Kasus dan Analisis di Lembaga
Keuangan Bank
MARCH 1, 2014 LEAVE A COMMENT
Nama: Fadhli Adhitya Ramadhika NIM: 20110730080
Nama Bank: BRI Cabang Senen, Tanah Abang, Bogor Periode : 2003
Pelaku dalam Bank : Dua kepala cabang BRI; Senen dan Tanah Abang Pelaku luar Bank : Komisaris dan Direktur PT. DM dan pejabat setingkat Direktur di perusahaan asuransi.
Jumlah Kerugian : Rp 300 miliar Kronologi kejadian :
Apa yang terjadi di BRI merupakan kasus pelanggaran prosedur pencairan kredit, pemalsuan surat perintah pencairan dana dan manipulasi system perbankan yang dilakukan pimpinan wilayah bank dengan pihak luar.
Kejadian ini berawal dari rayuan Kepala Cabang BRI Senen kepada seorang nasabah yang bernama A G. Dia menawarkan deposito valas dengan bunga di atas rata-rata serta dijamin Bank Indonesia. Tertarik, AG menyetujui meskipun dia tidak bisa membaca cermat surat aplikasi yang diajukan, karena dalam keadaan sakit stroke. Melalui BNI, akhirnya dana masuk sebesar U$ 2 juta ke BRI Cabang Senen pada 6 Februari 2003.
Setelah itu, Kepala Cabang menandatangani surat pencairan kredit dengan agunan kas (cash collateral) sebesar Rp. 15 miliar kepada nasabah tadi, yaitu AG. Padahal sang nasabah tidak pernah mengajukan kredit dan tidak pernah menandatangani dokumen-dokumen persyaratan kredit dengan jaminan dana didepositonya. Selain itu, ia juga tidak pernah menyetujui untuk menggunakan deposito tersebut sebagai jaminan kredit. Kredit disalurkan kepada RL, pemilik perusahaan PT. PP.
Model seperti ini juga dilakukan terhadap dana milik Asuransi Jiwa Bersama (AJB)
Bumiputera 1912. Dana sebesar Rp 36 miliar dicairkan. Ketika deposito akan jatuh tempo, Kepala Cabang Senen ini mendapat “bantuan” dari BPD Kalimantan Timur sebesar Rp 100 miliar, tentu dengan iming-iming suku bunga di atas rata-rata yang berlaku di pasar.
Setelah dana masuk, langsung ditransfer ke PT DM dengan dasar faksimili fiktif yang dibuat seolah-olah dari BPD Kaltim ke rekening perusahaan yang sama, yaitu PT DM, pembobol bank itu juga mencairkan dana Rp 70,5 miliar dengan jaminan deposito Dana Pensiun Perkebunan.
dengan Kepala Cabang Tanah Abang untuk membobol dana Rp 10 miliar milik Dana Pensiun Perusahaan Pelabuhan dan Pergerukan.
BRI cabang Surya Kencana Bogor juga terlibat dalam aksi transaksi kredit fiktif ini. Di cabang itu PT DM juga mencairkan dana dari rekening gironya.
Dalam kasus ini pihak-pihak yang terlibat yaitu dua Kepala Cabang BRI; Senen dan Tanah Abang komisaris dan Direktur PT DM dan pejabat setingkat Direktur di perusahaan
asuransi. Modus yang digunakan adalah pelanggaran prosedur pendanaan dan kredit fiktif kolusi dengan pejabat bank. Dengan kerugian mencapai Rp 300 miliar.
Sumber copy paste: http://acch.kpk.go.id/modus-korupsi-di-sektor-perbankan
Analisis kasus risiko Lembaga Keuangan Bank
Setelah saya membaca dan memahami kasus perbankan yang terjadi di bank BRI cabang Senen, Tanah Abang dan Bogor. Menurut saya kasus di Bank BRI ini termasuk risiko operasional, yaitu risiko yang antara lain disebabkan adanya ketidakcukupan dan atau tidak berfungsinya proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem, atau adanya problem eksternal yang mempengaruhi operasional bank. (Gita Danupranata, Manajemen