SUPERVISI KLINIS KEPALA SEKOLAH DALAM PR

15  13  Download (0)

Teks penuh

(1)

SUPERVISI KLINIS KEPALA SEKOLAH DALAM PROSES KEGIATAN MENGAJAR GUNA MENINGKATKAN MUTU PEMBELAJARAN DI SDN SUMBEREJO 01

Oleh : Maria Tri Erowati/942015029

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Permasalahan mutu pendidikan sering dikaitkan dengan tuntutan peningkatan mutu sumber daya manusia untuk pembangunan bangsa ini. Banyak orang berpendapat bahwa mutu pendidikan masih sangat jauh dari yang diharapkan. Sehingga peningkatan mutu harus segera diupayakan mengingat pentingnya pengaruhnya tehadap keberhasilan pembangunan bangsa khususnya di era kompetisi global. Banyak tulisan yang memberi problem solving berkaitan dengan ini. Baik dilakukan oleh individu sebagai praktisi dan ahli pendidikan maupun oleh institusi sebagai lembaga yang menangani kegiatan kependidikan.

Dalam proses belajar mengajar, yang perlu diperhatikan oleh guru adalah keaktifan siswa dalam belajar. Siswa dapat berhasil dalam belajar ditentukan oleh salah satu faktor kepentingannya adalah mengorganisasi seluruh pengelolaan belajar dalam bentuk kegiatan belajar mengajar. Kemampuan mengorganisasi kegiatan belajar mengajar tidaklah cukup apabila tidak dibarengi dengan motivasi kerja guru dalam proses belajar nengajar. Untuk itu dalam tugasnya guru memerlukan bantuan yang berupa supervisi. Untuk itu guru dituntut memiliki kesadaran tinggi dan profesional dalam melaksanakan tugasnya masing-masing, guru memiliki sikap kemampuan, faktor karakter yang bervariasi, berdasarkan paradigma kemampuan guru yang terbagi dalam empat kompetensi guru yaitu di antaranya : Guru profesional, guru yang analitik (observer), guru tak terarah, dan guru yang drop out. Maka model supervisi klinis oleh kepala sekolah hendaknya dapat membantu, membina, mendorong, dan mengadakan perbaikan terhadap pelaksanaan tugas mengajar guru dem itercapainya tujuan pendidikan.

Bentuk atau hubungan lain yang tampak berkaitan adalah supervisi klinis memiliki sumbangan terhadap perbaikan pengajaran. Banyak penelitian membuktikan bahwa supervisi klinis memberi manfaat baik pada sekolah dasar atau sekolah menengah yang menunjukkan besarnya sumbangan supervisi klinis. Bentuk sumbangan tersebut adalah dalam hal penggunaan teknik-teknik dari prosedur pengajaran. Dengan supervisi, guru-guru diberi kesempatan untuk melatih kemampuaan dan kecerdasan mereka dalam menggunakan teknik mengajar tanpa membatasi inisiatif dan kreativitas mereka.

(2)

Pendidikan Indonesia. Posisi penting guru ini mestinya juga diikuti dengan berbagai macam tindakan kearah peningkatan mutu guru. Peningkatan ini bisa dilakukan oleh guru sendiri dengan terus mengembangkan wacananya dan belajar secara mandiri, bantuan kepala sekolah dengan melakukan supervisi serta memberikan arahan-arahan bagi peningkatan guru. Bantuan pemerintah dan lembaga swasta juga dibutuhklan oleh guru dalam rangka fasilitasi pembelajaran yang disesuaikan dengan tuntutan dan perkembangan zaman.

Bila seorang guru memiliki perasaan senang terhadap tugasnya, maka ada kemungkinan guru tersebut memiliki semangat kerja yang baik (mengajar yang baik) sehingga proses belajar mengajar berjalan dengan baik dan lancar. Dengan semangat mengajar dari guru maka murid juga memiliki semangat belajar yang tinggi. Menurut Hendiyat Soetopo, “Sasaran utama dalam kepemimpinan pendidikan adalah mengenai bagaimana seorang guru dibawah kepemimpinannya dapat mengajar anak didiknya dengan baik. Di sini dalam usahanya meningkatkan mutu pengajaran yaitu dengan pelaksanaan supervisi pendidikan” (1955: 55).

Berdasarkan hal-hal tersebut, maka upaya peningkatan mutu pendidikan harus memperhatikan peningkatan performansi guru berkaitan dengan pembelajarannya yang dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan. Salah satunya adalah melalui kegiatan supervisi pengajaran. Supervisi pengajaran dilakukan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam pembelajaran secara umum baik di kelas maupun di luar kelas. Terdapat beberapa pendekatan dalam kegiatan supervisi pengajaran ini misalnya pendekatan saintifik, pendekatan neo-saintifik, pendekatan artistik dan pendekatan klinikal. Masing-masing pendekatan memiliki penekanan yang berbeda-beda terhadap salah satu aspek dalam kegiatan supervisi pengajaran.

Pendekatan klinikal sebagai satu pendekatan yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah pendekatan yang memfokuskan kegiatan supervisi pengajaran pada pengembangan kemampuan mengajar guru di kelas. Atau dengan kata lain supervisi dengan pendekatan klinikal adalah kegiatan supervisi yang membantu guru mengembangkan penampilannya di kelas. Bagaimana konsep dan pendekatan ini dilakukan dalam supervisi akan menjadi cakupan bahasan tulisan ini.

B. Rumusan Masalah

(3)

1. Bagaimana pelaksanaan supervise akademik yang dilakukan oleh kepala Sekolah terhadap guru dalam melaksanakan proses pembelajaran di SDN Sumberejo 01?

2. Factor-farktor apa saja yang menghambat dan mendukung pelaksanaan supervise akademik kepala sekolah terhadap guru di SDN Sumberejo 01? 3. Apakah tujuan supervise akademik sudah dapat tercapai sesuai yang

diharapkan ?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan secara rinci mengenai :

1. Pelaksanaan supervise akademik yang dilakukan oleh kepala Sekolah terhadap guru dalam melaksanakan proses pembelajaran di SDN Sumberejo 01.

2. Factor-farktor yang menghambat dan mendukung pelaksanaan supervise akademik kepala sekolah terhadap guru di SDN Sumberejo 01.

3. Tujuan supervise akademik sudah dapat tercapai sesuai yang diharapkan

D. Manfaat Penelitian

Adapun hasil dari penelitian yang dilakukan ini, diharapkan dapat bermanfaat : 1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran terhadap pengembangan pelaksanaan supervise akademik kepala sekolah dalam upaya meningkatkan profesionalisme guru sekolah dasar.

2. Manfaat Praktis

Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi :

Umpan balik dan masukan kepala sekolah untuk melaksanakan supervise secara terprogram dan kontinyu, sehingga dapat digunakan untuk memecahkan maslah yang dihadapi sekolah

Meningkatkan motivasi bagi guru untuk menjadi tenaga pengajar yang professional, sehingga mutu pendidikan menjadi lebih baik

(4)

BAB II PEMBAHASAN

A. Pelaksanaan Supervisi Klinis

Supervisi klinis merupakan satu strategi yang sangat berguna dalam supervisi pembelajaran, sebagai peningkatan kemampuan profesional guru. Ada dua asumsi yang mendasari praktek supervisi klinis, yaitu : 1) pengajaran merupakan aktivitas yang sangat komplek yang memerlukan pengamatan dan analisis secara hati-hati. Melalui pengamatan dan analisis ini supervisor pengajaran akan mudah mengembangkan kemajuan guru mengelola proses belajar mengajar, dan 2) guru-guru merupakan profesi dan profesionalnya ingin dikembangkan lebih menghendaki cara yang kelompok dari pada yang autorium. Supervisi klinis pada dasarnya merupakan pembinaan performansi guru mengelola proses belajar mengajar, pelaksanaannya didesain dengan praktis dan rasional, baik desainnya mapun pelaksanaannya dilakukan atas dasar analisis data mengenai keiatan-kegiatan di kelas. Data dan hubungan antara guru dan supervisor merupakan dasar program prosedur, dan strategi pembinaan perilaku mengajar guru dalam mengembangkan belajar murid (Bafadal, 1992:90).

(5)

masingmasing telah diuraikan di atas. Dalam tulisan ini penulis membahas tentang model supervisi klinis dan efektivitasnya dalam supervisi pendidikan.

Supervisi klinis merupakan salah satu jenis supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah terhadap para guru. Jenis supervisi ini merupakan bantuan professional yang diberikan secara sistematik kepada guru berdasarkan kebutuhan guru tersebut dengan tujuan untuk membina guru serta meningkatkan profesionalisme dalam melaksanakan proses pembelajaran. Kepala sekolah selaku supervisor klinis selain sebagai penanggungjawab tugas-tugas supervisi klinis, juga harus melakukan akuntabilitas terhadap tugas-tugas tersebut. Maksudnya jika tanggung jawab merupakan usaha agar apa yang dibebankan kepadanya dapat diselesaikan sebagaimana mestinya dalam waktu tertentu, maka akuntabilitas harus melebihi dari kewajiban itu.

Pengertian supervisi klinik adalah clinikal artinya berkenaan dengan menangani orang sakit. Selanjutnya, dokter mengadakan diagnosis dan resep untuk mengobati penyakit pasiennya. Sama halnya dengan mendiagnosa dalam proses belajar mengajar, untuk menemukan aspek-aspek mana yang membuat guru itu tidak dapat mengajar dengan baik. Jadi supervisi klinik merupakan satu model supervisi untuk menyelesaikan masalah tertentu yang sudah diketahui sebelumnya hanya dengan cara seperti ini (Pidarta, 2002:251). Proses pembinaan guru untuk memperkecil jurang antara perilaku mengajar secara nyata dengan perilaku mengajar seharusnya yang ideal. Dalam dunia sekolah, guru datang sendiri menemui kepala sekolah untuk meminta bantuan memecahkan permasalahan yang sedang dihadapinya.

Dari beberapa pengertian di atas maka dapat diambil simpulan bahwa supervisi klinis adalah suatu teknik supervisi yang dilakukan oleh supervisor untuk memmberikan bantuan yang bersifat profesional yang diberikan berdasarkan kebutuhan guru yang bersangkutan dalam mengatasi masalah yang dihadapi dalam proses belajar mengajar melalui bimbingan yang intensif yang disusun secara sistematis dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan mengajar dan meningkatkan profesionalisme guru.

B. Ciri-ciri Supervisi Klinis

Berangkat dari pengertian di atas supervisi klinik memiliki ciri-ciri tersendiri yang membedakan dengan model-model supervisi yang lain. Ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut.

1. Dalam supervisi klinik bantuan diberikan bukan bersifat intruksi atau memerintah , tapi tercipta hubungan manusiawi, sehingga guru-guru memiliki rasa aman dengan timbulnya rasa aman, diharapkan adanya kesediaan untuk menerima perbaikan.

(6)

3. Supervisi diberikan tidak saja pada keterampilan mengajar, tetapi juga mengenai aspek-aspek kepribadian guru, misalnya motivasi terhadap gairah mengajar.

4. Instrumen yang digunakan untuk observasi disusun atas dasar kesepakatan antara supervisor dan guru.

5. Satuan tingkah laku mengajar yang dimiliki guru merupakan satuan yang terintegrasi harus dianalisis dengan tujuan agar terlihat kemampuan apa, keterampilan apa yang spesifik yang harus diperbaiki (Sahertian, 2000:38-39).

Kelebihan yang tampak dalam penggunaan supervisi klinik yang tujuannya adalah perbaikan pada pengajaran guru dalam proses belajar mengajar adalah sangat signifikan. Dalam supervisi klinik yang disupervisi adalah aspek-aspek perilaku guru misalnya cara menertibkan kelas, teknik bertanya, teknik mengendalikan kelas dan lainnya. Dalam memperbaiki aspek perilaku di atas perlu sekali ada nya hipotesis bersama tentang bentuk perilaku perbaikan atau cara mengajar yang baik. Hipotesis ini bisa diambil dari teori-teori dalam proses belajar mengajar. Untuk mendapatkan hasil yang baik dan demi kelancaran pelaksanaan supervisi, maka perlu adanya kesepakatan antara supervisor dan guru yang akan disupervisi tentang aspek-aspek yang akan diperbaiki.

Ada prinsip kerjasama antara supervisor dengan guru yang saling mempercayai dan sama-sama bertanggungajawab, sehingga bersifat kolegal. Dari hasil yang diperoleh tersebut perlu adanya unsur penguatan terhadap perilaku guru terutama yang sudah berhasil diperbaiki. Karena akan menimbulkan motivasi kerja dan kesadaran penuh akan pentingnya kerja dengan baik serta dilakukan secara terus menerus. Untuk itu supervisor (kepala sekolah) hendaknya dalam memimpin jangan merupakan seorang hakim atau jaksa yang mengadili atau menuduh, akan tetapi harusnya ada hubungan yang kolegal dan saling percaya terbisa merupakan seorang teman yang mempunyai penuh perhatian dan pengertian terhadap kesulitan pengajaran (Pidarta, 2002:176). Dengan demikian dalam supervisi klinik, supervisor bersama-sama dengan guru yang bersangkutan dapat memperbaiki atau membuat situasi belajar mengajar menjadi lebih baik. Salah satu tugas supervisor untuk memperlancar tujuan supervisi adalah mengorganisasi guru. Tugas ini amat penting dari pada tugas-tugas supervisor lainnya. Karena guru sangat membutuhkan organisasi dari pihak supervisor agar mereka dapat berpartisipasi sebaik-baiknya dalam pendidikan.

(7)

yang dekat dengan tempat kelahirannya merupakan usaha yang menunjukkan derajat manusia, sebab itu hal ini lebih cepat memakai pendekatan kesejahteraan umat manusia.

C. Proses Supervisi Klinis

Dalam mengadakan supervisi klinis, kepala sekolah hendaknya tetap bekerja sesuai dengan koridor dan proses yang teratur. Koridor dan proses yang teratur tersebut adalah sebagai berikut:

1. Menciptakan hubungan baik antara supervisor dengan guru yang bersangkutan, agar makna supevisi ini menjadi jelas bagi guru sehingga kerjasama dalam partisipasinya meningkat. 2. Merencanakan aspek perilaku yang akan diperbaiki serta pada sub pokok bahasan apa. 3. Merencanakan strategi apa untuk observasi.

4. Mengobservasi guru mengajar boleh memakai alat-alat bantu.

5. Menganalisis proses belajar oleh supervisor dan guru secara terpisah.

6. Merencanakan pertemuan, boleh juga dengan pihak ketiga yang ingin mengetahui.

7. Melaksanakan pertemuan, guru diberi kesempatan menanggapi cara kerja atau mengajarnya selama dibahas bersama.

8. Membuat rencana baru bila aspek perilaku itu belum dapat diperbaiki dan mengulangi dari langkah awal sampai akhir (Pidarta, 2002:251).

Mengenai langkah-langkah supervisi klinis, Sahertian (]Sahertian, 2000:51) menyatakan ada tiga langkah dalam supervisi klinis yaitu: pertemuan awal, observasi, dan pertemun akhir. Berikut ini adalah langkah-langkah supervisi klinis yang dirangkum dari pendapat Pidarta:

 Pertemuan awal atau perencanaan yang terdiri dari: (a) menciptakan hubungan yang baik dengan cara menjelaskan makna supervisi klinis sehingga partisipasi guru meningkat, (b) menemukan aspek-aspek perilaku apa dalam proses belajar mengajar yang perlu diperbaiki, (c) membuat skala prioritas aspek-aspek perilaku yang akan diperbaiki, dan (d) membuat hipotesis sebagai cara atau bentuk perbaikan pada sub topik bahan pelajaran tertentu.

 Persiapan yang terdiri dari: (a) bagi guru tentang cara mengajar yang baru hipotesis, (b) bagi

supervisor tentang cara dan alat observasi seperti tape recorder, video, daftar cek, catatan anecdotal dan sebagainya,

 Pelaksanaan yang terdiri dari: (a) guru mengajar dengan tekanan khusus pada aspek-aspek perilaku yang diperbaiki, (b) supervisor mengobservasi, (c) menganalisis hasil mengajar secara terpisah.

(8)

direvisi, (d) menentukan rencana berikutnya, (e) mengulangi memperbaiki aspek tadi, dan (f) meneruskan untuk memperbaiki aspek-aspek yang lain (2002:78).

Bila diperhatikan kedua pendapat tersebut, kelihatan bahwa supervise klinik berorientasi pada tiga hal yaitu melakukan perencanaan secara mendetail termasuk membuat hipotesis, melaksanakan pengamatan secara cermat atau menganalisis hasil pengamatan serta memberikan umpan balik kepada guru bersangkutan. Tetapi untuk menguraikan lebih jelasnya langkah-langkah dalam proses supervisi klinik ini adalah sebagai berikut.

1. Tahap awal atau pertemuan awal

Pertemuan awal ini dilakukan sebelum melaksanakan observasi kelas. Sehingga banyak juga para teoritis supervisi klinik yang menyebutnya dengan istilah tahap pertemuan sebelum observasi. Tujuan utama tahap pertemuan awal ini adalah untuk mengembangkan bersama antara supervisor dan guru, kerangka kerja observasi kelas yang akan dilakukan. Hasil akhir pertemuan awal ini adalah kesepakatan kerja antara supervisor dan guru. Tujuan ini bisa tercapai apabila dalam pertemuan awal ini tercapai kerja sama, hubungan kemanusiaan dan komunikasi yang baik dan antara supervisor dan guru. Kualitas hubungan yang baik antara supervisor dan guru memiliki pengaruh signifikansi terhadap kesuksesan tahap berikutnya dalam proses supervisi klinik. Pertemuan awal ini mencakup delapan kegiatan yang harus dilaksanakan, yaitu:

 menciptakan suasana akrab dan terbuka,

 mengidentifikasi aspek-aspek yang akan dik embangkan oleh guru dalam pengajaran,

 menterjemahkan tingkah laku guru kedalam perhatian yang bisa diamati,

 mengidentifikasi prosedur-prosedur untuk memperbaiki pengajaran guru,

 membantu guru memperbaiki tujuannya sendiri,

 menetapkan waktu observasi kelas, dan

 menyeleksi instrumen observasi kelas.

 memperjelas konteks pengajaran dengan melihat data yang akan diamati (Bafadal, 1992:96)

2. Tahap observasi pengajaran

Pada tahap ini mengajar dengan mengaksentralisasi tampilnya pada keterampilan-keterampilan yang akan dilatihkan sebagaimana yang telah disepakati pada tahap sebelumnya. Pada pelaksanaannya pihak lain secara membina mengadakan pengamatan atas mengajar guru, dengan memedomani instrumen observasi yang dikembangkan bersama dengan guru. Dengan kontek ada kontrak yang disepakati bersama. Selain dapat memedomani instrumen observasi yang telah ada dan disepakati, sebenarnya juga mempergunakan alat-alat elektronika dalam hal perekaman, baik yang berupa audio visual atau lainnya. Dengan cara demikian pembina bersama-sama dengan guru dapat mengadakan cek-ricek atas keterampilan mengajar guru yang ingin dilatihkan, yaitu:

 memasuki ruangan kelas yang akan diajar oleh guru bersama-sama dengan gur

(9)

 guru mempersilahkan supervisor menempati tempat

 supervisor mengobservasi penampilan mengajar guru dengan mempergunakan format observasi yang telah disepakati.

 setelah proses belajar mengajar selesai guru bersama dengan supervisor meninggalkan kelas untuk melaksanakan musyawarah perbaikan terhadap hasil observasi (Imron, 1995:58 yang dikutip oleh hadi Susanto dalam sebuah makalah Supervisi Klinis, 2013). 3. Pertemuan balikan

Apabila pada tahap pertemuan awal dalam waktu antara pertemuan awal dengan tahap mengajar bisa agak jauh, maka tahap balikan ini jarak antara observasi balikan dengan mengajar tidak boleh dilakukan dalam jarak jauh. Sangat baik jika pertemuan balikan dilakukan sesegera mungkin setelah episode observasi pengajaran, agar apa saja yang dilakukan oleh guru masih segar dalam ingatan guru sendiri dan dalam kegiatan supervisor.

Agar pembicaraan mengarah pada yang dikehendaki dan tidak berlarut-larut dan berkepanjangan tanpa fokus, maka supervisor dengan guru harus sama-sama mengingat terhadap kesepakatan yang telah dibangun tersebut berhasil tercapai. Aktivitas yang dilakukan pada tahap balikan ini adalah :

 Supervisor memberitahu dan memberikan peringatan kepada guru yang baru saja mengajar. Pembina juga dapat menanyakan kepada guru tentang perasaan yang ia miliki pada saat mengajar. Suasana akrab demikian harus dibangun agar guru tersebut tidak merasa akan diadili.

 Supervisor bersama-sama dengan guru membicarakan kembali kontrak yang pernah dilakukan, mulai dari tujuan pendidikan yang pernah dirumuskan dan bermaksud dicapai dalam pengajaran. Materi pengajaran yang disajikan dalam pengajaran , metode serta media yang digunakan serta pelaksanaan evaluasi pengajaran.

 Supervisor menunjukkan observasi yang pernah ia lakukan berdasarkan format atau instrumen observasi yang pernah disepakati. Hasil observasi yang pernah disampaikan oleh pembina ini berupa data mentah dan data yang pernah atau telah diinterprestasikan. Selanjutnya guru diminta memberikan tanggapan atas hasil observasi yang telah disampaikan oleh supervisor.

 Supervisor menanyakan kepada guru bagaimana perasaannya dengan hasil observasi tersebut.

 Supervisor bersama-sama dengan guru menunjukkan ahsil pencapaian latihan pengajaran yang telah dilakukan. Berdasarkan atas kesimpulan tersebut, supervisor membuat kesimpulan. Akhirnya supervisor dan guru bersama-sama membuat rencana latihan berikutnya (Imron, 1995:59).

(10)

Tujuan supervisi klinis adalah untuk membantu mendefisinikan pola-pola pengajaran yang tidak atau kurang efektif. Menurut Sergiofanni (1997) ada dua sasaran supervisi klinis yang menurutpenulis merefleksi multi tujuan supervisi pengajaran, khususnya perkembangan profesional dan motivasi dan komitmen kerja guru. Disisi lain supervisi klinik dilakukan untuk mengadakan pengembangan staf bagi guru, sedangkan menurut toleransi lainnya yaitu Ashen dan Gall tujuan supervisi klinik adalah menigkatkan pengajaran guru di kelas (Bafadal,1992:91), tujuan ini diiringi lagi kedalam tujuan yang lebih spesifik yaitu :

1. Menyediakan umpan balik yang obyektif terhadap guru mengenai pelajaran yang dilaksanakan.

2. Mendiaknosa dan membantu memecahkan masalah-masalah pengajaran.

3. Membantu guru mengembangkan keterampilannya menggunakan strategi pengajaran.

4. Mengoreksi guru untuk kepntingan promosi jabatan ke pentingan lainnya.

5. Membantu guru mengembangkan satu sikap positif terhadap pengembangan profesional yang berkesinambungan.

Program supervisi, pelayanan pendidikan khusus dan fasilitas adalah kekayaan yang dimanfaatkan oleh guru dan kemajuan dalam proses belajar mengajar murid tidak akan dapat dicapai dengan memusatkan perhatian supervisi kepada metode dan teknik mengajar melulu. Mengajar adalah hasil dari keseluruan pengalaman yang diperoleh guru, maka untuk memajukan program supervisi klinis memiliki tujuan yang berorientasi untuk menyeimbangkan proses belajar mengajar sesuai tujuan pendidikan diantaranya adalah :

1. Membantu para guru secara individual dan secara kelompok dalam memecahkan masalah pengajaran yang mereka hadapi.

2. Mengkoordinasi seluruh usaha pengajaran menjadi perilaku yang edukatif dan terintregasi dengan baik.

3. Menyelenggarakan program latihan dalam kegiatan yang kontinyu.

4. Membangun suatu usaha ilmiah yang berhubungan dengan pembinaan dan perbaikan program pengajaran di sekolah-sekolah.

5. Memperoleh alat-alat pengajaran yang bermutu dan mencukupi.

E. Langkah Penyusunan Program Supervisi Klinis

Langkah dalam menyusun program pembinaan klinis secara professional (Burhanuddin dkk, 2006: 115) , diantaranya:

1. Mengidentifikasi masalah-masalah proses belajar mengajar pembinaan

(11)

2. Menganalisa masalah

Masalah-masalah professional yang berhasil diidentifikasi perlu dikaji lebih lanjut supaya diketahui masalah yang sesungguhnya dan faktor-faktor penyebabnya. Selanjutnya masalah tersebut dikelompokkan sesuai jenis kasusnya (kasus perseorangan atau kasus yang dihadapi oleh kebanyakan guru)

3. Merumuskan cara-cara pemecahan masalah

Pembina bersama guru atau dengan pembina lainnya mengkaji masalah-masalah tersebut kemidian mencari berbagai cara pemecahan yang mungkin dilakukan. Dalam pengkajian ini, setiap alternative pemecahan dipelajari kemungkinan keterlaksanaannya dengan cara mempertimbangkan faktor pendukung dan penghambat. Alternatif terbaik adalah alternative yang paling mungkin dilakukan dan memiliki nilai tambah yang paling besar bagi peningkatan mutu proses dan hasil belajar anak.

4. Implementasi pemecahan masalah

Dalam langkah ini pemecahan masalah tidak sekedar dipahami, akan tetapi harus dipraktekkan di kelas. Dalam hal ini, pembina perlu memonitor apa yang terjadi dengan melakukan pengamatan. Untuk membangun semangat guru dalam melaksanakan perbaikan pengajaran, para pembina sebaiknya berperan sebagai fasilitator dan mampu memberikan dorongan motivator, bimbingan dan nasehat kepada guru-guru.

5. Evaluasi dan tindak lanjut

Langkah ini merupakan proses pengumpulan informasi yang nantinya dapat digunakan sebagai upaya perbaikan pengajaran lebih lanjut.

F. Faktor Penghambat dan Pendukung

Faktor Penghambat dan Pendukung adalah suatu hal yang sangat alamiah dan sangat wajar terjadi jika dalam pelaksanaan suatu program apapun ditemui pelbagai hambatan dan pendukung. Demikian pula dengan pelaksanaan supervisi pengajaran oleh kepala sekolah SDN Sumberejo 01. Hambatan Pelaksanaan Supervisi Pengajaran sebagai suatu kegiatan profesional untuk membantu guru menjadi lebih baik dalam pelaksanaan program pembelajaran kepala sekolah menghadapi berbagai hambatan.

1. Faktor Penghambat

Hambatan-hambatan ada yang tergolong tidak terlalu serius atau berat, seperti guru yang belum siap untuk disupervisi, kesibukan kepala sekolah dan guru, sampai kepada hambatan yang serius antara lain berupa pemahaman kepala sekolah dan guru tentang supervisi pengajaran yang belum sempurna. Secara lebih lengkap hasil penelitian tentang hambatan-hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaan supervisi pengajaran oleh SDN Sumberejo 01 dapat dijelaskan sebagai berikut :

Pertama, Kepala sekolah belum melihat adanya urgensiu yang tinggi utnuk meningkatkan pemahamannya terhadap hakekat supervisi pengajaran baik pada dataran teori maupun pada dataran implementasi. Mereka merasa dengan kemampuan yang sudah cukup untuk memimpin suatu lembaga pendidikan atau sekolah.

(12)

dalam berpakaian seragam. Di lain pihak kepala sekolah juga bertugas untuk memantau guru-guru yang datang kesekolah dari pagi hari. Pemantauan ini dimaksudkan untuk memastikan apakah ada guru yang tidak masuk. Jika ada guru yang tidak masuk dan kebetulan yang bersangkutan belum sempat memberitahukan kepada kepala sekolah maka kepala sekolah langsung dapat meminta guru piket untuk mengisi kelas yang kosong atau kepala sekolah sendiri yang masuk kelas. Sebagai kepala sekolah juga bertugas dan bertanggung jawab untuk membereskan urusan administrasi sekolah. Ini bukan pekerjaan yang mudah, apalagi ketika kepala sekolah harus membuat laporan pertanggungjawaban pemanfaatan dana bantuan Proyek. Tidak adanya tenaga administrasi yang secara khusus ditugaskan disekolah sebagaimana semakin membuat tugas kepala sekolah menjadi sangat berat. Kepala sekolah juga sering sibuk ke kantor Dinas Diknas untuk mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan pengelolaan sekolah.

Ketiga, keterbatasan sarana prasarana dan dana. Keterbatasan ini sangat jelas terlihat di sekolah sehingga bukan hanya kegiatan supervisi pengajaran yang tidak dapat terlaksana secara optimal tetapi banyak program sekolah lainnya yang terganggu karena sarana prasarana yang jumlahnya belum memadai. Salah satu keterbatasan yang paling menonjol adalah tidak tersedianya perpustakaan profesional yang memadai yang dapat digunakan guru dan kepala sekolah untuk memajukan profesinya. Disamping itu sekolah juga mengalami kekurangan sarana dan alat bantu pembelajaran. Buku-buku pegangan guru termasuk buku eksiklopedia juga sangat terbatas sehingga membuat guru sangat sulit untuk mengembangkan profesinya di sekolah. 2. Faktor Pendukung

Di samping faktor penghambat dalam pelaksanaan supervisi pengajaran oleh kepala SDN Sumerejo 01 ditemui berbagai faktor pendukung yang sesungguhnya sangat besar manfaatnya jika dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Untuk lebih jelasnya terhadap masing-masing faktor pendukung tersebut diuraikan secara singkat berikut ini.

Pertama, kesediaan guru menerima pembinaan dari kepala sekolah menunjukkan guru senior tidak keberatan jika kepala sekolah secara terus-menerus membina mereka bahkan hal ini dipandang sebagai suatu keharusan baik dalam kapasitas sebagai kepala sekolah yang memang memiliki salah satu tugas membina guru. Juga dilihat dari tingkat kepangkatan kepala sekolah yang lebih tinggi dari guru.

Kedua, adanya hubungan kekeluargaan diantara guru dengan guru, dan antara guru dengan kepala sekolah. Guru-guru merasa bagaikan keluarga sehingga sangat mendukung upaya penciptaan iklim organisasi yang baik di sekolah. Hubungan antara guru yang satu dengan lain dibangun atas dasar kebersamaan disegala bidang, tidak ada yang merasa lebih baik atau lebih penting dari yang lainnya. Kondisi hubungan seperti ini sangat mendukung pelaksanaan supervisi pengajaran jika dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

(13)

A. Kesimpulan

Dalam melaksanakan supervisi kegiatan belajar mengajar diperlukan instrumen berupa lembar pengamatan dan suplemen observasi (keterampilan mengajar, karakteristik mata pelajaran, pendekatan klinis, dan sebagainya). Dalam pelaksanaannya kegiatan tindak lanjut supervisi akademik sasaran utamanya adalah kegiatan belajar mengajar. Hasil analisis, catatan supervisor, dapat dimanfaatkan untuk perkembangan keterampilan mengajar guru atau meningkatkan profesionalisme guru dan karyawan, setidak-tidaknya dapat mengurangi kendala-kendala yang muncul atau yang mungkin akan muncul. Umpan balik akan memberi pertolongan bagi supervisor dalam melaksanakan tindak lanjut supervisi. Dari umpan balik itu pula dapat tercipta suasana komunikasi yang tidak menimbulkan ketegangan, serta mendorong guru memperbaiki penampilan dan kinerjanya.

Supervisi klinis adalah supervisi yang difokuskan pada perbaikan pembelajaran melalui siklus yang sistematis mulai dari tahap perencanaan, pengamatan dan analisis yang intesif terhadap penampilan pembelajarannya dengan tujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran. Supervisi klinis akan terjadi jika hubungan kolegial antara pengawas dan guru telah terjalin dengan baik. Tanpa prasyarat tersebut guru akan segan untuk meminta pengawas untuk melakukan supervise klinis terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi guru dalam pembelajaran.Selain itu, keberhasilan supervise klinis juga akan sangat tergantung kepada sejauhmana pengawas memberikan bimbingan sesuai kemampuan professional yang dimilikinya dan sejauhmana guru secara terbuka melaksanakan bimbingan yang telah diberikan oleh pengawas.

(14)

percaya, dan kesadaran untuk memajukan mutu pembelajaran harus ada dan dimiliki bersama oleh guru, kepala sekolah dan supervisor.

B. Saran

Beberapa saran yang diberikan sebagai hasil dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

(15)

DAFTAR PUSTAKA

Burhanudin,dkk. 2006. Supervisi pendidikan dan pengajaran. Malang: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang

Pidarta, Made. 1999. Pemikiran Tentang Supervisi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara Sahartian, Piet.A. 2000. Konsep Dasar dan Tehnik Supervisi Pendidikan dalam rangka Pengembangan Sumber Daya manusia. Jakarta: Rineka Cipta.

Sudjna, H.D. 2001. Metode dan Teknik Pembelajaran. Bandung: Sinar Baru.

Soetopo, Hendiyat. 1995. Kepemimpinan dan Supevisi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Usman, Moh. Uzer. 2002. Menjadi Guru Profesiona.. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Atmodiwiryo, Soebagio. 2011. Manajemen Pengawasan dan Supervisi Sekolah. Jakarta: Ardadizya jaya.

Arikunto, Suharsisi. 2011. Penelitian Tindakan Untuk Guru, kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah. Yogyakarta: Aditya media.

Martyono. 2011. Dasdasar dan teknik Menjadi supervisor pendidikan. Jogyakarta: ar-Ruzz Media.

Mulyasa, E. 2011. Managemen dan Kepemimpinan Kepala Sekolah. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Imron , Ali. 1995. Pembinaan Guru di Indonesia. Jakarta: Dunia Pustaka.

https://bagawanabiyasa.wordpress.com/2013/06/09/supervisi-klinis-oleh-kepala-sekolah/

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...