BAB 3.
Implikasi Prinsip Falsifikasi Karl Raimund Popper bagi
Pembelajaran Berpolitik di Indonesia
Prinsip falsifikasi membentuk manusia rasional yang selalu berpikir logis, kritis, objektif, plural, dan evolutif. Salah satu perwujudannya adalah dialog kritis dan kritik yang rasional, yang sekaligus menjadi sarana konstruktif demi sebuah objektivitas dalam pertumbuhan dan kemajuan ilmiah. Popper menyebutnya sebagai rasionalisme kritis. Rasionalisme kritis yang menjadi dasar dari prinsip falsifikasi juga menyentuh bidang sosial-politis dan etis-moral. Rasionalisme kritis menjadi instrumen utama dalam pengembangan kehidupan sosial masyarakat. Rasionalisme kritis memberikan kejelasan arah tetapi juga standar-standar etis dan moral atas suatu tindakan politis. Rasionalisme kritis tidak memberikan harapan yang sia-sia dalam pengembangan kehidupan masyarakat.127 Dalam pada itu rasionalisme kritis nampak dalam cara kerja diskusi ilmiah dan saling mengkritik. Hal itu juga yang menjadi landasan dalam fungsi heuristik128 dari ilmu-ilmu.
Fungsi heuristik nampak dalam rasionalitas pengetahuan ilmiah dan pengetahuan non ilmiah. Hal itu diimplikasikan dalam kehidupan sosial-politis sebagai metode atau cara bersikap dan juga sebagai penyelesaian praktis terhadap setiap masalah. Cara bersikap dan penyelesaian terhadap masalah itu dilakukan
127 Bdk. Popper, Open Society and It’s Enemies: Vol. II The High Tide of Prophecy: Hegel and Marx and The Aftermath, hlm. 204.
dengan dialog kritis dan diskusi ilmiah. Dalam hubungannya dengan cara bersikap yang kritis dan dialogis, seorang ahli komunikasi politik Aubrey Fisher mengatakan “dramaturgi atau analogi organisasi komunikasi sangat bersifat heuristik yang kaya dengan ide-ide potensial, inovatif terutama sebagai sumber dan metodologi kritik.”129
Menurut Popper kepribadian manusia dan penalarannya berkembang bersama dengan fungsi bahasa deskriptif dan argumentatif, terutama dalam kapasitas untuk mengkritik.130 Kritik yang membentuk sikap kritis dan objektif dalam diri itu juga telah ditunjukkan dalam fungsi heuristik ilmu seperti dalam prinsip falsifikasi Popper. Fungsi heuristik dalam prinsip falsifikasi bertujuan untuk mengatasi kecenderungan metodologis Popper dalam ilmu pengetahuan sebagai variabel yang independen dalam perkembangan sosio-kultural.131
Menurut Popper, pendekatan ilmiah yang kritis dapat diaplikasikan pada pengetahuan pada umumnya maupun dalam kehidupan setiap organisme.132 Secara eksplisit pemikiran Popper memberikan warna tersendiri bagi sistem pemikiran global, terutama di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini memengaruhi cara pikir, cara merasa dan cara bertindak global yang cenderung rasional, ilmiah dan objektif serta empiris positif.
129 Aubrey Fisher, Teori-teori Komunikasi, terj. Jalaludin Rakhmat (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1978), hlm. 328.
130 Bdk. Taryadi, Epistemologi Pemecahan Masalah menurut Karl Raimund Popper, hlm. 102.
131 Bdk. Ignas Kleden, Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan (Jakarta: LP3ES, 1987), hlm. xxxiv.
Rasionalisme kritis sebagai instrumen pengembangan diri, moralitas dan kritik ini telah berkembang sejak zaman Popper. Rasionalisme kritis itu pernah digunakan oleh sayap kanan133 dalam Partai Sosial-Demokrat Jerman untuk melawan sayap
kiri.134 Dalam pada itu prinsip ini bisa diterapkan dalam kehidupan sosial-politis di Indonesia saat ini yang kental dengan pemaksaan kehendak demi kepentingan politis pribadi seperti yang pernah ditunjukkan oleh sayap kiri di Jerman itu yang dipimpin oleh Lenin dan Marx. Dalam penerapannya yang lebih khusus prinsip ini juga bisa menjadi solusi atas gaya berkomunikasi dan gaya bersikap orang Indonesia yang irasional dan kurang kritis. Dalam hal ini makin jelaslah perwujudan rasionalisme kritis dalam prinsip falsifikasi, yaitu sebagai instrumen dalam mewujudkan pemerintahan demokratis serta tatanan etika dan moral yang rasional dalam sistem maupun paktek politik di Indonesia.
3.1. Implikasi Sosial-Politis Prinsip Falsifikasi Karl Raimund Popper
Prinsip falsifikasi mengkondisikan terbentuknya open society (masyarakat terbuka.135 Rasionalisme kritis menjadi landasan bagi masyarakat terbuka. Dalam
133 Dalam istilah politik populer, sayap kiri mengacu kepada kelompok yang biasanya dihubungkan dengan aliran sosialis atau demokrasi sosial. Sedangkan sayap kanan atau Kelompok Kanan adalah istilah yang mengacu kepada segmen spektrum politik yang biasanya dihubungkan dengan konservatisme, liberalisme klasik, kelompok kanan agama, atau sekadar lawan dari politik sayap kiri. Dalam konteks tertentu, istilah sayap kanan juga bisa mencakup nasionalisme otoriter, namun hal itu biasanya lebih merupakan bagian dari ekstrem kanan. “Sayap Kiri”, diambil dari: http://id.wikipedia.org/wiki/Sayap_kiri dan “Sayap Kanan”, diambil dari: http://id.wikipedia.org/wiki/Sayap_kanan (26 Maret 2012).
134 Magnis-Suseno, Filsafat sebagai Ilmu Kritis, hlm. 17.
landasan itu pula karakteristik utama masyarakat terbuka adalah adanya kebebasan berpolitik (political freedom) dan berpendapat, pengakuan akan adanya kesetaraan (equality), dan penghormatan pada keberadaan manusia (humanitarianisme). Masyarakat terbuka menjamin kebebasan berpikir dan berekspresi, yang juga dibantu dengan adanya lembaga sosial-politis dan ilmiah, yang mau menjamin kebebasan itu. Dalam masyarakat terbuka diskusi ilmiah dan dialog kritis menjadi mekanisme kerja untuk menemukan kebenaran sejati dalam kehidupan sosial-politis. Dalam arti ini open society menjadi eksplisitasi komitmen dan konsistensi dari insan politik untuk mengejar kebenaran.136
George Sooros, salah seorang murid Popper, menambahkan bahwa open society adalah situasi di mana dari pihak politisi ada sikap hormat dan kepercayaan publik serta dari pihak masyarakat ada kepedulian akan kebenaran dan hukuman yang tegas kepada orang yang bersalah.137 Dalam hal ini diperlukan pembentukan karakter politik melalui pendidikan keilmuan yang demokratis, kebebasan berpendapat dalam ruang publik, serta pengakuan akan persamaan hak dan pluralitas identitas yang didukung oleh keadilan sosial dan kontrol sosial yang memadai. Menurut Popper kontrol sosial ini tetap harus dilakukan karena tidak ada kebenaran yang sempurna dalam rasionalitas manusia. Setiap orang perlu mengkritik dirinya sendiri dan setiap
sisi kemanusiaan yang fundamental. Dalam pada itu, gagasannya ini menjadi kritik sosial terhadap aliran-aliran pemikiran politik seperti totaliterisme, dogmatisme dan otoritarianisme. Karlina Supelli, “Masyarakat Terbuka: Catatan Kritis untuk Pesona Sebuah Konsep,” Prisma, Vol. 30, No. 1 (2011), hlm. 93.
136 Bdk. Popper, Open Society and It’s Enemies: Vol. II The High Tide of Prophecy: Hegel and Marx and The Aftermath, Chapter X Part I; George Sooros, The Age of Fallibility (New York: Public Affairs, 2006), hlm. 43.
orang wajib untuk saling mengkritik. Dalam konteks itu pendidikan demokratis untuk membentuk pribadi demokratis mendapatkan prioritas utama.138
3.1.1. Situasi Sosio Politis di Indonesia
Situasi sosio politis di Indonesia pascareformasi 1998 menunjukkan perubahan yang berarti. Reformasi 1998 menggaungkan demokrasi dan keterbukaan di hampir setiap lembaga negara: pendidikan, kesehatan, badan pengawasan, BUMN dan partai politik. Reformasi 1998 memang bertujuan untuk menghantam kemapanan orde baru, membongkar setiap ketertutupan, totaliterisme dan dogmatisme yang ada selama ini, menuju sebuah lembaga yang bersih, demokratis dan terbuka di masa depan.139
Prinsip falsifikasi mengkondisikan kita agar tidak bersikap menerima begitu saja realitas yang terjadi. Prinsip falsifikasi tetap bersikap kritis dengan mengajukan pertanyaan: Apakah reformasi 1998 telah benar-benar menghasilkan masyarakat terbuka yang rasional, dinamis, bebas, setara, dan humaniter di Indonesia? Apakah sikap dan tindakan politik yang ditunjukkan insan politik telah benar-benar rasional?
Jika dihubungkan dengan ide Popper kebebasan berpendapat di Indonesia pascareformasi 1998 bisa menjurus ke dua arah, yaitu kebebasan yang rasional dan yang irasional. Selain begitu banyak insan politik sadar bahwa perlu berargumen secara rasional, masih ada juga insan politik yang berargumen dan bertindak secara irasional. Hal tersebut ditunjukkan dengan keberpihakan pada kepentingan kelompok, kurangnya penghargaan terhadap pluralisme pendapat tapi juga komunikasi politik
138 Bdk. Kasdin Sitohang, “Pendidikan Multikultural untuk Masyarakat Terbuka,” Prisma, Vol. 30, No. 1 (2011), hlm. 97.
yang kadang-kadang berujung pada kekerasan dan pertumpahan darah. Kebebasan yang ditampilkan tidak dilakukan dengan bertanggungjawab sebaliknya dengan aksi demonstrasi yang anarkis demi kepentingan kelompok tertentu140 dan didanai oleh kelompok tertentu.141 Dalam hal ini juga kita dapat melihat bahwa masyarakat terbuka dalam konteks Indonesia perlu memiliki titik pandangan alternatif dalam menyelesaikan suatu permasalahan bersama sehingga tindakannya dapat diuji dan dipertanggungjawabkan secara rasional. Masyarakat Indonesia dimungkinkan untuk mengakui syarat-syarat yang dapat melepas dan mengubah pandangannya.
3.1.2. Kritik terhadap Proses Praksis Demokrasi di Indonesia
Praksis demokrasi di Indonesia mengalami perubahan dan kemajuan yang berarti sesudah reformasi 1998. Apabila pada masa orde baru, pemerintahan begitu otoriter dan berkuasa, pada zaman reformasi kebebasan dalam berbagai bidang mulai dihargai. Sebagai contoh kebebasan memilih dan berpendapat yang mendapat jaminan yang memadai dalam Undang-Undang Dasar 1945 X ayat 28A-28J tentang HAM.142
Namun demikian kebebasan ini tidak serentak melahirkan situasi yang benar-benar demokratis dalam dunia perpolitikan di Indonesia. Salah satu penyebabnya adalah sebagian besar penguasa adalah terdidik zaman orde baru yang bercorak dogmatis dan otoriter. Reformasi 1998 terkesan begitu cepat (revolusioner) sehingga tidak menyeluruh. Mereka yang menggantikan kekuasaan adalah mereka yang masih 140 Pierre-Joseph Proudhon, “Anarkisme” (5 Maret 2012), diambil dari http://indonesiaindonesia.com/f/107057-anarkisme/ (26 Maret 2012).
141 Sisca Tiur Gurning, “Manajemen Demo” (7 Juli 2008), dambil dari http://www.indosiar.com/ragam/manajemen-demo_74324.html (26 Maret 2012).
memegang status quo dan tidak berkontribusi apa-apa dalam perjuangan lahirnya reformasi. Dengan kata lain demokrasi sudah dijamin secara konstitutif tetapi dalam praksis kehidupan berpolitik demokrasi masih menjadi utopia.143
Dalam hal ini praksis demokrasi di Indonesia belum menampakkan indikasi masyarakat terbuka seperti yang dimaksudkan oleh Popper, di mana rasionalisme kritis yang terwujud dalam semangat liberal dan anti totaliterisme dijunjung tinggi sehingga ada "kemungkinan aturan hukum, keadilan yang sama, hak-hak fundamental, dan masyarakat yang bebas.”144 Perubahan atau reformasi sosial seharusnya dilangsungkan secara evolutif seperti yang dikembangkan oleh Popper dalam teori piecemeal social engineering. Popper sendiri memang lebih menyetujui konstruksi sosial politik yang bersifat evolutif, yaitu “piecemeal social engineering” dengan prinsip minimizing avoidable suffering145 sehingga tujuan yang mau dicapai
dalam konstruksi sosial tersebut tercapai secara menyeluruh.
3.1.3. Kritik terhadap Subjektivitas Orang Indonesia
143 Arrianie Lely, Komunikasi Politik: Politisi dan Pencitraan dan Panggung Politik, (Bandung; Widya Padjajaran, 2010), hlm. 24.
144 “…the possibility of a rule of law, of equal justice, of fundamental rights, and a free society”. Popper, Conjectures and Refutations: The Growth of Scientific Knowledge, hlm. 96.
Contoh yang bisa diambil untuk menunjukkan sikap subjektif orang Indonesia dalam berpolitik adalah seperti gaya berpolitik yang dipraktekkan Rieke Dyah Pitaloka dan Kastorius Sinaga. Rieke Dyah Pitaloka, anggota DPR dari Fraksi PDI-P, menanggapi kenaikan BBM dengan mengatakan, “Saya Rieke Dyah Pitaloka, sekedar mengingatkan delapan hari lagi adalah keputusan kenaikan BBM. Salah satu argumen SBY adalah untuk menyelamatkan APBN supaya tidak jebol.”146 Ia kemudian menguraikan data yang mendukung hal tersebut. Menurut Dyah data itu diambil dari Anggito Abimanyu. Lalu kemudian argumennya ini disangkal oleh Kastorius Sinaga, seorang anggota DPR dari Fraksi Demokrat yang mengatakan bahwa Rieke Dyah Pitaloka memberikan statemen dan informasi yang tidak benar. Ia mengatakan “Statemen Rike tidak didukung data sahih dan memutarbalikkan fakta yang dijadikan sumber rujukan”. Rieke yang mengaku mengkompilasikan data dari berbagai sumber, termasuk Anggito Abimanyu, ternyata disangkal oleh Abimanyu sendiri.147 Kebenaran faktual atau corroboration dari pernyataan kedua politisi sekaligus anggota legislatif ini memang masih menunggu waktu, tetapi setidaknya kita dapat melihat gambaran bagaimana masing-masing politisi berusaha memperjuangkan kepentingan pribadi dan kelompoknya, bahkan dengan data-data yang tidak valid. Hal seperti itu tidak dari ketegangan antara kedua politisi ini. Kedua politisi ini tidak bersikap rasional dan objektif dengan mengakui kemungkinan salah karena ingin membela kepentingan masing-masing kelompoknya.
146 Tentang data yang diuraikan dapat dilihat lebih jelas dalam situs tersebut. “BBM Naik, SBY Untung, Rakyat Buntung!” (25 Maret 2012), diambil dari: http://sensor-journalism.com/news/bbm-naik-sby-untung-rakyat-buntung/, 27 Maret 2012.
Mantan Presiden Indonesia, B. J. Habibie pernah mengatakan bahwa ia selalu mengharapkan kritik politik dari seorang ilmuwan. Ia menegaskan bahwa kritik dari seorang ilmuwan bersifat rasional dan objektif. Kritik seperti ini sangat diperlukan dalam kehidupan berpolitik di negara Indonesia, di mana banyak dari masyarakat kita yang cenderung memaksakan kehendak dan kepentingan sehingga menggunakan kekerasan sebagai cara untuk mengkritik dan berdialog secara politis.148 Kekerasan yang nampak bukan hanya dalam bentuk kekerasan fisik tetapi juga kekerasan psikologis untuk memaksakan kehendak dan kepentingan.
Situasi sosio-politis Indonesia saat ini menggambarkan kebebasan di satu pihak dan kekerasan di pihak lain. Para penguasa dan politikus menggunakan kekerasan dan aktivis membalasnya juga dengan bersikap yang sama. Kebebasan yang serentak menghasilkan kekerasan seperti itu tidak memiliki dan menghargai nilai-nilai moral dan etika.149 Dengan kata lain sikap ilmiah rasional belum sepenuhnya dimiliki dan dihayati oleh insan politik Indonesia.
Sikap seperti ini dikritik oleh Popper, ia mengatakan bahwa kekerasan adalah bentuk reduksi terhadap sifat rasional yang ada dalam diri manusia. Bagi Popper argumen dan kritik rasional seperti dalam prinsip falsifikasi adalah sarana yang paling efektif dalam menyampaikan pendapat politis. 150
3.1.4. Kritik terhadap Kebijakan Publik di Indonesia
148 Bdk. Agus Wahid (ed), A.M. Saefuddin: Dari Cendana ke Reformasi, (Jakarta: Ppa Consultans, 2011), hlm. vii.
149 Bdk. Armada Riyanto, Berfilsafat Politik, (Yogyakarta: Kanisius, 2011), hlm. 104.
Hingga saat ini telah diusahakan berbagai macam pendekatan analisis untuk melahirkan suatu kebijakan publik yang memadai tetapi dalam prosesnya kebijakan publik itu tidak dilaksanakan secara runtut dan berproses sehingga dengan gampang bisa terjadi kesalahan dan penyimpangan di sana sini. Dalam pada itu sangat jarang seorang politisi publik mengakui kesalahan dan kekurangannya dalam evaluasi atas kebijakan publiknya. Sangat jarang ada pemimpin yang mau membuat diskusi dengan masyarakat untuk bisa mendengar argumen yang rasional dari masyarakat sebelum mengambil suatu kebijakan publik tertentu.
Hal itu makin diperparah oleh pengambilan kebijakan publik yang kurang melibatkan partisipasi publik itu sendiri. Tidak hanya di pemerintah pusat, hal itu juga terjadi di daerah-daerah yang memiliki status otonomi. Tujuan otonomi daerah yang adalah meningkatkan partisipasi publik di daerah-daerah akhirnya tidak tercapai.151 Keadaan seperti itu bisa menjerumuskan bangsa ini ke dalam bahaya dogmatisme dan totaliterisme.
Popper sangat mengkritik hal ini yang biasanya disebut sebagai sebuah dogmatisme dan totaliterisme. Popper memang membayangkan kebijakan-kebijakan pemerintah seperti sebuah hipotesis layaknya teori-teori ilmiah. Jika dapat dibuktikan salah atau mengandung kelemahan, maka kebijakan itu akan diganti atau dimodifikasi. Oleh karena itu pembentukan masyarakat terbuka memerlukan diskusi kritis dan dialog ilmiah. Dalam hal ini Popper sangat mengkritik dogmatisme dan totaliterisme sebagai bahaya yang menghambat kemajuan suatu negara. Popper berpendapat bahwa pola pikir seperti itu menghilangkan evaluasi dan saling mengkritik yang memungkinkan suatu kebenaran dan kemajuan. Evaluasi dan saling
mengkritik diperlukan dalam sebuah masyarakat yang demokratis sehingga, baik pemerintah maupun rakyat bisa melihat alternatif-alternatif yang lebih tepat dalam pembangunan masyarakat yang lebih berwajah manusiawi. Dalam hal ini humanisme yang menjadi tujuan dari masyarakat terbuka dimungkinkan.
3.1.5. Kritik terhadap Komunikasi Politik di Indonesia
Kebebasan berpendapat yang dihasilkan oleh reformasi 1998 menghasilkan kebebasan yang rasional di satu sisi, tapi juga kebebasan yang irasional di pihak lain. Hal itu juga berlaku dalam komunikasi politik. Seorang ahli dan sekaligus peneliti politik di LIPI mengatakan, “Ada ketimpangan yang dimunculkan dalam proses penyampaian pesan dalam politik yang menimbulkan konflik sebagai sebuah unsur subjektif maupun tidak, ada kalanya semua dilakukan untuk memperlihatkan jati diri sebagai politisi dan kadangkala jati diri atas nama partainya.”152
Hal tersebut dapat kita lihat dalam ketegangan antara Fraksi PDIP dan Fraksi Demokrat seperti dalam kasus antara Rieke Dyah Pitaloka dan Kastorius Sinaga. Konsekuensi dari statemen yang irasional dan tidak valid tersebut salah satunya adalah para pendemo turun ke jalan-jalan dan melakukan aksi anarkis memprotes kebijakan pemerintah.
Gejala-gejala itu menampakkan kekerasan dalam komunikasi politik di Indonesia, yang sangat bersifat individual dan bukan institusional. Seorang yang memiliki pendidikan yang tinggi belum tentu memiliki kebenaran dalam mengkomunikasikan pesan-pesan politiknya.153
152 Lely, Komunikasi Politik: Politisi dan Pencitraan dan Panggung Politik, hlm. 275.
Contoh komunikasi politik seperti di atas disebut sebagai premanisme politik. Premanisme politik sudah melibatkan kekerasan fisik dan psikologis. Kekerasan itu nampak dalam bentuk bahasa verbal dan nonverbal. Premanisme politik disebabkan oleh perjuangan kepentingan pribadi dan partai yang dilatarbelakangi oleh ketidaktahuan akan aturan berpendapat dari politisi itu sendiri. Sikap seperti ini irasional sebab komunikasi politik di DPR dilakukan dengan metode diplomatik kritis dengan akal sehat bukan dengan kekerasan.154
Kekerasan fisik itu berupa baku hantam dan sikap anarkis. Sedangkan kekerasan psikologis berupa caci maki, pembunuhan karakter, KKN dan penyalahgunaan wewenang dan kekuasaan. Di Indonesia sekarang sangat mudah menemukan komunikasi dengan muatan kekerasan, terutama setelah reformasi, ada iklim baru, yaitu kebebasan, mereka punya peluang untuk mengekspresikan apa yang mereka pikirkan sehingga tidak ada lagi seleksi pesan. Pesan yang disampaikan kadang kala tidak jujur dan tidak valid seperti dalam contoh di atas.
Bagi Popper kekerasan fisik dan psikologis dalam komunikasi politik bukanlah ekspresi yang benar dari sebuah masyarakat terbuka. Hal itu tidak sesuai dengan nilai-nilai moral yang rasional. Mereka yang suka menggunakan kekerasan adalah orang-orang yang tidak memiliki tanggungjawab moral dalam tindakannya. Mereka yang cenderung menggunakan kekerasan demi kepentingan kelompok bukanlah orang yang bertanggungjawab secara moral dan rasional. Indikasi seperti itu bukanlah tujuan masyarakat terbuka (open society) yang digagas oleh Popper. 155
154 Bdk. Ibid., hlm. 155.
3.1.6.Kritik terhadap Kebebasan Pers di Indonesia
Akhir dari otoritarianisme orde baru tidak serta merta menyelesaikan masalah kebebasan pers dan keterbukaan arus informasi. Produk-produk hukum pro keterbukaan seperti UU No. 40/1999 dan UU Penyiaran No. 32/2002 membuat pers mendapat jaminan yang kuat dalam melaksanakan tugas pemberitaannya.156 Sedangkan bagi pihak pemerintah, UU No. 14/2008 berbicara tentang Keterbukaan Informasi Publik yang memungkinkan pemerintah Indonesia untuk berlaku secara lebih transparan, terutama di hadapan media dan pers.
Oleh karena itu seharusnya wartawan harus berani berpendapat secara rasional dan dapat dipertanggungjawabkan. Pers dan media memiliki fungsi evaluatif dan korektif terhadap berbagai kebijakan pemerintah. Namun demikian masalah muncul ketika kebebasan pers itu sering hanya menjadi kendaraan ekonomi dan politik bagi pemilik kepentingan untuk menjaga dan melindungi kepentingannya bahkan dijadikan mesin uang untuk kepentingan ekonomi dan politik pemiliknya.157 Beberapa stasiun televisi, seperti TVOne, yang pernah ditegur Komisi Penyiaran
156 Undang-Undang No. 40/1999 tentang Pers pasal 4 ayat 1 disebutkan bahwa kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara, ayat 2 bahwa terhadap pers nasional tidak dikenakan penyensoran, pembredelan atau pelarangan penyiaran, ayat ketiga bahwa untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional mempunyai hak mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi dan ayat keempat bahwa dalam mempertanggungjawabkan pemberitaan di depan hukum, wartawan mempunyai Hak Tolak bahkan dalam Undang-Undang Dasar Tahun 1945 disebutkan antara lain dalam pasal 28F bahwa setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia. Lely. Komunikasi Politik: Politisi dan Pencitraan dan Panggung Politik, hlm. 275.
Indonesia jelas mempraktikkan hal tersebut.158 Akhirnya apa yang diamanatkan oleh UU Penyiaran belum berhasil dilaksanakan oleh media di Indonesia.
Popper sangat mengkritik hal seperti di atas, bagi dia fungsi evaluatif dan korektif haruslah dilakukan secara rasional. Evaluasi dan koreksi yang dipengaruhi oleh kepentingan sekelompok orang dan penguasa adalah sebuah sikap intoleransi.
Popper memperingatkan, barang siapa membiarkan pelbagai bentuk intoleransi (unlimited tolerance) terus berlangsung berarti ia telah berlaku intoleran, menyuburkan intoleransi berarti menelikung demokrasi itu sendiri.159 Prinsip falsifikasi mengkondisikan kita untuk berpikir lebih refleksif dengan memperluas sasaran kritik kepada potensi-potensi lain seperti kepentingan kelompok dan penguasa yang berpotensi memunculkan masyarakat tertutup.
3.2.Implikasi Prinsip Falsifikasi bagi Pendidikan Berpolitik Orang Indonesia
Prinsip falsifikasi dapat digunakan untuk membangun gaya berpikir ilmiah. Prinsip falsifikasi sebagai unsur pembentuk keilmiahan dalam satu argumentasi dan sikap dapat diterapkan di Indonesia. Prinsip ini perlu dibentuk dalam diri kaum politisi sebagai penguasa politik, komunikator serta aktor politik dan juga masyarakat secara umum sebagai partisipan politik. Setidaknya komunikasi dan sikap politik yang rasional dan ilmiah dapat meminimalisir kekerasan dan keberpihakan pada kelompok dan kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Kita dapat melihat contohnya seperti yang terjadi pada kasus protes atas kenaikan BBM.
158 Yosal Iriantara, “Kebebasan Pers belum Membawa Kebaikan” (8 Februari 2012), diambil dari http://media.kompasiana.com/mainstream-media/2012/02/08/kebebasan-pers-belum-membawa-kebaikan/, (8 Maret 2012).
Prinsip falsifikasi didasarkan pada rasionalisme kritis, di mana Popper mengusulkan piecemeal social engineering sebagai suatu gaya konstruksi sosial. Piecemeal social engineering memungkinkan penguasa dan partisipan politiknya untuk selalu check and balance atas setiap komunikasi dan tindakan politiknya. Dalam pada itu penguasa dan partisipan politik dimungkinkan untuk belajar dari kesalahannya dalam metode trial and error.160 Pengalaman telah membuktikan bahwa pada era reformasi 1998,
“ketika kebebasan itu dibuka, muncul keberanian politik yang luar biasa tinggi karena dipersepsikan tidak ada lembaga yang dapat mengontrol dan memberikan sanksi, sehingga keberanian itu muncul dengan sangat terbuka, sangat telanjang dan inilah yang terjadi di mana-mana. Kebebasan yang tidak terkontrol dan irasional itu mengakibatkan adanya aksi-aksi anarkis dan kekerasan dalam setiap bentuk komunikasi politik. Kekerasan yang sangat mudah dilihat adalah kekerasan fisik, tetapi juga ada kekerasan dengan mengecam seseorang atau sekelompok orang dengan identitas tertentu dengan hal-hal yang dikategorikan dengan premanisme politik yang radikal dan fundamentalis.”161
3.2.1. Ruang Publik
Prinsip falsifikasi yang diterapkan dalam open society memerlukan ruang publik. Dalam ruang publik masyarakat bisa mengekspresikan diri lewat pemberian kritik dan masukan yang konstruktif kepada para pemimpin. Ruang publik berfungsi untuk menguji setiap kebijakan publik dan juga statement dan tindakan politik. Ruang publik menjamin kebebasan individu untuk mengemukakan pemikiran dan keyakinannya, dan memungkinkan kebebasan daya kritis dan kreativitas manusia. Popper memang mengandaikan adanya masyarakat yang sanggup memecahkan berbagai macam persoalan dengan rasio dan pengalaman dibandingkan emosi dan
160 Boyle, “Karl Popper’s Open Society: A Personal Appreciation”, The Philosophy of Karl Popper, hlm. 844.
hasrat serta bersedia mengakui bahwa setiap gagasan, pengetahuan dan keyakinan bisa salah.162
Di Indonesia, ruang publik seperti yang diharapkan Popper cukup sulit diterapkan. Ada masyarakat yang kurang memanfaatkan fungsi rasio dan tidak mempunyai kreativitas. Hal itu amat terlihat dalam kasus provokasi untuk melakukan demo. Rakyat yang miskin, bodoh, terpuruk dan tertinggal secara intelekual membuat masyarakat cenderung reaktif ketika diprovokasi.163 Dalam kasus seperti ini kreativitas dan rasionalitas masyarakat perlu dibangun dan ditingkatkan melalui pendidikan keilmuan yang memadai sehingga mereka mampu menelaah informasi secara kritis dan rasional serta berargumen secara rasional dan valid. Walaupun begitu Popper sendiri sangat menghargai argumen yang muncul dari masyarakat bawah (grassroots level). Popper memang tidak terlalu setuju dengan ungkapan klasik vox populi vox dei, tetapi ia sadar bahwa dalam ungkapan itu ada unsur kebijaksanaan yang tidak dimiliki oleh seorang pemimpin.164
3.2.2. Komunikasi Politik yang Rasional
Dalam prinsip falsifikasi Popper menunjukkan kriteria rasional dan ilmiah suatu argumen, yaitu kriterium falsifiabilitas, yang bisa terjadi jika ternyata argumen
162 Bdk. Popper. Open Society and It’s Enemies: Vol. II The High Tide of Prophecy: Hegel and Marx and The Aftermath, hlm. 248-249.
163 Desk Informasi, “Perlukah TNI membantu POLRI dalam Pengamanan dalam Negeri?” (12 Maret 2012), diambil dari http://setkab.go.id/index.php? pg=detailartikel&p=2299 (29 Maret 2012).
itu dapat dibuktikan salah. Dalam hal ini sikap kritis untuk menguji setiap argumen dan mengakui kemungkinan salah perlu dilakukan karena rasio manusia selalu terbatas.
Hal ini juga yang perlu kita bangun dalam proses komunikasi politik di Indonesia. Harus diakui bahwa para politikus di Indonesia tidak memiliki model komunikasi yang jelas dalam berpolitik. Para politikus di Indonesia kurang menggunakan mekanisme umpan balik yang rasional, proporsional dan demokratis.165 Menurut Popper sikap rasional dalam politik mampu mengatasi sikap irasionalisme. Sikap irasionalisme yang dimaksudkan oleh Popper dalam hal ini adalah membenarkan diskriminasi, kekerasan dan pembedaan berdasarkan kelas, suku, ras dan agama.166
Dalam hal ini sikap rasional membatasi pemutlakan ide. Sikap rasional memungkinkan adanya komunikasi yang jelas dan semakin mendekati kebenaran. Sikap rasional memungkinkan manusia untuk menganggap orang lain berhak untuk didengar dan mempertahankan argumennya.167 Dengan demikian sikap toleransi dan saling menghormati bisa terjadi dan menjauhkan manusia dari kekekerasan, serta membentuk karakter demokratis dalam diri.
Sebagai sebuah langkah konkrit itu kita perlu membangun sebuah sistem building democracy, yaitu aturan main yang transparan dan equal dalam komunikasi politik. “Kita berangkat dari pemahaman bahwa orang belajar dari pemahaman dan
165 Bdk. Lely, Komunikasi Politik: Politisi dan Pencitraan dan Panggung Politik, hlm 125.
166 Bdk. Popper. Open Society and It’s Enemies: Vol. II The High Tide of Prophecy: Hegel and Marx and The Aftermath, hlm 235-236.
pengalaman dia berpolitik, di sana ia belajar bagaimana mengungkapkan pendapat. Orang diajak untuk bisa mengerti etika berbangsa dan bernegara, bagimana orang bisa menyampaikan pendapat dengan benar dan tepat sasaran.”168 Dalam hal ini prinsip falsifikasi dapat diimplementasikan dalam building democracy di Indonesia yang dimulai melalui pendidikan keilmuan yang demokratis.
3.2.3. Proses Falsifikasi: Otokritik dan Kritik Publik
Partisipan politik di Indonesia pada umumnya melupakan otokritik internal di dalam tubuh suatu lembaga maupun organisasi tertentu dalam kebijakan politik. Hal itu dapat ditunjukkan dalam kekerasan komunikasi politik yang menunjukkan kelemahan masyarakat kita yang kurang rasional dan lebih suka memaksakan kehendak.
Dengan demikian kita dapat mengindikasikan bahwa persoalan pada masa reformasi ini adalah ketiadaan seleksi pesan dan belum ada regulasi media yang mampu untuk membuat komunikasi politik menjadi efektif. Fungsi evaluatif dari diri sendiri dan dari media belum berjalan dengan sebagaimana mestinya. Akibatnya kekerasan menjadi bagian penting dalam komunikasi politik. Kita juga dapat menemukan public figure yang tidak mampu memfalsifikasi statement politiknya sendiri. Oleh karena itu kita perlu menguji validitas atas argumentasi-argumentasi politik. Kita memerlukan ilmuwan yang memiliki keahlian dalam bidang komunikasi politik untuk melahirkan tulisan dan penelitian yang menjadi masukan tentang apa dan bagaimana komunikasi politik itu dilakukan.169 Prinsip falsifikasi memungkinkan
168 Ibid., hlm. 165.
adanya testabilitas atas setiap komunikasi yang dilakukan. Dalam hal ini prinsip falsifikasi dijadikan metode bagi setiap orang untuk menguji dan mengevaluasi dengan benar setiap perkataan dan tindakan politisnya.
3.2.4. Masyarakat Ilmiah
Masyarakat ilmiah adalah masyarakat yang menggunakan rasio sebagai instrumen utama dalam setiap tindakan. Masyarakat ilmiah menurut Popper adalah sebuah komunitas ilmiah yang kritis dan selalu berdialog untuk mengupayakan kebenaran. Komunitas ilmiah yang berorientasi pada kemampuan untuk terbuka pada setiap kritik dan kemungkinan salah dalam setiap argumen dan tindakan politiknya. Dalam pada itu masyarakat ilmiah ini didedikasikan bagi pertumbuhan dan tujuan humanisme. Dalam kerangka inilah pemikiran Popper dapat dimengerti bahwa prinsip falsifikasi dipandang terutama sebagai sebuah kritik dan metode rasional dalam ilmu tentang masalah kemasyarakatan, dan bagaimana kita dapat menetapkan sebuah prinsip kritik dalam kemajuan kehidupan sosial demokratis. 170
Masyarakat atau komunitas ilmiah ini dibentuk melalui pendidikan dan pendampingan keilmuan yang memadai. Pendidikanlah yang membentuk manusia yang terbuka, kritis, dan objektif. Hal itu akan mengantisipasi adanya sistem politik yang otokratis, dogmatis dan ekstrim-revolusioner.171 Dalam arti ini, sistem ini juga membentuk karakter orang Indonesia yang cenderung menyampaikan pendapat dan
170 Bdk. Boyle, Karl Popper’s Open Society: A Personal Appreciation dalam The Philosophy of Karl Popper, hlm. 843.
kritikan secara emotif afektif. Padahal pendapat dan kritikan memerlukan informasi yang rasional dan jelas, akurat serta objektif.172
Oleh karena itu insan politik di Indonesia perlu membangun sikap rasional dan objektif seperti yang dibangun Popper dalam prinsip falsifikasi. Prinsip falsifikasi memungkinkan seseorang untuk mengambil keputusan politis dengan memperhatikan dulu situasi yang terjadi dan memberikan alternatif yang tentatif atas permasalahan tersebut. Dalam hal ini para insan politik perlu memperhatikan dan meneladan sikap ilmuwan yang mampu memberikan alternatif-alternatif dalam pengambilan kebijakan publik dan keputusan politis. Dalam pada itu seorang ilmuwan hendaknya tetap berpegang pada empat asas, yaitu kebenaran, kejujuran, tidak ada kepentingan dan punya kekuatan argumentasi. Seorang ilmuwan juga hendaknya tetap berpegang teguh pada moralitas yang rasional sehingga pembangunan manusia seutuhnya melalui ilmu pengetahuan tidak menjadi utopia belaka.
3.2.5. Pendidikan Politik173
Peter Winch menegaskan bahwa ide Popper tentang open society menunjuk pada,
“Pendidikan, menjadi salah satu prinsip utama dengan cara di mana apa yang dianggap sebagai berharga dalam kehidupan masyarakat diawetkan, dikembangkan, dan diserahkan, tak pelak lagi adalah kekuatan sosial yang sangat kuat. Cara itu diadakan akan memiliki konsekuensi penting dalam sektor lain pada kehidupan sosial dan, pada gilirannya itu, akan mempengaruhi dengan kuat pergerakan wilayah sosial lainnya, - religius, industri, politik, militer.”174
172 Bdk. Ibid., hlm. 242.
173 Bdk. Benny Susetya, Pendidikan Politik Penguasa, (Yogyakarta: LKiS Pelangi, 2005), hlm. 2-36 dan 137-153.
Berangkat dari pemikiran itu pendidikan politik menjadi salah satu sarana dalam membentuk masyarakat politis yang ilmiah dan rasional. Popper menegaskan bahwa dalam pendidikan pembentukan karakter warga negara yang cerdas dilakukan. Permasalahan dalam sistem politik menjadi persoalan ilmiah yang dicarikan penyelesaiannya bersama-sama melalui diskusi kritis yang ilmiah dan rasional. Yang ilmiah dan rasional menurut Popper adalah yang dapat dibuktikan salah melalui prinsip falsifikasi.
Generasi muda Indonesia perlu dididik menjadi pribadi yang demokratis melalui sistem pendidikan. Generasi yang terbuka terhadap kritik dan mengakui perbedaan sebagai sebuah realitas eksistensial masyarakat. Maka kita perlu menemukan kondisi dan kurikulum yang dapat membentuk karakter demokratis dalam diri warga negara Indonesia. Kita perlu berpikir bagaimana kebijakan pendidikan mampu mengakomodasi kepentingan pemeliharaan nilai-nilai politik melalui proses pendidikan dengan kemampuan warga negara mengartikulasikan kepentingannya ke dalam kebijakan itu sendiri.175
Oleh karena itu harus ada yang menghubungkan sinergitas antara pendidikan politik dan pelatihan sikap demokratis partisipatoris. Hal itu dilaksanakan dengan cara melaksanakan pendidikan politik seumur hidup yang membangun masyarakat sipil yang aktif yang akan memungkinkan setiap orang untuk bertanggungjawab di masyarakat, dalam solidaritas sejati. Dengan kata lain pendidikan politik setiap warga
important ramifications in other sectors of social life and it, in it's turn, will be powerfully affected by the movements in other social fileds, - religious, industrial, political, military. Peter Winch, “Popper and Social Scientific Method” dalam The Philosophy of Karl Popper, hlm. 896.
negara harus terus menerus sepanjang hidupnya dan menjadi bagian dari kerangka dasar masyarakat sipil dan hidup yang demokratis.176
Jadi demokrasi harus dimulai dari sistem pendidikan yang dimulai sejak dini dan berlangsung terus sepanjang hidup. Sistem pendidikan yang demokratis sebenarnya telah berkembang sejak zaman orde baru. Hanya saja tidak berkembang karena terhalang oleh sistem yang ada. Sistem pendidikan orde baru yang begitu banyak dikuasai dan dimanipulasi oleh pemerintah. Maka jadinya sistem zaman itu hanya menekankan upaya pembentukan warga negara yang baik (good citizen). Pendidikan hanya sebatas transfer ilmu. Sistem itu tidak membentuk warga negara yang demokatis yang bertanggung jawab dan berpartisipasi aktif dalam kehidupan sistem politik negaranya. Hal itu terjadi karena sistem pendidikan direduksi hanya menjadi semata-mata menghapalkan nilai-nilai moral, bagaimana harus berbuat baik dan tidak berbuat buruk dalam arti afeksi moral secara formal. Padahal kita perlu mendidik dan mengkondisikan karakteristik demokratis dalam dirinya. Pendidikan dikondisikan agar membentuk karakter keilmuan dalam arti membentuk karakter berpikir kritis, objektif dan terbuka. Sehingga proses pendidikan keilmuan membentuk pendidikan moral. Berangkat dari ide falsifikasi, karakteristik pribadi yang demokratis adalah pribadi yang selalu sadar akan keterbatasan intelektualnya sehingga selalu terbuka terhadap segala kritik. Sikap dan cara berpikir kritis seperti itu akan menjauhkan ilmuwan dari gaya berpikir dogmatis dan totaliter. 177
176 Bdk. Jacques Delors, Learning: the Treasure Within, Report to UNESCO of The International Commission on Education for the Twenty-first Century (Paris: UNESCO, 1996), hlm. 63.
Di zaman reformasi pendidikan kewarganegaraan berorientasi pada: berpikir kritis, rasional, dan kreatif dalam menanggapi isu kewarganegaraan dan berpartisipasi secara cerdas dan bertanggungjawab, serta bertindak secara sadar dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.178 Budaya demokratis dalam pendidikan diberikan standar pada penerimaan terhadap pluralisme, kebebasan menyampaikan pendapat dan pers yang bebas tapi bertanggungjawab. Hal itu juga telah didukung oleh suasana reformasi yang memberi ruang kritis dan partisipasi otonom pada setiap warga Negara. Hanya saja semua ini memerlukan pendidik dan anak didik yang dengan inovatif dan kreatif mampu mengembangkan model pembelajaran demokrasi yang bebas indoktrinasi serta hegemoni tafsir pragmatis kekuasaan rezim. Melihat situasi ini nampaknya jalan menuju masyarakat terbuka semakin lebar.
3.3. Menuju Masyarakat Terbuka
Salah satu contoh masyarakat terbuka seperti yang digagas oleh Popper dapat kita temukan di Amerika Serikat. Oleh sebab itu dalam kunjungannya ke Indonesia Barrack Obama pernah menganjurkan,
Demokrasi lebih dari sekadar mengisi kotak suara dalam pemilihan. Perlu ada lembaga kuat untuk mengawasi kekuasaan - konsentrasi kekuasaan. Perlu ada pasar-pasar terbuka guna memungkinkan individu-individu untuk maju. Perlu ada pers bebas dan sistem keadilan yang independen untuk menghapus penyalahgunaan dan ekses, serta untuk menagih akuntabilitas. Perlu ada masyarakat yang terbuka dan warga negara yang aktif untuk menolak ketimpangan dan ketidakadilan.179
178 Bdk. Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas, Mata Pelajaran Kewarganegaraan (Citizenship) Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (Jakarta: Puskur Balitbang Depdiknas, 2001), hlm. 12.
Obama ingin mengatakan bahwa untuk membentuk masyarakat terbuka perlu ada lembaga pengawasan, pasar-pasar terbuka, kebebasan pers, sistem keadilan yang independen. Fungsinya adalah untuk menagih akuntabilitas dan mengawasi penyalahgunaan. Lebih dari itu semua perlu ada iklim demokratis, di mana setiap warga negara aktif untuk menolak ketimpangan dan ketidakadilan.
Bibit-bibit dari gambaran masyarakat terbuka seperti yang dimaksudkan Obama telah ada di Indonesia seperti misalnya Komisi Pemberantasan Korupsi sebagai sebuah lembaga yang menagih akuntabilitas keuangan di lembaga-lembaga negara, pasar bebas, undang-undang kebebasan pers, dan juga sistem keadilan yang independen dalam KUHP. Namun demikian realisasi pembentukan masyarakat terbuka di Indonesia belumlah cukup. Pembentukan masyarakat terbuka tidak hanya perbaikan institusi, penyusunan konstitusi, perbaikan kebijakan, pasar bebas dan penataan birokrasi. Gerakan menuju masyarakat terbuka di Indonesia memerlukan perubahan mekanisme kerja ilmiah rasional serta sudut pandang moral.180 Dengan kata lain kita perlu mengubah kebiasaan-kebiasaan sosial menyangkut pola pikir, pola rasa kita dalam menghadapi masalah-masalah serta cara mengambil keputusan dan cara bertindak kita.
Dalam konteks Indonesia yang bersifat plural sikap pertama yang perlu ditanamkan adalah karakteristik falsifiabilitas, bahwa tak seorang pun menganggap dirinya lebih benar dari siapapun dan tak sekelompok pun yang mengklaim diri
insist upon accountability. It takes open society and active citizens to reject inequality and injustice. Obama Speech University of Indonesia (10 November 2010), diambil dari obama -mamas.com/blog/?p=210 4, (8 Maret 2012).
sebagai yang paling berharga apalagi dengan alasan sebagai anggota kelompok mayoritas. Dengan demikian perbedaan gagasan dan keyakinan menjadi hal yang lumrah dalam kehidupan bersama.181
Sikap kedua yang perlu dikembangkan adalah sikap ilmiah yang benar. Sikap seperti itu dibentuk dalam kegiatan intelektual, keterlibatan intelektual dan keaktifan intelektual. Dengan demikian akan tercipta kompetisi atau persaingan politik dalam diskusi rasional ilmiah tanpa kekerasan fisik, di mana kebebasan berpendapat dihormati. Hal itu secara tidak langsung mulai mengikis diskriminasi rasial. Akhirnya harus diakui bahwa permujudan gagasan masyarakat terbuka memang memerlukan jalan pendidikan, di mana ada argumentasi rasional, kebebasan berpikir, pengakuan dan penghormatan diri serta kesejahteraan ekonomi dan keadilan sosial.182
3.3.1. Peran Ilmuwan
Popper pernah menegaskan bahwa, sikap yang benar-benar ilmiah terhadap masalah perang dan perdamaian adalah kita harus terlebih dahulu mempelajari
penyebab perang.183 Penegasan ini menunjuk pada penelitian ilmiah yang secara
tipikal memang bertolak dari efek kepada penyebab. Efek menimbulkan problem dan ekspilicandum. Ilmuwan mencoba memecahkannya dengan mengajukan teori-teori. Bentrokan-bentrokan teori ini yang akhirnya menuntun para ilmuwan mendekati
181 Supelli, “Masyarakat Terbuka: Catatan Kritis untuk Pesona Sebuah Konsep,” Prisma, Vol. 30, No. 1 (2011), hlm. 13-14.
182 Bdk. Ilkka Niiniluoto, “The Open Society and Its New Enemies: Critical Reflections on Democracy and Market Economy,” diambil dari: http://www.tampereclub.org/e-publications/vol2_niiniluoto.pdf, (11 Januari 2012).
kebenaran. Popper memang selalu memandang diskusi dan dialog, saling mengkritik sebagai suatu proses kerja ilmiah yang juga dapat diterapkan dalam kehidupan sosial politik.184 Usaha manusia untuk memperbaiki hidupnya memang selalu dapat didiskusikan secara objektif. Dengan objektifitas insan politik dimungkinkan untuk mengambil suatu tindakan politis, dan bagi para penguasa dapat membuat kebijakan publik yang tepat sasaran dan tidak terpengaruh oleh kepentingan individu dan sekelompok orang.
Asosiasi Parlemen Indonesia menegaskan agar para dewan parlemen mengorientasikan kinerjanya bagi ekspektasi rakyat. Anggota parlemen perlu menanamkan dalam diri kesadaran untuk mengakui kemungkinan salah atas segala kebijakan yang dia ambil. Dalam hal ini perlu ada diskusi dan kritik rasional dalam pengambilan kebijakan publik. Dan demi objektivitas, maka dalam bidang-bidang tertentu parlemen haruslah melibatkan peneliti (ilmuwan) yang handal dalam bidangnya, karena anggota dewan bukanlah orang yang serba tahu, yang menguasai seluruh pemikiran rakyat, pemerintahan dan kenegaraan.185
Dalam hal ini prinsip falsifikasi sebagai sebuah kriteria keilmiahan dapat membentuk karakter demokratis dalam diri para ilmuwan. Prinsip falsifikasi melahirkan sikap ragu terhadap suatu kebenaran sampai kebenaran itu terbukti dengan suatu prosedur tertentu. Prinsip falsifikasi menjauhkan seorang intelektual dan ilmuwan dari sikap membenarkan setiap tindakan politik golongan tertentu saja,
184 Bdk. Taryadi, Epistemologi Pemecahan Masalah menurut Karl Raimund Popper, hlm. 82.
apalagi tanpa landasan rasional.186 Seorang ilmuwan memiliki tanggungjawab moral yang dijabarkan dalam asas kebenaran, kejujuran, tanpa kepentingan, punya argumentasi kuat, rasional, objektif, kritis, terbuka dan netral.
Setiap insan politik, khususnya para ilmuwan perlu memandang ilmu sebagai alat efektif alamiah yang menunjang tumbuhnya demokrasi. Ilmu menunjang pembinaan karakter bangsa secara lebih positif. Dalam hal ini prinsip falsifikasi sebagai salah satu cara untuk menemukan kebenaran dalam ilmu pengetahuan membantu kita untuk terbebas dari ikatan primordial dan menemukan itikad politis yang benar, dalam arti tidak terikat dengan satu golongan tertentu.
Akhirnya prinsip falsifikasi juga membantu seorang ilmuwan dalam menggunakan fungsi argumentatif bahasa. Kejelasan alur pikiran dalam argumentasi keilmuan merupakan dasar bagi suatu argumentasi itu sendiri. Prinsip falsifikasi membantu pengembangan moralitas karena metodologi ilmiah mampu memadukan fungsi rasional dan praktis manusia yang teruji secara teoretis maupun secara praktis dalam pengalaman hidup sehari-hari.
Dengan demikian kita dapat menemukan gambaran tentang peran ilmuwan dalam membentuk masyarakat terbuka, yaitu sebagai penjamin kriteria ilmiah, teristimewa objektifitas, suatu kebijakan tertentu. Hal itu dimungkinkan oleh adanya penelitian dan juga diskusi kritis dari para ilmuwan sendiri. Objektifitas suatu kebijakan menjamin adanya demokrasi dan kesetaraan di mana kebijakan tidak dibuat. berdasarkan kepentingan sekelompok orang tertentu saja.
3.3.2. Sistem Politik yang Etis dan Dialogis
Sistem politik yang etis dan dialogis adalah sistem politik yang komunikatif, politik yang selalu terbuka pada dialog dan kemungkinan baru untuk dibuktikan salah. Sistem politik yang etis dan dialogis adalah lawan dari sistem politik yang dogmatis dan totaliter. Namun demikian sistem politik yang etis dan dialogis memerlukan landasan rasional sehingga tidak kehilangan tujuan dan arah dari sistem itu sendiri sebagai sebuah proses humanisasi.187
Sebagai sebuah kritik terhadap sistem politik yang dogmatis dan totaliter, masyarakat Indonesia perlu belajar untuk bersikap mau menerima kritik. Kritik hendaknya dipandang sebagai sebuah mekanisme kerja dalam pengambilan tindakan politis serta kebijakan publik dan juga dalam menyelesaikan masalah-masalah bersama. Hanya dengan adanya kritik rasional dalam iklim keterbukaan maka akan terjadi komunikasi yang demokratis, yang akan menjamin berkembangnya ilmu dan teknologi serta pembangunan. “… jika di antara kaum ilmuwan dan kaum politisi terjadi komunikasi yang sehat serta konstruktif dalam keterbukaan maka akan muncullah sistem politik yang etis dan dialogis. Oleh karena itu entah di kalangan politisi dan birokrasi keterbukaan yang berdasarkan etika dan metodologi ilmu sangat diperlukan.”188 Hal ini bisa terjadi jika masing-masing orang mau belajar menerima kritik sebagai sarana konstruktif yang dilandasi dengan kesadaran bahwa semua orang memiliki kemampuan nalar yang terbatas serta memiliki hak yang sama dalam menyuarakan pendapat.
187 Bdk. Popper, Open Society and It’s Enemies: Vol. I The Spell of Plato, hlm. 88.
Dengan cara tersebut kita dapat mereformasi etika dan moralitas politik di Indonesia. Tentang hubungan rasionalisme kritis dan etika dan moral, Popper mengatakan,
Keputusan mendasar saya bukan (seperti yang anda duga) keputusan sentimental untuk menolong mereka yang tertindas, tetapi status ilmiah dan keputusan rasional tidak akan memberikan pertentangan yang sia-sia dalam perkembangan masyarakat ... saya mengadopsi fakta-fakta dari periode yang akan datang sebagai standar moralitas saya. Dan dengan cara ini, saya hendak mengungkap kejelasan parakdoks bahwa dunia yang lebih layak akan datang tanpa harus direncanakan dengan alasan tertentu; sesuai dengan standar moral saya yang sekarang diadopsi, masa depan dunia harus lebih baik, dan karena itu adalah rasional.189
Dari argumen itu dapat disimpulkan bahwa menurut Popper moralitas membutuhkan status ilmiah dan keputusan rasional agar perkembangan masyarakat tidak sia-sia.190 Dan menurut Popper status ilmiah dan keputusan rasional selalu didapat dengan pengakuan bahwa ada kemungkinan salah dalam setiap argumen dan tindakan politis sehingga membutuhkan pengujian-pengujian melalui diskusi rasional.
Dalam konteks Indonesia penerapan sistem politik yang sedemikian memerlukan kesadaran berpolitik dan sistem pendidikan yang rasional. Sistem pendidikan yang meningkatkan karakteristik moral keilmuan dari masing-masing pribadi `melalui pengembangan objektivitas dan daya kritis rasio. Dalam hal ini prinsip falsifikasi diperlukan untuk menjauhkan diri dari kebenaran yang kadang
189 My fundamental decision is not (as you suspected) the sentimental decision to help the oppressed, but the scientific and rational decision not to offer vain resistance to the development law of society … I adopt the facts of the comping period as the standards of my morality. And in this way, I solve the apparent products that a more reasonable world will come without being planned by reason; for according to my moral standards now adopted, the future of the world must be better, and therefore more reasonable. Popper, Open Society and It’s Enemies: Vol. II The High Tide of Prophecy: Hegel and Marx and The Aftermath, hlm 204.
hanya dihubungkan dengan konsensus dan kepentingan belaka dari sekelompok orang.
3.3.3. Model Pendidikan Politik: Pembelajaran Berdemokrasi
Demokrasi dalam paham sosial masyarakat dimengerti secara sederhana sebagai sebuah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Dengan kata lain rakyat menjadi pemegang kedaulatan. Namun pemahaman ini perlu dilengkapi. Demokrasi memiliki tiga aturan dasar, yaitu rakyat bebas untuk bergabung dengan kelompok mana saja, kebebesan untuk menentukan pilihan pribadi, dan aturan yang mengatur hubungan antara kedua hal di atas. Tujuan dari demokrasi adalah kesejahteraan bersama (bonum commune) dan nilai-nilai kemanusiaan dan kesetaraan sebagai kodrat utama semua aktivitas berpolitik dijunjung tinggi.191
Realitas demokrasi di Indonesia menurut Karlina Supelli adalah “kondisi kita (Indonesia) adalah kondisi ultraliberal atomis dan atomistik yang sesekali ditabrak oleh kekuatan-kekuatan tribal sektarian dalam bentuk sektarianisme agama, etnis, dan sebagainya.”192 Hal itu bisa nampak dalam isu SARA dan juga konflik antarpartai demi kekuasaan dan kedudukan masing-masing. Isu SARA yang paling ekstrim terjadi dalam kerusuhan-kerusuhan seperti yang terjadi di Kupang, Ambon dan Poso. Di sana manusia memandang manusia lain sebagai musuh yang harus dimusnahkan. Manusia kehilangan penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Penekanan pada
191 Jean Baechler, Demokrasi: Sebuah Tinjauan Analitis (Yogyakarta: Kanisius, 2001), hlm 95-99.
diferensiasi menurut SARA mengembangkan diri manusia pada persaingan dan permusuhan menurut kategori-kategori distingtif. Konflik dengan begitu gampang terjadi karena daya rasional yang tidak mumpuni yang mengakibatkan ada individu atau ada golongan tertentu yang menganggap diri lebih benar daripada yang lain. Hal itu juga berpengaruh dalam pola pikir dalam menanggapi isu yang tidak benar seperti itu. Secara sederhana Popper selalu menegaskan bahwa “semua pengetahuan bisa salah.” Dalam arti itu orang selalu meragukan dan menguji segala sesuatu. Konflik tidak dengan gampang terjadi kalau orang secara rasional menanggapi semua isu kekelompokkan dengan merasa diri bisa salah dan berusaha berdialog demi mencari dan menemukan kebenaran bersama-sama.
Tribalianisme politik sektarian juga terjadi dalam partai-partai politik. Masing-masing partai politik berusaha memperjuangkan kepentingan partainya dan melupakan tujuan utama berpolitik, yaitu kesejahteraan bersama. Bahkan di dalam partai-partai ada juga konflik internal partai. Partai-partai tidak lagi memperjuangkan proses pengkaderisasian yang baik, sebaliknya berusaha membuat figur politik. Hal itu dapat kita lihat dalam konflik antara Marzuki Alie, Mubarok dan Ruhut Sitompul.193
Kesimpulan Karlina Supelli tersebut memang tepat. Berangkat dari realitas ini apakah gagasan masyarakat terbuka Popper bisa diterapkan di Indonesia? Persoalan utamanya mungkin bukan bisa atau tidak bisa diterapkan dalam pengertian hitam putih, tetapi yang terpenting adalah bagaimana caranya. Salah satu cara yang
dapat digunakan dari elaborasi ide-ide Popper adalah membentuk karakter demokratis melalui pembelajaran berpolitik yang demokratis.
Karakter pribadi demokratis menurut Popper adalah pertama pribadi yang memiliki kesadaran rasional dan memiliki karakter falsifiabilitas. Falsifiabilitas yang dimaksudkan di sini adalah karakter yang rendah hati dan menerima kemungkinan salah dalam setiap argumen dan tindakan politisnya. Dengan demikian ia selalu berdiskusi untuk menguji setiap tindakannya. Argumen dan tindakan yang teruji benar dan sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan itulah yang selalu dianggap benar. Walaupun selalu ada keyakinan bahwa kebenaran itu pun masih bersifat tentatif. kriteria ini pula menjauhkan manusia dari eksklusivitas dan kepicikan berpikir.
Kedua, pribadi yang egaliter. Pribadi yang menghargai adanya persamaan hak setiap orang dan mengakui bahwa setiap individu memiliki kesempatan yang sama dalam merealisasikan gagasan dan keyakinannya dalam ruang publik.
Ketiga, pribadi yang pluralis, yang dengan tulus mengakui dan menerima perbedaan dalam setiap masyarakat. Keberagaman dipandang sebagai sebuah kemutlakan dan berusaha untuk membuat perbedaan lebih bermakna dalam pluralitas.
Jika ketiga karakter demokratis sudah terbentuk dalam kepribadian orang-orang Indonesia, maka yang masih harus dipupuk adalah rasa kepemilikan atau solidaritas terhadap cita-cita bersama. Kebersamaan tidak harus selalu identik dengan kolektivisme yang dikritik Popper sebagai ciri masyarakat tertutup. Kebersamaan adalah kesamaan gerak menuju cita-cita bersama sebagai sebuah kolektivitas politik sebagaimana tertuang dalam konstitusi.
suffering. Prinsip seperti itu dapat diterapkan dalam model pembelajaran demokrasi yang dimulai sejak dini. Pembelajaran demokrasi dilakukan mulai dari keluarga, tetapi terutama melalui pembentukan karakter keilmuan dalam pendidikan. Pembelajaran demokrasi yang menumbuhkan kesetiaan merawat cita-cita bersama karena bangsa Indonesia adalah proyek politik yang belum dan tidak akan pernah selesai, sambil tetap membuka ruang kemungkinan untuk koreksi, sehingga bisa terus menerus difalsifikasi.
Y. B. Mangunwijaya pernah menegaskan bahwa demokrasi hanya dapat datang dari bangsa yang terbiasa berpikir rasional dengan emosi yang wajar dan lazim dikendalikan oleh otak.194 Demokrasi dapat dicapai jika orang Indonesia, khususnya generasi muda melatih kapasitas rasionalitas agar mampu menghadapi ketidakberdayaannya terhadap dirinya sendiri. Ketidakberdayaan yang nampak dalam emosi yang tidak stabil sehingga begitu mudah diprovokasi dan hasrat untuk mememperjuangkan kepentingan pribadi atau kelompok secara berlebihan. Popper mengatakan bahwa musuh terbuka dari masyarakat terbuka adalah ketidakberdayaan terhadap irasionalitas diri kita (the enemy is himself).
Oleh karena itu pendidikan ilmu pengetahuan hendaknya tidak lagi dilihat sebagai transfer ilmu semata, tetapi dilihat sebagai aktivitas manusia. Pendidikan menjadi sebuah proses pembentukan karakter manusia. Di dalamnya ada usaha pengembangan yang sedemikian rupa sehingga relevan dan bermakna secara moral dan sosial dalam pengembangan karakteristik rasional dan demokratis bagi generasi muda Indonesia. Dalam pada itu LIPI meminta kita untuk memasyarakatkan ilmu
dengan mengajarkan dan mengamalkan ilmu itu. Konsekuensinya pendidikan politik harus dimulai dari sistem penyelenggaraan pendidikan formal dan informal. Kondisi dimana orang tua sebagai pendidik informal, dan guru sebagai pendidik formal, mengkondisikan anak didiknya untuk bersikap rasional dan demokratis.195
3.4. Kesimpulan
Prinsip falsifikasi adalah sebuah sikap rasional dan kritis yang memiliki fungsi heuristik dalam kehidupan sosial politik, yaitu sebagai metode atau cara bersikap kritis dengan kritik sebagai metode yang utama. Dengan kritik yang ilmiah dan rasional maka konstruksi kehidupan sosial-politis akan mencapai kebenaran yang objektif. Prinsip falsifikasi selalu bertitik tolak dari keyakinan bahwa rasio dan penalaran selalu terbatas dan semua pengetahuan bisa dibuktikan salah. Oleh karena itu dibutuhkan diskusi dan dialog kritis. Dalam sifatnya yang objektif ini pula prinsip falsifikasi dapat mengatasi kecenderungan orang Indonesia yang subjektif dan irasional.
Dalam hal itu prinsip falsifikasi akan mengkondisikan terciptanya masyarakat terbuka yang terbuka, rasional, dan dinamis, dimana kebebasan berpendapat dihargai dan perwujudan etika dan moral secara rasional dimungkinkan. Hal ini dapat diaplikasikan dalam situasi sosio-politis negara Indonesia pascareformasi 1998. Reformasi 1998 menggaungkan kebebasan, hanya saja ada insan politik yang menanggapinya secara rasional tetapi ada juga yang menanggapinya secara irasional. Dalam pada itu penulis mengkritik beberapa hal, yaitu praksis demokrasi,
subjektivitas orang Indonesia, kebijakan publik, komunikasi politik, dan kebebasan pers.
Belajar dari kekurangan itu prinsip falsifikasi menjadi suatu sikap yang rasional ilmiah dalam meminimalisir sikap yang irasional yang muncul terutama dalam keberpihakan pada kelompok tertentu dan komunikasi politik dengan cara kekerasan. Oleh karena itu implikasi dari prinsip falsifikasi Popper dapat terwujud melalui terciptanya ruang publik, komunikasi politik yang rasional, otokritik dan kritik publik, masyarakat yang rasional dan pendidikan politik yang baik. Intinya prinsip falsifikasi memungkinkan terciptanya manusia yang dapat berpikir rasional dengan suatu metode dialog kritis. Prinsip falsifikasi yang rasional dan terbuka menjauhkan orang dari gaya berpikir yang dogmatis dan totaliter.