SEMESTER 3
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES
GORONTALO
PENYULIT DAN KOMPLIKASI
MODUL PEMBELAJARAN ASKEB KEBIDANAN KEHAMILAN PENYULIT DAN KOMPLIKASI KEHAMILAN2
DAFTAR ISI
MODUL PEMBELAJARAN ASKEB KEBIDANAN KEHAMILAN PENYULIT DAN KOMPLIKASI KEHAMILAN3
────────────────────────
Salah satu capaian pembelajaran pada Program Studi Diploma III Kebidanan adalah mewujudkan kompetensi bidan sebagai Care Provider (pemberi asuhan kebidanan pada ibu hamil), yaitu kemampuan memberikan asuhan kebidanan pada ibu hamil dalam kondisi normal maupun kemampuan mendeteksi kehamilan sesuai dengan kewenangan secara profesional (efektif, aman dan holistik serta bermutu tinggi) berdasarkan kode etik, standar praktek profesi, standar asuhan kebidanan, mampu memberikan pertolongan pertama kegawatdaruratan obstetrik, mampu beradaptasi dengan berbagai situasi dan serta mampu mendokumentasikan asuhan kebidanan pada ibu hamil secara tepat.
Setelah mempelajari modul ini diharapkan mahasiswa dapat memahami penyulit dan komplikasi kehamilan lanjut. Secara khusus mahasiswa diharapkan dapat : mengidentifikasi penyulit dan komplikasi kehamilan lanjut. Untuk mencapai kompotensi tersebut pokok-pokok materi tanda-tanda bahaya pada kehamilan lanjut yang merupakan komplikasi dan penyulit pada kehamilan lanjut yang harus pelajari yaitu : (1). Perdarahan pervaginam (2). Sakit kepala yang hebat (3). Penglihatan kabur (4). Bengkak di wajah dan tangann (5). Keluar cairan pervaginam (6). Gerakan janin tidak dirasakan (7). Nyeri perut yang hebat.
Modul ini memberikan arah dan petunjuk belajar bagi mahasiswa dalam memahami penyulit dan komplikasi kehamilan lanjut. Modul ini dikemas dalam tiga kegiatan belajar, yang disusun dengan urutan sebagai berikut :
1. Kegiatan belajar 1 : Perdarahan Pervaginam Pada Kehamilan Lanjut dan Pengeluaran Cairan Pervaginam.
2. Kegiatan belajar 2 : Preeklampsia dan Eklampsia
3. Kegiatan belajar 3 : Gerakan Janin Tidak Dirasakan dan Gawat Janin.
MODUL PEMBELAJARAN ASKEB KEBIDANAN KEHAMILAN PENYULIT DAN KOMPLIKASI KEHAMILAN4
Diharapkan Setelah mempelajari modul ini mahasiswa akan dapat :
1. Menjelaskan pengertian, diagnosis jenis dan penanganan perdarahan kehamilan lanjut dan pengeluaran cairan pervaginam.
2. Menjelaskan pengertian, diagnosis, jenis dan penanganan sakit kepala yang hebat, penglihatan kabur, dan bengkak diwajah serta tangan.
3. Menjelaskan pengertian, diagnosis, jenin dan penanganan gerakan janin tidak dirasakan dan nyeri perut yang hebat.
Capaian pembelajaran pada modul ini akan sangat mendukung dalam pencapaian profil kompotensi Bidan dalam mendeteksi dan melakukan penatalaksanaan penyulit dan komplikasi kehamilan lanjut, dalam lingkup tugas memberikan asuhan kehamilan baik pada tatanan pelayanan primer, sekunder maupun tertier, dalam lingkup kewenangan bidan melaksanakan asuhan secara mandiri, kolaborasi maupun rujukan. Pemahaman penyulit dan komplikasi kehamilan lanjut mutlak diperlukan oleh seorang bidan dalam menjalankan perannya dalam memberikan asuhan kebidanan pada ibu hamil, sehingga menurunkan morbiditas dan mortalitas ibu.
Proses pembelajaran untuk materi penyulit dan kompliikasi kehamilan lanjut dapat berlangsung lancar, efektif dan efisien, apabila mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :
1. Pahami dulu mengenai konsep kehamilan secara menyeluruh, rung lingkup fisiologis kehamilan, dan perubahan sestem tubuh selama hamil.
2. Lakukan kajian terhadap klinis kebidanan dan evidence based praktik kehamilan.
3. Lakukan kajian dan identifikasi sumber atau bahan belajar yang terkait dengan kegiatan belajar yang sedang dipelajari.
4. Pelajari secara keseluruhan kegiatan belajar 1, 2 dan 3 dan lakukan latihan pada setiap akhir kegiatan belajar atau kerjakan test formatif yang ada pada setiap akhir kegiatan belajar.
MODUL PEMBELAJARAN ASKEB KEBIDANAN KEHAMILAN PENYULIT DAN KOMPLIKASI KEHAMILAN5
6. Kerjakan latihan-latihan / tugas-tugas tentang materi yang dibahas
7. Buat ringkasan dari materi yang dibahas untuk memudahkan Anda mengingat
8. Kerjakan evaluasi proses pembelajaran untuk setiap materi yang dibahas 9. Keberhasilan proses pembelajaran Anda dalam Modul Penyulit Dan
Komplikasi Kehamilan Lanjut sangat tergantung pada kesungguhan Anda dalam mengerjakan latihan. Untuk itu berlatih secara mandiri atau berkelompok dengan teman sejawat.
10.Bila Anda menemui kesulitan, silahkan hubungi dosen pembimbing atau fasilitator yang mengajar mata kuliah Asuhan Kebidanan Kehamilan.
Selamat belajar, semoga sukses memahami pengetahuan serta konseptual, analitik, dan terapan yang diuraikan pada modul ini untuk menjadi bekal memahami asuhan kebidanan kehamilan secara menyeluruh dan kompherensif.
MODUL PEMBELAJARAN ASKEB KEBIDANAN KEHAMILAN PENYULIT DAN KOMPLIKASI KEHAMILAN6
PERDARAHAN PERVAGINAM DAN
PENGELUARAN CAIRAN PERVAGINAM
Setelah mengikuti perkuliahan ini mahasiswa mampu mengenali dan mendeteksi penyulit dan komplikasi perdarahan kehamilan lanjut dan pengeluaran cairaan pervaginam.
Secara spesifik mahasiswa mampu memahami dan menguasai mengenai hal – hal sebagai berikut:
1. Pengertian dasar dan jenis perdarahan pervaginam dan pengeluaran cairan pervaginam pada kehamilan lanjut.
2. Tanda dan gejala perdarahan pervaginam dan pengeluara cairan pervaginam pada kehamilan lanjut, dan
3. Diagnosis perdarahan pervaginam dan pengeluaran cairan pervaginam pada kehamilan lanjut.
1. Perdarahan pervaginam pada kehamilan lanjut / perdarahan antepartum, meliputi:
Plasenta Previa
Solusio Plansenta
Vasa Previa
Kegiatan Belajar 1
Tujuan Pembelajaran Umum
Tujuan Pembelajaran Khusus
MODUL PEMBELAJARAN ASKEB KEBIDANAN KEHAMILAN PENYULIT DAN KOMPLIKASI KEHAMILAN7
2. Tanda dan gejala perdarahan pervagianam dan pengeluaran cairan pervaginam pada kehamilan lanjut
3. Pengeluaran cairan pervaginam / ketuban pecah dini.
────────────────────────
1. Plasenta Previa
a. Pengertian Plasenta Previa
Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahimdemikian rupa sehingga menutupi seluruh atau sebagian osteum uteri internum. Dengan bertambah membesarnya rahim dan meluasnya segmen bawah rahim ke arah proksimal memungkinkan plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim ikut berpindah mengikuti perluasan segmen bawah rahim seolah plasenta tersebut bermigrasi. Osteum uteri yang secara dinamik mendatar dan meluas dalam persalinan kala satu bisa mengubah luas pembukaan serviks ya ng tertutup oleh plasenta. Fenomena ini berpengaruh pada derajat atau klasifikasi dari plasenta previa ketika pemeriksaan dilakukan baik dalam masa natenatal maupun dalam masa intranatal. Lakukan kolaborasi pemeriksaan USG secara berkala untuk memantau perkembangan plasenta previa selama kehamilan.
MODUL PEMBELAJARAN ASKEB KEBIDANAN KEHAMILAN PENYULIT DAN KOMPLIKASI KEHAMILAN8
b. Klasifikasi Plasenta Previa
Plasenta previa totalis atau komplit adalah plasenta yang menutupi seluruh osteum uteri internum
Plasenta previa persialis adalah plasenta yang menutupi sebagian osteum uteri internum
Plasenta previa marginalis adalah plasenta yang tepinya berada dipinggir osteum uteri internum
Plasenta letak rendah adalah plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim sedemikian rupa sehingga tepi bawahnya berada pada jarak kurang lebih 2 cm dari osteum uteri internum.
Jarak yang lebih dari 2 cm dianggap plasenta letak normal.
c. Etiologi Plasenta Previa
Penyebab blastokist berimplantasi pada segmen bawah rahim belum diketahui secara pasti. Ada beberapa factor predisposisi pla senta previa :
MODUL PEMBELAJARAN ASKEB KEBIDANAN KEHAMILAN PENYULIT DAN KOMPLIKASI KEHAMILAN9
post kuretase, miomektomi dsb berperan dalam proses peradangan dan kejadian atrofi di endometrium yang menjadi factor resiko bagi terjadinya plasenta previa.
Pengaruh rokok, menyebabkan insiden plasenta previa 2 kali lipat. Hipoksemia akibat karbon monoksida hasil pembakaran rokok menyebabkan plasenta hipertrofi sebagai upaya kompensasi, sehingga melebar sampai ke segmen bawah rahim.
Pada kehamilan gAnda dan eritroblastosis fetalis menyebabkan pertumbuhan plasenta melebar ke segmen bawah rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh osteum uteri internum.
d. Gambaran Klinik dan Diagnosis Plasenta Previa
Gejala perdarahan awal plasenta previa, pada umumnya hanya berupa perdarahan bercak atau ringan, perdarahan berwarna merahh segar dan perdarahan umumnya berhenti secara spontan. Gejala tersebut, kadang-kadang terjadi waktu bangun tidur. Jumlah perdarahan yang terjadi sangat tergantung pada jenis plasenta previa. Perdarahan pervaginam tanpa rasa nyeri.
Perdarahan biasanya terjadi pada akhir trimester dua ke atas.
Perdarahan pertama berlangsung tidak banyak dan berhenti sendiri.
Perdarahan dapat kembali terjadi ( recurrent ) tanpa suatu sebab yang jelas setelah beberapa waktu kemudian, jadi berulang. Pada setiap pengulangan terjadi perdarahan yang lebih banyak bahkan seperti mengalir.
MODUL PEMBELAJARAN ASKEB KEBIDANAN KEHAMILAN PENYULIT DAN KOMPLIKASI KEHAMILAN10
segmen bawah rahim pada plasenta previa lebih rapuh dan mengalami robekan. Pada palpasi abdomen sering ditemui bagian terbawah janin masih tinggi di atas simfisis dengan letak janin tidak dalam letak memanjang. Palpasi abdomen tidak membuaat ibu merasa nyeri dan perut tidak tegang.
Diagnosis : tidak dianjurkan melakukan pemeriiksaan dalam pada perdarahan antepartum, pemeriksaan inspekulo dilakukan secara hati-hati dan benar, dapat menentukan sumber perdarahan dari kanalis servikalis atau sumber lain ( servisitis, polip, keganasan, laserasi atau trauma ).
Kolaborasi pemeriksaan USG, dapat menentukan secara akurat implantasi plasenta berdasarkan level plasenta dan bagian terendar janin. Perdarahan pada kehamilan lanjut, meskipun jumlahnya sedikit , selalu kaji kemungkinan adanya plasenta previa.
e. Penanganan Plasenta Previa
MODUL PEMBELAJARAN ASKEB KEBIDANAN KEHAMILAN PENYULIT DAN KOMPLIKASI KEHAMILAN11
2. Solusio Plasenta
a. Definisi Solusio Plasenta
Solusio plasenta adalah terlepasnya sebagian atau seluruh permukaan maternal dari tempat implantasinya yang normal pada lapisan desidua endometrium sebelum waktunya yakni sebelum anak lahir. Solusio plasenta merupakan terlepasnya plasenta dari tempat implantasi yang normal pada uterus sebelum janin dilahirkan. Definisi ini berlaku pada kehamilan dengan masa gestasi diatas 22 minggu atau berat janin di atas 500 gram. Proses solusio plasenta dimulai dengan terjadinya perdarahan dalam desidua basalis yang menyebabkan hematoma retroplasenter.
b. Klasifikasi Solusio Plasenta
MODUL PEMBELAJARAN ASKEB KEBIDANAN KEHAMILAN PENYULIT DAN KOMPLIKASI KEHAMILAN12
Perdarahan keluar Perdarahan tersembunyi
Keadaan umum penderita relative lebih baik
Plasenta terlepas sebagian atau in komplit
Jarang berhubungan dengan hipertensi
Keadaan penderita lebih jelek
Plasenta terlepas luas, uterus en bois
Sering berkaitan dengan hipertensi
c. Etiologi dan Risiko Solusio Plasenta
Etiologi primer dari solusio plasenta tidak diketahui dengan pasti. Tetapi terdapat beberapa factor risiko terjadinya solusio plasenta berikut ini :
Faktor sosioekonomi : usia muda, primiparitas, single parent, pendidikan rendah, solusio plasenta rekurens.
Faktor fisik : trauma tumpul pada perut, kecelakaan
Faktor kelaianan rahim : mioma uteri submukosa, uterus berseptum
Faktor penyakit : hipertensi, kelaiana system pembekuan darah ( trombofilia )
Factor sebab laktrogenik : merokok dan kokain d. Gambaran klinis diagnosis dan klasifikasi solusio plasenta
MODUL PEMBELAJARAN ASKEB KEBIDANAN KEHAMILAN PENYULIT DAN KOMPLIKASI KEHAMILAN13
Klasifika solusio plasenta terbagi menjadi 3bagian :
Solusio plasenta ringan
Solusio plasenta ringan sedikit sekali tAnda gejala. Pada keadaan yang sangat ringan tidak ada gejala atau kadang terdapat nyeri perut ringan, keluar flek darah sedikit, tAnda vital dan keadaan umum ibu dan janin masih baik, palpasi sedikit dirasakan nyeri, perut sedikit tegang tetapi bagian-bagian janin masih dapat di raba. Perlu selalu dimonitor sebagai upaya deteksi apabila keadaan bertambah berat.
Solusio plasenta sedang
Gejala dan tanda solusio plasenta sedang berupa rasa nyeri pada perut terus-menerus, denyut jantung janin biasanya telah menunjukan gawat janin, perdarahan yang tampak keluar lebih banyak, takhikardia, hipotensi, kulit dingin dan keringatan, mulai ada oliguria, dan mungkin kelainan pembekuan darah dan gangguan fungsi ginjal sudah mulai ada. Ras a nyeri dan tegang perut jelas sehingga palpasi bagian-bagian anak sukar diraba. Rasa nyeri datanagnya akut dan kemudian menetap tidak bersifat hilang timbul seperti pada his. Perdarahan pervaginam jelas dan berwarna kehitaman, penderita pucat karena muali ada syok sehingga keringat dingin. Keadaan janin biasanya sudah gawat. Pada stadium ini bisa jadi sudah timbul his dan persalinan telah mulai.
Solusio plasenta berat
MODUL PEMBELAJARAN ASKEB KEBIDANAN KEHAMILAN PENYULIT DAN KOMPLIKASI KEHAMILAN14
dalam masa observasi tinggi fundus bertambah lagi berarti perdarahan baru masih berlangsung. Pada inspeksi rahim kelihatan membulat dan kulit diatasnya kencang berkilat. Pada auskultasi denyut jantung janin tidak terdengar lagi akibat gangguan anatomi dan fungsi plasenta. Keadaan umum menjadi buruk disertai syok. Adakalanya keadaan umum ibu jauh lebih buruk dibandingkan dengan perdarahan yang keluar pervaginam. Terjadi hipofibrinogenemia dan oliguria.
e. Penanganan solusio plasenta
MODUL PEMBELAJARAN ASKEB KEBIDANAN KEHAMILAN PENYULIT DAN KOMPLIKASI KEHAMILAN15
3. Vasa Previa
MODUL PEMBELAJARAN ASKEB KEBIDANAN KEHAMILAN PENYULIT DAN KOMPLIKASI KEHAMILAN16
4. Ketuban Pecah Dini
a. Pengertian dan Prinsip Dasar Ketuban Pecah Dini
Selaput ketuban terdiri dari selaput amnion dann khorion yang sangat erat ikatannya. Selaput ketuban berfungsi menghasilkan air ketuban dan melindungi janin terhadap infeksi. Dalam keadaan normal, selaput ketuban pecah dalam proses persalinan. Ketuban pecah dini adalah keadaan pecahnya selaput ketuban sebelum proses persalinan berlangsung. Ketuban pecah dini yang terjadi sebelum usia kehamilan 37 minggu, disebut ketuban pecaah dini pada kehamilan premature.
Ketuban pecah dini merupakan masalah penting dalam obstetric berkaitan dengan penyulit kehamilan premature dan terjadinya infeksi khorioamnionitis sampai sepsis, yang meningkatkan morbiditas dan mortalitas periinatal, dan menyebabkan infeksi ibu. Ketuban pecah dini disebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membrane atau meningkatnya tekanan intrauterine atau oleh kedua factor tersebut. Berkurangnya kekuatan membrane disebabkan oleh adanya infeksi yang dapat berasal dari vagina dan serviks.
b. Komplikasi Ketuban Pecah Dini
Komplikasi yang timbul akibat ketuban pecah dini bergantung pada usia kehamilan. Dampak ketuban pecah dini adalah dapat menyebabkan infeksi maternal ataupun neonatal, persalinan premature, hipoksia karena kompresi tali pusat, deformitas janin, meningkatnya insiden secsio sesaria atau gagalnya persalinan normal.
MODUL PEMBELAJARAN ASKEB KEBIDANAN KEHAMILAN PENYULIT DAN KOMPLIKASI KEHAMILAN17
1) Persalinan premature
Setelah ketuban pecah biasanya disusul oleh persalinan. Periode laten tergantung umur kehamilan. Pada kehamilan aterm 90% persalinan terjadi dalam 24 jam setelah ketuban pecah. Pada kehamilan antara 28-34 minggu 50% persalinan dalam 24 jam. Pada kehamilan kurang dari 26 minggu persalinan terjadi dalam 1 minggu.
2) Infeksi
Resiko infeksi pada ibu dan anak meningkat pada ketuban pecah dini. Pada ibu dapat terjadi khorioamnionitis. Pada bayi dapat terjadi septicemia, pneumonia, omfalitis. Pada ketuban pecah dini premature, infeksi lebih sering terjadi pada aterm. Secara umum insiden infeksi sekunder pada ketuban pecah dini meningkat sebanding dengan lamanya periode laten.
3) Hipksia dan asfiksia
Dengan pecahnya ketuban terjadi oligohidramnion yang menekan tali pusat sehingga terjadi asfiksia atau hipoksia. Terdapat hubungan antara terjadinya gawat janin dan derajat oligohidramnion, semakin sedikit air ketuban, janin semakin gawat.
4) Sindrom deformitas janin
Ketuban pecah dini yang terjadi terlalu dini menyebabkan pertumbuhan janin terhambat, kelainan disebabkan kompresi muka dan anggota badan janin, serta hipoplasi pulmonary. c. Penilaian Klinik dan Diagnosis Ketuban Pecah Dini
MODUL PEMBELAJARAN ASKEB KEBIDANAN KEHAMILAN PENYULIT DAN KOMPLIKASI KEHAMILAN18
selaput ketuban. Ditentukan dengan adanya cairan ketuban di vagina, jika tidak ada dapat dicoba dengan gerakan sedikit bagian terbawah janin atau meminta pasien sedikit mengedan atau batuk.
Penentuan cairan ketuban dapat dilakukan dengan tes lakmus ( nitrazin test ) merah menjadi biru, membantu dalam menentukan jumlah cairan ketuban dan usia kehamilan dan kelaianan janin. Pemeriksaan pH vagina ibu hamil sekitar 4,5; bila ada cairan ketuban pH-nya sekitar 7,1-7,3, antiseptik yang alkalin dapat menaikkan pH vagina. Dengan kolaborasi USG tentukan usia kehamilan dan juga adanya ketuban pecah dini dapat dikonfirmasikan dengan adanya oligohidramnion. Tentukan usia kehamilan. Kaji adanya tAnda-tAnda
infeksi, bila suhu ibu ≥38oC dan air ketuban yang keruh dan berbau.
Janin yang mengalami takhikardia, mungkin mengalami infeksi intrauterine. Tentukan tAnda-tAnda persalinan dan scoring pelvic, tentukan juga adanya kontraksi yang teratur.
d. Penanganan Ketuban Pecah Dini
Penatalaksanaan ketuban pecah dini perlu menkaji dengan cermat hal-hal berikut ini :
Pastikan diagnosis, termasuk adanya khorioamnionitis.
Tentukan umur kehamilan
Evaluasi ada tidaknya infeksi meternal ataupun infeksi janin
Apakah dalam keadaan inpartu atau terdapat kegawatan janin Riwayat keluarnya air ketuban berupa cairan jernih keluar dari vagina yang kadang-kadang disertai tAnda-tAnda lain dari persalinan.
MODUL PEMBELAJARAN ASKEB KEBIDANAN KEHAMILAN PENYULIT DAN KOMPLIKASI KEHAMILAN19
mempertimbangkan berbagai aspek. Penanganan konservatif dilakukan pada umur kehamilan < 37 minggu, tidak ada tanda-tanda inpartu dan tidak ada tanda-tanda infeksi. Penanganan aktif dilakukan pada umur kehamilan >37 minggu.
────────────────────────
Rangkuman
1. Plasenta previa : plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim sedemikian rupa sehingga menutupi seluruh atau sebagian osteum uteri internim.
2. Solusio plasenta : terlepasnya sebagian atau seluruh permukaan maternal dari tempat implantasinya yang normal pada lapisan desidua endometrium sebelum waktunya yakni sebelum janin lahir.
3. Vasa previa : keadaan dimana pembuluh darah janin berada didalam selaput ketuban da melewati osteum uteri internum untuk kemudian sampai kedalam insersinya di tali pusat.
4. Ketuban pecah dini : keadaan pecahnya selaput ketuban sebelum proses persalinan berlangsung.
5. Dampak ketuban pecah dini adalah dapat menyebabkan infeksi maternal ataupun neonatal, persalinan premature, hipoksia karena kompresi tali pusat, deformitas janin, meningkatnya insiden secsio sesarea atau gagalnya persalinan normal.
MODUL PEMBELAJARAN ASKEB KEBIDANAN KEHAMILAN PENYULIT DAN KOMPLIKASI KEHAMILAN20 ────────────────────────
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan memilih salah satu alternative jawaban yang dianggap paling benar.
1. Plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah rahim sedemikian rupa sehingga menutupi seluruh atau sebagian OUI, merupakan tAnda klinik
dari…
A. Plasenta previa B. Solusio plasenta C. Kehamilan ektopik D. Mola hidatidosa E. Vasa previa
2. Plasenta yang berimpantasi pada segmen bawah rahim sedemikian rupa
sehingga menutupi seluruh permukaan, merupakan tAnda klinik dari….
A. Plasenta previa parsialis B. Plasenta previa totalis C. Plasenta previa marginalis D. Solusio plasenta
E. Vasa previa
3. Plasenta yang berimpantasi pada segmen bawah rahim sedemikian rupa
sehingga tepinya berada dipinggir OUI, merupakan tAnda klinik dari….
A. Plasenta previa parsialis B. Plasenta previa totalis C. Plasenta previa marginalis D. Solusio plasenta
E. Vasa previa
MODUL PEMBELAJARAN ASKEB KEBIDANAN KEHAMILAN PENYULIT DAN KOMPLIKASI KEHAMILAN21
sebelumnya pernah mengeluarka flek darah pada umur kehamilan 28 minggu. Apakah kemungkinan diagnose pada kasus tersebut?
A. Solusio plasenta B. Plasenta previa C. Kehamilan ektopik D. Vasa previa E. Mola hidatidosa
5. Seorang perempuan hamil, G2P1A0, datang periksa ke RB, umur ibu 37 tahun, umur kehamilan 30 minggu, keluhan mengeluarkan perdarahan bercak, warna merah segar tiba-tiba setelah bangun tidur, riwayat sebelumnya pernah mengeluarka flek darah pada umur kehamilan 28 minggu. Apakah pengkajian yang paling tepat dilakukan bidan pada kasus tersebut?
A. Melakukan periksa dalam untuk mengkaji penyebab B. Melakukan pemeriksaan inspekulo dengan hati-hati C. Melakukan palpasi abdomen
D. Melakukan palpasi supra pubik E. Melakukan pengukuran TFU
6. Seorang perempuan hamil, G2P1A0, datang periksa ke RB, umur ibu 37 tahun, umur kehamilan 30 minggu, keluhan mengeluarkan perdarahan bercak, warna merah segar tiba-tiba setelah bangun tidur, riwayat sebelumnya pernah mengeluarka flek darah pada umur kehamilan 28 minggu. Apakah penatalaksanaan yang paling tepat dilakukan bidan pada kasus tersebut?
A. Melakukan deteksi, memasang infuse, rawat inap di RB B. Melakukan deteksi, memasang infuse, melakukan rujukan
C. Memasang infuse RL, rawat inap di RB, menganjurkan tirah baling D. Memasang infuse hingga 2 flabot, menganjurkan rawat jalan dan control
MODUL PEMBELAJARAN ASKEB KEBIDANAN KEHAMILAN PENYULIT DAN KOMPLIKASI KEHAMILAN22
E. Melakukan deteksi, rawat jalan, dan minta ibu untuk control kembali 7. Seorang perempuan hamil G1P0A0, datang periksa ke BPM, umur ibu 27
tahun, umur kehamilan 30 minggu, keluhan mengeluarkan perdarahan berwarna merah tua, nyeri perut, uterus tegang terus menerus, fetal distress, palpasi abdomen dirasakan nyeri. Apakah diagnosis kemungkinan pada kasus tersebut?
A. Vasa previa B. Plasenta previa C. Solusio plasenta D. Partus prematurus E. Kehamilan ektopik
8. Suatu keadaan dimana pembuluh darah janin berada didalam selaput ketuban dan melewati OUI untuk kemudian sampai ke insersinya, hal ini
merupakan tAnda klinis dari….
A. Vasa previa B. Plasenta previa C. Solusio plasenta D. Partus permaturus E. Kehamilan ektopik
9. Seorang perempuan hamil, G2P0A0, datang periksa ke RB, umur ibu 37 tahun, umur kehamilan 37 minggu, keluhan mengeluarkan cairan secara tiba-tiba, DJJ 120x/menit, pemeriksaan inspekulo nampak adanya cairan pervaginam keluar dari cavum uteri, tes lakmus merah berubah menjadi biru. Apakah diagnosis pada kasus tersebut?
MODUL PEMBELAJARAN ASKEB KEBIDANAN KEHAMILAN PENYULIT DAN KOMPLIKASI KEHAMILAN23
10.Apakah pertimbangan atau kajian utama dalam penatalaksanaan KPD? A. Umur kehamilan, tAnda-tAnda infeksi, teksiran bert janin dan presentasi
janin
B. Umur kehamilan, tAnda-tAnda infeksi, tAnda inpartu dan kegawatan janin
C. Umur kehamilan, keadaan umum ibu, status gizi ibu dan kegawatan janin
D. Keadaan umum ibu, status gizi ibu, umur kehamilan dan tAnda-tAnda infeksi
E. Keadaan umum ibu, status gizi ibu, umur kehamilan, tAnda inpartu dan taksiran berat janin
Seorang ibu datang memeriksakan kehamilannya di BPM dengan usia kehamilan 34 minggu. Ibu tersebut mengeluh mengeluarkan sedikit flek darah tiba -tiba setelah bangun tidur, ibu mengatakan tidak merasakan nyeri. Lakukan pengkajian dan deteksi lanjut untuk kasus ini, hal-hal apa yang perlu dicermati pada kasus ini serta bagaimana penatalaksanaanya?
MODUL PEMBELAJARAN ASKEB KEBIDANAN KEHAMILAN PENYULIT DAN KOMPLIKASI KEHAMILAN24
PREEKLAMPSIA DAN EKLAMPSIA
Setelah mengikuti perkuliahan ini mahasiswa mampu mengenali dan mendeteksi penyulit dan komplikasi preeklampsia/eklampsia.
Secara spesifik mahasiswa mampu memahami dan menguasai hal – hal sebagai berikut :
Pengertian dasar preeklampsia/eklampsia.
1. Tanda dan gejala dan klasifikasi preeklampsia/eklampsia.
2. Diagnosis preeklampsia/eklampsia.
3. Penatalaksanaan preeklampsia/eklampsia.
1. Preeklampsia:
Preeklampsia ringan
Preeklampsia berat 2. Eklampsia
────────────────────────
1. Preeklampsia
a. Preeklampsia ringan
1) Pengertian dasar preeklampsia ringan
Tujuan Pembelajaran Umum
Tujuan Pembelajaran
Khusus
Pokok
–
Pokok Materi
Uraian Materi
MODUL PEMBELAJARAN ASKEB KEBIDANAN KEHAMILAN PENYULIT DAN KOMPLIKASI KEHAMILAN25
Preeklampsia ringan adalah suatu sindroma spesifik kehamilan dengan menurunnya perfusi organ yang berakibat terjadinya fosopasme pembuluh darah dan aktifitas endotel. 2) Diangnosis dan gambaran klinik preeklampsia ringan
Diagnosis preeklampsia ringan ditegakan berdasar atas timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan atau edema setelah kehamilan 20 minggu.
Gambaran klinik:
Hipertensi: sistolik/diastolik ≥ 140/90 mmhg
Kenaikan sistolik ≥ 30 mmhg dan kenaikan diastolik ≥ 15
mmhg tidak dipakai lagi sebagai kriteria preeklampsia
Proteinuria: ≥ 300mg/24 jam atau ≥ 1 + dipstik
Bila proteinuria timbul sebelum hipertensi, umumnya merupakan gejala penyakit ginjal. Bila proteinuria tanpa hipertensi maka dapat dipertimbangkan sebagai penyulit kehamilan.
Proteinuria tanpa kenaikan kenaikan tekanan darah diastolik ≥ 90
mmhg, umumnya ditemukan pada infeksi saluran kencing atau anemia jarang ditemukan proteinuria pada tekanan diastolik < 90 mmhg. Protenuria merupakan syarat untuk diagnosis preeklampsia. Pengukuran proteinuria dapat dilakukan dengan urin dipstik 100 mg/ltr atau + 1. Sekurang-kurangnya diperiksa 2 kali urin acak selang 6 jam atau pengumpulan urin dalam 24 jam.
MODUL PEMBELAJARAN ASKEB KEBIDANAN KEHAMILAN PENYULIT DAN KOMPLIKASI KEHAMILAN26
kehamilan trimester III yang disebabkan karena penurunan bagian terendah janin atau perubahan sirkulasi vaskuler pada ektremitas bawah dan beban ekstremitas bawah meninggkat sehingga muncul manifestasi edema.
Edema pada preeklampsia biasanya mengikuti tanda gejala klinik trias preeklampsi yang lain yaitu hipertensi dan proteinuria. 40% edema terjadi pada kehamilan normal. 60% edema dijumpai pada kehamilan dengan hipertensi. Dan 80% edema dijumpai pada kehamilan dengan hipertensi dan proteinuria. Edema terjadi karena hipoalbuminemia atau kerusakan selendotel kapiler. Edema yang patologik biasanya disertai dengan kenaikan berat badan yang cepat.
3) Penatalaksanaan preeklampsia ringan
Tujuan utama perawatan preekalampsia adalah mencegah kejang pendarahan intrakranial, mencegah gangguan fingsi organ vital dan agar mampu melahirkan bayi sehat. Ibu hamil dengan preeklampsia ringan dapat diberikan asuhan secara rawat jalan. Dianjurkan ibu hamil banyak istirahat (berbaring/tidur miring). Tetapi tidak harus mutlak selalu tirah baring. Pada umur kehamilan diatas 20 minggu, tirah baring dengan posisi miring kekiri mengkilangkan tekanan rahim pada vena kafa inferior, sehingga meningkatkan aliran darah balik dan akan menambah curah jantung. Hal ini berarti pula meningkatkan aliran darah ke organ-organ vital. Penambahan aliran darah ke ginjal akan meningkatkan filtrasi glomeluri dan meningkatkan diuresis.
MODUL PEMBELAJARAN ASKEB KEBIDANAN KEHAMILAN PENYULIT DAN KOMPLIKASI KEHAMILAN27
aliran darah rahim, menambah oksigenasi plasenta, dan memperbaiki kondisi dalam rahim.
Pada keadaan tertentu ibu hamil preeklampsia ringan perlu dirawat di RS, kriteri preeklampsia ringan dirawat di RS adalah:
Bila tidak ada perbaikan, tekanan darah, kadar proteinuria selama 2 minggu.
Adanya satu atau lebih gejala dari tanda – tanda preeklampsia berat.
Selama di RS dilakukan anamnesis. Pemeriksaan fisik dari laboratori. Pemeriksaan kesejahteraan janin berupa pemerikasaan USG dan Doppler khususnya untuk mengevaluasi pertumbuhan janin dan jumlah cairan amnion. Pemeriksaan non scroos test (NST) dilakukan 2 kali seminggu dan konsultasi dengan bagian mata, jantung dll.
Peran bidan adalah melakukan asuhan antenatal yang efektif, melakukan deteksi dini adanya gejala dan tanda klinik preeklampsia serta melakukan rujukan ke RS.
b. Preeklampsia berat.
1) Pengartian dasar preeklampsia berat
Preeklampsia berat adalah preeklampsia dengan tekanan darah
sistolik ≥ 160 mmhg dan tekanan darah diastolik ≥ 110 mmhg
disertai proteinuria > 5 gr/24 jam.
2) Diagnosis dan gambaran klinik preeklampsia berat
Diagnosis preeklampsia berat atau preeklampsia digolongkan preeklampsia berat bila ditemukan satu atau lebih gejala sebagai berikut:
Tekanan darah sistolik ≥ 160 mmhg dan tekanan darah
MODUL PEMBELAJARAN ASKEB KEBIDANAN KEHAMILAN PENYULIT DAN KOMPLIKASI KEHAMILAN28
ibu hamil sudah dirawat di rumah sakit dan sudah menjalani tirah baring.
Proteinuria > 5 gr/24 jam atau 4 + dalam pemeriksaan kualitatif.
Oliguria, yaitu produksi urin dari 500cc/24 jam.
Kenaikan kadar kreatinin plasma.
Gangguan visus dan serebral: penurunan kesadaran, nyeri kepala, skotoma dan pAndangan kabur.
Nyeri epigastrium atau nyeri pada kuadran kanan atas abdomen.
Edema paru-paru dan sianosis.
Hemolisis mikroamiopatik.
Trombositopenia berat.
Gangguan fungsi hepar.
Pertumbuhan janin intrauterin yang terhambat. 3) Klasifikasi preeklampsia berat
Preeklampsia berat dibagi menjadi:
a) Preeklampsia berat tanpa impending eklampsi
b) Preeklampsia berat dengan impleding eclampsi, bila preeklampsia berat disertai gejala-gejala subyektif berupa nyeri kepala hebat, gangguan visus, muntah-muntah, nyeri epigastrium dan kenaikan progresif tekanan darah.
4) Penatalaksanaan preeklampsia berat
MODUL PEMBELAJARAN ASKEB KEBIDANAN KEHAMILAN PENYULIT DAN KOMPLIKASI KEHAMILAN29
untuk persalinan. Perawatan yang penting untuk persalinan. Perawatan yang penting pada preeklampsia berat adalah pengelolaan cairan karena penderita preeklampsia dan eklampsia mempunyai resiko tinggi untuk terjadinya edema paru dan oliguria. Monitoling penderita selama di RS dilaksanakan dengan pemeriksaan yang sangat teliti diikuti dengan observasi harian tentang tanda-tanda klinik berupa: nyeri kepala, gangguan visus, nyeri epigastrium dan kenaikan berat badan dengan cepat. Monitoring input cairan (oral maupun infus) dan output cairan (melalui urin) sangat penting. Selain itu, perlu dilakukan penimbangan berat badan, pengukuran proteinuria, pengukuran tekanan dara, pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan USG dan NST.
2. Eklampsia
a. Pengertian dan gambaran klinik eklampsia
Eklampsia merupakan kasus akut pada penderita preeklampsia, yang disertai dengan kejang menyeluruh dan koma. Sama halnya dengan preeklampsia, eklampsia dapat timbul pada ante, intra dan postpartum. Eklampsia umumnya hanya terjadi dalam waktu 24 jam pertama setelah persalinan. Pada penderita preeklampsia yang akan kejang, umumnya memberi gejala-gejala, atau tanda khas, sebagai tanda prodromal akan terjadinya kejang.
b. Diagnosis eklampsia
MODUL PEMBELAJARAN ASKEB KEBIDANAN KEHAMILAN PENYULIT DAN KOMPLIKASI KEHAMILAN30
eklampsia menjadi sangat penting, misalnya perdarahan otak, hipertensi, lesi otak, kelainan metabolik, meningitis dan epilepsi. Kejang pada eklampsia dimulai dengan kejang tonik. Tanda – tanda kejang tonik ialah dengan dimulainya gerakan kejang berupa twitching dari otot-otot muka khususnya sekitar mulut, yang beberapa detik kemudian disusul kontraksi otot-otot tubuh yang menegang, sehingga seluruh tubuh menjadi kaku. Pada keadaan ini wajah penderita mengalami distori, bola mata menonjol, kedua lengan beksi, tangan menggenggam kedua tungkai dalam posisi inverse. Semua otot tubuh pada saat ini dalam keadaan kontraksi tonik, keadaan ini berlangsung 15 – 30 detik. Kejang tonik ini segera disusul dengan kejang klonik. Kejang klonik dimulai dengan terbukanya rahang secara tiba-tiba dan tertutup kembali dengan kuat disertai pula dengan terbuka dan tertutupnya kelopak mata.
Kemudian disusul dengan kontraksi intermitten pada otot-otot muka dan otot-otot seluruh tubuh. Begitu kuat kontraksi ini sehingga seringkali penderita terlempar dari tempat tidur, lidah tergigit, dari mulut keluar liur berbusa yang kadang disertai bercak darah. Pada waktu timbul kejang, diafragma terfiksir, sehingga pernapasan tertahan, tekanan darah meningkat, suhu badan meningkat, kejang klonik berlangsung kurang lebih 1 menit, kemudian kontraksi berangsur-angsur melemah dan akhirnya berhenti hingga jatuh koma. Penderita mengalami inkontinensia disertai oliguria atau anuria dan kadang-kadang terjadi aspirasi bahan mutah.
c. Penatalaksanaan eklampsia
MODUL PEMBELAJARAN ASKEB KEBIDANAN KEHAMILAN PENYULIT DAN KOMPLIKASI KEHAMILAN31
Penatalaksanaan utama adalah suportif untuk stabilisasi tanda vital, yaitu airway, breathing, circulation (ABC).
Mengatasi dan mencegah kejang, pilihan utama adalah magnesium sulfat. Penanganan kejang : beri obat antikonkulsa, siapkan perlengkapan untuk penanganan kejang, lindungi pas ien dari kemungkinan trauma dengan tempat tidur yang lebar ada railnya dan dikunci, fiksasi badan pasien pada tempat tidur harus cukup kendor, saat kejang masukan sudip lidah/tongue spatel kedalam mulut pasien dan jangan mencabutnya saat tergigit, aspirasi mulut dan tenggorokan, baringkan pasien pada sisi kiri, posisi trendelen burg untuk mengurangi resiko aspirasi, beri O2 4-6
liter / menit, pasien dirawat di ruang isolasi yang tenang.
Mencegah trauma pada waktu kejang
Mengatasi hipoksemia dan asidemia
Mengendalikan tekanan darah
Mencegah dan mengatasi penyulit
Pasang infus RL dengan jarum besar
Monitor keseimbangan cairan jangan sampai terjadi over load
Kateterisasi urin untuk pengeluaran volume dan proteinuria.
Jangan tinggalkan pasien sendirian, kejang disertai aspirasi dapat mengakibatka kematian ibu dan janin.
Observasi tanda-tanda vital, refleks, dan denyut jantung janin setiap jam.
Auskultasi paru untuk mencari tanda-tanda edema paru.
Uji pembekuan darah.
MODUL PEMBELAJARAN ASKEB KEBIDANAN KEHAMILAN PENYULIT DAN KOMPLIKASI KEHAMILAN32 ────────────────────────
Rangkuman
Hal-hal penting yang telah ada pelajari dalam Kegiatan Belajar 2 ini adalah sebagai berikut:
1. Preeklampsia ringan adalah suatu sindroma spesifik kehamilan dengan menurunya perfusi organ yang berakibat terjadinya fasopasme pembulu darah dan aktifasi endotel.
2. Eklampsia merupakan kasus akut pada penderita preeklampsia, yang disertai dengan kejang menyeluruh dan koma.
3. Diagnosis preeklampsia ringan ditegakan berdasar atas timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan atau edema setelah kehmilan 20
minggu. Gambaran klinik: hipertensi: sistolik/diastolik ≥ 140/90mmhg,
proteinuria: ≥300 mg/24 jam atau ≥ 1+ dipstik. Proteinuria merupakan
syarat untuk diagnosis preeklampsia.
4. Edema: edema lokal/kaki tidak dimasukan dalam kriteria utama tAnda gejala klinik preeklampsia, kecuali edema pada lengan, muka dan perut, edema generalisasi.
5. Preeklampsia berat adalah preeklampsia dengan tekanan darah sistolik
≥ 160 mmhg dan tekanan darah diastolik ≥ 110 mmhg disertai
proteinuria > 5 gr/24 jam.
6. Klasifikasi preeklampsia berat dibagi menjadi: Preeklampsia berat tanpa impending eclampsi dan Preeklampsia berat dengan impleding eclampsi, bila preeklampsia berat disertai gejala-gejala subyektif berupa nyeri kepala hebat, gangguan visus, muntah-muntah, nyeri epigastrium dan kenaikan progresif tekanan darah.
MODUL PEMBELAJARAN ASKEB KEBIDANAN KEHAMILAN PENYULIT DAN KOMPLIKASI KEHAMILAN33 ────────────────────────
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan memilih salah satu alternative jawaban yang dianggap paling benar.
1. Apakah kriteria utama diagnosis preeklamsia ringan? A. Kenaikan tekanan darah disertai edema pada kaki B. Kenaikan tekanan darah disertai atau tanpa proteinuria C. Umu kehamilan >20 minggu, tekanan darah ≥140/90 mmHg D. Kenaikan tekanan darah sistolik ≥30 mmHg, diastolik ≥15 mmHg E. Kenaikan tekanan darah sistolik ≥30 mmHg, diastolik ≥15 mmHg,
pengukuran berjarak 4 jam
2. Seorang perempuan hamil, G1P0A0, datang periksa ke RB, umur ibu 37 tahun, umur kehamilan 32 minggu, keluhan pusing dan sakit kepala, tekanan darah 140/go mmHg, edema tangan dan muka. Proteinuria +1. Apakah diagnosis pada kasus tersebut?
A. Superimposed preeklampsi B. Preeklampsi ringan
C. Preeklampsi berat D. Hipertensi kronik E. Eklampsi
3. Seorang perempuan hamil, G1P0A0, datang periksa ke Rmah Sakit, umur ibu 37 tahun, umur kehamilan 32 minggu, keluhan pusing dan sakit kepala, tekanan darah 140/go mmHg, edema tangan, Proteinuria +1. Apakah penatalaksanaan yang tepat pada kasus tersebut ?
A. Pemberian antihipertensi dan diif rendah garam B. Tirah baring, istirahat tidur miring ke kiri
MODUL PEMBELAJARAN ASKEB KEBIDANAN KEHAMILAN PENYULIT DAN KOMPLIKASI KEHAMILAN34
4. Mengapa ibu hamil dengan preeklampsia ringan dianjurkan istirahat tidur miring ke keri?
A. Mencegah tekanan vena kava inferior dan meningkatkan curah jantung
B. Mencegah tekanan vena kava superior dan menurunkan curah jantung
C. Mencegah tekanan vena pulmonalis dan meningkatkan curah jantung D. Mencegah tekanan aorta dan meningkatkan curah jantung
E. Mencegah tekanan arteri pulmonalis dan menurunkan curah jantung 5. Seorang perempuan hamil, G1P0A0, datang periksa ke RB, umur ibu 37
tahun, umur kehamilan 32 minggu, keluhan pusing, sakit kepala, serta nyeri epigastrium, tekanan darah 140/go mmHg, edema tangan, muka, proteinuria +4. Apakah diagnosis pada kasus tersebut?
A. Superimposet preeklampsia B. Preeklampsia ringan
C. Preeklampsia berat D. Hipertensi kronik E. Eklampsia
6. Seorang perempuan hamil, G1P0A0, datang periksa ke RB, umur ibu 37 tahun, umur kehamilan 32 minggu, keluhan pusing, sakit kepala, serta nyeri epigastrium, tekanan darah 140/go mmHg, edema tangan, muka, proteinuria +4. Apakah penatalaksanaan yang tepat pada kasus tersebut? A. Observasi tekanan darah selama 24 jam, setelah itu lakukan rujukan B. Beri pertolongan antihipertensi dan observasi tekanan darah
C. Segera lakukan stabilisasi dan lakukan rujukan ke RS D. Beri pertolongan anti kejang dan rawat inap di RB E. Segera lakukan rujukan tanpa stabilisasi
MODUL PEMBELAJARAN ASKEB KEBIDANAN KEHAMILAN PENYULIT DAN KOMPLIKASI KEHAMILAN35
epigastrium, gangguan penglihatan dan muntah-muntah, tekanan darah 170/110 mmhg, edema tangan, muka, dan seluruh tubuh, proteinuria +4. Apakah diagnosis pada kasus tersebut?
A. Superimposet preeklampsia B. Preeklampsia ringan
C. Preeklampsia berat D. Hipertensi kronik
E. PEB impending eklampsia
8. Seorang perempuan hamil, G1P0A0, datang periksa ke RB, umur ibu 37 tahun, umur kehamilan 32 minggu, keluhan nyeri kepala hebat, nyeri epigastrium, gangguan penglihatan dan muntah-muntah, tekanan darah 170/110 mmhg, edema tangan, muka, dan seluruh tubuh, proteinuria +4. Apakah penatalaksanaan yang tepat pada kasus tersebut?
A. Segera lakukan rujukan B. Rawat inap di RB C. Beri antihipertensi D. Observasi 24 jam di RB E. Beri analgetik dan antikejang
silahkan kerjakan tugas mandiri di bawah ini:
1. Identifikasi perbedaan diagnosis dan gambaran klinik pada kasus preeklampsia ringan, preeklampsia berat dan eklampsia!
2. Bagaimana gambaran udem dan proteinuria yang menjadi kriteria utama dalam preeklampsia?
MODUL PEMBELAJARAN ASKEB KEBIDANAN KEHAMILAN PENYULIT DAN KOMPLIKASI KEHAMILAN36
GERAKAN JANIN TIDAK DIRASAKAN
DAN GAWAT JANIN
Setelah mengikuti perkuliahan ini mahasiswa mampu Secara spesifik Anda akan memahami dan menguasai mengenai hal – hal sebagai berikut:
1. Permasalahan gerakan janin tidak dirasakan 2. Diagnosis gerakan janin tidak dirasakan 3. Penanganan gerakan janin tidak dirasakan 4. Definisi gawat janin
5. Diagnosis gawat janin 6. Penanganan gawat janin
1. Gerakan janin tidak dirasakan :
Permasalahan gerakan janin tidak dirasakan
Diagnosis gerakan janin tidak dirasakan
Penanganan gerakan janin tidak dirasakan 2. Gawat janin :
Definisi gawat janin
Diagnosis gawat janin
Penanganan gawat janin
Tujuan Pembelajaran Khusus
Pokok
–
Pokok Materi
MODUL PEMBELAJARAN ASKEB KEBIDANAN KEHAMILAN PENYULIT DAN KOMPLIKASI KEHAMILAN37
────────────────────────
1. Gerakan janin tidak dirasakan
Gerakan janin merupakan hal yang subjektif dirasakan oleh ibu dalam kehamilan. Secara fisiologis subyektif ibu hamil dalam merasakan gerakan berfariasi kepekaan ibu. Pada umumnya gerakan janin mulai dirasakan ibu hamil pada umur kehamilan kisaran 16 minggu pada primigravida atau 18 minggu pada multigravida. Bidan mempunyai peranan penting dalam asuhan antenatal untuk memberikan pendidikan kesehatan kepada ibu hamil mengenai bagaimana pentingnya menghitung atau mencermati gerakan janin secara sederhana. Bidan dapat membimbing ibu dengan menggunakan kartu sederhana gerakan janin ( fetal movement card ), sehingga ibu hamil sejak dini mampu merasakan dan mengenali sejak dini apabila ada perubahan atau penyimpangan gerakan janin. Batasan normal sederhana gerakan janin yang dirasakan oleh ibu, minimal dalam 12 jam adalah 10x gerakan. Sehingga sedini mungkin ibu hamil dapat meminta pertolongan ke pelayanan kesehatan apabila ada penyimpangan atau perubahan.
a. Mengidentifikasi gambaran klinik gerakan janin tidak dirasakan
Ibu merasakan adanya perubahan frekuensi gerakan janin, kurang dari standar normal, berkurang dari biasanya, mengalami perubahan frekuensi/intensitasnya atau ibu tidak merasakan gerakan janin sesudah kehamilan 22 minggu atau selama persalinan.
b. Penanganan umum
1) Berikan dukungan emosianal dan psikososial pada ibu 2) Nilai denyut jantung ( DJJ ) kaji apakah :
Ibu mendapat pengobatan sedative/minum obat tertentu
DJJ tak terdengar, bisa melakukan pembanding dengan beberapa orang/tim bidan mendengarkan DJJ menggunakan stetoskop Doppler.
MODUL PEMBELAJARAN ASKEB KEBIDANAN KEHAMILAN PENYULIT DAN KOMPLIKASI KEHAMILAN38
Segera lakukan rujukan ke RS untuk penanganan lebih lanjut c. Diagnosa
Berikut ini adalah tabel untuk mendiagnosis gerakan janin yang tidak dirasakan.
Table 1. diagnosis gerakan janin tidak dirasakan
Gerakan dan tanda selalu ada Gejala dan tanda kadang-kadang ada
Diagnosis kemungk inan
Gerakan janin berkurang atau hilang
Gerakan janin dan DJJ tidak ada
Gerakan janin berkurang atau hilang
DJJ abnormal (>100/menit atau >180/menit)
MODUL PEMBELAJARAN ASKEB KEBIDANAN KEHAMILAN PENYULIT DAN KOMPLIKASI KEHAMILAN39
d. Penanganan khusus
Penanganan khusus gerakakan janin tidak dirasakan harus dilaksanakan di RS terdapat kemungkinan terdapat kematian janin, maka perlu dilakukan identifikasi dengan cermat, adanya tanda-tanda atau gambaran klinik kematian janin.
Kematian janin dapat terjadi akibat gangguan pertumbuhan janin, gawat janin, atau kelainan bawaan atau akibat infeksi yang tidak terdiagnosis sebelumnya sehingga tidak diobati. Tatalaksana penangan khusus di RS adalah sebagai berikut:
Konfirmasi kematian janin setelah 5 hari. Tanda-tandanya berupa overlapping tulang tengkorak, hiperfleksi kolumna vertebralis, gelombang udara di dalam jantung dan edema scalp, melakukan pengecekan pemeriksaan radiologi
USG: merupakan sarana penunjang diagnostic yang baik untuk memastikan kematian janin dimana gambarannya menunjukkan janin-janin tanpa tanda kehidupan: tidak ada denyut jantung janin, dan cairan ketuban berkurang.
Dukungan mental emosional dan psikologis perlu diberikan kepada pasien. Sebaiknya pasien selalu di damping oleh orang terdekatnya (significant others). Yakinkan bahwa besar kemungkinan dapat lahir pervaginam.
Pilihan cara persalinan dapat secara aktif dengan induksi maupun ekspetativ, perlu dibicarakan dengan pasien dan keluarganya sebelum keputusan diambil.
Jika trombosit menurun tanpa persalinan spontan, lakukan penanganan aktif.
Jika penanganan aktif akan dilakukan nilai serviks ;
MODUL PEMBELAJARAN ASKEB KEBIDANAN KEHAMILAN PENYULIT DAN KOMPLIKASI KEHAMILAN40
2) Jika serviks belum matang, lakukan pematangan serviks dengan prostaglanding atau kateter foley.
3) Catatan: jangan lakukan amniotomi karena beresiko infeksi. 4) Persalinan dengan sectio cesarean merupakan alternative
terakhir.
Jika persalinan spontan tidak terjadi, trombosit menurun, dan serviks belum matang, matangkan serviks dengan misoprostol.
Jika ada tanda infeksi, diberikan antibiotika untuk metritis.
Jika tes pembekuan sederhana lebih dari 7 menit atau bekuan mudah pecah, waspada koagulopati.
Berikan kesempatan pada ibu dan keluarganya untuk melihat dan melakukan berbagai kegiatan ritual bagi janin yang meninggal tersebut.
Pemeriksaan patologi plasenta adalah untuk mengungkapkan adanya patologi plasenta dan infeksi.
2. Gawat Janin
a. Pengertian gawat janin
Gawat janin adalah apabila ditemukan denyut jantung janin diatas 160/menit (takhikardia), atau dibawah 100/menit (bradikardia), denyut jantung tidak teratur, atau keluarnya mekonium yang kental atau hijau kental pada awal persalinan.
b. Diagnosis gawat janin
MODUL PEMBELAJARAN ASKEB KEBIDANAN KEHAMILAN PENYULIT DAN KOMPLIKASI KEHAMILAN41
c. Penanganan gawat janin
Peran bidan untuk mengenal mendeteksi dini adanya tanda gawat janin dan segera melakukan pertolongan pertama dan merujuk ke Rumah Sakit. Penanganan umum apabila menghadapi kasus gawat janin adalah melakukan resusitasi intrauterine sebagai berikut:
Ibu dimiringkan kekiri untuk memperbaiki sirkulasi plasenta.
Memberikan Oksigen menggunakan masker 6-8 lt/menit.
MODUL PEMBELAJARAN ASKEB KEBIDANAN KEHAMILAN PENYULIT DAN KOMPLIKASI KEHAMILAN42 ────────────────────────
Rangkuman
1. Gerak janin tidak dirasakan adalah ibu hamil merasakan adanya perubahan frekuensi gerakan janin kurang dari standar normal, berkurang dari biasanya, mengalami perubahan frekuensi/intensitasnya atau ibu tidak merasakan gejala merasakan gerakan janin sesudah kehamilan 22 minggu atau selama persalinan.
2. Gawat janin adalah apabila ditemukan denyut jantung janin diatas 160/menit (takhikardia) atau dibawah 100/menit (bradikardia), denyut jantung tidak teratur, atau keluarnya mekonium yang kental atau hijau kental pada awal persalinan.
3. Peran bidan untuk mengenali, mendeteksi dini adanya tAnda gawat janin dan segera melakukan pertolongan pertama dan merujuk ke RS. Penanganan umum apabila menghadapi kasus gawat janin adalah melakukan resusitasi intrauterine.
4. Gambaran klinik solusi placenta: gerakan janin berkurang atau hilang, nyeri perut hilang-timbul atau menetap. Perdarahan pervaginam sesudah hamil 22 minggu.
5. Gambaran klinik rupture uteri: gerakan janin dan DJJ tidak ada, perdarahan, nyeri perut hebat, syok, perut kembung/cairan bebas intra abdominan, kontur uterus abnormal, abdomen nyeri, bagian-bagian janin teraba dan denyut nadi ibu cepat.
6. Gambaran klinik gawat janin : gerakan janin berkurang atau hilang, DJJ abnormal (<100/menit) atau (>180/menit), kadang-kadang ditemukan cairan ketuban bercampur mekonium.
MODUL PEMBELAJARAN ASKEB KEBIDANAN KEHAMILAN PENYULIT DAN KOMPLIKASI KEHAMILAN43
Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dengan memilih salah satu alternative jawaban yang dianggap paling benar.
1. Seorang perempuan hamil, G1P0A0, datang periksa ke RB, umur ibu 15 tahun, umur kehamilan 28 minggu, ibu mengeluh gerakan janin berkurang dari biasanya, ibu merasakan frekuensi gerakan janin berkurang. apakan analisa pada kasus tersebut?
A. Gerakan janin tidak dirasakan B. Pertumbuhan janin terhambat C. Gawat janin
D. Janin mati E. Janin kecil
2. seorang perempuan hamil, G1P0A0, datang periksa ke RB, umur ibu 25 tahun, umur kehamilan 28 minggu, ibu mengeluh gerakan janin berkurang dari biasanya, ibu merasakan frekuensi gerakan janin berkurang. Apakah penatalaksanaan awal yang tepat dilakukan bidan pada kasus tersebut?
A. Penilaian DII, pasang infuse dan rawat inap di RB B. Pasang infuse, beri sedative dan tirabaring total
C. Dukungan psikologis, beri sedative dan rawat inap di RB D. Atur posisi trendelenbung, pasang infuse, rawat inap di RB E. Penilaian DII, dukungan psikologis dan lakukan rujukan.
3. Apakan pendidikan kesehatan pada ibu hamil tentang indikator sederhana untuk pergerakan janin, yang bisa diberikan oleh bidan ?
A. Minimal 10 kali gerakan janin dalam 12 jam B. Minimal 10 kali gerakan janin dalam 24 jam C. Minimal 12 kali gerakan janin dalam 24 jam D. Minimal 24 kali gerakan janin dalam 24 jam E. Minimal 10 kali gerakan janin dalam 48 jam
MODUL PEMBELAJARAN ASKEB KEBIDANAN KEHAMILAN PENYULIT DAN KOMPLIKASI KEHAMILAN44
4. Seorang perempuan hamil, G1P0A0, datang periksa ke BPM, umur ibu 25 tahun, umur kehamilan 28 minggu, ibu mengeluh mengeluarkan bercak darah berwarna merah tua, nyeri perut, gerakan janin berkurang, DJJ 116x/menit, tidak teratur. Apakah diagnose pada kasus tersebut?
A. Solutio placenta dan gawat janin B. Placenta previa dan gawat janin C. Ruptur uteri dan gawat janin D. Inpartu dan gawat janin E. Kehamilan ektopik terganggu
5. Seorang perempuan hamil, G2P1A0, datang ke RB, umur ibu 27 tahun, umur kehamilan 32 minggu, ibu mengeluh gerakan janin tak dirasakan, DJJ 96x/menit, tidak teratur. Apakah diagnosa kasus tersebut?
A. Syok
B. Gawat janin C. Solutio placenta D. Placenta previa E. Ruptur uteri
6. Seorang perempuan ibu hamil, G2P1A0, datang ke RB, umur ibu 27 tahun, umur kehamilan 38 minggu, ibu mengeluh gerakan janin tak dirasakan, perut terasa nyeri hebat, tekanan darah 90/60 mmHg, nadi teraba kecil
100x/menit, suhu 36˚C, respirasi 18x/menit, palpasi abdomen bagian-bagian janin jelas teraba, auskultasi DJJ negative. Apakah diagnosa pada kasus tersebut?
A. Syok
MODUL PEMBELAJARAN ASKEB KEBIDANAN KEHAMILAN PENYULIT DAN KOMPLIKASI KEHAMILAN45
7. Seorang perempuan hamil, G2P1A0, datang ke RB, umur ibu 25 tahun, umur kehamilan 27 minggu, ibu mengeluh gerakan janin tak dirasakan, riwayat ibu mengalami trauma jatuh 1 minggu yang lalu, TFU 3 jari bawah simfisis, pembesaran uterus berkurang, auskultasi DJJ negative. Apakah diagnosa kemungkinan pada kasus tersebut?
A. Syok
B. Ruptur uteri C. Kematian janin D. Placenta previa E. Solutio placenta
8. Seorang perempuan hamil, G2P1A0, datang ke RB, umur ibu 25 tahun, umur kehamilan 27 minggu, ibu mengeluh gerakan janin tak dirasakan, riwayat ibu mengalami trauma jatuh 1 minggu yang lalu, TFU 3 jari bawah simfisis, pembesaran uterus berkurang, auskultasi DJJ negative. Apakah penatalaksanaan awal yang tepat yang dilakukan bidan pada kasus tersebut?
A. Kaji keadaan janin, dukungan psikologis dan rujuk ke RS B. Pasang infuse, kaji keadaan janin, rawat inap di RB C. Pasang infuse, dukungan psikologis, rawat inap di Rb D. Kaji keadaan janin, dukungan psikologis, rawat inap di RB E. Kaji keadaan janin, beri terapy sedative, tirah baring total di RB
9. Seorang perempuan hamil G2P1A0, datang ke RB, umur ibu 27 tahun, umur kehamilan 37 minggu, ibu mengeluh gerakan janin tidak dirasakan, DJJ 96x/menit tidak teratur. Apakah kategori DJJ pada kasus tersebut?
MODUL PEMBELAJARAN ASKEB KEBIDANAN KEHAMILAN PENYULIT DAN KOMPLIKASI KEHAMILAN46
10.Seorang perempuan hamil G2P1A0, datang ke RB, umur ibu 27 tahun, umur kehamilan 37 minggu, ibu mengeluh gerakan janin tidak dirasakan, DJJ 110x/menit tidak teratur. Apakah kategori DJJ pada kasus tersebut?
A. Bradikaridi B. Takhikardi C. Bradipnoe D. Takhinoe E. Apnoe
11.Seorang perempuan hamil G2P1A0, datang ke RB, umur ibu 27 tahun, umur kehamilan 37 minggu, ibu mengeluh gerakan janin tidak dirasakan, DJJ 110x/menit tidak teratur. Apakah penanganan awal yang paling tepat dilakkan bidan pada kasus tersebut?
A. Kaji tanda gawat janin, lakukan resusitasi intrauterin dan rujuk ke RS B. Kaji tanda gawat janin, lakukan resusitasi intrauterin dan rawat inap di
RB
C. Kaji tanda gawat janin, anjurkan tirah baring total dan rawat inap di RB D. Lakukan resusitasi intrauterin dan rawat inap di RB
E. Lakukan pertolongan persaninan dan rawat inap di RB
12.Bagaimana penatalaksanaan resusitasi intrauterin pada ibu hamil yang tepat?
MODUL PEMBELAJARAN ASKEB KEBIDANAN KEHAMILAN PENYULIT DAN KOMPLIKASI KEHAMILAN47
Kerjakan tugas mandiri berikut ini:
Identifikasilah diagnosis dan gambaran klinik yang terkait gerakan janin!
Jelaskan penanganan umum pada kasus gerakan janin tidak dirasakan!
Jelaskan penatalaksanaan resusitasi intaruterin pada kasus gawat janin!