• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODA PELAKSANAAN PEKERJAAN REKONDISI A

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "METODA PELAKSANAAN PEKERJAAN REKONDISI A"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

METODA PELAKSANAAN

PEKERJAAN : REKONDISI ACCES ROAD DARI KANTOR STAFF SAMPAI GEDUNG PKP-PK = 2.700 M2 LOKASI : BANDAR UDARA Dr.FERDINAN LUMBANTOBING - TAPTENG

SUMBER DANA : APBN KEMENTRIAN PERHUBUNGAN TAHUN

ANGGARAN : 2013

A. LINGKUP PEKERJAAN :

I. PEKERJAAN PENDAHULUAN.

II. PEKERJAAN KONSTRUKSI AKSES ROAD III. PEKERJAAN BAHU JALAN

B. METODA KERJA :

I. PEKERJAAN PENDAHULUAN :

Pekerjaan Pendahuluan ini adalah meliputi pekerjaan-pekerjaan :

1. Pekerjaan Mobilisasi dan Demobilisasi Peralatan

Pekerjaan Mobilisasi dan Demobilisasi Peralatan ini adalah Pekerjaan untuk mengadakan dan pengiriman peralatan-peralatan yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan pada proyek ini.

Mobilisasi adalah untuk pengiriman alat-alat yang dibutuhkan pada saat pekerjaan konstruksi belum dimulai, termasuk pengiriman tenaga personil kontraktor kelapangan. Pekerjaan ini dilaksanakan paling lambat 30 hari kalender setelah SPMK ditandatangani, atau sesuai dengan syarat-syarat perjanjian kontrak yang ditandatangani pihak Pemberi kerja dan Kontraktor Pelaksana.

Demobilisasi adalah pekerjaan Pengembalian alat-alat yang digunakan untuk proyek ini, setelah pekerjaan konstruksi selesai dilaksanakan semuanya. Pekerjaan Mobilisasi dan Demobilisasi ini dibayar dengan harga satuan lumpsum.

2. Photo Dokumentasi

Pekerjaan Photo Dokumentasi ini adalah kegiatan pembuatan photo-photo dokumentasi mulai dari photo-photo dokumentasi keadaan lapangan sebelum dikerjakan atau photo 0%, kemudian photo dokumentasi pada saat pekerjaan konstruksi dilaksanakan atau yang disebut photo sedang dikerjakan, dan photo dokumentasi setelah pekerjaan konstruksi selesai dilaksanakan atau photo 100%, sehingga photo-photo dokumentasi ini dilaksanakan dalam 3 (tiga) phase. Semua photo-photo dokumentasi ini di simpan dan pada saat berita acara pembayaran 100%, photo dokumentasi ke tiga phase tersebut akan diserahkan kepada direksi pekerjaan dalam satu set.

Mata pembayaran pekerjaan ini dibayar dengan harga satuan Set.

3. Pembuatan Pelaporan.

(2)

laporan mingguan menjadi laporan bulanan. Kami pihak kontraktor pelaksana akan menyiapkan satu buku laporan yang disebut Buku Harian Standard (BHS) yang merekam semua kegiatan pelaksanaan proyek ini setiap hari.

Shop drawing adalah kegiatan untuk membuat gambar-gambar untuk pedoman pelaksanaan dilapangan yang telah disetujui dan ditanda tangani oleh masing-masing pihak. Dasar pembuatan Shop drawing ini adalah hasil survey atau pengukuran lapangan.

As Built Drawing adalah kegiatan pembuatan gambar-gambar konstruksi yang telah dilaksanakan dilapangan.

Semua dokumen ini harus disetujui dan ditanda tangani masing-masing pihak, yaitu pihak Kontraktor pelaksana, Pihak Konsultan Pengawas, dan Pihak pemberi pekerjaan atau Direksi Pekerjaan.

Mata pembayaran untuk pekerjaan ini di bayar dengan dengan harga satauan Paket.

4. Papan Informasi Pekerjaan

Pekerjaan Papan Informasi Pekerjaan adalah Pekerjaan Pembuatan Plank Nama Proyek yang berisikan tulisan informasi tentang data-data proyek secara singkat antara lain :

a. Nama Pemilik Proyek b. Nama Pekerjaan

c. Besar atau nilai Proyek d. Sumber Dana

e. Tahun Anggaran

f. Perusahaan Pelaksana Pekerjaan g. Waktu Penyelesaian Pekerjaan

h. Dan lain-lain sesuai dengan yang ditentukan dalam Spesifkasi Teknis dan gambar serta ukuran yang telah ditetapkan untuk item Pekerjaan Pembuatan Papan Informasi Pekerjaan.

Tujuan dari Papan Informasi Pekerjaan ini adalah untuk memberikan informasi dan uraian secara singkat tentang proyek yang sedang dilaksanakan.

Mata pembayaran untuk pekerjaan ini dibayarkan dengan harga satuan Paket.

5. Pekerjaan Kendali Mutu/Pengujian Material (JMD,JMF,Coredrill,Test Marshal, dll)

Pekerjaan Kendali Mutu/pengujian Material (JMD, JMF, Core drill, Test Marshal, dll) ini adalah kegiatan pengendalian mutu atau kualitas pekejaan, sebelum material yang akan digunakan untuk proyek ini di kirim atau ditentukan sumbernya, terlebih dahulu dilakukan pengujian laboratorium untuk

memastikan material yang akan digunakan nantinya dapat memenuhi spesifkasi teknis yang telah ditetap dalam kontrak.

Demikian juga dengan material-material yang dihasilkan dari pencampuran dari berbagai material yang di produksi dari Batching plan, kami terlebuh dahulu menyiapkan pengujian laboratorium untuk mendapatkan hasil pencampuran material yang terbaik dan memenuhi seluruh standar spesifkasi teknis yang telah ditentukan dalam kontrak yang disebut dengan Job Mix Design (JMD). Yang kemudian berdasarkan Job Mix Design dapat dibuat lagi hasil

(3)

diterapkan dilapangan sebagai acuan pelaksanaan produksi material dari batching Plan yang kemudian disebut sebagai Job Mix Formula (JMF).

Selama periode pelaksanaan pekerjaan, kami sebagai kontraktor pelaksana juga tetap melakukan pengendalian mutu, atau pengujian material yang sudah

dikerjakan untuk menjadi kontrol hasil pekerjaan, yang disebut dengan core drill dan test marshal untuk setiap pengiriman material dalam batas kuantitas atau jumlah volume tertentu sesuai dengan yang ditentukan dalam spesifkasi Teknis dalam kontrak.

Mata pembayaran untuk pekerjaan ini dibayarkan dengan harga satuan Paket.

II. PEKERJAAN KONSTRUKSI :

Pekerjaan Konstruksi ini adalah pekerjaan yang menjadi pekerjaan utama dalam proyek ini, yang meliputi :

1. Pengukuran sebelum sampai dengan sesudah pekerjaan

Pekerjaan Pengukuran sebelum dan sesudah pekerjaan ini adalah kegiatan survey lapangan pada awal pekerjaan. Pada pekerjaan ini Pihak Kontraktor Pelaksana bersama-sama dengan Pihak Pemberi pekerjaan, dengan atau Konsultan Pengawas yang ditunjuk oleh Direksi Pekerjaan untuk mewakilinya mengawasi seluruh pelaksanaan proyek ini, melakukan survey lapangan atau pengukuran, termasuk penentuan lokasi dan setting out dan pembuatan center line alinemen jalan yang hendak dikerjakan, serta penentuan atau pembuatan titik-titik simpanan atau Bens Mark (BM).

Seluruh data data atau hasil pengukuran ini dituangkan dalam gambar shop drawing untuk menjadi pedoman pelaksanaan pekerjaan kontruksi pada proyek ini, dan sebagai dasar penghitungan kuantitas pekerjaan yang hendak

dilaksanakan atau yang disebut Rekayasa Lapangan atau Mutual Check Awal (MC 0).

Sesudah pekerjaan konstruksi selesai seluruhnya dilaksanakan, kemudian dilakukan lagi pengukuran atau survey lapangan sesudah pekerjaan, kegiatan ini dilaksanakan untuk memastikan seluruh hasil pekerjaan termasuk kuantitas pekerjaan apakah sudah sesuai dengan design atau kontrak.

Pekerjaan pengukuran ini tidak hanya dilakukan pada saat sebelum dan sesudah pekerjaan konstruksi dilaksanakan, namun pada saat periode pelaksanaan atau pekerjaan sedang dilaksanakan juga perlu dilakukan pengukuran-pengukuran untuk mengontrol ketepatan pekerjaan sesuai dengan gambar design, untuk menjaga kualitas pekerjaan. Petugas untuk pekerjaan ini, kami sebagai pihak kontraktor pelaksana telah mempersiapkannya sebagai juru ukur yang

berpengalaman sesuai dengan yang disyaratkan dalam dokumen lelang. Mata pembayaran item ini dibayar dengan harga satuan meter persegi (M2).

2. Pekerjaan Galian Tanah T – 40 Cm.

(4)

dipadatkan hingga kepadatan dan CBR yang telah ditentukan sesuai dengan spesifkasi teknis.

Mata pembayaran untuk pekerjaan ini dibayar dengan harga satuan M3 (meter kubik).

3. Pekerjaan Sirtu Padat. Lingkup Pekerjaan

Pekerjaan yang tercakup dalam item pekerjaan ini terdiri dari melengkapi semua perlengkapan peralatan, serta bahan kerja untuk melaksanakan semua pekerjaan yang berhubungan dengan pembuatan lapisan sirtu padat dengan tebal sesuai persyaratan kontrak dan spesifkasi teknis serta gambar-gambar yang dipergunakan dan disetujui.

Bahan

Bahan sirtu padat harus terdiri dari material yang mempunyai partikel dengan tingkat kekerasan atau fragmen dengan butiran agregat yang terdiri dari campuran sirtu, batu pecah, kerikil atau material sejenis dari sumber yang telah disetujui oleh Konsultan pengawas dan Direksi pekerjaan. Ukuran agregat sirtu harus sesuai dengan ukuran yang telah ditetapkan dalam spesifkasi teknis untuk pekerjaan ini atau berdasarkan standar yang digunakan dalam spesifkasi teknis.

Material – material tersebut harus bersih dari humus, lumpur, lempung yang berlebihan serta bahan organik lainnya.

Cara Pelaksanaan

Lapisan sirtu harus hampar lapis demi lapis dengan ketebalan perlapisan minimal 7,5 cm sampai dengan 20 cm setelah dilakukan pemadatan.

Karena bahan itu dihampar rata maka harus mempunyai ketebalan yang sama dan tidak diperkenankan adanya tempat-tempat yang mengalami segregation. Sirtu padat tidak boleh dihamparkan lebih dari 2.000 meter persegi sebelum digilas, kecuali dinyatakan lain oleh Konsultan Pengawas atau Direksi

pekerjaan.

Tiap penyiraman air yang diperlukan harus dijaga dalam batas-batas yang dipersyaratkan. Bahan sirtu tidak boleh ditempatkan di atas lapisan yang lunak atau berlumpur.

Sebelum penempatan dan penghamparan berlangsung, tindakan-tindakan pencegahan dilaksanakan untuk menjaga agar bahan-bahan yang tidak diinginkan tidak tercampur kedalam campuran lapisan sirtu.

Penyelesaian dan Pemadatan

Sesudah penghamparan atau pengadukan bahan sirtu, harus benar-benar dipadatkan dengan Vibro Roller dan menambah air, jika perlu.

(5)

Banyaknya gilasan yang diperlukan minimum 6 gilasan (passes) atau lebih sehingga permukaan lower sirtu memiliki nilai CBR minimum 25%.

Penggilasan harus berlangsung sampai bahan itu tersusun dan stabil benar-benar, serta bahan sirtu telah dipadatkan sehingga kepadatannya adalah 95% kepadatan maksimum pada kadar air optimum sebagai yang ditetapkan oleh ASTM D-1557 Blending dan rolling harus dilakukan bergantian, menurut keperluan / petunjuk untuk memperoleh satu subbase yang rata, halus dan dipadatkan secara merata pula. Lapisan itu tidak boleh digilas pada waktu dasar lapisan lunak atau berlumpur atau jika penggilasan menimbulkan gelombang di lapisan sirtu.

Jika penggilasan menghasilkan ketidakrataan yang melebihi 12 mm apabila diuji dengan tongkat lurus dari 3 meter, maka permukaan yang tidak rata harus digusur untuk kemudian ditimbun kembali dengan bahan yang sama seperti yang dipakai dalam menyusun lapisan itu dan digilas lagi seperti tersebut diatas.

Penambahan air selama penggilasan apabila perlu, harus dalam jumlah tertentu serta dengan peralatan yang disetujui oleh Konsultan Pengawas atau Direksi Teknis pekerjaan.

Pemadatan lapisan terakhir diberi siraman air yang ringan dan digilas dengan Vibro roller seberat 12 ton, agar lapisan sirtu menjadi rata dan padat.

Pengendalian Mutu /Test Material Lapangan

Test Pengendalian lapangan berikut ini harus dilaksanakan untuk memenuhi persyaratan spesifkasi. Galian untuk lubang uji dan penimbunan kembali dengan bahan Sirtu dipadatkan dengan sempurna, harus dikerjakan oleh kontraktor dibawah pengawasan Konsultan Pengawas dan Direksi Teknis. Untuk Laporan hasil uji kepadatan lapangan, harus memuat tentang titik koordinat dan elevasi hasil pengujian tersebut.

Mata Pembayaran untuk Pekerjaan ini dibayar dengan harga satuan meter kubik (M3) sesuai dengan volume pekerjaan dilapangan berdasarkan berita acara pemeriksaan lapangan.

4. Pekerjaan Base Course. Lingkup Pekerjaan

Pekerjaan ini terdiri dari melengkapi semua perlengkapan, peralatan, bahan dan kerja serta melaksanakan semua pelaksanaan yang berhubungan dengan pembangunan base course setebal 15 cm sesuai dengan persyaratan kontrak, spesifkasi serta gambar yang telah digunakan dan disetujui.

Bahan

Aggregate harus terdiri dari batu pecah, fne aggregate yang merupakan hasil screening yang diperoleh dari pemecahan batu (minimum pecah 3 sisi). Batu pecah dari batu gunung, batu kali yang dipecah sedemikian hingga butirannya yang ukurannya sesuai dengan persyaratan dan harus bebas dari kelebihan bahan - bahan yang gepeng/ fat, panjang / elongated, lunak atau hancur, kotor dan bahan lainnya yang tidak diinginkan.

(6)

apabila hasil uji pemadatan tidak memenuhi persyaratan, maka uji pemadatan dapat di ulang kembali.

Pelaksanaan Penghamparan

Bahan aggregate base course harus ditempatkan di underlying course sedemikian rupa untuk memperoleh adukan base yang sesuai dengan susunan gradasi dengan kadar air yang disyaratkan, dan dalam jumlah tertentu untuk mencapai tebal lapisan aggregate base course serta kepadatan sesudah dipadatkan.

Bahan itu harus dibentuk menjadi bagian yang sama / uniform section.

Kontraktor bersama-sama dengan Konsultan pengawas dan direksi teknis pekerjaan akan menguji adukan untuk menetapkan bahwa pengadukan tersebut lengkap dan lagi memuaskan dan kadar air yang telah sesuai dengan persyaratan harus dijaga benar-benar sebelum pemadatan dimulai.

Tidak diadakan penghamparan kecuali jika telah disetujui. Harus dijaga benar-benar supaya bahan dari underlying course tidak tercampur teraduk dengan bahan aggregate base course.

Apabila perlu, aggregate base course harus digaru hingga diperoleh permukaan yang rata, dan sama, lurus kemiringan dan cross section sampai adukan ini dalam keadaan yang baik untuk pemadatan.

Cara Pemadatan

Lapisan aggregate base course harus dilaksanakan berlapis-lapis yang tebal setiap lapisannya anatar 6 cm sampai dengan 10 cm.

Gradasi aggregate yang sudah ditebarkan harus seragam dan tidak mengandung pemecahan- pemecahan atau unsur-unsur bahan yang halus ataupun kasar pada suatu tempat. Aggregate dimaksudkan tidak boleh ditebar melebihi 1500 meter persegi sebelum digilas, kecuali diperkenankan oleh Konsultan Pengawas atau direksi teknis pekerjaan.

Tidak ada bahan apapun boleh ditempatkan dipemukaan yang lunak atau berlumpur.

Kontraktor diwajibkan mengadakan test untuk menetapkan kepadatan maksimum serta kadar air yang dari pada aggregate base course. Bahan aggregate base course harus mempunyai kadar air yang memuaskan pada saat pengilasan dimulai.

Setiap perbedaan kecil harus dibetulkan dengan pembasahan (penambahan air) jika dipandang perlu. Selama pekerjaan penempatan dan penebaran berlangsung, maka disyaratkan untuk mencegah tercampurnya bahan untuk subgrade, subbase atau shoulder dalam adukan / aggregate base course.

Penyelesaian Pemadatan

Konstruksi base coure dikerjakan berlapis-lapis tersebut sedemikian dapat mencapai struktur yang homogen, kemudian dipadatkan dengan menggunakan Smoothwheel Rollers dengan berat 8 – 12 ton, Pneumatic Tire Roller dan Vibro Roller sampai benar-benar padat dan jika perlu dengan penambahan air.

(7)

Pengendalian Mutu dan pengujian Lapangan

Test Pengendalian mutu dan pengujian lapangan harus dilaksanakan untuk memenuhi persyaratan spesifkasi oleh kontraktor dibawah pengawasan Konsultan Pengawas dan Direksi Teknis. Apabila kesusutan base course lebih dari 10 mm Kami sebagai Kontraktor harus memperbaiki daerah-daerah itu dengan cara mengupas menambah campuran base yang memadai, menggilas, membuat bentuk kembali dan menyelesaikan sesuai dengan persyaratan teknis pelaksanaan ini.

Kami akan mengganti atas biayanya, atas bahan base ditempat-tempat yang dibor untuk keperluan pengetesan. Berikut persyaratan pengendalian di lapangan. Laporan hasil uji kepadatan lapangan, harus memuat tentang titik koordinat dan elevasi hasil pengujian tersebut.

Mata pembayaran pekerjaan ini dibayar dengan harga satuan meter kubik (M3) dengan kuantitas sesuai dengan Berita Acara Pemeriksaan Lapangan.

5. Pekerjaan lapis Perekat (Prime Coat) Lingkup Pekerjaan

Pekerjaan ini terdiri dari memperlengkapi semua peralatan, bahan dan kerja serta melaksanakan semua kegiatan yang berkaitan dengan penggunaan bahan aspal pada lapisan aggregate base course yang disiapkan sebelumnya yang tercantum pada persyaratan kontrak serta sesuai dengan persyaratan teknis dan gambar-gambar yang dapat digunakan.

Bahan

Jenis asphalt untuk Prime Coat ini adalah Asphalt Cement 60/70 komposisi sesuai hasil tes viscositas, perihal bahan-bahan dilaksanakan dengan memakai pressure distributtor yang memenuhi syarat. Pemakaian asphalt jenis lain hanya dibenarkan dengan ijin Pejabat Pembuat Komitmen / Direktorat Bandar Udara. Dalam garis besarnya, jumlah bahan asphalt tergantung dari texture dari base course, dan banyaknya berkisar 2,5 kg/m2 jika terlalu pekat dapat diijinkan

menggunakan bahan pengencer secukupnya.

Prime Coat dapat disemprotkan hanya apabila permukaan yang ada tetap kering tetapi kelembaban cukup untuk memperoleh penyebaran bahan asphalt yang merata pada waktu suhu udara berada di atas 15 ° C dan apabila cuaca tidak berkabut atau hujan.

Peralatan yang digunakan adalah meliputi sapu listrik atau peniup listrik atau compressor, sebuah distributor bahan asphalt yang otomatis serta peralatan untuk memanaskan bahan asphalt, serta peralatan-peralatan tambahan yang diperlukan untuk menyelesaikan bagian ini, dioperasikan sedemikian hingga temperatur asphalt pada kepanasan yang merata dapat digunakan secara seragam pada kelebaran permukaan yang berbeda-beda dengan perbandingan yang sudah ditentukan serta terawasi dari 0.20 sampai 7.50 kg.

Perlengkapan distributor berisikan sebuah alat pengukur volume yang seksama atau calibrated, serta sebuah thermometer untuk mengukur suhu isi tangki. Menjelang digunakan bahan utama, semua kotoran dan benda lainnya yang tidak diinginkan disingkirkan dari permukaan dengan sapu listrik atau alat peniup seperti ditentukan.

(8)

teknis pekerjaan serta suhu dalam tahap yang dispesifkasikan dalam persyaratan teknis pelaksanaan ini. Setelah penggunaan ini selesai maka permukaan yang telah diprime, dibiarkan mengering selama 48 jam tanpa diganggu, atau selama waktu yang diperpanjang/diperpendek menurut keperluan untuk membiarkan prime itu kering hingga tidak akan terbawa oleh lalu-lintas peralatan, masa atau jangka waktu lain yang disetujui oleh Konsultan Pengawas dan direksi teknis pekerjaan. Kemudian permukaan itu dijaga oleh pelaksana kami sampai pekerjaan lapisan berikutnya dimulai. Kami tetap melindungi permukaan yang sudah diprime terhadap kerusakan selama masa itu, termasuk menyediakan dan menghamparkan pasir yang diperlukan untuk menghapus bahan asphalt yang berkelebihan.

Mata pembayaran ini dibayar dengan harga satuan Kg/m2 sesuai dengan Berita Acara Pemeriksaan lapangan.

6. Pekerjaan Aspal AC, tebal 5 cm Lingkup Pekerjaan

Pekerjaan yang tercakup dalam item pekerjaan ini terdiri dari penyediaan pekerjaan asphalt mixing plant, equipment dengan material serta pelaksanaan pekerjaan yang berhubungan dengan pemasangan dan penghamparan lapisan aspal hotmix sesuai dengan tebal lapisan sesuai dengan gambar, ketentuan dan syarat kontrak serta sesuai dengan spesifkasi ini.

Bahan Aspal

Jenis aspal yang digunakan untuk pekerjaan ini sesuai dengan kondisi iklim di Indonesia adalah AC 60/70.

Prosentasi berat aspal yang dipergunakan pada campuran aspal hotmix dibuat berdasarkan hasil analisa saringan agregat dan percobaan campuran sebagaimana yang termuat dalam Job Mix Formula yang telah disetujui oleh Konsultan Pengawas dan direksi teknis pekerjaan.

Jenis spesifkasi dan suhu campuran untuk aspal adalah sebagai berikut : Penetration grade 60 – 70. Spesifcation ASTM D 946, Kadar Parafn kurang dari 2 %, Mixing Temperature ditentukan berdasarkan tes viscositas atau biasanya 150° C - 160° C.

Agregat terdiri dari batu pecah, screenings, bahan lain, butiran-butiran, material-material yang disetujui yang mempunyai sifat dan kualitas yang sama dan memenuhi semua persyaratan bila dicampurkan dalam batas gradasi tersebut diatas. Agregat kasar terdiri dari bahan yang bersifat tahan aus/keras dan bebas dari lapisan (coatings) yang melekat dan sesuai ketentuan-ketentuan dari persyaratan A.S.T.M. D-692-79, A.S.T.M.D-693-77. Course agregat bila di test berdasarkan Los Angeles Abrassion Test, tidak boleh hilang lebih dari 25 %.

Agregat halus tidak boleh mengandung pasir alami lebih dari 15 persen terhadap total berat agregat. Jika digunakan, pasir alami harus memenuhi persyaratan ASTM D 1073 dan memiliki plasticity index maksimum 6 % dan liquid limit maksimum 25 % bila diuji sesuai dengan ASTM D 4318.

(9)

Filler

Bila fller merupakan tambahan yang diperlukan pada agregat yang ada maka harus terdiri dari debu batu pecah. Portland cement atau bahan lain yang disetujui. Material Filler harus memenuhi persyaratan dari A.S.T.M D. 242.

Stockpiling Agregat

Agregat disimpan sedemikian rupa sehingga mencegah adanya segregasi dan longsoran. Stockpiling Agregat diatur sedemikian rupa hingga lapisan - lapisan tidak melebihi satu meter, diatas dasar yang keras dan bersih dengan tidak lebih dari 5 prosen kemiringan.

Course agregat dan fne agregat di tempat penimbunan akan dipisahkan oleh sekat atau alat lain dengan persetujuan Pejabat Pembuat Komitmen dan sekeliling timbunan dibuat drainage yang baik. Bagian tengah dasar dari tempat penyimpanan agregat merupakan titik tertinggi untuk pengeringan kadar air yang berkelebihan. Agregat yang menjadi segregasi atau kotor dengan bahan dipindahkan atau diproses lagi, atau dipisahkan dari material berkualitas yang dapat diterima atas biaya kontraktor sendiri.

Gradasi Agregat

Gradasi agregat untuk aspal hotmix dibuat berada dalam batas - batas dalam tabel berikut :

Tabel 3.6.5 Gradasi Agregat AC dan ATB Saringan A.S.T.M

Lolos Saringan Persentase Terhadap Berat

ATB AC

Max. 1” Max. 3/4”

1” (25.0 mm) 100 100

¾” (19.0 mm) 82 – 100 100 ½” (12.5 mm) 70 – 90 75-95 3/8” (9.5 mm) 60 – 82 60 – 82 No.4 (4.75 mm) 42 – 70 42 – 70

No. 10 30 – 60 30-60

No. 40 15 – 40 15-40

No. 80 8 – 26 8 – 26

No. 200 3 – 8 3 – 8

Bituminous percent

Kadar Bitumen dari mixture diperhitungkan dari berat mixture seluruhnya, untuk persyaratan Gradasi agregat dan kadar bitumen disamping hal - hal tersebut, dapat pula dipakai komposisi lain sesuai dengan persyaratan Teknis yang berlaku umum (A.S.T.M) tebal lapisan yang dilaksanakan, serta atas persetujuan Pejabat Pembuat Komitmen.

Gradasi

Dalam tabel tadi menunjukan batas - batas yang akan menentukan agregat yang dipersyaratkan untuk dapat dipakai dari sumber pengadaan.

(10)

Untuk mengetahui prosentasi dari seluruh material yang lolos saringan No. 200, suatu sample dari course agregat dan fne agregat harus dicuci. Dari jumlah material yang lolos saringan No. 200 minimum separuhnya harus lolos saringan No. 200 dengan dry sieving.

Meskipun diatur dengan komposisi limit yang, telah ditetapkan masih perlu

juga pengawasan teliti terhadap bahan - bahan yang dipakai untuk pelaksanaan disesuaikan dengan Job Mix Formula.

Temperatur untuk mixing dan pemadatan pada prinsipnya didapatkan dari hasil tes viscositas aspal, secara umum untuk AC 60/70 temperatur mixing dan pemadatan sebagai berikut :

Mixing temperature : Aspal cement 149° C - 160° C.

: Agregat 160° C - 170° C. Temperature agregat tak boleh lebih dari 14° C diatas temperature aspal cement.

Laying temperature : Antara 135° C - 155° C

Rolling temperature : Seperlunya untuk memperoleh feld

density yang dimaksud tetapi tidak boleh kurang dari 122° C . (sesuai hasil trial compaction).

Trial Compaction

Sebelum dilaksanakan pelaksanaan pekerjaan, Kami terlebih dahulu melakukan uji pemadatan di luar area yang akan dikerjaan dengan persetujuan Pejabat Pembuat Komitmen. Uji pemadatan dimaksudkan untuk mengetahui jumlah lintasan optimum sehingga tercapai nilai kepadatan lapangan sesuai dengan yang disyaratkan. Luas area untuk uji pemadatan minimal 3 m x 30 m yang dibagi menjadi 3 segmen, dimana perbedaan tiap segmen adalah pada jumlah lintasan pemadatan. Selanjutnya dari hasil uji pemadatan apabila sudah memenuhi persyaratan, maka dijadikan dasar dalam pelaksanaan. Namun apabila hasil uji pemadatan tidak memenuhi persyaratan, maka uji pemadatan dapat di ulang kembali.

Persiapan dan Pelaksanaan

Sebelum campuran aspal hotmix dihamparkan, maka permukaan lapisan yang ada, dibersihkan dari material yang terlepas dengan sweeper yang dilengkapi blower atau mesin compressor. Hanya diijinkan menghampar campuran aspal hotmix di atas lapisan yang kering, yang dalam keadaan baik dan hanya pada waktu cuaca baik.

Machine Spreading atau Asphalt Finisher

Setelah sampai ditempat pelaksanaan hotmix dimasukkan/ dituang kedalam Aspahalt Finisher dan segera dihamparkan selebar yang telah ditetapkan. Selanjutnya digilas dengan tinggi lapisan yang merata sehingga bila pekerjaan selesai akan memenuhi tebal yang ditetapkan dan sesuai dengan grade dan surface contour yang ditetapkan. Kecepatan paver diatur agar campuran aspal hotmix tidak melesak dan terkoyak (pulling dan tearing). Campuran aspal hotmix dihamparkan memanjang dengan minimum 3m. material dihamparkan tapi tidak boleh dibiarkan tanpa digilas 2 jam sesudah dihampar.

Pemadatan

(11)

dengan mesin gilas. Penggilasan dimulai segera setelah penghamparan, hingga tidak menyebabkan displacement atau retak rambut. Pada jalur hamparan pertama penggilasan dimulai pada kedua tepinya dan diteruskan kearah tengah jalur. Pada jalur yang dihamparkan berikutnva, penggilasan dimulai dari sisi sebelah luar menuju ke arah jalur yang telah selesai dipadatkan.

Selanjutnya sisi lainnya digilas dan diteruskan menuju ketengah jalur tersebut. Pemadatan pertama / initial rolling, dilaksanakan memanjang, dengan steel wheel rollers berat total 8 - 10 ton. tidak boleh lebih dari 10 ton, roller harus dipadatkan dengan lintasan berulang - ulang / panjang lintasan bolak - balik dari rollers senantiasa harus cukup lambat untuk menghindarkan terjadinya displacement dari hotmix dengan kecepatan max 2.5 Km/ jam.

Final rolling dikerjakan dengan two wheel tandem atau three axle tandem sewaktu aspal concrete masih cukup panas untuk menghilangkan jejak dari rollers. Berat steel wheel rollers minimum 12 ton dan digilas sampai permukaan menunjukan texture yang uniform, rapat dan licin. Pada tempat - tempat yang tak dapat dilalui rollers, campuran aspal hotmix harus dipadatkan sepenuhnya dengan hand stampers.

Sampling Dan Testing

Kami sebagai kontraktor pelaksana akan melakukan semua sampling dan testing yang dianggap perlu guna menjamin tercapainva pengawasan yang teliti dari material dan campuran aspal hotmix. Bilamana kontraktor mengambil samples untuk testing, dia diharuskan mengambil duplikasi samples itu bila diperintahkan dan menyerahkannya kepada Konsultan Pengawas atau direksi tenis pekerjaan.

Samples tersebut dipak dengan baik dan ditandai dengan terang agar mudah dibandingkan dengan samples yang disimpan kontraktor. Melakukan sampling dan testing tiap material dan campuran aspal hotmix harus menurut A.S.T.M test dengan cara yang telah ditetapkan. Untuk tiap pengiriman aspal harus didapat surat pernyataan suppliernya.

Setiap lebih kurang 4 (empat) jam dalam mixing periodes, suatu sample dari agregat diambil dari tiap hot bin dan gradingnya ditentukan bersama combined grading. Combined grading ini diperiksa menurut grading "Job mix" yang ditetapkan. Tambahan sample dari bahan adukan mixed material diambil ditempat mixing setiap paling sedikit 4 (empat) jam dan sekurang-kurangnya 2 kali sehari untuk percobaan Marshall Speciment.

Grading analysis dari agregat dan bitument content determination (penentuan kadar bitumen) dilaksanakan pada material yang diambil dari sample yang sama. Hasil setiap analisa harus diberikan kepada Konsultan Pengawas atau direksi tenis pekerjaan dalam 4 (empat) jam sampling dalam setiap penyesuaian yang ternyata diperlukan harus dilaksanakan segera atas persetujuan Konsultan Pengawas atau dirksi tenis pekerjaan. Diijinkan untuk melanjutkan, membawa mixed materials dari plant setelah adanya adjustment dan pernyataan hasilnya diterima oleh Konsultan Pengawas atau dirksi tenis pekerjaan.

Pemeriksaan dan Pengujian Rutin

(12)

disyaratkan, semua biaya pembongkaran, pembuangan, penggantian bahan maupun perbaikan dan pengujian kembali menjadi beban Kontraktor.

Pengambilan Benda Uji Inti Lapisan Beraspal

Kami akan menyediakan mesin bor pengambil benda uji inti (core) yang mampu memotong benda uji inti berdiameter 4” maupun 6” pada lapisan beraspal yang telah selesai dikerjakan. Biaya ekstraksi benda uji inti untuk pengendalian proses, sudah termasuk ke dalam harga satuan Kontraktor untuk pelaksanaan perkerasan lapis beraspal dan tidak dibayar secara terpisah.

Pengujian Pengendalian Mutu Campuran Aspal

1) Kami akan selalu menyimpan catatan seluruh pengujian dan catatan tersebut dan diserahkan kepada Konsultan Pengawas tanpa keterlambatan.

2) Kami akan menyerahkan kepada Konsultan Pengawas hasil dan catatan pengujian berikut ini, yang dilaksanakan setiap hari produksi, beserta lokasi penghamparan yang sesuai :

a) Analisa ayakan (cara basah), paling sedikit dua contoh agregat dari setiap penampung panas.

b) Temperatur campuran saat pengambilan contoh di instalasi pencampur aspal (AMP) maupun di lokasi penghamparan (satu per jam).

c) Kepadatan Marshall Harian dengan detil dari semua benda uji yang diperiksa.

d) Kepadatan hasil pemadatan di lapangan dan persentase kepadatan lapangan relatif terhadap Kepadatan Campuran Kerja (Job Mix Density) untuk setiap benda uji inti (core).

e) Stabilitas, kelelehan, Marshall Quotient, paling sedikit dua contoh.

f) Kadar aspal dan gradasi agregat yang ditentukan dari hasil ekstraksi kadar aspal paling sedikit dua contoh. Bilamana cara ekstraksi sentrifugal digunakan maka koreksi abu harus dilaksanakan seperti yang disyaratkan SNI 03-3640-1994.

Pengendalian Kuantitas dengan Menimbang Campuran Aspal

Dalam pemeriksaan terhadap pengukuran kuantitas untuk pembayaran, campuran aspal yang dihampar harus selalu dipantau dengan tiket pengiriman campuran aspal dari rumah timbang sesuai dengan Spesifkasi teknis.

Mata pembayaran yang dibayarkan untuk pekerjaan ini dibayar dengan harga satuan meter kubik (M3) berdasarkan Berita Acara Hasil Pemeriksaan Lapangan.

7. Pekerjaan Bahu Jalan.

Lingkup pekerjaan bahu jalan dalam paket ini meliputi pengadaan peralatan, matrial dan pemadatan :

Bahan yang digunakan :

(13)

Cara Pelaksanaan :

Cara pelaksanaan pekerjaan bahu jalan adalah, bahwa material timbunan tanah di hampar selebar bahu jalan yang diinginkan berdasarkan ukuran yang tertera dalam gambar kontrak atau shop drawing yang telah disetujui Direksi pekerjaan. Kemiringan bahu jalan atau Shoulder dibentuk sedemikian rupa dengan kemiringan 3% dari permukaan aspal menuju sisi drainase jalan.

Bahu jalan dipadatkan dengan peralatan alat pemadat Vibrator roller hingga kepadatan maxsimum 100% dan minimum 98%.

Mata pembayaran yang dibayarkan untuk pekerjaan ini dibayar dengan harga satuan meter kubik (M3) berdasarkan Berita Acara Hasil Pemeriksaan Lapangan.

III. SERAH TERIMA PEKERJAAN :

Pada saat penyerahan pekerjaan yang pertama (PHO), langkah-langkah yang akan dilakukan adalah sebagai berikut :

- Kontraktor Pelaksana mengajukan permintaan kepada Pengguna Jasa untuk Penyerahan Pertama pekerjaan setelah pekerjaan selesai 100 %.

- Pengguna Jasa memerintahkan kepada Panitia penerima pekerjaan untuk melakukan Penilaian terhadap hasil pekerjaan selambat-lambatnya 7 hari setelah diterimanya surat permintaan dari Kontraktor Pelaksana

- Penilaian terhadap hasil pekerjaan oleh Panitia penerima pekerjaan

- Pembuatan Daftar kekurangan dan/atau cacat hasil pekerjaan oleh Panitia penerima pekerjaan

- Kontraktor Pelaksana & pengguna jasa mengadakan pemeriksaan pekerjaan secara bersama-sama berdasarkan check list pemeriksaan

- Kontraktor Pelaksana mengadakan perbaikan terhadap kekurangan-kekurangan pekerjaan sesuai check list pekerjaan

- Pemeriksaan kembali hasil penyelesaian/perbaikan oleh Panitia penerima pekerjaan

- Pembuatan Berita Acara Penyerahan Pertama Pekerjaan oleh Panitia Penerima Pekerjaan

- Penyerahan Pertama Pekerjaan oleh Kontraktor Pelaksana kepada Pengguna Jasa

- Penyerahan Jaminan Pemeliharaan oleh Kontraktor Pelaksana

- Pembayaran sebesar 100 % dari Nilai Kontrak oleh Pengguna Jasa

IV. PEMELIHARAAN :

Sedangkan pada saat masa pemeliharaan, langkah-langkah yang akan dilakukan adalah sebagai berikut :

- Kontraktor Pelaksana memelihara hasil pekerjaan selama masa pemeliharaan sehingga kondisi hasil pekerjaan tetap berada seperti pada saat Penyerahan Pertama pekerjaan dan berfungsi sebagaimana pada saat serah terima pertama.

(14)

- Pengguna Jasa memerintahkan kepada Panitia Penerima pekerjaan untuk melakukan pemeriksaan terhadap hasil pemeliharaan pekerjaan selambat-lambatnya 7 hari setelah diterimanya surat permintaan dari Kontraktor Pelaksana

- Panitia Penerima pekerjaan memeriksa hasil penyempurnaan dari checklist Penyerahan I,

- Pembuatan Daftar cacat hasil pemeliharaan pekerjaan oleh Panitia Penerima pekerjaan

- Perbaikan cacat hasil pemeliharaan pekerjaan oleh Panitia Penerima pekerjaan

- Pembuatan Berita Acara Penyerahan Akhir/Ke II pekerjaan oleh Panitia Penerima pekerjaan

- Penyerahan Akhir Pekerjaan oleh Kontraktor Pelaksana kepada Pengguna Jasa

- Pengembalian Jaminan Pemeliharaan dan jaminan Pelaksanaan oleh Pengguna Jasa kepada Kontraktor Pelaksana

- Pengguna Jasa mengambil alih lokasi dan hasil pekerjaan dalam waktu 7 hari setelah diterbitkannya Berita Acara Serah Terima Akhir pekerjaan.

V. PENUTUP :

Dalam pelaksanaan proyek ini kontraktor tetap memperhatikan aspek analisa mengenai dampak lingkungan (AMDAL) seperti yang disyaratkan dalam spesifkasi. Personil yang profesional akan ditempatkan untuk mengawasi mutu baik mutu pekerjaan, waktu dan biaya. Spesifkasi Teknis, gambar kerja yang disetujui Direksi dan dokumen kontrak merupakan acuan kontraktor dalam melaksanakan pekerjaan ini.

Uraian usulan metode pelaksanaan ini akan menjadi acuan bagi para personil kami dalam menyelesaikan pekerjaan di lapangan nantinya. Dengan melihat kondisi aktual lokasi pekerjaan, maka dimungkinkan metode ini nantinya akan disesuaikan kembali mengacu pada kondisi aktual tersebut untuk mendapatkan metode pelaksanaan pekerjaan yang lebih memenuhi standar biaya, mutu dan waktu sehingga dapat memberikan nilai lebih bagi Pemilik dan Kontraktor Pelaksana.

Medan, April 2013

CV. DAMAI INDAH

Gambar

Tabel 3.6.5 Gradasi Agregat AC dan ATB

Referensi

Dokumen terkait

Pekerjaan ini mencakup pengadaan, pengangkutan, penghamparan dan pemadatan tanah atau bahan berbutir yang disetujui untuk pembuatan timbunan, untuk penimbunan kembali

Tahap pertama adalah Galian Tanah pondasi untuk pasangan batu kali dengan dimensi sesuai shop drawing, pekerjaan galian dilakukan dengan tenaga mekanis,

Pada proyek ini mutu material penyusun beton telah memenuhi syarat Pada proyek ini mutu material penyusun beton telah memenuhi syarat namun pada fisik beton yang

Bila tanah dasar akan dibuat pada timbunan, material yang diletakkan lebih dari satu lapis pada bagian atas timbunan sampai kedalaman 30 cm di bawah elevasi tanah dasar harus

Timbunan yang diklasifikasikan sebagai timbunan biasa harus terdiri dari bahan galian tanah atau bahan galian batu yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan sebagai bahan yang

Apabila hasil galian yang cocok tidak mencukupi untuk penimbunan tanggul, kisdam, timbunan kembali pada bangunan dan pekerjaan timbunan lainnya yang ditunjuk dalam gambar atau

Cara pengerjaan : Setelah bahan tersedia kami akan mulai memotong besi sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan, pada setiap besi yang digunakan untuk tulangan memanjang dan melintang kami

Peralatan dan Material Bahan-bahan yang memenuhi syarat dari galian lapangan Bahan-bahan yang didatangkan dari luar lapangan yaitu jenis tanah yang berbutir kasar, tidak mengembangkan