G. BUDAYA POLITIK DI INDONESIA
- Menurut Rusindi Kartaprawira
a) terdapat sub budaya beragam
b) bersifat paternalisme (mengikuti atasannya)
c) ikatan premodial kuat
d) parokhial subjek di satu pihak dan partisipan di pihak lain
- Menurut Afan Gafan
a) Hirarkhi tegas = kelompok atas dan bawwah jelas pembedanya
b) kecenderungan patronage
c) neo patrinonialistik = nilai baru dan modern dikembangkan, nilai tradisional dipertahankan
- Menurut Clifort Gertz
Budaya politik indonesia diwarnai oleh budaya politik jawa yang mengelompokan masyarakat
jadi 3 (priyayi, santri, abangan)
- Menurut Hebert Feizt
Budaya politik indonesiadikuasai oleh: aristokrat Jawa, wira usaha islam
- Secara Umum
a) Parokhial-subjek di satu pihak dan partisipan di pihak lain
b) Cenderung paternalisme dan patronaage
c) Bersifat premodial
d) Diwarnai budaya politik jawa
e) Dipengaruhi oleh aristokrat jawa dan wirausahaa islam
f) Mencakup budaya politik nasional islam dan nasional religius
*Perbedaan : nasional islam landasan dasar dan orientasi politik agama
Nasional religius landasan dasar dan orientasi politik paham kebangsaan
*persamaan : sama-sama nasionalis dan keagamaan
g) Budaya politik elit dan massa
*elit : terpelajar daan paham politik
Sosialisasi politik
adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan proses dengan jalan
mana orang belajar tentang politik dan mengembangkan orientasi pada politik. Adapun sarana
alat yang dapat dijadikan sebagai perantara/sarana dalam sosialisasi politik, antara lain :
1) Keluarga (
family
)
Wadah penanaman (sosialisasi) nilai-nilai politik yang paling efisien dan efektif adalah di dalam
keluarga. Di mulai dari keluarga inilah antara orang tua dengan anak, sering terjadi “
obrolan
”
politik ringan tentang segala hal, sehingga tanpa disadari terjadi tranfer pengetahuan dan
nilai-nilai politik tertentu yang diserap oleh si anak.
2)
Sekolah
Di sekolah melalui pelajaran
civics education
(pendidikan kewarganegaraan), siswa dan gurunya
saling bertukar informasi dan berinteraksi dalam membahas topik-topik tertentu yang
mengandung nilai-nilai politik teoritis maupun praktis. Dengan demikian, siswa telah
memperoleh pengetahuan awal tentang kehidupan berpolitik secara dini dan nilai-nilai politik
yang benar dari sudut pandang akademis.
3)
Partai Politik
Salah satu fungsi dari partai politik adalah dapat memainkan peran sebagai sosialisasi politik. Ini
berarti partai politik tersebut setelah merekrut anggota kader maupun simpatisannya secara
periodik maupun pada saat kampanye, mampu menanamkan nilai-nilai dan norma-norma dari
satu generasi ke generasi berikutnya. Partai politik harus mampu menciptakan “image”
memperjuangkan kepentingan umum, agar mendapat dukungan luas dari masyarakat dan
senantiasa dapat memenangkan pemilu.
Budaya politik yang parokial partisipan serta budaya politik Islam yang sangat kental
memengaruhi pilihan petani salak Cineam dalam memilih partai politik. Partai politik Islam
tentunya akan lebih berpeluang memenangkan pemilih dari kalangan petani salak, walaupun
tidak tertutup kemungkinan partai yang bersifat nasionalis serta memiliki citra yang positif
berpeluang yang sama.
Negara Indonesia yang menganut demokrasi Pancasila, fungsi kontrol atau pengawasan terhadap kinerja pemerintah oleh rakyat melalui lembagai legislatif mempunyai kewajiban untuk menjamin terlaksananya perlindungan dan jaminan hak asasi manusia. Sistem politik yang diharapkan merupakan penjabaran dari nilai-nilai luhur Pancasila secara keseluruhan dalam praktek ketatanegaraan, mulai dari penyelenggaran pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatannya dalam rakngka mewujudkan masyarakat adil dan makmur. Untuk itu, masyarakat hendaknya memberikan respon positif terhadap
perkembangan-perkembangan budaya politik di Indonesia melalui cara-cara sebagai berikut :
2. Berpartisipasi aktif dalam pelaknaan pemilu.
3. Malaksanakan musyawarah mufakat dalam menyelesaikan berbagai masalah. 4. Menghargai dan menghormati perbedaan pendapat.
5. Menghormati dan menjunjung tinggi hak asasi manusia. 6. Menjunjung tinggi hukum yang berlaku.
7. Mewariskan nilai-nilai luhur Pancasila kepada generasi penerus bangsa.
Perkembangan budaya politik yang ada di wujudkan dengan terciptanya partaipartai politik. Miriam Budiardjo dalam buku Dasar-Dasar Ilmu Politik menjelaskan, bahwa partai politik adalah suatu kelompok yang terorganisir yang anggota-anggotanya mempunyai orientasi, nilai-nilai dan cita-cita yang sama. Tujuan kelompok ini ialah untuk memperoleh kekuasaan politik dan merebut kedudukan politik– (biasanya) dengan cara konstitusional, untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan mereka.
Dalam negara demokratis partai politik menyelenggarakan beberapa fungsi :
1. Sebagai sarana komunikasi politik, yaitu menyalurkan pendapat dan aspirasi masyarakat dan mengaturnya sedemikian rupa sehingga kesimpangsiuran pendapat dalam masyarakat berkurang. 2. Sebagai sarana sosialisasi politik, diartikan sebagai proses bagaimana seseorang memperoleh sikap dan orientasi terhadap fenomena politik, yang umumnya berlaku dalam masyarakat tempat tinggalnya. 3. Sebagai sarana rekuitmen politik, yaitu untuk mencari dan mengajak orang-orang yang berbakat untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan politik sebagai anggota politik (political recruitment) dan untuk melakukan pengkaderan terhadap generasi muda melalui pendidikan politik.
4. Sebagai sarana pengatur konflik (conflict management) artinya apabila terjadi perbedaan pendapat dalam masyarakat maka partai politik berusaha untuk mengatasi konflik tersebut.
PARTISIPASI POLITIK
Pengertian
Kegiatan yang dilakukan oleh warga negara baik individu / kolektif atas keinginan sendiri /
dorongan orang lain yang tujuannya mempengaruhi kebijakan politik
Bentuknyaa) Pemilihan = memilih, kampanye, pendukung, atau bekerja di pemilihan. Guna mempengaruhi
hasil pemilihan
b)
Lobbying = menghubungi pihak pemerintah / penguasa tujuannya untuk kepentingan umum
c) Contacting / koneksi = menghubungi pihak pemerintah / penguasa tujuannya utnuk kepentingan
pribadi
d)
Organisasi = memasuki organisasi massa
1. Bentuk-bentuk Budaya Poilitik Partisipan
Samuel Huntington dan Joan Nelson mengemukan tentang bentuk partisipasi masyarakat dalam kegiatan politik, yaitu :
1. Kegiatan pemilihan. Kegiatan pemilihan termasuk sumbangan-sumbangan untuk kampanye, bekerja dalam suatu pemilihan, dan mencari dukungan bagi seorang calon atau setiap tindakan yang bertujuan mempengaruhi hasil proses pemilihan.
2. Lobbying. Merupakan usaha-usaha perorangan atau kelompok untuk menghubungi penguasa-penguasa pemerintahan dan pemimpin-pemimpin politik dengan tujuan mempengarui hasil keputusan mereka mengenai persoalan-persoalan yang menyangkut sebagian besar orang.
3. Kegiatan organisasi. Meliputi kegiatan organisasi dalam bentuk partisipasi sebagai anggota atau pejabat dalam suatu organisasi yang memiliki tujuan utama untuk mempengaruhi pemerintah 4. Mencari koneksi (contacting) Merupakan tindakan perorangan yang ditujukan kepada penguasa-penguasa pemerintah yang biasanya bertujuan untuk memperoleh manfaat hanya untuk orang-orang tertentu saja.
5. Tindakan kekerasan (violence) Merupakan suatu bentuk partisipasi politik yang diambil sebagai upaya untuk mempengaruhi pengambilan keputusan pemerintah dengan jalan menimbulkan kerugian fisik terhadap manusia atau pun harta benda.
2. Penerapan Prinsip Partisipasi Warga Negara dalam Kehidupan Politik
Partisipasi yang dikembangkan di negara Indonesia yang menganut demokrasi Pancasila adalah partisipasi yang mendukung terciptanya tujuan pembangunan nasional. Oleh karena itu ada beberapa hal yang harus dihindarkan dan dilaksanakan dalam partisipasi politik yang sesuai dengan norma-norma dan budaya bangsa Indonesia, yaitu :
1. Perilaku yang harus dihindarkan, seperti : Bersikap angkuh, Egois, Ekstrim, Meremehkan orang lain, Individualis, dan Tidak menerima kritikan orang lain