PENANAMAN NILAI KERJASAMA UNTUK
MEMBENTUK KOMPETENSI MAHASISWA
DALAM PERSPEKTIF PEMBELAJARAN
KOLABORATIF
Pidato Pengukuhan Guru Besar
Oleh:
Prof. Dr. Suratno, M.Pd.
Guru Besar dalam Bidang Penelitian dan Evaluasi Pendidikan
Pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Lambung Mangkurat
Disampaikan di depan Rapat Senat Terbuka
Universitas Lambung Mangkurat
Tanggal 27 April 2013
Bismilahhirrohmanirrahim.
Assalamu”alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Salam sejahtera bagi kita semua.
Hadirin yang kami hormati,
Untuk mengawali pidato pengukuhan ini pertama-tama perkenankanlah kami menyampaikan ucapan puji syukur ke-hadirat Allah SWT, Tuhan YME karena atas hidayah dan karunia-Nya kita semua diberi kekuatan, kesehatan dan kelonggaran untuk dapat hadir memenuhi undangan agenda sidang Senat Terbuka Universitas Lambung Mangkurat. Selanjutnya sholawat dan salam marilah kita sampaikan ke haribaan junjungan kita Nabi Muhammad SAW, semoga kepada beliau, keluarga dan kerabat serta pengikutnya selalu mendapat limpahan rahmat dan keridhaan dari Allah SWT, hingga akhir jaman. Selanjutnya kita berharap semoga yang hadir di sini serta semua kaum muslimin dan muslimat dapat meneladani dan mengikuti jejak dan petunjuk beliau. Amin.
Selanjutnya pada kesempatan ini ijinkan kami terlebih dahulu menyampaikan ucapan terima kasih kepada yang terhormat:
Rektor/Ketua Senat, Sekretaris Senat, dan para Anggota Senat Universitas Lambung Mangkurat;
Ketua dan para Anggota Dewan Penyantun Universitas Lambung Mangkurat; Para Pejabat Sipil maupun Militer;
Para Guru Besar Tamu;
Direktur, dan para Asisten Direktur, Ketua Bidang, Ketua Program Studi di lingkungan Pascasarjana Universitas Lambung Mangkurat;
Para Dekan dan Pembantu Dekan di lingkungan Universitas Lambung Mangkurat, Para Ketua dan Sekretaris Lembaga, Kepala Biro, dan Ketua UPT serta seluruh pejabat di lingkungan Universitas Lambung Mangkurat;
Para Dekan, Ketua Jurusan, Ketua Program Studi dan seluruh staf pengajar di lingkungan Universitas Lambung Mangkurat terutama di Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial FKIP Universitas Lambung Mangkurat;
Para rekan sejawat, staf administrasi, dan mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat; Segenap tamu undangan, sanak keluarga, dan hadirin sekalian yang saya muliakan.
Besar dalam Bidang Penelitian dan Evaluasi Pendidikan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat yang berjudul ” Penanaman Nilai Kerjasama Untuk Pembentukan Kompetensi Mahasiswa Dalam Perspektif Pembelajaran Kolaboratif”.
Pendahuluan
Hadirin yang kami hormati,
Akuntansi sebagai bahan belajar memiliki keunikan tersendiri. Dilihat dari isinya bahan belajar Akuntansi banyak mengandung pengetahuan yang menuntut kemampuan pemecahan masalah (Huang, O’Shaughnessy & Wagner: 2005). Proses belajar kemampuan pemecahan masalah dalam Akuntansi bersifat kompleks dan prosedural. Sehubungan dengan itu, maka belajar Akuntansi memerlukan strategi proses belajar pemecahan masalah yang relevan untuk pembelajaran jenis pengetahuan prosedural (Mukhadis, 2003; Polya: 1973; Reigeluth & Stein: 1983). Salah satu alternatifnya adalah dengan penerapan belajar kelompok secara kolaboratif. Pengajaran Akuntansi dengan pola belajar kolaboratif memungkinkan mahasiswa lebih berpeluang untuk dapat melakukan klarifikasi, memperoleh pengertian, memecahkan masalah, menciptakan sesuatu yang baru (transferabilitas); dan akhirnya mereka dapat memperkuat pemahaman materi kuliah, serta memahami esensi keahlian untuk belajar sepanjang hayat (Webb: 1994; Delors: 1995).
Pada sisi yang lain, seiring dengan meningkatnya kemajuan teknologi informasi, tuntutan kualitas layanan jasa pekerjaan bidang akuntansi oleh para pengguna jasa Akuntansi menjadi semakin tinggi. Implikasi selanjutnya, maka kurikulum dan proses pendidikan calon guru Akuntansi perlu disesuaikan, direkonstruksi agar memenuhi azas relevansi (Sidharta, 2003). Calon guru Akuntansi selain dibekali hard skill berupa kompetensi generik kemampuan pemecahan masalah juga perlu dibekali soft skill berupa kemampuan kerjasama kolaboratif sebagai bagian dari pembentukan kompetensi jabatan guru.
konsep teoritis bagian khusus dalam bidang pengetahuan tersebut secara mendalam, serta mampu memformulasikan penyelesaian masalah prosedural; 3) mampu mengambil keputusan yang tepat berdasarkan analisis informasi dan data, dan mampu memberikan petunjuk dalam memilih berbagai alternatif solusi secara mandiri dan kelompok; 4) bertanggungjawab pada pekerjaan sendiri dan dapat diberi tanggungjawab atas pencapaian hasil kerja organisasi.
Kedua kemampuan tersebut di atas harus diaktifkan dalam pembelajaran. Atas dasar tuntutan capaian hasil belajar (learning outcome) yang demikian, kepada lulusan diharapkan mampu memiliki kompetensi sesuai yang diamanahkan pada UU No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan dosen. Sebagaimana termaktub pada pasal 10 ayat (1), terdapat 4 (empat) kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru yakni: 1) kompetensi pedagogik,kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Jabaran masing-masing kompetensi adalah sebagai berikut:
1) Kompetensi pedagogik yaitu kemampuan dalam pengelolaan peserta didik yang meliputi : (a) pemahaman wawasan atau landasan kependidikan; (b) pemahaman terhadap peserta didik; (c) pengembangan kurikulum/silabus; (d) perancangan pembelajaran; (e) pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis; (f) evaluasi hasil belajar; dan (g) pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
2) Kompetensi kepribadian yaitu kemampuan kepribadian yang : (a) mantap (b) stabil; (c) dewasa; (d) arif dan bijaksana; (e) berwibawa; (f) berakhlak mulia; (g) menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat; (h) mengevaluasi kinerja sendiri; dan (i) mengembangkan diri secara berkelanjutan.
3) Kompetensi sosial yaitu kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk: (a) berkomunikasi lisan dan tulisan; (b) menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional; (c) bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik; dan (d) bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar.
secara profesional dalam konteks global dengan tetap melestarikan nilai budaya nasional.
Pola belajar kolaboratif.
Sejak dekade lima tahun terakhir animo mahasiswa yang memasuki Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) cenderung terus meningkat seiring dengan meningkatnya kesejahteraan profesi guru akibat kebijakan sertifikasi bagi tenaga profesional guru beserta tunjangan profesinya. Daya tampung pada berbagai program studi hampir semua dapat terisi dengan maksimal. Jumlah mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di FKIP UNLAM saat ini mencapai jumlah: 8.699 orang atau 42,65% dari total jumlah mahasiswa UNLAM. Dari jumlah tersebut terdapat 7.615 orang atau 37,33% yang menempuh program S1, dan 1.084 orang atau 5,31% yang menempuh program S2 (magister). Jumlah mahasiswa UNLAM yang terdaftar pada semester genap 2012/2013 mencapai 20.398 orang, terdiri dari 17.372 orang program S1 dan 3.026 orang program S2 (magister).
Sebagai konsekuensi dari keadaan ini, matakuliah yang ditawarkan pada setiap program studi selalu diikuti oleh jumlah mahasiswa yang relatif banyak. Pelaksanaan kuliah yang diikuti oleh jumlah mahasiswa yang relatif banyak menuntut setiap dosen untuk menggunakan strategi penyampaian, penyajian dan evaluasi pengajaran yang spesifik sesuai dengan kondisi belajar pada kelas yang besar. Salah satu pendekatan pembelajaran untuk mengatasi situasi kelas yang besar seperti ini, dapat dilakukan dengan menerapkan belajar berkelompok (Joice & Weil, 1996). Penggunaan pendekatan pembelajaran secara berkelompok ditujukan agar proses belajar dan hasilnya lebih efektif daripada belajar individual. Di antara berbagai model pembelajaran berkelompok yang telah dikenal adalah pola pembelajaran secara kolaboratif.
justru dari kesalingtergantungan (Covey, 1997). Untuk mengantisipasi dan menghadapi tantangan kehidupan masa depan, praktik pendidikan harus bersandar pada sendi-sendi pendidikan yang dianjurkan Jacques Delors (1995), UNESCO-APNIEVE (2000) yakni: (1) belajar mengetahui (learning to know, (2) belajar berbuat (learning to do), (3) belajar menjadi diri sendiri (learning to be), dan (4) belajar hidup bersama (learning to live together). Praktik dari sendi-sendi pendidikan ini setidaknya harus memenuhi tuntutan mutu atau kualitas sehingga mampu memiliki daya saing dan keunggulan untuk menghadapi tantangan perkembangan global.
Kualitas merupakan kata kunci yang sangat penting dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi termasuk pembinaan calon guru (pre-service) di LPTK. Di dalam strategi jangka panjang pendidikan tinggi (DGHE, 2004) dinyatakan bahwa peningkatan kualitas merupakan strategi utama dalam meningkatkan nation’s competitiveness. Negara-negara maju seperti Amerika, Inggeris, Australia, dan lainnya memandang kualitas sebagai karakteristik yang diacu untuk pembangunan sektor pendidikan tinggi pada saat ini, baik menurut pemerintah maupun kalangan universitas. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian yang menyangkut pendidikan tinggi sebagai industri pelayanan dan pusat inovasi berbagai pengetahuan yang dilakukan oleh Siswandari (2006); Siswandari & Susilaningsih (2008), yang menginformasikan bahwa universitas memang sudah seharusnya mencanangkan inovasi sebagai prioritas utama di bidang penanaman nilai-nilai yang utama, pengetahuan, dan keterampilan.
Era global dapat dimaknai sebagai era persaingan kualitas. Produk dan jasa yang tidak memenuhi kualitas akan tersingkir dari percaturan dunia. Kenyataan ini membawa konsekuensi baru pada berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan. Konsekuensi baru itu antara lain adanya tuntutan terhadap lembaga pendidikan, terutama LPTK untuk menghasilkan lulusan calon guru yang berkualitas dan mampu memenuhi tuntutan kompetensi sosial dan personal serta penguasaan berbagai teknologi baru dan keterampilan yang termasuk kedalam transferable skills. Pendidikan merupakan sarana investasi untuk pembentukan sumberdaya manusia yang berkualitas (Zamroni, 2000). Adanya konsekuensi tersebut, maka tidaklah terlalu berlebihan jika dikatakan bahwa pada era global ini perguruan tinggi khususnya LPTK sebagai penyelenggara pendidikan calon guru yang berkualitas diposisikan sebagai kunci utama untuk memenuhi semua tuntutan itu.
kesalingtergantungan, kesadaran untuk berperanserta, bekerjasama, saling menghargai antara sesama dalam semua kegiatan. Oleh karena itu dalam rangka mempersiapkan generasi guru yang akan datang, maka perilaku yang mengutamakan nilai-nilai kerjasama perlu ditanamkan dan dikembangkan pada saat pendidikan preservice-nya, agar lulusan calon guru jika sudah memasuki dunia kerja mampu mengaktualisasikan kompetensi sosial dan personalnya terutama dalam membangun team kerja yang produktif dengan sejawat dan atasannya di sekolah (Slavin, 1990). Dampak pengiring selanjutnya adalah, mereka diharapkan mampu menjadi sosok guru yang dapat dicontoh atau diteladani oleh murid-muridnya dalam membangun suasana iklim sekolah yang penuh dengan rasa kebersamaan, tercipta suasana damai dan mendukung terciptanya wahana generasi pembelajar (Zamroni, 2000). Cita ideal semacam ini dapat dibangun melalui pembelajaran yang kolaboratif. Penerapan model pembelajaran secara kolaboratif merupakan sarana untuk mengembangkan nilai-nilai kerjasama tersebut (Webb, 1994), namun hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi dosen yang sudah terbiasa menggunakan model pembelajaran individual untuk menerapkan pola pembelajaran yang kolaboratif.
Nilai kerjasama dalam Pembelajaran Kolaboratif
sistem. Sistem dibuat untuk kepentingan bersama, untuk mencapai tujuan yang lebih luas, dan melampaui tujuan spesifik per komponennya, tetapi sekaligus demi kepentingan masing-masing komponen itu sendiri.
Sistem mampu merubah perilaku orang-orang yang berada di dalamnya. Menurut Peter Senge dalam Jede Kuncoro (2007: 84) dinyatakan, bahwa orang-orang yang berbeda, bila berada dalam sistem yang sama, perilakunya akan sama. Jadi sistem berlaku sebagai katalisator untuk terjadinya perubahan perilaku. Tetapi perlu diingat, bahwa apa pun tujuannya, keberhasilan sebuah sistem sangat tergantung pada peran individu sebagai komponen aktif yang menggerakkan sistem.
Demikian halnya dengan pembelajaran kolaboratif, jika dipandang sebagai sebuah sistem maka dapat menjadi katalisator berubahnya perilaku mahasiswa yang terlibat di dalamnya. Pembiasaan penyelesaian tugas melalui kegiatan-kegiatan kolaboratif dalam kerja kelompok dapat menanamkan nilai-nilai kerjasama dalam penyelesaian tugas yang diikuti oleh rasa saling bertanggungjawab di antara individu mahasiswa yang terlibat. Mahasiswa sebagai bagian dari sistem pembelajaran harus disadarkan tentang betapa pentingnya nilai kerjasama. Cara pandang menurut paradigma lama yang menyatakan bahwa berpikir kompetitif menang sendiri dan orang lain harus dikalahkan, tidaklah produktif jika ditinjau dari sudut pandang yang lebih luas. Banyak fakta telah menunjukkan, bahwa menang sendiri dan orang lain harus kalah ternyata merugikan.
Secara sistem dalam kehidupan masyarakat yang heterogen dan makro, setiap masalah yang muncul tidak bisa ditangani dan dipecahkan secara sendirian. Solusi suatu masalah selalu menuntut urunan berbagai pihak dan bahkan memerlukan penanganan lintas bidang. Kesadaran individu untuk peduli terhadap masalah perlu ditumbuhkan, sehingga tercipta penanganan masalah secara kolaboratif. Dalam paradigma modern, kehadiran orang lain harus diakui keberadaannya dan diakui kontribusinya dalam mencapai tujuan. Oleh sebab itu orang lain harus ditempatkan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kisah sukses atau keberhasilan. Pembelajaran kolaboratif memfasilitasi untuk tumbuh kembangnya kesadaran individu mahasiswa untuk peduli terhadap masalah dan nilai kerjasama sebagai penopang kesuksesan belajar.
No. Dampak Kompetisi Dampak Kolaborasi 1 Meningkatkan keserakahan manusia
karena keberhasilan diukur dari kemenangan atas orang lain
Meningkatkan kerjasama karena
keberhasilan harus diraih bersama orang lain
2 Memunculkan superioritas pemenang dan inferioritas pecundang
Meningkatkan solidaritas dan harmoni dalam kelompok
3 Meningkatkan nafsu mengalahkan dan menyerang orang lain
Meningkatkan rasa untuk menghargai orang lain
4 Kebanggaan dan arogansi pada yang menang
Kepuasan dan kebahagiaan pada mereka yang berhasil
5 Perasaan sebagai orang kalah semakin diperparah oleh tekanan lingkungan
Perasaan gagal pada mereka yang belum berhasil lebih mudah diatasi karena ada dukungan kelompok
6 Praktik zero sum game dimungkinkan Praktik zero sum game dihindari 7 Menghasilkan pribadi/organisasi yang
berbuat untuk dirinya sendiri
Menghasilkan pribadi/organisasi yang suka berbagi
8 Berpotensi merusak nilai-nilai kemanusiaan yang luhur
Berpotensi memperkuat nilai-nilai kemanusiaan yang luhur
9 Menghasilkan manusia yang menyukai peperangan
Menghasilkan manusia yang menyukai perdamaian
Ironisnya dalam kehidupan nyata sehari-hari nilai kerjasama ini ternyata belum sepenuhnya menjadi modalitas kebiasaan di antara para mahasiswa dalam mencapai sukses dalam belajar. Nilai kerjasama ini ternyata masih harus dikembangkan di kalangan mahasiswa. Salah satu contoh, Harun Rasyid & Asrori (2006) telah melaporkan hasil penelitiannya di Universitas Tanjungpura, bahwa aspek-aspek penunjuk kerjasama dalam kerja tim semuanya masuk kategori rendah (berkisar antara 30-32%), kecuali hanya aspek bekerjasama yang masuk dalam kategori sedang (38,04%), mereka berkesimpulan bahwa masalah kemampuan bekerjasama perlu diintervensi secara serius kepada mahasiswa.
dan belajar sendiri. Jadi dapat disimpulkan, bahwa penanaman nilai kerjasama di kalangan mahasiswa memiliki arti yang sangat penting dalam membekali mereka untuk berperilaku sesuai dengan tuntutan kompetensinya, terutama kompetensi sosial dan personalnya.
Pembinaan Nilai Kerjasama
Pada era kebijakan peningkatan kualifikasi dan profesionalisme guru sebagai realisasi amanah Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang diikuti dengan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, maka Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) dituntut untuk terus-menerus meningkatkan kompetensi lulusannya. Sejalan dengan itu peningkatan kompetensi lulusan (Sluijsmans, 2002: 11) dapat ditempuh dengan penekanan pada pemanfaatan berbagai pendekatan pembelajaran antara lain: pembelajaran yang berbasis pada kompetensi (competency based learning), pemecahan masalah (problem based learning), berorientasi pada mahasiswa (student centred learning), dan berbasis pada kegiatan atau projek (project based learning).
Di lain pihak De Corte sebagaimana dikutip Sluijsmans (2002: 11) mengajukan gagasan tentang pentingnya lingkungan yang mendorong untuk belajar. Lingkungan semacam ini memiliki 4 (empat) karakteristik. Pertama, tersedia bahan belajar yang autentik, ada topik masalah secara terbuka dan tersaji dalam berbagai bentuk yang memungkinkan mahasiswa dapat memperoleh pemahaman sendiri. Kedua, penggunaan metode pengajaran yang mendorong minat belajar, mampu mengaktifkan pengetahuan sebelumnya, mengklarifikasi pemahaman, dan menerapkan strategi pembelajaran yang tepat serta terjadi proses refleksi. Ketiga, ada inisiatif yang bersambut untuk perbaikan strategi pembelajaran jika ada koreksi dari pihak luar. Keempat, salah satu cara yang harus ditekankan menurut pandangan konstruktivisme adalah mengaktifkan konstruksi kecakapan (skill) dan pengetahuan berdasarkan pengetahuan sebelumnya, dan dikemas secara autentik dan memberi kemungkinan terbukanya kembali peluang untuk berinteraksi sosial. (Brown, Collins, & Duguid, 1989). Pembinaan nilai kerjasama di kalangan mahasiswa dapat diintervensi melalui pola pembelajaran yang memungkinkan tumbuh-kembangnya nilai itu dan membentuk solidaritas sosial yang menunjang keberhasilan di antara mereka.
dapat memfasilitasi penanaman nilai-nilai kerjasama dalam proses belajar kemampuan pemecahan masalah. Bagaimana esensi pola dasar dan struktur kegiatan belajar kolaboratif itu. Marilah kita simak pada bagian berikut ini.
Pola Dasar dan Struktur Belajar Kolaboratif
Bertolak dari esensi dasar materi pengetahuan Akuntansi, maka belajar tentang langkah-langkah prosedural dalam Akuntansi untuk memecahkan masalah perlu latihan. Latihan harus dilakukan baik pada materi bahan prasyarat maupun pada materi untuk kemampuan prosedural yang kompleks (Mukhadis, 2003). Sebagai konsekuensinya untuk menunjang pencapaian kebulatan kompetensi, maka rancangan pembelajaran harus disusun secara berjenjang menurut aspek isi dari prosedur yang sederhana menuju ke pengetahuan yang semakin kompleks dengan memperhatikan faktor kendala berupa pengelolaan waktu belajar. Sementara itu, perlu disadari bahwa setiap mahasiswa memiliki kecepatan belajar yang berbeda-beda. Berhubung batas rentang waktu yang digunakan untuk pembelajaran materi yang sama tidak dapat berlaku mutlak sama untuk semua mahasiswa (Udin, 2001), maka dibutuhkan pola belajar kolaboratif untuk memfasilitasi pemecahan masalah.
Pola belajar yang dapat memfasilitasi pemecahan masalah dan mempertimbangkan faktor lingkungan yang dikondisi menurut lingkungan belajar kolaboratif (collaborative learning environtment) preskripsinya tampak sebagaimana bagan pada Gambar 1 (Suratno, 2009; Moallem, 2003). Dari Gambar 1 tersebut dapat dikenali unsur-unsur kolaboratif yang mendukung terbentuknya struktur pengetahuan pemecahan masalah dalam interaksi sosial, yakni terdiri dari (1) dukungan dari interaksi sejawat (peer support), (2) dukungan bersama dari interaksi kelompok (community support), (3) dukungan pengetahuan (kognitif) dari interaksi individu sendiri (cognitive support) dan (4) dukungan emosi
(emotional support).
Gambar 1
Pola Dasar Struktur Kegiatan Belajar Kolaboratif dan Proses Pemecahan Masalah
Elemen Dasar Belajar Kolaboratif
Elemen-elemen dasar kerjasama kolaboratif (Stairs, 2005) itu adalah (1) kesalingtergantungan secara positif; (2) adanya interaksi saling ketemu muka dalam bekerjasama; (3) rasa tanggungjawab individu untuk menyelesaikan tugas bersama; dan (4) dibutuhkannya keterampilan interpersonal dan kerjasama kelompok kecil.
Ketrampilan kerjasama membuahkan implikasi adanya keterampilan sosial yang dibutuhkan untuk berkolaborasi. Keterampilan kerjasama berfungsi melancarkan hubungan kerja dan tugas. Peranan hubungan kerja dapat dibangun dengan mengembangkan komunikasi antar anggota kelompok, sedangkan peranan tugas dilakukan dengan membagi tugas antar anggota kelompok selama kegiatan. Rasa kesalingtergantungan tercipta melalui kerjasama kolaboratif. Perangkat untuk pengorganisasian proses kerja kolaborasi dalam tim perlu dipersiapkan untuk menunjang efisiensi dan efektifitas pencapaian tujuan belajar.
Pentingnya kerjasama kolaboratif dalam kelompok ( Johnson, 1987; Panitz, 1996; Joyce & Weil, 1996) adalah:
(2) Meningkatkan komitmen pada kelompok dan tujuan-tujuan bersama dimana anggota kelompok saling bantu-membantu, saling membutuhkan, memberikan umpan balik yang tepat, dan memberi dorongan untuk pencapaian tujuan-tujuan bersama.
(3) Memperlancar interaksi antar individu dan antar kelompok di antara anggota kelompok, yang memungkinkan tiap anggota menampilkan keterampilan sosial dan kompetensi dalam berkomunikasi.
(4) Memberikan stabilitas pada kelompok sehingga anggota kelompok dapat bekerjasama dengan anggota lain dalam waktu yang cukup lama tetapi tidak melelahkan dan dapat membangun norma kelompok, penampilan tugas bersama, dan pola-pola interaksi.
Tahap-tahap Pembelajaran Kolaboratif
Pola pembelajaran kolaboratif dalam implementasinya memerlukan tahapan kegiatan. Berikut dipaparkan tahap-tahap dimaksud. Pengajaran kolaboratif mempunyai 6 langkah utama (Joyce & Weil, 1996) yaitu: (1) penyampaian tujuan dan memotivasi mahasiswa; (2) penyajian informasi dalam bentuk demonstrasi atau melalui bahan bacaan; (3) pengorganisasian mahasiswa ke dalam kelompok-kelompok belajar; (4) membimbing kelompok bekerja dan belajar; (5) asesmen tentang apa yang sudah dipelajari sehingga masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya; (6) memberikan penghargaan baik secara kelompok maupun individu.
Tujuan dan Asumsi Belajar Kolaboratif
Keseluruhan kehidupan sekolah harus ditata sebagai bentuk kecil atau miniatur kehidupan demokrasi. Untuk itu mahasiswa seyogianya memperoleh kesempatan dan pengalaman dalam membangun sistem sosial secara berangsur-angsur untuk belajar bagaimana menerapkan metode yang berwawasan keilmuan dalam memperbaiki kehidupan masyarakat. Dalam kerangka pikir yang demikian suasana kelas merupakan analogi dari kehidupan masyarakat, yang di dalamnya ada tatatertib, dan budaya kelas (Zamroni, 2000).
Pengembangan skill dasar bagi setiap mahasiswa meliputi (1) the hard skills, yang mencakup dasar-dasar matematik, problem solving, dan kemampuan membaca, (2) the soft skills, yang meliputi kemampuan bekerja sama dalam kelompok dan kemampuan komunikasi atau kemampuan untuk menyampaikan ide dengan jelas baik lisan maupun tulis, (3) kemampuan memahami bahasa komputer yang sederhana, seperti word processor
dan dan aplikasi software lainnya. Kelas dengan kerjasama kolaboratif merupakan gambaran awal untuk tumbuhnya wawasan mahasiswa sebagaimana yang diharapkan dalam hidup demokrasi. Hidup demokrasi sebagaimana dicitakan, berwujud tampilnya kultur kuliah yang ideal. Melalui model kerjasama kolaboratif, mahasiswa akan bekerja dan belajar cara-cara anggota masyarakat melakukan proses mekanisme sosial melalui berbagai proses pengambilan keputusan untuk memperoleh kesepakatan-kesepakatan (Panitz & Panitz, 2005).
Kesepakatan-kesepakatan tersebut menjadi dasar panutan menata hidup dan kehidupan yang damai dan sejahtera, penuh rasa kebersamaan, saling tergantung dan saling memberi manfaat sehingga mampu mempertahankan dan memajukan kehidupan secara berkelanjutan.
Belajar kemampuan kerjasama kolaboratif sangat tepat dilakukan dengan model ini karena selain pengembangan keilmuan secara akademis, mahasiswa sekaligus melatih diri belajar melalui kesepakatan-kesepakatan dan mereka terlibat langsung praktik dalam pemecahan masalah sosial. Tiga konsep utama terkandung dalam model kerjasama kolaboratif (Stairs, 2005; Slavin, 1990), yakni (1) penyelidikan atau inquiry, (2) pengetahuan atau knowledge, dan (3) dinamika belajar kelompok atau the dynamics of the learning group.
Peranan Dosen dan Mahasiswa
Prinsip pengelolaan yang digunakan sebagai acuan, bahwa pengembangan sistem sosial harus berlangsung secara demokratis, ditandai oleh keputusan-keputusan yang tumbuh dari kesepakatan kelompok dengan pokok masalah sebagai sentral kegiatan belajar. Dosen diupayakan seminimal mungkin memberi kontribusi pengarahan, sehingga kelas seringkali tampak tak terstruktur. Dosen dan mahasiswa berstatus sama dalam menghadapi masalah sebagai sentral kegiatan belajar, tetapi peranannya berbeda. Oleh sebab itu prinsip yang dipegang adalah bahwa dosen sebagai konselor, konsultan, dan pemberi kritik yang konstruktif.
Bimbingan diarahkan melalui proses tiga tahap: (1) tahap pemecahan masalah, (2) tahap pengelolaan kelas, dan (3) tahap pemaknaan secara perorangan (Moallem, 2003; Suratno, 2009), . Tahap pemecahan masalah adalah tahap berkaitan dengan upaya menjawab pertanyaan apa hakikat dan fokus dari masalah. Tahap pengelolaan berkaitan dengan proses menjawab pertanyaan, antara lain informasi apa yang dibutuhkan, bagaimana mengorganisir kelompok untuk memperoleh informasi itu. Tahap pemaknaan perseorangan berkenaan dengan proses pengkajian bagaimana kelompok menghayati kesimpulan yang dibuat, dan apa yang membedakan seseorang sebagai hasil dari terlibat proses tersebut.
Berikut kami paparkan tentang strategi dan langkah pengelolaan belajar kolaboratif.
Strategi dan Langkah-langkah Mengelola Pembelajaran Kolaboratif
Pada pertemuan awal kuliah, setelah semua peserta kuliah memperoleh bahan belajar, kepada mereka diberikan orientasi sebagai stimuli material. Kemudian diikuti penyajian epitome menyeluruh untuk substansi materi (Akuntansi Perusahaan Jasa). Setelah epitome menyeluruh mendapatkan proses retensi secukupnya, lantas lakukan tes awal untuk tujuan melihat kemampuan awal mahasiswa dan sekaligus untuk melakukan pembentukan kelompok-kelompok kerja.
Setelah fase ini selesai dan dianggap cukup memperoleh retensi, dilanjutkan dengan pemberian tugas untuk asimilasi prosedur dan urutan tindakan pemecahan masalah yang baru saja didemonstrasikan, dan kemudian diikuti dengan pemberian tugas latihan yang substansinya mirip (analog) atau berkaitan (relate) dengan apa yang dicontohkan dalam demonstrasi.
Setelah fase latihan usai, maka ditindaklanjuti dengan kegiatan asesmen teman sejawat. Kepada mahasiswa dibagikan perangkat asesmen, dilengkapi dengan rubrik, audit check sheet atau complete-cycle problem beserta blanko lembar rekaman hasil asesmen kepada setiap kelompok. Sementara kelompok melakukan pembagian tugas di antara anggota-anggotanya, dibagikan kunci jawaban tertulis kepada setiap individu sebagai balikan dari tugas yang telah dikerjakan. Kemudian setiap individu anggota kelompok diberi kesempatan untuk saling melakukan pemeriksaan hasil kerja dari sejawat dalam kelompoknya atau dari anggota antar kelompok yang lain (catatan: tidak dibenarkan hasil pekerjaan seseorang mahasiswa diperiksa oleh dirinya sendiri).
Kemudian setelah fase asesmen teman sejawat telah selesai, setiap kelompok (melalui petugas kelompoknya) menyerahkan rekaman hasil asesmen, dan anggota yang lain menyerahkan kembali hasil pekerjaan kepada mahasiswa pemilik pekerjaan yang bersangkutan. Beri kesempatan anggota kelompok untuk saling melakukan koreksi dan introspeksi kesalahan langkah atau prosedur yang telah dilakukan dan mendiskusikannya. Beri tugas tutorial kepada kelompok atau individu yang memiliki tingkat kebenaran 85% ke atas untuk membimbing sejawatnya yang mengalami tingkat kesalahan lebih dari 15%. Pada fase akhir jika ada ditemukan pertanyaan dari mahasiswa yang tidak dapat dijawab oleh tutor sejawat, berikan jawaban-jawaban secara individual kepada mahasiswa yang membutuhkan bantuan tersebut. Setelah fase ini selesai, pada akhir sajian berikan rangkuman dan sintesis, dan jelaskan posisi dari materi itu dalam komposisi epitome keseluruhan dengan maksud agar proses retensi lebih mantap.
remedial. Manfaatkan tutor sejawat (yang memiliki penguasaan 85% atau lebih) untuk melakukan remedial pada kesempatan belajar kelompok di luar kelas.
Perangkat Pengelolaan Belajar Kolaboratif
Untuk mendukung kelancaran penerapan pengelolaan belajar kolaboratif setidaknya diperlukan 6 (enam) format pencatatan untuk pengelolaan dan perencanaan kegiatan belajar-mengajarnya (Howard, 2001). Format-format itu adalah:
1. Roster Komunikasi 2. Lembar Tugas 3. Jadwal Pertemuan 4. Agenda Pertemuan
5. Jadwal Kegiatan Pertemuan Tim 6. Evaluasi Pertemuan Berkala
7. Evaluasi Akhir Keseluruhan Kegiatan
Pola pembelajaran kolaboratif, merupakan salah satu strategi pembelajaran untuk mengatasi peserta kuliah yang banyak, dengan cara membagi-bagi mahasiswa peserta kuliah dalam kelompok diikuti pemberian tugas berupa kasus pemecahan masalah, dan kemudian hasil kerja tugas dinilai antar kelompok atau inter anggota kelompok. Sebagai konsekuensinya penilaian dituntut adil, berkelanjutan, memperhatikan prestasi unjuk kerja individu, prestasi individu dalam kerja kelompok, dan unjuk kerja kelompok, baik pada proses maupun pada hasil.
Dari kegiatan-kegiatan itulah mahasiswa secara tidak langsung telah ditanamkan anasir dasar perilaku yang mengandung nilai-nilai kerjasama yang esensinya sangat penting sebagai bekal untuk menyongsong kehidupan nyata sebagai guru di masyarakat yang diharapkan dapat mendukung kehidupan yang demokratis. Selain itu mahasiswa terfasilitasi dengan pembiasaan untuk bekerjasama dan berpikir secara kritis. Kemampuan komunikasi secara verbal akan lebih sering diasah dan akhirnya membawa implikasi kepada kecerdasan intelektual maupun mental (Gokhale, 1995).
Refleksi Mahasiswa Tentang Praktik Pembelajaran Kolaboratif
“Minat belajar menjadi lebih bergairah karena ada teman yang lebih pandai dalam kelompok’
“Dapat menyelesaikan pekerjaan yang banyak relatif lebih cepat dengan cara melakukan
pembagian tugas’
‘Dapat mengetahui apa yang tidak diketahui sebelumnya’
‘Lebih mudah dan lebih cepat untuk memahami materi yang disampaikan dosen’ ‘Adanya kemudahan berinteraksi dengan dosen’
‘Meningkatkan kebersamaan dalam kelompok dan belajar lebih menyenangkan’
‘Meningkatkan kemampuan dan pengetahuan mendiagnosa atau memeriksa tentang materi kuliah’
‘Dapat bertukar pikiran, menyatukan pendapat, saling menambah pengetahuan, tukar informasi’
‘Penilaian lebih objektif, tidak hanya oleh satu orang (pengajar) tetapi juga sejawat ikut memberikan penilaian’
‘Belajar kelompok tidak tegang’
‘Lebih dapat menyadari akan adanya kelebihan dan kekurangan pada diri sendiri’
‘Memperoleh pengalaman praktik akuntansi secara langsung'
‘Banyak praktik latihan soal, adanya materi dalam bentuk teori untuk memperjelas pemahaman, dan kerja kelompok menambah daya serap belajar’
Kotak 1 Komentar dari mahasiswa tentang keunggulan/keuntungan kuliah dengan pola kerjasama kolaboratif.
Dari komentar-komentar itu dapat disimpulkan bahwa pola pengelolaan belajar kolaboratif dapat mengubah nuansa mekanisme proses belajar mengajar yang lebih demokratis, aktif dan berdaya guna bagi mahasiswa.
Pada sisi lain, komentar-komentar mahasiswa terhadap kekurangan/kelemahan penerapan pola belajar kerjasama kolaboratif, antara lain dapat dicermati pada Kotak 2 di halaman berikut. Dari komentar-komentar mahasiswa yang cenderung negatif terhadap praktik belajar kerjasama kolaboratif ini ternyata faktor-faktor penyebabnya adalah masalah mutu interaksi, ketersediaan waktu, komitmen kerja kelompok, pembagian tugas dan jadwal pertemuan, jumlah anggota dalam kelompok, sikap keterbukaan (fairness).
‘Interaksi dan rasa kebersamaan yang terjalinhanya pada kelompok itu saja’
‘Terkadang kerjasama tidak sepenuhnya tercipta, karena sebagian teman hanya mencontek hasil kerja kelompok’
‘Sering kurang teliti dalam mengerjakan latihan karena terlalu banyak diskusi’
Keterbatasan waktu menjadi susah untuk memahami penjelasan teman, sulit membagi
waktu’
‘Jika semua anggota kelompok tidak paham maka akan terjadi kebuntuan’
‘Rasa tidak puas dalam menerima hasil pemikiran dan pendapat rekan dalam proses belajar’
‘Terkadang di dalam suatu kelompok terjadi dominasi seseorang, sehingga yang lain
merasa minder’
‘Sering merasa tidak yakin dengan pemecahan masalah hasil diskusi’
‘Sulit menentukan jadwal pertemuan, akibat kurang komunikasi dalam penentuan jadwal
kelompok’
‘Jika tidak kompak, anggota kelompok satu sama lain tidak peduli dengan tugas. Timbul sikap hanya menunggu hasil dari teman’
Kotak 2 Komentar dari mahasiswa tentang kekurangan/kelemahan kuliah dengan pola kerjasama kolaboratif.
Oleh sebab itu faktor-faktor ini dalam praktik pengelolaan belajar harus menjadi perhatian dan harus dapat dikendalikan sedemikian rupa oleh dosen agar suasana belajar kerjasama kolaboratif dapat ditingkatkan mutunya dan terhindar dari pengaruh negatif faktor-faktor tersebut.
Simpulan: Pembinaan Nilai Kerjasama dan Pemantauan Lanjut
Kualifikasi guru di era global dituntut harus mampu bekerjasama dalam tim baik dengan sejawat mau pun dengan atasan di sekolahnya. Tanpa mengabaikan kompetensi lainnya, kompetensi sosial dan personal merupakan titik tolak orientasi pembinaan nilai kerjasama mahasiswa calon guru di LPTK. Pembiasaan kerjasama kolaboratif dalam kelompok saat terlibat pembelajaran merupakan wahana yang tepat untuk penanaman nilai kerjasama. Penanaman dan pembinaan nilai kerjasama sebagai bagian dari transferable skills mahasiswa sebaiknya dipantau dan dievaluasi dari waktu ke waktu sehingga baik kualitas pembelajarannya, perolehan pada peningkatan kognitif, afektif dan ketrampilan sebagai penunjang capaian hasil belajar (learning outcome) berupa kemampuan transfer belajar mahasiswa, baik yang tergolong kedalam hard skills maupun soft skills dapat diamati dari waktu ke waktu sampai dicapai ukuran yang terbaik.
Harapan jauh ke depan semoga para lulusan dapat menerapkan teori ke dalam aksi di masyarakat dengan orientasi kepada cara pandang berkehidupan yang dilandasi oleh nilai-nilai kerjasama secara kolaboratif dalam nuansa profesional. Guru-guru yang demikianlah yang kiranya dapat mengemban pilar kehidupan berbangsa dan bernegara secara santun dan bertanggungjawab.
Hadirin yang kami muliakan,
bagian akhir dari pidato ini, perkenankan kami menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah ikut bertanam budi terhadap tercapainya titik puncak jabatan akademik Guru Besar yang kami peroleh di Universitas Lambung Mangkurat ini.
Dari lubuk hati yang dalam kami mengucap puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat dan rahmat serta kasih sayang-Nya kepada kami, yang tidak pernah ingkar janji dan yang telah menyampaikan firman kepada kami untuk selalu ‘iqra’ dan akhirnya menyadarkan kami untuk berkesimpulan bahwa: “semakin tahu itu pada hakekatnya makin tidak tahu”. Jika kita tahu sedikit, justru terbuka lebar ketidak tahuan kita yang semakin banyak. Mahabesar Allah SWT dengan segala ciptaan-Nya.
Berikutnya perkenankanlah kami menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Republik Indonesia, melalui Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, yang telah mengangkat kami dalam jabatan Guru Besar untuk bidang ilmu Penelitian dan Evaluasi Pendidikan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat. Ucapan terima kasih juga kami haturkan kepada Pimpinan dan Anggota Senat Universitas Lambung Mangkurat beserta Pimpinan dan Anggota Senat Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lambung Mangkurat yang telah menyetujui, mengusulkan, dan memproses pengangkatan jabatan kami sebagai guru besar.
Tak lupa pula kami sampaikan ucapan terima kasih kepada Ketua dan Sekretaris Jurusan Pendidikan IPS, Ketua dan Sekretaris Program Studi Pendidikan Ekonomi, dan seluruh dosen di Jurusan Pendidikan IPS, terutama dosen Program Studi Pendidikan Ekonomi, yang selama ini telah memberi bantuan dan bersedia bekerjasama, memberi dorongan moril kepada kami untuk mencapai titik puncak jabatan akademik tertinggi. Ucapan terima kasih secara khusus saya sampaikan kepada Drs. Supriyanto, M.Pd. Ak. dan Dra. Nor Amali, M.M. yang bersedia dengan tulus ikhlas menjadi dosen mitra sebagai objek percobaan penelitian disertasi kami.
review dan menilai karya ilmiah serta memberi rekomendasi untuk memantapkan kelengkapan dan pengusulan kami memangku jabatan Guru Besar.
Kepada Bapak Drs. Soenarto dan Ibu Dra. Sri Widayati; Drs. Bambang Parsono dan isteri yang telah bersedia menjadi wakil orangtua saya saat mempertemukan dengan pendamping saya Dra. Hj. Mariatul Kiftiah dan yang selalu mengingatkan untuk terus gigih meraih jabatan guru besar; tanpa budi baik beliau-beliau niscaya tidak mungkin jabatan tertinggi ini bisa saya raih dan menjadi bagian sejarah hidup saya. Khusus kepada Prof. Dr. Ir. Athaillah Mursyid, M.S. (Direktur Program Pascasarjana UNLAM), Prof. Dr. Ir. H. M. Ruslan, M.S. (Rektor UNLAM), Prof. Dr. H. Hadin Muhjad, SH.,M.Hum.; serta Prof. Dr. Djumadi, M.Pd. (Pembantu Rektor II UNLAM) yang selalu mengingatkan di antara kesibukan kami untuk menyempatkan pidato pengukuhan, kami ucapkan terima kasih yang mendalam karena tanpa pengukuhan ini tiada mungkin kami mendapat kesempatan untuk berdharma bhakti lebih jauh bagi kemaslahatan dan kemajuan UNLAM tercinta.
Kepada semua Bapak dan Ibu guru kami di SD Negeri Kotes, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, Jawa Timur; SMP Negeri Wlingi, SMEA Negeri Blitar, kami mengucapkan terima kasih yang setulusnya atas bimbingan dan pendidikan, serta pengajarannya sehingga telah membentuk potensi diri kami dengan cara mengantarkan kami ke gerbang ilmu pengetahuan dan pengalaman kehidupan yang terbalaskan budi baiknya.
Ucapan yang sama kami sampaikan penghargaan kepada para dosen kami di Jurusan Pendidikan IPS Program Studi Pendidikan Ekonomi Tataperusahaan FKIS IKIP Negeri Malang (sekarang UM), dan dosen kami di IKIP Negeri Jakarta dan IKIP Negeri Yogyakarta saat menempuh program magister, serta dosen kami di Universitas Negeri Yogyakarta terutama para Pembimbing disertasi dan Penguji disertasi kami: Prof. Suyanto, Ph.D; Prof. Djemari Mardapi, Ph.D.; Prof. Soenarto, Ph.D.; Prof. Dr. Muhjadi; Prof. Suyata, Ph.D.; Sumarno, Ph.D.; Prof. Dr. Aliyah A. Rasyid; Prof. Dr. Suharsimi Arikunto; Prof. Kumaidi, Ph.D., yang telah menempa kami dengan ilmu dan pengetahuan serta kesabaran sehingga membentuk karakter dan jati diri, penalaran dan akal budi, kreativitas yang bermanfaat untuk menghadapi tantangan kehidupan.
Universitas Tanjungpura dan sekarang pindah mengabdi ke Universitas Negeri Yogyakarta, yang selalu merasa senasib sepenanggungan dan menjadi bukti empiris pentingnya kerjasama kolaboratif di antara kami, sehingga kami bertiga dapat menyelesaikan disertasi dengan hasil sangat memuaskan, serta menghasilkan buku yang kami tulis bersama. Tidak dapat kami lupakan sejawat kami Dr. Heri Retnowati, M.Pd. dosen FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta yang telah bersedia diskusi bersama menuntaskan aplikasi program Genova yang merupakan pintu dan kunci keberhasilan analisis dari penelitian disertasi kami, kepadanya kami ucapkan terima kasih yang mendalam.
Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Yayasan Supersemar dan BPPS di Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi di Jakarta; Yayasan Supersemar telah memberikan beasiswa selama 3 (tiga) tahun yang memungkinkan kami dapat menyelesaikan studi Sarjana Muda di FKIS IKIP Negeri Malang, sementara BPPS Dirjen Dikti telah memberikan beasiswa kepada kami selama 3 (tiga) tahun dalam menempuh program Doktor di Universitas Negeri Yogyakarta. Ucapan yang sama kami sampaikan kepada Gubernur Provinsi Kalimantan Selatan yang telah membantu biaya penyelesaian disertasi melalui Rektor Universitas Lambung Mangkurat, dan ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada Dekan FKIP UNLAM yang telah membantu biaya penyelesaian disertasi dan pelaksanaan ujian terbuka atau promosi Doktor kami di Universitas Negeri Yogyakarta.
Kepada pimpinan dan segenap kolega Pamong Belajar dan widyaiswara di Balai Pengembangan Kegiatan Belajar (BPKB) Daerah Istimewa Yogyakarta terutama Dr. Cipto Suncoko, M.Pd. dan Drs. Fauzi Eko Pranyono; kami ucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya, yang telah memberi kepercayaan dan kesempatan kepada kami untuk menjadi narasumber kegiatan pengembangan berbagai model pembelajaran selama kami kuliah di Program Doktor Universitas Negeri Yogyakarta sehingga mendewasakan kami dalam pengalaman dan ketrampilan.
Program Pascasarjana STIEI Banjarmasin yang telah memberi kepercayaan dan kesediaan bekerjasama sehingga kami terlibat dalam berbagai kegiatan akademik, penelitian dan lainnya sehingga sangat mendukung tercapainya jabatan akademik tertinggi ini.
Dalam lingkup yang lebih pribadi, penghargaan dan ucapan terima kasih yang pertama kami haturkan kepada kedua orangtua kami, Bapak Martodiryo (yang telah kembali ke pangkuan Allah SWT (sejak tahun 1996) dan Ibu Sarah, yang telah melahirkan, mengasuh, dan membesarkan kami dengan penuh kasih sayang dan penuh keteladanan untuk selalu bekerja dengan giat sepanjang hayat. Meskipun beliau berdua adalah petani tulen dan tidak tamat pendidikan dasar, tetapi cita-cita getaran jiwa yang kami rasakan dan perjuangan beliau untuk menyekolahkan 8 (delapan) orang anaknya telah membawa keberkahan bagi salah satu putranya, kami mencapai titik puncak jabatan akademik ini. Semoga Allah Yang Maha Pemurah, memberikan semua pahala dari berbagai amal kebajikan kepada beliau berdua dan selalu menyayanginya sebagaimana sayangnya beliau kepada kami sewaktu kami masih kecil.
Kepada keluarga besar kami kakanda Suwarto (almarhum) sekeluarga, Suwandi sekeluarga; adik-adik kami Supiarti, Sumarko, Sunarwan Triono, Supiani, dan Andrianti beserta keluarga mereka, kami ucapkan terima kasih atas dukungan dan kebersamaannya.
Kepada mertua kami, Bapak H. Marzuki (almarhum) dan Ibu Hj. Fauziah, kami menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga atas bimbingan dan petuahnya serta dengan rela hati sudi menerima kami sebagai bagian dari keluarga. Kepada kakanda H. Edy Supian Noor, BE. beserta keluarga kami sampaikan ucapan terima kasih atas segala bantuannya. Kepada besan kami H. Tarsudi Jumain, SH dan isteri Hj. Siti Khodijah, kami ucapkan terima kasih atas segala jalinan silaturahmi, bantuan dan memberikan suasana ketenteraman batin bagi kami karena telah menerima anak kami sebagai bagian dari keluarganya.
Sebagai akhir dari pidato ini, kami sungguh mendapat kehormatan yang tiada bernilai atas kehadiran, kesabaran, dan perhatian hadirin yang kami muliakan. Semoga kebaikan hadirin sekalian mendapat balasan pahala dari Allah SWT. Amin, ya rabbal al-Amin!. Billahi taufiq wal hidayah. Assalamu alaikum warahmatullahi wabarahkatuhu.
REFERENSI
Brown.J.S., Collins, A., & Duguid, P. (1989). Situated cognition and the culture of learning. Educational Researcher, 18, 32-42.
Covey, Stephen R. (1997). The 7 habits of highly effective people (7 kebiasaan manusia yang sangat efektif). (Edisi Revisi). (Alih bahasa oleh Budijanto). Jakarta: Binarupa Aksara. (Buku asli diterbitkan tahun 1993).
Delors, Jacques. (1995). Learning the treasure within. Paris: UNESCO.
Directorate General of Higher Education. DGHE (D). (2004). Higher Education Long Term Strategy – HELTS 2003 – 2010.
Gokhale, Anuradha A. (1995). Collaborative learning enhances critical thinking. Journal of Technology Education. ISSN 1045-1064, Vol. 7 Number 1 Fall 1995. Diambil tanggal 18 September 2005 dari http://scholar.lib.vt.edu/ejournals/JTE/te-v7n1/gokhale.jte-v7n1.html
Harun Rasyid dan Asrori, M. (2006). Pengembangan strategi pembelajaran kolaboratif dalam tim mahasiswa Kalimantan Barat. Cakrawala Pendidikan, Februari 2006. Th. XXV. No.1.
Howard, Sandra. (2001). “Collaborating with technology-guiding the teamwork”. Diambil tanggal 01 Januari 2006 http://www.millikin.edu/ webmaster/collaboration/collaboration5.html
Howard, S.A. (1999). Guiding collaborative teamwork in the classroom. Effective Teaching, 10,(5), 11-27.
Huang, Jiunn, O’Shaughnessy, John & Wagner. (2005). Prerequisite change and its effect on intermediate accounting performance, Journal of Education for Business, May/Jun 2005; 80,5; ProQuest Education Journals.
Jede Kuncoro. (2007). From competing to collaborating, Paradigma baru untuk meraih keberhasilan sejati secara berkelanjutan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Johnson, D.W. & Johnson, Roger T. (1987). Learning together and alone: Cooperative,
competitive, and individualistic learning (2nd ed.) New Jersey: Prentice-Hall, Inc, Englewood Cliffs.
Joice, Bruce dan Weil, Marsha. (1996). Model of teaching (5th ed.). Boston: Allyn & Bacon.
Moallem, Mahnaz. (2003). An interactive online course: A collaborative design model.
Mukhadis, A. (2003). Pengorganisasian isi pembelajaran tipe prosedural, kajian empirik pada latar sekolah menengah kejuruan rumpun teknologi. Disertasi. Malang : Penerbit Universitas Negeri Malang.
Panitz, Theodore & Panitz, Patricia. (2005). Encouraging the use of collaborative learning
in higher education. Diambil tanggal 19 Agustus 2005 dari
http://home.capecod.net/~tpanitz/tedarticles/ encouragingcl.htm).
Panitz ,Ted. (1996). A definition of collaborative vs cooperative learning. Diambil tanggal 25 September 2005 dari http://www.city. londonmet.ac.uk/ deliberations/collab.learning/panitz2.html
Peraturan Pemerintah RI. (2005). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan.
Peraturan Pemerintah RI. (2012). Peraturan pemerintah, nomor 8 Tahun 2012, tentang kerangka kualifikasi nasional Indonesia (KKNI).
Polya, George. (1973). How to solve it. (2nd ed.). Princeton University Press, ISBN 0-691-0897-6. Diambil tanggal 11 Desember 2005 dari http://www.math.utah.edu/~alfeld/ math/polya.html
Reigeluth, C. and Stein, S.F. (1983). The elaboration theory of instruction. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associaties. Publishers, Hillsdale.
Reigeluth, c. (2005). Elaboration Theory diambil tanggal 19 Agustus 2005 dari http://tip.psychology.org/reigelut.html
Siddharta Utama. (2003). Profesionalisme akuntan dan proses pendidikan akuntansi di indonesia. Dalam: Akuntansi indonesia di tengah kancah perubahan. Jakarta: Pustaka LP3ES Indonesia: 103-121.
Siswandari. (2006). Peningkatan Transferable Skills Mahasiswa Melalui Pengembangan Model Pembelajaran Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Berbantuan Komputer (Upaya Meningkatkan Competitive Advantage Lulusan Pendidikan Tinggi).
Disertasi. Universitas Negeri Malang.
Siswandari & Susilaningsih. (2008). Pengembangan Transferable Skills Mahasiswa Melalui Peningkatan Kualitas Pembelajaran Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Dalam Rangka Meningkatkan Daya Saing Lulusan Pendidikan Tinggi. Laporan Penelitian Hibah Bersaing XIV Tahun III. DP3M Dikti.
Slavin, R. (1990). Cooperative learning: Theory, research and practice. Englewood Cliffs. NJ: Prentice Hall.
Sluijsmans, D.M.A., (2002). Student involvement in assessment: The training of peer assessment skills. Kerkrade: Open Universiteit Nederland.
Suratno. (2009). Pengembangan Model Asesmen Teman Sejawat Kompetensi Akuntansi Berbasis Model Pembelajaran Kolaboratif (Uji Empirik Pada Mahasiswa Program Studi Pendidikan Ekonomi Jurusan PIPS FKIP UNLAM). Disertasi: Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta).
Udin S. Winatasaputra. (2001). Model-model pembelajaran inovatif: Pekerti. Mengajar di perguruan tinggi. Buku 1.04. Jakarta: PAU-PPAI Universitas Terbuka.
Undang-Undang RI. (2005). UU Nomor 14, tahun 2005, tentang Guru dan Dosen.
Undang-Undang RI. (2003). UU Nomor 20, tahun 2003, tentang sistem pendidikan nasional.
UNESCO-APNIEVE. (2000). Belajar untuk hidup bersama dalam damai dan harmoni, Pendidikan nilai untuk perdamaian, Hak-hak azasi manusia, Demokrasi dan pembangunan berkelanjutan untuk kawasan Asia-Pasifik. Jakarta: Kantor Prinsipal UNESCO Untuk Kawasan Asia Pasifik dan UPI.
Webb, et.al.(1997). Equity issues in collaborative group assessment: Group composition and performance. Los Angeles: CRESST.
Webb, Noreen. (1994). Group collaboration in assessment: Competing objectives, processes, and outcomes. CSE Technical Report 386 Los Angeles: National Center for Research on Evaluation, Standards, and Student Testing. Diambil tanggal 20 Agustus 2005 dari http://cresst96.cse.ucla.edu/products/ reports_set.htm
Wiersema, Nico. (2000). How does collaborative learning actually work in a classroom and how do students react to it? A brief reflection. Diambil tanggal 19 Agustus 2005 dari http://www.city.londonmet. ac.uk/deliberations/collab.learning/ student_index.html
BIODATA I. Identitas:
1. Nama Lengkap : Prof. Dr. Suratno,MPd.
2. NIP : 19570206 198103 1 001
3. Pangkat/Golongan : Pembina Utama Madya / IV-d
4. Jabatan : Guru Besar
5. Tempat, tgl. Lahir : Blitar, 06 Februari 1957 6. Jenis Kelamin : Laki-laki
7. Bidang Keahlian : Penelitian dan Evaluasi Pendidikan 8. Fakultas/Jurusan/P.Studi : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,
Universitas Lambung Mangkurat/Pendidikan IPS/
Program Studi Pendidikan Ekonomi 9. Alamat Rumah : Jl. Ahmad Yani Km. 4,5
Komplek Buncit Indah I No. 36 Rt. 7 Banjarmasin (70249), Kalimantan Selatan Telp. (0511)3251406,
HP : 0812-500-4704
10. Alamat Kantor : 1) FKIP Universitas Lambung Mangkurat Jl. Brigjen H. Hasan Basry
Kayutangi
Telp. (0511) 3304914
Banjarmasin – Kalimantan Selatan. 2) Program Pascasarjana
Universitas Lambung Mangkurat Jl. A. Yani Km. 36
Banjarbaru – Kalimantan Selatan
Telpon/Fax 0511-4777374
11. Alamat e_mail : [email protected] 12. Isteri : Dra. Hj. Mariatul Kiftiah 13. Anak :1. Fajar Triatma, S. IP. Info. 2. Aunurrahman Yuliatma (almarhum). 3. Nur Anisa Atmasari (almarhumah).
II. Riwayat Pendidikan
No. Pendidikan Lulus Tahun
1. Doktor Penelitian dan Evaluasi Pendidikan, Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta
30 Mei 2009 2. Magister Pendidikan, Pasca Sarjana IKIP Negeri
Jakarta di IKIP Yogyakarta, Jurusan Penelitian & Evaluasi Pendidikan
23 Desember Tahun 1985
3. Sarjana (S-1) Pendidikan Ekonomi Tata
Perusahaan, Fakultas Keguruan dan Ilmu sosial, IKIP Negeri Malang
Juli Tahun 1980
4. Sarjana Muda Pendidikan Ekonomi Tata
Perusahaan, Fakultas Keguruan dan Ilmu sosial, IKIP Negeri Malang
Juli Tahun 1978
7. Sekolah Dasar Negeri Kotes, Kecamatan
Gandusari, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur
Tahun 1969
III. Kursus dan Latihan
No. Nama Kegiatan Kursus/Latihan Tahun
1. Pendidikan dan Latihan Calon Asesor Penilaian Makalah Kepemimpinan di Surakarta oleh Badan PSDMP dan PMP Surakarta.
7 – 11 Desember 2011
2. Pendidikan dan Latihan Calon Asesor PPK di Surakarta oleh Badan PSDMP dan PMP Surakarta
21 – 28 Nopember 2011 3. Pelatihan Pengenalan Pengujian Validitas Item
Tes, di Bandar Lampung, kerjasama Himpunan Evaluasi Pendidikan Indonesia Lampung dan HEPI
30 Januari 2011
4. Pelatihan Asesmen Pendidikan dan Psikologi (Psikometri) kerjasama Program Pascasarjana UNY dan USAID
6. Lokakarya Pendalaman Materi Applied Approach di Bogor, oleh PAU, Dirjen Dikti Jakarta
1 Agustus 1997 7. Pelatihan Applied Approach di UNLAM
Banjarmasin
Pebruari 1997 8. Pelatihan Penyusunan Bankable Proposal Kepada
UPUK Wilayah Kodya Banjarmasin oleh Bank Indonesia Cabang Banjarmasin
Tahun 1995
9. Pelatihan dan Pengembangan Kewiraswastaan di Kalimantan Selatan oleh BKPMD Kalimantan Selatan
Tahun 1994
10. Latihan Model Penelitian Angka Transisi SD-SLTP di Cisarua Bogor oleh Balitbang Dikbud, Depdikbud Jakarta
Tahun 1993
11. Latihan Analisis Kebijakan Sektor Pendidikan dan Kebudayaan (Pemula) di Cisarua, Bogor oleh 14. Latihan Penulis Soal Ujian Akuntansi Nasional di
Samarinda, Kalimantan Timur
Pebruari 1991 15. Latihan Sumber Belajar Akuntansi Nasional di
Bandung, Jawa Barat.
1-7 Maret 1990 16. Kursus Komputer Lotus 123 di Fakultas Ekonomi
Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur
Desember 1989 17. Penataran Akuntansi Untuk Dosen IKIP dan FKIP
Universitas Bidang Studi Akuntansi oleh P2A di
FE Unibraw Malang, Jawa Timur Nasional di IAIN Banjarmasin, Kalimantan Selatan
19 Juni – 5 Juli 1986
IV. Pengalaman Kerja
No. Pekerjaan Tahun
1. Asisten Direktur Bidang Akademik Program Pascasarjana Universitas Lambung Mangkurat
Tahun 2011 - sekarang 2. Ketua Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP
Universitas Lambung Mangkurat
Tahun 2011 3. Ketua P3AI Universitas Lambung Mangkurat Tahun 2010-2011 4. Ketua Unit Micro Teaching FKIP Universitas 7. Ketua Asosiasi Profesi Pendidikan Ekonomi
Indonesia (ASPROPENDO) Wilayah Kalimantan Selatan
Tahun 2011- sekarang
8. Anggota Tim Auditor Universitas Lambung Mangkurat
Tahun 2011 9. Anggota Tim Penyusun Buku Butir-butir
Program/kegiatan Pembangunan untuk Pencapaian Target IPM Provinsi Kalimantan Selatan
Tahun 2012
10. Ketua Tim Kerjasama Jaringan Penelitian Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Selatan
Tahun 2011- sekarang
11. Ketua Laboratorium Komputer dan Akuntansi Program Studi Pendidikan Ekonomi FKIP UNLAM
Tahun 2001-2003
12. Anggota Panitia Pembentukan Dewan Riset Daerah Propinsi Kalimantan Selatan
Februari - Maret 2003 13. Konsultan Lapangan bidang Finance and Project
Management pada Second Junior Secondary Education Project, ADB Loan No. 1573/1574-INO wilayah Kalimantan Selatan dibawah koordinasi PPA Consultant Jakarta.
Tahun 2002 - 2003
14. Konsultan Lapangan Management Local Education Centre di Kalimantan Selatan pada Extension Private Junior Secondary Education Project (Package II – Project Operation and Management Consultant), ADB Loan No.
INO Propinsi Kalimantan Selatan dibawah koordinasi PT. Multi Area Conindo (MACON) Jakarta.
15. Konsultan Pendidikan bidang Finance and Project Management pada Bagian Proyek Peningkatan SLTP Swasta Kalimantan Selatan , Private Junior Secondary Education Project( Package II – Project Operation and Management Consultant), ADB Loan No. 1359-INO dibawah koordinasi PT. Multi Area Conindo (MACON) Jakarta.
Tahun 1997-2000
16. Konsultan Lapangan bidang Operation Management pada Senior Secondary Education Project, ADB Loan No. 1360-INO; PPIU Kalimantan Selatan.
Tahun 1996-1997
17. Sekretaris Tim Pemantauan Dampak Pelatihan Penilik Diklusepora pada Balai Pengembangan Kegiatan Belajar (BPKB) Banjarbaru sewilayah kerja Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.
Tahun 1993 – 1995
18. Asisten Ahli Madya – Guru Besar pada FKIP Univ. Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Kalimantan Selatan Pendidikan Tinggi Pada Tim Project Benefit Monitoring and EvaLuation (PBME) Universitas Lambung Mangkurat dari Six Universities Development and Rehabilitation Project; ADB Loan No. 1013-INO.
Tahun 1994 – 1996
22. Sekretaris P5T (Pusat Pengembangan Pengkajian dan Pemantauan Perguruan Tinggi) Universitas Lambung Mangkurat. SK Rektor No: 157/PT10.H.2/Q/1996, tanggal 27 April 1996
Tahun 1996-2002
23. Anggota Komisi Litbang Daerah pada Balitbangda Propinsi Kalimantan Selatan
Tahun 2000- 2003 24. Sekretaris Tim Kerjasama Jaringan Penelitian
Pendidikan dan Kebudayaan, Bappeda Propinsi Kalimantan Selatan dengan Balitbang Dikbud Depdikbud Jakarta
Tahun 1986 – 2000
25. Pengurus Gabungan Koperasi Pegawai Republik Indonesia sebagai Bendahara, Propinsi Kalimantan Selatan
Tahun 2001-2003
Indonesia sebagai Wakil Sekretaris, Propinsi Kalimantan Selatan.
27. Dosen Luar Biasa pada Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Bina Banua, Banjarmasin
Tahun 1986 - 1989 34. Kepala SMA Malkon Temon, Banjarmasin. Tahun 1988-1989 35. Ketua KPN “Tri Civitas” FKIP Unlam, 38. Kepala Biro Administrasi Akademis Institut
Ilmu Administrasi (STIA), Bina Banua,
Tata Perusahaan – FKIS IKIP Malang.
14 Pebruari 1979 - 20 Desember 1981
V. SEMINAR/SIMPOSIUM/LOKAKARYA/KARYA ILMIAH No. Nama Seminar/Simposium/ Lokakarya Tahun 1. Narasumber: “ Pelatihan Penerapan Research
and Development” dalam Pengembangan Model PAUDNI, oleh IPABI Pusat di Yogyakarta
25 – 29 September 2012
2. Penyaji Laporan Penelitian ‘Kajian Kinerja Komite Sekolah Pada Jenjang Pendidikan Dasar di Provinsi Kalimantan Selatan” pada Seminar Nasional Hasil-hasil Penelitian Kebijakan Tahun 2012 di Bogor, Jawa Barat.
31 Oktober – 2 November 2012
3. Narasumber :”Pengembangan SDM Dalam Perspektif MP3EI” pada Simposium KTI di Palu, Sulteng
28-31 Agustus 2012
4. Penyaji Laporan Penelitian ‘Pemetaan Penduduk
Simposium Tahunan Penelitian Pendidikan 2011 di Denpasar, Bali.
5. Peserta Seminar Nasional Pendidikan dan Konferensi Himpunan Evaluasi Pendidikan Indonesia (HEPI) di Bandar Lampung
29-30 Januari 2011
6. Penyaji Laporan Penelitian ‘Studi Peningkatan Mutu dan Relevansi Pendidikan di Kalimantan Selatan (Telaah Implementasi Kebijakan di tingkat Sekolah) pada Simposium Tahunan Penelitian Pendidikan 2008 di Hotel Millennium Sirih, Jakarta, tanggal 12-14 Agustus 2008.
12-14 Agustus 2008
7. Peserta Seminar “Sistem Ujian Akhir Dalam Era Otonomi Daerah”, di PPS UNY Yogyakarta
13 Desember 2004 8 Peserta Seminar Refleksi Pelaksanaan
Kurikulum Berbasis Kompetensi, di UNY Yogyakarta.
17 Mei 2004
9. Peserta Seminar Rekayasa Sistem Penilaian Dalam Rangka Meningkatkan Kualitas Pendidikan, diselenggarakan oleh Himpunan Evaluasi Pendidikan Indonesia (HEPI).
27 Maret 2004
10. Peserta Seminar Optimalisasi Profesionalisme Guru Dalam Mendukung KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi), diselenggarakan oleh PGRI Propinsi DIY
20 Desember 2003
11. Peserta Seminar Nasional Strategi Pengembangan IPS Terpadu Dalam Rangka Pelaksanaan Otonomi Daerah Menyongsong Kurikulum Berbasis Kompetensi, di Yogyakarta.
23 Agustus 2003
12. Fasilitator Pelatihan Applied Approach dan Pekerti pada Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin.
Juli 2003
13. Peserta Rapat Anggota dan Temu Karya (Rencana Kerja dan Rencana Anggaran Tahun 2003) Induk Koperasi Pegawai Republik Indonesia (IKP-RI), di Green Alia Cikini, Jakarta
16-17 Desember 2002
14. Nara sumber Teknik Penyusunan Rencana Kerja dan RAPB Koperasi pada Pelatihan Anggota KPRI “Ikhsan” Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
26 Oktober 2002
15. Penyaji pada Pelatihan dan Workshop Analisis Kebijakan Mutu Pendidikan dalam rangka Kerjasama Jarlit di Banjarmasin
15-17 Oktober 2002
16. Nara sumber Pelatihan Pengurus KPRI Anggota GKPRI Kalimantan Selatan di Hotel Biuti, Banjarmasin
September 2002
17. Anggota Panitia dan Nara sumber, Workshop Metodologi Penelitian Bagi Peneliti, Calon Peneliti dan PNS yang menangani penelitian dilingkungan Pemerintah Propinsi Kabupaten dan Kota se Kalimantan Selatan, di Banjarbaru,
Kalimantan Selatan
18. Peserta Rakornas Jaringan Kerjasama Penelitian Kebijakan Pendidikan di Manado
27 – 29 Mei 2002 19. Nara sumber Pelatihan Pengurus KPRI
Mekarsari, Rantau, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan
April 2002
20. Peserta Lokakarya Kelompok Acuan Teknis (KAT) Periode V, oleh Proyek Peningkatan Mutu SLTP, di Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
15 Nopember 2001
21. Nara sumber Pelatihan Pengembangan Kemampuan dan Desentralisasi Lembaga Pendidikan (Training on Capacity Building and Decentralization) Angkatan VI kerjasama LPM Unlam dengan Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Selatan
12 Nopember 2001
22 Peserta Lokakarya Kelompok Acuan Teknis (KAT) Periode IV, oleh Proyek Peningkatan Mutu SLTP, di Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
1 Nopember 2001
23 Nara sumber Pelatihan Pengembangan Kemampuan dan Desentralisasi Lembaga Pendidikan (Training on Capacity Building and Decentralization) Angkatan V kerjasama LPM Unlam dengan Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Selatan
Juli 2001
24 Peserta Lokakarya Kelompok Acuan Teknis (KAT) Periode III, oleh Proyek Peningkatan Mutu SLTP, di Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
6 September 2001
25 Peserta Seminar Lokakarya Nasional Penulisan Artikel Ilmiah dan Pengelolaan Jurnal Ilmiah di Perguruan Tinggi, di Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin, Kalimantan Selatan
11 Agustus 2001
26 Peserta Lokakarya Kelompok Acuan Teknis (KAT) Periode II, oleh Proyek Peningkatan Mutu SLTP, di BPG, Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
29 Juli 2001
27 Peserta Lokakarya Kelompok Acuan Teknis (KAT) Periode I, oleh Proyek Peningkatan Mutu SLTP, di BPG Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
23 – 27 Mei 2001
28 Peserta Lokakarya Penilaian Berbasis Sekolah (School Based Assessment), oleh Proyek Peningkatan Mutu SLTP, di Banjarbaru, Kalimantan Selatan
12 Juli 2001
29 Peserta Seminar Nasional Hasil-hasil Penelitian Pendidikan dalam rangka meningkatkan kerjasama Jaringan Penelitian Kebijakan (Jarlit), di Banjarmasin, Kalimantan Selatan
29 Juni 2001
30. Peserta Rapat Koordinasi Nasional Jaringan Penelitian Bidang Pendidikan Nasional Tahun 2001 di Banjarmasin, Kalimantan Selatan
31. Fasilitator Local Education Centre Management Training, Private Junior Secondary Education Project, di LEC Martapura, Kalimantan Selatan
Pebruari 2001
32. Fasilitator Management Training Seminar Local Education Centre, Private Junior Secondary Education Project di Hotel Bukit Raya Permai, Cipanas, Sindanglaya, Jabar
9 – 13 Oktober 2000
33. Fasilitator Pelatihan Data Manajemen Bagi Staff Tata Usaha di Lingkungan SLTP dan MTs se Kalimantan Selatan, Second Junior Secondary Education Project, Banjarmasin, Kalimantan Selatan
2 Agustus 2000
34. Instruktur “Teknik Perkiraan Kebutuhan Pendidikan Masa Depan” pada Pelatihan Terintegrasi Perencanaan Mikro Kepala Sekolah, BPG Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
Angkatan I
14-20 Januari 2000 Angkatan II
21-27 Januari 2000 35. Fasilitator Pelatihan Anggota KPRI “IKHSAN”
Kantor Departemen Agama Kotamadya Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Desember 1999
36. Penyaji, Seminar Peranan Pengawas dalam Koperasi, di Banjarmasin
Tahun 1995 37. Penyaji, Seminar Hasil-hasil Penelitian tentang
Angka Transisi dan Retensi SD/MI di Propinsi Kalsel, oleh Balitbang Dikbud-IEES/USAID, di Jakarta
17-18 Mei 1994
38. Nara Sumber, Pembakuan Model Kegiatan diklusepora, di BPKB Banjarmasin
Tahun 1994 39. Fasilitator, Seminar, Penataran dan Lokakarya
Peningkatan Mutu PTS (Perguruan Tinggi Swasta) Kalimantan di Banjarmasin
Pebruari 1993
40. Pembahas, Seminar dan Lokakarya Evaluasi Kurikulum Program Studi di Universitas Lambung Mangkurat (UNLAM), Banjarmasin
5-6 September 1989
41. Peserta Lokakarya Pengembangan Penelitian Pendidikan dan Kebudayaan di Banjarmasin
Pebruari 1991
VI. Publikasi Karya Ilmiah & Buku
No. Jurnal/Karya Ilmiah Tahun
1. Asesmen Teman Sejawat pada Pembelajaran Kolaboratif Pemecahan Masalah Akuntansi Perusahaan Jasa, Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan, Tahun 13, Nomor 2, 2009. ISNN 1410-4725.
Desember 2009
2. Efektivitas Distribusi Buku Paket SD/MI tahun 1997/1998 Analisa Komparatif di Propinsi Kalsel, Kalimantan Scientiae, Edisi No. 56 Th. XVIII Vol. Agustus 2000
Agustus 2000
3. Transition Rates of SD/MI to SLTP In The Province of South Kalimantan (Paper Presented
on Seminar Improving The Efficiency of Educational System, IEES, Jakarta)
4. Proyeksi Pertumbuhan Murid Pendidikan Dasar di Kalimantan Selatan pada Tahun-tahun Repelita V, Vidya Karya, FKIP Unlam
September 1986
5. Kemampuan Mengelola Interaksi Belajar-Mengajar Guru-guru Pendidikan Moral Pancasila di SMA Se-Kotamadya Malang, Tesis, Pascasarjana UNY.
23 Desember 1985
6. Kemampuan Managerial Kepala Sekolah Sebagai Supervisor Tinjauan Pada SMA Negeri IV Malang, Skripsi, Sarjana Muda FKIS IKIP Malang.
Juli 1978
7. Akuntansi Perusahaan Jasa (Bahan Penunjang Praktikum)
Yogyakarta:
Multipresindo, Agustus 2009;
ISBN: 978-979-17732-8-7 8. Asesmen Perkembangan Anak Usia Dini Yogyakarta:
Multipresindo, Agustus 2009
ISBN: 978-979-17732-9-4 9. Asesmen Pembelajaran di Sekolah Yogyakarta:
Multipresindo, Agustus 2009
ISBN: 978-979-17733-0-0
VII. Kegiatan Penelitian
No. Judul Penelitian Status Sponsor Tahun
1. Pemetaan Tes UN dan Pemetaan Guru di Kalimantan Selatan
Ketua Balitbangda, Kalsel
2012 2. Analisis Biaya Satuan dan Operasional
Pendidikan Dasar di Kabupaten Barito Kuala
3. Pemetaan dan Analisis Kompetensi Siswa SMA Serta Alternatif Pemecahannya di Kabupaten Tanah Bumbu dan Kabupaten Kotabaru, Provinsi Kalimantan Selatan.
Ketua Hibah PPMP Ditlitapmas 2011
2011
Kab/Kota/
Faktor Penghambat Penguasaan Kompetensi Dasar Kasus Pada UN
6. Evaluasi Kebijakan Implementasi KTSP Pada SD/MI di Kalimantan Selatan
Ketua Balitbangda, Kalsel
2010
7. Studi Dampak Pemanfaatan Internet Terhadap Perilaku Guru dan Siswa di
9. Studi Peningkatan Mutu dan Relevansi Pendidikan Dasar (Telaah Implementasi Kebijakan di Tingkat Sekolah)
Ketua Balitbangda, Kalsel
2007
10. Manajemen Pengelolaan Perguruan Tinggi Tinjauan Implementasi Pada Universitas Lambung Mangkurat Terhadap Mutu Pendidikan Sekolah Dasar di Propinsi Kalimantan Selatan
Ketua Balitbangda
12. Studi Efektivitas Distribusi Buku Paket SLTP Tahun 1997/1998, Analisa Komparatif Kasus di Propinsi Kalimantan Selatan
13. Efektivitas Distribusi Buku Paket SD/MI Tahun 1997/1998, di Propinsi
14. Pola Pembinaan dan Pengembangan Usaha Koperasi Pedagang Pasar (Koppas) di Kalsel
Anggota Kanwil Kop & PPK