pertama mengukur daya saing ekspor tanaman hias Indonesia dengan negara-negara tujuan ekspor, seperti Jepang, Korea, Indonesia-Singapura, Indonesia-Amerika Serikat dan Indonesia-Belanda. Selanjutnya adalah mengukur daya saing ekspor tanaman hias Thailand dengan negara-negara tujuan ekspor, seperti Jepang, Korea, Singapura, Thailand-Amerika Serikat dan Thailand-Belanda,.
Variabel yang diukur dalam metode ini adalah kinerja ekspor tanaman hias Indonesia dan Thailand ke negara-negara tujuan ekspor dengan menghitung nilai ekspor tanaman hias Indonesia (Thailand) ke negara Jepang, Korea, Singapura, Amerika Serikat dan Belanda terhadap nilai total ekspor Indonesia (Thailand). Selanjutnya adalah membandingkan hasil yang telah diperoleh dengan nilai ekspor tanaman hias dunia ke negara Jepang, Korea, Singapura, Amerika Serikat dan Belanda. Rumusannya adalah sebagai berikut :
RCA = X ij / Xit Xwj / Xwt
ke negara (Jepang/Korea/Singapura/Belanda/Amerika Serikat) Xwj = Nilai ekspor dunia komoditi tanaman hias ke negara
(Jepang/Korea/Singapura/Belanda/Amerika Serikat) Xwt = Nilai total ekspor dunia ke negara
(Jepang/Korea/Singapura/Belanda/Amerika Serikat)
Indeks RCA merupakan perbandingan antara nilai RCA sekarang dengan nilai RCA sebelumnya. Rumus indeks RCA sebagai berikut :
RCAt Indeks RCA = RCAt-1
RCAt = Nilai RCA tahun ke-t RCAt-1 = Nilai RCA tahun sebelumnya
Indeks RCA berkisar antara nol sampai tak hingga. Nilai indeks RCA sama dengan satu berarti tidak terjadi kenaikan RCA atau kinerja ekspor tanaman hias Indonesia di negara i tahun sekarang sama dengan tahun lalu.
4.4 Gravity Model
Analisis data dengan menggunakan pendekatan gravity model digunakan model persamaan regresi linear yang mampu menunjukkan berapa besar persentase variabel tak bebas dapat dijelaskan oleh variabel bebas dengan nilai R2. Kemudian dilakukan uji T untuk melihat apakah variabel-variabel bebasnya berpengaruh nyata atau tidak terhadap variabel tak bebas. Bentuk umum dari fungsi regresi adalah :
Y = a0 + aiXi + Ei Dimana : Y = Peubah tak bebas