• Tidak ada hasil yang ditemukan

239699833 Pengaruh Supervisi Dan Motivasi Terhadap Kinerja

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "239699833 Pengaruh Supervisi Dan Motivasi Terhadap Kinerja"

Copied!
147
0
0

Teks penuh

(1)

i TESIS

Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam penyelesaian Program

Magister Manajemen Pendidikan

OLEH: Amron Dikri NPM: 11510060

PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN PROGRAM PASCASARJANA

(2)
(3)
(4)

iv

Amron Dikri. 2013. “Pengaruh Supervisi Kepala Sekolah dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Guru di UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Bojongsari Kabupaten Purbalingga”

Tesis. Pembimbing: (1) Prof. Dr. A.Y. Soegeng, Ysh. M.Pd.; (2) Dr. Noor Miono, M.Si. Permasalahan dalam penelitian ini adalah (1) Apakah terdapat pengaruh supervisi kepala sekolah terhadap kinerja guru?; (2) Apakah terdapat pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja guru?; (3) Apakah terdapat pengaruh positif supervisi kepala sekolah dan motivasi kerja secara bersama-sama terhadap kinerja guru di UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Bojongsari Kabupaten Purbalingga?

Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui besarnya pengaruh supervisi kepala sekolah terhadap kinerja guru, (2) untuk mengetahui besarnya pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja guru, (3) untuk mengetahui besarnya pengaruh supervisi kepala sekolah dan motivasi kerja secara bersama-sama terhadap kinerja guru di UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Bojongsari Kabupaten Purbalingga?

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh guru PNS di UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Bojongsari Kabupaten Purbalingga yang berjumlah 188 orang, sampel 65 orang dengan menggunaan teknik proportional random sampling. Uji hipotesis meliputi analisis regresi linier sederhana dan analisis regresi ganda menggunakan SPSS for Window Relase 15.

Hasil penelitian dapat diketahui bahwa rata-rata perolehan skor supervisi kepala sekolah 4.13 termasuk kategori baik, rata-rata perolehan skor motivasi kerja adalah 4.29 termasuk kategori baik dan rata-rata perolehan skor kinerja guru 4,21 termasuk kategori baik. Hasil uji prasyarat dari data penelitan diperoleh data distribusi normal, homogeny, linier, tidak multikolinier dan tidak terjadi heteroskedastisasi. Dari uji hipotesis ditemukan terdapat pengaruh positif supervisi Kepala Sekolah terhadap kinerja guru yang dinyatakan dengan persamaan Y= 7,341 + 0,654X1, kekuatan korelasi sebesar 0,602 dengan kontribusi sebesar 0,362 atau 36,2%. Terdapat pengaruh positif motivasi kerja terhadap kinerja guru yang dinyatakan dengan persamaan Y= 0,626 + 0,776X2, kekuatan korelasi sebesar 0,683 dengan kontribusi sebesar 0,466 atau 46,6 %. Terdapat pengaruh positif supervisi kepala sekolah dan motivasi kerja secara bersama-sama terhadap kinerja guru yang dinyatakan dengan persamaan Y = 19,464 + 0,458X1 + 0,618X2 kekuatan korelasi sebesar 0,791 dengan kontribusi sebesar 0,613 atau 61,3%.

Dasar temuan hasil penelitian Kepala Sekolah sebagai supervisor untuk meningkatkan supervisinya dengan penyusunan program, pelaksanaan, evaluasi dan tindak lanjut serta memberi motivasi kerja sehingga kinerja guru meningkat.

(5)

v

Advisor: (1) Prof. Dr. A.Y.Soegeng, Ysh. M.Pd. (2) : Dr. Noor Miono, M.Si.

The problems in the research are (1). Is there the influence of headmaster’s supervision toward teacher’s performance? (2). Is there the influence of work motivation toward teacher’s performance? (3) Is there the influence of headmaster’s supervision and work motivation done simultaneously toward teacher’s performance at technical

implementer unit of educational bureau of Bojongsari subdistrict Purbalingga Regency. The purposes of this research are (1). Knowing how big the influence of

headmaster’s supervision toward teacher’s performance (2). Knowing how big of the influence of work motivation toward teacher’s performance (3). Knowing how big the influence of Headmaster’s supervision and work motivation done simultaneously toward

teacher’s performance.

The sample in the research are all of the state teachers at technical implementer unit of education bureau of Bojongsari subdistrict Purbalingga regency amount 188 teachers, 65 people were taken using proportional random sampling. Hypothesis tests include simple liniar regression and double regression analysis using SPSS for window relase 15.

The results of the research have shown that the average of score achieved of

headmaster’s supervision was 4.13 stated as good category, the average of score achieved of work motivation was 4.29 stated as good category and the average of score achieved of

teacher’s performance was 4.21 stated as good category. The result of prerequisite test

from the research data found normal distribution, homogeneity, linear, unseen multicolinear and heteroscad. Seen in the hypothesis test that there is positive influence of

headmaster’s supervision toward teacher’s performance stated with equality

, the strength of correlation was 0.602 contributing about 0.362 or

36.2%. There is positive influence of work motivation toward teacher’s performance stated

with equality the strength of correlation was 0,683 contributing

about 0.466 or 46.6%. There is positive influence of headmaster’s supervison and work

motivation done simultaneously toward teacher’s performance stated with equality

, the strength of correlation was 0.791 contributing about 0.613 or 61.3%.

Based on the research result that a headmaster as supervisor to improve his or her supervision by arranging the programs, execution, evaluation, and follow –up and also

(6)

vi

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini. Tesis ini berjudul

“Pengaruh Supervisi Kepala Sekolah dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Guru di UPT

Dinas Pendidikan Kecamatan Bojongsari Kabupaten Purbalingga.”

Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan, saran, bimbingan, dorongan dan dukungan dari berbagai pihak, baik langsung maupun tidak langsung, tesis ini tidak akan terwujud. Untuk itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada:

1. Dr. Muhdi, SH. M.Hum. sebagai Rektor IKIP PGRI Semarang beserta staf akademis yang telah menetapkan kebijakan yang sangat berarti sehingga penulis dapat menempuh studi lanjut ini.

2. Prof. Dr. Sunandar, M.Pd. sebagai Direktur Pascasarjana Manajemen Pendidikan IKIP PGRI Semarang.

3. Dr. Yovitha Yuliejantiningsih, M.Pd. sebagai Ketua Program Studi Manajemen Pendidikan Program Pascasarjana IKIP PGRI Semarang.

(7)

vii

telah memberikan kuliah, sehingga penulis dapat menyelesaikan studi ini.

7. Kaendar, S.Pd. selaku Kepala UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Bojongsari Kabupaten Purbalingga beserta seluruh Kepala Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Bojongsari Kabupaten Purbalingga yang telah memberikan kesempatan pada penulis untuk melakukan penelitian di seluruh SDN Kecamatan Bojongsari.

8. Istri Tercinta Wiwin Sukiyati dan anak tersayang Chamdan Fiddiin yang telah menemani dengan tabah dan setia serta penuh pengertian selama menyelesaikan studi ini.

Terakhir penulis berharap semoga tesis ini dapat mamberikan manfaat bagi penulis khususnya dan pembaca umumnya.

Semarang, Nopember 2013

(8)
(9)

ix

HALAMAN JUDUL ... i

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING………. ii

LEMBAR PERSETUJUAN DAN PENGESAHAN TESIS……… iii

ABSTRAK ……….. iv

KATA PENGANTAR ... vi

PERNYATAAN KEASLIAN ……… viii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ……… xii

DAFTAR GAMBAR ………..…. xiii

DAFTAR LAMPIRAN ……… xiv

BAB I PENDAHULUAN ……….. 1

A. Latar Belakang ………. 1

B. Batasan Masalah ……….. 5

C. Rumusan Masalah ……… 5

D. Tujuan Penelitian ……….. 6

E. Manfaat Penelitian ………. 6

(10)

x

B. Supervisi Kepala Sekolah ………. 15

C. Motivasi Kerja ……….. 20

D. Penelitian yang Relevan ……… 26

E. Kerangka Berpikir ………. 29

F. Hipotesis ……… 31

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ……… 33

A. Rancangan Penelitian ……….. 33

B. Populasi dan sampel ……… 35

C. Instrumen Penelitian ……….………. 37

D. Pengumpulan Data ……….. 39

E. Teknik Analisis Data ……… 40

BAB IV HASIL PENELITIAN ………. 52

A. Deskripsi Data ….……… 52

B. Uji Persyaratan Data . .………. 57

C. Uji Hipotesis ……… 62

(11)

xi

C. Saran ……….. 78

DAFTAR PUSTAKA ... 80

(12)

xii

Dinas Pendidikan Kecamatan Bojongsari Tiga Tahun Terakhir…… 4

3.1 Kisi-kisi Instrumen Penelitian ………... 38

3.2 Hasil Penghitungan Uji Validasi Supervisi Kepala Sekolah ……… 41

3.3 Hasil Penghitugan Uji Validasi Motivasi Kerja ……… 43

3.4 Hasil Penghitugan Uji Validasi Kinerja Sekolah ……… 44

3.5 Hasil Perhitungan Uji Realibilitas ………... 45

4.1 Deskripsi Data Supervisi Kepala Sekolah ……… 53

4.2 Nilai Rata-rata Supervisi Kepala Sekolah ……… 53

4.3 Deskripsi Data Motivasi Kerja ……… 55

4.4 Nilai Rata-Rata Motivasi Kerja ……… 55

4.5 Deskripsi Data Kinerja Guru ……… 56

4.6 Nilai Rata- Rata Kinerja Guru ……… 57

4.7 Hasil Uji Variabilitas ……… 58

4.8 Hasil Pengujian Normalitas ……… 59

4.9 Hasil Pengujian Multikolinieritas ……… 60

4.10 Hasil Uji Glesjer (Heteroskedasitas) ……… 62

4.11 Koefesien Regresi X1 –Y ……… 63

4.12 Hasil Uji Anova X1 –Y ……… 63

4.13 Hasil Uji Regresi X1 –Y ……… 64

4.14 Koefesien Regresi X2 –Y ……… 65

4.15 Uji Uji Anova X2–Y ……… 66

4.16 Hasil Uji Regresi X2 –Y ……… 66

4.17 Hasil Regresi X1 dan X2 Terhadap Y ……… 67

4.18 Hasil Uji Anova X1 dan X2 ……… 68

(13)

xiii

2.1 Kerangka Pikir Penelitian ……….………. 29

3.1 Desain Penelitian …… ……… 34

3.2 Model Analisis Hipotesis……… 48

4.1 Grafik Linier ……….………… 61

(14)

xiv

1. Surat Ijin dari Institut……….………. 86

2. Surat Ijin Penelitian dari UPT………. 87

3. Penentuan Jumlah Sampel……… ………. 88

4. Kisi-Kisi Instrumen Penelitian ……….……. 90

5. Surat Permohonan Pengisisn Kuesioner Penelitian ... 91

6. Instrumen Penelitian ……… 92

7. Karakteristik Responden ……… 98

8. Data Hasil Uji Coba ………. 99

9. Analisis Hasil Uji Coba ……… 105

10. Data Lengkap Hasil Penelitian ………. 115

11. Deskripsi Data ……… 125

12. Analisis Data ………. 129

(15)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kualitas pendidikan bersifat dinamis yang selalu berkembang sesuai dengan perkembangan dan tuntutan jaman. Pemerintah selalu berusaha agar kualitas pendidikan di Indonesia tidak tertinggal dari nengara-negara di dunia. Pemerintah mendirikan sekolah-sekolah baru, melengkapi dengan berbagai sarana dan prasarana serta pendidik dan tenaga kependidikannya. Sekolah pun berupaya bagaimana agar siswa didik pada akhir pendidikannya bisa lulus semua dan menjadi anak yang berhasil dalam karirnya.

Ujung dari upaya peningkatan kualitas pendidikan itu sendiri tidak lain dari bagaimana proses pendidikan di sekolah berlangsung. Proses belajar mengajar yang berkualitas akan menghasikan keluaran yang baik. Faktor yang mempengaruhi kualitas proses belajar mengajar antara lain: masukan siswa, guru, sarana prasarana, kurikulum, metode, lingkungan, dan peran serta masyarakat. Faktor penentu keberhasilan proses belajar mengajar faktor gurulah yang paling dominan, sehingga dituntut kompetensi dan kinerja guru yang maksimal.

(16)

guru yang berkualitas dan memiliki etos kerja yang tinggi harus senantiasa dikembangkan secara terarah: (1) Guru mengajar dengan ikhlas penuh syukur. (2) Guru mengajar dengan benar dan penuh tanggung jawab. (3) Guru mengajar tuntas penuh integritas. (4) Guru mengajar dengan serius penuh semangat. (5) Guru mengajar dengan cinta penuh dedikasi. (6) Guru mengajar dengan cerdas penuh kreativitas. (7) Guru mengajar dengan tekun penuh keunggulan. (8) Guru mengajar sebaik-baiknya penuh kerendahan hati.

Di bidang pendidikan dan pengajaran diperlukan penyelia (supervisor) yang dapat berdialog serta membantu pertumbuhan pribadi dan profesi. Pihak yang bertugas dan berperan untuk memberi bantuan dan layanan pembinaaan dan pendampingan kepada guru salah satunya adalah kepala sekolah. Dengan supervisi dan pendampingan dari kepala sekolah maka guru akan dapat melakukan refleksi diri dari suatu pembelajaran yang dilakukan serta paham apa yang harus diperbaiki dan ditindaklanjuti, misalnya: memaksimalkan keaktifan anak pada saat pembelajaran, penggunaan media, interaksi anak dengan guru, interaksi anak dengan anak, pemanfaatan waktu yang lebih efektif serta bimbingan ke masing-masing anak atau kelompok.

(17)

supervisi tidak dengan kelengkapan administrasinya (perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan tindak lanjut). Kepala Sekolah belum melaksanakan tugas pokok sebagai supervisor.

Motivasi juga mempengaruhi kinerja. Kepala Sekolah sebagai motivator keberhasilan pendidikan di sekolah memiliki peran penting dan cukup berat dalam menjalankan program-program sekolah sesuai tugas dan fungsinya.

Motivasi muncul dalam diri seseorang karena didorong atau diarahkan untuk berbuat. Pengarahan merupakan salah satu kunci efektif untuk membawa manusia organisasional ke arah pencapaian hasil kerja yang baik. Motivasi penting karena dengan motivasi diharapakan setiap guru mau bekerja keras dan antusias mencapai kinerja yang tinggi. Pemberian motivasi kerja, berupa reward dan punishment belum proporsional. Kepala sekolah jarang memberikan reward kepada guru yang berprestasi atau berkinerja lebih. Kepala sekolah dalam memberikan punishment belum disesuaikan dengan bentuk norma-norma yang dilanggar guru.

(18)

Kinerja yang tinggi akan berpengaruh terhadap hasil belajar siswa termasuk hasil UN. Tingkat kelulusan siswa di UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Kabupaten Purbaligga selama tiga tahun dapat lulus 100 % hanya perolehan nilai UN masih belum sesuai harapan.

Tabel 1.1 : Nilai Tertinggi dan Terrendah Tiga Mata Pelajaran UN SD UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Bojongsari pada Tiga Tahun Terakhir:

No. Mapel

Tahun 2010 Tahun 2011 Tahun 2012 TT TR TT TR TT TR 1 B.Indo 9,40 4,80 9,60 6,40 9,20 3,80

2 Matematika 9,00 3,00 9,75 2,00 9,75 2,50

3 IPA 9,75 3,75 9,75 3,25 9,75 2,50

Sumber: Dokumen UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Bojongsari

(19)

Bertitik tolak dari uraian di atas maka relevan jika dilakukan penelitian dengan judul Pengaruh Supervisi Kepala Sekolah dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Guru di Lingkungan UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Bojongsari Kabupaten Purbalingga.

B. Batasan Masalah

Banyak faktor yang mempengaruhi kinerja guru, sehingga perlu adanya pembatasan masalah agar kajian penelitian dapat lebih fokus dan sistimatis.

1. Variabel yang diteliti hanya beberapa variabel yang dapat mempengaruhi kinerja guru; a) supervisi Kepala Sekolah sebagai variabel independen, b) motivasi kerja sebagai variabel independen, dan c) kinerja guru sebagai variabel dependen.

2. Penelitian ini dilakukan pada guru SD di UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Bojongsari Kabupaten Purbalingga.

C. Rumusan Masalah

Berdasar latar belakang yang telah diuraikan, dapat dirumuskan beberapa permasalahan sebagai berikut:

1. Apakah supervisi Kepala Sekolah berpengaruh terhadap kinerja guru? 2. Apakah motivasi kerja berpengaruh terhadap kinerja guru?

(20)

D. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh data tentang pengaruh supervisi Kepala Sekolah dan kerja terhadap kinerja guru di UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Bojongsari Kabupaten Purbalingga. Adapun tujuan khusus penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar:

Pengaruh supervisi Kepala Sekolah terhadap kinerja guru. Pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja guru.

Pengaruh supervisi Kepala Sekolah dan motivasi kerja secara bersama-sama terhadap kinerja guru.

E. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoretis

(21)

Manfaat Praktis

a) Dinas Pendidikan

Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan kebijakan mengenai keterkaitan pengaruh supervisi dan motivasi kerja terhadap kinerja guru.

b) Manfaat bagi Sekolah

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dipakai sebagai bahan masukan dalam

rangka memperbaiki dan meningkatkan kinerja guru.

c) Manfaat bagi Guru

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai masukan untuk dapat meningkatkan kompetensi, motivasi kerja dan kinerja dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran.

F. Definisi Operasional Variabel

1. Kinerja Guru (Y)

(22)

sebagai berikut: a) Merencanakan pengajaran, b) Melaksanakan pengajaran, c) Menilai pengajaran, dan d) Tindak lanjut. Instrumen ini terdiri dari 12 butir pernyataan dan setiap butir memiliki lima alternatif jawaban yaitu A = Sangat Tidak Setuju, B = Tidak Setuju, C = kadang-kadang, D = Setuju, E= Sangat Setuju. Dengan demikian skor teoretis 12 sampai 60.

2. Supervisi Kepala Sekolah

Supervisi kepala sekolah adalah tanggapan guru mengenai hasil supervisi

pengajaran yang dilakukan oleh kepala sekolah dalam rangka meningkatkan

kualitas kegiatan belajar mengajar. Supervisi kepala sekolah merupakan total skor yang diperoleh dari jawaban responden terhadap instrumen dengan dimensi/indikator-indikator sebagai berikut: (a) Perencanaan supervisi; (b) Pelaksanaan Supervisi, (c) Hasil dan Tindak lanjut supervisi.

Instrumen ini terdiri dari 16 butir pertanyaan/pernyataan dan setiap butir

memiliki lima alternatif jawaban yaitu A = Sangat Tidak Setuju, B = Tidak

Setuju, C = kadang-kadang, D = Setuju, E= Sangat Setuju. Dengan demikian

(23)

3. Motivasi Kerja (X2)

Motivasi kerja adalah suatu pendorong dari diri interen maupun eksteren guru, baik dalam lingkungan manajerial maupun non manajerial, untuk melaksanakan pekerjaan sesuai dengan cara yang menyebabkan bahwa standar-standar hasil pekerjaan yang diekspektasi dapat dilampaui. Variabel motivasi diukur dengan dimensi/indikator-indikator: Motivasi instrinsik dan Motivasi ekstrinsik. Instrumen ini terdiri dari 15 butir pertanyaan/pernyataan dan setiap butir

memiliki lima alternatif jawaban yaitu A = Sangat Tidak Setuju, B = Tidak

Setuju, C = Kadang-kadang, D = Setuju, E= Sangat Setuju. Dengan demikian

(24)

11

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS

A. Kinerja Guru

1. Kinerja

Istilah kinerja berasal dari kata job performance atau actual performance (prestasi kerja atau prestasi sesungguhnya yang tercapai oleh seseorang). Pengertian kinerja (prestasi kerja) adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai seseorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepada pegawai atau karyawan dalam sebuah perusahaan. Sedangkan penilaian kinerja merupakan proses yang dilakukan perusahaaan dalam mengevaluasi kinerja pekerjaan seseorang (Mangkuprawira, 2003: 223).

Kinerja karyawan adalah tingkat hasil kerja karyawan dalam mencapai persyaratan-persyaratan pekerjaan yang diberikan. Kinerja adalah hasil kerja karyawan baik segi kualitas maupun kuantitas berdasar standar kerja yang telah ditentukan (Simamora, 2000: 500).

(25)

karyawan mungkin bersedia dan mampu. Hal ini untuk menghindari adanya kendala dari kinerja. Kesempatan untuk berkinerja adalah tingkatan-tingkatan kinerja yang tinggi sebagian merupakan fungsi dari tidak diketahui adanya rintangan-rintangan yang menjadi kendala bagi karyawan. ( Robbin dan Coulter, 2001: 218)

Berdasarkan beberapa pengertian di atas kinerja dapat diartikan sebagai tingkat hasil kerja atau kemampuan karyawan dalam mencapai persyaratan-persyaratan pekerjaan yang diberikan baik dari segi kualitas maupun kuantitas.

Evaluasi kinerja (performance evaluations) dalam organisasi atau perusahaan merupakan peranan kunci dalam pengembangan karyawan/pegawai dan produktivitas mereka. Hal ini semata-mata perusahaan saat ini dihadapkan banyak tantangan dan persaingan yang begitu ketatnya termasuk di dalamnya persaingan sumber daya manusia. Evaluasi kinerja pada prinsipnya merupakan manifestasi dari bentuk penilaian kinerja seorang pegawai. Untuk menghadapi tantangan dan persaingan yang sangat ketat tersebut harus disiapkan sumber daya manusia yang terampil dan profesional untuk meningkatkan prestasi kerja karyawan.

(26)

kinerja di sini tidak bermaksud menilai karakteristik individu tetapi mengacu pada serangkaian hasil yang diperoleh selama periode waktu tertentu.

2. Kinerja Guru

Kinerja guru mempunyai spesifikasi tertentu. Kinerja guru dapat dilihat dan diukur berdasarkan spesifikasi atau kriteria kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap guru. Berkaitan dengan kinerja guru, wujud perilaku yang dimaksud adalah kegiatan guru dalam proses pembelajaran. Berkenaan dengan standar kinerja guru Sahertian (1997: 49) menjelaskan dalam buku panduan penilaian kinerja guru oleh pengawas menjelaskan

bahwa: “Standar kinerja guru itu berhubungan dengan kualitas guru dalam menjalankan

tugasnya seperti: bekerja dengan siswa secara individual, persiapan dan perencanaan pembelajaran, pendayagunaan media pembelajaran, melibatkan siswa dalam berbagai

pengalaman belajar, dan kepemimpinan yang aktif dari guru”.

(27)

berkewajiban merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran. Tugas pokok guru tersebut yang diwujudkan dalam kegiatan belajar mengajar merupakan bentuk kinerja guru.

Pendapat lain diutarakan Soedijarto (1993) menyatakan ada empat tugas gugusan kemampuan yang harus dikuasai oleh seorang guru. Kemampuan yang harus dikuasai oleh seorang guru, yaitu: merencanakan program belajar mengajar, melaksanakan dan memimpin proses belajar mengajar, menilai kemajuan proses belajar mengajar, membina hubungan dengan peserta didik. Sedangkan berdasarkan Permendiknas No. 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Menengah dijabarkan beban kerja guru mencakup kegiatan pokok: merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, membimbing dan melatih peserta didik, melaksanakan tugas tambahan. Kinerja guru dapat dilihat saat dia melaksanakan interaksi belajar mengajar di kelas termasuk persiapannya baik dalam bentuk program semester maupun persiapan mengajar.

(28)

seperti yang terlihat pada saat guru menyampaikan materi pelajaran di kelas, tetapi dalam melaksanakan pembelajaran yang baik seorang guru harus mengadakan persiapan yang baik agar pada saat melaksanakan pembelajaran dapat terarah sesuai tujuan pembelajaran yang terdapat pada indikator keberhasilan pembelajaran. Proses pembelajaran adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh seorang guru mulai dari persiapan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran sampai pada tahap akhir pembelajaran yaitu pelaksanaan evaluasi dan perbaikan untuk siswa yang belum berhasil pada saat dilakukan evaluasi.

Dari berbagai pengertian di atas maka dapat disimpulkan definisi konsep kinerja guru merupakan hasil pekerjaan atau prestasi kerja yang dilakukan oleh seorang guru berdasarkan kemampuan mengelola kegiatan belajar mengajar, yang meliputi perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, evaluasi pembelajaran dan membina hubungan antar pribadi (interpersonal) dengan siswanya.

B. Supervisi Kepala Sekolah

(29)

pengertian bahwa supervisi lebih menekankan pada aspek peningkatan pembelajaran. Supervisi lebih banyak terkait dengan upaya-upaya yang dilakukan untuk memelihara atau mengembangkan kegiatan sekolah yang secara langsung berpengaruh terhadap proses pembelajaran yang dilakukan untuk memajukan atau meningkatkan pembelajaran siswa. Hal ini mengandung maksud bahwa kegiatan pembelajaran yang sudah baik dipelihara dan dikembangkan sehingga proses belajar mengajar bisa lebih maju dan mudah dipahami oleh siswa.

Lebih lanjut Arikunto (2010: 12) menyatakan supervisi bertujuan untuk membantu guru dalam memahami tujuan pendidikan dan membantu guru dalam melihat secara jelas dalam memahami keadaan dan kebutuhan siswanya. Supervisi yang dilakukan oleh kepala sekolah adalah suatu usaha kepala sekolah sebagai supervisor untuk memberikan arahan, membantu memecahkan masalah dan mengevaluasi kinerja guru dalam melaksanakan tugas yang diembannya, sehingga guru lebih baik dalam melaksanakan proses belajar mengajarnya. Adapun supervisi kepala sekolah terhadap guru menurut Purwanto (2009: 120) dapat dilakukan dengan cara:

1. Teknik Perseorangan

Yang dimaksud dengan teknik perseorangan ialah supervisi yang dilakukan secara perseorangan. Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan antara lain:

(30)

Yang dimaksud dengan kunjungan kelas adalah kunjungan sewaktu-waktu, yang dilakukan oleh kepala sekolah untuk melihat atau mengamati seorang guru yang sedang mengajar. Tujuannya untuk mengobservasi bagaimana guru mengajar, apakah sudah memenuhi syarat-syarat didaktis atau metodik yang sesuai. Dengan kata lain, untuk melihat apa kekurangan atau kelemahan yang sekiranya masih perlu diperbaiki.

Setelah kunjungan kelas selesai, selanjutnya diadakan diskusi empat mata antara supervisor dengan guru yang bersangkutan. Kepala sekolah memberikan saran- saran atau nasehat-nasehat yang diperluan dan guru pun dapat mengajukan pendapat dan

usul-usul yang konstruktif demi perbaikan proses belajar-mengajar selanjutnya.

b. Mengadakan kunjungan observasi (observation visits)

Guru-guru ditugaskan untuk melihat/mengamati seorang guru yang sedang mendemontrasikan cara-cara mengajar suatu mata pelajaran tertentu. Misalnya cara menggunakan alat atau media yang baru, seperti audio-visual-aids, cara mengajar dengan metode tertentu, seperti misalnya sosiodrama, problem solving, diskusi panel,fihs bowl, metode penemuan (discovery), dan sebagainya.

c. Membimbing guru-guru tentang cara-cara mempelajari pribadi siswa dan atau

mengatasi problema yang dialami siswa.

(31)

Membimbing guru-guru dalam hal-hal yang berhubungan dengan pelaksanaan

kurikulum sekolah. Antara lain: menyusun program pengajaran, menyusun atau membuat Program Satuan Pelajaran, mengoganisasi kegatan-kegiatan pengelolaan kelas, melaksanakan teknik-teknik evaluasi pengajaran; menggunakan media dan sumber dalam proses belajar-mengajar, mengorganisasi kegiatan-kegiatan siswa dalam bidang ekstrakurikuler, study tour, dan sebagainya. Pertemuan atau percakapan pribadi yaitu berdialog langsung dengan guru untuk memberikan bantuan/ layanan khusus, memecahkan permasalahan yang ada, untuk masalah-masalah yang bersifat khusus.

2. Teknik kelompok

Teknik kelompok ialah supervisi yang dilakukan secara kelompok. Beberapa kegiatan yang dapat diakukan antara lain:

a. Mengadakan pertemuan rutin atau rapat (meetings) yaitu pertemuan antara kepala sekolah dengan para guru yang sifatnya memberikan bantuan maupun informasi secara umum.

b. Mengadakan diskusi kelompok (group discussion) c. Mengadakan penataran-penataran (inservice-training)

(32)

terhadap hasil supervisi. Secara keseluruhan tahapan supervisi dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian utama yaitu:

Tahap persiapan, pada tahapan ini penting karena memerlukan perencanaan yang matang dan harus dikelola dengan seksama. Kesiapan dari pihak supervisor menentukan keberhasilan untuk melangkah ketahapan berikutnya. Biasanya tahapan ini supervisor melakukan sosialisasi kepada para guru yang akan disupervisi untuk mempersiapkan perangkat-perangkat yang menjadi instrumen supervisi sehingga diharapkan supervisi nantinya bisa berjalan dengan baik.

Tahap pelaksanaan/proses, pada tahap ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu: Analisis kebutuhan dan identifikasi masalah yaitu guru dilibatkan untuk menganalisa kebutuhan dan masalah mereka sehingga para guru merasa mempunyai tanggung jawab untuk menentukan dan menganalisis akan kebutuhannya. Keterlibatan para guru dalam mendukung program kegiatan akan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan program yang dilakukan.

(33)

Tahap tindak lanjut dari supervisi dapat berupa pemanggilan secara individu maupun kelompok untuk pembinaan atau pertimbangan langkah berikutnya. Sehingga pembelajaran yag akan datang diharapkan lebih bermakna dan berkualitas.

C. Motivasi

1. Pengertian Motivasi

Menurut Thoha (2001: 74) istilah motivasi berasal dari Bahasa Latin yaitu motives, bagi seseorang untuk berbuat, atau ide pokok yang selalu berpengaruh terhadap tingkah laku manusia. Dalam prakteknya istilah motivasi dipergunakan silih berganti dengan istilah-istilah lainnya seperti kebutuhan, keinginan, dorongan atau impuls.

Callahan and Clark dalam Mulyasa (2006: 174) mengemukakan bahwa motivasi adalah tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah suatu tujuan tertentu. Hal senada disampaikan oleh Sardiman (2006: 75) bahwa motivasi dapat juga dikatakan serangkaian usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi tertentu, sehingga seseorang mau dan ingin melakukan sesuatu, dan bila ia tidak suka maka akan berusaha untuk meniadakan atau mengelakkan perasaan tidak suka.

(34)

tanggung jawab, prestasi yang diraih, pengakuan orang alin, pekerjaan itu sendiri, kemungkinan pengembangan dan kemajuan. Motivasi ekstrinsik yaitu daya dorong yang datang dari luar diri seseorang, terutama dari organisasi tempatnya bekerja. Faktor-faktor yang termasuk dalam motivasi ekstrinsik adalah gaji, kebijakan, hubungan kerja, lingkungan kerja, dan supervisi.

Dari pendapat di atas dikatakan bahwa motivasi adalah proses psikis yang menggerakkan, mempengaruhi dan memampukan seseorang melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan tertentu baik berasal dari dalam diri sendiri (motivasi instrinsik) maupun yang berasal dari luar (motivasi ekstrinsik).

Timbulnya motivasi diakibatkan oleh faktor dari dalam diri sendiri (faktor instrinsik ) maupun faktor yang berasal dari luar (faktor ektrinsik). Faktor intrinsik dapat berupa kepribadian, sikap, pengalaman, dan begbagai harapan yang menjangkau ke masa depan, sedangkan faktor ekstrinsik dapat ditimbulkan oleh berbagai sumber yang berasal dari luar dirinya, dalam hal ini berupa lingkungan dalam arti yang seluas-luasnya.

(35)

2. Pengertian Kerja

Menurut kamus Bahasa Indonesia, pengertian kerja adalah kegiatan melakukan sesuatu yang dilakukan (diperbuat). Sementara menurut Huders (dalam http:/hudres.nscpolteksby.ac.id/2013/04/pengertian–kerja.html), kerja merupakan sesuatu yang dikeluarkan oleh seseorang sebagai profesi, sengaja dilakukan untuk mendapatkan penghasilan. Kerja dapat juga diartikan sebagai pengeluaran energi untuk kegiatan yang dibutuhkan oleh seseorang untuk mencapai tujuan tertentu. Berdasarkan kedua pengertian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa kerja adalah kegiatan yang dilakukan untuk mendapat penghasilan atau tujuan lain sesuai dengan kebutuhan.

3. Motivasi Kerja Guru

Robbin dalam Ridwan (2009: 145) mengemukakan pendapat bahwa dalam melaksanakan kerja pada sebuah organisasi, motivasi didefinisikan sebagai kesediaan untuk mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi untuk tujuan-tujuan organisasi, yang dikondisikan oleh kemampuan upaya untuk memenuhi sesuatu kebutuhan individu. Jika seseorang termotivasi maka seseorang akan mencoba sekuat tenaga dan selain itu harus diperhatikan juga kualitas dan upaya maupun intensitasnya.

(36)

mengembangkan kewajibannya dalam rangka pencapaian tujuan dan berbagai sasaran organisasi yang telah ditentukan sebelumnya.

Motivasi kerja guru merupakan kondisi yang menggerakkan guru agar mampu mencapai tujuan atau kondisi yang mampu membangkitkan dan memelihara perilaku guru dalam menjalankan tugasnya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa semakin baik motivasi kerja guru, maka semakin termotivasi juga guru tersebut dalam melaksanakan tugasnya dengan baik.

Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa motivasi dipengaruhi oleh barbagai unsur yang kemudian berproses sedemikan rupa sehingga mempengaruhi motivasi seseorang dalam mencapai suatu tujuan. Motivasi berkait erat dengan segala sesuatu yang dilihat, dirasakan dan dipikirkan seseorang dengan cara yang seikit banyak berintegrasi di dalam mengajar suatu tujuan.

Menurut Cahyani (2003: 61-62) motivasi orang bekerja secara umum diklasifikasikan dalam dua faktor, yaitu:

a) Faktor internal, yaitu faktor yang dibentuk oleh kebutuhan, keinginan dan harapan yang terdapat dalam diri individu. Misalnya perasaan, berprestasi, pengakuan, perasaan kebebasan, dan sikap terhadap pekerjaan.

(37)

Berdasar keterangan di atas, faktor yang mempengaruhi motivasi kerja guru terdiri dari faktor internal dan ekternal, termasuk di dalamnya adalah keinginan untuk berprestasi, kebebasan dalam melaksanakan tugas, pengakuan, tanggungjawab, gaji, promosi, sikap terhadap pekerjaan, hubungan dengan rekan kerja dan lingkungan kerja.

(38)

4. Komponen dan Faktor-faktor dari Motivasi

Dimyati dan Mudjiono (2006: 80) menyatakan bahwa ada tiga komponen utama dalam motivasi yaitu: kebutuhan, dorongan, dan tujuan. Senada dengan itu Carl Rogers dalam Dimyati dan Mudjiono (2006: 93) berpendapat bahwa setiap individu memiliki motivasi utama berupa kecenderungan beraktualisasi diri. Ciri kecenderungan aktualisasi diri tersebut adalah berakar dari sifat bawaan, perilaku bermotivasi mencapai perkembangan diri optimal, dan pengaktualisasian diri juga bertindak sebagai evaluasi pengalaman.

Porter dan Miles, sebagaimana dikutip Stoner (dalam Swasto, 1996: 78) mengklasifikasikan 3 (tiga) faktor utama yang mempengaruhi motivasi dalam berorganisasi, yaitu perbedaan karakteristik individu, karakteristik pekerjaan, dan karakteristik organisasi. Masing-masing karakteristik dapat dijelaskan sebagai berikut:

Karakteristik individu meliputi berbagai jenis kebutuhan, sikap terhadap diri dan pekerjaannya, serta minat pekerjaan. Perbedaan-perbedaan tersebut dibawa ke dunia kerja sehingga motivasi setiap individu dalam organisasi bervariasi. Apabila manajer tidak dapat memahami perbedaan itu, maka ia tidak akan dapat memotivasi bawahannya secara efektif.

(39)

Karakteristik organisasi ditunjukkan dengan kebijaksanaan dan kultur yang berbeda dari masing-masing organisasi serta hubungan antar masing-masing individu dalam organisasi. Untuk mencapai kinerja yang optimal, manajer organisasi harus mempertimbangkan hubungan faktor-faktor tersebut dan pengaruhnya terhadap perilaku individu para karyawan.

Berdasar uraian mengenai motivasi maka dapat diambil kesimpulan bahwa motivasi merupakan dorongan atau tenaga penggerak yang berfungsi untuk mengarahkan perilaku untuk mencapai suatu tujan tertentu. Jadi motivasi kerja guru merupakan dorongan atau tenaga penggerak yang dimiliki oleh guru yang berfungsi untuk mengarahkan perilakunya dalam bekerja guna mencapai suatu tujuan tetentu. Indikator untuk mengukur motivasi dapat dilihat dari 2 (aspek), yaitu: (a) motivasi ekstrinsik, yang meliputi hubungan dengan teman sejawat, sasaran kerja, gaji/honorarium, atensi dari atasan, lingkungan kerja dan tujuan yang ingin dicapai oleh pihak sekolah, (b) motivasi intrinsik, yang meliputi dorongan untuk bekerja dengan baik, keinginan untuk mencapai prestasi, adanya kepuasan kerja, dan kedisiplinan.

D. Penelitian yang Relevan

Beberapa kajian terhadap studi terdahulu yang relevan dengan penelitian ini, dapat dilihat pada tabel sebagai berikut 2.1

(40)

Pertama: Penelitian yang dilakukan oleh Bhaktinia (2012: 127) judul ”

Pengaruh Supervisi Kepala Sekolah Terhadap Kinerja Guru dan Hasil Belajar”

menyimpulkan terdapat pengaruh yang signifikan dari supervisi kepala sekolah terhadap kinerja guru. Guru perlu memahami dan menyadari manfaat supervisi yang dilakukan kepala sekolah terhadap guru, yang tujuannya adalah pembinaan untuk meningkatkan kinerja guru yang memiliki dampak besar terhadap kemajuan hasil belajar. Guru harus memanfaatkan hasil dan tindak lanjut supervisi kepala sekolah untuk mendorong agar proses pembelajaran lebih kreatif dan inovatif.

Kedua; Penelitian yang dilakukan oleh Kurniati (2007: 30) menemukan bahwa ternyata terdapat temuan awal yang menunjukkan adanya kendala atau persoalan yang berkaitan dengan pelaksanaan supervisi kepala sekolah, frekuensi

dikunjungan kelas oleh kepala sekolah masih tergolong rendah, disisi lain guru memandang perlunya supervisi kepala sekolah dalam rangka pembinaan sehingga perlu dikaji pengaruhnya terhadap kinerja guru dalam rangka menjalankan tugasnya.

(41)

guru-guru untuk menggunakan beberapa teknik supervisi. Dalam menerapkan teknik supervisi jangan terpaku pada satu teknik supervisi saja, sebaiknya mencoba teknik yang lain.

Ketiga: Penelitian yang dilakukan oleh Sriono (2004: 92) dengan judul Pengaruh Kepemimpinan Kepala Sekolah, Pendidikan Pelatihan dan Motivasi Kerja Guru Terhadap Kinerja Guru Sekolah Dasar Negeri Kecamatan Kalimanah Kabupaten Purbalingga. Pada penelitian ini bahwa motivasi kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru. Setiap diri guru maupun kepala sekolah harus bisa membangkitkan motivasi untuk meningkatkan kinerja. Dengan demikian semakin tingginya motivasi pegawai akan menjadikan semakin tinggi kinerja pegawai. Di sini motivasi merupakan variabel yang berpengaruh dominan terhadap kinerja pegawai.

(42)

E. Kerangka Berpikir

Kerangka konseptual penelitian yang menggambarkan korelasi pengaruh antar variabel yaitu variabel supervisi kepala sekolah dan motivasi kerja sebagai variabel independen mempengaruhi kinerja guru UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Bojongsari Kabupaten Purbalingga sebagai variabel dependen, sehingga dalam penelitian ini jika supervisi Kepala Sekolah dilaksanakan dengan kualitas dan motivasi kerja yang senantiasa dimiliki akan mampu meningkatkan kinerja guru. Berdasarkan hasil beberapa penelitian di atas, hubungan antara variabel-variabel tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 2.1 : Kerangka Pikir Penelitian

Supervisi KS

- Perencanaan

- Pelaksanaan

- Penilaian

- Tindak Lanjut

-

Motivasi

- Instrinsik

- Ekstrinsik

Kinerja Guru

(43)

Kepala Sekolah sebagai supervisor sudah semestinya melaksanakan supervisi secara rutin kepada semua guru di sekolahnya karena dengan supervisi yang dilaksanakan Kepala Sekolah akan mejadikan guru merasa diperhatikan. Permasalahan yang berkaitan dengan pembelajaran bisa dipecahkan dan dicarikan jalan solusinya. Supervisi juga bisa berfungsi sebagai control bagi guru agar pekerjaaan yang dilaksanakan berdasar program dan target yang harus dicapai. Supervisi Kepala Sekolah yang dilaksanakan secara rutin pastilah akan berpengaruh terhadap peningkatan kinerja guru namun jika Kepala Sekolah tidak melaksanakan supervisi dampaknya kinerja guru rendah.

Motivasi merupakan dorongan yang timbul dari dalam diri seseorang, baik secara sadar atau tidak untuk melakukan sesuatu tindakan dengan suatu tujuan tertentu. Jadi seseorang dapat terdorong untuk melakukan kerja secara lebih baik, karena ada dorongan dari dalam dirinya (intrinsik) maupun karena dorongan dari luar (ekstrinsik). Dorongan inilah yang menjadi sinergi sehingga seseorang mau bekerja keras untuk melakukan tugas yang diberikan kepadanya.

(44)

diduga akan meningkatkan kinerjanya. Dengan kata lain, seorang guru akan melakukan semua pekerjaannya dengan baik apabila ada faktor pendorong (motivasi). Motivasi kerja sangat dibutuhkan oleh seseorang dalam bekerja, tanpa motivasi kerja niscaya hasil kerja tidak akan sesuai dengan apa yang ditargekan. Guru membutuhkan motivasi baik itu yang berasal dari diri guru itu sendiri maupun rekan dan Kepala Sekolah. Motivasi kerja sangatlah diperlukan sehingga guru akan melaksanakan kerja dengan disiplin, ada keinginan bekerja untuk mencapai prestasi dan kepuasan bisa diraih. Dengan motivasi kerja pastilah kinerja guru akan meningkat.

Supervisi Kepala Sekolah maupun motivasi kerja dapat berpengaruh terhadap kinerja guru, maka apabila supervisi Kepala Sekolah dan motivasi kerja secara bersama selalu diupayakan oleh Kepala Sekolah pastilah akan lebih berpengaruh terhadap kinerja guru. Kinerja guru meningkat akan berdampak terhadap prestasi siswa maupun sekolah baik akademik maupun nonakademik.

F. Perumusan Hipotesis

(45)

1. Terdapat pengaruh yang signifikan supervisi Kepala Sekolah terhadap kinerja guru. 2. Terdapat pengaruh yang signifikan motivasi kerja terhadap kinerja guru .

(46)

33

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif, yaitu metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positvisme. Metode kuantitatif digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, teknis pengambilan pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistic dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan dengan menggunakan jenis penelitian expost facto yang merupakan penelitian dengan menemukan penyebab yang memungkinkan perubahan perilaku, gejala atau fenomena yang disebabkan oleh suatu peristiwa, perilaku atau hal-hal yang menyebabkan perubahan pada variabel bebas yang secara keseluruhan sudah terjadi.

(47)

Kerangka pemikiran akan menjelaskan secara teoritis antar variabel yang sudah diputuskan untuk diteliti khususnya hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat. Dari penjelasan di atas maka dalam penelitian ini dibuat suatu kerangka pemikiran sebagai model penelitian untuk memudahkan pencarian data, tentang penelitian pengaruh supervisi Kepala Sekolah dan motivasi kerja terhadap kinerja guru digambarkan sebagai berikut:

H1

H3

H2

Gambar 3.1 Model/Desain Penelitian

Keterangan:

X1 = Supervisi Kepala Sekolah X2 = Motivasi Kerja

Y = Kinerja Guru X1

X2

(48)

Dalam penelitian ini variabel penelitian terdiri dari

Variabel independen : Supervisi Kepala Sekolah (X1) dan Motivasi Kerja (X2)

Variabel dependen : Kinerja Guru (Y)

B. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian. (Arikunto, 2010: 175). Adapun objek/subjek yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh guru sebanyak 182 yang mengajar di dua puluh empat Sekolah Dasar di UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Bojongsari Kabupaten Purbalingga.

2. Sampel

Sampel adalah contoh atau wakil dari suatu populasi yang cukup besar jumlahnya, yang dipertimbangkan dapat mewakili dan mencerminkan populasi yang ada. Perhitungan jumlah sampel dalam penelitian ini menggunakan rumus Slovin. Adapun perhitungan jumlah sampel dilakukan dengan rumus berikut ini :

n =

 

2 1 N e

(49)

keterangan :

n : besarnya sampel N : ukuran populasi

e : persen kelonggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang masih dapat ditolerir atau diinginkan, yaitu 10% (Umar, 2008: 108).

(50)

C. Instrumen Penelitian

Penelitian ini menggunakan instrumen kuesioner atau angket penelitian tentang supervisi Kepala Sekolah, motivasi kerja dan kinerja guru di lingkungan UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Bojongsari Kabupaten Purbalingga. Untuk mendapat data yang valid instrumen variabel supervisi Kepala Sekolah , motivasi kerja dan kinerja guru respondenya semua guru di UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Bojongsari.

Instrumen dalam penelitian ini menggunakan tiga instrumen berdasarkan variabel yang diteliti yaitu:

1. Instrumen untuk mengukur supervisi Kepala Sekolah.

2. Instrumen untuk mengukur motivasi kerja.

3. Instrumen untuk mengukur kinerja guru.

Untuk lebih jelasnya mengenai instrumen penelitian yang digunakan dalam

(51)

Tabel 3.1. Kisi-kisi Instrumen Penelitian

No Variabel Indikator Jumlah

Pertanyaan No.Kuesioner

(52)

D. Pengumpulan Data

Data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh secara langsung melalui angket (kuesioner) yang disebarkan pada guru di lingungan UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Bojongsari Kabupaten Purbalingga. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan instrumen kuesioner atau angket penelitian tentang supervisi Kepala Sekolah, motivasi kerja, dan kinerja guru yang diberikan kepada guru di UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Bojongsari Kabupaten Purbalingga.

Penggunaaan kuesioner didasari beberapa anggapan sebagai berikut: (1) Subyek adalah orang yang paling tahu tentang dirinya; (2) Apa yang dinyatakan oleh subyek adalah benar dan dapat dipercaya; (3) Interprestasi subyek tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya adalah sama dengan apa yang dimaksud oleh peneliti. Responden dipersilahkan untuk menjawab pertanyaan dan pernyataan yang diajukan dalam kuesioner sesuai dengan keadaan mengenai supervisi kepala sekolah, motivasi kerja dan kinerja guru. Alat ini dikembangkan dengan mengacu kepada teori yang mendasarinya. Dari teori itu, kemudian disusun kisi-kisi yang selanjutnya dijabarkan ke dalam butir pernyataan atau pertanyaan.

(53)

Setuju diberi skor 2; c) Jawaban Netral diberi skor 3; d) Jawaban Setuju diberi skor 4; d) Jawaban Sangat Setuju diberi skor 5.

E. Teknik Analisis Data

Sebelum digunakan dalam penelitian instrumen-instrumen yang telah dimodifikasi tersebut akan dilakukan pengujian-pengujian seperti berikut ini :

1.Uji Validasi

Validasi adalah untuk menguji sejauh mana perbedaan yang didapatkan melalui alat dalam mencerminkan perbedaan yang sesungguhnya di antara para responden yang diukur (Ghozali, 2001: 135). Pengujian validasi instrumen dilakukan untuk mengetahui ketepatan pengukuran variabel atau instrumen yang digunakan dalam penelitian, yaitu mampu mengukur apa yang akan diukur dalam penelitian. Instrumen dikatakan valid bila butir pertanyaan/pernyataan yang digunakan benar-benar mewakili konstruk yang akan diukur. Apabila instrumen dinyatakan valid berarti alat ukur yang digunakan dalam penelitian sudah tepat. Uji validitas dalam penelitian ini menggunakan teknik korelasi product moment. Suatu butir dikatakan valid jika nilai probabilitas korelasi product moment lebih kecil dari 0,05.

(54)

Dalam pengujian validasi butir soal pada responden, perhitungan menggunakan

program SPSS versi 15 for window. Dengan menggunakan angka kritis korelasi r  = 0,05 dan n = 30 diperoleh motivasi kerja r tabel sebesar 0,361 dan jika r hitung > r tabel maka kuesioner dinyatakan valid. Berdasarkan hasil perhitungan pada Tabel 3.2 diketahui r hitung tiap butir kuesioner supervisi Kepala Sekolah lebih besar dari r tabel, maka seluruh butir instrumen dinyatakan valid.

a. Validitas Data Supervisi Kepala Sekolah

Tabel 3.2. Hasil Perhitungan Uji Validitas Supervisi Kepala Sekolah

(55)

13 14 15 16

0,710 0,520 0,656 0,539

0,361 0,361 0,361 0,361

Valid Valid Valid Valid Sumber: Data primer yang diolah

Berdasar tabel 3.2 tersebut, data dari uji coba instrumen variabel supervisi Kepala Sekolah (X1) terhadap 30 responden dan 30 pertanyaan/pernyataan

menggunakan perhitungan program SPSS versi 15 for windows hasilnya semua valid, sehingga instrumen tersebut dapat digunakan untuk penelitian sebagai alat ukur yang sah.

b. Validitas Data Motivasi kerja

Dengan menggunakan angka kritis korelasi r  = 0,05 dan n = 30 diperoleh

(56)

Tabel 3.3 Hasil Perhitungan Uji ValiditasMotivasi Kerja

(57)

c. Validitas Data Kinerja Guru

Dengan menggunakan angka kritis korelasi r  = 0,05 dan n = 30 diperoleh

motivasi kerja r tabel sebesar 0,361 dan jika r hitung > r tabel maka kuesioner dinyatakan valid. Berdasarkan hasil perhitungan pada Tabel 3.3 diketahui r hitung tiap butir kuesioner kinerja guru lebih besar dari r tabel, maka seluruh butir instrumen dinyatakan valid.

Tabel 3.4 Hasil Perhitungan Uji ValiditasKinerja Guru

(58)

2. Uji Reliabilitas

Setelah ditentukan validitas selanjutnya, uji ini hanya dapat dilakukan pada pertanyaan yang telah dianggap valid. Uji ini digunakan untuk mengetahui sejauh mana hasil pengukuran tetap konsisten jika dilakukan dua kali atau lebih pada kelompok yang sama dengan alat ukur yang sama. Untuk mengukurnya digunakan rumus Cronbach’s Alpha dari masing-masing instrumen dalam satu variabel. Dikatakan reliabel jika memberikan nilai Cronbach’s Alpha > 0,60 ( Ghozali, 2005: 42).

Reliabilitas adalah tingkat keandalan dari suatu alat ukur terhadap mengukur suatu gejala. Semakin tinggi reliabilitas, maka semakin tinggi tingkat kemantapan hasil pengukuran. Berdasarkan perhitungan reliabilitas pada lampiran diperoleh koefisien reliabilitas untuk semua instrumen lebih besar dari r tabel 0,70. Dengan demikian instrumen penelitian dinyatakan reliabel.

Tabel 3.5 Hasil Perhitungan Uji Reliabilitas

Variabel r hitung r table Kriteria Supervisi Kepala

Sekolah

0,8692 0,70 reliabel

(59)

3. Uji Persyaratan/Uji Asumsi Klasik

Rumus regresi diturunkan dari asumsi-asumsi tertentu, maka data yang akan diregresi harus memenuhi asumsi-asumsi regresi untuk mendapatkan nilai estimasi yang akan bersifat BLUE (Best, Linier, Unbiased dan Estimator). Untuk itu perlu diadakan pengujian asumsi klasik yang meliputi 4 uji, yaitu :

a. Normalitas

Uji normalitas dilakukan untuk memenuhi asumsi zero mean, yaitu bahwa variabel pengganggu e harus berdistribusi normal. Apabila variabel pengganggu berdistribusi normal maka Y juga akan berdistribusi normal (Setiaji, 2004: 27).

Konsekuensi apabila data tidak berdistribusi normal. Apabila data tidak berdistribusi normal maka hasil uji t dan uji F menjadi tidak valid. Hal tersebut sebagai akibat bahwa kedua uji tersebut didasarkan pada asumsi bahwa data Y dan e berdistribusi normal (Setiaji, 2004: 28).

Cara mendeteksi atau menguji normalitas dapat digunakan grafik Histogram dan P-P Plot. Adapun penanganan terhadap data yang tidak memenuhi uji normalitas dapat dilakukan dengan pemotongan data yang outliers (berada jauh dari rata-rata) sangat tinggi atau rendah; memperbesar sampel; atau mentransformasi data (Setiaji, 2004: 38).

b. Multikolinearitas

(60)

ada yang memiliki korelasi tinggi maka hal tersebut mengindikasikan adanya gejala multikolinearitas.

Akibat adanya multikolinearitas, jika di antara variabel bebas memiliki korelasi sempurna maka nilai b tidak dapat ditentukan. Bahkan apabila nilai korelasi antara variabel bebas tidak sempurna tetapi cukup tinggi maka nilai b yang diperoleh tetap valid tetapi nilai Sb menjadi bias dan demikian pula nilai t hitung yang diperoleh dari rumus : t = b1 / Sb1 akan menjadi bias pula.

Cara mendeteksi multikolinearitas adalah dengan cara mengkorelasikan antara variabel bebas. Apabila nilai korelasinya tinggi maka menunjukkan adanya gejala multikolinearitas, demikian pula sebaliknya. Untuk mengetahui ada tidaknya multikolinearitas digunakan uji varians inflation faktor (VIF).

c. Heteroskedastisitas

(61)

4. Uji Hipotesis

Hipotesis menyatakan bahwa variabel bebas mempunyai pengaruh yang signifikan tehadap variabel terikat. Pengujian kebenaran ini digunakan analisis korelasi dan regresi ganda. Secara umum model ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

Y = a + β1X1 + β2X2 + ε (Manurung, 2005: 70) Keterangan :

Y : Kinerja guru

X1 : Supervisi kepala sekolah X2 : Motivasi

a : Konstan

β1 …. Β3: Koefisien variabel independent X1 … X3

ε : Error / sisa / nilai residu

Untuk memberi gambaran yang jelas dalam penelitian ini digambarkan struktural sebagai berikut:

Gambar 3.2 Model Analisis Hipotesis X1

X2

(62)

(1) Supervisi Kepala Sekolah berpengaruh sinifikan tehadap kinerja guru.

(2) Motivasi kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja guru.

(3) Supervisi Kepala Sekolah dan motivasi kerja secara bersama-sama berpengaruh

signifikan terhadap kinerja guru.

Untuk mengetahui besarnya koefisien korelasi antar variabel independen, maka penelitian ini juga menggunakan koefisien korelasi Pearson yang diolah perhitungan program SPSS versi 15 for windows. Sedangkan untuk mengetahui kuat lemahnya hubungan antar variabel independen dan hubungan dengan variabel dependen dapat dinyatakan dengan fungsi linier.

a) Uji t

(63)

data dilakukan dengan menggunakan bantuan SPSS versi 15. Secara manual rumus uji t

Uji F digunakan untuk mengetahui apakah variabel independen secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel dependen. Pengujian regresi secara bersama-sama disimpulkan melalui nilai p-value yaitu apabila nilai signifikan penilaian menunjukkan < 0,05 maka terdapat pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen secara bersama-sama. Perhitungan dilakukan dengan menggunakan bantuan SPSS versi 15. Secara manual uji F dapat dihitung dengan menggunakan rumus :

(64)

Keterangan:

R2 : Koefisien Determinasi N : Jumlah pengamatan

k : Treatment (variabel independen)

Uji Koefisien Determinasi

Uji koefisien determinasi adalah bilangan yang menentukan hubungan antara variabel Y dengan variabel X, pada dasarnya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variabel berikut. Bahwa nilai dari Adjust (R2) menentukan nilai, seberapa besar himpunan variabel bebas mempengaruhi atau menjelaskan variabel terikat dan dapat dinyatakan dalam desimal atau persentase. Secara manual rumus koefisien determinasi yang disesuaikan sebagai berikut :

k N

N R R

  

1 (1 2) 1 2

(Manurung, 2005: 69)

Keterangan : 2

R : Nilai koefisien determinasi disesuaikan N : Jumlah sampel

(65)

52

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Data Persepsi Responden terhadap Variabel Penelitian

Persepsi responden terhadap variabel penelitian Supervisi Kepala Sekolah, Motivasi Kerja dan Kinerja Guru bertujuan untuk menyajikan gambaran informasi atau deskripsi suatu variabel dengan karakteristik data yang diperoleh dari hasil penyebaran kuesioner. Dari deskripsi variabel dapat diperoleh suatu gambaran kecenderungan jawaban semua responden terhadap butir pernyataan kuesioner, apakah responden cenderung menjawab sangat tidak setuju, tidak setuju, cukup, setuju, dan sangat setuju. Berdasarkan skala Likert setiap jawaban pertanyaan memiliki nilai minimum 1 dan nilai maksimum 5, dengan kriteria penilaian sebagai berikut:

0,00 – 1,00 : Kurang sekali 1,01 – 2,00 : Kurang 2,01 - 3,00 : Cukup 3,01 - 4,00 : Baik

(66)

1. Persepsi Responden Terhadap Supervisi Kepala Sekolah di UPT Dinas

Pendidikan Kecamatan Bojongsari

Data hasil penelitian tentang supervisi Kepala Sekolah di UPT Dinas

Pendidikan Kecamatan Bojongsari Kabupaten Purbalingga disajikan pada Tabel 4.1

dan 4.2 berikut ini:

Tabel 4.1 Deskripsi Data Supervisi Kepala Sekolah di UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Bojongsari Kabupaten Purbalingga.

Supervisi Kepala Sekolah Jumlah Frekuensi (%) Sangat Baik Pendidikan Kecamatan Bojongsari Kabupaten Purbalingga.

(67)

Berdasarkan Tabel 4.1 dapat dilihat deskripsi data supervisi Kepala Sekolah

di UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Bojongsari Kabupaten Purbalingga sebagian

besar dalam kategori baik yaitu 47 orang (72,3%) sedangkan sisanya dalam kategori

sangat baik 4 orang (6,2%) dan dalam kategori cukup sebanyak 14 orang (21,5%).

Berdasar table 4.2 nilai rata-rata Supervisi Kepala Sekolah mempunyai nilai skor

rata-rata 4,12 termasuk dalam kategori sangat baik ( Lampiran hal.85). Guru-guru

SD di UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Bojongsari Kabupaten Purbalingga

berdasarkan persepsi responden dapat dikatakan mempunyai penilaian terhadap

supervisi Kepala Sekolah sangat baik. Dari tiga dimensi supervisi Kepala Sekolah

dimensi pelaksanaan yang paling kuat sementara dimensi tindak lanjut yang masih

kurang.

2. Persepsi Responden terhadap Motivasi Keja

Data hasil penelitian tentang motivasi kerja di UPT Dinas Pendidikan

Kecamatan Bojongsari Kabupaten Purbalingga disajikan pada Tabel 4.3 dan 4.4

(68)

Tabel 4.3 Deskripsi Data Motivasi Kerja Guru SD di UPT Dinas Pendidikan

Kecamatan Bojongsari Kabupaten Purbalingga

Motivasi Kerja Jumlah Frekuensi (%) Sangat Baik

Pendidikan Kecamatan Bojongsari Kabupaten Purbalingga sebagian besar dalam

kategori baik yaitu 50 orang (76,9%) sedangkan sisanya dalam kategori sangat baik 9

orang (13,8%) dan dalam kategori cukup sebanyak 6 orang (9,2%).

Tabel 4.4 Nilai Rata-Rata Motivasi Kerja Guru SD di UPT Dinas Pendidikan

Kecamatan Bojongsari Kabupaten Purbalingga

(69)

Berdasar tabel 4.4 dimensi motivasi instrinsik lebih kuat dibanding dimensi motivasi ekstrinsik. Variabel motivasi kerja hasil analisis data rata-rata (mean) dari 65 responden guru 4,19 dapat disimpulkan bahwa persepsi jawaban responden termasuk sangat baik. Guru guru SD di UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Bojongsari berdasarkan persepsi responden dapat dikatakan mempunyai motivasi kerja yang tinggi.

3. Persepsi Responden terhadap Kinerja Guru

Data hasil penelitian tentang kinerja guru di UPT Dinas Pendidikan Kecamatan

Bojongsari Kabupaten Purbalingga disajikan pada Tabel 4.5 dan 4.6 berikut ini:

Tabel 4.5 Deskripsi Data Kinerja Guru SD di UPT Dinas Pendidikan

Kecamatan Bojongsari Kabupaten Purbalingga

Kinerja Guru Jumlah Frekuensi (%) Sangat Baik

Pendidikan Kecamatan Bojongsari Kabupaten Purbalingga sebagian besar dalam

kategori baik yaitu 37 orang (56,9%) sedangkan sisanya dalam kategori sangat baik 16

(70)

Tabel 4.6 Nilai Rata-Rata Kinerja Guru SD di UPT Dinas Pendidikan

Kecamatan Bojongsari Kabupaten Purbalingga

Dimensi Kinerja Guru Rata-rata Perencanaan

Proses Evaluasi

Tindak Lanjut

4,09 4,17 4,31 4,21

Rata-rata 4,18

Berdasar tabel 4.6 dimensi perencanaan merupakan dimensi yang paling lemah sedangkan dimensi evaluasi yang paling kuat. Variabel kinerja guru hasil analisis data rata-rata (mean) dari 65 responden guru 4,18 dapat disimpulkan bahwa persepsi jawaban responden termasuk sangat baik. Guru-guru SD di UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Bojongsari berdasarkan persepsi responden dapat dikatakan mempunyai kinerja yang tinggi.

B. Uji Persyaratan Data

1. Uji Variabilitas

(71)

Tabel 4.7 Hasil Uji Variabilitas

Commu naliti es

1.000 .574

1.000 .657

1.000 .858

Superv isi Kepala Sekolah Motiv asi kerja

Kinerja Guru

Initial Extract ion

Extract ion Method: Principal Component Analy sis.

Hasil Uji variabilitas menunjukkan nilai extraction lebih besar dari 0,5, sehingga semua data dari variabel yang diteliti memenuhi syarat menjadi variabel dan dapat dianalisis lebih lanjut.

2. Uji Asumsi Klasik

Model regresi harus memenuhi syarat asumsi klasik, karena suatu model regresi dapat digunakan dan dianggap baik jika model regresi tersebut memenuhi beberapa asumsi klasik, antara lain asumsi normalitas, linieritas, dan heteroskedastisitas. Berikut ini adalah hasil dan pembahasan dari uji asumsi klasik.

a. Uji Normalitas Data

(72)

Tabel 4.8

Hasil Pengujian Normalitas data dengan menggunakan Uji Kolmogorov Smirnov

Sekolah Motiv asi kerja Kinerja Guru

Test distribution is Normal.

(73)

apabila nilai VIF melebihi angka 5, adapun hasil pengujian Multikoliearitas dapat dilihat pada Tabel 4.7.

Tabel 4.9

Hasil Pengujian multikolinieritas dengan menggunakan Uji VIF

Coeffi cientsa

19.464 6.914 2.815 .007

.458 .089 .422 5.122 .000 .890 1.123 .618 .094 .543 6.592 .000 .890 1.123 (Constant)

Kondisi yang disyaratkan untuk tidak terjadinya gejala multikolinearitas adalah bila nilai VIF lebih kecil dari 10, dari analisis yang dilakukan sebagaimana terlihat pada Tabel 4.7 diperoleh VIF sebesar 1,123 mempunyai nilai VIF yang lebih kecil dari 5, sehingga variabel bebasnya telah terbebas dari gejala multikolinieritas atau tidak terjadi gejala multikolinieritas.

(74)
(75)

c. Heteroskedastisitas

Heteroskedastisitas dapat diketahui dengan menggunakan Uji Glesjer yaitu meregresikan variabel independen dengan absolut residual. Jika tidak terdapat pengaruh yang signifikan pada  = 0,05 maka dikatakan tidak terjadi heteroskedastisitas. Hasil

Uji Glesjer dapat dilihat pada Tabel 4.8 berikut ini.

Tabel 4.10

Berdasarkan hasil Uji Glesjer di atas diketahui nilai signifikansi masing-masing variabel independen lebih besar dari 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model regresi terbebas dari gejala heteroskedastisitas.

C. Uji Hipotesis

1. Uji Regresi Supervisi Kepala Sekolah Terhadap Kinerja Guru (X1 - Y)

(76)

Tabel 4.11 Koefisien Regresi X1 -Y

Tabel tersebut memberikan informasi tentang persamaan regresi yaitu Y= 7.341 + 0,654.X1. Diperoleh informasi pula bahwa baik skor konstan (Sig.0.000) maupun beta (Sig.0,314) lebih kecil dibandingkkan dengan taraf signifikansi 5% (0,005).

Selanjutnya hasil analisis ANOVA yang digunakan untuk menganalisis data pengaruh variabel supervisi Kepala Sekolah terhadap kinerja guru disajikan dalam tabel 4.11.

Tabel 4.12 Hasil Uji Anova X1 - Y

ANOVAb

316.711 1 316.711 35.807 .000a

557.227 63 8.845

Squares df Mean Square F Sig.

Predictors: (Const ant), Superv isi Kepala Sekolah a.

(77)

Hasil penghitungan ANOVA tersebut diperoleh informasi tentang hasil perhitungan F sebesar 35,807 dan probalitas (Sig) 0,000a yang berarti lebih kecil dibandingkan dengan taraf signifikansi 0,05 atau Sig. 0,000 < 0,005, sehingga dapat diambil keputusan bahwa Ho ditolak. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa supervisi Kepala Sekolah berpengaruh terhadap kinerja guru.

Selanjutnya hasil analisis korelasi yang mengetahui kontribusi pengaruh variabel supervisi Kepala Sekolah terhadap kinerja guru disajikan dala tabel 4.12

Tabel 4.13 Hasil Uji Regresi X1 terhadap Y

Model Summary

.602a .362 .352 2.9740

Model 1

R R Square

Adjusted R Square

St d. Error of the Estimate

Predictors: (Constant), Superv isi Kepala Sekolah a.

(78)

1. Uji Regresi Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Guru

Persamaan regresi liner digunakan untuk mengetahui adanya pengaruh antara beberapa variabel bebas yaitu supervis Kepala Sekolah terhadap kinerja guru dengan out put sebagai berikut:

Tabel 4.14 Koefisien Regresi X2 Terhadap Y

Coeffi cientsa

.626 6.738 .093 .926

.776 .105 .683 7.422 .000

(Constant) Motiv asi kerja Model

1

B St d. Error Unstandardized

Coef f icients

Beta St andardi

zed Coef f icien

ts

t Sig.

Dependent Variable: Kinerja Guru a.

Tabel tersebut memberikan informasi tentang persamaan regresi yaitu Y= 0,626 + 0,776.X2. Diperoleh informasi pula bahwa baik skor konstan (Sig. 0,926) maupun beta (Sig 0,000) lebih kecil dibandingkan dengan taraf signikansi 5% (0,05).

(79)

Tabel 4.15 Hasil Uji ANOVA X2 ke Y

ANOVAb

407.671 1 407.671 55.083 .000a

466.267 63 7.401

Squares df Mean Square F Sig.

Predictors: (Const ant), Motiv asi kerja a.

Dependent Variable: Kinerja Guru b.

Hasil perhitungan ANOVA tersebut diperoleh informasi tentang hasil perhitungan F sebesar 55,083 dan probalitas (Sig.) 0,000 yang berarti lebih kecil dibandingkan dengan taraf signifikansi 0,05 atau Sig 0,000 < 0,05, sehingga dapat diambil keputusan bahwa Ho ditolak. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa motivasi kerja berpengaruh signifikan terhadap kerja guru.

Selanjutnya hasil analisis korelasi untuk mengetahui kontribusi pengaruh variabel motivasi kerja terhadap kinerja guru disajikan dalam tabel berikut:

Tabel 4.16 Hasil Uji Regresi X2 Terhadap Y

Dilihat dari hasil pengujian dengan SPSS di atas menunjukkan bahwa motivasi kerja berpengaruh positif terhadap kinerja guru dengan koefisien regresi sebesar 0,466;

Model Summary

Gambar

Tabel
Grafik Linier …………………………………………….…………      61
Tabel 1.1 : Nilai Tertinggi dan Terrendah Tiga Mata Pelajaran  UN SD
Gambar 2.1 : Kerangka Pikir Penelitian
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini membahas penerapan sistem manajemen stratejik yang terdiri dari enam langkah ( the closed loop strategic management system ), beserta analisis

[r]

Penutupan ruangan akibat premature loss gigi sulung ini dapat terjadi selama 6 bulan setelahnya, tetapi dapat juga terjadi dalam hitungan minggu; (2) Apabila gigi anterior

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh market timing ability , stock selection skill, expense ratio dan tingkat risiko terhadap kinerja reksa dana saham di

menentukan menyunting informasi iklan, slogan, dan poster sesuai bahasa yang baik dan benar.. Pertemuan Kedua

Bagian Persediaan melakukan pengecekan Purchase Order yang diberikan oleh Supplier / Pemasok atau Purchase Order yang perusahaan kirim kepada Supplier dengan barang yang masuk

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP MATA PELAJARAN IPA SISWA KELAS V SD.. Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu |

Sedangkan yang dilaporkan oleh Kurniawan (2011) pemberian sumber nitrogen KNO3 dengan rasio C/N=10 pada medium mampu menghasilkan aktifitas protease paling tinggi